Menggagas Sistem Pendidikan Berperspektif Gender dan Membebaskan

Berbicara tentang sistem pendidikan Indonesia, kita masih dihadapkan pada realitas bahwa sistem pendidikan kita masih belum menjadi oase pembebasan dari beragam ketertindasan, kekerasan, dan ketidakadilan. Padahal pendidikan merupakan basis dari proses pencerahan, sebagai wadah dan sarana memanusiakan manusia, atau kunci untuk memperoleh informasi yang berguna bagi kehidupan seseorang. Pendidikan memang bukan jaminan menjadi kaya, tetapi menjadi pintu melihat dunia, memperluas cakrawala berpikir dan berjaringan dengan dunia lain, pendidikan adalah proses yang terus dilalui manusia. Selama ini proses pendidikan selalu diikat oleh nuansa formalitas, dibatasi oleh empat sisi tembok yang bernama lembaga pendidikan formal. Padahal sebenarnya proses pendidikan tak hanya terbatas pada nuansa formalitas tapi juga masuk pada lingkup yang sangat informal. Setidaknya pembahasan itulah yang muncul dalam Halqah pendidikan yang dilaksanakan sebagai kelanjutan dari program pelatihan sensitifitas gender bagi guru dan pendidik pondok pesantren. Upaya ini dilakukan untuk mengkritisi sistem pendidikan yang ada selama ini, khususnya pada lembaga pesantren ataupun kelompok-kelompok yang berbasis Islam. Acara untuk para alumni pelatihan gender ini mengangkat tema “Menuju pendidikan yang membebaskan dan berkeadilan gender”. Acara yang digelar pada tanggal 27-30 April 2002 di Pesantren Nurul Islam Jember Jawa Timur ini, diarahkan untuk memberikan penguatan konsep pendidikan yang membebaskan dan berkeadilan gender. Acara yang dipandu Helmy Ali ini menggali bersama beragam paradigma teori pendidikan, bagaimana memandang manusia sebagai agent of social change dalam pendidikan, pendekatan pendidikan androgogi dan pedagogi serta menggagas sistem pendidikan yang membebaskan dan berperspektif gender. Ketika mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya salah seorang peserta mengungkapkan “Bila mengacu pada pemahaman yang dikembangkan Paulo Freire, menurut kami, model pendidikan yang membebaskan setidaknya mencakup hal-hal sebagai berikut: menggunakan sistem andragogi yaitu sebuah sistem yang menempatkan peserta sebagai seorang subyek, menghilangkan (secara gradual) suasana formalitas dalam proses belajar mengajar, demokratis-artinya guru tidak selalu merasa lebih pintar. Guru hanya sebagai fasilitator, bukan sebagai orang yang mendominasi. Selain itu juga menempatkan murid sebagai peserta didik yang aktif, dengan mengedepankan sistem dialogis, tidak lagi menganggap guru sebagai sosok yang serba bisa”. Lebih lanjut masih mengacu pada pandangan Freire, sistem pendidikan untuk pembebasan ini diupayakan untuk menggarap realitas manusia. Oleh karena itu secara metodologis bertumpu pada prinsip aksi dan refleksi. Prinsip ini merupakan kesatuan dari fungsi berpikir, berbicara dan berbuat. Inilah yang oleh Freire disebut dengan prinsip praksis. Ikut memperkaya pembahasan hadir dari Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) Yogyakarta Masruhah dan Zubaidah yang membahas upaya-upaya yang telah dilakukan dalam sosialisasi pendidikan yang membebaskan dan berkeadilan gender melalui forum badal kyai dan nyai untuk wilayah Jawa tengah dan Jogya. Menurut Masruhah, tidak mudah memang menghadapi realitas yang ada dalam lingkungan pesantren, ketika para Nyai dan Kyai dipertemukan dalam satu forum, mayoritas para Nyai ini sulit sekali mengungkapkan pendapatnya. Hal ini karena anggapan yang sudah melekat bahwa perempuan biasanya hanya menerima dan relatif punya kesempatan yang minim dibandingkan laki-laki dalam mengenyam pendidikan sehingga kurang berani berargument. Komitmen peserta untuk mengikuti pelatihan secara penuh dan disiplin menjadi kekuatan dalam forum ini. Wujud real komitmen mereka dituangkan dalam beberapa kegiatan pasca halaqah yang terbagi menjadi 3 wilayah. Kelompok Nuris I akan merintis konseling sebaya tentang persoalan ketidakadilan gender, mengaktifkan sekretariat dan perpustakaan pesantren Nuris. Kelompok Jember Selatan lebih menyukai bentuk training untuk mensosialisasikan keadilan gender. Mereka melakukan beberapa pelatihan untuk guru-guru TK dan ibu-ibu majlis ta’lim. Dan kelompok terakhir yang terdiri dari kelompok muda di pesantren Nuris II, akan berusaha menawarkan konsep pendidikan Islam yang membebaskan pada pihak pesantren dan berencana untuk membangun sebuah madrasah gender. Acara yang sama dengan tema yang sama juga digelar di daerah Cirebon bertempat di pesantren Daarut Tauhid Arjawinangun Cirebon. Forum yang digelar pada tanggal 18-21 Juli 2002 ini merupakan halaqah lanjutan untuk para alumni pelatihan gender sebelumnya. Pada forum tersebut peserta sudah masuk pada pembahasan mengarrange model-model pendidikan yang membebaskan dan berkeadilan gender dalam kelompok masyarakat yang berbeda-beda, sesuai dengan pengelompokkan para peserta di basisnya masing-masing. Terdapat kurang lebih 5 basis kelompok yang berhasil diidentiffikasi pada halaqah Cirebon, kemudian disusun strategi dalam upaya mengaplikasikan sistem pendidikan yang membebaskan dan berperspektif gender. Diantaranya Kelompok majlis ta’lim, pesantren, media , lembaga pendidikan formal (SD,MTs, MA) serta Perguruan Tinggi dengan strategi yang berbeda dan diupayakan mengenai sasaran. Artinya tidak terpaku pada lembaga formal saja tapi juga masuk pada kelompok informal masyarakat. Akhirnya, tak ada yang tidak mungkin rasanya bila ada keinginan melakukan sesuatu. Do for everything so you can make impossible to be possible! ??

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: