Bagaimana Cara Mengatasi Krisis Multidimensial Yang Terjadi di Indonesia Saat Ini

Kurang lebih sudah 7 tahun reformasi bergulir dan sudah empat pemerintahan yang dilalui, dari pemerintahan reformasi awal yang dipimpin BJ Habiebie sampai dengan pemerintahan sekarang yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudoyono, reformasi hanyalah sebuah simbol saja dan mungkin tidak ada pengaruhnya sejak lengsernya pemerintahan ORBA , bahkan reformasi yang digembar – gemborkan selama ini oleh mahasiswa dan dengan banyak peristiwa berdarah dalam perjalanannya serasa berjalan ditempat bahkan mungkin diam di tempat. Entah ini salah siapa pemerintah? Masyarakat? Atau kedua-duanya yang salah menanggapi apa arti reformasi yang sebenarnya?

Reformasi sendiri secara etimologis berasal dari kata ‘reformation’ dengan akar kata ‘reform’ yang secara sematik bermakna ‘make or become better by removing or putting right what is bad or wrong’ (Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English, 1998, Dalam Wibisono, 198 : 1 ),  ssecara harfiah reformasi memiliki makna: suatu gerakan untuk memformat ulang, menata ulang atau menata kembali hal-hal  yang menyimpang untuk dikembalikan dengan format atua bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan rakyat (Riswanda, 1998).

Makna serta pengertian reformasi dewasa ini banyak disalahartikan sehingga gerakan masyarakat yang melakukan perubahan yang mengatasnamakan gerakan reformasi, juga tidak sesuai dengan pengertian reformasi itu sendiri. Hal ini bisa dibuktikan  dengan maraknya gerakan masyarakat yang mengatasnamakan gerakan reformis dengan melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan makna reformasi itu sendiri. Sebagai contoh, menduduki kantor, atau instansi baik dalam negeri maupun swasta secara paksa. Bahkan yang paling memprihatikan adalah melakukan pengerahan massa dengan merusak dan membakar toko-toko, pusat-pusat kegiatan ekonomi, fasilitas umum, fasilitas pelayanan jasa disertai dengan penjarahan dan penganiayaan.

Krisis yang berkepanjangan yang melanda Indonesia semakin membuat perjalanan reformasi tersendat sehingga tidak pelak krisis multidimensional pun naik kepermukaan dimulai dengan krisis ekonomi,  krisis sosial hingga membentuk kesenjangan antara si kaya dan si miskin lalu krisis yang berbau SARA merebak dimana-mana diberbagai daerah mulai dari kawasan elite hingga kawasan pedalaman yang taj tersentuh teknologi, membuat perjalanan bangsa  sebesar Indonesia ini seperti  kapal yang akan karam diengah samudera yang luas.

Akankah krisis multidimensional ini berakhir atau akan bertahan dan diam ditempat tanpa ada perubahan yang berarti?

Pertama akar permasalahan yang paling utama untuk mengatasi krisis multidimensional itu sendiri adalah pada individu itu sendiri. Dimana seorang individu dapat mempengaruhi masyarakat dan masyarakat akan mempengaruhi masyarakat sekitar dan masyarakat sekitar akan mempengaruhi masyarakat-masyarakat lain hingga ketataran negara.

Dari seorang individu tersebut harus memiliki pandangan minimal dia bisa merubah dirinya sendiri dengan bangkit dari keterpurukan jadi seorang individu itu tidak hanya menerima apa yang diberi tetapi berusaha mencari suatu terobosan baru untuk bangkit bersama membangun bangsa.

Individu yang berjiwa pancasila tentunya mengerti apa yang harus dia lakukan untuk negara dan bangsanya, seorang individu yang sadar akan kondisi bangsanya akan berpikir kearah depan “mau dibawa kemana bangsa ini ?”  ia akan berusaha mengajak masyrakat untuk berpartisipasi mengawasi, memberikan masukan dan solusi bukan saja  masalah-masalah yang ada yang timbul dalam ketatanegaraan pemerintahan Indonesia.

Kedua adalah komunikasi antar masyarakat, komunikasi antar masyarakat amatlah berpengaruh menjaga keharmonisan kerukunan berbangsa dan bernegara, hal ini bisa dibuktikan jika tidak ada komunikasi yang jelas antar masyarakat akan menimbulkan gesekan yang mengakibatkan perpecahan dimasyarakat sehingga menibulkan konflik antar kelompok – kelompok tertentu dimasyarakat.

Ketiga pemerintahan, masyarakat kita meminta agar tercipta suatu pemerintahan yang bersih dan transparan yang dapat mendengar aspirasi rakyat dan bertanggung jawab serta konsisiten terhadap kepentingan bangsa dan negara serta tidak membuat peraturan yang menguntungkan seorang atau sekelompok orang. Di sini adalah peranan yang amat vital bagi proses kelangsungan suatu negara kedepan, disni pemerintah adalah ‘pelayan’ masyarakat adalah ‘raja’, dengan demikian sudah barang tentu seorang pelayan harus memperhatikan keinginan seorang raja, dan tentunya seorang pelayan harus mempersembahkan yang terbaik buat sang raja. Inilah fenomena yang ingin diciptakan oleh bangsa Indonesia dimana pemerintah adalah pelayan warganya. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya banyak peraturan yang justru dibuat bukan untuk rakyat tetapi untuk urusan pribadi, maupun suatu golongan. Oleh karena itu perlu ditekankan adanya komunikasi, pengawasan dan transparansi serta pertanggungjawaban baik dari pemeritah maupun warganya.

Demikian yang dapat di sampaikan tentang bagaimana cara menghadapi tantangan multidimensional yang kita hadapi, akhirul kalam wassalamualaikum, wr, wb.

About these ads

1 Response so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: