budidaya tanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification)

  1. I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pembangunan pertanian merupakan suatu upaya atau proses perbaikan menuju pertanian yang lebih baik. Pembangunan sektor pertanian menempati prioritas utama pembangunan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena sektor pertanian merupakan sektor utama pembangunan ekonomi nasional. Kedudukan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi nasional adalah cukup nyata, dilihat dari proporsinal terhadap pendapatan nasional. Dalam upaya mewujudkan hal itu diperlukan suatu usaha pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat diharapkan mampu mengaktualisasi potensi yang mereka miliki sebagai perwujudan mayarakat lokal yang mandiri.

Upaya pemberdayaan potensi masyarakat lokal baik itu masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan dapat dilakukan dengan berbagai upaya seperti penyuluhan dan pelatihan-pelatihan oleh berbagai pihak yang ahli di bidangnya dan mempunyai perhatian lebih di dalamnya. Demikian juga yang ingin dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP).

LPTP adalah sebuah Organisasi Non Pemerintah (Non Government Organization- NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang didirikan di Jakarta pada tanggal 10 November 1978. LPTP merupakan lembaga pelaksana kegiatan yang berorientasi langsung pada Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (Community Development) baik masyarakat perkotaan, maupun masyarakat perdesaan, membantu masyarakat dalam melakukan upaya mengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berorientasi kerakyatan. Melalui berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kerakyatan, LPTP bersama-sama kekuatan masyarakat yang lain berusaha mengatasi masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan hidup, serta marginalisasi perempuan.

1

2

Salah satu program yang dijalankan oleh LPTP adalah budidaya tanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification). SRI adalah cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses manajemen sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman, dan air. Cara ini dikaji di jaringan IPPHTI yaitu merupakan suatu kelompok studi petani di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Program adalah rencana yang dibuat dengan sengaja dan mempunyai jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan untuk melihat keberhasilan program diperlukanlah sebuah evaluasi. Evaluasi adalah suatu bentuk penelitian ilmiah yang berdasarkan data fakta untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan suatu program. Namun sebelum melakukan evaluasi perlu adanya suatu perencanaan yang meliputi penetapan keadaan, identifikasi impact point, merumuskan tujuan, dan menetapkan cara pencapaian tujuan. Hal inilah yang mendorong perlunya suatu perencanaan dan evaluasi program agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.

  1. B. Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum evaluasi program ini adalah:

  1. Mahasiswa dapat merumuskan dan menetapkan keadaan secara benar dengan mendasarkan pada data keadaan yang dipresentasikan dalam monografi daerah.
  2. Mahasiswa berlatih mengidentifikasi impact point teknis, ekonomis dan sosial sebagai salah satu bentuk rumusan masalah dalam sebuah program petanian untuk sebuah wilayah.
  3. Mahasiswa dapat merumuskan tujuan sebuah program pertanian di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
  4. Mahasiswa menetapkan cara mencapai tujuan dari program pertanian yang ada dengan membuat 12 kolom matrik cara mencapai tujuan.

3

  1. Mahasiswa dapat mengevaluasi tujuan program penyuluhan berdasarkan teori yang telah diberikan.
  2. Mahasiswa diharapkan dapat menetapkan indikator untuk mengukur kemajuan yang dicapai dari suatu program LSM.
  3. Mahasiswa diharapkan dapat membuat standar dan kriteria untuk menentukan nilai pencapaian tujuan program.
  4. Mahasiswa mampu membuat alat ukur untuk pengumpulan data.
  5. Mahasiswa dapat menarik sampel yang dapat dipergunakan untuk evaluasi program yang benar.

II. LANDASAN TEORI

LSM adalah merupakan bentuk baru dalam kelembagaan masyarakat Indonesia di luar negri. Sebenarnya kita juga harus memperhitungkan agar buruh, tani, keagamaan, cendikiawan dan kelompok professional sebagai pilar-pilar dari civil society. Tetapi organisasi-organisasi yang menyangka kelompok besar di atas pada umumnya dianggap telah terkooptasi oleh negara. Seolah-olah terjadi proses korporitasi terhadap kelompok-kelompok yang berhubungan dengan potensi politis. Gerakan buruh, perempuan dan koperasi telah terlebih dahulu terintegrasi dalam negara dan juga independent dari negara (Rahardjo, 1999).

Organisasi yang diidentifikasi sebagai LSM sebenarnya dapat berperan sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat pada bidang ekonomi dan politik sebab mereka dapat menjalankan kegiatan yang lebih mandiri dan bebas dari interfensi negara yang lingkupnya menjangkau lapisan masyarakat paling bawah sekalipun seperti buruh tani. Dengan kelebihan ini LSM memiliki posisi signifikan bagi demokratisasi dan pembentukan masyarakat madani ketimbang partai politik. Kenyataan lain menunjukkan bagaimana peran LSM pada masa orde baru telah ikut serta memberikan kontribusi dan mensosialisasikan nilai-nilai demokratis kendatipun ruang gerak mereka dihambat orang lain (Suryadicula,2002).

Penemuan teknologi pertanian juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian organik (OP). Penemuan SRI oleh Henry de Lauline di Madagaskar, misalnya, mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi hingga mencapai 8 ton /Ha, bahkan diantaranya ada yang mampu mencapai 10-15 ton/ha. SRI tidak mensyaratkan benih unggul atau pemupukan intensif, tapi lebih menekankan pada perlakuan transplantasi bibit, jarak tanaman, dan waktu pengairan yang tepat berdasarkan pengamatan terhadap perilaku-perilaku kehidupan tanaman padi.

4

5

(CHO Development Note, Issue 70 january 2001) dalam beberapa percobaan pendekatan SRI di Indonesia dengan cara organic ternyata juga memberikan hasil yang memuaskan. (www. Portal. Latin.or. id).

Secara singkat, Alik menjelaskan bahwa SRI yaitu cara bertanam padi kembali ke alam. Artinya petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia tapi memanfaatkan pupuk jerami, limbah gergaji, sekam, pohon pisang, pupuk kandang yang diolah untuk pupuk makanya lain, bibit yang disemai tidak 20 hai, melainkan 7 hari persemaian sederhana seperti memanfaatkan pipiti (besek kecil) (www. Pikiran-rakyat.com).

Menurut Peni Agustiyanto, Rik Thiessen semakin banyak petani kecil di Indonesia yang menerapkan SRI (System of Rice Intensification) sebuah cara yang cukup revolusioner dalam bercocok tanam padi veco Indonesia dan mitranya di Sumbawa dan Flores melihat bahwa petani sangat tertarik dengan konsep SRI. Menindaklanjuti potensi tersebut, komponen hasil dari produksi didiskusikan dulu dengan petani dan mereka diberi kesempatan untuk mengamati secara langsung proses yang terjadi. Pengamatan-pengamatan tersebut telah mampu menyalurkan mereka betapa bermanfaatnya SRI.

(www. leisa; info/index)

PTNNT safari Penyuluhan Intensif Padi di Sumbawa Barat-PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) bekerjasama dengan cabang dinas pertanian Kecamatan Jereweh dan Sekongkaf, Kabupaten Sumatra Barat pekan ini memulai Safari Penyuluhan Intensif Padi d 10 desa lingkar tambang. Penyuluhan ini untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang system hama padi intensif lahan kering dengan metode SRI (System of Rice Intensification) serta pengenalan jenis padi unggul. (www. Newmount.co. id).

Sebenarnya kota Sukabumi bukan daerah pertanian, namun sebelum daerah ini memasuki denah perkotaan, masih bisa dimanfaatkan secara optimal dan ide tersebut merupakan implementasi dari hasil pembinaan yang diukur oleh petani. Pola SRI yang dideklarasikan di Cipaganti, agar padi yang

6

ditanam dengan pola tertentu menggunakan pupuk organik sebagai manfaat  menyelaraskan antara pertanian dan peternakan, karena pupuk yang digunakan dari organik seperti dedaunan yang dicampur kotoran ternak dan sekam (www. leisa; info/index).

Menurut salah seorang petani Deri Ramdan, tanaman padi jenis citanur hanya dalam 4 bulan sudah dapat dipanen. Harga beras jenis ini jauh lebih menguntungkan jika harga beras biasa Rp. 3.000,00/kg maka beras jenis SRI Rp. 5.000,00/kg dengan modal hanya Rp. 7,5 juta diatas areal 1 ha dapat dijual seharga Rp. 25 juta sementara kebutuhan benihnya harga 5 kg/ha berarti lebih irit dari pola menggunakan pupuk kimia yang mencapai 400 kg/ha.

(http;//gerbang. Jabar.go.id.)

III. KONDISI UMUM

  1. 1. Sejarah

Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) adalah sebuah Organisasi Non Pemerintah (Non Government Organization-NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang didirikan di Jakarta pada tanggal 10 November 1978. Selanjutnya sejak 12 maret 1980, dipindahkan ke Surakarta, Jawa Tengah. Pemindahan ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan pada masyarakat yang akan dilayani.

LPTP secara resmi berbadan hukum yayasan, dan telah didaftarkan pada kantor Notaris B.R. Ay. Mahyastuti Notonagoro, SH pada tanggal 12 Maret 1980 Nomor 62. LPTP juga telah terdaftar pada kantor Departemen Sosial Nomor 297/ORSOS/94. Selain itu, secara resmi LPTP tercatat di Kantor Sosial Politik Kotamadia Daerah Tingkat II Surakarta, Nomor.220/929, dan Direktorat SOSPOL Propinsi Jawa Tengah, No.220/473.

LPTP adalah organisasi yang independent, artinya, LPTP bukan organisasi rasial, keagamaan, kesukuan maupun golongan serta bukan pula underbow dari partai politik manapun. LPTP berorientasi pada masalah kemanusiaan dan pembangunan, dengan menjunjung tinggi transparasi, partisipasi dan toleransi. Saat ini LPTP berkedudukan di Surakarta, dengan kantor Pusat berlokasi di Jln. Nuri IV No. 8 dan 11, Sambeg, Mangkubumen, Surakarta; Telp.0271-712049, 710141, 731207, Fax.0271-731208. PO Box 313 Solo 57103, Email : lptp-slo@indo.net.id.

Untuk lebih memfokuskan kegiatan LPTP, berdasarkan hasil rapat anggota yayasan LPTP tahun 2002, yayasan LPTP mengembangkan pendirian organisasi otonom yang berorientasi pada berbagai bidang garap spesifik; yakni:

  1. Lembaga Pengembangan Teknologi Perdesaan (LPTP).

Yakni lembaga pelaksana kegiatan yang berorientasi langsung pada Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat

7

8

(Community Development) baik masyarakat perkotaan, maupun masyarakat perdesaan.

  1. SUSDEC (Sustainable Development Education Center).

SUSDEC adalah lembaga pelaksana pengembangan penelitian-penelitian social, studi kebijakan, dan advokasi serta memberikan pelayanan dalam bidang pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat luas.

  1. C-BETech (Center for Community-based Environmental technology)

C-BETech adalah lembaga pelaksana riset dan pengembangan teknologi tepat guna di bidang lingkungan yang berbasis masyarakat dan memberikan pelayanan teknologi tersebut kepada masyarakat.

  1. Tekad InvesCo

Tekad InvesCo adalah lembaga pelaksana pengembangan kem,andirian ekonomi baik dalam bidang dinansial, investasi dan perdagangan yang mengarah pada upaya penciptaan sustainable finance organisasi.

  1. Akademi Teknik Adiyasa

Adalah lembaga palaksana pendidikan formal yang dibentuk dan diputuskan oleh rapat anggota yayasan yang berfungsi mengembangan pendidikan formal setingkat diploma. Dengan jurusan : teknik mesin dan teknik lingkungan.

  1. 2. Tujuan, Mandat, Visi dan Misi
    1. Tujuan

LPTP bertujuan membantu masyarakat dalam melakukan upaya mengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berorientasi kerakyatan. Melalui berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi kerakyatan, LPTP bersama-sama kekuatan masyarakat yang lain berusaha mengatasi masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kerusakan lingkungan hidup serta marginalisasi perempuan.

9

  1. Mandat

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, LPTP mengemban mandat sebagai berikut :

1)      Menyelenggarakan berbagai program pelayanan yang berpihak pada penguatan masyarakat.

2)      Menyenggarakan berbagai program investasi dan perdagangan dalam rangka kemandirian ekonomi.

3)      Mempengaruhi kebijakan negara untuk melindungi masyarakat sipil.

4)      Melawan ketidakadilan pasar bebas dalam bentuk globalisasi system politik dan ekonomi.

  1. Visi

Visi LPTP yang akan teus diperjuangkan antara lain yaitu : termujudnya masyarakat yang adil, maju, sejahtera dan berdaulat, melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat sendiri secara terorganisir dan berkesinambungan; melalui penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan alat produksi yang dilakukan secara bertanggung jawab dan lestari; menghargai kesetaraan gender, hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan hidup; serta memanfaatkan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.

Untuk itu LPTP akan melawan setiap usaha yang mengancam terwujudnya visi tersebut, antara lain yang bersumber dari pengaruh globalisasi sistim ekonomi dan politik yang dikembangkan oleh kapitalisme internasional. LPTP akan menjadikan lembaganya sebagai wahana untuk melakukan eksperimen kegiatan ekonomi dan politik guna meningkatkan ketahanan masyarakat sipil serta aktif dalam pembentukan jaringan organisasi dan masyarakat guna melawan ketidak-adilan sistim ekonomi dan politik global.

10

  1. Misi

Sedangkan Misi yang diemban LPTP berdasarkan visi diatas adalah :

1).  Berperan sebagai pelopor dan motor dalam perubahan masyarakat Indonesia yang egaliter, maju, berdaulat, berkeadilan dan bermartabat.

2). Menjalankan usaha secara bersih, mandiri dan bertanggung jawab.

3). Memiliki kemampuan profesional yang berstandar internasioanl.

4).  Bersama masyarakat mengembangkan bisnis kerakyatan yang berkeadilan.

  1. Usaha-usaha yang dilakukan

Usaha-usaha yang dilakukan LPTP untuk mencapai visi dan misi tersebut adalah :

1)      Mempromosikan dan mengembangkan model-model masyarakat yang emansipatoris, baik dari segi sosial, politik, dan ekonomi.

2)      Menjadikan LPTP sebagai pusat belajar bagi masyarakat, lsm, perguruan tinggi, pemerintah, pengusaha, dan pihak-pihak lain.

3)      Membangun dan mengembangkan aliansi strategis dengan berbagai kekuatan lain dalam rangka penguatan sektor kerkyatan.

4)      Mendorong proses transformasi kebijakan publik agar lebih berorientasi kerakyatan dan tidak dipengaruhi oleh arus globalisasi.

5)      Mendorong kemandirian organisasi melalui usaha-usaha yang produktif dan mengoptimalkan pemanfaatan asset organisasi baik yang bersifat fisik maupun sumber daya manusia.

6)      Menggalang solidaritas untuk membendung pengaruh buruk dari globalisasi, baik di tingkat nasional dan internasional.

7)      Mengoptimalkan pengembangan teknologi yang berwatak kerakyatan di berbagai sektor kegiatan masyarakat.

IV. DISKRIPSI PROGRAM

  1. A. Latar Belakang

Dewasa ini produksi padi cenderung menurun, hal ini dikarenakan menurunnya kesehatan dan kesuburan tanah yang perlu perbaikan, kecenderungan potensi padi untuk beproduksi lebih tinggi ternyata “mandeg”alias berhenti, akibat dari proses budidaya yang memberikan kesempatan penuh pada padi untuk berkembang sesuai potensi, penggunaan unsur kimia organik baik pupuk maupun pestisida semakin tinggi dan perilaku petani yang saat ini jauh dari kearifan dalam memanfaatkan potensi lokal. Dengan melihat kenyataan demikian perilaku petani perlu dirubah dan perlu adanya budidaya tanaman padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).

SRI adalah cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses manajemen sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman, dan air. Cara ini dikaji di jaringan IPPHTI yaitu merupakan suatu kelompok studi petani di Kabupaten CIamis Jawa Barat pada bulan februari. Saat ini SRI berkembang cukup baik dan dikaji dan disosialisasikan oleh beberapa kecamatan di Ciamis tahun 2001. Adapun modal dasar pengembangan “gagasan SRI” adalah praktek penerapan PHT seutuhnya, mengembangkan sains petani dalam mengembangkan microorganisme lokal, pengalaman pembelajaran ekologi tanah (PET) sejak tahun 1999 dan hasil kajian “Tanam Dangkal” oleh Oef Saefudin di Kabupaten Tasikmalaya tahun 1997.

Tanaman padi yang ditanam oleh sebagian besar petani di Indonesia sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menghasilkan produksi dalam taraf tinggi. dalam prakteknya berdasarkan pengalaman agar petani mempunyai keyakinan akan praktek SRI. Maka sebelum petani menanam metode SRI lebih baik jika petani memahami faktor-faktor mempengaruhi

11

12

hasil padi, BO, O2 dan mikroorganisme dan tanah sehat. Keuntungan menggunakan metode SRI akan menghasilkan produksi padi yang lebih tinggi dengan memanfaatkan potensi lokal.

  1. B. Penetapan Keadaan
  1. Data yang dikumpulkan berupa data potensial dan data aktual.

Data aktual adalah data yang dapat dilihat berdasarkan kenyataan yang ada, sedangkan data potensial adalah data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang sudah atau yang telah diakui validitas datanya.

  1. Pengolahan data

Data Monografi Kabupaten Ciamis adalah sebagai berikut :

  1. Luas wilayah

Luas wilayah kabuapten Ciamis adalah 2.556,75 km²

  1. Batas wilayah

Kabupaten Ciamis terletak di sebelah tenggara Provinsi Jawa Barat. Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

1)      Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka

2)      Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Cilacap dan Kota Banjar

3)      Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya

  1. Fasilitas Usahatani

Adapun fasilitas usahatani yang ada di Kabupaten Ciamis adalah meliputi :

1)      Koperasi uasahatani yang tersedia 1 per kecamatan

2)      Lumbung Desa terdapat 1 per kecamatan

  1. Penduduk

Jumlah penduduk yang diketahui pada tahun 2003 adalah 1.523.000. Dimana jumlah Laki-laki ada 769.780 jiwa dan penduduk perempuan ada 753.220 jiwa.

13

  1. Kelembagaan Petani

Kelembagaan petani yang ada di Kabupaten Ciamis meliputi :

1)      Kelembagaan tani ada 2 per kecamatan

2)      SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu)

  1. Kelembagaan Desa

Kelembagaan desa yang ada di Kabupaten Ciamis meliputi :

1)      LKMD

2)      PKK

3)      Muda mudi

  1. Rumusan Keadaan

Dari pengolahan data diatas, keadaan yang memuaskan adalah sebagai berikut

  1. Tersedianya fasilitas usaha tani yang memadai

Hal tersebut dapat dilihat dari tersedianya koperasi usaha tani sebanyak satu per kecamatan. Serta lumbung desa yang memadai.

  1. Jumlah penduduk laki-laki lebih besar dari jumlah penduduk perempuan.

Dimana jumlah penduduk laki-laki sebesar 769.780 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan 753.220 jiwa. Hal ini menandakan sex ratio di daerah ini tinggi karena jumlah penduduk laki-laki lebih besar bila dibandingkan jumlah penduduk perempuan.

  1. Kelembagaan petani dan kelembagaan desa yang cukup lengkap dan memadai.

Hal ini dapat dilihat dari adanya kelembagaan petani berupa SLPHT (sekolah lapang pengendalian hama terpadu) yang terdapat satu buah di masing-masing kecamatan. Sedangkan kelembagaan desa yang ada di sana adalah LKMD, PKK dan Lembaga muda-mudi.

14

Dari pengolahan data diatas, keadaan yang tidak memuaskan adalah sebagai berikut :

1)      Budidaya tanaman padi yang belum intensif dan efisien.

2)      Pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan pestisida yang tidak ramah lingkungan.

3)      Pengelolaan air yang belum efektif dan efisien dimana pengairan budidaya tanaman padi dilakukan secara berlebihan sehingga tidak optimal.

  1. Masalah yang dihadapi

a. Masalah umum : Budidaya tanaman padi yang belum intensif dan efisien.

b. Masalah khusus :

1). Pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan pestisida yang tidak ramah lingkungan.

2). Pengelolaan air yang belum efektif dan efisien dimana pengairan budidaya tanaman padi dilakukan secara berlebihan sehingga tidak optimal.

  1. C. Identifikasi Impact Point

1.   Impact Point Teknis

Dalam menentukan impact point terlebih dahulu kita harus menyusun instrument untuk menilai tingkat penerapan teknologi (TPT) teknis meliputi :

  1. Pengolahan tanah dan pemupukan
  2. Menyiapkan benih yang bermutu
  3. Membuat persemaian
  4. Bercocok tanam
  5. Pengelolaan air dan penyemaian
  6. Pengendalian hama dan penyakit tanaman

15

Untuk itu diataruh sample petani sebanyak 21 orang yang merupakan anggota dari dua kelompok tani. Impact point teknis dapat ditentukan melalui tabel sebagai berikut :

Tabel 1.1 Hasil Pengumpulan Data Tingkat Penerapan Teknologi Teknis

No Keterangan Penerapan teknologi Skor Jumlah peserta Persen
1 Pengolahan tanah dan pemupukan Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomenasi

2

1

15

6

71

29

2 Menyiapkan benih yang bermutu Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomendasi

2

1

13

8

62

38

3 Membuat persemaian Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomendasi

2

1

12

9

57

43

4 Bercocok tanam Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomendasi

2

1

18

3

85

15

5 Pengelolaan air Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomendasi

2

1

7

14

33

67

6 Pengendalian hama dan penyakit tanaman Sesuai dengan rekomendasi

Tidak sesuai dengan rekomendasi

2

1

8

13

38

62

Sumber : Data Sekunder

Dari pengolahan data tabel diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar peserta telah melakukan pengolahan tanah dan pemupukan sesuai dengan rekomendasi yaitu untuk mendapatkan media tumbuh yang baik maka lahan

16

diolah seperti tanam biasa (dibajak, digaru, kemudian diratakan), tetapi pada saat digaru (pengolahan tanah kedua) ada penaburan pupuk organik. Jumlah kebutuhan pupuk organik antara 7-10 ton per hektar, saat penaburan pupuk organik dan meratakan tanah, air dijaga agar tidak mengalir supaya nutrisi tidak hanyut. Selanjutnya di pinggir dan di tengah petakan dibuat parit agar mudah mengatur air. Pemupukan di KSP/jaringan IPPHTI, SRI hanya dipupuk dengan pupuk organik yang berasal dari bahan organik seperti hijauan (jerami, batang pisang dan hijauan lainnya, kotoran hewan: kambing, sapi, ayam, kelinci, dan kerbau). Bahan-bahan tersebut terlebih dahulu dikomposkan.

Menyiapkan benih yang bermutu juga sudah sesuai dengan rekomendasi yaitu penggunaan benih merupakan rangkaian dari kegiatan membuat persemaian, setelah menyiapkan benih yang baik, kemudian benih sebelum disemai diseleksi dengan larutan air garam. Prosesnya: masukkan air dalam keler atau toples (yang dianggap cukup untuk menyeleksi benih yang akan ditanam atau dapat dilakukan berulang kali), selanjutnya masukkan telur ayam atau itik kemudian masukkan garam dapur perlahan-lahan dan garam diaduk hingga larut dan penambahan garam dihentikan ketika telur sudah naik kepermukaan air. Langkah berikutnya adalah memasukkan benih yang akan ditanam ke dalam larutan garam tersebut. Benih yang mengapung ke permukaan air dipisahkan sedang benih yang tenggelam diambil dan dicuci untuk disemai. Kemudian sebelum disemaikan benih diperam selama satu hari satu malam (diupayakan tidak lebih dari satu hari satu malam) pemeraman dilakukan agar benih tumbuh seragam dan benih yang baik untuk disemai akarnya belum tumbuh/baru ada bintik pada lembaga/embrio. Kebutuhan benih untuk tanaman padi cara SRI untuk 100 bata (0,14 Ha) adalah 0,7-1 kg atau 4,9-7 kg per Ha.

Sedangkan untuk pembuatan persemaian, petani sudah menerapkan sesuai dengan rekomendasi yaitu Persemaian untuk SRI dapat dilakukan dengan media pipiti (besek) atau kotak, hal ini memudahkan untuk

17

pengamatan dan seleksi benih dapat dilakukan dengan mudah. Kebutuhan pipiti adalah 60-70 buah ukuran 20×20 cm, kebutuhan pipiti/besek per 0,14 Ha (420-490 buah per Ha). Tanah dalam pipiti sebagai media tumbuh benih dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1. Cara membuat persemaian dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Mencampur tanah dengan pupuk organik.
  2. Sebelum pipiti/besek diisi dengan tanah terlebih dahulu dilapisi “daun pisang” yang sudah dilemaskan, kemudian diisi dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik sebanyak tiga per empatnya, kemudian disisram dengan air sehingga tanah dalam pipiti/besek menjadi lembab.
  3. Penaburan benih, jumlah benih per pipiti/besek antara 300-350 biji, setelah ditutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik (lapisan tanah penutup diupayakan tipis) kemudian dibibis lagi. Selanjutnya persemaian dapat disimpan di pekarangan, hari pertama dan kedua persemaian ditutup agar tidak kepanasan atau dapat disimpan di tempat yang teduh, jika disimpan di pekarangan diuapayakan diletakkan pada tempat yang aman dari gangguan hewan. Pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar. Persemaian dapat disimpan di halaman rumah. Kebutuhan benih per 0,14 Ha adalah 0,7-1 kg (4,9-7 kg per hektar).

Begitu juga dengan cara bercocok tanam yang sudah sesuai dengan rekomendasi yaitu benih ditanam pada umur 7-10 hari setelah semai. Jumlah benih per lubangnya hanya satu (tanam tunggal) dan dangkal 1-1,5 cm. kondisi air saat tanam macak-macak dasar pemikirannya adalah ketika benih ditanam bersama maka akan bersaing satu sma lain dalam hal nutrisi, oxygen dan sinar matahari. Benih ditanam dangkal dan perakaran horizontal seperti huruf L, hal ini dilakukan jika akar tertekuk keatas maka benih memerlukan energi besar dalam memulai pertumbuhan kembali, dan akar baru akan tumbuh dari ujung tersebut. Jarak tanam berdasarkan pengalaman KSP SRI

18

baik jika ditanam dengan jarak tanam lebar, antara lain 25×25 cm, 27×27 cm atau 30×30 cm. semakin lebar jarak tanam semakin meningkatkan jumlah anakan produktif, karena persaingan oxygen, energi matahari dan nutrisi semakin berkurang.

Sedangkan pada pengelolaan air petani di sana belum sesuai dengan rekomendasi, karena petani di sana masih khawatir kalau tanamannya nanti akan kekurangan air sehingga mereka biasa mengairi sawahnya sampai tergenang bahkan sampai-sampai tidak ada bagian dari tanah yang tidak tergenang air.

Demikian juga dengan masalah mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman, juga belum sesuai dengan rekomendasi. Petani di sana seringkali kurang puas dengan dosis rekomendasi dan seringkali menambah dosis karena mereka beranggapan dengan dosis yang berlebih tanaman mereka akan lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Padahal dengan dosis yang berlebihan itu pada jangka panjang akan merusak poduktivitas tanah, pemborosan, dan akan merusak lingkungan.

19

2.   Impact Point Ekonomi

Tabel 1.2 Hasil Pengumpulan Data Tingkat Penerapan Teknologi Ekonomi

No Faktor Penerapan Skor Jumlah peserta Persen
1 Pengelolaan usaha tani Dapat membuat neraca pengeluaran dan catatan harga komoditas

Tidak dapat membuat neraca pengeluaran dan catatan harga komoditas

2

1

15

6

71

29

2 Analisis usaha tani Dapat menghitung biaya, hasil, dan keuntungan usaha tani

Tidak dapat membuat neraca pengeluaran dan catatan harga komoditas

2

1

17

4

80

20

Sumber : Data Sekunder

Pada pengelolaan uasaha tani sebagian besar sudah dapat membuat neraca pengeluaran dan catatan harga komoditas, hal ini disebabkan proses dalam pembuatan neraca pengeluaran dan catatan harga komoditas cukup mudah sehingga petani dapat melakukannya walaupun latar belakang pendidikannya berbeda-beda

Begitu juga dengan pembuatan analisis usaha tani yang cukup mudah juga sehingga petani dapat langsung mempraktekkannya.

20

3.   Impact Point Sosial

Tabel 1.3 Hasil Pengumpulan Data Tingkat Penerapan Teknologi Sosial

No Faktor Penerapan Skor Jumlah peserta Persen
1 Dinamika kelompok Penghayatan tujuan kelompok

Kurang mengahayati tujuan kelompok

2

1

11

10

52

48

2 Teknologi sosial kepemimpinan Hubungan pemimpin dan anggota terjalin dengan baik

Hubungan pemimpin dan anggota kurang baik

2

1

14

7

66

34

Sumber : Data Sekunder

Pada dinamika kelompok tidak ditemui impact point sosial hal ini dikarenakan semua anggota kelompok sudah sama-sama memahami tujuan dari kelompok dan hubungan kekeluargaan antar mereka terjalin dengan erat.

Sedangakan pola hubungan yang dibangun antara pemimpin dan anggota yang selama ini dibangun adalah pola hubungan kekerabatan bukan pola hubungan majikan dan anak buah sehingga hubungan yang terjalin sangat baik dan saling menghormati.

Dari keseluruhan tabel diatas yang dapat dijadikan impact point adalah pengendalian hama dan penyakit tanaman dan pengelolaan air. Untuk pengelolaan air sebanyak 67 % peserta atau petani yang pengelolaan airnya masih belum sesuai dengan rekomendasi. Sedangkan peserta yang pengelolaan airnya sudah sesuai sebanyak 33 %. Untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman yang sesuai dengan rekomendasi 38 % dan yang tidak sesuai dengan rekomendasi sebanyak 62 %.

21

  1. D. Perumusan Tujuan
  2. Impact Point

Impact point dalam program penyuluhan ini termasuk dalam impact point teknis yaitu :

a.   Pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan pestisida yang tidak ramah lingkungan

b.   Pengelolaan air yang belum efektif dan efisien dimana pengairan budidaya tanaman padi dilakukan secara berlebihan sehingga tidak optimal.

  1. Masalah Yang Dihadapi

Sedangkan masalah yang dihadapi adalah

a.   Petani belum mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan

b.   Petani belum mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien

  1. Perumusan Tujuan
    1. a.      Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
    2. b.      Petani dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien
    3. Cara Memecahkan Masalah
      1. a.      Petani mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
      2. b.      Petani mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien.

22

  1. E. Menetapkan Cara Mencapai Tujuan
  2. Matrik cara mencapai tujuan

(Terlampir)

  1. Masalah yang diahadapi

Dari tabel tersebut dapat diketahui antara lain :

  1. a.      Petani belum mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
  2. b.      Petani belum mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien
  3. Upaya pemecahan masalah
    1. a.      Agar petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan sesuai rekomendasi maka upaya pemecahan masalah yang dilakukan adalah dengan pemberian materi dan praktek secara intensif yakni 8 kali dalam setiap musim tanam. Selain itu upaya yang ditempuh adalah optimalisasi peran dari SLPHT di masing-masing kelompok tani.
    2. b.      Agar petani  dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien dengan dilakukan penyuluhan yang dilakukan di setiap awal masa tanam.
    3. Menetapkan cara mencapai tujuan
      1. a.      Petani dapat mengetahui cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dengan pemberian materi dan praktek secara intensif
      2. b.      Petani mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien dengan pemberian penyuluhan tentang pengelolaan air yang benar.

23

  1. F. Pelaksanaan Program

Program metode tanam padi dengan teknik SRI dilaksanakan pada tahun 2001 di Kabupaten Ciamis. Adapun sasaran dari program tersebut adalah petani di Kabupaten Ciamis. Pelaksanaan program mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah setempat untuk melaksanakan kegiatan tersebut karena program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan petani serta menambah pengalaman petani. Adapun jadwal pelaksanaan kegiatan pelatihan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 1.4  Jadwal Kegiatan Penyuluhan

No Kegiatan Waktu
1 Pembukaan

Pembukaan

Sambutan penyuluh dari LSM

08.00- 08.10

08.00-08.20

2 Perkenalan 08.20-08.30
3 Kontrak belajar

Penyuluh menampailan pokok bahasan yang akan disuluh

Menawarkan jadwal pegiatan penyuluhan

08.30-08.45

08.45-09.00

4 Pengamatan lapang 09.00-09.20
5 Penyampaian materi pengendalian dan pemberantasan hama dan penyakit 09.20-10.00
6 Ice Breaking 10.00-10.15
7 Penyampaian materi pengelolaan air cara SRI 10.15-10.45
8 Diskusi 10.45-11.30
9 Kesimpulan 11.30-11.45
10 Doa dan Penutup 11.45-12.00

Sumber : Data Sekunder

Dalam pelaksanaan penyuluhan, materi yang disampaikan mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman. Materi tentang pengendalian hama dilakukan dengan PHT, yaitu dengan mengelola unsur agro-ekosistem sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman. Pada prinsipnya pengelolaan potensi usahatani.

24

Dalam kaitannya dengan pengelolaan potensi usahatani proses belajar diarahkan pada bagaimana petani mampu mengelola unsur agro-ekosistem sebagai sebuah potensi yang dapat dikembangkan. Contoh kemampuan petani dalam pengelolaan unsur agro-ekosistem sebagai praktek pertanian yang ramah lingkungan:

Matahari

Energi matahari sangat potensial dan mendukung kehudupan di dunia ini. Spesifik pengelolaan:

  1. Mengurangi persaingan antar tanaman sehingga proses fotosintesis lebih sempurna, untuk itu dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam yang lebar dan tanam tunggal.
  2. Beberapa hama membutuhkan energi matahari tetapi dalam kondisi tertentu dapat menghambat pertumbuhan mereka. Cara mengelolanya: misal untuk Hama Putih gulungan daun padi dibuka dengan alat penyabit dan tanah dikeringkan, kemudian untuk hama Wereng Batang Coklat merubah iklim mikro disekitar tanaman, agar panas matahari bisa masuk maka dilakukan penyesuaian.

Tanaman

Tanaman berpotensi untuk mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit jika tanaman tersebut sehat, agar tanaman sehat dapat dikelola:

  1. Menanam benih yang bermutu bukan benih yang berlabel.
  2. Perlakuan pemupukan, memberikan pupuk dengan kandungan unsur makro dan mikro yang seimbang. Pada umumnya pupuk anorganik hanya mengandung bahan tertentu, untuk itu pemberian pupuk organik akan mendukung tanaman untuk tumbuh lebih sehat.

Micro-organisme

Agar micro-organisme dalam tanah berperan lebih baik maka perlu makanan yaitu dengan cara pemupukan oleh bahan pupuk organik, kemudian micro-organisme akan mengurai dan memberikan dampak yang baik, yaitu:

25

menyediakan nutrisi bagi tanaman, menghasilkan humus yaitu tempat parkir unsur-unsur sebelum dimanfaatkan oleh akar tanaman, dan dari proses terurainya pupuk organik maka akan memberikan efek:

Memiliki efek sebagai unsur gizi :

  1. Merupakan sumber penyuplaian unsur kecil bersamaan unsur besar seperti: nitrogen, potassium, asam silikat, kalsium, dsb.

Nitrogen yang terkandung dalam pupuk kompos dan pupuk kandang itu bersifat efek lambat, dan sangat besar efeknya sebagai nitrogen penyubur tanah.

  1. Berfungsi sebagai humus yang stabil

Memperbaiki sifat fisik tanah seperti mempertinggi peredaran udara maupun penembusan air dan memperlembut tanah.

Berfungsi mempertinggi daya menyimpan pupuk bagi tanah, mencegah terhanyutnya pupuk-pupuk, dan mengatur pembagian unsur-unsur gizi.

Berfungsi sebagai material penyangga untuk memperlunak penghambatan oleh kadar asam tanah, kadar alkali, kelebihan zat asam dan mencegah material yang merugikan.

Air dan oxygen (zat asam)

Pengelolaan air untuk pengendalian dapat dilakukan misalnya untuk pengendalian Penggerek Batang pada stadia pupa maka melakuka pengelaban agar pupa mati terendam. Sedang untuk pengelolaan oxygen dengan melakukan pengaturan pengairan, pengeringan dan penyiangan. Kegiatan ini berfungsi untuk menyuplai oxygen (zat asam) yang cukup dan memperbaiki pertumbuhan dan fungsi akar, dengan pengeringan pertumbuhan tinggi batang padi akan tertekan karena penghisapan nitrogen terbatasi, maka tanggai daun padi akan besar dan tebal, keras dan kuat, memiliki daya tahan terhadap serangan hama penyakit dan penyimpanan pati akan lebih aktif.

26

Macro-organisme (cacing dan serangga)

Perlakuan pengurangan air dan pupuk organik akan berfungsi juga untuk menghidupkan macro-organisme, misalnya cacing. Cacing akan hidup aktif, ketika bahan organik banyak tersedia cacing akan memanfaatkannya, dalam aktivitas hidupnya cacing akan menggali lubang dan memindahkan bagian tanah bawah ke bagian permukaan tanah, dengan proses ini maka berfungsi merubah struktur tanah sehingga tercipta ruang-ruang dan dalam ruang-ruang tersebut akan tersedia udara atau zat asam.

Musuh alami dan pengurai

Jika dilakukan pemupukan dengan pupuk organik dan tidak melakukan penyemprotan dengan pestisida, maka daur energi akan berjalan dengan baik maka keberadaan musuh alami tidak hanya tergantung kepada keberadaan hama tetapi makanan MA akan tersedia dari serangga-serangga lain, misalnya dari golongan Chyromidae.

Hama

Hama dalam posisi populasi rendah makaa hama akan berfungsi sebagai makanan musuh alami, untuk itu dari berbagai pengalaman misalnya hama Wereng Batang Coklat jika disemprot saat populasi rendah maka populasi akan berkembang dengan pesat.

Sedangkan materi yang kedua yaitu tentang pengelolaan air secara SRI adalah Tanaman padi sawah berdasarkan praktek SRI ternyata bukan tanaman air tetapi dalam pertumbuhannya membutuhkan air, dengan demikian maka SRI ditanam pada kondisi tanah yang tidak tergenang, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian dimanfaatkan oleh akar. Dengan keadaan tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar. Maka tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu proses pengolahan air dan penyiangan dilakukan sebagai berikut: umur padi 1-8 hst keadaan air macak-macak, kemudian umur 9-10 hari digenang 2-3 cm, ini untuk memudahkan melakukan penyiangan. Setelah

27

disiang tanaman dikeringkan sampai umur 18 hari, 19-20 hst tanaman digenang, ini untuk memudahkan penyiangan ke II, selanjutnya pengeringan, pengairan kembali dan penyiangan dilakukan dengan interval yang sama, sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi dan setelah padi masak susu tanaman dikeringkan kembali saat menjelang panen.

V. EVALUASI PROGRAM

  1. A. Evaluasi Tujuan Program

Tujuan dari penyuluhan program ini adalah

  1. Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
  2. Petani dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien

Dari perumusan tujuan diatas maka dapat diuraikan unsur-unsur tujuan yang meliputi sasaran didik, perubahan perilaku yang dikehendaki, materi, dan kondisi serta situasi yaitu sebagai berikut :

  1. Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
    1. Sasaran didik

Sasaran didik dari program ini adalah petani dan keluarganya yaitu petani di Desa Kawasen dan Ciulu Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Yang dimaksud petani disini adalah petani yang dikhususkan bercocok tanam padi. Sumber atau pemateri adalah pihak  LSM dan dibantu oleh Penyuluh setempat.

  1. Perubahan perilaku

Perubahan perilaku yang ingin dicapai adalah aspek kognitif. Yakni petani memahami cara melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dalam teknik tanam dengan metode SRI.

  1. Materi

Materi yang disampaikan berkaitan dengan tujuan ini adalah materi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman. Materi tentang pengendalian hama dilakukan dengan PHT, yaitu dengan mengelola unsur agro-ekosistem yaitu pengelolaan yang mementingkan unsur-unsur yang ramah lingkungan, sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman.

28

29

  1. Kondisi dan situasi

Keadaan yang terjadi pada peserta sehingga diberikan materi pengendalian hama penyakit ini adalah umumnya petani menambah dosis pestisida secara berlebihan ketika muncul hama. Padahal penggunaan pestisida berlebih akan menimbulkan kerugian pada lingkungan, yakni dapat menimbulkan kematian bagi organisme lain yang tidak merugikan.

  1. Petani dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien
    1. Sasaran didik

Sasaran didik dari program ini adalah petani dan keluarganya yaitu petani di Desa Kawasen dan Ciulu Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis. Yang dimaksud petani disini adalah petani yang dikususkan bercocok tanam padi. Adapun sumber penyuluhan adalah dari pihak LSM dan dibantu oleh Penyuluh setempat.

  1. Perubahan perilaku

Perubahan perilaku yang ingin dicapai adalah aspek kognitif. Yakni petani memahami cara melakukan pengelolaan air sesuai dengan rekomendasi dalam teknik tanam dengan metode SRI. Dimana petani diharapkan dapat melakukan semua langkah-langkah pengelolaan air dengan benar yang meliputi: : umur padi 1-8 hst keadaan air macak-macak, kemudian umur 9-10 hari digenang 2-3 cm, ini untuk memudahkan melakukan penyiangan. Setelah disiang tanaman dikeringkan sampai umur 18 hari, 19-20 hst tanaman digenang, ini untuk memudahkan penyiangan ke II, selanjutnya pengeringan, pengairan kembali dan penyiangan dilakukan dengan interval yang sama, sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi dan setelah padi masak susu tanaman dikeringkan kembali saat menjelang panen.

30

  1. Materi

Materi yang disampaikan berkaitan dengan tujuan ini adalah tentang pengelolaan air dengan metode SRI. Materi penyuluhan SRI ini tentang teknik pengairan yaitu SRI ditanam pada kondisi tanah yang tidak tergenang, dengan tujuan menyediakan oxygen lebih banyak di dalam tanah, kemudian dimanfaatkan oleh akar. Dengan keadaan tidak tergenang akar akan tumbuh dengan subur dan besar. Maka tanaman dapat menyerap nutrisi sebanyak-banyaknya.

  1. Kondisi dan Situasi

Keadaan petani sebelum dilakukan penyuluhan adalah pengairan dengan cara biasa yakni pengairan yang tergenang. Dimana daerah tersebut tanahnya lebih optimal apabila pengairannya secara tidak tergenang.

  1. B. Penetapan Indikator Untuk Mengukur Kemajuan Yang Dicapai

Indikator adalah variabel yang digunakan sebagai alat yang digunakan untuk memntau dan mengevaluasi perubahan. Indikator memberikan suatu standar untuk mengkur, menilai, atau menunjukkan kemajuan. Indikator merupakan suatu parameter untuk mengetahui tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Dengan indikator akan lebih mudah mengetahui sebuah tujuan mencakup apa, sehingga suatu tujuan mempunyai maksud yang lebih spesifik.

Penetapan indikator tergantung pada tujuan program apakah mencakup aspek perubahan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Oleh karena itu penetapan indikator dari tujuan-tujuan ini adalah :

  1. Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
    1. Aspek tujuan : kognitif
    2. Indikator : penguasaan pengetahuan

31

  1. Petani dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien
    1. Aspek tujuan : kognitif
    2. Indikator : penguasaan pengetahuan
    3. C. Penetapan Standar dan Kriteria

Penetapan standar dan kriteria dari tujuan program ini sebagai berikut :

  1. Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan
    1. Standar : petani dapat mengetahui cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan: 1).microorganisme lokal

2).air dan oksigen

3).macroorganisme

4).musuh alami hama.

  1. Kriteria :

1)      Tinggi : mengetahui semua tentang cara-cara pengendalian hama dan penyakit dengan metode SRI.

2)      Sedang : mengetahui hanya dua macam cara-cara pengendalian hama dan penyakit.

3)      Rendah : tidak mengetahui sama sekali.

  1. Petani dapat mengetahui langkah-langkah cara pengelolaan air yang efektif dan efisien
    1. Standar :

Standar dalam penyuluhan ini petani mengetahui langkah-langkah cara pengelolaan air yang efektif dan efisien yaitu ;

1)      Pengairan secara macak-macak pada 1-8  hari setelah tanam.

2)      Penggenangan dengan ukuran 2-3 cm pada hari 9-10 setelah tanam.

3)      Pengeringan sampai umur 18 hari setelah tanam

32

4)      Penggenangan pada 19-20 HST untuk memudahkan penyiangan kedua dan seterusnya dengan interval yang sama sampai tanaman berbunga.

  1. Kriteria :

1)      Tinggi : mengetahui semua tentang langkah-langkah cara pengelolaan air dengan metode SRI.

2)      Sedang : mengetahui hanya dua macam langkah-langkah cara pengelolaan air dengan metode SRI

3)       Rendah : tidak mengetahui sama sekali.

  1. D. Membuat Alat Ukur

Sesuai dengan tujuan program maka dapat dibuat alat ukur untuk mengumpulkan data yang berupa pertanyaan-pertanyaan. Alat ukur tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Tujuan : Petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan

Tujuan ini digunakan alat ukur berupa pertanyaan untuk mengukur pengetahuan. Karena standar tujuan adalah petani dapat menjelaskan keseluruhan langkah dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tujuan adalah:

  1. Apakah yang anda ketahui tentang dampak penggunaan pestisida secara berlebihan ?
  2. Terangkan pendapat anda tentang cara lain dalam memberantas hama dan penyakit tanaman selain menggunakan pestisida ?
  3. Apakah anda tahu tentang cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan ?
  4. Mengapa anda perlu menggunakan cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan ?
  5. Jelaskan masing-masing cara-cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan ?

33

  1. Petani dapat mengetahui langkah-langkah cara pengelolaan air yang efektif dan efisien

Tujuan ini digunakan alat ukur berupa pertanyaan untuk mengukur pengetahuan. Karena standar tujuan adalah petani dapat menjelaskan keseluruhan langkah dalam pengelolaan air yang efektif dan efisien Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tujuan adalah:

  1. Apakah pengelolaan air yang selama ini dilakukan dirasa sudah efektif?
  2. Terangkan pendapat anda tentang pengelolaan air yang baik selama ini?
  3. Apakah menurut anda kelebihan dari pengelolaan air dengan metode SRI?
  4. Mengapa anda perlu menggunakan langkah-langkah pengelolaan air dengan metode SRI ?
  5. Jelaskan langkah-langkah pengelolaan air dengan metode SRI ?
    1. E. Sampling

Dalam suatu program perlu dilakukan penarikan sample dari sebuah populasi. Program ini mempunyai populasi 21 orang petani. Derajat kepercayaan yang digunakan adalah 95 % dengan tingkat kesalahan 5 %. Penarikan sample ini menggunakan table KRITJIE. Penarikan sample dengan menggunakan table KRITJIE diperoleh sample 19 orang dari N sebanyak 21 orang.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan
  2. LSM LPTP adalah organisasi yang independent, artinya LPTP bukan organisasi rasial, keagamaan, kesukuan maupun golongan serta bukan pula underbow dari partai politik manapun. LPTP berorientasi pada masalah kemanusiaan dan pembangunan, dengan menjunjung tinggi transparasi, partisipasi dan toleransi.
  3. Untuk lebih memfokuskan kegiatan LPTP, berdasarkan hasil rapat anggota yayasan LPTP tahun 2002, yayasan LPTP mengembangkan pendirian organisasi otonom yang berorientasi pada berbagai bidang garap spesifik yakni: Lembaga Pengembangan Teknologi Perdesaan (LPTP), SUSDEC (Sustainable Development Education Center), C-BETech (Center for Community-based Environmental technology), Tekad InvesCo dan Akademi Teknik Adiyasa.
  4. Setiap tahun LPTP sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat berusaha mengabdikan diri untuk membuat suatu program yang berorientasi pada pengembangan masyarakat kecil khususnya petani. .
  5. Macam data yang dikumpulkan untuk menetapkan keadaan yaitu data monografi Kabupaten Ciamis, data petani, dan data kebijakan yang menyangkut tentang budidaya tanam padi dengan metode SRI.
  6. Luas wilayah kabuapten Ciamis adalah 2.556,75 km², dengan jumlah penduduk yang diketahui pada tahun 2003 adalah 1.523.000. Dimana jumlah laki-laki ada 769.780 jiwa dan penduduk perempuan ada 753.220 jiwa.
  7. Keadaan yang memuskan dari data monografi Kabupaten Ciamis yaitu tersedianya fasilitas usahatani yang memadai, jumlah penduduk laki-laki

34

35

yang lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan, kelembagaan petani dan kelembagaan desa yang cukup lengkap dan memadai.

  1. Keadaan yang tidak memuaskan adalah  petani belum mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dan petani belum mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien.
  2. Masalah umum yang dihadapi yaitu petani belum mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dan petani belum mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien.
  3. Impact Point Teknis terdiri dari pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan menggunakan pestisida yang tidak ramah lingkungan dan pengelolaan air yang belum efektif dan efisien dimana pengairan budidaya tanaman padi dilakukan secara berlebihan sehingga tidak optimal.

10.  Berdasarkan data yang diperoleh tidak terdapat Impact Point Ekonomi dan Impact Point Sosial.

11.  Perumusan tujuan dari program ini adalah petani dapat mengetahui cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dan petani dapat mengetahui cara pengelolaan air yang efektif dan efisien.

12.  Upaya pemecahan masalah dari program ini adalah pemberian materi berupa penyuluhan secara intensif  8 kali pada setiap musim tanam.

13.  Pelakasanaan program dengan teknik SRI ini dilaksanakan pada tahun 2001 di Kabupaten Ciamis dan masih berlangsung sampai sekarang.

14.  Evaluasi yang dilakukan adalah terjadinya perubahan aspek kognitif Yakni petani memahami cara melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dalam teknik tanam dengan metode SRI dan petani memahami cara melakukan pengelolaan air sesuai dengan rekomendasi dalam teknik tanam dengan metode SRI.

15.  Evaluasi tujuan program dapat diuraikan unsure-unsur tujuan yang meliputi sasaran didik yaitu petani, perubahan perilaku yaitu aspek kognitif, materi yaitu tentang pengendalian hama dan penyakit dan

36

pengelolaan air, yang terakhir adalah kondisi dan situasi yaitu petani yang menggunakan pestisida secara berlebihan dan petani yang masih menggunakan pengairan secara biasa.

16.  Penetapan indikator dari program ini adalah berdasarkan aspek tujuannya yaitu kognitif, indikatornya adalah penguasaan pengetahuan.

17.  Standar dari program ini adalah petani mengetahui langkah-langkah cara pengendalian hama dan penyakit tanaman secara ramah lingkungan dan petani mengetahui langkah-langkah pengelolaan air sesuai dengan metode SRI.

18.  Kriteria dari program ini terdiri atas tinggi, sedang, dan rendah.

19.  Alat ukur dari program ini adalah berupa pertanyaan-pertanyaan.

20.  Penarikan sample dengan menggunakan table KRITJIE diperoleh sample 19 orang dari N sebanyak 21 orang.

  1. B. Saran
  2. Penyuluhan tentang masalah-masalah yang dihadapi petani harus terus dijalankan secara intensif mengingat petani masih membutuhkan bantuan dalam memahami cara melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dalam teknik tanam dengan metode SRI dan petani memahami cara melakukan pengelolaan air sesuai dengan rekomendasi dalam teknik tanam dengan metode SRI.
  3. Sebaiknya teknik tanam dengan pola SRI terus dikembangkan  dan terus dilakukan karena dapat menguntungkan petani.
  4. LSM LPTP perlu mengembangkan teknik tanam dengan metode SRI tidak hanya di wilayah Kabupaten Ciamis saja tetapi lebih luasa lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, Dawam. 1999. Masyarakat Madani (Agama, Kelas menengah dan perubahan social). LP3S. Jakarta

Suryadicula, Adi. 2002. Masyarakat Madani Teori dan Relevansinya. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

http;//gerbang. Jabar.go.id. Diakses tanggal 10 Juli 2006

www. Portal. Latin.or. id. Diakses tanggal 10 Juli 2006.

www. Pikiran-rakyat.com. Diakses tanggal 10 Juli 2006.

www. leisa; info/index. Diakses tanggal 10 Juli 2006

www. Newmount.co. id. Diakses tanggal 10 Juli 2006

37

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: