TEORI PERUBAHAN SOSIAL DI ASIA

  1. I. PENDAHULUAN

Perubahan sosial merupakan gejala umum dalam masyarakat yang perlu didekati dengan model pemahaman yang lebih rinci dan khusus. Pada pengkajian teori modernisasi perubahan social dapat terjadi karena masyarakat berkomunikasi dengan ide-ide baru, masyarakat menyadari kesadaran akan keterbelakangnya, dan adanya ikatan kesadaran berorganisasi yang relatif lebih baik dan lain-lain. Aspek internal masyarakat sangat menghambat adanya proses pembangunan masyarakat, sehingga perlu diubah atau dibentuk kembali. Kelompok strukturalis, melihat perubahan sosial memang selalu datang dari unsur luar masyarakat, yang membuat tidak seimbang struktur sosial internal. Tidak adanya fenomena sosial tertentu yang hanya dapat diterangkan dengan satu asumsi tunggal, tetapi harus dilakukan dengan pola pikir yang bersifat alternatif. Perubahan sosial dapat menyangkut struktur sosial atau pola nilai dan norma serta peran. Dengan demikian istilah yang lebih lengka adalah perubahan sosial dan kebudayaan (Pijiwati Sajogya, 1985:19).

Hans Dieter Ever (1980) seorang guru besar Sosiologi pada universitas Bielefeld di Jerman yang pernah menjadi dosen tamu di FISIP-UI (1978-1980) berhasil merekonstruksi berbagai temuan empiris di Asia Tenggara. Secara garis besar ada lima konsep utamamengenai konsep dasar dinamika perubahan social di Asia Tenggara yaitu meliputi Teori Ganda Masyarakat, Teori Kemajemukan Masyarakat, Teori Longgarnya Struktur Masyarakat, Teori Evolusi dan Teori Industrilisasi dan Modernisasi (Evers, Hans Dieter, 1980:1-7). Perubahan social di Asia, dikalangan para peneliti yang telah mengawali pekerjaannya sejak tahun 1950-an, menyatakan bahwa masyarakat Asia menjadi bentuk masyarakat yang berubah akibat bentuk kemajuan yang harus diambil di luar. Unsur-unsur yang menjadi penghalang perubahan adalah kelembagaan sikap mental, dan relasi sosial, yang semua unsur tadi bermuara dari tradisi dan kebudayaan local. Solusi yang mungkin dilakukan adalah “merombak” semua unsur yang bersumber dari tradisi dan kebudayaan local tersebut.

  1. II. ISI

  1. Teori Ekonomi Ganda (Dualistic Economics)

Teori ini merupakan teori klasik yang ditemukan oleh Dr.J.H.Boeke (1953), yang menyatakan bahwa dari sudut ekonomi-masyarakat ditandai atas tiga unsur penentu yaitu: jiwa sosial (social spirit), bentuk-bentuk organisasi dan teknik-teknik yang mendukungnya. Ketiga unsur saling berkaitan yang kemudian menentukan corak masyarakat yang ada dalam bentuk sistem sosial, gaya sosial, atau iklim sosial yang bersangkutan. Tidak ada satu bentuk yang dominan (homogen), masing-masing sistem memiliki pengaruh dalam masyarakat sehingga terjadi masyarakat ganda (dual) atau jamak (plural society). Gaya hidup masyarakat dikenal pola perkembangan linear dalam bentuk pola peralihan misalnya dari masyarakat pra kapitalis (pre-capitalism) yang kemudian dipisahkan dengan kapitalisme awal (early capitalism) yang tidak menonjol bersama-sama.

Dalam teori masyarakat ganda, biasanya ada salah satu sistem sosial yang menonjol atau dikatakan yang termaju, sistem itu biasanya “di-impor” dari luar masyarakat yang bersangkutan. Boeke merupakan ahli Indonesia (Indonesianis) yang mengamati perkembangan masyarakat sejak lama dan kasus kajian Indonesia merupakan daerah perkembangan masyarakat ganda yang paling menarik. Dapat ditarik kesimpulan bahwa sifat ganda adalah akibat pertarungansistem masyarakat impor dengan system local, yang sebetulnya tidak hanya terbatas pada system kapitalis tetapi juga system sosialis atau bahkan komunis. Menurut Boeke, teori masyarakat ganda sebenarnya berasal dari tiga ekonomi yang menjadi satu: (a) Teori masyarakat Pra-Kapitalis, yang biasanya disebut ekonomi primitive (b) Teori masyarakat Kapitalis atau teori masyarakat sosialis (c) teori ekonomi dari hubungan antara dua sistem yang berbeda dalam satu lingkaran masyarakat yang biasanya disebut ekonomi ganda, yang menunjukkan adanya gabungan teori sistem masyarakat secara keseluruhan.

Konsepsi masyarakat ganda telah ditolak oleh Mk.Gandhi, menurutnya India kalah dengan Inggris karena menerima kapitalisme. Oleh karena itu India menolak kapitalisme, kereta api menjadi setan, karena ia membawa wabah penyalit, kelaparan serta memancing sifat jahat manusia menyebabkan manusia jauh dari sifat suci. Pikiran MK Gandhi tidak bersifat ganda, tetapi ia menganjurkansupaya kapitalisme dibasmi sampai akarnya menjadi kebudayaan timur; hidup sederhana dan berpikir luhur.

Di Indonesia sejak awalnya, pola berpikir yang hidup adalah versi cendikiawan barat oleh karena itu orang timur yang objektif untuk membangun masyarakat timur. Pendekatan ekonomi barat berbeda dengan ekonomi timur, dilingkungan masyarakat barat berlaku pola hubungan ekonomi yang sangat rasional, sedangkan ditimur orang mudah terpuaskan dan orang berusaha menikmati waktu senggangnya. (1) Filsafat timur diakui sebagai system social ekonomi tersendiri (2) Jawa berbeda dengan pulau-pulau lainnya (3) Pembedaan Barat-Timur murni berasal dari system ekonominya, bukan dari system politiknya (4) Dua kaidah teori ekonomi barat dikatakan tidak berlaku untuk masyarakat timur.

Menurut Boeke, pertarungan pengaruh dua system ekonomi itu bersifat abadi atau tidak berubah dalam waktu yang lama. Masyarakat desa sukar menyesuaikan diri membawa dua akibat pokok yaitu utang kepada pemodal dan tercapainya kepadatan penduduk yang terjadi secara alamiah. Kebiasaan utang dikalangan penduduk pada masa pra kapitalis ternyata membuat mereka tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga menyangkut hak jual beli, keuntungan, organisasi usaha pertanian dan lain-lain. Desa akan menjadi “jatuh miskin”, kondisinya terbelit dalam system masyarakat kapitalis kota yang menghisap sumber kekayaan alam manisia desa.

  1. Teori Mentalitas

Koentjoroningrat hamper memiliki konsep serupa seperti apa yang dikemukakan olah Boeko (Koentjoroningrat, 1969:11):

Even if perhaps we don’t wish to go along with his pessimism, and don’t want to pose that the Indonesian peasantry will never advance their economy, still we mast admit that the mantal attitude like those submitted by Boeke, up to a certain point, indeed exist in the Indonesian population.

Hambatan itu terjadi karena factor mentalitas petani di Indonesia tidak pernah dapat merespons konsepsi pembangunan secara tepat. Dengan mengambil kerangkan pemikiran Antropolog AL Kroeber dan C Kluckhon (1952), dibuat lima dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia.

Mentalitas petani memeiliki kelemahan substansial untuk menghayati masalah dasar dalam kehidupannya, yaitu meliputi Hakikat Hidup (MH), Hakikat Karya (HK), persepsi Manusia tentang Waktu (MW), pandangan manusia terhadap alam (MA) dan Hakikat hubungan antara manusia dengan sesamanya (MM). menurut Koentjoroningrat, mantalitas pembangunan sangat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan program pembangunan (Koentjoroningrat, 1982). Sehingga antara konsepsi masyarakat ganda dari Boeke dan mentalitas pembangunan Koentjoroningrat memiliki kesetaraan, karena masing-masing melihat bahwa mental petani desa tidak atau belum sesuai dengan rasionalitas pola pikir kehidupan kota (mentalitas barat).

Kebudayaan timur dinyatakan tidak menonjolkan individualisme-nya yang sangat berguna untuk peningkatan dasar rasionalitas menuju kemajuan. Di Timur sangat menonjol sifat kegotong-royongan, terutama terwujud dalam sikap hidup dan nilai-nilai social budaya. Orang barat hanya hidup dalam lingkungan karib ketika masih anak-anak, tetapi mereka segera melepaskan diri ketika sudah menginjak remaja. Orang Timur tidak demikian, lingkungan karib ini terlalu lama melingkupi individu, sehingga menurut hematnya mereka tidak memiliki sikap hidup yang gigih dan berorientasi kepada kemajuan pribadi.

  1. Plural Societies

Konsep ini lebih menitikberatkan dari berlakunya teori ‘social stratification’ yang kemudian dikembangkan dalam modelnya yang amat beragam dan bertumpang tindih.

Sistem ini akan melahirkan fenomena adanya perakitan dengan konsep sosiologi tentang adanya kekauatan yang dating dari power, privilege dan prestige sosial. Konsep ini kemudian dinamai multiple hierarchy (model susun hierarki jamak), yaitu beragamnya sistem social yang berlaku di masyarakat, bersifat horizontal sekaligus juga vertikal.

Dalam pembahasan konsep masyarakat jamak (plural society) tampaknya konsep multiple hierarchy model menjadi acuan yang digunakan oleh berbagai pakar untuk menggambarkan bagaimana masyarakat di Asia Tenggara memiliki dinamika khusus yang berbeda dengan masyarakat dibelahan dunia lain (Masyarakat Eropa, Amerika, dan Afrika).

Menurut J.F. Furnifall (dalam Hans Dieter Evers, 1980:86-96), masyarakat plural yang digambarkannya berasal dari beragamnya tingkat kemampuan ekonomi produktif (plural economy), sehingga membuat disparatis dalam distribusi pendapatan masyarakat. Selanjutnya untuk mengatasi masalah kemajemukan masyarakat yang berimplikasi kepada dinamika perubahan masyarakat di asia, maka disarankan adanya unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembangunan.

  1. Caste: Masyarakat yang berkasta India (jajahan Inggris), akibat ideologi agama yang dianut. Kondisi ini memacu feodalisme di negeri Asia yang berasal dari sistem pemerintahan kerajaan, seperti di Jawa.
  2. Law: Negara jajahan Inggris memiliki pengaruh kuat dalam pola liberalisasi yang dikembnagkan. Tetapi pengembangan azas demokrasi ini juga disertai dengan pemaksaan untuk tunduk kepada aturan-aturan yang dibentuk dalam rangka penataan sistem social yang ada.
  3. Nasionalism: Semangat nasionalisme akibat dimilikinya pola hidup liberalism, memacu adanya integrasi dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, sehingga mengatasi perbedaan adanya fenomena kesukuan, perbedaan tingkat kekayaan, agama dan lain-lain.
  4. Federalism: Untuk mengatasi sulitnya integrasi secara nosional, maka perlu dikembangkan ditingkat local dengan memberi mandate dengan kewenangan penuh kepada daerah. Sistem koordinasi dengan sub-ordinasi ini lebih efisien, dan secara politis ada sharing kekuasaan atau distribusi kekuasaan secara lebih merata dan mendekati rasa keadilan.

Pluralisme memang menjadi beban bagi pemerintahan Negara berkembang yang berada di Asia. Pembangunan yang direncanakan butuh pendekatan khusus, dengan pertimbangan lebih spesifik. Sebab sejauh ini masalah yang bisa timbul dari pluralisme masyarakat adalah ledakan perpecahan yang dahsyat yaitu dis-integrasi sosial.

  1. Loosely Struktured Social System

Hilangnya stuktur sistem social dalam masyarakat asli, terlihat dalam indicator perilaku social yang meliputi berbagai hubungan antara berbagai lembaga-lembaga tradisional yang ada dalam susunan masyarakat. Tentunya akan memberi warna cukup spesifik dalam perilaku anggota masyarakat; bagaimana hubungan antara orang tua dengan anak, hubungan antara berbagai lapisan masyarakat yang terbentuk secara foedal-tradisional.

  1. Involusi

Pemikiran tentang involusi pertanian adalah merupakan sejarah social ekonomi di Pulau Jawa yang secara sistematis menjelaskan kesulitan-kesulitan pemerintah Indonesia ketika mulai lepas landas kepertumbuhan ekonomi yang berlanjut atau lebih dikenal sebagai sustained economic growth (1983).

Involusi sendiri diambil dari istilah Antropologi yang diperoleh dari Alexander Goldenweiser, yang dipakai untuk melukiskan pola kebudayaan yang sudah mencapai bentuk yang pasti tidak berhasil menstabilisasikannya atau mengubahnya menjadi suatu pola baru, tetapi terus-menerus berkembang ke dalam sehingga semakin rumit.

Konsekuensi adanya involusi pertanian adalah:

  1. Konsekuensi dari adanya involusi usahatani, ialah bahwa tingkat produktivitas tidak menaik (bahkan turun) mendorong pembagian rezeki kepada pembagian tingkat nafkah yang rendah bagi semua.
  2. pengertian involusi dapat diperluas pada satuan usaha lain (bukan pertanian saja), bahkan seluruh sector kehidupan, misalnya perdaganganindustri rumah tanggakarena keuntungan masing-masing produksi menjadi semakin kecil.
  3. akibat dari involusi ini adalah telah menjalar pada bidang-bidang lain; pada pelapisan masyarakat desa, hubungan keluarga, bahkan pada pola kepercayaan dan lain-lain.
  4. tulisan Geertz dapat untuk perbandingan dengan tulisan lain yang memiliki kesetaraan dalam memandang, proses terjadinya kemiskinan di desa. Contah Ekonomi Subsistensi (James C. Scott, 1976), yang mempersoalkan kehidupan secukup hidup para petani, atau lebih popular disebut sebagai reaksi menghadapi krisis subsistensi.
  5. Modernization, Industrialization dan Pembangunan
  1. Konsepsi

Modernization, Industrialization dan Pembangunan (Modernization, Industrialization and development), merupakan tipologi pola pengembangan teori yang cukup berbeda. Modernisasi adalah suatu proses trasformasi besar masyarakat, suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, istilah yang paling spektakuler dalam suatu masyarakat meliputi perubahan teknik-teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern (J.W.Schoorl, 1982:1). Gejala modernisasi adalah meliputi segala-galanya, sehingga tidak dapat diputuskan hanya sebagai satu bidang masalah ilmiah saja, tetapi menjadi urusan dari segala bidang keahlian saja, karena modernisasi telah menjadi seluruh proses. Konsep-konsep pembangunan sangat tergantung dari kekuatan masyarakat dalam menerima konsep modernisasi dan industrialisasi.

  1. Perubahan Nilai dan Pola Perilaku

Perubahan perilaku masyarakat dari masyarakat transisi (dari masyarakat agraris) ke masyarakat modern akan mengubah pola-pola hubungan kerja secara keseluruhan.

  1. Hubungan perburuhan dalam industri akan mengubah pola perilaku manusia dalam hubungan kerja yang dibentuknya
  2. Hubungan manusia akan mengalami perubahan, sesuai dengan pergeseran penghargaan manusia terhadap konsep waktu, nilai kerja, masa depan, keluarga dan lain-lain.
  3. Orang modern telah mulai menilai bahwa tradisi nenek moyang ada kalanya dapat ditinggalkan tergantung kepada tingkat kebutuhan yang dirasakan.
  4. Perhatian yang sangat kuat terhadap pendidikan bagi generasi muda secara terbuka, tidak hanya berpikir untuk hari ini tetapi juga untuk jangka panjang anak-anak keturunannya.
  5. semakin kuatnya hubungan inti, dan menjadi lemahnya hubungan keluarga batih.
  6. Relasi hubungan orang tua dengan anak mengalami perubahan yang radikal, menyebabkan tanggung jawab, nilai, perilaku ekonomi mengalami pergeseran.
  7. Akibat sosio-psikologi dari perubahan dalam pola hubungan kekeluargaan, dengan semakin teralinasi oleh norma konsumsi, dan nilai material yang memiliki relevansi kuat dalam kehidupan yang dihadapi.
  1. Pola-pola perubahan dari tempat tinggal dan pandangan hidup masyarakat, berpengaruh kepada perhatian masyarakat terhadap kehidupan masa lalu dan harapan mereka kepada masa depan
  1. Munculnya gerakan ‘keluarga kecil’ yang lebih mandiri tampaknya culup mengancam pertalian keluarga batih yang berada di pedesaan.

Teori Clifford geertz tampaknya lebih khusus menitik beratkan pada kondisi ekologi pertanian. Geertz telah membuat jarak memadai dalam rangka memahami factor eksternal. Dalam kajian ini perubahan social mengandung penilaian akibat pengaruh luar terhadap sendi-sendi kehidupan internal. Pertama; adanya ragam yang sangat umum bahwa masyarakat pribumi tidak memiliki peranan yang penting dalam proses perubahn sosialyang melibatkan mereka dan bahwa mereka sekedar peserta pasif yang memerima dari pengaruh luar. Kedua; ditandai dengan kecenderungan meremehkan dinamika dari dalam yang digerakkan oleh struktur dan nilai-nilai endogen dan yang ditunjukan kepada tercapainya cita-cita yang mungkin sekali tidak ada hubungannya dengan pengaruh modernisasi.

Kelompok teori yang telah dirangkum ini, menjadi kekuatan penentu untuk memetakan kekuatan basis teoritik suatu penelitian social. Kelompok teori ini seringkali menjadi acuan kajian bagi pengembangan penelitian ilmu-ilmu social, karena kajian awal ini telah menghasilkan seperangkat “jargon” keilmuan yang menjadi pusat kajian secara eksplisist. Dalam bidang pertanian , konsepsi involusi menjadi jargon klasik yang akan selalu muncul manakala seorang peneliti akan mengadakan pengkajian hubungan antara fenomena kemiskinan dengan semakin sempitnya kesempatan bertani karena ketersediaan tanah yang semakin berkurang bagi penduduk disuatu komunitas pertanian. Tetapi kelemahan dari teori modernisasi ialah bahwa kelompok teori ini tidak berusaha untuk “mengangkat” kemampuan potensi yang ada dalam masyarakat local, tetapi malah menuduh bahwa potensi local justru yang menghambat adanya kemajuan. Sedangkan solusi yang didatangkan untuk mengadakan perbaikan adalah adanya intervensi eksternal, suatu bentuk kekuatan yang datang dari luar masyarakat local. Kelompok teori modernisasi pada saat ini masih menjadi ‘mainstrem’ teoritis, yang menjadi kekuatan utama kelompok positivisme dalam kajian ilmu-ilmu social di Indonesia.

  1. III. PENUTUP

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Konsep mengenai teori perubahan sosial di asia ada 6 (enam) yaitu Teori Ekonomi Ganda (Dualistic Economics), Teori Mentalitas, Plural Societies, Loosely Structured Social System, Involusi, Modernization, Industrialization dan Pembangunan.
  2. Teori Ekonomi Ganda (Dualistic Economics), teori ini merupakan teori klasik yang ditemukan oleh Dr.J.H.Boeke (1953), yang menyatakan bahwa dari sudut ekonomi-masyarakat ditandai atas tiga unsur penentu yaitu : jiwa sosial (social spirit), bentuk-bentuk organisasi dan teknik-teknik yang mendukungnya.
  3. Teori Mentalitas hampir memiliki konsep serupa seperti apa yang dikemukakan olah Boeke, sehingga antara konsepsi masyarakat ganda dari Boeke dan mentalitas pembangunan Koentjoroningrat memiliki kesetaraan, karena masing-masing melihat bahwa mental petani desa tidak atau belum sesuai dengan rasionalitas pola pikir kehidupan kota (mentalitas barat).
  4. Plural Societies Konsep ini lebih menitikberatkan dari berlakunya teori ‘social stratification’. Sistem ini akan melahirkan fenomena adanya perakitan dengan konsep sosiologi tentang adanya kekauatan yang dating dari power, privilege dan prestige sosial. Konsep ini kemudian dinamai multiple hierarchy (model susun hierarki jamak), yaitu beragamnya sistem social yang berlaku di masyarakat, bersifat horizontal sekaligus juga vertikal.
  5. Loosely Struktured Social System, hilangnya stuktur sistem social dalam masyarakat asli, terlihat dalam indicator perilaku social yang meliputi berbagai hubungan antara berbagai lembaga-lembaga tradisional yang ada dalam susunan masyarakat.
  6. Involusi, pemikiran tentang involusi pertanian adalah merupakan sejarah social ekonomi di Pulau Jawa yang secara sistematis menjelaskan kesulitan-kesulitan pemerintah Indonesia ketika mulai lepas landas kepertumbuhan ekonomi yang berlanjut atau lebih dikenal sebagai sustained economic growth.
  7. Modernization, Industrialization dan Pembangunan, merupakan tipologi pola pengembangan teori yang cukup berbeda. Modernisasi adalah suatu proses trasformasi besar masyarakat, suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, istilah yang paling spektakuler dalam suatu masyarakat meliputi perubahan teknik-teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern.

Perubahan perilaku masyarakat dari masyarakat transisi (dari masyarakat agraris) ke masyarakat modern akan mengubah pola-pola hubungan kerja secara keseluruhan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: