Aerasi dan drainasi

Aerase dan draenase merupakan sifat tanah yang erat kaitannya dengan kemampuan tanah dalam penyediaan air dan udara. Drainase menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lama dan seringnya jenis air. Untuk pengamatan digunakan reagen KCNS dan K3Fe (CN)6. Dalam bereaksi dengan KCNS akan terbentuk warna merah, sedangkan reaksi dengan K4Fe(CN)6 akan membentuk warna biru. Apabila warna merah lebih dominan dibandingkan warna biru, berarti aerase dan draenasenya baik, begitu pula sebaliknya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada lapisan I dan II mempunyai aerasi dan draenasi jelek, lalu pada lapisan III memiliki aersi dan draenase sedang dan yang terakhir pada lapisan IV memiliki aerase dan draenase agak baik. faktor-faktor yang mempengaruhi aerase adalah tekstur, struktur tanah dan porositas. Tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap aerase dan draease tanah yang bertekstur pasir lebih banyak akan mudah ditembus/dilewati air karena struktur ikaban partikel tanahnya renggang sehingga porositas (permiabilitas)nya sangat besar. Artinya kemampuan ketiga faktor di atas mampu mendukung aerase dan draenase yang baik, begitu pula sebaliknya.

Permebilitas tanah adalah lewatnya air tanah di dalam profil tanah setelah melewati proses inflrasi dari air hujan yang jatuh ke bumi atau air dari sumber lain. Permebilitas sangat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Tanah dengan kandungan lempung tinggi akan menyebabkan permebilitas terhambat dan bila berpasir justu sebaliknya permebilitas yang didapatkan dari hasil pengamatan lapisan I dan II memiliki permebilitas cepat, sedangkan untuk lapisan III dan IV memiliki tingkat permiabilitas yang agak cepat, hal ini di karenakan kandungan lempung lebih banyak dari lapisan I dan Lapisan II.

Uji penetrometer atau uji kekerasan tanah digunakan sebagai alat untuk mengetahui daya mekanik/topang tanah. Caranya dengan mula-mula cincin geser pembaca daya topang digeser ke belakang sampai patok (terbaca 0). Batang tusuk kemudian ditusukkan ke dalam tanah secara tegak hingga ujungnya masuk sedalam tanda batas. Pada waktu ditusukkan inilah cincin geser pembaca terdorong ke depan dan terhenti pada saat penusukan juga terhenti. Makin keras tanahnya, cincin geser pembaca makin jauh teredorong ke depan. Satuan yang digunakan adalah kgf/cm2. Dari hasil pengamatan dilapangan didapatkan data bahwa pada lapisan I uji penetrmeternya 2,5 kgf/cm2 yang artinya tanah lembek, lapisan II 3,8 kgf/cm2yang artinya tanah cukup kuat untuk menahan beban, dan lapisan III dan lapisan IV memiliki daya topang sama-sama 4,5 kgf/cm2 yang artinya cukup mampu untuk menahan beban yang berat seperti traktor.

A.     Sifa Kmia Tanah

Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn.

pH tanah digunakan untuk mengetahu aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut. Penentuan pH tanah dapat dilakukan secara elektronik dan kalorimetrik, baik laboratorium maupun lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH. Sedangkan pada praktikum ini pH tanah ditentukan dengan pH stick. PH aktual dianalisis dengan cara mencampurkan tanah dengan air (H2O), sedangkan pH potensial diukur dengan cara mencampurkan tanah dengan KCl. Dari hasil pengamatan pH H2O diketahui bahwa pH tanah pada lapisan I (4,5-5,5), lapisan II pH lapisa III pH, dan pada lapisan IV pH 4,5-5,5. pH Kcl untuk lapisan I sebesar 4,5-5,5, lapisan II sebesar 4,5-5,5, lapisan III sebesar 5,5-6,5 dan untuk lapisan IV pH sebesar 5,5-6,5. dari data tersebut dapat dilihat bahwa pH KCl lebih tingi dari pH H2O. hal ini diakibatkan karena pada tanah alisol terjadi pencucian basa-basa dalam tekstur dan struktur tanah, ion H+ dalam pH KCl yang seharusnya lebih banyak  terkat oleh (Cl-) akibat dari penggunaan pupuk kimia sehinga pH KCl menjadi lebih tingi. Solusi yang diunakan untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan pengapuran mengngat daerah ini tidak ada kadar kapurnya.

Bahan organik merpakan akumulasi seresah tumbuhan dan hewan yang telah mati dan elah terombakkan leh jasad hidup tanah. Penntuan jmlah bahan organik scara kualtatif yaitu dengan mengamati banyaknya percikan atau buih yang timbul setelah massa tanah ditetesi dengan H2O2 10%. Dari hasil pengamatan kandungan BO pada lapisan I sangat rendah, pada lapisan II dan IV tinggi, serta pad alapisan III sangat tingi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kandungan bahan organik makin ke bawah semakin banyak, hal ini disebabkan karena timbunan sisa-sisa tanaman dan hewan (jasad hidup) banyak yang dirombak pada lapisan ke III dan IV.

Kadar kapur (CaCO3) dalam tanah dapat ditentukan dengan cara menetesi tanah dengan HCl 10%. Diukur secara relatif jelas tidaknya cara membuihnya kapur di tanah dengan tetesan HCl tadi. Dari semua ini diakibatkan oleh adanya pencucian basa-basa pada tiap-tiap lapisan tanah, adanya erosi maupun penyerapan oleh tanaman.

Konkresi merupakan konsentrasi lokal senyawa kimia yang berpa butir atau batang yang keras. Konkresi etrjadi akibat adanya proses oksidasi-reduksi. Konkresi pada hasil pengamatan diemukan pada dua lapisan, yaitu lapisan III dengan jenis Fe dengan ukuran 2-5 mm san kelimpahan 20-40%. Sedangkan pada lapisan IV ditemukan konkresi jenis Mn dengan ukuran 2-5 mm dan keimpahan 20-40%.

Adanya konkresi Mn dan Fe dicirikan dengan adanya bercak-bercak gelap (Mn) sedangkan Fe berupa bercak atau warna tanah yang kemerah-merahan.

KOMPREHENSIF

Dari hasil pengamatan lahan di desa Sukosari, Jumantono yang terletak di daerah tropis memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi, sehingga memiliki solum tanah yang dalam. Daerah yang memiliki ketinggian 200mdpi dengan kemiringan 5% dengan sistem perbukitan berbentuk plato yang dapat mempengaruhi timbulan mikro berupa tegalan hal ini juga mempengeruhi timbulan mkro yang anro[ogen yang disebakan karena adanya kegiatan penggarapan tanah oleh manusia. Bentuk fisiogafi yang berupa plato dan terletak diantara pegunungan vulkanik dan aktifitas fluvial menyebabkan kemas muka tanah yang licin yang hanya dapat menyebabkan erosi pada permukaan dengan taraf atau tingkat yang ringan dan dengan fisiografis yang seperti itu menyebabkan lahan tersebut bebas dari banjir dan genangan. Karena pengaturan yang etpat dan idak menyebabkan adanya genangan, lahan di desa Sukosari ini cocok dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dengan sistem teal dan ditanami dengan tanaman budidaya seperti ketela pohon dan mangga.

Ketegasan batas tiap lapisan cenderung jelas dan baur dengan bentuk yang tidak beraturan seingga menyebabkan gleisasi yang bebas. Aerasi drainase yang cederung baik dan permiblitas yang capat dari lapisan atas ke bawah menyebabkan tanah memiliki strktur yang lepas dengan tekstur, meyoritas tersusun atas pasir lempung berdebu (Si C). profil tanah ang diamati didominasi oleh lempung berdebu yang ditandai dengan rasa licin. Tekstur ini mempunyai airase dan drainase yang baik sehingga dapat dengan mudah ditembus air. Sehingga tidak ada bahan yang diendapkan kecuali pada lapisan III dan IV  yang masing-masing mengandung lempung sehingga pada lapisan III terdapat endapan Fe dan pada lapisan IV terdapat endapan Mn. Hal ini terbukti dengan adanya konkresi pada masing-masing lapisan tersebut.

Tipe struktur dari tiap-tiap lapisan tanah yang diamati simbang oleh struktur tipe blocky dan sub angular blocky merata halus, sedang dan sangat kasar dengan derajat lemah, sedang dan kuat.profil tanah ini meiliki penetrometer yang mampu menahan berat beban yang besar, dan dengan warna merah kecoklatan menandakan bahwa tanah tersebut merupakan tanah latosol.

pH KCl yang lebih besar daripada pH H2O terjadi karena adanya pecucian basa-basa dalam tekstur dan struktur tanah. Jenis tanah alvisol cenderung memiliki kadar BO cukup tinggi dan tidak memiliki kandungan kapur (CaCO3).

KESIMPULAN

  1. Morfologi tanah di desa Sukosari Jumantono cocok untuk kegiatan pertanian dengan sistem tegal karen alokasinya bebas dari banjir dan genangan dan sedikit erosi
  2. Lahan di desa Sukosari merupakan tanah alvisol dngan sistem perbukian berbentuk plato
  3. Sifat kimia tanah yaitu pH tanah masam, kandungan BO dan konkresi Mn ingg, tidak mengandung kapur dan memiliki aerasi dan drainase yang bak.
  4. Sifat fisika tanah yaitu tekstur silty clay (lempung berdebu) dengan tipe struktur angular blocky dan blocky, warna tanah bron (coklat) dengan permiobilitas cepat serta penetrometer tanah yang kuat.
  5. Tanah di desa Sukosari memiliki tekstur tanah lempung begeluh (berdebu) dengan variasi struktur derajat dan struktur.

DAFTAR PUSTAKA

Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. Newyork.

Buckman. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Darmawijaya, M. Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Foth, H.D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Foth, H.D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.

Henry. 1988. Fundamentalis of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. Newyork.

Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian

Universitas Padjajaran. Bandung.

Kuswandi. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Poerwowidodo. 1992. Metode Selidik Tanah . Usaha Nasional. Surabaya.

Sarief. 1979. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas

Padjajaran. Bandung.

Sugiman. 1982. Ilmu Tanah Terjemahan. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Soepardi. 1979. Sifat Dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas

Pertanian IPB. Bogor.

Soepartini. 1979. Kimia Dan Kesuburan Tanah. Lembaga Penelitian Tanah Bogor.

Bogor.

Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian Teh & Kina. Bandung.

Yutono. 1983. Dampak Pengapuran Terhadap Beberapa Sifat Mikrobiologi Tanah.

Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: