cara membudidayakan tanaman stevia

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar belakang

Tetap kontroversialnya pemakaian pemanis sintetis terjadi karena berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa penggunaannya mempunyai efek yang kurang baik terhadap kesehatan dan dicurigai menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit kanker. Karenanya, beberapa negara telah membatasi bahkan melarang penggunaan pemanis sintetis tertentu pada aneka produk makanan maupun minuman untuk kepentingan orang banyak.

Kehadiran gula stevia dapat dijadikan alternatif yang tepat untuk menggantikan kedudukan pemanis buatan atau pemanis sintetis. Gula stevia sebagai pemanis alami, tingkat kemanisannya mampu menandingi kemanisan gula sintetis.

Tingkat kemanisan gula stevia sekitar 200-300 kali (kadang 500 kali) tingkat kemanisan sukrosa (gula tebu). Sementara itu, siklamat, pemanis sintetis kontroversial yang masih sering digunakan, ternyata hanya mempunyai tingkat kemanisan antara 100-200 kali kemanisan sukrosa. Dengan kata lain, tingkat kemanisan gula stevia jauh lebih unggul apabila dibandingkan dengan siklamat atau aspartam yang selama ini masih banyak dipakai sebagai pemanis berbagai macam produk makanan dan minuman.

Di Indonesia, tanaman stevia belum menunjukkan peranannya secara nyata sebagai salah satu komoditi sumber pemanis. Padahal di banyak negara, pemanis stevia telah berhasil tampil menjadi salah satu komoditi perdagangan baik lokal maupun ekspor. Sebenarnya apabila dipandang dari potensinya, tanaman stevia dapat dipastikan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Tapi sayangnya hingga saat ini belum banyak perusahaan atau investor yang tertarik untuk mengembangkan stevia secara besar-besaran.

  1. B. Tujuan

Dari kegiatan penyuluhan yang dilakukan terdapat beberapa tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk menambah pengetahuan petani mengenai cara membudidayakan tanaman stevia.
  2. Untuk menumbuhkan minat petani agar dapat melakukan budidaya tanaman stevia.
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam budidaya tanaman stevia.
  4. C. Manfaat

Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan mempunyai manfaat sebagai berikut:

  1. Tanaman stevia dapat menjadi bahan pemanis alami sebagai pengganti gula dan pemanis sintetis yang dapat membahayakan kesehatan.
  2. Dapat meningkatkan pendapatan petani karena di Indonesia tanaman ini masih langka dan juga dapat dijadikan sebagai obat bagi penderita diabetis dan obesitas sehingga pasti akan diminati konsumen.
  3. Dapat meningkatkan pengetahuan petani tentang tanaman stevia, membuat petani mau membudidayakan stevia dan petani dapat membudidayakan stevia dengan baik dan benar.
  1. II. LANDASAN TEORI

  1. A. Metode dan teknik penyuluhan

Metode adalah cara yang di dalam fungsi kegiatannya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Metode penyuluhan pertanian berarti cara pemberian atau bentuk pelaksanaan penyuluhan pertanian. Metode yang digunakan dalam penyuluhan pertanian dapat dibagi dalam tiga metode:

  1. Metode penyuluhan pertanian massal

Pada dasarnya hanya dapat menimbulkan tahap kesadaran dan tahap minat. Sifat sasarannya heterogin, dengan melihat masyarakat tani dalam satu kesatuan yang dianggap sama.

  1. Metode penyuluhan pertanian kelompok

Tahap kesadaran dan tahap minat akan diarahkan menjadi tahap menilai dan mencoba. Petani diajak dan dibimbing serta diarahkan secara berkelompok untuk melaksanakan sesuatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerjasama.

  1. Metode penyuluhan pertanian perorangan

Metode ini dilakukan atas dasar hubungan langsung antara penyuluh dengan sasaran.

(Samsudin, 1982).

Beragam teknik penyuluhan menurut Setiana (2005), diantaranya adalah kunjungan rumah, kunjungan ke lahan usaha tani, surat menyurat, hubungan telepon, kontrak informal, magang, dan lain sebagainya. Teknik lain yang diungkapkan adalah temu karya, demonstrasi cara, demonstrasi hasil, karya wisata, kursus tani, temu karya, temu lapang, temu usaha, mimbar sarasehan, perlombaan, dan lain sebagainya.

Alat pembantu yang digunakan dalam penyuluhan harus memberi manfaat-manfaat sebagai berikut:

  1. Membantu penyuluh menjadikan pelajaran lebih menarik sehingga para petani peserta akan lebih berminat.
  2. Membantu penyuluh dalam menjelaskan pelajaran yang diberikannya sehingga para petani peserta lebih mudah dan cepat mengerti.
  3. Membantu penyuluh dalam menyajikan materi pelajaran, sehingga lebih teratur dan mengesankan.
  4. Membantu penyuluh mengatasi kemacetan pemberian pelajaran karena daya tanggap dan daya tangkap petani berbeda-beda.
  5. Membantu para petani peserta agar dapat lebih mudah mengerti, mencontoh dan menerapkan pengetahuan dan apa yang dilihat dapat menerap lebih lama daripada yang didengarnya.

(Kartasaputra, 1991).

Alat peraga adalah alat bantu mengajar atau menyuluh yang dapat dilihat, didengar, dan diraba. Alat peraga dapat dipergunakan secara tunggal maupun kombinasi, alat peraga haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Alat peraga harus mudah dikenali dan dimengerti oleh sasaran.
  2. Gagasan yang terkandung di dalamnya harus dapat diterima oleh sasaran.

Alat peraga yang dipergunakan dengan tepat dan baik dapat memberikan keuntungan dalam penyuluhan antara lain:

  1. Menghindarkan salah pengertian atau salah interpretasi.
  2. Memperjelas materi yang dibicarakan dan lebih mudah dimengerti.
  3. Memberikan dorongan yang kuat untuk menerapkan materi yang dianjurkan.

(Suhardiyono, 1992).

Beberapa hal yang merupakan pokok-pokok pengertian tentang evaluasi yang mencakup:

  1. Kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, peristiwa, gejala alam, atau sesuatu tentang obyek.
  2. Membandingkan segala sesuatu yang kita amati dengan pengalaman atau pengetahuan yang telah kita ketahui dan atau kita miliki.
  3. Melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati berdasarkan hasil perbandingan atau pengukuran yang kita lakukan.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Diantara sekian banyak macam hasil penelitian adalah berupa informasi ilmiah baik sebagai bahan penentu kebijakan, untuk bahan rekomendasi teknologi, informasi teknis ilmiah, maupun informasi ilmiah untuk pengembangan ilmu dan teknologi. Hasil-hasil penelitia itu tentunya diikuti dengan kegiatan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian kepada pengguna yaitu para petani. Namun karena ada kesenjangan antara sumber penghasil teknologi dengan pengguna maka hasil penelitian ini masih belum dapat diserap petani. Oleh karena itu, diperlukan penyederhanaan hasil penelitian sehingga mampu diserap oleh petani yang antara lain melalui gelar teknologi penanganan pasca panen. untuk mempercepat arus informasi antara sumber dan pengguna informasi teknologi pertanian diperlukan media penghubung yaitu penyuluhan pertanian melalui berbagai metode penyuluhan

Materi penyuluhan pertanian yaitu bahan yang akan disampaikan oleh peyuluh pertanian kepada kelompok tani dan atau pelaku usaha pertanian lainnya meliputi antara lain informasi pembangunan pertanian, teknologi, teknik budidaya, aspek ekonomi usaha, pengembangan kepribadian, aspek sosial budaya dengan memperhatikan kearifan budaya lokal

Kegiatan penyuluhan pertanian menyangkut bidang konsultasi, kursus tani, demonstrasi dan penyampaian informasi dari perkembangan teknologi. Dalam proses kegiatan pengembangan teknologi partisipatif kemungkinan tidak hanya cukup untuk mengoperasionalkan suatu metode dengan pendekatan pengembangan teknologi, akan tetapi perlu menggabungkan beberapa metode dalam suatu perpaduan yang disesuaikan dengan budaya lokal, sumber daya dan ketrampilan serta pengalaman petugas               (Buletin Vol 7, 2004).

  1. B. Materi penyuluhan
    1. 1. Tanaman stevia

Tanaman stevia (Stevia rebaudiana Bertonii M.) memiliki sistematika sebagai berikut:

Division            : Spermatophyta

Sub division      : Angiospermae

Class                : Dicotyledoneae

Ordo                : Asterales

Familia : Composite

Genus               : Stevia

Spesies : Stevia rebaudiana Bertonii M.

(Hutapea, 1991).

Stevia adalah tanaman semak yang berasal dari famili Compositae. Tingginya ± 65 cm, berbatang bulat, berbulu, beruas, bercabang banyak, dan warnanya hijau. Daunnya tunggal berhadapan, berbentuk bulat telur, berbunga hermaprodit, mahkota ungu berbentuk tabung dan berakar tunggang. Tanaman ini memiliki daya regenerasi yang kuat sehingga tahan terhadap pemangkasan. Stevia sebagai sumber pemanis alami memiliki prospek cerah di masa yang akan datang, mengingat pemanis sintetik seringkali berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Bahan pemanis utama pada stevia adalah stevioside, suatu glikosida diterpen yang sangat manis namun hampir tidak mengandung kalori (Tirtoboma,1988).

Produk utama stevia adalah daun yang digunakan sebagai bahan baku pembuat gula atau pemanis alami. Saat yang tepat untuk panen pertama pada waktu kandungan stevioside maksimal yaitu tanaman telah berumur 40-60 hari, tinggi tanaman 40-60 cm, berdaun rimbun, dan menjelang stadium berbunga. Panen dilakukan dengan cara memotong batang tanaman stevia setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah dengan menggunaka gunting pangkas yang tajam (Rukmana, 2003).

Agar kadar kemanisan dapat dipertahankan daun harus segera dirempel dan dikeringkan setelah panen. Pasar ekspor menghendaki daun yang memiliki kadar air maksimal 10% dan kandungan kotoran maksimal 3%. Tanaman stevia sangat potensial dikembangkan sebagai bahan baku gula (pemanis) alami pendamping gula tebu dan pengganti gula sintetis. Kelebihan gula stevia antara lain tidak bersifat karsinogen dan rendah kalori          (Paimin, 2004).

Stevia adalah suatu sumber bahan pemanis alami yang mempunyai tingkat kemanisan 200-300 kali lebih manis daripada gula tebu. Tanaman ini sudah lama digunakan sebagai bahan pemanis pada makanan dan minuman (Darmoko dan Oskari, 1984).

Stevia dapat dikembangbiakkan dengan cara generatif dan vegetatif. Secara vegetatif umumnya diperbanyak dengan stek batang. Perkembangbiakkan secara generatif dilakukan dengan menggunakan biji. Cara ini jarang dilakukan karena untuk mendapatka biji cukup sulit, waktu pertumbuhan juga lebih lama disamping kandungan stevioside tanaman induk lebih rendah (Lutony, 1993).

Para peneliti berusaha mencari da menemukan bahan obat baik yang modern maupun tradisional. Kebijaksanaan Obat Nasional menyebutkan berbagai langkah penanggulangan diperlukan agar dapat dicapai hasil yang berdaya guna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari apakah zat pemanis dari Stevia rebaudiana Bertonii mempunyai sifat hipoglikemik atau tidak. Stevia rebaudiana Bertonii dapat digunakan sebagai makanan berkalori rendah bagi penderita diabetes, orang kegemukan dan penderita gigi berlubang (http//:digilib.ti.itb.ac.id).

  1. 2. Budidaya Stevia

Dewasa ini pemakaian akan gula sintetis dan pemanis buatan telah berkembang di Indonesia bahkan hal tersebut telah menjadi suatu kebiasaan dikarenakan harga pemanis sintetis dan pemanis buatan jauh lebih murah dibanding dengan harga gula yang terus meningkat. Padahal efek yang akan ditimbulkan dari pemakaian pemanis tersebut apabila terus menerus digunakan akan sangat membahayakan kesehatan manusia. Dengan hadirnya tanaman stevia dapat dijadikan alternatif yang tepat untuk menggantikan kedudukan pemanis buatan atau pemanis sintetis karena gula stevia ini mempunyai tingkat kemanisan yang mampu menandingi gula sintetis.

Untuk itu perlu diadakan suatu penyuluhan kepada petani tentang budidaya tanaman stevia karena di Indonesia tanaman ini masih tergolong pendatang baru sehingga apabila petani mampu membudidayakan dan mengembangkannya pasti akan dapat meningkatkan pendapatan mereka karena tanaman ini akan diminati banyak orang. Berikut ini adalah langkah-langkah membudidayakan stevia:

  1. Pembibitan

Penyediaan bibit stevia dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan benih, setek, anakan, dan kultur jaringan. Tetapi kebanyakan menggunakan setek karena lebih cepat dan praktis. Teknik pembibitan dengan setek dilakukan dengan menggunakan sungkup plastik kedap udara yang dinaungi sehingga suhu dalam sungkup rendah dan kelembabannya mendekati 100%. Sekitar 3-4 minggu kemudian setek sudah dapat dipindahkan ke lahan yang telah disediakan sebelumnya.

  1. Penanaman

Sebelum melakukan penanaman lahan dicangkul atau dibajak sebanyak dua kali sehingga diperoleh tekstur tanah yang gembur. Selanjutnya dibuat bedengan-bedengan dengan ukuran panjang kira-kira 5 m atau disesuaikan dengan keadaan lahan dan lebar antara 100-125 cm. Ketinggian masing-masing bedengan cukup sekitar 20 cm. Apabila penanaman dilakukan pada lahan berkontur miring, sebaiknya dibuat teras terlebih dahulu.

Bibit ditanam dengan jarak tanam 25×25 cm atau 30×30 cm, sehingga setiap bedengan berisi 4-5 baris tanaman. Sebaiknya pada setiap lubang tanam diberi sekitar 250 g pupuk organik (pupuk kandang atau kompos). Waktu yang dianggap terbaik untuk menanam stevia adalah saat musim hujan agar persediaan air mencukupi dan tanaman cepat segar kembali (biasanya 1-2 hari setelah penanaman).

  1. Pemeliharaan

Pekerjaan terpenting di dalam pemeliharaan tanaman stevia adalah pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama serta penyakit. Satu minggu setelah ditanam, setiap tanaman perlu diberi pupuk buatan masing-masing 1 g Urea, 1 g TSP dan 1 g KCL. Pemberian pupuk buatan tersebut diulang lagi setiap kali stevia baru dipanen. Pada saat tanaman stevia berumur 2 minggu, sebaiknya setiap ujung tanaman dipangkas untuk membentuk percabangan sehingga produksi daun akan lebih banyak.

Hama yang mungkin menyerang stevia adalah kutu daun dan ulat. Hama yang berupa kutu diantaranya adalah kutu daun Aphis sp yang dapat merusak pucuk. Sedangkan hama yang berupa ulat diantaranya adalah ulat grayak Heliothis sp. Kedua jenis hama ini akan menyerang tanaman stevia terutama bila penanaman dilakukan pada lahan bekas sayuran yang kurang perawatan. Sedangkan jenis penyakit yang kemungkinan dapat ditemukan pada tanaman pemanis ini ialah cendawan Poria hypolateria yang menyebabkan timbulnya warna merah bata pada bagian batang dan akhirnya tanaman menjadi layu. Sumber inikulum dari penyakit tersebut adalah sisa akar dan sebaiknya perlu dilakukan sanitasi kebun untuk tindakan preventifnya. Jenis penyakit lain diantaranya adalah Sclerotium rolfsii dan Fusarium sp.

Hendaknya pemakaian insektisida, fungisida atau pestisida tidak dilakukan pada tanaman stevia, baik dalam rangka mencegah maupun mengendalikan hama serta penyakit. Karenanya perlu diusahakan agar kebun stevia mendapat perwatan yang khusus dan intensif.

  1. Pemanenan daun

Penentuan waktu dan cara panen bagi tanaman stevia harus dikuasai. Apabila lambat memanen, maka kandungan gula daun stevia menurun. Sebaliknya, apabila waktu panennya terlalu awal selain rendemen atau kandungan gula belum maksimal juga jumlah daun yang dihasilkan sedikit.

Untuk pertama kalinya daun stevia dipanen pada umur antara 40-60 hari setelah penanaman dan untuk pemanenan yang berikutnya bisa menggunakan selang waktu antara 30-60 hari sekali. Selain menggunakan pedoman tersebut, panen untuk daun stevia dapat juga didasarkan pada ketinggian tanaman. Biasanya, panen daun dilakukan kalau tanaman ini sudah setinggi 40-60 cm dengan pertumbuhan daun yang rimbun. Pada ketinggian seperti ini tanaman sudah mulai memasuki masa berbunga dan pada saat ini pula kandungan gula (steviosida atau zat yang menjadi penentu kadar kemanisan) tanaman sedang berada pada tingkat yang tertinggi.

Waktu yang terbaik untuk melakukan panen daun yaitu pagi hari, pemanenan dilakukan dengan memotong batang atau tangkai kira-kira 10-15 cm dari permukaan tanah. Alat yang dipakai untuk memotong batang atau tangkai dapat berupa gunting besar atau gunting pangkas yang tajam. Ketika panen, sisakan sebanyak 1-2 tangkai pada setiap tanaman supaya taaman yang baru dipanen itu dapat tumbuh kembali dengan baik. Selanjutnya batang atau ranting tersebut dirompes atau dipipil dan yang diambil hanya daun-daunnya saja.

  1. Pasca panen daun

Pasca penen daun stevia sangat perlu diperhatikan agar diperoleh kualitas daun yang baik. Daun-daun stevia hasil panen, harus secepatnya dipipil dari batang atau tangkai dan segera dikeringkan. Waktu pemipilan yang lambat dikhawatirkan akan dapat mengurangi kadar bahan pemanis di dalam daun. Sebab jika daun masih melekat pada batang atau tangkai maka proses perombakan bahan pemanis yang ada di dalamnya akan berlangsung. Jadi dengan lebih cepatnya dilakukan pemipilan daun setelah panen, maka diharapkan kadar pemanis dapat dipertahankan.

Pengeringan daun stevia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan sinar matagari atau dengan alat pengering buatan. Apabila pengeringannya dilakukan dengan sinar matahari, maka daun diletakkan di atas alas plastik, tampi, atau jenis alas lainnya. Bila keadaan cuaca baik, cara ini hanya membutuhkan waktu pengeringan sekitar 8 jam. Sedang pengeringan dengan menggunakan pengering buatan seperti oven, waktunya lebih cepat lagi yaitu sekitar 4 jam pada suhu 70 ºC.

Daun stevia yang telah kering warnanya hijau kekuningan. Daun stevia kering yang bermutu baik setidaknya harus memiliki kadar air maksimum 10%, kadar steviosida minimum 10% dan kadar kotoran maksimum 3 %. Apabila pengeringan daun dilakukan di atas suhu 70 ºC maka kadar steviosida akan sedikit mengalami penurunan. Sedangkan penggunaan suhu sampai 80 ºC selain akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar gula dalam daun juga akan timbul warna coklat kehitaman. Daun stevia yang mengalami keterlambatan pengeringan akan berwarna hitan karena terjadi proses fermentasi oleh mikroorganisme yang disertai perombakan senyawa steviosida. Fermentasi juga akan terjadi pada daun stevia yang terkena air yang juga akan menyebabkan kebusukan.

Daun-daun stevia yang telah dikeringkan selanjutnya dikemas. Biasanya daun dimasukkan ke dalam karung dengan berat 20 kg/bal. Dengan cara pengemasan yang baik dan tertutup rapat, daun stevia bisa disimpan sampai satu tahun bahkan lebih. Nilai ekonomi daun stevia dari 1 kg daun stevia basah akan diperoleh 0,20-0,25 kg daun kering (rendemen 20-25%). Sedang rendemen dari daun kering menjadi kristal gula stevia sekitar 0,8-1%. Dengan kata lain dari setiap 100 kg daun kering akan didapatkan 0,8-1 kg gula.

III. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

  1. A. SASARAN
    1. 1. Sasaran Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan

Tabel Sasaran Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60-64

65-69

70-74

>75

2293

2530

2288

2234

2199

1919

1466

1138

791

800

586

527

551

2201

2512

2376

2444

2251

1851

1349

1106

824

839

674

621

608

4494

5042

4664

4678

4450

3770

2815

2244

1615

1639

1260

1148

1159

Jumlah 19322 19656 38978

Sumber : Data Sekunder

Dari data sasaran menurut umur dan jenis kelamin dapat diketahui bahwa penduduk perempuan di Baki lebih banyak daripada penduduk laki-laki. Paling banyak penduduk berusia produktif antara 20-24 tahun, sedangkan usia non produktif yaitu lebih dari 75 tahun lebih sedikit.

Tingkat pendidikan di kecamatan Baki beragam ada yang hanya lulusan SD, SLTP,SMU dan ada juga yang lulusan Perguruan Tinggi. Untuk petani sasaran kebanyakan dari mereka lulusan SMP dan SMA, ada juga yang sarjana dan biasanya mereka yang dijadikan sebagai ketua kelompok tani karena dianggap lebih berpengalaman dan berpengetahuan luas.

  1. 2. Adat Kebiasaan dan Norma-norma
  2. 1. Adat Kebiasaan dan Norma

Norma adat yang ada di Baki sangat banyak jumlahnya. Antara lain selametan dan rasulan atau bersih desa. Selain dua tradisi tersebut, masih ada norma adat lainnya antara lain megengan atau bancakan desa, kondangan, muludan, ruwahan dan lain-lain. Tradisi tersebut masih ada hingga saat ini karena hal tersebut adalah warisan turun temurun dari nenek moyangnya dan juga apabila tidak diadakan tradisi tersebut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun ada juga yang beralasan hanya untuk melestarikan tradisi. Selain norma yang masih ada hingga sekarang, di Baki juga sudah meninggalkan beberapa norma.

Norma-norma adat tersebut memiliki peran penting dalam masyarakat. Di Baki, norma-norma tersebut sudah tertanam dalam diri masing-masing individu sehingga untuk pemberlakuan norma tersebut sudah ada kesadaran dari masyarakat tanpa harus diingatkan oleh pamong desa (Ketua RT). Dengan demikian, apabila ada salah seorang warga tidak terlibat dalam norma tersebut tidak ada sanksi yang diberikan.

Adat kebiasaan bersih desa semula sangat di hormati dan diadakan setelah panen dan sebelum melakukan tanam “tandur”. Adat kebiasaan ini sangat bermanfaat untuk mempererat gotong-royong dan kekeluargaan warga masyarakat. Namun, adat kebiasaan tersebut mulai berkurang sekarang bersih desa hanya diadakan setahun sekali hal tersebut di karenakan kesibukan masyarakat. Adat kebiasaan ini sangat di jaga walaupun sekarang hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, sebab hal tersebut dapat terus menjaga kerukunan warga dan menjadi suatu ciri khas kekeluargaan dari daerah Baki.

  1. 2. Pola Kepemimpinan

Pola kepemimpinan masyarakat percaya pada perangkat desa maupun aparat pemerintahan. Selain itu kepemimpinan juga dipegang oleh tokoh masyarakat seperti pemuka agama dan ketua kelompok tani. Kepercayaan terhadap pemimpin tersebut dikarenakan masyarakat menganggap bahwa pemimpin tersebut merupakan orang-orang yang mampu untuk dijadikan panutan atau teladan dalam bidangnya masing-masing serta pemimpin juga sebagai fasilitator untuk bertanya dan mendapatkan informasi.

  1. 3. Bentuk Usaha Tani

Bentuk usaha tani di daerah Baki meliputi pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan yang kebanyakan merupakan usaha komersial. Pertanian meliputi komoditas tanaman padi, Palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar), Hortikultura/sayuran (cabe, bawang merah, tomat, mentimun, melon, semangka). Perkebunan meliputi tembakau, tebu, wijen, kelapa rakyat, kapuk randu. Sedangkan perikanan meliputi perikanan ikan lele dan perikanan perairan bebas.  Peternakan meliputi ayam, itik, domba, sapi, kerbau, babi, kambing, burung puyuh dan kuda.

  1. 4. Kesediaan Individu Sebagai Demonstrator

Petani maju merupakan petani yang menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat tani lainnya. Petani maju dapat dikatakan sebagai individu kunci (Key Person). Petani maju biasanya dijadikan masyarakat sebagai pimpinan dalam kelompok tani. Sedangkan petani pengikut adalah petani yang berusaha meneladani petani maju tersebut. Kerukunanan dan kekeluargaan yang masih kental menjadikan petani pengikut tidak segan untuk bertanya dan meminta petunjuk kepada petani maju yang telah sukses menjalankan usaha taninya. Demikian juga dengan petani maju juga dengan ikhlas memberi pengarahan, bimbingan bahkan mendemonstrasikan pengetahuan atau pengalaman sukses serta keberhasilannya kepada petani pengikut. Secara proporsional jumlah petani maju belum memadai karena dalam satu kecamatan Baki hanya terdapat sekitar 48 petani maju yang tersebar dalam 14 desa di masing-masing kelompok tani. Ini dikarenakan petani maju hanya terdapat pada ketua kelompok tani saja.

  1. 5. Tingkat Adopsi

Tingkat adopsi masyarakat tani bervariasi menurut golongan taninya. Golongan petani pengikut memiliki tingkat adopsi pada tingkat mencoba. Hal tersebut terlihat dari kesadaran petani pengikut untuk memenuhi kebutuhannya serta mengembangkan usaha taninya yang ditunjukan melalui usaha untuk mencoba inovasi yang disampaikan dari individu kunci. Ini dapat dilihat juga dengan tingginya angka tingkat adopsi teknologi yaitu yang rata-rata mencapai nilai 90,1. Lain halnya dengan petani maju yang memiliki tingkat adopsi yang sangat baik yaitu pada tingkat menerapkan, penerapan petani maju dikarenakan kebutuhan dan pengalaman keberhasilannya dalam usaha taninya.

Jadi Penyuluh pertanian berfungsi sebagai pengarah terhadap inovasi yang telah diterapkan oleh masyarakat tani, melalui pengarahan tersebut petani mengetahui cara-cara yang benar terhadap usahatani yang bersifat inovasi untuk memastikan dapat mengadopsi inovasi tersebut.

  1. B. PENYULUHAN DAN KELENGKAPANNYA
  2. 1. Kemampuan Penyuluh, Jumlah Penyuluh, Pengetahuan dan Ketrampilan Penyuluh

Penyuluh sudah mempunyai kemampuan yang cukup tinggi karena merupakan lulusan Perguruan Tinggi dan dari Fakultas Pertanian. Dari latar belakang tersebut maka penyuluh mampu melakukan budidaya tanaman stevia, yaitu mulai dari pembibitan sampai pasca panen daun. Selain budidaya tanaman stevia penyuluh juga dapat melakukan budidaya tanaman lain seperti cabe dan semangka.

Jumlah penyuluh sebanyak 6 orang yang mengampu 14 desa dan 48 kelompok tani sehingga masing-masing penyuluh kira-kira mengampu 2-3 desa dan 8 kelompok tani.

Pengetahuan dan keterampilan penyuluh tidak diragukan lagi karena mereka sering mengikuti kegiatan pelatihan sehingga mereka mampu untuk memberikan materi dengan baik kepada masyarakat sasarannya. Dengan demikian jika masyarakat sasaran sedang menghadapi masalah dalam kegiatan usaha taninya maka penyuluh mampu dan senang hati membantu mereka untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui sharing bersama masyarakat sasaran.

  1. 2. Materi Penyuluhan

Dalam hal penyuluhan penyuluh sudah sangat berpengalaman karena penyuluh adalah lulusan Perguruan Tinggi yang terkenal di Solo. Penyuluh telah menguasai cara tentang budidaya tanaman stevia mulai dari pembibitan sampai pasca panen daun padahal di Indonesia tanaman ini masih tergolong pendatang baru dan cukup langka, apalagi di Solo. Mungkin masih sangat sedikit orang yang dapat membudidayakannya dan penyuluh adalah salah satu dari orang itu. Tetapi selain budidaya tanaman stevia penyuluh juga dapat membudidayakan tanaman lain, seperti padi, palawija, cabe, bawang merah, tomat, mentimun, melon, semangka, dan lain-lain.

Penyuluh tidak hanya menguasai dalam hal pertanian saja tetapi juga peternakan dan perikanan. Untuk peternakan misalnya penyuluh juga telah mensosialisasikan tentang bahaya flu burung dan bagaimana cara mencegah serta mengendalikannya. Sedangkan untuk perikanan penyuluh juga telah memberikan penyuluhan tentang perikanan ikan lele dan peikanan perairan bebas lainnya.

  1. 3. Sarana dan Prasarana Penyuluhan

Sarana dan prasarana yang ada di kecamatan Baki ini telah sangat mendukung untuk diadakannya suatu kegiatan penyuluhan. Hal ini dibuktikan dengan telah berdirinya banyak gedung, kantor dan juga balai-balai desa yang hampir ada disetiap desa. Dengan keadaan seperti ini maka akan sangat memudahkan penyuluh dalam mengadakan kegiatan penyuluhan karena mereka tidak akan kebingungan dalam memilih tempat yang dirasa aman dan nyaman bagi sasarannya.

  1. 4. Biaya yang Ada

Dalam mengadakan suatu penyuluhan daerah ini mengalami kendala dalam pengadaan biaya karena biaya yang diberikan oleh APBD kadang tidak cukup untuk melaksanakan satu penyuluhan. Hal ini akan menghambat jalannya penyuluhan, walaupun penyuluhan tetap dilaksanakan namun tidak berjalan efektif karena peralatan maupun bahan tidak lengkap. Kendala tentang masalah biaya ini kadang terpaksa melibatkan dana dari swadaya petani.

  1. C. KEADAAN DAERAH
  2. 1. Musim/Iklim

Daerah Baki mempunyai iklim dengan temperatur rata-rata 32°C dengan rata-rata curah hujan tahun 21 mm/tahun.

Tabel curah hujan 10 tahun terakhir Kecamatan Baki

No Tahun Jumlah curah hujan

(mm)

Bulan basah Jumlah hari hujan
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

1124

2705

2610

2033

1609

1832

1646

1160

1591

1385

4

9

6

7

4

5

5

4

5

3

45

100

86

85

78

85

89

71

85

63

Jumlah 17695 52 787
Rata-rata 1769 5 79
  1. 2. Keadaan Lapang (topografi), Jenis Tanah, Sistem Pengairan dan Pertanaman

Kecamatan Baki terdiri atas 14 desa binaan dengan jumlah kelompok tani sebanyak 48, terbagi menjadi 5 wilayah binaan. Lahan tanahnya merupakan dataran rendah dengan jenis tanah sebagian besar regosol yang subur. Termasuk dalan lahan irigasi teknis namun letaknya pada bagian paling ekor dari DAM/bangunan irigasi yang sudah ada sejak dulu. Kecamatan Baki terletak di dataran tinggi, dengan tinggi 110m di atas permukaan laut, dengan luas wilayah 2.197 Ha.

  1. Jarak dari barat ke timur ± 12 km.
  2. Jarak dari utara ke selatan ± 10 km.
  3. Jarak dari ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten Sukoharjo ± 15 km.

Batas administratif kecamatan Baki :

Sebelah utara                : Kecamatan Kartasura dan Kota Surakarta

Sebelah timur                : Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo

Sebelah selatan : Kabupaten Klaten

Sebelah barat               : Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo

Luas wilayah Kecamatan Baki tercatat 2.197 Ha atau sekitar 4,71 persen dari luas Kabupaten Sukoharjo (46.666 Ha). Desa Mancasan merupakan daerah yang terluas wilayahnya yaitu 275,2 Ha atau 12,56 persen sedangkan yang terkecil luasnya adalah desa Kadilangu sebesar 111,6 Ha atau 5,08 persen.

Luas yang ada terdiri dari 1.299 Ha atau 59,85 persen merupakan lahan sawah dan 898 Ha atau 40,15 persen bukan lahan sawah. Dibanding tahun sebelumnya luas lahan sawah dan bukan sawah mengalami sedikit perubahan.

Luas bukan sawah yang digunakan untuk pekarangan sebesar 83,11 persen dari total luas lahan bukan sawah. Presentase tersebut merupakan yang terbesar dari presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain. Luas lahan sawah di kecamatan Baki berpengairan teknis yaitu seluas 1.299 Ha.

Pada tahun 2005 untuk luas panen dan produksi tanaman padi sawah yaitu 2.879 Ha dan 19.157 ton. Palawija diantaranya jagung sebesar 118 Ha dan 993 ton, kacang tanah sebesar 3 Ha dan 4 ton sedangkan kedelai sebesar 13 Ha dan 23 ton.

Jenis ternak yang diusahakan di Kecamatan Baki adalah ternak besar seperti sapi, dan ternak kecil seperti kambing dan domba. Disamping itu juga diusahakan ternak unggas seperti ayam kampung, ayam ras petelor, ayam potong dan itik/bebek.

Populasi ternak besar yang tercatat pada tahun 2005 seperti sapi sebesar 301 ekor, kerbau sebanyak 120 ekor. Untuk ternak kecil seperti kambing tercatat 1.807 ekor, domba 2.713 ekor, sedangkan unggas seperti ayam kampung sebanyak 29.528 ekor dan itik sebanyak 11.901 ekor.

  1. 3. Perhubungan jalan, listrik dan telepon

Pembangunan di sektor perhubungan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan adanya perbaikan jalan raya dan juga ditunjang pula penambahan angkutan pedesaan dan perkotaan dan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.

Sarana dan prasarana perhubungan darat yang ada adalah jalan raya baik jalan besar maupun kecil yang telah diaspal, ini untuk prasarana. Sedangkan sarana transportasi yang ada yaitu truk umum, angkutan  pedesaan (delman, gerobak hewan dan gerobak dorong), becak, bus dan ojek.

Prasarana listrik telah menjangkau seluruh daerah Kecamatan Baki, ini dapat dilihat dengan telah berdirinya tiang-tiang listrik yang telah menjangkau seluruh wilayah Baki. Demikian juga dengan sarana prasarana telepon. Wartel, warnet dan jaringan telepon selular telah dapat mencapai seluruh wilayah Baki.

D.  KEBIJAKAN PEMERINTAH

  1. Undang-Undang Sistim Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan     No. 16. Th. 2006 tanggal 18 November 2006.
  2. Inpres No. 13 tahun 2005 tentang Harga Dasar Gabah
  3. SK Mentan tentang subsidi benih padi, jagung hibrida dan kedelai tahun 2007.
  4. peraturan Gubernur Jateng No. 68 tahun 2006 tanggal 12 Agustus 2006 tentang Pedoman Umum Gerakan Pembangunan Mandiri Pangan (Gerbang Mapan) Provinsi Jawa Tengah.
  5. Progrom Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo tahun 2007 tentang Rencana Intensifikasi Komoditas Tanaman Padi, Palawija, Hortikultura, Komoditas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan.

IV. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

  1. A. Metode penyuluhan

Metode adalah cara penyuluh untuk mendekatkan dirinya dengan masyarakat sasaran. Untuk penyuluhan mengenai sosialisasi budidaya tanaman stevia ini, metode penyuluhan yang digunakan adalah metode dengan pendekatan berkelompok karena materi yang akan disampaikan tentang budidaya tanaman jadi diharapkan metode ini akan efektif sebab penggunaan metode ini dapat memberikan informasi yang lebih rinci, dalam hal ini adalah informasi tentang budidaya. Metode ini bertujuan untuk membantu petani sasaran dari tahap menginginkan ke tahap mencoba bahkan sampai tahap menerapkan. Karena sasaran terdiri dari petani maju dan petani pengikut metode ini dirasa cukup efektif. Petani maju dapat dijadikan sebagai pemimpin kelompok disamping sebenarnya mereka juga merupakan ketua kelompok tani sehingga pemimpin dapat dijadikan panutan oleh petani pengikut dan menjadi sarana untuk bertanya dan mendapatkan informasi.

Pelaksanaan metode ini adalah dengan melakukan penyuluhan terhadap kelompok tani secara bertahap yaitu setiap kelompok tani dibagi dalam beberapa hari penyuluhan sehingga peserta yang mengikuti penyuluhan tidak terlalu banyak dan bisa berlangsung efektif. Dengan melakukan metode penyuluhan secara berkelompok ini diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal sehingga setiap peserta dalam satu kelompok tani tersebut mengerti dan memahami materi yang telah disampaikan dan selanjutnya bersedia mencoba atau bahkan menerapkan apa yang telah didapatnya setelah megikuti penyuluhan.

  1. B. Teknik penyuluhan

Teknik penyuluhan adalah cara penyuluh untuk mendekatkan materi kepada sasarannya. Untuk teknik penyuluhan yang akan digunakan dalam penyuluhan tentang sosialisasi budidaya tanaman stevia ini adalah dengan menggunakan individu kunci (key person). Teknik individu kunci dipilih karena metode yang digunakan dengan pendekatan kelompok tani maka individu kunci ini adalah ketua kelompok tani masing-masing yang juga merupakan petani maju. Yang dijadikan idividu kunci adalah individu yang maju, termasuk golongan penerap dini yang bersedia bekerja sama dengan penyuluh untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan bagi warganya. Selain itu mereka juga dijadikan panutan pengikutnya serta sebagai fasilitator untuk bertanya dan mendapatkan informasi.

Individu kunci dipilih dari ketua kelompok tani karena mereka dianggap paling berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang lebih dibanding pengikutnya sehingga semua yang disampaikan dan disuluhkan oleh ketuanya ini pasti akan diikuti oleh seluruh pengikutnya. Penyuluhan dilakukan dengan cara penyuluh memberikan informasi secara langsung kepada individu kunci kemudian indivudu kunci tersebut menyampaikannya kepada pengikutnya. Teknik seperti ini sangat efektif dan efisien karena akan menghemat waktu dan biaya selain itu materi yang disuluhkan pasti akan diterapkan karena umumnya mereka akan mempercayai apa yang disampaikan oleh individu kunci ini daripada penyuluh sendiri yang menyampaikan.

  1. C. Alat Bantu penyuluhan

Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh untuk memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Dalam penyuluhan ini penyuluh menyusun kurikulum yang berisi tujuan yang ingin dicapai dari diadakannya sosialisasi, kegiatan apa yang akan dilaksanakan, pokok bahasan yang akan disampaikan, dan juga rencana evaluasi apa yang akan dilaksanakan. Selain menyusun kurikulum juga diperlukan alat bantu lainnya yaitu papan tulis berupa whiteboard untuk menjelaskan kepada sasaran agar mereka dapat menerima materi dengan lebih jelas. Selain kurikulum penyuluh juga harus membuat lembar persiapan menyuluh (LPM) agar kegiatan penyuluhan yang dilakukan dapat berjalan sesuai yang telah direncanakan.

Di sini alat tulis yang digunakan adalah spidol berwarna hitam dan white board. Untuk sarana ruangan akan menggunakan pengeras suara berupa mikrofon dan wireless karena jumlah sasaran lumayan banyak sehingga akan efektif apabila menggunakan mikrofon. Penata cahaya tidak digunakan karena penyuluhan berlangsung pada siang hari dan diadakan dalam ruangan yang terbuka yaitu Balai Desa, sedangkan penata udara digunakan kipas angin, walupun ruangan sudah cukup terbuka namun kipas angin dirasa masih diperlukan karena udara saat ini sedang panas. Berikut ini adalah Lembar Persiapan Menyuluh yang telah dibuat:

Tabel 1. Susunan Acara Kegiatan Penyuluhan Tentang Budidaya Tanaman Stevia

No. Kegiatan Waktu Tempat Perlengkapan Biaya

(Rp)

Sasaran
1. Pembukaan oleh lurah desa dan penyuluh 07.30-08.00 Balai Desa Microphone, wireless 0 Kelompok tani
2. Penyampaian materi tentang budidaya stevia 08.00-09.30 Balai Desa Microphone, wireless 0 Kelompok tani
3. Pembagian Leaflet kepada petani yang berkaitan dengan budidaya stevia 09.30-09.45 Balai Desa Leaflet 25.000 Kelompok tani
4. Evaluasi awal 09.45-10.00 Balai Desa Microphone, wireless, white board, dan spidol 0 Kelompok tani
5. Pengkajian partisipatif dan diskusi mengenai materi budidaya stevia yang telah diberikan 10.00-11.00 Balai Desa Microphone, wireless, white board, dan spidol 30.000 Kelompok tani
6. Istirahat 11.00-11.40 Balai Desa Snakc dan minuman 50.000 Kelompok tani
7. Evaluasi Proses 11.40-12.00 Balai Desa Microphone, wireless, white board, dan spidol 0 Kelompok tani
8. Penutupan acara penyuluhan 12.00-12.15 Balai Desa Microphone, wireless 0 Kelompok tani
9. Evaluasi akhir 12.15-1300 Balai Desa Buku agenda 0 Kelompok tani
Total 5,5 jam 105.000
  1. D. Alat peraga penyuluhan

Alat peraga penyuluhan adalah alat atau benda yang dapat diamati, diraba atau dirasakan oleh indera manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan. Alat peraga yang akan digunakan dalam penyuluhan ini berupa leaflet karena alat peraga ini cukup simpel namun cukup efektif karena walaupun hanya satu lembar dan menjadi 4 halaman akan tetapi dapat memuat semua inti dari materi yang akan disampaikan.

Penggunaan alat peraga ini disesuaikan dengan kondisi sasaran, karena metode dilakukan secara kelompok maka akan lebih baik apabila setiap orang mendapatkan satu pedoman tetang penyuluhan yang akan dilakukan yaitu leaflet sehingga masing-masing dari mereka dapat lebih memahami materi karena tidak saling berebut materi satu sama lain.

  1. E. Evaluasi

Kata “evaluasi” dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan sebagai padanan istilah dari “penilaian”, yaitu sebagai tindakan pengambilan keputusan untuk menilai sesuatu objek, keadaan, peristiwa, atau kegiatan tertentu yang sedang diamati. Pada penyuluhan yang dilakukan di Kecamatan Baki kali ini, rencana evaluasi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Pre test dan Post test

Pre test merupakan langkah awal yang dilakukan penyuluh untuk menguji peserta sebelum mereka mendapatkan materi atau pelatihan dalam kegiatan penyuluhan. Dengan adanya pre test maka penyuluh dapat mengetahiu seberapa besar pengetahuan yang dimiliki petani tentang tanaman stevia. Walaupun mereka baru mengenal tanaman ini tapi setidaknya mereka telah membaca leaflet yag telah diberikan sehingga dengan pre test ini akan dapat diketahui seberapa cepat peserta dapat memahami materi. Pre test ini akan sangat memudahkan penyuluh dalam memberikan tekanan pada materi mana yang perlu diperjelas lagi. Sedangkan untuk menguji peserta setelah penyampaian materi penyuluhan selesai yaitu dengan diadakannya post test.

Pertanyaan yang diberikan pada saat pre test dan post test adalah sama. Hal ini dilakukan untuk membandingkan hasil jawaban peserta pada saat evaluasi. Apabila jawaban yang benar meningkat maka penyuluhan yang dilakukan telah berhasil sedangkan apabila sebaliknya maka penyuluhan belum berhasil. Pertanyaan yang diberikan pada saat pre test dan post test antara lain sebagai berikut:

  1. Dari manakah asal tanaman stevia itu?
  2. Apakah kegunaan dari tanaman stevia?
  3. Pembibitan dapat dilakukan dengan cara apa saja?
  4. Hama dan penyakit apa sajakah yang dapat menyerang tanaman ini?
  5. Hal apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam pasca panen daun stevia?
  6. Respon petani

Penyuluhan baru dapat dikatakan baik apabila dalam kegiatan penyuluhan tersebut terjadi diskusi antara penyuluh dan petani sasaran. Untuk penyuluhan tentang budidaya tanaman stevia ini diskusi yang terjadi belum maksimal karena materi belum sepenuhnya dapat diterima oleh sasaran.

  1. Evaluasi pada saat petani mengikuti penyuluhan budidaya tanaman stevia

Selama berlangsungnya kegiatan, penyuluh mengamati dan mencatat semua hal yang dilakukan petani pada saat mengikuti kegiatan penyuluhan. Dengan pengamatan yang dilakukan ini maka penyuluh dapat menganalisis apakah kegiatan yang telah dilakukan tersebut sudah benar atau belum.

  1. F. Alternatif Metode dan Teknik penyuluhan

Selain menggunakan metode penyuluhan secara kelompok juga dapat digunakan metode-metode penyuluhan yang lain. Pemilihan alternatif metode penyuluhan ini harus disesuaikan dengan sasaran, sumber daya yang ada, keadaan daerah dan kebijaksanaan pemerintah yang ada pada suatu daerah yang akan menjadi tempat penyuluhan. Dari materi penyuluhan yang disampaikan di atas sebenarnya selain menggunakan metode penyuluhan kelompok juga dapat menggunakan metode penyuluhan massal atau metode penyuluhan perorangan. Akan tetapi penggunaan dua metode tersebut dirasa kurang efektif karena apabila menggunakan metode secara massal akan sulit dalam memantau sejauh mana sasaran memperhatikan penjelasan kita karena jumlah sasaran yang banyak. Sedangkan apabila menggunakan metode perorangan akan membutuhkan waktu yang lama dan belum tentu dengan metode perorangan ini mereka dapat lebih memahami daripada yang dilakukan dengan metode kelompok.

Teknik individu kunci bukan satu-satunya teknik yang dapat digunakan dalam penyuluhan. Masih ada teknik lain, seperti surat menyurat, kunjungan, karya wisata dan demonstrasi. Namun dilihat dari keadaan sasaran di daerah ini teknik surat menyurat, kunjungan dan karya wisata dirasa belum tepat karena disamping tidak efektif juga membutuhkan biaya yang lebih banyak. Sedangkan untuk teknik demonstrasi agaknya cukup efektif untuk dilakukan pada penyuluhan berikutnya karena mungkin petani telah mampu membudidayakan stevia sehingga mereka dapat mendemonstrasikan hasil budidayanya kepada petani lain.

  1. V. PENUTUP

  1. A. Kesimpulan
    1. Metode penyuluhan yang efektif digunakan dalam penyuluhan ini adalah metode penyuluhan kelompok.
    2. Teknik penyuluhan dengan menggunakan individu kunci (key person) ternyata cukup efektif.
    3. Alat bantu penyuluhan hanya menggunakan papan tulis dan spidol sedangkan penata suara menggunakan mikrofon, tidak menggunakan penata cahaya dan untuk penata udara digunakan kipas angina.
    4. Pemilihan alat peraga berupa leaflet lebih dipilih dalam penyuluhan ini karena cukup simpel dan efektif.
    5. Metode dan teknik yang digunakan sudah baik dan efektif namun belum dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
    6. Materi penyuluhan yang disampaikan belum sepenuhnya dapat diterima sasaran.

  1. B. Saran
    1. Apabila tujuan dalam penyuluhan ingin dapat tercapai maka dalam memilih dan menentukan metode maupun teknik penyuluhan yang akan dilakukan harus memperhatikan dan mempertimbangkan hal-hal yang telah ditentukan.
    2. Materi yang akan disampaikan dalam penyuluhan sebaiknya berupa penemuan baru atau sesuatu yang sedang up to date sehingga sasaran dapat menerapkan dan mengadopsi penemuan baru tersebut dengan segera dan tidak ketinggalan.
    3. Sebaiknya kinerja dinas yang terkait lebih diperhatikan lagi karena dari dalam pengisian data monografi tidak lengkap padahal data itu sangat penting bagi daerahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Pengembangan Metode Penyuluhan Pertanian Dalam Menghadapi Permasalahan Usaha Tani. Buletin Teknologi Dan Informasi Pertanian Vol 7 Tahun 2004 Hal 104

Darmoko dan Oskari. 1984. Ekstasi Gula Stevia (Stevia rebaudiana Bertonii M). Menara Perkebunan. Jakarta. 52 (6a) : 234-236

Departemen Kehutanan.1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan RI. Jakarta

Hutapea, J. R. 1991. Inventaris Tanaman Obat Jilid I. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta

Kartasaputra, A. G. 1991. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta

Lutony, T. L.1993. Tanaman Sumber Pemanis. Penebar Swadaya. Jakarta

Paimin, F. R. 2004. Bisnis Manis Rumput Manis. Trubus 35(412) : 114-117

Rukmana, H. R. 2003. Budidaya Stevia. Kanisius. Jakarta

Samsudin, U. S. 1982. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Angkasa Offset. Bandung

Setiana, Lucie. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta

Tirtoboma. 1988. Bagian Batang Stevia Sebagai Setek Untuk Perbanyaka Vegetatif. Balai Penelitian Perkebunan. Bogor

About these ads

5 Tanggapan so far »

  1. 1

    Dimin Gamindal berkata,

    Trim’s atas cara pembudidayaan jenis tanaman ini. Saya ingin tanya berhubung hambatan yang sering dihadapi para usahawan tani:
    1. Potensi perolehan?
    2. Cara pemasaran?
    3. Jenis tanah yang tidak sesuai?
    4. Serangan hamak/serangga?
    5. Keluasan tanah dengan jumlah pokok yang cocok.

    Thank’s.

  2. 2

    St.T.R.Manurung berkata,

    saya mau menanam stevia di lahat saya di Tapanuli.
    Dimana dapat bibit tanamannya?

  3. 3

    St.T.R.Manurung berkata,

    Kami mau mengembangkan tanaman stevia ini di Tapanuli.
    Dimana kami dapat mendapatkan bibitnya?

  4. 4

    a.darmastuti berkata,

    Berapa no telnya, dimana alamatnya.trims

  5. 5

    aguslatif43@gmail.com berkata,

    PROPOSAL PEMBANGUNAN PABRIK KELAPA SAWIT & PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

    Kepada Yth,
    Bapak/Ibu INVESTOR
    di-
    T e m p a t

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
    Nama : Agus, SE
    Email : aguslatif99@ymail.com atau aguslatif43@gmail.com
    Hp. : 0812 8388 5642 / 0817 9802 568
    Alamat : Jl. Gunung Latimojong No.44, Kec. Belopa, Kab. Luwu
    Status : Sebagai penerima kuasa penuh dalam rangka mencari investor untuk mengelolah lahan
    seluas 24,800 ha untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit (surat kuasa terlampir)

    Bersama ini saya mengajukan proposal Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan data-data sebagai berikut :

    1. Luas lahan : 24.800 ha
    2. Lokasi ini tidak bermasalah/tidak tumpang tindih, murni dikuasai oleh Koperasi
    3. Lahan ini dikuasai oleh Koperasi Karya Mandiri 19.800 ha dan Koperasi Rezki Alam 5000 ha
    4. Letak lokasi : Kabupaten Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah (27 menit dari bandara internasional Morowali yang sedang dalam pembangunan)
    5. Lokasi ini adalah satu hamparan dengan 4 wilayah kecamatan

    Adapun bentuk kerja sama yang kami harapkan adalah pola kemitraan dengan sistim inti plasma 60/40 sesuai dengan arahan Bapak Bupati Morowali. Mengenai besarnya biaya konpensasi untuk lahan yang akan dijadikan sebagai lahan inti (sertifikat HGU – Perusahaan) dapat dimusyawarakan dengan pengurus Koperasi Karya Mandiri dan Koperasi Rezki Alam.

    Lokasi ini sudah memiliki ijin lokasi dan Rekomendasi dari Bapak Bupati Morowali atas nama Koperasi Karya Mandiri dan Koperasi Rezki Alam

    Demikian proposal ini kami ajukan, atas perhatian dan kerja sama yang baik kami ucapkan terima kasih.

    Hormat Saya,

    AGUS, SE
    Sekretaris Umum Koperasi Rezki Alam


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: