Pengendalian Hama Sundep Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya tinggal di pedesaan dan bermata pencaharian sebagai petani Padi merupakan tanaman penghasil beras yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia. Dalam pembudidayaannya sering dijumpai berbagai kendala adalah musim dan serangan hama. Produksi yang digarapkan tinggi tiba-tiba tercapai hanya karena serangan hama yang mendadak. Penurunan produksi karena serangan hama sebenarnya dapat dikurangi apabila kita dapat mengenal terlebih dahulu hama yang menyerang,
Hama merupakan kelompok organisme pengganggu tanamn (OPT) yang selalu menimbulkan masalah pada system budidaya tanaman. Keberhasilan usaha pengelolaan hama sangat ditentukan oleh ketetapan identifikasi hama sasaran. Kesalahan identifikasi akan berakibat pada kegagalan cara penegndalian. Oleh karena itu, ketetapan identifikasi sangat diperlukan.
Banyak hama yang menyerang pada tanaman padi salah satunya adalah hama sundep. Hama ini sangat merugikan petani karena menyerang pada tanaman padi yang masih muda sehingga pertumbuhan tanaman padi akan jadi terhambat dan kalau tidak cepat ditangani akan menyebabkan tanaman padi menjadi mati. Untuk itu kita perlu melakukan pengendalian hama sundep ini agar tidak merugikan petani
Untuk itu peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sangat diperlukan untuk memberikan pengarahan dan informasi kepada petani dalam upaya pengendalian hama sundep secara efektif dan efisien. Sehingga Petani berhasilan dalam bercocok tanam, sehingga tanaman menjadi subur, dan hasilnya dapat meningkat baik sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menambah penghasilan petani.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “ Pengendalian Hama Sundep Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo” ini adalah :
1. Untuk menambah pengetahuan petani tentang hama yang menyerang tanaman padi yaitu hama sundep
2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam pengendalian hama sundep
3. Meningkatkan pemahaman petani akan perlunya kerjasama baik antar anggota dalam kelompok maupun antar kelompok dalam pengendalian hama sundep
C. Manfaat
Adapun manfaat dari pelaksanaan praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “Pengendalian Hama Sundep Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo” ini adalah :
1. Agar petani dapat mengetahui pengendalian hama sundep yang menyerang tanaman padi
2. Agar petani dapat mencoba cara pengendalian hama sundep.
3. Agar petani dapat bekerja sama dengan anggota dalam kelompok dan antar kelompok dalam mengendalikan hama sundep.

DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

A. Sasaran
1. Golongan Umur
Umur sangat menentukan tingkat adopsi terhadap inovasi atau kemampuan dalam menerima informasi atau pesan. Biasanya umur yang lebi muda akan lebih mudah atau lebi cepat menangkap informasi yang disampaikan dari pada orang yang sudah tua.
Tabel 2. Keadaan Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006
Golongan umur Jumlah
0 – 4 Tahun 7710 orang
5 – 9 Tahun 6904 orang
10 – 14 Tahun 7589 orang
15 – 19 Tahun 8618 orang
20 – 24 Tahun 9643 orang
25 – 29 Tahun 8692 orang
30 – 34 Tahun 9677 orang
35 – 39 Tahun 7978 orang
40 – ke atas 9832 orang
Jumlah total 76643 orang
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kebanyakan penduduk di Kecamatan Polokarto masih berada dalam usia muda, meskipun yang berusia 40 tahun ke atas sebesar 9832 orang. Berarti dapat dikatakan kecepatan dalam menerima suatu informasi masih tergolong baik, dan hal ini akan memudahkan dalam penentuan metode dan teknik untuk melakukan penyuluhan.
2. Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Tabel 3. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006
Jenis kelamin Jumlah penduduk
Laki-laki 39595
Perempuan 37048
Jumlah total 76643
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Polokarto lebih besar dari pada penduduk perempuan, dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 39595 orang. Keadaan ini sangat mempengaruhi kegiatan usaha tani yang ada di Kecamatan tersebut, di mana dengan banyaknya jumla penduduk laki-laki berarti kegiatan usahatani akan lebih maju, karena tenaga yang diberikan pada sektor pertanian atau peternakan jauh lebih besar.
3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat mempengaruhi tingkat penyerapan teknologi, seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan lebih cepat menyerap inovasi yang masuk, begitu halnya sebaliknya. Adapun tingkat pendidikan yang ada di Kecamatan Polokarto ialah sebagai berikut:
Tabel 4. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006
Pendidikan Jumlah penduduk
Belum sekolah 7832 orang
Tidak tamat SD 2451 orang
Tamat SD/sederajat 2420 orang
Tamat SLTP/sederajat 3212 orang
Tamat SLTA 472 orang
Tamat Akademi/sederajat 1118 orang
Tamat perguruan tinggi 879 orang
Buta huruf 170 orang
Jumlah total 22254 orang
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa keadaan tingkat pendidikan daerah sasaran tergolong berpendidikan tinggi, di mana dari umlah keseluruhan jumlah penduduk yang tidak tamat SD hanya sekitar 11%, dan yang paling banyak adalah tamat SLTP/sederajat yang mana sebesar 3212 orang. Sedangkan terdapat pula penduduk yang masih buta huruf, yakni sebanyak 170 orang. Hal ini akan sangat mempengaruhi dalam peggunaan metode dan teknik penyuluhan serta penggunaan alat Bantu penyuluhan. Untuk sasaran yang masih buta huruf, sebaiknya menggunakan metode diskusi yang mana harus sebisa mungkin menghindari penggunaan tulisan dalam penyampaian pesan yang dilakukan.
4. Adat Kebiasaan dan Norma
Norma adalah petunjuk untuk bertingka laku yang diharapkan dari masyarakat dan kepercayaan yang dibentuk secara formal ataupun informal di dalam suatu kelompok (Suhardiyono, 1990).
Begitu halnya suatu norma juga terdapat di Kecamatan Polokarto, di mana difungsikan untuk mengatur tatanan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun norma yang masih diberlakukan antara lain norma kesopanan, kesusilaan, norma hokum dan yang tidak kalah penting adalah norma agama. Norma-norma tersebut masih dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat diharuskan berperilaku baik sesuai dengan aturan yang ada, dan apabila ada yang melanggar, maka secara langsung atau tidak langsung akan mendapatkan sanksi yang berupa teguran, cemooh, bahkan kucilan dari orang lain.
Di samping norma tersebut, masyarakat di Kecamatan Polokarto juga masih menganut adat kebiasaan jawa seperti slametan atau syukuran. Adat ini biasanya dilakukan warga apabila ada kejadian yang membuahkan kebahagiaan. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih melakukan kondangan apabila datang hari bersejarah bagi masyarakat jawa, dan masih terdapat pula adat kebiasaan ruwatan bagi orang tua yang memiliki anak semata wayang, atau hanya satu anak.
Keberadaan norma maupun adat kebiasaan ini sangat menentukan keberhasilan terhadap pemberian informasi bagi penyuluh. Sehingga, sebagai penyuluh kita harus memperhatikan dan melaksanakan sertiap hal yang menjadi aturan atau kebiasaan dari masyarakat setempat, karena itu akan mempengaruhi diterima atau tidaknya sebagai seorang penyuluh di daerah tersebut.

5. Tingkat Adopsi
Tingkat adopsi memang sangat mempengaruhi kecepatan dalam menerima informasi. Bila dilihat berdasarkan umur dan tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Polokarto, dapat dikatakan tingkat adopsi yang dimiliki tergolong dalam kriteria cepat. Keadaan ini akan mempermudah dalam menyampaikan suatu informasi. Akan tetapi, keadaan dari petani sendiri masih kurang dalam hal pengetahuan, sikap, dan ketrampilan, sehingga bagi penyuluh harus menggunakan metode yang menyentuh sampai tahapan mencoba dan atau menerapkan. Namun jika sasarannya dalam jumlah yang cukup besar, tahapan sadar dan menilaipun sudah cukup baik untuk tujuan dari suatu penggunaan metode penyuluhan
B. Penyuluh dan Kelengkapannya
1. Kemampuan Penyuluh, Jumlah Penyuluh, Pengetahuan dan Ketrampilan Penyuluh
Kemampuan penyuluh dalam menyampaikan materi ini adalah penyuluh telah mampu mengetahui gejala dari serangan hama sundep dan cara pengendalian hama sundep tersebut sehingga dalam menyampaikan materi ini kepada sasaran tidak akan merugikan sasaran. Dalam menyampaikan materi dilakukan secara jelas dan ramah kepada semua peserta sehingga pasti akan disukai sasaran. Penyuluh yang akan menyampaikan materi ini hanya satu orang saja tapi walaupun hanya satu orang tapi penyuluh ini memiliki pengetahuan yang luas dan juga menguasai pengetahuan lainnya tentang pertanian. Selain berpengetahuan luas penyuluh ini juga mempunyai ketrampilan yaitu cara budidaya padi dan beternak itik.
2. Materi Penyuluhan
Klasifikasi dari Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas)
Phylum : Arthropoda
Ordo : Lepidoptera
Family : Pyralidae (Pyralididae)
Class : Insecta
1. Deskripsi
Ngengatnya berwarna putih, sayap bila dibentangkan panjangnya lebih kurang 25-30 mm, panjang badannya ± 11-15 mm. Telurnya berbentuk bulat panjang dengan ukuran ± 0,6 x 0,5 mm dan diletakkan berjejer jejer seperti letak genteng, jurnlahnya 150 sampai 200 butir ditutupi bahan seperti beledu berwarna cokelat muda. Ulat yang baru menetas warnanya abu-abu, kemudian berubah menjadi krem muda, kepalanya berwarna lebih tua, kuning cokelat, panjangnya ± 20-25 mm. Kepompong (pupa) berwarna krem muda diselubungi kokon putih, panjangnya 12-17 mm.
2. Cara Hidup
Biasanya ngengat bertelur di bagian bawah daun, yang terletak di bagian atas batang. Di pesemaian padi biasanya telur diletakkan di bagian atas permukaan daun, terutama semai yang sangat muda. Waktu bertelur malam hari, jumlahnya 200-300 butir. Telur ini akan menetas setelah satu minggu. Ulat yang baru saja menetas terus tersebar menuju ke batang padi, atau turun ke air dengan bantuan benang yang keluar dari badannya, kemudian akan merayap ke batang padi yang lain. Ulat ini lalu menggerek batang padi, terus masuk ke dalamnya menuju ke bawah. Apabila tanaman padi masih muda, pangkal tangkai daun pucuk dipotongnya, sehingga mati. Inilah yang disebut hama sundep. Ulat ini bisa pindah-pindah ke batang lain, hingga banyak pucuk-pucuk daun yang menjadi kering akibat telah putus pangkalnya. Ulat yang muda bisa mematikan sampai 6 pohon atau lebih. Ulat yang telah dewasa kemudian bisa memotong malai yang baru saja muncul hingga menjadi hampa. Inilah yang disebut hama beluk. Ulat yang akan berkepompong membuat lubang untuk pengeluaran bila nanti telah menjadi ngengat. Lama berkepompong ± 8-10 hari. Umur ngengat ± 4 hari. Umur dari telur menjadi ngengat kira-kira 35-40 hari. Menjelang musim kemarau, ulat tidak segera berkepompong, tetapi beralih ke masa “tidur” atau “istirahat” atau “diapauze” lamanya sampai beberapa bulan. Dalam masa “tidur” ini ulat tidak bergerak dan tidak makan tetapi juga tidak berkepompong. Keadaan “tidur” tersebut biasanya hanya terdapat pada ulat yang hidup pada tanaman padi yang telah menguning. Walaupun padi telah dipanen, ulat tetap dalam keadaan “tidur” di pangkal batang dan tetap tak bergerak sepanjang musim kemarau atau sekitar ± 3 bulan. Apabila hujan pertama turun ulat yang tidur itu segera berkepompong, lamanya berkepompong tergantung dari lamanya “tidur”. Bila tidurnya lama maka berkepompongnya lebih cepat. Bila tidurnya lebih kurang 3 bulan maka ngengat akan keluar sesudah ± 80 hari sejak mulai banyak hujan turun. Sedang bila “tidur” nya sampai 6 bulan maka ngengatnya akan keluar sesudah 30 hari. Ngengat ini aktif dan kawin pada malam hari dan 2 hari kemudian akan bertelur. Apabila serangan menghebat, maka pada waktu malam hari di musim hujan akan terlihat jutaan ngengat beterbangan. Ngengat ini bisa terbawa angin sampai berkilo-kilo meter jauhnya dan akan menyerang daerah padi yang lain. Apabila hujan tidak serentak turun maka “tidur” untuk setiap daerah akan berlainan hingga masa ngengat terbang akan berlainan pula. Kalau musim kemarau betul-betul kering maka ulat akan selamat “tidurnya”, tetapi kalau banyak hujan terus menerus maka pangkal tanaman padi jadi basah dan akan menjadi busuk, berikut ulat “tidur” dan kepompongnya.
Tabel 1 Bioekologi Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas)
Stadia Uraian
Telur • Jumlah telur 50-150 butir/kelompok
• Ditutupi rambut halus berwarna coklat kekuningan
• Diletakkan malam hari (pukul 19.00-22.00) selama 3-5 malam sejak malam pertama
• Keperidian 100-600 butir tiap betina
• Stadium telur 6-7 hari
Larva • Putih kekuningan sampai kehijauan
• Panjang maksimum 25 mm
• Stadium larva 28-35 hari
• Terdiri dari atas 5-7 instar
Pupa • Kekuning-kuningan atau agak putih
• Kokon berupa selaput benang, berwarna putih
• Panjang 12-15 mm
• Stadium pupa 6-23 hari
Imago • Ngengat jantan mempunyai bintik-bintik gelap pada sayap jantan depan.
• Ngengat betina berwarna kuning dengan bintik hitam di bagian tengah sayap depan.
• Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm.
• Ngengat aktif pada malam hari dan tertarik cahaya.
• Jangkauan terbang dapat mencapai 6 – 10 km.
• Lama hidup ngengat 5 – 10 hari dengan siklus hidup 39-58 hari
3. Cara pengendalian
a. Pengaturan pola tanam
1) Dilakukan penanaman serentak, sehingga tersedianya sumber makanan bagi penggerek batang padi dapat dibatasi.
2) Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi sehingga dapat memutus siklus hidup hama.
3) Pengelompokan persemaian dimaksudkan untuk memudahkan upaya pengumpulan telur penggerek secara massal.
4) Pengaturan waktu tanam yaitu pada awal musim hujan tanam varietas genjah, dan pada pertengahan musim hujan tanam varietas dalam berumur > 120 hari
b. Pengendalian cara fisik dan mekanik
1) Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen. Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi + 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.
2) Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman. Telur-telur yang terkumpul dipelihara (antara lain dalam bumbung bambu) dan apabila keluar parasitoid, dilepaskan kembali ke pertanaman.
3) Dengan cara mengeringkan genangan air, sebab tanaman padi yang terendam air itu tingkat keasamannya tergolong tinggi, yaitu 5,2. Padahal seharusnya, tingkat keasaman tanah sawah berkisar 6-7. Setelah lahan dikeringkan, selanjutnya diberi kapur untuk meningkatkan keasaman agar berada pada tingkat normal
c. Penggunaan insektisida
Cara pengendalian selain menggunakan insektisida yang dapat diterapkan sesuai dengan keadaan setempat.
Penyemprotan dengan insektisida berdasarkan hasil pengamatan, yaitu pada waktu telur-telur Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas) menetas. (pracaya,2005).
Materi lain yang dikuasai oleh penyuluh yaitu cara bududaya padi dan cara beternak itik. Karena penyuluh juga membudidayakan padi dan beternak itik. Sehingga dalam penyuluhan tidak tertuju pada cara pengendalian hama saja. Dalam budidaya dan beternak penyuluh dapat mempratekkan sebelum melakukan penyuluhan. Sehingga petani dapat percaya kepada penyuluh tersebut, karena penyuluh tersebut dalam melakukan penyuluhan tidak hanya teori saja tapi dapat mempraktekkannya secara langsung.
C. Keadaan Daerah
1. Keadaan umum
a. Batas administrasi wilayah/daerah
Adapun batas-batas daerahnya adalah sebagai berikut:
Sebelah utara : Kecamatan Mojolaban
Sebelah Timur : Kecamatan Jumantono Dan Kecamatan Jumapolo
Sebelah selatan : Kecamatan Bendosari
Sebelah barat : kecamatan Grogol
b. Keadaan potensi wilayah daerah
Kecamatan Polokarto mempunyai daerah 6218 Ha yang terdiri dari 17 Desa dan:
Luas tanah sawah = 2431 Ha
Luas tana kering = 3787 Ha
Luas tanah tersebut dirinci atas dasar penggunaan tanah tahun 2007 di Kecamatan Polokarto.
1) Tanah sawah
a) tanah sawah pengairan teknis = 1088 ha
b) tanah sawah pengairan ½ teknis = 798 ha
c) tanah sawah pengairan sederhana = 171 ha
d) tanah sawah tadah hujan = 374 ha
2) tanah kering
e) tanah tegal = 1241 ha
f) tanah pekarangan = 1605 ha
g) koplam = 3 ha
h) tanah perkebunan = 757 ha
i) lainnya = 181 ha
Luas wilayah dan penggunaan tanah di Kecamatan Polokarto dapat dirinci sebagai berikut;
Tabel 5. Luas Tanah Sawah Di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007
No Desa L sawah (ha) Teknis (HA ) ½ Teknis (ha) Sederhana Tadah hujan
1 Pranan 135 135 – – -
2 Karangwuni 119 119 – – -
3 Bugel 97 97 – – -
4 Ngombakan 19 119 – – -
5 Bakalan 186 186 – – -
6 Godog 20 71 119 – 17
7 Kemasan 210 46 164 – -
8 Kenokorejo 189 108 41 17 23
9 Tepisari 149 – 69 – 80
10 Bulu 105 – – 67 38
11 Rejosari 106 – 89 – 17
12 Polokarto 111 – 50 51 10
13 Mranggen 262 – 158 20 84
14 Wonorejo 146 146 – – -
15 Jatisobo 144 39 9 2 10
16 Genengsari 69 1 15 14 39
17 Kayuapak 7 21 – – 5
jumlah 2431 1088 798 171 374
Sumber: Data Sekunder

2. Keadaan Lapangan
a. Topografi, Letak geografi, Jenis tanah dan Iklim
Kecamatan polokarto secara umum merupakan sebagian dataran renda, sebagian merupakan daera bergelombang. Jarak Ibukota dengan Desa bervariasi, terdekat Balai Desa Mranggen dengan jarak + 1 km dan terjauh Balai Desa Pranan dengan Jarak + 10 km. iklim Kecamatan Polokarto dalam keadaan normal, berdasarkan Semit Ferguson.
Iklim di Kecamatan Polokarto termasuk daerah iklim golongan C atau termasuk daerah basah. Hal ini didasarkan dari perhitungan bulan basah dan bulan kering. Perhitungan bulan basah: 6 bulan, bulan lembab: 2 bulan dan kering 4 bulan.
Jenis tanah di Kecamatan Polokarto bermacam-macam. Hal ini dijelaskan sebagai berikut:
1) Latosol : Mranggen, Godog, Bakalan, Karangwuni, Pranan, Bugel
2) Latosol dan Grumasol : Kemasan, Kenokorejo
3) Grumasol : Tepisari, Rejosari, Bulu
4) Putih berpasir : Jatisobo, Wonorejo, Kayuapak, Genengsari
b. Keadaan Perkembangan Tingkat Pengelolaan Usahatani
Kondisi pelaksanaan pola tanam di Kecamatan Polokarto masih belum sesuai dengan anjuran, kecuali wilayah yang karena kondisi irigasi yang belum sempurna justru telah melaksanakan pola tanaman dengan baik.
Hal ini disebabkan oleh karena factor kondisi atau alam yang mengatur pada daerah irigasi yang baik para petani berkecenderungan menanam padi terus-menerus sepanjang tahun. Upaya yang dilaksanakan dinas teknis dan pimpinan wilayah agar dapat melaksanakan, pola tanam dengan ketentuan; palawia-padi-padi, palawija-padi-palawija, palawija-paawija-bero. Untuk tanah tegalan, sepanjang tahun palawija dilaksanakan dengan system tumpang sari, dan bila mungkin dikembangkan padi gogo.
c. Keadaan Ternak Unggas
Keadaan unggas di Kecamatan Polokarto lumayan cukup besar, hal ini disebabkan kondisi lingkungan yang cocok untuk ternak unggas, selain itu unggas juga diadikan sebagai usaha sampingan dari sebagian besar warga. Terdapat pula beberapa usaha ternak besar milik swasta yakni ternak ayam petelur.
Adapun dari rencana populasi ayam pada tahun 2007, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6. Rencana Populasi Ayam di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharo Pada Tahun 2007
No DESA Populasi jenis ternak (ekor)
Ayam Buras Ayam petelur Ayam pedaging Itik Burung puyuh
1 Pranan 1729 – – 943 -
2 Karangwuni 1303 – – 663 -
3 Bugel 2173 – – 429 1000
4 Ngombakan 3844 – – 417 4000
5 Bakalan 1327 – – 417 -
6 Godog 3037 – 7000 640 1000
7 Kemasan 5599 5000 8100 438 -
8 Kenokorejo 8646 – – 636 -
9 Tepisari 3112 – 15050 346 -
10 Bulu 1307 21000 3000 304 -
11 Rejosari 3717 – 16000 319 -
12 Polokarto 1465 269148 12000 349 -
13 Mranggen 3224 – – 977 1000
14 Wonorejo 2192 – – 406 -
15 Jatisobo 1306 3500 – 551 -
16 Kayuapak 2171 60000 700 415 -
17 genengsari 1915 – – 323 -
Jumlah 48067 358648 65150 8573 7000
Sumber: Data Sekunder
Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa keberadaan unggas di Kecamatan Polokarto tergolong dalam jumlah yang cukup besar, terlebih di Desa Polokarto yang mana terdapat jumlah ayam petelur paling banyak, hal ini dikarenakan keberadaan usaha ternak swasta yang jumlahnya tergolong memang besar.
3. Keadaan kelompok tani
Adapun keadaan kelompok tani sub sektor pertanian tanaman pangan, ialah sebagai berikut:
1) Kelompok tani hamparan dan kelas kelompok
a) Kelas pemula = 3 kelompok
b) Kelas lanjut = 8 kelompok
c) Kelas madya = 40 kelompok
d) Kelas utama = 29 kelompok
Jumlah = 80 kelompok
2) Kelompok domisili
Kelompok wanita tani = 2 kelompok
3) Jumlah KTNA
Tingkat Kabupaten = 3 orang
Tingkat Kecamatan = 5 orang
Tingkat Desa = 101 orang
4) Keadaan kelompok tani peternakan
Kelompok ternak domba = 7 kelompok
Kelompok ternak sapi = 8 kelompok
Kelompok ternak ayam = 2 kelompok
5) Keadaan kelompok tani perkebunan
6) Keadaan kelompok tani perikanan
Kelompok tani perikanan = 1 kelompok
d. Kondisi sarana dan prasarana
Lalu lintas dalam pengangkutan dan komunikasi di Kecamatan Polokarto umumnya melalui darat, adapun kondisi lalu lintas yang ada yakni;
1) Jalan aspal
9 Baik = 26 km
10 Sedang = 40 km
11 Rusak = 35 km
2) Jalan diperkeras
12 Baik = 24 km
13 Sedang = 25 km
14 Rusak = 24 km
3) Jalan tanah
15 Baik = – km
16 Sedang = 3 km
17 Rusak = – km

Sedangkan untuk kondisi pengubung jalan/jembatan, yakni di Kecamatan Polokarto mempunyai jembatan beton yang dalam kondisi baik sebanyak 24 buah dengan panjang 30m, dan jembatan besi yang dalam kondisi baik 1 buah dengan panjang 20m dan kondisi sedang sebanyak 1buah, terdapat pula jembatan kayu/bamboo dalam kondisi baik 1 buah dengan panjang 12m, di samping itu terdapat pula 1buah jembatan lain yang kondisinya masih baik dengan panang 40m.
Selain itu, di Kecamatan Polokarto terdapat pasar dengan bangunan permanent sebanyak 5 buah dan yang semi permanent sebanyak 1 buah. Terdapat pula took dengan jumlah 15 buah, kios 24 buah, dan warung 8 buah. Di samping itu terdapat pula 2 buah bank, yang mana digunakan masyarakat dalam simpan pinjam uang.
D. Kebijaksanaan Pemerintah
Dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi dan mewujudkan ketentuan kebijakan umum pengelolaan intensifikasi sebagai berikut:
1. Upaya pencapaian tingkat produktivitas, produksi dan pendapatan petani, dilakukan melalui Pola Supra Insus.
2. Komoditas yang dikembangkan pada wilayah Supra Insus adalah komoditas prioritas dan strategi yang teknologinya tersedia, sarana produksi dan pemasaran terjamin
3. Partisipasi petani dalam intensifikasi pertanian ditingkatkan dengan pembudayaan RDK dan RDKK, mengusahakan pemanfaatan fasilitas kredit termasuk Kredit Ketahanan Pangan (KKP)
4. Penyelenggaraan musyawarah/pertemuan untuk menyusun perencanaan dan penetapan cara pemecahan masalah guna memperlancar pelaksanaan program, seperti musyawarah kelompok tani, musyawarah antar kotak tani/KTNA, temu lapang, saresehan, dan rapat koordinasi.

Adapun kebijakan dari Kabupaten Sukoharjo, yakni:
1. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dinamis melalui system agribisnis dan agroindustri
2. Pengembangan system ketahanan pangan yang berbasis pada keanekaragaman pangan, dalam aspek produksi, ketersediaan, distribusi dan konsumsi
3. Memberdayaan kelembagaan dan organisasi ekonomi di pedesaan dengan peningkatan kualitas sumberdaya mannusia dan memfasilitasi sarana prasarana pertanian dan permodalan
4. Meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian guna menjamin penyediaan pangan sesuai kebutuhan untuk pemantapan ketahanan pangan

METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

A. Metode Penyuluhan
Metode penyuluhan merupakan suatu cara yang dilakukan oleh penyuluh untuk mendekatkan diri kepada sasaran. Dalam setiap pelaksanaan penyuluhan pertanian setiap penyuluh harus memahami dan mampu memilih metode penyuluhan yang paling baik sebagai cara untuk tercapainya tujuan penyuluhan (Mardikanto dan Wijianto, 2005).
Metode yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan pengendalian hama sundep pada padi kali ini menggunakan metode “pendekatan kelompok”. Penggunaan metode pendekatan kelompok ini sangat efektif larena di kecamatan Polokarto banyak terdapat kelompok tani. Dengan metode ini seorang penyuluh mendatangi setiap kelompok tani untuk diadakan penyuluhan tentang pengendalian hama sundep. Komunikasi yang digunakan dengan komunikai langsung dan media yang digunakan adalah media cetak yaitu berupa leaflet. Biasanya pertemuan diadakan di gubug sawah yang telah tersedia sebagai tempat penyuluhan.
Dengan pendekatan kelompok ini informasi yang disampaikan dapat segera ditangkap oleh sasaran yaitu cara pengendalian hama sundep di Kecamatan Polokarto.

B. Teknik Penyuluhan
Teknik penyuluhan adalah cara yang digunakan oleh penyuluh untuk mendekatkan materi pada sasaran atau petani (Mardikanto dan Wijianto,2005). Ada berbagai macam teknik yang bisa digunakan penyuluh dalam kegiatan penyuluhannya. Dalam penyuluhan ini penyuluh menggunakan teknik penyuluhan yaitu teknik diskusi dan kunjungan ke kelompok tani. Diskusi mempunyai tujuan mengajak petani untuk membicarakan dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh sasaran sacara bersama-sama penyuluh. Pada teknik ini petani dan penyuluh dapat bertukar informasi yang di dapat.
Pada teknik kunjungan ke kelompok tani penyuluh memegang peranan untuk menyampaikan dan menjelaskan materi dengan langsung memberikan kesempatan sasaran untuk menyampaikan tanggapan masalah masalah masalah yang dihadapi. Sehingga teknik ini sangat cocok untuk diterapkan pada kegiatan penyuluhan tentang pengendalian hama sundep.
C. Alat Bantu Penyuluhan
Alat Bantu Penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan.
Dalam kegiatan penyuluhan kali ini penyuluh menggunakan alat bantu berupa papan tulis atau papan penempel dan alat tulis. Alat tersebut digunakan karena kegiatan penyuluhan dilakukan di gubug sawah. Alat tersebut dapat menjelaskan materi yang akan disuluhkan, dan alat tersebut mudah dibawa ke tempat penyuluhan.
D. Alat Peraga Penyuluhan
Alat Peraga Penyuluhan yaitu alat atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indera manusia, yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses balajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan.
Alat peraga yang akan digunakan dalam penyuluhan kali ini adalah berupa cetakan leaflet yaitu selembar kertas yang dilipat menjadi dua yang berisi informasi mengenai cara pengendalian hama sundep pada padi. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar petani lebih mudah dan jelas dalam menerima materi yang disampaikan sehingga mendukung proses penyuluhan nantinya lancar sehingga tujuan daripada penyuluhan tersebut tercapai.
E. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan dan Evaluasi Materi Penyuluhan
Evaluasi merupakan kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, dan kemudian melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati.
Evaluasi kegiatan penyuluhan tentang cara pengendalian hama sundep pada padi di Kecamatan Polokarto dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur sejauh mana kegiatan penyuluhan tersebut berjalan. Adapun pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagi berikut :
1. Menurut saudara apakah penyuluh sudah menyampaikan materi dengan baik?
2. Apa yang anda ketahui tentang hama sundep ?
3. Bagaimana proses terjadinya serangan hama sundep tersebut ?
4. Bagaimana siklus hidup dari hama sundep tersebut ?
5. Bagaimana cara pengendalian hama sundep tersebut ?
Dengan dilakukannya evaluasi tersebut penyuluh dapat mengetahui keberhasilan terhadap kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan.
F. Alternatif Metode Dan Teknik Penyuluhan
1. Metode Penyuluhan
Apabila dalam pemilihan suatu metode penyuluhan dengan menggunakan metode yang telah dirancang sebelumnya mengalami kegagalan maka kita dapat menggunakan alternatif metode penyuluhan yang lain. Metode yang digunakan adalah metode penyuluhan pendekatan perseorangan. Pendekatan ini, penyuluh hanya memberikan penyuluhan kepada ketua kelompok tani yang ada di daerah tersebut, karena ketua kelompok tani berpengaruh terhadap anggotanya (petani). Setelah mendapatkan informasi dari penyuluh, ketua kelompok tani memberikan informasi yang didapat kepada anggotanya.

2. Teknik Penyuluhan
Apabila dalam melakukan pemilihan teknik penyuluhan dengan menggunakan diskusi dan kuinjungan ke kelompok tani mengalami kegagalan maka dapat menggunakan teknik penyuluhan yang lain seperti demonstrasi. Teknik penyuluhan ini digunakan karena penyuluh dapat secara menunjukan dan membuktikan kepada sasaran tentang penggendalian hama sundep yang tepat yang tidak merugikan petani. Sehingga petani dapat mempraktekkan hasil dari demonstrasi tersebut.

About these ads

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    winanto said,

    trimakasih atas informasinya dan pengetahuan ini, kami sangat memerlukan,untuk penanggulangan sundep ni. dan juga salam salam buat Bapak Budi Wiryono yang kini telah berpindah tugas dri kab paser, KALTIM) ke Kab Sukoharjo JATENG

    from THL Bpp LOng ikis.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: