LAPORAN KEPENDUDUKAN

BAB I. PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Dalam proses pembangunan, sumber daya manusia merupakan salah satu komponen pembangunan yang cukup penting di samping sumber daya alam dan teknologi. Sehubungan deengan hal itu, diperlukan penelitian dan evaluasi tentang sumber daya manusia yang ada di suatu wilayah.

Data kependudukan memegang peranan penting, karena dengan adanya data yang lengkap dan akurat, maka akan lebih mudah dan cepat dalam mengetahui dan mengevaluasi sumber daya manusia di suatu wilayah. Data kependudukan juga memiliki peran yang penting dalam pembangunan, kerena dengan adanya data kependudukan akan makin lancar perencanaan pembangunan. Sebagai contoh, dalam memperlancar perencanaan di bidang kesehatan, diperlukan data atau informasi tentang tinggi rendahnya angka kematian dan morbiditas penduduk.

Jumlah penduduk yang besar ditambah dengan stuktur umur yang tidak menguntungkan serta laju pertambahannya yang tinggi, menimbulkan permasalahan yang menghambat usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat diberbagai bidang. Dengan demikian diperlukan usaha-usaha penanganan masalah kependudukan yang sejajar dengan usaha-usaha pembangunan. Salah satu upaya untuk penanganan masalah kependudukan ini adalah dengan menekan laju pertumbuhan pendudukyaitu dengan menurunkan fertilitas (kelahiran).

Mengingat peristiwa kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk merupakan peristiwa demografis yang satu sama lain saling berkaitan, maka usaha untuk menurunkan kelahiran akan berpengaruh pula terhadap peristiwa kematian. Berkaitan dengan hal itu pula maka perlu adanya penelitian dan pengevaluasian sumberdaya manusia yang ada disuatu wilayah salah satunya melalui demografi ataupun study kependudukan.

Dalam bukunya Mantra 2003 menjelaskan bahwa Demografi merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan proses sumder daya manusia disuatu wilayah secara statistik dan matematis tentang besar komposisi dan distribusi penduduk dan perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya lima komponen demografi. Mengingat peran ilmu demografi dan studi kependudukan penting maka perlu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kependudukan ini. Hal tersebut juga yang melatar belakangi kami melakukan praktikum ini.

  1. B. Tujuan Praktikum

  1. Mempelajari lebih mendalam tentang demografi dan studi kependudukan.
  2. Menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan studi kependudukan dan proses demografi.
  3. Mengetahui lebih lanjut cara-cara menghitung data-data kependudukan yang telah tersedia.
  4. Menganalisa data penduduk menurut umur dan jenis kelamin suatu kabupaten dalam bentuk piramida dan menginterpretasikannya.
  5. Mengetahui penyebab kenaikan dan penurunan angka kelahiran dan kematian suatu kabupaten dan menghitung  tingkat kelahiran kasarnya (CBR) dan kematian bayi
  6. Mengetahui keberhasilan Program Pemerintah berhubungan dengan masalah kependudukan
  7. Mengetahui jumlah angkatan kerja di Indonesia

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A.     Komposisi Penduduk

Yang dimaksud dengan penduduk menurut UU RI No.10 tahun 1992 adalah orang dalam mantranya sebagai pribadi, anggota keluarga,anggota masyarakat,warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara  pada waktu tertent   ( Mantra, 2003).

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk atas variabel-variabel tertentu. Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang sama (Mantra, 2003).

Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat digambarkan secara visual pada sebuah grafik yang disebut piramida penduduk. Penggambaran suatu piramida penduduk dimulai dengan menggambarkan dua garis yang saling tegak lurus. Garis vertikal menggambarkan jumlah penduduk dari nol lalu naik. Kenaikkan ini dapat tahunan, dapat pula dengan jenjang lima tahunan. Sumbu horisontal menggambarkan jumlah penduduk tertentu baik secara absolut maupun relatif (Mantra, 2003).

Data kependudukan yang dapat disajikan sampai wilayah administrasi terkecil sangat berguna bagi perencanaan pembangunan. Karena registrasi penduduk di Indonesia belum dapat menghasilkan data kependudukan seperti yang diharapkan, maka sensus penduduk menjadi satu-satunya sumber data kependudukan yang diharapkan mampu memberikan gambaran keadaan penduduk Indonesia (Handoyo, 2006)

Registrasi penduduk memenuhi dua tujuan yaitu sebagai catatan resmi dari suatu peristiwa tertentu dan sebagai sumber yang berharga bagi penyusun statistik yang langsung dapat digunakan dalam proses perencanaan kemasyarakatan. Karena itu untuk menyusun program pembangunan nasional/regional, baik di bidang ekonomi maupun non ekonomidiperlukan regristasi penduduk (Tjondronegoro et al, 1981)

Piramida penduduk adalah komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat digambarkan pada sebuah grafik penggambaran suatu piramida penduduk dimulai dengan menggambarkan 2 garis saling tegak lurus. Garis yang vertikal menggambarkan umur pendek mulai dari umur 0 lalu naik, sumbu horisontal menggambarkan jumlah penduduk tertentu baik secara absolut ataupun relatif (Mantra, 1985)

  1. B. Mortalitas

Kematian atau mortalitas adalah salah satu dari tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk. Sedangkan yang dimaksud mati adalah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup           (Mantra, 2003).

Ukuran kematian menunjukkan suatu angka atau indeks yang diakai sebagai dasar untuk menentukan tinggi rendahnya tingkat kematian suatu penduduk. Ada berbagai macam ukuran kematian, mulai dari yang paling sederhana sampai pada yang cukup kompleks. Keadaan kematian suatu penduduk tidaklah dapat diwakili oleh hanya suatu angka tunggal saja. Biasanya berbagai macam ukuran kematian dipakai sekaligus guna mencerminkan keadaan kematian penduduk secara kaseluruhan hampir semua ukuran kematian merupkan suatu rasio ( Lembaga Demografi, 1981)

Suatu aspek penting yang harus diperhatikan dalam mendiskusikan kematian adalah tingkat kematian bayi. Tingkat kematian bayi tidak hanya tergantung pada jumlah kematian bayi saja melainkan juga pada kelengkapan registrasi kelahiran (Tjondronegoro et al, 1981).

  1. C. Fertilitas

Istilah fertilitas sama dengan kelahiran hidup (live birth) yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan adanya tanda-tanda kehidupan, misalnya: berteriak, bernafas,jantung berdenyut dan sebagainya (Mantra, 2003).

Angka kesuburan total (Total Fertility Rate=TFR) adalah jumlah rata-rata anak yang dapat dilahirkan oleh seorang wanita jika is hidup sampai akhir masa kesuburannya dan melahirkan anak dengan kecepatan yang sama dengan angka kesuburan berdasarkan umur tertentu yang terdapat sekarang. TFR adalah ukuran terpenting dari kesuburan yang kita punyai, sebab ukuran ini tidak dipengaruhi oleh komposisi umur dari penduduknya. Jika angka kesuburan stabil dari waktu ke waktu maka hal ini akan mempcrlihatkan jumlah CEB pada akhir masa kesuburan kurang lebih sama dengan TFR. Dengan kata lain, tingkat kesuburan dari sebagian besar wanita yang berusia tua sama dengan dari wanita yang masih hidup dalam masa suburnya (Anonim, 2006)

Angka kelahiran kasar adalah suatu resultante struktur umur penduduk dan angka fertilitas menurut umur. Karena itu dalam studi mengenai fertilitas sangatlah penting untuk memisahkan pengaruh struktur umur yang jika mungkin bersama-sama bekerja dengan fertilitas menurut umur         (Pitchford, 1988).

Tingkat kelahiran kasar didefinisikan sebagai banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Ataun dengan rumus dapat ditulis sebagai berikut:

CBR = B     x k

Pm

Dimana : CBR = tingkat kelahiran kasar

Pm = penduduk pertengahan tahun

K  = bilangan konstan (1000)

B = jumlah kelahiran pada tahun tertentu

(Mantra, 2003).

Angka kelahiran kasar adalah suatu resultante dari struktur umur suatu penduduk maupun angka fertilitas menurut umur. Karena itu dalam studi mengenai fertilitas sangat mendasar untuk memisahkan pengaruh struktur umur, pekerjaan dan jika mungkin dengan fertilitas menurut umur. Pertimbangan ini tampaknya mengesampingkan kemungkinan studi fertilitas seri waktu (time series) di banyak negara, karena data fertilitas seperti itu tidak tersedia untuk rentang waktu yang lama (Pitchford, 1988).

Wanita yang dikenal sebagai kaum lemah merupakan sumber utama dari ledakan penduduk yang dasyat di planet kita, terutama di negara berkembang. Kesuburan wanita ada korelasinya dengan pendidikan, kemakmuran serta pemanfaatannya ( Daldjoeni, 1982).

Proporsi wanita dalam kelompok umur yang lebih subur yang relatif tinggi menyebabkan fertilitas total lebih tinggi, dalam hal inifaktor lain tetap dan fakta bahwa populasi yang cepat bertambah yang mungkin mempunyai proporsi wanita muda lebih banyak dapat menjadi fertilitas tinggi      (Pichford, 1995).

D. Mobilitas

Ada beberapa teori yang mengatakan mengapa seseorang mengambil keputusan untuk bermigrasi, diantaranya adalah teori kebutuhan dan teori tekanan. Proses migrasi terjadi apabila:

  1. Seseorang mengalami tekanan (stres) baik sosial ekonomi maupun psycologi ditempat ia berada.
  2. Terjadinya perbedaan nilai kefaedahan wilayah antara tempat yang satu dengan tempat yang lain.

Faktor ekonomi mendapat tempat utama sebagai motivasi seseorang untuk berpindah dari suatu daerah ke daerah lain. Migrasi tenaga kerja tidak lagi hanya disebabkan oleh tekanan penduduk terhadap lahan, tetapi juga disebabkan oleh tuntutan tenaga kerja untuk memperoleh kesempatan kerja dan pekerjaan yang lebih baik. Menurut Todaro (1976) migrasi terjadi melalui keputusan rasional untuk memaksimumkan penghasilan di masa depan (Ananta, 1993)

  1. D. Ketenagakerjaan

Angkatan kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun keatas yang secara aktif melakukan kegiatan ekonomis (Biro Pusat Statistik, 1983).

Angkatan kerja terdiri dari penduduk yang bekerja, mempunyai pekerjaan tetap tetapi sementara tidak bekerja, dan tidak menpunyai pekerjaan sama sekali tetapi mencari pekerjaan secara aktif ( Mantra, 2003).

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

a) Komposisi Penduduk

Diantara komposisi penduduk yang dapat disusun, komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan yang terpenting. Dalam praktikum ini akan membahas tentang cara membagikan penduduk non state sesuai jenis kelamin dengan teknik Pro-rating pada jumlah penduduk suatu wilayah pada tahun 2000 yang merupakan praktikum I dan  mencari hasil sensus penduduk suatu kota/kabupaten tahun 1990 dan 2000 menurut kelompok umur dan jenis kelamin.

1. Teknik Pro-rating

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Suatu Wilayah Tahun 2000

No Umur (tahun) ∑ laki-laki sebelum  Pro-rata ∑ laki-laki setelah Pro-rata ∑ peremuan sebelum

Pro-rata

∑ peremuan setelah

Pro-rata

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

0-4

5-9

10-14

15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60-64

65-69

70-74

75+

tak terjawab

140.868

131.646

121.935

130.672

131.348

136.153

121.750

102.744

83.688

63.278

42.295

26.577

19.688

11.007

8.294

6.859

3.143

141.214

131.970

122.235

130.993

131.671

136.488

122.049

102.997

83.894

63.434

42.399

26.642

19.736

11.034

8.314

6.876

_

133.439

121.897

115.551

127.133

132.718

129.830

108.048

90.838

67.130

45.372

31.007

20.323

17.292

10.372

7.338

6.244

5.418

134.068

122.464

116.089

127.724

133.335

130.434

108.551

91.261

67.442

45.583

31.151

20.418

17.372

10.420

7.372

6.273

_

Jumlah 1.281.945 1.281.946 1.169.950 1.169.949

Sumber: Laporan Sementara

Pada tabel kelompok umur menurut umur dan jenis kelamin di atas terdapat kelompok penduduk yang tidak diketahui umurnya dan kelompok ini tidak dapat dimasukkan pada kelompok umur tertentu dan dalam tabel tersebut disebut dengan kelompok “not stated” (NS), sudah tentu kelompok not stated ini tidak dapat digambarkan dalan piramida penduduk. Jika jumlah penduduk yang tergolong kategori ini sedikit dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk, maka kelompok penduduk ini dapat disebarkan ke kelompok-kelompok umur yang lain dengan menggunakan teknik “Pro-rating”

Teknik “Pro-rating” ini dapat dikerjakan dengan dua cara yaitu:

  1. Mengalikan masing-masing kelompok penduduk menurut umur dengan faktor pengali k yang dapat dicari dengan rumus:

K=jumlah seluruh penduduk

  1. Jumlah penduduk kelompok umur tertentu ditambah dengan hasil perkalian proporsi penduduk kelompok umur diatas dengan jumlah seluruh penduduk dengan jumlah penduduk NS

Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki tak terjawab sebanyak 3.143 orang dan jumlah penduduk perempuan tak terjawab sebanyak 5.148 orang.

Sehingga pada jumlah penduduk besar akan mengalami pertambahan jumlah penduduk besar, demikian juga sebaliknya. Misal pada kelompok usia 0-4 tahun berjumlah 140.868 setelah dipro-rata mengalami pertambahan sejumlah 346 orang dari NS menjadi 141.214. sedangkan pada kelompok usia diatas 75 tahun hanya mengalami penambahan 17 orang dari kelompok NS.

2. Sex Rasio

umur laki-laki perempuan SR
0-4 141,214 134,060 105.34
5-9 131,970 122,464 107.76
10-14 122,235 116,089 105.29
15-19 130,993 127,724 102.56
20-24 131,671 133,335 98.75
25-29 136,488 130,434 104.64
30-34 122,049 108,551 112.44
35-39 102,997 91,261 112.86
40-44 83,894 67,442 124.39
45-49 63,434 45,583 139.16
50-54 42,399 31,151 136.11
55-59 26,642 20,418 130.49
60-64 19,736 17,372 113.61
65-69 11,034 10,420 105.89
70-74 8,314 7,372 112.78
> 75 6,876 6,273 109.61
1,281,945 1,169,950 109.57

Sumber: Laporan Sementara

Sex rasio adalah perbaningan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan.

Rumus yang digunakan adalah jumlah penduduk laki-laki dibanding dengan jumlah penduduk perempuan dikalikan 100. berdasarkan data diatas, sex ratio pada sensus wilayah tahun 2000 adalah 110, yang artinya dalam 100 orang penduduk  perempuan terdapat 110 orang penduduk laki-laki. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila nilai sex rasio lebih dari 100 berarti sex ratio tinggi. Keadaan ini menggambarkan bahwa jumlah laki-lai lebih banyak, sehingga terjadi ekses atau kelebihan jumlah laki-laki.

Secara umum, pada sensus wilayah tahun 2000 jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Yang tertinggi adalah kelompok umur 45-49 tahun yaitu 139, artinya terdapat 139 orang penduduk laki-laki per 100 orang penduduk perempuan. Dan yang terendah adalah kelompok umur 20-24 tahun yaitu sebanyak 99, artinya terdapat 99 oarang penduduk laki-laki dalam 100 penduduk perempuan.

3. Dependentcy ratio

laki-laki

DR = ∑ usia non produktif x 1000
∑ usia produktif
= 421.642 x 1000 = 490,12
860.303

Perempuan

DR = ∑ usia non produktif x 1000
∑ usia produktif
= 396.678 x 1000 = 512,99
773.272

Total

DR = ∑ usia non produktif x 1000
∑ usia produktif
= 421.642 x 1000 = 490,12
860.303

Angka beban tanggungan/ Dependentcy Ratio adalah angka yang menunjaukkan perbandingan antara jumlah kelompok umur non produktif dengan jumlah kelomok umur produktif. Kelompok umur non produktif adalah interval 0-14 tahun dan diatas 65 tahun. Sedangkan kelompok umur produktif adalah 15-64 tahun. Rumus yang digunakan adalah jumah penduduk non produktif dibagi jumlah penduduk produktif dikalikan k. dalam praktikum ini nilai k yang digunakan adalah 1000.

Dari hasil penghitungan dependentcy ratio sensus wilayah pada tahun 2000 ini untuk laku-laki bernilai 490,12 yang artinya dari 1000 orang penduduk usia produktif harus menanggung 490 orang kelompok usia non produktif. Sedangkan untuk perempuan nilainya adalah 512,99 artinya tiap 1000 orang wanita usia produktif harus menanggung 513 oarang wanita usia non produktif. Nilai dependentcy ratio wanita lebih besar karena jumlah wanita yang bekerja lebih sedikit dibandingakan laki-laki, maka jumlah yang ditanggung oleh wanita yang bekerjapun juga lebih banyak. Dependentcy ratio total (laki-laki daan perempuan) adalah 500,94 yang artinya tiap 1000 orang usia produktif harus menanggung 501 orang penduduk usia non produktif.

Persentase jumlah penduduk produktif yang besar (± 40%) menjadikan beban tanggungan usia prouktif menjadi lebih besar. Pada sensus wilayah tahun 2000 ini dependentcy rationya tergolong besar karena 33,38% penduduknya berada dalam usia non produktif. Sehingga wilayah tersebut belum bisa dikatakan maju karena angka dependentcy rationya besar. Dengan kata lain, dependentcy ratio dapat digunakan sebagai indikator ekonomi negara/ wilayah tersebut maju/ tidak.

4. Sensus nasional

Berdasarkan persebaran penduduknya, terdapat persamaan dan perbedaan  antara hasil sensus suatu wilayah pada tahun 2000 dengan hasil sensus nasional tahun 2000. Persamaannya adalah kedua hasil sensus tersebut tidak menunjukkan angka yang berurutan antar kelompok umur. Hal ini terjadi karena adanya peristiwa kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) maupun perpindahan (migrasi) penduduk yang tidak sama tiap kelompok umur.

Sedangkan perbedaannya adalah jumlah penduduk kelompok umur    0-4 tahun  merupakan jumlah tertinggi baik laki-laki maupun perempuan pada hasil sensus suatu wilayah. Pada hasil sensus nasional tahun 2000 jumlah penduduk terbanyak baik laki-laki maupun perempuan terdapat pada kelompok umur 15-19 tahun. Dari perbedaan ini mneunjukkan bahwa pada wilayah tersebut jumlah anak-anak tinggi yang berarti jumlah kelahiran pada wilayah tersebut tinggi. Sadangkan untuk hasil sesnsus nasioonal menunjukkan bahwa usia 15-19 tahun adalah jumlah penduduk terbanyak, sehingga dengan banykanya penduduk usia produktif dapat menekan angka beban tanggungan/ dependentcy ratio menjadi lebih rendah. Karena dependentcy ratio merupakan salah satu indikator ekonomi suatu negar maju/ tidak.

Grafik 3.1 Sex Rasio

Perbedaan lain adalah besarnya angka sex rasio pada data hasil sensus wilayah tahun 2000 lebih fluktuatif dibanding dengan hasil sensus nasional tahun 2000. hal ini dapat dilihat dari angka tertinggi pada sensus wilayah adalah 139 dan terendah adalah 99. selisish angka tertinggi dan terendah inilah yang menjadikan lebih fluktuatif. Karena pada hasil sensus nasional tahun 2000 angka tertingginya adalah 111 dan terendah adalah 86. dengan demikian dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk laki-laki pada sensus wilayah lebih banyak daripada penduduk laki-laki hasil sensus nasional. karena pada sensus wiayah sex rasio totalnya adalah 110 yang berarti terdapat 110 laki-laki per 100 penduduk perempuan, dan pada sensus penduduk nasional sex rasio totalnya adalah 101 (tiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki).

5. Piramida penduduk

60+

50-55

40-49

30-39

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

50.000    40.000    30.000       20.000 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000

Laki-laki                                      perempuan

Gmabar 3.2 Piramida Penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 1990

75 +

70-74

65-69

60-64

55-59

50-54

40-49

30-39

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

50.000  40.000  30.000  20.000  10.000          10.000  20.000  30.000 40.000 50.000

Laki-laki                                      perempuan

Gambar 3.2 Piramida Penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 2000

Umumnya, di Indonesia jenis piramida penduduknya adalah ekspansive yaitu yang sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur termuda. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi strujtur umur penduduk adalah fertilitas, mortalitas dan migrasi.

Kedua piramida penduduk diatas terdapat perbedaan jenis piramida. Pada piramida penduduk tahun 1990 tergolong dalam jenis ekspansif yang bebarti sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Jenis ini menunjukkan tingginya angka kelahiran dan kematian. Sedangkan piramida penduduk tahun 2000 berjenis konstruktif yang berarti tingkat kelahiran turun dengan cepat dan tingkat kematiannya rendah. Hal ini dapat dilihat dari sedikitnya jumlah penduduk kelompok umur 0-4 tahun dan rendahnya tingkat kematian yang etrlihat dari jumah penduduk diatas 60 tahun yang lebih banyak daripada tahun 1990. artinya dalam kurun waktu 10 tahun jumlah kematian di Kabupaten Karanganyar rendah.

Dari kedua piramida tersebut terlihat bahwa piramida penduduk tahun 2000 lebih runcing/ sempit daripada piramida penduudk pada tahun 1990. terjadi demikian karena dalam kurun waktu sepuluh tahun banyak pendudk Kabupaten Karanganyar pindah ke Kabupaten atau Kota lain untuk bekerja atau kuliah.

Pada kedua piramida tersebut, panjang antara bagian kanan dan kiri adalah berbeda. Bagian kanan lebih panjang daripada yang kiri. Hal ini enunjukkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada penduduk laki-laki.

Di dasar piramida pendduk (kelompok umur 0-4 tahun) terdapat perbedaan pada keduanya. Pada piramida pendduduk ahun 1990 lebih panjang daripada garis pada piramida tahun 2000. hal ini menunjukkan pada tahun 1990 jumlah kelahiran lebih banyak daripada tahun 2000. keadaan ini menunjukkan keberhasilan pencanangan program keluarga berencana (KB) di Kabupaten Karanganyar, selain itu dimungkinkan tingginya angka kematian bayi dan anak. Karena sebagian daerah di wilayah Kabupaten karangnayar terdapat di dataran tinggi yang jauh dari pusat kota, sehingga fasilitas  kesehatan kurang terpenuhi di daerah-daerah tertentu.

Sedangkan dari aspek fertilitas, karena semakin tingginya itngkat pendidikan, keadaan ekonomi penduduk dan industrialisasi enjadikan penduduk menunda untuk menikah pada usia dini, sehingga dapat meneurunkan angka fertilitas di Kabupaten Karanganyar.

b) Mortalitas

Mortalitas merupakan kajian dari Praktikum III dan Praktikum IV. Dimana dalam praktikum III ini berpedoman pada artikel yang berkaitan dengan penyebab kematian di suatu wilayah.

Ukuran yang dijadikan pedoman untuk mengetahui keberhasilan di bidang kesehatan yaitu mortalitas dan morbiditas. Dimana keduanya dapat dijadikan sebagai penyusun perencanaan fasilitas kesehatan untuk mengukur fasilitas rumah sakit, tenaga medis, industri farmasi, dll.

  1. Mortalitas

Mortalitas atau kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Untuk mengukur mortalitas dapat digunakan ukuran yaitu:

1)      Angka Kematian Bayi (AKB)

AKB dapat digunakan untuk acuan kematian bayi, kondisi kesehatan ibu, kondisi hubungan ibu dan bayi di kandungan dan secara umum untuk menentukan keadaan sosial masyarakat. AKB secara langsung disebabkan karena keadaan gizi buruk dari ibu bayi saat mengandung dan secara tidak langsung disebabkan karena kebersihan dan kesehatan lingkungan yang kurang baik, disamping itu karena rendahnya pendidikan seorang ibu kurang memperhatikan kandungannya yaitu jarang atau bahkan tidak memeriksakan kandungan karena mungkin masalah biaya yaitu terlalu mahalnya biaya pemeriksaan dengan kata lain fasilitas kesehatan di negara kita masih terlalu mahal untuk ukuran masyarakat Indonesia.

2)      Angka Kematian Anak (AKA)

AKA mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi kesehatan anak serta kebutuhan gizi pada anak. Tingginya AKA disebabkan oleh keadaan higiene yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, keadan salah gizi dan tingginya insiden kecelakaan di dalam atau di luar rumah.

Keadaan lingkungan yang kotor akan menyebabkan kerentanan terhadap penyakit pada anak disamping itu juga memudahkan berbagai penyakit untuk menular khususnya pada anak yang masih lemah daya tahan tubuhnya terhadap penyakit.

Fasilitas kesehatan yang kurang memadai serta pelayanan yang tidak cepat dan tidak tepat secara tidak langsung juga mempengaruhi kematian anak. Karena saat adanya wabah penyakit, teenaga medis tidak langsung cepat menangani serta peralatan yang kurang memadai, hal ini sangat menghambat usaha perawatan.

Kurangnya pemenuhan terhadap gizi akan menghambat pertumbuhan anak serta menyebabkan diferensiasi terhadap gizi yang menyebabkan anak mudah terserang penyakit.

3)      Angka Kematian Maternal (AKM)

Angka Kematian Maternal mencerminkan resiko mati seorang ibu selama masa kehamilan dan kelahiran, merupakan indikator penting untuk status kesehatan ibu. AKM dipakai sebagai indikator keberhasilan pengelolaan upaya kesehatan ibu pada khususnya.

  1. Morbiditas

Morbiditas merupakan penyimpangan dari keadaan normal yang biasanya dibatasi pada kesehatan fisik dan mental.

Angka Kematian Bayi lebih besar di daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan. Hal ini disebabkan karena berkaitan dengan kondisi geografis dimana di daerah pedesaan sangat sulit dijangkau oleh jalur transportasi apalagi untuk daerah pelosok. Adanya hambatan geografis yaitu seperti terjalnya jalan sehingga menyebabkan kesulitan untuk melakukan pemerataan pembangunan khususnya pembangunan fisik dan pelayanan seperti fasilitas transportasi, listrik, dan yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi yaitu kesulitan penyediaan fasilitas kesehatan.

Keadaan geografis yang sulit dijangkau menyebabkan daerah pedesaan seperti terisolir dari dunia luar sehingga tidak bisa mengikuti kemajuan IPTEK. Hal ini menyebabkan rendahnya pengetahuan dan pendidikan masyarakat desa. Rendahnya pengetahuan masyarakat khususnya di bidang kesehatan akan berpengaruh besar pada timbulnya penyakit dan kebersihan lingkungan sekitar. Misalnya pada ibu hamil biasanya tidak peduli pada kesehatan bayinya. Karena keterbatasan pengetahuan, dia tidak pernah memikirkan gizi untuk bayi di dalam kandungan dan bahkan tidak pernah memeriksakan kandungannya.

Dan karena keadaan geografis yaitu jarak rumah dan pusat kesehatan yang jauh semakin berpengaruh dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan. Dan biasanya orang desa saat menjelang persalinan hanya melalui bantuan dari dukun bayi yang mungkin masih rendah pengetahuannya di bidang kesehatan dengan alasan biaya lebih murah daripada melakukan persalinan di rumah sakit. Padahal saat persalinan itu membutuhkan bantuan tenaga atau orang yang benar-benar paham dan ahli di bidang kesehatan, bahkan kalau terjadi kesalahan bisa membahayakan nyawa ibu dan bayinya. Itulah sebabnya mengapa AKB di daerah pedesaan lebih besar daripada di daerah perkotaan, karena dilihat dari berbagai faktor daerah perkotaan lebih lengkap fasilitasnya daripada di pedesaan.

Pihak-pihak yang terlibat dalam kaitannya upaya penurunan angka kematian bayi dan anak adalah:

  1. Pemerintah pusat

Peran pemerintah disini yaitu dalam membuat program pembangunan khususnya di bidang kesehatan, yaitu dalam upaya pemerataan penyediaan fasilitas kesehatan yang menyebar dan merata ke seluruh daerah bahkan ke daerah pelosok.

Pemerintah harus cepat tanggap terhadap keadaan lingkungan yang kotor yang menyebabkan berkembangnya bibit penyakit untuk segera dilakukan penanganan, melakukan penanggulangan terhadap wabah penyakit yang menyebar serta memberikan pelayanan kesehatan yang murah bahkan gratis agar bisa dijangkau oleh masyarakat menengah kebawah dan mengadakan penyuluhan kesehatan untuk ibu hamil agar lebih memperhatikan pentingnya kesehatan dan gizi yang baik untuk kehamilan.

  1. Masyarakat umum

Masyarakat dalam hal ini ikut terlibat khususnya dalam usaha menjaga dan memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan serta kesadaran diri dalam menjaga keselamatan anak-anak, misalnya hal-hal yang menyebabkan kematian anak yang terjadi karena kecelakaan di luar atau di sekitar rumah.

  1. Tenaga medis

Tenaga medis juga berperan dalam upaya penurunan AKB dan AKA. Tenaga medis harus bertanggungjawab dalam melakukan tugasnya dengan segala keseriusan, kerelaan, dan kewaspadaan dalam mengobati pasiennya. Tenaga medis harus memberikan analisis yang tepat mengenai penyakit yang diderita baik pada ibu hamil atau bayi dan anak agar pengobatannya lebih akurat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengobatan yang akan membahayakan nyawa pasien.

  1. Keluarga

Keluarga adalah pihak yang sangat berperan untuk penurunan AKB dan AKA karena keluarga adalah orang yang terdekat khususnya ibu. Disini peran ibu adalah selalu menjaga, mengawasi, dan melindungi anaknya. Ibu harus selalu memperhatikan perkembangan anaknya. Apalagi saat hamil, ibu harus benar-benar memperhatikan kandungannya. Memperhatikan kebutuhan gizi untuk janin dan selalu memeriksakan kandungannya serta harus selalu menjaga kebugaran tubuh dengan senam hamil. Jadi seorang ibu adalah pihak yang paling mengerti dan memahami benar keadaan anak. Setelah melahirkan seorang ibu juga harus selalu memperhatikan pertumbuhan, kesehatan, dan keselamatan bayinya hingga dia benar-benar mampu menyesuaikan dengan lingkungan luar. Disini bukan hanya peran ibu saja, anggota keluarga lain juga harus selalu memperhatikan. Saat anak sakit keluarga harus cepat tanggap dan segera memeriksakan ke dokter sebelum keadaan tambah parah.

Keterkaitan variabel individu dengan angka kematian bayi yaitu dibagi menjadi dua yaitu dilihat dari sudut pandang ibu hamil dan keadaan bayinya sendiri.

Keadaan ibu hamil yang sering menyebabkan keadaan yang membahayakan keadaan janin yaitu:

  1. Kesehatan ibu : adanya penyakit keturunan atau penyakit yang sedang diderita sewaktu hamil dapat membahayakan kondisi janin. Seorang ibu yang sedang hamil tidak boleh stres, kecapekan apalagi kerja berat. Hal tersebut dapat menyebabkan keguguran.
  2. Umur ibu atau usia ibu hamil : Usia yang baik untuk kehamilan yaitu antara 20-49 tahun, di bawah itu atau di atas usia itu tidak baik untuk kehamilan. Karena usia yang terlalu muda, alat-alat reproduksi belum tumbuh dengan sempurna sedangkan diatas usia 49 tahun, alat-alat reproduksi wanita rata-rata telah mengalami kemunduran fungsi. Sehingga apabila hamil pada usia yang terlalu muda atau terlalu tua bisa membahayakan diri sendiri dan janin.
  3. Pendidikan atau pengetahuan yang dimiliki ibu hamil : Kurangnya pendidikan dan pengetahuan mengenai kehamilan serta kebutuhan gizi dapat menjadi penghambat bagi pertumbuhan kehamilan yang sehat.
  4. Jarak kehamilan : Setelah melahirkan diperlukan waktu untuk mengembalikan kondisi kesehatan ibu ke keadaan normal atau keadaan yang siap untuk menghadapi kehamilan berikutnya. Jarak kelahiran yang rendah dapat membuat kondisi kesehatan ibu kurang baik, yang salah satu dampaknya mengakibatkan rendahnya berat badan bayi saat lahir.

Dilihat dari keadaan bayinya yaitu:

a)      Berat badan lahir rendah : Berat badan lahir rendah atau terlalu rendah membuat sistem kekebalan tubuh bayi rendah. Hal tersebut dapat membahayakan kesehatan bayi atau bahkan yang lebih parah dapat menyebabkan kematian.

b)      Lahir prematur : Kelahiran prematur yaitu lahir sebelum waktunya menyebabkan bagian tubuh bayi belum terbentuk dengan sempurna. Hal ini sangat berbahaya dan membutuhkan perawatan yang intensif.

Faktor-faktor yang menyebabkan kematian di Indonesia yaitu:

  1. Kesehatan, hal ini berkaitan dengan kurangnya kesadaran akan arti pentingnya kesehatan dan kebersihan lingkungan, diferensiasi gizi atau tidak terpenuhinya kebutuhan akan gizi. Rendahnya pendidikan dan keadaan ekonomi menyebabkan rendahnya akses kesehatan, pelayanan kesehatan, pemenuhan fasilitas perumahan dan sanitasi yang baik. Hal tersebut menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan kebersihan dan kesehatan, dimana dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.
  2. Perubhan struktur penduduk di indonesia, apabila dilihat dari segi umur persentase kematian selalu berubah dari tahun ke tahun. Misalnya pada tahun 1992 menurut SKRT bahwa pada balita mencapai 32% dari seluruh kematian. Dari kematian balita tersebut, 76% merupakan kematian bayi. Persentase kematian balita sangat mencolok dibandingkan dengan persentase kematian kelompok umur lain. Hal tersebut terjadi karena balita sangat rawan terkena penyakit dan faktor-faktor yang menyebabkan kematian balita sangat komplek muali dari masalah gizi, kebersihan dan kesehatan lingkungan, berbagai macam penyakit yang menyerang, pelayanan kesehatan yang kurang memadai, keceroboha orang tua, dll. Hal itu semua berkaitan dengan adanya perubahan struktur penduduk Indonesia.
  3. Perbedaan kondisi dan karakteristik setiap daerah terutama diantara pedesaan dan perkotaan. Apabila di perkotaan pembangunan yang telah ada memberikan kemudahan bagi penduduk dalam memperoleh pelayanan kesehatan, disamping itu juga ada kemudahan bagi penduduk dalam memperoleh penyediaan fasilitas pendidikan dan transportasi. Sedangkan di pedesaan berbeda sekali sangat bertolak belakang. Di pedesaan dalam memperoleh fasilitas kesehatan sangat sulit sekali karena penduduk desa untuk memperoleh fasilitas tersebut harus datang jauh-jauh ke kota atau kecamatan terdekat untuk mendapatkan fasilitas tersebut. Disamping itu penyediaan fasilitas pendidikan , transportasi, listrik, dll masih sangat minim sekali.
  4. Perubahan penyakit-penyakit penyebab utama kematian di Indonesia. Hal ini karena ada kecenderungan dengan berjalannya waktu penyakit degeneratif meningkat peranannya sedangkan penyakit infeksi berkurang peranannya. Hasil SKRT 1992 menunjukkan bahwa persentase terbesar kematian disebabkan penyakit kardiovaskuler, namun penyakit tuberkulosiss yang merupakan salah satu penyakit infeksi mancapai urutan kedua setelah kardiovaskuler. Hasil ini memberikan gambaran bahwa perlunya mewaspadai peranan dari penyakit degenerasi bersamaan masih perlunya penanggulangan penyakit infeksi. Dennga kata lain, Indonesia berada diambang transisi epidemiologi yang khas untuk negara berkembang yang pada saat bersamaan harus menghadapi permasalahan penyakit degeneratif dan penyakit infeksi.
  5. Pendidikan, merupakan salah satu penyebab kematian. Hal ini dikarenakan bila semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka pengetahuan yang dia milikipun juga sedikit. Hal tersebut menyebabkan kurangnya pengetahuan akan pentingnya gizi, kebersihan lingkungan, dan akses terhadap fasilitas kesehatan. Keterbatasan tersebut juga menyebabkan masyarakat  kurang bisa mewaspadai terhadap munculnya tanda-tanda penyakit ada dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang berpendidikan tinggi maka dapat dipastikan engetahuan yang mereka milikipun banyak. Kualitas pendidikan seseorang akan berpengaruh pada kewaspadaanya dalam menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan dirinya dengan masukan gizi yang baik dan cukup, sehingga dengan demikian dapat diantisipasi dan menjaga diri dari segala macam penyakit.

Tabel 3.3 Kematian

Age lx qx Lx Px Tx eo
0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

100.000

92.934

91.419

90.709

90.232

89.854

89.609

89.391

89.198

89.025

88.868

88.721

88.578

88.432

88.278

88.110

87.924

87.720

87.497

87.260

87.010

86.746

86.469

86469

85.881

85575

85263

84.944

84.619

84.286

83.944

83.594

83.236

82.868

82.492

82.106

87.710

81.302

80.884

80.45

0,07066

0,01630

0,00777

0,00526

0,00419

0,00273

0,00243

0,00216

0,00194

0,00176

0,00165

0,00161

0,00165

0,00174

0,00190

0,00211

0,00232

0,00254

0,00271

0,00287

0,00303

0,00319

0,00335

0,00346

0,00356

0,00365

0,00374

0,00383

0,00394

0,00406

0,00417

0,00428

0,00442

0,00454

0,00468

0,00482

0,00499

0,00514

0,00530

0,00548

96.767

92.176,1

91.064,0

90.470,5

90.043,0

89.731,5

89.500,0

89.294,5

89.111,5

88.946,5

88.794,5

88.649,5

88.505

88.355

88.194

88.017

87.822

87.608,5

87.378,5

87.135

86.878

86.607,5

86.324

86.030

85.728

85.419

85.103,5

84.781,5

84.452,5

84.115

83.769

83.415

83.052

82.680

82.299

81.908

81.506

81.093

80.669,5

80.234,5

0,92934

0,98370

0,99223

0,99474

0,99581

0,99727

0,99757

0,99784

0,99806

0,99824

0,99835

0,99839

0,99835

0,99826

0,99810

0,99789

0,99768

0,99746

0,99729

0,99713

0,99697

0,99681

0,99665

0,99654

0,99644

0,99635

0,99626

0,99617

0,99606

0,99594

0,99583

0,99572

0,99558

0,99546

0,99532

0,99518

0,99501

0,99486

0,99470

0,99452

26.004.940,8

5.910.155,4

5.818.115,3

5.727.051,3

5.636.580,8

5.546.537,8

5.456.806,3

5.367.306,3

5.278.011,8

5.188.900,3

5.099.953,8

5.011159,3

4.992.509,8

4.834.004,8

4.745.649,8

4.657.455,8

4.569.438,8

4.481.616,8

4.394.008,3

4.306.629,8

4.219.494,8

4.132.616,8

4.046.009,3

3.959.685,3

3.873.655,3

3.787.927,3

3.702.508,3

3.617.404,8

3.532.623,3

3.448.170,8

3.364.058,8

3.280.286,8

3.196.871,8

3.113.819,8

3.031.139,8

2.948.840,8

2.866.932,8

2.785.426,8

2.704.333,8

2.623.664,3

60,049

63,595

63,642

63,137

62,468

61,728

60,896

60,043

59,172

58,286

57,388

56,482

55,573

54,664

53,758

52,860

51,970

51,090

50,219

49,354

48,494

47,640

46,791

45,947

45,105

44,264

43,425

42,586

41,747

40,910

40,075

39,241

38,407

37,576

36,745

35,915

35,087

34,260

33,435

32,610

Sumber: Laporan Sementara

Dalam menyusun table kematian diperlukan nilai-nilai yang diantaranya yaitu lx, qx, Lx, px, Tx dan eºx. Dimana nilai qx atau nqx dapat diartikan sebagai peluang kematian antara umur tepat x dan x +1 atau antara umur tepat x dan x + n. Informasi yang tersedia pada table kematian biasanya yaitu reit-reit kematian tengah mx atau nmx karena nilai-nilai qx atau nqx merupakan hasil dari taksiran dengan menggunakan nilai mx atau nmx. Adapun dapat dilihat pendekatannya adalah sebagai berikut:

mx : Dx

px

dimana : Dx : Jumlah kematian umur x, sedangkan

px  : Penduduk umur x pada tengah tahun yang sama.

Pada praktikum acara ke 4 ini yang telah diketahui yaitu variable qx dan Tx, sedangkan lx, Lx, dan eºx hanya diketahui pada awalnya saja dan untuk px sama sekali tidak diketahui. Untuk itu untuk mencari px dapat digunakan rumus:

px+qx :1 atau npx+nqx : 1

dimana: px : peluang hidup

qx : peluang kematian

→ Hal ini karena ada 2 kemungkinan setiap individu yaitu bertahan hidup atau mati.

Dengan kemungkinan setelah nilai px yang  dicari telah diketahui demikian pula halnya dengan nilai qx maka untuk selanjutnya kita dapat mencari nilai lx, Lx dan eºx dengan cara menghitungnya.

  1. Menghitung nilai lx, yaitu:

Px : lx + 1 ; npx : lx + n

lx                    lx

Kita dapat memasukkan angka yang terdapat pada data kedalam rumus tersebut satu per satu.

  1. Menghitung nilai Lx, karena lx sudah diketahui maka dapat digunakan cara:

Lx : lx + (lx +1)

2

→ Kemudian data yang telah ada dimasukkan kedalam rumus satu per satu sehingga untuk kolom Lx dapat semuanya terisi.

  1. Yang terakhir adalah menghitung nilai eºx, karena semua nilai px, qx, lx dan Lx  sudah diketahui maka nilai eºx dapat dicari dengan mudah, dengan menggunakan rumus:

eºx: Tx

lx

→ Dan seperti rumus lainnya diatas, data-data tersebut dalam table kematian dimasukkan satu per satu dan dihitung sehingga semua kolom menjadi penuh terisi.

Tabel kematian merupakan gambaran bagi kita mengenai sejarah kehidupan suatu kohor hipotesis yang berangsur-angsur berkurang jumlahnya keran kematian. Dari tabel kematian dapat diukur keadaan kematian anggota kohor, misalnya : jumlah mereka yang masih bertahan hidup pada berbagai tingkatan umur, harapan hidup sejak dilahirkan tau umur rata-rata yang dapat dicapai dari suatu kelompok penduduk tertentu. Kohor sendiri merupakan sekelompok penduduk yang dalam perjalanan hidupnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama. Dalam pembuatan tabel kematian dibuat beberapa asumsi, antara lain :

  1. Kohor hanya berkurang secara berangsur-angsur karena kematian dan tidak ada migrasi masuk dan migrasi keluar.
  2. Kematian anggota kohor menurut pola tertentu pada berbagai tingkat umur.
  3. Kohor barasal dari radiks tertentu (radiks ialah bilangan permulaan perhitungan dalam tabel kematian, biasanya dipilih angaka 100.000 ada juga beberapa ahli menggunakan angka 1.000 atau 10.000).
  4. Pada tiang tingkat umur rata-rata orang meninggal mencapai pertengahan antara dua tingkat umur berturut-turut.

Tabel kematian tardiri dari tujuh kolom, enam diantaranya menyajikan fungsi tabel kematian, ketujuh kolom tersebut, antara lain :

x      : Umur tepat (dalam tahun)

lx     : Mereka yang bertahan hidup pada umur tepat x

qx    : Kemungkinan mati antara umur x dan x + 1

Lx   : Tahun kehidupan antara umur x dan x + 1

Px   : Peluang hidup pada umur x

Tx   : Jumlah total tahun kehidupan setelah umur tepat x

ex0 : Harapan hidup, jumlah rata-rata tahun kehidupan setelah umur tepat x

Tabel kematin untuk laki-laki berbeda dengan tabel kematian untuk perempuan. Tabel kematian ini mengalami kehidupan perubahan sesuai dengan perubahan perkembangan tingkat kematian penduduk.

Tabel kematian memiliki dua bentuk, masing-masing adalah tabel kematian lengkap, terperinci menurut umur satu tahunan. Yang kedua tabel kematian singkat yaitu tabel kematian yang juga meliputi seluruh umur tetapi tidak terperinci secara tahunan, melainkan menurut golongan umur atau kelas interval yang lebih luas (5 tahun atau 10 tahun). Tabel kematian singkat merupakan bentuk tabel kematian yang singkat, lebih pendek tetapi ketepatannya hampir sama dengan tabel kematian lengkap. Tabel kematian ini pada umumnya dihitung atas dasar kelompok umur lima tahunan, didalam suatu populasi yang kurang baik distribusi umurnya, perhitungan dengan tabel kematian singkat lebih tepat.

Angka yang merupakan perkiraan rata-rata umur harapan hidup seseorang sejak lahir adalah angka harapan hidup waktu lahir. Angka ini bukanlah suatu angka yang mutlak tetapi hanya suatu ukuran hipotesis namun demikian, angka ini dapat dijadikan indikator keadaan kesehatan disuatu daerah. Tabel kematian antara laki-laki dan perempuan berbeda karena angka harapan hidup laki-laki lebih rendah dibanding dengan perempuan.

Pada tabel kematian tersebut dapat dilihat bahwa anak yang bertahan hidup paling tinggi pada umur 0 tahun, selanjutnya pada umur 1 tahun mengalami penurunan yang sangat tinggi yakni sekitar 7,1. Dan semakin menurun atau tingginya usia maka mereka yang dapat bertyahan hidup semakin berkurang sedikit demi sedikit, sehingga pada umur 39 tahun mereka yang dapat bertahan hidup  paling sedikit yakni sekitar 80,456.

Kemungkinan terjadinya kematian untuk setiap kelompok umur berbeda-beda dan tidak berlangsung secara kontinew atau berurutan dari atas kebawah. Kelompok umur 0 tahun terjadi kemungkinan kamatian tertinggi yakni 0.07066 sedangkan kemungkinan kematian terendah pada kelompok umur 11 tahun yakni 0.00161. Kemungkinan kematian tinggi dapat disebabkan oleh dua faktor yakni faktor endogen dan faktor eksogen. Endogen ialah faktor bawaan dari dalam yang ada sejak lahir yang diwariskan oleh orang tuanya sejak konsepsi atau didapat dari ibunya selama kehamilan. Sedangkan faktor eksogen adalah kematian bayi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan pengaruh lingkungan luar.

Tahun kehidupan (years lived) terbesar terletak pada umur 0 tahun dan semakin kebawah semakin menurun secara berurutan dengan interval yang berbeda-beda. 94.785,3 merupakan tahun kehidupan terbesar yakni pada umur 0 tahun dan 80.670,5 merupakan tahun kehidupan terkecil pada umur 39 tahun.

Peluang hidup pada umur 11 tahun menduduki p[eluang terbesar yakni 0.99839 yang berada diantara peluang hidup 0.99835 yang terjadi pada umur 10 tahun dan 12 tahun. Sedangkan peluang hidup terkecil terjadi pada umur 0 tahun yakni 0.92934, hal ini mungkin terjadi karena adanya banyak faktor yang mempengaruhi antara lain faktor ibu, bayi itu sendiri dan lingkungannya.

Untuk tahun total kehidupan yang menunjukkan angka tertinggi sebesar 6.004.940,8 ialah pada usia 0 tahun sedangkan tahun total kehidupan dengan angka terendah sebesar 2.623.664,3 adalah usi 39 tahun. Tahun total kehidupan ini mengalami penurunan angka yang berurutan dengan interval yang tidak tentu.

Umur 2 tahun merupakan angka tertinggi untuk harapan hidup jumlah rata-rata tahun kehidupan yakni mencapai 63,642 sedangkan 32,610 merupakan angka terendah tahun kehidupan yang terjadi pada usia 39 tahun. Dalam tahun kehidupan ini terjadi angka yang naik turun pada setiap umurnya dan tidak dapat diprediksikan secara pasti kenaikan maupun penurunannya.

c) Fertilitas

Fertilitas merupakan peristiwa keluarnya konsepsi dari rahim seorang ibu secara lengkap dengan tanda-tanda kehidupan (denyut jantung, denyut tali pusat, gerakan-gerakan otot) tanpa memandang apakah tali pusat sudah dipotong atau belum. Dalam praktikum ini akan dibahas mengenai Keluarga Berencana dan Fertilitas di Tegal, Jawa Tengah.

Yang menarik dari daerah enelitian sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di daerah tersebut yaitu berhubungan dengan program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten tegal dimana angka prevalensi kontrasepsi tinggi, tetapi fertilitas atau angka kelahiran tidak mengalami banyak perubahan dengan sebelum mengenal kontrasepsi. Padahal dalam pembicaraan kebijakan kependudukan dengan peningkatan prevalensi terhadap alat kontrasepsi selalu berarti penurunan fertilitas. Hal inilah yang menarik peneliti untuk melakukan penelitian di daerah Kabupaten Tegal. Angka prevalensi yang tinggi bersamaan dengan sedikitnya perubahan fertilitas di Kabupaten Tegal ini disebabkan karena penggunaan kontrasepsi untuk penjarangan kelahiran (Birth Spacing) dan belum untuk membatasi jumlah kelahiran. Masih banyaknya kematian bayi sebelum umur satu tahun mungkin ikut berperan dalam penggunaan kontrasepsi sebagai alat penjarangan kehamilan. Hal tersebut berkaitan dengan masih rendahnya pengetahuan masyarakat setempat mengenai penggunaan alat kontrasepsi yang dihubungkan dengan masalah keagamaan. Masyarakat setempat masih tergantung oleh pemikiran para ulama yang pengetahuannya hanya terbatas menurut Al-Qur’an dimana menghalangi kehamilan bertentangan denga ajaran islam. Sedangkan pengetahuan mengenai sosial dan umum masih sedikit. Adanya pernyataan Syari’ah Nahdlatul Ulama pada bulan September, 1969 dan beberapa keputusan Konggres Terbatas Nahdlatul Ulama, Juli 1979 dimana isinya memuat pernyataan yang sebagian besar isinya membatasi program Keluarga Berencana untuk berkembang. Akibatnya masyarakat setempat cenderung konservatif dalam agama dan menolak adanya hal baru. Disamping masalah pendidikan yang rendah dan adanya konservatisme dalam agama, perkawinan yang diatur oleh orangtua yang menyebabkan fertilitas di daerah tersebut semakin tinggi. Usia nikah yang masih muda dimana seharusnya usia tersebut lebih pantas untuk mengenyam pendidikan menyebabkan meningkatnya jumlah keluarga yang memungkinkan untuk meningkatkan fertilitas. Karena tujuan utama perkawinan adalah untuk memperoleh keturunan.

Pengaruh yang cukup dominan dalam mendorong masyarakat untuk melaksanakan Keluarga Berencana di daerah Tegal terdiri dari kepala desa dalam hal pelaksanaan program KB di desanya, partisipasi ulama dan pemimipin informal dalam memotivasi dan mengajak penduduk desa untuk mengatur kelahiran. Dari pengaruh ketiganya yang paling dominan dalam mendorong masyarakat adalah pengaruh ulama. Masyarakat di Kabupaten Tegal cenderung lebih menghargai pemikiran ulama setempat. Tetapi para ulama di daerah ini cenderung kurang setuju dengan adanya program KB karena berkaitan dengan masalah agama disamping itu masih terbatasnya pengetahuan sosial dan umum. Sehingga para ulama harus dimotivasi trlebih dahulu. Gejala ini memperlihatkan bahwa walau secara resmi kepala desa mempunyai kekuasaan, para ulamalah yang lebih dihargai oleh penduduk setempat. Untuk itu peran pemerintah dan tenaga lapangan di bidang KB bersama kepala desa harus bisa memotivasi para ulama dengan mengadakan kunjungan, memberi informasi dan pelatihan sehingga pengetahuan umum mereka meningkat. Setelah ketiganya yaitu kepala desa, para ulama, dan pemimpin informal mau berpartisipasi untuk memotivasi dan menarik penduduk desa agar menggunakan kontrasepsi, pemerintah pusat juga harus memberikan pendidikan kependudukan, termasuk Keluarga Berencana kepada orang-orang yang berpengaruh pada tingkat desa, supaya mereka dapat membantu penduduk desa memahami informasi dan melaksanakan Keluarga Berencana. Setelah diberi pendidikan, para ulama memainkan peran paling penting dalam memotivasi masyarakat desa untuk melaksanakan Keluarga Berencana. Para ulama membantu masyarakat dengan menginterprestasikan informasi Keluarga Berencana sesuai dengan ajaran agama. Disamping peran kepala desa atau perangkat desa setempat, para ulama dan pemimpin informasi maka peran petugas lapangan juga penting yaitu dalam langkah awal menyampaikan informasi dimana petugas lapangan harus mampu meningkatkan kemauan dan kemampuan penduduk untuk menerima informasi mengenai Keluarga Berencana.

Faktor yang harus diperhatikan peneliti dalam mempelajari pelaksanaan Keluarga Berencana di daerah penelitian yaitu faktor internal mengenai penduduk atau masyarakat setempat dan faktor eksternal yaitu peran dari perangkat desa atau tokoh agama di daerah setempat. Berkaitan dengan faktor internal, peneliti harus mempelajari tentang:

  1. Keadaan masyarakat mengenai pendidikan. Mengenai masalah pendidikan di Kabupaten Tegal sebagian besar pemduduknya masih rendah tingkat pendidikannya. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah penduduk yang belum tamat SD masih banyak dibanding dengan penduduk yang tamat SD. Sedangkan penduduk yang mengenyam pendidikan sampai  sekolah menengah masih sedikit dan penduduk yang tidak sekolah juga masih banyak. Dengan pendidikan yang rendah menjadi sumber kesulitan dan masalah dalam pelaksanaan program KB yaitu keterbatasan penduduk pada pengetahuannya dimana pengetahuannya hanya terbatas masalah agama menyebabkan mereka cenderung konservatif dalam agama dan menolak adanya hal baru
  2. Masalah yang diatur oleh orangtuanya juga masih merupakan hal yang wajar. Hal itu menyebabkan banyaknya perkawinan pada usia muda, dimana penduduk dengan pendidikan minimal sekolah dasar kawin pada usia 13 tahun keatas dan penduduk yang belum menamatkan sekolah dasar kawin pada usia 15 tahun atau sebelumnya. Dengan banyaknya perkawinan usia muda dapat memungkinkan peningkatan angka kelahiran atau fertilitas sehingga ada kesulitan untuk melakukan program KB berkenaan dengan semakin banyaknya perkawinan membuat tenaga lapangan harus bekerja keras mempengaruhi penduduk dalam menerima informasi mengenai penggunaan kontrasepsi

Sedangkan faktor eksternal yang harus dipelajari peneliti yaitu peran perangkat desa dan tokoh agama, peneliti harus mengetahui seberapa besar peran mereka dalam memotivasi dan menghalangi penduduk dalam berkeluarga berencana. Peran perangkat desa di Kabupaten Tegal mendukung program akan tetapi tokoh agama atau para ulama kurang menyetujui. Padahal penduduk setempat lebih menghargai pemikiran para ulama daripada perangkat desa yang lebih mempinyai kekuasaan. Untuk itu diperlukan cara bagaimana memotivasi para ulama agar mau memdukung program Keluarga Berencana. Setelah para ulama mau membantu perangkat desa dan pemerintah dalam melaksanakan program KB akan lebih mudah untuk memotivasi penduduk setempat

Pendekatan yang seharusnya dilakukan agar program Keluarga Berencana dapat berhasil yaitu dengan melakukan pendekatan kepada :

  1. Pendekatan perorangan kepada pihak atau orang yang memang mempunyai pengaruh dominan pada masyarakat. Di Kabupaten Tegal masyarakat cenderung lebih menghargai pemikiran para ulama daripada kepala desa yang mempunyai kekuasaan. Para ulama mempunyai pengaruh besar pada perubahan perilaku masyarakat setempat. Untuk itu pemerintah perlu melakukan pendekatan pada para ulama melalui bantuan kepala desa dan perangkat desa setempat. Bentuk pendekatan dapat dilakukan dengan cara melakukan kunjungan
  2. Kunjungan lewat pengajian keagamaan dan memberi informasi mengenai program Keluarga Berencana agar pengetahuan para ulama lebih luas sehingga dia mau mendukung program KB dan membantu pemerintah untuk memotivasi masyarakat setempat
  3. Peran tenaga lapangan memberi pendidikan dan informasi lebih lanjut mengenai program KB dan penggunaan serta manfaat kontrasepsi kepada kepala desa  atau perangkat desa dan para ulama agar pengetahuannya meningkat sehingga lebih mudah membantu melakukan penerangan mengenai informasi Keluarga Berencana agar mudah diterima oleh masyarakat setempat. Petugas lapangan juga harus bisa menyamaikan informasi kepada penduduk setempat dengan terlebih dahulu mempelajari keadaan penduduk mengenai pendidikannya, usia nikahnya dan jumlah anggota keluarga. Hal tersebut berkaitan dengan keberhasilan penyampaian informasi mengenai Keluarga Berencana dan penggunaan kontrasepsi agar bisa diterima dan dipahami masyarakat setempat

Kerangka analisis fertilitas yang digunakan dalam penelitian tersebut yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif-kualitatif yaitu analisis kuantitatif dengan menggunakan data makro dimana sebelumnya data berasal dari BPS bersifat makro, dalam arti data yang dikumpulkan  diharapkan dapat mewakili populasi yang diwawancarai. Pada analisis kuantitatif mengharuskan adanya jumlah observasi yang besar, banyak variabel yang ditanyakan, biaya besar serta keseragaman pertanyaan dan cara bertanya. Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam lagi digunakan analisis kualitatif dengan data makro, yang cakupan wilayahnya kecil, diharapkan dapat mengorek lebih banyak informasi yang unik dari tiap responden. Pewawancarapun mempunyai kebebasan untuk mengembangkan pertanyaan sesuai dengan kondisi responden.

Secara kulitatif, penduduk setempat diteliti berdasarkan tingkat pendidikan, usia nikahnya. Dimana dalam penelitian tersebut peran perangkat desa dan para ulama juga dibutuhkan untuk membantu keberhasilan program. Berkaitan dengan masalah fertilitaas, pendidikan dan usia nikah berpengaruh sekali.

d) Mobilitas

Tabel 3.4 Migrasi Antar Kabupaten/Kota

Kota Migrasi masuk laki-laki Migrasi masuk Perempun Migrasi masuk Total
Kota A

Kota B

Kota C

Kota D

Kota E

Kota F

Kota G

Kota H

Kota I

Kota J

Kota K

Kota L

13.380

8.574

16.343

12.165

13.718

1.336

3.242

3.839

21.495

26.001

8.080

8.038

11.121

6.774

13.841

9.144

9.573

1.065

2.680

2.906

17.884

24.675

6.100

5.906

24.501

15.348

30.184

21.309

23.291

2.401

51.922

6.745

39.379

50.676

14.180

13.944

Total

Sumber: Laporan Sementara

Mobilitas penduduk (migrasi) adalah perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, bisa bersifat permanen atau non permanen. Biasanya seseorang melakukan migrasi karena ingin memperbaiki kondisi ekonomi, ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih layak sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, atau ingin memperbaiki hidupnya

Dalam praktikum ini ada 3 jenis migrasi masuk yaitu migrasi masuk menurut jenis kelamin laki-laki, perempuan, gabungan (total) antara perempuan dan laki-laki. Jumlah migrasi masuk pada laki-laki yang tertinggi terdapat pada Kota J sedangkan yang terendah ada pada Kota F dan jumlah migrasi masuk pada perempuan dan laki-laki angka tertinggi terdapat pada Kota J dan yang terendah pada Kota F.

Disini terdapat persamaan jumlah migrasi masuk pada tiap jenis kelamin yaitu untuk jumlah tertinggi terdapat pada Kota J dan terendah terdapat pada Kota F. Hal ini disebabkan karena pada Kota J sebelum ada migrasi masuk, jumlah penduduknya sendiri (asli) sudah banyak atau tinggi dan di kota tersebut sarana dan prasarana dalam mencapai tujuanhidup (dalam memenuhi kebutuhan hidup0 sangat bagus dan tinggi. Selain itu kotanya juga sangat maju, sehingga banyak penduduk dari kota lain atau asing yang datang ke kota tersebut untuk merubah nasib mereka atau memperbaiki hidup mereka, untuk mencari pekerjaan yang lebih layak sehingga dapat mencukupi segala kebutuhan hidup. Sedangkan pada Kota F sebelum terdapat para migran, jumlah penduduknya sendiri sudah sedikit dan kebetulan para migran masuknya juga sedikit. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya saran dan prasarana yang mendukung aktivitas di kota tersebut dan sarana pendidikan yang rendah. Adanya migrasi masuk dari kota lain pada Kota F dapat disebabkan karena migran kembali penduduk asal yang tidak mau meninggalkan tempat asal, swah dan yang lainnya.

e) Ketenagakerjaan

Tabel 3.5 Jumlah Angkatan Kerja

Tahun Laki-laki Perempuan Total
2005

2010

2015

2020

75,43

76,47

76,88

76,45

36,36

37,07

37,80

38,26

56,82

57,61

58,08

58,10

Sumber: laporan Sementara

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah perbandingan jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja (di Indonesia 10 tahun keatas). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ini mempengaruhi jumlah angkatan kerja, selain itu juga dipengaruhi jumlah enduduk usia kerja atau struktur umur penduduk. Perhitungan proyeksi TPAK dilandasi oleh kecenderungan tren TPAK baik hasil survai maupun sensus penduduk di masa lampau.

Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan misalnya saja pada tahun 2005 TPAK laki-laki 75,43 sedangkan TPAK perempuan hanya 36,36. Dan untuk tahun 2010 TPAK laki-laki mengalami peningkatan menjadi 76,47 dan untuk TPAK perempuan juga mengalami peningkatan tetapi hanya mencapai 37,07. Untuk TPAK tahun 2015 dan 2020 masing-masing baik laki-laki maupun perempuan sebesar 76,88;76.65 sedangkan ditulis atau dihitung TPAK perempuan masing-masing sebesar 37,80 dan 38,26. Perhitungan ini berarti bahwa laki-laki lebih banyak bekerja daripada perempuan. Besarnya perbedaan angkatan kerja laki-laki dan perempuan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: seorang laki-laki setelah bekerja, di rumah tidak mengerjakan apapun sehingga tenaga dan ikiran dapat terusat pada pekerjaannya lain halnya dengan perempuanselain bekerja juga masih memiliki kewajiban dan tugas sebagai seorang istri dan seorang ibu yang harus mengurus keluarganya, rumahnya, pendidikan anaknya,dll sehingga tenaga dan pikiran tidak hanya fokus pada satu hal saja tetapi banyak hal yang bisa menyita waktunya juga. Selain itu faktor ekonomi dalam suatu keluarga dan tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan turut mempengaruhi juga. Ketika dalam segi ekonomi suatu keluarga lebih dari cukup biasanya seorang laki-laki (suami) melarang istrinya untuk bekerja karena menginginkan anak-anaknya memperoleh perhatian yang besar.

Dari data proyeksi angkatan kerja di Kaltim baik laki-laki maupun perempuan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan yakni dari tahun 2005 sampai pada tahun 2020. Angkatan kerja baik laki-laki maupun perempuan tertinggi terletak pada saat usia 20 tahun hingga 30 tahun, karena pada umur tersebut tingkat produktivitas meningkat dimana mereka biasanya sedang menginginkan mamulai karir yang baru setelah mendapat ilmu dari sekolahnya. Dengan demikian karena tingginya angkatan kerja maka diharakan ketersediaan lapangan kerja juga mengalami eningkatan sehingga dapat menampung para angkatan kerja dan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang saat ini menjadi masalah penting.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Dari berbagai uraian diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan, diantanya yaitu:

  1. Demografi merupakan bagian dari studi kependudukan.
  2. Kelahiran dan kematian merupakan peristiwa vital karena keduanya sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk.
  3. Penyebab kematian di Indonesia diantaranya yaitu: kesehatan, kondisi dan karakteristik daerah, perubahan struktur penduduk di Indonesia, berbagai macam penyakit, pendidikan dan berbagai factor lainnya.
  4. Seks rasio tertinggi terjadi pada kelompok umur 45-49tahun dan seks rasio terendah terjadi pada kelompok umur 20-24 tahun.
  5. Angka mortalitas yang dianjurkan WHO sebagai indicator status kesehatan yaitu: Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Anak(AKA), dan Angka Kematian Maternal (AKM).
  6. Faktor-faktor yang menentukan pola pertumbuhan penduduk adalah kelahiran, kematian, migrasi masuk, migrasi keluar, teknologi, industrialisasi, ekonomi, dan kestabilan politik.
2. Saran

Sedikit saran yang diperlukan agar masyarakat Indonesia memperoleh kesejahteraan kaitannya dengan kependudukan yaitu:

  1. Pemerintah harus bisa mengarahkan masyarakatnya untuk ikut serta dalam proses-proses yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat.
  2. Berbagai kegiatan yang bersifat kependudukan seperti sensus penduduk dan lainnya, pelaksanaannya harus sesuai dengan aturan dan harus bersifat lebih teliti dan akurat lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Ananta, Aris. 1993. Ciri Demograsif  Kualitas penduduk dan Pembangunan Ekonomi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Anonim. 2006. http://www.papuaweb.org/dlib/s 123/lautenbach/html

Handoyo, Budi. 2006.Dinamika Penduduk. http://www. Malang/FMIPA

Daljoeni, N. 1982. Penduduk Lingkungan dan Masa Depan. Alumni. Bandung.

Lembaga Demografi. 1981. Dasar-Dasar Demografi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Mantra, Ida Bagoes. 2003. Demografi Umum. Edisi kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_________________. 1985. Pengantar Studi Demografi. Nur Cahaya. Yogyakarta

Tjondronegoro, Sediono; Said Rusli; dan Umar Tuanaya. 1981. Ilmu Kependudukan. Erlangga. Jakarta

Pitchford, N. Penerjemah Marcellinus Molo. 1988. Ekologi Kependudukan. Sebelas Maret University Press. Surakarta

___________. Penerjemah Marcellinus Molo. 1995. Ekologi Kependudukan. Sebelas Maret University Press. Surakarta

Demografi adalah ilmu yang mempelajari struktur penduduk yang merupakan aspek statis yang meliputi jumlah, persebaran dan komposisi penduduk serta mempelajari proses penduduk yang merupakan aspek dinamis meliputi kelahiran, kematian dan migrasi penduduk dimana ilmu tersebut bersifat analistis matematis, hal tersebut di ungkapkan Mantra dalam bukunya demografi umum.

Demografi adalah studi matematik dan statistik terhadap jumlah, komposisi, dan distribusi spasial dari penduduk manusia, dan perubahan-perubahan dari aspek-aspek tersebut yang senantiasa terjadi sebagai akibat bekerjanya lima proses yaitu ; fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial menurut Bogue, sedangkan menurut Thomlison demografi adalah studi ilmiah terhadap penduduk  manusia, terutama mengenai jumlah, struktur dan perkembangannya. Jadi demografi adalah ilmu yang mempelajari jumlah, struktur, perkembangan, persebaran dan komposisi penduduk  yang dipengaruhi fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas yang bersifat analitis matematis.

Studi kependudukan menurut Mantra, 2003 adalah ilmu yang mempelajari  atau mengkaji struktur dan proses kependudukan disuatu wilayah dengan melibatkan faktor-faktor nondemografi seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, biologi.

Dari pengertian diatas dapat dilhat perbedaan antara demografi dan studi kependudukan. Studi kependudukan bidang kajiannya lebih luas dalam membahas  dan mempelajari struktur dan proses kependudukan disuatu daerah, dimana faktor-faktor nondemografi misalnya keadaan sosial budaya daerah tersebut ikut dilibatkan. Sedangkan demografi faktor yang dibahas hanya kelahiran, kematian, migrasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa demografi merupakan bagian dari studi kependudukan.

B. Peristiwa Vital Dalam Demografi

Dari komponen-komponen demografi yaitu kelahiran, kematian dan migrasi, hanya kelahiran dan kematian yang dinggap sebagai peristiwa vital. Kelahiran disebut peristiwa vital karena tinggi rendahnya angka kelahiran disuatu daerah akan mempengaruhi pertumbuhan penduduknya. Selain itu kelahiran melibatkan dua orang (suami dan istri) dan dalam pengukuran kelahiran dijumpai beberapa masalah antara lain tidak semua perempuan resiko melahirkan yang artinya ada kemungkinan dari beberapa perempuan tidak dapat pasangan untuk berumah tangga. Angka kelhiran juga sangat penting dalam membuat tafsiran tetang besarnya jumlah penduduk ditahun-tahun mendatang, sehingga akan memudahkan pemerintah dalam mengambil kebijakan mengenai demografi misal: menurunkan angka kelahiran dengan program KB. Sedangkan kematian disebut sebagai peristiwa vital juga karena tinggi rendahnya kematian penduduk disuatu tempat tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk saja, tetapi juga sebagai indikator yang sangat berguna terhadap tingkat kesehatan dan ekonomi penduduk di tempat tersebut.

C. Rate, Rasio, Proporsi

1. Rate adalah suatu cara untuk mengukur proses demografi yaitu melalui tingkat peristiwa demografi tertentu. Adapun perumusannya sebagai berikut:

Rate =  Jumlah peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu tertentu x1000

Jumlah kelompok penduduk yang mempunyai resiko dalam peristiwa dan dalam kurun waktu tertentu

Misal jumlah kelahiran di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2003 sebesar 5109 dan penduduk pada pertengahan tahun  sebesar 1.109.632 jiwa (Sumber data BPS Wonogiri). Maka besarnya kematian  kasar dihitung dengan rumus:

CDR = Jumlah kematian pada tahun 2003                             x 1000

Jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2003

= 5109       x 1000   = 4,60~ 5

1.109.632

Maka dari tiap 1000 penduduk terdapat 5 kelahiran bayi.

2. Rasio adalah perbandingan dua perangkat yang dinyatakan dalam suatu satuan tertentu. Biasanya perbandingan dikalikan 100.

Misal jumlah penduduk laki-laki di Wonogiri sebanyak 555.290 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 557.535 jiwa (Sumber data BPS Wonogiri). Maka sex rationya adalah:

SR =Jumlah penduduk laki-laki (M)       x 100

Jumlah penduduk perempuan (F)

= 555.290     x100  = 996

557.535

Ini artinya 100 penduduk laki-laki sebanding dengan 996 penduduk perempuan.

3. Proporsi adalah perbandingan satu perangkat dengan jumlah keseluruhan perangkat. Misal dari data BPS Wonogiri tahun 2003 dapat diketahui jumlah penduduk perempuan (a) sebanyak 557.535 jiwa dan jumlah laki-laki (b) sebanyak 555.290 jiwa, maka proporsi penduduk perempuan adalah:

Pper = Jumlah penduduk laki-laki

Jumlah laki-laki dan perempuan

= 555.290

1.112.825

= 0,50

Angka itu berarti  proporsi jumlah penduduk perempuan sebesar 0,5.

D. Penjabaran Data Penduduk DKI Jaya Tahun 1961 dan 1971

Tabel 1. Data penduduk DKI Jaya tahun 1961 dan 1971

Umur P 1961 P 1971 P 1961* P 1971*
(1) (2) (3) (4) (5)
0-9 912272 1428078
10-14 257398 536163
15-19 288875 507233
20-24 347074 441689
25-34 547194 743941
35-44 303891 489763
45-54 143195 234191
55-64 68005 100065
65-74 25591 43537
75+ 10406 14775
t.t 2682 15057
Total 2906583 4554492 2906583 4554492

Keterangan: t.t = tidak tahu

Dari data diatas dapat diketahui bahwa struktur umur penduduk daerah DKI Jaya pada tahun 1961 dan 1971 termasuk struktur umur muda, hal ini dapat dilihat dari persentase kelompok penduduk umur dibawah 15 tahun jumlahnya lebih dari 40%, sedangkan kelompok penduduk umur 65 tahun kebawah sekitar 10%. Struktur umur akan menunjukan perbedaan aspek ekonomi seperti masalah angkatan kerja, dan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk DKI Jaya meningkat cukup cepat yaitu sebesar 1.647.909 jiwa. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan oleh tingkat kehidupan yang semakin meningkat sehingga mempengaruhi tingkat mortalitas dan juga mungkin dikarenakan oleh tingkat kelahiran yang masih tinggi.

Pada kolom (1) dan (2) dapat dilihat terjadi peningkatan jumlah penduduk yang tidak diketahui umurnya (t.t) dari 2682 menjadi 15057, hal ini mungkin dapat disebabkan karena responden tidak mengetatui umurnya secara pasti akibat dari umur yang sudah terlalu tua.

Dari tabel 1 diatas dapat dihitung total penduduk tanpa memperhatikan jumlah (t.t) pada:

Tahun 1961 = 2906583-2682   = 2903901 jiwa, sedangkan pada

Tahun 1971 = 4554492-15057 = 4539435 jiwa.

2. Persentase panduduk menurut umur

Data penduduk DKI Jaya tahun 1961 dan 1971

Umur P 1961 P 1971 Persentase Persentase
(1) (2) (3) (4) 1961 (5) 1971
0-9 912272 1428078 31.4 31.4
10-14 257398 536163 8.9 11.8
15-19 288875 507233 9.9 11.1
20-24 347074 441689 11.9 9.7
25-34 547194 743941 18.8 16.4
35-44 303891 489763 10.5 10.8
45-54 143195 234191 4.9 5.1
55-64 68005 100065 2.3 2.2
65-74 25591 43537 0.9 0.9
75+ 10406 14775 0.4 0.3
t.t 2682 15057 0.1 0.3
Total 2906583 4554492 100 100

Keterangan t.t = tidak tahu

Perhitungan Presentase menurut umur :

  • Tahun 1961

Umur 0-9 tahun            =      x 100 %

=  31,4 %

Umur 10-14 tahun        =  x 100 %

=  8,9 %

Umur 15-19 tahun        =

=  9,9 %

Umur 20-24     tahun    =

=  11,9 %

Umur  25-34 tahun       =

=  18,8 %

Umur 35-44 tahun        =

=  10,5 %

Umur 45-54 tahun        =

=  4,9 %

Umur 55-64 tahun        =

=  2,3 %

Umur 65-74 tahun        =

=  0,9 %

Umur 75 +                   =

=  0,4 %

  • Tahun 1971

Umur 0-9 tahun            =

=  31,4 %

Umur 10-14 tahun        =

=  11,8 %

Umur 15-19 tahun        =

=  11,1 %

Umur 20-24 tahun        =

=  9,7 %

Umur 25-34 tahun        =x 100 %

=  16,4 %

Umur 35-44 tahun        =

=  10,8 %

Umur 45-54 tahun        = x 100 %

=  5,1 %

Umur 55-64 tahun        =

=  2,2 %

Umur 65-74 tahun        =

=  0,9 %

Umur 75 +                   =

=  0,3 %

2. Distribusi jumlah t.t berdasarkan persentase penduduk

Umur 1961 1971
0-9 0,34 x 2862 = 842 jiwa 0,314 x15057 = 4728 jiwa
10-14 0,089 x 2862 = 239 jiwa 0,118 x 15057 = 1777 jiwa
15-19 0,099 x 2862 = 266 jiwa 0,111 x 15057 = 1671 jiwa
20-24 0,119 x 2862 = 315 jiwa 0,097 x 15057 = 1460 jiwa
25-34 0,188 x 2862 = 504 jiwa 0,164 x 15057 = 2469 jiwa
35-44 0,105 x 2862 = 282 jiwa 0,108 x 15057 = 1626 jiwa
45-54 0,049 x 2862 = 131 jiwa 0,051 x 15057 = 768 jiwa
55-64 0,023 x 2862 = 62 jiwa 0,022 x 15057 = 331 jiwa
65-74 0,009 x 2862 = 24 jiwa 0,099 x 15057 = 135 jiwa
75+ 0,004 x 2862 = 11 jiwa 0,033 x 15057 = 45 jiwa

3. Jumlah penduduk terkoreksi tanpa t.t

Umur 1961 1971
0-9 912272 + 842 = 913114 jw 1428078 + 4728 = 1432806 jw
10-14 257398 + 239 = 257637 jw 5361630 + 1777 = 537940 jw
15-19 288875 + 266 = 289141 jw 507233   + 1671 = 508904 jw
20-24 347074 + 315 = 347393 jw 441689   + 1460 = 443149 jw
25-34 547194 + 504 = 547698 jw 743941   + 2469 = 746410 jw
35-44 303891 + 282 = 304173 jw 489763   + 1626 = 491389 jw
45-54 143195 + 131 = 143326 jw 234191   + 768   = 234959 jw
55-64 68005 + 62   = 68067 jw 100065   + 331   = 100396 jw
65-74 25591 + 24   = 25615 jw 435371  + 135   = 43672 jw
75+ 10406 + 11   = 10417 jw 14775    + 45     = 14820 jw

E. Komposisi Penduduk

Tabel 2. Komposisi Penduduk Indonesia dan Beberapa Propinsi Tahun1971

Daerah Median age Penduduk<15th (%) Penduduk 65+ (%) RasioP65+/P<15th x100
Indonesia 18.06 44.12 2.5 5.67 a)
Bengkulu 15.96 48.11 b) 2.67 5.55
Jawa timur 19.98 41.16 2.49 c) 6.05
Yogyakarta 19.44 40.92 d) 4.28 10.46

1. Perhitungan :

a). Diket: Median age =18,06

Penduduk <15th = 44,12 %

Penduduk 65+ = 2,5%

Ditanyakan: Rasio……?

Jawab: Rasio = P65+        x100  = 2,5  x 100  = 5,67

P <15 th                   44,12

b). Diket: P 65+ = 2.67%

Rasio = 5,55

Ditanyakan: P<15 th…….?

Jawab : Rasio = P65+    x100

P<15 th

5,55   = 2,67    x100

P<15 th

P<15 th = 267 : 5,55 = 48,11%

c). Diket : P<15 th = 41,16%

Rasio = 6,05

Ditanyakan : P 65+……?

Jawab: Rasio = P65+    x100

P<15 th

6,05  = P65+      x100

41,16

P65+ = 6,05 x 41,16     = 2,49%

100

d). Diket: P65+ = 4,28%

Rasio = 10,46

Ditanyakan : P<15 th……?

Jawab: Rasio = P65+    x100

P<15 th

10,46 = 4,28    x100

P<15 th

P<15 th = 4,28    x100    = 40,92%

10,46

Penjelasan diatas merupakan penjelasan mengenai data komposisi penduduk Indonesia, dan beberapa propinsi berdasarkan pada golongan umur, yaitu penduduk < 15 tahun dan penduduk 65+. Kelompok umur <15 tahun merupakan kelompok usia belum produktif, sedangkan usia 65+ merupakan kelompok unur yang sudah tidak produktif lagi. Penduduk usia non produktif ini sangat berkaitan erat dengan angka rasio beban tanggungan yang dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan suatu daerah. Apabila disuatu daerah jumlah penduduk usia nonproduktif > usia produktif akan menurunkan tingkat kesejahteraan karena penduduk usia produiktif harus menanggung beban penduduk usia nonproduktif yang jumlahnya  lebih banyak.

2. Dari keempat daerah tersebut terdapat perbedaan jumlah dan persentase penduduk yaitu  komposisi penduduk menurut umur (<15 tahun dan 65+).

3. Dari tiap daerah tersebut terdapat perbedaan komposisi penduduk    menurut umur. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, antara lain IPTEK dalam menglola SDA yang mempengaruhi tingkat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

F. Pertumbuhan Penduduk

Tabel 3. Pertumbuhan Penduduk Jawa Madura, 1920-1980

Tahun Sumber data Jumlah Penduduk (ribuan) Pertumbuhan Penduduk(%)
1920 Estimasi BPS 35948 -
1930 Sensus 7 Oktober 41718 1,5
1940 Estimasi BPS 48416 1,5
1950 Estimasi BPS* 50456 0,4
1961 Sensus 31 Oktober 62992 2,04
1971 Sensus24 September* 76100 1,19
1980 Sensus 31 Oktober 91217 2,03

Catatan: 1950-1960: 10 tahun; sedangkan 1971-1980: 9 tahun

1). Perhitungan

(a) Pertumbuhan Penduduk tahun 1930

Diket: Po = 35948

T = 10

Pt = 41718

Ditanyakan : r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

41718=35948(1+r)10

1,160509625=(1+r)10

log 1,160509625 = 10 log (1+r)

0,06464874675 =10 log (1+r)

1+r = anti log 0,00646

1+r =1,014997

r = 0,015                             r = 1,5%

(b). Pertumbuhan Penduduk tahun 1940

Diket: Po = 41718

T = 10

Pt = 48416

Ditanyakan : r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

48416=41718(1+r)10

1,160554197=(1+r)10

log 1,160554197 = 10 log (1+r)

0,0646654249=10 log (1+r)

1+r = anti log 0,00646

1+r =1,015001169

r = 0,015                                r = 1,5%

(c) Pertumbuhan Penduduk tahun 1950

Diket: Po = 48416

T = 10

Pt = 50456

Ditanyakan : r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

Log 50456    =10 log (1+r)

48416

0,01792391145 = log (1+r)

10

1+r = anti log 0,00179

1+r =1,004135661

r = 0,004135661                               r = 0,4%

(d). Pertumbuhan Penduduk tahun 1961

Diket: Po = 50456

t = 11

Pt = 62992

Ditanyakan : r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

Log 62992    =11 log (1+r)

50456

0,09637257751 = log (1+r)

11

1+r = anti log 0,00876

1+r =1,020375

r = 0,020375                       r = 2,04%

(e). Pertumbuhan Penduduk tahun 1971

Diket : Po = 62992

t = 10

Pt = 76100

Ditanyakan: r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

76100 = 62992 (1+r)10

log 76100 = 10 log (1+r)

62992

0,08209925926 = (1+r)

10

1+r = antilog 0,008209925926

r = 1,019083866 – 1 = 0,0191

r = 1,91%

(f).  Pertumbuhan Penduduk tahun 1980

Diket : Po = 76100

t = 9

Pt = 91217

Ditanyakan: r…….?

Jawab: Pt = Po (1+r)t

91217 = 76100 (1+r)9

log 91217 = 10 log (1+r)

76100

0,07869112812     = (1+r)

9

1+r = antilog 0,0008743459

r = 1,020336584 – 1 = 0,0203366584

r = 2,03%

Dari perhitungan tersebut maka pertumbuhan penduduk paling cepat adalah pada tahun 1950-1961 yaitu rata-rata laju pertumbuhan penduduk pertahun sebanyak 2,04%. Pertumbuhan yang cepat ini dapat disebabkan oleh keadaan perekonomian yang semakin baik sehingga tingkat fertilitas semakin besar sementara kesadaran akan program KB masih kurang. Sedangkan rata- rata laju pertumbuhan penduduk yang paling sedikit adalah tahun 1940-1950 yaitu sebesar 0,4% pertahun. Hal ini dapat disebabkan oleh keadaan sosial ekonomi politik yang tidak stabil dengan adanya UUDS yang berlaku pada saat itu menimbulkan perekonomian semakin turun  sehingga keinginan untuk melahirkan anak semakin turun pada akhirnya pertumbuhan penduduk turun.

2). Grafik Pertumbuhan Penduduk

Gambar 1. Grafik pertumbuhan penduduk Jawa Madura

Gambar grafik diatas termasuk pertumbuhan penduduk geometris dimana pertumbuhan penduduk berlangsung secara bertahap yaitu dengan memperhitungkan pertumbuhan penduduk hanya pada akhir tahun  dari suatu periode. Dari grafik dapat dilihat penurunan pertumbuhan secara drastis dari tahun 1940-1950 sebesar 1,5 menjadi 0,4, hal tersebut mungkin dikarnakan pada saat itu negara sedang mengalami krisis politik yaitu perang kemerdekaan. Tapi periode tahun 1950-1960 terjadi kenaikan drastis yaitu dari angka 0,4 menjadi 2,04, kenaikan tersebut karena pada saat itu negara sedang memulai memperbaiki tatanan politik dan pemerintahan terutama dibidang kependudukan.

3). Faktor-faktor yang menentukan pola pertumbuhan peduduk antara lain dipengaruhi komponen-komponen:

1. Jumlah penduduk tahun sebelumnya (Po)

2. Junlah peduduk tahun tertentu (Pt)

3. Jangka waktu

4. Rata-rata laju pertumbuhan

G. Distribusi Penduduk

Tabel 4. Penduduk Jawa Menurut Propinsi dan Daerah Kota dan Pedesaan            1971-1980

Propinsi Kota Pedesaan Kota dan desa
1971 % 1980 % 1971 % 1980 % 1971 % 1980 %
DKI

Jakarta

4546492 33,2 6071748 26.5 0 408906 0.6 454692 5.9 6480654 7.1
Jawa Barat 2683123 19.6 5770868 25.2 18937827 30.4 21678972 31.8 21620950 28.4 27449840 30.1
DIY 406337 3.0 607267 2.6 2082207 3.3 2142861 3.1 2488544 3.3 2750128 3.0
Jawa Tengah 2345190 17.2 4756007 20.7 19520073 31.3 20611337 30.2 21865263 28.8 25367344 27.8
Jawa Timur 3694311 2.7 5720487 25 21814076 35 23448517 34.3 25508387 33.6 29169004 32
Jawa 13675453 22926377 62354183 68290593 760229636 91216970
% 100 100 100 100 100 100

1). Perhitungan Persentase

a. Kota

DKI Jakarta

Tahun 1971      =

=  33,2 %

Tahun 1980      =

= 26,5 %

Jawa Barat

Tahun 1971     =

=   19,6 %

Tahun 1980      =

=   25,2 %

D.I. Yogyakarta

Tahun 1971    =

=  3,0 %

Tahun 1980      =

=    2,6 %

Jawa Tengah

Tahun 1971     =

=  17,2 %

Tahun 1980      =

=  20,7 %

Jawa Timur

Tahun 1971      =

=  27 %

Tahun 1980      =

=  25 %

b. Pedesaan

DKI Jakarta

Tahun 1971      =   0

Tahun 1980      =

=  0,6 %

Jawa Barat

Tahun 1971      =

=  30,4 %

Tahun 1980      =

=  31,8 %

DI Yogya

Tahun 1971      =

=  3,3 %

Tahun 1980      =

=  3,1 %

Jawa Tengah

Tahun 1971      =

=  31,3  %

Tahun 1980      =

=  30,2 %

Jawa Timur

Tahun 1971          =   %

=   35 %

Tahun  1980         =

=  34,3 %

c.  Kota dan Pedesaan

DKI Jakarta

Tahun 1971      =   4546492 +  0

=  4546492 jiwa

=

=  5,9 %

Tahun 1980      =   6071748 +  408906

=  6480654 jiwa

=

=  7,1 %

Jawa Barat

Tahun 1971      =  2683123 + 18937827

= 21620950 jiwa

=

=  28,4 %

Tahun 1980      =  5770868  + 21678972

=  27449840 jiwa

=

=  30,1 %

DI Yogya

Tahun 1971      =  406337 +  2082207

=  2488544 jiwa

=

=  3,3 %

Tahun 1980      =  607267 +2142861

=  2750128 jiwa

=

=  3 %

Jawa Tengah

Tahun 1971      =  2345190 + 19520073

=  21865263 jiwa

=

=  28,8 %

Tahun 1980      =  4756007 + 20611337

=  25367344 jiwa

=

= 27,8 %

Jawa Timur

Tahun 1971          =  3694311 + 21814076

=  25508387 jiwa

=

=  33,6 %

Tahun  1980         =  5720487 + 23448517

=  29169004 jiwa

=

=  32 %

Dari sepuluh tahun tersebut ada perubahan komposisi peduduk antar propinsi hal ini dapat dikarenakan terjadinya mingrasi keluar dan masuk, kematian  dan kelahiran yang terjadi didesa maupun dikota. Peningkatan terutama didaerah perkotaan diakibatkan oleh urbanisasi dari pedesaan.

H. Angkatan Kerja

Tabel 5. Penduduk berumur 10 tahun ke atas di Pedesaan dan Perkotaan  Jawa dan Madura.

No Sektor ekonomi 1971 % 1980 % Perubahan
I Pedesaan
1 Pertanian (A) 15823225 69.5 15641933 61.8 -181292
2 Industri (M)
2.1 Pertambangan & penggalian 15542 0.1 144149 0.6 +128607
2.2 Pengolahan 1591694 7.0 2213691 8.7 +621997
2.3 Listrik, gas & air 5845 0.1 33361 0.1 +27516
2.4 Bangunan 300073 1.3 721644 2.9 +421571
3 Pelayanan (S)
3.1 Perdagangan 2317711 10.1 3183476 12.6 +865765
3.2 Angkutan & Komunikasi 351837 1.5 496968 1.9 +145131
3.3 Keuangan, Asuransi, & Bank 10155 0.1 33273 0.1 +23118
3.4 Jasa kemasyarakatan 1556503 6.8 2829412 11.2 +1272909
4 Lainnya 798413 3.5 15416 0.1 -782997
Total 22770998 25313323 +22542325
Persentase 100 100
II Kota
1 Pertanian (A) 279190 6.7 614651 8.7 +335461
2 Industri (M)
2.1 Pertambangan & penggalian 8821 0.2 40885 0.6 +32064
2.2 Pengolahan 490575 11.8 1136727 16.0 +646132
2.3 Listrik, gas & air 21367 0.5 29046 0.4 +7679
2.4 Bangunan 197135 4.7 380182 5.4 +183047
3 Pelayanan (S)
3.1 Perdagangan 1042634 25.1 1774174 25.1 +731540
3.2 Angkutan & Komunikasi 310155 7.5 520261 7.3 +457971
3.3 Keuangan, Asuransi, & Bank 62690 1.5 150542 21 +87852
3.4 Jasa kemasyarakatan 1391361 33.4 2427072 34.3 +1039711
4 Lainnya 357552 8.6 8361 0.1 -349191
Total 4161480 7081901 +2920421
Persentase 100 100

Perhitungan Perubahan dan Persentase Jumlah Angkatan Kerja

  1. Pedesaan :

Diketahui jumlah total

Tahun 1971            = 22770998 jiwa

Tahun 1980            =  25313323 jiwa

Perubahan                    =  25313323 -  22770998

= 22542325 jiwa

  1. Pertanian (A)

Tahun 1971            =

=  69,5 %

Tahun 1980            =

=  61,8 %

Perubahan              =  15641933 – 15823225

= -181292

  1. Industri

2.1 Pertambangan dan Penggalian

Tahun 1971      =

= 0,1 %

Tahun 1980      =

=  0,6 %

Perubahan        =   144149 – 15542

= 128607

2.2  Pengolahan

Tahun 1971      =

=  7,0 %

Tahun1980       =

=  8,7 %

Perubahan        = 2213691 – 1591694

= 621997

2.3 Listrik, gas  dan air

Tahun 1971      =

=  0,1 %

Tahun 1980      =

=  0,1 %

Perubahan        =  33361 – 5845

= 27516

2.4  Bangunan

Tahun 1971      =

=  1,3 %

Tahun 1980       =

=  2,9 %

Perubahan        = 721644 – 300073

= 421571

3. Pelayanan

3.1 Perdagangan

Tahun 1971      =

=  10,1 %

Tahun 1980      =

=  12,6 %

Perubahan        =  3183476 – 2317711

= 865765

3.2 Angkutan dan Komunikasi

Tahun 1971            =

=  1,5 %

Tahun 1980            =

=  1,9 %

Perubahan  =  496968 – 351837

=  145131

3.3 Keuangan, Asuransi dan Bank

Tahun 1971            =

=  0,1 %

Tahun 1980            =

=  0,1 %

Perubahan              =  33273 – 10155

=  23118

3.4 Jasa Kemasyarakatan

Tahun 1971            =

=  6,8 %

Tahun 1980            =

= 11,2 %

Perubahan  =  2829412 – 1556503

=  1272909

  1. Lainnya

Tahun 1971            =

=  3,5 %

Tahun 1980            =

= 0,1

Perubahan  =  15416 – 798413

=  -  782997

  1. Kota :

Diketahui jumlah total

Tahun 1971            = 4161480 jiwa

Tahun 1980            = 7081901 jiwa

Perubahan                    = 4161480 –7081901

= 2920421 jiwa

1. Pertanian (A)

Tahun 1971            =

=  6,7 %

Tahun 1980            =

=  8,7  %

Perubahan              =  614651 – 279190

=  335461

2.Industri

2.1 Pertambangan dan Penggalian

Tahun 1971         =

= 0,2 %

Tahun 1980         =

=  0,6 %

Perubahan           = 40885 – 8821

= 32064

2.2  Pengolahan

Tahun 1971      =

= 11,8 %

Tahun1980       =

=  16,0 %

Perubahan        = 1136727 – 490575

=  646152

2.3 Listrik, gas  dan air

Tahun 1971      =

= 0,5 %

Tahun 1980      =

=  0,4 %

Perubahan        =  29046 – 21367

=  7679

2.4  Bangunan

Tahun 1971      =

=  4,7 %

Tahun 1980      =

=  5,4 %

Perubahan        =  380182 – 197135

=  183047

3. Pelayanan

3.1 Perdagangan

Tahun 1971      =

=  25,1 %

Tahun 1980      =

=  25,1 %

Perubahan        =  1774174 – 1042634

=  731540

3.2 Angkutan dan Komunikasi

Tahun 1971      =

=  7,5 %

Tahun 1980      =

=  7,3 %

Perubahan        =  520261 – 310155

=  457471

3.3 Keuangan, Asuransi dan Bank

Tahun 1971      =

= 1,5 %

Tahun 1980      =

=  2,1 %

Perubahan        = 150542 – 62690

= 87852

3.4 Jasa Kemasyarakatan

Tahun 1971      =

=  33,4 %

Tahun 1980      =

= 34,3 %

Perubahan        =  2427072 – 1391361

= 1035711

4. Lainnya

Tahun 1971      =

=  8,6 %

Tahun 1980      =

= 0,1 %

Perubahan        =  8361 – 357552

= -349191

Penyebab terjadinya perubahan komposisi angkatan kerja  :

  1. Pedesaan

1. Pertanian

Di Pedesaan merupakan tempat dimana lahan pertanian berlimpah ruah. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya angkatan kerja, pada  tahun 1971   yaitu sebesar  15823225 jiwa  sedang pada tahun 1980  sebanyak   15741933    jiwa. Dari tahun 1971 sampai 1980 terjadi penurunan jumlah angkatan kerja. Hal  ini disebabkan karena lahan pertanian semakin sempit karena bertambahnya jumlah penduduk memerlukan perluasan lahan pemukiman, sehingga mengalih fungsikan lahan pertanian.

2. Industri

2.1     Pertambangan dan Penggalian :

Sektor industi khususnya pertambangan dan mengalami peningkatan. Pada tahun 1971 sebanyak 15542 jiwa dan pada tahun 1980 meningkat menjadi 144149 jiwa. Hal dapat diakibatkan oleh kebutuhan akan barang tambang yang semakin banyak  dan juga tenaga kerja dari sektor pertanian yang beralih profesi.

2.2     Pengolahan :

Subsektor Industri pengolahan juga mengalami peningkatan dari tahun 1971 sebanyak 1591694 jiwa menjadi 2213691 pada tahun 1980. Hal tersebut dikarenakan tuntutan masyarakat akan barang-barang jadi. Sehingga dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat, akibat dari industrialisasi.

2.3      Listrik, gas dan air

Dengan bertambahan penduduk bertambah pula kebutuhan masyarakat akan listrik, air, dan gas. Sehingga meningkatkan     jumlah angkatan kerja pada subsektor ini, dari  5845 jiwa menjadi  33361  jiwa. Di Pedesaan untuk subsektor ini kurang begitu  menyerap tenaga kerja karena lapangan-lapangan kerja subsektor ini biasanya terletak di kota-kota.

2.4      Bangunan

Pertumbuhan penduduk erat kaitannya dengan subsektor ini. Failitas-fasilitas bangunan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dibangun disana-sini, hal itulah salah satu yang mnyebabkan peningkatan tenaga kerja tahun 1971  sebanyak 300073 jiwa menjadi  721644 jiwa pada tahun 1980.

3. Pelayanan

3.1        Perdagangan

Perdagangan di pedesaan tidak mendapat perhatian yang cukup tinggi dari masyarakat. Tetapi hal tersebut mengurangi niat masyarakat untun mencoba usaha dibidang ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja dari tahun 1971 sebesar 2317711 jiwa menjadi 3183476jiwa pada tahun 1980. Peningkatan itu dikarenakan  jumlah masyarakat yang meningkat pesat dimana mereka membutuhkan barang-barang hasil non pertanian yang hanya nereka dapat dari usaha perdagangan.

3.1        Angkutan dan Komunikasi

Di Pedesaan jasa angkutan  dan komunikasi  masih secara sederhana, tetapi dengan bertambahnya penduduk serta kemajuan teknologi menuntut masyarakat untuk lebih peka terhadap kemajuan zaman, yang salah satunya adalah sarana angkutan dan komunikasi. Hal itulah yang menyebabkan   masyarakat tertarik untuk mencoba berusaha disektor ini meskipun membutuhkan pengorbanan materi yang cukup besar.  Tahun 1971 penduduk yang bekerja di sektor ini sebanyak 35183 jiwa dan meningkat pada tahun 1980   menjadi 496968 jiwa.

3.2        Keuangan, Asuransi dan Bank

Subsektor ini kurang terlalu berkembang didesa, tetapi seiring meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, dinama mereka mulai memikirkan kehidupan mereka dimasa depan. Dengan berlandaskan pemikiran tersebut maka lembaga-lambaga  asuransi dan lembaga-lembaga keuangan banyak  berdiri di desa-desa, yang  pada akhirnya sektor ini dapat menyerap tenaga kerja sehingga  dapat meningkatan jumlah tenaga kerja dari 10155 jiwa pada tahun 1971 menjadi 33273 jiwa pada tahun 1980.

3.4    Jasa Kemasyarakatan

Peningkatan tingkat pendidikan masyarakat meningkatkan pula pengetahuan mereka akan segala sesuatu. Misalnya keamanan, kesehatan dan lain sebagainya. Subsektor ini antaralain meliputi dokter, bidan, petugas keamanan seperti polisi  dan lain sebagainya yang banyak terdapat didesa. Tingginya tingkat pendidikan masyarakat memberi peluang yang lebih bagi penduduk yang memiliki keahlian khusus.Pada tahun 1971 penduduk yang bekerja disektor ini sebanyak 1556503 jiwa, pada tahun 1980 meningkat menjadi 2829412 jiwa.

4. Lainnya.

Beberapa penduduk desa  ada juga yang  berusaha diluar sektor-sektor ekonomi diatas, tetapi   jumlahnya dalam jumlah yang sangat sedikit, hal tersebut dapat dilihat dari semakin menurun jumlah tenaga kerja  dari 798413 jiwa pada tahun 1971 menjadi 15416 pada tahun 1980. penurunan tersebut dapat disebabkan masyarakat telah dapat memilih lapangan kerja yang menurut mereka lebih dianggap menguatungkan.

  1. Kota

1. Pertanian

Di Kota sektor pertanian mengalami peningkatan  dari 279190  jiwa pada tahun 1971 menjadi 614651  jiwa pada tahun 1980 berbada dengan desa yang mengalami penurunan, tetapi jumlahnya tenaga kerja yang ada di kota lebih sedikit daripada yang ada didesa. Hal ini  disebabkan banyaknya penemuan-penemuan baru dibidang pertanian seperti halnya pertanian hidroponik yang tidak membutuhkan lahan pertanian yang luas. Serta kebutuhan masyarakat akan hasil pertanian yang alami menuntut mereka untuk mengembangkan usaha di bidang pertanian.

2. Industri

2.1 Pertambangan dan Penggalian :

Jumlah angkatan kerja dibidang pertambangan dan penggalian di kota tidak sebanyak di pedesaan, tetapi masih mengalami peningkatan dari 8821 jiwa pada tahun 1971 menjadi 40885 pada tahun 1980. tetapi dikarenakan kebutuhan akan barang tambang terus meningkat sehingga menarik minat mereka untuk tetap bekerja di bidang ini.

2.2 Pengolahan :

Di bidang Industri pengolahan terutama di perkotaan mengalami peningkatan dari tahun 1971 sebanyak 490575 jiwa manjadi 1136727  jiwa pada tahun 1980. Peningkatan ini karena semakin   meningkatnya pula kebutuhan masyarakat akan barang jadi, apalagi di perkotaan masyarakat membutuhkan barang-barang yang serba cepat.

2.3   Listrik, gas dan air

Pertambahan penduduk yang selalu diikuti dengan pertambahan  jumlah angkatan kerja dan pertambahan kebutuhan termasuk kebutuhan akan energi baik listrik, air dan gas. Dapat dilihat  pada subsektor ini jumlah tenaga kerja juga meningkat, dari  21367 jiwa menjadi  29046  jiwa. Di kota sektor-sektor ini   menyerap jumlah tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan dengan desa pada tahun 1971 , tetapi  pada tahun1980 tenaga kerja  pedesaan yang bekerja disektor ini lebih banyak  karena  bangunan-bangunan untuk sektor ini ditempatkan dipinggiran kota atau mendekati desa untuk menghindari gangguan-gangguan bagi penduduk .

2.4   Bangunan

Bangunan diperkotaan adentik dengan perumahan, kantor-kantor, jalan raya, jaln tol dan masih banyak lagi yang lainnya. Oleh karena itu sektor ini juga mengalami peningkatan, tahun 1971  sebanyak 197135 jiwa menjadi  380182 jiwa pada tahun 1980. dimana penbangunan sarana-sarana tadi akan menyerap banyak tenaga kerja.

3. Pelayanan

3.3        Perdagangan

Subsektor perdagangan menduduki peringkat kedua setelah sektor jasa dalam hal penyerapan jumlah tenaga kerja di kota. Sektor memberikan banyak peluang apalagi  dikota dengan masyarakat yang lebih beraneka ragam dengan kebutuhan-kebutuhannya yang beraneka ragam pula.  Dimana kebutuhan itu dapat mereka peroleh dari sektor ini. Karena hal tersebut sektor ini terus mengalami peningkatan dari tahun 1971  yang jumlahnya 100042634  jiwa pada tahun 1980 menjadi 1774174 jiwa, yang berarti bertambah  sebanyak 731540 jiwa.

3.4              Angkutan dan Komunikasi

Di daerah perkotaan sarana angkutan dan komunikasi merupakan sesuatu  yang sangat penting guna menunjang segala aktivitas.  Sehingga kebutuhan disektor ini terus bertambah  dan menyebabkan bertambahnya jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Tahun 1971 penduduk yang bekerja di sektor ini sebanyak 310155 jiwa dan meningkat pada tahu 1980   menjadi 520261 jiwa.

3.5              Keuangan, Asuransi dan Bank

Tingkat pendidikan masyarakat kota lebih maju dari masyarakat desa, sehingga mereka akan lebih berfikir tentang kebaikan hidupnya dimasa depan. Hal tersebutlah yang menunjang berdirinya lembaga keuangan seperti bank, dan lembaga asuransi. Subsektor ini mengalami peningkatan dari 62690 jiwa pada tahun 1971 menjadi 150542 jiwa pada tahun 1980.

3.6       Jasa Kemasyarakatan

Jasa kemasyarakatan meliputi dokter, bidan, petugas keamanan seperti polisi  dan lain sebagainya. Dimana jasa-jasa tersebut sangat diperlukan untuk lebih menunjang kehidupan dikota.    Sektor ini terus mengalami peningkatan karena dikota banyak tempat-tempat pelayanan jasa seperti Rumah Sakit, klinik, kantor- kantor pengacara dan lain-lain. Karena sektor ini dapat memberi peluang yang lebih bagi penduduk yang memiliki keahlian khusus di bidangnya masing-masing. Pada tahun 1971 penduduk yang bekerja disektor ini sebanyak 1391361 jiwa, pada tahun 1980 meningkat menjadi 2427072 jiw

4.Lainnya.

Hanya sedikit penduduk kota yang  berusaha diluar sektor-sektor ekonomi diatas. Hal tersebut dikarenakan ada sektor-sektor ekonomi yang telah disebutkan sebelumnya dapat  memberikan kelebihan tersendiri. Kelebihan sektor lain itu dapat dilihat dari   jumlah sektor lain ini yang  semakin menurun  dari 798413 jiwa pada tahun 1971 menjadi 15416 pada tahun 1980.

I. Piramida Penduduk

Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin  Tahun 2003 Di Wonogiri

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan
0-4 36766 38477
5-9 76498 42325
10-14 53091 35236
15-19 44010 46282
20-24 34288 34435
25-29 37617 39266
30-34 45493 40928
35-39 35916 46450
40-44 43658 39739
45-49 36558 35888
50-54 32143 32169
55-59 26548 23485
60-64 26264 25545
65-69 14268 25018
70-74 19524 20237
75+ 22648 31507

Sumber : Data BPS Wonogiri

Berdasarkan piramida diatas dapat dilihat bahwa pembagian jumlah kelaompok umur hampir sama. Oleh karena itu piramida diats termasuk poramida stasioner. Pada tahun 2003 kelompok umur terbanyak adalah laki-laki umur 10-14 sebesar 53.091 jiwa dan perempuan sebesar 46.828 jiwa pada umur 15-19 tahun.  Pada tahun ini karakteristik penduduk termasuk penduduk muda karena jumlah penduduk terbanyak bereda pada kelompok umur 10-19 tahun. Kelompok umur 10-19 tahun adalah kelompok umur yang baru mulai produktif. Sedangkan jumlah kelompok umur terkecil berada pada kelompok umur 65-79tahun untuk laki-laki dan kelompok umur 70-74 tahun untuk kelompok perempuan.  Kelompok umur terkecil tersebut merupakan kelompok umur yang sudah tidak produktif lagi. Dasar piramida tidak terlalu kecil, hal tersebut menunjukan angka kelahiran yang tidak sedikit pula.

Tabel 7. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin  Tahun 2004 Di Wonogiri

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan
0-6 77613 77612
7-12 67935 66675
13-18 76040 76640
19-24 80147 80599
25-55 147518 14238
56-79 75608 75608
80+ 33062 34494

Sumber : Data BPS Wonogiri

Berdasarkan piramida diatas pada tahun 2004 ini  piramida penduduk tersebut masih termasuk piramida stasioner dimana jualah penduduk dalam tiap tahunnya hampir sama. Berbeda dengan data penduduk tahun 2003, pada tahun ini pendatan kelompok tidak dilakukan dalam kelompok umur dengan selisih yang sama. Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah penduduk pada kelompok umur 25-55 angkanya jauh dari kelompok umur yang lain dimana selisih umurnya dekat yaitu  5 tahun. Sedangkan jumlah kelompok umur terkecil berada pada kelompok 80+, diman akelompok ini termasuk kelompok umur yang sudah sangat tidak produktif.

  1. Angka Kelahiran Kasar

Tabel 8. Jumlah Angka Kelahiran 5 tahun terakhir di Wonogiri

Tahun Jumlah kelahiran Jumlah Penduduk Tengah tahun
2004 1890 1115418.5
2003 11.961 1.109.623
2002 10.263 1.112.143.5
2001 11.773 1.114.533
2000 11.915 1.107.135

Sumber : Data BPS Wonogiri

Perhitungan :

11.  Tingkat kelahiran kasar (CBR) didefinisikan sebagai banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun menurut Mantra 2003. Dapat ditulis dengan rumus:

CBR = B         x k

Pm

Pm = penduduk pertengahan tahun

B = jumlah kelahiran pada tahun tertentu

K = bilangan konstanta yang biasanya 1000

Tahun 2004:

Pm = penduduk awal tahun + penduduk akhir tahun

2

Pm = 1.112.825 + 1.118.012

2

= 2230837    = 1115418.5

2

CBR = 1890          x 1000

1115418.5

= 1,7 ~ 2

Berarti dari setiap 1000 penduduk di Wonogiri pada tahun 2004 terdapat 1,7~2 kelahiran.

Tahun 2003:

CBR = 11.961        x1000

1.109.632

= 10.78~11

Berarti dari setiap 1000 penduduk di Wonogiri pada tahun 2003 terdapat 10,78~11 kelahiran.

Tahun 2002:

Pm = penduduk awal tahun + penduduk akhir tahun

2

Pm = 1.117.869 + 1.106.418

2

= 2224287    = 1112143.5

2

CBR = 10263          x 1000

1112143.5

= 9.2 ~ 9

Berarti dari setiap 1000 penduduk di Wonogiri pada tahun 2002 terdapat 9.2 ~ 9 kelahiran.

Tahun 2001:

Pm = penduduk awal tahun + penduduk akhir tahun

2

Pm = 1.111.197 + 1.117.869

2

= 2229066    = 1114533

2

CBR = 11773          x 1000

1114533

= 10.6 ~ 11

Berarti dari setiap 1000 penduduk di Wonogiri pada tahun 2002 terdapat 10.6 ~ 11 kelahiran.

Tahun 2000:

Pm = penduduk awal tahun + penduduk akhir tahun

2

Pm = 1.103.073 + 1.111.197

2

= 2214270    = 1107135

2

CBR = 11915         x 1000

1107135

= 10.8 ~ 11

Berarti dari setiap 1000 penduduk di Wonogiri pada tahun 2002 terdapat 10.8 ~ 11 kelahiran.

Dari perhitungan diatas diper oleh angka kelahiran kasar dari tahun 2000-2004 berturut-turut sebesar 10,8; 10,6; 9,2; 10,78; 1.7. Kenaikan dan penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa hal.

Penurunan angka kelahiran di Kabupaten Wonogiri dari tahun ke tahun dapat disebabkan oleh semakin meningkatnya tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat akan pentingnya program KB yang telah dicanangkan pemerintah dan juga dapat dikarenakan oleh keadaan ekonomi masyarakat yang memaksa mereka untuk menekan pengeluaran dengan mengurangi angka kelahiran. Dan juga dapat dikarnakan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat sehingga masyarakat menginginkan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Sedangkan  kenaikan angka kelahiran dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya tingkat pendidikan dan faktor sosial melalui variabel antara  misal tingginya tingkat reproduksi perempuan usia subur dan lain-lain.

Dalam Undang-undang nomor 10  tahun 1992, keluarga berencana telah mendapatkan definisi yang baru dan semakin luas yaitu upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.Akibat pelaksanaan program ini terjadi penurunan angka kelahiran kasar (Siswanto, 1996).

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
  2. Demografi merupakan bagian dari studi kependidikan dimana bidang kajian studi kependudukan lebih luas bukan hanya membahas faktor-faktor demografi tetapi nondemografi juga dibahas.
  3. Kelahiran dan kematian termasuk komponen demografi yang merupakan peristiwa vital. Karena kelahiran dan kematian akan mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk di suatu daerah.
  4. Rate, rasio, proporsi adalah salah satu cara dalam pengukuran stuktur demografi yang termasuk dalam pengukuran dengan bilangan relatif. Dari data-data penduduk yang telah tersedia kita dapat menghitung berbagai data sesuai apa yang kita perlukan. Misal data pertumbuhan penduduk, angka kematian suatu daerah, dan lain-lain.
  5. Struktur umur penduduk suatu daerah dapat dilihat dari persentase jumlah penduduk  pada umur tertentu. Dari data penduduk DKI Jaya tahun 1961 dan 1971 termasuk struktur umur muda, hal tersebut dapat dikarenakan kelompok umur dibawah 15 tahun lebih banyak dari pada penduduk kelompok umur 65 kebawah.
  6. Adanya kelompok umur penduduk yang tidak diketahui umurnya bisa dikarenakan kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses pendataan penduduk atau umur yang terlalu tua sehingga penduduk yang bresangkutan tidak mengetahui secara pasti berapa umurnya.
  7. Perbedaan komposisi dapat disebabkan oleh faktor sosial ekonomi antara lain IPTEK dalam mengelola SDA yang mempengaruhi tingkat kehidupan manusia menjadi lebih baik.
  8. Kelahiran, kematian, migrasi masuk dan migrasi keluar, keadaan sosial ekonomi politik merupakan salah saty faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan penduduk suatu daerah.
  9. distribusi penduduk suatu daerah juga dipengaruhi oleh kematian, kelahiran, migrasi serta kebutuhan masyarakat akan kehidupan yang lebih baik.
  10. Penurunan sektor pertanian dapat dikarenakan pertumbuhan penduduk semakin cepat tiap tahunnya sehingga lahan pertanian yang tersedia beralih fungsi menjadi perumahan, bangunan-bangunan industri, dan lain-lain.

10.  Piramida penduduk dapat menggambarkan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin  secara visual (Mantra, 2003) sehingga kita mendapat gambaran yang lebih jelas tentang jumlah pendudk suatu daerah. Data penduduk yang dibahas adalah data penduduk Wonogiri dimana bentuk paramidanya adalah stasioner yang artinya banyaknya penduduk tiap kelompok umur hampir sama kecuali kelompok umur tertentu.

  1. Tingkat kelahiran kasar (CBR) dapat dihitung dengan membagi jumlah kelahiran pada tahun tertentu  dengan jumlah penduduk pada pertngahan tahun tersebut. Kenaikan angka kelahiran dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya tingkat pendidikan dan faktor sosial melalui variabel antara  misal tingginya tingkat reproduksi perempuan usia subur dan lain-lain. Sedangkan penurunan dapat disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat program KB dan keadaan ekonomi yang memaksa masyarakat untuk mengurangi pengeluaran dengan menekan angka kelahiran.

B. Saran

1. Lebih ditingkatkan lagi kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan registrasi ataupun sensus penduduk agar memudahkan  pemerintah dalam mengetahui perkembangan dan pertumbuhan penduduknya.

2. Dalam pembuatan data sebaiknya BPS membuat dalam bentuk yang sama, sehingga memudahkan untuk mempelajarinya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: