METODE TEKNIK PENYULUHAN cara budidaya tanaman mahkota dewa

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pada masa ini, peralihan pemanfaatan lahan dari lahan untuk pertanian ke sektor lain tidak bisa terelakkan lagi. Hal tersebut memaksa kita untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk hal-hal yang bermanfaat. Pekarangan rumah yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu hal yang berguna belum diterapkan oleh sebagian besar penduduk negara ini. Dalam hal ini, sebenarnya dengan pekarangan yang ada, bisa dijadikan tempat untuk menanam tanaman khususnya tanaman obat yang dapat digunakan untuk keluarga.

Mahkota dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian 10-1.200 meter dari permukaan laut. Perbanyakan pohon bisa dilakukan secara vegetatif dan secara generatif.

Mahkota dewa bisa dimanfaatkan dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk tidak diolah atau dimakan langsung mentah-mentah, seperti memakan jambu biji.Pemanfaatan seperti ini sangat berbahaya, efek sampingnya cukup serius dari luka-luka di bibir dan di mulut, mati rasa di lidah, sampai mabuk dan keracunan. Kedua, dalam bentuk sudah diolah menjadi ramuan-ramuan.

Seorang ahli farmakologi dari fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, salesma, dan sesak napas. Penelitian ini juga membuktikan bahwa mahkota dewa mapu berperan seperti oxytosin atau sistosinon yang dapat memacu kerja oto rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar (Harmanto, 2003). Begitu banyak manfaat atau khasiat dari mahkota dewa dan didukung cara budidaya tanaman tersebut yang relatif mudah.

  1. B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Petani dapat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat untuk menanam tanaman mahkota dewa.
  2. Petani dapat mengetahui cara budidaya tanaman mahkota dewa.
  3. Petani memiliki kemauan untuk menanam mahkota dewa.
  1. C. Manfaat

Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Petani mempunyai pengetahuan dalam membudidayakan tanaman mahkota dewa.
  2. Petani mempunyai keinginan untuk menanam mahkota dewa.
  3. Petani memperoleh manfaat dari tanaman mahkota dewa.
  1. II. LANDASAN TEORI

  1. A. Metode dan Teknik Penyuluhan

1.  Metode Penyuluhan

Dari metode-metode pendekatan yang dilancarkan sehubungan dengan kegiatan penyuluhan, kita dapat mengetahui metode mana yang paling efektif dan kurang efektif, metode mana yang memerlukan perlakuan-perlakuan yang intensif dan mana pula yang kurang intensif.

1)      Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan masal menyampaikan para petani yang mengikuti/menyimaknya ke tahap kesadaran (menaruh perhatian dan mengetahui materi penyuluhan) akan tetapi belum memahaminya secara mendalam.

2)      Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan kelompok mulai menarik para petani ke tahapan minat, tahapan menilai atau mempertimbangkan bahkan mencobanya pula.

3)      Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan perorangan akan menyampaikan petani ke tahap penerapan. Ia mulai menerapkan teknologi baru yang diajarkan/dikembangkan penyuluh.

(Kartasapoetra, 1987).

Bertolak dari pemahaman tentang pengertian “penyuluhan” seperti itu pemilihan metode penyuluhan dapat dilaksanakan dengan melakukan pendekatan-pendekatan seperti berikut :

1)      Metode penyuluhan dan proses komunikasi

  1. Metode penyuluhan menurut media yang digunakan
  2. Metode penyuluhan menurut penyuluh dan sasarannya
  3. Metode penyuluhan menurut keadaan psikososial sasarannya

2)      Metode penyuluhan dalam pendidikan luar sekolah

3)      Metode penyuluhan dalam pendidikan orang dewasa

(Departemen Kehutanan, 1996).

2. Teknik  Penyuluhan

Teknik individu kunci sangat efektif dan efisien sebab :

1)      Penyuluh tidak perlu berhadapan langsung dengan seluruh warga masyarakat sehingga menghemat waktu dan biaya.

2)      Penyuluhan kepada masyarakat lebih efektif karena dilakukan sendiri oleh individu kunci yang sudah dikenal dan diakui sebagai panutan yang baik oleh masyarakat setempat.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Untuk penyuluhan pertanian dikenal tiga macam demonstrasi, yaitu:

1)      Demonstrasi cara, menunjukkan bagaimana melaksanakan sesuatu cara, misalnya bagaimana cara menanam padi yang baik, cara memberantas penyakit pada tanaman dan lainnya.

2)      Demontrasi hasil, memperlihatkan hasil-hasil yang diperoleh dari penerapan teknik-teknik baru. Misalnya, demontrasi penggunaan pupuk dengan dosis tertentu, yang hasilnya dibandingkan dengan yang tidak dipupuk.

3)      Demontrasi usaha tani, menyangkut demontrasi cara dan hasil ditambah dengan menghitung input dan output dalam perhitungan usaha tani.

(Sumintoredjo, 1975).

Leaflet dan folder merupakan bentuk teknik penyuluhan untuk memberi keterangan singkat tentang suatu masalah atau materi. Sebagai contoh, materi tentang rumput gajah, lamtoro gung, sengon, memelihara belut dalam tong, dean lain-lain                                                                   (Balai Latihan Kehutanan Kadipaten, 1998).

3. Alat Bantu Penyuluhan

Peranan dari alat bantu penyuluhan pertanian dalam proses belajar adalah penting, bila diinginkan memenuhi persyaratan-persyaratannya. Kemanfaatannya antara lain :

1)      Membantu menarik perhatian siswa untuk beberapa lama dan menjadikan pelajara`n itu menyenangkan.

2)      Membantu guna menjelaskan pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa menjadi mudah dan cepat mengertinya.

3)      Membantu guru mengingat detail pelajaran.

4)      Para siswa akan mengingat  lebih lama apa yang dilihat daripada yang didengar.

(Wiriaatmadja, 1973)

4. Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga adalah alat bantu mengajar/menyuluh yang dapat dilihat, didengar, dirasa, dan diraba. Alat peraga dapat dipergunakan secara tunggal maupun kombinasi, alat peraga haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1)      Alat peraga harus mudah dikenali dan dimengerti oleh sasaran.

2)      Gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran.

(Suhardiyono, 1992).

Pengetahuan tentang pemilihan alat peraga yang paling efektif efisien sangat penting karena :

1)      Tidak semua alat peraga selalu tersedia/mudah disediakan oleh penyuluhnya pada sembarang tempat dan waktu.

2)      Alat peraga yang mahal tidak selalu merupakan jaminan sebagai alat peraga yang efektif untuk tujuan perubahan perilaku tertentu.

3)      Untuk tujuan perubahan perilaku tertentu, tersedia banyak alternatif alat peraga yang dapat digunakan, tapi dengan tingkat efektifitas dan tingkat kemahalan yang berbeda.

(Departemen Kehutanan, 1996).

5. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan

Evaluasi atau penilaian merupakan tahap akhir dari organisasi kegiatan, maksud dari evaluasi dari suatu usaha antara lain :

1)      Untuk menentukan arah penyempurnaan pekerjaan.

2)      Untuk memberikan gambaran kemajuan usaha

3)      Untuk memberikan kepuasan kepada pemimpin setempat mengenai apa yang telah dicapai.

(Wiriaatmadja, 1973).

Ragam evaluasi antara lain :

1)      Evaluasi formatif dan evaluasi sumatif

2)      On going evaluation dan ex-post evaluation

3)      Evaluasi intern dan Evaluasi ekstern

4)      Evaluasi teknis dan Evaluasi ekonomi

5)      Evaluasi program, pemantauan, dan Evaluasi dampak program

6)      Evaluasi proses dan Evaluasi hasil

(Departemen Kehutanan, 1996).

6. Evaluasi Materi Penyuluhan

Sulitnya mendapatkan informasi dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokalita karena terbatasnya kemampuan penyuluh pertanian untuk mengakses sumber-sumber informasi dan teknologi. Kondisi ini menyebabkan kurang berkembangnya pengetahuan, kemampuan dan wawasan penyuluh pertanian untuk menyediakan materi penyuluhan yang dibutuhkan petani.  Terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Kondisi ini menyebabkan rendahnya mobilitas penyuluh pertanian dan kurang optimalnya pelayanan terhadap petani           (Ibrahim, 2007).

7. Alternatif Metode dan Teknik Penyuluhan

Alternatif metode dan teknik penyuluhan yang dapat digunakan dalam penyuluhan antara lain adalah mengadakan perlombaan terkait suatu materi tertentu, hubungan telepon antara penyuluh dan sasaran, dan kuisioner dalam bentuk pertanyaan ( Istuti, 2004).

  1. B. Materi Penyuluhan

Pohon mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5-2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Umur mahkota dewa bisa mencapai puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10-20 tahun (

Sebagian ahli botani menamai mahkota dewa berdasarkan tempat asalnya, yaitu Phaleria papuana Warb. Var. Wichannii (Val.) Back. Sebagian yang lain menamainya berdasarkan ukuran buahnya yang besar-besar (makro), yaitu Phaleria macrocarpa (Scheff). Boerl. Sebutan atau nama lain mahkota dewa cukup banyak (Dalimarta, 2003).

Buah mahkota dewa merupakan ciri khas dari tanaman mahkota dewa. Bentuk bulat seperti bola. Ukurannya bervariasi, dari sebasar bola pimpong sampai sebesar buah apel merah. Penggunaan buah mahkota dewa dalam pengobatan alternatif  telah berhasil mengobati berbagai macam penyakit berbahaya, seperti kanker, diabetes, asam urat, gangguan ginjal, lever, penyakit kulit, kolesterol dan sebagai obat untuk ketergantungan narkoba (Harmanto, 2004)

Seorang ahli farmakologi dari fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung zat antihistamin. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, salesma, dan sesak napas. Penelitian ini juga membuktikan bahwa mahkota dewa mapu berperan seperti oxytosin atau sistosinon yang dapat memacu kerja oto rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar (Harmanto, 2003).

Mahkota dewa bisa dimanfaatkan dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk tidak diolah atau dimakan langsung mentah-mentah, seperti memakan jambu biji.Pemanfaatan seperti ini sangat berbahaya, efek sampingnya cukup serius dari luka-luka di bibir dan di mulut, mati rasa di lidah, sampai mabuk dan keracunan. Kedua, dalam bentuk sudah diolah menjadi ramuan-ramuan.

  1. III. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN
  1. A. Sasaran
    1. Golongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah masing-masing golongan dan keseluruhan

Sasaran dalam kegiatan penyuluhan di Kecamatan Jaten terdiri dari 24 kelompok tani yang tersebar di 13 desa dengan 2993 anggota.  Sasaran  dalam penyuluhan adalah para petani yang biasanya di bedakan menjadi beberapa hal yaitu golongan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan.  Golongan umur petani di Kecamatan Jaten adalah umur 25-65 tahun, terdiri dari petani laki-laki dan wanita, dimana petani laki-laki lebih banyak daripada petani wanita.  Tingkat pendidikan petani yang paling banyak adalah tamat SD, tetapi ada juga petani yang tamat pendidikan SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi.  Oleh karena itu, petani sebagai sasaran masih lemah dalam mengembangkan potensi dan keterampilan mereka.

  1. Adat kebiasaan, norma-norma dan pola kepemimpinan

Adat kebiasaan yang ada di Kecamatan Jaten adalah Mitoni, Sadranan, Nyekar, Bersih desa, Bancaan, serta gotongroyong dan kekeluargaan yang masih kuat di dalam masyarakatnya.

Norma-norma yang ada dilakukan karena kepercayaan dan kebiasaan masyarakat Kecamatan Jaten. Norma yang ada contohnya norma sosial, dimana yang muda harus menghormati yang tua, sopan-santun terhadap orang lain. Jika norma-norma yang ada tidak dilaksanakan tidak ada sanksi. Norma agama juga berlaku didaerah ini, dimana terdapat kebebasan dalam memeluk agama, dan dijamin kebebasan beribadah di antara pemeluk agama.

Pola kepemimpinan yang ada adalah adanya tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh karena kedudukannya yang dianggap tinggi dan dihormati dalam mayarakat. Perannya dalam kegiatan desa sangat penting yaitu dalam mengajak masyarakat untuk ikut dalam kegiatan desa.

  1. Bentuk-bentuk usaha tani sasaran

Bentuk-bentuk usahatani yang ada di Kecamatan Jaten pada umumnya padi, selain itu tanaman hortikultura dan sayuran&buah-buahan juga dikembangkan seperti tomat, kacang panjang, cabai, mangga, jagung dan kedelai.  Dari sektor perkebunan dikembangkan tanaman tebu.  Sektor peternakan yang dikembangkan ayam, sapi, domba/kambing, kerbau, itik dan kuda.  Sektor perikanan yang diusahakan oleh petani antara lain budidaya Ikan Lele dan Ikan Nila.

  1. Kesediaan individu sebagai demonstrator dan jumlah petani maju

Individu mempunyai kemampuam untuk menjadi demonstrator dalam kegiatan penyuluhan pertanian.  Hal ini dapat meningkatkan keterampilan petani sendiri.  Tingkat kemampuan petani sendiri dapat dilihat dari eksistensi kelompok taninya sendiri, sedangkan tingkat kemampuan kelompok tani di Kecamatan Jaten terbagi atas Utama, Madya dan Lanjut.  Namun sebagian besar tingkat kemampuannya adalah di tingkat lanjut, untuk itu perlu adanya kegiatan penyuluhan yang dapat meningkatkan kemampuan petani.

  1. Tingkat adopsi

Tingkat adopsi yang ada di Kecamatan Masaran sudah mencapai tahap  mau, mencoba dan menerapkan materi yang diberikan. Petani bisa percaya jika melihat sendiri suatu inovasi yang dikenalkan atau materi yang ingin disampaikan oleh penyuluh tersebut. Bila petani yang menjadi sasaran penyuluhan sudah percaya, mereka lebih cepat terdorong untuk mencoba dan menerapkannya setelah melihat keunggulan sesuatu inovasi yang dikenalkan/menunjukkan cara kerja yang benar yang seharusnya dikerjakan.

  1. B. Penyuluh dan Kelengkapannya
    1. Kemampuan penyuluh, jumlah penyuluh, pengetahuan dan keterampilan penyuluh

Penyuluh merupakan lulusan S1 Pertanian dan merupakan Pegawai Negri Sipil. Dalam hal penyampaian materi, penyuluh mempunyai kemampuan untuk menyampaikan materi secara jelas kepada sasaran. Dengan pengetahuan atau teori-teori yang telah didapatkan dari perkuliahan secara tidak langsung juga mempermudah penyuluh untuk memberikan materi tersebut. Sedangkan di Kecamatan Jaten ini terdapat 4 penyuluh pertanian lapang (PPL) yang semuanya merupakan PNS.

Pengetahuan dan keterampilan penyuluh yang ada di kecamatan Jaten sangat beragam. Pengetahuan dan ketrampilan penyuluh yang sudah melakukan penyuluhan selama beberapa tahun tentunya mempunyai pengalaman yang beragam dan meningkatkan kemampuan juga ketrampilan dari penyuluh. Pengetahuan yang dimiliki meliputi pengetahuan tentang materi yang akan diberikan sedangkan ketrampilan yang dimiliki meliputi penggunaan metode dan teknik yang sesuai dengan keadaan sasaran. Pengetahuan penyuluh tentang meteri cukup baik dan penggunaan metode serta teknik penyuluhan juga cukup baik.

  1. Materi Penyuluhan

Mahkota dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian 10-1.200 meter dari permukaan laut. Perbanyakan pohon bisa dilakukan secara vegetatif dan secara generatif. Dari sekian cara perbanyakan vegetatif, hanya pencangkokan yang telah menunjukkan keberhasilan. Sebetulnya, pencangkokan agak sulit dilakukan karena batang mahkota dewa sangat bergetah. Pencangkokan hanya bisa dilakukan jika batang yang dikupas sudah mulai mengering.

Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji. Tahap-tahap pembudidayaan mahkota dewa adalah sebagai berikut:

1)      Pilih biji dari buah yang benar-benar sudah tua atau matang di pohon. Biji yang dipilih untuk disemaikan adalah biji yang benar-benar bagus. Ciri biji yang bagus adalah berisi penuh saat dipegang, keras, tidak kempes, dan tidak cacat dimakan ulat.

2)      Kemudian semaikan biji itu ditempat persemaian dengan media sekam bakar dicampur dengan kompos. Saat penyemaian, perawatan yang perlu dilakukan adalah memperhatikan kelembapan medianya. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan hand sprayer atau semprotan yang lembut. Pemupukan tidak boleh menggunakan pupuk kimia karena bisa mengurangi khasiat obatnya. Yang paling aman menggunakan pupuk kompos atau pupuk kandang yang sudak tidak berbau.

3)      Setelah berumur dua bulan atau ketinggiannya sudah mencapai 10-15 cm dipindahkan ke media penanaman. Cara memindahkannya dengan melubangi bagian bawah polibag lalu memasukkannya ke lubang tanam. Setelah dipindahkan ke media permanen, perawatan yang perlu dilakukan adalah menyiraminya setiap hari dan memberikan pupuk kandang atau pupuk kompos dua minggu sekali.

4)      Dalam umur 10-14 hari setelah biji disemai, daun-daun mulai tumbuh dan bunga mulai kelihatan ketika pohon sudah berusia 10-12 bulan. Buah ini akan sangat bagus pertumbuhannya jika penyiraman dilakukan dengan rutin dan teratur karena buah mahkota dewa sangat memerlukan banyak air.

5)      Buah bisa dipetik saat sudah berusia dua bulan. Saat itu buah sudah matang dengan ciri-ciri antara lain, kulit buah sudah berwarna merah marun dan berbau manis seperti aroma gula pasir. Jika sudah matang sebaiknya buah langsung dipetik.

Pemupukan

Agar memberikan hasil yang tinggi, tanaman memerlukan faktor-faktor tumbuh yang optimal. Salah satu faktor tersebut adalah ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Jika tanah tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, pemberian pupuk perlu dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut. Dalam membudidayakan mahkota dewa, hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk-pupuk anorganik.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit tanaman sebaiknya menggunakan pestisida buatan sendiri atau pestisida alami yaitu bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tanaman mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama pengganggu. Hama yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah.

Pestisida yang digunakan adalah pestisida dari campuran daun mimba, lengkuas, tem,bakau, bawang putih, brotowali, biji srikaya yang dihancurkan kemudian dicampur dengan air.

Pemanenan

Dalam memanen mahkota dewa, perhatikan dulu bagian yang akan dipanen:

1)      Daun yang dipanen adalah daun yang masih segar dan tidak terkena penyakit. Daun yang dipanen hendaknya sudah cukup tua. Cirinya, bentuknya paling besar dan warnanya lebih gelap.

2)      Buah yang dipanen adalah buah yang sudah benar-benarmatang dan sehat atau tidak terkena penyakit. Cirinya, tampak segar, tidak memiliki cacat sedikitpun, dan berwarna merah marun.

3)      Biji yang diambil untuk obat adalah biji dari buah yang sudah benar-benar matang.

4)      Batang yang diambil adalah batang yang sudah cukup umur. Cirinya,warna coklatnya lebih banyak daripada warna hijaunya.

  1. Sarana dan Prasarana Penyuluhan

Prasarana penyuluhan pertanian yaitu fasilitas untuk mendukung pelaksanaan penyuluhan pertanian yang meliputi antara lain bangunan, lahan percontohan; sedangkan sarana penyuluhan pertanian yaitu alat-alat bantu penyuluhan pertanian antara lain alat transportasi, alat peraga dan alat komunikasi

Sarana dan prasarana yang ada untuk mendukung kegiatan penyuluhan ini cukup lengkap, antara lain adalah  meja, kursi, brosur-brosur pertanian, 1 bangunan pertemuan penyuluh dan para petani. Sarana penyuluhan digunakan pada saat ada kegiatan penyuluhan dan pertemuan rutin.

Untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan penyuluhan pertanian dan pelaksanaan tugas penyuluh pertanian diperlukan prasarana dan sarana yang memadai agar penyuluhan pertanian dapat diselenggarakan dengan efektif dan efisien.

  1. Biaya yang ada

Sumber biaya yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah APBD kabupaten Karanganyar dan swadaya. Sumber pembiayaan penyuluhan pertanian bersumber dari:

  1. Pembiayaan penyuluhan pertanian menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Provinsi, Kabupaten/Kota dan masyarakat.
  2. Sumber pembiayaan penyuluhan pertanian berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten/Kota, swasta dan masyarakat yang ditentukan secara proporsional.
  3. Pemerintah, Provinsi, dan Kabupaten/Kota harus dapat menyediakan biaya penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang jumlah dan alokasinya disesuaikan dengan perencanaan penyuluhan pertanian masing-masing.
    1. Pembiayaan penyuluhan pertanian yang diselenggarakan oleh petani dan pelaku usaha pertanian lain dan/atau warga masyarakat lainnya, wajib disediakan oleh masing-masing disesuaikan dengan perencanaan yang terintegrasi.
  1. C. Keadaan Daerah
    1. Musim/iklim

Iklim di Kecamatan Jaten umumnya beriklim basah dengan rata-raa curah hujan tahun terakhir 2479 mm/tahun yang tercurah rata-rata 8 bulan, sementara bulan kering rata-rata 4 bulan.  Dengan rata-rata hujan per tahun 205 hari dengan tiap tiap kali hujan 22mm, intensitas sinar matahari penuh dengan suhu udara berkisar antara 24-29 derajat Celcius.

  1. Keadaan lapangan (topografi), jenis tanaman, sistem pengairan dan pertanaman.

Wilayah kerja Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar mempunyai  topografi maksimum 340 m dpl dan minimum 120 dpl. Wilayah kerja Kecamatan Jaten mempunyai luas wilayah 2.554,81 Ha yang terdiri dari lahan sawah 1.277,59 Ha, lahan kering 1.277,59 Ha, pekarangan/bangunan 1.057,73 Ha dan tegal/ladang 17,12 Ha.

Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Jaten adalah tanah grumosol yang mempunyai cirri-ciri solum tanah agak dalam/tebal, berwarna kelabu sampai hitam.  Keadaan tanah pada waktu hujan mengembang dan lekat.  Sedang pada waktu musim kemarau tanah sangat kering dan retak-retak.  Daya tahan air cukup baik.

Sistem pengairan di Kecamatan Jaten in di dukung oleh air yang cukup banyak.  Karena dialiri dari sungai PBS (Proyek Bengawan Solo), selain itu masih banyak lagi saluran-saluran yang lain dari bendungan-bendungan yang mengaliri areal tanah di Jaten, misalnya DAM Trani, Jumok, Jongkang, Kalongan dan Dukuh.

Sistem pertanaman menggunakan sasaran pola tanam pada sistem padi-padi-palawija, Padi-padi-palawija atau sistem yang lain. Namun dapat diharapkan bisa berseling antara  padi, palawija ataupun hortikultura. Pada situasi yang terpaksa bisa menggunakan sisitem pola tanam padi-padi-padi, namun sebaiknya harus selalu terkoordinasi dengan Dinas Pengairan atau Kelompok P3A.

  1. Perhubungan, jalan, listrik dan air

Keadaan jalan yang ada di Kecamatan Jaten sudah cukup memadai, hal ini karena didukung oleh letaknya yang sangat geografis yaitu berada di sebelah jalan Karanganyar-Surakarta, begitu juga yang berada di daerah desa-desa/ jauh dari pusat keramaian juga sudah dibangun. Jadi sarana perhubungan jalan yang di gunakan dapat mencukupi setiap kebutuhan perhubungan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya penggunaan alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat setempat. Aliran listrik yang ada pada daerah ini sudah memadai, karena masyarakatnya menyadari bahwa kebutuhan akan listrik merupakan kebutuhan yng utama dan pokok. Masyarakat di Kecamatan Jaten seluruhnya juga sudah menggunakan fasilitas lisrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara). Begitu juga dengan sistem komunikasi melalui telepon juga banyak dimiliki masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya beberapa usaha komunikaasi (telepon) atau wartel (Warung Tekomunikasi) di Kecamatan Jaten, walaupun belum semua masyarakatnya memanfaatkan fasilitas ini.

  1. D. Kebijakan Pemerintah pusat, daerah, dan setempat (yang terkait dengan penyuluhan) antara lain :
  2. kebijakan pemerintah  dalam sektor Tanaman pangan adalah :
    1. Meningkatkan penyuluhan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan petani.
    2. Meningkatkan penyuluhan tentang usaha tani komoditas organik,  misal program padi organik, sayuran dan buah organik dan sebagainya.
    3. Meningkatkan penerapan 10 paket teknologi agar pelaksanaan program intensifikasi dapat berjalan dengan baik
    4. Kebijakan pemerintah dalam sektor Peternakan
      1. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat peternak agar dapat bertambah pengetahuan dan ketrampilan dalam usaha tani ternak.
      2. Meningkatkan penyuluhan dan gerakan vaksinasi ND pada ternak ayam agar kesehatan ayam terjamin.
      3. Kebijakan Pemerintah dalam Sektor Perikanan
        1. Meningkatkan penyuluhan terhadap petani ikan, pentingnya pemberian makanan tambahan agar produksinya meningkat.
        2. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat, pentingnya makan ikan guna pemenuhan gizi keluarga (membudayakan masyarakat agar gemar makan ikan).
  1. IV. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN
  2. A. Metode Penyuluhan

Metode adalah cara penyuluh untuk mendekatkan penyuluh dengan masyarakat sasaran. Dalam kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, metode penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

  1. Metode penyuluhan menurut media yang digunakan :
  1. Media lisan : disampikan secara langsung kepada sasaran melalui tatap muka atau pertemuan. Pemilihan media lisan ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam menerima informasi, dengan adanya penyampaian informasi secara langsung (tatap muka) maka sasaran dapat dengan cepat dan jelas memahami maksud pesan tersebut. Cara budidaya tanaman mahkota dewa dapat dijelaskan secra lisan oleh penyuluh, dan jika ada hal-hal yang kurang jelas dapat langsung ditanyakan oleh penyuluh ditempat pertemuan.
  2. Media cetak : baik berupa gambar dan atau tulisan (dalam hal ini yang digunakan adalah folder) yang dapat dibagikan kepada sasaran. Dengan tambahan gambar serta warna yang menarik, maka akan dapat merangsang sasaran untuk membaca. Mengenai keadaan sasaan disana, walaupun sebagian besar sudah dapat menbaca dan menulis, namun masih ada juga petani yang belum dapat membaca dan menulis, sehingga penyampaian dengan menggunakan gambar ataupun sampel akan lebih mudah diterima daripada melalui tulisan. Sehingga bagi sasaran yang buta aksara, dengan adanya gambar-gambar maka akan mudah memahami isi pesan.
  1. Metode penyuluhan menurut keadaan psikososial sasarannya

Pendekatan kelompok : manakala penyuluh berkomunikasi dengan sekelompok sasaran pada waktu yang sama, seperti pada pertemuan di lapangan, penyelenggaraan latihan, dll. Pendekatan kelompok juga dapat dilakukan ketika pertemuan kelompok tani. Di Kecamatan Jaten sudah rutin dilakukan pertemuan kelompok tani sehingga lebih efektif jika penyampaian pesan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa dilakukan pada saat pertemuan kelompok tani.

  1. B. Teknik Penyuluhan

Teknik  penyuluhan adalah cara penyuluh untuk mendekatkan materi kepada sasarannya. Dalam kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, teknik penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

  1. Demonstrasi

Teknik demonstrasi seringkali dipandang sebagai teknik yang paling efektif, karena teknik ini sesuai dengan pepatah “seeing is believing” yang dapat diartikan sebagai “dengan melihat kita menjadi percaya”. Bila mereka sudah percaya, mereka pasti lebih cepat terdorong untuk mencoba dan menerapkannya. Teknik demonstrasi tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa.

  1. Media cetak

Penyuluhan dengan menggunakan media cetak (hasil cetakan berupa tulisan, gambar, atau campuran antara tulisan dan gambar) sebagai media komunikasinya. Dengan media cetak yang berisi gambar dan tulisan yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menarik minat sasaran untuk menbaca dan memahami isinya. Dalam hal ini media cetak berupa folder yang berisi tentang cara budidaya tanaman mahkota dewa. Dengan demikian sasaran yang buta aksara pun juga dapat memahami isi pesan dengan hanya melihat gambar pada media cetak tersebut.

  1. C. Alat Bantu Penyuluhan

Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Dalam kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, alat bantu penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

  1. Lembar persiapan penyuluhan

Lembar persiapan penyuluhan berisi pokok-pokok materi yang harus disampaikan selama kegiatan penyuluhan berlangsung. Pokok-pokok materi tersebut antara lain teknik budidaya tanaman mahkota dewa dan manfaatnya.. Lembar penyuluhan ini sangat dibutuhkan karena merupakan panduan penyuluhan yang berisi tentang materi-materi yang akan disuluhkan, sehingga dapat menjadi pedoman bagi penyuluh ketika memberika materi penyuluhan.

  1. Lembar persiapan kegiatan

Lembar persiapan kegiatan berisi tentang pokok-pokok kegiatan yang harus dilaksanakan serta alokasi waktu yang diperlukan selama kegiatan penyuluhan berlangsung. Lembar persiapan kegiatan sangat diperlukan  untuk kegiatan penyuluhan, yaitu berguna bagi penyuluh (sebagai pedoman penyuluh) dalam melakukan kegiatan penyuluhan, karena di dalamnya memuat kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan penyuluhan nantinya yaitu penjelasan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa dan manfaatnya.

  1. Papan tulis/papan tempel

Papan tulis biasanya digunakan papan tulis warna putih (jika menulis menggunakan spidol). Papan penempel sangat diperlukan dalam kegiatan penyuluhan karena digunakan untuk tempat menempel gambar-ganbar atau tulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dalam kegiatan penyuluhan kali ini papan tulis digunakan untuk menulis penjelasan-penjelasan yang diperlukan, sedangkan papan penempel untuk menempelkan gambar-gambar yang diperlukan.

  1. Alat tulis (spidol, penghapus, penjepit kertas)

Alat tulis (spidol) sebaiknya yang berwarna sehingga lebih menarik. Alat tulis sangat diperlukan dalam kegiatan penyuluhan kali ini karena dapat digunakan untuk menuliskan penjelasan-penjelasan yang diperlukan, sedangkan penjepit kertas diperlukan karena dapat digunakan untuk menjepit kertas yang akan dijelaskan lewat papan penempel.

  1. Ruangan (gubuk sawah dan tikar)

Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini mempergunakan gubuk sawah sebagai tempatnya, pemilihan tempat yaitu gubuk sawah dikarenakan gubuk sawah merupakan tempat yang paling efektif dan efisien jika melakukan penyuluhan, karena sawah merupakan tempat mereka bekerja dan tidak terlalu formal (karena kita tahu bahwa penyuluhan adalah kegiatan pendidikan non formal). Alas duduk menggunakan tikar (lesehan) agar nuansa kekeluargaan tetap tercipta.

  1. D. Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga adalah  benda yang dapat diamati, didengar dan dirasa oleh indera manusia, yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar sasaran.

Alat peraga penyuluhan yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, alat peraga penyuluhan yang akan digunakan antara lain :

  1. Benda (sampel)

Sampel yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan kali ini adalah pohon mahkota dewa, pupuk kompos atau pupuk kandang, pot, tanah, pasir atau aram sekam. Hal ini dimaksudkan agar petani mengetahui tentang bahan-bahan yang diperlukan dalam budidaya tanaman mahkota dewa.

  1. Barang cetakan

Sebagai alat peraga penyuluhan, barang cetakan dapat berupa gambar maupun tulisan yang tertuang dalam folder. Folder berisi tentang tulisan dan gambar yang berhubungan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa. Penggunaan folder sebagai alat peraga karena folder sebagai media komunikasinya. Dengan media cetak yang berisi gambar dan tulisan yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menarik minat sasaran untuk menbaca dan memahami isinya. Selain itu media cetak yang berupa folder memerlukan biaya yang relatif sedikit, sehingga dapat menekan jumlah pengeluaran dalam kegiatan penyuluhan.

  1. Evaluasi

Evaluasi merupakan kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, dan kemudian melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati. Evaluasi kegaiatan penyuluhan tentang kegiatan penyuluhan tentang teknik budidaya tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar antara lain :

  1. Evaluasi Proses

Yang dapat dievaluasi pada proses kegiatan penyuluhan antara lain :

  1. Antusiasme petani

Antusiasme petani dalam melakukan kegiatan penyuluhan dapat dinilai melalui jumlah kehadiran petani dalam kegiatan penyuluhan.

  1. Diskusi petani

Sejauh mana diskusi itu berlangsung, apakah interaktif atau tidak, dapat dilihat dari ada atau tidaknya umpan balik yang disampaikan petani ketika penyuluh menjelaskan suatu informasi.

  1. Praktik lapang

Keaktifan petani ketika terjun langsung ke lapang dapat dinilai melalui keaktifan petani dalam melakukan kegiatan lapang serta kekritisan mereka dengan menanyakan hal-hal yang belum mereka ketahui di lapang secara langsung kepada penyuluh.

  1. Evaluasi Hasil
  2. Aspek Kognitif

Aspek kognitif dapat dinilai melalui pengetahuan dan pemahaman mengenai informasi yang disampaikan yaitu mengenai teknik budidaya tanaman mahkota dewa. Selain itu juga dapat dilihat melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan penyuluh kepada petani, dari jawaban-jawaban petani tersebut maka akan dapat menunjukkan seberapa jauh pengetahuan dan pemahaman mereka tentang cara budidaya tanaman mahkota dewa.

  1. Aspek Afektif

Aspek afektif dapat dinilai melalui kemauan petani untuk melakukan kegiatan pemupukan secara berimbang. Apakah setelah dilakukan kegiatan penyuluhan ini petani mau melakukan budidaya tanaman mahkota dewa dengan memanfaatkan pekarangan rumah atau tidak.

  1. Aspek Psikomotorik

Aspek psikomotorik dapat dilihat melalui ketrampilan ketika melakukan kegiatan budidaya tanaman mahkota dewa.

  1. F. Alternatif  Metode dan Teknik Penyuluhan

Alternatif metode dan teknik penyuluhan dapat digunakan ketika ada perubahan yang berkaitan mengenai pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Perubahan itu seperti perubahan cuaca, yaitu dari perkiraan cuaca terang ke hujan ketika akan mengadakan praktek langsung di lapang.  Sehingga ada persiapan dari penyuluh sendiri dalam menghadapi keadaan ini, misalnya mengadakan demonstrasi di tempat tertutup (gedung/rumah sasaran/gubug pertemuan).  Alternatif metode dan teknik lainnya yang dapat dilakukan contohnya adalah pemberian materi secara manual misalnya dengan menggunakan alat bantu kertas, metode kunjungan perorangan, sehingga materi tetap dapat disampaikan dengan tepat dan jelas.

  1. I. PENUTUP
  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari Kegiatan Penyuluhan tentang Budidaya Tanaman mahkota dewa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar ini adalah :

  1. Metode penyuluhan yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :

Metode penyuluhan dan proses komunikasi.

1)      Metode penyuluhan menurut media yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah menggunakan media lisan dan media cetak.

2)      Metode penyuluhan menurut keadaan psikososial sasarannya menggunakan metode pendekatan kelompok dan massal

  1. Teknik penyuluhan yang digunakan dalam penyuluhan ini menggunakan teknik penyuluhan teknik demonstrasi cara dan penyebaran folder.
  2. Alat Bantu penyuluhan yang digunakan adalah;

1)         lembar persiapan penyuluhan yang berisi pokok kegiatan yang dikerjakan selama penyuluhan berlangsung.

2)         lembar  kegiatan penyuluhan yang berisi rincian urutan rencana kegiatan atau susunan acara pelaksanaan kegiatan penyuluhan yang akan dilaksanakan. Terdiri atas urutan kegiatan, waktu, tempat, biaya, sasaran, dan alat yang digunakan.

3)         papan tulis (white board) atau papan penempel

4)         Buku dan alat tulis berupa bolpen berwarna dan spidol berwarna

5)         Kursi dan Meja

6)         Gubug tempat pertemuan kelompok tani

  1. Alat Peraga penyuluhan yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah;
    1. Alat benda, berupa :
    2. Sampel atau contoh tanaman mahkota dewa
    3. Polybag
    4. Pupuk kompos atau pupuk kandang
      1. Media tanam  (pasir dan aram sekam)
      2. Barang cetakan, berupa folder
      3. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil
      4. B. Saran
        1. Penyuluh harus mengusai materi yang akan disampaikan.
        2. Kelengkapan dari sarana dan prasarana penyuluhan untuk melancarkan kegiatan penyuluhan.
        3. Dukungan yang baik dari semua pihak-pihak yang terkait dalam pertanian

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Penerbit Pusat penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan Republik Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Istuti, Wigati. 2004. Pengembangan Metode Penyuluhan Pertanian dalam Menghadapi Permasalahan Usahatani. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Vol 7 tahun 2004. Departemen Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BPTP. Jawa Timur.

Kartasapoetra, AG. 1994. Teknologi Penyuluh Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.

Setiana, Lucie.  2005.  Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat.  Ghalia Indonesia.  Jakarta.

Suhardiyono. 1992. Penyuluhan : Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian.               Penerbit Erlangga. Jakarta.

Van den Ban, WA dan H. S. Hawkins . 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Sumintoredjo, Samedi. 1975. Tenik Menyusun Program Penyuluhan. Bina Cipta. Bandung.

Wiriaatmadja, Soekandar, M. A. 1973. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. CV Yasaguna. Jakarta.

Harmanto, N. 2001. Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Harmanto, N. 2004. Mahkota Dewa Panglima Penakluk Kanker. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Dalimarta, Setiawan, dr. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Puspa Swara. Jakarta.

Anonim.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: