Dari Mobilisasi Masyarakat Menuju Partisipasi Masyarakat

1.       Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Mobilisasi Masyarakat dapat didefinisikan sebagai sebuah proses untuk melibatkan masyarakat untuk mengidentifikasi prioritas, sumber daya, kebutuhan dan solusi masyarakat, untuk mempromosikan partisipasi yang representatif, tata pemerintahan yang baik, akuntabilitas dan perubahan secara damai. Salah satu keunggulan dari pendekatan semacam ini adalah bahwa pendekatan tersebut bertitik berat pada penguatan jalur-jalur komunikasi antara komunitas dan institusi-institusi yang mendukungnya: sector pemerintah, sektor bisnis dan sektor publik.

Unsur-unsur penting dalam program Mobilisasi Masyarakat yang sukses:

  1. Melibatkan Pemerintah Lokal

Partisipasi pemerintah merupakan faktor yang kritis dalam suatu program mobilisasi yang sukses. Program tersebut memungkinkan warga untuk menemukan suara mereka di dalam komunitas mereka. Selagi warga menjelajahi dan menentukan kebutuhan mereka, program ini menciptakan jalur komunikasi antara komunitas dan perwakilan pemerintah mereka. Tujuannya bukanlah untuk menciptakan struktur pengambilan keputusan yang parallel, melainkan untuk bekerja menggunakan jalur yang udah ada. Pemahaman mengenai jalur-jalur ini merupakan kunci bagi masyarakat untuk dapat mengambil langkah selaanjutnya: mengakses kebijakan dan kepemimpinan tingkat nasional.

2. Bekerja sama dengan Sektor Sipil Lokal

Alasan prinsipil untuk mengikutsertakan aktor-aktor sipil seperti LSM lokal mencakup:

  1. a. Meneruskan kehadiran program bahkan setelah program Mercy Corps selesai
  2. b. Kemampuan untuk menyediakan hubungan advokasi antara masyarakat dan pemerintah
  3. c. Kemampuan untuk mengembangkan kepercayaan dan hubungan secara lebih cepat melalui mitra lokal
  4. Menyediakan seperangkat sumber daya dan pengetahuan asli tambahan mengenai praktek pembangunan dalam konteks yang ada

Dalam banyak kasus, tujuan jangka panjang dari mobilitas masyarakat tidak dapat dicapai secara berkelanjutan dalam kerangka waktu yang dimiliki oleh proyek – pendirian LSM atau Ornop sangatlah kritis bagi masa depan dan kelangsungan program ini.

3. Mengintegrasikan Pembangunan Ekonomi

Kajian masyarakat dan penilaian partisipatif menyoroti pentingnya kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi jangka panjang bagi kesehatan dan masa depan masyarakat. Mercy Corps menitikberatkan diciptakannya hubungan yang kuat antara prakarsa-prakarsa mobilisasi masyarakat dan pembangunan ekonomi dalam rangka memperoleh dampak yang lebih besar dari program-program tersebut.

  1. Mempromosikan Perubahan secara Damai

Mercy Corps bertujuan untuk menguatkan kemampuan untuk menganalisa dan menangani konflik di seluruh tingkatan dalam masyarakat. Asumsi-asumsi yang membingkai suatu rancangn program mobilisasi mencakup:

  1. Warga yang bergotong royong untuk menciptakan sesuatu akan mempunyai rasa kepemilikan bersama dan oleh karenanya kemungkinan untuk terjadinya perselisihan di masa depan akan lebih kecil. Hal ini menantang asumsi sejarah bahwa kelompok yang berbeda tidak dapat bergotong royong.
  2. Kelangkaan infrastruktur dan kurangnya sumber daya sering menjadi sumber konflik dan ketegangan. Mobilisasi masyarakat bertitik berat pada pemenuhan kebutuhan sumber daya yang pada akhirnya akan mengurangi ketegangan.
  3. Program mobilisasi menciptakan jalur-jalur baru dan memperkuat jalur komunikasi dan dialog yang sudah ada.
  4. Program-program menciptakan kesadaran bagi masyarakat akan apa yang sebenarnya mampu dicapai pada berbagai tahap

5. Keberlanjutan

Kesuksesan mobilisasi masyarakat sebaiknya diukur bukan dari keberlangsungan kelompok masyarakat, akan tetapi melalui kemampuan dari masyarakat untuk bergerak di seputar isu yang timbul dan untuk mengidentifikasi solusinya. Program-program menyediakan bantuan yang ditargetkan bagi kelompok-kelompok yang memiliki keinginan dan visi bersama, dan membantu merumuskan dan membangun struktur mereka. Struktur-struktur harus diadaptasi berdasarkan kebutuhan dan sumber daya yang unik yang dimiliki oleh masing-masing komunitas. Pada saat hubungan dengan masyarakat berakhir, Mercy Corps hendak meninggalkan warisan berikut ini:

  1. Anggota kelompok masyarakat mampu memfasilitasi pertemuan, melibatkan masyarakat (termasuk kelompok minoritas), membangun musyawarah dan mengembangkan anggaran dan rencana proyek. Mereka juga dapat mengadvokasikan kebutuhan-kebutuhan mereka kepada pemerintah.
  2. Masyarakat mampu memprioritaskan kebutuhan, mengatur sumber daya dan mengadvokasikan kebutuhan mereka kepada pemerintah, LSM internasional, dsb.
  3. LSM/Ornop lokal dapat menggunakan teknik-teknik mobilisasi dalam program mereka sendiri.
  4. Pemerintah lokal mampu mendengarkan dan memahami kebutuhan konstituen mereka, menanggapi permintaan-permintaan dan membantu dalam mengakses sumber daya

Tidak ada pendekatan standar terhadap mobilisasi. Meskipun kebanyakan program mobilisasi masyarakat mempunyai elemen-elemen yang sama, setiap program seharusnya bergerak sesuai dengan konteks negara, permintaan masyarakat, dan persyaratan donor. Menggabungkan semua bahan-bahan kunci tersebut menciptakan program mobilisasi yang sukses.


DIAGRAM PROSEDUR

Pengalaman terdahulu telah menunjukkan bahwa terus bekerja dengan masyarakat melalui lebih dari satu tahap meningkatkan kepercayaan diri dan saling percaya di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan Mercy Corps. Penekanan pada akuntabilitas dan transparansi selama tahap pertama membangun kepercayaan dan menciptakan antusiasme atas cara kerja sama yang demikian. Fakta bahwa Mercy Corps bekerja dengan sangat dekat dengan Kelompok-Kelompok Masyarakat juga membantu masyarakat dan anggota kelompok individual mengatasi ketakutan mereka, dan kurangnya pengetahuan atau pengalaman mengenai beberapa aspek implementasi proyek.

Tahap Start-UP (Mulai) – Implementasi dengan masukan MC yang signifikan di seluruh tingkat

Tahap 2. “Kelulusan” Masyarakat Meneruskan Proses dengan Bantuan MC yang Terbatas

Tahap 3 – Masyarakat kini semakin mampu menyusun prioritas, merencanakan, mengidentifikasi sumber daya, dan mengorganisir pemecahan masalah tanpa bantuan Mercy Corps. Secara ideal, proses berlanjut tanpa keterlibatan kami secara langsung.

II. Pembahasan

Mewujudkan  Partisipasi Masyarakat melalui Pendekatan – pendekatan Partisipasi terhadap masyarakat

Apa Itu Partisipasi?

Esensi pendekatan partisipatif bagi pengembangan masyarakat secara implisit terangkum dalam puisi karya Lau Tze, seorang pujangga klasik Cina. “Pergi dn temuilah masyarakatmu, hiduplah dan tinggallah bersama mereka, cintai dan berkaryalah bersama mereka. Mulailah dari apa yang telah mereka miliki, buat rencana lalu bangunlah rencana itu dari apa yang mereka ketahui, sampai akhirnya, ketika pekerjaan usai, mereka akan berkata: “Kamilah yang telah mengerjakannya.”

Usaha-usaha penerapan pendekatan partisipatif di Indonesia telah memunculkan beragam persepsi dan interpretasi yang berbeda-beda tentang arti partisipasi. Persepsi dan interpretasi yang berkembang selama ini bahwa:

  1. masyarakat bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dari program yang telah ditetapkan pemerintah,
  2. anggota masyarakat ikut menghadiri pertemuan-pertemuan perencanaan, pelaksanaan dan pengkajian ulang proyek, namun kehadiran mereka sebatas sebagai pendengar semata,
  3. anggota masyarakat terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan tentang cara melaksanakan sebuah proyek dan ikut menyediakan bantuan serta bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut,

Anggota masyarakat berpartisipasi aktif dalam semua tahapan proses pengambilan keputusan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/monitoring sebuah program

Pendekatan  Partisipasi

Proses partisipasi masyarakat selalu menjadi perhatian utama dalam pembangunan Indonesia. Partisipasi merupakan bagian penting dari budaya bangsa dengan menggunakan “consensus approach” (musyawarah mufakat) dalam pengambilan keputusan. Selain itu prinsip-prinsip partisipasi “dari, oleh dan untuk rakyat” telah termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1970-an. Partisipasi adalah proses pemberdayaan masyarakat sehingga mampu menyelesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi, melalui kemitraan setara, transparansi, kesetaraan kewenangan, kesetaraan tanggung jawab dan kerja sama.

Pengalaman penerapan pendekatan partisipatif di Indonesia dan di negara-negara lain telah menunjukkan dampak yang signifikan dalam proses pembangunan, terutama untuk pembangunan jangka panjang.

Pendekatan partisipatif dapat diterapkan dalam proses pembangunan, mulai dari sistem manajemen internal dalam lembaga pembangunan dan pelayanan baik di lembaga pemerintah dan non-pemerintahan – melalui proses umum mengeidentifikasi, mengadakan dan menerapkan proyek- hingga aktivitas proyek itu sendiri. Pengembangan tim kerja dengan menggunakan alat-alat TQM (Total Quality Management – Manajemen Mutu Menyeluruh) dan PCM (Project Cycle Management – Manajemen Daur Proyek) mampu meningkatkan kinerja operasional lembaga secara dramatis. Metode PRA (Participatory Rural Appraisal – Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif) bisa meningkatkan kemampuan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan masyarakat, dan memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap kegiatan proyek selanjutnya. Teknik Pelatihan Partisipatif (Participatory Training Techniques – PTT) dan Pemberdyaan Masyarakat (Community Empowerment – CE) merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kapasitas seluruh pihak terkait (stakeholder) yang dilibatkan dalam menjalankan proyek. Alat-alat Monitoring dan Evaluasi Partisipatif (Participatory Monitoring and Evaluation – PM&E) tidak hanya menyediakan informasi berkualitas tinggi tentang dampak proyek, baik positif dan negatif, tetapi juga membangun komitmen dan dukungan.

Walaupun telah banyak lembaga yang sukses menggunakan pendekatan partisipatif untuk mengimplementasikan proyek pembangunan di Indonesia -baik di sektor pemerintahan dan non-pemerintahan-, namun masih bersifat parsial dan lokal. Masih banyak kendala institusional dalam mengaplikasikannya secara lebih luas di Indonesia, bahkan pemahaman bersama tentang makna partisipasi itu sendiri masih sangat rancu. Ada yang mengatakan bahwa partisipasi sudah memadai jika petani ternak berpartisipasi merasakan manfaat dari proyek. Ada pula yang beranggapan, proyek belum bersifat partisipatif jika seluruh pihak terkait belum berposisi sama dalam kemitraan setara dan sama-sama terlibat dalam seluruh aspek-aspek perancangan, implementasi dan evaluasi proyek.

Sehingga departemen dan berbagai bagian atau seksi di dalam departemen pada lembaga pemerintahan menerapkan konsep ini secara berbeda-beda, sehingga menimbulkan kebijakan dan pendekatan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sistem pemerintah dalam memonitor kemajuan dan keberhasilan berfokus pada banyaknya keberhasilan input yang diberikan, ketimbang dampak nyata proyek bagi kelompok sasaran. Hal ini diperparah dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) proyek yang sangat mendetail. Sistem perencanaan dan implementasi proyek yang sangat sentralistik, hirarkis dan birokratis, terbatasnya kesempatan pihak terkait lain untuk berpartisipasi, dan kerangka dasar kebijakan serta ketentuan yang ada kerap kali hanya melegalisasi organisasi pemerintah sebagai satu-satunya penyedia pelayanan. Inipun seringkali diartikan secara kaku.

Bahkan tanpa kendala sistem ini sekalipun, staf pemerintah belum memiliki keahlian partisipatif yang dibutuhkan, dan mereka sudah terbiasa mengerjakan apa yang diperintahkan atasannya, sehingga sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri pada pendekatan baru ini.

Namun demikian, Proyek DELIVERI dan berbagai proyek lainnya telah menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif bisa diterapkan pada lembaga-lembaga pemerintah. Era baru desentralisasi memberikan kesempatan besar untuk menerapkan pendekatan ini secara lebih luas. Dan panduan ini memberikan gambaran umum bagaimana melakukannya melalui serangkaian pelatihan dan kegiatan praktis untuk meningkatkan keterampilan dan mengubah sikap di kalangan pegawai pemerintah. Rincian yang lebih mendetail mengenai pendekatan spesifik disediakan pada buku panduan lainnya, yang mengacu pada buku ini dan bisa dilihat pada bagian akhir buku ini

Manfaat-Manfaat Yang Diharapkan Dari Pendekatan Partisipasi

Ada banyak literatur yang membahas tentang berbagai dampak yang menguntungkan pendekatan partisipatif bagi proyek di tingkat masyarakat, dan sistem manajemen organisasi dan pelatihan manajemen, khususnya dalam hal kesinambungannya (sustainablity). Namun sebagian besar literatur tersebut lebih bersifat kualitatif dibanding kuantatif, dan hanya ada sedikit bukti- bukti empirik, terutama dalam hal dampak berskala besar sebagai akibat pengukuran berskala kecil, pendekatan lokal secara nasional. Dilihat dari beberapa segi, ini menguntungkan karena pendekatan partisipatif (terutama dalam monitoring dan evaluasi) cenderung menghasilkan data yang spesifik untuk setiap situasi, dan mustahil untuk melakukan agregasi data tersebut secara luas.

Dampak pendekatan partisipatif secara umum adalah sebagai berikut:

  1. Program dan pelaksanaannya lebih aplikatif terhadap konteks sosial, ekonomi dan budaya yang sudah ada, sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini menyiratkan kebijakan desentralisasi.
  2. Menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab diantara semua pihak terkait dalam merencanakan dan melaksanakan program, sehingga dampaknya dan begitu pula program itu sendiri berkesinambungan.
  3. Perlunya memberikan peran bagi semua orang untuk terlibat dalam proses, khususnya dalam hal pengambilan dan pertanggungan jawab keputusan sehingga memberdayakan semua orang yang terlibat (terberdayakan).
  4. Kegiatan-kegiatan pelaksanaan menjadi lebih obyektif dan fleksibel   berdasarkan keadaan setempat.
  5. Transparansi semakin terbuka lebar akibat penyebaran informasi dan wewenang.
  6. Pelaksanaan proyek atau program lebih terfokus pada kebutuhan masyarakat.

Dalam proses yang dikembangkan secara internasional dan diadaptasi ke dalam kebutuhan lokal, Mercy Corps bekerja sama dengan masyarakat dalam rangkaian pertemuan dan dengan perwakilan masyarakat yang terpilih untuk menentukan prioritas, kebutuhan dan tanggung jawab. Salah satu hal yang membuat pekerjaan di Aceh – dan di seluruh Indonesia – menjadi hal yang tidak biasa adalah tingkat struktur kelembagaan yang sudah ada dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. Kebanyakan pedesaan, tanpa memandang besar kecilnya, memiliki pusat kesehatan dan masyarakat, asosiasi orang tua-guru, kelompok belajar agama, dan dewan kebudayaan. Struktur-struktur ini menawarkan banyak kesempatan untuk berbagai kerja sama dan inisiatif, dan dapat juga digunakan untuk meningkatkan program, dan oleh karenanya dapat menjangkau lebih banyak orang secara lebih efisien dari yang dimungkinkan. Pada saat yang bersamaan, bekerja sama dengan organisasi-organisasi ini bertujuan untuk memperkuat struktur mereka, membantu mereka dalam proses pemulihan dan membangun kapasitas mereka

III. Penutup

Kesimpulan

  1. Mobilisasi akan  sukses bila di dukung oleh partisipasi pemerintah.
  2. Mobilitas masyarakat tidak dapat dicapai secara berkelanjutan dalam kerangka waktu yang dimiliki oleh proyek – pendirian LSM.
  3. Kesuksesan mobilisasi masyarakat bukan dari keberlangsungan kelompok masyarakat, akan tetapi melalui kemampuan dari masyarakat untuk bergerak di seputar isu yang timbul dan untuk mengidentifikasi solusinya.
  4. Pendekatan partisipatif dapat diterapkan dalam proses pembangunan, mulai dari sistem manajemen internal dalam lembaga pembangunan dan pelayanan baik di lembaga pemerintah dan non-pemerintahan.

Saran

  1. Perlunya mewujudkan mobilisasi masyarakat menuju partisipasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang telah ada di masyarakat itu sendiri.

Pemerintah harus mendukung terhadap proses mobilisasi masyarakat sampai pada tahap partisipasi masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: