HAMA SUNDEP

Peningkatan faktor produksi tanaman  padi perlu diupayakan. Salah satu upaya peningkatan produksi padi yaitu dengan memberantas hama yang menyerang tanaman padi. Kita semua pasti pernah hama penggerek pada tanaman padi yaitu merupakan salah satu dari beberapa hama yang menyerang padi. Hama penggerek sendiri terdiri dari empat spesies yaitu

  • penggerek batang padi kuning (Sccirpophaga incertulas (Wkl.))
  • penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata (Wkl.))
  • penggerek batang padi bergaris (Chilo supressalis (Wkl.))
  • dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens (Wkl.)).

Diantara keempat spesies itu yang paling popular ayau sering kita dengar dalam budidaya tanaman padi adalah penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata (Wkl.)) atau sering kita kenal dengan istilah “hama sundep” (Sugeng, HR, 2003).

Disebut hama sundep atau mati pucuk bila menyerang tanaman padi yang belum berbunga. Warna bibit padi/tanaman padi yang belum berbunga merah kuning atau merah coklat. Apabila diperhatikan ternyata ujung daun padi telah mati, kering dan mudah dicabut karena daun itu sebebarnya telah putus, digigit ular yang berada dalam batang tanaman padi. Bila batang padi dibuka akan terlihat ulat didalamnya. Serangan hama sundep kadang-kadang dikira penyakit kresek. Batang yang diserang penyakit kresek bila dipotong kemudian ditekan akan keluar lendir yang berwarna kuning atau putih kekuningan.

Morfologi

Ngengatnya berwarna putih, sayap bila dibentangkan panjangnya lebih kurang 25-30 mm, panjang badannya kurang lebih 11-15 mm. Telurnya berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih 0,6 x 0,5 mm dan diletakkan berjejer-jejer seperti letak genting, jumlahnya 150-200 butir ditutupi bahan seperti beledu berwarna coklat muda ulat yang baru menetas warnanya abu-abu, kemudian berubah menjadi kerm muda, kepalanya berwarna lebih tua, kuning coklat, panjang kurang lebih 20-25 mm, kepompong (pupa) berwarna krem muda diselubungi kokon putih, panjangnya 12-17 mm.

Daur hidup

Ngengat bertelur dibagian bawah daun, yang terletak dibagian atas batang. Dipersemaian padi biasanya telur diletakkan dibagian atas permukaan daun, terutama semai yang sangat muda. Waktu bertelur malam hari, jumlahnya 200-300 butir. Telur akan menetas setelah  satu minggu. Ulat yang baru saja menetas terus tersebar menuju ke batang padi, atau turun ke air dengan bantuan benang yang keluar dari badannya. Kemudian akan menyerap ke batang padi yang lain. Ulat ini lalu menggerek batang padi, terus masuk kedalamnya menuju ke bawah. Apabila tanaman padi masih muda, pangkal tangkai daun pucuk dipotongnya sehingga mati. Ulat ini bisa pindah ke batang lain, hingga banyak pucuk daun yang menjadi kering akibat telah putus pangkalnya.

Penggerek batang padi putih lebih menyukai tempat-tempat yang mengalami satu musim tanam padi dalam setahun yaitu pada musim hujan dan musim kemarau sangat jelas. Selain itu juga menyukai tanggul-tanggul jerami yang tidak dibongkar selama tidak ada pertanaman. Hal ini berhubungan dengan perilaku hidupnya yang akan mengalami diapauuze selama musim kemarau didalam tanggul-tanggul jerami. Mereka akan berdiapauze sampai musim hujan datang.

Diapauze (masa tidur/istirahat ulat) terjadi menjelang kemarau. Ulat tidak segera berkepompong tetapi beralih ke masa diapauze sampai beberapa bulan. Dalam masa ini ulat tidak bergerak dan tidak makan tetapi juga tidak berkepompong. Terjadi pada saat padi mulai menguning bahkan sampai padi dipanen. Apabila hujan I datang ulat tidak segera berkepompong.

Pengendalian hama sundep

Pengendalian hama sundep dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

  • cara kimia yaitu dengan menggunakan pestisida cair “spontan”
  • cara mekanik dengan memanfaatkan lampu dan media perangkap.

Keterangan :

  • cara kimia yaitu dengan menggunakan pestisida cair “spontan”

Pengendalian dengan menggunakan pestisida cair yaitu dengan cara penyemprotan (spraying). Penyemprotan adalah penyemprotan pestisida pertanian yang paling banyak dipakai oleh para petani. Diperkirakan 75% penggunaan pestisida digunakan dengna cara penyemprotan, baik penyemprotan di darat maupun di udara. Dalam penyemprotan larutan dipecah oleh Nozzle (cerat, spuyer) atau atomizer yang terdapat dalam alat penyemprot (sprayer) menjadi butiran semprot/droplet.

Teknik menyemprot yang tepat

Disemprotkan pada tanaman padi secara merata. Bagian lokasi tanaman yang termasuk parah penyakitnya diberi pestisida yang lebih banyak dibandingkan pada bagian lain. Selain merata pada semua tanaman saat menyemprot tanaman hendaknya dibuka pada bagian sela-sela tanaman sehingga seluruh bagian tanaman tersemprot. Hal ini untuk menghindari kalau hama tersebut berpindah ke bagian lain yang tidak terkena pestisida untuk berlindung. Namun kenyataannya petani hanya menyemprot pada bagian permukaan (atasnya saja) jadi kurang merata. Maka hasilnyapun tidak maksimal. Hama masih belum mati seluruhnya sehingga masih mampu untuk merusak tanaman. Selain petani menyemprot pada bagia atasnya saja petani juga kurang cermat dalam menyemprot tanaman. Petani hanya asal menyemprotkan pada tanaman dan asal semua kena. Padahal selain merata petani haru memberikan ukuran yang lebih pada bagian yang parah dibandingkan pada bagian yang kurang terlalu parah. Hal ini disebabkan karena petani tidak mau repot, suka yang praktis dan cepat selesai. Pada dosis pestisida yang diberikanpun tidak sesuai dengan rekomendasi pada aturan pakainya. Yang biasanya disesuaikan dengan kondisi tanaman atau melihat tingkat keparahannya petani suka memberikan dosis yang berlebih. Karena menurut mereka dosis yang banyak akan mempercepat kematian hama tersebut. Padahal hal itu akan berdampak negatif bagi tanaman padi sendiri. Yang mana menyebakan pertumbuhan padi tidak normal.

Cara penggunaan Sprayer

  1. Pestisida dicampur dengan air terlebih dahulu dalam suatu ember kemudian diaduk hingga merata (tercamur sempurna).
  2. Setelah itu dimasukkan dalam sprayer melalui lubang yang ada pada bagian atas tangki.
  3. Kemudian saat penggunaan sebelum disemprotkan dipompa terlebih dahulu baru disemprotkan. Penyemprotannya diatur dengan memutar alat pengatur yang ada pada sprayer.
  • cara mekanik dengan memanfaatkan lampu dan media perangkap

Hama sundep berkembang biak dengan teluryang akan tumbuh menjadi ulat lalu kepompong dan kupu-kupu. Kupu-kupu itu suka cahaya jadi dapat digunakan lampu petromaks dan media perangkap agar kupu-kupu itu terperangkap.

Kemunculan kupu-kupu sundep harus segera diwaspadai karena jika dibiarkan dalam tempo 8-9 hari hama ini akan bertelur dan menetas dalam bentuk ulat. Ulat ini akan bersembunyi dalam tanaman padi yang sangat sulit untuk dimusnahkan dengan penyemprotan pestisida biasa. Sehingga pengendalian secara fisik-mekanik ini sangat perlu dilakukan.

Bahan dan Alat yang diperlukan antara lain :

  1. Sumber cahaya atau lampu petromaks
  2. Media perangkap (daun pisang atau cell pelekat yang dapat dibeli di toko-toko terdekat)
  3. Olie bekas
  4. Korek
  5. Minyak tanah

Cara Kerjanya antara lain :

  1. Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan
  2. Menyiapkan media perangkap
  3. Mengisi bahan bakar lampu petromaks dengan minyak tanah
  4. Menyalakan lampu pada saat malam hari

Menempatkan media perangkap dekat cahaya lampu agar dapat terperangkap tanpa membakar media perangkap.

About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    jailan supriyadi said,

    terima kasih, artikelnya sangat membantu. mohon ijin copas utk materi penyuluhan


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: