LANGKAH DAN STRATEGI PENANGANAN BENCANA GEMPA DI YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH

Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang paling sering kita alami, ini dikarenakan letak Indonesia yang berada pada wilayah yang masih labil keadaan lapisan tanahnya. Selain itu juga banyaknya gunung berapi aktif yang banyak tersebar di seluruh daerah Indonesia yang dapat meletus kapan saja.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada hari sabtu, tanggal 27 Mei 2006, di Propinsi D.I.Yogyakarta dan sebagian Propinsi Jawa Tengah, telah terjadi gempa bumi tektonik sekitar pukul 05.55 WIB dengan kekuatan 5,9 skala Richter. Gempa yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 lalu menyisakan luka yang sangat mendalam. Kehilangan orang-orang yang dicintai, derita fisik, dan kerusakan harta benda yang telah dikumpulkan dengan susah payah selama ini. Peristiwa ini mengakibatkan banyak korban, baik korban manusia maupun korban harta benda milik masyarakat maupun pemerintah. Informasi terakhir mengungkapkan bahwa korban meninggal sebanyak 4.611 orang, luka-luka 7.024 orang dan rumah rusak sekitar 34.877 buah. Tentunya korban ini akan terus bertambah seiring dengan penanganan intensif pada masa Rescue terutama setelah korban semuanya sudah dievakuasi.

Menghadapi bencana gempa bumi di Jogyakarta dan Jawa Tengah kita dapat melakukan berbagai usaha guna membantu para korban gempa agar mampu meringankan beban mereka yaitu melalui tiga tahapan kegiatan. Tahap pertama Tahap Tanggap Darurat pada dasarnya berisi kegiatan pelayanan bantuan kemanusiaan langsung kepada para korban. Tahap kedua Tahap Peralihan dan tahap berikutnya, yakni tahap ketiga Tahap Pemulihan dan Penataan, yang merupakan inti dari kegiatan penanggulangan bencana ini.

Tahap Tanggap Darurat (Emergency Response)

Tahap tanggap-darurat adalah masa pelayanan bantuan kemanusiaan langsung kepada para korban sejak hari pertama terjadinya bencana. Lama tahap ini terutama bergantung pada besarnya dampak kerusakan yang diakibatkan oleh bencana tersebut. Tujuan dan sasaran utama tahap ini adalah membantu memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari para korban agar tidak semakin menderita dan mampu bertahan hidup sampai keadaan kembali pulih. Karena itu, kegiatan utama pada tahap ini adalah penyaluran bantuan kemanusiaan dalam bentuk penyediaan pangan dan sandang, tempat penampungan sementara (darurat), pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

Tetapi ini juga akan memanfaatkan masa pelayanan bantuan kemanusiaan ini sebagai ‘titik awal’ (entry-point) ke arah proses-proses pemulihan dan penataan jangka-panjang pada tahap berikutnya nanti.

Untuk itu, sambil melakukan kegiatan-kegiatan pelayanan bantuan kemanusiaan, mereka juga melakukan pengamatan untuk menemukan orang-orang setempat (terutama para korban bencana itu sendiri) yang potensial untuk dikembangkan lebih-lanjut sebagai tenaga-tenaga ‘penggerak’ utama dalam proses-proses pemulihan dan penataan selepas masa darurat saat ini.

Tahap Peralihan (Transitional)

Tahap ini merupakan masa beranjak keluar dari tahap tanggap darurat ke tahap berikutnya, yakni tahap pemulihan dan penataan kembali. Dengan kata lain, tahap ini pada dasarnya adalah masa persiapan sosial untuk memulai kembali kehidupan wajar (normal) mereka seperti sediakala atau ke taraf yang lebih baik lagi dalam jangka panjang di masa mendatang. Populasi yang mengalami beban mental pasca gempa bumi akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri pada jangka menengah dan panjang. Selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah orang yang mengalami kesulitan psikologis pada masa yang lebih lama.

Tujuan dan sasaran utama tahap ini adalah terbentuknya Badan Pemulihan dan Penataan Desa pada beberapa desa terpilih sebagai ‘tim inti’ yang akan menggerakkan warga masyarakat lainnya melakukan proses-proses pemulihan dan penataan kembali semua prasarana kehidupan dan kelembagaan sosial-ekonomi desa mereka.

Sesuai tujuan dan sasarannya, maka strategi dasar yang akan ditempuh pada tahap ini adalah menumbuhkan kembali kesadaran harga diri dan martabat mereka sebagai manusia (setelah trauma bencana) serta semangat kesetiakawanan dan kegotongroyongan tradisional mereka sebagai suatu komunitas (community). Care and Emphaty adalah dasar utama pogram pemulihan kondisi psikologis bagi para korban yang selamat.

Hal lain yang penting dalam penanganan bencana ini, menurutnya, adalah peran serta warga terutama bagaimana menumbuhkan kembali motivasi warga yang menjadi korban gempa.

Kegiatan-kegiatan pokok pada tahap ini, antara lain:

(1)  Pembersihan desa / kampung yang cara-cara pelaksanaannya akan dimusyawarahkan dan disepakati bersama dengan para korban warga setempat.

(2)  Pelatihan dasar untuk beberapa warga terpilih sebagai pengorganisir lokal (local organizer) dalam rangka menyiapkan pembentukan Badan Pemulihan dan Penataan Desa.

(3)  Pelatihan-pelatihan teknis, terutama untuk pembangunan kembali rumah-rumah penduduk, penataan lingkungan hidup setempat, dan pembangunan basis-basis penghidupan berkelanjutan.

(4)  Pemetaan partisipatif dan tematis terhadap beberapa desa yang telah dipilih sebagai lokasi utama kerja-kerja pemulihan dan penataan kembali pada tahap berikutnya.

Tahap Pemulihan dan Penataan Kembali (Reconstruction and Rehabilitation)

Tahap ini merupakan tahap inti yang sesungguhnya dari seluruh proses penanganan bencana dan pelayanan korban yang diakibatkannya. Berdasarkan pengalaman selama ini, tahap inilah justru yang paling sering dilupakan, atau dianggap sebagai tanggung jawab utama pemerintah saja. Akibatnya, banyak proses-proses pemulihan dan penataan kembali di banyak daerah bencana selama ini, khususnya di Indonesia, berlangsung dalam suatu kerangka pendekatan yang serba terpusat, mengabaikan asas partisipasi masyarakat. Karena itu tahap ini harus dijadikan sebagai prioritas utama di kawasan bencana di Jogyakarta dan Jawa Tengah.

Tujuan dan sasaran utama dari tahap ini adalah menciptakan suatu model pemulihan dan penataan kembali berbasis masyarakat (Community Based Reconstruction And Rehabilitation).

Mengingat kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi, selain pertimbangan ketersediaan sumberdaya maka sebaiknya memusatkan pelaksanaan tahap ini hanya pada beberapa desa terpilih berdasarkan beberapa tolok ukur utama, yakni desa-desa yang memang menderita dampak serius dari bencana gempa bumi dan masih tergolong sebagai ‘desa miskin’ (paling tidak dibanding dengan desa-desa lain sekitarnya) namun memiliki modal sosial yang potensial untuk lebih diberdayakan ke arah otonomi dan kemandirian. Dalam hal ini diharapkan bahwa Badan Pemulihan dan Penataan Desa yang telah terbentuk akan segera berfungsi optimal sebagai pelaksana utama seluruh kegiatan pada tahap ini, sementara pemerintah hanya akan berperan sebagai sistem pendukung saja.

Secara garis-besar, kegiatan-kegiatan utama pada tahap ini antara lain, mencakup:

(1)  Pembangunan kembali perumahan dan lingkungan pemukiman penduduk berbasis kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri dengan penekanan pada aspek sistem sanitasi lingkungan organik daur-ulang.

(2)  Penataan kembali prasarana utama desa, khususnya yang berkaitan dengan sistem produksi pertanian.

(3)  Pembangunan basis-basis perekonomian desa dengan pendekatan penghidupan berkelanjutan, terutama pada kedaulatan dan keamanan pangan dan ketersediaan energi yang dapat diperbaharui (renewable energy); serta perintisan model sistem kesehatan desa yang terjangkau dan efektif.

Demi lancarnya program tadi maka semua pihak diharapkan untuk bekerjasama mengerahkan segenap kemampuan dan sumber daya dalam melaksanakan upaya penanganan korban gempa tersebut. Tindakan untuk membantu para korban gempa dengan koordinasi sebaik-baiknya jauh lebih penting dibanding penanganan secara individual. Selain itu juga dibutuhkan pengawasan terhadap pelaksanaan program tersebut agar tidak terjadi penyelewengan kekuasaan tetapi tetap menjunjung tinggi nilai kejuuran dan kepercayaan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: