SEKOLAH LAPANG PENGENDALIAN HAMA TERPADU

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Serangan OPT(Organisme Pengganggu Tanaman) dipengaruhi oleh perkembangan OPT, ketersediaan inang, faktor lingkungan dan manusia atau petani pengelolanya. Dalam PHT(Pengendalian Hama Terpadu), pengendalian OPT pada dasarnya memanipulasi agroekosistem sedemikian rupa sehingga tidak cocok untuk perkembangan OPT tetapi mendorong faktor lain yang menghambat perkembangan OPT. Semakin luas hamparan atau kawasan pertanaman yang dikelola secara benar, kondisi agroekosistem akan makin stabil. Semakin luas hamparan yang pengolahan PHTnya benar maka akan semakin nampak atau terasa pengaruhnya terhadap pertumbuhan OPT. Pernah beberapa orang alumnus SLPHT terpaksa meninggalkan prinsip-prinsip PHT dan kembali ke sistem konvensional karena para petani disekelilingnya tidak menerapkan PHT, sehingga pertanaman miliknya mendapatkan gangguan OPT yang lebih tinggi dibanding dengan sekitarnya.

Pemasyarakatan PHT melalui SLPHT, biasanya lebih ditekankan pada pemahaman petani tentang PHT dan pngaruhnya pada skala kecil dan bukan pada skala luas, sehingga dampak ekonomi dan ekologinya kurang menonjol. Sehubungan dengan itu, maka perlu dilaksanakan SLPHT skala luas, pada daerah endemik OPT serta sudah pernah dilaksanakan kegiatan SLPHT atau yang serupa.

Pada masyarakat Banyudono PHT sebenarnya bukan merupakan barang yang baru, karena beberapa tahun yang lalu mereka pernah mendapatkan SLPHT(Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu). Namun karena sampai saat ini PHT belum diterapkan dengan sungguh-sungguh dan benar, maka dirasa SLPHT diperlukan untuk diberikan kembali kepada petani.

B. Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan SLPHT ini adalah :

1. Meningkatkan pengetahuan petani tentang pengendalian hama terpadu.

2. Meningkatkan kemauan petani dalam mengendalikan hama secara kelompok.

3. Meningkatkan ketrampilan petani dalam pengendalian hama terpadu.

C. Manfaat

1. Meningkatnya pengetahuan petani tentang pengendalian hama terpadu.

2. Petani mau untuk mengendalikan hama secara kelompok.

3. Meningkatnya ketrampilan petani dalam pengendalian hama terpadu.

II. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

A. Sasaran

1. Golongan Umur, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan, Jumlah Masing-Masing Golongan Dan Keseluruhan

Penyuluhan yang akan dilakukan adalah pada daerah tingkat kecamatan, yaitu di Kecamatan Banyudono. Daerah Banyudono merupakan daerah yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Dari kurang lebih 46.000 penduduk sebanyak 9.000 penduduk atau sebanyak hampir 90% diantaranya bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian besar lahan pertanian di Kecamatan Banyudono ditanami padi, dan ada pula yang bertanam jagung.

Jumlah petani di Kecamatan Banyudono hampir mencapai 9.000 orang. Dari sekian banyak petani sebagian besar adalah petani golongan tua atau berumur lebih dari 40 tahun. Sebagian besar petani yang bekerja pada lahan pertanian adalah laki-laki, sedangkan para perempuan hanya membantu saja, dan jumlah perempuan yang membantu di sawah pun hanya kurang lebih 20%.

Tingkat pendidikan dari para petani di Kecamatan Banyudono belum bisa dikatakan tinggi, namun tidak pula rendah. Karena sebagian besar petani di Kecamatan Banyudono pernah mengenyam pendidikan minimal setingkat SMP. Namun ada pula petani yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SD, atau bahkan tidak sekolah. Walaupun demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar petani di Kecamatan Banyudono telah menguasai baca tulis.

Jumlah petani di Kecamatan Banyudono adalah sebesar 8993 orang. Dari sekian banyak petani jumlah petani pemilik penggarap adalah yang terbesar yaitu sejumlah 3.896 orang. 3.219 orang petani diantaranya sebagai petani penggarap dan petani penyakap. Sedangkan jumlah buruh tani sebesar 1.878 orang.

2. Adat Kebiasaan, Norma-norma, Dan Pola Kepemimpinan

Masyarakat tani di Kecamatan Banyudono masih memiliki beberapa budaya yang masih dilakukan hingga saat ini. Budaya tersebut seperti gotong royong, kendurian, dan lain-lain. Pola kepemimpinan yang ada di masyarakat di Kecamatan Banyudono adalah masyarakat disana masih sangat menghormati pemimpin mereka baik pemimpin secara formal maupun non formal. Namun walaupun demikian keadaan masyarakat disana sangat mudah untuk menerima kehadiran orang luar. Kemauan untuk menerima sesuatu yang barupun sangat baik.

3. Bentuk-bentuk Usahatani

Sebagian besar petai di Kecamatan Banyudono dalah petani Padi, dan sebagian lainnya sebagai petani jagung. Namun selain itu terdapat juga yang mengusahakan tanaman lain seperti kacang tanah, sayuran, buah-buahan, tembakau, kelapa, dan tanaman perhutanan. Tidak semua tanaman tersebut diusahakan di lahan sawah. Namun ada yang diusahakan di lahan tegalan, maupun pekarangan.

Penjualan hasil usahatani dilakukan secara kolektif maupun individu oleh para petani. Penjualan hasil pertanian dapat dilakukan kepada penebas ataupun dijual ke kelompok tani. Hasil pertanian yang dijual sebagian besar merupakan hasil dari tanaman budidaya di sawah dan tegalan. Sedangkan untuk tanaman pekarangan hanya digunakan untuk dikonsumsi sendiri, walaupun ada pula yang menjual hasil tanaman dari pekarangan semisal tanaman mangga, dan kelapa.

4. Kesediaan Individu Sebagai Demonstrator, Tingkat Adopsi dan Jumlah Petani Maju

Adat budaya masyarakat Banyudono yang mudah untuk menerima kehadiran orang luar membuat mereka terbuka terhadap hal-hal yang baru. Taingkat adopsi petani di Kecamatan Banyudono termasuk tinggi. Hal ini memudahkan pemberitahuan hal yang baru kepada mereka. Bahkan Masyarakat di Kecamatan Banyudono sangat respect terhadap teknologi pertanian yang baru. Setiap ada teknologi pertanian baru banyak petani yang menginginkan untuk mencoba. Hal tersebut dimungkinkan karena banyaknya jumlah petani maju pada tiap-tiap kelompok tani. Dari setiap kelompok tani yang ada hampir 15-20 orang merupakan petani maju. Tingkat adopsi para petani cukup tinggi, terutama pada petani maju. Namun petani lain akan cepat mengikuti jika mereka telah mengetahui hasil percobaan yang dilakukan petani maju, dan hasil percobaan tersebut cukup baik.

B. Penyuluhan dan Kelengkapannya

1. Kemampuan penyuluh, jumlah penyuluh, pengetahuan, dan keterampilan penyuluh

Kemampuan penyuluh dalam menyampaikan materi ini adalah penyuluh telah memahami SLPHT sacara umum. Dalam menyampaikan materi kepada semua peserta menggunakan bahasa yang lugas dan tidak kaku sehingga mampu menarik minat serta mendukung terjadinya dialog. materi yang ada tidak semuanya diberikan dengan cara kuliah, namun lebih pada menjelaskan secara langsung pada saat berada di lapang. Jumlah penyuluh yang memberikan materi tidak hanya satu melainkan juga didampingi oleh petugas dari laboratorium. Selain itu penyuluh akan dibantu oleh petani pendamping sebagai petani yang akan memimpin pelaksanaan kegiatan SLPHT tersebut. Dengan demikian sebenarnya kegaitan ini bersifat belajar bersama-sama antar petani, penyuluh, serta petugas laboratorium penelitian. Dengan sistem belajar bersama ini diharapkan petani dapat lebih leluasa dalam mengikuti kegiatan, karena mereka akan merasa dihormati. Perlu diingat bahwa dalam kegiatan ini penyuluh hanya sekedar sebagai fasilitator.

Penyuluh juga memiliki ketrampilan dalam memahami label pada produk-produk pertanian sehingga akan membantu dalam penentuan pengguunaan suatu produk pertanian. Selain itu penyuluh memiliki kemampuan dalam mengorganisasi kelompok, hal itu akan membantu dalam mengajak petani untuk menerapkan PHT.

2. Materi penyuluhan

a. Survey lokasi dan pendataan peserta

Kegiatan diawali dengan survey l;okasi dan pendataan peserta pelatihan. Peserta adalah 25 orang petani yang berasal dari satu kelompok tani. Data yang diambil berupa nama, umur, pendidikan, jenis kelamin. Selain itu juga dicari data luas dan intensitas serangan OPT pangan yang terjadi di daerah tersebut pada musim tanam sebelumnya sebagai data pembanding. Peserta adalah petani yang dapat membaca menulis, dapat berkomunikasi dengan baik, petani maju atau kontak tani, petani pemilik atau penggarap, sanggup mengikuti kegiatan sampai selesai dan yang dapat menggerakkan masyarakat tani yang lain.

b. Pertemuan musyawarah pra tanam

Musyawarah ini untuk mengkoordinasikan kegiatan. Selain itu juga digunakan untuk menyamakan persepsi tentang SLPHT, rencana pelaksanaan SLPHT selama satu musim tanam, penjelasan materi yang akan disampaikan tiap minggu. Menentukan perlakuan teknologi budidaya sistem PHT dan non PHT. Menentukan topik yang dibahas pada SLPHT

c. Petani penggerak

Tujuan adanya petani penggerak adalah untuk memberikan bekal pengetahuan maupun ilmu kepemanduan, melatih calon petani penggerak agar mampu untuk merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi program SLPHT, dan menyamakan persepsi diantara calon petani pemandu. Kegiatan ini dilaksanakan di laboratorium PHP atau di lokasi kegiatan. Ini dilakukan selama dua hari dan dipandu oleh petugas pemandu.

d. Penerapan teknologi pengendalian

Kegiatan ini dilaksanakan pada lahan praktek dengan menggunakan komponen teknologi pengendalian yang telah disepakati berdasarkan pengamatan agroekosistem, baik untuk komoditas padi, jagung maupun kedelai. Pelaksanaan pengendalian disesuaikan dengan kondisi OPT sasaran dan dilakukan oleh petani peserta dengan didampingi oleh petani penggerak atau petani pemandu dan petugas pemandu.

e. Pertemuan mingguan

SLPHT tanaman pangan padi dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan, selama satu musim tanam. Kegiatan pertemuan dipandu oleh petugas pemandu dibantui petani pemandu atau penggerak.

Minggu I

Pre test (untuk mengetahui pengetahuan petani tentang PHT), pengenalan dan pengamatan agroekosistem dasar, dinamika kelompok, topik khusus, dan kesepakatan belajar. Selain itu juga sebagai permulaan penanaman tanaman contoh atau objek percobaan.

Minggu II – XI

Pengamatan, penggambaran, presentasi dan diskusi agroekosistem serta pengambilan keputusan oleh masing-masing sub kelompok yang telah dibentuk. Topik khusus disesuaikan dengan keadaan pada saat dilaksanakannya kegiatan.

Minggu XII

Analisa untuk membandingkan antara petak PHT dengan petak non PHT. Post test (untuk mengetahui pengetahuan petani tentang PHT). Mengevaluasi ketrampilan petani, serta tindak lanjut kegiatan.

f. Pengamatan mingguan

Pengamatan mingguan dilakukan setiap minggu pada petak PHT dan petak non PHT. Satu kelompok tani dibagi atas 5 sub kelompok, dan setiap sub kelompok didampingi oleh seorang petani pemandu. Parameter yang diamati antara lain

a. Populasi dan intensitas serangan OPT pada 10 rumpun contoh

b. Populasi musuh alami pada 10 rumpun contoh (jenis dan jumlahnya)

c. Produksi berdasarkan hasil ubinan (2,5 X 2,5) m2

d. Teknologi yang diterapkan di petak non PHT

e. Kondisi lingkungan pertanaman serta hal-hal lain yang berhubungan dengan permasalahan OPT padi di lapangan

g. Lokakarya atau koordinasi

Kegiatan dilakukan di tengah kegiatan. Kegiatan ini untuk pemantapan organisasi atau kelompok tani, dan merumuskan rencana tindak lanjut.

h. Hari lapang

Kegiatan ini dilakukan pada saat akan panen. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan kegiatan SLPHT ini kepada khalayak luas.

i. Pembinaan

Pembinaan dilakukan oleh petugas dinas pertanian. Pembinaan dilakukan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik.

j. Pelaporan

Laporan awal yang berisi latar belakang, tujuan, pelaksanaan, jadwal, dan materi kegiatan.

Laporan akhir yang berisi hal-hal yang tercakup dalam laporan awal, dan ditambah dengan teknologi yang digunakan, dan hasil dari kegiatan yang dilaksanakan. Kalau ada dokumentasi kegiatan.

3. Sarana dan prasarana penyuluhan

Sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegiatan ini antara lain :

a. Sarana belajar antara lain lokasi, tempat penjelasan materi, dan alat bantu atau alat peraga.

b. Bahan praktek

c. Bantuan saprodi

d. Sarana dan perlengkapan peserta

e. Sarana dan perlengkapan penyuluh

4. Biaya yang ada

Karena merupakan kegiatan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten, maka seluruh biaya kegiatan ini akan ditanggung oleh pemerintah daerah melalui biaya APBDnya. Kemudian untuk petani hanya menyiapkan lahan untuk hamparan percobaan.

C. Keadaan Daerah

1. Iklim

Kecamatan Banyudono merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Boyolali. Kecamatan Banyudono terletak pada iklim tropis, dan memiliki suhu maksimum harian 340C, dan suhu minimum harian 180C. Menurut Schmith dan Ferguson, tipe iklim di Kecamatan Banyudono termasuk iklim tropis basah, dengan rata-rata curah hujan tahunan selama 10 tahun terakhir sebesar 2.076 mm, dengan 105 hari hujan.

2. Topografi dan pertanaman

Kecamatan Banyudono memiliki lahan pertanian seluas 2.537,8954 Ha, dengan tingkat kemiringan 8% dengan ketinggian rata-rata 152 dpl. Jenis lahan pertaniannya antara lain tegal, pekarangan, dan sawah.

Untuk tanah persawahan di Kecamatan Banyudono sangat beragam. 766,2685 Ha sawah telah berpengairan teknis, 624,1947 Ha sawah berpengairan 1/2 teknis, 132,862 Ha sawah beririgasi sederhana, dan sisanya merupakan sawah tadah hujan.

Untuk jenis tanah di Kecamatan Banyudono adalah Regosol Coklat Keabuan, Batuan Induk Abu Pasir tuf fulkan intermedier sampai batas basis fisiografis vulkan, dengan pH antara 5,5 – 6,5.

Dengan sumber daya alam yang relatif subur, tersebar di 15 desa merupakan sumber daya yang potensial bagi usaha pertanian. Penggunaan lahan di Kecamatan Banyudono adalah untuk lahan sawah seluas 1.525,3257Ha, untuk lahan tegal seluas 142,1287 Ha, dan sisanya untuk lahan pekarangan dan lain-lain.

3. Perhubungan

Sarana perhubungan antar desa di Kecamatan Banyudono sudah berupa jalan aspal, dengan kondisi jalan masih baik, namun ada beberapa jalan yang rusak. Fasilitas untuk menuju ke pusat perdagangan maupun pusat pemerintahan merupakan jalan aspal yang kondisinya masih sangat baik. Jalan tanah hanya terdapat di jalan-jalan di tengah sawah, dan kondisinya dapat dikatakan masih baik.

Karena termasuk daerah yang memiliki jarak relatif dekat dengan kota besar, maka Kecamatan Banyudono seluruhnya telah terdapat fasailitas listrik, dan sarana komunikasi berupa jaringan telepon.

D. Kebijakan Pemerintah Pusat, Daerah, dan Setempat

1. Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan No. 16. Th. 2006 tanggal 18 November 2006.

2. Perda Kabupaten Boyolali nomor 2 tahun 2001, tentang tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan

3. Peraturan Gubernur Jateng No. 68 tahun 2006 tanggal 12 Agustus 2006 tentang Pedoman Umum Gerakan Pembangunan Mandiri Pangan (Gerbang Mapan) Provinsi Jawa Tengah

III. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

A. Metode Penyuluhan

Pada dasarnya metode penyuluhan yang digunakan penyuluh harus disesuaikan dengan kondisi sasaran yang ada pada daerah penyuluhan. Selain itu metode juga harus disesuaikan dengan materi penyuluhan yang akan disampaikan. Oleh karenanya sebelum melakukan penyuluhan, seorang penyuluh perlu untuk mengidentifikasi sasaran, memahami materi penyuluhan yang akan disampaikan, serta biaya dan kemampuan yang dimiliki penyuluh.

Metode yang akan digunakan dalam SLPHT ini dengan menggunakan pendekatan kelompok dengan sasaran utama kepada kontak tani dan petani maju. Metode ini digunakan karena sesuai dengan tujuan dari SLPHT yang mana bertujuan untuk membantu dan memberi dorongan kepada petani yang berada dalam tahap mencoba ataupun menerapkan. Pada SLPHT ini juga berusaha untuk menumbuhkan kesadaran petani untuk mau bercocok tanam dalam waktu yang serentak. Petani di Kecamatan Banyudono sebenarnya tahu dan pernah diberikan penyuluhan tentang SLPHT namun sampai sekarang mereka belum menerapkannya secara efektif.

Penyuluhan dilakukan di lokasi kerja petani atau lahan pertanian yaitu Petak sarana belajar atau petak praktek (petak PHT dan petak non PHT) masing-masing seluas 2000m2 dan antara petak PHT dengan petak non PHT dibatasi oleh petak alami. Selain untuk memudahkan penjelasan, juga dimaksudkan agar kegiatan penyuluhan tidak mengganggu rutinitas petani. SLPHT ini akan diberikan kepada kontak tani ataupun petani maju pada tiap-tiap desa. Dengan memberikan SLPHT kepada mereka, diharapkan nentinya para petani maju maupun kontak tani dapat memberitahukan kepada petani yang lain. Dengan ini diharapkan petani maju atau kontak tani yang mengikuti kegiatan SLPHT akan memberikan ilmu yang diperolehnya kepada petani lain.

B. Teknik Penyuluhan

Teknik yang digunakan dalam SLPHT adalah teknik individu kunci atau kontak tani. Alasan pemilihan teknik ini karena ketersediaan kontak tani dan petani maju di Kecamatan Banyudono cukup banyak. Pada tiap-tiap kelompok tani di sana jumlah petani maju atau kontak taninya sekitar 15-20 orang.

Selain itu teknik kunjungan dan demonstrasi juga digunakan. Kunjungan dilakukan untuk melihat pelaksanaan SLPHT ini kedepannya. Sedangkan demonstrasi digunakan untuk menjelaskan cara-cara SLPHT kepada para petani pada masa awal-awal penyuluhan.

Diskusi juga digunakan untuk mencari informasi tentang masalah-masalah ynag mungkin dirasakan oleh petani. Dengan diskusi penyuluh mampu untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya ada, dan hal-hal yang dibutuhkan oleh petani. Dengan demikian kegiatan penyuluhan dapat diusahakan untuk dijalankan seefektif mungkin.

C. Alat Bantu Penyuluhan

Alat bantu penyuluhan adalah segala macam perlatan yang dapat digunakan oleh penyuluh untuk membantu kegiatan penyuluhan dan dapat mempermudah penyampaian materi penyuluhan. Pada SLPHT ini akan menggunakan alat bantu berupa kurikulum, lembar persiapan penyuluhan, papan tulis atau papan petunjuk, alat tulis.

Kurikulum berisi materi-materi yang akan dilakukan selama masa penyuluhan materi SLPHT. Kurikulum juga berisi tujuan-tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan SLPHT, kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, daftar materi yang akan diberikan, dan rencana evaluasi dari kegiatan penyuluhan.

Lembar persiapan penyuluhan berisi pokok-pokok bahasan pada tiap-tiap pertemuan. Dengan lembar persiapan penyuluhan ini maka kegiatan penyuluhan akan lebih tertata rapi. Selain itu lembar persiapan penyuluhan juga membantu penyuluh dalam menentukan pokok bahasan pada tiap-tiap kunjungan.

Lembar persiapan penyuluhan

Pertemuan dilakukan mingguan, dengan tujuan :

a. Mengamati, menggambarkan, mempresentasikan dan mendiskusikan agroekosistem serta pengambilan keputusan

b. Mencari studi pendukung (berkaitan dengan budidaya tanaman, dan tentang kerusakan tanaman)

c. Melihat dinamika kelompok yang ada

d. Melakukan pre test dan post test

e. Membahas topik-topik khusus

f. Menganalisa usaha tani

Papan tulis atau penunjuk akan digunakan pada saat penyuluhan di lapang. Pada papan tersebut akan diberikan pertanyaanpetanyaan yang kemudian akan dijawab oleh para petani. Kegaiatan ini dilakukan di lahan yang digunakan sebagai sampel penyuluhan.

D. Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga adalah alat yang digunakan guna menjelaskan penyuluhan yang disampaikan, dan mempermudah penyampaian materi penyuluhan. Alat peraga yang digunakan antaralain benda, barang cetakan, dan gambar diproyeksikan.

Benda digunakan pada saat sekolah lapang yang dilakukan di lahan. Benda maerupakan wujud asli dari OPT, ini digunakan untuk menjelaskan apa saja yang mungkin akan mengganggu tanaman yang dibudidayakan. Pada saat SLPHT dilakukan di lapang akan ditunjukkan kepada petani hama yang mungkin dapat mengganggu tanaman yang petani budidayakan.

Penggunaan barang cetakan berupa gambar-gambar juga digunakan. Hal ini bertujuan untuk memperjelas hama yang mungkin akan dapat menyerang pertanian mereka, dan hama tersebut pada saat SLPHT dilaksanakan belum ada secara nyata. Hal ini bertujuan untuk mencegah serangan hama yang bisa merugikan.

E. Evaluasi

Evaluasi merupakan kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, dan kemudian melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati. Evaluasi kegiatan sekolah lapang pengendalian hama terpadu ini adalah tentang penerapan metode dan teknik penyuluhan, dan juga tentang materi penyuluhan.

1. Evaluasi penerapan metode dan teknik penyuluhan

a. Apakah metode dan teknik yang digunakan telah benar atau disukai oleh petani?

b. Apakah metode dan teknik yang digunakan telah mendukung tersampaikannya materi penyuluhan secara baik?

2. Evaluasi materi penyuluhan

a. Apakah materi yang diberikan sudah jelas?

b. Apakah materi yang telah disampaikan bisa anda mengerti?

c. Menurut anda apakah masih ada yang kurang tentang materi yang disampaikan?

F. Alternatif Metode dan Teknik Penyuluhan

Dalam Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu hampir sebagian besar metode dan teknik penyuluhan digunakan sehingga alternatif metode dan teknik penyuluhan yang tidak digunakan sangatlah sedikit. Alat bantu belum digunakan antara lain media massa, dan media cetak berupa poster.

Alternatif metode dan teknik yang mungkin dapat digunakan adalah dengan pendekatan secara massal. Dan dapat menggunakan alat bantu berupa film, karena saat ini player VCD bukan merupakan barang mewah. Dan hampir semua petani saat ini memiliki alat tersebut.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: