Sosialisasi Pupuk Bokashi di Desa Klandungan Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dewasa ini Pemerintah dan masyarakat khususnya petani mulai menyadari akan pentingnya peningkatan produksi pangan. Sehingga perlu upaya yang dapat dilakukan secara terarah dan terencana. Begitu pula dalam hal peningkatan produksi pangan hasil bercocok tanam perlu diusahakan budidaya yang optimal atas tanah agar hasil yang diperoleh maksimal. Adapun cara yang ditempuh adalah mengolah tanah secara baik  dengan cara pemberian pupuk.

Alasan yang melatarbelakangi penyusunan judul Sosialisasi Pupuk Bokasi adalah selain mempertinggi produksi tanam, penggunaan Pupuk Bokasi juga memanfaatkan kotoran hewan sebagai bahan dasarnya sama seperti penggunaan pupuk kandang. Bahan-bahan dasar yang digunakan sangat mudah dijumpai dan relatif ringan. Pada dasarnya “Bokasi” berasal dari bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang difermentasikan. bokasi dapat digunakan untuk produksi tanaman meskipun bahan organik belum terurai seperti pada kompos.

Penggunaan pupuk bokasi ini perlu ditingkatkan, Maka tidaklah mengherankan kalau penggalakan penyuluhan tentang pupuk bokasi ini perlu ditingkatkan terutama di daerah-daerah yang belum mengenal adanya pupuk bokasi. Termasuk di Desa Klandungan, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen. Oleh karena itu Desa tersebut dijadikan tempat penyuluhan yang tepat bagi Sosialisasi Pupuk Bokasi.

1

2

  1. B. Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktiklum Metode dan Teknik Penyuluhan ini adalah :

  1. Menambah dan meningkatkan pengetahuan petani tentang pupuk bokasi.
  2. Petani mampu membuat dan  menerapkan pupuk bokasi dalam budidaya usahatani.
  3. Petani mempunyai kemampuan dalam pembuatan dan penggunaan pupuk bokasi
  1. C. Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan ini adalah :

  1. Petani mengetahui dan mengerti tentang pupuk bokasi.
  2. Petani mampu membuat dan  menerapkan pupuk bokasi dalam budidaya usahatani.
  3. Petani berkeyakinan untuk mau menggunakan pupuk bokasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Analisis Khalayak

Sasaran penyuluhan pertanian, pada dasarnya adalah penerima manfaat atau beneficiaries pembangunan pertanian, yang terdiri dari individu atau kelompok masyarakat yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kegiatan pembangunan pertanian. Petani dalam hal ini adalah merupakan sasaran utama dari penyuluhan pertanian selaras dengan pengertiannya, yang menjadi sasaran penyuluhan pertanian terutama adalah petani pengelola usaha tani dan keluarganya, yaitu bapak tani, ibu tani, dan pemuda/i atau anak-anak petani ( Mardikanto, 1996).

Sasaran penyuluhan adalah manusia yang memiliki kebutuhan keinginan, harapan, serta perasaan-perasaan tentang adanya tekanan maupun dorongan-dorongan yang tidak selalu sama pada seseorang dengan yang lainnya. Karena itu efektifitas penyuluhan akan sangat ditentukan oleh keadaan yang dirasakan oleh sasaran untuk melakukan perubahan-perubahan (Suhardiyono, 1992).

Yang dimaksud dengan sasaran penentu adalah kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang pembangunan wilayah dan pembangunan kehutanan termasuk juga pengambil keputusan tentang kebijakan, strategi, program, dan kegiatan penyuluhan kehutanan (Mardikanto, 1993).

3

4

  1. B. Proses Belajar dalam Penyuluhan

Sehubungan dengan proses belajar di dalam pelaksanaan penyuluhan, akan lebih ditekankan pada pentingnya pemahaman terhadap:

  1. Jenis belajar
  2. Cara-cara belajar
  3. Prinsip-prinsip belajar
  4. Ciri-ciri belajar
  5. Faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar

(Slamet, 1978)

Proses pendidikan (termasuk juga penyuluhan) merupakan upaya sadar dan terencana untuk mengubah perilaku. Karena itu keberhasilan penyuluhan juga sangat ditentukan oleh adanya kesadaran dari sasaran penyuluh untuk secara aktif mengubah perilaku melalui usaha belajar tentang segala sesuatu yang disuluhkan oleh penyuluhnya. Tanpa adanya usaha aktif dan kesadaran dari sasaran penyuluh untuk belajar, kegiatan penyuluhan itu akan sia-sia (Mardikanto,1993).

Pendidikan informal seperti penyuluhan pertanian, pemberantasan buta huruf, pendidikan bidang kesehatan, keluarga berencana, dll. Mempunyai potensi sangat besar di daerah pedesaan sebagai akibat kurang tersedianya pendidikan formal karena pendidikan non formal ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk meningkatkan standar hidup dan produktifitas sebagai usaha yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan

(Suhardiyono, 1992).

  1. C. Alat Bantu Penyuluhan

Alat Bantu yang berhubungan dengan tempat pelajaran atau kegiatan penyuluhan pertanian. Dalam penyuluhan pertanian pelajaran dapat dilakukan dengan di tempat atau dirumah petani, kandang, sawah, kolam atau kandang ternak, juga di kantor rumah penyuluh, pusat penyuluhan pertanian, kebun bibit, balai benih, laboratorium dan dapat

5

pula ditempat-tempat yang dikunjungi secara khusus seperti pameran, pertanaman, demonstrasi, upacara perayaan, dan rapat

(Wiriaatmadja, 1973).

Alat Bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajaarnya selama ada kegiatan penyuluhan  dilaksanakan. Alat ini diperlukan untuk mempermudah penyuluh selama melaksanakan kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan atau memilih materi penyuluhan atau menerangkan inovasi yang disuluhkan

(Mardikanto, 1996).

Kurikulum merupakan suatu paket yang berisi rencana mengajar secara lengkap yang ada dalam suatu kegiatan penyuluhan. Kurikulum akan sangat membantu penyuluh dalam merancang kegiatan penyuluhan (Soediyanto, 1978).

  1. D. Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga bukan sekedar visual aid tetapi audio visual aid yaitu segala sesuatu yang dapat dilihat dan atau didengar dan berfungsi untuk meragakan dan atau menjelaskan segala sesuatu pengertian yang disampaikan secara lisan (Garnadi, 1971).

Salah satu alat peraga penyuluhan yang paling mudah diperoleh atau dibuat adalah yang berupa benda. Alat peraga semacam ini terutama dimaksudkan untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan sasaran dalam tahapan minat, menilai, dan mencoba (Mardikanto dan Arip, 2005).

Pamflet atau selebaran yaitu barang cetakan yang berupa selembar kertas bergambar atau bertuliskan yang dibagi-bagikan oleh penyuluh secara langsung kepada sasaran disebarkan di jalan raya sambil mengendarai mobil, sepeda motor, atau kendaraan lainnya, atau disebarkan dari udara melalui pesawat terbang atau helikopter (Mardikanto, 1996).

6

  1. E. Pemilihan Alat Peraga.

Alat Peraga penyuluhan sebenarnya tidak sekedar berfungsi sebagai alat peraga atau penjelas, melainkan memiliki fungsi yang beragam yaitu menarik perhatian sasaran atau memusatkan perhatian sasaran, memperjelas pengertian tentang segala sesuatu yang diuraikan atau disampaikan penyuluh secara lisan, membuat penyuluhan lebih efektif karena sasaran lebih cepat menerima dan memahami segala sesuatu yang dimaksudkan penyuluhnya, dengan peragaan akan dapat menghemat waktu yang diperlukan penyuluh untuk menjelaskan materi, dan memberikan kesan yang lebih mendalam sehingga sasaran tidak mudah melupakan penyuluhan yang pernah diikutinya ( Sunarya, 1978).

Dalam praktek alat peraga tidak selalu hanya merupakan sesuatu benda atau alat yang dapat dilihat dan diamati dengan mata, melainkan seringkali juga alat atau benda yang dapat dilihat dan didengar

(Garnadi, 1971).

Suatu hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat peraga di dalam pelaksanaan penyuluhan adalah pemilihan alat peraga yang paling efektif dan efisien untuk tujuan perubahan perilaku sasaran yang diinginkan penyuluhnya (Mardikanto,1996)

  1. F. Pemilihan Metode Penyuluhan

Memilih dan menggunakan metode penyuluhan pertanian yang harus menjadi pertimbangan kita adalah sebanyak mungkin sasaran yang harus dilayani , sesering mungkin menghubungkan mereka dan semurah mungkin. Penggunaan metode penyuluhan pertanian harus didasarkan pada persyaratan sebagai berikut :

-         sesuai dengan keadaan sasaran

-         cukup dalam jumlah dan mutu

7

-         tepat mengenai sasaran dan pada waktunya

-         amanat harus mudah diterima dan dimengerti

-         murah pembiayaannya

(Wiriaatmadja, 1973).

Penyuluh harus mengetahui adat kebiasaan sasaran norma-norma yang berlaku dan status kepemimpinan. Hal ini penting bukan saja dalam pemilihan metode penyuluhan tetapi juga dalam menentukan teknik-teknik penyuluhannya. Contoh ada suatu daerah yang melarang pemutaran film pada malam jumat (Mardikanto dan Arip, 2005).

Kebijaksanaan pemerintah yang berasal dari pusat atau daerah kadang-kadang menentukan dalam pemilihan metode penyuluhan. Pendekatan intensifikasi secara massal dan crash program memerlukan waktu yang relatife cepat daripada pendekatan perorangan yang pada dasarnya akan membutuhkan waktu yang relatife lama

(Mardikanto, 1996).

  1. G. Ragam Metode Penyuluhan

Pendekatan kelompok ini sangat penting terutama pada masyarakat yang masih sangat didominasi oleh norma-norma tradisional karena berbagai alasan antara lain : inisiatif dari seseorang harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari kelompok. Penerapan usulan perbaikan yang diperlukan khususnya dalam usaha tani sehingga memerlukan kegiatan bersama anggota kelompoknya. Tanpa persetujuan dan keterlibatan kelompok dalam suatu kegiatan yang dianjurkan kepada mereka maka biaya perkembangan tidak banyak dapat diharapkan. Tindakan kelompok seringkali menggangu usaha-suaha anggota kelompok yang bersikap progresif  (Suhardiyono, 1992).

Metode penyuluhan kelompok lebih menguntungkan dari media massa karena adanya umpan balik yang lebih baik yang memungkinkan pengurangan salah pengertian yang bisa berkembang antara penyuluh dan

8

petani. Interaksi ini memberi kesempatan untuk bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggota kelompok. Metode  kelompok satu sama lain berbeda di dalam kesempatan memperoleh umpan balik dan berinteraksi (Hawkins, 1999).

Pendekatan kelompok manakala penyuluh dapat berkomunikasi dengan sekelompok sasaran pada waktu yang sama, seperti pada pertemuan di lapangan, penyelenggaraan latihan, dll

(Mardikanto dan Arip, 2005).

  1. H. Ragam Teknik Penyuluhan

Pada dasarnya teknik anjang karya maupun anjangsana, keduannya merupakan teknik kunjungan, yaitu penyuluhan yang dilaksanakan oleh seorang penyuluh dengan melakukan kunjungan kepada sasaran secara perorangan atau kelompok, baik di rumah atau tempat tinggal  atau di tempat mereka biasa melakukan kegiatan sehari-hari

(Mardikanto dan Arip, 2005).

Khusus untuk penyuluhan kehutanan, penerapan metode demonstrasi ini sering dikaitkan dengan tujuan pengujian lokal (petak penglaman). Artinya dengan mengamati hasil-hasil pengujian lokal (local verification trails) yang diselenggarakan setiap penyuluh dapat memanfaatkan petak-petak pengalaman yang dinilainya baik untuk dikembangkan sebagai metode demonstrasi (Mardikanto, 1996).

Demonstrasi cara dapat menunjukkan berbagai jenis memilih alat-alat mesin pertanian yang didemonstrasikan pada lapangan yang sama, seperti mesin pembajak atau pemanen cara demikian memberikan petani informasi yang berharga untuk memilih yang terbaik dengan menyatakan kemampuan masing-masing mereka dalam kondisi yang sama

(Hawkins dan Van Den Ban, 1999).

9

  1. I. Lanjutan Ragam Teknik Penyuluhan

Setiap penyuluh berperan seperti seorang pedagang yang ingin mengobral (menjual habis) dagangannya dengan menggunakan teknik penyuluhan ceramah di muka umum. Bahkan sebaiknya semakin

banyak barang dagangan  (ilmu yang dikuasainya) itu dijual, dia justru semakin banyak memperoleh barang dagangan (pengalaman) baru

(Arnon, 1989).

Teknik kuliah, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teknik ceramah dalam arti peran penyuluh yang relatife mendominasi kesempatan berbicara dan penggunaan alat bantu menyuluh maupun alat peraga penyuluhan yang digunakan (Mardikanto dan Arip, 2005).

Kelompencapir sebenarnya merupakan kelompok yang secara rutin membantu informasi dari media massa (radio, televisi, media cetak) yang dinilainnya bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan atau untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang dihadapinya, dan mendiskusikannya dalam pertemuan berkala yang telah mereka sepakati bersama (Mardikanto, 1996).

  1. J. Aplikasi Teknik Penyuluhan

Kunjungan rumah dan tempat usaha adalah suatu kunjungan terencana yang dilakukan oleh penyuluh ke rumah atau tempat usaha petani dengan suatu tujuan tertentu, tujuannya adalah menumbuhkan kepercayaan diri petani dan keluargannya (Mardikanto dan Arip, 2005).

Kuliah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan metode atau teknik ceramah dalam arti peran penyuluh yang relatife mendominasi kesempatan berbicara dan penggunaan alat bantu menyuluh maupun alat peraga penyuluhan yang digunakan (Mardikanto, 1996).

10

Kaji terap adalah merupakan teknik menyuluh yang dapat digunakan untuk menyakinkan  teknologi usaha tani yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sasaran pada suatu wilayah tertentu (Arnon, 1989).

  1. K. Lanjutan Aplikasi Teknik Penyuluhan.

Obrolan sore adalah suatu proses percakapan antar petani nelayan ataupun antar wanita tani nelayan yang dilakukan dengan santai dan akrab dengan acara pembicaraan diarahkan kepada masalah-masalah yang bermanfaat untuk pembangunan pertanian. Waktu yang dianggap paling santai adalah sore hari, ketika petani sudah tidak bekerja

(Mardikanto dan Arip, 2005).

Penerapan media pertunjukan ini dapat sangat efektif, manakala penyampaian pesan (pemain) memang benar-benar memahami, menghayati dan memerankannya dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kesan mengada-ada, dibuat-buat atau menggurui yang seringkali menimbulkan tanggapan yang kurang diharapkan

(Mardikanto, 1996).

Metode film seringkali lebih efektif untuk mempengaruhi sikap, pengetahuan, bahkan ketrampilan, disbanding metode pertunjukkan pada umumnya. Karena itu metode ini sangat efektif diterapkan pada sasaran yang berbeda pada tahapan sadar, menilai, sampai mencoba atau bahkan yang sudah menerapkan (Mardikanto, 1993).

  1. L. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan.

Evaluasi adalah alat manajemen yang berorientasi pada tindakan dan proses. Informasi yang dikumpulkan lalu dianalisis sehingga relevansi dan efek konsekuensinya ditentukan sistematis dan seobjektif mungkin. Data ini digunakan untuk memperbaiki kegiatan sekarang dan yang akan datang seperti dalam perencanaan, pengorganisasian, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan program untuk mempercayai kebijaksanaan

11

penyuluhan yang lebih efektif. Data tersebut mencakup penentuan penilaian keefektifan kegiatan dibandingkan dengan sumber daya yang digunakan (Hawkins dan Van Den Ban, 1999).

Maksud evaluasi dari suatu usaha secara singkatnya adalah:

-                     untuk menyempurnakan arah pekerjaan

-                     untuk memberikan gambaran kemajuan usaha

-                     untuk memperoleh keterangan perihal keadaan masyarakat pedesaan

-                     untuk mengukur efektifitas dari metode penyuluhan

-                     untuk membuktikan berhargannya suatu program

-                     untuk memberikan kepuasan kepada teman sekerja

(Wiriaatmadja, 1973).

Evaluasi sebagai suatu kegiatan, sebenarnya merupakan proses untuk mengetahui atau memahami dan memberikan penilaian terhadap sesuatu keadaan tertentu, melalui kegiatan pengumpulan data atau fakta dan membandingkannya dengan ukuran serta cara pengukuran tertentu yang telah ditetapkan (Mardikanto, 1996).

M. Contoh Pelaksanaan Penyuluhan

Ilmu penyuluhan sudah lama dikembangkan. Menurut catatan sejarah di Scotlandia, pengembangan ilmu penyuluhan sudah dirintis sejak tahun 1723. Sehubungan dengan itu konsep tentang penyuluhan terus mengalami perkembangan (Swanson dan Clear, 1984).

Pernyataan Soedarsono Hadisapoetra juga dikuatkan oleh rangkuman manfaat penyuluhan yang dilakukan oleh Hayami dan Ruttan (1985) yang meyakini keberhasilan penyuluhan di beberapa negara untuk meningkatkan produktifitas usahatani hutan memperbaiki efisiensi alokasi sumber daya dan meningkatkan keuntungan usahatani di negara maju seperti di Amerika Serikat, maupun di beberapa negara dunia ketiga yakni di Asia, Afrika, dan Amerika Latin (Mardikanto, 1996).

12

Kunjungan ke Demplot Jagung di Mirit Petikusan, kecamatan Mirit. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meneliti pelaksanaan proyek Demplot (Demonstrasi Plot) Jagung di Mirit, kegiatan ini dilakukan 3 orang penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Kebumen, yang dilaksanakan

pada tanggal 13 November 2003. Mereka adalah Bapak Hardo Pambuko, Wiyono dan pengkkordinirnya Bapak Ir Agusono, MM

(Mardikanto dan Arip, 2005).

  1. N. Model Penyuluhan di Indonesia

Sekolah Lapang PHT dilaksanakan dengan tujuan untuk memasyarakatkan PHT dengan pendekatan ekologis. Ada 4 prinsip yang harus dilakukan petani dalam melaksanakan pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan yaitu budidaya tanaman,  pemanfaatan musuh alami,  pengamatan mingguan, dan  petani ahli PHT (Mardikanto dan Arip, 2005).

Kegiatan penyuluhan tidak boleh menetapkan bakuan tentang waktu dan tempat penyelenggaraannya. Sehingga, penetapan jadwal atau waktu dan tempat kegiatan penyuluhan yang dibakukan sebagaimana ditetapkan dalam system kerja LAKU yang merupakan model penyuluhan di Indonesia hendaknya diterapkan secara kaku tetapi sebaiknya disesuaikan dengan kesepakatan masyarakatnya (Mardikanto, 1996).

Kelebihan model PHT adalah proses kepemanduannya yaitu petani dipandu untuk dapat belajar sendiri di alam yang nyata untuk menentukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi, dan mereka diharapkan mampu mengambil keputusan bersama tindakan apa yang harus dilakukan di hari-hari berikutnya dalam mengelola usahanya (Mardikanto, 2003).

III. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN SOSIALISASI PUPUK BOKASI DI DESA KLANDUNGAN KECAMATAN NGAMPAL KABUPATEN SRAGEN

  1. A. Metode Penyuluhan

Dengan melihat judul penyuluhan “ Sosialisasi Pupuk Bokasi “ maka penyuluh bertugas mengenalkan ataupun memasyarakatkan pupuk bokasi, artinya penyuluh hanya mensosialisasikan saja dengan metode yang disesuaikan. Adapun metode yang sesuai untuk digunakan adalah Metode penyuluhan secara pendekatan kelompok. Definisi dari pendekatan kelompok adalah suatu metode penyuluhan dimana penyuluh mendatangi petani yang tergabung dalam suatu kelompok tani yang bersangkutan secara langsung. Alasan pemilihan metode ini adalah penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung dengan kelompok sasaran yakni petani dalam waktu yang relatife sama. Sehingga penyuluhan dapat berlangsung efektif dan efisien.

Pertemuan kelompok tersebut dilaksanakan setiap ada pertemuan dengan kelompok tani. Yakni tiap hari Jumat pada waktu sore hari di rumah ketua kelompok tani.

Pada dasarnya metode penyuluhan yang paling tepat adalah disesuaikan dengan kebutuhan sasaran yaitu penyuluh harus dapat mempertimbangkan tempat yang paling baik adalah di tempat kegiatan sasaran baik itu di sawah atau rumah. Sehingga petani bisa nyaman

dengan kegiatan penyuluhan. Mereka bisa sharing, diskusi tentang permasalan yang dihadapi petani. Pertimbangan yang tidak kalah penting

13

14

yaitu waktu  penyesuaian waktu perlu dipertimbangkan, dipilih yang tidak mengganggu kegiatan rutin yang dilakukan petani. Oleh karena itu

penyuluh harus dapat menciptakan hubungan yang baik dengan sasaran. Agar penyuluh dan petani merasa sama-sama saling menjadi bagian dari

diri masing-masing. Sehingga akan dapat memberikan sesuatu yang baru atau inovasi baru sehingga dapat menciptakan suatu perubahan, baik perubahan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.

  1. B. Teknik Penyuluhan

Teknik penyuluhan yang digunakan adalah kunjungan.  Kunjungan adalah suatu teknik penyuluhan dimana penyuluh melakukan kunjungan ke tempat sasaran. Alasan diterapkannya metode ini karena teknik penyuluhan ini sangat efektif dan akan lebih efisien jika diterapkan pada sasaran. Dimana sasaran ada pada tahap “menilai”. Adapun tahapan untuk mempengaruhi pikiran dan ketrampilan seseorang ada 4 tahap yaitu sadar, minat, menilai dan mencoba. Tahapan pada sasaran menilai akan memunculkan suatu pertanyaaan apa sebenarnya pupuk bokasi itu?, keuntungan apa yang akan didapat apabila menggunakan pupuk Bokasi?, bagaimana cara membuatnya? dll. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan muncul dalam diri sasaran. Setelah itu mereka akan mencoba dan menerapkan penggunaan pupuk bokasi.

  1. C. Lembar Persiapan Penyuluhan (Hand Out)

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang berguna untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura.

Kenyataan di jaman sekarang, bahwa harga pupuk buatan sangat mahal, hal ini akan sangat mempengaruhi setiap biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. Untuk itu sebagai salah satu alternatife agar beban biaya produksi khususnya di saprodi (pupuk) berkurang, maka disarankan para petani kita menggunakan pupuk organik dalam hal ini

15

adalah pupuk bokasi. Disini akan dapat dijelaskan tentang pupuk bokasi dalam suatu penyuluhan tentang “Sosialisasi Pupuk Bokasi”.

  1. Pengertian pupuk bokasi

Bokasi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang difermentasikan”. Bokasi hampir sama dengan kompos, tetapi bokasi dibuat dengan memfermentasikan bahan organic. Bokasi dapat digunakan untuk produksi tanaman meskipun bahan organik belum terurai seperti pada kompos. Bila bokasi dimasukkan sebagai pakan oleh mikroorganisme efektif untuk berkembang biak dalam tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur hara bagi tanaman. Bokasi merupakan hasil fermentasi bahan organik yang terdiri dari jerami, sampah, pupuk kandang, sekam padi, serbuk gergaji, rumput-rumputan, dan lain-lain. Dengan memanfaatkan teknologi EM-4 yang dapat digunakan sebagai pupuk organic untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

  1. Keuntungan penggunaan pupuk bokasi

Bokasi dapat dibuat dalam beberapa hari dan dapat langsung digunakan sebagai pupuk. Adapun keuntungan atau manfaat apabila kita menggunakan pupuk bokasi adalah sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam waktu yang singkat dalam hal pembuatannya, karena para petani memerlukan pupuk organik sehingga dengan penggunaan pupuk bokasi merupakan kunci keberhasilan produksi pertanian dengan biaya murah.

Fungsinya tidak kalah dengan pupuk organic seperti Urea, KCL dll. Salah satu fungsinya adalah dapat meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan, dan produksi. Petani dengan biaya yang minimal dan dengan memanfaatkan potensi lingkungan yang ada seoptimal mungkin. Upaya ini antara lain perlu diterapkan suatu teknologi baru

16

yang murah, tepat guna, mudah tersedia bagi petani khususnya dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Sehingga tidak

memutuskan rantai sistem ekologi pertanian itu sendiri. Bahan-bahan yang mudah di dapatkan seperti jerami, pupuk kandang, rumput-rumptan, sekam padi, serbuk gergaji dll. Setiap bahan organik akan difermentasikan oleh mikroorganisme (EM-4) dalam kondisi aerob atau anaerob pada suhu 40 sampai dengan  50 °/C. Hasil fermentasi bahan organik tadi merupakan senyawa organik  yang sangat mudah diserap oleh tanaman.

  1. Keunggulan pupuk bokasi

Keunggulan pupuk bokasi adalah sebagai berikut :

  1. Penggunaannya mudah, praktis, murah, cepat dan tingkat keberhasilannya relative tinggi.
  2. Mampu mengembalikan struktur tanah yang rusak
  3. Mengandung zat hara yang dibutuhkan oleh tanaman
  4. Tidak berbau dan menimbulkan panas
  5. Tidak mengandung hama dan penyakit
  6. Cara pembuatan pupuk bokasi

Prinsip cara pembuatan pupuk bokasi adalah sangat sederhana dan mudah. Ini sangat tergantung dari jenis bahan baku yang digunakan. Dibawah ini dapat disajikan beberapa cara pembuatan pupuk bokasi dengan bahan-bahan yang berbeda. Adapun Bahan-bahannya adalah :

  1. Bokasi Pupuk Kandang
  2. Bokasi Pupuk Kandang dan Tanah
  3. Bokasi Jerami
  4. Bokasi Pupuk Kandang (Arang Sekam)
  5. Bokasi Ekspress (24 jam).

17

Keseluruhan bahan-bahan yang digunakan, alat yang diperlukan dan cara pembuatan dapat dilihat pada leaflet sosialisasi pupuk bokasi.

  1. D. Lembar Persiapan Kegiatan

Tabel 1 Lembar persiapan kegiatan penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi

Urutan Kegiatan     Waktu              Tempat          Sasaran         Perlengkapan

1. Pembukaan          15.00-15.10   Rumah          Petani            Pengeras suara

Oleh ketua                                   Ketua                                dan sarana

Kelompok tani                             Kelp tani                            ruangan

2. Sambutan oleh     15.10-15.30   Rumah            Petani           Pengeras suara

Penyuluh                                       Ketua                               dan sarana

Kelp tani                          ruangan

3. Penyampaian        15.30-16.10   Rumah            Petani          Sarana ruang,

Materi :                                        Ketua                               papan tulis,

- pengertian                     kelp tani                           papan tempel,

- keuntungan                                                                        dan alat tulis

- keunggulan

- cara

pembuatan

4. Tanya jawab        16.10-16.45   Rumah             Petani          Pengeras suara

dengan petani                              Ketua                                dan alat tulis

Kelp tani

5. Penutup               16.45-17.00   Rumah             Petani          Pengeras suara

Ketua

Kelp tani

18

  1. E. Alat Bantu Penyuluhan

Sosialisasi Pupuk Bokasi menggunakan 3 Alat Bantu Penyuluhan yaitu :

  1. Papan Tulis dan Papan Penempel.

Alasannya pada setiap kegiatan penyuluhan selalu memerlukan papan tulis atau papan penempel yang digunakan untuk menjelaskan materi yang disuluhkan. Untuk papan tulis biasanya menggunakan papan tulis berwarna putih atau biasa disebut dengan white board dan spidol. Untuk papan penempel digunakan untuk menempel pamflet-pamflet tentang cara-cara pembuatan pupuk bokasi. Papan penempel biasanya terletak di sebelah white board yang menghadap di depan sasaran dengan menggunakan selembar kain panel yang ditempel di dinding.

  1. Alat Tulis

Alat tulis lengkap yang berupa spidol, penggaris, penghapus, dll. Alat tulis ini berfungsi untuk mempermudah Penyuluh dalam menyampaikan materi kepada sasaran.

  1. Sarana Ruangan

Sarana ruangan adalah segala sesuatu yang dapat mendukung terciptanya kelancaran dalam kegiatan penyuluhan. Sarana Ruangan yang dipakai dalam penyuluhan kali ini adalah lampu yang berfungsi untuk menerangi ruangan, kipas angin dengan kipas angin suasana penyuluhan dapat berlangsung sejuk. Dengan suasana yang demikian maka pikiran penyuluh maupun sasaran akan jernih sehingga materi yang disampaikan dan diterima akan terserap dengan mudah.

19

  1. F. Alat Peraga Penyuluhan

Alat Peraga yang tepat untuk penyuluhan tentang sosialisasi pupuk bokasi adalah benda atau sampel pupuk bokasi. Menurut Mardikanto (1996) Alat peraga ini digunakan untuk mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan sasaran dalam tahapan minat, menilai, dan mencoba.

Pada penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi menggunakan sampel atau contoh barang aslinya yang dibawa secara langsung. Sehingga dengan membawa contoh atau sampel dari barang maka petani akan mudah percaya  dan akan timbul rasa ingin menerapkan.

Alat peraga yang kedua adalah leaflet, merupakan barang-barang cetakan yang dibagi-bagikan kepada sasaran. leaflet dibagikan secara langsung oleh penyuluhnya, dan merupakan selembar kertas yang dilipat menjadi dua (4 halaman). Leaflet ini lebih banyak tulisan daripada gambarnya. Isi dari leflet adalah pengertian, pupuk bokasi, keuntungan penggunaan pupuk bokasi, keunggulan pupuk bokasi, dan cara pembuatan pupuk bokasi. Diharapkan dengan leflet ini akan dapat mempengaruhi pengetahuan dan ketrampilan pada tahapan minat, menilai dan mencoba.

  1. G. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan

Evaluasi merupakan kegiatan penilaian, terhadap suatu objek atau peristiwa yang sedang diamati. Evaluasi haruslah berdasarkan atas fakta bukan intuisi seseorang. Yang terpenting harus menggunakan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

Bentuk evaluasi dari metode dan teknik penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi adalah evaluasi dalam bentuk evaluasi hasil. Evaluasi yang dilakukan untuk mengevaluasi tentang seberapa jauh tujuan-tujuan dapat terlaksana dengan baik. Evaluasi hasil dikatakan berhasil apabila sasaran sudah dapat mengetahui, memahami, dan menerapkan penggunaan pupuk bokasi. Secara konkrit dapat

20

dilihat dari sikap petani yang berkeinginan untuk mau mencoba membuat pupuk bokasi.

IV. PENUTUP

Dengan adanya metode dan teknik penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi dapat dilaksanakan dengan baik di Desa Klandungan, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen. Diharapkan dengan adanya sosialisasi pupuk bokasi di lahan ini, petani  dapat menerapkan penggunaan Pupuk Bokasi setelah tahu tentang manfaat, keuntungan cara-cara pembuatan dll, petani dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang pupuk bokasi, dan petani mempunyai kemampuan dalam pembuatan dan penggunaan pupuk bokasi. Mengingat betapa mahalnya harga pupuk anorganik saat ini.

Dengan pemakaian pupuk buatan yang harganya selalu merangkak naik terus-menerus, sedangkan nilai jual hasil pertanian yang tidak begitu menggembirakan maka alternatif pemakaian Pupuk Bokasi ini akan sedikit mengurangi biaya produksi usahatani.

Demikianlah metode dan teknik penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi dibuat. Semoga dapat bermanfaat dalam kegiatan usahatani yang biasa dijalankan. Sehingga terdapat perubahan secara kognitif, afektif dan psikomotorik dari para petani setelah mengenal adanya pupuk bokasi. Penyusun meminta maaf apabila ada kesalahan dalam penyusunan metode dan teknik penyuluhan sosialisasi pupuk bokasi.

21

DAFTAR PUSTAKA

Arnon,I. 1989. Agricultural Research and Technology Transfer. Elsevier Applied Research. London.

Garnadi. 1971. Psikologi Sosial. Eresco. Bandung.

Hawkins, HS dan AW Van den Ban. 1999. Penyuluh Pertanian. Kanisius. Jakarta.

Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Mardikanto, Totok. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Depoartemen Kehutanan RI. Jakarta.

Mardikanto, Totok. 2003. Redifinisi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. Pusat Pengembangan Agrobisnis dan Perhutanan Sosial. Surakarta.

Mardikanto, Totok dan Arip Wijianto. 2005.Modul Kuliah Metode dan Teknik Penyuluhan Pertanian. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Slamet. 1978. Aspek Sosial Budaya Dalam Pembangunan Pedesaan. Tiara Wacana. Yogyakarta.

Soediyanto. 1978. Petundjuk Penyuluhan Pertanian. Soeroengan. Jakarta.

Suhardiyono,L. 1992. Penyuluhan: Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Sunarya. 1978. Metode Penyuluhan Pertanian. LPP. Yogyakarta.

Swanson, BE and J.B. Clear. 1984. Sejarah dan Perkembangan Pertanian Berkelanjutan. Gramedia. Jakarta.

Wiriaatmadja, Soekandar. 1973. Pokok-pokok Penyuluhan Pertanian. Yasaguna. Jakarta.

About these ads

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    aziz said,

    boleh shearing ama petani pembuatan pupuk organik dengan stater stardec. bisa kami bantu menjelaskan cara pembuatannya dan juga cara aplikasi pupuk organik 1 liter pupuk cair setara unsur hara mikro dengan 1 ton pupuk kandang.
    bisa hubungi : Aziz ( 081329436116 ) atau email kami.
    trim’s


Comment RSS · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: