POPULASI DAN CONTOH PENELITIAN

Pengertian

Populasi adalah keseluruhan individu, keadaan, atau gejala yang dijadikan objek penelitian. Populasi terdiri dari unit-unit populasi yang menjadi anggota populasi. Bagian dari populasi yang terdiri dari beberapa unit populasi disebut contoh atau sampel. Contoh atau sampel ini dalam penelitian diyakini memiliki karakteristik yang sama dengan populasi.

Sensus dan Sampling

Sensus merupakan cara pengambilan data, dimana dari seluruh populasi akan dijadikan sebagai data dari penelitian. Sesuai dengan pernyataan bahwa: semakin besarnya jumlah anggota populasi yang dijadikan sebagai data, maka akan semakin kecil kmungkinan kesalahan yang akan terjadi.

Dalam suatu penelitian cara sensus akan jarang digunakan. Hal ini dikarenakan :

  1. memerlukan biaya yang besar
  2. memerlukan waktu yang relatif lama, yang akan berakibat pada hasil penelitian yang akan kadaluwarsa
  3. mutu data yang terkumpul belum tentu baik, karena dengan banyaknya jumlah tenaga pengumpul data

Sampling merupakan cara pengambilan data dengan mewakilkan populasi pada beberapa anggota populasi tersebut saja. Cara ini biasanya akan lebih hemat jika dibandingkan dengan cara sensus. Namun cara ini juga memiliki beberapa kelmahan antara lain :

  1. ketidak tepatan, jika teknik samplingnya tidak mewakili keseluruhan sumber keragamannya
  2. ketidak telitian, jika jumlah sampel yang diambil terlalu kecil

Ketepatan dan Ketelitian Penarikan Sampel

Sampel akan dikatakan tepat jika sampel yang diambel dapat benar-benar mewakili setiap sumber keragaman dari populasinya. Sedangkan ketelitian sampel merupakan besarnya jumlah sampel yang dapat mewakili populasinya. Ketepatan dan ketelitian sampel akan berdampak pada kesimpulan. Dengan sampel yang tepat dan teliti maka kesimpulan yang diambil atas populasi tersebut dapat diyakini kebenarannya.

Ketidak tepatan sampel merupakan adanya kesalahan pengambilan sampel dari suatu populasi. Dalam bahasa statistik, ketidak tepatan sampel jika rataan sampel memiliki selisih yang signifikan terhadap rataaan populasinya. Sedangkan ketidak telitian sampel ditunjukkan dari besarnya nilai keragaman atau varian.

Ragam Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel dapat dibadakan menjadi yaitu teknik acak atau random (probably sampling), dan teknik pilihan (non-probability sampling). Dikatakan teknik acak karena setiap bagian dari populasi memiliki kemungkinan yang sama besar untuk menjadi sampel. Sedangkan pada teknik pilihan setiap bagian dari populasi akan memiliki kemungkinan yang tidak sama besar untuk menjadi sampel. Hanya bagian dari populasi yang memiliki kriteria yang sesuai dengan kriteria yang ditettapkan oleh penelitilah yang memiliki kemungkinan lebih besar.

Teknik acak

Teknik acak sering dipakai dalam pengambilan sampel karena dianggap lebih obyektif atau terbebas dari intervensi subjektivitas peneliti. Teknik acak dapat dapat dibagi menjadi :

  1. Teknik acak sederhana

Pada teknik ini semua anggota sampel dianggap memiliki karakteristik yang sama. Sehingga setiap bagian populasi yang terambil sebagai sampel dapat mewakili populasinya. Teknik ini hanya dapat digunakan dalam populasi yang homogen atau populasi yang keragaman opulasinya tidak diketahui. Jika sebaran populasi tidak merata maka teknik ini akan menghadapi problem sample kecil, yaitu tidak terwakilinya keragaman populasi dalam sampel yang diambil.

  1. Teknik acak sistematis

Cara ini seperti pada cara acak sederhana, sedikit bedanya ada pada cara pengacakan pengambilan sampel. Pada cara ini sampel yang diambil berdasarkan urutan nomor dengan menggunakan selang.

  1. Teknik acak kelompok

Teknik ini merupakan campuran dari teknik pilihan dan acak. Sebelum dipilih populasi akan dibagi dahulu dalam kelompok-kelompok yang homogen berdasarkan sumber keragaman yang telah diketahui. Setelah itu barulah dari tiap-tiap kelompok diambel sampel yang mewakili kelompok tersebut. Cara ini lebih kuat dari pada teknik acak sederhana dari segi keragamannya.

  1. Teknik acak bertingkat

Penarikan contoh melalui teknik ini sebenarnya tidak berbeda dengan teknik acak kelompok, bedanya adalah pengelompokannya dilakukan berdasarkan tingkatan atau kelas tertentu.

  1. Teknik acak berlapis

Teknik ini cara pengelompokannya dilakukan secara berlapis dimana lapisan terkecil merupakan anggota dari lapis yang lebih besar.

Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel secara acak ini perlu dipahami bahwa dalam kenyataannya jarang ditemui populasi yang benar-benar seragam (homogen). Dilain pihak seringkali masih sulit membedakan antara teknik acak berlapis dengan teknik acak bertingkat. Karena itu paling aman dapat ditetapkan dengan acak kelompok banyak tahap atau multi stage cluster random sampling. Yang dimaksud dengan teknik acak kelompok banyak tahap sebenarnya tidak berbeda dengan acak kelompok. Bedanya adalah pada teknik ini pengelompokannya dilakukan dengan beberapa tahap.

Teknik pilihan

Dalam banyak kasus penarikan contoh secara pilihan ini justru lebih dapat dihandalkan, karena responden yang terpilih benar-benar dapat dihandalkan sebagai sumber informasi yang diperlukan, sesuai dengan karakteristik atau keragaman yang dimilikinya. Beberapa teknik pilihan yang biasa dijumpai adalah:

  1. Purposive sampling

Yaitu pemilihan sampel melalui pilihan-pilihan berdasarkan kesesuaian karakteristik yang dimiliki calon sampel/responden dengan kriteria tertentu yang ditetapkan/dikehendaki oleh peneliti, sesuai dengan tujuan penelitiannya.

  1. Area sampling

Yaitu pengambilan sampel berdasarkan perbedaan karateristik wilayah, untuk kemudian dari masing-masing wilayah dipilih wakilnya sesuai dengan kriteria yang dikehendaki oleh tujuan penelitiannya.

  1. Teknik bola salju (snow ball sampling)

Yaitu teknik pemilihan sampel dengan terlebih dahulu menetapkan satu informan kunci untuk kemudian pemilihan sampel-sampel yang berikutnya, tergantung pada informasi atau pertimbangan yang diberikan oleh informan kunci tersebut.

Lebih lanjut berkaitan dengan penarikan contoh secara pilihan dalam banyak kepustakaan sering disebut-sebut adanya quota sampling atau proportional sampling. Kedua istilah ini sebenarnya lebih merujuk pada jumlah sampel yang akan diambil yaitu apakah dengan menetapkan jumlah (quota) tertentu apakah secara proporsional tergantung besar/kecilnya sub-populasi atau kelompok/kelas/lapisan yang akan diwakilinya.

Jumlah atau Ukuran Sampel

Besarnya “jumlah atau sampel” merupakan salah satu hal yang perlu dicermati oleh setiap peneliti dengan sangat berhati-hati dalam memahaminya. Dalam banyak kasus sering kali dipertanyakan tentang validitas penelitian sehubungan dengan jumlah sampel yang diambil.

Dalam banyak kepustakaan sering disebut-sebut bahwa jumlah sampel yang dinilai cukup mewakili adalah sebanyak 5-10% populasi. Padahal secara konseptual jika populasinya seragam secara sempurna (full homogen), sampel tunggal atau hanya berjumlah 1 saja sebenarnya sudah dapat dianggap mewakili. Dilain pihak, meskipun ukuran sampel relatif besar tidak dijamin ketepatannya, manakala sampel yang terpilih ternyata tidak mewakili semua sumber keragaman yang dimiliki oleh populasinya apalagi jika hanya mewakili sub populasi tertentu yang proporsi ukurannya relatif besar.

Sehubungan dengan analisis-analasis terhadap penentuan jumlah sampel tersebut diatas dibawah ini disampaikan panduan yang relatif dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yaitu:

  1. Tergantung sifat populasinya; semakin besar jumlahnya akan semakin baik. Tapi kalau bersifat full homogen dapat diambil satu sampel saja.
  2. Jika populasinya heterogen, tentukan sampel dengan menggunakan teknik acak kelompok banyak tahap, untuk memenuhi persyaratan ketepatan sampal.
  3. Tetapkan jumlah sampel sesuai dengan alat analisisnya yang akan digunakan.
  4. Tergantung pentingnya penelitian, semakin penting makna informasi yang diperlukan jumlah sampel harus ditetapkan semakin banyak.
  5. Tergantung tersedianya sumberdaya, jika tersedia cukup tenaga pengumpul data yang dapat diandalkan, sementara waktu yang tersedia juga cukup longgar, dan dana yang disediakan tidak terbatas, jumlah sampel yang semakin banyak akan semakin baik pula.

Meskipun demikian, penetapan jumlah sampel pada batas minimal harus diakui sebagai suatu “kebodohan” yang mencerminkan ketidakseriusan. Artinya sejauh mungkin tetapkanlah jumlah sampel yang maksimal.

About these ads

8 Tanggapan so far »

  1. 1

    vay said,

    makasihhhhhhhhhhhhhh ya,,,,sangat bantu saya,,baguss

  2. 2

    arista said,

    makasih ya mas artikelnya …..

  3. 3

    Roni Tsubasa said,

    siiiiipppppp…..

  4. 5

    shilla said,

    makasih ya

  5. 6

    Jusniati said,

    Tdak ada contoh populasi dan sampel


Comment RSS · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: