hubungan karakteristik soaial ekonomi petani dengan sikap terhadap ragam metode penyuluhan di Delanggu Kabupaten Klaten

  1. I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan adalah upaya sadar dan berencana yang dilaksanakan terus menerus oleh pemerintah dengan menggunakan cara atau teknologi yang sudahb terpilih untuk memecahkan segala masalah atau penghambat demi tercapainya perbaikan mutu hidup dan kesejahteraan seluruh warga masyarakat dari bangsa yang sedang membangun itu (Mardikanto, 1993).

Salah satu yang mempunyai peran penting dalam pembangunha nasional adalah pembangunan pertanian yang mempunyai arti bahwa suatu proses yang ditujukan untuk selalu menambah hasil produksi pertanian. Di dalam pembangunan pertanian terdapt syarat mutlak yaitu syarat yang harus ada agar pembangunan pertanian dapat berlangsung, yang terdiri dari faktor pasar, adanya teknologiyang berkembang, tersedianya alat-alat dan bahan pertanian, transportasi yang lancar dan faktor intensif yang dapat mempengaruhi kesediaan petani serta faktor pelancar yang mempercepat terjadinya pembangunan pertanian yaitu factor pendidikan, pemberian kredit, gotong royong, memperluas dan memperbaiki tanah pertanian dan perencanaan pnasional untuk pembangunan pertanian. Salah satu faktor pelancar yang mempunyai peranan sangat penting adalah factor pendidikan petani melalui kegiatan penyuluhan pertanian (Mardikanto, 1993).

Penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai usaha untuk memberikan keterangan, penjelasan, petunjuk, bimbingan, tuntunan, jalan dan arah yang harus ditempuh oleh setiap orang yang berusaha tani, sehingga dapat menaikkan guna, mutu, dan nilai produknya sehingga lebih bermanfaat bagi kehidupannya sendiri dan keluarganya serta lingkungan masyarakat tetap mempertahankan dan membina kelestsrian dan potensi daya alam yang diolahnya.

1

Penyuluhan pertanian mempunyai kegiatan-kegiatan tertentuagar tujuan yang diinginkan dapat tercapai, kegiatan itu harus dilaksanakan secara teratur, terarah, tidak mungkin dilakukan begitu saja oleh karena itu memerlukan metode-metode atau cara-cara yang digunakan yang harus bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan sehingga petani dapat menolong dirinya sendiri (self help), mengubah, memperbaiki tingkat kerja dan tingakat kesejahteraan hidupnya.

Proses pendidikan terjadi karena adanya komunikasi dimana dalam penyuluhan pertanian komunikasi ini berjalan dua arah yaitu penyuluh sebagai sumber dengan keluarga tani sebagai sasaran an sebaliknya. Perubahan perilaku dan sikap petani tentang adanya inovasi atau dengan sukarela dan sadar petani mau mengadopsi inovasi merupakan tujuan dari penyuluhan itu sendiri.

Ketika suatu informasi diperkenalkan kepada komunitas pertanian, tidak semua orang akan mengadopsi inovasi tersebut, karena seseorang akan melakukan suatu perbuatan itu positif dan ia percaya ( Jani, 1993).

Untuk itu diperlukan suatu metode penyuluhan pertanian yang dapat diartikan sebagai suatu cara yang tepat untuk menyampaikan suatu informasi (materi) penyuluhan melalui media komunikasi oleh penyuluh kepada petani dan keluarga agar bisa membiasakan diri untuk menggunakan teknologi baru (Suriatna, 1988).

Ada hubunga yang erat antara penerapan suatu metode penyuluhan dengan tahapan proses adopsi seseorang dalam memahami teknologi baru. Misalnya pendekatan missal dipergunakan untuk menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan serta memberikan informasi lanjutan. Metode pendekatan kelompok dipergunakan untuk memberikan informasi secara terperimci tentang suatu teknologi baru dengan tujuan mambantu seseorang untuk mau mencoba teknologi baru dan digunakan juga untuk mengadakan bimbingan lanjutan (Suriatna, 1988).

Berbagai metode digunakan dalam penyuluhan pertanian untuk menyampaikan informasi dan perbedaan seseorang atau petani dapat membedakan kemampuan memahami suatu informasi.

Pada masa sekarang kegiatan penyuluhan pertanian dianggap kurang efektif dan efisien, tentu saja tidak menutup kemungkinan salah satu penyebabnya adalah terjadi ketidaktepatan dalam menentukan metode penyuluhan, sehingga informasi yang disampaikan kurang mengena dan inovasi tidak teradopsi dengan maksimal.

Dari fakta diatas dapat diketahui bahwa penting sekali untuk mengetahui metode mana yang tepat dan harus diterapkan disuatu daerah yang tentu saja mempunyai karakteristik social ekonomi yang berbeda beda, sehingga tidak terjadi suatu inovasi seharusnya jika diadopsi dan dilaksanakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Untuk itu peneliti ingin mengetahui hubungan karakteristik social ekonomi petani dengan sikapnya terhadap ragam metode penyuluhan, yang nantinya dapat diketahui suatu karakteristik social ekonomi tertentu memerlukan metode penyuluhan tertentu pula. Dengan memilih lokasi di Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten, karena di kecamatan tersebut kegiatan penyuluhan masih berlangsung.

B. Perumusan Masalah

Kegiatan penyuluhan pertanian akan berhasil dengan baik atau dengan kata lain diadopsinya suatu inovasi oleh petani. Hal ini bisa terjadi diperlukan suaitu metode yang efektif dan efisien yaitu suatu metode yang sesuai dengan kondisi sasaran atau karakteristik dari petani yang berbeda-beda meliputi tingkat pendidikan formal, non formal, umur, tingkat pendapatan keluarga, dan kekosmopolitan.

Tetapi kenyataannya kegiatan penyuluhan pertanian bersifat given atau dapat dikatakan bahwa petani hanya menerima jika ada suatu kegiatan dengan metode yang telah ditentukan tanpa bisa memilih cara apa yang lebih disukai, sehingga petani akan lebih tertarik untuk mengikutinya.

Sekarang ini kegiatan penyuluhan pertanian dianggap kurang efektif dan efisien, padahal untuk kegiatan penyuluhan pertanian disana masih berlangsung, hal ini dapat diketahui dengan masih aktifnya petugas-petugas penyuluhan melaksanakan program-program penyuluhan. Untuk itu perlu diketahui apa sebenarnya penyebab mengapa penyuluhan pertanian dianggap kurang efektif dan efisien, entah itu dari sikap petani sendiri yang tidak mau mendukung adanya program penyuluhan pertanian, ataupun ketidaktepatan penentuan metode penyuluhan pertanian dengan karakteristik sosial ekonomi petani.

Dari keadaan-keadaan tersebut timbul pertanyaan :

  1. Bagaimana karakteristik sosial ekonomi petani di Delanggu Kabupaten Klaten?
  2. Bagaimana sikap petani di Delanggu Kabupaten Klaten terhadap program metode penyuluhan.?
  3. Bagaimana hubungan karakteristik soaial ekonomi petani dengan sikap terhadap ragam metode penyuluhan di Delanggu Kabupaten Klaten?

C. Tujuan

  1. Mengetahui karakteristik sosial ekonomi petani di Delanggu Kabupaten Klaten
  2. Mengatahui sikap petani di Delanggu Kabupaten Klaten terhadap program metode penyuluhan
  3. Mengetahui hubungan karakteristik soaial ekonomi petani dengan sikap terhadap ragam metode penyuluhan di Delanggu Kabupaten Klaten

D. Kegunaan

  1. Bagi peneliti, hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan
  2. Dari hasil penelitain diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penyuluh pertanian lapangan dalam memilih metode penyuluhan yang sesuai untuk dilaksanakan.
  3. Bagi pembaca, sebagai sumber informasi bagi penelitian selanjutnya
  1. II. LANDASAN TEORI

  1. A. Tinjauan Pustaka
  1. Penyuluahan Pertanian

Menurut Salman Padmanagara dalam Suhardiyono (1992), penyuluhan pertanian diartikan dengan sistem pendidikan luar sekolah (non formal) para petani dan keluarganya dengan tujuan agar mereka mampu, sanggup, dan berswadaya memperbaiki/meningkatkan ksesejahteraannya sendiri serta masyarakat.

Menurut pendapat Maunder dalam Suriatna (1988) mengartikan penyuluhan pertanian sebagai sistem pelayanan yang membantu masyarakat melalui proses pendidikan dalam pelaksanaan teknik dan metode berusaha tani untuk meningkatkan produksi agar lebih berhasilguna dalam upaya meningkatkan pendapatan.

Sedangkan menurut Hawkins, et al (1999) mendefinisikan penyuluhan pertanian sebagai proses keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi secara sadar dengan tujuan bisa membuat keputusan yang benar.

Penyuluhan pertanian dalam pembangunan pertanian berperan sebagai faktor palancar yaitu faktor yang dapat mempercepat terjadinya pembangunan pertanian (Hadisaputro, 1973).

Ada 5 faktor pelancar dalam pembangunan pertanian :

  1. Faktor pendidikan petani yang dapat mempengaruhi skill dan ketersediaan
  2. Faktor kredit yang mempengaruhi besarnya kredit
  3. Faktor yang mempengaruhi kesediaan petani
  4. Faktor memperluas dan memperbaiki tanah pertanian yang mempengaruhi faktor alam
  5. 5

    Faktor perencanaan nasional untuk pembangunan pertanian.

A. H. Maunder dalam Suriatna (1988) menggolongkan metode penyuluhan pertanian menjadi 3 golongan berdasarkan jumlah sasaran yang ingin dicapai :

  1. Metode berdasarkan pendekatan perorangan.

Dalam metode ini penyuluh berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perorangan, yang termasuk dalam metode ini adalah kunjungan rumah, kunjungan ke lahan usaha tani, telepon, kontak informal, dan magang.

  1. Metode berdasarkan kelompok

Dalam hal ini penyuluh berhubungan dengan sekelompok orang untuk menyampaikan pesannya. Beberapa metode kelompok antara lain ceramah, diskusi, kursus tani, perlombaan dan lain-lain.

  1. Metode massal

Sesuai dengan namanya metode ini dapat menjangkau sasaran yang banyak. Metode yang termasuk dalam golongan ini antara lainrapat umum, kampanye, penyebaran bahan tertulis.

  1. Karakteristik Masyarakat Desa

Masyarakat desa di Indonesia itu memang dapat kita pandang sebagai suatu bentuk masyarakat yang secara ekonomis terbelakang yang harus dikembangkan dengan berbagai cara (Sajogyo, 1991).

Orang desa tidak usah ditarik, didorong-dorong untuk bekerja keras, hanya cara-cara dan irama bekerjanya itu harus dirobah dan disesuaikan dengan cara-cara dan irama yang harus dipelihara, disiplin secara efisisen modern (Sajogya, 1991).

Petani, di dalam menanggapi suaitu ide/informasi yang baru berbeda-beda, menurut karakteristik sosial ekonomi dari petani itu sendiri, dan perbedaan yang terjadi kadang sangat beragam (Soebiyanto, 1993).

Karakteristik petani meliputi tingkat pendidikan, umur, kekosmopolitanan dan tingkat kemampuan ekonominya                      (Soebiyanto, 1993).

Pernyataan yang menarik pernah disampaikan dalam Mardikanto dan Sutarni (1982) “petani itu bukannya tidak mau maju, tetapi memang tidak mau maju menurut cara yang tidak disetujuinya”

  1. Teori Sikap

Dalam memperkenalkan suatu hal/teknologi baru (inovasi) kepada seseorang, maka sebelum orang tersebut mau menerapkannya, terdapat suatu proses yang disebut proses adopsi (Suhardiyono, 1992).

Pada proses adopsi terdapat tahapan-tahapan sebelum petani menerima/menerapkan dengan keyakinannya sendiri. Tahapan itu adalah :

  1. Awarenes/kesadaran
  2. Interest/tumbuhnya minat
  3. Evolution/penilaian
  4. Trial/mencoba
  5. Arsoption/menerima

(Anonim, 1995).

Dalam kenyataannya pertahapan proses adopsi tersebut dapat saja dilalui tidak berurutan, artinya tahapan proses adopsi bisa saja lebih cepat pada diri seseorang/sebaliknya secara lambat, bahkan bisa saja berhenti pada suatu tahapan tanpa ada kelanjutan (Suriatna, 1988).

Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, obyek atau isyu-isyu (Azwar, 2002).

Struktur sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen koknitif, komponen afektif dan komponen konatif. Komponen koknitif merupakan reprentasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut emosional dan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap yang dimiliki seseoorang (Azwar, 2002).

Pengertian sikap menurut Gerungan (1996) diterjemahkan dengan kata sikap terhadap obyek tertentu , yang dapat merupakan sikap pandangan sikap perasaan, tetapi sikap dimana disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tadi itu. Jadi, sikap lebih diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal.

Mar’at (1981) menarik beberapa dimensi arti sikap yang dipandang sebagai karakteristik sikap yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1.  Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan obyek tertentu, menggunakan motif tertentu.

2.  Sikap digambarkan pula dalam berbagai kualitas dan intensitas yang berbeda dan bergerak secara kontinyu dari penambahan malalui arah netral ke arah negatif.

3.  Sikap lebih dipandang sebagai hasil belajar dari pada sebagai hasil perkembangan atau sesuatu yang diturunkan.

4.  Sikap mempunyai sasaran tertentu.

5.  Tingkat keterpaduan sikap berbeda beda.

6.  Sikap bersifat relatif menetap dan berubah ubah

  1. Hubungan Karanteristik Seseorang dengan Sikap

Dengan karaktiristik social ekonomi yang berbeda beda akan membedakan respon petani terhadap ragam metode penyuluhan, baik berupa respon poitif maupun negative ( Winarni, 2001).

Umur petani berhubungan tidak nyata dengan sikap petani terhadap metode kunjungan, diskusi, ceramah dan demonstrasi. Pendidikan formal berhubungan nyata dengan metode diskusi dan demonnstrasi serta berhubungan tidak nyata dengan metode ceramah dan kunjungan. Pendidikan non formal petani berhubungan tidak nyata dengan sikap petani terhadap metode ceramah dan kunjungan sedangakan untuk metode diskusi dan demonstrasi berhubungan nyata. Tingakat kekosmopolitan berhubungan nyata dengan sikap petani terhadap metode ceramah, demonstrasi dan kunjungan. Pendapatan keluarga petani berhubungan nyata dengan sikap petani terhadap metode diskusi dan demonstrasi serta berhubungan tidak nyata dengan sikap petani terhadap metode ceramah dan kunjungan ( Winarni, 2001).

Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologi yang dihadapi diantara berbagai factor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, orang lain yang dianggap penting, media masa, institusi atau lembaga pendidikan, agama serta faktor emosi dalam diri individu (Azwar, 2002).

  1. B. Kerangka Teori dan Pendekatan Masalah

Dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti secara mendasar dari diri petani melalui respon petani tersebut, jadi mngenai metode dan isi materi dianggap sudah terlaksana sesuai dengan perencanaan oleh petugas penyuluh pertanian. Petani itu bukannya tidak mau maju, tetapi memang mereka tidak mau maju menurut cara-cara yangt tidak disetujuinya (Mardikanto et al, 1982).

Berdasarkan sikap tersebut mengetaui sikap petani terhadap ragam metode penyuluhan penting untuk diketahui karena perbedaan karakteristik seseorang atau petani akan berbeda pula sikapnya tehadap sesuatu hal. Sedangkan karakteristik sosial ekonomi dari petani yang diteliti berupa tingkat pendidikan formal, tingakat pendidikan non formal, umur, tingakat pendapatan dan kekosmopolitanan.

Untuk mengetahui hubungan karakteristik sosial ekonomi dengan pemilihan ragam metode penyuluhan digunakan rumus korelasi Rank Spearman. Untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian maka dibuat kerangka berpikir dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Karakteristik sosial ekonomi:

1.  Tingkat pendidikan formal

2.  Tingkat pendidikan non formal

3.  Umur

4.  Tingkat pendapatan

5.  Kekosmopolitanan

Ragam metode penyuluhan:

1.  Kunjungan

2.  Demonstrasi

3.  Diskusi

4.  Ceramah

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis Pendekatan Masalah

Pada bagan di atas dapat dijelaskan bahwa karakteristik sosial ekonomi petani meliputi tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non formal, umur, tingkat pendapatan, kekosmopolitanan mempengaruhi sikap petani terhadap metode penyuluhan yang digunakan di Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten yaitu metode kunjungan, demonstrasi, diskusi dan ceramah  sehingga nantinya dapat diketahui sikap petani terhadap metode tersebut di atas apakah tinggi, sedang atau rendah.

  1. C. Hipotesis

Diduga ada hubungan antara karakteristik sosial ekonomi petani yaitu tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non formal, umur, tingkat pendapatan, kekosmopolitanan dan sikapnya terhadap metode penyuluhan.

  1. D. Pembatasan Masalah
    1. Metode penyuluhan yang diamati yaitu metode penyuliuhan yang sering digunakan di daerah penelitian dan dibatasi yaitu kunjungan, demonstrasi, diskusi dan ceramah.
    2. Karakteristik sosial ekonomi yang diamati tingkat pendidikan formal, tingkat pendidikan non formal, umur, tingkat pendapatan, dan kekosmopolitanan
    3. E. Definisi Operasional
      1. Tingkat pendidikan formal yang dimaksud adalah lamanya pendidikan formal yang berhasil ditamatkan. Diukur dengan skala ordinal.

Tidak sekolah – SD           Rendah Skor     1

SMP-SMU                       Sedang             Skor     2

D1 atau Lebih                    Tinggi               Skor     3

  1. Pendidikan non formal yang dimaksud adalah frekuensi petani mengikuti kursus. Diukur dengan skala ordinal

Tidak pernah                     Rendah Skor     1

1-3 kali                             Sedang             Skor     2

> 4 kali                              Tinggi               Skor     3

  1. Tingkat pendapatan yaitu besarnya pedapatan petani responden per tahun. Diukur dengan skala interval.

Rp. 8.500.000,00 – Rp.11.500.00,00                   Miskin Skor     1

Rp.11.500.000,00 – Rp.14.500.000,00                Sedang             Skor     2

Rp.14.500.000,00 – Rp.18.000.000,00                Kaya                Skor    3

  1. Umur petani yang dimaksud adalah umur kepala keluarga petani pada saat pengambilan data. Diukur dengan skala interval.

Umur 32 – 40                    Muda

Umur 41 – 49                    Sedang

Umur 50 – 58                    Tua

  1. Tingkat kekosmopolitanan merupakan karakteristik yang berhubungan dengan dunia luar komunitasnya dan kelompok sosial laindiukur melalui frekuensi responden pergi ke desa lain atau daerah lain, dalam rangka mencari kebutuhan yang berhubungan dengan kebutuhan usahataninya dlam satu bulan. Diukur dengan skala ordinal

Tidak pernah                     Rendah Skor    1

1 – 3 kali                           Sedang             Skor     2

> 4 kali                              Tinggi               Skor     3

  1. sikap petani terhadap ragam metode penyuluhan yang dimaksud adalah sikap petani yang mempunyai komponen kognisi yaitu yaitu pengetahuan petani terhadap metode penyuluhan, komponen afeksi yaitu tanggapan petani terhadap metode penyuluhan dan komponen konasi yaitu kecenderungan bertindak dari petani terhadap metode penyuluhan yang diterapkan sebelumnya di daerah penelitian.
    1. Kunjungan yaitu suatu hubungan langsung antara penyuluh dengan petani atau nelayan dan keluarganya dirumah atau di lahan. Diukur dengan skala sikap.

Setuju                           Skor                 3

Ragu                             Skor                 2

Tidak setuju                  Skor                 1

  1. Demonstrasi merupakan salah satu metode penyuluhan pertanian yang dilaksanakan untuk menunjukkan suatu cara atau membuktikan suatu hasil usahatani yang lebih baik. Diukur dengan skala sikap.

Setuju                           Skor                 3

Ragu                             Skor                 2

Tidak setuju                  Skor                 1

  1. Ceramah diartikan sebagai suatu kegiatan menyampaikan penyampaian informasi terhadap suatu program yang akan dan sedang digalakkan agar masyarakattau, sadar dan tergerak hatinya untuk mensukseskan program tersebut. Diukur dengan skala sikap.

Setuju                           Skor                 3

Ragu                             Skor                 2

Tidak setuju                  Skor                 1

  1. Diskusi adalah pertemuan antara petani dengan pemerintah untuk bertukar informasi mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan khususnya pembangunan pertanian, serta mengenai keinginan, gagasan dan pelaksanaan pembangunan oleh petani dilapangan. Diukur dengan skala sikap.

Setuju                           Skor                 3

Ragu                             Skor                 2

Tidak setuju                  Skor                 1

  1. III. METODE PENELITIAN

  1. A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dimana mempunyai cirri-ciri memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, yaitu masalah-masalah yang actual dan data yang mula-mula dikumpulkan disusun, diamati, dianalisis dan kemudian dijelaskan sehingga juga disebut metode Analitik (Surakhmat, 1994).

Teknik pelaksanaan penelitian menggunakan teknik survei yaitu pengamatan dan penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang terang dan baik terhadap suatu masalah tertentu dan daerah tertentu                   ( Singarimbun, 1981).

  1. B. Metode Pengambilan Sampel
  1. Pemilihan lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di Delanggu Kabupaten Klaten dengan menggunakan metode purposif sampling atau dengan sengaja, dengan alasan daerah ini mempunyai areal persawahan yang luas dan di daerah tersebut kegiatan penyuluhan masih rutin dilaksanakan.

  1. Pemilihan sample lokasi penelitian

Lokasi pemilihan sample daerah diambil secara sengaja atau purposif sampling, untuk lokasi penelitian dipilih dua desa dari sepuluh desa yang ada di daerah Delanggu dengan alasan bahwa kedua desa tersebut mempunyai jumlah kelompok tani yang paling banyak.

  1. Metode pengambilan petani responden

Pengambilan petani responden sebanyak 30 oarang yang diambil dari dua desa yang telah terpilih. Jumlah responden masing-masing desa ditetapkan secara proporsional dengan rumus sebagai berikut:

Ni =  x 30

14

Keterangan:

Ni        : Jumlah petani responden

nK        : Jumlah petani responden yang memenuhi syarat sebagai petani responden dari lokasi penelitian

n         : Jumlah petani keseluruhan

Selanjutnya, pengambilan responden pada kedua desa dilakukan secara acak (random).

  1. C. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data
  1. Jenis Data

a. Data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara   langsung dengan responden melalui kuisioner yang telah disiapkan.

b.Data sekunder, merupakan data yang diperoleh dari instansi atau lembaga yang ada kaitannya dengan penelitian ini.

  1. Teknik pengumpulan data
  1. Wawancara, pengumpulan data primer dengan mengajukan pertanyaan yang sistematis dan langsung kepada petani responden.
  2. Observasi, langkah awal dalam mengumpulkan data yang dilakukan dengan jalan melakukan pengamatan langsung pada obyek yang akan diteliti.
  3. Pencatatan, teknik pengumpulan data dengan cara mengutip buku, pustaka, laporan yang telah ada dari instansi terkait.
  4. D. Metode Analisis Data

Untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap pemilihan ragam metode penyuluhan digunakan rumus korelasi Rank Spearman (Siegel, 1997), yaitu :

Rs =

Dimana :

N            : jumlah responden

Rs           : koefisien korelasi rank spearman

Di           : beda ranking dari variabel

Untuk menguji signifikansi dari Rs digunakan rumus :

t = rs

Kriteria pengambilan keputusan:

–       Jika t hitung > t tabel, berarti terdapat hubungan yang nyata antara kedua variable.

–       Jika t hitung ≤ t tabel, berarti tidak terdapat hubungan antara kedua variabel.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2002. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka pelajar. Yogyakarta.

Gerungan, D. P. 1996. Psikologi Sosial. PT. Eresco Bandung. Bandung.

Hawkins, H. S. dan A. W. Van den Ban. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Mardikanto, T. dan Sutarni, S. 1982. Pengantar Penyuluhan Pertanian dalam Teori dan Praktek. Hapsara. Surakarta.

Sajogyo, E dan Sajogyo, P. 1991. Sosiologi Pedesaan Jilid 1 (edt). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Siegel, S. 1997. Statistik Non Parametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial. Gramedia. Jakarta.

Singarimbun, M dan soffan, E. I. 1981. Metode Penelitian Survey. LP3ES. Jakarta.

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Indonesia university Press. Jakarta.

Surakhmat, W. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar Metode Teknik. Penerbit Tarsito. Bandung.

Suriatna, S. 1988. Metode Penyuluhan Pertanian. Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Winarni, S. 2001. Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi Petani dengan Pemilihan Ragam Metode Penyuluhan. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Iklan

1 Response so far »

  1. 1

    amrianto said,

    pembahasannya mana?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: