ANALISIS SISTEM USAHA TANI PADA MASYARAKAT PETANI DESA NGARGOREJO KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI

  1. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kesadaran mengenai perlunya keselarasan dan kelestarian ekologi dan lingkungan yang bik dikalangan umat manusia sebenarnya merupakan suatu hal yang masih baru. Di Indonesia kita sedikitnya ketinggalan 20 tahun dari negara-negara industri maju. Yang juga terlambat menyadarinya betapa proses dan limbah industri secara perlahan-lahan dan tanpa disadari telah mencemarkan lingkungan hidup dan merusak keselarasan ekologi mereka.

Ekologi merupakan keseimbangan proses antara organisme hidup di dalam setiap lingkungan hidup yang anggota-anggotanya berproses saling bekaitan dan saling berdampak. Di negara-negara yang sedang berkembang seperti negara kita misalnya, lingkungan hidupnya beaneka warna, ada lingkungan hidup kota, lingkungan hidup daerah pertanian, lingkungan hidup hutan  tetapi setiap lingkungan hidup ini juga mempunyai dampak tehadap yang lainnya. Sumber air yang dibutuhkan oleh daerah pertanian dan perkotaan dapat terancam seandainya ekologi dalam lingkungan hidup huta rusak akibat penebangn pohon tanpa batas dan juga akan merusak keseimbangan dan kelestarian ekologi yang telah berjalan rapi. Dalam ekologi terdapat tiga unsur yaitu materi, energi, dan informasi. Materi merupakan unsur-unsur yang menyusun tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan. Energi adalah kosep untuk menerangkan gerak dimana energi diperlukan untuk melekukan kerja, karena merupakan konsep energi tidak dapat dilihat, yang dapat dilihat hanyalah efek dari energi tersebut. Sedangkan informasi dapat diartikan sebagai suatu hal yang dapat memberikan pengetahuan.

Dampaknya tidak hanya menimbulkan ancaman terhadap kelestarian sumber-sumber air, akan tetapi menimbulkan proses berantai yang akan membeikan lingkungan hidup manusia menjadi gawat. Di samping ini akibat yang lain adalah kerusakan / kehancuran sumber-sumber genetika tanaman dan sumber-sumber organisme hidup yang bahkan diantaranya mungkin berguna untuk manusia dan belum pernah dikenal selama ini.

Kesadaran baru yang harus kita perkuat adalah bahwa manusia hanyalah salah satu unsur saja dari seluruh proses yang terjadi dalam lingkungan hidup kita. Manusia bukanlah yang maha menentukan sendiri dan dia boleh saja berbuat semaunya. Kesadaran baru ini harus dapat mengantar kita ke pengertian bahwa dalam keselarasan proses ekologi, munusia ikut bertanggunga jawab dan berperan untuk melestarikan proses ekologi dalam berbagai lingkungan hidup yang saling berkaitan.

Untuk dapat bertahan dan hidup dalam keadaan tertentu makhluk hidup harus dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan hidupnya. Makin besar kemampuan adaptasi maka semakin besar peluang hidupnya. Di dalam lingkungan hidupnya makhluk hidup dikelilingi kekuatan-kekuatan yang membentuk lingkungan dimana ia memperoleh kebutuhan-kebutuhan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak. Dalam suatu proses adaptasi makhluk hidup  harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, baik dengan

keadan temperatur, kelembapan udara, air, dan radiasi sinar matahari.

B.  Tujuan Praktikum

Praktikum ekologi manusia ini bertujuan untuk:

  1. Mengkaji pola landscape, budidaya tanaman, input sumber daya, aliran materi, aliran uang, dan kelembagaan pada petani.
  2. Mengkaji    adanya   saling  ketergantungan   antara  subsistem internal  dan

subsistem eksternal.

  1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum Ekologi Manusia dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Mei 2006 yang dimulai pada pukul 12.30 WIB – selesai di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Mark (1979) menyebut pendapat yang pertama “antroposentris” dan menganggapnya mengandung masalah karena akan dapat dengan mudah menimbulkan sikap yang semakin bermusuhan terhadap linkungan. Namun tata guna konsep dan persyaratan menurut Bierhals et al (1974)  meliputi bukan hanya aspek ekonomi melainkan bidang-bidang lain seperti perlindungan satwa serta biotop, sekaligus juga pemanfaatannya untuk rekreasi. Dengan demikian “aspek ekologi” bisa menjadi bagian dari analisis untuk prosedur perencanaan umum (Gustav, 1988).

Ekologi terapan (atau ekologi manusia) adalah penerapan konsep-konsep ekologi untuk mempertelakan kegiatan manusia dan penentuan cara-cara terbaik bagi manusia untuk memperoleh kebutuhan manusia dri ekosistem itu. Ekosistem yang banyak diubah oleh kegiatan manusia dikatakan sebagai ekosistem yang dikelola, sedangkan yang bebas dari gangguan yang dinyatakan sebagai sebagai ekosistem alam  (Deshmukh, 1992).

Ekosistem dalam landscape umumnya berbentuk gambar dengan penambahan-penambahan yang dapat dilihat, penambahan-penambahan itu disebut dengan unsur-unsur landscape. Unsur-unsur yang terdapat pada landscape dengan tipe gunung, meliputi hutan, padang rumput, rawa, aliran air, dan kolam. Dalam landscape pertanian meliputi ladang, pagar dari tumbuh-tumbuhan, beberapa hutan, pekarangan petani, dan jalan yang berlumpur. Lanscape tentang kota kadang-kadang terdiri dari taman, daerah industri, pemukiman, jalan raya. Ekologi mengenai landcape mempelajari struktur, proses, dan perubahan dari landscape. Struktur terdiri dari ukuran, bentuk, dan komposisi. Perbedaan posisi ekosistem dengan landscape, struktur landscape mempengaruhi prosesnya seperti aliran energi, material, dan jenisnya diantara ekosistem dengan landscape digunakan untuk proses biologi, aktivitas iklim untuk organisasi untuk kebakaran (Otto, 1994).

Sawah adalah lahan pertanian yang memiliki ciri-ciri antara lain tanahnya rata, gembur, tidak berpasir atau memperoleh pengairan irigasi dan dapat menahan air, sehingga mudah dibuat basah dan kering sesuai dengan jenis tanaman yang dibudidayakan. Sawah pengairah dibedakan menjadi 3 jenis sawah, yaitu:

  1. sawah berpengairan teknis, yaitu sawah yang pengairannya dapat diatur pemberian airnya, dapat diukur, dan saluran pembantu serta pembuangan airnya memenuhi persyaratan teknis bangunan irigasinya.
  2. Sawah berpengairan setengah teknis, yaitu sawah yang pengairannya dapat diatur tapi pemberian air tidak dapat diukur, saluran pembawa dan pembuangannya memenuhi persyaratan teknis bangunan irigasi.
  3. Sawah berpengairan sederhana, yaitu sawah yang pengairannya tidak dapat diatur, pemberian air tidak dapat diukur, dan bangunan irigasinya dibuat sederhana.

(Salamun, 1994).

Berbeda dengan  tanaman,  ternak tidak  perlu  ditempatkan  di  satu  tempat saja.  Mobilitas  ini  memberikan  kemungkinan  untuk  menghindari  penyakit dan penularannya  dengan  menghindari  daerah-daerah beresiko tinggi   (Reijntjes, 2002).

Di daerah kering, contohnya tegal irigasi mengurangi resiko kegagalan budidaya tanaman yang disebabkan karena kekeringan dan sangat berpotensi meningkatkan produksi biomasa melalui perbaikan kondisi pertumbuhan (Reijntjes, 2002).

Pengolahan tanah pekarangan memerlukan input energi yang tinggi. Input ini bisa dihasilkan dari dalam (tenaga kerja manusia dan hewan) ataupun berasal dari luar lahan. Pengolahan tanah pekarangan dapat mengakibatkan efek negatif atas kehidupan tanah dan meningkatkan mineralisasi bahan organik         (Reijntjes, 2002).

Budidaya pertanian pribumi di Pulau Jawa diselenggarakan di sawah, tegalan secara teratur atau berkala, dan di pekarangan sekitar rumah kediaman. Padi merupakan tanaman yang khas dibudidayakan di sawah dan diseluruh negeri selama musim hujan. Di jawa bila keadaan alam dan perekonomian mengijinkan segala tanaman palawija juga diusahakan pada musim kemarau. Dalam budidaya padi diperlukan tahapan-tahapan yang meliputi persiapan lahan, penanaman, penyiangan, dan penuaian. Persiapan lahan menyangkut pengolahan tanah dengan menggunakan bajak, garu, dan cangkul. Penanaman merupakan pekerjaan memindahkan bibit ke persemaian untuk ditanam dalam jangka waktu yang singkat sehingga dilaksanakan dengan bantuan banyak tangan (Wardhana, 1999).

Tumbuhan mengambil karbondioksida dari udara melalui daunnya. Mengambil air dan hara kimia dari dalam tanah melalui akarnya. Dari bahan-bahan ini dengan menggunakan energi sinar matahari maka terbentuk biji, buah, serat dan minyak yang dapat digunakan oleh manusia. Disini tumbuhan sebagai pabrik pertanian yang primer. Sedangkan ternak merupakan pabrik pertanian sekunder yang penting. Makanan ternak tergantung pada tumbuh-tumbuhan sehingga ternak dapat memakan berbagai bagian dari tanaman yang tidak dimakan oleh manusia seperti batang dan daun rumput-rumputan. Ternak tertentu mampu mengubah bahan tanaman itu menjadi hasil yang berguna    bagi     manusia     seperti   daging,    kulit,   wol,    telur  dan   susu (Naughor, 1990).

Manusia secara ekologi adalah bagian integral lingkungan hidupnya. Manusia terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan sebaliknya manusia membentuk lingkungan hidupnya. Kelangsungan hidupnya hanya mungkin dalam batas kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan hidupnya (Sumarwoto, 1988)

Dalam suatu produksi tenaga kerja merupakan faktor yang sangat menentukan kegiatan pertanian sebagai pokok dan pekerjaan tambahan lainnya yang sudah tentu memerlukan tambaha tenaga kerja. Sesuai dengan kondisi masyarakat maka tenaga kerja yang digunakan adalah orang-orang yang masih mempunyai ikatan darah. Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa benar-benar kegiatan produksi masih berkisar dalam rumah tangga. Jumlah anggota keluarga yang banyak dianggap sebagai tenaga kerja. Makin banyak menggunakan tenaga di luar rumah tangga berarti makin besar biaya yang dikeluarkan (Indratinah, 1990).

LEISA tidak bertujuan untuk memaksimalkan produksi dalam jangka waktu pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. LEISA berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber daya alam serta memanfaatkan secara maksimal proses-proses alami. LEISA mengacu pada bentuk pertanian sebagai berikut:

  1. Berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal yang ada dengan mengkombinasikan dengan berbagai macam komponen sistem usaha tani yaitu tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan manusia sehingga saling melengkapi dan memeberikan efek energi yang paling besar.
  2. Berusaha mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumber daya ekologi, fisik, dan manusia.

(Koentjoroningrat, 1977).

Unutk memperoleh produksi yang maksimal dari usaha tani, petani melakukan usaha memajukan faktor-faktor produksi tanah, tenaga kerja, dan modal dengan ketrampilan menejemen tertentu. Tanah sebagai faktor produksi pertanian penting dalam usaha tani karena merupakan pabriknya hasil-hasil tanah garapan petani. Salah satu indikator untuk menilai tingkat produktivitasnya tanah adalah tingginya intensitas penanaman dalam satu tahun. Intensitas pennaman tergantung dari intensitas pengolahan tanah yang banyak ditentukan oleh jenis tanah dan penyediaan air dari irigasi. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang mencirikan produktivitas tenaga kerja yang tergantung dari ketrampilan, kondisi fisik, pengalaman dan latihan (Prayitno dan L. Arsyad, 1987).

Tiap makhluk hidup dikelilingi bahan-bahan dan kekuatan-kekuatan yang membentuk lingkungannya dimana ia memperoleh kebutuhan-kebutuhan untuk hidup, bertumbuh dan berkembang biak. Lingungan merupakan sumber energi, sumber materi dan tempat untuk membuang kotoran-kotoran yang tidak dibutuhkannya. Hidup sangat tergantung dari lingkungan, ia harus beradaptasi bahkan tubuhnya mengalami perubahan-perubahan dari pengaruh lingkungan juga tingkah laku dan watak tidak luput dari pengaruh tersebut (Ruslan, 1988).

Uang adalah medium pertukaran yang mengalir sebagai arus balik terhadap energi dan dapat diimbangi secara terpisah dalam bahasa sirkuit energi. Jadi mengalir sebagai arus balik terhadap informasi, materi, dan semua kuantitas barang yang digunakan. Uang dikeluarkan bagi barang-barang yang dibeli menurut rasio yang kita sebut sebagi harga. Sebaiknya harga dapat bekerja sebagai mekanisme pengatur. Sebagai contoh, pengaturan harga bersifat eksternal, kita sajikan uang dengan suatu garis aliran yang terputus-putus.   Uang  adalah  benar-benar   aliran   energi lain sehingga uang mempunyai nilai energi tinggi didalam interaksinya (Koentjoroningrat, 1977).

Koperasi Unit Desa (KUD) adalah lembaga koperasi yang berlandaskan pada asas kekeluargaan dan ketergantungan. Pada lembaga ini keputusan tertinggi terletak ditangan anggota. Perkembangan KUD kian pesat dari tahun ke tahun, terutama karena fungsinya sebagi lembaga yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan pengadaan pangan, karena peranan KUD yang begitu komprehensif ditingkat pedesaan, maka hampir semua kegiatan ekonomi di pedesaan bertumpu pada kegiatan KUD ini. Bukan berarti pihak swasta kurang berperan, namun karena keterbatasan kegiatan swasta di pedesaan (Sumintarsih, 1994).


III. METODE PELAKSANAAN

  1. Metode Dasar Praktikum

Metode dasar penyusunan laporan praktikum Koperasi Pertanian adalah deskriptif analisis dengan maksud menjelaskan dan memusatkan diri pada masalah yang ada masa sekarang, data dijelaskan dan dianalisis. Dengan metode ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengenal lebih lanjut mengenai kondisi koperasi.

  1. Metode Penentuan Lokasi dan Sampel

Lokasi sampel diambil secara sengaja (purposive) yaitu di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali yang mempunyai petani penggarap dalam usaha tani dan mempunyai sistem sosial yang dapat digunakan dalam pola adaptasi sistem sosial lahan sawah.

Sedangkan penentuan responden secara “key informant” yaitu orang yang mempunyai pengetahuan meluas mengenai berbagai sektor dalam masyarakat  dan   yang   mempunyai kemampuan lain yang akan memberikan

informasi kegiatan dirinya dalam bidang pertanian.

  1. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam praktikum Ekologi Manusia yang dilakukan di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali diperoleh dari data primer dan sekunder.

Data yang digunakan adalah:

  1. Data primer, yaitu data yang didapat langsung dari responden dengan mengadakan dialog langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan  atau kuisioner yang sudah disiapkan sebelumnya.
  2. Data sekunder, yaitu data yang diambil dengan cara mencatat langsunng data yang ada di instansi terkait dalam hal ini Kantor Desa dimana kami melaksanakan praktikum.
  1. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari praktikum ini dianalisis dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif yaitu dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dari kelurahan yang bersangkutan sedangkan metode kualitatif yaitu dengan menggunakan teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada dialami responden. Pada kasus-kasus tertentu penyusun bisa menulis secara lebih mendalam dan komprehensif penjelasan-penjelasan berdasarkan fenomena yang relevan dengan permasalahan yang ada.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Wilayah

  1. Deskripsi Wilayah

Desa Ngargorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Batas-batas wilayah  Desa Ngargorejo adalah sebagai berikut :

  1. Selatan      :  Waduk Cengklik dan Desa Senting, Kecamatan Sambi
  2. Timur        :  Desa Ngresep
  3. Utara         :  Desa Dengungan, Kecamatan Banyudono

Desa Bolon, Kecamatan Colomadu

  1. Barat         :  Desa Canden, Kecamatan Sambi.

Desa yang memiliki daerah berombak ini memiliki luas wilayah berupa tanh sawah sebesar 3.065.920 ha ini memiliki irigasi teknis 89 ha, sementara itu untuk tanah kering yang terdiri dari pekarangan 376200 ha, tegal/kebun 183820 ha dan ladang penggembalaan 49475 ha. Sedangkan tanah untuk keperluan fasilitas umum yaitu taman rekreasi sebesar 360 ha diberdayakan sebagai obyek wisata dengan memanfaatkan potensi Waduk Cengklik.

Sistem kelembagaan di sini berbentuk desa yang dipimpin oleh seorang kepala desa dibantu oleh seksi-seksi dan kepala lingkungan. Jumlah jabatan kepala lingkungan ada 3 orang. Jumlah jabatan kepala seksi ada 3 jenis, desa yang terdiri dari 6 rukun warga dan 31 rukun tangga dan  31 buah berstatus swasembada. Disebut swasembada karena sudah mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan orang lain.

LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) yang dimiliki desa Ngargorejo mempunyai personil 15 orang. Dimana kadar pemberdayaan masyarakat se kelurahan 3 orang yang tidak aktif 3 orang. Semuanya kita bisa lihat disini ketidak aktifannya.

Prasarana pemerintahan desa Ngarjorejo memiliki tanah sawah bengkok 115820 m2, dimana peruntukannya untuk tanah kas desa. Untuk tanah bengkok 115820 m2 dan tanah panggonan 49475 m2 . prasarana pengairan dalam kondisi baik berjumlah 1 buah, kondisi rusak dapat dilihat 4 buah.

Dari segi pendapatan dan ekonomi keuangan sisa anggaran tahun lalu mencapai Rp 429.310,00, penerimaan anggaran rutin Rp 78.507.462,00 dapat menggerakkan perekonomian termasuk pertanian.

B. Landscape

  1. Identitas Responden

Tabel 4.1. Identitas Responden 1

Nama Umur Status Pekerjaan pendidikan
  1. Suwarno
  1. Hastuti
  2. Wanadra Eko. H
  3. Septira Dwi Respati
  4. Sambung Tri Asmoro
50

39

12

9

3,5

Ayah

Istri

Anak

Anak

Anak

Pokok :Sekdes

Sambilan : petani

SLTA

SLTA

SD

SD

-

Sumber: Data Primer

Pada keluarga Bapak Suwarno terdapat lima anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. Pak Suwarno merupakan kepala keluarga yang bekerja sebagai sekdes dan mempunyai kerja sambilan sebagai petani. Sedangkan istrinya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja. Anaknya yang berjumlah tiga, dua diantaranya masih bersekolah SD dan satu anaknya yang lain belum bersekolah.

Tabel 4.2. Identitas Responden 2

Nama umur status Pekerjaan pendidikan
1. Guntoro

2. Lestari Utami

3. Paksi

4.Melisa

5. Sindu

42

33

17

12

2

Ayah

Istri

Anak

Anak

Anak

Pokok : bayan

Sambilan : petani

Ibu Rumah Tangga

-

-

-

SLTA

SLTP

SLTA

SD

-

Sumber: Data Primer

Seperti hanlnya pada keluarga Bapak Suwarno, di keluarga Pak Guntoro juga terdapat lima anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak. Pak Guntoro merupakan kepala keluarga yang bekerja sebagai bayan dan mempunyai kerja sambilan sebagai petani. Sedangkan istrinya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja. Anaknya yang berjumlah tiga, dua diantaranya masih bersekolah SLTP dan SD sedangkan satu anaknya yang lain belum bersekolah.

  1. Kepemilikan Lahan

Responden 1

  1. Sawah

Lahan yang dimiliki oleh keluarga Bapak Suwarno memiliki luas 20.000 m2 (2 Ha). Yang mempunyai panjang 1000 m dan lebar      200 m. Tanamannya padi dengan varietas IR64.  Selain ditanami padi, lahan juga ditanami tanaman tebu dengan sistem tanam tumpang hilir.

Galengan-galengan sawah tidak ditanami apapun, seperti pada gambar di bawah ini.

X   X    X    X     X      O  O  O  O  O  O  O  O  O  O  O   O   O   O

X    X    X    X     X     O   O  O  O  O  O  O  O  O  O  O   O  O   O

X    X     X    X    X     O  O   O  O  O  O  O  O  O  O  O   O   O  O

X    X    X     X    X    O   O   O     O    O

X    X    X     X    X    O   O   O     O    O

200m

1000m

Keterangan:                Skala 1 : 10.000

O   : padi

X   : tebu

Gambar 1. Pemetaan Sawah Keluarga Responden 1

Dalam pengolahan sawah selain menggunakan tenaga yang terdiri dari kurang lebih 20 orang mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemupukan, pengenndalian hama sampai pengairan. Untuk panen, bapak Suwarno tidak menggunakan tenaga kerja karena hasilnya ditebaskan ke penebas.

  1. Tegal

Keluarga bapak Suwarno memiliki tegal seluas 900 m2. Tegal tersebut berbentuk persegi panjang dan ditanami tanaman jati jenis jati super. Untuk lebih jelas  ­dapat dilihat pada gambar sebagi berikut :

20m

O   O   O     O   O   O   O   O   O    O   O   O     O    O  O   O   O   O

O   O   O     O    O    O   O   O    O

O   O   O     O    O    O   O   O    O

O   O   O     O    O    O   O   O    O

Keterangan:

o : Tanaman Jati

45m

Skala 1 : 1.000

Gambar 2. Pemetaan Tegal Keluarga Responden 2

Bapak Suwarno mengolah tanahnya sendiri karena tegal tersebut hanya ditanami jati yang merupakan tanaman tahunan sehingga tidak memerlukan banyak perawatan dan pemeliharan. Selain itu alasan bapak Suwarno menanami lahannya dengan jati karena menurutnya tanaman tersebut tidak membutuhkan biaya yang tinggi tetapi hasilnya dirasa sangat menjanjikan walaupun harus menunggu beberapa tahun. Biaya produksinya hanya pada pembelian pupuk dan pembelian pupuk saja.

  1. Pekarangan

Pekarangan yang dimiliki keluarga Bapak Suwarno ini terletak mengarah di depan rumah dengan luas 1077 m2. Pekarangan tersebut ditanami buah-buahan seperti jambu, pisang dan mangga. Untuk lebih jelas  ­dapat dilihat pada gambar sebagi berikut :

29,9 m

Keterangan :

= tanaman pisang

X   = tanaman mangga

O   = tanaman jambu

36 m

= kandang

= rumah

= pekarangan

Skala 1 : 600

Gambar 3.Pemetaan Pekarangan Responden 1

Hasil dari pekarangan ini hanya di konsumsi sendiri, tetapi juga ada yang diberikan kepada tetangga-tetangga disekitar rumah.

  1. Ternak

Keluarga Bapak Suwarno memiliki ternak ayam sekitar 20 ekor dengan kan dang yang terletak dibelakang rumah.ada dua kan dang ayam namun hanya satu yang dipakai karena ayam yang berada dalam kandang yang satunya sudah dijual ketika wabah flu burung merebak. Dari 20 ekor ayam ada 13 ekor ayam betina dan sisanya ayam jantan di tempatkan di kandang dengan ukuran lebar 4 m dan panjang 6 m. Ternak ini dikelola sendiri oleh Bapak Suwarno karena selain mudah pemeliharaannya jaga sebagai hobi. Untuk lebih jelas pemetaan sebagai berikut :

KANDANG

Keterangan :

= kandang

= tempat makan

ternak

Skala 1 : 400

Gambar 4. Pemetaan ternak Responden 4

Responden 2

a)         Sawah

Lahan yang dimiliki oleh keluarga Bapak Guntoro memiliki luas 10.000 m2 (1 Ha) dimana 1 (satu) Ha adalah 2 (dua) Patok tersebut mempunyai tanaman utama adalah padi dengan jenis IR 64 Seperti yang terdapat pada gambar berikut:

Vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv

vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv

vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv

Keterangan:

vvvv   : Padi

Gambar 5. Pemetaan Sawah Responden 2

Sawah Pak Guntoro semuanya ditanami padi. Topografi lahan termasuk dataran rendah yang ditandai dengan petakan  pengolahan lahan Pak Guntoro sudah baik, terbukti sudah menggunakan traktor untuk pengolahan. Tenaga kerja selai menggunakan tenaga dari luar sekitar 8 orang, selain itu sawahnya menggunakan saluran irigasi dengan saluran irigasi sekunder, yaitu dengan menggunakan pipa. Diamana sumber air berasal dari areal waduk .

b)        Tegal

Bapak Guntoro mempunyai tegal seluas 400 m2 ( 0,04 Ha) tegal tersebut berbentuk persegi panjang, jenis tanaman yang terdapat pada tegal yaitu pohon jati. Seperti yang terdapat pada gambar berikut :

O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O  O O O O O O O O O O  OO

Skala 1 : 1000

Panjang 40 m Lebar 10 m

Keterangan :

O    : kayu jati

Gambar 6. pemetaan Tegal Responden 2

Tegal milik Bapak Guntoro di tanami pohon jati. Bibit diperoleh dari bantuan dinas pertanian dan kehutanan. Pengairan hanya mengandalkan air hujan. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan kotoran kambing, dan sapi yang diperoleh dari tetangga.

c)         Pekarangan

Pekarangan yang dimiliki oleh Bapak Guntoro berada dibelakang rumah bersebelahan dengan kandang ayam. Pekarangan seluas 600 m2 tersebut ditanami berbagai jenis tanaman, antara lain mangga dan pepaya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Skala 1 : 0.1

Panjang 20 x Lebar 30

Rumah

Gambar 7. Pemetaan Pekarangan Rumah Responden 2

Keterangan :

: Pepaya

O : Mangga

Pekarangan dibudidayakan hanya sebagai sampingan dan untuk mengisi waktu luang, dimana pengairannya hanya mengandalkan air hujan, dan pemupukannya hanya menggunakan pupuk kandang.

d)      Ternak

Rumah

Gambar 8. Pemetaan Kandang Ternak Responden 2

Kandang

Gambar detail kandang

Tempat makan

Gambar 9. Gambar Detail Kandang Responden 2

Kandang ternak yang dimiliki Pak Guntoro terdiri dari 2 jenis kandang, kandang  yang  pertama  berukuran 5 m  x 4,5 m  digunakan untuk  berkembangbiakan  ayam kampung,  selama  masa  pengeraman induk betina.  Sedangkan  kandang  yang kedua  berukuran 2,3 m x 1,75 m yang  digunakan untuk pejantan jenis ayam bangkok. Ayam-ayam tersebut dipelihara kemudian setelah besar, cukup usia untuk dijual untuk menambah penghasilan selain itu juga dijual untuk ayam petarung, seluruh kandang terletak diseberang jalan depan rumah.

C. BUDIDAYA TANAMAN

Responden I

  1. Jenis Tanaman.

Jenis tanaman yang di budidayakan keluarga Bapak Suwarno antara lain seperti yang ada pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.3. Jenis Tanaman yang di Budidayakan Responden 1

Lahan Jenis Tanaman Jumlah
Sawah

Tegal

Pekarangan

Padi jenis IR 64, tebu

Jati

Mangga, pisang, jambu

2 ha

0,09 ha

0,1077 ha

Sumber : Data Primer

Dari tabel tersebut menunjukan bahwa sawah miliki Bapak Suwarno cukup luas 2 ha tetapi hanya ditanami padi dan tanaman tebu. Disamping itu padi yang ditanam pada sawah Bapak Suwarno berjenis bibit padi IR 64. Sedangkan untuk pekarangannya cukup luas dimana luasnya 0,09 ha ditanami mangga, pisang, pepaya, dan jambu. Sedangkan untuk tegalnya yang luasnya 0,1077 ha hanya ditanami tanaman pohon jati.

  1. Budidaya tanaman

a. Budidaya tanaman padi

1. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan, tanah milik Bapak Suwarno dikerjakan dengan cara di bajak yang disewa dari pemilik traktor. Pembajakan dilakukan dengan menggunakan traktor (biasa disebut luku), pembajakan tersbut di lakukan setelah tanah yang direndam dengan air menjadi lunak dan tempat-tempat yang tidak di  bajak yaitu ditepi-tepi galengan di cangkul, setelah pembajakan gumpalan-gumpalan Lumpur di hancurkan dengan garu dan rumput-rumput dibalik, kemudian tanah hasil pembajakan tersbut dibiarkan selama kurang lebih 20 hari. Tanah kemudian di garu lagi, air yang selama ini mengalir terus-menerus di tahan. Hal itu dimaksudkan untuk menguji kekuatan galengan-galengan sawah.

2.  Pembibitan

Bibit yang telah dibeli dari petani lain dengan harga sekitar  Rp 150.000,00. Bibit disemaikan terlebih dahulu. Bila akar kecil telah tampak di mulai penebaran benih, benih di bawah ke sawah, ditaburi dengan garam agar cepat berkecambah lalu ditutupi dengan dengan daun dadap agar warna hijaunya semakin tampak.

3. Penanaman

Bibit yang dianggap baik untuk dipindahkan bila telah mencapai umur kira-kira 30 hari dicabut secara bergugusan selanjutnya diikat menjadi satu kemudian ditanam dengan jarak 10 cm dan dibenamkan sedalam 5 cm.

4. Pengairan

Pengairan di lakukan sampai umur tanaman dewasa. Sistem pengairan berupa saluran semi teknis yang airnya berasal dari waduk. Menurut Bapak Suwarno saluran yang menuju sawahnya belum begitu baik. Lahan sawah lebih tinggi daripada waduk sehingga aliran air dari waduk tidak begitu lancar. Selain itu saluran irigasinya sering bocor karena menggunakan pipa kecil sehingga aliran airnya sering terhenti. Pengawasan dilakukan oleh pengatur aliran air. Biaya pengairan tidak ditentukan tarifnya hanya kesepakatan kedua belah pihak saja.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang, pupuk KCl, TSP, SP 36, dan urea dengan komposisi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

6. Perawatan

Perawatan tanaman padi dilakukan dengan cara penyiangan dilakukan apabila gulma tumbuh subur. Selain itu agar tanah tetap gembur tanah di gemburkan menggunakan sejenis alat yang menyerupai cangkul namun berukuran kecil. Sedangkan pemberantasan hama biasanya dilakukan dengan menggunakan pestisida dengan merk “Reagent” cair namun penggunaan jenis insektisida yang lain juga dilakukan bila diperlukan. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi supaya tidak terjadi kerusakan yang lebih parah. Biasanya hama yang menyerang adalah hama jenis sundep.

7. Panen

Dilakukan dengan cara ditebaskan kepada penebas sehingga tidak membutuhkan tenaga kerja untuk memanen padi. Tanaman padi yang siap panen, dipotong pada tengah-tengah batang di kumpulkan dan digiling.

  1. Budidaya Tanaman Tebu

1. Pengolahan lahan

Tanah dibajak karena lebih menghemat waktu dan tenaga serta lebih baik dari dicangkul. Pengolahan tanah pada tanaman tebu tidak berbeda jauh dengan tanaman padi. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dibeli dari petani lain yang menyediakan bibit unggul. Bibit tanaman tebu dapat diperoleh dengan cara memotong batang tebu dengan ukuran 25 cm. Potongan tersebut diletakan pada tempat lembab agar tunasnya cepat tumbuh. Setelah tumbuh akar baru dipindahkan ke dalam tanah.

3.  Penanaman

Tanaman tebu yang telah muncul tunasnya ditanam dengan kedalaman 10 cm dibawah permukaan pada lahan yang telah dipersiapkan.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa penyiraman tanaman dilakukan jika tanaman    benar–benar kering / tanah kering. Air berasal dari waduk dengan saluran semi teknis.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang dan puuk lainnya sesuai dengan kebuituhan tanaman, begitu seterusnya sampai tumbuih dewasa.

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering serta pemakaian pestisida (jenis insektisida) bila ada hama. Daun-daun hasil dari tanaman tebu sering digunakan untuk membuat pupuk kompos.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman sudah sampai batang berukuran cukup panen. Tanaman tebu yang sudah siap p[anen di tebang pada pangkal bawah dan dibawa ke truk-truk tebu untuk dibawa ke pabrik penggilingan tebu. Sistem panen adalah sistem tebas seperti halnya padi. Pemilik hanya menerima uang tebasan sedangkan seluruh kegiatan pemanenan dilakukan oleh penebas.

  1. Budidaya Tanaman Pisang

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari jerami dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing yang didapat dari meminta pada tetangga. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dibeli dari pasar yang menyediakan bibit unggul tanaman pisang. Selain membeli, bibit tanaman pisang dapat diperoleh dari tetangga.

3.  Penanaman

Tanaman pisang ditanam dengan kedalamn 20 cm dibawah permukaan. Jarak antar tanaman 2 m.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa penyiraman tanaman dilakukan jika tanaman benar – benar kering / tanah kering. Air berasal dari sumur yang berada di dalam rumah.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan sampai tanaman tumbuh dewasa. Biasanya pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang.

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering. Apabila ada hama yang menyerang segera di beri pestisida. Karena biasanya yang menyerang tanaman pisang adalah ulat maka jarang digunakan pestisida.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman berbuah sampai buah pisang  tersebut masak. Kira – kira sekitar 5 bulan.

  1. Budidaya Tanaman Jati

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari daun-daun dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dibeli dari toko-toko atau pasar yang menyediakan bibit-bibit unggul tanaman atau pada petani jati lain yang menjual bibit jati unggul. Selain membeli, bibit tanaman jati dapat diperoleh dari tetangga karena tetanga juga ada yang menanam tanaman jati.

3.  Penanaman

Tanaman jati ditanam dengan kedalamn 20 cm dibawah permukaan dengan jarak antar tanaman 50 cm.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa penyiraman tanaman dilakukan jika tanaman benar – benar kering / tanah kering.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur lebih dari  1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang atau pupuk lain yang dibutuhkan oleh tanaman sampai tanaman cukup terpenuhinya unsur hara.

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering. Selain itu perawatan juga dilakukan dengan membunuh hama pada tanaman jika terdapat hama.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman benar – benar tua dan daun – daun pohon jati cukup tua untuk digunakan.

  1. Budidaya Jambu

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari daun yang telah membusuk dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dapat dibeli dari tetangga atau dari beli dari pasar yang berada tidak jauh dari desa.

3.  Penanaman

Tanaman jambu ditanam dengan kedalamn 20 cm dibawah permukaan. Jarak antar tanaman 2 m.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa penyiraman tanaman dilakukan ketika tanaman benar – benar membutuhkan air. Air berasal dari sumur yang berada di dalam rumah.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman mencapai umur kira-kira 1,5 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang, sampai tanaman cukup terpenuhinya unsur hara.

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering dan penggulangan hama jika muncul hama.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman sudah menghasilkan buah yang dirasa sudah saatny untuk dipetik atau buah sudah benar-benar masak.

  1. Budidaya Mangga

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari daun dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dibeli dari pasar yang menyediakan bibit tanaman khususnya mangga. Selain membeli, bibit tanaman mangga dapat diperoleh dari tetangga.

3.  Penanaman

Tanaman mangga ditanam dengan kedalamn 20 cm dibawah permukaan pada lahan. Jarak tanam adalah 2,5 m.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa penyiraman tanaman dilakukan jika tanaman benar – benar kering / tanah kering. Air berasal dari sumur yang berada di dalam rumah.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman berbuah sampai buah mangga  tersebut masak.

  1. Sarana Produksi

Tabel 4.4. Sarana Produksi dalam Budidaya Pertanian Responden 1

Saprodi Cara Memperoleh Harga (Rp)
  1. Bibit Padi IR 64
  2. Bibit tebu
  3. Bibit Mangga
  4. Kayu Jati
  5. Bibit Jambu
  6. Cangkul
  7. Traktor
  8. Pupuk Urea
  9. Pupuk TSP
  10. Pupuk SP36
  11. Pupuk Kandang
  12. Pupuk kompos
  13. Pupuk KCl
  14. Bibit Pisang
  15. Pestisida“reagent”
Membeli di toko Pertanian

Membeli dri petani

Membeli  dan tetangga

Membeli dari toko/pasar

Membeli dan dari tetangga

Membeli

Menyewa

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Mebeli dari tetangga

-

Membeli di toko Pertanian

Membeli dan dari tetangga

Membeli di toko pertanian

150.000/patok

150.000/patok

20.000

1.500/tanaman

15.000

80.000

750.000

860.000

1.250.000

1.240.000

75.0000

-

480.000

20.000

300.000

Sumber : Data Primer

Sarana produsi pertanian yang digunakan Pak Suwarno kebanyakan dipeoleh dari membeli dari toko pertanian atau pasar yang menyediakan sarana produksi tersebut. Ini dikarenakan letak toko dan pasar yang dekat dan telah menyediakan berbagai macam sarana peoduksi yang dibutuhkan.

  1. Tenaga Kerja

Tabel 4.5. Tenaga Kerja dalam Kegiatan Budidaya Tanaman Responden 1

Tenaga kerja Asal Jumlah
1. Sawah

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Pengairan
  4. Penanaman
  5. Pemupukan
  6. Perawatan
  7. Pemanenan

2. Tegal

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Pengairan
  4. Penanaman
  5. Perawatan
  6. Pemanenan
    1. Pekarangan
    2. Pengolahan lahan
    3. Pembibitan
    4. Pengairan
    5. Penanaman
    6. Perawatan
    7. Pemanenan
Dari Luar

Dari Luar

Sendiri

Dari Luar

Dari luar

Dari Dalam

Dari Dalam

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

2 orang

24 orang

3 orang

24 orang

3 orang

2  orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

Sumber: Data Primer

Dalam pelaksanaan kegiatan pertaniaan selain mengandalkan tenaga pribadi, Bapak Suwarno juga menggunakan bantuan dari luar seperti buruh tani. Penggunan tenaga dari luar lebih banyak dipakai pada lahan sawah karena luas lahan yang begitu besar sehingga dia beranggapan tidak sanggup untuk menggarapnya sendiri.sedangkan untuk lahan tegal dan pekarangan dikerjakan sendiri karena lahan yang dikerjakan mempunyai luas yang tidak begitu besar sehingga mampu untuk dikerjakan sendiri.

Responden II

  1. Jenis Tanaman.

Jenis tanaman yang di budidayakan keluarga Bapak Guntoro antara lain seperti yang ada pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.6. Jenis Tanaman yang Di budidayakan Responden 2

Lahan Jenis Tanaman Jumlah
Sawah

Tegal

Pekarangan

Padi Jenis IR 64

Pohon Jati

Mangga, Pepaya

1   ha

0,004  ha

0,006 ha

Sumber : Data Primer

Dari tabel diatas dapat di lihat hasil sebagai berikut :

a.  Sawah

Jenis tanaman yang ada di sawah hanya padi tanpa adanya sistem tumpang sari

b.  Tegal

Jenis tanaman yang ada di tegal Pak Guntoro adalah pohon jati. Pohon jati tersebut didapat dari sumbangan dinas pertanian dan kehutanan dan apabila sudah cukup umur maka akan dijual.

c.   Pekarangan

Dipekarangan terdapat bebrapa jenis tanaman bua-buahan antara lain mengga dan pepaya. Hasil dari pekarangan sebagian dijuak dan sebagian lagi dikonsumsi sendiri.

  1. Budidaya tanaman
    1. Budidaya Tanaman Padi
    2. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan, tanah milik pak Guntoro dikerjakan dengan cara di bajak. Pembajakan dilakukan dengan menggunakan traktor, pembajakan tersbut di lakukan setelah tanah yang direndam dengan air menjadi lunak dan tempat – tempat yang tidak di  bajak yaitu ditepi – tepi galengan di cangkul, setelah pembajakan gumpalan – gumpalan Lumpur di hancurkan degnan garu dan rumput – rumput dibalik, kemudian tanah hasil pembajakan tersbut dibiarkan selama kurang lebih 20 hari. Tanah kemudian di garu lagi, air yang selama ini mengalir terus – menerus di tahan. Hal itu dimaksudkan untuk menguji kekuatan galengan – galengan sawah.

  1. Pembibitan

Bibit yang telah dibeli dari Toko pertanian disemaikan terlebih dahulu. Bila akar kecil telah tampak di mulai penebaran benih, benih di bawah ke sawah, ditaburi dengan garam agar cepat berkecambah lalu ditutupi dengan dengan daun dadap agar warna hijaunya semakin tampak.

  1. Penanaman

Bibit yang dianggap baik untuk dipindahkan bila telah mencapai umur dicabut secara bergugusan selanjutnya diikat menjadi satu kemudian ditanam dengan jarak 10 cm dan dibenamkan sedalam 5 cm.

  1. Pengairan

Pengairan di lakukan sampai umur tanaman dewasa. Saluran yang digunakan adalah saluran sekunder yang di alirkan dari sungai – sungai dan sumur buatan yang biasa disebut sumur bor.

  1. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang, pupuk anorganik yaitu Urea dan TSP dengan komposisi seimbang serta lebih baik mengunakan pupuk kompos dari jerami.

  1. Perawatan

Perawatan tanaman padi dilakukan dengan cara penyiangan dilakukan apabila gulma tumbuh subur. Sedangkan pemberantasan hama ini dilakukan dengan menggunakan pestisida Endrin yang dicampur dengan pupuk. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi supaya tidak terjadi kerusakan yang lebih parah.

  1. Panen

Tanaman padi yang siap panen, dipotong pada tengah-tengah batang di kumpulkan dan digiling.

  1. Budidaya Tanaman Jati

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan Kompos yang berupa campuran jerami dan rabuk kotoran sapi dan kambing yang sudah kering. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah.

2.   Pembibitan

Bibit diperoleh dari dinas pertanian dan kehutanan sebagai bagian dari program hibah untuk perangkat desa.

3.  Penanaman

Tanaman jati ditanam dengan kedalamn 20 cm dibawah permukaan pada bedangan selebar 1,5 cm. Jarak antar tanaman 35 cm.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan 3 – 4 hari sekali sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa tanaman dilakukan penyiraman juga tanaman benar – benar kering / tanah kering.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang, sampai tanaman cukup terpenuhinya unsur hara.

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman benar – benar tua dan daun – daun pohon jati cukup tua untuk digunakan.

  1. Budidaya Tanaman Mangga

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari jerami dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit dibeli dari toko – toko yang menyediakan bahan – bahan pertanian. Selain membeli, bibit tanaman mangga dapat diperoleh dari tetangga.

3.  Penanaman

Tanaman mangga ditanam dengan kedalaman 20 cm dibawah permukaan pada bendengan selebar 1,2 cm. Jarak antar tanaman 30 cm.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan 3 – 4 hari sekali sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa tanaman dilakukan penyiraman juga ketika tanaman benar – benar kering / tanah kering.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering.

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan sewaktu tanaman berbuah sampai buah mangga tersebut masak. Kira – kira sekitar 10 bulan.

  1. Budidaya Pepaya

1. Pengolahan lahan

Tanah dicangkul dan dicampur dengan kompos yang dibuat dari jerami dan rabuk dari kotoran sapi dan kambing. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah dengan kompos yang seimbang.

2.   Pembibitan

Bibit tanaman pepaya di peroleh dari umbi singkong yang dibeli di pasar, selain itu juga dari tetangga.

3.  Penanaman

Tanaman pepaya ditanam dengan jarak 30 cm dan di bawah kedalam lubang 5 cm.

4. Penyiraman

Penyiraman dilakukan 3 – 4 hari sekali sampai tanaman cukup dewasa, setelah dewasa tanaman dilakukan penyiraman juga ketika tumbuhan benar – benar membutuhkan air.

5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan. Kemudian di beri pupuk kandang,

6. Perawatan

Perawatan tanaman di lakukan dilakukan dengan penyiangan setelah gulma banyak dan mengambil daun – daun yang kering.

7. Pemanenan

Pemanenan pepaya  dilakukan pada  usia  setelah  berumur  4-5 bulan dengan pepaya tersebut.

  1. Sarana Produksi

Tabel 4.7. Sarana Produksi Dalam Budidaya Pertanian Responden 2

Saprodi Cara Memperoleh Harga (Rp)
  1. Bibit Padi IR 64
  2. Mangga
  3. Kayu Jati
  4. Pepaya
  5. Cangkul
  6. Traktor
  7. Pupuk Urea
  8. Pupuk TSP
  9. Pupuk Za
  10. Pupuk Kandang
  11. Furadan
  12. Pelet (pur ayam)
Membeli di toko Pertanian

Membeli  dan tetangga

Bantuan dari dinas

Membeli dan tetangga

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

Kotoran ternak

Membeli di toko Pertanian

Membeli di toko Pertanian

153.000/ha

-

-

-

125.000

1.265.000

135.000

98.000

125.000

-

17.500

10.000

Sumber: Data Primer

Sarana produksi yang digunakan Bapak Guntoro kebanyakan membeli dari toko Pertanian, karena Desa ini dekat dengan toko yang menyediakan sarana produksi pertanian yang keberadaannya sangat membantu petani di sekitar Desa Ngargorejo.

  1. Tenaga Kerja

Tabel 4.8. Tenaga Kerja Dalam Kegiatan Budidaya Tanaman Responden 2

Tenaga kerja Asal Jumlah
1. Sawah

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Pengairan
  4. Pemupukan
  5. Penanaman
  6. Perawatan
  7. Pemanenan

2. Tegal

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Pengairan
  4. Pemupukan
  5. Penanaman
  6. Perawatan
  7. Pemanenan

3. Pekarangan

  1. Pengolahan lahan
  2. Pembibitan
  3. Pengairan
  4. Pemupukan
  5. Penanaman
  6. Perawatan
  7. Pemanenan
Dari Luar

Dari Luar

Sendiri

Dari luar

Dari Luar

Dari Dalam

Dari Dalam

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

Sendiri

2 orang

24 orang

3 orang

3 orang

24  orang

2 orang

2  orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

Sumber: Data Primer

Dalam pelaksanaan kegiatan pertaniaan selain mengandalkan tenaga pribadi dan keluarga, Bapak Guntoro juga menggunakan bantuan dari luar seperti buruh tani. Penggunaan tenaga dari luar dilakukan untuk melancarkan proses produksi. Dalam penyediaan tenaga kerja tidak dilakukan dengan sembarangan hal ini dikarenakan pada saat penanaman tenaga yang dibutuhkan harus mempunyai pengalaman agar tidak terjadi kesalahan yang menyebabkan rusaknya benih padi ataupun mati. Tenaga kerja pada pembibitan dan penanaman sama yaitu berjumlah 24 orang, ini dikarenakan kegiatan tersebut dilakukan secara borongan. Tenaga kerja yang digunakan adalah buruh harian dimana mereka diberi upah Rp. 25.000 per hari dengan jam kerja mulai pukul 07.00 – 12.00 WIB. Pada pemanenan responden tidak menggunakan tenaga kerja. Hal ini disebabkan pada proses pemanenan dilakukan dengan cara ditebaskan.


  1. D. KOMPOSISI SUMBER DAYA
    1. Input

Tabel 4.9. Input Sumber Daya Keluarga Responden 1

Eksternal Internal
Input Asal Jumlah (Rp) Input Asal Jumlah
  1. Pupuk Anorganik
  2. Benih Padi
  3. Pestisida
  4. Pakan Ternak
  1. Urea
  2. KCl
  3. TSP
  4. SP36
  5. Bibit IR36
  6. Bibit Tebu
  7. Bibit Jati
Toko Saprodi

Petani l;ain

Toko Saprodi

Toko pakan ternak

Toko

Toko

Toko

Toko

Toko

Pasar/petani

Pasar

1000 kg/ panen

150000

300000

2500/kg

860000

480000

1250000

1240000

200000

150000/patok

1500/btg

Kotoran ayam Ternak Satu karung

Sumber: Data Primer

Dalam kegiatan pembudidayaan tanaman dan pengelolaan ternak dari keluarga bapak Suwarno sebagian besar mempunyai input sumber daya baik dari segi eksternal dan internal yang berasal dari luar. Kegiatan pembudidayaan tanaman pada musim tanam kali ini bamyak mengeluarkan biaya. Input sumber daya yang berasal dari luar pupuk anorganik, pestisida (merk Reagent), dan bibit padi IR 64, bibit tebu, bibit jati,pakan ternak. Sedangkan input dari dalam adalah kotoran ayam dan tenaga kerja.

Tabel 4.10. Input sumber daya keluarga Responden 2

Eksternal Internal
Input Asal Jumlah (Rp) Input Asal Jumlah
1. Pupuk anorganik

2. Benih Padi

3. Pestisida

4. Tenaga kerja

5. Pelet (pur Ayam)

Toko Saprodi

Toko Saprodi

Toko Saprodi

Tetangga

Toko Saprodi

1000 kg/ panen

-

-

2 orang

5 Kg /hari

Tenaga Kerja Sendiri 1 Orang

Sumber: Data Primer

Dalam kegiatan pembudidayaan tanaman dan pengelolaan ternak dari keluarga bapak Guntoro sebagian besar mempunyai input sumber daya baik dari segi eksternal dan internal yang berasal dari luar, dengan kegiatan pembudidayaan tanaman pada musim tanam kali ini bamyak mengeluarkan biaya. Input sumber daya yang berasal dari luar pupuk anorganik (merk Kujang), pestisida (merk Regent dan Pasta), dan bibit padi IR 64, pelet (pur ayam) dan buruh tani.

  1. Output
    1. Sawah

Tabel 4.11. Output Sawah Responden 1

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Padi

Tebu

Gabah

Tebu

Dijual

Dijual

Penebas

Penebas

4,5-6 ton

-

12-15 Juta

6,7 Juta

- - -

Sumber: Data Primer

Out put yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Suwarno dari jenis tanaman padi akses produksinya dijual kepada pedagang penebas (di borong). Hal itu mengakibatkan hasil dari budidaya tanaman padi dapat berfungsi sebagai sumber penghasilan keluarga. Semua hasil dari tanaman padi dijual hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasca panen. Selain itu input dari sawah juga menghasilkan tebu yang hasilnya juga dijual ke penebas. Hasil ini juga menjadi salah satu sumber penghasilan yang di andalkan di keluarga Pak Suwarno.

Tabel 4.12. Output Sawah Responden 2

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Padi Gabah musim kemarau

Musim Hujan

Dijual

Dijual

Penebas

Penebas

11 kw

11 kw

9 Juta

5 Juta

- - -

Sumber: Data Primer.

Output yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Guntoro dari jenis tanaman padi akses produksinya sebagian besar dijual kepada pedagang pengumpul beras (di borong). Hal itu mengakibatkan hasil dari budidaya tanaman padi dapat berfungsi sebagai sumber penghasilan keluarga. Semua hasil dari tanaman padi dijual hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasca panen.

  1. Tegal

Tabel 4.13. Output Tegal Responden 1

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Jati Super Kayu Dijual Penebas 100 Jati

Sumber: Data Primer

Output yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Suwarno dari tegal dengan jenis tanaman jati  sebagian besar dijual kepada pengusaha perkayuan. Jati yang ditanamn oleh Pak Suwarno adalah jenis jati super, oleh karena itu walaupun cuma menanam 100 pohon Pak Suwarno tetap bisa mendapatkan hasil yang banyak. Hal itu mengakibatkan hasil dari budidaya tanaman jati dapat berfungsi sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga. Semua hasil dari tanaman padi dijual hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menutupi kekurangan.

Tabel 4.14. Output Tegal Responden 2

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Jati Super Kayu Dijual Penebas 200 Jati 5 Pohon

1, 3Juta

Sumber: Laporan Sementara

Output yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Guntoro dari tegal dengan jenis tanaman jati  sebagian besar dijual kepada pengusaha perkayuan. Sama halnya dengan Pak Suwarno, jenis jati yang ditanam juga merupakan jati super yang harga perbatangnya mahal. Hal itu mengakibatkan hasil dari budidaya tanaman jati dapat berfungsi sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga. Semua hasil dari tanaman padi dijual hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menutupi kekurangan

  1. Perkarangan

Tabel 4.15. Output Pekarangan Responden 1

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Mangga

Pisang

Jambu

Buah

Buah

Buah

Konsumsi

Konsumsi

konsumsi

Keluarga, tetangga

Keluarga, tetangga

Keluarga, tetangga

3 karung

1 tandan

1 karung

- 1 karung - 33,3

Sumber: Data Primer

Output yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Suwarno dari tegal dengan jenis tanaman mangga,pisang dan jambu sebagian dikonsumsi sendiri dan yang sebagian diberikan kepada tetangga. Hasil tidak dijual karena dianggap kurang memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil dari budidaya tanaman mangga, pisang dan jambu dapat berfungsi sebagai sumber pemenuhan vitamin bagi keluarga.

Tabel 4.16. Output Pekarangan Responden 2

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Mangga

Pepaya

Buah

Buah

Dijual

Dijual

Pasar

Pasar

2 kw

1,5 Kw

2.200/kg

700/ kg

½ Kuintal

½ kuintal

2.200/kg

700 /kg

-

-

Sumber: Data Primer

Out put yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Guntoro dari tegal dengan jenis tanaman mangga dan pepaya sebagian besar dijual kepasar. Hasil dari budidaya tanaman mangga dan pepaya dapat berfungsi sebagai sumber penghasilan tambahan baru keluarga. Semua hasil dari tanaman padi dijual hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menutupi kekurangan pada keluarga.

  1. Ternak

Tabel 4.17.Output Ternak Responden 1

Jenis tanaman Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Ayam Telur Konsumsi Keluarga 3 butir perhari - - - -

Sumber: Data Primer

Output yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Suwarno dari ternak dengan jenis ternak ayam adalah telur ayam. Hasil dari output ini tidak dijual karena jumlahnya yang sedikit sehingga bila dijual hasilnya hanya sedikit. Oleh karena itu hasil tidak dijual, telur hanya dikonsumsi sebagai lauk guna memenuhi kebutuhan akan gizi.

Tabel 4.18. Output Ternak Responden 2

Jenis ternak Output/hasil Akses Sasaran Jumah total Jumlah yang digunakan
Fisik Uang Fisik Uang %
Ayam Kampung Daging

Telur

Dijual Pasar 20.000

4500 / 4 butir

Tergantung Ukuran - - -

Sumber: Data Primer

Out put yang dihasilkan oleh keluarga Bapak Guntoro dari ternak dengan jenis ternak ayam, sebagian besar dijual ke penadah. Hasil dari budidaya ayam, terutama jenis pejantan bangkok sangat cepat dan ini merupakan pengahasilan yang lebih besar pendapatannya dalam waktu cepat. Semua hasil dari budidaya dijual,  ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menutupi kekurangan pada keluarga

E. Aliran Materi dan Uang

1. Aliran materi

Tabel 4.19. Aliran Materi  Responden 1

Lahan Input Output
Bahan Asal Bahan Sasaran
Sawah

Tegal

Pekarangan

Ternak

Pupuk, benih tebu, benih padi

Benih jati

Benih mangga, benih jambu, benih pisang

Ayam

Toko

Pasar

Pasar, tetangga

Pasar

Gabah

Kayu

Buah

Telur

Pasar

Pasar/perusahaan

Konsumsi rumah tangga dan tetangga

Konsumsi RT

Sumber : Data Primer

Aliran materi merupakan perputaran materi (yang dihasilkan dari sistem usaha tani) antara sub sistem baik internal maupun eksternal.

Gambar 10. Aliran Materi Responden 1

Keterangan :

  1. Pasar menyediakan benih kapada petani
  2. Hasil dari sawah dijual ke pasar
  3. Sebagian hasil dari sawah digunakan untuk pemenuhan kebutuhan RT.
  4. Hasil dari pekarangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
  5. Hasil dari ternak digunakan dalam pemenuhan kebutuhan RT.
  6. Hasil pekarangan sebagian diberikan kepada masyarakat/tetangga.
  7. Hasil tegal dujual kepasar guna menutupi kekurangan pemenuhan kebutuhan.

Pada aliran materi ini Keluarga pak Suwarno mendapatkan materi dari seluruh sistem kecuali dari tegal. Ini dikarenakan hasil dari tegal langsung dijual. Hasil dari tegal tidak digunakan dalam bentuk materi namun dalam bentuk uang penjualan.

Responden 2

Aliran materi merupakan perputaran materi (yang dihasilkan dari sistem usaha tani) antara sub sistem baik internal maupun eksternal.

Gambar 11.Aliran Materi Responden 2

Pada point a kotoran ternak difungsikan untuk pupuk di sawah, dan tegal agar tanamannya subur. Pada point b hasil yang dihasilkan dari tanaman sawah dan tegal dijual ke pedagang di pasar, point c sebagian besar dikonsumsi rumah tangga responden, pada point d rumah tangga memberikan tenaga untuk mengolah sawah dan tegal.

2. Aliran uang

Tabel 4.20. Aliran Uang  Responden 1

Lahan Input Output
Bahan Asal Bahan Sasaran
Sawah

Tegal

Pekarangan

Ternak

Pupuk, benih tebu, benih padi

Benih jati

Benih mangga, benih jambu, benih pisang

Ayam

Toko

Pasar

Pasar

Pasar

Gabah

Kayu

Pasar

Pasar/perusahaan

Sumber : Data Primer

Aliran uang merupakan perputaran uang atau yang dihasilkan dari sistem usaha tani antara sub sistem baik internal maupun eksternal.

Gambar 12. Aliran Uang Responden 1

Keterangan :

  1. Hasil dari sawah dijual ke pasar.
  2. Pasar menyediakan benih kapada sawah petani.
  3. Pasar menyediakan benih dan saprodi bagi pekarangan.
  4. Hasil tegal dujual kepasar guna menutupi kekurangan pemenuhan kebutuhan.
  5. Pasar menyediakan benih dan saprodi bagi tegal.
  6. Pasar menyediakan anakan ternak bagi peternak.

Pada aliran uang Keluarga pak Suwarno mendapatkan uang dari tegal saja sedangkan pada yang lain Keluarga justru mengeluarkan uang karena harus membiayai pengelolaan lahan dan ternak. Ini dikarenakan hasil dari tegal langsung dijual. Hasil dari tegal digunakan dalam bentuk uang penjualan namun dalam bentuk materi.

Tabel 4.21. Aliran Uang dari Kegiatan Pertanian Keluarga Bapak Guntoro.

Lahan Input Output
Bahan Asal Hasil Sasaran
Sawah

Tegal

Pekarangan

Ternak

Benih padi

Pupuk

Pestisida

Bibit Jati

Bibit mangga

Bibt pepaya

Ayam

Makanan

Toko

Toko

Toko

Sumbangan

Toko

Toko

Toko

Gabah

Gabah

Gabah

Kayu

Mangga

Pepaya

Daging

Telur

Penebas

Penebas

Penebas

Penebas

Pasar dan konsumsi sendiri

Sumber : Data Primer

Aliran uang merupakan perputaran uang atau yang dihasilkan dari sistem usaha tani antara sub sistem baik internal maupun eksternal.

Gambar 13. Aliran Uang Responden 2

Pada point a hasil dari sawah yang dijual, digunakan untuk membeli ternak yang berupa ayam atau makanan ternak, point b dari telur yang dijual digunakan untuk membeli keperluan usahatani seperti benih, pupuk, pestisida, point c dengan hasil sawah yang meningkat memberikan tambahan pendapatan ke rumah tangga dengan rumah tangga menjual hasil panen ke pasar, point d koperasi memberikan pinjaman ke rumah tangga berupa modal, point e hasil ternak dijual ke pasar untuk memberikan tambahan  pendapatan  dan point f hasil ternak yang tidak dijual digunakan

untuk konsumsi  rumah tangga.

F. Kelembagaan

Desa Ngargorejo, Boyolali memiliki organisasi dalam usaha tani yaitu :

  1. Kelompok Usaha Tani Sumber Rejeki (TSR)

Kelompok tani ini dinamakan sumber rejeki dimana berperan sebagai penyuluh petani. Membentuk petani untuk mengembangkan usaha taninya dan memberi bantuan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi menyeragamkan varietas apa yang ditanam dan gotong royong. Selain kelompok tani ada toko dimana berperan sebagai tempat penyediaan saprodi yang dibutuhkan dalam bidang pertanian seperti bibit benih pupuk  dan lain-lain.

  1. KUD

Di desa Ngargorejo juga terdapat KUD, walaupun telah lama berdiri namun pengaruh KUD tidak begitu besar karena tidak begitu aktifnya kegiatan KUD dan saprodi yang dijual juga kalah bersaing dengan toko. Walaupun begitu, penduduk tetap mendukung adanya lembaga tersebut karena KUD mempunyai usaha unit simpan pinjam kepada masyarakat desa.

IV. KESIMPULAN

A.  Kesimpulan

Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:

  1. Petani responden 1 dan 2 memiliki sawah, tegal, pekarangan dan ternak yang dapat memberikan input kepada petani.
  2. Kelembagaan yang ada adalah KUD, koperasi simpan pinjam dan kelompok tani.
  3. Sawah responden 1 ditanami padi dan tanaman tebu, tegal ditanami jati, ternak ayam, pekarangan ditanami mangga, pisang, jambu, tetapi belum menghasilkan karena masih muda dan kecil. Demikian juga dengan esponden 2, lahan sawah juga ditanami padi sedangkan tegal ditanami jati, pekarangan ditanami pepaya, mangga dan pisang. Ternak yang diusahakan adalah ayam.
  4. Untuk pembahasan dari petani responden ini ternyata konsep LEISA belum dapat diterapkan karena pemanfaatan sumberdaya eksternal lebih besar dari pada sumberdaya internal, artinya mereka masih tergantung pada penggunaan faktor produksi dari luar seperti benih, pupuk dan tenaga kerja.

B. Saran

  1. Sebaiknya di Desa Ngargorejo di dirikan toko pertanian yang dapat menyediakan segala kebutuhan petani,karena kadang KUD tidak menyediakan secara lengkap apa yang dibutuhkan petani saat itu.
  2. Untuk lahan tegal sebaiknya lebih dioptimalkan dengan menanam tidak hanya  satu jenis tanaman saja.
  3. Salah satu cara dengan melihat kondisi petani responden, maka konsep LEISA dapat diterapkan melalui pemanfaatan yang lebih optimal atas tenaga kerja yang berasal dari dalam, karena melihat jumlah anggota keluarga responden yang cukup banyak
About these ads

1 Tanggapan so far »

  1. 1

    djoemadi S Rama berkata,

    guna menjaga kelestarian fungsi waduk cengklik baik sebagai obyek wisata maupun sarana irigasi sebaiknya untuk lahan tegal di ceatment area waduk cengklik diarahkan untuk usaha tani konservasi dengan disversifikasi tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan/industri disesuaikan mikro klimatnya…

    Sangat setuju dan sangat perlu apabila di ngargorejo didirikan toko pertanian yang didukung/ditunjang dengan fasilitas perbankan yang mudah dan murah…bila perlu dirintis adanya PASAR RAKYAT

    salam tuk mas SUEKANTORO desa Ngargorejo…alumni SMP Negeri Gawanan 71

    djoemadi s rama
    Yayasan Karya Alam Lestari – Rembang


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: