Archive for PENYULUHAN PERTANIAN

HUBUNGAN ANTARA PERAN PENYULUH DENGAN PARTISIPASI PETANI DALAM PROYEK SISTEM USAHATANI AGRIBISNIS PADI BERBASIS PHT MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN DI DESA MENDAK KECAMATAN DELANGGU KABUPATEN KLATEN

Pembangunan pertanian merupakan prioritas pembangunan dalam rangka menunjang perekonomian masyarakat, meskipun demikian permasalahan di bidang ini pun makin bertambah. Sehingga perlu dimunculkan berbagai macam solusi diantaranya dikembangkan proyek yang berbasis pada Pengelolaan Hama Terpadu. Agar pelaksanaan proyek pertanian dapat berjalan lancar maka diperlukan peran dari penyuluh pertanian maupun partisipasi dari petani.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penyuluh pertanian dan partisipasi petani dalam proyek Sistem Usahatani Agribisnis Padi Berbasis PHT menuju Pertanian Berkelanjutan, serta menganalisis hubungan peran penyuluh dengan partisipasi petani dalam proyek Sistem Usahatani Agribisnis Padi Berbasis PHT menuju Pertanian Berkelanjutan.

Untuk Lebih Jelasnya Silahkan Download LINK di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/9548206/2.BABI.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548212/3.BABII.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548222/4.BabIII.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548227/5.BABIV.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548239/6.BABV.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548245/7.BABVI.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548257/8.DAFTARPUSTAKA.doc.html

http://www.ziddu.com/download/9548258/9.LAMPIRAN.doc.html

Comments (1) »

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT DIFUSI INOVASI SISTEM PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1.Difusi inovasi
Difusi dapat diartikan sebagai suatu proses di mana suatu ide-ide baru (yang biasanya disebut sebagai inovasi) disebarkan pada individu atau kelompok dalam suatu sistem sosial tertentu. Dengan demikian sebelum seseorang melakukan suatu adopsi, maka proses difusi berjalan lebih dahulu; dengan kata lain cepat tidaknya adopsi inovasi banyak dipengaruhi oleh cepat tidaknya proses yang terjadi dalam difusi inovasi (Soekartawi,1988).
Roger (1958) dalam Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa dalam proses difusi inovasi ada empat elemen penting yang satu sama lain berkaitan, yaitu: (a) adanya inovasi, (b) adanya komunikasi, baik antar individu, antar kelompok maupun antar individu dan kelompok, (c) adanya suatu sistem sosial tertentu dan (d) adanya kesenjangan waktu (Soekartawi, 1988).
Proses difusi inovasi adalah, perembesan adopsi inovasi dari satu individu yang telah mengadopsi ke individu yang lain dalam sistem sosial masyarakat sasaran yang sama. Berlangsungnya proses difusi inovasi sebenarnya tidak berbeda dengan proses adopsi inovasi. Bedanya adalah, jika dalam proses adopsi pembawa inovasinya berasal dari “ luar “ sistem sosial masyarakat sasaran, sedang dalam proses difusi, sumber informasi berasal dari dalam sistem sosial masyarakat sosial itu sendiri. Seperti diatas sudah dikemukakan, kecepatan adopsi (dan difusi) juga tergantung kepada aktivitas yang dilakukan oleh penyuluh sendiri (Mardikanto, 1996).
Menurut Roger dan Shoemaker dalam Abdillah H. (1986) difusi adalah tipe khusus komunikasi. Difusi merupakan proses dimana inovasi tersebar kepada anggota suatu sistem sosial. Pengkajian difusi adalah telaah tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah terhadap semua bentuk pesan. Unsur-unsur difusi (penyebaran) ide-ide baru adalah : (1) inovasi yang (2) dikomunikasikan melalui saluran tertentu (3) dalam jangka waktu tertentu, kepada (4) anggota sistem sosial. Unsur waktu merupakan unsur yang membedakan difusi dengan tipe riset komunikasi lainnya.
a). Inovasi
Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Tidak menjadi soal, sejauh dihubungkan dengan tingkah laku manusia, apakah ide itu betul-betul baru atau tidak jika diukur dengan selang waktu sejak digunakannya atau ditemukannya pertama kali. Kebaruan inovasi itu diukur secara subyektif, menurut pandangan individu yang menangkapnya. Jika sesuatu ide dianggap baru oleh seseorng maka ia adalah inovasi (bagi orang itu). “Baru “ dalam ide yang inovatif tidak berarti harus baru sama sekali. Suatu inovasi mungkin telah lama diketahui oleh seseorang beberapa waktu yang lalu (yaitu ketika ia ‘kenal’ dengan ide itu) tetapi ia belum mengembangkan sikap atau tidak suka terhadapnya, apakah ia menerima atau menolaknya (Hanafi, 1987).
Ada 5 macam sifat inovasi. Setiap sifat secara empiris mungkin saling berhubungan satu sama lain tetapi secara konseptual mereka itu berbeda. Kelima sifat itu ialah : (1) keuntungan relatif, (2) kompatibilitas, (3) kompleksitas, (4) trialabilitas, dan (5) observabilitas. Keuntungan relatif adalah tingkatan dimana suatu ide baru dianggap suatu yang lebih baik daripada ide-ide yang ada sebelumnya. Tingkat keuntungan relatif seringkali dinyatakan dengan atau dalam keuntungan ekonomis. Kompatibilitas adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima. Kompleksitas adalah tingkat dimana suatu inovasi dianggap relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan. Triabilitas adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dengan skala kecil. Observabilitas adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain (Hanafi, 1987) Baca entri selengkapnya »

Comments (7) »

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT DIFUSI INOVASI SISTEM PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan pertanian merupakan bagian penting dari pembangunan nasional, karena pembagunan pertanian berkaitan erat dengan pembagunan industri, perbaikan pangan dan kesehatan, perbaikan ekonomi dan penyediaan sandang, serta lapangan kerja. Kegiatan pertanian dimasa mendatang akan tetap penting dan diperlukan, maka perlu dijaga agar kegiatan dapat terus berlangsung. Karakteristik keberlanjutan dalam pembangunan pertanian nasional harus memperhatikan aspek lingkungan, aspek daya produksi dan aspek kebersamaan atau keadilan sebagai satu kasatuan yang utuh. Keberlanjutan dalam aspek lingkungan mengarah kepada suatu kegiatan pertanian ramah lingkungan (Solahuddin, 1999).
Pembangunan pertanian dimasa datang akan mengalami kecenderungan untuk menerapkan sistem pertanian yang akrab lingkungan. Diantaranya sistem pertanian yang menerapkan konservasi tanah dan air dengan penggunaan lahan dan air yang sedikit, penggunaan bibit ungggul yang menghasilkan produksi yang tinggi, tahan hama dan penyakit dan perubahan iklim, penggunaan bahan kimia yang semakin sedikit yang dapat mencegah pencemaran lingkungan, pengendalian hama terpadu. Demikian pula dengan sistem ini akan berkembang sistem pertanian dengan penggunaan tenaga kerja yang sedikit terampil dan dengan menerapkan sistem mekanisasi dan otomatisasi (Solahuddin, 1999).
Upaya untuk terus meningkatkan produksi padi dihadapkan oleh berbagai tantangan. Adanya konversi lahan subur menjadi lahan non pertanian gangguan kekeringan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), dan penurunan kualitas sumber daya lahan, menyebabkan penurunan produksi padi nasional sekiatar 6,5 persen pada tahun 1998. Sementara kebutuhan akan bahan pangan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pendududuk. Sebagai akibat penurunan produksi padi tersebut, pemenuhan akan permintaan beras dipenuhi melalui import yang cenderung meningkat. Oleh karena itu guna memenuhi kebutuhan beras yang terus meningkat, perlu diupayakan terobosan teknologi intensifikasi padi yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman dan biaya per satuan produksi (Anonim, 2002 ).
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan produktivitas padi sawah dan menekan biaya produksi per kilogram gabah adalah melalui pendekatan sistem Tengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Melalui pendekatan PTT, maka kondisi lingkungan tumbuh tanaman diupayakan seoptimal mungkin. Sistem pengelolaan tanaman terpadu adalah tindakan usahatani secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman optimal, kepastian panen, mutu produk tinggi, dan kelestarian lingkungan (Anonim, 2002).
Dengan penerapan komponen teknologi produksi melalui pendekatan sistem PTT ini dirasa tepat sebagai upaya memacu tingkat produktivitas padi di daerah sentra produksi padi yang mengalami pelandaian produktivitasnya. Meningkatnya produktivitas tanaman padi dan pendapatan serta kesejahteraan petani dalam jangka panjang akan mampu meningkatkan usaha intensifikasi yang selanjutnya mampu mempertahankan keberlanjutan usahataninya. Program intensifikasi padi sawah melalui pendekatan sistem PTT dapat dijadikan model penanganan didalam upaya peningkatan produktivitas padi, peningkatan pendapatan petani dan upaya melestarikan lingkungan yang dapat diterapkan saat ini dan dimasa mendatang.
Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian terutama pada komoditas padi. Dalam rangka upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian khususnya padi, Kabupaten Sukoharjo melakukan sebuah gerakan menerapkan sistem intensifikasi padi melalui pendekatan sistem pengelolaan tanaman terpadu.
Langkah awal yang dilakukan yaitu dengan melakukan demplot oleh setiap petugas penyuluh pertanian lapang ditiap wilayah binaannya. Dalam hal ini Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) selain harus menerapkan demplot mereka juga bertugas untuk menyebarkan inovasi dan informasi yang berkaitan dengan sistem PTT kepada petani sehingga proses difusi inovasi akan berlangsung dan cepat tersebar. Selain dipengaruhi oleh aktivitas penyuluh proses difusi inovasi sangat dipengaruhi oleh anggota sistem masyarakat terutama kondisi sosial ekonominya dan faktor yang lebih luas yaitu stuktur kekuasaan dalam masyarakat.
Cepat tidaknya adopsi inovasi banyak dipengaruhi oleh cepat tidaknya proses yang terjadi dalam difusi inovasi, dengan demikian tingkat penyebaran (difusi) inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu akan sangat menentukan keberhasilan upaya peningkatan produksi padi di Kabupaten Sukoharjo kususnya Kecamatan Polokarto, sehingga tingkat difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu kususnya pada padi sawah perlu untuk dikaji. Baca entri selengkapnya »

Comments (5) »

cara pengendalian dan pemberantasan hama walang sangit pada tanaman padi oleh petani di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen

Pengendalian terhadap hama penyakit sangat penting karena hama, penyakit tanaman dan gulma merupakan faktor pembatas dalam usaha produksi pertanian. Agar usaha produksi pertanian memberikan hasil yang memuaskan maka tanaman harus bebas dari serangan hama dan penyakit. oleh sebab itu apabila hidup tanaman terganggu oleh serangan hama dan penyakit perlu dilakukan tindakan pemberantasan, hal ini untuk menjamin agar tidak terjadi kerusakan yang mengakibatkan kerugian. Pemberantasan hama, penyakit tanaman dan gulma adalah usaha untuk membatasi kerugian karena hilangnya hasil tanaman baik kualitatif maupun kuantatif di lapangan dan setelah hasil dipungut.
Salah satu hama yang banyak menyerang tanaman padi adalah walang sangit (Leptocorisa acuta), untuk penyuluhan kali ini dikhususkan untuk hama walang sangit. Karena jika hama walang sangit tidak dikendalikan secara tepat maka dikhawatirkan akan mengganggu dan mengurangi produksi padi di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Sehingga diperlukan penyuluhan agar petani dapat mengendalikan hama pada padi khususnya walang sangit tersebut.

Untuk lebih jelasnya Silahkan Downloan LINK di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/9606087/anpadiolehpetanidiKecamatanMasaranKabupatenSragen.rtf.html

Comments (1) »

Rekacipta Penyuluhan Pembangunan dalam Pengembangan Persuteraan Alam di Jawa Timur

Kebutuhan akan bahan sutera (raw silk) dunia mencapai lebih dari 90 ribu ton, sedangkan produksi tidak lebih dari 70 ribu ton, bahkan dari produksi tersebut sebanyak 90% di antaranya dihasilkan di negara-negara Asia. Saat ini konsumen terbesar sutera ialah Jepang, yang mengonsumsi lebih dari sepertiga konsumsi sutera alam di dunia. Di tingkat nasional, saat ini kebutuhan akan sutera setiap tahun mencapai 450 ton, padahal produksi kurang dari 100 ton. Sehubungan dengan itu pemerintah menargetkan produksi sutera alam sebesar 2 ribu ton pada akhir tahun 2000. Pengelolaan persuteraan alam di Jawa Timur saat ini masih dilakukan oleh Perhutani dengan skala terbatas, sedangkan keterlibatan masyara-kat hanya sebagai pekerja dengan pendapatan rendah. Selain itu peralatan pemintalan benang sudah tidak ekonomis dan jumlahnya terbatas, padahal permintaan benang sutera baik di dalam negeri maupun di luar negeri mempunyai prospek yang cerah. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “ Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Di Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar”

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pentingnya padi sebagai sumber utama makanan pokok dan dalam perekonomian bangsa Indonesia. Beras merupakan bahan makanan pokok bangsa Indonesia. Sebagian besar penduduk dimuka bumi ini menggunakan nasi sebagai makanan pokoknya. Sebagai bahan makanan, nasi dan beberapa bahan makanan pokok lainnya seperti jagung, kentang, ketela pohon dan gandum merupakan sumber utama mendapatkan karbohidrat selain lemak. Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »

Kegiatan Penyuluhan tentang Budidaya Cabai Rawit yang Ditumbuhkan secara Hidroponik Di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pentingnya padi sebagai sumber utama makanan pokok dan dalam perekonomian bangsa Indonesia. Beras merupakan bahan makanan pokok bangsa Indonesia. Sebagian besar penduduk dimuka bumi ini menggunakan nasi sebagai makanan pokoknya. Sebagai bahan makanan, nasi dan beberapa bahan makanan pokok lainnya seperti jagung, kentang, ketela pohon dan gandum merupakan sumber utama mendapatkan karbohidrat selain lemak. Baca entri selengkapnya »

Comments (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.