FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PETANI MEMBUDIDAYAKAN TANAMAN CABAI DENGAN MULSA PLASTIK DI KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO

  1. I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Lombok atau cabai (capsicum spp.) merupakan salah satu jenis sayuran yang telah sangat membudaya di kalangan petani dan perdagangannya makin meluas antar negara di dunia. Tampaknya cabai akan menjadi salah satu komoditas alternatif di masa-masa mendatang untuk ditangani dan dikelola dalam skala agribisnis. Saat ini rata-rata produksi dan produktivitas cabai di Indonesia umumnya masih rendah, sehingga perlu pemecahan secara berkesinambungan melalui percepatan ahli teknologi maju.

Teknologi perbenihan yang cukup menonjol adalah kehadiran varietas cabai unggul hibrida. Secara cepat ataupun lambat cabai hibrida makin dinikmati petani ataupun pengusaha tani seolah-olah menggeser varietas atau kultivar cabai yang bermutu rendah. Salah satu bukti bahwa cabai hibrida diminati petani adalah populernya pengembangan cabai “hot Beauty” di pulau Jawa saat ini. Ciri khas pengembangan budidaya cabai hibrida ini antara lain di pandu dengan kultur teknik bercocok tanam secar intensif, terutama penggunaan mulsa plastik dan cara-cara khusus melalui perbaikan teknik budidaya. Di masa-masa mendatang akan memumingkinkan berbagai varietas cabai hibrida silih berganti dan bertambah jenisnya sebagai alternatif pilihan petani.

Adaptasi atau pengembangan teknologi sistem mulsa plastik dirintis oleh Jepang dan Taiwan yang memperkenalkan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). MPHP ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwarna hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam untuk menutup permukaan tanah, sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya.

Penggunaan MPHP kini berkembang pula di Indonesia termasuk pada budidaya cabai hibrida. Keuntungan bertani sistem MPHP ini antara lain pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus total sebelum tanam, warna hitam dari mulsa dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma, warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari sehingga dapat mengurangi hama dan secara tidak langsung menekan serangan penyakit virus, menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil), mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari, buah cabai yang berada di atas tanah terhindar dari percikan air tanah sehingga dapat mengurangi resiko terjangkitnya penyakit busuk buah, kesuburab tanah karena pemupukan dapat merata sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya relatif seragam (homogen), praktis untuk melakukan sterelisasi tanah dengan mengfgunakan gas fumigan seperti Basmid-G karena fungsi MPHP mempercepat proses pembentukan gas zat fumigan tanpa harus membeli plastik khusus, secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah sehingga biaya pengadaan MPHP dapat dialokasikan dari biaya pemeliharaan tanaman tersebut, pada musim kering (kemarau) MPHP daoat menrkan penguapan air dalam tanah sehingga tidak terlalu sering untuk melakukan penyiraman (pengairan).

Cabai hibrida dihasilkan melalui proses persilangan 2 induk tanaman yang terpilih, sehingga turunannya berupa F1 yang mempunyai sifat lebih unggul daripada kedua induknya. Keunggulan cabai hibrida adalah pada tingkat produksinya tinggi, daya penyesuaian terhadap berbagai keadaan lingkungan tumbuh cukup luas, memiliki ketahanan yang tinggi terhadap penyakit tertentu, pertumbuhan tanaman seragam, dan kualitas hasilnya sesuai dengan selera konsumen (pasar). Kelemahan cabai hibrida antara lain turunan berikutnya sering terjadi pemecahan sifat dan hasilnya cenderung menurun sehingga kurang baik bila produksi benihnya oleh petani. Keberadaan cabai hibrida saat ini makin diminati petani sebab walaupun harga benihnya mahal dan membutuhkan modal (investasi) besar untuk membudidayakannya tetapi harga jual hasil panen (produiksi) dapat memberikan keuntungan yang tinggi.

Prospek pengembangan cabai hibrida makin cerah serta daya beli masyarakat semakin baik terutama terhadap cabai yang memiliki kualitas yang baik. Lambat laun tentu varietas cabai yang bermutu rendah akan semaki terdesak, sehingga secara tidak langsung konsumen (pasar) akan ikut mendorong pengembangan cabai varietas unggul dan bermutu. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi motivasi petani untuk membudidayakan cabai hibrida di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

  1. B. Perumusan Masalah

Untuk mengoptimalkan potensi tanaman cabai perlu dukungan dari berbagai elemen yaitu petani itu sendiri sebagai pelaksana usahatani, penyuluh pertanian sebagai fasilitator, toko saprodi sebagai penyedia input produksi dan adanya pasar sebagai tempat pemasaran produk.

Kegiatan budidaya tanaman cabai yang dilakukan petani di daerah Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo tidak mungkin terlaksana tanpa adanya motivasi dari petani yang membudidayakan tanaman ini. Motivasi tersebut dibentuk oleh faktor ektrinsik dan intrinsik yang perlu dipelajari agar dapat mengetahui motivasi petani membudidayakan cabai.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Apa saja faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
  2. Bagaimana motivasi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
  3. Bagaimana hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan motivasi yang mempengaruhi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
  4. C. Tujuan Penelitian
    1. Mengkaji faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
    2. Mengkaji motivasi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
    3. Mengkaji hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan motivasi yang mempengaruhi petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.
    4. D. Kegunaan Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Bagi peneliti, merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian dan dapat mengetahui lebih dalam mengenai motivasi petani membudidayakan tanaman cabai.
  2. Bagi pemerintah / instansi terkait, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
  3. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sebagai informasi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.
  4. II. LANDASAN TEORI
  1. A. Tinjauan Pustaka
  1. Motivasi

Motif manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Motif-motif ini memberikan tujuan dan arah kepada tingkah laku kita juga kegiatan-kegiatan yang biasa kita lakukan sehari-hari. Motif merupakan suatu pengertian yang meliputi semua penggerak. Alasan-alasan dan dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada hakekatnya mempunyai motif (Gerungan, 1996).

Motivasi adalah suatu usaha menimbulkan dorongan untuk melakukan suatu tugas. Motivasi merupakan faktor yang menyebabkan organisme seperti apa yang ia perbuat. Situasi yang menyebabkan orang berbuat dapat berupa kondisi dalam diri individu dan dapat pula kondisi di luar individu (As’ad, 1995).

Dorongan pada diri manusia sudah ada sejak lahirnya manusia itu sendiri, sering tidak disadari dan terlepas dari kontrol rasio manusia. Dorongan ini erat kaitannya dengan perasaan yang paling dalam. Kuantitas dan kualitas dorongan tiap manusia berbeda. Pendidikan dan kebiasaan yang baik ikut mempengaruhi dorongan tersebut (Kartono, 1983).

Irwanto (1994) menyatakan bahwa motivasi merupakan : (1) pergerakan perilaku yang menggejala dalam bentuk tanggapan baik mendekat atau menjauh, (2) kekuatan dan efisiensi perilaku yang berhubungan dengan kekuatan determinan, (3) pengaruh perilaku pada tujuan tertentu.

Menurut Gibson et al (1995) bahwa motivasi berhubungan erat dengan (1) arah perilaku (2) kekuatan respon memilih mengikuti tindakan tertentu (3) kelangsungan perilaku atau seberapa lama orang tesebut terus menerus berperilaku menurut cara tertentu, jadi dapat dikatakan motivasi berhubungan dengan perilaku dan prestasi menyangkut tujuan terarah dan motivasi berhubungan dengan psikologis dan lingkungan.

Menurut Latkinson et al (2004) suatu organisme yang dimotivasi akan terjun dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien daripada yang tanpa dimotivasi. Selain menguatkan organisme itu, motivasi cenderung menggerakkan perilaku (orang yang lapar dimotivasi untuk mencari makan untuk dimakan, orang ynag haus untuk minum, orang kesakitan untuk melepaskan diri dari stimulus atau rangsangan yang menyakitkan tersebut.

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang. Kebutuhan sendiri muncul karena ketidaknyamanan (state of tension)antara yang seharusnya dirasakan dan yang sebenarnya dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk melakukan tindakan memenuhi kebutuhan (Sumarwan, 2003).

  1. Faktor Sosial Ekonomi

Pendapatan merupakan salah satu indikator sosial ekonomi seseorang yang sangat dipengaruhi oleh sumber daya dan kemampuan dalam diri individu. Pendapatan usahatani sering ada hubungannya dengan faktor divusi inovasi pertanian. Petani dengan pendapatan tinggi akan lebih cepat dalam mengadopsi inovasi (Soekartawi, 1988).

Lion Berger dalam Mardikanto (1993) penguasaan lahan yaitu luas lahan yang diusahakan. Luas sempitnya lahan berpengaruh pada sistem pertanian yang dilakukan. petani dengan kepemilikan lahan yang rata-rata luas akan lebih mudah menerima perubahan dalam sistem usahatani. Biasanya semakin luas lahan yang dimiliki maka semakin cepat dalam mengadopsi karena memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

Petani sebagai pelaksana usahatani (baik sebagai juru tani maupun sebagai pengelola) adalah manusia yang disetiap pengambilan keputusan untuk usahatani tidak selalu dapat dengan bebas dilakukan karena adanya batasan-batasan yang ada pada petani baik itu lingkungan sosial maupun ekonominya (Mardikanto, 1998).

Kebanyakan keputusan mengenai pertanian masih diambil oleh petani selaku individu. Tetapi keputusan itu diambil dalam kedudukannnya sebagai anggota dari sebuah keluarga sehubungan dengan hasratnya untuk melakukan apa yang dapat dilakukan untuk keluarganya (Mosher, 1978).

Faktor sosial ekonomi petani antara lain : kosmopolitas/lokalitas. Kosmopolitas adalah hubungan petani dengan sumber-sumber diluar sistem, misalnya jika seorang anggota sistem mangadakan perjalanan/pergi keluar daerah untuk menjumpai sumber informasi (Abdillah, 1986).

Menurut Astrid. S (1978) untuk dapat mengerti sesuatu maka orang harus mempunyai pengalaman ataupun tingkat pendidikan tertentu. Mudjijo (1987) berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan untuk merubah kelakuan (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) manusia yang dididik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik.

Umur petani Indonesia yang cenderung tua itu sangat berpengaruh pada produktifitas sektor pertanian Indonesia. Berbeda dengan petani muda maka petani tua cenderung sangat konservatif dalam mengkaji terhadap tuntutan atau inovasi teknologi (Soetrisno, 1998).penilaian individu tentang obyek diperoleh melalui pengalaman langsung berdasarkan interaksi, namun dapat didasarkan juga atas pengalaman tidak langsung seperti cerita-cerita atau berita-berita (Mar’at, 1981) Pengalaman tidak selalu melalui proses belajar formal dan dapat bertambah melalui rangkaian peristiwa yang pernah dihadapi (Rakhmad, 2001).

Pengalaman menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dalam hal nilai yang dianut, sikap dan norma-norma mengenai perilaku yang baik atau buruk pasti berpengaruh terhadap cara bertindak seseorang (Siagian, 1989), keterbatasan pengalaman akan menutup cakrawala gagasan pada memori pikirannya. Semakin tinggi pengalaman ia akan berhati-hati serta menghitung kemungkinan resiko yang dihadapi (Hernanto, 1989).

Vembriarto (1981) memberikan pengertian pendidikan dengan membagi menjadi tiga :

  1. Pendidikan informal yaitu pendidikan yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Dengan sadar atau tidak sadar sejak seorang lahir sampai mati yang berkenaan dengan keluarga.
  2. Pendidikan formal yaitu pendidikan sekolah yang teratur, bertingkat dan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.
  3. Pendidikan nonformal yaitu pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan yang tetap dan ketat.
  1. Budidaya Tanaman Cabai dengan Mulsa Plastik

Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)  ini memiliki dua muka dan dua warna yaitu muka pertama berwarna hitam dan muka kedua berwarna perak. Warna hitam untuk menutup permukaan tanah, sedangkan warna perak dimaksudkan sebagai permukaan atas tempat menanam suatu tanaman budidaya.

Keuntungan bertani sistem MPHP ini antara lain pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus total sebelum tanam, warna hitam dari mulsa dapat menekan rumput-rumput liar atau gulma, warna perak dari mulsa dapat memantulkan sinar matahari, menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap (stabil), mencegah tercucinya pupuk oleh air hujan dan penguapan unsur hara oleh sinar matahari, buah cabai yang berada di atas tanah terhindar dari percikan air tanah, kesuburan tanah karena pemupukan dapat merata, praktis untuk melakukan sterelisasi tanah dengan menggunakan gas fumigan seperti Basmid-G, secara ekonomis penggunaan MPHP dapat mengurangi pekerjaan penyiangan dan penggemburan tanah, pada musim kering (kemarau) MPHP dapat menurunkan penguapan air dalam tanah.

Kegiatan pokok teknik budidaya cabai hibrida sistem MPHP meliputi :

Persiapan Lahan

Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya, Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 – 40 cm, kemudian dikeringkan selama 7 – 14 hari, Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan.

Penyiapan Benih dan Pembibitan

Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Benih dapat disemai langsung satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa.

Pemasangan MPHP

Caranya adalah : tariklah kedua ujung MPHP ke masing-masing ujung bedengan arah memanjang. Kemudian dikuatkan dengan pasak bilah bambu berbentuk “U” yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Berikutnya tarik pula lembar MPHP ke bagian sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga nampak rata menutup permukaan bedengan. Kuatkan dengan pasak bilah bambu pada setiap jarak 40 – 50 cm. Bedengan yang telah ditutup MPHP dibiarkan dulu selama + 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan (toksis) bibit cabai yang ditanam.

Penanaman

Waktu tanam yang paling baik adalah pagi atau sore hari, dan bibit cabai telah berumur 17 – 23 hari atau berdaun 2 – 4 helai. Sehari sebelum tanam, bedengan yang telah ditutup MPHP harus dibuatkan lubang tanam dulu. Jarak tanam untuk cabai merah hibrida adalah 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, sedangkan cabai paprika 50 x 70 cm atau 60 x 70 cm.

Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman untuk semua jenis atau varietas cabai hibrida umumnya meliputi : pemasangan ajir (turus), pengairan (Penyiraman), perempelan, dan pemupukan tambahan (susulan).

Pengendalian Hama dan Penyakit

Salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cercospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp.). Komponen Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang tahan (resisten), fisik dan mekanik, peraturan-peraturan, dan cara kimiawi.

Panen dan Pasca Panen

  1. Panen Cabai Hibrida

Panen cabai hibrida sangat dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah, umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali.

  1. Pasca Panen Cabai Hibrida
    1. Cabai Segar

Pemilihan buah (seleksi dan sortasi), pengkelasan (klasifikasi), pewadahan (pengemasan), dan penyimpanan.

  1. Cabai Kering

Pemasaran cabai kering memiliki beberapa keuntungan, diantaranya memudahkan pengangkutan, produknya dapat dikemas secara ringkas dan tahan lama


  1. B. Kerangka Berpikir

Naik turunnya harga dan semakin sempitnya lahan yang diusahakan membuat petani berpikir untuk mengusahakan suatu budidaya yang tepat dan menghasilkan hasil produksi yang baik. Kondisi tersebut memberikan motivasi tersendiri bagi petani untuk membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik. Motivasi merupakan konstruksi yang mengaktifkan tingkah laku petani sehingga terdorong untuk membudidayakan tanaman cabai untuk memenuhi kebutuhannya sehingga akan terjadi kepuasan tersendiri dalam individu tersebut.

Motivasi terbentuk dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri petani (intrinsik) dan dari luar diri petani (ektrinsik).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi motivasi petani yang terdiri dari ; pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendapatan, luas lahan, pengalaman, umur, dan peran keluarga. Selain itu juga akan dilihat jenis atau bentuk motivasi yang mendasari petani membudidayakan cabai dengan mulsa plastik. Beberapa bentuk motivasi tersebut antara lain adalah motivasi ekonomi, motivasi psikologis dan motivasi sosiologis.

Agar lebih mudah maka disusun kerangka berpikir sebagai berikut ;

Gambar 1. Kerangka Berpikir Pendekatan Masalah


  1. C. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diduga ada hubungan yang signifikan antara faktor-faktor sosial ekonomi (pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendapatan, luas lahan, pengalaman, umur, dan peran keluarga) dengan motivasi petani untuk membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik.


III. METODE PENELITIAN

  1. A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Menurut Narbuko dan Achmadi (2004), penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data. Jadi, penelitian ini menyajikan, menganalisis dan menginterpretasikan data serta dapat bersifat komparatif dan korelatif. Sedangkan menurut Nazir (2003) studi analitis ditujukan untuk menguji hipotesis dan mengadakan interpretasi yang lebih dalam tentang hubungan antarvariabel.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik survei. Teknik penelitian yang dilaksanakan dengan mengambil sampel dari satu populasi dengan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data (Singarimbun dan Effendi, 1995).

  1. B. Lokasi Penelitian

Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara purposive. Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah daerah yang sebagian besar petani membudidayakan tanaman cabai dengan mulsa plastik dik Kabupaten Purworejo. Setelah dilakukan pertimbangan syarat tersebut maka dipilih Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo sebagai lokasi penelitian.

  1. C. Metode Penarikan Sampel
    1. Teknik Penarikan Sampel Desa

Teknik penarikan sampel desa dilakukan secara purposive yaitu desa yang termasuk dalam desa yang sebagian petaninya membudidayakan cabai dengan mulsa plastik. Maka dari hasil pemilihan diperoleh desa Katerban, Desa Bayem, Desa Pacor dan Desa Semawung..

  1. Teknik Penentuan Sampel Petani

Jumlah responden yang ditentukan dalam penelitian ini adalah sebanyak 40 orang petani anggota kelompok tani cabai dengan mulsa plastik di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Penentuan jumlah petani sampel dari masing-masing desa dilakukan secara Proporsional random sampling.

  1. D. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau orang yang memerlukannya, contoh : kuisioner, data observasi dan data primer lainnya (Iqbal Hasan, 2004).

  1. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diambil atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada seperti Dinas Kehutanandan Perkebunan dan Keamatan dan data sekunder lainnya (Iqbal Hasan, 2004).

  1. E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik sebagai berikut :

  1. Wawancara

Menurut Daniel (2002) wawancara merupakan kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan bertanya langsung pada responden.

  1. Observasi

Menurut Adimiharja dan Hikmat (2001) teknik observasi merupakan metode perolehan informasi yang mengandalkan pengamatan langsung di lapangan baik obyek, kejadian, proses dialog, penemuan dan pengambangan masyarakat.

  1. Dokumentasi

Menurut Adimiharja dan Hikmat (2001) dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan dokumen sebagai sumber informasi. Informasi yang diperoleh dari responden, informan maupun dari hasil survei daerah didokumentasikan dalam bentuk catatan atau gambar.

  1. F. Metode Analisis Data

Untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap pemilihan ragam metode penyuluhan digunakan rumus korelasi Rank Spearman (Siegel, 1997), yaitu :

Rs =

Dimana :

N            : jumlah responden

Rs           : koefisien korelasi rank spearman

Di           : beda ranking dari variabel

Untuk menguji signifikansi dari Rs digunakan rumus :

t = rs

Kriteria pengambilan keputusan:

–       Jika t hitung > t tabel, berarti terdapat hubungan yang nyata antara kedua variabel.

–       Jika t hitung ≤ t tabel, berarti tidak terdapat hubungan antara kedua variabel.

  1. G. Pembatasan Masalah
    1. Faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi motivasi petani membudidayakan cabai dengan mulsa plastik yang diteliti adalah pendidikan formal, pendidikan nonformal, pendapatan, luas lahan, pengalaman, umur, dan peran keluarga.
    2. Motivasi petani membudidayakan cabai dengan mulsa plastik dalam penelitian meliputi motivasi ekonomi, psikologis dan sosiologis.
    3. Petani sampel merupakan petani cabai yang menggunakan mulsa plastik.
    4. H. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
      1. Umur

Merupakan usia responden pada saat dilakukan wawancara untuk penelitian. Umur diukur dalam tahun dan dikalsifikasikan dalam 3 kelompok.

Kriteria Skor
> 50 tahun

40-50 tahun

< 40 tahun

3

2

1

  1. Peran keluarga

Merupakan peran keluarga terutama peran istri dalam keputusan usahataninya. Peran keluarga terutama istri merupakan keikutsertaan dalam memberikan sumbangan baik pikiran, materiil maupun tenaga.

Kriteria Skor
> 50 tahun

40-50 tahun

< 40 tahun

3

2

1

  1. Pendidikan Formal

Merupakan pendidikan formal yang berhasil ditamatkan.

Kriteria Skor
Perguruan Tinggi

SMP-SMA

Tidak Sekolah-SD

3

2

1

  1. Pendidikan Non Formal

Merupakan frekuensi petani mengikuti penyuluhan.

Kriteria Skor
≥ 2 Kali

1-2 Kali

Tidak Pernah

3

2

1

  1. Penguasaan Lahan

Merupakan luas lahan yang digarap atau diusahakan petani pada saat penelitian.

Kriteria Skor
>0,5 Ha

0,25-0,5 Ha

< 0,25 Ha

3

2

1

  1. Pendapatan

Merupakan pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari usahatani maupun dari luar usahatani.

Kriteria Skor
> 4 juta

2-4 juta

< 2 juta

3

2

1

  1. Pengalaman

Adalah lamanya responden mengusahakan tanaman cabai dengan mulsa plastik.

Kriteria Skor
> 3 tahun

1-3 tahun

< 1 tahun

3

2

1

  1. Motivasi Ekonomi

Adalah keseluruhan aspek dorongan dan keinginan petani untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Kriteria Skor
Untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan dan hiburan

Untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan

Untuk kebutuhan sehari-hari saja

3

2

1

  1. Motivasi Psikologis

Adalah keseluruhan aspek dorongan dan keinginan petani untuk mencukupi kebutuhan kejiwaan.

Kriteria Skor
Untuk kepentingan sendiri dan meningkatkan kerjasama, kekeluargaan dan kekerabatan dengan lingkungan

Untuk kepentingan sendiri dan meningkatkan kerjasama, kekeluargaan dan kekerabatan dengan sesama petani cabai

Untuk kepentingan sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain

3

2

1

  1. Motivasi Sosialogis

Adalah keseluruhan aspek dorongan dan keinginan petani untuk mencukupi kebutuhan sosial atau bermasyarakat

Kriteria Skor
Keinginan menjadi petani sukses dan memperoleh penghargaan serta kepuasan produksi

Keinginan menjadi petani sukses serta kepuasan produksi

Tidak ada keinginan menjadi petani sukses dan memperoleh penghargaan serta kepuasan produksi

3

2

1

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Hanafi. 1986. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Usaha Nasional. Surabaya.

Adimiharja, K dan H. Hikmat. 2001. PRA dalam Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung.

As’ad, M. 1995. Psikologi Industri. Liberty. Yogyakarta.

Daniel, M. 2002. Metode dan Penelitian Sosial Ekonomi. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Gerungan, W. A. 1996. Psikologi Sosial. PT Erlangga. Bandung.

Gibson, E. D, Ruth I Anderson dan Luna Lynn Straub. 1995. Organisasi, Perilaku, Struktur dan Proses. Erlangga. Jakarta.

Hernanto, F. 1984. Petani Kecil, Potensi dan Tantangan Pembangunan. Ganesa. Bandung.

Iqbal Hasan. 2004. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Bumi Aksara. Jakarta.

Irwanto. 1994. Psikologi Utama. PT Gramedia. Jakarta.

Kartono, K. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV Rajawali. Jakarta.

Latkinson, Rita, Richard Latkinson, Ernest R. H, dan Nurjanah (Alih Bahasa). 2004. Pengantar Psikologi Jilid II. Erlangga. Jakarta.

Mar’at. 1981, Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Mardikanto, Totok dan Sutarni. 1982. Pengantar Penyuluhan Pertanian dalam Teori dan Praktek. Lembaga Studi Pembangunan Pertanian Pedesaan (LSP3). Hapsara. Surakarta.

Mardikanto, Totok. 1993. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian. Fakultas Pertanian UNS Press. Surakarta.

. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. UNS Press. Surakarta.

Mudjijo. 1987. Memantapkan Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Makalah disampaikan dalam Kongres Partisipasi I di Subang, Jawa Barat.

Narbuko, C dan Achmadi. 2004. Metode Ilmiah. Bumi Aksara. Jakarta.

Nazir .2003.  Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Rakhmad, J. 2001. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosda Karya. Bandung.

Siagian, S. P. 1989. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Biro Aksara. Jakarta.

Singarimbun, M dan S. Effendi. 1995. Metode Penelitian Survei. LP3ES Indonesia. Jakarta.

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.

Soetrisno, Lukman. 1998. Pertanian pada Abad ke-21. Direktorat Jendral Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Sumarwan, U. 2003. Pelaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Susanto, Astrid S. 1978. Pendapatan Umum. Biro Cipta. Bandung.

Vembriarto. 1981. Pendidikan Sosial. Yayasan Pendidikan Pancasila. Yogyakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: