LANDASAN TEORI PADI CIHERANG

A. Tinjauan Pustaka
Pembangunan Pertanian
Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi dan masyarakat secara umum. Pembangunan pertanian memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi serta menjamin bahwa pembangunan menyeluruh itu (overall development) akan benar-benar bersifat umum, dan mencakup penduduk yang hidup dari bertani, yang jumlahnya besar dan yang untuk tahun-tahun mendatang ini, di berbagai negara akan terus hidup dari bertani (Mosher, 1991). Sedangkan menurut Khairuddin (1992), pembangunan pertanian merupakan bagian sektoral dari pembangunan masyarakat desa, mau tidak mau harus merupakan titik tekan dalam pembangunan nasional karena pada dasarnya di sektor inilah sebagian besar kehidupan masyarakat Indonesia bergantung.
Pembagunan pertanian, menurut Hadisapoetra (1970) dalam Mardikanto (1994) diartikan sebagai proses yang ditujukan untuk selalu menambah produksi pertanian bagi tiap-tiap konsumen yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk meperbesar turutnya campur tangan manusia di dalam perkembangan hewan dan tumbuhan.
Aspek penunjang pembangunan pertanian khususnya yang menyangkut kebijaksanaan perangsang berproduksi, pada prinsipnya dikategorikan menjadi dua, yaitu kebijaksanaan harga dan kebijaksanaan non-harga. Adapun kebijaksanaan non-harga antara lain meliputi kebijaksanaan infrastruktur, irigasi, program intensifikasi, padat karya, subsidi desa, Koperasi Unit Desa (KUD) dan program desa yang lain. Besarnya subsidi desa beragam dari desa yang satu dengan desa yang lain. Subsidi ini dimaksudkan mendorong masyarakat desa untuk membangun desanya. Penggunaan subsidi desa ini umumnya diarahkan untuk kegiatan yang produktif dan mempunyai efek ekonomi yang positif bagi warga desa. Subsidi desa ini biasanya diambil dari dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) atau APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) (Soekartawi, 1993).
Dalam usaha peningkatan dan swasembada pangan, maka harus dilaksanakan dan dilestarikan lewat usaha-usaha yang bersifat programatis. Dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri yang ditujukan kepada seluruh Gubernur dan Bupati diminta perhatian secara khusus untuk mensukseskan kebijaksanaan dan program pengadaan pangan sebagai berikut :
Meningkatkan koordinasi, memelihara kewaspadaan dan ketangguhan dalam pelaksanaan proses produksi pangan.
Menjaga kebijaksanaan penentuan harga hasil panen dan pemasarannya serta menjaga pengamanan pelaksanaan harga dasar.
Dalam rangka pengumpulan Stock Nasional supaya dilaksanakan persyaratan kualitas dan diberikan penjelasan secara luas kepada para petani untuk mendukungnya.
Mengusahakan dan mempertahankan hasil-hasil yang telah dicapai serta mengarahkan keanekaragaman menu makanan rakyat dan tingkat gizi yang tinggi dari masyarakat.
Memelihara dan menggunakan tanah-tanah marginal untuk tanaman palawija (non-beras) baik secara konvensional maupun non konvensional sesuai dengan kondisi dan situasi daerah.
(Cahyono, 1983).
Sikap
Manusia itu tidak dilahirkan dengan sikap pandangannya atau sikap perasaan tertentu melainkan sikap-sikap tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Sikap berperan besar dalam kehidupan manusia karena sikap yang sudah dibentuk pada diri manusia akan menentukan cara tingkah lakunya terhadap objek-objek sikap. Adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objek sikap (Gerungan, 1966).
Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar, 1998). Sedangkan menurut Atkinson, et al (2005), sikap meliputi rasa suka dan tidak suka, mendekati atau menghindari situasi, benda, orang, kelompok dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya, termasuk gagasan abstrak dan kebijakan sosial.
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), sikap dapat didefinisikan sebagai perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen-komponen sikap adalah pengetahuan, perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak. Lebih mudahnya, sikap adalah kecondongan evaluatif terhadap suatu objek atau subjek yang memiliki konsekuensi yakni bagaimana seseorang berhadap-hadapan dengan objek sikap. Sedangkan menurut Walgito (2003), sikap itu merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan produk dari proses sosilisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada objek tertentu, berarti bahwa penyesuaian diri terhadap objek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk bereaksi dari orang tersebut terhadap objek.  Sedangkan menurut Kinnear dan Taylor (1995), sikap adalah proses berorientasi tindakan, evaluatif, berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, dan persepsi awet dari individu yang berkenaan dengan suatu objek atau fenomena.
An attitude is a mental and neural state of readiness, organized through experience, exerting a directive or dynamic influence upon the individual’s response to all objects and situations with which it is related.
Sikap adalah kesiagaan mental dan syaraf yang tersusun melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh dinamis kepada tanggapan seseorang terhadap semua benda atau situasi yang berhubungan dengan kesiagaan itu (Taylor, et al, 1997).
Attitudes are associations between attitude objects and evaluations of those objects. More simply, attitudes are lasting evaluations of various aspect of the social world.
Sikap merupakan gabungan antara objek dan evaluasi terhadap objek tersebut. Lebih jelasnya, sikap merupakan evaluasi akhir terhadap macam-macam aspek dalam kehidupan sosial (Baron dan Byrne, 1997).
An attitude is a general feeling or evaluation positive or negative about some person, object, or issue.
Sikap merupakan perasaan umum atau evaluasi positif atau negatif mengenai beberapa orang, objek atau persoalan ( Watson, et al, 1984).
An attitude is a tendency to respond to some person, object, or situation in a positive or negative way. It ussually has an emotional component and a belief component.
Sikap adalah suatu kecenderungan untuk menanggapi beberapa orang, objek atau situasi dengan cara positif atau negatif. Sikap biasanya mempunyai komponen emosional dan komponen kepercayaan (Margon, 1974). 
Attitudes are relativelly lasting organizations of beliefs which made you tend to respond to things in particular ways. Attitudes are never seen directly, you ifer their existence from what people do. Attitudes include positive or negative evaluations, emotional feelings, and certain positive or negative tendencies in relation to objects, people, and events. Attitudes are human responses and can be examined along three dimentions : their direction, their intensity, and their salience.
Sikap merupakan pengorganisasian terakhir secara relatif dari kepercayaan dimana membuat kamu cenderung untuk merespons benda-benda dalam keadaan yang senyatanya. Sikap tidak pernah dilihat secara langsung, kamu harus mengambil kesimpulan keberadaannya dari apa yang dilakukan orang. Sikap memasukkan evaluasi-evaluasi yang positif dan negatif, perasaan-perasaan emosional, dan kecenderungan positif atau negatif secara pasti dalam berhubungan dengan objek, orang dan kejadian/peristiwa. Sikap merupakan respons manusia dan dapat diuji melalui tiga dimensi : arahnya, intensitasnya, dan ketenangannya (Myers, 1992).
The actions of the individual are governed to a large extent by his attitudes. An attitude can be difined as an enduring system of three components centering abaut a single object : the belief abaut the object (the cognitive component), the affect connected with the object (the feeling component) and the disposition to take action with respect to the object (the action tendency component).
Tingkah laku individu dibangun berdasarkan sikap mereka. Sikap dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem abadi dari tiga komponen yang memusatkan tentang satu objek : kepercayaan tentang objek (komponen kognitif), pengaruh yang dihubungkan dengan objek (komponen perasaan) dan kecondongan untuk mengambil tingkah laku dengan menghormati objek (komponen kecenderungan tingkah laku) ( Krech, et al,  1962).
Sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek, dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Orang mempunyai sikap positif terhadap suatu objek yang bernilai dalam pandangannya, dan ia akan bersikap negatif terhadap objek yang dianggapnya tidak bernilai atau merugikan. Sikap ini kemudian mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan yang satu sama lainnya berhubungan (Slameto,1995).
Menurut Ahmadi (1999), sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan, orang-orang atau kejadian-kejadian. Dapat dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal, tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Adapun ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut :
Sikap itu dipelajari (learnability)
Sikap merupakan hasil belajar. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri), membantu tujuan kelompok, atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan.
Memiliki kestabilan (stability)
Sikap bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap dan stabil melalui pengalaman.
c. Personal-societal significance
Sikap melibatkan hubungan antara seseoarang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan, terbuka serta hangat, maka ini akan sangat berarti bagi dirinya, ia merasa bebas dan favorable.
Berisi cognisi dan affeksi
Komponen kognisi dari sikap adalah berisi informasi yang faktual.
e. Approach-avoidance directionality
Bila seseorang memiliki sikap yang favorable terhadap sesuatu objek, mereka akan mendekati atau membantunya, sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang unfavorable, mereka akan menghindarinya.
Faktor Pembentuk Sikap
Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi berlangsung dalam interaksi manusia dan berkenaan dengan objek tertentu. Interaksi sosial di dalam kelompok maupun di luar kelompok dapat merubah sikap atau membentuk sikap yang baru. Yang dimaksud dengan interaksi di luar kelompok, ialah interaksi dengan hasil buah kebudayaan manusia yang sampai kepadanya melalui alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, buku, risalah dan lain-lainnya. Faktor lain yang turut memegang peranannya ialah faktor-faktor intern di dalam diri pribadi manusia itu yakni selectivitynya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat dan perhatiannya untuk menerima atau mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya itu (Gerungan, 1966).
Sikap tumbuh dan berkembang dalam basis sosial yang tertentu, misalnya : ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Di dalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan, norma-norma atau group. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan sikap antara individu yang satu dengan yang lain karena perbedaan pengaruh atau lingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap meliputi :
Faktor intern, yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap di dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya.
Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Faktor ini berupa interaksi sosial di luar kelompok.
(Ahmadi, 1999).
Sikap sering kali diperoleh dari orang lain melalui proses pembelajaran sosial yang melibatkan :
classical conditioning merupakan bentuk dasar dari pembelajaran dimana satu stimulus, yang awalnya netral, menjadi memiliki kapasitas yang untuk membangkitkan reaksi melalui pemasangan yang berulang kali dengan stimulus lain. Dengan kata lain, satu stimulus menjadi sebuah tanda bagi kehadiran atau terjadinya stimulus yang lain.
instrumental conditioning merupakan bentuk dasar dari pembelajaran dimana respons yang menimbulkan hasil positif atau mengurangi hasil negatif diperkuat.
observational learning merupakan salah satu bentuk dasar belajar dimana individu mempelajari tingkah laku atau pemikiran baru melalui observasi terhadap orang lain.
Sikap juga terbentuk berdasarkan perbandingan sosial yaitu kecenderungan kita untuk membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain agar dapat menentukan apakah pandangan kita terhadap kenyataan sosial benar atau tidak benar. Dalam rangka menyamakan hal tersebut dengan orang yang kita sukai atau hormati, kita menerima sikap mereka (Baron dan Byrne, 2004).
Menurut Azwar (1998), individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang dihadapinya dalam interaksi sosialnya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.
Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Di antara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami, dan lain-lain. Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula lah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.
Media massa
Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Pendidikan dibagi menjadi dua yaitu :
1)      Pendidikan formal
Pendidikan formal adalah struktur dari suatu sistem pengajaran yang kronologis dan berjenjang lembaga pendidikan mulai dari pra sekolah sampai dengan perguruan tinggi (Suhardiyono, 1992). Beberapa inovasi yang diperkenalkan di sekolah dapat dimodifikasi untuk digunakan pada pendidikan penyuluhan. Pendidikan tidak terbatas bagi yang berusia muda. Pendidikan yang berkelanjutan merupakan suatu proses yang diperlukan oleh siapa pun. Banyak pendidikan yang diperoleh di sekolah menjadi kadaluwarsa pada saat seseorang pensiun (Van den Ban dan Hawkins, 1999).
2)      Pendidikan non formal
Pendidikan non formal adalah pengajaran sistematis yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal bagi sekelompok orang untuk memenuhi keperluan khusus. Salah satu contoh pendidikan non formal adalah penyuluhan pertanian (Suhardiyono, 1992). Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Teknik pendidikan orang dewasa yang digunakan di bidang industri juga dapat dipakai di sektor pertanian. Sebagai contoh, penekanan latihan pada hubungan antar individu yang juga penting untuk sektor pertanian, mengingat semakin bertambahnya kontak antara petani dengan dunia luar (Van den Ban dan Hawkins, 1999).
Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
Menurut Slameto (1995), sikap terbentuk melalui bermacam-macam cara, antara lain sebagai berikut :
Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam (pengalaman traumatik).
Melalui imitasi
Peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan disengaja. Dalam hal terakhir individu harus mempunyai minat dan rasa kagum terhadap mode, di samping itu diperlukan pula pemahaman dan kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru. Peniruan akan terjadi lebih lancar bila dilakukan secara kolektif daripada perorangan.
Melalui sugesti
Di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap suatu objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tetapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.
Melalui identifikasi
Di sini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya. Meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai.
Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang
Organisasi Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) Tahun 2007 merupakan wahana (wadah) untuk mewujudkan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian gerakan sebagaimana yang tersusun sebagai berikut :
Tim Pelaksana Tingkat Kabupaten P2BN
Tim Pelaksana Tingkat Kecamatan P2BN
Tim Tingkat Kelurahan/Desa P2BN.
Tim Pelaksana P2BN di tingkat Kabupaten/Kota ditetapkan dengan SK Bupati/Wali Kota, dengan susunan sebagai berikut :
Ketua                  : Bupati
Ketua Pelaksana : AsistenEkonomi Pembangunan Sekda Kabupaten/Desa
Sekretaris            : Kepala Dinas Pertanian
Anggota             :
Kepala Bappeda
Kepala Dinas PU Pengairan
Kepala Dinas Perdagangan/Perindustrian
Kepala Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM
Kepala Bagian Perekonomian Daerah
Kepala Bagian Humas/Infokom
Kepala BRI/BPD/Bank lainnya
Kepala Sub Din yang membidangi Tanaman Pangan
Koordinator Penyuluhan Pertanian/KIPP
Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT)
Kepala Pemasaran Kabupaten PT. Pusri
Sale Representative Kabupaten PT. Pupuk Kaltim
Sale Supervisor Kabupaten PT. Petrokimia
Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian
Ketua KTNA Kabupaten
Ketua Ikatan Penangkar Pedagang Benih (IPPB)
Ketua Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI)
Dinas/Instansi terkait
Pemangku kepentingan lainnya.
Tim Pelaksana P2BN Tingkat Kecamatan ditetapkan dengan SK Camat dengan susunan sebagai berikut :
Ketua                  : Camat
Ketua Pelaksana : Kepala Cabang Dinas Pertanian
Sekretaris            : Kepala BPP/Koordinator Penyuluh Pertanian
Anggota             :
Kepala Urusan Pembangunan
Mantri Pengairan
Penyuluh Pertanian Lapang (PPL)
Pengamat Hama Penyakit (PHP)
Distributor Pupuk
Ketua KTNA
Pemangku Kepentingan lainnya.
Tim Pelaksana P2BN Tingkat Kelurahan/Desa ditetapkan dengan SK Lurah/Kepala Desa dengan susunan sebagai berikut :
Ketua                           : Lurah/Kepala Desa
Ketua Pelaksana          : Ditetapkan Camat
Sekretaris                     : Penyuluh Pertanian
Anggota                       :
Kepala Urusan Pembangunan
KTNA/Ketua Gapoktan
Ketua Kelompok Tani
Para Pemangku Kepentingan lainnya
(Dinas Pertanian, 2007).
Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang merupakan salah satu implementasi dari Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional  (P2BN) Tahun 2007 yaitu kegiatan peningkatan produksi beras disertai penyediaan input sarana dan prasarana peningkatan produksi beras melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya pertanian, teknologi dan kelembagaan. Adapun tujuan dari Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo adalah sebagai berikut :
Meningkatkan produksi padi
Meningkatkan pendapatan petani
Meningkatkan kesejahteraan petani
(Dinas Pertanian, 2007).
Sosialisasi dan penyuluhan pertanian dalam rangka gerakan peningkatan produksi beras nasional dilaksanakan melalui kampanye penyebarluasan informasi dan kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan motivasi dan mengoptimalkan pencapaian produksi melalui penerapan komponen teknologi PTT. Sosialisasi dan penyuluhan pertanian juga dilakukan dengan memanfaatkan media massa, lembaga komunikasi, yang ada di masyarakat dan meningkatkan peran serta institusi penyuluhan di kabupaten/kecamatan/desa serta pusat penerangan masyarakat. Kegiatan penyuluhan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produktivitas di pedesaan lainnya dengan pola agribisnis dan pendapatan usahatani melalui pemasyarakatan penerapan teknologi sesuai anjuran, meningkatkan kemampuan kelompok tani serta kelembagaan (Dinas Pertanian, 2007).
Mekanisme pelaksanaan dari Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo adalah sebagai berikut :

Penyusunan RDKK
Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) adalah rencana kebutuhan kelompok tani untuk satu periode tertentu (satu tahun) yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok tani meliputi : benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta modal kerja yang mendukung pelaksanaan RDKK yang dibutuhkan oleh petani yang merupakan pesanan kelompok tani kepada penyalur atau lembaga pelayanan lainnya.
Pemasyarakatan dan penyusunan dan pelaksanaan RDKK terkait langsung dengan dukungan para camat dan lurah/kepala desa, untuk itu perlu dipahami lima langkah sebagai berikut :
1)      Lurah/Kepala desa mengadakan pertemuan dengan kontak tani atau ketua kelompok tani yang ada di desa dua bulan sebelum musim tanam untuk mengatur dan menetapkan jadwal musyawarah kelompok tani.
2)      Menggerakkan petani anggota kelompok tani supaya hadir dan aktif dalam musyawarah/pertemuan/acara kelompok tani.
3)      Menghadiri musyawarah kelompok tani untuk menyusun RDKK.
4)      Memberi dorongan atau bimbingan kepada anggota kelompok tani yang seringkali atau selalu tidak hadir.
5)      Melakukan pengawasan dengan memberikan koreksi (menasehati persuasif dan edukatif) kepada anggota kelompok tani yang menyimpang dalam pelaksanaan kesepakatan musyawarah penyusunan RDKK.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo mengadakan lelang terbuka yang dihadiri para produsen benih. Lelang akhirnya dimenangkan oleh PT. Pertani sehingga perusahaan inilah yang menyediakan varietas benih yang dibutuhkan oleh petani yang tersebar di 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Sukoharjo berdasarkan RDKK yang telah disusun.
Penyaluran benih dilaksanakan sesuai dengan kaidah enam tepat yang meliputi : tepat dosis, tepat waktu, tepat tempat, tepat cara, tepat guna dan tepat sasaran. Proyek subsidi benih padi inhibrida seluas 1005 hektar di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo meliputi dua varietas yaitu benih padi Ciherang dan Pepe. Pembagian varietas dilakukan berdasarkan RDKK yang sudah dibuat oleh kelompok tani yang tersebar di 14 desa di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo. Pada Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang, setiap petani memperoleh bantuan benih padi Ciherang sebanyak 25 Kg/Ha dan jumlah benih yang diberikan berdasarkan luas lahan yang dimiliki petani. Semakin luas lahan yang dimiliki petani maka semakin banyak pula bantuan benih yang diterimanya. Akan tetapi hal ini tidak menimbulkan kecemburuan diantara petani karena hal tersebut sudah merupakan hasil keputusan bersama. Penyaluran benih padi Ciherang dilakukan pada Bulan September 2007 yang dikirim ke Kantor Balai Desa yang memperoleh subsidi benih padi Ciherang kemudian dibagikan kepada kelompok tani. Adapun data penyaluran benih padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Rekapitulasi Data Bantuan Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo

No Desa Nama Kelompok Tani Luas (Ha) Volume (Kg) Pengiriman Lokasi (Alamat)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Mancasan

Jetis

Bentakan

Menuran

Siwal

Waru

Gentan

Mumpuni

Maju

Sidodadi

Sri Rejeki

Karya

Sri Rejeki

Mangesti

108

48

68

53

31

95

10

2.700

1.200

1.700

1.325

775

2.375

250

30-Sep-2007

30-Sep-2007

30-Sep-2007

30-Sep-2007

30-Sep-2007

30-Sep-2007

30-Sep-2007

Balai Desa Mancasan

Balai Desa Jetis

Balai Desa Bentakan

Balai Desa Menuran

Balai Desa Siwal

Balai Desa Waru

Balai Desa Gentan

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 2007
Adapun mekanisme penyaluran benih padi Ciherang adalah sebagai berikut :
1)      Pihak PT. Pertani mendatangi KCD Baki untuk memberitahukan bahwa benih akan dikirim pada tanggal 30 September 2007.
2)      Tanggal 30 September 2007, benih dikirim ke Balai Desa sehingga Kepala Desa dan Kaurbang bertanggung jawab atas penerimaan dan keamanan benih tersebut.
3)      Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) berdasarkan wilayah binaannya mengumpulkan petani di Balai Desa pada waktu yang telah disepakati sehingga waktu pengambilan benih tiap desa tidak dapat bersamaan.
4)      Sebelum benih dibagikan, petani diberi penjelasan oleh PPL tentang benih tersebut dan teknis penanamannya.
5)      Kemudian benih dibagikan kepada masing-masing petani berdasarkan data yang sudah ada.
6)      PPL mengisi blangko penerimaan benih yang meliputi : nama petani, luas lahan, dan nomer label benih sebagai bukti bahwa benih sudah disalurkan kepada petani.
Petani
Menurut Samsudin (1982), yang disebut petani adalah mereka yang untuk sementara waktu atau tetap menguasai sebidang tanah pertanian, menguasai sesuatu cabang usaha tani atau beberapa cabang usaha tani dan mengerjakan sendiri, baik menggunakan tenaga sendiri maupun tenaga bayaran. Menguasai sebidang tanah dapat diartikan pula menyewa, bagi hasil atau berupa memiliki tanah sendiri. Di samping menggunakan tenaga sendiri, ia dapat menggunakan tenaga kerja yang sifatnya tidak tetap.
Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya di bidang pertanian dalam arti luas yang meliputi usahatani pertanian, peternakan, perikanan (termasuk penangkapan ikan), dan pemungutan hasil laut. Orang yang disebut petani, atau kedudukannya sebagai petani, mempunyai fungsi yang banyak. Petani mempunyai banyak sebutan, fungsi dan kedudukan atas peranannya sebagai berikut :
Petani sebagai pribadi.
Petani sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga.
Petani sebagai guru.
Petani sebagai pengelola usahatani.
Petani sebagai warga sosial dan kelompok.
Petani sebagai warga negara
(Hernanto, 1993).
Petani adalah lebih daripada seorang juru tani dan manajer. Ia adalah seorang manusia dan menjadi anggota dari dua kelompok manusia yang penting baginya. Ia anggota sebuah keluarga dan ia pun anggota masyarakat setempat (desa atau rukun tetangga). Bagaimana petani itu sebagai manusia, banyak ditentukan oleh keanggotaannya di dalam masyarakat itu. Sebagai perorangan, para petani memiliki empat kapasitas penting untuk membangun pertanian, yaitu bekerja, belajar, berpikir kreatif dan bercita-cita (Mosher, 1991).
Hadisapoetro (1978 : 82) dalam Mardikanto (1994), secara ringkas menyatakan bahwa petani kecil merupakan golongan ekonomi lemah. Tidak hanya lemah dalam hal permodalannya (sebagai akibat dari sempitnya lahan yang diusahakan, rendahnya produktivitas, dan rendahnya pendapatan), tetapi juga lemah dalam semangatnya untuk maju (memperbaiki mutu hidupnya).
Batasan yang tepat tidak diperlukan untuk mengakui kenyataan keadaan buruk petani kecil atau peranannya yang penting dalam pembangunan dunia. Mereka merupakan golongan terbesar dalam kelompok petani di dunia, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat.
Mempunyai sumber daya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup yang rendah.
Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten.
Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan lainnya
(Soekartawi et al, 1986).
Profil sumber daya manusia pertanian yang diharapkan pada masa kini dan mendatang adalah yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Petani yang benar-benar memahami potensi, persoalan-persoalan yang dihadapi, serta peranannya dalam kegiatan pembangunan (dalam arti luas).
Memiliki kedewasaan dalam perilaku dan pola pikir, sehingga memahami hak-hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dan pelaku pembangunan.
Memiliki ketrampilan teknis dan manajerial yang sesuai dengan kondisi yang selalu berkembang, dan memiliki kesiapan menerima imperatif perubahan yang terjadi.
Sosok manusia pertanian yang dikemukakan tersebut berdimensi sangat holistik, sehingga masukan, sistem, dan strategi yang diperlukan untuk menyiapkannya memerlukan pula kemajemukan yang integratif
(Mulyadi, 2003).
Benih Padi Ciherang
Menurut Aak (1990), benih padi adalah gabah yang dihasilkan dengan cara dan tujuan khusus untuk disemaikan menjadi pertanaman. Kualitas benih itu sendiri akan ditentukan dalam proses perkembangan dan kemasakan benih, panen dan perontokan, pembersihan, pengeringan, penyimpanan benih sampai fase pertumbuhan di persemaian.
Sistem perbenihan yang mendapat pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratoris dari instansi yang berwenang memenuhi standar yang telah ditentukan, oleh karena itu sertifikasi benih sangat berarti dalam perbenihan. Benih bersertifikasi dibagi dalam empat kelas, yaitu :
Benih Penjenis (Breeder Seed = BS = Benih teras)
Yakni benih yang dihasilkan oleh instansi yang telah ditentukan/ditunjuk atau di bawah pengawasan Pemulia Tanaman. Benih ini jumlahnya sedikit dan merupakan sumber perbanyakan benih dasar. Benih ini masih murni.
Benih Dasar (Foundation Seed = FS)
Benih dasar merupakan perbanyakan dari benih penjenis dengan tingkat kemurnian yang tinggi, terpelihara identitas genetisnya, di bawah bimbingan dan pengawasan yang ketat. Benih ini hasil produksi Lembaga Pusat Penelitian yang disertifikasi oleh Sub Direktorat Pembinaan Mutu Benih, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.
Benih Pokok (Stock Seed = SS)
Adalah benih yang diperbanyak dari benih dasar. Perbanyakan ini dilakukan dengan memperhatikan tingkat kemurnian varietas, memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan dan disertifikasi oleh instansi yang berwenang.
Benih Sebar (Extension Seed = ES = Certified Seed)
Benih sebar ini adalah hasil perbanyakan dari benih penjenis, benih dasar atau benih pokok  yang akan disebarkan kepada petani dengan menjaga tingkat kemurnian varietas yang memenuhi standar mutu benih yang ditetapkan dan telah disertifikasi sebagai benih sebar.
Untuk mengetahui keadaan benih yang baik dapat dilihat :
Keadaan fisik benih meliputi :
1)      Kebersihan benih terhadap gabah hampa, setengah hampa, potongan jerami, kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain serta hama gudang.
2)      Warna gabah hendaklah sesuai dengan aslinya, yaitu cerah dan bersih. Ada kemungkinan terdapat warna yang berbeda, misalnya hijau dan hitam. Hal ini dapat terjadi pada benih yang kemasakannya tidak seragam, gangguan lingkungan atau berbeda varietas. Terjadinya warna lain juga bisa disebabkan penanaman jatuh pada musim hujan.
Kemurnian benih
Mengenai kemurnian benih ini sebenarnya ada kaitannya dengan sifat genetis atau sifat keturunan yang ada pada benih. Namun kemurnian benih tersebut dapat dilihat dari bentuk gabahnya.
Menurut Balai Besar Penelitian Padi (2008), ciri-ciri morfologi padi Ciherang adalah sebagai berikut :
Nama Varietas                                    : Ciherang
Kelompok                                           : Padi sawah
Nomor Seleksi                                    : S3383-1d-Pn-41—3-1
Asal Persilangan                                  :  IR18349-53-1-3-1-3/IR19661-131-3-1//IR19661-131-3-1///IR64////IR64
Golongan                                             : Cere
Umur Tanaman                                    : 116-125
Bentuk Tanaman                                  : Tegak
Tinggi Tanaman                                   : 107-115 cm
Anakan Produktif                                : 14-17 batang
Warna Kaki                                        : Hijau
Warna Batang                                     : Hijau
Warna Daun Telinga                            : Putih
Warna Daun                                        : Hijau
Muka Daun                                         : Kasar pada sebelah bawah
Posisi Daun                                         : Tegak
Daun Bendera                                     : Tegak
Bentuk Gabah                                     : Panjang ramping
Warna Gabah                                      : Kuning bersih
Kerontokan                                         : Sedang
Kerebahan                                          :  Sedang
Tekstur Nasi                                        : Pulen
Kadar Amilosa                                    : 23%
Bobot 1000 Butir                                : 27-28 kg
Rata-rata Produksi                              : 6,0 ton/Ha
Potensi Hasil                                        :  5-8,5 ton/Ha
Ketahanan Terhadap Hama                 :  Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3
Ketahanan Terhadap Penyakit             : Tahan terhadap bakteri hawar daun (HDB) strain III dan IV
Anjuran                                               :  Cocok ditanam pada musim hujan dan kemarau dengan ketinggian di bawah 500 mdpl
Dilepas Tahun                                      : 2000
Sedangkan ciri-ciri morfologi padi Pepe menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2008), adalah sebagai berikut :
Nama Varietas                                    : Pepe
Nomor Seleksi                                    : B8971B-15
Asal Persilangan                                  :  Simariti/4*IR64
Golongan                                             : Cere
Umur Tanaman                                    : 120-128
Bentuk Tanaman                                  : Tegak
Tinggi Tanaman                                   : 100-110 cm
Anakan Produktif                                : 9-16 batang
Warna Kaki                                        : Hijau
Warna Batang                                     : Hijau
Warna Telinga daun                             : Tidak berwarna
Warna Daun                                        : Hijau
Muka Daun                                         : Kasar
Posisi Daun                                         : Miring
Daun Bendera                                     : Miring
Bentuk Gabah                                     : Ramping
Warna Gabah                                      : Kuning
Kerontokan                                         : Mudah rontok
Kerebahan                                          :  Tahan
Tekstur Nasi                                        : Pulen
Kadar Amilosa                                    : 23%
Bobot 1000 Butir                                : 27 g
Rata-rata Produksi                              : 7,0 ton/Ha
Potensi Hasil                                        :  5-8,1 ton/Ha
Ketahanan Terhadap  Hama                :  Tahan terhadap wereng coklat biotipe2
Ketahanan Terhadap Penyakit             :Tahan terhadap hawar daun bakteri (HDB) strain III
Anjuran Tanam                                    :  Baik untuk lahan sawah dataran rendah (< 500 m dpl) disawah tadah hujan
Dilepas Tahun                                      : 2003
Berdasarkan deskripsi varietas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa benih padi Ciherang mempunyai kelebihan apabila dibandingkan dengan benih padi Pepe, yaitu:
1)      Umur tanaman padi Ciherang lebih pendek dibandingkan dengan umur tanaman padi Pepe.
2)      Jumlah anakan produktif padi Ciherang lebih banyak dibandingkan dengan padi Pepe.
B. Kerangka Berpikir
Dalam penelitian ini, sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo didefinisikan sebagai respons petani terhadap proyek tersebut. Sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo dapat dilihat dari pengetahuan petani terhadap proyek meliputi : (1) kualitas benih, (2) jumlah benih yang disubsidi, (3) penyaluran benih. Hasil akhir dari proses pemikiran petani dalam merespons proyek tersebut adalah petani akan bersifat sangat positif, positif, netral, negatif dan sangat negatif.
Menurut Azwar (1998), diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu. Dari berbagai variabel yang ada, tidak semua digunakan karena kondisi dan situasi di lapang berdasarkan hasil survei. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengalaman, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pendidikan non formal dan media massa yang terdapat di lapang. Kerangka pemikiran tersebut secara sistematik dapat digambarkan sebagai berikut :

Faktor–faktor pembentuk sikap:

  1. pengalaman
  2. pengaruh orang lain yang dianggap penting
  3. pendidikan non formal
  4. media massa

Variabel bebas                              Variabel terikat

Sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo :

  1. Kualitas Benih
  2. Jumlah Benih yang Disubsidi
  3. Panyaluran Benih

Positif
Nnetral
Netral
Negatif
Gb 1.Kerangka Berfikir Faktor-faktor Pembentuk Sikap dan Sikap Petani Terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
C. Hipotesis

  1. Diduga sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo adalah positif.
  2. Diduga ada hubungan yang signifikan antara faktor pembentuk sikap dengan sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

  1. 1. Definisi Operasional
    1. Faktor Pembentuk Sikap (Variabel Bebas)

Merupakan faktor dalam diri responden yang dapat membentuk sikap responden terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo yang meliputi :
1)      Pengalaman adalah banyaknya proyek subsidi benih padi yang pernah diikuti oleh responden sebelum proyek subsidi benih padi Ciherang dan penilaian responden terhadap proyek subsidi benih padi tersebut, diukur dengan skala ordinal.
2)      Pengaruh orang lain yang dianggap penting adalah intensitas orang yang dianggap penting dalam memberikan pengaruh serta siapa saja orang yang dianggap penting oleh responden (teman dalam kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Aparat Pemerintahan Desa), diukur dengan skala ordinal.
3)      Pendidikan non formal adalah frekuensi responden dalam mengikuti kegiatan penyuluhan dan kesesuaian isi materi penyuluhan selama proyek berlangsung yaitu pada tahun 2007, diukur dengan skala ordinal.
4)      Media massa adalah intensitas responden dalam mengakses media massa (media cetak dan media elektronik) dan isi materi yang terkandung dalam informasi tersebut selama proyek berlangsung yaitu pada tahun 2007, diukur dengan skala ordinal.
Sikap Petani Terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo (Variabel Terikat)
Sikap petani diukur dengan memberikan rangsangan berupa pernyataan positif maupun negatif yang disusun dan dikembangkan dari tiga aspek Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang, meliputi (1) kualitas benih, (2) jumlah benih yang disubsidi, dan (3) penyaluran benih. Selanjutnya responden diminta memberikan respons berupa sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju atau sangat tidak setuju terhadap pernyataan-pernyataan yang yang diajukan kepada responden yang kemudian diukur dengan skala Likert. Menurut Sugiyono (1993), skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Sikap petani terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo didekati dengan 3 variabel yaitu:
1)      Kualitas benih adalah mutu dari benih padi yang telah diterima oleh responden dalam Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang.
2)      Jumlah benih yang disubsidi adalah banyaknya benih yang diterima oleh responden berdasarkan luas lahan yang dimilikinya dalam Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang yaitu sebanyak 25 Kg/Ha.
3)      Penyaluran benih adalah proses pendistribusian benih dari produsen benih sampai ke tangan petani.
2. Pengukuran Variabel
Tabel 2. Pengukuran Variabel, Indikator, Kriteria dan Skor Penelitian

Variabel Indikator Kriteria Skor
  1. Faktor Pembentuk Sikap :

a.  Pengalaman

b.  Pengaruh orang lain yang dianggap penting

c.  Pendidikan non formal

d.  Media massa

  1. Sikap Petani Terhadap Proyek Subsidi Benih Padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo :

a.  Kualitas Benih

b.  Jumlah Benih yang Disubsidi

c.  Penyaluran Benih

Banyaknya proyek subsidi benih padi yang pernah diikuti oleh responden sebelum proyek subsidi benih padi Ciherang.

Penilaian petani terhadap proyek subsidi benih padi.

Intensitas orang yang dianggap penting dalam memberikan pengaruh.

Siapa saja orang yang dianggap penting.

Frekuensi responden mengikuti kegiatan penyuluhan selama proyek berlangsung yaitu pada tahun 2007.

Kesesuaian isi materi penyuluhan selama proyek berlangsung yaitu pada tahun 2007.

Intensitas responden dalam mengakses media massa untuk memperoleh informasi tentang benih padi Ciherang selama proyek berlangsung yaitu pada tahun 2007.

Isi materi yang terkandung dalam  informasi yang diakses dari media massa.

Kebersihan benih

Warna gabah

Sertifikat  benih

Luas lahan yang dimiliki responden

Banyaknya perantara

Pendistribusian benih

Jika responden pernah memperoleh subsidi benih padi lebih dari 3 kali.

Jika responden pernah memperoleh  subsidi benih padi sebanyak 3 kali.

Jika responden pernah memperoleh subsidi benih padi sebanyak 2 kali.

Jika responden pernah memperoleh subsidi benih padi sebanyak 1 kali.

Jika responden belum pernah memperoleh subsidi benih padi.

Sangat baik

Baik

Biasa saja

Kurang baik

Tidak baik

Sangat sering

Sering

Kadang-kadang

Jarang

Tidak pernah

Teman dalam kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), dan Aparat Pemerintahan Desa.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Aparat Pemerintahan Desa.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) saja.

Aparat Pemerintahan Desa saja.

Teman dalam kelompok tani saja.

>10 kali

8-10 kali

5-7 kali

2-4 kali

<2 kali

Sangat sesuai

Sesuai

Kurang sesuai

Tidak sesuai

Sangat tidak sesuai

Sangat sering

Sering

Kadang-kadang

Jarang

Tidak pernah

Sangat bermanfaat

Bermanfaat

Kurang bermanfaat

Tidak bermanfaat

Sangat tidak bermanfaat

Jika benih bersih dari gabah hampa, setengah hampa, potongan jerami, kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain serta hama gudang.

Jika terdapat sedikit gabah hampa, setengan hampa, tetapi bersih dari potongan jerami, kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain serta hama gudang.

Jika terdapat sedikit gabah hampa, setengah hampa, potongan jerami, tetapi bersih dari kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain serta hama gudang.

Jika terdapat sedikit gabah hampa, setengah hampa, potongan jerami, kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain tetapi bersih dari hama gudang.

Jika terdapat gabah hampa, setengah hampa, potongan jerami, kerikil dan tanah, kotoran dan benda lain serta hama gudang.

Jika warna gabah sesuai dengan aslinya yaitu cerah dan bersih serta tidak terdapat warna yang berbeda.

Jika warna gabah kurang cerah tetapi bersih dan tidak terdapat warna yang berbeda.

Jika warna gabah cerah tetapi kotor dan tidak terdapat warna yang berbeda.

Jika warna gabah kurang cerah dan kotor tetapi tidak terdapat warna yang berbeda.

Jika warna gabah tidak sesuai dengan aslinya yaitu tidak cerah dan kotor serta terdapat warna yang berbeda.

Jika benih padi Ciherang yang diterima oleh responden berlabel putih (benih penjenis).

Jika benih padi Ciherang yang diterima oleh responden berlabel ungu (benih dasar).

Jika benih padi Ciherang yang diterima oleh responden berlabel biru (benih pokok).

Jika benih padi Ciherang yang diterima oleh responden berlabel merah jambu (benih sebar).

Jika benih padi Ciherang yang diterima oleh responden tidak berlabel.

Jika responden memperoleh subsidi benih padi Ciherang 100%.

Jika responden memperoleh subsidi benih padi Ciherang 75%.

Jika responden memperoleh subsidi benih padi Ciherang 50%.

Jika responden memperoleh subsidi benih Padi Ciherang 25%.

Jika responden memperoleh subsidi benih padi Ciherang <25%.

Jika responden ikut berkumpul di Balai Desa untuk memperoleh penjelasan dan mengambil benih padi Ciherang kemudian PPL mengisi blangko penerimaan benih.

Jika responden ikut berkumpul di Balai Desa untuk memperoleh penjelasan dan mengambil benih padi Ciherang serta mengisi sendiri blangko penerimaan benih.

Jika yang berkumpul di Balai Desa hanya ketua kelompok tani saja kemudian PPL mengisi blangko penerimaan benih.

Jika yang berkumpul di Balai Desa hanya ketua kelompok tani saja kemudian mengisi sendiri blangko penerimaan benih.

Jika benih langsung dibagikan kepada kelompok tani tanpa berkumpul di Balai Desa dan blangko penerimaan benih tidak diisi.

Jika pendistribusian benih padi Ciherang sangat sesuai dengan mekanisme yang ada.

Jika pendistribusian benih padi Ciherang sesuai dengan mekanisme yang ada.

Jika pendistribusian benih padi Ciherang kurang sesuai dari mekanisme yang ada.

Jika pendistribusian benih padi Ciherang tidak sesuai dari mekanisme yang ada.

Jika pendistribusian benih padi Ciherang sangat tidak sesuai dengan mekanisme yang ada.

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

E. Pembatasan Masalah

  1. Responden Penelitian adalah petani yang memperoleh subsidi benih padi Ciherang di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2007.
  2. Faktor pembentuk sikap yang diteliti dalam penelitian ini dibatasi pada faktor pengalaman, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pendidikan non formal dan media massa.
About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    suep said,

    saya di tuban jawa timur, cocoknya apa ya klo mo tanam padi? mohon pencerahan dari kawan2. thank’s a lot


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: