efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Desa pada umumnya mendapat julukan sebagai “tulang punggung” ekonomi negara (Kartasapoetra, 1992). Sebutan demikian memang sepantasnya karena di desa terdapat sumber-sumber kekayaan alam dan tenaga. Segala hasil alam (hasil pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan) mengalir ke kota-kota dalam jumlah yang besar, baik untuk mencukupi kebutuhan primer konsumen rumah tangga maupun konsumen industri.
Peningkatan produk-produk pertanian erat sekali kaitannya dengan tata niaga, artinya ada peningkatan produk-produk pertanian itu karena bergairahnya para petani untuk bekerja lebih keras, lebih teratur dan lebih menyesuaikan teknologi baru yang lebih maju sesuai dengan kemajuan zaman dikarenakan dekat atau adanya pasar yang dapat menampung produk-produk pertanian tersebut dengan harga yang menguntungkannya. Makin dekatnya pasar dan makin baiknya harga produk-produk pertanian akan mendorong makin meningkatnya :
a. gairah kerja para petani
b. gairah belajar para petani untuk mengikuti pembinaan-pembinaan dan penyuluhan-penyuluhan pertanian
c. pegelolaan tanaman untuk mencapai kuantitas dan kualitas
d. pengolahan tanah dengan memperhatikan konservasi tanah dan air atau secara penuh tanggung jawab dalam pemeliharaannya
(Kartasapoetra, 1992).
Akan tetapi pada kenyataannya keadaan petani dan keluarganya sungguh menyedihkan karena mengalirnya produk dan jasa dari desa ternyata tidak terjadi keseimbangan. Artinya tingkat hidup rakyat pedesaan pada umumnya tetap rendah dan pendapatan perkapita mereka sangat kecil sehingga daya beli barang-barang dan jasa pemuas kehidupan sekunder dapat dikatakan sangat minim. Hal ini disebabkan karena masalah pemasaran dimana mereka mengalami hambatan dalam menyalurkan hasil usaha tani mereka sehingga mereka harus menanggung kerugian yang sangat tinggi. Oleh karena itu perlu diadakan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” agar petani mampu memasarkan hasil usaha taninya dengan biaya yang efisien mungkin. Dengan demikian dapat meningkatkan gairah kerja petani sehingga pendapatan mereka juga akan meningkat.
B. Tujuan
Kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” ini bertujuan agar :
1. Memudahkan petani dalam memasarkan hasil usaha taninya
2. Terjalin kerjasama antara petani dengan pasar dan perusahaan agro input yang mau menampung hasil usaha tani mereka
3. Meningkatkan pengetahuan petani untuk memilih cara mana yang paling efisien dalam memasarkan hasil usaha tani mereka sehingga akan mengurangi biaya pengangkutan
4. Mengoptimalisasikan pemasaran dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang mereka hasilkan
C. Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” antara lain sebagai berikut :
1. Petani dapat memasarkan hasil taninya dengan mudah
2. Petani dapat menjalin hubungan kerjasama dengan pasar dan perusahaan agroinput dalam memasarkan hasil usaha taninya
3. Petani mampu memilih cara yang paling efisien dalam memasarkan hasil usaha taninya karena mempunyai pengetahuan yang cukup
4. Petani dapat memasarkan hasil usaha taninya secara optimal

II. LANDASAN TEORI

A. Metode dan Teknik Penyuluhan
1. Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan pertanian berarti cara pemberian/bentuk pelaksanaan penyuluhan pertanian. Metode yang digunakan dalam penyuluhan pertanian dapat dibagi dalam tiga metode :
a. Metode penyuluhan pertanian massal
Pada dasarnya hanya dapat menimbulkan tahap kesadaran dan tahap minat. Sifat sasarannya heterogen dengan melihat masyarakat tani dalam satu kesatuan yang dianggap sama.
b. Metode penyuluhan pertanian kelompok
Tahap kesadaran dan tahap minat akan diarahkan menjadi tahap menilai dan mencoba. Petani diajak dan dibimbing serta diarahkan secara berkelompok untuk melaksanakan suatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerjasama.
c. Metode penyuluhan pertanian perorangan
Metode ini dilakukan atas dasar hubungan langsung antara penyuluh dengan sasaran.
(Samsudin, 1982).
2. Teknik Penyuluhan
Beragam teknik penyuluhan menurut Setiana (2005), diantaranya adalah kunjungan rumah, kunjungan ke lahan usaha tani, surat-menyurat, hubungan telepon, kontrak informal, magang dan lain sebagainya. Teknik lain yang diungkapkan adalah temu karya, demonstrasi cara, demonstrasi hasil, karya wisata, kursus tani, temu karya, temu lapang, temu usaha, mimbar sarasehan, perlombaan dan lain sebagainya.
3. Alat Bantu Penyuluhan
Penyuluhan sangat memerlukan alat pembantu peraga agar petani yang pada umumnya sangat memerlukan contoh kerja dapat meniru/mengikutinya dengan penuh perhatian. Jadi dalam sistem pemberian pelajaran ini peranan penyuluhan dan alat-alat pembantunya adalah sangat penting. Alat bantu yang dipergunakan dalam penyuluhan harus memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Membantu penyuluh menjadikan pelajaran lebih menarik sehingga para petani peserta akan lebih berminat.
b. Membantu penyuluh dalam menjelaskan pelajaran yang diberikan.
c. Membantu penyuluh dalam menyajikan materi pelajarannya.
d. Membantu penyuluh dalam mengatasi kemacetan pemberian pelajaran karena daya tanggap dan daya tangkap para peserta berbeda-beda dan masih rendah.
e. Membantu petani peserta agar dapat lebih mudah mengerti, mencontoh dan menerapkan pengetahuan.
(Kartasapoetra, 1991).
4. Alat Peraga Penyuluhan
Alat peraga yang dipergunakan dengan tepat dan baik dapat memberikan keuntungan dalam penyuluhan antara lain sebagai berikut :
a. Menghindari salah pengertian atau salah interpretasi
b. Memperjelas materi yang dibicarakan
c. Memberikan dorongan yang kuat untuk menerapkan materi yang dianjurkan
(Suhardiyono, 1992).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah alat manajemen yang berorientasi pada tindakan dan proses informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga sehingga relevansi dan efek serta konsekuensinya ditentukan sistematis dan seobyektif mungkin. Data ini digunakan untuk memperbaharui kegiatan sekarang dan yang akan datang seperti dalam perencanaan program, pengambilan keputusan dan pelaksanaan programuntuk mencapai kebiksanaan penyuluh yang lebih efektif. Data tersebut mencakup penentuan penilaian keefektifan kegiatan dibanding dengan sumber daya yang digunakan (Van den Ban dan Hawkins, 1999).
6. Alternatif Metode dan Teknik
Kegiatan penyuluhan pertanian mencakup bidang konsultasi, kursus tani, demonstrasi dan penyampaian informasi dari perkembangan teknologi. Dalam proses kegiatan pengembangan teknologi partisipatif kemungkinan tidak hanya cukup mengoperasionalkan suatu metode dengan pendekatan pengembangan teknologi. Akan tetapi perlu menggabungkan beberapa metode dalam suatu perpaduan yang disesuaikan dengan budaya lokal, sumber daya dan ketrampilan serta pengalaman petugas (Anonim, 2004).
Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, seorang penyuluh harus efektif dan efisien dengan melibatkan lebih banyak peran petani dan pelaku usaha pertanian lainnya. Pendekatan metode dan teknik penyuluhan pertanian harus partisipatif dan sistemik dengan memaduserasikan penyuluh pertanian swakarsa, swasta dan pemerintah. Sistem penyuluhan pertanian meliputi komponen kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, sarana dan prasarana sera pembiayaan yang mantap dan mendapatkan kepastian sehingga pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dapat dilaksanakan secara baik, teratur, dan berkelanjutan (Anonim, 2007).
B. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Pemasaran
Persoalan pokok yang selalu melekat adalah masalah produksi dan pemasaran. Masalah produksi berkenaan dengan masih berpengaruhnya faktor-faktor alam sehingga menyebabkan tingginya peluang untuk terjadinya kegagalan produksi. Keadaan ini diperburuk oleh pola pengusahaan yang kurang intensif. Akumulasi dari semua ini mempengaruhi stabilitas dan kelestarian pasok produk yang dibutuhkan pasar. Di samping itu berakibat rendahnya pendapatan yang diperoleh petani. Pada sisi lain, pengusahaan yang kurang intensif berdampak pada penerapan tenaga kerja yang kurang memadai utamanya terhadap upaya penekanan pengangguran di pedesaan.
Untuk mengetahui saluran pemasaran mana yang lebih efisien dari saluran pemasaran yang ada dapat dihitung dengan menggunakan indeks efisiensi yakni mencakup indeks efisiensi teknis dan indeks efisiensi ekonomis. Indeks efisiensi ekonomis merupakan besarnya keuntungan yang dihasilkan per satuan biaya yang dikeluarkan. Saluran pemasaran dikatakan efisien secara ekonomis apabila mempunyai indeks efisiensi yang besar (Yusuf et. al, 1999).
Dalam proses pemasaran modern yang dirumuskan sebagai bauran pemasaran (Marketing Mix) bahwa strategi harga dan non harga harus saling menunjang. Meskipun demikian faktor-faktor non harga relatif telah menjadi semakin penting. Akan tetapi harga masih merupakan elemen terpenting yang menentukan pangsa pasar serta keuntungan. Harga merupakan satu-satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menciptakan pendapatan, sedangkan unsur lainnya menimbulkan biaya. Secara umum stategi penetapan harga dalam kaitannya dengan skedul permintaan antara lain ditentukan oleh besar kecilnya elastisitas permintaan terhadap harga serta karakteristik stuktur pasar (Tri Cahyono, 1995).
Bauran pemasaran adalah bagian dari kegiatan pemasaran yang terintegrasi dan berorientasi pada konsumen yang bertujuan memperoleh laba dari kepuasan konsumen. Bauran pemasaran merupakan kombinasi dari keempat variabel pemasaran yaitu produk, harga, saluran distribusi dan kegiatan promosi yang harus dapat dikomposisikan secara tepat agar dapat menunjang keberhasilan strategi perusahaan dalam menciptakan image produk yang diinginkan perusahaan (Kotler, 1995).
Harga adalah nilai atau jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan suatu barang atau jasa. Nilai barang atau jasa tersebut dianggap sebanding dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Harga suatu barang atau jasa mencerminkan fungsi atau kegunaan produk tersebut sedangkan nilai barang adalah ungkapan secara kualitatif tentang kegunaan barang tersebut. Harga suatu barang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a. kondisi perekonomian
b. persaingan
c. penawaran dan permintaan
d. biaya dan produk
e. pengawasan pemerintah
(Stanton, 1989).
Pembentukan harga di suatu daerah atas sesuatu produk pertanian tidak jauh berbeda dengan harga yang terbentuk mengenai produk tersebut di daerah-daerah lainnya karena ada patokan harga produk-produk pertanian dari pemerintah. Dalam pembentukan harga riil di pasaran mengenai sesuatu produk, adanya sedikit kenaikan atau sedikit penurunan sekitar harga patokan tersebut adalah tergantung dari beberapa kepentingan tawar menawar pembeli dan penjual yang kemudian mewujudkan kesepakatan harga, sehingga dapat berlangsung transaksi jual beli (Winardi, 1981).
Segmentasi pasar adalah pasar yang semula merupakan kelompok konsumen yang heterogen menjadi kelompok konsumen yang homogin, dimana masing-masing kelompok dapat dicapai dengan marketing-mix yang sesuai dengan pasar yang dituju. Segmentasi pasar mempunyai suatu keuntungan bagi para produsen karena mereka dapat mengkhususkan diri pada segmen pasar tertentu sehingga dapat melindungi diri terhadap persaingan serta dapat mencapai kepuasan konsumen. Namun dalam hal ini segmentasi pasar akan mempunyai sifat positif jika dasar-dasar segmentasi yang digunakan tidak fiktif dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. homogenitas segmen dapat dibedakan dengan segmen lain
2. pasar yang akan dikelompokkan harus cukup besar
3. sifat pasar harus dapat diukur dan didekati
4. stabilitas pasar dapat terjamin (Afiff, 1990).
2. Efisiensi dan Optimalisasi Pemasaran Hasil Usaha Tani
Mayoritas petani di Kecamatan Ngargoyoso merupakan petani buah (alpukat, durian, rambutan, dan pisang) dan sayur ( wortel, bawang daun, sawi dan cabe besar) karena lahannya sangat cocok untuk budidaya tanaman tersebut. Produksinya per musim tanam cukup menjanjikan karena iklim, kesuburan tanah dan sistem pengairannya sangat mendukung. Selain itu pengetahuan dan pengalaman petani Ngargoyoso juga cukup luas karena mereka sudah lama menekuni usaha tersebut sehingga mereka mampu produk yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang cukup tinggi. Akan tetapi mereka mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil usaha tani mereka. Oleh karena itu penyuluh mengadakan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” dengan tujuan untuk membantu petani mengatasi masalah tersebut.
Buah dan sayur yang dihasilkan oleh petani Ngargoyoso merupakan produk yang tidak tahan lama sehingga setelah panen harus segera dipasarkan. Akan tetapi belum ada pasar atau perusahaan agroinput yang mampu menampung seluruh produk yang dihasilkan oleh petani Ngargoyoso sehingga mereka sering menanggung kerugian yang cukup besar karena hasil tersebut banyak yang busuk akibat pemasaran yang terlalu lama. Hal tersebut disebabkan karena para petani di Ngargoyoso menjual sendiri hasil usaha taninya ke pasar setempat dengan harga yang sangat rendah. Akan tetapi juga ada sebagian petani yang menjual hasil usaha taninya kepada pedagang perantara dengan sistem pembayaran di akhir dimana petani akan memperoleh uang jika produknya sudah laku dipasarkan oleh pedagang tersebut. Selain itu rendahnya harga produk tersebut tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan sehingga mereka juga harus menanggung resiko kerugian yang cukup besar.
Kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” memberikan alternatif solusi terbaik kepada petani dalam memasarkan produk mereka. Penyuluh memberikan pengarahan kepada petani agar mereka selalu memantau kebutuhan pasar sehingga mereka akan menanam produk sesui permintaan pasar. Mereka dianjurkan untuk memasarkan produk mereka ke pasar di luar daerah dengan mempertimbangkan biaya yang paling efisien. Dengan demikian produk mereka dapat laku dipasaran dengan harga yang menguntungkan.
Selain itu penyuluh menyarankan kepada petani agar mereka bekerjasama dengan perusahaan agroinput yang mau dan mampu untuk membeli buah dan sayur yang mereka hasilkan. Sebagai contoh mereka bekerjasama dengan restoran-restoran yang ada di daerah Jawa Tengah yang setiap hari selalu membutuhkan buah dan sayur. Dengan demikian produk yang mereka hasilkan dapat laku dengan harga yang cukup menjanjikan. Mereka harus tetap menjaga kualitas produk yang mereka hasilkan sehingga restoran-restoran tersebut tetap menjalin kerjasama dengan mereka.
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini sangat diharapkan para petani mau memperbaiki sistem pemasaran yang sudah berlaku selama ini dengan sistem baru yang ditawarkan penyuluh. Dengan kegiatan pemantauan kebutuhan pasar dan mengadakan kerjasama dengan perusahaan agroinput tersebut akan meringankan penderitaan petani dengan menekan jumlah kerugian yang mereka alami. Jika mereka mau menerapkan sistem tesebut maka kesejahteraan petani dan keluarganya dapat meningkat.
Kegiatan pemasaran sangat berhubungan erat dengan gairah kerja petani. Jika mereka mengalami kemudahan dalam memasarkan produknya maka mereka akan bekerja keras untuk meningkatkan produknya, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian jika mereka mau menerapkan sistem pemasaran yang ditawarkan oleh penyuluh tadi maka pendapatan mereka juga akan meningkat seiring dengan peningkatan produk yang dihasilkan.

III. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK

A. Sasaran
1. Golongan Umur, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan, Jumlah Masing-masing Golongan dan Keseluruhan
Tabel 1.1 Jumlah Sasaran Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
>74 1512
1363
1354
1305
1195
1074
794
694
622
504
335
323 1499
1356
1353
1352
1273
1140
857
752
660
542
350
334 3012
2719
1707
2657
2469
2215
1648
1446
1283
1047
685
657
Jumlah 11075 11468 22543
Sumber : Data Sekunder
Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah penduduk secara keseluruhan dan juga dapat dilihat jumlah penduduk secara khusus berdasarkan umur dan jenis kelamin. Jumlah penduduk laki-laki yang paling banyak adalah pada penduduk pada umur 20-24 tahun (1512 jiwa) dan paling sedikit adalah pada penduduk umur > 74 tahun (323 jiwa). Hal ini disebabkan karena penduduk yang berusia > 56 tahun (lanjut usia) kebanyakan telah meninggal dunia sehingga jumlahnya selalu berkurang. Sama seperti pada jumlah penduduk laki-laki, pada penduduk perempuan yang paling banyak adalah pada penduduk pada umur 20-24 tahun (1499 jiwa) dan paling sedikit adalah pada penduduk umur > 74 tahun (334 jiwa).
Berdasar tabel diatas juga dapat dilihat pengelompokan penduduk berdasarkan jenis kelamin. Dapat dilihat bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dari pada jumlah penduduk perempuan. Hal ini disebabkan kelahiran bayi laki-laki yang lebih sedikit sehingga ketersediaan tenaga kerja laki-laki lebih sedikit daripada tenaga kerja perempuan. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah penghambat dalam proses penyampaian inovasi baru karena jumlah penduduk golongan muda lebih banyak sehingga mereka bisa mentransfer informasi tersebut kepada petani golongan tua.
Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Jenjang Pendidikan Jumlah
Tidak/ belum pernah sekolah
Tidak tamat SD
Belum tamat SD
Tamat SD
Tamat SLTP
Tamat SLTA
Tamat Akademi/Perguruan Tinggi 4216
3175
1681
15248
4466
2774
358
Jumlah 31918
Sumber : Data Sekunder
Tingkat pendidikan dari petani di Kecamatan Ngargoyoso bisa dikatakan rendah karena sebagian besar petani hanya berpendidikan sampai SD yaitu sebesar 15.248. Namun ada pula petani yang mengenyam pendidikan sampai pada tingkat SLTA bahkan hingga perguruan tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan dialami pada penduduk golongan tua yang disebabkan karena kurangnya fasilitas pendidikan pada zaman dulu. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi masalah penghambat dalam proses penyampaian informasi dan inovasi baru.
2. Adat Kebiasaan, Norma-norma dan Pola Kepemimpinan
a. Adat Kebiasaan
Adat Kebiasaan yang terdapat di Ngargoyoso antara lain Kenduren, Kondangan, Ziarah, Bersih Desa, Syukuran, Wayangan. Adat kebiasaan tersebut tidak ada aturan secara tertulisnya hanya berdasarkan pada kebiasaan dan “kelumrahan” yang disepakati bersama oleh masyarakat dan telah diwariskan secara turun menurun dari nenek moyang dan leluhur masyarakat di Ngargoyoso.
Adat Kenduren masih sangat dihormati dan dijalankan oleh masyarakat di Ngargoyoso terutama kenduren dalam hal upacara pernikahan. Kenduren sekarang mengalami penyempitan makna karena yang semula kenduren merupakan bermacam-macam upacara adat namun sekarang hanya di jalankan saat adanya suatu upacara pernikahan saja.
Adat kondangan adalah suatu cara masyarakat untuk memohon sesuatu yang terdapat dalam adat kebiasaan di Ngargoyoso. Konndangan sudah agak di tinggalkan dan makna kesakralannya mulai menurun, hal tersebut karena masyarakat telah memeluk agama dan mulai meninggalkan aliran kepercayaan. Ada upacara adat kondangan yang baru dicanangkan pemerintah yaitu ritual kondangan ke Candi Sukuh yang diadakan setahun sekali. Upacara tersebut oleh masyarakat kurang mendapatkan respon. Namun, hal tersebut diterima oleh masyarakat karena dianggap bahwa hal tersebut adalah upaya meningkatkan daya tarik terhadap objek wisata yang ada di Candi Sukuh.
Adat kebiasaan ziarah merupakan adat kebiasaan yang berkaitan dengan orang yang sudah meninggal. Ziarah dilakukan melalui kunjungan ke makam leluhur atau tokoh adat yang telah meninggal dunia. Masyarakat mendoakan leluhur atau tokoh adat di lokasi pemakamannya, hal tersebut masih dilakukan oleh sebagian dari masyarakat karena mereka masih percaya bahwa makam leluhur atau tokoh adat tersebut bertuah (meninggalkan pesan yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga harus selalu dijaga).
Masyarakat Ngargoyoso juga mempunyai adat kebiasaan bersi desa sebelum melakukan “tandur”. Adat kebiasaan ini sangat bermanfaat untuk mempererat gotong-royong dan kekeluargaan warga masyarakat. Dahulu adat kebiasaan ini sangat dihormati dan dilaksanakan setiap musim panen. Namun, adat kebiasaan tersebut sekarang mulai berkurang dimana bersih desa hanya diadakan setahun sekali di karenakan kesibukan mayarakat. Adat kebiasaan ini sangat dijaga walaupun sekarang hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, dikarenakan hal tersebut sangat menjaga kerukunan warga dan menjadi suatu cirri khas kekeluargaan dari dareah Ngargoyoso.
Adat kebiasaan Syukuran merupakan salah satu cara masyarakat Ngargoyoso untuk menunjukkan rasa syukur terhadap segala yang di peroleh dan telah didapatkan merupakan pemberian serta anugrah dari Tuhan YME. Adat kebiasaan syukuran lebih bersifat religi.
Adat kebiasaan yang sudah ditinggalkan oleh mayarakat Ngargoyoso adalah adat kebiasaan mengadakan pertunjukan wayang. Pertunjukan wayang sudah tidak diadakan lagi karena minat dan antusias masyarakat tentang pertunjukan wayang sudah tidak digemari disebabkan karena telah masuknya beberapa sarana hiburan masyarakat seperti televisi yang menyiarkan berbagai informasi aktual yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Adat kebiasaan tersebut sebenarnya perlu dilestarikan. Namun karena dalam mengadakan pertunjukan wayang tersebut memerlukan biaya yang sangat besar dan kurang sebanding dengan antusiasme masyarakat, maka masyarakat menyepakati untuk meninggalkan adat tersebut.
b. Norma
Setiap daerah pasti mempunyai norma yang mengatur kehidupan masyarakatnya. Begitu pula di Kecamatan Ngargoyoso karena di daerah tersebut menerapkan empat norma yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum untuk mengatur kehidupan masyarakat mereka.
Norma agama diatur melalui ajaran agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia yaitu lima agama. Masyarakat Ngargoyoso memiliki agama sangat beragam dengan demikian keheterogenan di bidang agama tampak melalui semua agama yang diakui oleh pemerintah (lima agama) seluruhnya ada masyarakat yang memeluknya. Lebih dari 93% masyarakat Ngargoyoso memeluk agama Islam dengan demikian aturan norma agama Islam sangat kental di Ngargoyoso.
Norma kesusilaan dengan norma kesopanan sangat berkaitan karena merupakan kepantasaan dan kesesuaian menurut sudut pandang masyarakat setempat. Norma kesusilaan lebih mengatur tentang tingkah laku masyarakat sedangkan norma kesopanan lebih mengarah pada sopan santun yang ada dalam masyarakat. Norma kesusilaan dan norma kesopanan merupakan suatu filter yang menjadi batasan atau pedoman mengenai adat atau kebiasaan serta inovasi baru yang masuk yamg mempengaruhi apakah adat kebudayaan tersebut pantas diadopsi atau harus ditolak. Norma kesusilaan dan norma kesopanan yang berlaku di dalam masyarakat Ngargoyoso antara lain kesopanan dalam berpakaian, tata cara berbicara, tata cara makan, dan tata cara menghormati orang lain. Meskipun norma tersebut bukan merupakan norma yang tertulis akan tetapi masyarakat sudah menerapkannya karena norma tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat Ngargoyoso yang diwariskan secara turun-temurun.
Norma hukum berpedoman pada aturan hukum perundang-undangan yang berlaku di Negara Indonesia. Norma hukum telah diatur dan ditetapkan oleh Pemerintah sebagai aturan berbangsa dan bernegara. Masyarakat Ngargoyoso sangat memperhatikan norma-norma hukum yang berlaku. Hal tersebut terlihat dari peran aktif masyarakat dalam mengikuti aturan hukum perundang-undangan yang tampak dari keaktifan masyarakat untuk menanyakan aturan hukum pada perangkat desa atau kecamatan yang dianggap sebagai orang-orang yang bekompeten di bidang hukum.
c. Pola Kepemimpinan
Pola kepemimpinan masyarakat sangat percaya pada perangkat desa maupun aparat pemerintahan. Selain itu kepemimpinan juga dipegang oleh tokoh masyarakat seperti pemuka agama dan ketua kelompok tani. Kepercayaan terhadap pemimpin tersebut dikarenakan masyarakat menganggap bahwa pemimpin tersebut merupakan orang-orang yang mampu untuk dijadikan panutan atau teladan dalam bidangnya masing-masing serta pemimpin juga sebagai fasilitator untuk bertanya dan mendapatkan informas
3. Bentuk-bentuk Usaha Tani Sasaran
Secara geografis Kecamatan Ngargoyoso berada di daerah dataran tinggi. Dengan demikian, daerah Ngargoyoso hanya memiliki lahan yang berupa sawah hanya sekitar 10% saja dan hampir 90% sisanya merupakan lahan kering yang berupa perkebunan, tegal dan pekarangan. Adapun bentuk usahataninya adalah sebagai berikut :
Tabel 1.3 Bentuk Usaha Tani, Luas Lahan, dan Jumlah Produksi Per Tahun
Usaha Tani Luas (Ha) Produksi (ton)
Padi
Jagung
Ubi Kayu
Ubi Jalar
Wortel
Bawang Daun
Sawi
Cabe Besar
Alpukat
Durian
Rambutan
Pisang 710
177
282
209
104
107
79
95
1386
554
200
1203 4041,32
587,64
3974,48
5589,08
1237,6
363,8
537,2
149,72
31,4
131,66
7,9
248,275
Sumber : Data Sekunder
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa petani di Kecamatan Ngargoyoso adalah petani buah dan sayur. Hal ini disebabkan karena lahan pertanian di daerah tersebut sangat cocok untuk budidaya tanaman buah dan sayur yang didukung oleh ketinggian tempat, iklim serta tingkat curah hujan setiap tahun sehingga produk yang dihasilkan cukup menjanjikan.
4. Kesediaan Individu Sebagai Demonstrator dan Jumlah Petani Maju
Petani maju merupakan petani yang menjadi teladan atau contoh bagi masyarakat tani lainnya. Petani maju dapat dikatakan sebagai individu kunci (Key Person). Petani maju biasanya dijadikan masyarakat sebagai pimpinan dalam kelompok tani. Petani maju biasanya adalah petani yang telah berhasil mengembangkan usaha taninya. Sedangkan petani pengikut adalah petani yang berusaha menauladani petani maju tersebut. Kerukunanan dan kekeluargaan yang masih kental menjadikan petani pengikut tidak segan untuk bertanya dan meminta petunjuk kepada petani maju yang telah sukses menjalankan usaha taninya. Demikian juga dengan petani maju juga dengan ikhlas memberi pengarahan, bimbingan bahkan mendemonstrasikan pengetahuan atau pengalaman sukses serta keberhasilannya kepada petani pengikut. Secara proporsional jumlah petani maju belum memadai karena dalam satu kecamatan Ngargoyoso hanya terdapat sekitar 150 petani maju dari 11.075 petani yang tersebar dalam 50 dusun di masing-masing kelompok tani.
5. Tingkat Adopsi
Tingkat adopsi masyarakat tani bervariasi menurut golongan taninya. Golongan petani pengikut memiliki tingkat adopsi pada tahap sadar. Kesadaran tersebut terlihat dari kesadaran petani pengikut untuk memenuhi kebutuhannya serta mengembangkan usaha taninya yang ditunjukan melalui usaha untuk mencontoh dari individu kunci sebagai petani maju usaha lain adalah dengan menentukan minat tentang usaha tani yang ingin dikembangkan. Lain halnya dengan petani maju yang memiliki tingkat adopsi yang sangat baik yaitu pada tingkat menerapkan, penerapan petani maju dikarenakan kebutuhan dan pengalaman keberhasilannya dalam usaha taninya.
Pada dasarnya masyarakat di Ngargoyoso antusias terhadap inovasi baru terlihat dari keinginan dan penerapan inovasi baru oleh masyarakat tani. Hal tersebut di dukung dengan karakteristik petani di Ngargoyoso yang selalu menginginkan dan mencoba suatu inovasi. Jadi Penyuluh pertanian berfungsi sebagai pengarah terhadap inovasi yang telah diterapkan oleh masyarakat tani, melalui pengarahan tersebut petani mengetahui cara-cara yang benar terhadap usahatani yang bersifat inovasi untuk memastikan dapat mengadopsi inovasi tersebut.
C. Penyuluhan dan Kelengkapannya
1. Kemampuan Penyuluh, Jumlah Penyuluh, Pengetahuan dan Ketrampilan Penyuluh
Penyuluh sudah mempunyai kemampuan yang cukup tinggi karena mayoritas mereka lulusan perguruan tinggi. Mereka mampu melakukan budidaya tanaman buah dan sayur, pemberian pupuk sesuai dengan dosis anjuran, pengendalian hama dan penyakit serta pengolahan pasca panen.
Jumlah penyuluh di Kecamatan Ngargoyoso sebanyak empat orang yang mengampu sembilan desa sehingga masing-masing penyuluh rata-rata mengampu dua desa.
Pengetahuan dan ketrampilan penyuluh tidak diragukan lagi karena mereka sering mengikuti kegiatan pelatihan sehingga mereka mampu untuk memberikan materi penyuluhan dengan baik kepada masyarakat sasarannya. Dengan demikian jika masyarakat sasaran sedang menghadapi masalah dalam kegiatan usaha taninya maka mereka mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui sharing bersama masyarakat sasaran.
2. Materi Penyuluhan/Pesan
Penyuluh sudah menyampaikan dan menguasai beberapa materi dalam kegiatan penyuluhan sebelumnya diantaranya sebagai berikut :
a. Cara budidaya tanaman buah dan sayur secara tepat
b. Cara pemupukan pada tanaman buah dan sayur sesuai dengan dosis anjuran
c. Pengendalian hama secara terpadu
d. Pengolahan pasca panen
e. Sosialisasi bibit unggul
f. Cara penanaman dengan penggunaan mulsa plastik
3. Sarana dan Prasarana Penyuluhan
Sarana dan prasaran penyuluhan yang ada di Kecamatan Ngargoyoso berupa ruang pertemuan yang ada di setiap balai desa beserta sarana penunjangnya. Selain itu setiap kelompok tani juga mempunyai tempat sekretariatan yang sering digunakan untuk kegiatan penyuluhan. Dengan demikian di Kecamatan Ngargoyoso sudah tersedia sarana dan prasarana yang sangat menunjang untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan jika penyuluhan tersebut harus diadakan di ruangan yaitu meja, kursi, pengeras suara dan sarana ruangan lainnya.
4. Biaya yang Ada
Biaya penyuluhan berasal dari 40% swadaya petani, 30% penyuluh, dan 30% pemerintah (APBD). Dengan tersedianya biaya yang cukup akan memperlancar kegiatan penyuluhan sehingga kesejahteraan petani dan keluarganya dapat meningkat setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini karena produk mereka dapat laku di pasaran dengan harga yang menguntungkan.
D. Keadaan Daerah
1. Musim/Iklim
Daerah Ngargoyoso mempunyai iklim dengan temperatur rata-rata 14-27C, ketinggian 500-1000 mdpl dan curah hujannya adalah 1600 mm/tahun. Dengan demikian dapat diketahui bahwa daerah Ngargoyoso merupakan dataran tinggi dan daerah dingin sehingga sangat cocok untuk budidaya tanaman buah dan sayur. Oleh karena itu mayoritas petani Ngargoyoso merupakan petani buah dan sayur.
2. Keadaan Lapangan (Topografi), Jenis Tanah, Sistem Pengairan dan Pertanaman
Kecamatan Ngargoyoso merupakan salah satu kecamatan dari 17 kecamatan yang ada di kabupaten Karanganyar. Jarak dari ibu kota kabupaten 20,5 km dari arah timur laut. Luas wilayah Kecamatan Ngargoyoso adalah 65,34 km2 dengan ketinggian rata-rata 880 m di atas permukaan laut.
Batas wilayah Kecamatan Ngargoyoso adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Jenawi
Sebelah Selatan : Kecamatan Karangpandan
Sebelah Barat : Kecamatan Mojogedang
Sebelah Timur : Kecamatan Tawangmangu
Luas wilayah Kecamatan Ngargoyoso adalah 65,34 km2. Desa terluas adalah Desa Segorogunung yaitu 17,37 km2 (26,56 %), kemudian Desa Berjo 16,24 km2 (24,85%). Sedangkan yang terkecil adalah Desa Jati Rejo yaitu 2,17 km2 (3,32%) dan Desa Puntukrejo yaitu 2,69 km2 (4,12%)
Luas daerah Ngargoyoso adalah 6.533,942 Ha, yang terdiri dari sawah 689,952 Ha, dan luas tanah kering 5843,990 Ha. Tanah sawah terdiri dari irigasi teknis 16,740 Ha, setengah teknis 199,551 Ha, sederhana 473,261 Ha dan tadah hujan 0,00 Ha. Sementara itu luas wilayah untuk bangunan adalah 836,037 Ha dan luas tegalan/kebun 1.272,248 Ha. Di Kecamatan Ngargoyoso terdapat hutan negara seluas 2.775,980 Ha dan perkebunan seluas 784,680 Ha.
3. Perhubungan Jalan, Listrik dan Telepon
Pembangunan di sektor perhubungan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup berarti dengan adanya perbaikan jalan raya dan juga ditunjang pula penambahan angkutan pedesaan dan perkotaan dan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.
Prasarana perhubungan darat yang ada adalah jalan raya baik jalan besar maupun kecil yang telah diaspal. Sedangkan sarana transportasi yang ada yaitu truk umum, angkutan pedesaan, becak, bus dan ojek.
Prasarana listrik telah menjangkau seluruh daerah di Kecamatan Ngargoyoso. Hal ini dapat dilihat dengan telah berdirinya tiang-tiang listrik yang telah menjangkau seluruh wilayah Ngargoyoso. Demikian juga dengan sarana prasarana telepon. Wartel, dan jaringan telepon selular telah dapat mencapai seluruh wilayah Ngargoyoso.
E. Kebijakan Pemerintah Pusat, Daerah dan Setempat
1. Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan No. 16. Th. 2006 tanggal 18 November 2006.
2. Inpres No. 13 tahun 2005 tentang Harga Dasar Gabah.
3. SK Mentan tentang subsidi benih padi, jagung hibrida dan kedelai tahun 2007.
4. Peraturan Gubernur Jateng No. 68 tahun 2006 tanggal 12 Agustus 2006 tentang Pedoman Umum Gerakan Pembangunan Mandiri Pangan (Gerbang Mapan) Provinsi Jawa Tengah.
5. Program Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Karanganyar tahun 2007 tentang Rencana Intensifikasi Komoditas Tanaman Padi, Palawija, Hortikultura, Komoditas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan.

IV. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

A. Metode Penyuluhan
Metoda adalah adalah cara penyuluh untuk mendekatkan dirinya dengan masyarakat sasaran. Oleh karena itu di dalam setiap pelaksanaan penyuluhan pertanian, setiap penyuluh harus memahami dan mampu memilih metode penyuluhan yang paling tepat sebagai suatu cara yang terpilih untuk tercapainya tujuan penyuluhan yang dilaksanakan.
Berdasarkan pertimbangan pemilihan metode penyuluhan yang meliputi sasaran, penyuluh dan kelengkapannya, keadaan daerah dan kebijakan pemerintah di atas maka metode yang paling tepat untuk diterapkan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah sebagai berikut :
a. Menurut media yang digunakan
Penyuluh menggunakan media lisan dalam menyampaikan materi penyuluhan sehingga penyuluh dapat berbicara dan bertatap muka secara langsung dengan peserta penyuluhan.
b. Menurut hubungan penyuluh dan sasarannya
Metode yang paling tepat adalah komunikasi langsung karena terjadi komunikasi dua arah antara penyuluh dengan peserta penyuluhan. Dengan demikian materi akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh peserta.
c. Menurut keadaan psikologi sosial
Metode yang paling tepat adalah metode pendekatan kelompok karena penyuluh memberikan penyuluhan kepada semua ketua kelompok tani (kontak tani) yang ada di Kecamatan Ngargoyoso dalam waktu yang bersamaan untuk menyampaikan materi yang sama. Kemudian ketua kelompok tani menyampaikan materi tersebut kepada para anggotanya sehingga dapat dipahami oleh semua sasaran.

B. Teknik Penyuluhan
Mengingat pola kepemimpinan masyarakat Ngargoyoso masih sangat percaya pada aparat pemerintahan desa dan para tokoh masyarakat maka teknik yang paling tepat untuk digunakan dalam kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” ini adalah teknik individu kunci (key person). Dimana penyuluh sebaiknya memberikan penyuluhan kepada para ketua kelompok tani karena keberadaan mereka lebih dipercayai dan diakui oleh masyarakat sehingga kegiatan penyuluhan akan berlangsung secara efektif dan efisien. Setelah para ketua kelompok tani itu diberikan penyuluhan, mereka sangat diharapkan untuk menyampaikan informasi yang mereka peroleh kepada para petani. Dengan demikian materi yang disampaikan oleh penyuluh dapat diterima oleh petani dengan tanpa berhadapan langsung dengan penyuluh.
Selain menggunakan teknik individu kunci, penyuluh juga menggunakan teknik diskusi dimana para ketua kelompok tani diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Penyuluh membuka sesi diskusi dan tanya jawab untuk peserta agar mereka mau berpendapat sehingga tercapai kesepakatan bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian masalah dapat terselesaikan dengan adanya tukar pengalaman para ketua kelompok tani yang dianggap berhasil dalam mengelola kegiatan usaha taninya.
C. Alat Bantu Penyuluhan
Di dalam penyuluhan, sarana penyuluhan sangat penting untuk membantu kelancaran pelaksanaan penyuluhan maupun untuk memperjelas materi yang disampaikan agar mudah diingat dan dipahami oleh masyarakat sasaran. Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Alat ini diperlukan untuk mempermudah penyuluh selama melaksanakan kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan/memilih materi penyuluhan atau menerangkan inovasi yang disuluhkan (Mardikanto dan Arip, 2005).
Dalam kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” ini penyuluh menggunakan alat bantu berupa :
1. Lembar Persiapan Menyuluh (LPM)
Berisi tentang urutan kronologis tentang pokok-pokok bahasan yang akan disampaikan selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Adapun urutan kronologisnya sebagai berikut :
a. Pembukaan oleh Kepala Desa
b. Penyampaian materi
c. Pembagian leaflet
d. Evaluasi awal
e. Pengkajian partisipatif diikuti dengan diskusi
f. Istirahat
g. Evaluasi proses
h. Penutup
i. Evaluasi akhir
2. Sarana ruangan (pengeras suara, penata cahaya dan penata ruangan)
Penyuluh menggunakan sarana ruangan karena kegiatan penyuluhan diadakan di dalam ruangan sehingga materi penyuluhan dapat dijangkau oleh seluruh peserta penyuluhan.
3. Olat tulis (transparacy dan spidol)
Penyuluh menggunakan alat tulis untuk membuat materi yang akan disuluhkan sehingga dapat dilihat dan dibaca oleh peserta. Dengan demikian materi dapat dipahami oleh peserta.
4. Overhead projector
Overhead projector digunakan untuk memproyeksikan materi yang sudah ditulis penyuluh dalam transparasi sehingga materi dapat dibaca oleh semua peserta. Selain itu juga akan memudahkan penyuluh dalam menyampaikan materi penyuluhan.
D. Alat Peraga Penyuluhan
Mardikanto (1985) mengartikan alat peraga sebagai alat atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indera manusi, yang berfunsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan.
Dalam kegiatan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani” ini penyuluh menggunakan alat peraba berupa leaflet yang berisi tentang sistem pemasaran usaha tani secara efisien dan optimal yaitu memantau kebutuhan/permintaan pasar dan menjalin kerjasama dengan perusahaan agroinput yang mau menampung hasil usaha tani dengan harga yang menguntungkan petani. Dengan demikian materi yang disampaikan penyuluh akan lebih dipahami oleh peserta.
E. Evaluasi
1. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan
Evaluasi dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada petani tentang metode dan teknik penyuluhan yang digunakan penyuluh. Adapun pertanyaannya sebagai berikut :
a. Menurut Bapak apakah metode yang digunakan penyuluh sudah tepat ?
b. Apakah teknik yang digunakan penyuluh sudah tepat ?
c. Bagaimana tanggapan Bapak mengenai teknik individu kunci ?
Apakah alat bantu yang digunakan penyuluh sudah dapat menjangkau seluruh sasaran ?
d. Apakah alat peraga yang digunakan penyuluh sudah dapat menjangkau seluruh sasaran ?
2. Evaluasi Materi Penyuluhan
Evaluasi dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada peserta apakah mereka sudah memahami materi yang disampaikan penyuluh. Selain itu juga dilakukan pengamatan tentang antusias dan respon petani dalam mengikuti penyuluhan dan menerima materi yang disampaikan. Adapun pertanyaannya sebagai berikut :
a. Sistem pemasaran apa yang sudah Bapak terapkan selama ini ?
b. Adakah hambatan yang Bapak hadapi selama memasarkan hasil usaha tani ?
c. Menurut Bapak bagaimana alternatif sistem pemasaran yang ditawarkan penyuluh ?
d. Apakah Bapa akan menerapkan sistem pemasaran yang ditawarkan penyuluh ?
e. Apakah materi yang disampaikan penyuluh bermanfaat bagi Bapak ?

V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Petani di Kecamatan Ngargoyoso yang mayoritas merupakan petani buah dan sayur sedang mengalami kesulitan dalam memasarkan produk mereka. Oleh karena itu perlu diadakan penyuluhan tentang “efisiensi dan optimalisasi pemasaran hasil usaha tani”.
2. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding dengan jumlah penduduk laki-laki sehingga ketersediaan tenaga kerja perempuan lebih banyak.
3. Tingkat pendidikan penduduk Ngargoyoso masi tergolong rendah karena masih banyak penduduk lulusan SD. Akan tetapi hal tersebut bukan merupakan masalah penghambat dalam penyampaian inovasi baru.
4. Adat kebiasaan yang terdapat di Kecamatan Ngargoyoso antara lain kenduren, kondangan, ziarah, bersih desa, syukuran dan wayangan.
5. Norma yang berlaku di dalam masyarakat Ngargoyoso adalah norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma hukum.
6. Materi yang dipilih penyuluh sudah sesuai dengan kebutuhan petani sasaran.
7. Penyuluh menggunakan metode pendekatan kelompok dalam kegiatan penyuluhan ini dengan mengumpulkan para ketua kelompok tani yang ada di Kecamatan Ngargoyoso.
8. Teknik penyuluhan yang digunakan penyuluh adalah teknik individu kunci dan diskusi karena pola kepemimpinan yang berlaku dalam masyarakat Ngargoyoso masih sangat percaya pada individu kunci dan mau mengikuti apa yang mereka anjurkan.
9. Alat bantu yang dipilih penyuluh adalah lembar persiapan menyuluhan, sarana ruangan, alat tulis serta overhead proyektor.
10. Alat peraga yang dipilih penyuluh berupa leaflet yang berisi tentang sistem pemasaran hasil usaha tani secara efisien dan optimal dengan cara memantau kebutuhan/permintaan pasar dan menjalin kerjasama dengan perusahaan agro input sehingga akan memudahkan petani sasaran untuk menerima materi yang disampaikan oleh penyuluh.
B. Saran
1. Sebaiknya BPP di Kecamatan Ngargoyoso sering mengadakan kegiatan penyuluhan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan petani.
2. Sebaiknya sarana dan prasarana pertanian yang ada di Kecamatan Ngargoyoso seperti KUD lebih difungsikan lagi sehingga dapat mencukupi kebutuhan petani.
3. Sebaiknya sarana dan prasarana untuk kegiatan penyuluhan yang ada di Kecamatan Ngargoyoso lebih ditingkatkan lagi sehingga kegiatan penyuluhan dapat berlangsung lebih efektif.
4. Sebaiknya BPP sering mengadakan kunjungan langsung ke lapang sehingga dapat mengetahui apakah petani sasaran sudah menerapkan materi penyuluhan atau belum dengan demikian masalah yang dihadapi petani sasaran dapat segera terselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2004. Pengembangan Metode Penyuluhan Pertanian dalam Menghadapi Permasalahan Usaha Tani. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Vol. 7 Hal 104.
_______. 2007. Penyuluhan Pertanian. http://www.deptan.go.id. Diakses Selasa, 29 Mei 2007.
Afiff, Faisal. 1990. Strategi Pemasaran. Penerbit Angkasa. Bandung.
Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan RI. Jakarta.
Kartasapoetra. 1991. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
__________ . 1992. Marketing Produk Pertanian dan Industri. Rineka Cipta. Jakarta.
Kotler, Philip. 1995. Manajemen Pemasaran. LP FE Universitas Indonesia. Jakarta.
Nitisemito, Alex. 1992. Manajemen Personalia. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Samsudin, U.S.1982. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Angkasa Offset. Bandung.
Setiana, Lucie. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Stanton, W.J. 1989. Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.
Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.
Tri Cahyono, Bambang. 1995. Strategi Pemasaran Perusahaan Pembiayaan. Badan Penerbit STIE IPWI. Jakarta.
Van den Ban, A.W dan Hawkins, H.S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Winardi. 1981. Manajemen Pemasaran. CV. Sinar Baru. Bandung.
Yusuf et.al. 1999. Analisis Efisiensi Produksi dan Pemasaran Jambu Mete di Kabupaten Flores Timur. Agro Ekonomi. Vol : VI/No. 1. Juni/1999. hal 14-28. Jurusan Sosek Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.

About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    yus said,

    Sip bloknya…kembangkan terus informasinya….


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: