manfaat tanaman jarak selain sebagai pagar

  1. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Krisis energi telah melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Krisis ini terjadi akibat semakin langkanya bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari bahan-bahan yang bersifat non renewable atau tidak dapat diperbarui. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena semakin lama cadangan minyak dunia khususnya Indonesia, akan semakin menipis. Hal tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan bahan bakar minyak yang berasal dari bahan yang dapat diperbarui (renewable) yaitu dengan memanfaatkan tanaman penghasil biodiesel. Beberapa tanaman yang berpotensi untuk menghasilkan biodiesel antara lain kelapa sawit, kelapa, ketela, kedelai, dan jarak pagar. Dari contoh tersebut, jarak pagar merupakan tanaman yang mempunyai potensi tertinggi karena jarak pagar tidak termasuk minyak makan (edible oil) seperti bahan yang lain, sehingga pemanfaatan jarak pagar tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan minyak makan di Indonesia. Selain itu, kadar biodiesel buah jarak bisa mencapai 80% (B-80), lebih tinggi dari kelapa sawit yang hanya 40% (Setyahadi, 2006).

Selama ini tanaman jarak pagar hanya ditanam sebagai pagar dan tidak diusahakan secara khusus. Secara agronomis, tanaman jarak pagar dapat beradaptasi dengan lahan maupun agroklimat di Indonesia bahkan tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada kondisi kering (curah hujan < 500 mm per tahun) maupun pada lahan dengan kesuburan rendah (lahan marjinal dan lahan kritis). Walaupun tanaman jarak tergolong tanaman yang bandel dan mudah tumbuh, tetapi ada permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis saat ini yaitu belum adanya varietas atau klon unggul, jumlah ketersediaan benih terbatas, teknik budidaya yang belum memadai dan sistem pemasaran serta harga yang belum ada standar (Hariyadi, 2005).

Perbanyakan in vitro merupakan salah satu alternatif penyelesaian masalah untuk menyediakan bibit jarak pagar dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Prinsip dari teknik ini adalah bahwa semua bagian tanaman baik berupa sel, jaringan, dan organ  tanaman, dapat menjadi tanaman baru apabila ditumbuhkan dalam kondisi yang sesuai, dengan cara steril.

  1. Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan penyuluhan adalah:

a.  Agar petani dapat mengetahui manfaat dari tanaman jarak dan dapat memanfaatkannya.

b.  Agar petani dapat mengembakbiakkan tanaman jarak dengan kultur jaringan.

C.  Manfaat

Manfaat dari kegiatan penyuluhan tersebut adalah:

  1. Petani mempunyai pengetahuan tentang manfaat tanaman jarak selain sebagai pagar.
  2. Petani mempunyai pengetahuan tentang pengembangbiakan tanaman jarak.
  3. Petani mempunyai keterampilan mengembangbiakkan tanaman jarak dengan cara kultur jaringan.
  1. LANDASAN TEORI
  1. Metode dan Teknik Penyuluhan

Suatu hal penting yang harus selalu diingat oleh penyuluh lapangan dalam memilih metode penyuluhan yaitu keterlibatan petani dalam proses belajar mengajarnya. Dalam menyelenggarakan penyuluhan, penyuluh lapang harus bertingkah laku wajar, tidak berlebihan dan jika mungkin kegiatan belajar mengajar dalam penyelenggaraan penyuluhan harus dilakukan melalui diskusi, praktek demonstrasi yang dilakukan oleh petani, serta partisipasi aktif dari petani (Suhardiyono, 1992).

Dalam kegiatan penyuluhan kita mengenal adanya : penyuluhan pertanian perorangan, penyuluhan pertanian kelompok dan penyuluhan pertanian massal, yang dalam prakteknya menggunakan metode-metode pendekatan, sehingga kita mengenal adanya :

1.Personal approach method (metode pendekatan perorangan)

2.Group approach method (metode pendekatan kelompok)

3.Mass approach method (metode pendekatan massal/umum)

(Kartasapoetra, 1987)

Metode penyuluhan seringkali digolongkan menurut target orang yang menghadiri kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh lapangan. Penggolongan metode penyuluhan ini dapat digolongkan sebagai berikut :

1.  Metode perseorangan

2.  Metode kelompok

3.  Metode massa

(Suhardiyono, 1992).

Beragam teknik penyuluhan menurut Setiana (2005), diantaranya adalah kunjungan rumah, kunjungan ke lahan usaha tani, surat menyurat, hubungan telepon, kontrak informal, magang, dan lain sebagainya. Teknik lain yang diungkapkan adalah temu karya, demonstrasi cara, demontsrasi hasil, karya wisata, kursus tani, temu karya, temu lapang, temu usaha, mimbar sarasehan, perlombaan, dan lain sebagainya.

Teknik individu kunci sangat efektif dan efisien sebab :

1.  Penyuluh tidak perlu berhadapan langsung dengan seluruh warga masyarakat sehingga menghemat waktu dan biaya.

2.  Penyuluhan kepada masyarakat lebih efektif karena dilakukan sendiri oleh individu kunci yang sudah dikenal dan diakui sebagai panutan yang baik oleh masyarakat setempat.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Metode adalah cara yang didalam fungsi kegiatannya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Metode penyuluhan pertanian berarti cara pemberian atau bentuk paelaksanaan penyuluhan pertanian. Metode yang digunakan dalam penyuluhan pertanian dapat dibagi dalam tiga metoda:

1.  Metoda Penyuluhan Pertanian Massal

2.  Metoda Penyuluhan Pertanian Kelompok

3.  Metoda Penyuluhan Pertanian Perorangan

(Samsudin, 1982).

  1. Budidaya Jarak dengan Cara Kultur Jaringan

Tanaman jarak pagar termasuk famili Euphorbiaceae, satu famili dengan karet dan ubi kayu. Klasifikasi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut :

Divisi                : Spermatophyta

Subdivisi          : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Euphorbiales

Famili               : Euphorbiaceae

Genus              : Jatropha

Spesies            : Jatropha curcas L.

Tanaman jarak pagar berupa perdu dengan tinggi 1-7 m, bercabang tidak teratur. Batangnya berkayu, silindris, dan bila terluka mengeluarkan getah (Hambali, 2006).

Penggambaran umum morfologi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut. Daunnya berupa daun tunggal, berlekuk, bersudut 3 atau 5, tulang daun menjari dengan 5 – 7 tulang utama, warna daun hijau (permukaan bagian bawah lebih pucat dibanding bagian atas).  Panjang tangkai daun antara 4 – 15 cm.  Bunga berwarna kuning kehijauan, berupa bunga majemuk berbentuk malai, berumah satu.  Bunga jantan dan bunga betina tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan, muncul di ujung batang atau ketiak daun.  Buah berupa buah kotak berbentuk bulat telur, diameter 2 – 4 cm, berwarna hijau ketika masih muda dan kuning jika masak.  Buah jarak terbagi 3 ruang yang masing – masing ruang diisi 3 biji.  Biji berbentuk bulat lonjong, warna coklat kehitaman.  Biji inilah yang banyak mengandung minyak dengan rendemen sekitar 30 – 40 %                      (Hariyadi, 2005 )

Pemanfaatan minyak jarak (Jatropha curcas L.) sebagai bahan bio-diesel merupakan alternatif yang ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak dan penghematan penggunaan cadangan devisa. Minyak jarak pagar selain merupakan sumber minyak terbarukan (renewable fuels) juga termasuk non edible oil sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit dan minyak jagung. Secara agronomis tanaman jarak pagar dapat beradaptasi dengan lahan dan agroklimat di Indonesia, bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal/kritis. Akan tetapi ada permasalahan yang dihadapi, yaitu belum adanya varietas unggul dan teknik budidaya yang memadai (Dwimahyani, 2005).

Tanaman jarak pagar dapat diperbanyak melalui kultur jaringan (in vitro). Dengan cara ini, dapat diperoleh bibit jarak dengan jumlah banyak pada waktu yang bersamaan. Menurut Prihandana dan Hendroko (2006) beberapa kelebihan cara memperbanyak tanaman jarak dengan kultur jaringan adalah sebagai berikut :

1.  Mampu menggandakan tanaman lebih banyak

2.  Tidak tergantung pada iklim dan cuaca

3.  Bisa menghasilkan tanaman yang bebas cendawan, bakteri, virus, dan hama penyakit

4.  Mampu mempertahankan sifat baik tanaman induk dan menekan genetic erosion

5.  Tidak merusakkan percabangan tanaman yang dipotong karena menggunakan setek batang

6.  Tidak membutuhkan lahan yang luas untuk pembibitan dan hanya butuh sedikit tenaga kerja

Perbanyakan in vitro tanaman jarak pagar dengan penggandaan tunas tunas aksilar dari tunas  pucuk, dengan panjang sekitar 0,7 cm telah berhasil dilakukan. Proliferasi tunas pucuk dilakukan dalam medium Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan Benziladenin (BA) dikombinasikan dengan indole-3-butiric acid (IBA) pada konsentrasi yang berbeda. Media MS dengan penambahan 2,22 μM BA dan 0,049 μM IBA menghasilkan multiplikasi tunas terbaik yaitu sekitar 5,9 tunas dari tunas aksilar pucuk dalam waktu 6 minggu (Thepsamran et al., 2005).

Metode perbanyakan yang efisien dengan memanfaatkan eksplan tunas pucuk telah dikembangkan untuk tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.), yang dikenal sebagai tanaman obat, juga tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tunas pucuk berproliferasi dalam medium MS dengan penambahan ZPT BAP (2 mg/l) dan IAA (0,5 mg/l), juga dengan penambahan adenin sulphate, glutamine dan arang aktif. Tunas in vitro berakar dalam perlakuan IBA (0,5 – 5,0 mg/l) yang ditambahkan pada media ½ MS. Hasil tertinggi dari induksi akar didapat pada perlakuan dengan konsentrasi IBA 3,0 mg/l                                       (Rajore dan Batra, 2005).

Di dalam tubuh tanaman terdapat hormon tumbuh yaitu senyawa organik yang jumlahnya sedikit dan dapat merangsang ataupun menghambat berbagai proses fisiologis tanaman. Di dalam tanaman, senyawa organik ini jumlahnya hanya sedikit, sehingga diperlukan penambahan hormon dari luar. Hormon sintetis yang ditambahkan dari luar tubuh tanaman disebut zat pengatur tumbuh (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Apabila komposisi zat kimia dan zat tambahan di dalam medium yang digunakan cocok, maka akan terjadi organogenesis, yaitu terbentuknya tunas atau akar. Zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan adalah auksin dan sitokinin. Auksin dan sitokinin dapat diberikan bersama-sama dalam medium biakan. Auksin yang digunakan adalah IBA (Indole Butiric Acid), sedangkan sitokinin yang digunakan adalah BA (Benzil Adenin). Menurut Hendaryono dan Wijayani (1994), pada pemberian auksin dengan kadar yang tinggi, diferensiasi kalus cenderung ke arah pembentukan primordia akar, sedangkan pada pemberian sitokinin yang relatif tinggi konsentrasinya, diferensiasi kalus cenderung ke arah pembentukan primordia batang atau tunas.

  1. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN
  1. Sasaran
  1. Menurut Golongan Umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan

Tabel 1.   Jumlah penduduk se-Kecamatan usia 10 tahun keatas yang bekerja di sektor pertania tahun 2004

No Jenis Lapangan Usaha Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Pertanian tanaman pangan 3171 1949 5120
2. Perkebunan 9 4 13
3. Perikanan 24 9 33
4. Peternakan 208 42 250
5. Pertanian lainnya 238 168 406
Jumlah 3650 2172 5822

Sumber : Kecamatan Mojolaban Dalam Angka Tahun 2004

Dari Tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari 76.808 jiwa penduduk Kecamatan Mojolaban terdapat 5.822 orang yang bermata pencaharian di sektor pertanian. Mayoritas petani bekerja disub sektor pertanian tanaman pangan. Hal ini disebabkan karena lahan di kecamatan Mojolaban lebih cocok digunakan untuk membudidayakan tanaman pangan.

Menurut usia dan jenis kelamin sasaran penyuluhan, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok. Yaitu :

a. Petani Dewasa yang mencakup petani laki-laki dan perempuan yang berusia 45 tahun keatas,

b. Wanita Tani, yang mencakup petani-petani wanita saja dari berbagai usia

c. Taruna Tani, yang mencakup petani-petani muda yang berusia antara 17-25 tahun atau belum menikah.

Tingkat pendidikan sasaran penyuluhan di kecamatan mojolaban beragam. Ada yang hanya lulus SD/SR maupun yang sudah sarjana.

  1. Adat kebiasaan, norma dan pola kepemimpinan

Sasaran penyuluhan di kecamatan Mojolaban sebagian besar sudah tidak menjalankan adat kebiasaan dan norma-norma yang dianut oleh petani jaman dahulu. Adat yang dahulu biasa dilakukan misalnya kenduri saat bulan suro.

  1. Bentuk-bentuk usahatani sasaran

Bentuk usahatani yang dijalankan oleh petani sasaran adalah usahatani campuran. Yaitu berorientasi subsisten dan komersil. Sehingga hasil panen sebagian besar dijual dan tetap menyisihkan hasil panennya untuk dikonsumsi sendiri.

  1. Kesediaan individu menjadi demonstrator dan jumlah petani maju

Sebagian besar sasaran di kecamatan mojolaban mau untuk menjadi demonstrator ketika kegiatan penyuluhan dilaksanakan. sehingga dapat disimpulkan bahwa petani-petani di kecamatan mojolaban hampir seluruhnya merupakan petani maju.

  1. Tingkat adopsi

Berdasar penjelasan di poin 4, dapat diketahui bahwa tingkat adopsi sasaran sudah di tinggi. Hal ini dibuktikan ketika penyuluh mensosialisasikan suatu inovasi, maka sasaran akan sangat antusias untuk mencoba di lahan pertaniannya. Namun, untuk menerapkannya dibutuhkan waktu yang cukup lama.

  1. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan

Kegiatan penyuluhan di kecamatan mojolaban dilaksanakan dua minggu sekali atau dalam satu bulan terdapat dua kali penyuluhan di lapang.

  1. Penyuluhan dan Kelengkapannya
  1. Kemampuan penyuluh, jumlah penyuluh, pengetahuan dan keterampilan penyuluh.
  2. Materi penyuluhan

Materi yang akan disampaikan pada kegiatan penyuluhan ini adalah budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan. Materi yang akan disampaikan meliputi alat, bahan dan cara melaksanakan kultur jaringan tanaman jarak.

  • Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi eksplan jarak pagar berupa tunas pucuk, larutan stok (terdiri atas hara makro, hara mikro, vitamin, dan ZPT IBA serta BA), agar-agar, gula, NaOH 1 N dan HCl 1 N, aquades, sabun cuci, larutan chlorox (sunclin), alkohol, betadine.

  • Alat

Alat yang digunakan dalam  penelitian ini adalah botol-botol kultur, Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), petridish, spiritus (bunsen), botol semprot, autoklaf, magnetic stirrer, pH meter, gelas ukur, pipet, Plastik PP 0,03 mm, karet, tissue, kertas label, rak kultur, peralatan diseksi (pinset besar/kecil, pisau pemes, gunting eksplan).

  • Cara melakukan kultur jaringan tanaman jarak
  1. Sterilisasi botol  dan alat

Alat-alat yang harus disterilkan adalah botol kultur, petridish, skalpel, pinset, dan pisau pemes. Alat-alat tersebut dicuci sampai bersih lalu dikeringkan. Setelah kering, baru dimasukkan ke dalam autoklaf  pada tekanan 1,5 kg/cm2 selama 45 menit.

  1. Pembuatan larutan stok

Pembuatan larutan stok dengan cara menimbang bahan-bahan kimia sesuai komposisi media MS dan mengencerkannya dengan aquades. Larutan tersebut diaduk sampai homogen dengan magnetic stirrer, lalu dimasukkan dalam botol dan disimpan dalam refrigerator

  1. Penyiapan media

Media yang digunakan adalah media MS. Dalam setiap pembuatan media, dibuat ¼ liter (250 ml), untuk 10 botol kultur. Pembuatannya dengan cara mencampurkan larutan stok dengan gula 7,5 g kemudian dilarutkan dengan aquadest sampai 250 ml. Larutan dikondisikan pada pH 5,7-5,8 dengan menambahkan NaOH untuk menaikkan pH dan HCl untuk menurunkan pH. Larutan ditambah agar-agar 2 g, kemudian diaduk dengan magnetic stirrer hingga mendidih. Larutan dituangkan ke dalam botol kultur 25 ml/botol, kemudian ditutup dengan plastik PP. Media dimasukkan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi dengan tekanan 1,5 psi selama 45 menit. Botol-botol kultur berisi media selanjutnya disimpan pada rak-rak kultur.

  1. Sterilisasi eksplan

Eksplan yang digunakan berasal dari bagian tunas pucuk tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)  yang berasal dari biji yang telah disemai berumur 2 bulan. Eksplan dipotong sekitar 5 cm dan direndam dalam aquades selama semalam untuk menghilangkan getah dan zat lain yang akan menghambat pertumbuhan tunas. Setelah itu, bagian tunas pucuk sekitar 2 cm dipotong dan kembali direndam dalam aquades selama 24 jam lagi untuk menghilangkan sisa getah.  Tahapan selanjutnya adalah melakukan sterilisasi dengan larutan Chlorox selama beberapa detik.

  1. Penanaman eksplan

Penanaman eksplan dilakukan dalam LAF. Botol kultur dipanasi terlebih dahulu di bagian mulut botol untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Tutup botol dibuka dengan hati-hati lalu eksplan ditanam di atas media dengan pinset steril. Untuk menjaga sterilisasi dari alat, maka skalpel dan pinset selalu dipanaskan sebelum digunakan. Sebelum ditutup, mulut botol dan tutup botol dipanaskan kembali. Setelah itu, botol diberi label perlakuan dan tanggal penanamannya.

  1. Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan dengan cara menyemprotkan alkohol 90% ke botol-botol kultur setiap 2 hari sekali.

  1. Sarana dan prasarana penyuluhan
  2. biaya yang ada
  1. Keadaan Daerah

Kecamatan Mojolaban terletak di dataran tinggi, dengan tinggi 104 m diatas permukaan laut. Jarak Ibukota dengan desa bervariasi terdekat Balai Desa Palur dengan jarak 1 Km dan terjauh Balai desa Kragilan dengan jarak 4 Km. Luas daerah Kecamatan Mojolaban seluas 3.655 Ha terdiri dari 15 desa. Dengan luas sawah 2.250 Ha dan 8 Ha tanah tegal. Adapun batas-batas Kecamatan Mojolaban :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Karanganyar

b. Sebelah Timur             : Kabupaten Karanganyar

c. Sebelah Selatan           : Kecamatan Polokarto

d. Sebelah Barat : Kodya Surakarta

Untuk iklim sendiri Kecamatan Mojolaban dalam keadaan normal dengan rata- rata curah hujan dalam 1 tahun 116,75mm. Berdasarkan Semit dan Fergunson, iklim di Kecamatan Mojolaban termasuk daerah tipe iklim golongan C atau termasuk daerah basah. Hal ini didasarkan dari perhitungan bulan basah dan bulan kering. Bulan basah 6 bulan dan kering 6 bulan.

Jenis tanah di Kecamatan Mojolaban bermacam-macam. Hal ini dijelaskan sebagai berikut:

Aluvial : Triyagan, Sapen, Kragilan, Klumprit, Cangkol, Bekonang, Demakan,   Joho, Gadingan.

Grumusol : Laban, Plumbon, Palur, Dukuh, Wirun, Tegalmade.

Untuk sistem pengairan di Kecamatan Mojolaban adalah sudah menggunakan saluran irigasi. Kondisi pelaksanaan pola tanam di Kecamatan Mojolaban masih belum sesuai anjuran, kecuali wilayah yang karena kondisi irigasi yang belum sempurna justru telah melaksanakan pola tanam dengan baik. Hal ini disebabkan oleh karena faktor kondisi atau alam yang mengaturnya pada daerah irigasi yang baik para petani berkecenderungan menanam padi terus menerus sepanjang tahun. Apabila terpaksa menanam padi terus- menerus disarankan agar disiplin melaksanakan pola gilir varietas, dengan maksud pengendalian serangan hama dan penyakit adalah palawija- padi atau palawija-padi- palawija. Untuk tanah tegalan, sepanjang tahun palawija dilaksanakan dengan sistem tumpang sari.

Untuk sarana meningkatkan kelancaran arus lalu lintas adalah harus ditunjang adanya sarana dan prasarana perhubungan yang memadai. Faktor yang terpenting adalah panjang jalan. Kecamatan Mojolaban mempunyai panjang jalan 255 km yang terdiri dari jalan aspal, jalan diperkeras dan jalan yang masing-masing 184 km, 38 km dan 33 km, sekitar 72,12%, 14,90%, dan 12,98%.

Untuk menunjang arus informasi, Kecamatan Mojolaban mempunyai pelanggan telepon sekitar 985 sambungan. Desa yang mempunyai sambungan telepon/ pelanggan telepon adalah di Desa Bekonang 146 pelanggan dan Cangkol 125 pelanggan.  Untuk sarana komunikasi terdapat 1 kantor pos, yang terdapat di desa Wirun yang melayani pengiriman barang/ uang serta surat menyurat guna menunjang adanya arus informasi dan komunikasi.

  1. Kebijakan Pemerintah

Terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang digunakan di Kecamatan Mojolaban. Pada kebijakan tingkat pusat (nasional) terdapat program P2KP yang bertujuan meningkatkan produksi padi hingga 20 ton guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sedang kebijakan dari Kabupaten Sukoharjo sendiri adalah mencegahan dan pemberantasan Flu Burung atau Avian Influenza. dimana telah terdapat korban meninggal akibat flu burung di Desa Sapen Kecamatan Mojolaban. Sehingga pemerintah kabupaten memprioritaskan sosialisasi, pengenala dan pencegahan flu burung kepada seluruh masyarakat agar tidak terdapat korban lagi.

Selain itu terdapat beberapa kebijakan-kebijakan pemerintah yang dicantumkan dalam Programa Penyuluhan Pertanian BPP Tani Budaya Kecamatan Mojolaban tahun 2006. yaitu :

a)      Upaya pencapaian tingkat produktivitas, produksi dan pendapatan petani dilakukan terutama melalui Pola Supra Insus

b)     Komoditas yang dikembangkan pada wilayah Supra Insus adalah komoditas prioritas dan strategis yang teknologinya tersedia, sarana produksi dan pemasarannya terjamin.

c)      Partisipasi petani dalam intensifikasi pertanian ditingkatkan dengan pembudidayaan RDK, RDKK, mengusahakan pemanfaatan fasilitas Kredit Ketahanan Pangan (KKP).

d)     Penyelenggaraan musyawarah/ pertemuan untuk menyusun perencanaan dan penetapan cara pemecahan masalah guna memperlancar pelaksanaan program, seperti musyawarah kelompok tani, musyawarah antar kontak tani (KTNA), temu lapang, mimbar sarasehan, demplot percontohan, penyebaran informasi pelatihan dan studi banding serta rapat koordinasi.

Intensifikasi pertanian tahun 2006 diselenggarakan dalam wujud kegiatan yang meliputi :

a)        Gerakan operasional dari berbagai program penyuluhan pertanian berdasarkan pola keputusan Bupati Sukoharjo yang dijabarkan dalam program penyuluhan Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo, dimana pelaksanaannya tergambar dalam program pertanian cabang Dipertan Kecamatan Mojolaban dan BPP Tani Budaya Kecamatan Mojolaban.

b)       Gerakan pembinaan dan penyuluhan pertanian serta pelayanan kepada petani/ kelompok tani oleh penyuluh pertanian, agar petani mengerti dan mengadopsi paket teknologi spesifik lokasi yang dianjurkan.

c)        Pembinaan kelompok tani dan koperasi kelompok tani, diarahkan menuju keterpaduan dan kemitraan usaha antara koperasi Kelompok tani dan kelompok tani dalam mengembangkan potensi pertanian di wilayah kelompok tani masing-masing.

d)       Pengadaan dan penyaluran sarana produksi pertanian serta penyaluran dan pengendalian kredit yang dilakukan secara terkoordinir oleh KUD, KCD, PPL dan Kelompok Tani, guna mewujudkan ketahanan pangan melalui pendekatan sistem kewaspadaan produksi dan ketersediaan pangan.

e)        Pembinaan dalam menggerakkan partisipasi anggota kelompok tani dan koperasi kelompok tani guna mewujudkan ketahanan pangaan melalui pendekatan sistem kewaspadaan produksi dan ketersediaan pangan yang berwawasan agribisnis.

  1. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN
  1. Metode Penyuluhan

Metode adalah cara penyuluh untuk mendekatkan dirinya dengan masyarakat sasaran. Dalam kegiatan penyuluhan tentang budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan di Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo metode penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

1. Metode penyuluhan menurut media yang digunakan :

  1. Media lisan : disampikan secara langsung kepada sasaran melalui tatap muka atau pertemuan. Pemilihan media lisan ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam menerima informasi, dengan adanya penyampaian informasi secara langsung (tatap muka) maka sasaran dapat dengan cepat dan jelas memahami maksud pesan tersebut. Penggunaan pupuk berimbang dapat dijelaskan secra lisan oleh penyuluh, dan jika ada hal-hal yang kurang jelas dapat langsung ditanyakan oleh penyuluh ditempat pertemuan.
  2. Media cetak : baik berupa gambar dan atau tulisan (dalam hal ini yang digunakan adalah folder) yang dapat dibagikan kepada sasaran. Dengan tambahan gambar serta warna yang menarik, maka akan dapat merangsang sasaran untuk membaca. Mengenai keadaan sasaan disana, walaupun sebagian besar sudah dapat menbaca dan menulis, namun masih ada juga petani yang belum dapat membaca dan menulis, sehingga penyampaian dengan menggunakan gambar ataupun sampel akan lebih mudah diterima daripada melalui tulisan. Sehingga bagi sasaran yang buta aksara, dengan adanya gambar-gambar maka akan mudah memahami isi pesan.

2. Metode penyuluhan menurut keadaan psikososial sasarannya

Metode yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan di kecamatan Mojolaban adalah dengan metode pendekatan kelompok yaitu manakala penyuluh berkomunikasi dengan sekelompok sasaran pada waktu yang sama, seperti pada pertemuan di lapangan, penyelenggaraan latihan, dll. Pendekatan kelompok juga dapat dilakukan ketika pertemuan kelompok tani. Di Kecamatan Mojolaban sudah rutin dilakukan pertemuan kelompok tani yaitu setiap dua minggu sekali sehingga lebih efektif jika penyampaian pesan tentang budidaya tanaman jarak dengan kultur jaringan dilakukan pada saat pertemuan kelompok tani. Metode ini dilakukan karena dalam masyarakat petani sudah tidak ada pola kepemimpinan.

  1. Teknik Penyuluhan

Teknik  penyuluhan adalah cara penyuluh untuk mendekatkan materi kepada sasarannya. Dalam kegiatan penyuluhan penggunaan pupuk berimbang N, P, K di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo teknik penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

  1. Demonstrasi

Teknik demonstrasi seringkali dipandang sebagai teknik yang paling efektif, karena teknik ini sesuai dengan pepatah “seeing is believing” yang dapat diartikan sebagai “dengan melihat kita menjadi percaya”. Bila mereka sudah percaya, mereka pasti lebih cepat terdorong untuk mencoba dan menerapkannya. Teknik demonstrasi tentang budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan dapat dilakukan misalnya dengan cara mendemonstrasikan bagaimana cara membuat media, memperlihatkan bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam membudidayakan tanaman jarak dengan cara kultur jaringan.

  1. Diskusi

Teknik ini memiliki kesempatan lebih luas untuk menyampaikan informasi baik berupa pendapatnya sendiri maupun tanggapannya atas informasi yang disampaikan oleh penyuluh atau oleh anggota penyuluhan lainnya. Disini sasaran boleh mengkritisi tentang budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang telah mereka peroleh dari sumber yang lain. Dengan begitu baik petani/penyuluh dapat bertukar pengetahuan dan pikiran. Jadi disini penyuluh tidak mutlak memberikan informasi kepada sasaran, sasaran boleh setuju atau tidak setuju atas informasi tersebut asal masih dilingkup yang dimaksud.

  1. Alat Bantu Penyuluhan

Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seornag penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan.

Alat bantu yang digunakan oleh penyuluh dalam kegiatan penyuluhan ini adalah alat tulis dan sarana ruangan yang berupa pengeras suara karena penyuluhan dilaksanakan di balai desa tidak di lapangan.

  1. Alat Peraga Penyuluhan

Mardikanto (1985) mengartikan alat peraga sebagai alat atau benda yang dapat damati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indera manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materim penyuluhan lebih mudah dipahami dan diterima oleh oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan.

Alat peraga yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan tentang budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan di Kecamatan Mojolaban adalah berupa:

  1. Benda (sampel)

Benda (sampel) yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan kali ini adalah eksplan tanaman jarak dan beberapa alat yang diperlukan dalam melakukan kultur jaringan ( pisau, petridis).

  1. Barang Cetakan

Sebagai alat peraga penyuluhan, barang cetakan dapat berupa gambar maupun tulisan yang tertuang dalam folder. Folder berisi tentang tulisan dan gambar tanaman jarak. Tulisan yang termuat dalam folder yaitu bahan alat yang diperlukan dalam melakukan kultur jaringan tanaman jarak serta cara-cara melakukan kultur jaringan tersebut.  Penggunaan folder sebagai alat peraga karena folder sebagai media komunikasinya. Dengan media cetak yang berisi gambar dan tulisan yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menarik minat sasaran untuk menbaca dan memahami isinya. Selain itu media cetak yang berupa folder memerlukan biaya yang relatif sedikit, sehingga dapat menekan jumlah pengeluaran dalam kegiatan penyuluhan.

  1. Evaluasi
  1. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan

Evaluasi atau penilaian merupakan tahap akhir dari organisasi kegiatan, maksud dari evaluasi dari suatu usaha antara lain :

1.  Untuk menentukan arah penyempurnaan pekerjaan.

2.  Untuk memberikan gambaran kemajuan usaha

3.  Untuk memberikan kepuasan kepada pemimpin setempat mengenai apa yang telah dicapai.

(Wiriaatmadja, 1973).

Beberapa hal yang merupakan pokok-pokok pengertian tentang evaluasi yang mencakup :

1.  Kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, peristiwa, gejala alam, atau sesuatu obyek.

2.  Membandingkan segala sesuatu yang kita amati dengan pengalaman/pengetahuan yang telah kita ketahui dan atau miliki.

3.  Melakukan penilaian, atas segala sesuatu yang diamati, berdasarkan hasil perbandingan/pengukuran yang kita lakukan.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Selesai menjalankan tugas penyuluhan pada hari/tanggal , tempat dan kegitan tertentu sesuai dengan program kerjanya, penyuluh harus dapat mengevaluasi hasil kerja dalam penyuluhan pertanian tersebut. Mengevaluasi hasil kerja berarti menilai/menaksir hasil kerja penyuluhan itu, apakah menimbulkan kesan, kesadaran, minat untuk mengikuti dan melaksanakan pesan-pesan yang terangkum dalam materi penyuluhan (Kartasapoetra, 1987).

Ragam evaluasi antara lain :

  1. Evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
  2. On going evaluation dan ex-post evaluation
  3. Evaluasi intern dan Evaluasi ekstern
  4. Evaluasi teknis dan Evaluasi ekonomi
  5. Evaluasi program, pemantauan, dan Evaluasi dampak program
  6. Evaluasi proses dan Evaluasi hasil

(Departemen Kehutanan, 1996).

Evaluasi yang dilaksanakan adalah evaluasi proses. Yang dapat dievaluasi pada proses kegiatan penyuluhan antara lain :

  1. Antusiasme petani

Antusiasme petani dalam melakukan kegiatan penyuluhan dapat dinilai melalui jumlah kehadiran petani dalam kegiatan penyuluhan.

  1. Diskusi petani

Sejauh mana diskusi itu berlangsung, apakah interaktif atau tidak, dapat dilihat dari ada atau tidaknya umpan balik yang disampaikan petani ketika penyuluh menjelaskan suatu informasi.

  1. Kektifan petani menjadi demonstrator.

Keaktifan petani menjadi demonstrator dapat dilihat dari berapa banyak jumlah petani yang mau menjadi demonstrator saat dilaksanakan kegiatan penyuluhan.

  1. Evaluasi Materi Penyuluhan.

Evaluasi yang dapat dilakukan adalah evaluasi hasil yang dapat dilihat dari:

  1. Aspek Kognitif

Aspek kognitif dapat dinilai melalui pengetahuan dan pemahaman mengenai informasi yang disampaikan yaitu mengenai budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan. Selain itu juga dapat dilihat melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan penyuluh kepada petani, dari jawaban-jawaban petani tersebut maka akan dapat menunjukkan seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman mereka tentang budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan.

  1. Aspek Afektif

Aspek afektif dapat dinilai melalui kemauan petani untuk melakukan kegiatan budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan. Apakah setelah dilakukan kegiatan penyuluhan ini petani mau melakukan membudidayakan tanaman jarak dengan cara kultur jaringan.

  1. Aspek Psikomotorik

Aspek psikomotorik dapat dilihat melalui ketrampilan dalam menbudidayakan tanaman jarak dengan cara kultur jaringan. Apakah petani ketika melakukan budidaya tanaman jarak dengan cara kultur jaringan sudah tepat atau belum..

  1. Alternatif Metode dan Teknik Penyuluhan
  1. V. PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan:

  1. Penduduk Kecamatan Mojolaban sebagian besar bekerja disektor pertanian khususnya sub sektor pertanian.
  2. Tingkat pendidikan petani Kecamatan Mojolaban beragam mulai dari lulusan SD/SR sampai sarjana.
  3. Tingkat adopsi petani Kecamatan Mojolaban sudah tinggi dibuktikan dengan petani sudah mau mencoba materi yang diberikan oleh penyuluh.
  4. Petani sebagian besar sudah tidak melakukan adat istiadat yang yang dilaksanakan oleh masyarakat pada jaman dahulu.
  5. Salah satu cara untuk mengatasi krisis energi di Indonesia dengan memanfaatkan energi bio diesel yang dihasilkan oleh tanaman jarak.
  6. Sebaiknya petani melaksanakan budidaya tanaman jarak
  7. Penyuluhan yang dilaksanakan tidak hanya satu kali saja agar petani lebih bisa memahami dan bisa menerapkan materi yang diperolehnya.
  8. Semua setani bersedia untuk menjadi demonstrator agar petani mempunyai keterampilan membudidayakan tanaman jarak dengan cara kultur jaringan.
  1. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

Hambali, E. 2006. Jarak Pagar, Tanaman Penghasil Biodiesel. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hendaryono, D.P.S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta

Kartasapoetra, A. G. 1987. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.

Mardikanto, Totok. 2003. Redefinisi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. PUSPA. Surakarta.

Prihandana, R. dan R. Hendroko. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Rajore, S. and A. Batra. 2005. Efficient regeneration via shoot tip explant in Jatropha curcas L. J. Plant Biochemistry & Biotechnology 14 : 73-75.

Samsudin, US. 1982. Dasar-Dasar Penyuluhan Dan Modernisasi Pertanian. Angkasa affset. Bandung.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Wiriaatmadja, Soekandar, M. A. 1973. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. CV Yasaguna. Jakarta.

About these ads

1 Tanggapan so far »

  1. 1

    citra berkata,

    Bagus… isi nya lengkap :)


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: