PERILAKU PETANI DALAM PENGELOLAAN USAHATANI DI KELOMPOK TANI “ TANI MAKMUR DAN TANI REJEKI” KECAMATAN NGRAMPAL KABUPATEN SRAGEN

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Perilaku petani dicerminkan dalam tindakan sehari-hari baik dalam lingkungan seperti keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan. Tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendarah daging disebut dengan perilaku. Kebiasaan ini akan berlangsung terus menerus. Perilaku ini juga dapat mempengaruhi cara berfikir petani dalam pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak dulu itu, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani merasa membutuhkan, oleh karena itu timbul suatu dorongan atau semacam motivasi yang ada di dalam diri mereka. Menurut Maslow (1994) dorongan atu kebutuhan atau keinginan sebenarnya tidak mungkin tidak akan pernah dikaitkan dengan suatu landasan khusus, tersendiri, dan ditempatkan secara jasmaniah. Keinginan yang sebenarnya lebih banyak merupakan kebutuhan orang itu sepenuhnya. Setelah motivasi itu timbul maka petani berusaha untuk melakukan pengelolaan usaha tani secara terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan inilah yang menimbulkan perilaku.

Melihat kenyataan seperti itulah maka petani khususnya di Indonesia berusaha untuk meningkatkan produksi pertanian agar dapat memenuhi kebutuhan bagi hidupnya baik itu kebutuhan jasmaniah maupun rohaniah. Melalui peningkatan pengelolaan usahatani mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama penyakit  dan pemungutan hasil yang biasa disebut dengan pemanenan.

  1. B. Tujuan
  2. Tujuan Umum

Tujuan umum dari praktek lapang ini adalah :

  1. Untuk mengenal dan mengetahui kondisi dan dinamika kelompok tani secara langsung.

1

2

  1. Untuk mensinergikan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan dengan melihat kondisi di lapang.
  2. Untuk meningkatkan hubungan yang sinergis antara Perguruan Tinggi yakni mahasiswa, kelompok tani, petani dan masyarakat
  3. Untuk menciptakan keterampilan secara praktis yaitu dengan mengamati, mengerjakan, merumuskan permasalahan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani  di lapang.
    1. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari praktek lapang ini adalah :

  1. Untuk memperoleh pengalaman dalam kegiatan usahatani padi
  2. Untuk memperoleh pengalaman dalam perencanaan, pelaksanaan evaluasi, dan memonitor dalam kegiatan kelompok tani rejeki dan makmur
  3. Untuk mengetahui berbagai pengalaman petani dalam kegiatan usahatani
  4. Untuk mengetahui perilaku petani dalam kegiatan usahatani

II. TINJAUAN PUSTAKA

1.   Perilaku Petani

Tidak perlu diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan paling kuat. Tegasnya ini berarti bahwa pada diri manusia yang selalu merasa kurang dalam kehidupannya, kebutuhan fisiologislah dan bukan yang lain yang merupakan motivasi terbesar. Seseorang yang kekurangan makanan, keamanan, kasih sayang dan penghargaan besar kemungkinannya akan lebih banyak membutuhkan makanan dari yang lainnya (Maslow, 1994).

Banyak diskripsi jenis atau kelas kebutuhan yang memberikan motivasi kepada kelakuan manusia, namun terdapat penggolongan motif masyarakat interen di bawah tiga nama umum yakni fisiologi, sosiologi dan psikologi. Pengetahuan tentang motivasi masyarakat tidak cukup lengkap untuk digolong-golongkan. Tetapi ketiga kategori yang diuraikan disini memberikan motivasi yang menyenangkan dan bisa dimengerti

(Heckman dan Hunneryager, 1992).

Tidak semua perilaku ditentukan oleh kebutuhan dasar. Kita bahkan boleh mengatakan bahwa tidak seluruh perilaku dapat dimotivasi. Terdapat banyak faktor penentu perilaku lainnya daripada motivasi saja. Misalnya terdapat kelas penentu yang penting lain disebut faktor penentu lapangan. Secara teoritis sekurang-kurangnya perilaku ditentukan secara sempurna di lapangan atau bahkan dengan dorongan ekstern yang diisolasi secara khusus seperti pada penggabungan gagasan atau pemantulan pada kondisi tetentu. Jika dalam kata penggerak terdapat istilah meja tanggapan ini tentu saja tidak ada hubungannya dengan kebutuhan dasar (Heckman dan Hunneryager,1992).

3

4

Ilmu-ilmu keprilakuan merupakan percabangan dari ilmu-ilmu sosial dalam arti luas. Perbedaan atara ilmu-ilmu sosial dengan ilmu keprilakuan hanya terletak pada titik tekannya dimana ilmu keprilakuan memfokuskan diri pada perilaku manusia, meskipun tidak jarang pembedaan itu hanya dilakukan secara gradual saja (Danim, 2000).

Cara berfikir petani diturunkan dari generasi tua ke generasi muda dalam perjalanan sosialisasi primer. Dengan demikian, tercipta model perilaku yang berorientasi pada sistem nilai dan diikuti dengan patuh untuk jangka waktu lama, meskipun situasi yang menjadi dasarnya sudah lama berubah. Terdapat banyak contoh mengenai kelambanan budaya (culture lag). Ini  seperti misalnya di bidang teknik, tetap berpegang teguh pada pemakaian peralatan, metode pengolahan dan bentuk bangunan rumah lama meski telah dikenal alat, proses, bentuk baru yang secara objektif lebih sesuai dengan tujuan. Kesulitan mengubah cara berfikir juga terlihat jika mengambil alih suatu pembaharuan, misalnya jenis bibit tertentu yang lebih efisien, tanpa diikuti usaha yang diperlukan untuk menjamin keberhasilannya (Planck,1990).

Melalui seperangkat pengetahuan yang dimiliki, masyarakat setempat berinteraksi dengan lingkungannya. Sumberdaya alam yang telah dikenalnya dan dikelola itu memberikan corak perilaku masyarakat setempat dalam menanggapi lingkungannya. Semuanya itu dilandasi atas persepsi mereka mengenai lingkungannya dan sumberdaya alam setempat (tanah, air atau sungai, hutan, gunung, dsb.) (Sumintarsih, 1993).

Radcliffe, Brown menganggap kebudayaan masyarakat mencakup pola perilaku, pola berfikir dan perasaan,  sedangkan struktur sosial mencakup semua hubungan sosial antara individu-individu pada saat tertentu. Oleh karena itu struktur sosial merupakan aspek non prosesial dari sistem sosial

(Soekanto, 1983).

5

Di fihaknya, petani mengakui rasa rendah dirinya yang relatif misalnya dalam kebudayaan dan perilaku adalah secara alamiah mengklaim kebajikan yang diberikan kepadanya dan melihat orang lain sebagai pengganggu atau palsu atau boros. Dia melihat dirinya rendah dalam membagi dengan kebudayaan umum akan tetapi meskipun demikian dengan sebuah cara hidup yang secara moral lebih terisi daripada orang-orang kota (Redfield, 1982).

2.   Pengelolaan Usahatani

Untuk menjadi varietas yang menghasilkan tinggi tanaman padi harus cukup kuat untuk menahan berat penicle dan tidak rebah bila ditiup angin, mengingat hal ini varietas padi yang mempunyai tangkai pendek dan relative kuat dan mempunyai ketahanan terhadap penyakit yang tinggi adalah lebih disukai, Jumlah hell atau rumpun padi yang ditanam per 3,3 m² adalah kurang lebih 70 atau lebih, agak lebih padat daripada di dalam susunan empat persegi panjang. Susunan rumpun padi semacam ini dipandang sebagai hal yang menguntungkan, menanam bibit sebaiknya dilakukan lebih cepat daripada hal yang biasa. Biasanya upaya ini dilakukan untuk tumbuhnya bibit yang sehat dan kuat. Selama masih temperaturnya rendah, persemaian yang dilindungi dan ruangan persemaian listrik sebaiknya digunakan pemberantasan penyakit, hama serangga, dan rumput pengganggu harus dilakukan secara teratur waktunya dan hati-hati (Kombe,1982).

Pengelolaan yang pantas menjadikan tanah pertanian padi produktif. Petani Bugis di Kalimantan menghasilkan 3 ton padi per Ha pada tanah berkandungan pirit yang tinggi. Dengan memperhatikan pengendalian air (pasang) termasuk pula pembiasan lapisan tanah permukaan. Mereka menggunakan suatu sistem pararel. Jarak tanam yang rapat dan pengaliran air yang dangkal yang menghilangkan secara efektif tiap pengembangan keasaman pada lapisan permukaan sementara dan mempertahankan tanah permukaan bagian bawah dijenuhi air (Kartasapoetra,1988)

6

Sebagai sumber pemberi tenaga beras merupakan bahan makanan utama untuk ratusan juta umat manusia, terutama bagi umat manusia yang menduduki belahan timur ini. Oleh karenanya tidaklah mengherankan bahwa tanaman padi yang terluas terdapat di negara-negara Asia dimana seluruh penduduknya memperoleh tenaga untuk sebagian terbesar dari beras sebagai sumbernya. Lebih dari 50 % dari areal yang ditanami  dengan padi terdapat di Negara-negara Asia dan Negara-negara yang mempunyai areal pertanaman masing-masing seluas 74.671.000 dan 45.713.000 are (Siregar, 1981)

Untuk pertumbuhan optimal tanaman memerlukan hara atau zat makanan yang memadai di dalam tanah. Secara alami hara tersebut terpenuhi dari seresah dedaunan dan bermacam organisme lain yang mengalami proses penguraian yang akhirnya akan menjadi makanan bagi tanaman. Namun untuk memacu pertumbuhannya tanaman perlu diberi tambahan zat makanan yang kemudian dikenal dengan pupuk. Penggunaan pupuk kimia diketahui mempunyai efek merusak tanah. Struktur tanah yang secara alami remah, setelah mendapat perlakuan dengan pupuk kimia secara simultan terus merusak akhirnya menjadi bantat atau sangat keras. Petani yang belakangan sering mengeluh betapa litany tanah mereka menunjukkan hal tersebut (Andoko,2002).

III. PELAKSANAAN PRAKTIK LAPANG

A.  Aspek yang dikaji

Aspek yang dikaji dalam praktek lapang ini adalah aspek dari perilaku            petani yang menarik yaitu :

1.   perilaku dalam pembibitan

2.   perilaku dalam penanaman

3.   perilaku dalam pengolahan

4.   perilaku dalam pemupukan

5.   perilaku dalam pengendalian hama penyakit

6.   perilaku dalam pemanenan

7.   perilaku dalam pemasaran hasil usaha tani

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktik Lapang

Kegiatan praktek lapang ini akan dilaksanakan di Kelurahan Klandungan dan Kelurahan Kebonromo Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen. Pelaksanaannya direncanakan mulai Maret 2006 dan selesai Juni 2006.

C. Metode Pelaksanaan

1.   Observasi

Merupakan metode yang digunakan dengan cara melaksanakan pengamatan secara langsung dalam pelaksanaan budidaya tanaman padi di kelompok tani Tani Makmur dan Tani Rejeki di Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen.

2.   Wawancara

Metode dengan melakukan tanya jawab langsung dengan sumber terkait yaitu petani dalam kelompok tani Tani Makmur dan Tani Rejeki, serta dengan Penyuluh Pertanian Lapang.

3.   Partisipasi dalam kegiatan lapang

Peserta praktik lapang secara langsung mendatangi kelompok tani sesuai jadwal yang telah direncanakan dan sebisanya ikut serta dalam budidaya tanaman padi.

7

8

4.   Dokumentasi

Metode dengan melakukan pengambilan gambar dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan selama berada di lapang.

5.   Studi pustaka

Studi pustaka diperlukan untuk mendapatkan referensi dan pendukung guna mendapatkan informasi dan melengkapi data yang diperlukan yakni dari buku.

D. Rencana Kegiatan Praktik Lapang

Tabel 1. Rencana kegiatan praktik lapang

No Kegiatan Alokasi waktu Keterangan
Frek Klp Jam Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

Kunjungan awal

- pengantar kegiatan

- kesepakatan jadwal kunjungan

- lain-lain

Kunjungan lapang

- Pengamatan lapang

-Pertemuan kelompok

a. pemecahan masalah aktual

b. diskusi kegiatan

c. penyampaian informasi (inovasi dll)

d.perumusan acara pertemuan selanjutnya

Monitoring mingguan

Monitoring bulanan

Evaluasi akhir

1

16

4@3

3@1

1

2

2

1,5

1

2

1

2

3

96

12

6

9

Perkenalan

2 kelompok tiap kunjungan

Pertemuan per dosen

Pertemuan lengkap

Lokakarya

Jumlah 126

IV. KONDISI UMUM

  1. Kondisi Umum Petani Desa Klandungan Kecamatan Ngrampal

Kelompok tani rejeki mulai ada sejak diberlakukannya sistem kerja LAKU (Latihan dan Kunjungan) oleh pemerintah yaitu terhitung sejak tahun 1979. Pada saat itu PPL mengunjungi tiap wilayah yang ada untuk mensukseskan program pemerintah pada saat itu. Penyuluh yang mengunjungi desa Klandungan ini adalah bernama Bapak Mulyadi. Sudah sejak dulu Bapak Mulyadi mengadakan penyuluhan di desa tersebut hingga sekarang ini. Semenjak terjadi eksplosi hama wereng coklat di Indonesia maka diadakan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) maka sistem kerja LAKU diganti dengan SLPHT pada tahun 1993. Penyuluhpun menyesuaikan.

Kelompok tani rejeki adalah kelompok tani yang dibentuk oleh Penyuluh Lapang, dengan bantuan dari ketua kelompok tani yaitu Bapak Bari yang kala itu sudah menjabat sebagai ketua kelompok tani hingga sekarang ini, dan yang tidak kalah penting yaitu dukungan masyarakat petani yang menginginkan dibentuknya suatu wadah atau forum bersama antar petani guna membicarakan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh petani. Adanya penyuluhan yang hingga sekarang ini sangat membantu petani dalam menyusun RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Keloompok Tani) mengenai pembelian pupuk subsidi dari pemerintah. RDKK diusahakan oleh pemerintah untuk memsubsidi pupuk kepada petani melalui kelompok tani yang ada. RDKK disusun tiap ada kebijakan baru mengenai harga pupuk yang disubsidi oleh pemerintah. Penyusunannya dilakukan tiap ada pertemuan dengan kelompok tani. Keuntungan petani ikut dalam penyuluhan ini, yaitu dapat sharing atau sekedar menanyakan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi Mereka biasa melakukan pertemuan rutin tiap Jumat Legi di dukuh Macanmati yaitu rumah ketua kelompok tani setempat. Jumlah anggota dari kelompok tani rejeki adalah 79 orang.

9

10

Pada dasarnya petani di desa Klandungan masih tergolong petani yang tradisional. Dari data observasi yang saya peroleh selama magang, petani adalah pekerjaan pokok bagi mereka. Luas lahan pertanian secara keseluruhan ada sekitar 52,6 Ha, dan masing-masing petani hanya mempunyai luas lahan hanya sekitar 0,5-1 Ha.

Menurut hasil wawancara secara mendalam dengan ketua kelompok tani yaitu Bapak Bari, petani disana adalah yang hanya puas dengan kehidupan mereka saat ini. Mereka tidak mau repot dengan pekerjaan mereka. Apa yang dikerjakan pendahulu mereka, maka mereka akan mengikuti sampai sekarang ini. Petani kebanyakan adalah petani yang berusia tua dan mengerjakan lahannya sendirian tanpa bantuan dari anak-anaknya. Alasannya anak-anak mereka cenderung “segan” untuk bekerja di sawah. Para pemuda lebih memilih untuk menganggur daripada bekerja di sawah.

Karakteristik atau ciri petani dalam pengelolaan usahatani mengalamai kesamaan dengan kehidupan mereka sehari-hari yaitu tidak mau berubah dan tidak mau repot. Meskipun penyuluh lapang Bapak Mulyadi sudah berusaha keras untuk mengadakan penyuluhan yang diadakan tiap Jumat Legi, petani menerimanya dengan istilah jawanya “masuk kuping kanan keluar kuping kiri”. Terbukti hasil panen petani yang saat ini merosot tajam hingga 50 %.  Dengan keadaan yang sudah dialami oleh petani, akan sedikit membuka pengertian petani untuk tidak memaksakan dirinya sendiri atau membenarkan dirinya sendiri dan berusaha untuk mau mendengarkan pendapat orang lain dalam hal ini adalah penyuluh setempat.

  1. Kondisi Umum Petani Desa Kebonromo Kecamatan Ngrampal

Kelompok tani Makmur mulai ada sejak diberlakukannya sistem kerja LAKU (Latihan dan Kunjungan) oleh pemerintah yaitu terhitung sejak tahun 1979. Pada saat itu PPL mengunjungi tiap wilayah yang ada untuk mensukseskan program pemerintah pada saat itu. Hampir sama dengan

11

kelompok tani di desa Klandungan, SLPHT juga telah dilaksanakan hingga sekarang ini.

Kelompok tani Makmur dipimpin oleh ketua kelompok tani yang bernama Bapak Darsono, meskipun sudah bertahun-tahun menjadi ketua kelompok tani makmur, Bapak Darsono masih sangat bersemangat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat petani desa Kebonromo melalui suatu usahanya bersama wakil ketuanya yaitu Bapak Agus yang lebih muda darinya melalui kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini biasa dilakukan di Balai Desa Kebonromo, dan diadakan tiap 2 minggu sekali. Sumber materi penyuluhan berangkat dari kebutuhan masyarakat petani setempat. Materi yang biasa disampaikan adalah mengenai penanganan tentang hama dan penyakit tanaman.

Kegiatan penyuluhan biasa dihadiri oleh anggota kelompok tani, ketua kelompok tani beserta perangkatnya dan individu kunci yang ditunjuk oleh Petugas penyuluh lapang setempat. Kegiatan penyuluhan yang ada di desa Kebonromo ini mempunyai perbedaan dengan penyuluhan yang ada di desa Klandungan, karena di desa ini penyuluh kurang berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluh hanya melakukan metode dengan mendekati individu kunci, setelah itu diharapkan individu kunci dapat menyampaikan langsung kepada anggota kelompok tani. Alasan dari penyuluh tersebut dikarenakan penyuluh sudah menganggap bahwa kelompok tani di desa Kebonromo sudah maju, karena kita bisa melihat dari mata pencaharian petani hanya dijadikan sebagai mata pencaharian sampingan, banyak petani di desa tersebut bermata pencaharian sebagai pegawai negeri, wiraswasta, pensiunan, dan pedagang di kota. Hal ini juga terlihat dari cara berfikir petani setempat lebih maju daripada petani di desa Klandungan. Dilihat dari kesejahteraan, kesehatan, perumahan,  petani yang ada di desa Kebonromo lebih maju.

12

Petani di desa Kebonromo selalu berfikiran positif dan mempunyai keingian kuat untuk berusaha dengan giat terhadap apa yang mereka perbuat,  hal ini terbukti dengan mereka selalu berusaha untuk mencoba menanam komoditas lain selain padi, mereka juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan banyak biaya agar usahanya tersebut dapat berhasil. Begitu pula dalam hal kegiatan penyuluhan mereka mendengarkan dan menghargai perkataan para pakar atau petani lain dalam memberantas hama dan penyakit tanaman. Latar belakang pendidikanlah yang membuat mereka mempunyai pandangan semacam itu. Dari penelitian ini dapat saya simpulkan bahwa perilaku seseorang itu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan status sosial seseorang. Penyuluhan antara pendekatan kelompok yang ada di Klandungan dengan pendekatan individu kunci di desa Kebonromo lebih efektif pendekatan kelompok alasannya penyuluh dapat melihat secara langsung kondisi petani, baik itu masalah-masalah yang sedang dihadapi ataupun kendala-kendala yang muncul dalam pengelolaan usahatani. Akan tetapi pendekatan dengan individu kunci juga efektif mengingat kondisi latar belakang pendidikan dan status sosial masing-masing desa dampingan.

V. HASIL PRAKTIK LAPANG

  1. A. Perilaku Petani dalam Pembibitan

Dalam budidaya tanaman padi, kegiatan yang pertama dilakukan adalah menyiapkan bibit tanaman padi. Benih tanaman padi biasanya didapat dengan membeli di toko pertanian setempat atau bisa juga di kios-kios yang tersedia di desa Klandungan maupun desa Kebonromo, atau  milik sendiri yang berasal dari panen sebelumnya. Hasil panen tersebut dipilih  benihnya  yang paling baik dibandingkan dengan yang lain kemudian dipisahkan setelah memperoleh benih dengan jumlah cukup dilanjutkan dengan perendaman dalam air sebelum disebar ke lahan pertanian.

Pemindahan bibit dari persemaian biasanya untuk petani desa Klandungan dan Kebonromo diusahakan pada umur 4-5 minggu terhitung dari tanggal penyebaran benih, atau pada saat berumur cukup tua. Umur bibit yang tepat dipindahkan ke lahan  lebih banyak ditentukan oleh jenis varietas padi yang dipertanamkan. Ada beberapa petani menggunakan varietas berumur genjah atau menurut mereka umur yang baik untuk dipindahkan adalah adalah 3 minggu. Menurut mereka umur bibit yang terlalu tua akan membawa pengaruh buruk terhadap pembentukan tunas dan jumlah anak tunas tanaman akan berkurang. Perilaku demikian ini sudah dilakukan oleh petani yang ada di Desa Klandungan dan Kebonromo sudah bertahun-tahun dan tidak ada perubahan, karena mereka mengganggap bahwa perilaku demikian itu sudah menjadi kebiasaan yang ada dalam diri mereka.

13

14

  1. B. Perilaku Petani dalam Penananaman

Sebelum ditanam padi harus disemaikan dulu dengan baik. Tujuannya agar memperoleh bibit padi yang baik pula. Cara penaburan benih di atas permukaan ada dua cara  yaitu dengan menaburkan serata mungkin, benih berupa butiran-butiran gabah ada yang dikecambahkan dulu dan ada yang tidak, menurut mereka keuntungan dikecambahkan terlebih dulu adalah akan lebih melekat pada tanah. Cara yang kedua adalah menaburkan benih di permukaan bedegan dengan cara larikan yang banyak dipraktekkan oleh petani desa Klandungan maupun Kebonromo. Alasan mereka cara tersebut sudah dilakukan sejak dahulu kala.

Setelah itu  tanaman perlu persiapan dengan mempersiapkan  tempat  karena adanya 2 jenis padi, yaitu padi basah dan padi kering. Tanah persemaian juga dibedakan menjadi 2 yaitu persemaian basah, dimana dalam membuat persemaian harus dipilih tanah atau sawah yang benar-benar subur, rumput-rumput dan jerami yang masih tertinggal harus dibersihkan lebih dulu kemudian sawah digenangi air. Kedua yaitu persemaian kering yaitu sama dengan pembuatan persemaian basah tetapi tanahnya tidak tergenang seperti pada persemaian basah. Kemudian tanah digaru sehingga tanah menjadi gembur dan halus.  Dalam kegiatan pemeliharaan  persemaian dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Pengairan
  2. Pengendalian
  3. Pemupukan

Sebelum melakukan penanaman dengan bibit yang ada, petani melakukan pengolahan tanah sawah, untuk mengolah tanah sawah yang dilakukan secara tradisional meliputi:

  1. Pembersihan yaitu membersihkan jerami-jerami atau rumput-rumput yang ada

15

  1. Pencangkulan hal ini ditujukan agar tanah menjadi lunak dan rumput-rumputnya cepat membusuk. Biasanya dilanjutkan dengan perbaikan pematang.
  2. Pembajakan, untuk mematikan dan membenamkan rumput dan membenamkan bahan-bahan organik.
  3. Penggaruan, dilakukan berulang-ulang sehingga sisa-sisa rumput terbenam dan mengurangi perembesan air ke bawah tujuannya yaitu meratakan  tanah, meratakan pupuk dasar yang dibenamkan dan pemupukan.

Sedang dengan cara moderen yaitu dilakukan dengan menggunakan  mesin yaitu traktor. Di desa Klandungan dan Kebonromo, para petani mengolah tanah sawahnya dengan cara moderen yaitu dengan menggunakan traktor. Setelah petani menyiapkan bibit yang baik dan tempat penanaman maka petani melakukan kegiatan penanaman.

Penanaman yang baik harus menggunakan larikan ke kanan dan kekiri dengan jarak tanaman 20 X 20 cm, hal ini  untuk memudahkan pemeliharaan. Penanamannya tegak lurus dan tidak miring. Penanaman bibit dijaga tidak terlalu dalam maupun terlalu dangkal. Jika ditanam terlalu dalam akan menghambat pertumbuhan akar dan anakan sedikit dan jika terlalu dangkal menyebabkan mudah hanyut atau rebah oleh aliran air. Sehingga mengakibatkan produksinya berkurang. Di desa Klandungan waktu penanaman antar petani tidaklah berbeda jauh harinya, maksimal adalah 5 hari.

16

  1. C. Perilaku Petani dalam Pengolahan Usahatani atau pemeliharaan tanaman padi, kegiatan pemeliharaan tanaman padi meliputi :

1.  Pengairan

Pengairan atau bisa disebut dengan irigasi merupakan suatu usaha untuk memberikan air yang berguna bagi keperluan pertanian, dimana air tesebut digunakan sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya untuk pertanian secara tertib dan teratur pula mengalirnya.

Pengairan merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah dalamnya air harus disesuaikan dengan umur tanaman. Air yang digunakan adalah berasal dari sungai, sebab banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang dapat menambah kesuburan tanah dan tanaman.

Sawah tadah hujan adalah sawah yang memperoleh kebutuhan air semata-mata dari curah hujan. Di daerah Klandungan sistem pengairan dilakukan dengan sistem pompanisasi yang dilakukan  pada musim kemarau dan tadah hujan pada musim penghujan tiba, karena desa Klandungan tergolong petani yang subsisten, yaitu petani yang pasrah dengan keadaan. Dahulu para petani pernah ingin mengajukan di desanya dibangun saluran irigrasi akan tetapi sampai sekarang belum mendapat perhatian dari Pemerintah.  Alasannya karena letak desa yang kurang strategis. Bapak Mulyadi selaku penyuluh berusaha menggalang dana dari warga desa untuk membangun sarana irigrasi teknis, tapi sampai sekarang hasilnya belum dapat diwujudkan karena rata-rata mata pencaharian petani desa Klandungan sebagai petani sehingga pendapatan mereka kurang. Oleh karena itu petani hanya menerima nasib dengan menggunakan tadah hujan dan pompanisasi.

17

Berbeda dengan petani desa Kebonromo yang tingkat pendapatannya relatif tinggi, yang bisa dilihat dari mata pencaharian penduduk setempat adalah Pegawai negeri, pedagang, dan perangkat desa. Sedangkan mata pencaharian sebagai petani hanya dijadikan pekerjaan sampingan, maka tidak heran kalau mereka bisa mengusahakan  irigasi teknis. Pada musim penghujan dan kemarau rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan irigrasi teknis  mencapai Rp 2500/ ha. Air di Desa Kebonromo sampai saat ini cukup bahkan berlebih dengan adanya irigrasi teknis.

2.  Penyiangan

Kira-kira umur 4 minggu setelah pertanaman dimulai sawah mulai dihinggapi oleh rumput, yang tumbuh dari biji rerumputan yang biasanya datang dengan diterbangkan angin dari segala penjuru. Maka dari itu rumput perlu digenangi oleh air, perilaku yang biasa dilakukan petani dalam penyiangan adalah sambil mematikan rumput secara manual, petani sering menggaduk dengan kakinya pada lapisan tanah bagian atas, perilaku demikian ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan hawa agar dapat masuk ke dalam tanah yang selama itu tidak memperoleh kesempatan untuk memperoleh hawa yang segar yang biasa digenangi lapisan air perilaku demikian ini bisa juga digunakan untuk memberikan kesempatan kepada berbagai gas agar dapat menguap ke udara.

Penyiangan dilakukan dengan mencabuti rumput satu per satu tetapi menyiang tidak hanya mencabut rumput saja, melainkan menggemburkan tanah agar akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Penyiangan dapat selesai lebih cepat apabila menggunakan cangkul atau landak.

18

Di desa Kandungan dan Kebonromo penyiangan dilakukan 2 kali yakni pada Penyiangan I dilakukan pada 10-20 hari  dan Penyiangan ke II dilakukan pada umur 20-30 hari. Dengan menggunakan garu atau landak. Tenaga penyiangan mengambil dari dalam daerah. Biaya yang dikeluarkan sehari-hari rata-rata Rp 12.500. Tenaga menggaru disesuaikan dengan kondisi tanah kalau gembur (2 hari) per 1/3 Ha.

    1. Pemupukan

Zat hara dalam tanah seperti N, P, dan K dalam tanah sering persediannya tidak mencukupi untuk menutup kebutuhan tanaman padi. Apalagi untuk memberikan hasil yang tinggi. Sehingga berbagai kekurangan itu perlu ditambah dari luar dengan pemberian zat hara ke dalam tanah berupa pupuk.

Setiap pemupukan selalu bertujuan untuk menambah zat-zat dan unsur-unsur makanan yang dibutuhkan tumbuh-tumbuhan dalam tanah. Untuk tanaman padi pupuk yang digunakan antara lain :

  1. pupuk alam, diberikan 7-10 hari sebelum tanam dengan pupuk hijau, pupuk kandang dan kompos.
  2. pupuk buatan, diberikan sesudah tanaman misalnya ZA, Urea, DS/TS dan ZK. Di desa Klandungan pemupukan dilakukan 3 kali Pemupukan I dilakukan pada saat tanaman padi berumur 0-12 hari dengan ZA, Urea sedikit, SP 36 sedikit. Pemupukan ke II dilakukan pada umur 16-20 hari dengan pupuk yang sama. Rata-rata pupuk yang digunakan untuk Urea sebanyak 300 kg/ Ha, ZA 100 kg/ Ha, SP 36 150 kg, KCL 50 kg. Petani di Kebonromo menemui masalah dalam hal pemupukan pada saat kondisi ingin menambah ZA persediaan di lapang sudah tidak ada, sehingga

19

terpaksa harus memakai Urea. Pemupukan ke III dilakukan pada umur 35 hari dan dengan jenis pupuk yang sama.

  1. Pupuk yang digunakan hanya Urea dan SP 36 dengan proporsi per 3500 m² membutuhkan 1 kwintal dengan 50 Urea dan 50 SP 36.
  2. D. Perilaku Petani dalam Pemupukan

Di daerah Klandungan dan Kebonromo, anjuran dosis pupuk yaitu 35 Kg, dan kenyataan di sana petani memakai dosis pupuk urea, SP 36, dan KCl sebesar 25 Kg. Hal ini dikarenakan persedian pupuk berkurang dengan semakin langkanya pupuk yang disebabkan karena pemakaian pupuk yang berlebih tiap tanamnya. Subsidi dari pemerintahpun juga kurang. Persedian pupuk di kelompom tani juga berkurang karena itu harga pupuk melambung tinggi sehingga sulit dijangkau petani, maka penggunaan pupuk dihemat oleh petani.

Sesuai dengan kondisi tanamannya, di daerah Kebonromo menggunakan irigasi teknis maka dapat menyebabkan hasilnya kurang “mentes”, daunnya tidak begitu hijau menyebabkan pohon menjadi jatuh dan tidak sehat. Maka petani tidak mau mengikuti anjuran yang diberikan sehingga mereka sudah terbiasa dengan apa yang dilakukannya dalam usahatani selama ini.

Pengguaan pupuk organik di kedua desa jarang dilakukan, meskipun mereka tahu tentang manfaat, serta bahan-bahan yang mudah di dapat akan tetapi petani di kedua desa tersebut tetap tidak mau menggunakan, alasannya mereka tidak mau repot. Mereka lebih suka dengan sesuatu yang praktis. Mereka berpedoman bahwa hidup mereka itu sudah susah mengapa ingin dibuat lebih susah lagi. Walaupun mereka tahu tentang dampak yang dilakukan dalam penggunaan pupuk anorganik, mereka masih tidak mau mengubah perilaku dalam penggunaan pupuk anorganik yang dapat merugikan

20

tanaman mereka, alasanya mereka sudah sejak dahulu kala menggunakan pupuk tersebut dan sudah menjadi kebiasaan.

  1. E. Perilaku Petani dalam Pengendalian Hama dan Penyakit.

Pada awal tanaman dalam budidaya padi biasanya belum ada masalah mengenai hama/penyakit. Seperti di daerah Klandungan dan Kebonromo Sragen, hama ulat muncul atau  terindifikasi pada saat tanaman padi berumur 20-30 hari, cara pemberantasan dengan reagent, atau oleh petani di sana, hama tersebut diberantas dengan insektisida cair. Selain ulat serangga, di daerah tersebut juga terdapat jamur sebagai organisme penggangu tanaman (OPT). Berupa hama orong-orong biasanya merusak pada bagian tanaman yang kena air dengan memakan bagian pangkal batang padi. Tetapi biasanya tidak begitu parah. Walang utes meyerang tanaman padi pada saat umur 10 hari. Hama ini diberantas petani dengan memakai Endrin, Fenval, Serpa, dan Regent.

Jenis hama yang sering ada di desa Klandungan dan Kebonromo yaitu hama sundep yang menyerang padi pada saat berumur 40 hari. Menurut petani di desa Klandungan dan Kebonromo, saat yang paling rawan terhadap hama yaitu pada saat padi berumur 60 hari.

  1. F. Pemanenan

Pemanenan hasil merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh para petani, sebab petani akan mulai mengenyam jerih payahnya selama ini.

21

Cara pemanenan padi yaitu dengan menggunakan  sistem tebasan, pada sistem ini pemilik sawah tidak perlu repot dan bersusah payah untuk mencari penuai dan membagi bawon. Pemilik sawah menjual atau menebaskan padinya yang masih berada di sawah kepada tukang tebas. Masalah bagaiman caranya tukang tebas akan memanen padinya, seluruhnya diserahkan kepada tukang tebas pemilik sawah sudah mengantongi uang hasil penjualan padinya. Setelah memperoleh padi dari sawah, petani melakukan perawatan hasil pasca panen antara lain : mengeringkan padi, membersihkan padi dan menyimpan padi.

Hasil panen di desa Klandungan adalah gagal 50 %, hal ini dikarenakan kesalahan dalam mendiagnosa penyakit tanaman. Penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur, akan tetapi diberi obat untuk mencegah bakteri. Ketua kelompok tani yaitu Bapak Bari mengemukakan bahwa penyuluh setempat sudah berusaha untuk menjelaskan kepada masyarakat setempat, tentang gejala-gejala yang menunjukkan bahwa daun yang mengering, akar serta daunnya sudah tidak berfungsi lagi, dan daun yang terlihat sangat merah itu merupakan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur. Petani kebanyakan tidak mau mendengarkan penyuluh.

Akhirnya mereka terkena dampaknya karena mereka tidak mau mendengarkan apa kata para pakar yaitu penyuluh. Perilaku yang tumbuh secara terus menerus dan tidak mau dirubah akhirnya akan merugikan petani itu sendiri. Otomatis pemasarannya jatuh, dulu harga per patok yang ditebaskan adalah sekitar Rp 3.750.000,00. Dengan kegagalan ini hasil terima bersih dan belum dipotong biaya-biaya adalah Rp 2.000.000,00/ patok istilahnya kembali modal.

22

Sikap petani terhadap kegagalan panen demikian ini adalah mereka hanya bisa pasrah menerima nasib. Setelah panen ini mereka berencana untuk menanam padi lagi dan ada sebagaian petani yang ingin menanam kacang panjang.

Petani di Desa Kebonromo juga sedikit mengalami kegagalan, alasannya seperti pada desa Klandungan dimana petani salah mendiagnosa tapi itu hanya sebagian kecil saja petani. Kembali pada karakteristik petani di desa Kebonromo yang maju, maka mereka bisa mengantisipasi lebih dulu tentang adanya penyakit bakteri ini. Mereka tahu banyak tentang hal ini dalam buku-buku pertanian yang biasa mereka baca dan beli di toko-toko pertanian setempat.

  1. G. Perilaku Petani dalam Pemasaran Hasil.

Petani di kedua desa lebih suka jika pemasaran hasil mereka dilakukan dengan hal-hal yang praktis. Mereka tidak mau direpotkan dengan sesuatu yang membuat kepala mereka menjadi pening atau pusing. Oleh karena itu hasil panen mereka tebaskan pada tengkulak setempat yang sudah terbiasa mereka lakukan sejak dulu.

VI. PEMBAHASAN

A. Perilaku Petani dalam Pembibitan

Menurut Soemartono, (1980) mengemukakan bahwa benih bermutu tinggi berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya hasil per satuan luas suatu pertanaman. Oleh karena berbeda dengan kekurangan pupuk, kekurangan obat-obatan pembasmi hama dll, yang sering dihebohkan, kekurangan benih jarang sekali digunjingkan orang. Padahal apakah artinya pupuk, obat-obatan itu jika tidak ada benih atau bibit unggul. Kesadaran petani akan pentingnya bibit atau benih unggul mulai bangkit dengan perilaku mereka yang mampu membeli harga bibit di sarana-sarana pertanian setempat walaupun dengan harga yang tinggi.

Bibit diperoleh petani di kedua desa di toko-toko pertanian setempat dan dari hasil panen sebelumnya yang dipilih benihnya. Sedangkan pemindahan  bibit dari persemaian dilakukan pada umur 4-5 minggu. Umumnya mereka memindahkan bibit  lahan ditentukan oleh jenis varietas padi yang dipertanamkan. Menurut mereka umur bibit yang terlalu tua akan membawa pengaruh atau dampak yang buruk terhadap pembentukan tunas dan jumlah anak tunas akan berkurang.

B. Perilaku Petani dalam Penanaman

Padi harus terlebih dahulu disemai dengan baik. Cara penaburan benih di kedua desa hampir sama yaitu dengan menaburkan serata mungkin yang berupa butiran gabah yang dikecambahkan terlebih dahulu. Sedangkan dengan cara larikan  banyak dipraktekkan oleh petani desa Klandungan.

Petani di desa Klandungan dan Kebonromo mengolah sawahnya dengan cara tradisional dan moderen. Cara tradisional dilakukan dengan membersihkan jerami-jerami atau rumput-rumput yang ada, pencangkulan

23

24

agar tanahnya menjadi lunak, pembajakan untuk mematikan rumput atau membenamkan bahan-bahan organik, dan penggaruan yang dilakukan secara berulang-ulang. Cara moderen dilakukan dengan mesin traktor. Penanaman dengan cara moderen dilakukan dengan menggunakan larikan dari kiri ke kanan dengan jarak 20 X 20 cm.

Menurut DR Rahardian Siregar, (1981) mengatakan bahwa biasanya cara menanam padi ditunggalkan dengan jarak tanam dikira-kira 30 X 30 cm, dan tiap lubang diiisi 5-8 biji. Banyaknya benih yang dipakai kurang lebih 45 kg padi. Jenis-jenis padi yang dipergunakan ialah jenis-jenis padi tanah kering, yang termasuk golongan bulu maupun cereh. Selesai ditanam padi dibiarkan tumbuh dengan tiada mendapat perawatan sama sekali. Hanya menyulam saja yang perlu dilakukan.

C.  Perilaku Petani dalam Pengolahan Usahatani

  1. Pengairan

Pengairan yang dilakukan di desa Klandungan dengan cara tadah hujan yang hanya mengandalkan adanya hujan saja dan sistem pompanisasi yang diperoleh dengan cara bergiliran dari satu petani ke petani yang lainnya.

Pengairan di desa Kebonromo menggunakan irigrasi teknis yang diperoleh dari program pemerintah dengan membayar iuran Rp 2500/ha untuk tiap warga.

Pengairan adalah suatu usaha untuk memberikan air guna keperluan pertanian, pemberiannya dilakukan secara tertib dan teratur untuk daerah pertanian yang membutuhkannya, Areal sawah menurut pengairannya dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu sawah irrigasi, sawah irrigasi desa dan sawah tadah hujan (Siregar, 1981).

  1. Penyiangan

Penyiangan dilakukan 2 kali di desa Kebonromo dan desa Klandungan yaitu pada penyiangan pertama dilakukan pada 10-20

25

hari dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 20-30 hari. Dengan menggunakan garu atau landak. Tenaga penyiangan dari warga desa setempat, biaya yang dikeluarkan petani pada umumnya adalah Rp 12.500/orang.

Penyiangan dan pemupukan sebaiknya diberikan 2 kali, biasanya pupuk buatan diberikan pertama kali pada waktu padi berumur kurang lebih 3 minggu dan kedua kalinya pada waktu menyiang kedua (umur padi ± 1 ½ bulan). Bila tanaman sudah mulai bunting jangan diberi pupuk lagi (Soemartono, 1980).

  1. Pemupukan

Pupuk alam, diberikan 7-10 hari sebelum tanam dengan pupuk hijau, pupuk kandang dan kompos. Pupuk buatan, diberikan sesudah tanaman misalnya ZA, Urea, DS/TS dan ZK. Di desa Klandungan pemupukan dilakukan 3 kali Pemupukan I dilakukan pada saat tanaman padi berumur 0-12 hari dengan ZA, Urea sedikit, SP 36 sedikit. Pemupukan ke II dilakukan pada umur 16-20 hari dengan pupuk yang sama. Rata-rata pupuk yang digunakan untuk urea sebanyak 300 kg/ Ha, ZA 100 kg/ Ha, SP 36 150 kg, KCL 50 kg. Petani di Kebonromo menemui masalah dalam hal pemupukan pada saat kondisi ingin menambah ZA persediaan di lapang sudah tidak ada atau habis sehingga terpaksa harus memakai Urea. Pemupukan ke III dilakukan pada umur 35 hari dan dengan jenis pupuk yang sama.

Dikutip dari www. deptan.com, deptan mengemukakan bahwa memupuk pertanaman pada umumnya sebagai usaha untuk menambah penghasilan. Pupuk organik yang digunakan oleh manusia sejak dulu kala adalah pupuk kandang. Sedangkan pupuk anorganik yang sering digunakan diperoleh dengan pengolahan bahan alam yang mengandung zat hara N, P, dan K. yang fungsinya adalah dapat memperkaya tanah dengan salah satu zat hara yang dikandungnya.

26

D.  Perilaku Petani dalam Pemupukan

Menurut penelitian Dr. Ir. Go Ban Hong dalam bukunya   Soemarsono, (1980) menjelaskan bahwa dengan panen sebesar 4000 kg padi/ha, terdapat kehilangan sejumlah 32 kg N, 36 kg P2O5, 21 kg K, 5 kg Mg, 1 kg Ca, dan 200 kg SiO2. Untuk itu diperlukan 350 kg ZA, 120 kg ES dan 400 kg ZK, tetapi lebih gampang dipakai satu macam pupuk saja, yang mengandung ketiga unsure itu, yaitu : pupuk majemuk 9 komponen NPK. Pupuk majemuk N, P, dan K perbandingannya 15 : 15 :15 artinya mengandung 15 % N, 15 % P2O5, dan 15 % K2O.

Di daerah Klandungan dan Kebonromo, anjuran dosis pupuk yaitu 35 Kg, dan kenyataan di sana petani memakai dosis pupuk urea, SP 36, dan KCl sebesar 25 Kg. petani tidak mau mengikuti anjuran dosis pupuk karena mereka tidak mau mengambil resiko dalam budidaya tanaman padi. Mereka merasa sudah berpengalaman. Dengan dosis yang dianjurkan tersebut, menurut mereka tidak sesuai dengan kondisi tanamannya.

E.    Perilaku Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit

Beberapa hama/penyakit pengganggu yang menyebabkan kerugian pada tanaman padi antara lain :

a.         burung

burung menyerang padi pada saat tanaman padi sedang menguning

b.         walang sangit

walang sangit menyerang padi pada saat masih muda, dengan jalan mengisap padi yang sedang masak susu. Dapat diberantas dengan disemprot menggunakan DDT atau disuluh (dipasang lampu) sehingga mereka tertarik dan berkumpul pada cahaya lampu tersebut.

27

c.         tikus

tikus dapat merusak areal yang luas dalam waktu yang tidak lama, sehingga kerugian yang ditimbulkan amat besar. Tikus dapat diberantas dengan gropyokan atau dengan memberi umpan berupa ketela dan jagung yang dicampur dengan phospit.

d.         ulat serangga

serangga-serangga itu bertelur pada daun, apabila menetas, ulatnya masuk batang dan daun. Cara pemberantasannya harus disemprot dengan obat-obat insektisida, misal : DDT, Aldrin, Endrin, Diazinon, dsb.

(Siregar, 1981).

Sedangkan di desa Klandungan dan Kebonromo hama atau penyakit tanaman yang paling sering dijumpai adalah hama ulat serangga yang masih bias ditangani oleh petani. Menurut DR Hadrian Siregar dalam bukunya Budidaya Tanaman Padi di Indonesia mengemukakan waktu yang terbaik untuk menyemprotkan endrin itu adalah di waktu pagi hari dimana binatang tersebut masih terlalu malas untuk berterbangan ke mana-mana. Sedangkan dalam bidang penelitian yang menyangkut penggunaan berbagai macam racun untuk membasmi serangga itu dapat dikatakan bahwa para ahli di IRRI telah menemukan suatu macam racun dengan nama Corbofuran atau Furadan yang menjaga keselamatan padi dari serangga penggerek batang (hama sundep maupun beluk). Di waktu dahulu memang sudah terbukti bahwa endrin juga dapat menghindarkan tanaman dari serangan hama sundep atau hama beluk dengan cara menyemprotkan racun itu ke pertanaman.

28

F.  Pemanenan

Pemanenan di kedua desa yaitu di Klandungan dan Kebonromo mengalami kegagalan hampir 50 % hal ini disebabkan karena kesalahan dalam mendiagnosa suatu penyakit tanaman. Mereka mengira kalau penyakit yang mempunyai gejala kemerahan itu adalah disebabkan karena bakteri. Penyuluh setempat sudah bisa mengira kalau itu adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya jamur. Sehingga panennya turun. Biasanya petani di kedua desa menggunakan tenaga bantuan untuk memanen. Hasil panennya ditebaskan.

Menurut Soemartono, (1980) mengemukakan bahwa waktu panen yang tepat adalah dilakukan pada fase menguning (bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah yang hijau). Sebab pada fase ini hasilnya adalah yang tertinggi. Selain itu juga mengurangi rontoknya gabah, daripada kalau dipanen pada fase lewat masak. Cara panen dilakukan secara bersama-sama dengan bantuan petani yang lainnya.

G.  Perilaku Petani dalam Pemasaran Hasil

Hasil panen di desa Klandungan dan Kebonromo biasanya ditebaskan pada tengkulak alasannya mereka sudah tidak mau repot lagi. Mereka sebenarnya bias memasarkan hasil panennya sendiri akan tetapi  mereka tidak mau direpotkan oleh hal-hal yang membuat kepala mereka pusing. Mereka lebih suka pada hal-hal yang sifatnya praktis.

Menurut Soemartono, (1980) menjelaskan bahwa pemasaran beras yang tidak efisien mempunyai pengaruh langsung terhadap tingkat produksi. Apabila harga beras yang tinggi di kota-kota tidak diteruskan kepada petani dan selama beberapa musim para produsen memperoleh harga yang rendah, maka tidak ada perangsang untuk

29

meningkatkan produksi. Demikian pula akibatnya bilamana pemasaran hanya melalui beberapa pembeli, sehingga harganya turun.

VII. PENUTUP

A. Kesimpulan

1.   Perilaku petani dicerminkan dalam tindakan sehari-hari baik dalam lingkungan seperti keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan, serta merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang.

2.   Perilaku unik yang  banyak ditemukan adalah petani tidak mau repot dalam pengelolaan usahatani mereka

3.   Perilaku petani dalam Pembibitan di kedua desa adalah mereka biasa membeli benih dari toko-toko pertanian dan dipilih yang mempunyai varietas yang unggul dan bibitnya disemaikan terlebih dahulu selama 4-5 minggu.

4.   Perilaku petani dalam Penanaman di kedua desa adalah dengan menggunakan larikan dari kanan ke kiri dengan jarak tanam 20 X 20 cm dan penanamannya harus tegak lurus dan tidak boleh miring pada tanah yang tidak terlalu dangkal tau terlalu dalam.

5.   Perilaku petani dalam Pengelolaan usahatani di kedua desa berbeda dalam hal pengairannya yaitu dengan menggunakan saluran irigrasi teknis untuk desa Kebonromo dan tadah hujan dan pompanisasi untuk desa Klandungan. Sedangkan untuk Penyiangan dan Pemupukannya hampir sama di kedua desa.

6.   Perilaku petani dalam Pemupukan di kedua desa adalah tidak sesuai dengan dosis anjuran hal ini disebabkan karena pemakaian pupuk yang berlebih dengan semakin langkanya pupuk dan harganya melambung tinggi sehingga pemakaiannya dikurangi.

7.   Perilaku petani dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman di kedua desa adalah membasmi hama berupa serangga, ulat, sundep dengan menggunakan Endrin, Fenval, Serpa, dan Reagent. Sedangkan untuk Organisme Penggangu Tanaman (OPT) yang menyebabkan gagal panen adalah dengan menggunakan fungisida.

8.   Perilaku petani dalam Pemanenan di kedua desa dengan menggunakan sistem tebasan yang biasa mereka lakukan.

30

31

9.   Perilaku petani dalam Pemasaran Hasil yaitu dikedua desa sama-sama ditebaskan pada tengkulak.

10. Peran Penyuluh seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal, hal ini terlihat saat penyuluh memberikan suatu pemecahan masalah, petani tidak mau mendengarkan, seperti pada perilaku petani yang ada di Desa Klandungan dimana hasil panennya merosot 50 %,  Perilaku yang demikian ini sangat tidak baik, hanya dapat merugikan petani sendiri. Seandainya mereka mau untuk mengubah perilaku yang demikian itu maka gagal panen tidak akan dirasakan oleh petani. Melihat kejadian seperti itu di kehidupan yang nyata maka tidaklah heran kalau teori tentang perilaku seseorang akan dapat mempengaruhi cara berfikir seseorang

B.  Saran

1.     Kedua desa sulit untuk merubah perilakunya, karena itu perlu adanya berbagai pertemuan-pertemuan baik formal dan non formal secara kontinue antara petani, kontak tani, dan penyuluh untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi petani dan penemuan-penemua inovasi baru yang bias menguntungkan petani dalam budidaya tanaman padi.

2.      Penyuluhan dengan menggunakan pendekatan secara perorangan perlu dilakukan secara terus menerus kepada kelompok tani rejeki di desa Klandungan agar peran penyuluh bisa dimanfaatkan secara optimal dan petani dapat meningkatkan sedikit demi sedikit kepercayaan mereka pada penyuluh.

3.      Desa Kebonromo disamping penyuluhannya dilakukan dengan mendekati individu kunci juga perlu ditambah dengan penyuluhan dengan menggunakan metode pendekatan kelompok agar penyuluh secara   langsung dapat memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh petani di desa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, Agus. 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta.

Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Bumi Aksara. Jakarta.

Heckman dan Hunneryager. 1992. Motivasi dan Perilaku. Dahara Prize. Semarang.

Kartasapoetra, A.G. 1988. Budidaya Tanaman Padi di Lahan Rawa Pasang Surut.   PT Bina Aksara. Jakarta.

Kombe, Mesashi. 1982. Teori dan Praktek Bercocok Tanam Padi. Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Maslow, Abraham. 1994. Motivasi dan Kepribadian I. Pustaka Binaman \Pressindo. Jakarta.

Planck, Ulrich. 1990. Sosiologi Pertanian. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Redfield, Robert. 1982. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. CV Rajawali. Jakarta.

Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat. CV Rajawali. Jakarta.

Soemartono, 1980. Bercocok Tanam Padi. CV. Yasaguna. Jakarta.

Sumintarsih. 1993. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yogyakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: