Penyusunan Program Penyuluhan Pertanian

  1. I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pembangunan pertanian dilaksanakan untuk mewujudkan peningkatan ketahanan pangan , daya saing, dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani. Kegiatan pembangunan dilaksanakan dengan mendorong partisipasi masyarakat, sedangkan pemerintah berperan dalam memfasilitasi, mendorong, dan memberdayakan kemampuan dan kreatifitas masyarakat.

Revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan oleh Presiden RI tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi.

Pembangunan pertanian dalam rangka ketahanan pangan dirancang dan disesuaikan dengan dinamika permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Pada akhirnya keberhasilan pembangunan pertanian akan sangat tergantung dari komitmen dan partisipasi seluruh stakeholders.

Guna mencapai suatu ketahanan pangan yang dimaksud maka diperlukan suatu perencanan program yang baik. Perencanaan program haruslah disusun berdasarkan keadaan daerah yang ada dengan memperhatikan potensi daerah yang bersangkutan. Selain itu juga diperhatikan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga perencanaan yang dibuat akan sesuai dengan kebijakan pemerintah. Perencanaan yang disusun digunakan untuk menyelesaikan permasalahan-permaslahan yang ada, yang telah ditentukan skala prioritasnya terlebih dahulu.

  1. B. Tujuan­

Praktikum Penyusunan Program Penyuluhan Pertanian ini bertujuan sebagai berikut :

  1. Mahasiswa dapat menetapkan keadaan wilayah di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masalah yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  3. Mahasiswa dapat merumuskan masalah yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  4. Mahasiswa dapat menetapkan masalah. yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  5. Mahasiswa dapat Menentukan/menetapkan tujuan dari masalah yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  6. Mahasiswa dapat menetapkan cara pencapaian tujuan dari masalah yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  7. Mahasiswa dapat mengevaluasi program yang sudah ditentukan di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  8. Mahasiswa dapat menetapkan indikator untuk merubah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik sasaran dalam melakukan evaluasi program di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  9. Mahasiswa dapat membuat alat pengukur yang diperlukan untuk mengevaluasi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik sasaran di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
  10. Mahasiswa dapat Membuat standar dan kriteria untuk menentukan ukuran keberhasilan terjadinya perubahan perilaku baik ditinjau dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sasaran di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo
  11. II. TAHAPAN PERENCANAAN PROGRAM


  1. A. Menetapkan Keadaan
    1. 1. Keadaan Kabupaten Sukoharjo
      1. Data Keadaan Kabupaten Sukoharjo

Kabupaten Sukoharjo terletak di bagian tenggara propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 446,666 ha , yang secara geografis terletak antara 110  42’06,79″-110  57’33,7″ Bujur Timur dan  7  32’17″-  7   49’32″ Lintang Selatan. Keadaan topografi/geologi berupa daerah yang datar. Secara administratif mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara                    :   Kota Surakarta

Sebelah timur                    :   Kabupaten Karanganyar

Sebelah selatan                             :   Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten

Gunung Kidul   Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebelah barat                   :   Kabupaten Boyolali dan Klaten

Kabupaten Sukoharjo mempunyai jumlah penduduknya tercatat 821.213 jiwa yang terdiri dari 405.831 penduduk laki-laki dan 415.382 penduduk perempuan. Dengan demikian sex ration atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan sebesar 0,977. Sex ratio dapat diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut :

Perhitungan sex ratio  =     Jumlah penduduk pria x  100

Jumlah penduduk wanita

Pada sektor industri kecil/kerajinan terdapat 13.270 unit usaha dengan tenaga kerja 47.901 orang. Dibandingkan tahun 2001 jumlah unit usaha / industri mengalami peningkatan sebesar 3,05 persen dilihat dari jumlah tenaga kerjanya juga mengalami kenaikan sebesar 2,63 persen.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan dari tahun ke tahun 2003 :19,929 milyar ,tahun 2004 :21,701 milyar , tahun 2005 :30,384 milyar .Dengan penduduk lebih dari 815 ribu jiwa merupakan potensi pasar yang besar dimana pengeluaran rata-rata masyarakat mencapai Rp 607 ribu.

Luas Panen (ha) 1052 2345 10639 4651
Produksi (ton GKG) 6698 14931 69951 29352

Kabupaten Sukoharjo mempunyai luas daerah pertanian yang luas dengan rata-rata produksi padi perhektar yaitu kurang lebih 6 ton/Ha.

  1. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo Terhadap Pertanian

Kebijakan pemerintah dalam hal pembangunan daerah berdasarkan potensi di Kabupaten Sukoharjo dilaksanakan secara terpola dan terpadu dengan mengelompokkan sub wilayah pembanguan.

  1. 1. Sub Wilayah Pembangunan I

Meliputi wilayah Kecamatan Kartasura dan  Kecamatan Gatak dengan pusat  pengembangan di Kecamatan Kartasura.

Potensi pengembangan :

Pertanian tanaman pangan, industri, perdagangan, perhubungan, pemukiman/perumahan dan pariwisata.

  1. 2. Sub Wilayah Pembangunan II

Meliputi wilayah Kecamatan Grogol dan Kecamatan Baki dengan pusat pengembangan di Kecamatn Grogol.

Potensi pengembangan:

Pertanian, tanaman pangan, industri, perdagangan, pemukianan/perumahan dan pariwisata.

  1. 3. Sub Wilayah Pembangunan III

Meliputi wilayah Kecamatan Mojolaban, Kecamatan Polokarto dan Kecamatan Bendosari bagian utara, selatan dan timur dengan pusat pengembangan di Kota      Mojolaban.

Potensi pengembangan:

Pertanian tanaman pangan, perikanan, perkebunan, peternakan, industri, perdagangan, perhubungan, pemukinan/perumahan dan pariwisata.

  1. 4. Sub Wilayah Pembangunan IV

Meliputi wilayah Kecamatan Sukoharjo dan Kecamatan Bendosari bagian barat dengan pusat pengembangan di Kota Sukoharjo.

Potensi pengembangan:

Pertanian tanaman pangan, perikanan, perdagangan, pemerintahan, pemukinan/perumahan dan pariwisata, industri, pariwisata dan pendidikan.

  1. 5. Sub Wilayah Pembangunan V

Meliputi wilayah Kecamatan Nguter dengan pusat pengambangan di Kota Nguter.

Potensi pengembangan:

Industri, pertanian tanaman pangan, peternakan dan perdagangan.

  1. 6. Sub Wilayah Pembangunan VI

Meliputi wilayah Kecamatan Tawangsari, Kecamatan Bulu dan Kecamatan Weru dengan pusat pengembangan di kota Tawangsari.

Potensi pengembangan:

Adalah pertanian tanaman pangan,  perikanan, peternakan, perkebunan,  perdagangan, perhubungan, pertambangan/bahan galian, indistri kecil dan pariwisata.

Dengan Visi Mewujudkan pertanian yang modern, tangguh dan efisien serta Misi Mewujudkan masyarakat pertanian yang mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan maka Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Pertanian di bawah pimpinan Ir. Sri Sutarni berupaya melaksanakan program pertanian bidang tanaman pangan, diantaranya

  1. Upaya pelestarian Swasembada beras
  2. Upaya pencapaian swassembada kedelai
  3. Upaya pencapaian swasembada Jagung
  4. Pengembangan Hortikultura
  5. Pengembangan pra sarana, sumberdaya dan kelembagaan pertanian

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukoharjo sebesar 4,17 % dengan laju inflasi 0,89%. Produk domestic regional bruto atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan sebesar 12,35 % sedangkan atas dasar konstan mengalami peningkatan 3,58% .Untuk tahun 2005 Investasi di kabupaten Sukoharjo mencapai 1,62 trilyun meningkat periode sama tahun 2004 sebesar 1,58 trilyun.

Untuk luas panen dan produksi tanaman palawija dibandingkan tahun 2003 seperti jagung naik sebesar 16.57% dan 12.40 %, ketela pohon naik sebesar 10.88% dan 24.44%, Ketela rambat turun 68,42% dan 67,69%, kacang tanah naik sebesar 28.27% dan 3.45%, kedelai naik 17.10% dan 35,21%, kacang hijau naik 92,10% dan 17,60%.

Produksi beberapa jenis sayuran (kacang panjang, tomat, terong, ketimun, kangkung, bayam) dibandingkan tahun 2003 mengalami fluktuasi. Komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya kacang panjang, tomat ketimun, sedangkan yang mengalami penurunan produksi yaitu cabe, terong, kangkung dan bayam.

  1. 2. Keadaan Desa Dukuh
    1. Kondisi Geografi

Desa Dukuh merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Luas Desa Dukuh 184,50 ha termasuk di dalamya luas lahan pertanian. Desa Dukuh termasuk dataran rendah dengan ketinggian 550 m dpl suhu udara rata-rata 300C dengan curah hujan 3000 mm/th. Desa Dukuh memiliki batas-batas sebagai berikut :

1)           Batas Desa Dukuh secara geografi adalah sebagai  berikut :

Sebelah utara     : jalan

Sebelah selatan   : jalan

Sebelah timur     : jalan KA

Sebelah barat     : sungai

2)           Batas Desa Dukuh secara administratif adalah sebagai  berikut :

Sebelah utara     : Desa Palur

Sebelah selatan   : Desa Wirun

Sebelah timur     : Desa Demakan

Sebelah barat     : Desa Plumbon

  1. Kependudukan
    1. Kepadatan Penduduk

Data kepadatan penduduk sangat diperlukan dalam membuat perencanaan program. Karena dengan diketahuinya kepadatan penduduk dapat diketahui jumlah rata-rata lahan pertanian yang dikerjakan oleh penduduk. Dengan demikian dapat diketahui penghasilan yang diperoleh oleh petani dari pengolahan lahan pertaniannya.

Tabel 1Kepadatan Penduduk Di Desa Dukuh

Tahun Jumlah Penduduk Luas Wilayah (km2) Luas Lahan (ha)
2006 3335 1.845 119,128

Sumber : Data Sekunder

Kepadatan penduduk di Desa Dukuh pada tahun 2006 adalah 1,81 jiwa/km2, sedangkan kepadatan agrarisnya adalah 0,03 jiwa/ha.

  1. Keadaan Penduduk Menurut Umur

Dalam perencanaan program keadaan penduduk menurut umur diperlukan untuk mengetahui jumlah penduduk yang sudah masuk dalam usia kerja atau denga kata lain untuk mengetahui jumlah penduduk produktif dan jumlah penduduk non produktif.

Tabel 2 Keadaan Penduduk Menurut Umur Di Desa Dukuh

No. Umur (th) 2006
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 39

40 – 49

50 – 59

>60

505

315

322

44

406

343

380

492

278

260

Jumlah produktif 2345
Jumlah non produktif 1402

Sumber : Data Sekunder

Jumlah penduduk usia produktif (15-49th) di Desa Dukuh pada tahun 2006 sebesar 2345 jiwa, sedangkan untuk usia non produktif sebesar 1402 jiwa.

  1. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Keadaan penduduk menurut mata pencaharian diperlukan untuk mengetahui seberapa besar penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani, hal ini dikarenakan pendapatan pokok daerah Sukoharjo adalah dari sektor pertanian. Dengan mengetahui jumlah petani maka dapat dibuat perencanaan yang dapat meningkatkan produksi pertaniannya.

Tabel 3 Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Desa Dukuh

No. Mata Pencaharian 2006
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Petani

Nelayan

Dokter

Pengrajin

Buruh tani

Buruh industri

Pedagang

Montir

PNS

ABRI

Pensiunan (PNS/ABRI)

Buruh bangunan

279

-

3

-

442

457

7

5

105

6

-

-

Jumlah 1304

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel di atas dapat diketahui jumlah penduduk yang  bermata pencaharian sebagai petani sebesar 279 jiwa dan sebagai buruh tani sebesar 442 jiwa, dua mata pencaharian ini merupakan prosentase mata pencaharian penduduk terbesar.

  1. Mobilitas Penduduk

Mobilitas penduduk digunakan untuk mengetahui tingkat pertambahan penduduk. Dari data ini dapat diketahui jumlah penduduk yang datang maupun pergi dari Desa Dukuh.

Tabel 4 Pertambahan Penduduk Dan Mobilitas Penduduk Di  Desa Dukuh

Tahun Awal Mobilitas Pertambahan Penduduk
Lahir (L) Mati (M) Datang (I) Pergi (E)
2002

2004

2005

3701

3730

3747

42

45

15

9

14

17

24

7

5

14

21

12

43

17

-9

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel diketahui bahwa tingkat kelahiran dan kematian di Desa Dukuh hampir seimbang. Sedangkan jumlah penduduk yang pergi lebih banyak daripada yang datang. Hal ini dapat menjadi perhatian dalam penyusunan program. Dengan banyknya jumlah penduduk yang pergi tiap tahun, maka dikhawatirkan menurunnya jumlah penduduk usia produktif di Desa Dukuh yang dapat menyebabkan turunnya jumlah tenaga kerja.

  1. Fasilitas Usaha Tani
    1. Sarana dan Prasarana Perekonomian

Sarana dan prasarana perekonomian merupakan hal-hal yang dapat secara lngsung mendukung pertumbuhan perekonomian suatu daerah.

Tabel 5  Sarana dan Prasarana Perekonomian Desa Dukuh

Sarana dan Prasarana Perekonomian 2006
Koperasi

Pasar

Warung

Industri makanan

Industri bahan bangunan

3

-

3

9

2

Sumber : Data Sekunder

Keberadaan koperasi dan warung merupakan indikasi bahwa perekonomian warga Desa Dukuh mengalami pertumbuhan. Apalagi dengan adanya industri yang berarti dapat menyerap tenaga kerja di Desa Dukuh, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. Keberadaan koperasi dapat mempermudah kegiatan petani baik dalam pembelian saprodi maupun penjualan hasil pertanian.

  1. Aset Industri dan Mesin Pertanian

Aset industri yang dimiliki mengindikasikan adanya proses produksi yang terjadi di suatu daerah. Dengan adanya proses produksi, maka akan terdapat suatu kegiatan perdagangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Tabel 6 Aset Industri dan Mesin Pertanian

Aset Industri dan Mesin Pertanian 2006
Penggilingan padi

Traktor

Pabrik pengolahan hasil pertanian

4

5

2

Sumber : Data Sekunder

Desa Dukuh memiliki 4 penggilingan padi dan 5 unit traktor yang dimanfaatkan dengan baik oleh para petani. Selain itu terdapat pula 2 tempat pengolahan hasil pertanian. Pengolahan hasil pertanian ini bertujuan untuk meningkatkan harga barang hasil pertanian guna meningkatkan kesejahteraan petani.

  1. Kelembagaan Desa
    1. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa

Struktur organisasi pemerintahan Desa Dukuh Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo dapat dilihat sebagai berikut :

Pelaksanaan Teknis

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Dukuh

Keterangan :

Lurah                       : Drs. Bandriyo, WP.

Sekertaris desa        : Heri Wibowo, SH.

Kaur Pemerintahan  : Sarimin, S,Pd.

Kaur Pembangunan  : Sugiyo

Kaur Kemasyarakatan         : Widodo S,Pd.

Kaur Keuangan       : Sukamto

Kabayan I               : Drs. Sarwoko

Kabayan II              : Sunarno HP.

Kabayan III                         : Kirtana

  1. Karang Taruna

Sebagai wadah bagi pemuda dan pemudi desa untuk dapat saling mengenal, berkumpul serta dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif bagi kemajuan desa. Keanggotaan karang taruna adalah pemuda dan pemudi Desa Dukuh dengan kepengurusan dibentuk dengan cara pemilihan dan disepakati oleh anggota. Pengurus karang taruna adalah orang yang lebih tua dan berpengalaman dalam berorganisasi. Pertemuan rutin karang taruna diadakan setiap tanggal 1-5 tiap bulannya.

  1. PKK

Keanggotaan PKK adalah ibu-ibu rumah tangga. Kepengurusan dipilih secara bersama dan disepakati oleh anggota. Pengurus yang dipilih adalah ibu-ibu yang berpendidikan dan yang lebih tua serta berpengalaman dalam organisasi.PKK tiap bulan sekali mengadakan arisan dan pertemuan untuk pengajian pada hari yang berbeda.

  1. Kelembagaan Petani dan Penggunaan Tanah

Di Desa Dukuh terdapat tiga kelompok tani yaitu Kelompok Tani Ngupoyo Subur dengan ketua Bapak Sutarno, Kelompok Tani Ngupoyo Makmur dengan ketua Bapak Marsudi Kamto Wiyono, dan Kelompok Tani Ngupoyo Rejo dengan ketua Bapak Hadi Sumarno.

Di daerah Desa Dukuh terdapat kebijakan kepala desa yang berhubungan dengan diprioritaskan pada kelompok tani. 5 langkah kebijakan kepala desa tersebut yaitu :

  1. Mengadakan pertemuan dengan kontak tani atau ketua kelompok tani di desanya untuk mengatur dan menetapkan jadwal musyawarah.
  2. Menggerakkan anggota atau petani untuk aktif hadir dalam musyawarah.
  3. Menghadiri musyawarah kelompok tani untuk menyusun RDKK.
  4. Memberikan nasehat atau bimbingan kepada anggota kelompok tani yang sering kali atau selalu tidak hadir.
  5. Melakukan pengawasan dengan memberikan koreksi pada anggota kelompok tani yang pelaksanaannya menyimpang dari kesepakatan musyawarah penyusunan RDKK.

Sistem status penguasaan lahan yang ada di Desa Dukuh meliputi :

  1. Sistem Gadai, yaitu sistem penguasaan tanah dimana pemilik tanah menyerahkan tanahnya untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai dengan ketentuan pemilik tanah tersebut berhak lagi setelah mengembalikan sejumlah uang yang pernah diterimanya.
  2. Sistem Sewa, yaitu sistem penguasaan tanah dimana seorang petani menyewakan tanahnya kepada petani lain untuk dikelola dengan pembayaran berupa uang diawal/sebelum petani tersebut menggarap dan biasanya dalam jangka waktu tertentu.
  3. Sistem Bagi Hasil, sistem penguasaan tanah dimana seseorang/petani menyerahkan tanah mereka kepada petani lain untuk dikelola dimana kedua belah pihak akan mendapat pembagian hasil sesuai dengan kesepakatan bersama dan umumnya berlaku satu musim tanam. Sistem ini sudah jarang ada karena dianggap sering terjadi kecurangan.
  4. Hak milik, yaitu suatu tanah milik sendiri/perorangan dan diusahakan sendiri.

Bentuk penguasaan tanah lain yang masih ada yaitu sistem penguasaan tanah secara tradisional antara lain :

  1. Tanah Yasan, yaitu tanah yang diusahakan oleh petani sendiri sejak dari membuka lahan lalu dimiliki sendiri.
  2. Tanah Titisoro, merupakan tanah milik desa yang disewakan dengan cara dilelang kepada siapa saja yang mau menggarapnya.
  3. Tanah Bengkok, yaitu tanah milik negara yang kepemilikannya diserahkan kepada desa (pamong desa) selama masa jabatannya dan jika sudah tidak menjabat sebagai pamong, tanah tersebut dikembalikan kepada negara.

Status penguasaan tanah yang masih dijumpai di Desa Dukuh adalah:

  1. Petani pemilik penggarap
  2. Petani bukan penggarap
  3. Petani penyewa
  4. Buruh tani

Konsep kekuasaan erat sekali hubungannya dengan konsep kepemimpinan. Dengan kekuasaan pimpinan memperoleh alat/barang dan pengaruh bagi para pengikutnya yang statusnya berada di bawahnya.

Status dan bentuk pemilikan tanah pedesaan Jawa sangat beragam. Walaupun Undang-Undang Pokok Agraria telah dikeluarkan pada tahun 1960 namun di pedesaan status dan bentuk pemilikan tanah masih banyak yang mengikuti kaidah-kaidah tradisional (seperti yasan, tanah adat, dan bengkok) dan kolonial (Ibrahim,2003).

Kelembagaan hubungan kerja antara majikan dan buruh yang ada di desa meliputi :

  1. Sistem upah

Sistem upah yang dipakai di Desa Dukuh adalah :

  1. Upah Harian, yaitu sistem upah yang diberikan kepada buruh dihitung perhari kerja dimana majikan masih menyediakan kebutuhan pangan. Upah harian dalam bentuk mengolah tanah, tanam, menyiangi memelihara tanaman.
  2. Upah Borongan, yaitu sistem upah yang diberikan sampai pekerjaan selesai dimana majikan tidak mengurusi buruh. Upah borongan dalam kegiatan panen, mengolah tanah, tanam, serta penyiangan.
  3. Bentuk upah

Bentuk upah yang diberikan berupa uang dan bawon. Uang biasanya diberikan berdasarkan berapa hari dia kerja. Sedangkan bawon diberikan apabila buruh meminta upah berupa bawon. Bawon diambil dari hasil panen sebesar seperenam bagian.

  1. Jam kerja

Lama waktu bekerja adalah 8 jam dimana buruh bekerja mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.00 dan mulai kembali pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00.

Perbedaan dalam hal jam kerja antara perempuan dan laki-laki sudah tidak ditemukan lagi di Desa Dukuh. Petani perempuan dan laki-laki bekerja di sawah secara bersama-sama, hanya saja pada saat menjelang istirahat petani perempuan istirahat lebih dahulu untuk menyiapkan makanan bagi petani laki-laki.

  1. Jenis satuan kerja

Jenis satuan kerja yang dilaksanakan adalah sistem harian dan bulanan. Harian apabila pekerjaan dapat diselesaikan dalam hitugan hari namun bila tidak maka biasanya dihitung bulanan.

  1. Besar upah

Besar upah yang diberikan berbeda-beda berdasarkan kesepakatan antara majikan dan buruh tani. Akan tetapi butuh tani di Desa Dukuh telah memiliki kesepakatan bahwa mereka hanya akan menerima upah minimal Rp. 20.000,00 untuk laki-laki dan Rp. 15.000,00 untuk perempuan.

  1. Besar upah persatuan kegiatan

Pemberian upah kerja di Desa Dukuh tidak berdasarkan satuan pekerjaan tetapi berdasarkan lama hari kerja. Upah perhari adalah untuk laki-laki Rp 20.000,00 dan untuk perempuan Rp 15.000,00. Apabila berupa bawon besarnya sebesar 1/6 bagian dari panen yang didapat.

Selain mendapatkan upah, buruh juga mendapat jaminan lainnya seperti makan, minum, rokok, dan lain-lain. Buruh tani bersifat lepas /tanpa ikatan namun sering kali buruh tani membantu pekerjaan majikan dalam kegiatan rumah tangga majikan.

  1. Jenis Tanaman

Teknologi yang diterapkan dalam usaha tani meliputi bibit unggul, pupuk, sabit, traktor, dan lain-lain dilaksanakan pada tiga lahan yaitu :

  1. Sawah

Pada lahan sawah menggunakan teknologi dalam hal mengolah tanah yaitu menggunakan traktor dan tidak lagi menggunakan bajak. Dalam pemakaian bibit, petani menggunakan bibit unggul padi jenis IR 64 sedangkan dalam pemilihan pupuk, petani menggunakan pupuk urea, SP36, KCl, dan Skor (pupuk cair penambah hasil).

  1. Tegal

Karena di desa Dukuh sudah tidak ada tegal semenjak adanya pengairan dari waduk maka teknologi pertanian sudah tidak diterapkan pada lahan tegal.

  1. Pekarangan

Pada pekarangan diterapkan teknologi pada pemilihan bibit unggul yaitu bibit mangga jenis mangga Probolinggo. Sedangkan pada pemilihan pupuk, masyarakat masih menggunakan pupuk kandang sebagai pilihan pertama dalam memupuk tanaman mereka.

  1. Hasil Produksi

Desa Dukuh memiliki luas lahan sawah seluas 119 Ha dengan hasil per hektare mencapai 6 ton. Sehingga total produksi padi seluruhnya sebesar 674 ton.

  1. Harga Komoditi

Harga penjualan gabah di Desa Dukuh mencapai Rp. 2.100,00 per Kg. Sedangkan untuk harga beras perkilonya mencapai Rp. 4.200,00.


  1. B. Identifikasi Masalah
    1. Impact Point Teknis
Kegiatan Data Potensial Data Aktual Keterangan
Pengolahan tanah

Pemupukan

Bibit yang  dipakai

Penanaman

Dengan traktor

Menggunakan pupuk urea, SP36, KCl, dan Skor (pupuk cair penambah hasil).

IR 64

Dengan jarak tanam

Dengan traktor

Menggunakan pupuk urea, SP36, KCl, dan Skor (pupuk cair penambah hasil).

IR 64

Dengan jarak tanam

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

  1. Impact Point Ekonomi
Kegiatan Data Potensial Data Aktual Keterangan
Pembukuan usaha tani

Penghitungan keuntungan usaha

Harus ada pembukuan

Penghitungan laba rugi secara rinci

Belum ada pembukuan

Belum ada penghitungan laba rugi secara rinci

Terdapat impact point

Terdapat impact point

  1. Impact Point Sosial
Kegiatan Data Potensial Data Aktual Keterangan
Partisipasi dalam kelompok Anggota kelompok berpartisipasi aktif Anggota kelompok belum berpartisipasi secara aktif Terdapat impact point
  1. C. Merumuskan Masalah

Masalah adalah suatu keadaan dimana terdapat kesenjangan antara apa yang terjadi dengan apa yang seharusnya terjadi dan adanya hal tersebut menyebabkan ketidaknyamanan atau kerugian. Dari identifikasi impact point diatas dapat diketahui bahwa masalah-masalah yang muncul pada usahatani padi di Desa Dukuh adalah :

  1. Pada Impact Point Ekonomi :
    1. Masih banyak petani yang tidak menyusun pembukuan usahatani
    2. Belum ada petani yang menghitung keuntungan usaha
    3. Pada Impact Point Sosial :

Masih rendahnya partisipasi anggota dalam mengembangkan dan membina kelompok

  1. D. Menetapkan Masalah

Dari permasalahan yang ada dapat dibuat suatu skala prioritas. Skala prioritas merupakan urut-urutan masalah dimulai dari yang paling penting atau paling membutuhkan penanganan terlebih dahulu untuk diselesaikan, ke permasalahan yang paling ringan.

  1. Dari permasalahan yang ada, masalah rendahnya partisipasi petani dalam setiap kegiatan kelompok merupakan masalah yang harus diselesaikan paling awal. Hal ini dikarenakan partisipasi petani dalam kegiatan kelompok akan dapat berpengaruh pada penerimaan informasi oleh para petani. Dengan keaktifan yang baik dalam setiap kegiatan kelompok, maka petani akan mendapatkan banyak pengetahuan yang dapat mendukung kegiatan usaha taninya.
  2. Permasalahan kedua yang harus diselesaikan adalah permasalahan pembukuan dalam usaha tani. Dengan belum adanya pembukuan yang baik maka perhitungan laba rugi belum dapat dihitung secara nyata. Oleh karenanya petani perlu diberikan pemahaman dan kemampuan dalam membuat pembukuan usaha taninya. Pemberian pemahaman dan pelatihan tentang pembukuan dapat dilakukan dalam kegiatan kelompok tani yang sudah dapat diikuti dengan baik oleh semua petani.
  3. Permasalahan terakhir adalah belum adanya perhitungan secara rinci tentang laba rugi usaha tani yang dijalankan oleh para petani. Oleh karenanya petani perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya pencatatan laba rugi secara rinci, dan diperlukan untuk melatih petani dalam melakukan paerhitungan keuntungan usaha taninya.
  4. E. Menentukan/Menetapkan Tujuan


Dari masalah-masalah yang telah ditetapkan dengan impact point baik teknis, ekonomis maupun sosial, maka tujuan dari program ini adalah :

  1. Petani berpartisipasi dalam pengembangan dan pembinaan kelompok
  2. Petani mampu menyusun pembukuan usaha tani
  3. Petani dapat menghitung keuntungan usaha tani
  4. F. Menetapkan Cara Mencapai Tujuan

Untuk mencapai tujuan dapat dilakukan dengan cara pembuatan matriks yang meliputi masalah, tujuan, metode, volume, sasaran, petugas,  waktu, perlengkapan, biaya.

MATRIKULASI IMPACT POINT SOSIAL DI DESA DUKUH

No. Masalah Tujuan Metode Lokasi Unit Frekuensi Volume Sasaran Petugas Waktu Perlengkapan Biaya
Per unit Total Sumber
1. Petani masih kurang berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani Agar petani mampu meningkatkan partisipasinya dalam kelompok tani Pelatihan Desa Dukuh 1 2 kali 1 desa Petani di Desa Dukuh Pengurus Kelompok Tani Agustus 2007- Desember 2007 Tempat pelatihan, dan pengeras suara. 150.000 150.000 Swadaya Tani
2. Sebagian besar petani masih belum melakukan pembukuan usahatani Petani dapat membuat pembukuan kas Pelatihan Pendopo  Desa Dukuh 1 1 kali 1 desa Petani di Desa Dukuh Penyuluh dan  petugas dari LSM Agustus 2007- Desember 2007 Tempat  Penyuluhan,  meja, kursi, michrophone, papan tulis, alat tulis. 200.000 200.000 Swadaya

Tani bantuan dari pemerintah

3. Petani masih belum cara menghitung keuntungan usaha tani Peningkatan kesadaran petani dalam menghitung keuntungan usahatani Penyuluhan Pendopo Desa Dukuh 1 1 kali 1 desa Petani di Desa Dukuh Trainer dan Pengurus Kelompok Tani Agustus 2007- Desember 2007April 2007 Tempat pelatihan, meja dan kursi pengeras suara,papan tulis , alat tulis. 125.000 125.000 Swadaya Tani


  1. III. EVALUASI PROGRAM

  1. A. Menetapkan Indikator

Penentuan atau penetapan indikator dimaksudkan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor pada saat sebelum dan sesudah diadakannya program. Apabila terjadi perubahan yang semakin baik maka dapat dikatakan bahwa program berjalan dengan baik dan berhasil.

  1. 1. Menetapkan Indikator Kemampuan Kognitif

Tabel Penetapan Indikator Kemampuan Kognitif

No Tujuan Indikator
1.

2.

Bertambahnya pengatahuan petani tentang cara menyusun pembukuan usaha tani

Bertambahnya pengatahuan petani tentang cara penghitungan keuntungan usaha tani

Petani tahu dan mampu menyusun pembukuan secara baik dan benar.

Petani tahu dan mampu menghitung laba rugi secara jelas.

  1. 2. Menetapkan Indikator Kemampuan Afektif

Tabel Penetapan Indikator Kemampuan Afektif

No Tujuan Indikator
1.

2.

3.

Bertambahnya kemauan petani untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Bertambahnya kemauan petani menyusun pembukuan usaha tani

Bertambahnya kemauan petani menyusun penghitungan keuntungan usaha tani

Petani mau  berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Petani mau menyusun pembukuan usaha tani

Petani mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani


  1. 3. Menetapkan Indikator Kemampuan Psikomotor

Tabel Penetapan Indikator Kemampuan Psikomotor

No Tujuan Indikator
1.

2.

3

Petani berpartisipasi dalam pengembangan dan pembinaan kelompok

Petani mampu menyusun pembukuan usaha tani

Petani dapat menghitung keuntungan usaha tani

  • Ketepatan : berpartisipasi aktif dan sesuai dengan program
  • Ketepatan  : secara baik dan benar
  • Ketepatan : sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran

  1. B. Membuat Alat Pengukur Untuk Mengukur Kemampuan Kognitif

Tujuan : Bertambahnya pengetahuan petani tentang cara menyusun pembukuan usaha tani

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang anda ketahui tentang pembukuan ?
  2. Apakah yang anda ketahui tentang pembukuan usaha tani ?
  3. Apakah anda mampu menyusun pembukuan usaha tani ?

Tujuan : Bertambahnya pengetahuan petani tentang cara penghitungan keuntungan usaha tani

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang anda ketahui tentang cara penghitungan keuntungan usaha tani ?
  2. Apakah anda mampu menyusun penghitungan keuntungan usaha tani ?
  3. C. Membuat Alat Pengukur Untuk Mengukur Kemampuan Afektif

Tujuan : Bertambahnya kemauan petani untuk  partisipasi aktif dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang anda tahu tentang manfaat partisipasi ?
  2. Apakah yang anda tahu tentang manfaat pembinaan dan pengembangan partisipasi dalam kelompok tani ?
  3. Apakah yang anda mau berpartisipasi aktif dalam pembinaan dan pengembangan partisipasi dalam kelompok tani ?

Tujuan : Bertambahnya kemauan petani menyusun pembukuan usaha tani

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang anda tahu tentang manfaat pembukuan usaha tani ?
  2. Apa manfaat yang anda peroleh dari pembukuan usaha tani ?
  3. Apakah yang anda mau melakukan pembukuan usaha tani anda ?

Tujuan : Bertambahnya kemauan petani menyusun penghitungan keuntungan usaha tani

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah yang anda tahu tentang manfaat penghitungan keuntungan usaha tani ?
  2. Apa manfaat yang anda peroleh dari manfaat penghitungan keuntungan usaha tani ?
  3. Apakah yang anda mau melakukan kegiatan menyusun penghitungan keuntungan usaha tani ?
  4. D. Membuat Alat Pengukur Untuk Mengukur Kemampuan Psikomotor

Tujuan : Petani berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan pembinaan kelompok

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah anda sudah berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan pembinaan kelompok ?
  2. Sejak kapan anda berpartisipasi aktif dalam kelompok ?
  3. Apa bentuk partisipasi anda dalam kelompok ?

Tujuan : Petani mampu menyusun pembukuan usaha tani secara baik dan benar

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah anda menyusun pembukuan usahatani anda?
  2. Apakah anda sudah dapat menyusun pembukuan usahatani secara baik dan benar ?

Tujuan : Petani dapat menghitung keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran

Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah anda sudah mampu menghitung keuntungan usaha tani anda dengan baik dan benar sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran ?
  2. E. Menetapkan Standar Dan Kriteria Untuk Mengukur Keberhasilan (Aspek Kognitif, Afektif, Dan Psikomotorik)
    1. Aspek Kognitif
      1. Tujuan : Bertambahnya pengetahuan petani tentang cara menyusun pembukuan usaha tani

Indikator : Petani tahu dan mampu menyusun pembukuan secara baik dan benar.

Standar : Petani tahu cara menyusun pembukuan dan mampu menyusun pembukuan secara baik dan benar.

Kriteria :

  1. Tahu dan mampu : Petani tahu cara menyusun pembukuan dan mampu menyusun pembukuan secara baik dan benar.
  2. Tahu : Petani hanya tahu cara menyusun pembukuan secara baik dan benar.
  3. Tidak tahu dan tidak mampu : Petani tidak tahu cara menyusun pembukuan dan tidak mampu menyusun pembukuan secara baik dan benar.
    1. Tujuan : Bertambahnya pengetahuan petani tentang cara penghitungan keuntungan usaha tani

Indikator : Petani tahu dan mampu menghitung laba rugi secara jelas.

Standar : Petani tahu dan mampu menghitung laba rugi secara jelas sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran usahatani.

Kriteria :

  1. Tahu dan mampu : Petani tahu dan mampu menghitung laba rugi secara jelas sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran usahatani.
  2. Tidak tahu dan tidak mampu : Petani tahu dan mampu menghitung laba rugi secara jelas sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran usahatani.
  3. Aspek Afektif
    1. Tujuan : Bertambahnya kemauan petani untuk  partisipasi aktif dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Indikator : Petani mau  berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Standar : Petani mau berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Kriteria :

  1. Kemauan tinggi : Petani mau berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani.
  2. Kemauan sedang : Petani hanya mau berpartisipasi dalam sebagian kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani.
  3. Kemauan rendah :  Petani tidak pernah mau berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani.
    1. Tujuan  : Bertambahnya kemauan petani menyusun pembukuan usaha tani

Indikator : Petani mau menyusun pembukuan usaha tani

Standar : Petani mau menyusun pembukuan usaha tani mereka secara baik dan benar.

Kriteria :

  1. Kemauan tinggi : Petani mau menyusun pembukuan usaha tani mereka secara baik dan benar.
  2. Kemauan sedang : Petani hanya mau menyusun pembukuan usaha tani mereka secara baik dan benar jika membutuhkan.
  3. Kemauan rendah :  Petani tidak mau menyusun pembukuan usaha tani mereka secara baik dan benar.
    1. Tujuan  : Bertambahnya kemauan petani menyusun penghitungan keuntungan usaha tani

Indikator : Petani mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani

Standar : Petani mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran

Kriteria :

  1. Kemauan tinggi : Petani mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran.
  2. Kemauan sedang : Petani hanya mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran jika membutuhkan.
  3. Kemauan rendah :  Petani tidak mau menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran.
  4. Aspek Psikomotor
    1. Tujuan : Petani berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan pembinaan kelompok

Indikator : Petani berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan pembinaan kelompok dan sesuai dengan program

Standar : Petani berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani dan sesuai dengan program

Kriteria :

  1. Baik : Petani berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani dan sesuai dengan program
  2. Sedang : Petani berpartisipasi hanya dalam sebagian kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani dan sesuai dengan program.
  3. Rendah :  Petani tidak pernah berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani dan sesuai dengan program.
    1. Tujuan : Petani dapat menyusun pembukuan usaha tani secara baik dan benar

Indikator : Petani dapat menyusun pembukuan usaha tani secara baik dan benar

Standar : Petani mau berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Kriteria :

  1. Baik : Petani telah menyusun pembukuan usaha tani secara baik dan benar
  2. Sedang : Petani telah menyusun pembukuan usaha tani walaupun belum baik dan benar.
  3. Buruk :  Petani tidak menyusun pembukuan usaha tani secara baik dan benar.
    1. Tujuan : Petani dapat menghitung keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran

Indikator : Petani dapat menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran

Standar : Petani mau berpartisipasi dalam semua kegiatan pembinaan dan pengembangan kelompok tani

Kriteria :

  1. Baik : Petani telah menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran
  2. Sedang : Petani telah menyusun penghitungan keuntungan usaha tani walaupun belum sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran.
  3. Buruk :  Petani tidak menyusun penghitungan keuntungan usaha tani sesuai dengan pendapatan dan pengeluaran secara baik dan benar.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: