EVALUASI DAN PERENCANAAN PROGRAM di DESA MULUR KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pembangunan nasional yang dilaksanakan di Indonesia merupakan upaya berkesinambungan dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Tujuan dari pembangunan nasional tersebut tidak akan tercapai tanpa dukungan dan peran serta dari seluruh rakyat Indonesia. Pembangunan daerah merupakan pilar utama bagi terlaksananya  pembangunan nasional. Jadi keberhasilan pembangunan daerah juga merupakan keberhasilan bagi pembangunan nasional itu sendiri.

Seiring dengan berlakunya otonomi daerah setiap daerah harus mampu mengetahui potensi yang dimiliki oleh daerahnya masing-masing sekaligus juga mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat sesuai sasaran dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Program pertanian adalah rencana kegiatan pertanian yang dibuat dengan sengaja dan mempunyai jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan evaluasi adalah suatu bentuk penelitian ilmiah yang berdasarkan data dan fakta, untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan suatu program. Evaluasi juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk kelanjutan program tersebut. Apakah akan dihentikan atau dilanjutkan dengan perbaikan pada setiap tahap-tahapannya.

1

Dalam praktikum perencanaan dan evaluasi program penyuluhan pertanian kali ini kami mengkaji keadaan Desa Mulur,  Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo dengan cara menganalisis data monografi sehingga kita dapat menetapkan masalah-masalah yang terjadi di desa tersebut. Penetapan masalah dilakukan melalui identifikasi impact point teknis, ekonomis dan sosial. Setelah menetapkan masalah, maka kita dapat menetapkan suatu program untuk menyelesaikan masalah tersebut dalam upaya peningkatan produktivitas sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya.

Dengan demikian praktikum perencanaan dan evaluasi program ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa karena dapat melatih dalam mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan dapat menetapkan suatu program yang tepat sebagai  solusinya. Selain itu juga dapat memberikan penilaian terhadap program yang akan dan telah dilaksanakan.

  1. B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Mahasiswa dapat merumuskan dan menetapkan keadaan secara benar dengan mendasarkan pada data keadaan yang dipresentasikan dalam monografi daerah, data yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan data petani serta usaha taninya.
  2. Mahasiswa dapat berlatih mengidentifikasi impact point teknis, ekonomi dan sosial, sebagai salah satu bentuk rumusan masalah dalam sebuah program pertanian untuk sebuah wilayah.
  3. Mahasiswa dapat merumuskan masalah berdasarkan identifikasi impact point.
  4. Mahasiswa dapat menetapkan masalah berdasarkan rumusan masalah yang ada.
  5. Mahasiswa dapat menetapkan tujuan berdasarkan masalah yang ada.
  6. Mahasiswa dapat menetapkan cara mencapai tujuan dari program pertanian yang ada dengan membuat 15 kolom matrik cara mencapai tujuan.
  7. Mahasiswa dapat mengevaluasi program.
  8. Mahasiswa dapat menetapkan indikator yang diperlukan untuk merubah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
  9. Mahasiswa dapat membuat alat pengukur yang diperlukan untuk mengukur kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.


II. TAHAPAN PERENCANAAN PROGRAM

  1. A. Menetapkan Keadaan
    1. 1. Kebijaksanaan
      1. Pemerintah Pusat

Banyak kebijakan yang terkait langsung dengan pembangunan pertanian tidak sepenuhnya menjadi kewenangan departemen pertanian, melainkan sebagian besar berada di luar Departemen Pertanian. Beberapa kebijakan strategis yang terkait langsung dengan pembangunan pertanian, namun kewenagannya berada di berbagai instansi lain dan memerlukan penanganan segera, yaitu :

  1. Kebijakan ekonomi makro yang kondusif yaitu : inflasi yang rendah, nilai tukar yang stabil dan suku bunga riil yang bersaing dengan negara-negara lain.
  2. Kebijakan di bidang infrastruktur pertanian meliputi pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, perluasan lahan pertanian terutama di Jawa, pengembangan jalan usaha tani dan jalan produksi serta infra struktur lainnya, seperti pelabuhan, pergudangan, energi dan lain-lain.
  3. Kebijakan perlindungan atau stabilitas harga komoditas pertanian. Kepastian harga merupakan hal penting bagi kelangsungan usaha pertanian dan peternakan.
  4. 3

    Kebijakan perdagangan yang memfasilitasi kelancaran pemasaran baik di pasar dalam negeri maupun ekspor. Selain itu, untuk melindungi sektor pertanian dari persaingan di pasar dunia, diperlukan : upaya untuk memperjuangkan konsep strategic product (SP) dalam forum WTO (World Trade Organization), penerapan tarif dan hambatan non tarif untuk komoditas-komoditas beras, kedelai, jagung, gula, dan beberapa produk hortikultura dan peternakan.

  1. Kebijakan pengembagan industri yang lebih menekankan pada agroindustri skala kecil di pedesaan dalam rangka meningkatkan nilai, tambah dan pendapatan petani.
  2. Kebijakan di bidang transportasi yang terkait erat dengan peningkatan produktivitas, mutu, dan daya saing produk pertanian yang pada umumnya mudah rusak.
  3. Kebijakan pembiayaan untuk mengembangkan lembaga keuangan mikro, pembiayaan pola syariah, dan lainnya. Kebijakan ini perlu memecahkan persoalan ketiadaan agunan (Cash Colateral) para petani dan peternak baik skala menengah dan kecil.
  4. Kebijakan investasi yang kondusif untuk lebih mendorong minat investor dalam sektor pertanian dan sektor-sektor pendukungnya.
  5. Kebijakan pemerintah daerah yang lebih berpihak pada pertanian, meliputi : infrastruktur pertanian, pemberdayaan penyuluh pertanian, pengembangan instansi lingkup pertanian, menghilangkan berbagai pungutan yang mengurangi daya saing pertanian, serta alokasi APBD yang memadai serta didukung dengan perencanaan pertanian jangka menengah dan panjang,

10.  Kebijakan pengembangan wilayah potensial, seperti : lahan kering, lahan pasang surut, rawa, lebak dan sebagainya.

  1. Kabupaten Sukoharjo

Dalam meningkatkan ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat, kabupaten Sukoharjo melakukan beberapa upaya, yakni        di antaranya dengan menggerakkan dinas pertanian. Sebagai lembaga yang bergerak dibidang pertanian memang sudah seharusnya mampu mendukung adanya program pemerintah yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibidang ketahanan pangan.

Adapun kebijakan lain dari Kabupaten Sukoharjo, yakni:

  1. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dinamis melalui system agribisnis dan agroindustri
  2. Pengembangan system ketahanan pangan yang berbasis pada keanekaragaman pangan, dalam aspek produksi, ketersediaan, distribusi dan konsumsi
  3. Memberdayaan kelembagaan dan organisasi ekonomi di pedesaan dengan peningkatan kualitas sumberdaya mannusia dan memfasilitasi sarana prasarana pertanian dan permodalan
  4. Meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian guna menjamin penyediaan pangan sesuai kebutuhan untuk pemantapan ketahanan pangan

Adapun usaha-usaha yang dilakukan kabupaten Sukoharjo dibidang pertanian, yakni:

  1. Peningkatan produksi padi

Realisasi produksi tahun 2006   : 322426 ton GKG

Sasaran produksi tahun 2007                : 350113 ton GKG (8,9%)

Sasaran produksi tahun 2008                : 367.619 ton GKG (5,0%)

Sasaran produksi tahun 2009                : 386.000 ton GKG (5,0%)

  1. Peningkatan produktivitas padi

Realisasi produktivitas tahun 2006                     : 6,524 ton/ha

Sasaran produktivitas padi tahun 2007  : 7,520 ton/ha

Sasaran produktivitas padi tahun 2008  : 7,879 ton/ha

Sasaran produktivitas padi tahun 2009  : 8,456 ton/ha

  1. Pengendalian konversi lahan perttanian ke non pertanian (RUTK, pensertifikatan lahan sawah)
  2. Peningkatan produksi beras dengan sasaran 350.113 ton GKG sebagai upaya mendukung Program Peningkatan Beras Nasional 2 juta ton dan peningkatan produksi beras Jawa Tengah 500000 ton
  3. Bioteknologi untuk mengatasi penurunan kesuburan tanah akibat degradasi lingkungan dengan mengembangkan penggunaan: pupuk organik(fine kompos), fermentasi urine sapi untuk pestisida, biokultur, biokasarin, biopestisida
  4. Penggunaan varietas unggul baru sebagai pengganti IR-64 yang sudah menurun potensinya
  5. Hibrida : varietas intani, rokan
  6. Inhibrida : varietas diah suci, ciherang, pepe, dan mikongga
  7. Inventarisasi dan pengadaan alat mesin pertanbian (alsintan) sebagai upaya mencukupi kebutuhan alsintan di Kabupaten Sukoharjo

10.  Pembangunan infrastruktur pertanian untuk memenuhi kebutuhab air irigasi dan memperlancar transportasi pengangkutan sarana produksi, hasil produksi dan mesin pertanian

11.  Penyediaan air irigasi melalui pompanisasi, pembuatan embung, pembuatan sumur dan rehabilitasi jaringan irigasi

12.  Penyediaan pupuk memenuhi 6 tepat (harga, mutu, jumlah, waktu, jenis, dan tempat)

13.  Pengendalian harga gabah melalui lembaga usaha ekonomi pedesaan (LUEP)

14.  Penyediaan kredit lunak untuk pertanian dan usaha kecil menengah dan koperasi

15.  Membangun lumbung pangan untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan

16.  Pengendalian hama penyakit tanaman pangan, holtikultura dan perkebunan, melalui; gerakan missal pengendalian hama, sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT), dan menyediakan stimulant obat-obatan.

  1. 2. Data Monografi

Data monografi  merupakan data yang diperoleh dari aparat pemerintahan seperti kelurahan, dimana data ini berdasarkan data dari kelurahan di Desa Mulur kecamatan Bendosari Tahun 2006.

  1. Kondisi Geografis Desa

Desa Mulur merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo. Adapun batas Desa Mulur secara administrative ialah sebagai berikut:

Sebelah Utara    : Desa Sugihan, Desa Toriyo

Sebelah Selatan : Desa. Jagan, Kelurahan Begajah

Sebelah Barat    : Kelurahan Gayam

Sebelah Timur   : Desa Mertan

Keadaan topografi Desa Mulur adalah berupa dataran dengan luas wilayah 400.815 Ha, dan dengan tingkat kesuburan tanahnya sedang, tigkat erosinya tidak ada. Selain itu keadaan suhu rata-rata mencapai 260C dengan tinggi tempat dari permukaan air laut antara 85-100 m.  Kebanyakan komoditas yang dihasilkan adalah padi karena lahannya mayoritas sawah sehingga cocok untuk pertanian padi. Adapun jarak Desa Mulur dari pusat administratif adalah sebagai berikut :

Jarak ke Ibu Kota Kecamatan  : 0.5 Km

Jarak ke Ibu Kota Kabupaten   : 3 Km

Jarak ke Ibu Kota Propinsi       : 110 Km

  1. Tingkat penguasaan lahan

Berdasarkan data monografi yang diperoleh dari desa Mulur dapat diketahui bahwa desa tersebut memiliki tanah yang cukup luas, yakni untuk tanah persawahan seluas 192.7130ha, tanah kering 130 ha, dan tanah fasilitas umum seluas 77.1052 ha. Dengan curah hujan 30 mm, dan suhu rata-rata harian 260C. dari data tersebut dapat diketahui bahwa lahan desa Mulur pada umumnya memang cocok untuk tanaman padi, karena memiliki tanah persawahan dan iklim yang sangat mendukung untuk bercocok tanam padi.

  1. Keadaan Penduduk

Mengenai keadaan penduduk desa Mulur pada tahun 2006, diketahui bahwa jumlah penduduk totalnya yaitu sebanyak 8081 orang, dengan jumlah kepala keluarga 1924 KK. Untuk keadaan penduduk lebih elasnya sebagai berikut:

1)      Jenis kelamin

Pada umumnya jumlah penduduk menurut jenis kelamin dapat digunakan untuk menghitung sex ratio, yang mana dengan nilai sex ratio tinggi berarti jumlah tenaga kerja laki-laki di Desa tersebut dikatakan banyak atau sebaliknya.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut  Jenis Kelamin Tahun 2006

Jenis kelamin Jumlah
Laki-laki

Perempuan

4.003 orang

4.078 orang

Jumlah Total 8.081 orang

Sumber : Data Sekunder

Keadaan tersebut terlihat bahwa umlah penduduk perempuan lebi besar disbanding jumlah penduduk laki-laki, hal ini disebabkan angka kelahiran perempuan di desa tersebut memang lebih tinggi dari pada laki-laki.

2)      Tingkat Sex Ratio dan ABT

Sex Ratio adalah perbandingan umlah penduduk laki-laki dengan perempuan pada tiap 100 penduduk perempuan. Sedangkan ABT adalah beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif.

Untuk Sex Ratio dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Jadi, untuk nilai Sex Ratio tahun 2006=    = 98 jiwa.

Dari hasil tersebut mempunyai arti bahwa pada tiap 100 penduduk perempuan terdapat 98 laki-laki. Keadaan ini berate juga bahwa pada tahun 2006 di Desa Mulur memiliki angka Sex Ratio yang rendah.

Untuk ABT atau angka beban tanggungan yang ada di Desa Mulur dapat dihitung menggunakan rumus

Dengan kriteria, usia produktif adalah usia antara 15 sampai 60 tahun, sedangkan usia non produktif yakni usia kurang dari 15 tahun dan lebih dari 60 tahun.

Sedangkan nilai ABT tahun 2006 yakni sebesar 10 jiwa. Dari hasil tersebut berarti setiap 100 penduduk usia produktif desa Mulur harus menanggung beban 10 penduduk usia non produktif. Keadaan ini menunukkan bahwa  ABT di Desa Mulur tergolong rendah, sehingga tidak begitu menghambat terhadap pembangunan ekonomi yang ada di Desa tersebut.

3)      Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi tingkat perkembangan suatu desa. Dimana bila tingkat pendidikan yang ada di desaa tersebut tergolong tinggi maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemajuan desa tersebut tergolong tinggi, dan begitu halnya sebaliknya.

Pada tahun 2006 jumlah penduduk mempunyai kriteria berdasarkan tingkat pendidikannya, yakni:

Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan tahun

2006

Tingkat Pendidikan Jumlah
Belum tamat SD 53
Tamat SD 2638
Tamat SMP 1442
Tamat SMA 1332
Lulus Perguruan Tinggi 151
Jumlah Total 5616

Sumber: Data Sekunder

Dengan jumlah seluruhnya 5616 orang, dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang tamat SD ke atas hampir 99%. Hal ini berarti tingkat pendidikan yang ada di Desa tersebut memang tergolong tinggi, dan memang dalam kenyataannya perkembangan dan kemauan desa tersebut sudah tergolong baik. Di samping itu keadaan tingkat pendidikan yang baik sangat mempengaruhi cara pola berpikir masyarakat dalam menentukan langkah kehidupan serta meningkatkan kemajuan suatu desa.

4)      Mata pencaharian

Pada umumnya mata pencaharian memang sangat menentukan tingkat kesejahteraan dalam masyarakat. Begitu halnya masyarakat desa Mulur yang mana memiliki berbagai macam mata pencaharian, dimana mereka memperolehnya berdasar kemampuan serta ketrampilan yang mereka punyai.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Penduduk

Tahun 2006

Mata Pencaharian Jumlah
Petani 918
Buruh tani 1281
PNS 258
Wiraswasta 525
Karyawan swasta 2957
Dokter 2
Jumlah Total 5941

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk pada tahun 2006 bekerja sebagai karyawan swasta, hal ini terjadi karena kebanyakan dari golongan muda lebih banyak yang menadi karyawan, hal ini juga dinilai lebih menjamin dari pada berkecimpung didunia pertanian. Meskipun demikian, masih banyak pula masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani, hal ini kebanyakan dilakukan oleh golongan tua yang tidak mempunyai lahan sendiri untuk ditanami. Sedangkan mata pencaharian yang tergolong sedikit adalah sebagai PNS, yang mana disebabkan oleh factor keinginan serta kemampuan yang dimiliki. Dibanding menjadi PNS tak sedikit yang memilih menjadi Wiraswasta, tetapi ada pula yang memang tidak mempunyai pendidikan yang sesuai untuk menjadi PNS kemudian mereka memilih menjdi wiraswasta sedangkan untuk yang menjadi dokter hanya 2 orang, hal ini disebabkan tak banyak yang mampu untuk mengikutib pendidikan kedokteran.

Dengan keadaan mata pencaharian tersebut tingkat kesejahteraan desa Mulur tergolong sudah terjamin.

5)      Lembaga yang ada di Desa

Lembaga pemerintahan yang ada di Desa Mulur diantaranya adalah lembaga Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Di samping itu ada lembaga keamanan desa, lembaga kemasyarakatan, lembaga politik, ekonomi, serta lembaga pendidikan. Dengan adanya lembaga tersebut dapat mendukung tingkat kemajuan dan perkembangan suatu desa, sehingga desa Mulur dapat menadi desa yang berpotensi lebih baik.

6)      Lembaga pertanian

Selain itu di desa tersebut juga terdapat kelembagaan dibidang pertanian yakni P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air), lembaga ini merupakan suatu oraganisasi yang didirikan oleh petani untuk mengatur pengairan yang digunakan untuk tanaman mereka.  Di kecamatan bendosari terdapat beberapa  P3A yang terbagi disetiap desanya, dimana di salah satunya terdapat di Desa Mulur.

Keadaaan kelompok tani yang ada di Desa mulur terbagi ditiap sub sektor tanamann  pangan yakni dalam kelompok tani hamparan dan kelas kelompok terdapat kelas pemula dengan  3 kelompok tani, kelas lanjut 8 kelompok tani, kelas madya 40 kelompok tani, kelas utama 29 kelompok tani dengan jumlah keseluruhan  sekitar 80 kelompok tani.

7)      Produksi

Produksi pertanian yang ada di Desa Mulur yang paling tinggi adalah tanaman padi, yakni dengan luas lahan 192.7130 ha mampu menghasilkan padi sebesar 1156.278 ton. Harga per hektarnya Rp. 7.200.000,-. Biaya produksi yang digunakan yakni, untuk biaya pemupukan per Ha Rp.. 645.000,-, biaya bibit Rp. 150.000,- per ha, dan biaya obat Rp..200.000,- per ha. Di samping itu di Desa Mulur sudah terdapat fasilitas yang mampu mendukung kegiatan pertanian seperti traktor, mesin penggilingan padi, mesin bubut dan dan yang tak kalah penting adalah saluran irigasi.

  1. B. Identifikasi Masalah

Dalam identifikasi masalah yang ada di Desa Mulur, dapat digunakan identifikasi masalah teknis, ekonomis, maupun sosial. Adapun instrumen untuk menilai tingkat penerapan teknologi tersebut yakni sebagai berikut;

  1. 1. Identifikasi impact poin teknis

Identifikasi ini berhubungan dengan pelaksanaan secara teknis  dari kegiatan usaha tani yang meliputi sapta usaha tani. Berdasarkan kondisi lapang dalam kegiatan sapta usaha tani di Desa Mulur diidentifikasikan bahwa penggunaan pupuk melebihi dosis dari yang dianjurkan. Selain itu penanaman yang dilakukan juga belum sesuai anjuran yang telah diberikan penyuluh.

Tabel. 4. Identifikasi Impaact Poin Teknis

No. Variabel Data potensial/rekomendasi Data aktual keterangan
I.

1.

2.

3.

Benih

Varietas yang

digunakan

Asal benih yang digunakan

waktu pemindahan

benih

Menggunakan bibit unggul

Membeli di balai benih

2 minggu setelah persemaian

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

II.

1.

2.

3.

4.

5.

Bercocok tanam

Pengolahan tanahnya

Ukuran jarak tanam yang dilakukan

Perlakukan dalam  penyiangan

Jumlah benih waktu menanam

Umur bibit saat tanam

Dibajak dan dicangkul

20 cm x 20 cm

Dilakukan penyiangan

2 – 3 benih perlubang

Bibit telah berumur 17 -25 hari

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai Rekomendasi

Lebih dari 3 benih

Sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

III.

1.

2.

Pemupukan

Waktu pertama kali Pemupukan

Dosis yang digunakan

dilakukan 10 hari setelah tanam

Pupuk Urea 250 -300 kg / ha

Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha

Pupuk KCI 50 -100 kg / ha Atau disesuaikan dengan analisa tanah

Sesuai Rekomendasi

Pada umumnya melebihi rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Terjadi impact point

IV. Pengairan

Waktu melakukan

Pengairan dimusim kemarau

Dilakukan sebelum tanah persawahan benar-benar kering Sesuai Rekomendasi Tidak terjadi impact point
V.

1.

2.

3.

4.

Pengendalian hama dan

penyakit

Frekuensi pengendalian

Dosis yang digunakan

Jenis pestisida yang

digunakan

Pengamatan yang dilakukan

1 minggu sekali

sesuai label yang Tertera pada kaleng obat

disesuaikan dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman.

dilakukan suatu

pengamatan, minimal 1 minggu sekali

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

VI. Kegiatan panen

Bilamana memanen

Pemasaran

Bila tanaman benar-benar sudah dalam umur panen dan Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point

Kesimpulan: Berdasar data di atas dapat diketahui, bahwa dalam pelaksanaan usahataninya masih terdapat penyimpangan, yakni dalam penanaman benih dan pemupukan. Sehingga produksi yang dicapai belum memenuhi standart yang ditetapkan.          Rumusan masalah:

  1. Penanaman benih lebih dari 3 untuk perlubangnya
  2. Pemupukan yang tidak sesuai dosis.
  1. 2. Identifikasi impact poin ekonomis

Identifikasi impact poin ekonomis berhubungan dengan kegiatan ekonomi dari kegiatan usaha tani yang meliputi perencanaan usaha, pengelolaan biaya usaha tani dan analisis usaha tania yang dilakukan. Berdasakan keadaan dilapang diketahui bahwa petani kurang dapat melakukan efisiensi dalam pemasaran dengan baik serta belum dapat  melakukan  pengawasan dengan menggunakan B/C ratio dimana petani belum menerapkan suatu kegiatan ekonomis disektpr pertanian dengan baik.

Tabel 5. Identifikasi Impact Poin Ekonomis

No. Variabel Data Potensial Data aktual keterangan
I.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Perencanaan usaha tani

Mengidentifikasi kebutuhan pasar

Mengidentifikasi industri hilir

Mengidentifiikasi jaringan ketersediaan agroinput

Menyusun perencanaan UT

Menyusun kalender UT

Membuat perencanaan modal

Membuat perencanaan tenaga kerja

Membuat kontrak dengan mitra kerja

Melakukan identifikasi trend pasar

Melakukan identifikasi

Melakukan identifikasi

Membuat perencanaan  sesuai kondisi lapang

Menyusun jadwal kegiatan UT

Mengatur modal dengan baik

Memanajemen Tenaga kerja

Menjalin kerjasama dengan banyak relasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

II.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Pengelolaan usaha tani

Membuat neraca awal pembukuan usaha tani

Membuat buku kas

Membuat buku transaksi di luar buku kas

Membuat neraca akhir

Identifikasi fungsi pemasaran

Melakukan pencatatan harga

Komoditas primer dan hasil olahan

Bernegosiasi

Menghitung efisiensi pemasaran

Adanya laporan neraca per musim tanam

Adanya catatan penggunaan uang kas

Adanya catatan transaksi diluar buku kas

Adanya laporan neraca per periode

Mengidentifikasi fungsi pemasaran

Membuat catatan harga tiap komoditi

Adanya barang komoditas primer dan hasil olahan yang dihasilkan

Lobi dengan mitra kerja

Melakukan perhitungan efisiesi pemasaran tiap produk

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Tidak sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Terjadi impact point

III.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Analisis usahatani

Menghitung biaya usaha

Menghitung hasil usaha

Menghitung pendapatan keluarga tani

Menghitung keuntungan usaha

Membuat analisis saldo usaha

Membuat analisis ratio hasil dan biaya

Membuat analisis b/c ratio

Menghitung biaya total yang digunakan

Menghitung seluruh  hasil usaha

Menghitung selisih penerimaan dengan pengeluaran

Menghitung selisih  penerimaaan dengan biaya produksi

Menganalisis sisa hasil usaha

Menganalsis efisiensi usaha

Menganalisi manfaat  UT yang dilakukan

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Sesuai rekomendasi

Tidak sesuai rekomendasi

Tidak terjadi impact point

Terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Tidak terjadi impact point

Terjadi impact point

Kesimpulan terhadap data di atas yakni, bahwasanya kebanyakan petani belum melakukan pengawasan secara baik daam perencanaan, pengelolaan maupun analisis usahatani. Rumusan masalah :

  1. Petani belum dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik
    1. Petani belum dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan
    2. 3. Identifikasi impact poin sosial

Identifikasi ini menyangkut suatu kegiatan sosial dan interaksi sosial yang dilakukan petani di Desa mulur yang terdiri dari  penghayatan tujuan kelompok, struktur tugas, tugas kelompok, inisiatif kelompok dan partisipasi anggota. Berdasakan konsisi yang ada dapat diidentifikasi bahwa tingkat partsipasi  anggota dalam suatu kelompok masih kurang.

Tabel 6. Identifikasi Impact Point Sosial

No Variabel Data potensial/ rekomendasi Data aktual Keterangan
I

1.

Tujuan kelompok

Penghayatan tujuan kelompok

Anggota kelompok mengetahui tujuan kelompok tani Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
II Struktur tugas
1. Otoritas, kekuasaan dan pengaruh Otoritas, kekuasaan dan pengaruh di dalam kelompok jelas Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
2. Mengkomunikasikan keputusan kelompok Keputusan yang diambil kelompok diketahui oleh anggota Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
III Tugas kelompok
1. Kepuasan anggota kelompok Anggota kelompok merasa puas terhadap kelompok Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
2 Pemberian informasi kepada aggota Anggota mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan oleh kelompok Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
3. Pengaturan dan koordinasi tugas Pengatuiran dan koordinasi tugas jelas Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
4. Inisiatif kelompok Banyak inisiatif yang diambil kelompok untuk mencapai tujuan Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
5. Penyebaran gagasan kepada anggota Semua gagasan disebarkan Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
6 Klarifikasi permasalahan Segala persoalan mampu dijelaskan kepada anggota Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
IV Mengembangkan dan membina kelompok
1 Partisipasi anggota Partisipasi kurang atau anggota tidak dilibatkan atau melibatakan diri secara penuh Tidak sesuai rekomendasi Terjadi impact point
2 Penyediaan fasilitas kelompok Fasilitas tersedia lengkap Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
3 Kegiatan kelompok Ada kegiatan rutin untuk mengembangkan dan membina kehidupan kelompok Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point
4 Koordinasi untuk mengembangkan dan membina kelompok Dilaksanakan koordinasi untuk mengembangkan dan membina kelompok Sesuai rekomendasi Tidak terjadi impact point

Kesimpulan: dalam identifikasi impact poin social jarang ditemukan suatu penyimpangan, karena memang dalam kehidupan social petani tersebut tergolong sudah baik, hanya saja terkladang dalam partisipasi kegiatan masih kurang, meskipun tidak terlalu berpengaruh penuh terhadap kelompok.. Masalah yang ada: kurangnya partisipasi anggota terhadap kegiatan kelompok.

  1. C. Menetapkan Masalah

Adapun masalah yang dapat ditetapkan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut :

  1. Penanaman benih lebih dari 3 untuk perlubangnya, di mana yang seharusnya untuk perlubangnya diberikan 2-3 benih. hal ini merupakan suatu masalah yang sangat penting. Dimana dalam penanaman benih yang sesuai dengan anjuran merupakan suatu hal yang penting dalam kegiatan usaha tani. Karena benih sangat menentukan pertumbuhan dari suatu tanaman, dalam artian penanaman benih yang tepat akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan yang baik bagi tanaman. Oleh karena itu, penanaman benih yang tepat sangat penting untuk diperhatikan oleh petani.
  2. Pemupukan yang tidak sesuai dosis. Pemupukan merupakan suatu kegiatan yang penting dalam sektor petanian, dimana pupuk sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Penggunaan pupuk yang berlebihan justru akan mengganggu pertumbuhan tanaman disamping itu megurangi tingkat keefisienan dan keefektifan dalam penggunan biaya produksi.
  3. Petani belum dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik Hal ini menjadi masalah ekonomis yang penting dalam kegiatan usaha tani. Dimana dengan melakukan efisiensi pemasaran petani dapat menganalisis uasaha tani yang dilakukannya, sehingga dalam kegiatan pertanian petani diharapkan mampumelakukan efisiensi pasar.
  4. Petani belum dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan. Keadaan ini menjadi suatu masalah karena analisis B/C ratio sangat penting bagi petani untuk mengetahui manfaat dari kegiatan usahatani.
  5. Kurangnya partisipasi anggota terhadap kegiatan kelompok Kondisi ini merupakan masalah yang sangat penting dalam keefektifan suatu kelompok. Bilamana jika partisipasi dari anggota sangat kurang tingkat kemajuan kelompok akan terhambat, begitupula akan terjadi sedikit interaksi yang baik antar anggota. Oleh karena itu kurangnya partisipasi anggota dalam kelompok penting untuk ditingkatkan.
  6. D. Menetapkan Tujuan

Tujuan yang dapat ditetapkan dari berdasarkan masalah tersebut adalah:

  1. Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar, yakni 2 sampai 3 benih untuk perlubangnya
  2. Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.
  3. Petani  dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik
  4. Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik
  5. Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok
  6. E. Menetapkan Cara Mencapai Tujuan

Berdasarkan penetapan tujuan diatas maka dapat ditetapkan suatu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Adapun cara yang digunakan yaitu menggunakan martrikulasi impact point, dapat dilihat pada tabel berikut.

III. EVALUASI PROGRAM

  1. A. Menetapkan Indikator
    1. 1. Aspek Kognitif

Tabel 8. Penetapan Indikator Aspek kognitif

No Tujuan Indikator
1.

2.

3.

4.

5.

Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar,

Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.

Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik

Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik

Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok

Mengetahui cara penanaman benih dan mampu melakukannya dengan benar

Mengetahui jenis-jenis pupuk dan cara pemupukan serta mampu melakukan pemupukan  dengan tepat

Mengetahui cara melakukan  analisis efisiensi pemasaran dan mampu menerapkannya

Mengetahui tentang analisis  B/C ratio dan mampu menganalisinya dengan baik

Mengetahui peran dan fungsinya dalam kelompok dan mampu melaksanakan peran dan fungsinya  dengan penuh tanggung jawab

  1. 2. Aspek Afektif

Tabel 9. Penetapan Indikator Aspek Afektif

No. Tujuan Indikator
1.

2.

3.

4.

5.

Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar,

Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.

Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik

Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik

Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok

Mau menaman benih  dengan benar

Mau melakukan pemupukan  dengan sesuai anjuran

Mau menerapkan efisiensi pemasaran

Mau menerapkan analisis  B/C ratio dengan baik

Mau melaksanakan peran dan fungsinya  dengan penuh tanggung jawab

20
  1. 3. Aspek Psikomotorik

Tabel 10. Penetapan Indikator Aspek Psikomotorik

No Tujuan Aspek Indikator
1.

2.

Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar,

Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.

Psikomotorik

Psikomotorik

Kecepatan : 7 jam/ ha

Ketepatan  : 2-3 per lubang

Kecepatan : 5 jam/Ha

Ketepatan :

Pupuk Urea 250 -300 kg / ha

Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha

Pupuk KCI 50 -100 kg / ha Atau disesuaikan dengan analisa tanah

  1. B. Membuat Alat Pengukur untuk Mengukur Kemampuan Kognitif
    1. Tujuan : Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
    2. Apakah anda mengetahui  bagaimana cara menanam benih yang baik?
    3. Mampukah anda melakukan penanaman benih dengan baik?
      1. Tujuan : Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
      2. Apakah anda mengetahui  jenis-jenis pupuk?
      3. Apakah anda mengatahui cara pemupukan yang baik?
      4. Bagaimana cara pemupukan yang anda lakukan?
      5. Apakah  anda melakukan pemupukan sesuai anjuran?
        1. Tujuan : Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
        2. Apakah yang anda ketahui tentang efisiensi pemasaran?
        3. Mampukah anda melakukan efisiensi pemasaran dengan baik?
        4. Bagaimana anda melakukan efisiensi pemasaran tersebut?
  1. Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  2. Apakah yang anda ketahui tentang analisis B/C ratio?
  3. Mampukah anda melakukan analisi B/C ratio?
  4. Bagaimana anda melakukan analisis tersebut?
    1. Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
    2. Apakah anda mengetahui peran dan fungsi anda dalam kelompok?
    3. Mampukah anda mampu melaksanakan peran dan fungsi anda  dalam kelompok dengan penuh tanggung jawab?
    4. Seberapa jauh keterlibatan anda dalam kelompok?
      1. C. Membuat Alat Pengukur untuk Mengukur Kemampuan Afektif
      2. Apakah anda bersedia  menanam benih sesuai anjuran?
      3. Apakah anda bersedia untuk menerapkannya untuk setiap masa tanam?
      4. Bersediakah anda melakukan pemupukan sesuai dosis anjuran yang diberikan?
      5. Apakah anda bersedia untuk menerapkannya untuk setiap masa tanam?
      6. Apakah anda bersedia melakukan efisiensi pemasaran?
      7. Bagaimana anda melakukan efisiensi pemasaran tersebut?
      8. Apakah anda bersedia melakukan analisis B/C ratio?
      9. Bagaimana anda melakukan analisis tersebut?
      10. Maukah anda melaksanakan peran dan fungsi anda  dalam kelompok dengan penuh tanggung jawab?
      11. Bagaimana anda melakukannya?
      12. Seberapa jauh kemauan anda  untuk terlibat dalam kelompok?
        1. D. Membuat Alat Pengukur untuk Mengukur Kemampuan Psikomotorik
        2. Berapa benih yang digunakan untuk setiap lubang?
        3. Berapa lama untuk menanam benih per hektar?
        4. Apakah petani sudah menanam benih 2-3 per lubangnya?
        5. Kapan pemupukan yang anda lakukan?
        6. Apakah dosis yang digunakan sudah sesuai anjuran yang diberikan?
        7. Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk memupuk lahan seluas  1 Ha?
  1. Tujuan : Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Tujuan : Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Tujuan : Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Tujuan : Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar. Adapun untuk mengukur tujuan tersebut dapat digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. Tujuan : Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.  Untuk mengukur tujuan tersebut digunakan pertanyaan sebagai berikut :
  1. E. Menetapkan Standar dan Kriteria untuk Mengukur Keberhasilan (Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik )

Tabel 11. Penetapan Standar dan Kriteria untuk Mengukur Keberhasilan Aspek Psikomotorik

No Tujuan Aspek Standar Kriteria
1.

2.

3.

4.

5.

Petani dapat melakukan penanaman benih dengan benar

Petani dapat melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran atau dengan benar.

Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran dengan baik

Petani  dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik

Petani dapat meningkatkan partisipasinya terhadap kelompok

Kognitif

Afektif

Psikomotorik

Kognitif

Afektif

Psikomotorik

Kognitif

Afektif

Kognitif

Afektif

Kognitif

Afektif

Mengetahui cara penanaman benih dan mampu melakukannya dengan benar

Mau menaman benih  dengan benar

Kecepatan : 7 jam/ ha

Ketepatan  : 2-3 per lubang

Mengetahui jenis-jenis pupuk dan cara pemupukan serta mampu melakukan pemupukan  dengan tepat

Mau melakukan pemupukan  dengan sesuai anjuran

Kecepatan : 5 jam/Ha

Ketepatan :

Pupuk Urea 250 -300 kg / ha

Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha

Pupuk KCI 50 -100 kg / ha Atau disesuaikan dengan analisa tanah

Mau  dan mampu menerapkan

Mengetahui cara melakukan  analisis efisiensi pemasaran dan mampu menerapkannya

Mau menerapkan efisiensi pemasaran

Mengetahui tentang analisis  B/C ratio dan mampu menganalisinya dengan baik

Mau menerapkan analisis  B/C ratio dengan baik

Mengetahui peran dan fungsinya dalam kelompok dan mampu melaksanakan peran dan fungsinya  dengan penuh tanggung jawab

Mau melaksanakan peran dan fungsinya  dengan penuh tanggung jawab

Tinggi : mengetahui dengan jelas dan mampu melakukannya

Sedang  : mengetahui tapi kurang dapat melakukannya

Rendah : kurang tahu dan kurang bisa menerapkan

Tinggi : mau melakukannya

Sedang  : kurang bersedia melakukannya

Rendah : tidak bersedia melakukannya

Terampil : bila penanaman beih sesuai rekomendasi (2-3/lubang dan kecepatan 7 jam/Ha).

Sedang : bila benih 2-3/lubang tetapi kecpatannya  > 7 jam/Ha)

Tidak terampil : bila benih  >3 / lubang dan kecepatannya  .7 jam/Ha)

Tinggi : mengetahui dengan jelas dan mampu melakukannya

Sedang  : mengetahui tapi kurang dapat melakukannya

Rendah : kurang tahu dan kurang bisa menerapkan

Tinggi : mau melakukannya

Sedang  : kurang bersedia melakukannya

Rendah : tidak bersedia melakukannya

Terampil : bila dosis pupuk  sesuai rekomendasi kecepatan  pemupukan 5 jam/Ha

Sedang : bila dosis pupuk sesuai anjuran  tetapi kecpatannya  > 5 jam/Ha)

Tidak terampil tidak sesuai anjuran dan kecepatannya  > 5 jam /Ha

Mampu : Petani mampu melakukan efisiensi pemasaran dengan benar

Kurang mampu : Petani dapat melakukan efisiensi pemasaran  dengan benar tetapi kurang tepat

Tidak Mampu : Petani tidak melakukan efisiensi pemasaran

Tinggi : mau melakukannya

Sedang  : kurang bersedia melakukannya

Rendah : tidak bersedia melakukannya

Mampu : Petani dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik

Kurang mampu : Petani dapat dapat membuat analisis B/C ratio atau pengawasan dengan baik tetapi kurang tepat

Tidak Mampu : Petani tidak dapat membuat analisis B/C ratio

Tinggi : mau melakukannya

Sedang  : kurang bersedia melakukannya

Rendah : tidak bersedia melakukannya

Tinggi : mengetahui dengan jelas dan mampu melakukannya

Sedang  : mengetahui tapi kurang dapat melakukannya

Rendah : kurang tahu dan kurang bisa menerapkan

Aktif : Petani senantiasa mengikuti segala macam kegiatan pengembangan dan pembinaan kelompok

Kurang aktif : Petani jarang mengikuti kegiatan pengembangan dan pembinaan kelompok

Tidak aktif : Petani tidak pernah mengikuti kegiatan pengembangan dan pembinaan kelompok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: