FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM BUDIDAYA WIJEN (Sesamum indicum L.) DI KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

  1. Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian merupakan proses yang bertujuan untuk selalu menambah produksi pertanian bagi tiap-tiap konsumen yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk memperbesar turut campur tangan manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Upaya peningkatan produksi dan pendapatan tersebut harus selalu memperhatikan pelestarian sumber daya alam melalui kegiatan konservasi lahan dan memperhatikan sifat-sifat perkembangan tumbuhan dan hewan yang diusahakan (Mardikanto, 1994).
Menurut Wibowo (2000), pembangunan pertanian menempati prioritas utama pembangunan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena itu, sektor pertanian merupakan sektor utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Kedudukan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi adalah cukup nyata, dilihat dari proporsinya terhadap pendapatan nasional. Berdasarkan data BPS Jakarta tahun 1998, pada tahun 1993 sumbangan sektor pertanian terhadap GDP adalah 18 %, kemudian turun menjadi 15 % pada tahun 1997. Namun dengan adanya krisis ekonomi, kembali sektor pertanian menunjukkan peranannya yang lebih besar, yaitu sumbhjangannya sebesar 17 % terhadap GDP pada tahun 1998. Selain kontribusinya melalui GDP, peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional juga sangat luas mencakup beberapa indikator, antara lain : pertama, pertanian sebagai penyerap tenaga kerja yang terbesar; kedua, pertanian merupakan penghasil makanan pokok penduduk; ketiga, komoditas pertanian sebagai penentu stabilitas harga; keempat, akselerasi pembangunan pertanian sangat penting untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor; kelima, komoditas pertanian merupakan bahan industri manufaktur pertanian; dan keenam, pertanian memiliki keterkaitan sektoral yang tinggi.
Pengambilan Keputusan

  1. Pengertian Pengambilan Keputusan

Menurut Salusu (1996), keputusan (decision) berarti pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan. Adapun menurut James A. F. Stoner dalam Hasan (2002), keputusan adalah pemilihan di antara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian yaitu :
1)      Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan
2)      Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang   terbaik
3)      Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
Sementara menurut Morgan dan Cerullo dalam Salusu (1996), keputusan adalah  “sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain dikesampingkan. Yang dimaksud dengan pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau alternatif, sesudah itu dipilih satu diantaranya.
Selanjutnya, Widjaya dan Hawab (1987) mendefinisikan keputusan sebagai suatu pengakhiran atau pemutusan daripada suatu proses pemikiran tentang suatu masalah untuk menjawab suatu pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut dengan menjatuhkan pada salah satu alternatif tertentu. Keputusan inovasi itu sendiri, Hanafi (1981) menyatakan bahwa keputusan inovasi adalah penerimaan atau penolakan suatu inovasi oleh seseorang. Jika ia menerima (mengadopsi) inovasi, dia menggunakan ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan penggunaan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Keputusan inovasi ini merupakan proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya dan kemudian mengukuhkannya.
Sehubungan dengan pengambilan keputusan ini, Siagian (1979) menyatakan bahwa pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungannya merupakan tindakan yang paling tepat. Sedangkan Hasan (2002), mengatakan bahwa  pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
Sementara Smith (1996) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai : 1) cara organisasi menentukan tujuan pilihannya, 2) bagaimana orang melakukan pekerjaannya dalam mancapai tujuan dan tugas.
”Making decision is : 1) a means by which organisations select their goals and objectives; 2) how people move their work on to achieve their objectives and tasks”.
Tipe-Tipe Pengambilan Keputusan
Menurut Hanafi (1981), tipe pengambilan keputusan ada 3 macam, yaitu :
1)      Keputusan opsional
Keputusan opsional adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem. Keputusan seseorang untuk menerima atau menolak inovasi bukanlah tindakan sekali jadi, melainkan lebih menyerupai suatu  proses yang terdiri dari serangkaian  tindakan dalam jangka waktu tertentu. Pandangan tradisional mengenai proses keputusan inovasi, yang disebut “proses adopsi” terdiri dari 5 tahap yaitu tahap kesadaran, tahap menaruh minat, tahap penilaian, tahap pencobaan dan tahap penerimaan. Paradigma proses keputusan inovasi terdiri dari 4 tahap yaitu : pengenalan, persuasi, keputusan dan konfirmasi.
Menurut Arnold dan Turley (1996), proses pengambilan keputusan individu meliputi :
1) Informasi adalah tersedianya tentang semua kemungkinan alternatif; 2) Pembuat keputusan mempunyai kemampuan mental yang cukup untuk menilai semua alternatif, termasuk kemampuan membuat ramalan tentang hasil yang akan datang; 3) Pembuat keputusan akan memberikan reaksi/respons yang relatif sama pada pemilihan diantara alternatif; 4) Pembuat keputusan akan selalu mencari kegunaan yang maksimal atau kepuasan.
“The process of individual decision making that are :       1) Information is available about all possible alternatives; 2) The decision maker has sufficient mental capacity to  evaluate all alternatives, including the capacity to make the necessary forecasts about future outcomes; 3) The decisions maker will behave consistenly in choosing between alternatives; 4) The decision maker will always seek to maximise utility or satisfaction”.
2)      Keputusan kolektif
Keputusan kolektif adalah keputusan untuk menerima atau menolak inovasi yang dibuat individu-individu yang ada dalam sistem sosial melalui konsensus. Proses keputusan kolektif ini melibatkan lebih banyak individu. Jika informasi mengenai ide baru itu harus dikomunikasikan kepada banyak orang, maka kemungkinan terjadi distorsi pesan lebih besar, lebih banyak terjadi perbedaan persepsi, dan besar kemungkinan lebih lambat tercapai konsensus.
Keputusan kolektif jelas lebih rumit daripada keputusan opsional. Alasannya adalah karena proses keputusan kolektif itu terdiri dari keputusan sejumlah besar individu. Untuk itu perlu memperkenalkan ide baru kedalam sistem sosial, mengadakan penyesuaian usul baru dengan kondisi setempat, mengukuhkan ide baru itu, mencari dukungan inovasi baru itu dan sebagainya. Adapun paradigma proses pengambilan keputusan inovasi kolektif adalah sebagai berikut :
a)      Stimulasi minat ke arah kebutuhan akan ide-ide baru (oleh stimulator).
b)      Inisiasi ide-ide baru ke dalam sistem sosial (oleh inisiator).
c)      Legitimasi ide baru (oleh pemegang kekuasaan atau legitimator).
d)      Keputusan untuk melaksanakan penggunaan ide baru (oleh anggota sistem sosial).
e)      Tindakan atau pelaksanaan penrapan ide baru di masyarakat (oleh anggota sistem sosial).
Pada prinsipnya ada kesamaan antara langkah-langkah dalam pembuatan keputusan inovasi kolektif dengan tahap-tahap keputusan inovasi opsional. Tetapi ada perbedaan penting, yakni bahwa dalam proses keputusan kolektif unit pngambil keputusan adalah sistem sosial sedangkan dalam keputusan opsional unit pengambil keputusan adalah individu.
3)      Keputusan otoritas
Keputusan otoritas adalah tekanan terhadap seseorang oleh orang lain yang berada dalam posisi atasan. Seseorang (unit adopsi) diperintah oleh seseorang lebih tinggi kekuasannya untuk menerima atau menolak inovasi. Di sini seseorang tidak bebas lagi menentukan pilihannya dalam proses keputusan inovasi. Jadi, struktur sistem kekuasaan sistem sosial berpengaruh terhadap seseorang agar ia mengikuti keputusan yang telah diambil oleh atasan.
Dalam proses keputusan otoritas ada dua macam unit yang terlibat dalam proses keputusan, yaitu :
a)      Unit adopsi yakni seseorang, kelompok atau unit yang mengadopsi inovasi.
b)      Unit pengambil keputusan yakni seseorang, kelompok atau unit yang posisi kekuasaannya lebih tinggi dari unit adopsi dan yanmg membuat keputusan akhir apakah unit adopsi harus menerima atau menolak inovasi.
Perbedaan utama antara keputusan otoritas dengan keputusan opsional dan kolektif terletak pada pengaruh sistem sosial terhadap keputusan seseorang. Dalam keputusan otoritas pengaruh itu sangat besar, melalui struktur kekuasaan. Dapat digambarkan pengaruh sistem terhadap keputusan seseorang itu sebagai berikut : keputusan otoritas berada pada titik ekstrim paling tinggi sedangkan keputusan opsional pada titik ekstrim paling rendah, dalam suatu garis kontinum. Sedangkan keputusan kolektif berada diantara keduanya.
Tahapan dalam proses keputusan inovasi otoritas adalah :
b)      Pengenalan kebutuhan untuk berubah dan inovasi.
c)      Persuasi dan penilaian terhadap inovasi oleh unit pengambil keputusan.
d)      Keputusan berupa penerimaan atau penolakan inovasi oleh unit pengambil keputusan.
e)      Komunikasi keputusan kepada unit-unit adopsi dalam organisasi.
f)        Tindakan atau implementasi keputusan, pengadopsian atau penolakan inovasi oleh unit adopsi.
Proses Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah mengenai penciptaan kejadian – kejadian dan pembentukan masa depan. Adalah penting membedakan keputusan dan proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan menyangkut peristiwa-peristiwa yang menjurus pada saat pemilihan dan sesudahnya. Sementara sebuah keputusan berarti  “memutuskan”, yaitu menentukan sebuah pilihan atau arah tindakan tertentu (Drummond, 1995).
Menurut Hanafi (1981), proses pengambilan keputusan terdiri dari 4 tahap, yaitu :
1)      Pengenalan
Tahap pengenalan bermula ketika seseorang mengetahui adanya inovasi dan memperolah beberapa pengertian mengenai bagaimana inovasi itu berfungsi. Dalam tahap pengenalan inovasi, ada tiga tipe pengetahuan yaitu pertama, kesadaran / pengetahuan mengenai adanya inovasi; kedua, pengetahuan “teknis” meliputi informasi yang diperlukan mengenai cara pemakaian atau penggunaan suatu inovasi; dan ketiga, pengetahuan “prinsip” yakni berkenan dengan prinsip-pinsip berfungsinya suatu inovasi.
Menurut Hilton (2000), informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan harus relevan, akurat, tepat pada waktunya dan mungkin kualitatif. Informasi dikatakan relevan jika informasi tersebut berguna untuk menyelesaikan masalah. Informasi dikatakan tepat pada waktunya jika informasi tersebut tersedia pada waktu membuat keputusan.
“Information used in decision making must be relevant, timely, and perhaps qualitative. Information is relevant if it is pertinent to adecision problem. Information is timely if it is available in time to make a decision” .2)   Persuasi
Pada tahap persuasi, seseorang membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Jika aktivitas mental pada tahap pengenalan adalah berlangsungnya fungsi kognitif, aktifitas mental pada tahap persuasi adalah afektif (perasaan). Sebelum seseorang mengenal suatu ide baru, ia tidak dapat membentuk sikap tertentu terhadapnya.
Pada tahap persuasi seseorang lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi. Ia giat mencari keterangan mengenai ide baru. Pada tahap persuasi inilah prsepsi umum terhadap inovasi dibentuk. Ciri-ciri inovasi yang tampak misalnya keuntungan relatif, kompatibilitas dan kerumitan atau kesederhanaannya.
3)      Keputusan
Pada tahap keputusan, seseorang terpilih dalam kegiatan                                                          yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi. Keputusan ini meliputi pertimbangan lebih lanjut apakah ia akan mencoba inovasi itu atau tidak, jika inovasi itu dapat dicoba. Kebanyakan, orang tidak menerima suatu inovasi tanpa mencobanya terlebih dulu sebagai dasar untuk melihat kemungkinan kegunaan inovasi itu bagi situasi dirinya sendiri. Pencobaan dalam skala kecil ini seringkali menjadi bagian dari keputusan untuk menerima, dan ini penting sebagai jalan untuk mengurangi resiko inovasi.
4)      Konfirmasi
Tahap konfirmasi berlangsung setelah ada keputusan untuk menerima atau menolak inovasi selama jangka waktu yang tak terbatas. Pada tahap ini seseorang berusaha mencari informasi untuk menguatkan keputusan inovasi yang telah dibuatnya, tetapi mungkin dia merubah keputusannya semula jika ia memperoleh pesan-pesan yang bertentangan. Ia dapat menghentikan penggunaan inovasi setelah sebelumnya mengadopsi. Ia menghentikan penggunaan inovasi karena menerima ide baru yang lebih baik menurut pandangannya ataupun karena ketidakpuasan terhadap hasil inovasi (mungkin timbul karena inovasi itu tidak cocok baginya atau relatif tak memberi keuntungan).
Adapun proses pengambilan keputusan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Proses Pengambilan Keputusan
Sumber : Hanafi, 1981
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan apakah seseorang menolak atau menerima suatu inovasi banyak tergantung pada sikap mental dan perbuatan yang dilandasi oleh situasi intern orang tersebut, misalnya pendidikan, status sosial, umur, luas penguasaan lahan, tingkat pendapatan, pengalaman dan sebagainya serta situasi lingkungannya, misalnya frekuensi kontak dengan sumber informasi, kesukaan mendengarkan radio atau menonton televisi, menghadiri temu karya dan sebagainya (Soekartawi, 1988).
Menurut Lestari (1997), faktor eksternal yang berpengaruh terhadap seseorang dalam memilih jenis pekerjaan adalah lingkungan sosial, budaya, dan politik dalam masyarakat tersebut. Keputusan seseorang dalam memilih jenis pekerjaan sangat dipengaruhi oleh sumber daya dan kemampuan dalam diri individu, jenis pekerjaan dan pengeluaran seseorang yang juga menentukan.
Keputusan yang diambil seseorang ditentukan oleh :
1)      Kemampuan / keberanian / watak individu yang bersagkutan yang harus mengambil keputusan
2)      Pendidikannya, yaitu pendidikan formil dan non formil
3)      Jenis keputusan yang harus diambilnya
4)      Cara bagaimana informasi tentang hal yang mengakibatkan individu harus mengambil keputusan
(Susanto, 1977).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan:
1)      Faktor internal
Menurut Herzberg dalam Siagian (2002), faktor internal merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri seseorang, dalam hal ini adalah petani. Faktor internal ini antara lain :
a)   Umur
Umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik dan respon terhadap hal-hal yang baru dalam menjalankan usahataninya (Hernanto, 1984). Makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman dalam hal adopsi inovasi tersebut (Soekartawi, 1988). Semakin tua (di atas 50 tahun), biasanya semakin lamban mengadopsi inovasi, dan cenderung hanya melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh warga masyarakat setempat (Mardikanto, 1993).
b)   Pendidikan formal
Pendidikan formal adalah struktur dari suatu sistem pengajaran yang kronologis dan berjenjang lembaga pendidikan mulai dari pra sekolah sampai dengan perguruan tinggi (Suhardiyono, 1992). Mereka yang berpendidikan tinggi adalah relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah, mereka agak sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat (Soekartawi, 1988).
c)   Pendidikan nonformal
Pendidikan non formal adalah pengajaran sistematis yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal bagi sekelompok orang untuk memenuhi keperluan khusus (Suhardiyono, 1992). Penyuluhan pertanian adalah sistem pendidikan non formal di luar sekolah bagi para petani dan keluarganya agar terjadi perubahan perilaku yang lebih rasional dengan balajar sambil berbuat sampai mereka tahu, mau dan mampu berswakarsa untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersamaan guna terus memajukan usahatani dan menaikkan jumlah, mutu, macam serta jenis dan nilai produksinya sehingga tercapai kenaikan pendapatan yang lebih bermafaat bagi dirinya sendiri, keluarganya dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya (Mardikanto dan Sutarni, 1982).
d)   Luas penguasaan lahan
Lionberger dalam Mardikanto (1993), penguasaan lahan yaitu luas lahan yang diusahakan. Biasanya semakin luas lahan yang dimiliki maka semakin cepat seseorang dalam mengadopsi, karena memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Luas lahan yang diusahakan relatif sempit seringkali menjadi kendala untuk dapat diusahakan secara lebih efisien. Petani berlahan sempit, seringkali tidak dapat menerapkan usahatani yang sangat intensif, karena bagaimanapun ia harus melakukan kegiatan-kegiatan lain diluar usahatani untuk memperoleh tambahan pendapatan yang diperlukan bagi pemenuhan kebutuhan keluarganya. Dengan kata lain, setiap petani tidak selalu dengan bebas dapat melakukan perubahan-perubahan usahatani, karena ia harus mengalokasikan waktu dan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan di usahataninya maupun di luar usahataninya (Mardikanto, 1993).
Soetrisno (1999), mengatakan bahwa petani Indonesia khususnya petani Jawa rata-rata pemilikan tanahnya sempit yakni tak lebih dari 0,5 Ha. Selanjutnya, Cahyono (1993) menggolongkan petani Jawa kedalam 3 golongan berdasarkan luas garapannya yaitu : a) petani gurem untuk luas wilayah sampai dengan 0,3 Ha; b) petani menengah dengan luas diatas 0,5-1 Ha; c) petani luas dengan luas lahan diatas 1 Ha.
e)   Pendapatan
Pendapatan petani sekeluarga diperoleh dari usahatani (padi dan non padi) dan non usahatani seperti berburuh, dagang, pengrajin, jasa dan usaha lainnya. Sedangkan pengeluaran petani sendiri dari : makanan pokok, lauk pauk, kesehatan, pakaian, pendidikan dan lain-lain. Besar kecilnya pendapatan petani dari usahataninya terutama ditentukan oleh luas tanah garapannya. Kecuali itu, faktor lain yang turut menentukan antara lain : produktivitas dan kesuburan tanah, jenis komoditi yang diusahakan serta tingkat penerapan teknologi pertanian (intensifikasi) (Prayitno dan Arsyad, 1987).
Petani dengan tingkat pendapatan semakin tinggi biasanya akan semakin cepat mengadopsi inovasi (Mardikanto, 1993). Sebaliknya, petani yang berpenghasilan rendah adalah lambat dalam melakukan difusi inovasi (Soekartawi, 1988).
2)      Faktor eksternal
Menurut Herzberg dalam Siagian (2002), faktor eksternal merupakan pendorong yang datang dari luar diri seseorang, dalam hal ini adalah petani. Faktor eksternal ini antara lain :
a)   Lingkungan sosial
Petani sebagai pelaksana usaha tani (baik sebagai juru-tani maupun sebagai pengelola) adalah manusia, yang di setiap pengambilan keputusan untuk usahatani tidak selalu dapat dengan bebas dilakukannya sendiri, tetapi sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan disekelilingnya. Dengan demikian, dia juga harus memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh lingkungan sosialnya (Mardikanto, 1993). Lingkungan sosial yang mempengaruhi perubahan-perubahan itu adalah : famili atau keluarga, tetangga, kelompok sosial dan status sosial (Soekartawi, 1988).
Fosher dan Shanin dalam Mardikanto (1993), dari hasil pengamatannya menyimpulkan bahwa kecepatan adopsi inovasi banyak tergantung pada persepsi sasaran terhadap lingkungan sekitarnya. Jelasnya, jika keadaan masyarakat (sosial, ekonomi, teknologi yang diterapkan) relatif seragam, mereka akan kurang terdorong mengadopsi inovasi yang ditawarkan guna melakukan perubahan. Sebaliknya, jika ada seseorang atau beberapa anggota masyarakat sasaran yang memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimilikinya, mereka akan cenderung berupaya keras untuk melakukan perubahan-perubahan demi tercapainya peningkatan atau perbaikan mutu hidup mereka sendiri dan masyarakatnya.
b)   Lingkungan ekonomi
Kekuatan-kekuatan ekonomi terdiri dari (1) Tersedianya dana atau kredit usahatani (2) Tersedianya sarana produksi dan peralatan usahatani (3) Perkembangan teknologi pengolahan hasil pertanian (4) Pemasaran hasil (Mardikanto, 1993).
c)   Karakter inovasi
Rogers (1995) menyatakan bahwa karakter inovasi, sebagai pemahaman setiap individu, membantu menerangkan perbedaaan-perbedaan mereka pada tingkat adopsi. Karakter inovasi itu adalah :
Keuntungan relatif adalah tingkat di mana suatu ide baru dianggap suatu yang lebih baik daripada ide-ide yang ada sebelumnya. Tingkat keuntungan relatif seringkali dinyatakan dengan bentuk keuntungan ekonomis, akan tetapi faktor-faktor penting lainnya yaitu posisi sosial, kesenangan dan kepuasan. Inovasi yang mempunyai keuntungan relatif yang lebih besar akan lebih cepat diadopsi.
Kompatibilitas adalah tingkat di mana suatu inovasi mempunyai kecocokan dengan kondisi ekonomi, kondisi stempat yang telah ada dalam masyarakat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Suatu inovasi yang tidak mempunyai kecocokan dengan kondisi ekonomis dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat akan lebih lambat diadopsi daripada inovasi yang mempunyai kecocokan dengan kondisi ekonomi dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat.
Kompleksitas adalah tingkat di mana suatu inovasi relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan. Ide baru yang mudah dimengerti akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang membutuhkan keahlian baru dan sulit dimengerti.
Triabilitas adalah suatu tingkat di mana suatu inovasi dapat dicoba dengan skala kecil. Ide baru yang dapat dicoba biasanya diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tak dapat dicoba lebih dulu.
Observabilitas adalah tingkat di mana hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain. Inovasi yang mudah dilihat oleh setiap orang akan lebih cepat untuk diadopsi.
“The characteristics of innovations, as perceived by individuals, help to explain their different rate of adoption. The characteristics of innovations that are :
Relative advantage is the degree to which an innovation is perceived as better than the idea it supersedes. The degree of relative advantage may be measured in economic terms, but social prestige, convenience, and satisfaction are also important factors. The greater the perceived relative advantage of an innovation, the more rapid ist rate of adopsion will be.
Compatibility is the degree to which an innovation is perceived as being consistent with existing values, pas experiences, and needs of potential adopters. An idea as an innovation that is compatible. that is incompatible with the values and norms of a social system will not be adopted as rapidly
Complexity is the degree to which an innovation is perceived as difficult to understand and use. New ideas that are simpler to understand are adopted more rapidly than innovations that require the adopter to develop new skills and understandings.
Triability is the degree to which an innovation may be experimented with on a limited basis. New ideas that can be tried on the installment plan will generally be adopted more quickly than innovation that are not divisible.
Observability is the degree to which the result of an innovation a visible to others. The easier it is for individuals to see the results of an innovation, the more likely they are to adopt it” .

Petani
Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan hidupnya di bidang pertanian dalam arti luas yang meliputi usahatani pertanian, peternakan, perikanan dan pemungutan hasil hutan (Hernanto, 1993).
Petani adalah semua orang yang bertani sebagai pemilik atau penyewa baik pria maupun wanita yang bertindak selaku pengelola dalam usahatani berbentuk budidaya dan berbentuk usaha keluarga terutama untuk memenuhi kebutuhan keluarga (Reksohadiprodjo, 1995).
“The role of the farmer with respect to the farm he operates is tobe a manager. The skill of management involve activities of the mind backed up by the will. The involve primarily the making of decisions, or choices between alternatives. The decisions each farmer must make as a manager include choosing between different crops that might be planted in each field and choosing what livestock are to be kept on the farm” (Mosher, 1966).

Peranan yang dilakukan petani dalam usahataninya adalah sebagai pengelola. Ketrampilan sebagai pengelola mencakup kegiatan pikiran didorong oleh kemauan. Tercakup di dalamnya terutama pengambilan keputusan atau penetapan pilihan dari alternatif-alternatif yang ada. Keputusan yang diambil oleh setiap petani selaku pengelola antara lain mencakup : menentukan pilihan dari antara berbagai tanaman yang mungkin ditanam pada setiap bidang tanah dan menentukan ternak apa yang sebaiknya dipelihara.
Petani adalah penduduk atau orang-orang yang sementara atau secara tetap memiliki dan atau menguasai sebidang tanah pertanian dan mengerjakannya sendiri, baik dengan tenaga sendiri (beserta keluarga) maupun dengan menggunakan tenaga orang lain atau orang upahan (Mardikanto dan Sutarni, 1982).
Budidaya Wijen (Sesamum indicum L.)
Tanaman wijen menurut van-Rheenen (1981) dalam Sunanto (2002), mempunyai sistematika (taksonomi) sebagai berikut :
Divisi            : Spermatophyta
Sub-divisi     : Angiospermae
Class            : Dicotyledoneae
Ordo            : Solanales (Tubiflorae)
Famili           : Pedaliaceae
Genus           : Sesamum
Spesies         : Sesamum indicum Linn.
Tanaman wijen merupakan tanaman semusim yang tumbuh tegak, berbau tajam, tidak kukuh, dan dapat mencapai tinggi 2 meter. Tanaman wijen ada  yang tidak bercabang, bercabang sedikit, dan ada pula yang bercabang banyak (Sunanto, 2002).
Tanaman wijen batangnya berbentuk persegi atau bulat dan berbulu. Daunnya berbentuk hampir bulat telur. Bunganya berbentuk terompet, warna kesumba muda, berbintik kuning dan ungu. Buah berisi banyak biji kecil-kecil yang pijak, putih, hitam atau ungu dan mengandung minyak (Atjung, 1990).
Tanaman wijen yang masih hijau merupakan sumber protein yang baik dan daun-daunnya kadang-kadang dimasak sebagai sayur. Karena bunga dan daunnya yang sangat menarik, tanaman ini juga ditanam sebagai tanaman hias (Williams et al., 1993).
Di Indonesia, biji wijen digunakan dalam pembuatan berbagai makanan ringan, baik yang diproses secara sederhana maupun dengan peralatan khusus. Berbagai jenis makanan tersebut antara lain adalah onde-onde, keciput dan geti. Sama halnya seperti di Jepang dan Amerika Selatan, biji wijen ditaburkan pada berbagai macam roti, misalnya roti hamburger yang harganya relatif mahal (Sunanto, 2002).
Minyak wijen mengandung berbagai zat misalnya glyceride, nalmitine dan lain-lain. Warnanya jernih, kuning dan tidak lekas tengik (Atjung, 1990). Menurut Greshoff dalam Heyne (1987), di Eropa minyak wijen dipakai sebagai minyak salada, minyak goreng, minyak rambut, minyak lampu, untuk bahan pembuatan sabun, dan sebagainya. Sedang di Indonesia minyaknya digunakan sebagai minyak rambut, sebagai minyak makan, dalam perusahaan kerajinan batik (untuk mempersiapkan kain untuk dicelup dengan mengkudu) dan untuk tujusn-tujuan pengobatan seperti luka, dan sebagainya.
Ampas wijen yang tertinggal sesudah ekstrasi minyak adalah sangat bergizi, dan mengandung asam amino penting, methionin, maupun fosfos dan vitamin, niacin (Williams et al., 1993). Di Indonesia, ampas wijen digunakan untuk pembuatan bungkil. Di Eropa ampas ini diperlukan untuk makanan ternak dan mudah dicernakan, residu dari wijen hitam di Perancis dijual sebagai pupuk setelah lebih dahulu dihilangkan seluruh minyaknya (Heyne, 1987).
Pembudidayaan tanaman wijen dapat  dilakukan di tanah-tanah tegalan (Sunanto, 2002). Selanjutnya, Sub Dinas Perkebunan Kabupaten Sukoharjo (2004) mengatakan bahwa tanaman wijen disamping dapat dibudidayakan di lahan tegal, juga dapat dibudidayakan di lahan sawah, sering pula ditanam di tanah pekarangan.
Tanaman wijen dapat tumbuh dan berproduksi pada daerah yang memiliki ketinggian antara 0 m – 1.250 m di atas permukaan laut (dpl.). Persyaratan ketinggian daerah ini tersebar di daerah tropika dan sub tropika (Sunanto, 2002).
Weiss (1983) menyatakan bahwa tanaman wijen adalah tanaman yang tahan keadaan yang kering, tetapi bukan berarti bahwa pertumbuhan dan panen yang baik dapat diperoleh dengan curah hujan yang jumlahnya sangat rendah. Tanaman ini akan menghasilkan panenan yang baik pada curah hujan 500 mm – 600 mm. Tanaman ini juga menghendaki udara yang kering/panas, suhu yang cukup tinggi untuk pertumbuhannya dan sangat peka terhadap suhu yang dingin atau temperatur yang rendah. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman wijen adalah 250 – 270 C.
”Sesame is reasonably resistent, but this does not mean that good growth and yields can be obtained on a very low total rainfall. Sesame will produce an excellent crop with a rainfall of  500 mm – 600 mm. Sesame also requires a warm, fairly high temperatur for generation, and should not be planted untill all danger of frost or low temperature has passed. A seed bed temperatur of 250 - 270 C is preferable” .
Pertumbuhan tanaman wijen akan berlangsung baik pada tanah yang cukup subur. Namun demikian pada tanah yang tergenang air ketahanan tumbuhnya sangat berpengaruh dan biasanya tidak dapat bertahan (Kartasapoetra, 1988).
Keberhasilan usahatani wijen tidak terlepas dari berbagai macam faktor atau  aspek, yang antara lain meliputi :
a.   Persiapan lahan dan pengolahan tanah
Persiapan lahan yang dilakukan bagi tanaman wijen adalah tanah dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman, kemudian dibajak dan digaru. Setelah tanah diolah dan diratakan, dibentuk menjadi bedengan-bedengan yang di sekelilingnya dibuat got-got drainase yang berfungsi untuk menjaga agar tanaman tidak tergenang air dan memudahkan pemberian air pada tanaman (Sunanto, 2002).
b.   Pola tanam
Wijen dapat ditanam dengan berbagai sistem pola tanam yaitu :
1)      Sistem monokultur adalah sistem atau pola tanam yang dilakukan secara tunggal (dalam sebidang tanah, hanya ditanam satu jenis tanaman budidaya)
2)      Sistem tumpangsari adalah pola tanam campuran (dua tanaman atau lebih yang ditanam secara bersama-sama dalam satu bidang tanah)
3)      Sistem tumpang gilir adalah pola tanam campuran (dua atau tiga macam tanaman yang ditanam secara tumpangsari), dan salah satu dari tanaman tersebut dapat dipanen lebih dahulu
(Sunanto, 2002).
c.   Varietas
Untuk sistem polikultur, dianjurkan agar menggunakan varietas wijen yang tidak bercabang, sehingga fisiknya dapat memperoleh penyinaran matahari. Sementara, untuk penanaman sistem monokultur dapat digunakan varietas wijen yang bercabang maupun tidak bercabang (Sunanto, 2002).
d.   Penyiapan benih
Agar tanaman wijen dapat tumbuh dan berproduksi baik, maka perlu dilakukan pemilihan dan penggunaan benih yang berkualitas dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1)      Berkulit biji halus dan mengkilat
2)      Berdaya kecambah dan berdaya tumbuh (vigor) tinggi
3)      Sehat (tidak terserang hama dan penyakit)
4)      Berasal dari varietas unggul
5)      Lama disimpan kurang dari satu tahun sejak dipanen
(Sunanto, 2002).
e.   Masa tanam
Pada wilayah yang bermusim hujan pendek (tipe iklim D dan E), wijen harus ditanam pada awal musim hujan agar tanaman tidak mengalami hambatan karena suhu, jasad pengganggu dan ketersediaan air. Pada daerah yang berpengairan atau bermusim hujan panjang, sebagian petani menanam wijen pada akhir musim kemarau, yaitu 1-2 bulan sebelum musim kering (Sunanto, 2002).
f.    Cara penanaman
Cara penanaman wijen dapat dilakukan dengan cara :
1)      Benih disebar
Benih wijen yang ditanam dengan cara disebar, pada umumnya dilakukan pada sistem monokultur. Agar lebih mudah dan merata dalam penyebarannya, benih dicampur dengan pasir atau abu dapur
2)      Lahan ditugal
Cara penanaman yang lebih baik pada sistem monokultur yaitu dengan cara ditugal (membuat lubang-lubang tanam) yang diatur sehingga jarak antar lubang tanam tersebut teratur sama. Jika varietas yang ditanam tipe bercabang maka jarak antar lubang tanam dalam baris diatur 15-25 cm dan jarak antara barisan selebar 50-75 cm. Sementara, untuk varietas yang tidak bercabang, jarak dalam barisan 15-25 cm dan jarak antara barisan 30-50 cm
3)      Benih disemai
Sebelum ditanam di lahan, benih wijen disemai terlebih dahulu. Bibit dari persemaian ini dapat ditanam pada sistem monokultur maupun tumpangsari
(Sunanto, 2002).
g.  Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman wijen dapat dilakukan melalui beberapa macam kegiatan yang meliputi :
1)      Penyulaman dan penjarangan
Penyulaman dilakukan jika ada benih yang tidak berkecambah dan dilakukan pada saat tanaman berumur 5–6 hari, dengan cara memasukkan lagi benih wijen ke dalam lubang tugalan dan segera menimbunnya kembali dengan tanah. Untuk penjarangan dilakukan dengan menyisakan sebanyak 2–3 tanaman yang memiliki pertumbuhan baik
2)      Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan sewaktu-waktu tergantung dari kondisi keberadaan gulma. Penyiangan ini juga merupakan persiapan bagi pemupukan
3)      Pemupukan
Pemberian pupuk N, P dan K dilakukan secara seimbang jika wijen ditanam pada tanah yang kekurangan ketiga hara tersebut. Sementara bagi tanah-tanah tertentu, perlu digunakan pupuk organik yang berupa pupuk kandang ataupun kompos
4)      Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan pada tanah di sekitar batang bawah dari rumpun tanaman wijen dengan menggunakan tanah yang telah digemburkan. Tanah yang dibumbunkan semakin lama semakin banyak dan akhirnya dapat memperkokoh tanaman wijen
5)      Pengairan
Pemberian air dilakukan pada saat setelah tanam sampai dengan masa puncak pembungaan dengan interval 12–15 hari. Apabila wijen ditanam pada lahan beririgasi, maka perlu adanya pengaturan pengairan mengingat tanaman wijen tidak tahan terhadap air yang menggenang
6)      Hama dan Penyakit
Ada sejumlah hama serangga yang sering dijumpai menyerang tanaman wijen, antara lain : jenis tungau yaitu Polyphagotarsonemus latus; jenis kepik yaitu Nezara viridula, Pygomenidae varipennis, dan Tessarotoma javanica; jenis kumbang yaitu Dysdercus cingulatus, Hypomeces squamosus, Phaedonia inclusa; jenis belalang yaitu Atractomorpha sp. dan Locusta migratoria manilensis; jenis kutu yaitu Aphis gossypii, Myzus persicae; dan jenis ulat yaitu Antigastra sp. Selanjutnya, berdasarkan gejala dan bagian yang terserang, maka penyakit pada tanaman wijen dikelompokkan menjadi penyakit barcak daun, penyakit busuk buah, panyakit layu, penyakit keriting daun dan penyakit filodi
(Sunanto, 2002).
h.   Panen
Saatnya panenan hanya dapat ditentukan apabila pada butir-butiran pada bagian pangkalnya telah cukup keras dan tampak membelah kulit yang merupakan lapisan luar butirnya (Kartasapoetra, 1988). Waktu panen yang tepat adalah saat daun tanaman wijen yang belum rontok (gugur) hanya tersisa ¼  dari total daun dalam 1 tanaman, polong buah berwarna hijau kekuningan, dan ujung polong membuka sedikit (Sunanto, 2002).
Penjemuran tanaman wijen dapat dilakukan dengan menempatkan batang wijen dalam posisi berdiri sehingga dapat terkena sinar matahari sepanjang pagi sampai sore hari atau dengan merebahkan batang-batang wijen pada lantai jemur. Pada lantai jemur dialasi plastik atau tikar untuk menampung biji-biji wijen yang berjatuhan (Sunanto, 2002).
Pasca panen
Dinegara maju pengupasan biji wijen dilakukan dengan menggunakan mesin. Sementara, di negara berkembang pengupasan biji wijen masih dilakukan secara tradisional yaitu dengan penyosohan (Sunanto, 2002).

B. Kerangka Berpikir
Seseorang dalam melakukan suatu perbuatan akan berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai yaitu dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dalam memecahkan masalah, pengambilan keputusan memang merupakan langkah yang penting. Seseorang melakukan pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari berbagai alternatif dan mengambil tindakan yang menurut perhitungannya merupakan tindakan yang tepat.
Pengambilan keputusan seseorang untuk menolak atau menerima suatu inovasi, dalam penelitian ini adalah wijen bukanlah tindakan sekali jadi, melainkan lebih menyerupai suatu proses yang terdiri dari serangkaian tindakan. Pengambilan keputusan terdiri dari 4 tahap, yaitu pengenalan, persuasi, keputusan dan konfirmasi.
Dalam pengambilan keputusan seseorang untuk membudidayakan wijen atau tidak, dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dalam penelitian ini faktor internal terdiri dari umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, luas penguasaan lahan dan tingkat pendapatan. Sedang faktor eksternal terdiri dari lingkungan sosial, lingkungan ekonomi dan karakter inovasi (wijen).
Berdasar uraian diatas, diduga faktor internal seperti umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, luas penguasaan lahan, tingkat pendapatan dan faktor eksternal seperti lingkungan sosial, lingkungan ekonomi, karakter inovasi (wijen) akan mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen. Dimana dalam pengambilan keputusan ini akan menghasilkan keputusan akhir apakah menolak atau mengadopsi wijen.
Kerangka berpikir tersebut diatas, secara sistematik dapat digambarkan sebagai berikut :
Variabel bebas (x)

Gambar 2. Kerangka berpikir faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen (Sesamum indicum L.) di Kecamatan  Baki Kabupaten Sukoharjo

C. Hipotesis
1.   Hipotesis Mayor
Diduga ada hubungan yang signifikan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
2.   Hipotesis Minor
Diduga ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara pendidikan formal dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara pendidikan non formal dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara luas penguasaan lahan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara lingkungan sosial dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara lingkungan ekonomi dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
Diduga ada hubungan yang signifikan antara karakter inovasi dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

  1. Definisi Operasional
    1. Umur, yaitu usia responden pada saat penelitian dilakukan, dinyatakan dalam tahun, diukur dalam skala ordinal.
    2. Pendidikan formal, yaitu jenjang pendidikan dibangku sekolah yang telah diselesaikan oleh responden, diukur dalam skala ordinal.
    3. Pendidikan non formal, yaitu pendidikan yang diperoleh responden diluar bangku sekolah atau diluar pendidikan formal. Pendidikan non formal diukur melalui frekuensi mengikuti kegiatan penyuluhan dibidang pertanian dalam satu musim tanam, diukur dalam skala ordinal.
    4. Luas penguasaan lahan, yaitu luas lahan sawah yang diusahakan responden pada saat penelitian dilakukan, dinyatakan dalam satuan hektar (Ha), diukur dalam skala ordinal.
    5. Tingkat pendapatan, yaitu seluruh pendapatan yang diterima responden  dari kegiatan usahatani maupun dari luar usahatani, dinyatakan dalam rupiah yang dihitung dalam satu musim tanam terakhir, diukur dalam skala ordinal.
    6. Lingkungan sosial, yaitu lingkungan masyarakat di sekeliling responden yang secara langsung atau tidak langsung keberadaannya dapat mendorong atau menghambat responden untuk membudidayakan wijen, yang meliputi banyaknya elemen masyarakat yang  mendukung budidaya wijen dan wujud bantuan dari elemen masyarakat tersebut dalam budidaya wijen. Diukur dalam skala ordinal.
    7. Lingkungan ekonomi, yaitu kekuatan-kekuatan ekonomi yang ada dalam masyarakat dilokasi penelitian yang secara langsung atau tidak langsung keberadaannya dapat mendorong atau menghambat responden untuk membudidayakan wijen, yang meliputi ketersediaan saprodi dan pemasaran hasil. Diukur dalam skala ordinal.
    8. Karakter inovasi, yaitu sifat-sifat yang melekat pada inovasi yang secara langsung atau tidak langsung keberadaannya dapat mendorong atau menghambat responden untuk membudidayakan wijen, yang meliputi: keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, triabilitas dan observabilitas. Diukur dalam skala ordinal.
    9. Tahapan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen :

1)      Pengenalan, yaitu tahap dimana responden mengenal budidaya wijen, yang meliputi sumber informasi yang diperoleh responden mengenai budidaya wijen. Diukur dalam skala ordinal.
2)      Persuasi, yaitu tahap dimana responden berkenan atau tidak berkenan dengan budidaya wijen, yang meliputi tanggapan responden terhadap budidaya wijen. Diukur dalam skala ordinal.
3)      Keputusan, yaitu tahap dimana responden terlibat dalam pemilihan untuk menerima atau menolak budidaya wijen, yang meliputi keputusan yang diambil responden. Diukur dalam skala ordinal.
4)      Konfirmasi, yaitu tahap dimana responden memperkuat keputusan inovasi yang telah dibuatnya, yang meliputi tindak lanjut sikap responden dalam budidaya wijen. Diukur dalam skala ordinal.
Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel terdiri dari umur, pendidikan formal, pendidikan nonformal, luas penguasaan lahan, tingkat pendapatan, lingkungan sosial, lingkungan ekonomi, karakter inovasi, tahap pengenalan, tahap persuasi, tahap persuasi, tahap keputusan dan tahap konfirmasi. Untuk lebih jelasnya mengenai pengukuran variabel dapat dilihat pada lampiran 4.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: