ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, PENELITIAN DAN STATISTIK

I. Pendahuluan

Garis-Garis Besar Haluan Negara menetapkan antara lain     bahwa pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diarahkan      pada pengembangan kemampuan nasional dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, agar sesuai dengan kebutuhan kemajuan pembangunan. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diperlukan untuk mendorong kegiatan pembangunan dan diusahakan pemanfaatannya     agar tetap membuka lapangan kerja.

Arah kebijaksanaan pengembangan Penelitian, Ilmu Penge-    tahuan, dan Teknologi selanjutnya ditentukan sebagai berikut:      a. Cabang-cabang ilmu pengetahuan tertentu yang penting tetapi      kurang peminatnya perlu mendapat perhatian khusus; b. Demi pe­manfaatan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian bagi pem­bangunan perlu diciptakan iklim yang menggairahkan penelitian     dan pengembangan itu sendiri; c. Sesuai dengan prioritas pem­bangunan, ditingkatkan daya guna lembaga-lembaga penelitian     serta sistem informasi kegiatan dan hasil penelitian; d. Pem-      binaan ilmu pengetahuan perlu menjamin iklim pertumbuhan dan obyektivitas ilmu pengetahuan demi kepentingan nasional. Dalam hubungan ini ditingkatkan pula kemampuan perguruan tinggi, lem-  baga-lembaga penelitian, berbagai organisasi dan kegiatan cen­dekiawan serta diciptakan sistem penghargaan bagi karya ilmiah   yang mempertinggi martabat bangsa.

Kegiatan-kegiatan riset dan pengembangan teknologi dalam  Repelita III setiap tahun ditingkatkan. Secara bertahap disem-     purnakan perincian penelitian berdasarkan kelima Program-pro-     gram Utama Nasional Riset dan Teknologi. Melalui kelima Pro-    gram-program Utama Nasional Riset dan Teknologi disempurnakan tatanan kelembagaan Riset dan Teknologi, kordinasi Nasional     Riset dan Teknologi, dan peningkatan mutu penelitian maupun pendekatan multidisipliner terintegrasi, yang merupakan tun-     tutan pembangunan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pendukungnya.

XVII/3

II.KEBIJAKSANAAN POKOK

1. Prioritas dan arah pengembangan penelitian.

Program-program Utama Nasional Riset dan Teknologi mempu-    nyai jangkauan jangka panjang. Sasaran-sasaran dalam Repelita     III dipertimbangkan berdasarkan kemampuan nasional dalam bidang

ini yang meliputi antara lain peningkatan kemampuan tenaga pe- neliti dan teknisi, peningkatan prasarana dan sarana riset dan teknologi. Hal ini disesuaikan dengan prioritas di bidang riset  dan teknologi, yang menunjang kelancaran pembangunan di bidang pertanian, industri dan pertambangan, dengan memperhatikan ke­lestarian sumber alam dan lingkungan hidup dan peningkatan ta-    raf hidup rakyat di pedesaan. Sehubungan dengan itu prioritas Program-program Utama Nasional Riset dan Teknologi diarahkan sebagai berikut

a. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang Kebu-  tuhan Dasar Manusia yang menunjang usaha peningkatan daya   mampu fisik dan mental manusia Indonesia melalui usaha pe­menuhan kebutuhan dasar, mengfokuskan penelitiannya selama Repelita III pada masalah pangan dan kesehatan tanpa menga­kibatkan masalah-masalah lainnya.

b. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang Sumber Alam dan Energi yang menunjang pemanfaatan, pemeliharaan     dan penggunaan sumber alam dan energi untuk pembangunan na­sional meneliti masalah sumber alam hayati, non-hayati, mi­neral, energi konvensional dan non konvensional, serta ma- salah bencana alam. Dalam hubungan ini diadakan program in­ventarisasi dan evaluasi kekayaan alam dan program eksplo-  rasi, konservasi, diversifikasi dan indeksasi masalah ener-   gi.

c. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang Indus­trialisasi yang menunjang dan diusahakan meningkatkan ke- mampuan nasional meneliti kemungkinan pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi. Dalam sektor pertanian maupun sektor pertambangan diteliti kemungkinan kenaikan nilai tambah     dari potensi sumber daya alam dan energi yang tersedia.

d. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang Per­tahanan dan Keamanan yang menunjang kemampuan Pertahanan Keamanan Nasional meneliti peningkatan ketahanan bangsa un­   tuk masa kini, daya tangkal dewasa ini dan masa mendatang.

XVII/4

e. Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang So-    sial, Ekonomi, Falsafah, Budaya, Hukum dan Perundang-un-   dangan berusaha menunjang pembangunan nasional di bidang-   bidang tersebut. Berbagai penelitian dicurahkan pada studi   dan dampak teknologi yang diaplikasikan dalam proses pem­bangunan.

2. Pengembangan Sarana Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pene­litian

Peningkatan jumlah dan mutu peneliti/ilmuwan dilanjutkan   dengan memanfaatkan lembaga pendidikan dan penelitian di dalam negeri maupun di luar negeri dalam berbagai bidang ilmu  penge- tahuan, seperti dalam bidang fisika, atom, penginderaan jauh      dan angkasa luar. Pembinaan karier tenaga peneliti telah diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1977 yaitu tentang    Jabatan Peneliti.

Sampai dengan tahun 1981/82 telah diangkat sebanyak 1.067  orang sebagai peneliti berbagai instansi dengan perincian :   Asisten Peneliti 630 orang, Ajun Peneliti 272 orang, Peneliti   103 orang dan Ahli Peneliti 62 orang (Tabel XVII – 1). Jumlah tenaga peneliti yang pada waktu ini sedang mengikuti pendidikan    di berbagai lembaga pendidikan di dalam negeri berupa Program Doktor, Magister, Pasca Sarjana, kursus berbagai disiplin, pen­didikan pemetaan dan pendidikan sarjana dapat dilihat dalam      Tabel XVII – 2

Pengiriman tenaga peneliti ke luar negeri dilakukan teru-    tama untuk bidang-bidang spesialisasi yang langka, seperti pe­manfaatan limbah biogas, nuklir, peroketan dan satelit bidang pemotretan dan interpretasi serta penginderaan jauh. Jumlahnya  dapat dilihat pada Tabel XVII -3.

Pembangunan fisik Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) di Serpong hingga akhir 1981/82 sudah             sampai pada tahap penyelesaian laboratorium uji konstruksi

(LUK), laboratorium kalibrasi, instrumentasi dan metrologi      (KIM), perumahan peneliti, penjernihan air dan pengadaan lis­trik.

Selain pengembangan reaktor di Bandung dan Yogyakarta kini sedang dipersiapkan pula pembangunan Reaktor Atom Serba Guna,   serta fasilitas BATAN lainnya yang meliputi pembangunan labora- torium teknologi bahan nuklir, bengkel gelas, bengkel instrumen   dan mekanik di Serpong (PUSPIPTEK).

XVII/5

TABEL XVII – 1

PERKEMBANGAN JUMLAN PEGAWAI PENELITI
BERBAGAI INSTANSI,

1978/79 – 1981/82
Jenjang Peneliti 1978/79 1979/80 1980/81 1961/82
Ahli Peneliti 45 81 61 62
Peneliti 124 97 90 103
Ajun Peneliti 181 211 236 272
Asisten Peneliti 430 557 656 630
Jumlah : 780 946 1.043 1.067

TABEL XVII – 2

PENDIDIKAN TENAGA PENELITI NON DEPARTEMEN
DI DALAN NEGERI,

1981182
Pendidikan/Lembaga LIPI BATAN LAPAN BAKOSUR-

TANAL

BPP TEKNO­

LOGI

1. Program doktor 27 13 - - -
2. Magister 4 - - - -
3. Pasca Sarjana - 20 2 - -
4. Kursus berbagai

bidang disiplin

537 270 58 - 25
5. Pendidikan Pemetaan - - - 68 -
6. Pendidikan Sarjana 12            392 392 20 - 20
Jumlah : 580                  695 695 80 68 45

TABEL XVII – 3

PENDIDIKAN TENAGA PENELITI NON DEPARTEMEN
DI LUAR NEGERI

Lembaga                      Jumlah orang

LIPI                          53 orang

BATAN                                55 orang

LAPAN                          25 orang

BAKOSURTANAL                  107 orang

Jumlah :  240 orang

XVII/6

Penambahan fasilitas LAPAN mencakup laboratorium pengolah    data teledeteksi, laboratorium bahan bakar roket, gudang pe­  nyimpanan bahan bakar roket, laboratorium pengontrol uji statik roket, balai makmal riset dirgantara dan ruang tracking mata­     hari. Dalam tahun anggaran 1981/82 mulai dibangun terowongan     angin ukuran kecepatan rendah beserta berbagai sarana penunjang     di Rumpin, sedang pembangunan stasiun bumi untuk satelit sumber  alam landsat di Pekayon Jakarta sudah mencapai tahap penyele­    saian.

Fasilitas laboratorium prosesing pemotretan di Cibinong      Jawa Barat milik BAKOSURTANAL diharapkan selesai pada akhir      tahun 1982. Untuk kegiatan pemotretan udara telah diadakan 2    (dua) pesawat jenis Taurus King Air.

Gedung laboratorium Ilmu-ilmu sosial LIPI di Jakarta dengan berbagai fasilitasnya dan museum Etnobotani di Bogor telah se-    lesai dibangun.

IIL LANGKAH LANGKAH KEGIATAN PENELITIAN

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dipakai suatu pendekatan menyeluruh terhadap masalah-masalah yang diha-   dapi dalam proses pembangunan, terutama dalam hal a. kebutuhan dasar manusia, b. sumber alam dan energi, c. industri-industri   dan jasa, d. pertahanan dan keamanan, e. sosial, ekonomi, buda­             ya dan falsafah, dan perundang-undangan. Kelima kelompok pe­nelitian utama nasional tersebut telah memberikan hasil sebagai berikut.

a. Program Utama Riset dan Teknologi di bidang Kebutuhan Dasar Manusia

1. Penelitian dalam bidang kesehatan

Riset dan teknologi di bidang kesehatan dalam tahun angga-       ran 1981/82 antara lain mencakup kesehatan berbagai lingkung-    an, usaha peningkatan pelayanan kesehatan, bidang farmasi dan   keluarga berencana. Penelitian pengembangan kesehatan menunjang pengambilan keputusan antara lain dalam pelaksanaan dan penge­     lolaan berbagai program kesehatan serta penilaian tentang dam-    paknya. Jumlah penelitian yang dilaksanakan antara lain adalah  sebanyak 5 penelitian tentang pelayanan kesehatan; 18. peneliti-       an tentang masalah penyakit; 6 penelitian tentang gizi; 4 pene­

XVII/7

litian tentang lingkungan hidup; dan 5  penelitian tentang      farmasi.

Dengan memanfaatkan penelitian teknologi nuklir telah dila­  kukan sterilisasi dengan radiasi gamma pada beberapa jenis alat kedokteran seperti alat suntik kateter, alat kontrasepsi, dan berbagai macam sediaan farmasi salep mata, antibiotika, bedak  bayi dan bahan jamu tradisional. Mengingat perkembangan peng­ gunaan radioisotop dalam kedokteran nuklir, maka pengembangan dalam membuat sediaan radiofarmasi mendapat perhatian yang uta­    ma. Sehubungan dengan penggunaan radioisotop dalam bidang ke­dokteran ini telah berhasil dibuat aumber radioaktif terbung­   kus, ialah Co-60 dan In-192.

2. Penelitian dalam bidang pertanian

Pembangunan pertanian yang terus meningkat memerlukan du- kungan penelitian guna menemukan berbagai alternatif dalam men­  capai tujuan. Sehubungan dengan itu, maka sampai dengan tahun  1982 telah diadakan 32 penelitian komoditi. Di samping itu telah diadakan pemantapan program penelitian yang diusahakan secara terpadu dengan peningkatan produktivitas dampak peneli­  tian, usaha penyebaran hasil pertanian, dan perluasan wilayah penelitian.

Penelitian pertanian mencakup empat kelompok utama, ialah kelompok penelitian pangan, kelompok penelitian non-pangan, kelompok agro-sosio-ekonomi, dan kelompok penelitian sumber   daya alam pertanian.

Di bidang penelitian pangan telah berhasil dikembangkan be- berapa varitas unggul tahan wereng seperti jenis-jenis Asahan, Brantas, Citarum, Serayu, Cisedane, Semeru, Cimandiri, Barito,   dan Cipunagara. Di samping itu dalam bulan September 1981 telah  pula dilepas tiga varitas yang dikenal sebagai PB 50 untuk IR     50, PB 52 untuk IR 52  dan PB 54 untuk IR 54 . Ketiga varitas tersebut cukup tahan terhadap penyakit virus Tungro di dataran rendah. Selain itu telah dilepas pula varitas Gata dan Gati un-    tuk lahan kering, varitas Adil dan Makmur, Gemar, Semeru dan Batang Agam untuk dataran tinggi, sedang varitas IP 42  dan Ba-    rito untuk daerah pasang surut.

Jenis palawija yang telah dilepas pada tahun 1981 ialah varitas unggul jagung, ubi jalar, kacang hijau, dan kedelai. Jenis unggul baru jagung yang baru dilepas dan diberi nama Pa­rikesit mempunyai potensi hasil 4,5-5,0 ton/ha pipilan kering

XVII/8

dan tahan terhadap penyakit bulai. Di samping itu ada dua vari-    tas unggul baru ubi jalar yang diberi nama Prambanan dan Boro-   budur dan varitas unggul baru kacang hijau dan kedelai yang    masing-masing diberi nama Merak dan Galunggung.

Dalam bidang penelitian pendayagunaan sumber daya nabati        telah dilakukan penelitian terhadap sumber karbonhidrat, sumber  protein, sumber vitamin dan mineral, dan sumber bahan industri.

Penyakit cacar daun cengkeh yang pada akhir tahun 1981 me­      landa areal pertanaman cengkeh di Lampung seluas + 45.000 ha,        yang merupakan kurang lebih 74% dari seluruh pertanaman, telah      dapat ditemukan penyebab utamanya yaitu cendawan Phyllasticta         sp, yang sering pula disebut Phoma sp. Meskipun cendawan ini    tergolong parasit lemah, namun dalam keadaan tertentu dapat      menyebar secara meluas, sehingga mempunyai potensi epidemik.     Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan fungisida Dithane M45          (3 gram/liter).

Penelitian pendayagunaan sumber daya renik meliputi peneli-      tian-penelitian pengaruh inokulasi, penyebaran azolla, penye-        baran ganggang biru, kualitas dan daya simpan ragi oncom, ta-             pai, protein sel tunggal dan mikro-biodegradasi limbah pertani­an.

Penelitian perkebunan terutama ditujukan pada peningkatan    produksi beberapa komoditi ekspor seperti karet, kelapa sawit,    coklat, tebu, kelapa, tembakau dan cengkeh. Dari penelitian          pada komoditi karet telah dihasilkan klon unggul RR 300 dan PR         303, teknik sadapan tusuk, teknik mengolah karet untuk sol se­            patu dengan mutu lebih kuat untuk produksi rol mesin giling          gabah dan untuk kebutuhan aspal jalan raya. Pada komoditi ke­            lapa sawit telah dihasilkan hibrida Dura Dumpy X Pisifera de­         ngan kemampuan produksi 30% di atas varitas yang dikenal ter-                dahulu. Pada kopi dikembangkan klon unggul BP 409. Pada coklat dikembangkan hibrida ICS 60 x SCA 6, SCA 12 x ISC 60 dan DR 2 x        SCA 12. Pada teh dikembangkan klon TR 2024, TRI 2025, Kura 8,            Cin 143 dan SA 40. Pada tebu ditemukan 19 klon seri Ps yang         tahan penyakit mozaik, sedang dalam bidang kelapa dikembangkan       hibrida genjah X Nias. Pada komoditi tembakau telah dihasilkan          varitas unggul yang resisten terhadap penyakit lanas. Pada ka-              pas dikembangkan BTK 12 dan IA Compincs yang cocok untuk Sula­           wesi Selatan. Pada tanaman obat-obatan diketemukan suatu vari-           tas yang cocok bagi sumber bahan baku kontrasepsi oral yaitu         Costus speciocus dan Solanum khasianum.

Penelitian kehutanan telah menghasilkan pedoman pengenalan

XVII/9

jenis pohon ekspor, metode penerapan sistem silvikultur di      dalam kegiatan pengusahaan berbagai tipe hutan, metode in­ ventarisasi pohon hutan alam, tanaman yang cocok untuk rebo­isasi/penghijauan belukar dan padang alang-alang, pengenalan   sifat-sifat dasar 267  jenis kayu perdagangan, kayu yang cocok  untuk patung dan bantalan poros baling-baling kapal, klasifika­    si keawetan 91 jenis kayu terhadap rayap kayu kering, bahan pe­ngeringan 50 jenis kayu, pengenalan sifat venir dan kayu lapis dari 141 jenis kayu, 136  jenis kayu untuk papan wol kayu, tek­nologi baru untuk pembuatan briket arang dan cara transportasi   kayu di daerah pegunungan.

Di bidang agroekonomi telah dikaji program pembangunan per-       tanian seperti Intensikasi Khusus (INSUS) dan Perkebunan Inti Rakyat (PIR) serta penyusunan suatu sistem komoditi dan nilai   tukar komoditi pertanian.

Di bidang sumber daya tanah telah dinilai potensi + 167           juta ha sumber daya tanah, dari 56 lokasi calon lahan transmi­          grasi seluas 846.000 ha.

Penelitian peternakan menghasilkan pemantapan sistem-sistem persilangan antara sapi lokal dengan sapi potong unggul, model pengembangan peternakan domba dan kambing, cara pemanfaatan    produk peternakan secara efisien dan mudah. Di bidang makanan ternak, dilaksanakan penelitian untuk meningkatkan  efisiensinya.

Penelitian penyakit hewan menghasilkan penyempurnaan cara-     cara penanggulangan hama dan penyakit hewan, metode produksi    bahan hayati obat-obatan hewan, cara-cara mendiagnosa beberapa    penyakit hewan, produksi vaksin dan antiserum, pengujian macam- macam obat hewan di pasaran.

Penelitian peternakan telah menghasilkan vaksin pencegah      dan pemberantas penyakit ngorok pada sapi dengan suatu keke­    balan yang lebih lama pada sapi, walaupun dengan dosis yang    lebih rendah. Juga teknik pemakaiannya lebih mudah. Melalui    kawin suntik pada sapi potong dan sapi perah telah pula di­   peroleh genetik lebih baik. Demikian pula telah dapat dikem­  bangkan efisiensi pemanfaatan bahan makanan ternak dari limbah hasil pertanian dan telah ditemukan bibit unggul petelur pada unggas.

Dalam bidang penelitian perikanan telah ditemukan sumber-       sumber potensi baru seperti ikan cakalang, ikan tuna, dan        udang. Di samping itu telah ditingkatkan pemberantasan penyakit ikan dan perbaikan teknologi penanganan ikan di kapal-kapal.

XVII/10

Demikian pula telah ditingkatkan budidaya rumput jenis Enchena spinasun.

Penelitian pendayaan sumber daya hewani meliputi inventari­  sasi sifat morfologi pada beberapa jenis unggas dan keanekara­   gaman domba dan ayam. Di samping ini diteliti pula pertumbuhan remis (corbicula Javanica), perilaku kehidupan udang, dan di­   adakan pula penelitian terhadap jumlah jenis serangga.

Beberapa penelitian dengan teknik nuklir dilakukan terutama       untuk peningkatan produksi pangan, antara lain :

a) Pemuliaan tanaman

Kegiatan pemuliaan tanaman padi dimulai secara intensif       pada tahun 1972 dengan menggunakan radiasi gamma dan mutagen    kimia Ethylmethane Sulfonat. Varitas unggul No. A 13/PsJ/72K, A23/PsJ/72K dan A33/PsJ/72K, ternyata perlu diganti dengan va­ ritas Pelita I dan galur mutan No.A23/PsJ/72K yang setelah di-       radiasi oleh sinar gamma tahan hama wereng coklat. Dari kegiat-             an ini telah diperoleh sepuluh galur mutan sesuai yang diingin­    kan, dan yang kini sedang mengalami pengujian daya hasil, eva­  luasi mutu, rasa dan sifat-sifat agronomi, dan daya adaptasinya          di beberapa lokasi.

Selain itu usaha pemuliaan padi yang bertujuan meningkatkan kandungan protein varitas Pelita I/1 dan PB5 telah menghasilkan       sekitar 12 galur mutan dengan kadar protein yang lebih tinggi,   dan pada waktu ini sedang diuji daya produksi dan adaptasinya.   Dari varitas yang sama telah diperoleh pula 5 galur mutan yang        tahan penyakit bakteri busuk daun dan 5 galur mutan yang tole-       ran terhadap penyakit busuk pelepah. Juga galur-galur ini kini sedang mengalami evaluasi daya hasil sifat agronomi dan adapta­   sinya terhadap lingkungan.

Suatu kegiatan pemuliaan tanaman kacang-kacangan kedelai          dimulai pada tahun 1976 dengan tujuan utama meningkatkan poten-     si daya hasil setelah diradiasi oleh sinar gamma, neutron cepat          dan beberapa mutagen kimia lainnya. Kira-kira 15 galur mutan       yang diperoleh kini sedang diuji kemantapan daya hasil dan adaptasinya. Demikian pula 10 galur mutan yang genjah dan     pendek sedang diuji daya hasil dan kesesuaiannya untuk pola   tanaman tumpang sari. Kegiatan selanjutnya dilaksanakan dengan memasukkan aspek fiksasi nitrogen secara simbiotik dalam kri­   teria seleksi. Selain itu penelitian juga ditujukan untuk memperoleh varitas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat  dan varitas yang dapat beradaptasi di dataran tinggi.

XVII/11

Sejak tahun 1979 dalam pemuliaan tanaman kacang hijau diu­  sahakan untuk memperoleh varitas yang genjah. Demikian pula      usaha pemuliaan jagung bertujuan memperoleh varitas yang tahan terhadap penyakit bulai.Kedua kegiatan ini masih dalam tahap pemurnian hasil seleksi.

b) Pemberantasan hama.

Penelitian dengan pendekatan pemandulan serangga demi pe­ngendalian hama kubis Plutella dan Crocidolomia dilanjutkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik serangga mandul dapat digunakan untuk menekan populasi kedua jenis hama terse-    but. Pada hama Plutella pelepasan serangga yang telah diradiasi          dengan dosis 30 krad sebanyak 9 kali jumlah serangga normal te-                   lah dapat menekan populasi FL-nya dengan sekitar 61% untuk ska-           la laboratorium, 55% untuk skala semi lapangan dan 45% untuk skala lapangan. Pada penelitian hama Crocidolomia, pelepasan serangga radiasi dengan dosis 40 krad sebanyak 9 kali jumlah serangga normal telah dapat menekan populasi FL-nya dengan se- kitar 65% untuk skala laboratorium, 60% untuk skala semi lapa-      ngan dan 50% untuk skala lapangan.

Pengembangan metode penandaan kedua jenis hama tersebut dengan isotop P-32 melalui makanan buatan telah berhasil dengan baik. Penggunaan serangga bertanda untuk mempelajari fluktuasi populasi telah dilaksanakan secara longitudinal terhadap hama Crocidolomia di Cipanas.

Pada tahun 1981/82 telah dirintis penelitian dengan tekno­   logi “insect sex pheromone” dalam rangka pemberantasan hama se­   cara terpadu. Penelitian pendahuluan telah dilaksanakan terha-    dap hama jenis penggerak batang padi tipe Chilo suppressalis, Tryporiza incertulas dan hama kubis Crocidolomia binotalis.

c) Pemupukan tanah dan nutrisi tanaman.

Hasil penelitian dengan isotop N-15 pada pemupukan nitrogen    di persawahan pasang surut di Delta Upang (Palembang) menunjuk­    kan bahwa efisiensi serapan teknologi ini mencapai sekitar 25%   dari pupuk yang diberikan. Efisiensi ini sangat rendah bila di­bandingkan dengan efisiensi serapan di tanah mineral sebesar  50%. Penelitian untuk meningkatkan efisiensi tersebut diterus-   kan baik dengan penambahan unsur-unsur mikro Zn, Cu dan Mo, maupun dengan berbagai cara pemupukan.

Penelitian status kesuburan Zn pada lahan sawah menghasil-

XVII/12

kan suatu sistem pengelompokan lahan sawah intensif di Jawa      Barat bagian utara dan selatan menjadi empat kategori yaitu ke­         lompok : (1) sangat kekurangan Zn, (2) kekurangan Zn, (3) me-      miliki potensi kekurangan Zn, dan (4) tidak kekurangan Zn.

Sejak tahun 1980 kegiatan penelitian tanah dan nutrisi ta-     naman ditingkatkan melalui percobaan pemupukan nitrogen dan  fosfat pada sistem/pola tanaman tumpang sari di daerah Lampung  dengan menggunakan pupuk urea N-15 dan pupuk TSP P-32.

d) Nutrisi ternak

Demi peningkatan produksi ternak, komposisi makanan ternak merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan. Sehubungan dengan itu telah dilakukan pengamatan pengaruh unsur mineral kalsium, fosfor dan selenium pada ternak ayam dan produksinya. Ternyata bahwa kekurangan mineral ini sangat mempengaruhi per­tumbuhan maupun hasil produksinya. Kegiatan ini dilanjutkan de­    ngan pengamatan pengaruh penambahan selenium pada proses per­tumbuhan ayam dan produksi telur.

Di samping itu telah diteliti pula kadar mineral dalam rum-    put yang ditanam, yang dikonsumsi serta yang terdapat dalam tubuh ternak potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kan­  dungan fosfor, tembaga dan seng dalam rumput yang menjadi ma-      kanan ternak potong lebih rendah daripada jumlah yang diper­  lukan oleh ternak tersebut. Kemudian diadakan pula penelitian tentang kandungan mineral pada sapi potong yang dihubungkan  dengan produksi ternak potong. Di samping itu juga diteliti penggunaan sisa-sisa pertanian/industri dan rumput berkadar  protein rendah sebagai bahan makanan ternak ruminansia.

Penelitian kegiatan radioimmunoassay dimulai dalam rangka pemeriksaan kadar insulin dalam kasus hepatitus pada manusia. Pemeriksaan kadar hormon reproduksi pada kambing, kerbau, dan manusia merupakan tahap berikutnya dalam rangkaian kegiatan ini.

e) Pemberantasan penyakit hewan

Dalam usaha pencegahan penyakit hewan telah dilakukan pene-       litian pemanfaatan radiasi untuk melemahkan virus Coccidia, pe-       nyebab penyakit pada ayam kecil. Melalui vakainasi minyak aju-     van dan imunisasi melalui radiovaksinasi pada anak ayam diha- rapkan penyakit ini dapat berkurang. Kecuali itu juga diusa-  hakan untuk mengurangi penyakit sura yang disebabkan oleh virus /baksil Trypanosoma dengan penggunaan isotop Cr-51 dan 1-131.

XVII/13

f) Ransum makanan ternak.

Penelitian dilakukan untuk mencari susunan yang baik untuk  hara renik dalam ransum makanan ayam serta ransum yang mengan-   dung nitrogen non-protein dan limbah pertanian bagi ternak kerbau.

g) Penelitian jasad renik.

Penelitian mikrobiologi meliputi aspek pengawetan pangan, sterilisasi melalui radiasi, dan peningkatan kesehatan dan lingkungan. Di samping itu dalam fase penelitian dasar, antara  lain dikembangkan metode pemeriksaan toksin Clostridium botuli­    num, efek radiasi pada struktur makromolekul dari sel bakteri,   dan penelitian bakteri pencuci hara mineral sulfida yang me­ngandung uranium. Penelitian ini meliputi penyusunan peta se­  baran Clostridium botulinum dan Vibrio parahaemoliticus di per­   airan Indonesia, isolasi dan identifikasi jenis bakteri dan       bahan makanan yang bersifat tahan radiasi, alat kedokteran dan hasil farmasi, ekologi jenis bakteri yang berhubungan dengan pengawetan ikan, termasuk bakteri yang bersifat halofilik, termofilik, psikrofilik dan tanah radiasi, uji pembentukan  toksin C1. botulinum pada ikan yang telah mendapat dosis radia-               si, radiasi Salmonella pada makanan ternak, fermentasi mikrobi­  ologi dan penelitian pengolahan biji uranium secara bakteri­ologik.

3. Penelitian dalam bidang pengolahan dan pengawetan bahan pangan

Selanjutnya penelitian dimanfaatkan untuk memperbaiki dan mengembangkan cara-cara pengolahan dan pengawetan bahan pangan bergizi tinggi, aman, dan murah, yaitu dengan menggunakan sum-     ber-sumber bahan nabati berprotein tinggi secara efisien.

Hal ini dilakukan melalui penelitian proses fermentasi mau-      pun non-fermentasi, evaluasi bahan mentah dan produk secara organoleptik, kimia, dan biologik pengawetan. Hasil-hasil yang dicapai oleh penelitian adalah sebagai berikut.

a) Pengaruh substrat terhadap daya tahan simpan inokulum tempe

Tempe sebagai salah satu makanan khas Indonesia dibuat se-   cara fermentasi. Dalam proses fermentasi ini inokulum memegang peranan yang sangat penting. Berbagai macam inokulum seperti usar, inokulum daun pisang dan inokulum bubuk dapat digunakan dalam proses fermentasi tempe. Tiap daerah mempunyai  kebiasaan­

XVII/14

nya sendiri dalam hal penggunaan inokulum ini. Pengusaha tempe     di daerah Jawa Barat menggunakan inokulum bubuk sedang di dae­    rah Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan usar sebagai inoku-      lum.

Dalam penelitian ini perhatian dicurahkan pada pembuatan inokulum bubuk. Tiga macam substrat yaitu beras,gabeng, dan campuran gabeng dan kedelai (9 : 1) telah digunakan untuk pem­buatan inokulum bubuk. Sebagai mikroorganisme telah digunakan biakan murni Rhizopus oligosporus L 36 dan biakan campuran yang berupa inokulum pasar. Inokulum tersebut disimpan pada suhu kamar dalam kantong plastik tertutup. Hasil pengamatan menun­jukkan bahwa selama penyimpanan, daya germinasi dari inokulum tersebut menurun. Kecepatan penurunan daya germinasi itu ber-     beda untuk masing-masing substrat dan mikroorganisme.

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa daya sporulasi Rhizopus oligosporus L 36 maupun biakan campuran (inokulum pasar) selama proses pembuatan inokulum ialah paling tinggi  pada substrat beras, disusul oleh substrat campuran gabeng dan kedele (9 : 1), dan yang paling rendah pada substrat gabeng. Ternyata bahwa inokulum substrat beras dapat disimpan lebih  lama daripada substrat gabeng; inokulum bubuk dapat diperguna­    kan sebagai awal proses pembuatan inokulum bubuk.

Hasil fermentasi menunjukkan bahwa tempe dapat dibuat dari berbagai kacang-kacangan seperti kecipir, kacang gaji, lamtoro sabrang, koro wedus, orok-orok dan koro benguk, dalam campuran     5 – 10% tepung kedelai. Evaluasi secara organileptik, kimia dan      biologik dari jenis-jenis tempe ini maupun terhadap bahan baku­    nya sedang dilakukan.

b) Pembakuan inokulum untuk oncom.

Penelitian inokulum oncom bertujuan memperoleh inokulum bentuk bubuk untuk pembuatan oncom agar dapat disimpan lama. Dalam penelitian ini telah dapat dihasilkan inokulum bentuk bubuk yang dibuat dari substrat beras dan bekatul, dan diinoku­   lasi dengan Neurospora sp. sebagai hasil isolasi dari jamur oncom pasar. Ternyata bahwa warna, aroma dan rasa oncom buatan    ini mirip oncom pasar.

Penelitian terhadap daya tahan simpan inokulum oncom dari bungkil kacang tanah, maupun penelitian terhadap spora hidup-     nya, membuktikan adanya variasi daya tahan simpan dari 1 -23 bulan. Selain itu jumlah spora hidup berkurang selama penyim­panan, yaitu dari jumlah semula per gram inokulum adalah

XVII/15

1.010.000 – 76.000.000 unit menurun menjadi 1.900 – 11.200.000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulum dengan jumlah spora hidup tinggi pada awal proses penyimpanan tidak selalu mempu­  nyai daya tahan simpan yang lama. Hal ini ternyata ditentukan oleh kecepatan menurunnya jumlah spora hidup selama penyimpan­   an. Rata-rata dari jumlah spora yang hidup, jumlah unit spora  per gram inokulum pada akhir penyimpanan menentukan substrat yang masih dapat menghasilkan oncom yang diperoleh. Hal ini bergantung pada substrat yang digunakan pada waktu pembuatan inokulum (yaitu 2,9 x 105 untuk inokulum dari beras dan 3,8 x   106 untuk inokulum dari bekatul).

Pada penelitian ditemukan pula bahwa penambahan ampas tahu  pada pembuatan oncom dari bungkil kacang tanah dalam batas ter­  tentu dapat meningkatkan keaktifan inokulum. Terbukti pula  bahwa penggunaan aubstrat campuran onggok ampas tahu dan bulgur dengan berbagai komposisi akan menghasilkan oncom dengan nilai  gizi yang berbeda-beda.

Dalam penelitian perbandingan telah dicoba produksi 21 jenis oncom dari bungkil kacang tanah, bulgur, ampas tahu dan campuran bungkil, kacang tanah, bulgur dan ampas tahu dengan berbagai komposisi. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh substrat campuran terhadap penguraian oleh jamur selama fermen-      tasi, dibandingkan dengan produksi oncom dengan substrat tunggal komposisi kimia.

Hasil-hasil analisa meliputi penentuan kadar air, abu, lemak total N, soluble N, Amino-N, Reducing sugar. NH3, (N bebas) dan kelarutan padatan dari oncom.

Hasil interpretasi sementara menunjukkan adanya relasi antara penyimpangan dari sifat aditif campuran terhadap sifat komponennya. Pendekatan penelitian lain mencoba meneliti hubu­  ngan-hubungan fungsi kenaikan kadar protein dengan jenis bahan dasar campuran.

c) Pengaruh peningkatan skala percobaan pada penguraian pro­       tein selama fermentasi kecap.

Dalam tahun anggaran 1981/82 telah diteliti perbaikan teknik produksi kecap pada skala laboratorium (50 gram kedelai)              dan skala yang lebih besar (25 Kg kedelai). Kecuali itu telah diteliti proses penguraian aseptik dan protein kecap dalam ska-      la 50 gram dengan kondisi sterilisasi 1 jam pada tekanan 0,8 kg                per cm (116°C). Juga telah diuji proses fermentasi kacang selama 3 hari pada 30°C dan kelembaban nisbi (RH) setinggi

XVII/16

52% dengan menggunakan biakan murni Aspergillus Cryzae. Di sam­  ping itu juga diadakan percobaan fermentasi air garam dengan larutan 20% NaCl dalam perbandingan 1:3 (b/v atau berat kede­lai/volume larutan NaCl).

Pada fermentasi kecap skala 25 kg, kedelai dikukus selama 2         jam. Inokulasi pada tahap fermentasi kapang dengan inokulum bubuk (0m3%/b) dibuat dari A.Cryzae dan beras. Ruang inokulasi  (3,2 x 2,8 x 3,1 m) diatur hingga suhu ruangan sampai  mencapai

28-300C dan RH 55-65%. Fermentasi air garam dilakukan dengan

cara yang sama seperti pada skala kecil. Pada skala besar sela-               ma 3 hari proses fermentasi kapang, pelarutan nitrogen dan pe­larutan amino nitrogen terhadap N total dari kedelai masing­masing mencapai harga 20% dan 6%. Hasil ini juga lebih kecil daripada yang dicapai pada skala kecil. Sedang pada skala besar         untuk fermentasi air garam selama 4 bulan, pelarutan nitrogen  dan pelarutan amino nitrogen terhadap N total dari kedelai, masing-masing mencapai harga 28% dan 3% lebih kecil daripada yang dipakai pada skala kecil. Pelarutan zat padat pada skala besar 2% lebih besar daripada yang dicapai pada skala kecil.

d) Pengawetan tahu dengan kemasan kaleng

Tahu merupakan bahan makanan yang mempunyai daya tahan ren­    dah yaitu tidak lebih dari dua hari. Suatu keberhasilan penga­   wetan akan memungkinkan perluasan daerah pemasaran.

Suatu penelitian tahu berusaha mengawetkan tahu melalui pe­ngalengan dengan proses penguapan (“Steaming”) sekitar 15 me­  nit, dan penambahan cairan bahan pengawet Na-benzoat atau air    garam. Percobaan ini juga dilakukan terhadap tahu yang telah dimasak dengan bumbu. Melalui pengalengan, penguapan tekanan (vakum) dan proses sterilisasi autoklaf pada kondisi suhu 1150C, tekanan 1 kg/cm2 selama 15 menit, dicapai tahan tahu kaleng sampai 8 bulan.

Penelitian yang sama dilakukan terhadap tahu dalam kaleng datar, cembung, berkarat, dan lain-lain. Di samping itu juga dilakukan uji organoleptik penelitian terhadap rupa, konsisten-      si, tekstur, rasa, dan dari bahan dasar yang dipakai bau; uji kimia penelitian terhadap pH, jumlah asam dan kadar protein;  dan uji mikrobiologik.

e) Pengawetan tempe dengan kemasan kaleng.

Seperti halnya pada pengalengan tahu, maka pengawetan tem-

XVII/17

pe/tempe olahan secara pengalengan telah selesai diteliti. Pada penelitian tempe yang diteliti ialah penetrasi panas sebelum, selama, dan sesudah sterilisasi pada proses dalam retort. De-     ngan menggunakan teori Gillespi dapat ditentukan secara mate­  matik temperatur dan waktu pemanasan yang paling tepat untuk memperoleh mutu optimal produk makanan tempe yang dikalengkan.   Hal yang sama sedang dilakukan dengan pengalengan masakan tahu.

4. Penelitian Biologi Biota Laut yang berpotensi ekonomi.

Dalam bidang Biologi Biota Laut telah dilakukan  berbagai penelitian sebagai berikut.

a) Ikan Kuro yang diperoleh dari perairan muara Sungai Musi, Palembang. Berdasarkan pertimbangan tehnis ekonomis hanya  satu jenis ikan kuro yang diteliti, ialah Eleutheronema tetra­daetylum. Data yang dikumpulkan meliputi ukuran panjang, rasio kelamin, makanan, parasit dan lain-lain. Dalam pengumpulan ikan  kuro diperoleh pula informasi mengenai beberapa suku yang pen­  ting, yaitu Cluperdae, Clurocendidae, Tricheuridae, dan Ariedae.

b) Ikan Lencam disampel di Pulau Pari setiap bulan dari bulan Juni 1981 sampai Maret 1982. Dari lima jenis ikan lencam   di perairan sekitar Pulau Pari, yang biasa tertangkap adalah Letherinus obsoletus dan L. harak. Untuk kedua jenis lencam ini     dipelajari hubungan panjang berat dan perkembangan gonad (organ kelamin reproduksi).

c) Kepiting (Scylla Serrata) yang diteliti ialah jenis Scylla Serrata di perairan Cilacap. Contoh kepiting diperoleh untuk musim barat, musim timur dan dua musim peralihan. Para-     meter yang diamati ialah ukuran kerapas, berat binatang, ke­  lamin dan tingkat tingkat kematangan seluruhnya.

d) Udang Karang diteliti di perairan Pelabuhan Ratu dan Pangandaran. Parameter yang diamati meliputi panjang kerapas, panjang obdomen, kelamin reproduksi. Dari lima jenis udang karang, yang paling banyak ditemukan ialah Panulirus penici-     latus.

e) Kerang Enak (Fragum unedo.L) banyak digunakan penduduk sebagai sumber protein. Oleh karena itu diteliti kadar protein-              nya sepanjang tahun. Untuk itu dilakukan analisa kandungan pro­   tein berkala setiap bulan, yang memperlihatkan besaran kandung-                an protein antara 18,65-19,50%. Ini berarti bahwa kadar prote­   innya sama, atau lebih tinggi dari daging sapi (18,00%). Kadar lemak Kerang Enak berkisar antara 1,02-1,65% yang berarti  lebih

XVII/18

rendah dari kadar lemak pada daging sapi.

f) Kerang Hati diteliti aspek biologiknya (Aerostererig­marugosa) khusuanya mengenai siklus reproduksinya. Dengan mene­   liti perkembangan gonadnya secara berkala tiap bulan diketahui bahwa kerang ini memijah sepanjang tahun.

g) Acanthastes planci, yang tergolong jenis binatang laut pemangsa koral (coral polyt), terdapat dalam jumlah besar dan dapat merusak terumbu karang yang ada. Oleh sebab itu populasi binatang ini perlu terus diamati demi tindakan pengamanan.

h) Budidaya Rumput Laut terhadap alga Encheuma spenoi­   des, E.Serra dan Gracilaria lichenoides dilakukan di Pulau Pari-    dan di pantai Terosa, Bali, terutama waktu musim timur. Pertum­   buhan alga Pulau Pari umumnya mencapai 3 – 4% berat per hari        sampai  umur 60 hari. Di perairan pantai Terosa hasilnya kurang lebih sama. Berat maksimum yang dicapai pada umur dua bulan untuk E.Spenosum 500 – 600 gram dari bibit 25 – 50 gram.

i) Budidaya Rajungan dipusatkan pada usaha penekanan mor­talitas burajak (benih). Usaha ini belum berhasil karena pera-      latan pembiakan sedang dikembangkan.

j) Budidaya Ikan Beronang diadakan sebagai tahap persiap­    an. Tahap ini dipusatkan pada pengungkapan musim pemijahan in­    duk beronang. Pengetahuan ini diperlukan dalam kaitannya dengan pengumpulan bibit ikan. Cara yang digunakan ialah menginventa­ risasi dan mengikuti perkembangan gonad jenis-jenis ikan bero­   nang. Hasil sementara mencatat tiga jenis dominan ikan beronang   yaitu Siganus guttatus , S. verniculatus dan S. vergatus

b. Program Utama Riset dan Teknologi di bidang Sumber Daya    Alam dan Energi.

Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang Sumber   Daya Alam dan Energi diarahkan untuk meneliti usaha pemanfaat­    an, pemeliharaan dan pengamatan sumber daya alam dan energi  untuk pembangunan nasional. Kegiatan ini meliputi penelitian     dan pengembangan teknologi sumber alam hayati, nonhayati, ener-      gi konvensional dan non-konvensional, serta masalah bencana  alam. Dalam hubungan ini diadakan pula kegiatan eksplorasi, konservasi, diversifikasi dan indeksasi masalah energi.

Inventarisasi dan evaluasi kekayaan alam melalui pemotretan  udara Program Pemetaan, Inventarisasi dan Evaluasi Sumber dalam

XVII/19

daya Matra Darat mempunyai dua tujuan, yaitu : produksi peta    dasar dan inventarisasi sumberdaya. Dalam pemotretan udara     wilayah nasional dicapai hasil sebagai berikut :

1) Untuk Sumatera, Irian Jaya dan Maluku pemotretan udara di­selenggarakan pada skala 1 : 100.000 dengan pankromatik superwide angle photography. Pemotretan udara skala kecil  ini selanjutnya dilengkapi dengan pemotretan infra-merah   pada skala sekitar 1 : 50.000 secara selektif.

2) Untuk Kalimantan dan Sulawesi dipergunakan sistem kamera ganda untuk secara simultan memperoleh potret udara in-     fra-merah berwarna (falsc – colour) pada skala 1 ; 60.000. Potret pankromatik diperoleh dengan superwide angle, se-dangkan yang infra-merah dengan lensa wide-angle.

3) Untuk daerah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akan dipergunakan sistem serupa, akan tetapi dengan skala 1 : 50.000 untuk potret pankromatik dan 1 : 30.000 untuk potret infra-merah berwarna (false colour).

Pemetaan topografi dasar menyediakan peta dasar yang disin­kronkan dengan hasil inventarisasi sumberdaya menurut ilmu pe­ngetahuan dan teknologi mutakhir.

Pengadaan jaring kontrol geodesi dan jaring kontrol pemeta­              an dilakukan dengan sistem penentuan posisi satelit dan survai A.P.R. Pemadatan kontrol dilakukan dengan triangulasi udara dan program P.A.T.M untuk proses perhitungan dan peralatannya, se­dangkan proses fotogrametri menggunakan sistem ortho – photo  dalam pembuatan petanya.

Sistem teknologi pemotretan tersebut di atas meningkatkan efisiensi dan kecepatan pembuatan peta. Selain itu peta dasar berdasarkan teknik ortho-photo, di samping lebih cepat dari   pada teknik peta topografi garis konvensional, juga memberi in­         formasi yang lebih banyak kepada lembaga-lembaga pemetaan sum­berdaya.

Inventarisasi dan kompilasi data sumberdaya pulau Sumatera pada skala 1 : 250.000 telah selesai dilaksanakan.

Kegiatan pemetaan dasar nasional matra darat telah menyele­ saikan survai geodesi di 44 stasiun; jaring sifat dasar teliti   140 km; survai penegasan perbatasan sepanjang 11,7 km; penceta-               kan peta topografi skala 1 : 50.000 sebanyak 39 lembar; foto-    grafi dan kartografi 23 lembar; pengukuran stasiun Laplace di 2        stasiun, dan toponymy 39 copy gazetteer.

XVII/20

Hasil-hasil yang telah dicapai kegiatan inventarisasi dan evaluasi sumberdaya darat nasional adalah : pemetaan areal ka­   ret, sagu dan lingkungan pantai seluas 520.000 ha; sistem in­  formasi sumberdaya Sulawesi dengan skala 1 : 250.000 sebanyak      10 sheet; 60%, dari pembuatan peta geografi dari 6 propinsi;    atlas sumberdaya Jawa dan Madura sebanyak 10 tema ; dan 50% pengembangan sistem informasi citra penginderaan jauh untuk     survai regional.

Hasil-hasil yang telah dicapai oleh kegiatan survai hidro-   grafi di selat Makasar adalah : survai lapangan rekonesan 3.650  mil2, pengukuran hidrografi 5.110 mil2, pengukuran magnetik     6.600 mil2, pembuatan peta 1.400 lembar.

Penelitian meteorologi dengan citra satelit cuaca, telah menghasilkan peta medan angin untuk wilayah Indonesia untuk me­nunjang keperluan pemotretan udara dalam menentukan daerah dan  waktu pemotretan yang tepat dan mengetahui daerah-daerah yang mempunyai intensitas jala optimal. Pembuatan peta liputan awan wilayah Indonesia memberi informasi tentang daerah hujan di kepulauan Nusantara dan memungkinkan adanya informasi tentang kemungkinan daerah yang mendapat gangguan cuaca. Dalam menun­   jang peningkatan peramalan cuaca di samping roket cuaca juga digunakan balon stratosfir dan balon sonda. Dengan wahana ter-   sebut berhasil diperoleh data meteorologi sampai ketinggian 75  km.

Dalam bidang pemotretan pangkalan udara telah selesai in­terpretasi foto udara dari 5 pangkalan udara serta masing-      masing foto mozaiknya.

Penelitian dan pengembangan energi angin telah menghasilkan beberapa prototip kincir angin jenis Savonius bagi keperluan pemompaan yang memperoleh debit air 4 liter/menit pada kecepat-     an angin 4 m/detik. Kinci r angin sudut majemuk untuk keperluan          yang sama telah menghasilkan 6 liter air/detik pada kecepatan angin 5 m/detik. Penelitian teknoekonomi lebih lanjut menunjuk-    kan bahwa sistem kincir energi angin jenis Darrius bagi keper­     luan pembangkitan listrik lebih murah untuk skala besar.

Dalam rangka penelitian matahari, LAPAN telah meneliti sun­  spot, flare, dan noise-storm. Secara ilmiah pengaruh kejadian fisika di matahari terhadap cuaca, iklim, radio komunikasi ser-       ta kehidupan di bumi belum dapat dibuktikan karena hal ini me­ rupakan penelitian empirik yang memerlukan waktu penelitian se­    suai siklus matahari (11 atau 12 tahun). Namun dari hasil  ana-

XVII/21

lisa sementara ini dapat disimpulkan bahwa pengaruh itu memang   ada. Penelitian intensitas matahari dan lamanya penyinaran ma­ tahari akan menunjang pemanfaatan energi surya sebagai energi alternatif. Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan mengguna-    kan peralatan solarimeter di 8 lokasi di Pulau Jawa. Dari pene­litian tersebut diperoleh gambaran intensitas radiasi di bebe­   rapa tempat di Pulau Jawa, yaitu rata-rata antara 900 – 1900 joule/cm2/hari.

Penelitian mineral, air dan tanah merupakan penelitian ter­  hadap sumberdaya alam yang vital bagi kehidupan bangsa. Ruang lingkup kegiatan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Inventa­risasi Sumberdaya Mineral, Inventarisasi Sumberdaya Air dan    Tanah serta Pertambangan skala kecil.

Kegiatan inventarisasi sumberdaya mineral dalam tahun ang­   garan 1981/82 dipusatkan pada : a) mineral. logam dasar; b) ce­ bakan khromit; c) mineral bahan pupuk; d) endapan betumen, dan    e) studi konsep dasar geologi.

a) Mineral Logam Dasar

Termasuk dalam logam dasar disini ialah Cu, Pb, Zn yang   umumnya terdapat dalam cebakan sulfida. Inventarisasi di Jam­    pang Kulon (Jawa Barat) dan Muara Soma (Sumatera Utara). Di  Jampang Kulon (Cigarut) cebakan terdapat dalam urat-urat kuarsa dengan penampang beberapa puluh sentimeter sampai dua meter.  Rakyat telah memanfaatkan cebakan tersebut dengan hasil 6-10    gram emas per ton bijih. Hasil studi memperlihatkan bahwa di beberapa tempat prospek eksploitasi emas cukup menguntungkan. Mineral aulfida Cu, Pb, dan Zn di Muara Soma terdapat pada ba­   tuan tersier. Kandungan Cu sulfida cukup tinggi yaitu 1.060     ppm. Cebakan emas terdapat pada dua bentuk yaitu cebakan primer   dan “placer”.Sebagian-cebakan emas placer yang terdapat di se­panjang sungai Batang Gadis telah dikerjakan oleh rakyat dengan cara pengayakan.

b) Cebakan Khromit

Mineral khromit erat hubungannya dengan batuan ultrabasa     yang cukup tersebar di Indonesia, bahkan terluas di dunia. Da­    lam tahun 1981/82 penelitian dilakukan di daerah Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan di sekitar Malili, (Sulaweai Selatan).     Di Sulawesi Selatan cebakan khromit ditemukan pada lintasan Malili/Soroako, sedang penelitian sementara di Riam Kanan belum menemukan cebakan khromit.

XVII/22

c) Mineral Bahan Pupuk

Fosfat dan kalium merupakan bahan pupuk utama. Dalam tahun   1981/82 kegiatan penelitian dilakukan di Tonasa-Maros di Su­       lawesi Selatan, Gunung Muria di Jawa Tengah, dan Kepala Burung         di Irian Jaya.

Di daerah Gunung Muria batuan yang mengandung K20 terse-            bar di daerah Ternadi dan di desa-desa Colo, Jolong, Tempur,       Ratawu dan Kali Bajang. Kandungan K20 di Kali Kembang (desa         Colo) mencapai rata-rata 7% berat dan jumlah cadangan batuan diperkirakan sebesar 500 – 600 ribu ton.

Di Tonasa/Maros diteliti kadar fosfat pada endapan batu      gamping di daerah konsesi pabrik Semen Tonasa II dengan rasio      potensi rendah sebab kadar P205 rendah.

Penelitian di Kepala Burung baru merupakan tahap penjajagan.         d) Endapan Serpih Betumen

Serpih Betumen dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi  alternatif. Dalam tahun 1981/82 kegiatan penelitian dipusatkan         di daerah Ombilin. Hasilnya memperlihatkan bahwa potensi penye-      baran serpih betumen terdapat pada formasi Sangkarewang yang      berumur Eo-Ohgasin. Kadar minyak berkisar antara 0,20 – 3,91%         berat.

e) Konsep Dasar Geologi

Pengembangan konsep geologi mencakup sandi stratigrafi In-   donesia, model sedimentologi karbonat, konsep pembentukan kerak      bumi Indonesia serta pengembangan penggunaan data LANDSAT.

Penelitian sedimentasi karbonat pada formasi Rajamandala        (Jawa Barat) ditujukan untuk memperoleh model dari proses pem-    bentukan batu gamping. Hasil sementara menyimpulkan adanya dua      macam fosil pengendapan yaitu “coral reef” dan batu gamping.  Berdasarkan fosil foraminifera yang terkandung di dalamnya,          batu gamping tersebut berumur antara Oligasin Atas dan Miosin Bawah.

Penerapan sandi stratigrafi pra-tersier Pulau Sumba dilak­     sanakan untuk mengetahui posisi Pulau Sumba secara geologik.        Hasil sementara analisa memperlihatkan bahwa berdasarkan fosil­       fosil amonit, polecypod, belemit dan crinoid, kemungkinan besar    batuan Pulau Sumba berumur semen kapur.

XVII/23

Penelitian di daerah Toba dan sekitarnya dimaksudkan untuk mengetahui sejarah geologi Kuarter dari “Tuja Toba”. Pengamatan lapangan menunjukkan urutan batuan terdiri dari batuan pra ter­     sier, formasi Pangururan, formasi Haranggaol, formasi Samosir,       dan formasi Sigura-gura. Empat formasi yang disebut terakhir   berturut-turut berumur 1,9; 1,3; 0,35; dan 0,2 – 0,1 juta tahun.

Daerah Pulogadung (Jakarta) mempunyai air tanah dangkal       dengan kualitas baik pada beberapa pematang pantai purba yang    melalui daerah tersebut. Dua pematang pantai menghasilkan air      tanah lebih baik daripada lainnya, yaitu yang berasal dari Ca-       kung ke arah Kampung Baru, dan dari Rawagelam ke Pedurenan. Di      luar daerah ini air tanah dangkal, pada umumnya mengandung ion     khlor lebih tinggi dari 1.000.

Ujung Pandang merupakan contoh sub-model pertama di luar       Pulau Jawa. Litologi daerah sebelah barat daerah ini lebih ber­     pasir sedangkan ke arah timur lebih berlanau dan berlempung.      Batuan dasarnya adalah tufa, breksi tufa, konglomerat dan batu   lempung yang berumur Miosin. Air artesis tidak diketemukan, te-       tapi air tanah dangkal terdapat di bagian barat kota.

Tegal/Pekalongan merupakan wakil sub-model wilayah pesisir     kedua, yaitu yang lebarnya kurang dari 10 km. Pengamatan dan  pengukuran geolistrik menyimpulkan bahwa daerah ini terbentuk       dari tiga satuan batuan yaitu : a. batuan berbutir sedang di     lapisan permukaan; b. pasir yang mengandung air, dan c. batuan    tersier yang mengalasinya.

Jepara, Rembang, dan Pati mewakili sub-model wilayah pesi­        sir ketiga, yaitu yang diapit oleh dataran tinggi. Di daerah      Jepara dijumpai dua macam litologi menonjol yaitu sedimen       vulkanik dan aluvium. Solum (lapisan) endapan vulkanik cukup       tebal namun tanah belum cukup berkembang.

Untuk pengembangan model wilayah pesisir ion-vulkanik dipi-       lih daerah Kalimantan Selatan. Daerah ini diapit oleh dua su-        ngai besar yaitu Sungai Barito dan Sungai Kapuas Kecil dan         sejak beberapa tahun mulai dimanfaatkan oleh para transmigran      dengan sistem pengairan pasang surut.

Penelitian di kepulauan Krakatau lebih ditujukan untuk mem-   pelajari genesis tanah. Di pulau Sertung ternyata terdapat ba-       tuan tuff yang peka terhadap erosi dan cenderung berkembang ke      arah andosal. Pelapukan mekanik tampak lebih berperan dari pada pelapukan biologik atau kimiawi. Di Pulau Panjang dicatat tiga

XVII/24

perkembangan jenis tanah yaitu jenis andosal, aluvial dan re-     gosal.

Kegiatan Inventarisasi Sumberdaya Air dan Tanah dilakukan       di beberapa lokasi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.  Tujuannya ialah untuk perluasan areal pertanian, pelestarian sumberdaya, pencegahan banjir maupun kekeringan, serta pemanfa­            atan sumberdaya yang optimal. Wilayah kerja dipusatkan pada wi­  layah pesisir dan produk gunung api. Beberapa daerah dipilih untuk dijadikan model studi. Dua model utama ialah wilayah pe­  sisir vulkanik dan nonvulkanik.Untuk wilayah pesisir vulkanik ditentukan tiga sub model, yaitu dataran pantai dengan lebar lebih dari 30 km, dataran pantai kurang dari 10 km, dan dataran         pantai yang diapit oleh dataran tinggi.

Studi model wilayah pesisir vulkanik dilaksanakan di pantai utara Jawa, Krakatau dan Sulawesi Selatan. Untuk studi model wilayah pesisir nonvulkanik dipilih pantai Kalimantan Selatan. Dalam sub model pantai utara pulau Jawa lebar lebih 30 km ter­  cakup daerah Arjawinangun, Jatibarang, Indramayu, Pamanukan dan Jakarta. Sub-model kedua (kurang dari 10 km) diwakili oleh da­   erah Anyer dan Tegal, sedangkan sub-model ketiga diwakili oleh Jepara, Rembang dan Pati. Gunung Krakatau dipilih sebagai loka­               si studi vulkanik.

Penelitian delta baru Cimanuk/Indramayu berhasil mengiden­tifikasi empat lingkungan pengendapan yaitu : jenis pasir ong-   gokan muara, jenis pasir inter delta, jenis pasir Pematang Si­  antar dan jenis lanau lempung pro-delta. Pemboran dan penguku­    ran geolistrik di daratan yang baru terbentuk mengungkapkan adanya pergerakan lateral dari pasir onggokan muara yang aktif. Sumber air tawar di delta baru tidak ada, tetapi dapat dikete­   mukan di pematang sungai purba meskipun pada musim kemarau yang       panjang air sungai menjadi payau.

Jumlah air tanah dangkal yang bisa diperoleh di daerah Arjawinangun sangat terbatas. Namun tidak terbuktikan adanya penyusupan air laut ke daerah ini.

Di Cikarang penelitian ditekankan pada penelaahan kualitas   air tanah. Hasilnya memperlihatkan bahwa air tanah dangkal mem­  pungai kualitas yang baik dengan potensi cukup besar pada pema­    tang sungai purba.

Analisa air tanah dangkal di Jatibarang menyimpulkan bahwa daerah tersebut terletak pada batas pengaruh penyusupan air la-     ut. Juga di sini dijumpai potensi dan kualitas air tanah yang

XVII/25

relatif baik pada pematang sungai purba dan sekitar aliran              sungai aktif.

Penelitian pertambangan skala kecil bertujuan menginventa­risasi kegiatan serta teknologi pertambangan skala kecil yang        dilakukan oleh swasta nasional dan rakyat. Aspek yang diteliti      di sini meliputi jenis bahan memerah yang sedang dikerjakan, teknologi penambangan, pengolahan serta pemasarannya. Dalam ta-      hun anggaran 1981/82 kegiatan dipusatkan pada penelitian ceba­     kan emas dan cebakan logam dasar (Pb, Cu, Zn). Penelitian ceba­                     kan emas dilaksanakan di dua lokasi yaitu Jambi (Sumatera) dan  Cigaru (Jawa Barat). Di Jambi cebakan emas urai diketemukan di  daerah aliran sungai Batang Tembesi dan anak-anak sungainya. Pendulangan telah dilakukan oleh rakyat. Di beberapa tempat di   dasar sungai dijumpai cebakan emas urai yang berbentuk kasar.     Pada kesempatan ini diperkenalkan peralatan pencuci emas urai     yang telah digunakan di Jampang Kulon dan Sungai Ayak (Kaliman­  tan Barat).

Di Cigaru logam ini terdapat dalam cebakan emas primer       dalam urat-urat kuarsa bercampur dengan bijih sulfida (Cu, Pb, Zn). Selain di Cigaru cebakan emas primer ini terdapat juga di daerah Cimanggu dan Ciawitali. Usaha penambangan telah dimulai oleh rakyat dan suatu perusahaan swasta. Pengolahan bijih meng­hasilkan 6 – 10 gram/ton.

Selanjutnya cebakan logam dasar (Cu, Pb, Zn) juga diteliti      di daerah Tirtomoyo, Jawa Timur. Cebakan tersebut terdapat pada  urat-urat kuarsa serta tersebar dalam batuan formasi andesit       tua mulai dari daerah Tirtomoyo sampai Pacitan. Cebakan sulfida     ini sekarang tidak beroperasi lagi.Tujuan penelitian ini ialah mengevaluasi kembali kondisi cebakan tersebut untuk melihat ke-        mungkinan dihidupkannya eksploitasi logam dasar oleh rakyat.

Inventarisasi sumberdaya hayati laut bertujuan mendapatkan    data dan informasi mengenai kekayaan jenis, sebaran, dan poten­     si pemanfaatannya. Kelompok sumberdaya yang diteliti ialah Echenodermata (binatang berkulit duri), Crustacea (udang dan kepiting), Mollusca (kerang dan keong) Pisces (ikan), Koral  (binatang karang), alga (rumput laut) dan bakau (mangrove).Ob­  servasi dipusatkan di perairan Selat Sunda dan pantai Selatan     Jawa Barat. Hasil-hasilnya secara singkat adalah sebagai ber-        ikut :

Binatang yang termasuk dalam kelompok Echenodermata adalah teripang, binatang laut dan bulu babi. Dari perairan Selat Sun­      da tercatat 46 jenis Echenodermata, dan jenis yang merajai  ada-

XVII/26

lah Ophiocoma scalopendrina, sejenis bulu seribu. Kepadatannya mencapai 5 – 96 ekor/m2. Beberapa jenis teripang dan bulu babi    yang dapat dimakan hidup diperairan ini, namun populasinya       rendah.

Di Selat Sunda tercatat tidak kurang dari 100 jenis udang    dan kepiting (Crustacea). Keanekaragaman jenis di perairan ini terbatas. Populasi terbesar terdapat pada marga Uca yang meng-       huni hutan bakau. Jenis yang komersial antara lain ialah kepi-     ting (Seylla serrata), rajungan (Portunus pelagicus, P. sangu­enolentus), udang karang (Panulirus, Versicolor, P. Ornatus).    Dari pantai Selatan Jawa Barat ditemukan tiga jenis udang ka­     rang komersial, yaitu Panulirus penicullatus, P. homatus, dan       P. arnatus.

Kurang lebih 120 jenis Mollusca tercatat di perairan Selat  Sunda dan pantai Selatan Jawa Barat. Tiga di antaranya merupa­      kan komoditi ekspor yaitu loklok (Tectus neloticus), dan dua        jenis kerang mutiara (Pentada margarifera dan P. Maxina) yang sayangnya berpopulasi rendah.

Dari perairan Selat Sunda terkumpul 132 jenis ikan (Pis­  ces). Sebagian besar ikan termasuk ikan yang diperdagangkan. Beberapa suku yang menonjol ialah antara lain Leiognathidae, Lutjanidae dan Clupeidae. Komposisi jenis Leiognathidae di Se­     lat Sunda cukup besar dan separuh dari jenis-jenis ikan Leiog­nathidae yang tercatat di Indonesia ditemukan di sini.

Selain itu di perairan Selat Sunda ditemukan 182 jenis koral (karang batu) yang termasuk dalam 43 marga dan 15 suku.    Di pantai Selatan Jawa Barat tercatat 46 jenis dari 21 marga    dan 5 suku.

Jumlah jenis algae yang ditemukan di Selat Sunda mencapai  186 jenis dan di pantai selatan Jawa Barat mencapai 46 jenis. Encheuma spenosum merupakan komoditi ekspor dan 6 marga lainnya      merupakan bahan pembuat agar-agar. Pulau Panaitan mempunyai ke­anekaragaman jenis algae yang paling besar dibandingkan dengan tempat-tempat lain. Penelitian di pantai Sanur terbatas pada penelitian geomorfologi. Berdasarkan kajian foto udara dan pe­ngamatan lapangan, disimpulkan bahwa bukit Ungasan yang seka-      rang merupakan bagian Pulau Bali, dahulu merupakan pulau ter­sendiri. Demikian pula halnya dengan dua pulau kecil dekat Nusa                    Dua di sebelah timur Ungasan.

Erosi terjadi terutama di Tuban, di sebelah utara Nusa Dua/Benoa sampai Sanur. Penyebab utamanya diperkirakan ialah

XVII/27

pengambilan batu karang oleh manusia yang masih terus berlang-   sung hingga kini.

Penelitian Laut di Sulawesi dan Laut Maluku dilaksanakan   dalam rangka ekspedisi Snellius II yang dilakukan pada bulan September tahun 1981. Tujuannya ialah mengetahui perubahan si-       fat-sifat oseanologik yang mungkin terjadi sejak ekspedisi Snellius I (1929-1930). Namun demikian kesempatan ini juga di­manfaatkan untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pro­duktivitas primer plankton dan mikrobiologi, dan bakau (mangro-     ve). Pengamatan komunitas bakau dilakukan di Teluk Lampung (di Kalianda, pantai selatan Lampung, dan Pulau Legundi) dan di   Ujung Kulon (Pulau Panaitan, P. Pencang dan pantai Ujung Ku­lon). Jenis bakau yang dominan di Kalianda adalah Avecennia    alba dan A. Marina, di pantai selatan Lampung jenis Rhyzophora apiculata dan R. Stylosa, di Pulau Legundi jenis Sonnerasi dan Aviceumia alba, di Pulau Panaitan jenis Rhyzophora mucronata     dan R. apiculata, di Pulau Pencang jenis Lumitzera racemosa.

Penelitian sifat-sifat oseanologik perairan Indonesia dipu-        satkan di enam lokasi, yaitu di perairan Teluk Jakarta, Cila-     cap, Selat Sunda, Sanur, Sulawesi dan Laut Maluku.

Dengan limakali ulangan eksperimen dan pengamatan terhadap airkulasi air Teluk Jakarta dekat Pulau Onrus, dengan tehnik “Parachute drogue”, diketahui bahwa pasang surut mempunyai pe­  ngaruh besar terhadap sirkulasi air. Di musim barat kecepatan  arus lebih besar daripada di musim timur.

Penelitian di perairan Cilacap dilakukan sebanyak 4 kali     dan mewakili 4 musim. Tujuan mempelajari sifat-sifat oseanologi perairan tersebut sehubungan dengan makin meningkatnya pem-     bangunan perairan di Cilacap. Parameter yang diamati adalah:    suhu, kadar silikat, derajat keasaman (FTT), populasi plankton, produktivitas primer, kadar oksigen, kadar fosfat, nitrat dan nitrit, arus laut, kandungan makraler dan kondisi lingkungan. Sejalan dengan penelitian di Cilacap dilakukan penelitian di    Selat Sunda. Selain itu di Selat Sunda diteliti pula geomorfo­  logi. Penelitian geomorfologi dilakukan di tiga tempat, yaitu    di pesisir Lampung, gugus Pulau Krakatau dan pesisir Jawa Barat      bagian barat Aspek yang dipelajari ialah morfologi, tata guna pantai, sedimentasi dan dinamika pantai.

Dalam bidang nuklir eksplorasi bahan galian nuklir BATAN      telah melakukan kegiatan prospeksi/eksplorasi mineral radioak­      tif yang meliputi daerah eksplorasi di Sumatera Utara, di Da-   erah. Istimewa Aceh, di Sumatera Selatan, di Kalimantan Barat

XVII/28

dan di Sulawesi Selatan. Di kawasan Daerah Istimewa Aceh,  prospeksi pendahuluan dan prospeksi umum telah menemukan        anomali geokimia mineral berat.

Dengan metode “track etch” di bukit daerah penelitian di Sibolga telah ditemukan anomali pada granit dan batuan sedimen       dan juga pada singkapan batu lanau. Pemboran eksplorasi diarah-      kan untuk menentukan lapisan pengandung uranium dan dengan ka­     jian radioaktif telah ditemukan beberapa anomali kecil pada la-      pisan batu pasir pada kedalaman 64 – 66 meter. Di samping itu terus dilakukan prospeksi sistematik untuk melokalisasi tempat anomali di mana telah ditemukan anomali 10 kali harga dasar ra-        diometri.

Di daerah eksplorasi Sumatera Selatan penyelidikan diterus­    kan pada tahap lanjutan (prospeksi detail) dengan ditemukannya beberapa anomali geokimia sebesar 3 – 7 kali harga dasar.

Prospeksi umum di daerah Muara Aman tidak memperoleh hasil yang cukup untuk melaksanakan penyelidikan tahap lanjutan. Se­baliknya di daerah Lampung, beberapa cara penyelidikan sistema­    tik yang ditunjang dengan metode “track etch” telah menemukan  juga beberapa anomali.

Di Kalimantan Barat, di daerah aliran sungai Kalan, studi struktur/mikrostruktur geologi dan studi mineralisasi dilan-      jutkan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai bentuk, tehnik pengeboran yang tepat, zona mineralisasi yang diperlu­    kan untuk menentukan tahapan kerja lebih lanjut.

Sehubungan dengan ditemukannya bongkah mineral yang besar dengan kadar uranium sangat tinggi di sungai Rirang, maka telah         dipergunakan tehnik “track etch”. Studi tehnik penambangan dan eksplorasi juga telah mengganti terowongan eksplorasi yang men­     capai 20 meter dari rencana 100 meter. Untuk memenuhi kebutuhan        “pilot plant” sudah mulai diangkut puluhan ton bijih uranium dari sektor Efka dan Remaja ke pusat pengolahan uranium di Jakarta.

Di Luwu Utara Sulawesi Selatan, telah dilakukan prospeksi pendahuluan dan di Sektor Masambo berhasil ditemukan anomali geokimia.

Penyelidikan cadangan dan mineralisasi monasit terus dila­     kukan dan diarahkan pada penyelidikan mineralisasi monasit di luar daerah timah. Selain itu penelitian pengolahan dilakukan terhadap bijih monasit skala laboratorium dengan harapan meng-

XVII/29

hasilkan konsentrat berupa nitrat thorium.

Pilot plant bijih uranium yang baru didirikan kini sudah menghasilkan yellow cake. Suatu unit laboratorium kontrol kua­litas, memeriksa kualitas konsentrat hasil pilot plant, dan hasil laboratorium lainnya. Proses pemurnian uranium dari yellow cake menjadi larutan uranium murni dilakukan melalui ekstraksi dengan cairan pelarut TBP. Untuk proses pembuatan bahan induk untuk U02 dipilih proses ADU dengan larutan amo­       nia atau proses AUC dengan amonium karbonat sebagai alternatif­      nya.

Selanjutnya dalam studi teknologi pembuatan elemen bakar nuklir dalam skala laboratorium yang memenuhi persyaratan dan spesifikasi nuklir, telah dilakukan studi metalografi terhadap hasil pengelasan pipa stainles-steel dalam rangka studi penda-  huluan teknik pengelasan dan pengujian elemen bakar nuklir yang      dihasilkan. Di samping itu dewasa ini sedang dipelajari berba-     gai parameter dalam proses pembuatan pelet U02 dari serbuk  U02.

Teknologi pembuatan prototip instrumen elektronika nuklir yang telah berhasil dikuasai antara lain alat ukur digital dengan pengatur otomatik dan alat kontrol fluks otomatik untuk reaktor atom Kartini.

Selain itu diadakan pula peralatan analisa dan proteksi  yang antara lain terdiri dari penganalisa saluran tunggal dan pengatur jendela otomatik, serta alat ukur elektronik yang an-   tara lain terdiri dari generator fungsi dan pengukur waktu ber-         program serta alat ukur tegangan listrik.

Penelitian dan pengembangan pembuatan prototip detektor nuklir dengan isian gas terus dilanjutkan guna perbaikan dan penyempurnaan hasil yang telah dicapai dalam tahun sebelumnya. Yang telah berhasil dibuat di antaranya adalah detektor Geiger Muller dan detektor sinar-X.

Teknologi pembuatan peralatan khusus instrumen mekanik nuk­    lir guna menunjang penelitian sedang dipelajari, baik sistem, analisa konstruksi dan mekanisme serta bahan konstruksinya.

Dalam rangka menyelesaikan program Studi Kelayakan Pemba­ngunan PLTN telah selesai studi lokasi di daerah Muria dan Lasem, yang terdiri dari pemetaan geologi, pengumpulan cuplikan batuan serta analisa fotografi, geokimia, paleomagnetik dan pe­ngeluaran umum absolutnya.

XVII/30

Tujuan pekerjaan ini adalah :

a) Untuk menentukan periode tenang dari pegunungan di daerah Muria dan Lasem. Dari sejarah tertulis di Indonesia dila­porkan bahwa gunung-gunung itu belum pernah menunjukkan pe­letusan. Namun demikian sesuai dengan kriteria keselamatan  yang dianjurkan oleh IAEA, secara geologik harus dibuktikan bahwa gunung-gunung tersebut tidak aktif lagi dan berada dalam periode tenang, sehingga tidak akan membahayakan lo-   kasi PLTN.

b) Untuk mencatat patahan tanah (lanjutan) dengan studi mikro­seismik yang bertujuan untuk memeriksa apakah patahan-pata-    han tersebut masih aktif atau tidak. Hal ini diperlukan un-   tuk menghitung nilai percepatan tanah pada calon lokasi, yang akan menentukan kekuatan fondasi gedung PLTN yang  harus dipakai dan diterapkan dalam pembangunan.

Dalam usaha memperoleh suatu jenis bahan-bahan alternatif telah diselesaikan “detailed design engineering” untuk pilot  plant Ethanol dan Perkebunan Energi di Tulang Bawang Lampung. Pilot plant tersebut diharapkan mampu mengolah ubi jalar yang merupakan hasil utama desa-desa transmigrasi untuk dijadikan ethanol, dengan kapasitas produksi 15.000 liter sehari.

c.  Program Utama Riset dan Teknologi di bidang  industrialisasi      dan Jasa.

Program Utama Nasional Riset dan Teknologi di bidang indus­trialisasi dan jasa diarahkan untuk meneliti usaha pengembangan  nilai tambah produk, peningkatan kemampuan tenaga manusia, alih teknologi, kerjasama antar industri bahan baku dan bahan jadi, mesin-mesin produksi, industri jasa dan iklim industri yang  sehat di Indonesia. Orientasi lebih mengarah kepada industri padat karya, menggunakan bahan-bahan dalam negeri dan mengem­bangkan neraca pembayaran.

Hingga kini riset dan teknologi di bidang industrialisasi telah menghasilkan antara lain peningkatan kemampuan dalam pe­nerapan teknologi elektronika, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan telekomunikasi, seperti pembangunan stasiun bumi,  alat penerima audio visual, pengembangan dioda silikon, instru-       mentasi telemetering. Demikian pula telah dicapai kemajuan dalam bidang teknologi pengolahan dan pengawetan untuk pangan, bahan­   bahan kimia, mineral korosi, penelitian dan pengembangan tek­

XVII/31

nologi yang mendukung industri penerbangan, industri maritim      dan industri otomotif.

Kegiatan penelitian elektronika diarahkan kepada pembangun-     an Stasiun Bumi Kecil (SBK) untuk meningkatkan komunikasi te­  lepon dan jangkauan penerima televisi.

Berdasarkan kerjasama Lembaga Elektroteknika Nasional  (LEN)/LIPI dan Departemen Perhubungan, LEN/LIPI melaksanakan pembangunan dan pengadaan 35 Stasiun Bumi Kecil beserta keleng-   kapannya, terutama untuk daerah Indonesia bagian Timur yaitu      di Irian Jaya, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sula­  wesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan juga di Kepulauan Riau. Dengan dibangunnya Stasiun  Bumi Kecil tersebut maka kini komunikasi telepon dapat dise­lenggarakan antara daerah-daerah dan antara lokasi-lokasi yang sebelumnya terpencil dan terisolasi.

Stasiun Bumi Kecil tersebut juga dilengkapi dengan fasili­   tas penerima siaran televisi, sehingga siaran-siaran televisi   sudah mulai diikuti oleh masyarakat setempat.

Dalam bidang Ilmu Konstruksi maka melalui proyek pengkajian teknik terapan dikembangkan suatu Metode Elemen Hingga (MEH)    yang pada waktu ini masih dalam taraf permulaan. Usaha-usaha     yang telah dilakukan adalah menyebarluaskan penggunaan metode mutakhir dalam ilmu konstruksi untuk kapal, konstruksi pesawat terbang, konstruksi gedung bertingkat, dan konstruksi jembatan.

Pengembangan dan peningkatan penelitian pembuatan instrumen berdasarkan kebutuhan nyata dalam masyarakat dituangkan dalam bentuk pembuatan prototipe instrumen tersebut. Telah berhasil  dibuat antara lain : periskope malam untuk Banpur (AMX 13), te­ropong medan malam (Binocular), unit buangan sampah radio aktif          II, alat reduksi foto, peralatan laboratorium reaktor hydro­fluorinasi, modifikasi automatic regulator dan alat uji pelun-     cur roket.

Penelitian logam seng (Zn) yang banyak digunakan oleh ber­           bagai industri di dalam negeri, antara lain untuk galvanisasi  dan pembuatan baterai kering. Logam ini hingga kini masih diim-             por. Walaupun endapan bijih seng terdapat di beberapa tempat di Indonesia, namun hingga saat ini belum ada industri yang mengo­      lah bijih tersebut menjadi logamnya. Tujuan dari pada peneliti      an ini adalah mengumpulkan data tentang teknologi pengolahan, cadangan bijih, pola pemasaran, pola kebutuhan, pola penyediaan

XVII/32

dan lain-lain. Selanjutnya data tersebut diolah dan dievaluasi menjadi suatu konsep untuk pembangunan pabrik ekstraksi seng di Indonesia.

Penelitian laboratorium logam tembaga (Cu) bertujuan untuk mencoba beberapa tahap proses dan pengolahan konsentrat tembaga menjadi logam, antara lain melalui percobaan pemanggangan kon­      sentrat tembaga, pelarutan kalsium percobaan elektrolisa laru­      tan tembaga sulfat.

Sebagian bijih nikel (Ni) diekspor berupa bahan mentah, se­bagian lagi diolah menjadi ferronikel (bahan baku untuk pembu-   atan baja khusus) dan nikel matte (bahan baku untuk pembuatan  logam nikel). Sampai saat ini baik bijih untuk ekspor maupun untuk diolah terbatas pada bijih kadar tinggi, dengan kandungan nikel di atas 2%. Bijih kadar tinggi ini jumlah cadangannya terbatas. Di samping bijih nikel kadar tinggi, Indonesia juga memiliki bijih nikel kadar rendah yang disebut nikel laterit,   yang cadangannya sangat besar, bahkan menduduki tempat kedua di dunia. Sehubungan dengan potensinya yang sangat besar tersebut, perlu dipikirkan cara-cara pemanfaatan nikel laterit ini. Tuju­      an penelitian ini adalah untuk mencari cara pengolahan bijih    nikel laterit yang kadarnya dibawah 2% Ni. Pada saat ini telah diteliti cara-cara pengendapan logam nikel dari larutan nikel sulfat.

Penelitian cat anti korosi antara lain bertujuan untuk me­nentukan teknologi perlindungan terhadap serangan korosi di da­    lam berbagai lingkungan dan kondisi dengan cat yang tepat pada  logam, khususnya baja. Sebagai tahap pertama penelitian ini di­arahkan untuk menginventarisasi sifat beberapa cat anti korosi    yang beredar di pasaran Indonesia dan membuat pedoman mengenai   cara pengecatan struktur baja di berbagai lingkungan dan kondi-      si atmosfir.

Penelitian pengembangan proteksi katodik, yaitu salah satu metode melindungi logam terhadap serangan korosi diadakan de-       ngan cara membuat logam yang akan dilindungi menjadi bersifat  katodik secara elektrokimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengembangkan teknik-teknik proteksi katodik.    Dalam lingkup kegiatannya antara lain tercakup pembuatan disain peralatan (rectifier, current interrupter dan lain-lain), pene­  litian pembuatan/pemakaian bahan anoda, serta percobaan di       lapangan.

Dalam proses peleburan bijih besi menjadi pig iron diperlu-

XVII/33

kan bahan bakar berupa kokas atau arang kayu. Kokas merupakan bahan yang mahal dan diimpor, sehingga bagi Indonesia pengguna-    an arang kayu akan lebih ekonomik. Dalam rangka persiapan pen­dirian tanur tiup di Lampung, dilakukan penelitian mengenai     cara-cara pembuatan arang kayu tersebut. Tujuan dari pada pene­litian ini adalah mencari teknologi pembuatan arang kayu untuk tanur tiup peleburan bijih besi. Dalam percobaan-percobaannya digunakan bermacam-macam kayu sebagai bahan bakunya, antara     lain kayu lamtoro gung yang ternyata sangat cocok untuk keper-  luan tersebut di atas.

Pewter adalah paduan logam non-ferro yang terdiri dari      timah (Sn), antimon (Sh) dan tembaga (Cu). Paduan ini digunakan bukan saja untuk membuat barang-barang kerajinan tangan, mela­  inkan juga untuk barang-barang perlengkapan rumah tangga. Di Indonesia penggunaan pewter masih sangat terbatas, padahal     dengan sifat-sifatnya yang menyerupai perak, bahan ini dapat digunakan sebagai bahan substitusi perak. Perak yang selain   mahal, juga agak sulit diperoleh. Hal ini dialami oleh para pengusaha kerajinan perak di Kota Gede, Yogyakarta. Tujuan  daripada penelitian ini adalah untuk memperkenalkan pewter    sebagai bahan substitusi perak dalam industri kerajinan.

Kawat merupakan salah satu produk dari logam dasar yang     pada saat ini telah mulai berkembang. Kawat baja mempunyai   potensi pemasaran yang luas, baik sebagai kawat maupun sebagai bahan-bahan industri lainnya seperti paku, kawat bronjong, sa-       ringan dan lain-lain. Potensi industri yang dapat dikembangkan   dan industri-industri yang sudah ada perlu diteliti, sehingga diperoleh gambaran tentang industri kawat yang masih ingin di­kembangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisa-   si, sebagai dasar analisa mengenai kebutuhan produkproduk dari kawat, dan pola pengembangan industri, yang berhubungan dengan kawat di masa datang, untuk mengetahui potensi industri kawat     di Indonesia.

Tahun 1981/82 telah dibuat prototip sel surya dengan cara evaporasi lapisan tipis cadmium sulfida/cuprous (Cds/Cu2S). Kegiatan yang telah dilakukan adalah menentukan eifat dari sel surya Cds/Cu2S yang dihasilkan dengan mengukur arus dan te­     gangan sebagai fungsi dari panjang gelombang untuk ketebalan lapisan-lapisan tertentu. Penelitian ini dapat memberikan nilai tambah berupa informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam   bidang material.

Kegiatan penggunaan teknik nuklir untuk bidang industri, khususnya studi teknik ekonomi telah mencapai hasil :

XVII/34

a) Sterilisasi radiasi.

Daya tembus yang kuat sinar gamma menyebabkan sinar ini dapat digunakan untuk mensucihamakan peralatan kedokteran dalam kemasan terakhir. Dosis terserap sekitar 2,5 Mrad digunakan sebagai dosis eterilisasi. Dosis ini dapat melumpuhkan kemam-   puan mikroba yang mengkontaminasi alat kedokteran dengan faktor keselamatan yang luas. Penelitian telah dilakukan untuk mene­ rapkan cara sterilisasi dengan radiasi gamma pada beberapa je-    nis alat kedokteran misalnya alat suntik, kateter, alat kon­trasepsi dan berbagai macam sediaan farmasi misalnya salep  mata, antibiotika dan bedak bayi. Pada jamu tradisional juga sedang dilakukan penelitian sterilisasi radiasi.

b) Pengawetan pangan.

Sinar gamma pada dosis tertentu dapat mematikan organisme perusak bahan makanan. Hal ini dimanfaatkan untuk pengawetan bahan makanan. Penelitian dalam bidang ini ialah dalam pembe­rantasan kutu beras, bubuk tepung terigu, ikan kering, dan rem­   pah-rempah, dan dalam memperpanjang daya simpan ikan. Sinar gamma dapat juga menunda pertunasan umbi-umbian seperti ken­  tang, sehingga dapat memperpanjang daya simpannya.

c) Polimerisasi radiasi.

Penelitian teknik radiasi dalam bidang perkaretan untuk vulkanisasi dengan menggunakan teknik radiasi dilanjutkan. Lateks yang diperlakukan demikian adalah penting sebagai bahan  bagi industri rumah, karena penggunaannya yang relatif mudah, sehingga dapat digunakan oleh siapapun tanpa memerlukan tekno-    logi yang tinggi. Di samping itu lateks yang diradiasikan lebih                 awet. Juga penelitian serat tekstil sintetik diusahakan pening-      katan mutunya dengan menggunakan teknik radiasi. Hal ini mem-   buka kemungkinan baru untuk serat poliester sebagai bahan dasar batik. Selain itu proses polimerisasi radiasi digunakan juga untuk meningkatkan mutu kayu sehingga kekuatan mekaniknya meningkat dan tidak mudah dimakan serangga.

d) Pemeriksaan tak merusak

Dalam kegiatan ini telah dikembangkan metoda terapan menge-     nai penggunaan teknik nuklir dalam industri. Di antaranya telah              banyak yang dapat dimanfaatkan dan sudah merupakan pelayanan

XVII/35

kepada instansi yang memerlukan, terutama pemeriksaan dengan radiografi, ultrasonik, uji dengan penetrasi zat warna atau partikel magnetik.

e) Hidrologi

Teknik nuklir telah terbukti banyak membantu memecahkan  problema hidrologi dengan menggunakan suatu metode yang seder­  hana, yaitu metode perunut. Keunggulan radioisotop untuk peru-      nut ialah kepekaannya yang sangat tinggi dan sangat mudah dide­teksi. Beberapa aplikasi yang sudah sering diterapkan di lapa­   ngan ialah pengukuran debit sungai, kebocoran waduk, rembesan    air dalam tanah, pembersihan pipa, penelitian arah gerakan lum-    pur di pelabuhan, pengukuran kepadatan tanah dan kadar air ta-      nah.

f) Pencemaran lingkungan

Teknik radioisotop dalam pencemaran lingkungan mulai dikem­bangkan guna menunjang studi masalah pencemaran lingkungan. Pe-  runut radioaktif dapat membantu deteksi penyebaran, penumpukan    dan kelakuan berbagai bahan pencemar dalam lingkungan. Di sam­   ping itu juga dilakukan penelitian dan monitor kandungan radi­onuklida, logam berat dan residu pestisida dalam bahan makanan /wilayah pemukiman dan wilayah sumber daya alam dengan menggu-  nakan teknik nuklir dalam analisa kimia untuk mengikuti kelaku-   an bahan pencemar dalam lingkungan. Sampai saat ini telah di­laksanakan pengamatan kandungan radionuklida, logam berat dan residu pestisida dalam berbagai jenis bahan makanan hasil per­tanian, bahan makanan hasil laut dan bahan makanan dalam ka­   leng. Wilayah yang diteliti ialah Teluk Jakarta, Selat Bang-      ka, daerah aliran sungai-sungai Citarum, Bengawan Solo dan  Brantas.

g) Standarisasi, Kalibrasi dai Dosimetri

Penggunaan radiasi untuk teknologi dalam industri secara     aman dan ekonomis memerlukan suatu sistem dosimeter yang prak-            tis dan tepat. Sistem dosimeter yang digunakan ialah dosimeter Fricke untuk mengkalibrasi iradiator Gamma Cell-220 dan PANBIT serta dosimeter plastik untuk mengukur distribusi dalam berma-   cam-macam bahan yang disinari dan untuk mengontrol besarnya do­          sis pada masing-masing proses.

d. Program Utama Riset dan Teknologi di bidang Pertahanan dan Keamanan (Hankamnas).

XVII/36

Keberhasilan tugas pertahanan keamanan nasional banyak ter­gantung pada dukungan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, supaya pertahanan-keamanan nasional dapat memanfaatkan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan tek­nologi, pembangunan pertahanan-keamanan nasional secara keselu­  ruhan harus dikaitkan dengan pembangunan dalam bidang kesejah-       teraan, sedemikian rupa sehingga merupakan bagian yang integral daripada pembangunan nasional.

Selain itu prinsip ekonomi perlu diterapkan sebaik mungkin          dalam usaha pertahanan-keamanan nasional. Dalam rangka moderni­         sasi penyelenggaraan pertahanan-keamanan nasional seyogyanya digunakan perlengkapan yang disesuaikan dengan tingkat kemajuan teknologi bangsa Indonesia. Hasil produksi dalam negeri harus diutamakan, keharusan untuk mengurangi ketergantungan kepada     luar negeri menuntut dibangunnya industri pertahanan-keamanan nasional, atau industri umum yang dapat digunakan untuk itu, setidak-tidaknya untuk memproduksi perlengkapan dan bekal yang paling vital.

Penelitian nasional perlu dilaksanakan untuk membuat inven­      tarisasi kemampuan industri dalam negeri, guna mendukung penye­lenggaraan pertahanan-keamanan nasional dan perencanaan cara-      cara pemanfaatannya dalam keadaan darurat.

Dalam hubungan ini Program Utama Nasional Riset dan Tekno-              logi di bidang pertahanan dan keamanan nasional telah mengada-             kan peningkatan penelitian dan pengembangan teknologi dalam bi-    dang produksi materi kebutuhan HANKAM, seperti senjata ringan   dan sedang, roket, alat-alat pengangkutan, alat-alat komunika­     si, alat-alat pemeliharaan dan sebagainya.

Dalam pengembangan teknologi roket sonda telah dilaksanakan penelitian bahan roket padat untuk jenis polisulfida dan poli-       butadien, yang menghasilkan propelan dengan garis tengah 15 cm, kecepatan pembakaran 0,6/cm/detik, pada tekanan 70 kg/cm2. Da­             lam kegiatan ini beberapa prototip telah dirancang dan menga-     lami uji terbang antara lain roket padat atau roket bertingkat   dua. Dengan keberhasilan rancangan roket tersebut diharapkan      pada waktunya akan dapat digunakan roket meteorologi buatan      dalam negeri sehingga kita tidak tergantung dari negara lain.

Didalam kegiatan pengkajian aspek kemajuan dirgantara seba-      gai hasil kerjasama dengan berbagai instansi nasional yang ter- himpun dalam Panitia Sementara Nasional Keantariksaan  telah

XVII/37

dirumuskan suatu pandangan Indonesia terhadap usaha internasio-   nal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa demi peningkatan taraf hidup umat manusia, dan sebagai landasan bagi pengembangan usaha keantariksaan di negara-negara berkem­  bang.

Di samping itu telah dikaji rumusan pengaturan penggunaan Geostationary Satellite Orbit (GSO) yang secara alamiah berada    di atas wilayah khatulistiwa. Indonesia sebagai negara yang terpanjang terbentang di daerah khatulistiwa dapat memperoleh manfaat yang cukup besar GSO tersebut, sehingga Indonesia mem­ punyai kepentingan khusus terhadap GSO. Hasil-hasil pengkajian tersebut disampaikan dan dinyatakan sebagai sikap Indonesia da­    lam forum Internasional mengenai keantariksaan.

e. Program Utama Riset dan Teknologi di bidang Sosial, Ekono­       mi, Budaya dan Falsafah.

Program Utama Nasional Ristek di bidang sosial, ekonomi,   budaya dan falsafah, hukum dan perundang-undangan diarahkan un-                 tuk meneliti pertumbuhan sosial, ekonomi, budaya dalam pemba-     ngunan nasional demi tercapainya landasan kuat untuk berkembang       berdasarkan kekuatan sendiri.

Dalam tahun 1981/82, kegiatan riset dan teknologi di bidang sosial, ekonomi, budaya dan falsafah makin ditingkatkan dengan   melibatkan berbagai lembaga Penelitian dan Pengembangan (Lit    Bang) Pemerintah, perguruan tinggi, maupun kalangan swasta. An-          tara lain dapat disebut penelitian perspektif arah perkembangan jangka panjang, penelitian wilayah, penelitian masalah pendu-     duk, penelitian tentang penerangan, pers dan komunikasi, pene­     litian perubahan sosial-budaya sebagai akibat penggunaan TV,     penelitian tentang transmigrasi, orientasi nilai-nilai masyara-    kat dan sebagainya.

Studi strategi kebudayaan bertujuan mempelajari langkah-    langkah yang perlu diambil dalam rangka mengikutsertakan secara aktif unit keluarga dalam masyarakat Indonesia dalam penyebaran nilai-nilai Pancasila.

Dalam tahun 1981/82 penelitian lapangan dilakukan di bebe­            rapa komunitas di Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Ternate, Su­         lawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, sebagai lanjutan Studi tahun 1980/81 yang meliputi wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Penelitian ini masih berjalan beberapa tahun (sifat longitudinal) untuk dapat mencapai tahap kesim-     pulan yang mantap. Kesimpulan yang dicapai ialah tentang :  a.

XVII/38

pandangan tentang hakekat hidup, b. pandangan tentang perilaku ekonomi, c. pandangan tentang integrasi nasional dan d. Panda­     ngan tentang remaja masa kini.

Dalam usaha penyediaan air minum, penelitian situasi air minum di DKI Jakarta mencakup keadaan air minum di berbagai daerah pemukiman DKI Jakarta, pengelolaan pertumbuhan kota DKI Jakarta, dan studi singkat komposisi dan karakteristik sampah    di Jakarta Pusat.

Dalam bidang transportasi telah diadakan suatu penelitian,  ialah studi Sistem Transportasi di DKI Jakarta dan suatu survai         lapangan tentang karakteristik angkutan umum bis kota pada ko­   ridor timur (Cililitan-Lapangan Banteng). Salah satu alternatif rekomendasinya adalah perbaikan sistem pelayanan angkutan umum    bis kota pada koridor tersebut. Dua penelitian lain ialah Studi     Perspektif Sistem Angkutan Kota Jakarta sampai dengan tahun   2000, dan Studi Perbandingan tiga kota: Surabaya, Medan dan Ujung Pandang.

Di luar pulau Jawa juga telah diadakan Studi Air Minum ialah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Penelitian   itu meliputi analisa air baku di kedua daerah tersebut. Hasil analisa laboratorium ini akan membantu menemukan jalan keluar untuk masalah air bersih dan sehat di kedua daerah yang ber­sangkutan.

Studi Potensi Manusiawi telah meneliti beberapa masalah perburuhan di sektor industri yang merupakan faktor penghambat  bagi usaha peningkatan produksi di Indonesia. Penelitian ini meliputi beberapa propinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta,   Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan           Selatan dan Sulawesi Selatan.

Untuk mencapai suatu sistem pendidikan nasional yang mantap  telah diadakan suatu konsep pendidikan semesta, menyeluruh dan terpadu. Di samping itu, demi penyempurnaan lebih lanjut sistem pendidikan nasional, secara terus menerus dilakukan kegiatan penelitian dan pengembangan pendidikan. Kegiatan-kegiatan utama  dalam tahun 1981/82 adalah sebagai berikut:

(1) Pengembangan sistem pendidikan yang antara lain meliputi, pengembangan kebudayaan dan olah raga, pengembangan peren-  canaan pendidikan, pengembangan pola ketenagaan dan metode kerja, pengembangan pelaksanaan sistem karier dan prestasi kerja, pamong, pengembangan pendidikan kedinasan, pengem­

XVII/39

bangan sekolah kecil, dan pengembangan sistem diklat.

(2) Pengembangan kurikulum dan pembinaan eksperimentasi seko-  lah-sekolah perintis yang antara lain meliputi pengembangan   dan pembinaan kurikulum SD, STK, dan SLB, penelitian dan pengembangan program pendidikan keterampilan, terminal, pe­ngembangan sarana pendidikan, pengembangan dan pembinaan kurikulum pendidikan guru dan pendidikan tinggi, pengem-  bangan metodologi pengajaran serta monitoring dan evaluasi.

(3)  Pengembangan teknologi komunikasi pendidikan dan kebudayaan               yang antara lain meliputi kegiatan penataran tenaga ahli di bidang teknologi komunikasi pendidikan, penelitian, peni-  laian dan pengembangan konsepsi dan sarana, penelitian dan pengembangan sistem pengajaran, pengembangan dan perintisan   SMP Terbuka, dan pembinaan sanggar TKPK.

(4)  Pengembangan sistem informasi pengelolaan pendidikan dan        kebudayaan yang antara lain meliputi kegiatan pengembangan sistem pengorganisasian data; analisa dan sintesa data;

serta penyusunan konsepsi dan pengembangan sistem penyim­ panan dan penggunaan data. Penelitian pendidikan diarahkan untuk memperoleh bahan pertimbangan untuk perencanaan pen­didikan pada tingkat pusat maupun daerah dalam pengembangan sistem pendidikan nasional.

(5)   Tindak lanjut kegiatan-kegiatan Komisi Pembaharuan Pendidi­kan Nasional.

(6)   Penyusunan dan pengelolaan 8 naskah inventarisasi dan doku­mentasi penghayatan kepercayaan terhadap Tahun Yang Maha Esa, naskah penyusunan dan pengolahan data kepustakaan.

Kegiatan penelitian dan pengembangan agama bertujuan untuk menunjang pematangan perencanaan dan kebijaksanaan di bidang agama, di samping peningkatan keahlian para peneliti di bidang keagamaan. Dalam tahun 1981/82 telah dilaksanakan penelitian terhadap 20 judul masalah kemasyarakatan dan keagamaan, dengan dibantu sejumlah tenaga peneliti dari 14 IAIN Induk serta se­jumlah tenaga dari perguruan tinggi umum.

Penelitian di bidang hukum dalam tahun 1981/82 antara lain meliputi: 1). Aspek-aspek hukum yang mempengaruhi perkembangan koperasi, 2). Maritime Kringen Ordonantie, 3). Hukum Adat dan Lembaga-lembaga Hukum Adat di Jawa Barat, 4). Perkembangan Hukum Militer, 5). Adopsi dan peningkatan anak, 6). Masalah

XVII/40

anak yang bekerja di bawah usia kerja, suatu studi tentang sta­tus fisik, mental dan soaial, 7). Penerapan bantuan hukum dan Organisasi, dan 8). Badan Pelayanan Hukum.

B. STATISTIK

1. Pendahuluan

Data statistik yang baik dan dapat diandalkan sangat diper­lukan sebagai dasar bagi penyusunan rencana pembangunan, penyu­sunan kebijaksanaan di berbagai bidang, maupun untuk berbagai penelitian ilmiah. Di samping itu pada taraf pelaksanaan pro­gram, data statistik digunakan untuk mengukur kemajuan yang di­capai dari waktu ke waktu. Penilaian kemajuan yang dicapai da­lam pelaksanaan program-program secara statistik sangat memban­tu dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan hasil yang di­harapkan. Bila perbandingan menunjukkan bahwa apa yang dicapai adalah kurang daripada sasaran, maka dapat dicari sebab-sebab­nya, sehingga dapat diadakan tindakan korektif, bahkan tidak mustahil bahwa atas dasar penilaian tersebut rencana semula terpaksa dirombak atau diadakan kebijaksanaan yang baru sama sekali.

Dalam penyusunan rencana, kita perlu mengukur secara obyek­tif pengaruh atau akibat daripada pelaksanaan program. Pening­  katan produksi dapat dicapai dengan penggunaan yang lebih efi­sien dan efektif sumber-sumber yang tersedia untuk produksi, atau dengan penambahan sumber-sumber untuk produksi. Sehubungan dengan itu diperlukan keterangan statistik untuk menentukan bi­dang-bidang yang peningkatan produksinya dapat diusahakan de­ngan cara yang pertama, dan bidang-bidang yang memerlukan cara pemecahan yang kedua.

Keterangan tentang tingkat produksi menurut jenis kegiatan ekonomi yang diperinci menurut daerah geografis berguna untuk menentukan bukan hanya sektor-sektor yang perlu diperkembang­kan, melainkan juga daerahnya.

2. Sebijaksanaan Pembangunan di Bidang Statistik Dalam Repelita III

Pembangunan statistik merupakan bagian yang tidak terpisah­kan dari pembangunan nasional. Untuk menyesuaikan perkembangan statistik dengan keperluan pembangunan, maka selama Repelita III ditelaah (i) jenis-jenis statistik yang perlu diprioritas­kan, (ii) statistik yang diperlukan dalam mencari pemecahan ma­salah nasional yang mendesak, (iii) sampai berapa jauh statis-

XVII/41

tik yang ada dapat memberikan keterangan tentang keadaan di sektor informal dan keadaan bagian masyarakat yang ada di bawah garis kemiskinan di daerah-daerah, (iv) indikator-indikator dan metode pengumpulan data yang sekiranya dapat dipakai secara  efektif untuk mengungkapkan apa yang terjadi di daerah-daerah  dalam hubungannya dengan pembangunan, (v) metode pengumpulan    data yang biayanya terendah.

Di samping pengembangan jenis statistik baru, statistik­statistik yang telah lama ada tetap diteruskan, dan diting­katkan mutunya, ketepatan waktunya, dan kegunaannya. Dalam hal informasi untuk keperluan operasional, masalah ketepatan waktu sangat penting, meskipun data yang disajikan kurang lengkap     atau tidak tepat betul. Data statistik yang dianggap tetap     perlu adalah yang dapat memberikan gambaran yang terpadu ten-    tang tingkat dan laju penkembangan ekonomi, perubahan struktu­   ral, tingkat efisiensi pelaksanaan berbagai kegiatan, dan    tingkat pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Yang dirasakan masih perlu dikembangkan ialah beberapa jenis statistik yang lebih disagregatif, distribusional, struk­tural, dan data terperinci lainnya yang erat hubungannya dengan corak dan sasaran rencana pembangunan nasional yang lebih me­mentingkan pemerataan dan keterpaduan.

Ada beberapa kegiatan baru yang sedang dikembangkan dan dalam Repelita III diperbaiki lebih lanjut metode pengumpulan­    nya dan diperluas ruang lingkupnya, ialah antara lain, i) pe­ngembangan sistem dan organisasi Survai Rumah Tangga Nasional,   dan ii) statistik pembangunan daerah pedesaan yang terpadu.

3. Pelaksanaan Kegiatan di Bidang Perstatistikan Dalam Tahun Ketiga Repelita III.

Kegiatan pembangunan statistik pada dasarnya dapat dibagi   dalam tiga kelompok, ialah (a) kegiatan yang harus dilakukan secara terus-menerus, (b) kegiatan pengembangan metode pengum-   pulan data yang praktis dan efisien, baik dilihat dari segi te­ naga, biaya, maupun kecermatan, dan (c) kegiatan khusus seperti sensus atau studi/analisa tentang sesuatu yang sangat diperlu-    kan pada suatu waktu.

Pada umumnya kegiatan pengembangan statistik dalam tahun anggaran 1981/82 merupakan lanjutan dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada tahun anggaran 1980/81, kecuali persiapan Sensus Pertanian 1983. Kegiatan dalam kelompok a. hampir selu­ruhnya merupakan kegiatan lanjutan, hanya ada beberapa penam­

XVII/42

bahan atau perubahan. Kegiatan dalam kelompok b. khususnya yang terpadu dalam proyek Survai Sosial Ekonomi Nasional, dititikbe­ratkan pada pengumpulan data pengeluaran konsumsi penduduk dan distribusinya.

a. Peningkatan Data Statistik dan Perbaikan Statistik Pertani­an.

1) Statistik Penduduk dan Tenaga Kerja

Kegiatan ini terdiri dari i) peningkatan kegiatan registra­si penduduk, ii) Survai Upah, dan iii) Statistik Sosial Pendu­duk.

(i) Peningkatan Kegiatan Registrasi Penduduk.

Pengumpulan data statistik vital dilakukan setiap tahun se­cara teratur dan berkesinambungan untuk mengisi kekosongan data dalam kurun waktu antara dua sensus, dan digunakan untuk menge­valuasi hasil sensus dan survai penduduk. Pengumpulan data se­cara terus-menerus ini lebih murah biayanya dibandingkan dengan sensus atau survai. Hasil registrasi penduduk dapat memenuhi keperluan administrasi kependudukan, identifikasi dan legalisa­si; di samping itu, yang lebih penting lagi adalah kegunaannya dalam memberikan gambaran tentang tingkat, variasi antar dae­rah, dan perkembangan komponen-komponen perubahan penduduk, ialah kematian, kelahiran, dan perpindahan dari waktu ke waktu.

Registrasi penduduk di Indonesia belum berjalan dengan  baik. Penelitian selama tiga tahun dari 1974 sampai 1977 menun­jukkan bahwa hanya sekitar 50 sampai 60 persen dari kelahiran dan kematian tercatat dalam registrasi. Keadaan tersebut telah menyebabkan dikeluarkannya KEPPRES nomor 52 tahun 1977 tentang pendaftaran penduduk, yang segera diikuti dengan peraturan-per­aturan pelaksanaannya oleh Menteri Dalam Negeri dan Kepala Dae­rah Tingkat I dan Tingkat II untuk masing-masing daerahnya. Pe­raturan-peraturan itu pada pokoknya menunjuk Menteri Dalam Ne­geri sebagai penanggung jawab pelaksanaan pendaftaran penduduk. Dalam hal ini semua Gubernur/Kepala Daerah/Kepala Daerah Ting­kat I dan Bupati/Walikotamadya di seluruh Indonesia bertanggung jawab atas pelaksanaan pendaftaran penduduk di daerahnya masing masing.

Meskipun telah dikeluarkan berbagai peraturan pelaksanaan, namun dirasakan bahwa kegiatan pendaftaran penduduk masih belum mencakup seluruh daerah dan kejadian yang seharusnya dicatat. Ada daerah yang telah mengeluarkan peraturan daerah (PERDA) un-

XVII/43

tuk mengatur pendaftaran tersebut dan telah melaksanakan, namun    ada pula daerah yang sama sekali belum memulainya. Sehubungan dengan itu maka pada tahun 1981 diadakan latihan untuk mening­katkan pengetahuan dan ketrampilan para petugas lapangan regis­trasi, terutama para Kepala Desa dan Carik. Untuk keperluan tersebut telah diadakan kerjasama antara Biro Pusat Statistik, Departemen Dalam Negeri, dan UNFPA (United Nations Funds for Population Activities). Dalam latihan itu diberikan penjelasan tentang KEPPRES Nomor 52 tahun 1977 beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan pedoman tatacara pelaksanaan administrasi kependudukan yang mencakup sistem pelaporan dan cara pengisian daftar. Pada tahap pertama latihan diadakan di enam propinsi, ialah seluruh Jawa dan Bali, sedang pada tahap berikutnya, da­lam tahun 1982, daerah diperluas hingga mencakup seluruh Indo­nesia.

(ii) Survai Upah

Dalam rangka peningkatan statistik upah telah diadakan hu­bungan kerja antara Biro Pusat Statistik dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengadakan Survai Upah. Tujuan daripada survai tersebut adalah untuk memperoleh data upah maksimum dan minimum dalam jabatan pekerjaan tertentu, dan kom­posisi tenaga kerja dalam perusahaan-perusahaan di berbagai sektor kegiatan. Survai yang pertama diadakan dalam tahun 1980 dan mencakup hanya 4 sektor, ialah sektor industri, konstruksi /bangunan, angkutan, dan kehutanan/perkayuan di sepuluh propin-   si, ialah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Pengolahan survai ini telah se­lesai dan hasil-hasilnya sudah tersedia bagi para pemakai.

Dalam tahun 1981 survai ini diperluas daerahnya sampai ke seluruh tanah air, dan sektor yang dicakup adalah industri, jasa/hotel, angkutan, dan pertambangan. Berbeda dengan tahun 1980, Survai Upah tahun 1981 diadakan dalam empat tahap yang masing-masing mencatat keadaan upah bulan Pebruari, Mei, Agus-   tus, dan Nopember 1981. Tujuannya ialah untuk mendapatkan arah perkembangan upah. Survai pertama tahun 1981 disebut survai­tolok ukur (benchmark) yang menggunakan daftar yang terperinci dengan maksud mengumpulkan data tentang keadaan karyawan dan besarnya upah yang dibayarkan kepada karyawan oleh perusahaan, sedang dalam survai triwulanan dikumpulkan tingkat upah karya­wan produksi, yang diperlukan bagi penyusunan indeks upah.

Hasil yang telah diterbitkan dalam tahun 1981 adalah: Buruh yang bekerja di sektor perhotelan, angkutan darat, industri  dan

XVII/44

pertambangan, Pebruari 1981. Data tersebut memuat persentase distribusi buruh menurut lapangan usaha dan penggolongan upah,   serta rata-rata banyaknya hari kerja, jam kerja dan upah buruh produksi. Pada saat ini sedang dipersiapkan publikasi arah per­kembangan upah dalam tahun 1981.

(iii) Statistik Sosial Penduduk

Kalau dalam tahun-tahun yang lalu untuk memperoleh kete­   rangan tentang keadaan sosial penduduk diadakan survai-survai khusus, maka sekarang banyak keterangan diperoleh dari hasil pengolahan Sensus Penduduk 1980, Survai Sosial Ekonomi Nasional tahun 1980, dan Survai Pertanian tahun 1980.

Dari pengolahan pendahuluan Sensus Penduduk 1980 diperoleh. gambaran tentang perubahan sosial secara umum sebagai hasil pe­ningkatan kegiatan pembangunan. Yang sangat menonjol adalah  cepatnya peningkatan pendidikan penduduk di semua daerah antara tahun 1971 dan 1980, baik bagi anak laki-laki maupun anak pe- rempuan, dan menurunnya persentase penduduk berumur 10 tahun ke  atas yang buta huruf. Dalam periode yang sama terlihat adanya perubahan yang cukup besar dalam susunan angkatan kerja; di an­taranya yang menarik adalah turunnya persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian dari 64,2 persen pada tahun 1971  menjadi 54,8 persen pada tahun 1980.

Di samping itu dapat dilihat adanya peningkatan usia kawin wanita Indonesia, yang erat kaitannya dengan makin meningkatnya pendidikan dan makin meluasnya kesempatan bekerja di luar rumah tangga, di sektor non pertanian, antara lain di perusahaan-pe­rusahaan industri dan jasa. Peningkatan usia kawin wanita dan kemajuan yang dicapai dalam program keluarga berencana mempu­     nyai pengaruh yang sangat besar terhadap penurunan tingkat ke-  lahiran dalam beberapa tahun terakhir ini.

Penyebaran penduduk yang tidak merata dan laju pertumbuhan   Yang tinggi mempengaruhi secara langsung sifat-sifat penduduk lainnya. Untuk mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul      pada waktu yang akan datang karena ketidakseimbangan ini perlu dicari cara pemecahannya.

Dari hasil pengolahan Survai Sosial Ekonomi Nasional tahun   1978 dan 1980 dapat dilihat adanya perkembangan dalam pemerata­     an kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari     perubahan dalam besarnya persentase pengeluaran golongan-

XVII/45

golongan masyarakat, baik secara umum, maupun yang diperinci dalam pengeluaran untuk pangan, untuk perumahan, dan untuk sandang. Perkembangan ke arah pemerataan dalam pengeluaran konsumsi itu dapat juga dilihat dari penurunan dalam Gini ratio. Antara tahun 1978 dan 1980 ratio itu menurun dari 0,3071 menjadi 0,2884 untuk pangan, dari 0,4635 menjadi 0,4225 untuk perumahan, dan dari 0,4269 menjadi 0,3894 untuk sandang. Untuk pengeluaran sebagai keseluruhan Gini ratio itu turun dari 0,3782 pada tahun 1978 menjadi 0,3453 pada tahun 1980.

Pengolahan Survai Pertanian tahun 1980 memberikan gambaran tentang pengaruh intensifikasi terhadap pendapatan petani padi sawah sebagai berikut; Pertama, bahwa dalam tahuri 1979 hasil yang diterima petani dengan intensifikasi adalah 3,7 persen le­    bih rendah daripada hasil non-intensifikasi; Kedua, bahwa hasil  non-intensifikasi yang diterima petani dalam tahun 1980 turun sebesar 4,9 persen dibandingkan dengan yang diterima petani dalam tahun 1979; Ketiga, bahwa pada tahun 1980 penerimaan petani dengan intensifikasi adalah 8,6 persen lebih tinggi di­bandingkan dengan tanpa intensifikasi; dan Keempat, bahwa pene­ rimaan petani dengan intensifikasi pada tahun 1980 adalah 7,2 persen lebih tinggi daripada dengan intensifikasi pada tahun 1979.

Hasil survai tersebut juga menunjukkan bahwa program inten­sifikasi khusus menyebabkan penerimaan petani 15,1 persen lebih tinggi dari intensifikasi umum, dan 21,6 persen lebih tinggi dibandingkan dengan usaha tanpa intensifikasi. Di samping itu juga dapat dilihat bahwa pemberian kredit masal kepada petani melalui program Bimas masih mempunyai pengaruh yang positif pa­     da penerimaan petani, ialah sebesar 5,2 persen lebih tinggi di­bandingkan dengan penerimaan petani pengikut Inmas, dan 12,9 persen lebih tinggi dibandingkan usaha penanaman tanpa intensi­fikasi.

Di samping menaikkan penerimaan petani, usaha intensifikasi padi sawah juga menaikkan kegiatan ekonomi lainnya, terutama di daerah pedesaan. Bagian terbesar dari biaya produksi berupa upah buruh. Tenaga buruh dipakai untuk pengolahan tanah, peme­    liharaan tanaman, penanaman, dan pekerjaan lainnya yang  berhu- bungan dengan usaha penanaman padi sawah. Kecuali itu pengguna-     an pupuk yang lebih banyak secara tidak langsung juga mening­katkan kegiatan ekonomi. Jelas bahwa usaha intensifikasi padi sawah, kecuali meningkatkan produksi nasional, juga meningkat-    kan pendapatan petani, kesempatan kerja yang lebih baik, dan kegiatan ekonomi lainnya, terutama di daerah pedesaan.

XVII/46

2) Statistik Sosial

Untuk memperoleh gambaran tentang kondisi sosial yang me­nyangkut masalah pendidikan, tingkat hidup, kesehatan, peradi­lan, kebudayaan dan sebagainya, maka kegiatan pengumpulan data statistik sosial terus ditingkatkan, baik melalui survai sampel, maupun melalui penelitian secara lengkap. Adapun data yang dikumpulkan ada yang berupa data primer, ada pula yang dikutip dari sumber lain sebagai data sekunder. Untuk memper­oleh data yang makin sempurna diusahakan pengembangannya, baik dalam ruang lingkup kelengkapan data yang dikumpulkan, maupun sistem dan metode pengumpulannya.Dengan demikian diharapkan hasilnya dapat memenuhi keperluan penyusunan indikator kesejah­teraan rakyat yang sangat diperlukan dalam penyusunan rencana pembangunan di bidang sosial dan budaya.

Selama tiga tahun dalam pelaksanaan Repelita III ini telah dilakukan pengumpulan data tentang keadaan kesehatan anak dan ibu, sosial budaya penduduk, fasilitas desa, penyandang cacat   di Indonesia, yang pelaksanaannya diintegrasikan dengan pelak­  sanaan Survai Ganda Sasaran, Sensus Penduduk, dan Survai Sosial Ekonomi Nasional.

Publikasi Statistik Sosial yang diterbitkan secara tahunan maupun secara insidental telah dibuat secara terpisah menurut bidangnya, seperti Statistik Kriminil; Statistik Sekolah di  luar Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Statistik Bioskop; Penyandang Cacat di Indonesia; Profil Statistik Anak  dan Ibu; Statistik Keadaan Sosial Budaya Penduduk; Keadaan Ke­sehatan Anak dan Ibu; dan Indikator Kesejahteraan Rakyat. Dari  tahun 1971 sampai dengan tahun 1978 semua statistik tersebut di            atas dirangkum dalam satu publikasi, ialah Indikator Sosial. Penerbitan secara terpisah ini dibuat untuk memberikan gambaran  yang lebih jelas tentang distribusi fasilitas pelayanan sosial    dan penyebarannya secara geografis, serta tingkat penggunaan   dan manfaat yang diperoleh berbagai golongan masyarakat dari berbagai fasilitas yang sudah ada.

3) Statistik Pertanian.

Untuk menjamin terlaksananya program perbaikan statistik pertanian diadakan kerjasama antara Biro Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

Setiap tahun diadakan ramalan produksi padi sebanyak tiga kali. Dalam tahun 1981 Ramalan I diadakan pada pertengahan

XVII/47

bulan Pebruari 1981, Ramalan II pada pertengahan bulan Juni    1981, dan Ramalan III pada pertengahan bulan Oktober 1981. Yang         masih termasuk dalam tahun anggaran 1981/82 adalah Ramalan I tahun 1982 yang diadakan pada bulan Pebruari 1982. Ramalan­ramalan itu diadakan untuk memenuhi keperluan penyusunan kebijaksanaan di bidang pangan, di antaranya untuk menentukan jumlah yang masih harus diimpor.

Di samping pembuatan ramalan padi juga dilanjutkan penghi­tungan produksi dan hasil per hektar palawija di Indonesia, ialah jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang kedele. Kegiatan ini telah menghasilkan angka sementara tahun 1981.

4) Statistik Perkebunan.

Perkebunan merupakan sumber kekayaan yang selalu dapat di­perbaharui kecuali menghasilkan barang-barang ekspor yang sam­pai saat ini masih menempati urutan ketiga setelah minyak bumi dan hasil-hasil hutan, khususnya kayu, usaha perkebunan dapat menyerap banyak tenaga kerja, mencegah erosi, mempertahankan kesuburan tanah, dan ikut mengatur tata air, dan dengan demiki-        an erat hubungannya dengan usaha-usaha pelestarian alam. Sehu-  bungan dengan itu, maka peranan perkebunan tidak hanya perlu dipertahankan, melainkan harus ditingkatkan.

Berdasarkan data yang ada, potensi perkebunan rakyat lebih besar dibandingkan dengan perkebunan besar, baik areal maupun produksinya, kecuali dalam beberapa jenis tanaman, ialah kina, kelapa sawit, kapas dan teh. Sehubungan dengan itu maka pem­bangunan sektor perkebunan dititikberatkan pada perkebunan rakyat, tanpa mengabaikan pembangunan perkebunan besar.

Penyusunan program-program pembangunan sektor perkebunan harus berlandaskan data statistik perkebunan yang cermat, dapat diandalkan, dan tersedia pada waktu diperlukan. Untuk memper­oleh data statistik perkebunan yang baik, diperlukan bukan ha­nya metode pengumpulan, pengolahan, dan penyajian yang baik, melainkan juga pengertian, kejujuran dan partisipasi aktif para responden, ialah usaha-usaha perkebunan. Responden ini dikelom­pokkan ke dalam dua kategori, ialah perkebunan besar dan perke­bunan rakyat. Perbedaannya tidak terletak pada jenis budidaya yang diusahakan, melainkan pada pola pengusahaannya. Perkebunan besar diusahakan oleh suatu badan usaha berbentuk badan hukum    yang telah memenuhi penilaian persyaratan formal, sedang per­kebunan rakyat diusahakan oleh perorangan, tidak berbentuk badan hukum, dan tidak ada persyaratan formal. Dalam usaha pe­

XVII/48

ngumpulan bahan keterangan dari dua sumber yang sangat berbeda  dalam unit, kondisi, dan aspek-aspek lainnya ini diperlukan      cara pendekatan yang berbeda pula.

Sejak Repelita II secara terus-menerus diadakan usaha per­baikan data statistik perkebunan, baik dalam segi kualitas mau­pun dalam segi kuantitasnya. Namun hingga saat ini statistik perkebunan, khususnya perkebunan rakyat, masih dirasakan kurang memuaskan, baik metode pengumpulan, pengolahan, mutu data, mau­pun penyajiannya. Untuk memperbaiki dan meningkatkannya, di­tempuh berbagai usaha serta langkah-langkah, antara lain seba- gai berikut.

Dengan memperhatikan kesulitan-kesulitan dalam pengumpulan data statistik perkebunan rakyat, maka dicoba pengembangan me­tode pengumpulan data melalui survai sampel atas dasar wawan- cara langsung dengan para petani/pekebun. Dengan cara ini diha­rapkan akan diperoleh keterangan yang lebih baik berupa data pokok maupun keadaan sosial ekonomi petani/pekebun. Metode sur­vai sampel tersebut baru diterapkan sebagai uji coba (pilot survey) untuk beberapa jenis budi daya terpenting, antara lain kelapa, karet, kopi, cengkeh, teh, dan tebu di beberapa propin-  si potensial. Kemudian, berdasarkan pengalaman pada uji coba di atas diadakan survai sampel perkebunan rakyat di berbagai pro­pinsi di seluruh Indonesia.

Untuk Sensus Pertanian 1983 direncanakan pula pengumpulan data perkebunan rakyat melalui metode Sensus Sampel. Pelaksana­an Sensus Sampel Perkebunan Rakyat ini direncanakan akan diada­kan pada tahun 1984, dan meliputi 7 (tujuh) budidaya tanaman, ialah kelapa, karet, kopi, teh, cengkeh, tebu, dan tembakau. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan data statistik perkebunan akan dapat tersedia secara terus-menerus dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

Dari hasil Sensus Perkebunan Besar yang dilaksanakan pada awal tahun 1974 telah dapat diperoleh data statistik yang lebih lengkap, baik jenis data maupun ruang lingkupnya. Berpangkal tolak pada bahan-bahan tersebut, pada tahun-tahun berikutnya diadakan pengumpulan data statistik perkebunan besar secara rutin dengan sistem surat-menyurat dan pengiriman daftar perta­nyaan secara bulanan, semesteran, maupun tahunan. Dengan cara ini telah diperoleh tanggapan yang makin baik dari tahun ke tahun, terutama dalam laporan bulanan dan semesteran.

Mengingat adanya mobilitas usaha dan perubahan-perubahan, maka perlu diadakan penyusunan kembali (updating) data tentang

XVII/49

perusahaan-perusahaan perkebunan besar yang ada dari waktu ke waktu. Sehubungan dengan itu maka dalam Sensus Pertanian 1983 akan diadakan pula Sensus Perkebunan Besar yang pelaksanaannya

direncanakan pada akhir tahun 1983 atau awal tahun 1984.

5) Statistik Peternakan

Sejak tahun 1968 secara terus-menerus telah dilakukan ber­bagai survai peternakan yang pelaksanaannya diintegrasikan dengan sensus atau survai-survai lainnya, antara lain dengan Sensus Pertanian 1973, Survai Sosial Ekonomi Nasional, Survai Pertanian sejak tahun 1974, dan Survai Ganda Sasaran 1979. Pe­ngumpulan data peternakan melalui survai Ganda Sasaran, pelak­sanaan lapangannya dilakukan pada awal tahun 1980 dan mencakup ternak sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, dan babi. Ternak unggas untuk sementara tidak dicakup. Di samping data tentang populasi, dikumpulkan pula data tentang perkembangan populasi ternak, antara lain tentang kematian, kelahiran, dan pemoto­ ngan. Untuk lebih meningkatkan tersedianya data ternak, maka dalam Sensus Pertanian 1983 akan dikumpulkan pula data tentang populasi ternak dan unggas, usaha-usaha peternakan dan berbagai karateristik lain.

6) Statistik Perikanan

Kegiatan registrasi tempat-tempat pendaratan perikanan laut dimulai sejak tahun pertama Repelita III, dan diadakan terutama di kecamatan-kecamatan pantai. Hasil registrasi tersebut telah digunakan sebagai kerangka sampel dalam pelaksanaan Survai Pe­rikanan Laut tahun 1980/81 dan tahun 1981/82. Survai ini dija­lankan dalam empat tahap, dan tiap tahap dibagi dalam tujuh  hari pencacahan. Data yang dikumpulkan mencakup kegiatan di tempat pendaratan ikan, antara lain tentang banyaknya perahu yang mendarat, alat penangkap yang digunakan, produksi menurut jenis ikan, dan distribusi hasil penangkapan. Survai diadakan  di perairan di semua propinsi, kecuali propinsi Irian Jaya dan Timor Timur. Pengolahan hasil Survai Perikanan Laut ini selu­ruhnya sudah selesai dan dapat memberikan gambaran tentang keadaan perikanan laut tahun 1981. Dalam rangka peningkatan  mutu dan kualitas data statistik perikanan, serta usaha penye­diaan data statistik tersebut secara berkesinambungan, maka dalam Senaua Pertanian 1983 akan dikumpulkan pula data statis- tik perikanan, baik perikanan laut, perikanan darat, maupun perikanan tambak.

XVII/50

7) Statistik Industri

Survai industri besar dan sedang diadakan untuk mengumpul­kan data statistik industri secara lengkap tentang karakteris­tik tenaga kerja, upah dan gaji, produksi, pemakaian bahan baku, baik yang berasal dari produksi dalam negeri maupun dari impor, penggunaan bahan bakar, dan pembentukan modal. Dalam survai yang mencakup data tahun kalendar 1981 juga dikumpulkan keterangan tentang sumber dana investasi dan fasilitas penana­man modal yang diperoleh perusahaan.

Di samping survai yang diadakan setahun sekali itu, tetap dilaksanakan survai industri triwulanan untuk mengukur laju pertumbuhan dan gerak musim sektor industri. Karena sampel perusahaan untuk survai triwulanan ini pada umumnya berasal dari industri besar dan sedang, maka gambaran yang diperoleh diperkirakan lebih cenderung mewakili laju pertumbuhan industri besar dan sedang. Untuk memperoleh gambaran yang lebih baik  tentang laju pertumbuhan sektor industri, maka mulai tahun  anggaran 1982/83 enam bulan sekali secara terus menerus akan diadakan survai industri kecil. Dengan demikian maka di samping laju pertumbuhan industri besar dan sedang, juga diperoleh  gambaran tentang laju pertumbuhan industri kecil.

Hasil survai industri besar dan sedang sampai dengan tahun 1980 telah dapat diterbitkan pada akhir tahun anggaran 1981/82. Data tahun 1980 juga sudah dipindahkan ke dalam komputer, se­hingga dengan ini data perusahaan industri besar dan sedang  yang sudah dipindahkan ke dalam komputer adalah dari tahun 1975 sampai dengan tahun 1980.

Pada waktu ini sedang dilaksanakan survai industri untuk memperoleh data tahun 1981. Melalui kerja sama antara Biro Pusat Statistik dan Pusat Pengembangan Tehnologi Mineral (PPTM) Departemen Pertambangan dan Energi sedang disiapkan penelitian lebih mendalam tentang jenis bahan baku perusahaan industri   yang berasal dari bahan galian.

Kegiatan baru yang dimulai pada tahun 1981/82 adalah survai investasi untuk perusahaan industri. Survai ini merupakan kegi­atan pendahuluan dari suatu rangkaian survai investasi yang  akan dilaksanakan pada tahun 1982/83.

Survai industri triwulanan sudah dapat menghasilkan indeks produksi sampai triwulan ke IV tahun 1981, sehingga laju per­tumbuhan sektor industri untuk tahun 1981 sudah dapat diperki ­rakan.

XVII/51

8) Statistik Konstruksi

Dengan telah selesainya pengolahan Sensus Konstruksi 1977, maka hasilnya telah digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki dan menyusun statistik konstruksi yang lebih lengkap dan teliti. Statistik konstruksi yang sedang dikembangkan meliputi statistik bangunan, jembatan/jalan, sarana pengairan, waduk/ dam, lapangan terbang, instalasi listrik, dan beberapa kon­struksi lainnya. Dalam tahap pertama pada tahun 1982/83 akan dikumpulkan statistik bangunan melalui survai konstruksi ter­hadap perusahaan konstruksi yang ada di seluruh Indonesia.

Survai uji coba (pilot survey) dilakukan di DKI Jakarta, mencakup 100 perusahaan konstruksi yang cukup besar potensinya, dan telah dapat diselesaikan pada bulan Desember 1981. Dari hasil survai tersebut sedang disusun angka indeks pemakaian bahan. Dengan melihat arah perkembangan angka indeks tersebut dapat diketahui perkembangan perusahaan konatruksi dan kegiatan konstruksi.

Pada tahun 1982 survai konstruksi tersebut dilanjutkan di enam propinsi potensial, ialah Sumatera Utara, DKI Jakarta,Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Survai ini akan mencakup kurang lebih 65 persen dari potensi perusaha­an konstruksi yang ada di seluruh Indonesia. Pada kesempatan lain survai ini akan dilanjutkan di propinsi potensial lainnya.

Di samping mengadakan survai-survai ini akan dikumpulkan data sekunder sektor konstruksi yang merupakan hasil sampingan administrasi. Beberapa data dapat dikumpulkan dari laporan pro­yek B.1 (Kepres 14 A), izin mendirikan bangunan (IMB) dari PU, Perumnas/Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum.

9) Statistik Pertambangan

Data statistik pertambangan dikumpulkan a. sebagai data se­kunder dari Departemen Pertambangan dan Energi, b. melalui Sur­vai Bahan Galian Untuk Industri, dan c. melalui Survai Pertam­bangan Besar.

Data sekunder setiap bulan secara teratur dikumpulkan dan diterbitkan dalam Indikator Ekonomi. Dari Survai Bahan Galian Untuk Industri telah diperoleh data tentang jumlah perusahaan tambang, tenaga kerja, upah dan gaji, produksi, penggunaan bahan bakar, struktur biaya, dan pembentukan modal dalam bahan

XVII/52

galian golongan C. Survai ini telah dilakukan di lima belas propinsi di Indonesia, dan hasilnya telah diterbitkan dalam bentuk publikasi. Pada saat ini sedang dilanjutkan survai di daerah Tingkat I Riau, Jambi, dan Bengkulu, dan dalam waktu dekat akan dilakukan survai yang sama di beberapa propinsi lainnya. Survai ini merupakan kerjasama antara Pusat Pengem­bangan Tehnologi Mineral (PPTM) Departemen Pertambangan dan Energi dengan Biro Pusat Statistik, dan telah dimulai pada  tahun 1978. Dalam program pembaharuan daftar alamat perusahaan tambang kecil telah dilakukan pendaftaran ulang di daerah-dae- rah Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumate­ ra Utara, dan Sumatera Barat.

Survai Pertambangan Besar akan dilakukan pada tahun 1982 untuk keperluan penyusunan pendapatan nasional dan tabel input­output, dan akan meliputi 100 buah perusahaan pertambangan besar. Data yang dikumpulkan dalam survai ini ialah tentang jumlah perusahaan, tenaga kerja, upah dan gaji, produksi, struktur biaya, peralatan yang dipakai, pembentukan modal, dan biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan.

10) Statistik Listrik, Gas, dan Air Minum

Dalam Repelita III, di samping melanjutkan apa yang telah dikerjakan selama Repelita II, juga ditempuh beberapa cara lain untuk mendapatkan data yang lengkap dan cepat dalam bidang lis­trik, gas, dan air minum, di antaranya ialah dengan diadakan kerjasama antara kantor pusat perusahaan listrik, gas, dan air minum, khususnya Perusahaan Listrik Negara, Perusahaan Gas, Pe­rusahaan Air Minum Daerah, dan Biro Pusat Statistik, dengan me­libatkan Kantor-kantor Statistik di propinsi-propinsi. Data  yang dikumpulkan meliputi jumlah perusahaan, tenaga kerja, upah dan gaji, produksi, pemakaian bahan bakar dan bahan baku, pem­bentukan modal, dan struktur biaya.

Pada bulan Oktober 1981 telah dilakukan survai di dua kabu­paten di Sumatera Selatan dan dua kabupaten di Jawa Timur untuk mengetahui pengaruh daripada listrik masuk desa terhadap keada­ an sosial ekonomi penduduk di pedesaan. Survai ini baru merupa­kan tahap penjajagan, dan akan dilakukan pula di Jawa Tengah pada tahun 1982.

Untuk dapat membuat ramalan tentang konsumsi dan produksi tenaga listrik pada masa mendatang, dikembangkan sistem infor­masi kelistrikan nasional yang terdiri dari berbagai instansi. Pada saat ini sedang dilakukan survai untuk mendapatkan gambar-

XVII/53

an tentang pemakaian bahan bakar sebagai energi pemanas di 9 kota terpenting, yang merupakan kerjasama antara Biro Pusat Statistik dan PN Gas Pusat.

11) Statistik Keuangan dan Harga-harga

Yang tercakup dalam kegiatan Statistik Keuangan dan Harga­harga adalah i) Statistik Harga Konsumen, ii) Statistik Harga Perdagangan Besar, iii) Statistik Harga Produsen, dan iv) Sta­tistik Keuangan. Data statistik ini dikumpulkan, diolah, dan disajikan secara berkala, ialah secara mingguan, bulanan, dan tahunan, dan merupakan bahan dasar bagi penyusunan indikator ekonomi. Indikator ini diperlukan sebagai landasan bagi penyu­sunan dan penilaian kebijaksanaan pemerintah dalam usaha peme­rataan pembangunan dan hasil-hasilnya, khususnya yang menyang­kut perkembangan daya beli masyarakat di daerah kota dan daerah pedesaan, perkembangan pendapatan dana pengeluaran Pemerintah, dan penyusunan dan penilaian kebijaksaan dibidang moneter.

(i) Statistik Harga Konsumen

Kegiatan ini menghasilkan statistik harga dan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang disajikan secara bulanan. Hasilnya dapat dipakai untuk berbagai tujuan, antara lain sebagai indikator laju inflasi, dan sebagai dasar untuk menyesuaikan upah buruh. Karena Indeks Harga Konsumen disajikan hanya sebulan sekali, ialah pada setiap akhir bulan, maka untuk mendapatkan indikator secara garis besar dan cepat bagi perkembangan harga-harga, di­susun pula statistik harga dan indeks harga 9 bahan pokok se- cara mingguan.

Sebagai dasar penyusunan indeks harga konsumen dan indeks harga 9 bahan pokok yang baik, dikumpulkan dua macam informasi secara berkala, ialah informasi tentang pola konsumsi penduduk, dan informasi tentang harga konsumen. Yang pertama dikumpulkan lewat Survai Biaya Hidup 5 atau 10 tahun sekali, sedang yang kedua datanya dikumpulkan secara mingguan, bulanan, atau triwu­lanan. Pelaksanaan pekerjaan ini memerlukan tenaga-tenaga yang dapat diandalkan, baik dalam pengiriman dokumen, maupun dalam pengolahan di pusat.

Diagram timbangan untuk penghitungan kedua indeks tersebut telah dikumpulkan lewat Survai Biaya Hidup yang dilaksanakan pada tahun 1977/78 di 17 kota besar di Indonesia. Harga-harga yang dikumpulkan dan indeks yang disusun mencakup 150 jenis ba­rang. Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan tahun dasar 1977/78  ini telah dipakai secara resmi sejak tanggal 1 April 1979, dan

XVII/54

meliputi IHK masing-masing 17 kota serta indeks gabungan dari   17 kota. Pada waktu itu IHK dapat disajikan tepat pada waktunya berkat adanya kerjasama antara Biro Pusat Statistik dengan Kan­wil Perdagangan dan Dolog dalam pengiriman dokumen ke Pusat, dengan menggunakan telex yang sudah mereka miliki.

Sejak tahun 1979/80 dengan telah dipasangnya pesawat telex pada Kantor-kantor Statistik di 16 kota, maka pengiriman doku- men harga ke Pusat berjalan lebih lancar. Dalam rangka pengem­bangan IHK, sejak tahun 1980, atas kerjasama antara Biro Pusat Statistik dan Bank Indonesia diadakan pengumpulan data dan penghitungan IHK di 22 kota lainnya dengan tahun dasar 1978/79. Dengan demikian, maka telah ada IHK dari 39 kota, ialah 26 ibu kota propinsi dan 13 kota lainnya.

Penyempurnaan-penyempurnaan terus dilakukan, baik dalam hal kemampuan tenaga di lapangan, maupun dalam tata cara penghitu­ngan indeksnya. Untuk itu pada tahun 1979/80 diadakan latihan petugas lapangan dan berbagai survai tambahan, antara lain, Survai Tarip Sewa Rumah, Tarip Pembantu Rumah Tangga, dan Uang Sekolah di 26 ibu kota propinsi, dan Survai Pembelanjaan di DKI

Jakarta.

Hasil kegiatan statistik harga konsumen ini secara teratur diterbitkan dalam bentuk publikasi berupa: 1) Indeks Harga Kon­sumen dan Analisa Indeks Harga Konsumen, yang disajikan secara bulanan, 2) Harga dan Indeks 9 bahan pokok, yang disajikan se­cara mingguan, 3) Hasil lengkap Survai Biaya Hidup, 4) Data bu­lanan yang disajikan lewat Indikator Ekonomi dan Buletin Ring­kas.

(ii) Statistik Harga Perdagangan Besar

Pencatatan Statistik harga perdagangan besar dilakukan an­tara tanggal 15 dan 20 setiap bulan. Statistik ini mencakup harga perdagangan besar di sektor pertanian, industri, pertam­bangan/penggalian, ekspor dan impor di semua ibu kota propinsi dan beberapa kotamadya dan kota kabupaten lainnya. Gunanya an­tara lain ialah: 1) sebagai dasar untuk merumuskan kebijak­sanaan dalam bidang harga-harga, 2) sebagai deflator dalam penghitungan pendapatan nasional dan pendapatan regional, dan 3) sebagai indikator dalam analisa pasar dan analisa moneter.

Sejak tahun terakhir Repelita II diadakan peningkatan dalam sistem pengumpulan data harga perdagangan besar berupa penyem­purnaan daftar isian yang digunakan dan penelitian kembali kemantapan sumber data (responden) di masing-masing kota yang

XVII/55

bersangkutan. Yang menjadi sumber data ialah pedagang besar pertama yang pada umumnya berbentuk badan hukum seperti PT,CV, NV, FIRMA, PNP/PTP, asosiasi dagang, termasuk instansi pemerin­tah, perusahaan negara, maupun koperasi. Pada tahun 1981/82 di­adakan penghitungan diagram timbangan bagi Indeks Harga Perda­gangan Besar untuk merubah tahun dasar dari tahun 1971 ke tahun 1975. Dalam penggantian tahun dasar ini sejumlah batang yang tercakup dalam indeks bertambah dari 220 menjadi 241 macam. Indeks harga yang disusun berdasarkan diagram timbangan baru  ini telah selesai dihitung dan pada tahun 1981/82 angkanya  sudah diterbitkan.

Hasil pengolahan data yang dikumpulkan setiap bulan telah disajikan dalam bentuk data harga dan Indeks harga Perdagangan Besar dalam publikasi-publikasi 1)Harga Perdagangan Besar bebe­rapa Propinsi di Indonesia, 1971-1980, 2) Harga Perdagangan Besar beberapa Propinsi di Indonesia, 1976-1981, 3) Angka  Indeks Harga Perdagangan Besar Bahan Bangunan, 1971-1978, 4) Angka Indeks Perdagangan Bahan Konstruksi di Indonesia, 1975­1981, 5) Angka Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia, 1971­1978, 6) Angka Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia (1975 = 100), 7) Data harga dan indeks harga yang disajikan secara bulanan lewat Indikator Ekonomi dan Buletin Ringkas.

(iii) Statistik Harga Produsen

Statistik Harga Produsen mencakup harga yang diterima peta­ni, ialah harga produk pertanian,dan harga yang dibayar petani untuk barang dan jasa keperluan produksi pertanian maupun ba- rang dan jasa keperluan konsumsi rumah tangga. Statistik ini digunakan antara lain, 1) untuk menilai perkembangan harga yang terjadi di daerah pedesaan, 2) untuk menghitung pendapatan na­sional dan pendapatan regional, khususnya dari sektor pertani­ an, 3) untuk menghitung nilai tukar petani yang dipakai sebagai indikator bagi perkembangan daya beli petani. Nilai tukar peta­ ni diperoleh dengan membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani.

Harga-harga untuk penyusunan statistik ini dikumpulkan di daerah pedesaan di semua propinsi di Indonesia kecuali DKI Ja­karta, Irian Jaya dan Timor Timur, dan pencatatannya dilakukan pada tanggal 15 setiap bulan. Daftar isian yang dipakai untuk mencatat data harga dan pengambilan sampel terhadap desa terpi­lih yang tersebar di seluruh Indonesia telah mengalami penyem­purnaan pada tahun 1979/80. Pengetrapan daftar isian dan sampel baru ini dimulai pada bulan Januari 1980 setelah terlebih da- hulu diadakan latihan yang intensif bagi petugas lapangan.  Ber­

XVII/56

samaan dengan itu telah pula dilakukan penelitian dan penyu­sunan diagram timbangan yang akan dipakai untuk menyusun indeks harga yang diterima petani, indeks harga yang dibayar petani, maupun indeks nilai tukar.

Untuk dapat menyajikan data dengan lebih cepat dan dengan ruang lingkup yang lebih luas, maka pada tahun 1980/81 disusun sistem pengolahan dengan komputer. Kegiatan ini menghasilkan data harga di daerah pedesaan beserta ketiga indeks harga ter­sebut di atas, dan indeks harga 9 bahan pokok di daerah pedesa­an yang disajikan secara berkala dalam bentuk publikasi sebagai berikut: 1) Secara semesteran diterbitkan Statistik Harga yang diterima petani dan Harga yang dibayar petani untuk biaya pro­duksi pertanian dan kebutuhan rumah tangga tani, 2) secara bu­lanan diterbitkan dalam Indikator Ekonomi statistik: Rata-rata harga produsen padi di setiap propinsi di seluruh Indonesia; Rata-rata harga eceran di pasar pedesaan Jawa-Madura; Harga 9 bahan pokok di pasar pedesaan Jawa dan Madura, 3) lima indeks diterbitkan secara bulanan dalam Indikator Ekonomi maupun dalam Buletin Ringkas, ialah: Indeks Harga Produsen di Jawa dan Madu­ra, Indeks Harga Konsumen Pedesaan di Jawa dan Madura, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal di Jawa dan Madura, Indeks Nilai Tukar Petani di Jawa dan Madura: Indeks Harga 9 bahan pokok di Pedesaan Jawa dan Madura, dan 4) satu indeks lagi, ialah Indeks Harga 9 bahan pokok di Pedesaan Luar Jawa diterbitkan secara bulanan dalam Buletin Ringkas.

(iv)Statistik Keuangan

Pengumpulan data statistik keuangan telah dirintis dalam Repelita I dan sejak itu secara terus-menerus mengalami per­baikan dan penyempurnaan baik dalam daftar pertanyaan yang di­gunakan, metode, serta jumlah sampel yang dipakai. Statistik ini meliputi statistik keuangan negara, perbankan dan lembaga­lembaga keuangan lainnya. Data keuangan negara mencakup keua­ngan Pemerintah Daerah Tingkat I, Pemerintah Daerah Tingkat II, dan Pemerintah Tingkat Desa, dan berisi realisasi penerimaan rutin dan pembangunan, serta realisasi pengeluaran rutin dan pembangunan setiap tahun anggaran. Data ini diperlukan dalam penghitungan pendapatan regional, dan setelah digabung dengan data keuangan Pemerintah Pusat merupakan komponen besar dalam penghitungan pendapatan nasional, dan penyusunan tabel input – output. Untuk Keuangan Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II pengumpulan datanya dilakukan secara lengkap, sedang untuk merintah Tingkat Desa dengan cara sampel.

Metode sampel ini disempurnakan pada tahun 1978/79, dari

XVII/57

pengambilan sampel secara tetap dua desa tiap kecamatan, menja­di secara proporsional, sebanding dengan jumlah desa yang ada

di kecamatan. Pada tahun 1979/80 jumlah sampel untuk desa di­

tingkatkan dari sekitar 4.000 desa menjadi 6.000 desa, dan sejak tahun 1980/81 diambil sampel 10 persen dari desa yang ada secara acak beraturan sebanyak 6.700 desa, sehinggga hasilnya diharapkan akan dapat mewakili keadaan yang sebenarnya.

Hasil pengumpulan dan pengolahan data statistik keuangan negara selama empat tahun terakhir ini telah disajikan dalam bentuk publikasi ialah : 1) Statistik Keuangan 1977/78, 1978/­ 79, 1979/80, dan 1980/81; 2) Statistik Keuangan Pemerintah Dae­rah Tingkat I 1976/77, 1977/78, 1978/79, dan 1979/80; 3) Sta­tistik Keuangan Pemerintah Daerah Tingkat 11 1976/77, 1977/78, 1978/79, dan 1979/80; 4) Statistik Keuangan Desa 1976/77, 1977/ 1978, 1978/79 dan 1979/80; dan 5) Data bulanan yang disajikan lewat Indikator Ekonomi.

12) Statiatik Perdagangan Luar Negeri

Statistik Perdagangan Luar Negeri meliputi Statistik Impor, Statistik Ekspor, dan Statistik Perkapalan, dan disusun berda­sarkan dokumen-dokumen dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Bank Devisa, dan Badan Penguasa Pelabuhan yang dikirim dari 250 buah pelabuhan terbesar di seluruh Indonesia. Masalah kelamba- tan penerimaan dokumen telah dapat diatasi secara berangsur-

angsur dengan perbaikan prosedur pengiriman dokumen.

Untuk melayani kebutuhan akan data statistik perdagangan luar negeri yang lebih cepat, tepat, dan terperinci, telah di­tempuh berbagai kebijaksanaan. Ruang lingkup telah dapat diper­luas, dan prosedur pengiriman dokumen dari pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia telah dapat diperbaiki berkat kerja sama yang erat antar instansi, sehingga tengggang waktu antara tahun atau bulan laporan statistik dan terbitnya publikasi dapat  makin diperpendek. Dengan kerjasama antar instansi ini telah dapat dihasilkan beberapa publikasi yang mencakup data perda­gangan Indonesia – ASEAN, Indonesia – MEE, dan berbagai data perdagangan komoditi pertanian, perkebunan, dan kehutanan, yang memegang peranan yang cukup penting setelah minyak bumi.

Dengan dikeluarkannya buku Tarip Bea Masuk yang disusun berdasarkan Customs Cooperation Council Nomenclature (CCCN) pada tahun 1980/81, maka sejak bulan Januari 1981 dalam pengo­lahan data statistik perdagangan luar negeri telah diadakan pe­nyesuaian jenis klasifikasi dari Brussel Tariff Nomenclature (BTN) menjadi CCCN. CCCN menggunakan terminologi yang berlaku

XVII/58

secara international, sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam perdagangan interna­sional, dan dengan demikian dapat dipastikan tarip pos yang pa­ling sesuai bagi masing-masing barang, dan dapat dijamin kese­ragaman klasifikasi secara internasional dalam tarip negara­negara yang menggunakannya. Dengan berlakunya CCCN, maka di  Biro Pusat Statistik telah diadakan persesuaian satu lawan satu (one to one correspondence) antara CCCN dan SITC Revisi ke-2 (Revised-2) yang merupakan klasifikasi yang lebih terperinci dari SITC Revisi (SITC Reviced).

Di samping statistik ekspor dan impor, mulai tahun 1980/81 kompilasi data statistik perdagangan luar negeri telah diperlu­as dengan kompilasi data perkapalan. Hasil kompilasi statistik perkapalan ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar untuk pe­ngambilan keputusan dalam kebijaksanaan nasional di bidang per­kapalan, pengembangan angkutan laut dan dalam mengatasi masa­ lah yang timbul di bidang pengadaan dan pemakaian jasa angkutan laut.

Sampai dengan tahun ketiga Repelita III telah diterbitkan berbagai publikasi, baik secara bulanan, semesteran, maupun ta­hunan, berupa: 1) Statistik Ekspor tahun 1974 sampai dengan ta­hun 1980, masing-masing menurut jenis barang, negeri tujuan, dan pelabuhan ekspor; 2) Statistik Ekspor bulanan sampai dengan tahun 1981; 3) Statistik Impor tahun 1974 sampai dengan tahun 1980, masing-masing menurut jenis barang, negeri asal, dan pe­labuhan tujuan. Publikasi statistik ekspor dan statistik impor tahun 1981 pada waktu ini sedang dalam persiapan percetakan, dan statistik perkapalan 1980 dan 1981 masih dalam bentuk “print out” komputer.

13) Statistik Niaga dan Jasa

Yang dimaksud dengan statistik niaga dan jasa adalah sta­tistik perdagangan penyaluran. Statistik ini diperlukan dalam perencanaan bidang perdagangan dalam negeri dan jasa-jasa per­dagangan. Yang dikumpulkan adalah keterangan struktural dan ke­giatan operasi perusahaan perdagangan dan jasa-jasa perdagangan.

Dalam tahun 1980/81 telah diadakan survai perdagangan pe­nyaluran di 9 propinsi, ialah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan, dengan jumlah sampel seluruhnya kurang lebih 2.000 unit.

Tujuan survai ini adalah untuk mendapatkan keterangan ten­

XVII/59

tang struktur input-output dan rasio nilai tambah di sektor perdagangan secara nasional, yang akan dipakai untuk menyusun penghitungan pendapatan nasional dan Tabel Input-Output Indone­sia. Pengolahan dan penyajian hasil survai ini telah dapat di­laksanakan pada akhir triwulan pertama tahun 1982/83.

14) Statistik Perhubungan

Statistik Perhubungan meliputi statistik angkutan darat, angkutan laut, angkutan udara, dan statistik komunikasi. Sehu­bungan dengan usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, maka kebutuhan akan statistik perhubungan makin meningkat dan oleh karenanya diadakan pengembangan dan penyempurnaan, baik dalam metodologi, sistem, pengumpulan, pengolahan maupun pe­nyajian datanya. Untuk keperluan tersebut telah diadakan kerja­sama antara Biro Pusat Statistik dan berbagai instansi di ling­kungan Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat/Direktorat Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan inatansi-instansi di lingkungan Departemen Keuangan, antara lain Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Dalam statistik angkutan darat, pada tahun 1976 telah dila­kukan survai struktur biaya truk dan bus umum, dan hasilnya di­gunakan antara lain untuk memperbaiki perkiraan/penghitungan pendapatan nasional sektor angkutan darat. Dalam tahun 1982 ini akan diadakan survai semacam itu dengan daerah survai yang  lebih luas. Hasil kompilasi statistik di bidang ini yang telah diterbitkan sampai dengan keadaan tahun 1980 adalah Statistik Kendaraan Bermotor dan Panjang Jalan tahun 1980, Direktorat Perusaha- an Bus dan Truk dan beberapa publikasi lain.

Pengolahan statistik antar pulau hingga kini masih terus menghadapi masalah keterlambatan datangnya dokumen-dokumen yang dikirim oleh Inspektorat-inspektorat Bea dan Cukai yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun demikian telah berhasil diterbitkan publikasi Statistik Antar Pulau tentang keadaan tahun 1979 dan tahun 1980. Di samping itu telah diterbitkan pula publikasi data angkutan laut lainnya sampai dengan keadaan tahun 1980, dan secara teratur disajikan data bulanan keadaan tahun 1981 dalam lembaran-lembaran Berita Ringkas maupun dalam publikasi Indikator Ekonomi.

Dalam tahun 1981 telah berhasil disusun publikasi tahunan  di bidang angkutan udara sampai keadaan tahun 1980, yang memuat data tentang jumlah pesawat terbang sipil menurut jenis dan ukuran ; lalu lintas angkutan penumpang, barang, bagasi dan pos

XVII/60

di semua pelabuhan udara di Indonesia. Di samping itu secara teratur disajikan pula publikasi data bulanan keadaan tahun 1981 dalam lembaran Berita Ringkas dan Indikator Ekonomi.

Dalam tahun yang sama telah dilakukan survai angkutan udara terhadap perusahaan-perusahaan penerbangan nasional tentang ke­adaan tahun 1980. Data yang dikumpulkan ialah keterangan umum perusahaan, indikator produksi, berbagai pengeluaran dan pene­rimaan perusahaan, dan pembentukan modal perusahaan. Sebagai hasil survai tahun 1981 tersebut telah berhasil diterbitkan publikasi Survai Angkutan Udara keadaan tahun 1980. Atas dasar pengalaman survai tersebut diadakan penyempurnaan daftar isian, perbaikan sistem pengumpulan dan pengolahan, sehingga survai yang akan dilakukan dalam tahun 1982 dan tahun-tahun berikutnya dapat menghasilkan data angkutan udara yang lebih mantap.

Sama halnya dengan berbagai jenis statistik angkutan, maka sistem pengumpulan, pengolahan serta penyajian data statistik komunikasi masih terus ditingkatkan. Publikasi tentang statis­tik komunikasi tahun 1980 dan tahun-tahun sebelumnya memuat da­ta pokok dalam lalu lintas pos, jumlah pesawat radio, televisi, telepon, telegram, telex dan berbagai jenis data komunikasi lainnya di tiap propinsi. Di samping publikasi tahunan disaji­kan pula data bulanan dalam publikasi Indikator Ekonomi, antara lain lalu lintas pos di beberapa kota besar menurut tujuan pe­ngiriman.

15) Statistik Pariwisata

Pengumpulan data pokok tentang pariwisata dilakukan oleh Biro Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Pariwisata. Dalam tahun 1980 diadakan inventarisasi akomodasi yang mempunyai 10 kamar atau lebih di 26 propinsi di Indonesia, dan hasilnya telah digunakan sebagai dasar bagi pelaksanaan survai tingkat penghunian kamar hotel. Di samping itu, dalam rangka peningkat­an promosi dan produk pariwisata, telah dilakukan kompilasi da­ta tentang kedatangan wisatawan asing melalui pelabuhan-pelabu­han utama berdasarkan hasil pengolahan kartu E/D (Enbarkasi/­Disembarkasi) dari Direktorat Jenderal Imigrasi selama tahun 1980 dan 1981. Sebagai hasil pengolahan survai di bidang pari­wisata telah diterbitkan beberapa publikasi, antara lain: 1) Tingkat Penghunian Kamar Hotel tahun 1976 sampai dengan tahun 1980; 2) Kunjungan Wisatawan Asing ke Indonesia tahun 1978 sampai dengan tahun 1980; dan 3) publikasi-publikasi lain yang disajikan dalam lembaran Berita Ringkas dan Indikator Ekonomi, yang memuat data bulanan keadaan tahun 1980 dan 1981.

XVII/61

Pada tahun 1981/82 telah diadakan survai perjalanan melalui pendekatan rumah tangga untuk memperoleh data tentang jumlah penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan, baik ke tempat wisata maupun bukan tempat wisata, dalam enam bulan terakhir tahun 1981. Di samping itu pada tahun 1981 telah dilakukan inventarisasi akomodasi dan survai tingkat penghunian kamar hotel, yang akan dilanjutkan pada tahun 1982/83.

b. Survai Sosial Ekonomi Nasional

Tujuan utama pembangunan kita adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara merata. Se­hubungan dengan itu diperlukan data statistik yang berkaitan dengan taraf hidup masyarakat untuk mengkaji hasil yang dica­pai dan mengadakan penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Salah satu cara pengumpulan data untuk keperluan ini adalah dengan mengadakan Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Survai ini dilakukan setiap tahun dengan segi. penelitian (topik) yang ber­beda dan disesuaikan dengan keperluan.

Kegiatan dalam tahun 1981/82 dititikberatkan pada pengum­pulan data tentang angkatan kerja, kriminalitas, industri kecil/kerajinan rumah tangga, dan konsumsi makanan jadi. Pelak­sanaan dan persiapan survai, termasuk pengambilan sampel, pe­nyusunan daftar isian, buku pedoman untuk pelaksanaan lapa­ ngan latihan instruktur bagi instruktur diadakan di Pusat, se­dang pada tingkat daerah dilaksanakan latihan petugas lapangan, pencacahan yang mencakup sebanyak 60.000 rumah tangga. Pengo­lahan hasil survai ini baru akan dilaksanakan tahun depan, sedang dalam tahun ini dilakukan pengolahan hasil survai tahun sebelumnya. Sebagian dari hasil pengolahan tersebut sudah di­terbitkan dalam bentuk publikasi, sedang sebagian lain masih dalam bentuk “print out” komputer. Data yang disajikan antara lain mengenai konsumsi atau pengeluaran rumah tangga, keadaan sosial budaya dan kesehatan. Dari survai ini telah pula diana­lisa konsumsi pangan, distribusi pendapatan dan sebagainya.

Publikasi yang telah dihasilkan dalam tahun 1981 adalah antara lain : 1. Keadaan Sosial Budaya Penduduk 1978; 2. Keada­ an Kesehatan Anak dan Ibu 1978; 3. Konsumsi Penduduk di Jawa, Luar Jawa, Indonesia 1979; 4. Konsumsi Penduduk di Jawa, Luar Jawa, Indonesia 1980.

c. Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik Pendapatan Nasio­ nal, Pendapatan Regional, dan Tabel Input-Output

XVII/62

Penyempurnaan angka-angka pendapatan nasional meliputi per­baikan angka dasar yang masih bersifat sementara, pelengkapan data yang diperlukan, perbaikan dan penyempurnaan ruang ling­kup, definisi dan metode estimasi. Statistik pendapatan regio­nal yang dihitung dan disusun oleh masing-masing Daerah Tingkat I masih diteliti, diperbandingkan dan dianalisa, terutama da­ lam hal keseragaman penggunaan konsep dan metodologi.

Dalam rangka menuju kepada suatu sistem Neraca Nasional yang lengkap dan terpadu, maka pada tahun 1981/82 telah dilaku­kan tahap penyusunan Tabel Input-Output Indonesia 1980, Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia (Social Accounting Matrix), Ne­raca Produksi dan Studi Penyusunan Indikator Ekonomi Sektoral Triwulanan. Hasil penyusunan ini akan berguna sebagai bahan analisa lebih lanjut khususnya analisa antar sektor kegiatan ekonomi, antar kelompok sosial ekonomi masyarakat dan analisa lain.

Dalam penyusunan dan penyajian jenis statistik yang berhu­bungan dengan Neraca Nasional diusahakan untuk mengikuti Sistem Neraca Nasional (System of National Accounts) yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa, dengan maksud agar terdapat keseragaman dengan negara-negara lain. Dengan penggunaan sistem tersebut keperluan akan statistik yang berhubungan dengan aspek aspek pembangunan seperti pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan sebagainya tetap dapat dipenuhi.

Dalam penyusunan statistik-statistik tersebut diadakan ker­ja sama antara berbagai instansi pemerintah, ialah antara Biro Pusat Statistik, Bappenas, Departemen-departemen tehnis, Lek­nas-LIPI, Universitas Indonesia, Bank Indonesia dan instansi­instansi lain sejauh mungkin, agar data yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna. Khususnya untuk statistik pen­dapatan regional diadakan kerjasama antara Biro Pusat Statis­tik, Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bappeda, Universitas-uni­versitas dan Kelompok Pendapatan Regional Indonesia.

d. Sensus Penduduk 1980 dan Persiapan Sensus Pertanian 1983

Pengumpulan data Sensus Penduduk 1980 diadakan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa pencacahan secara lengkap dan tahap kedua berupa pencacahan secara sampel yang meliputi kurang le­bih lima persen dari seluruh penduduk. Dalam tahun anggaran 1981/82 kegiatan telah sampai kepada tahap pengolahan. Untuk mempercepat pengajuan hasilnya telah dipilih 10 persen dari 5 persen sampel untuk diolah lebih dahulu. Data yang diha-

XVII/63

silkan dari pengolahan yang didasarkan pada 0,5 persen sampel tersebut tidak selalu sama dengan hasil pencacahan lengkap, ka­rena mungkin mengandung kesalahan sampling dan non-sampling. Namun demikian perbedaannya masih dalam batas-batas toleransi yang dapat diterima.

Hasil pengolahan ini telah diterbitkan dalam bentuk publi­kasi yang terdiri dari seri L2, L3, L4, L5, L6 dan L7. Data yang dicakup di dalamnya adalah tentang penyebaran dan kepadat­an penduduk, laju pertumbuhan penduduk, susunan umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan penduduk, kemampuan berbahasa Indo­nesia, kesehatan penduduk, perpindahan penduduk, fertilitas dan keluarga berencana, angkatan kerja dan data tentang rumah tangga.

Di samping pengolahan Sensus Penduduk 1980, pada tahun ang­garan 1981/82 juga sudah dimulai kegiatan persiapan Sensus Per­tanian 1983. Kegiatan ini meliputi penelitian metodologi, per­cobaan metode, perencanaan daftar isian, konsep definisi, orga­nisasi lapangan, dan beberapa kegiatan lainnya yang memerlukan waktu sekitar satu setengah tahun, dan oleh karenanya masih akan diteruskan dalam tahun anggaran 1982/83.

e. Statistik Pembangunan Daerah Pedesaan Yang Terpadu

Pembangunan daerah pedesaan yang terpadu merupakan usaha yang banyak seginya dan yang memerlukan pengintegrasian berba­gai program, baik yang menyangkut peningkatan sektor pertanian dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan itu maupun yang menyangkut industri pedesaan dan kegiatan lainnya di luar per­tanian, sektor pendidikan, kesempatan kerja, kesehatan dan perbaikan gizi penduduk pedesaan.

Dalam perumusan program pembangunan desa tersebut ada bebe­rapa langkah yang kait-mengkait. Pertama dikumpulkan data yang terperinci tentang sumber daya yang tersedia dan dicari kemung­kinan untuk melengkapinya di mana perlu. Kedua dipelajari ke­butuhan penduduk, dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam perikehidupan dan usaha mereka. Langkah ketiga adalah penyusu­nan rencana berbagai proyek yang satu sama lain saling menun­jang dan yang diharapkan dapat mencapai sasaran menyeluruh. Langkah terakhir adalah menentukan sasaran yang hendak dicapai dalam masing-masing tahapan waktu oleh masing-masing proyek dan program. Statistik pembangunan daerah pedesaan yang terpadu diharapkan dapat menyediakan data selengkap-lengkapnya guna menunjang keempat tahap perumusan program tersebut.

XVII/64

f. Peningkatan Ketrampilan Tenaga Perstatistikan

Dengan, makin meningkatnya pelaksanaan pembangunan statistik dan metode pengumpulannya, makin besar pula kebutuhan akan tenaga-tenaga statistik yang trampil dan teliti. Sehubungan de­ngan itu diadakan pendidikan dan latihan yang berorientasikan pada penyediaan tenaga yang betul-betul berdaya guna dan berha­sil guna.

Kecuali berbagai kursus statistik dasar, statistik praktis, dan kursus non-statistik yang dilaksanakan di Pusat maka di daerah-daerah juga diselengggarakan latihan-latihan bagi para petugas lapangan. Di samping itu juga dikirim pegawai-pegawai Biro Pusat Statistik untuk mengikuti program sarjana di Univer­sitas Pajajaran Bandung dan Institut Pertanian Bogor.

Untuk menanggulangi kebutuhan akan tenaga pengajar bagi berbagai kursus statistik, terutama di daerah, telah diseleng­garakan Kuraus bagi Pengajar (Training for Trainers) sebagai realisasi kerjasama antara Biro Pusat Statistik dan Statistical Institute for Asia and the Pacific Tokyo. Dari penyelenggaraan kursus tersebut diharapkan akan diperoleh tenaga pengajar yang trampil untuk menangani latihan-latihan yang diselengggarakan setiap tahun.

Tujuan daripada kursus-kursus dan latihan-latihan itu ada­lah untuk meningkatkan ketrampilan pegawai dalam bidang tehnik statistik, khususnya bagi para petugas pengumpul, pe-    ngolah, pe­nyaji, serta penganalisa data statistik dan juga untuk mening­katkan ketrampilan pegawai di bidang non-statistik.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: