FERTILITAS DAN MORTALITAS PENDUDUK

I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Demografi yang merupakan awal dari ilmu kependudukan mempunyai pengertian yaitu mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial an komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab dari perubahan tersebut.

Sedangkan ilmu kependudukan adalah ilmu yang berusaha menjawab “mengapa” terjadi perubahan-perubahan variabel demografis. Dengan demikian ilmu kependudukan lebih luas cakupannya daripada demografi karena menyangkut segi-segi kualitatif, dan ilmu ini merupakan penghubung antara penduduk dan sistem sosial.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum Kependudukan ini adalah untuk melatih mahasiswa mengenal lebih dalam mengenai variabel demografi, variabel non demografi beserta indilator-indikator terjadinya variabel-variabel tersebut di masyarakat.

C. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum kependudukan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei – 5 Juni 2006 di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Komposisi Penduduk

Data kependudukan yang dapat disajikan sampai wilayah administrasi terkecil sangat berguna bagi perencanaan pembangunan. Karena registrasi penduduk di Indonesia belum dapat menghasilkan data kependudukan seperti yang diharapkan, maka sensus penduduk menjadi satu-satunya sumber data kependudukan yang diharapkan mampu memberikan gambaran keadaan penduduk Indonesia (http://www.malang.ac.id/e-learning/FMIPA/Budi%20Handoyo/dinamika.htm).

  1. B. Mortalitas

Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat daerah tersebut. Dengan memperhatikan trend dari tingkat mortalitas dan fertilitas di masa lampau dan estimasi perkembangan di masa mendatang dapatlah dibuat sebuah proyeksi penduduk wilayah bersangkutan (Mantra, IB. 2004. Demografi Umum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta).

  1. C. Fertilitas

Angka kesuburan total (Total Fertility Rate=TFR) adalah jumlah rata-rata anak yang dapat dilahirkan oleh seorang wanita jika is hidup sampai akhir masa kesuburannya dan melahirkan anak dengan kecepatan yang sama dengan angka kesuburan berdasarkan umur tertentu yang terdapat sekarang. TFR adalah ukuran terpenting dari kesuburan yang kita punyai, sebab ukuran ini tidak dipengaruhi oleh komposisi umur dari penduduknya. Jika angka kesuburan stabil dari waktu ke waktu maka hal ini akan mempcrlihatkan jumlah CEB pada akhir masa kesuburan kurang lebih sama dengan TFR. Dengan kata lain, tingkat kesuburan dari sebagian besar wanita yang berusia tua sama dengan dari wanita yang masih hidup dalam masa suburnya (http://www.papuaweb.org/ dlib/s123/lautenbach/_rk.html).

Program keluarga berencana mempunyai tujuan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Tujuan yang bersifat kualitatif yakni melembagakan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Selanjutnya tujuan kuantitatif dari program keluarga berencana yaitu penurunan tingakat kelahiran penduduk. Dengan perkataan lain pemerintah berupaya menurunkan angka kelahiran kasar (CBR) sebanyak 50% pada tahun 1990 dibandingkan dengan keadaan tahun 1971. Disadari untuk memperlambat laju pertumbuhan penduduk sangat diperlukan penurunan angka kelahiran (fertilitas) yang lebih cepat daripada penurunan mortalitas (Tjiptoherijanto, 1987).

  1. D. Mobilitas

Mobilitas penduduk dapat dibedakan atas mobilitas penduduk vertikal dan horisontal. Mobilitas penduduk vertikal sering disebut perubahan status, dan salah satu contohnya adalah perubahan status pekerjaan. Seseorang yang mula-mula bekerja dalam sektor pertanian sekarang bekerja dalam sektor non pertanian.

Mobilitas penduduk horisontal atau sering pula disebut dengan mobilitas penduduk geografis, adalah gerak (movement) penduduk yang melintas batas wilayah menuju wilayah yang lain dalam periode waktu tertentu (Mantra,2003).

Persentase migrasi yang masuk ke Jawa lebih besar daripada yang masuk ke Sumatra. Dengan pengecualian Jakarta, untuk Jawa persentase perkotaan terhadap migrasi seumur hidup rata-rata bercorak seragam, yaitu sedikit diatas setengah dari seluruh migrasi seumur hidup, sedang persentase perkotaan terhadap migrasi dari luar Sumatra masuk ke Sumatra amat kecil. Sebab-sebab mengapa terjadi demikian itu mungkin terjadi karena migrasi ke Sumatra terdiri dari tenaga kerja yang dipekerjakan di perkebunan-perkebunan pada tahun-tahun 1920an dan 1930an, dan para transmigran, yang sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, ditempatkan di pemukiman-pemukiman pedesaan (Rusli, S. 1985. Ilmu Kependudukan, Suatu kumpulan bacaan. Erlangga. Jakarta).

  1. E. Ketenagakerjaan

Dengan melihat gambaran demografi pendidikan di Indonesia kita dapat menduga bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian, karena sektor ini pada umumnya tidak menuntut persyaratan pendidikan dan ketrampilan teknik yang tinggi. Penduduk yang bekerja di sektor industri diduga belum begitu besar proporsinya, mengingat sektor ini menuntut persyaratan pendidikan yang cukup tinggi (Ananta, A. 1993. Ciri Demografis kualitas penduduk dan pembengunan ekonomi. Lembaga demografi lembaga penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta).

Tabel 1.1 Tabel Prorata pada Pria

Umur Sebelum Prorating Sesudah Prorating
0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

140.868

131.646

121.935

130.672

131.348

136.153

121.750

162.744

83.688

63.278

42.295

26.577

19.688

11.007

8.294

6.859

3.143

140.868 x K = 141.214

131.646 x K = 131.969

121.935 x K = 122.235

130.672 x K = 130.993

131.348 x K = 131.671

136.153 x K = 136.488

121.750 x K = 122.848

162.744 x K = 102.997

83.688 x K = 83.894

63.278 x K = 63.434

42.259 x K = 40.399

26.577 x K = 26.642

19.688 x K = 19.736

11.007 x K = 11.034

8.294 x K = 8.314

6.859 x K = 6.876

Jumlah 1.281.945 1.281.945

Nilai K

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,002457769

Tabel 1.2 Tabel Prorata pada Perempuan

Umur Sebelum Prorating Sesudah Prorating
0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

133.439

121.897

115.551

127.133

132.718

129.830

108.048

90.838

67.130

45.372

31.007

20.323

17.292

10.372

7.338

6.244

5.418

133.439 x K =134.060

121.897 x K =122.464

115.551 x K =116.689

127.133 x K =127.724

132.718 x K =133.335

129.830 x K =130.434

108.048 x K =108.551

90.838 x K =91.261

67.130 x K =67.442

45.372 x K =45.583

31.007 x K =31.151

20.323 x K =20.418

17.292 x K =17.372

10.372 x K =10.420

131.348 x K =7.372

131.348 x K =6.273

Jumlah 1.169.950 1.169.950

Nilai K

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,00465251

Untuk menghilangkan data yang tidak terjawab (NS) dapat dilakukan dengan teknik prorata dimana teknik tersebut menyebarkan sejumlah penduduk yang tidak terjawab umurnya (kelompok NS) kedalam kelompok-kelompok lain dengan cara mengalikan jumlah penduduk kelompok tertentu dengan faktor pengkali (K) yang dapat diperoleh dari perbandingan jumlah seluruh penduduk dengan jumlah seluruh penduduk dikurangi NS.

Nilai K yang digunakan bertujuan menghlangkan NS ternyata dapat merubah data. Dapat kita lihat hasil setelah prorata berbeda dari pada hasil data sebelum prorata.

Nilai K sendiri dapat dikatakan cukup signifikan dalam menambah jumlah yang ada, nilai K yang digunakan menghasilkan persebaran NS rata pada setiap umur sehingga NS dapat dihilangkan.

Dengan demikian walaupun K dapat menghilangkan NS, jumlah total keseluruhansam baik itu sesudah prorata maupun setelah di prorata. Sehingga pada jumlah penduduk besar akan mengalami pertambahan jumlah penduduk besar, demikian juga sebaliknya. Misalnya saja kita melihat pada kelompok usia 0 sampai 4 tahun yang berjumlah 140.868 jiwa setelah diprorata mengalami penambhan sejumlah 346 dari NS sedangkan pada kelompok usia > 75 tahun hanya mengalami penambahansebesar 17 dari NS.

SEX RATIO

Tabel 1.3 Tabel Sex ratio

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 141.214 134.060 105,3 ~105
5 – 9 131.969 122.646 107,8 ~108
10 – 14 122.235 116.089 105,3 ~105
15 – 19 130.993 127.725 102,6 ~103
20 – 24 131.671 133.335 98,8 ~99
25 – 29 136.488 130.434 104,6 ~105
30 – 34 122.049 108.551 112,4 ~112
35 – 39 102.997 91.261 112,9 ~113
40 – 44 83.894 67.442 124.4 ~124
45 – 49 63.434 45.583 139,2 ~139
50 – 54 42.399 31.151 136,1 ~136
55 – 59 26.642 20.418 130,5 ~131
60 – 64 19.736 17.372 113,6 ~114
65 – 69 11.034 10.420 105,9 ~106
70 – 74 8.314 7.372 112,8 ~113
> 75 6.876 6.273 109,6 ~110
1.281.945 1.169.950 109,6 ~110

Gambar 1.1 Grafik Sex Ratio Penduduk

Rumus sex ratio

SR = S laki-laki x 100

S Perempuan

Misalnya saja kita ambil sample untuk kelompok umur 20 – 24 tahun

SR = = 98,8 ~ 99 orang

3. Angka Beban Tanggungan

(Depending Ratio) Secara Umum (keseluruhan)

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 506,2 ~ 506 orang

Depending Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 490,12 ~ 490 orang

Depending Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 512,99 ~ 513 orang

Analisis sex ratio

Sex ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.

Rumus yang digunakan adalah jumlah penduduk laki-laki dibanding jumlah penduduk perempuan dikalikan 100. Dari data yang disajikan pada suatu wilayah pada tahun 2000 sex rationya adalah 110, yang artinya dalam 100 orang penduduk perempuan terdapat 110 laki-laki. Dan ini dapat dikategorikan bahwa nilai sex ratio lebih dari 100 artinya sex ratio tinggi, sehingga keadaan ini menggambarkan bahwa jumlah laki-laki lebih banyak sehingga menimbulkan ekses atau yang lebih dikenal dengan kelebihan jumlah laki-laki.

Dari data yang disajikan dan hasil yang telah diperolah dari tabel sex ratio yang ditampilkan dapat disimpulkan pula sebagai berikut,  pada usia non produktif dapat kita lihat sex ratio diatas 100 hal ini dapat kita artikan sebagai berikut, misalnya kita mengambil contoh usia non produktif usia 65 – 69 tahun yang memiliki sex ratio 106 yang berarti jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan dan sex ratio termasuk kategori tinggi karena diatas 100.

Berbeda pada usia produktif yang di mulai dari usia 15 tahun hingga 64 tahun disini kita dapat melihat pada umumnya lebih banyak laki-laki namun disatu pihak kita dapat melihat pada usia 20 – 24 tahun jumlah wanita lebih tinggi dari pada laki-laki dengan sex ratio 99 sehingga jika sex ratio dibawah 100 maka lebih banyak perempuan, kenapa demikian ? banyak penyebab yang bisa menjadi alasan salah satu diantaranya adalah tingginya angka kematian pada usia 20 – 24 lebih dikarenakan faktor luar dan dalam, contoh faktor luar adalah rentannya penularan penyakit yang mematikan yang biasanya menyerang pada usia ini, dan faktor luar seperti perkelahian pelajar, kenakalan remaja, broken home, dan lain sebagainya.

Analisis Dependenty Ratio

Angka beban tanggungan atau yang lebih dikenal dengan Dependenty Ratio adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah kelompok umur non produktif dengan jumlah kelompok umur produktif. Kelompok umur non produktif adalah interval 0 – 14 tahun dan > 65 tahun. Sedangkan kelompok umur produktif adalah 15 – 64 tahun. Rumus yang dipergunakan adalah jumlah penduduk non produktif dibagi jumlah penduduk produktif dikali K. Dalam hal ini nilai K yang digunakan adalah 1000.

Dari penghitungan Dependenty Ratio secara umum penduduk suatu wilayah menurut sensus 2000 menunjukan hasil 500,94 dibulatkan 501 yang artinya setiap 1000 orang penduduk produktif menanggung 501 orang penduduk yang tidak produktif. Secara khusus untuk Dependenty Ratio male menunjukkan angka 491 yang memiliki artinya setiap 1000 orang laki-laki produktif menanggung 491 laki-laki non produktif begitu pula dengan Dependenty Ratio Female memiliki nilai 513 yang artinya setiap 1000 oarang perempuan produktif menanggung 513 perempuan non produktif. Secara umum Dependenty Ratio adalah indikator ekonomi suatu negara, semakin tinggi Dependenty Ratio, semakin rendah atau tidak akan maju.

Persentase jumlah penduduk produktif yang besar + 40% menjadikan bebab tanggungan usia produktif menjadi lebih besar. Pada sensus ini Dependenty Ratio tergolong besar karena 33,38 % penduduknya berada dalam usia non produktif dengan kata lain jika Dependenty Ratio tinggi maka suatu daearah akan dianggap tidak maju.

SENSUS NASIONAL TAHUN 2000

Tabel 1.4 Tabel Prorata pada Laki-laki Sensus Nasional Tahun 2000

Umur Sebelum Prorating Sesudah Prorating
0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

10.295.701

10.433.865

10.460.908

10.649.348

9.237.464

9.130.504

8.204.302

7.432.840

6.433.438

5.087.252

3.791.185

2.883.226

2.597.076

1.666.191

1.368.190

1.257.526

5.946

K x 10.295.701 = 10.296.308

K x 10.433.865 = 10.434.480

K x 10.460.908 = 10.461.524

K x 10.649.348 = 10.649.348

K x 9.237.464 = 9.238.008

K x 9.130.504 = 9.131.042

K x 8.204.302 = 8.204.785

K x 7.432.840 = 7.433.278

K x 6.433.438 = 6.433.817

K x 5.087.252 = 5.087.522

K x 3.791.185 = 3.791.408

K x 2.883.226 = 2.883.396

K x 2.597.076 = 2.597.229

K x 1.666.191 = 1.666.289

K x 1.368.190 = 1.368.271

K x 1.257.526 = 1.257.600

Jumlah 100.934.962 100.934.962

Nilai K

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,000058913

Tabel 1.5 Tabel Prorata pada Perempuan Sensus Nasional Tahun 2000

Umur Sebelum Prorating Sesudah Prorating
0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

10.006.675

10.060.226

9.992.824

10.500.169

10.020.637

9.510.433

8.195.418

7.471.386

6.034.410

4.568.753

3.593.783

2.795.438

2.723.943

1.898.735

1.468.847

1.459.459

5.901

K x 10.006.675 = 10.007.264

K x 10.060.226 = 10.060.818

K x 9.992.824 = 9.993.412

K x 10.500.169= 10.500.787

K x 10.020.637= 10.021.227

K x 9.51.433 = 9.510.993

K x 8.195.418 = 8.195.900

K x 7.471.386 = 7.471.826

K x 6.034.410 = 6.034.765

K x 4.568753 = 4.569.022

K x 3.593.783 = 3.593.994

K x 2.795.438 = 2.795.602

K x 2.723.943 = 2.724.103

K x 1.898.735 = 1.898.847

K x 1.468.847 = 1.468.933

K x 1.459.459 = 1.459.545

Jumlah 100.307.037 100.307.037

Nilai K

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,000058833

Tabel 1.6 Sex Ratio Sensus Penduduk Nasional Tahun 2000

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 10.296.308 10.007.264 102,8 ~103
5 – 9 10.434.480 10.060.818 103,7 ~104
10 – 14 10.461.524 9.993.412 104,6 ~105
15 – 19 10.649.975 10.500.787 101,4 ~101
20 – 24 9.238.008 10.021.227 92,1 ~92
25 – 29 9.131.042 9.510.993 96,0 ~96
30 – 34 8.204.785 8.195.900 100,1 ~100
35 – 39 7.433.278 7.471.826 99,4 ~99
40 – 44 6.433.817 6.034.765 106,6 ~107
45 – 49 5.087.552 4.569.022 111,3 ~111
50 – 54 3.791.408 3.593.994 105,5 ~106
55 – 59 2.883.396 2.795.602 103,1 ~103
60 – 64 2.597.229 2.724.103 95,3 ~ 95
65 – 69 1.666.289 1.898.847 87,7 ~ 88
70 – 74 1.368.271 1.468.933 93,1 ~ 93
> 75 1.257.600 1.459.545 86,1 ~ 86
100.934.962 100.307.307 100,6 ~101

Depending Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 542,16 ~ 542 orang

Depending Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 533,32 ~ 533 orang

Bandingkan data hasil sensus nasional tahun 2000 dengan sensus wilayah tahun 2000 dari no 1 dan 2 (Prorata dan Sex Ratio)

Berdasarkan persebaran penduduknya terdapat persamaan dan perbedaan anatra hasil sensus sautu wilayah pada tauhn 2000 dengan hasil sensus nasional tahun 2000, persamaannya adalah kedua hasil sensus tesebut tidak menunjukan angka yang berurutan antra kelompok umur. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) maupun perpindahan (migrasi) penduduk yang tidak sama tiap kelompok umur.

Sedangkan perbedaanya adalah jumlah penduduk kelompok umur 0 – 4 tahun merupakan jumlah tertinggi, baik laki-laki maupun perempuan pada hasil sensus suatu wilayah. Pada hasil sensus nasional tahun n200 jumlah penduduk terbanyak baik laki-laki maupun perempuan terdaoat pada kelompok umur 15 – 19 tahun. Dari perbedaan ini menunjukjan bahwa usia 15 -19 tahun adalah jumlah penduduk terbanyak, sehingga dengan banyaknya penduduk usia produktif dapat menekan angka beban tanggungan / depentcy ratio agar lebih rendah.

Perbedaan lain adalah besarnya sex ratio pada data hasil sensus wilayah tahun 2000 lebih fluktuatif dibanding dengan hasil sensus nasional adalah 139, dan yang terendah adalah 99. Selisih angka tertinggi dan terendah inilah yang menjadikan lebih fluktuatif. Karena pada hasil sensus nasional tahun 2000 angka tertingginya adalah 111 dan terendah adalah 86.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk laki-laki hasil sensus wilayah lebih banyak daripada penduduk laki-laki hasil sensus nasional. Kaena pada sensus wilayah sex ratio totalnya adalah 110 yang berarti terdapat 110 laki-laki per 100 perempuan, dan pada sensus penduduk nasional sex ratio totalnya adalah 101 (tiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki).

>75

70-74

69-65

60-64

55-59

50-54

45-49

40-44

35-39

30-34

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

Gambar 2.1 Piramida penduduk kabupaten Karanganyar pada Tahun 2000

> 60

50-59

40-49

30-39

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

Gambar 3.2.1. Piramida Penduduk kabupaten Karanganyar tahun 1990

Analisis

Pada analisis yang telah dilakukan didapatkan data sebagai berikut yang diperoleh dari data sensus penduduk karanganyar pada tahun 1990 dan 2000 sehingga kita dapat melihat 2 bentuk piramida berbeda.

Pada tahun 2000 bentuk piramida yang divisualisasikan adalah bentuk piramida konstruktif, karena disini kita bisa melihat bahwa kelompok termuda jumlahnya sedikit. Pada piramida ini tingkat kelahiran turun dengan cepat dan tingkat kematiannya rendah. Pada piramida tahun 2000 angka beban tanggungan lebih kecil sehingga dapat dilihat untuk wilayah kabupaten karanganyar dapat di kategorikan pertumbuhan ekonominya baik.

Berbeda dengan priramida penduduk kabupaten karanganyar pada tahun 1990, disini dapat kita lihat bahwa bentuk piramida yang ditampilkan adalah piramida ekspansif yang artinya sebagaian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda.

Tipe ini umumnya terdapat pada negara-negara atau daerah-daerah yang mempunyai angka kelahiran dan angka kematian tinggi dalam hal ini lingkup kabupaten dapat dilihat bahwa kabupaten karanganyar juga memiliki kriteria piramida ekspansif. Pada piramida tipe ini terdapat pada wilayah yang tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat akibat dari masih tingginya tingkat kelahiran dan sudah mulai menurunnya tingkat kelahiran dan sudah turunnya tingkat kematian.

Dari data tahun 1990 dapat terjadi fenomena migrasi namun hal ini dibantah oleh para ahli khusus mengenai wilayah indonesia. Migrasi dapat terjadi disebabkan beberapa keadaan tempat tinggal, tempat lahir dan lama tinggal di daerah tersebut. Pada thun 199 dasar piramida yang lebih bnayk yang artinya kelahiran tinggi di sebabkan kareana program keluarga berencana (KB) belum begitu berhasil dan efektif mungkin boleh dibilang kalah dengan mitos yang beredar dikalangan masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki.

Pada Tahun 2000 migrasi atau perpindahan amat mungkin terjadi di mungkinkan karena pada piramida tahun 2000 jumlah usia produktif lebih banyak daripada usia non produktif namun dari hasil perhitungan jelas sudah jika dilihat dari sex ratio jumlah perempuan lebih banyak dari pada pria dan dilihat dari Dependenty Ratio secara khusus ternyata boleh dikategorikan beban atau angka tanggungan baik laki-laki dan perempuan elatif saimbang dengan kata lain perekonomian bisa dikatakan baik.

Tabel 2.1 Sex Ratio Kabupaten Karanganyar Tahun 1990

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 52.822 52.205 101,1 ~101
5 – 9 43.366 43.210 100,3 ~100
10 – 14 40.546 40.615 99,8~100
15 – 19 38.058 39.334 96,7 ~97
20 – 24 33.595 35.221 95,3 ~95
25 – 29 33.577 33.982 98,8 ~99
30 – 39 33.110 35.749 92,6 ~93
40 – 49 30.583 32.758 93,3 ~93
50 – 59 24.738 27.061 91,4 ~91
> 60 17.643 20.116 87,7 ~ 88

Depending Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 797,15 ~ 797 orang

Depending Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 764,85~ 765 orang

Tabel 2.2 Sex Ratio Kabupaten Karanganyar Tahun 2000

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 29.534 27.961 105,6 ~106
5 – 9 34.449 33.174 103,8 ~104
10 – 14 38.800 36.204 107,1 ~107
15 – 19 36.350 35.962 101,0 ~101
20 – 24 32.913 33.099 99,4 ~99
25 – 29 32.163 32.422 99,2 ~99
30 – 34 32.020 32.511 98,4 ~98
35 – 39 30.022 30.679 97,8 ~98
40 – 44 27.829 28.784 96,6 ~97
45 – 49 25.721 26.643 96,5 ~97
50 – 54 23.359 24.363 95,4 ~95
55 – 59 19.355 20.492 94,4 ~94
60 – 64 11.818 13.248 120,0 ~120
65 – 69 8.102 9.841 82,3 ~82
70 – 74 5.672 7353. 77,1 ~77
> 75 6.648 8.218 80,8 ~81

Depending Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 453,91 ~ 454 orang

Depending Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 440,43~ 440 orang

Angka Beban tanggungnan atau yang lebih dikenal sebagai Dependenty Ratio kabupaten Karang anyar apada tahun1990 adalah sebagai berikut untuk angka beban tanggungan kaum pria didapat angka 797 yang artinya setiap 1000 orang laki-laki produktif menanggung 797 laki-laki tidak produktif. Begitu juga dengan Dependenty Ratio pada perempuan terdapat angka 765 yang artinya bahwa setiap 1000 orang wanita produktif menanggung 765 perempuan non produktif. Jika kita lihat dari hasil diatas angka beban tanggungan pria di kabupaten Karanganyar pada tahun 1990 lebih besar dari pada perempuan.jika angka Dependenty Ratio cukup besar artinya sebuah daerah dikatakan tidak maju atau lambat berkembang.

Pada Tahun 2000 migrasi atau perpindahan amat mungkin terjadi di mungkinkan karena pada piramida tahun 2000 jumlah usia produktif lebih banyak daripada usia non produktif namun dari hasil perhitungan jelas sudah jika dilihat dari sex ratio jumlah perempuan lebih banyak dari pada pria dan dilihat dari Dependenty Ratio secara khusus ternyata boleh dikategorikan beban atau angka tanggungan baik laki-laki dan perempuan relatif seimbang dengan kata lain perekonomian bisa dikatakan baik.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: