BAHAN DISKUSI METODOLOGI PENELITIAN MAHASISWA

PENDAHULUAN

Skripsi sebagai tugas akhir mahasiswa adalah merupakan karya monumental dari seorang mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Sebagai karya monumental skripsi merupakan cerminan dari kualitas mahasiswa yang bersangkutan sekaligus kualitas dari institusi dimana mahasiswa tersebut menempuh studinya. Hasil diskusi dari beberapa dosen pembimbing skripsi mahasiswa Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian menyimpulkan sementara bahwa metodologi penelitian yang digunakan oleh beberapa mahasiswa menimbulkan beberapa pertanyaai.

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka perlu dilakukan pembahasan untuk menyamakan persepsi antar dosen pembimbing dalam mensikapi kondisi tersebut. Tujuan dilakukan pembahasan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas skripsi mahasiswa atau paling tidak terdapat kesamaan persepsi antar dosen pembimbing dalam mensikapi hal tersebut. Makalah ini berisi beberapa poin bahan diskusi metodologi penelitian mahasiswa Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian. Poin diskusi yang disajikan dalam tulisan ini hanya sekedar sebagai titik masuk dalam mengantarkan diskusi.

B. BEBERAPA PERMASALAHAN

1. Metode Dasar Penelitian

Kalimat paten yang selalu digunakan mahasiswa dalam mengawali tulisanya dalam bab metodologi penelitian adalah sebagai berikut:

Metode dasar dalam penelitian ini adalah metode deskripitif analitis yaitu memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam konteks teori hasil penelitian terdahulu (Surakhmad, 1994)

Pengertian deskriptif ini kalau disetarakan dengan pengertian statistik deskriptif  apakah tidak menimbulkan kesimpang-siuran?

Masri Singarimbun dan Sofian Effendi  (1982) dalam bukunya Metode Penelitian Survai menyatakan :

Terdapat kesimpang-siuran dalam apa yang dimaksud dengan penelitian deskriptif. Umpamanya dalam buku Erickson dan Nosanchuk (1977) dibedakan antara penelitian penjajakan dan penelitian penjelasan (confirmatory) tanpa menyinggung penelitian deskriptif. Dalam buku Bailey (1978) descriptive study disamakan dengan exploratory study, sedangkan Surakhmad (1978) penyelidikan deskriptif ditujukan untuk membedakan dengan penyelidikan historis.

Masri singarimbun sendiri membedakan tipe penelitian (bukan metode) yakni dibedakan menjadi penelitian penjajakan (eksploratif), penelitian penjelasan (explanatory atau confirmatory research) dan penelitian deskriptif.

2. Teknik Sampling

Terdapat pemahaman yang agak berbeda pengertian penulis tentang teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Pemahaman ini seringkali simpang-siur dengan teknik stratified random sampling.

Contoh kasus:

Multistage cluster random sampling

Populasi dibagi kluster kelompok tani berdasarkan kelas tani madya dan utama. Setiap kluster diambil 3 kelompok tani berdasarkan tingkatan paling bagus, kurang bagus dan tidak bagus. Masing-masing kelompok tani diambil 10 petani.

Catatan penulis dari penelusuran pustaka yang membedakan cluster random sampling dan stratified random sampling sebagi berikut:

Singarimbun (1982)

Stratified random sampling : Populasi dibagi–bagi dalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam dari setiap lapisan diambil sampel secara acak.

Cluster random sampling :Populasi digolongkan dalam gugus-gugus yang disebut clusters, dan ini akan merupakan satuan-satuan darimana sample akan diambil. Jumlah gugus yang diambil sebagai sampel harus secara acak. Kemudian unsur-unsur penelitian dalam gugus tersebut diteliti.

William G. Cochran (1977) Professor of  Statistics, Emeritus Harvard University dalam bukunya : Sampling Techniques menyatakan hal yang sama dengan apa yang dikemukakan Singarimbun.

http://www.mis.coventry.ac.uk/~nhunt/meths/random.html

Stratified Sampling

In a stratified sample the sampling frame is divided into non-overlapping groups or strata, e.g. geographical areas, age-groups, genders.  A sample is taken from each stratum, and when this sample is a simple random sample it is referred to as stratified random sampling.

Cluster sampling

In cluster sampling the units sampled are chosen in clusters, close to each other. Examples are households in the same street, or successive items off a production line.

The population is divided into clusters, and some of these are then chosen at random.  Within each cluster units are then chosen by simple random sampling or some other method.  Ideally the clusters chosen should be dissimilar so that the sample is as representative of the population as possible.

Valerie J. Easton & John H. McColl, Statistics Glossary V1.1 (http://www.cas.lancs.ac.uk/glossary_v1.1/samp.html#stratsamp)

There may often be factors which divide up the population into sub-populations (groups / strata) and we may expect the measurement of interest to vary among the different sub-populations. This has to be accounted for when we select a sample from the population in order that we obtain a sample that is representative of the population. This is achieved by stratified sampling.

A stratified sample is obtained by taking samples from each stratum or sub-group of a population.

3. Populasi dan Sampel

Terdapat kesimpang-siuaran dalam menentukan lokasi penelitian dengan pengambilan sample penelitian.

Contoh kasus:

“Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling yaitu menetapkan lokasi penelitian secara sengaja karena berdasarkan ciri-ciri atau sifat yang telah diketahui sebelumnya sesuai dengan kepentingan penelitian yaitu sebagian besar padi organic di Kecamatan Delanggu sudah menggunakan pupuk organic dan kondisi kesuburan tanah wilayah ini sangat cocok untuk pengembangan budidaya padi organic.”

Pertanyaannya: Apakah penentuan lokasi yang akan dijadikan objek penelitian harus dilakukan secara sampling? Pertanyaan berikutnya kalau sampelnya Kecamatan Delanggu populasinya apa? Dalam kasus ini seringkali justru populasinya disebutkan lebih sempit dari Kecamatan Delanggu.

“Metode pengambilan desa sebagai daerah sample dilakukan secara sengaja yaitu desa Mendak, Desa Tlobong dan Desa Segaran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota kelompok tani di Desa Mendak, desa Tlobong dan Desa Segaran yang membudidayakan tanaman pangan terutama padi organic.”

4. Sampel Yang Pada Dasarnya Sudah Bias

Judul poin tersebut saya kutip dari judul bab pada buku how to lie with statistics karangan Darell Huff dan Irving Geis. Salah satu contoh dalam bab tersebut adalah sebagi berikut :

Seorang psikiater melaporkan bahwa semua orang adalah penderita neurosis. Marilah kita lihat sejenak sampel psikiater tersebut. Siapakah yang diamati oleh psikiater tersebut? Ternyata kesimpulan tersebut ia peroleh setelah mempelajari para pasien, yang sangat tidak mewakili penduduk. Jika seorang itu normal maka psikiater tersebut tidak akan menjumpainya”.

Analog dengan contoh diatas marilah kita ambil contoh kasus dari  penelitian mahasiswa. Sebagai contoh adalah penelitian tentang motivasi petani membudidayakan stevia sampel yang digunakan mahasiswa dalam penelitian ini adalah dibatasi pada petani yang membudidayakan stevia. Kemudian kesimpulan yang dibuat adalah menggeneralisasikan bahwa motivasi petani di daerah penelitian dalam membudidayakan stevia tinggi. Apakah contoh tersebut sama dengan contoh diatas marilah kita diskusikan.

5. Analisis Data

Mahasiswa terbelenggu dengan analisis Rank Spearman, seakan tidak ada analisis lain selain rank spearman. Sebagai dosen pembimbing penulis juga mengalami kebuntuan dalam menyarankan alternatif lain. Pertanyaannya bagaimana kita harus mensikapi hal tersebut?

6. Pengukuran Variabel

Satu objek penelitian dilakukan pengukuran untuk beberapa sampel.

Contoh Kasus:

Hubungan Peranan kontak tani (X) dengan perubahan perilaku agribisnis (Y)

13 sampel petani dari 30 total sampel  yang diambil mempunyai 1 kontak tani yang sama sehingga pengukuran peranan kontak tani dilakukan terhadap 1 kontak tani tersebut, secara teoritis satu objek yang sama menghasilkan pengukuran yang sama.

Demensi variabel seringkali tidak didefinisikan secara jelas sehingga instrumennya juga menjadi tidak jelas.

Contoh kasus:

Pengukuran Variabel Peranan kontak tani sebagai pemotivasi. Demensi variabel tersebut tidak dijelaskan.

Instrumen yang dibuat sebagai berikut:

Apakah dalam mengembangkan padi organik, kontak tani dapat menumbuhkan motivasi anggota kelompok tani?

a. Mampu menumbuhkan motivasi anggota

b. Kurang mampu menumbuhkan motivasi anggota

C. Tidak mampu menumbuhkan motivasi anggota

Pertanyaannya apakah dengan alat ukur semacam itu sudah mampu mengukur variabel tersebut?

C. PENUTUP

Beberapa poin diskusi tersebut diatas hanya merupakan beberapa poin diskusi yang teridentifikasi penulis dan menurut pemahaman penulis. Penulis mohon maaf apabila yang disampaikan tersebut salah, besar harapan untuk mendapat pencerahan dalam diskusi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: