KEBIJAKAN PEMBANGUNAN YANG MEMIHAK PADA KEMISKINAN

  1. A. PENDAHULUAN

Salah satu problema sosial yang sangat serius adalah kemiskinan, terutama untuk negara berkembang. Di negara berkembang, 40% penduduknya termasuk dalam kaum miskin. Sedangkan untuk daerah perkotaan mayoritas kaum miskin adalah pekerja-pekerja yang tidak terlatih di sektor jasa. Perkiraan akan besarnya kemiskinan didasarkan pada garis kemiskinan berupa tingkat pendapatan yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam membahas masalah ini adalah mengidentifikasi apa yang dimaksud kemiskinan itu dan bagaimana mengukurnya. Konsep yang berbeda akan melahirkan cara pengukuran yang berbeda pula. Setelah itu, dicari faktor-faktor dominan (baik yang bersifat kultural maupun struktural) yang menyebabkan kemiskinan. Langkah berikunya adalah mencari solusi yang relevan untuk memecahkan problem itu (strategi mengentaskan kelompok miskin dari lembah kemiskinan).

Salah satu cara dalam pendekatan terhadap pemberantasan kemiskinan adalah cara pendekatan yang berorientasi pada produktivitas yang bertujuan meningkatkan pendapatan kaum miskin dengan meningkatkan produktivitas mereka dan sekaligus meningkatkan kemampuan memperoleh barang. Upaya penanggulangan kemiskinan sampai saat ini dinilai belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kemiskinan belum berkurang dan isu-isu ketimpangan malah semakin deras mencuat ke permukaan. Sehingga di dapat sejumlah masalah yang antara lain adalah usaha apa sajakah yang dilakukan untuk mensejahterakan penduduk terutama penduduk yang miskin dan program-program atau kebijakan apa saja yang di lakukan untuk pengurangan kemiskinan. Sehingga tujuan dari adanya permasalahan yang ingin dicapai adalah mengetahui usaha yang dilakukan untuk mensejahterakan penduduk terutama yang miskin dan mengetahui program-program atau kebijakan yang di lakukan untuk pengurangan kemiskinan.


  1. B. ISI

Dalam konsep kemiskinan dalam bab ini, dapat dibagi dalam beberapa macam antara lain kemiskinan  absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut dapat diartikan dengan kemiskinan yang sengsara, kemiskinan ini akan dapat menghambat berkembangnya potensi manusia. Kemiskinan absolut ditandai dengan adanya tingkat pendapatan yang tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan kalori yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Sedangkan kemiskinan relatif diartikan dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Kemiskinan relatif di suatu daerah akan sangat berbeda dengan daerah lainnya, karena adanya perbedaan derajat kelayakan hidup pada masyarakat suatu daerah.

Dua  macam perspektif  yang biasa dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan yaitu perspektif kultural (cultural perspektif) dan perspektif struktural atau situasional (situational perspektif). Perspektif kultural mendekati masalah kemiskinan pada tiga tingkat analisis; individual, keluarga dan masyarakat. Sedangkan pada tingkat individual kemiskinan ditandai dengan sifat yang lazim di sebut a strong feeling of marginality atau perasaan keterbatasan yang kuat akan kemiskinan. Pada tingkat keluarga, kemiskinan ditandai dengan jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages . Dan pada tingkat masyarakat, kemiskinan terutama ditunjukkan oleh sikap terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif.

Sedangkan menurut perspektif situasional, masalah kemiskinan dilihat sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern.

Usaha-usaha yang telah dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan ini antara lain dengan pembangunan yang merupakan suatu kegiatan yang akan terus dilakukan oleh suatu negara. Agar pembangunan pertanian dapat memperbaiki nasib petani, diperlukan pemberdayaan sehinga petani dapat menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi subjek utama dalam pembangunan serta modal sosial yang menentukan keberhasilan. Selain itu diharapkan menjadi wirausahawan agribisnis handal, yang target akhirnya adalah menghilangkan kemiskinan, dan sekaligus merubah mindset (pola pikir) petani dari pekerja menjadi pengusaha agribisnis yang kedudukan dan hak-haknya sama dengan pengusaha lainnya seperti pengusaha industri, pabrik, dan lain-lain (Syufri, 2005).

Tujuan utama dari pembanguan merupakan mensejahterakan penduduk terutama yang miskin. Dalam usaha mensejahterakan penduduk terutama yang miskin, terdapat dua model pemberantasan kemiskinan. Pertama, peberantasan kemiskinan yang berorientasi produk. Model ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pendapatan kaum miskin dengan cara menigkatkan produktivitasnya. Tujuan lain adalah meningkatkan kemampuan memperoleh barang-barang milik, dengan harapan akan memperbesar produktivitas mereka. Kedua, pemberantasan kemiskinan berorientasi pengalihan (memberikan barnag-barang yang dibutuhkan orang miskin kepada orang miskin). Model kedua ini memiliki beberapa kelemahan yaitu ketidakefektifan, karena harga barang yang tinggi akan menyebabkan konsumen beralih ke produk lain. Selain itu pemberian bantuan yang terus menerus diluar kemampuan fiskal suatu negara. Kegiatan pemberian barang ini menimbulkan sifat konsumtif sehingga harus dilakukan terus menerus. Kelemahan lain adalah tidak memungkinkannya dilakukan pendekatan yang terdiferensiasi.

Selama proses pembangunan, arah pembagian pendapatan merupakan indikasi keberhasilan pembangunan itu. Bila laju pembangunan lebih cepat dibanding dengan laju pemerataan pendapatan, maka orang miskin dianggap rugi dalam pembangunan itu. Dengan perbedaan kecepatan itu orang miskin akan semakin miskin di tengah kemajuan atau perkembangan yang dihasilkan dari pembangunan. Tahap awal dari pembangunan itu adalah kenaikan pendapatan yang diterima orang miskin. Pada tahap kedua adalah beralihnya penduduk dari berpenghasilan rendah ke penghasilan tinggi.

Program-program pengurangan kemiskinan.

Hal-hal yang berdampak besar pada kemiskinan adalah tanah dan pendidikan. Kemiskinan tebesar terdapat pada keadaan dimana tanah dibagi-bagi ke dalam pemilikan yang kecil-kecil, dan terdapat pemusatan kepemilikann tanah yang mencolok disertai pengolahannya oleh buruh tani atau petani penggarap. Pemusatan pemilikan tanah dengan ada penggunaan tanaga kerja petani, maka pembagian pendapatan lebih rendah. Pemusatan pemilikan tanah dengan kondisi petani kecil dan buruh tani tak memiliki kesempatan untuk kerja, maka pembagian pendapatan tak merata, dan upaya untuk meningkatkan produksi pertanian akan berakibat pada semakin besarnya jarak perbedaan antara petani penggarap atau buruh tani dengan para tuan tanah.

Meluasnya pendidikan dan melek huruf berkaitan dengan lebih besarnya pendapatan yang diperoleh para penerima pendapatan kelompok menengah, tetapi tidak untuk kelompok miskin. Peninngkatan pendidikan akan meningkatkan migrasi ke kota, karena menigkatnya kualitas pemikiran manusia, sehingga menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Bagaimana pembangunan mempengaruhi kaum miskin adalah ditentukan oleh tiga hal yaitu lembaga, pasar, dan produk. Perubahan struktural merubah penyerapan tenaga kerja dan relokasi geografi dan struktural utnuk digunakannya tenaga kerja. Pengkotakan pasaran-pasaran menyebabkan daerah dan sektor kebanyakan tenaga kerja, sedsangkan lainnya kekurangan tenaga kerja. Kebijakan utama untuk membantu penyerapan tanga kerja ke dalam sektor modsern adalah dengan pengembangan yang padat karya, dan meningkatkan kepadatankaryaan produksi.

Jenis kebijakan anti kemiskinan

  1. Pendekatan berorientasi milik (aset)

Banyaknya milik yang dimiliki kaum miskin dapat dinaikkan dengan mendistribusikan milik kepada mereka (melalui perbaikan tata milik atau land reform), dan membangun lembaga-lembaga yang memudahkan mereka mendapat kesempatan untuk mengumpulkan lebih banyak aset.

  1. Strategi yang menimbulkan permintaan

Karena milik yang dimiliki kaum miskin kebanyakan terdiri dari tenaga kerja tidak terampil maka strategi pembangunan yang meningkatkan permintaan absolut maupun relatif akan tenaga kerja tidak terampil, disertai lembaga-Lembaga yang meningkatkan mobilitas tenaga kerja dan dapatnya kaum miskin menjangkau pasaran adalah strategi yang paling menguntungkan kaum miskin.

Dua strategi nampak memberi harapan menuruti harapan garis-garis ini :

  1. Mengandalkan pertumbuhan yang berorientasi pada ekspor di bidang industri pengolahan padat karya.
  2. Mengandalkan industrialisasi yang dipelopori pertanian.

Sektor yang paling padat karya dalam perekonomian adalah pertanian, industri kecil dan beberapa jenis jasa terutama pekerjaan bangunan; tetapi semua itu tidak selalu merupak sektor-sektor berproduktivitas tinggi yang padat karya. Pada umumnya, industri pengolahan yang padat karya merupakan sektor yang relatif berproduktivitas tinggi di negara-negara berkembang.

Strategi-strategi yang menitikberatkan pertumbuhan kesempatan kerja dalam industri pengolahan terutama harus dipusatkan untuk menimbulkan permintaan akan keluaran dari industri yang padat karya. Pemilihan strategi antara strategi bagi industri pengolahan yang padat karya dan strategi pertanian tergantung pada dua faktor :

  1. Besarnya penggadaan kesempatan kerja secara langsung dan tidak langsung yang diakibatkan oleh perluasan industri pengolahan atau pertanian.
  2. Perbandingan antara biaya dan kelayakan untuk memasuki pasaran-pasaran ekspor dengan biaya dan kelayakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Strategi pertumbuhan mengharuskan adanya penyebarluasan pendidikan dan sedikitnya rintangan yang dihadapi kaum miskin untuk dapat memperoleh pekerjaan. Strategi pertanian mengharuskan supaya kondisi-kondisi pemilikan dalam pertanian tidak terlalu merugikan dan bahwa petani kecil dijamin dapat menjangkau sumberdaya pelengkap yang mereka perlukan untuk memperbaiki hasil produksi pertanian.

  1. Kebijakan-kebijakan menaikkan harga

Kebijakan-kebijakan menaikkan harga yang beroperasi melalui pasaran-pasaran faktor terus menaikkan upah-upah kaum miskin. Strategi pertumbuhan padat karya dapat merupakan kebijakan yang menaikkan upah, karena menaikkan permintaan akan tenaga kerja dapat meningkatkan kuantitas tenaga kerja yang dijual atau menaikkan upahnya.

Kebijakan-kebijakan menaikkan harga yang beroperasi melalui pasaran-pasaran komoditi harus menaikkan harga barang-barang yang dihasilkan dengan tenaga kaum miskin. Karena kaum miskin itu kebanyakan berada di pedesaan, kenaikan harga relatif hasil pertanian akan cenderung menguntungkan kaum miskin.

  1. Kebijakan-kebijakan yang meningkatkan produktivitas

Jalan lain untuk meningkatkan harga milik utama yang dipunyai kaum miskin yaitu tenaga mereka adalah meningkatkan produktivitasnya. Hal ini dapat dilakukan dengan :

  1. Menatar mutu tenaga kerja melalui investasi dalam modal kemanusiaan
  2. Meningkatkan jumlah milik-milik pelengkap yang dimiliki kaum miskin.
  3. Memperkenalkan perubahan teknis yang meningkatkan produktivitas.

Investasi modal kemanusiaan, isvestasi langsung untuk kaum miskin itu sebagai upaya sungguh baik sebagai bagian dari usah untuk memberikan kepada kaum miskin itu sekelompok meinimal barang-barang yang diperlukan untuk memungkinkan mereka menjangkau kehidupan yang cukup.

Investasi dalam sumberdaya pelengkap yang memperbaiki hasil tanah. Sebab-sebab utama kemiskinan pedesaan dan adanya orang-orang miskin di pedesaan adalah sedikitnya luas tanah yang mereka kerjakan dengan tenaganya sendiri disertai sedikitnya permintaan akan tenaga kerja upahan dari para pengusaha tani besar. Perbaikan-perbaikan produktivitas yang paling efektif untuk meningkatkan pendapatan kaum miskin pedesaan adalah investasi-investasi dan pembaharuan-pembaharuan yang memperbaiki keadaa tanah.

Akibat dari pembaharuan yang menambah hasil itu terhadap petani-petani yang hampir tidak mempunyai tanah dapat dicegah jika dikembangkan lembaga-lembaga untuk memungkinkan mereka menjangkau sumberdaya pelengkap dimana mereka juga dapat beralih kepada teknologi yang lebih produktif.

  1. C. PENUTUP
    1. 1. Kesimpulan
      1. Dalam usaha mensejahterakan penduduk terutama yang miskin, terdapat dua model pemberantasan kemiskinan. Pertama, peberantasan kemiskinan yang berorientsai produk. Kedua, pemberantasan kemiskinan berorientasi pengalihan (memberikan barnag-barang yang dibutuhkan orang miskin kepada orang miskin).
      2. Jenis kebijakan anti kemiskinan
        1. Pendekatan berorientasi milik (aset)
        2. Strategi yang menimbulkan permintaan
        3. Kebijakan-kebijakan menaikkan harga
        4. Kebijakan-kebijakan yang meningkatkan produktivitas

Investasi modal kemanusiaan, isvestasi langsung untuk kaum miskin itu sebagai upaya sungguh baik sebagai bagian dari usah untuk memberikan kepada kaum miskin itu sekelompok meinimal barang-barang yang diperlukan untuk memungkinkan mereka menjangkau kehidupan yang cukup.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: