Evaluasi program SLPHT TANAMAN JAGUNG dengan menggunakan model CIPP (context, input, process, product) di Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar

  1. I. PENDAHULUAN
  1. A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya hidup atau bekerja pada sektor pertanian. Dan sebagai negara yang penduduknya banyak maka stabilitas dalam penyediaan tanaman pangan menjadi hal yang penting. Penyediaan pangan yang cukup harus didukung oleh produk hasil tanaman pangan yang cukup pula.

Tanaman jagung merupakan salah satu tanaman pangan yang sudah lama diusahakan petani Indonesia  dan merupakan tanaman ke dua setelah padi, selain sebagai sumber pangan jagung adalah sumber karbohidrat ke dua setelah beras. Jagung digunakan pula sebagai bahan baku industri pakan ternak dan industri non pakan. Kebutuhan jagung di dalam negara meningkat sejak tahun 1970an, terutama untuk bahan pakan sebagai akibat berkembangnya peternakan unggas. Lonjakan permintaan tersebut telah menempatkan Indonesia dalam posisi pengimpor jagung dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai upaya diprogramkan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung secara nasional, antara lain melalui peningkatan mutu intensifikasi yang ditempuh melalui penggunaan benih unggul, khususnya jagung hibrida dan jagung unggul bersari bebas seperti Arjuna, Kalingga dan Wiyara. Daerah-daerah yang biasa menanam varietas lokal akan terus diusahakan beralih menanam varietas unggul dan pada akhirnya menanam varietas hibrida. Di samping hal tersebut di atas usaha perluasan areal akan tetap dilakukan (Tahlim,1988).

Jagung hibrida sebagai jagung jenis unggul menjadi perhatian para pecinta tanaman jagung. Jenis ini memiliki keunggulan dalam segi produksi dan ketahanan terhadap salah satu atau dua penyakit yang sering menyerang. Kemampuan menghasilkan yang cukup tinggi ini menyebabkan orang tertarik untuk mengelolanya agar dapat memenuhi permintaan peternak, terutama pada saat paceklik atau kesulitan mendapatkan jagung.

Keunggulan tersebut sangat menarik konsumen dan petani tergugah untuk mencobanya. Produksi jagung yang tinggi, ditunjang kestabilan produksi, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia beserta ternaknya. Suatu areal pertanaman jagung yang cukup luas dan dikelola dengan baik, diharapkan bisa memberikan produksi yang lebih tinggi sehingga menambah pendapatan petani jagung (AAK, 1993).

Salah satu resiko yang dihadapi dalam peningkatan produksi jagung adalah serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Beberapa OPT utama yang menyerang dan merugikan tanaman jagung adalah Lalat Bibit (Atherigona exigua), Ulat daun (Problenia/Spodoptera litura), Penggerek Tongkol (Heliotis armigera), Wereng Daun dan penyakit Bulai (Scerospora maydis). Kelima OPT tersebut serangannya selalu dijumpai di lapangan dari waktu ke waktu. Pengendalian atas OPT tersebut, khususnya yang 4 pertama telah banyak dan terus-menerus dilakukan dengan berpedoman pada konsep Pengendalian Hama Terapadu (PHT). Namun saat ini permasalahan OPT tersebut dirasakan belum tuntas (Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman, 2007).

Pengendalian hama penyakit/OPT tersebut perlu adanya komponen pengendalian yang efektif terhadap masing-masing hama penyakit. Komponen pengendalian yang banyak direkomendasikan dalam pengendalian hama penyakit jagung pada garis besarnya meliputi: varietas tahan, kultur praktis, musuh alami dan pestisida. Penggunaan pestisida yang telah berkembang pesat ternyata banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti terbunuhnya organisme bukan sasaran, terjadi pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia (Oka, 1995).

Adanya berbagai macam jenis serangan OPT tersebut seringkali mengakibatkan pertumbuhan tanaman jagung menjadi terganggu atau bahkan menggagalkan produksi tanaman jagung. Untuk dapat meningkatkan produktivitas dan pengetahuan petani terhadap serangan OPT tanaman jagung dilakukan pembinaan melalui kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Program SLPHT ini dilaksanakan di Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar, dimana daerah tersebut telah melaksanakan program SLPHT jagung, karena di daerah ini komoditas jagung banyak diusahakan oleh petani.

Melalui kegiatan SLPHT ini, para petani sebagai anggota kelompok tani dididik untuk meningkatkan pengetahuan secara bertahap tentang siklus hidup dan sifat serangannya yang berkaitan erat dengan usia tanaman serta meningkatkan keterampilan dalam berusaha tani. Hal ini akan memberikan manfaat kepada petani untuk melakukan dugaan kemungkinan serangan berikutnya, selain itu dapat dipergunakan dalam pengambilan keputusan tentang strategi pengendalian yang tepat.

Setelah program SLPHT ini dilaksanakan maka perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan program yang telah dilaksanakan.

  1. B. Perumusan Masalah

Program SLPHT dikatakan berhasil  apabila tujuan dari program tersebut dapat dicapai. Untuk mengevaluasi keberhasilan program tersebut maka dilakukan evaluasi. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penilaian dan perubahan yang terjadi pada petani setelah mengikuti program SLPHT.

Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program sangat bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan karena dengan masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan (Arikunto, S dan Cepi Safrudin A.J, 2004).

Salah satu model evaluasi yang bisa diaplikasikan dalam program ini adalah evaluasi dengan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Model evaluasi ini merupakan model yang paling banyak dikenal dan diterapkan oleh para evaluator, oleh karena itu uraian yang diberikan relatif panjang dibandingkan dengan model-model lainnya. Model CIPP ini dikembangkan oleh Stufflebeam dan kawan-kawan (1976) di Ohio State University. CIPP yang merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata, yaitu: context evaluation : evaluasi terhadap konteks, input evaluation : evaluasi terhadap masukan, process evaluation :  evaluasi terhadap proses,  dan product evaluation : evaluasi terhadap hasil.   Keempat kata  yang disebutkan  dalam singkatan CIPP tersebut   merupakan   sasaran   evaluasi yang  tidak lain  adalah  komponen  dari  proses sebuah       program kegiatan.   Dengan        kata  lain, CIPP   adalah    model  evaluasi      yang  memandang  program yang di evaluasi sebagai sebuah sistem                                                                                        (Arikunto, S dan Cepi Safrudin A.J, 2004).

Berbagai hal yang perlu dikaji pada evaluasi dengan model CIPP antara lain, context meliputi beragam hal mengenai kondisi masyarakat, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kondisi sosial budayanya. Input meliputi beragam hal yaitu fasilitas dan dana yang disediakan untuk pelaksanaan program. Process meliputi survey lokasi dan pendataan peserta, dan product meliputi beragam hal antara lain meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam mengamati OPT tanaman jagung dan teknologi pengendaliannya, meningkatkan kerjasama kelompok dalam berusaha tani, dan meningkatkan kualitas agro ekosistem.

Evaluasi dengan model CIPP ini akan mampu mendeskripsikan semua unsur yang berperan dalam kegiatan program dengan kekuatan dan kelemahannya, proses kegiatan program, kesenjangan dan keterpaduan antar unsurnya, sehingga mampu menghasilkan saran yang bermanfaat bagi perbaikan dan pengembangan program (Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS), 1999).

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan antara lain sebagai berikut:

  1. Bagaimana program SLPHT tanaman jagung dilihat dari komponen context (kontek)?

b.  Bagaimana program SLPHT tanaman jagung dilihat dari komponen input (masukan)?

  1. Bagaimana program SLPHT tanaman jagung dilihat dari komponen process (proses)?

d.  Bagaimana program SLPHT tanaman jagung dilihat dari komponen product (hasil)?

  1. C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui program SLPHT tanaman jagung dari komponen context (konteks).
  2. Mengetahui program SLPHT tanaman jagung dari komponen input (masukan).
  3. Mengetahui program SLPHT tanaman jagung dari komponen process (proses).
  4. Mengetahui program SLPHT tanaman jagung dari komponen product (hasil).
    1. D. KegunaanPenelitian

Kegunaan penelitian ini adalah:

  1. Bagi peneliti, penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana  di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  2. Bagi pemerintah dan instansi terkait, diharapkan dapat menjadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya untuk meningkatkan produksi tanaman jagung.
  3. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk penelitian sejenis.
  4. Bagi petani, sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam menerapkan PHT terhadap tanaman jagung.
  1. II. LANDASAN TEORI

  1. A. Tinjauan Pustaka
    1. 1. Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan merupakan suatu usaha menyebarkan luaskan hal-hal yang baru agar masyarakat mau tertarik dan berminat untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan mendidikkan sesuatu kepada masyarakat, memberi pengetahuan, informasi dan kemampuan-kemampuan baru, agar mereka dapat membentuk sikap dan berperilaku hidup menurut apa yang seharusnya (Nasution, 1990).

Penyuluhan adalah sistim pendidikan non formil tanpa paksaan menjadikan seseorang sadar dan yakin bahwa sesuatu yang dianjurkan akan membawa ke arah perbaikan dari hal-hal yang dikerjakan atau dilakukan sebelumnya (Samsudin, 1982).

Penyuluhan merupakan proses pendidikan. Program penyuluhan membantu petani untuk meningkatkan pengetahuannya dari aspek pertanian, dan pemahaman petani dalam biologi, phisik, dan proses ekonomi di dalam pertanian. Sasaran meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan petani adalah untuk membantu petani menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mereka (Hawkins, Dunn dan Carry, 1982).

Sifat pendidikan dalam penyuluhan pertanian adalah non formil, artinya penyuluhan pertanian dapat dilaksanakan atas dasar :

  1. Tidak terbatas pada ruangan tertentu; mengenai tempat dapat dipilih yang sesuai dengan keinginan petani dan dapat dilakukan di mana saja.
  2. Tidak mempunyai kurikulum tertentu; penyebaran isi penyuluhan dan target waktunya ditentukan oleh tingkat kemampuan petani.
  3. Isi yang disampaikan didasarkan atas kebutuhan petani; biasanya menyangkut segi-segi praktis dalam usaha tani.
  4. Sasaran tidak terbatas pada keseragaman umur; tidak mengenal pembagian sasaran atas dasar tingkat umur seperti halnya dalam pendidikan formal.
  5. Tidak bersifat paksaan; dalam menerapkan sesuatu kepada masyarakat tani sifatnya sukarela, dan akhirnya petani bebas menentukan kegiatan usaha taninya masing-masing.
  6. Ketentuan-ketentuan sangsi atas sesuatu hal tidak berlaku; petani sebenarnya bukan murid dan bukan bawahan setiap penyuluhan pertanian.
  7. Waktu dan lamanya pendidikan tidak mempunyai ketentuan pasti; selama ada sesuatu yang baru yang perlu disampaikan kepada petani penyuluhan terus berlangsung bahkan tidak akan pernah berhenti.

(Samsudin, 1982).

  1. 2. Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)

Menurut Zamzaini (2007), SLPHT adalah pertemuan petani setiap seminggu sekali untuk belajar mengenai pertanian dan permasalahannya serta mencari jalan pemecahannya. Caranya adalah dengan mengamati tanaman (termasuk hama, musuh alami, cuaca, tanah dan sebagainya), mencatat dan menggambar hasil pengamatan, mendiskusikan hasil temuan, menyimpulkan dan merencanakan  tindakan selanjutnya. Setelah selesai melakukan kegiatan sekolah lapang selama satu musim, petani ini membentuk kelompok yang berfungsi sebagai pusat informasi dan penelitian dalam upaya mengamankan hamparan, sehingga kelompok selalu melakukan berbagai ujicoba untuk menemukan inovasi dalam rangka memecahkan masalah persoalan yang sedang dihadapi.

SLPHT adalah suatu model percontohan latihan petani secara besar-besaran. Tujuan dari kegiatan ini adalah unuk melatih petani sehingga mampu meningkatkan  kemampuan dan pengetahuan untuk dapat digunakan memecahkan masalahnya sendiri terutama mengenai serangan organisme pengganggu tanaman, selain itu diharapkan dapat menjadi ahli lapangan PHT sehingga mampu menerapkan prinsip PHT, sekurang-kurangnya di lingkungan sawahnya sendiri (Untung, 1993).

  1. 3. Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Smith (1983) dalam Oka (1995) mendefinisikan PHT sebagai berikut: Pemberantasan Hama Terpadu (“Integrated Pest Control (IPC)”): adalah pengendalian hama yang menggunakan semua teknik dan metoda yang sesuai dalam cara-cara yang seharmonis-harmonisnya dan mempertahankan populasi hama dibawah tingkat yang menyebabkan kerusakan ekonomi di dalam keadaan lingkungan dan dinamika populasi spesies hama yang bersangkutan.

Dalam Undang-Undang No.12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman ditetapkan bahwa dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman atau Perlindungan Tanaman digunakan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Dalam penjelasan undang-undang tersebut, PHT diberikan pengertian sebagai: upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan, untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam sistem ini penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir. Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan bersifat dinamis (Malik, et al. 2001).

Konsep atau cara pengendalian Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan suatu konsep pengelolaan agro-ekosistem yang bertujuan untuk mempertahankan populasi hama dan kerusakan tanaman yang diakibatkannya pada aras yang tidak merugikan, dengan memadukan dan memanfaatkan semua metode pengendalian hama, termasuk pemanfatan predator dan parasitoid, varietas tahan hama, teknik bercocok tanam dan yang lain, serta bila perlu menggunakan pestisida selektif (Untung, 1993).

Dalam penerapan PHT mengacu kepada empat prinsip yaitu:1). Budidaya tanaman sehat, 2). Pelestarian musuh alami, 3). Pemantauan ekosistem secara teratur, dan 4). Petani sebagai penentu keputusan pengendalian atau sebagai ahli PHT.

Budidaya tanaman sehat menjadi bagian yang penting dalam pengelolaan OPT, karena tanaman yang sehat cenderung mempunyai ketahanan ekologis yang lebih tinggi. Musuh alami sebagai salah satu unsur pengendali alamiah harus dikelola, dimanfaatkan dan dilestarikan keberadaannya sehingga mampu berperan secara optimal. Prinsip bahwa OPT dan musuh alami  merupakan bagian integral dari ekosistem pertanian menjadi landasan pelaksanaan PHT. Musuh alami berfungsi dalam mengatur keberadaan populasi OPT sehingga selalu berada pada tingkat yang secara relatif stabil dan tidak menimbulkan kerusakan yang menyebabkan kerugian ekonomi.

Untuk memantau perkembangan populasi OPT, musuh alami dan perkembangan unsur-unsur lingkungan yang lain, perlu dilakukan pemantauan secara berkelanjutan. Dengan pemantauan rutin, menganalisis hasil pemantauan dan belajar memutuskan sendiri langkah-langkah yang harus dilakukan atas dasar hasil analisis tersebut, diharapkan petani menjadi ahli PHT di lahan usahataninya.

Strategi yang dapat digunakan untuk menerapkan PHT ialah:1). Perencanaan ekosistem, 2). Pengelolaan ekosistem, 3). Penerapan berbagai teknik, 4). Penerapan pengendalian teknologi spesifik lokasi. Strategi ini dapat dikembangkan di setiap daerah sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah.

  1. Perencanaan ekosistem

Pada prinsipnya kondisi ekosistem pertanian yang diinginkan ialah kondisi tanaman dapat tumbuh sehat, memberikan hasil yang baik, serta populasi dan serangan OPT tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi. Kondisi seperti itu diusahakan dapat “dirancang” dan “diciptakan”. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan memilih komoditas yang akan ditanam, varietas yang dipilih, waktu tanam yang memungkinkan OPT tidak berkembang, jarak tanam yang tepat, pemupukan yang berimbang dan berbagai tindakan lain yang tidak menguntungkan perkembangan OPT.

  1. Pengelolaan ekosistem

Ekosistem pertanian merupakan ekosistem buatan yang secara umum relatif rentan terhadap perubahan dan timbulnya gangguan OPT, untuk itu pengelolaan ekosistem diarahkan bagi terciptanya kondisi yang tidak menguntungkan pertumbuhan dan perkembangan OPT. Langkah-langkah pengelolaan ekosistem yang dapat dilakukan antara lain pemupukan berimbang, pemasangan pagar/pelindung, penggunaan pestisida secara bijaksana, pelestarian musuh alami, penanaman tanaman jagung sebagai tanaman perangkap atau barier (misalnya kacang hijau) dan lain-lain.

  1. Penerapan berbagai teknik

Strategi pengendalian OPT dapat pula diartikan sebagai pengaturan penerapan berbagai teknik/cara/taktik pengendalian. Secara garis besar, cara-cara pengendalian OPT dapat dibedakan antara lain cara bercocok tanam, cara fisis, cara mekanis, cara kimiawi, cara genetis dan cara penegakkan perundang-undangan. Dalam PHT, berbagai cara pengendalian tersebut pada prinsipnya perlu diintegrasikan menjadi satu kesatuan rencana secara harmonis. Oleh karena itu berbagai cara yang diterapkan haruslah cocok (kompatibel) atau dapat saling digabungkan.

  1. Penerapan pengendalian teknologi spesifik lokasi

PHT bukanpaket teknologi, karena harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Cara-cara yang diterapkan di suatu lokasi belum tentu sesuai apabila diterapkan di lokasi lain. Oleh karena itu prinsip penerapan teknologi spesifik lokasi merupakan dasar penerapan PHT. Pada dasarnya tidak ada dua lokasi yang berbeda memiliki kondisi lingkungan yang sama (Malik, et al. 2001).

4. Evaluasi

Menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan   (Thoha, 1991).

Evaluasi merupakan metoda untuk mengkaji keberhasilan suatu aktivitas tertentu, dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan lagi hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya. Setelah melaksanakan langsung di lapangan rencana kerja yang tadinya tertulis di atas kertas, adalah perlu untuk mengevaluasinya dan melaporkan perkembangan yang terjadi           (Nasution, 1990).

Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (Arikunto, S dan Cepi Safrudin A.J, 2004).

Stufflebeam (1971) dalam Mardikanto (1996) mengemukakan bahwa, pada dasarnya tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai atau menyimpang dari pedoman yang ditetapkan atau untuk mengetahui tingkat kesenjangan (diskrepansi) antara keadaan yang telah dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dapat dicapai sehingga dengan demikian akan dapat diketahui tingkat efektifitas dan efisiensi kegiatan yang telah dilaksanakan, untuk selanjutnya dapat segera diambil langkah-langkah guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan seperti yang dikehendaki.

Dalam ilmu evaluasi program, ada banyak model yang bisa digunakan untuk mengevaluasi suatu program, salah satunya adalah model evaluasi CIPP. Model evaluasi CIPP adalah model evaluasi yang tujuannya untuk mengambil keputusan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengembangkan suatu program. Model evaluasi CIPP terdiri atas empat jenis evaluasi, yaitu: 1). Context Evaluation (Evaluasi Konteks), digunakan untuk menganalisis problem yang dihadapi dan kebutuhan dalam program tertentu agar ketimpangan yang terjadi dapat dihilangkan. 2). Input Evaluation (Evaluasi Masukan), digunakan untuk menilai strategi dan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai obyektif program guna membantu mengambil keputusan dalam memilih strategi dan sumber terbaik dalam keterbatasan. 3). Process Evaluation (Evaluasi Proses), digunakan untuk memonitor dan mengontrol proses pelaksanaan program, melakukan koreksi dan penyesuaian jika terjadi penyimpangan. 4). Product Evaluation (Evaluasi Produk), digunakan untuk mengukur kuantitas dan kualitas hasil pelaksanaan program yang hasilnya dibandingkan dengan obyektif dari program. Hasil dari evaluasi digunakan untuk mengambil keputusan apakah program diteruskan, dihentikan atau diubah. Product evaluation juga digunakan untuk merencanakan program berikutnya (Fuddin, 2007).

5. Petani

Soejitno (1968) dalam Mardikanto dan Sri Sutarni (1982) petani adalah penduduk atau orang-orang yang untuk sementara atau secara tetap memiliki dan atau menguasai sebidang tanah pertanian, dan mengerjakannya sendiri, baik dengan tenaganya sendiri (beserta keluarganya) maupun dengan menggunakan tenaga orang lain atau orang upahan: termasuk dalam pengertian “menguasai” di sini adalah: menyewa, menggarap atau penyakap, memaro (bagi-hasil). Sedang buruh tani tak bertanah tidak termasuk dalam kategori petani.

Petani sebagai seorang yang mengendalikan secara efektif sebidang tanah yang dia sendiri sudah lama terikat oleh ikatan-ikatan tradisi dan perasaan. Tanah dan dirinya adalah bagian dari suatu hal, suatu kerangka hubungan yang telah berdiri lama. Suatu masyarakat petani bisa terdiri sebagian atau bisa juga seluruhnya dari penguasa atau bahkan menggarap paksa tanah bilamana mereka menguasai tanah sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka menjalankan cara hidup biasa dan tradisional yang di dalam pertaniannya. Mereka masuk secara intim akan tetapi bukan sebagai penanam modal usaha demi keuntungan (Robert, 1985).

  1. B. Kerangka berfikir

Produksi pangan perlu terus ditingkatkan baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan yang terus meningkat. Jagung sebagai bagian dari tanaman pangan, juga tidak terlepas dari tuntutan peningkatan produksi tersebut.  Produktivitas tanaman pangan di Indonesia saat ini masih rendah. Berbagai kendala biotik dan abiotik mulai dari masalah kesuburan tanah, kekeringan, serangan hama dan penyakit hingga gangguan gulma terus perlu dicari pemecahannya. Selain itu juga tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani di dalam budidaya/teknik pengendalian OPT juga masih rendah.

Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) merupakan kegiatan yang diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan hama dan penyakit pada tanaman pangan. Kegiatan SLPHT ini diutamakan pada komoditas tanaman jagung. SLPHT dilaksanakan dengan menerapkan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Maka dari itu, program SLPHT ini perlu dilakukan evaluasi. Kegiatan evaluasi umumnya di arahkan untuk mengevaluasi tujuan program atau dampak kegiatan yang telah dihasilkan dari pelaksanaan program yang telah direncanakan. Apabila suatu program tidak dievaluasi maka tidak dapat diketahui bagaimana suatu kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana.

Salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Context merupakan deskripsi rinci mengenai kekhususan karakteristik lokasi daerah dan masyarakatnya, sebagai dasar untuk menentukan strategi yang paling tepat bagi pelaksanaan program. Berbagai hal yang perlu dikaji antara lain meliputi kondisi masyarakat, kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial budaya masyarakat petani.

Input merupakan usaha yang dilakukan dengan menyajikan beragam hal baik fisik maupun non fisik yang menjadi dasar dan kelengkapan untuk terselenggaranya proses dan mekanisme kerja bagi tercapainya tujuan. Beragam input yang diselenggarakan antara lain: fasilitas fisik dan dana yang disediakan untuk pelaksanaan program SLPHT.

Process merupakan pelaksanaan beragam kegiatan dan mekanisme kerja program bagi pencapaian tujuan. Proses kegiatannya meliputi: survey lokasi dan pendataan peserta, pertemuan musyawarah pra tanam dan training petani.

Product merupakan hasil dari proses kegiatan program yang menggambarkan tingkat efektivitasnya, dengan adanya product ini  dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam mengamati OPT pada tanaman jagung dan teknologi pengendaliannya, meningkatkan kerjasama kelompok dalam berusaha tani dan meningkatkan kualitas agro ekosistem.

Berdasarkan uraian di atas maka kerangka berfikirnya adalah sebagai berikut:

Process

1.Survey lokasi dan pendataan peserta

2.Pertemuan musyawarah pra tanam

3.Training petani

Gb. 1 Skema Kerangka Berfikir Evaluasi Program SLPHT Tanaman Jaqgung dengan Model CIPP

  1. C. Pembatasan Masalah
    1. 1. Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar.
    2. 2. Responden penelitian ini adalah petani yang telah mengikuti program SLPHT tanaman jagung.
    3. 3. Evaluasi program SLPHT dengan menggunakan model CIPP (context, input, process, product)
    4. D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
      1. Definisi Operasional
      2. Context

1)    Kondisi masyarakat yang meliputi umur dan pendidikan formal petani .

2)    Kondisi sosial ekonomi masyarakat, yaitu hal-hal yang terdapat pada diri masyarakat yang dapat mempengaruhi tingkat penerapan PHT pada tanaman jagung. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang diteliti meliputi: luas lahan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan.

3)    Kondisi sosial budaya masyarakat, yaitu kebiasaan yang masih berlaku dalam masyarakat yang meliputi: norma yang ada, organisasi kemasyarakatan yang ada dan tingkat interaksi dengan masyarakat luar.

  1. Input

1)    Fasilitas fisik, yaitu alat yang disediakan untuk pelatihan dalam SLPHT yang meliputi alat tulis kantor, CD plano/kertas koran, dan pastel.

2)    Dana, yaitu sejumlah uang yang diberikan untuk pelaksanaan program SLPHT.

  1. Process

1)    Survey lokasi dan pendataan peserta, survey lokasi untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk mendukung kelancaran pelaksanaan SLPHT serta pendataan peserta yang meliputi nama, umur, pendidikan, jenis kelamin, data kepemilikan lahan dan varietas yang ditanam.

3)    Pertemuan musyawarah pra tanam, dimaksudkan untuk memusyawarahkan waktu sebar benih dan waktu tanam yang tepat di lahan milik petani

4)    Training petani, yaitu untuk memberikan bekal pengetahuan/keterampilan maupun ilmu kepemanduan dan melatih calon petani penggerak agar mampu untuk merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan SLPHT.

  1. Product

1). Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam mengamati OPT tanaman jagung dan teknologi pengendaliannya yaitu kemampuan dan keterampilan petani setelah mengikuti SLPHT diukur melalui baik, sedang dan rendah.

2). Meningkatkan kerjasama kelompok dalam berusahatani yaitu kerjasama petani dalam kelompoknya setelah mengikuti SLPHT diukur melalui baik, sedang dan rendah.

3). Meningkatkan kualitas agro ekosistem yaitu kualitas agro ekosistem setelah mengikuti SLPHT diukur melalui baik, sedang dan rendah.

  1. Pengukuran Variabel

Tabel 1.Pengukuran Variabel Kondisi Masyarakat Petani

No   Variabel            Indikator                                          Kriteria                                    Skor

1    Umur               Usia petani saat dilakukan              Tinggi:<40 tahun                         3

penelitian                                        Sedang:40-50 tahun                    2

Rendah:>50 tahun                       1

2   Pendidikan       Tingkat pendidikan terakhir            Tinggi:PT/Akademi                    3

formal               yang diikuti  oleh petani                  Sedang:SLTP/SLTA                  2

Rendah:SD/SR atau tidak           1

tamat SD

Tabel 2. Pengukuran Variabel Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

No   Variabel                  Indikator                                     Kriteria                                    Skor

1   Norma dalam        Adat/kebiasaan yang ada            Tinggi:masih berlaku                    3

masyarakat            dalam masyarakat                        Sedang:kurang berlaku                2

Rendah:tidak berlaku                   1

2   Organisasi di         Organisasi yang ada                    Tinggi:ada dan masih                   3

masyarakat            dalam masyarakat                       dilaksanakan

Sedang:ada tapi jarang                 2

dilaksanakan

Rendah:tidak ada                          1

3   Interaksi dengan   Hubungan dengan masyarakat     Tinggi:baik                                   3

masyarakat luar    di luar daerahnya                          Sedang:kurang baik                      2

Rendah:tidak baik                         1

Tabel 3. Pengukuran Variabel Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

No   Variabel             Indikator                                          Kriteria                                   Skor

1   Luas lahan        Luas lahan yang diusahakan            Tinggi:<40 tahun                      3

petani untuk kegiatan pertanian       Sedang:40-50 tahun                 2

Rendah:>50 tahun                    1

2   Jenis                  Pekerjaan yang dilakukan petani     Tinggi:pertanian  dan               3

pekerjaan                                                                    non pertanian

Sedang:non pertanian saja       2

Rendah:pertanian saja              1

3   Tingkat             Penghasilan yang diterima petani    Tinggi:> 5 juta                          3

pendapatan       selama 1 musim tanam                     Sedang:2-5 juta                        2

Rendah:< 2 juta                        1

Tabel 4. Pengukuran Variabel Input

No   Variabel            Indikator                                          Kriteria                                    Skor

1    Fasilitas           Alat yang disediakan dalam             Tinggi:banyak                        3

fisik                 pelatihan                                           Sedang:cukup                         2

Rendah:kurang                       1

2   Dana                Sejumlah uang yang diberikan          Tinggi:banyak                        3

untuk pelaksanaan pelatihan             Sedang:cukup                         2

Rendah:kurang                        1

Tabel 5. Pengukuran Variabel Process

No   Variabel                   Indikator                                     Kriteria                                   Skor

1    Survey lokasi       Menentukan lokasi yang sesuai      Tinggi:tepat sasaran                   3

dan pendataan     serta pendataan peserta yang           Sedang:kurang tepat sasaran      2

peserta                 akan diikutkan dalam SLPHT         Rendah:tidak tepat sasaran         1

2    Pertemuan            Memusyawarahkan waktu sebar     Tinggi:tepat                                3

musyawarah        benih dan waktu tanam yang           Sedang:kurang tepat sasaran      2

pra tanam             tepat                                                Rendah:tidak tepat sasaran         1

3   Training petani     Memberikan bekal pengetahuan/    Tinggi:tepat                                3

keterampilan kepada petani            Sedang:kurang tepat                  2

Rendah:tidak tepat                     1

Tabel 6. Pengukuran Variabel Product

No   Variabel                                 Indikator                                          Kriteria            Skor

1    Meningkatkan kemampuan    Kemampuan dan keterampilan       Tinggi:baik                3

keterampilan petani dalam     petani setelah mengikuti SLPHT    Sedang:cukup baik    2

mengamati OPT tanaman                                                               Rendah:kurang baik  1

jagung dan teknologi

pengendaliannya

2   Meningkatkan kerjasama       Kerjasama petani dalam                  Tinggi:baik                3

kelompok dalam                    kelompoknya setelah mengikuti      Sedang:cukup baik    2

berusahatani                         SLPHT                                             Rendah:kurang baik  1

3   Meningkatkan kualitas          Kualitas agro ekosistem setelah       Tinggi:baik                3

agro ekosistem                    mengikuti SLPHT                              Sedang:cukup baik    2

Rendah:kurang baik  1

  1. III. METODE PENELITIAN

A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yaitu metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, kemudian data-data yang ada dikumpulkan untuk disusun, dijelaskan dan dianalisa (Mardikanto, 2001).

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sensus. Sensus merupakan teknik penentuan sampel  bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 1993).

B. Metode Penentuan Lokasi

Penetapan lokasi dalam penelitian diambil secara sengaja (purposive) yaitu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Lokasi yang dipilih adalah Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar dengan pertimbangan bahwa Desa Ngunut telah melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu tanaman jagung dan telah menerapkan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

C. Metode Penentuan Populasi dan Sampel

Sensus biasanya digunakan untuk mengumpulkan data secara menyeluruh. Di mana akurasi/tingkat kebenaran data diharapkan mendekati 100 persen. Sebenarnya sensus juga bisa dilaksanakan  pada kasus/peristiwa kecil, seperti desa, kecamatan, populasi tertentu sepanjang memenuhi persyaratan dari metodenya. Seluruh individu dari populasi yang dibatasi (ditentukan) dicacah dan diwawancarai langsung (Daniel, 2002).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta yang ikut dalam program SLPHT tanaman jagung tahun 2007. Dalam penelitian ini teknik pengambilan responden dilakukan dengan metode sensus. Responden yang diambil merupakan peserta pelatihan SLPHT tanaman jagung yang berjumlah 25 orang di Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar.

D. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data primer, adalah data yang diperoleh secara langsung dengan teknik wawancara dengan menggunakan kuisioner.
  2. Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari instansi pemerintah/lembaga terkait dengan mencatat secara langsung.
  3. Metode Pengumpulan Data
    1. Wawancara, adalah pengumpulan data primer dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuisioner.
    2. Observasi, adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pencatatan dan pengamatan.
    3. Pancatatan, adalah pengumpulan data dengan mencatat hal-hal yang diperlukan dalam penelitian baik yang diperoleh dari responden maupun data lain.
    4. F. Metode Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif yaitu dengan analisa silang. Menurut Singarimbun dan Sofian Effendi (1995), dalam analisa tabulasi silang, peneliti menggunakan distribusi prosentase pada sel-sel dalam table sebagai Dasar untuk mengumpulkan hubungan antar variable-variabel penelitianny, sehingga cara perhitungan prosentase sangat menentukan benar tidaknya interpretasi peneliti.

Analisis data pada penelitian ini menggunakan:

  1. Komponen context yang digunakan dalam mengevaluasi program SLPHT jagung, dengan menggunakan analisa tabulasi silang.
  2. Komponen input yang digunakan dalam mengevaluasi program SLPHT jagung, dengan menggunakan analisa tabulasi silang.
  3. Komponen process yang digunakan dalam mengevaluasi program SLPHT jagung, dengan menggunakan analisa tabulasi silang.
  4. Komponen poduct yang digunakan dalam mengevaluasi program SLPHT jagung, dengan menggunakan analisa tabulasi silang.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius. Yogyakarta.

Arikunto, S dan Cepi Safrudin A.J., 2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis bagi Praktisi Pendidikan. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Daniel, Moehar. 2002. Metode penelitian Sosial Ekonomi

Hawkins, Dunn dan Carry. 1982. Agricultural and Livestock Extension Vol 2. The Extension Process. AUID. Canberra.

Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. 2007. Laporan Akhir SLPHT Tanaman Jagung Di Desa Ngunut Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Holtikultura. Jawa Tengah.

Malik, S., Dwi E.A., Etty P., Mutiara S.,Irwan K., Syahrul R. 2003. Rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Tanaman Ubikayu dan Ubijalar. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Direktorat Perlindungan Tanaman. Jakarta.

Mardikanto, Totok dan Sri Sutarni. 1982. Pengantar Penyuluhan Pertanian dalam Teori dan Praktek. Hapsara. Surakarta.

1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan Republik Indonesia Bekerjasama dengan Fakultas Pertanian UNS Surakarta.

2001. Prosedur penelitian Penyuluhan Pembangunan. Prima Theresia Pressindo. Surakarta.

Nasution, Zulkarimein. 1990. Prinsip-Prinsip Komunikasi untuk Penyuluhan. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Oka, Ida Nyoman. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya Di                       Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Robert, R. 1985. Masyarakat Petani dan Kebudayaannya. CV. Rajawali. Jakarta.

Samsudin. , U. 1982 Dasar-Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Binacipta. Bandung.

Singarimbun, M dan Sofian. 1995. Metode Penelitian Survey. LP3S. Jakarta.

Tahlim, S.1988. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Tanaman Jagung. Direktorat Perlindungan Tanaman. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Jakarta.

Thoha, M. Chabib. 1991. Teknik Evaluasi Pendidikan. CV. Rajawali. Jakarta.

Untung, Kasumbogo. 1993. Konsep dan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.

Yayasan Sejahtera Indonesia (YIS). 1999. Evaluasi Program dengan Kerangka piker CIPP:Pelatihan dan Lokakarya bagi LSM dalam Proses Evaluasi Partisipatif. Bekerjasama dengan AusAID jalan Basuki Rachmat Niti Mandala Bali 80001.

Zamzaini. 2007. Makalah Seminar Refleksi Pembangunan Pertanian. Fakultas Pertanian. UNS 3 Juli 2007.

About these ads

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    jabon said,

    WOW!! komplit banget BOSS…

  2. 2

    siti Qurrota A'yunin said,

    Maf mw nanya, pembahasannya g’ diposting kah….?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: