IRIGASI DAN HUTAN TROPIS

Penyakit yang terkait dengan air pada dasarnya akut dalam komunitas perkotaan. Pada tahun 1985, minimal 25% dari komunitas perkotaan (dan 58% komunitas pedesaan) tidak memiliki air bersih untuk kebutuhan sanitasi. Seperti daerah pedalaman di sekitar kota-kota seperti Manila dan Panama kehilangan penutup pohonnya, sehingga pasokan air di dalam menurun drastic dalam hal kuantitas maupun kualitasnya. Air untuk irigasi, lahan tanaman yang dialiri irigasi, yang sekarang merupakan sekitar 18% dari semua lahan yang bisa ditanami dan menghasilkan 33% pangan, mencapai 65% penggunaan air di seluruh dunia. Sejak tahun 1950, lahan-lahan tersebut telah bertambah dari 940.000 kilometer persegi menjadi 2,7 juta kilometer persegi, sebuah perkembangan yang telah bertanggung jawab atas sekitar separuh dari peningkatan hasil pangan sedunia.

Pentingnya irigasi baik untuk memberi makan jumlah penduduk yang semakin banyak maupun untuk menyediakan penghidupan yang layak bagi penduduk pedesaan, tidak dapat ditekankan terlalu keras. Di India, misalnya; 30% dari lahan negara yang diolah dalam beberapa bentuk irigasi, yang menghasilkan 55% hasil pangan yang mengesankan. Akan tetapi sebuah trend yang mengganggu muncul dimanapun irigasi digunakan. Organisasi PBB untuk Makanan dan Pertanian (FAO) memperkirakan bahwa separuh dari total daerah lahan irigasi mungkin berbahaya karena tiga musuh yang penting – salinisasi, alkalisasi, dan waterlogging. Saat ini sebagian besar efisiensi irigasi merupakan parodi dari kesalahan dalam pengelolaan. Dibeberapa daerah para petani cenderung memberi irigasi terlalu berlebihan karena rendahnya harga air dan penggunaan sistem graviyasi murahan, akibatnya tidak lazim untuk 70% sampai 80% pemakaian air dari sungai untuk tujuan irigasi yang tidak pernah mencapai tujuan yang diharapkan. Air ini mengalami kebocoran sebelum mencapai tanaman, tenggelam terusan-terusan yang tidak sejalur, menguap sebelum dapat digunakan.

Tekanan air, konsumsi air telah melipat ganda minimal dua kali lipat pada abad ini, dan kebutuhan juga akan melipat ganda pada dua dekade berikutnya, terutama karena pertumbuhan penduduk, kekurangan air sudah merupakan hambatan yang serius terhadap pembangunan. Seberapa besar hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penduduk sulit untuk ditentukan karena kemajuan teknologi seringkali menjadi umpan bagi kebutuhan sambil juga menawarkan cakupan untuk penggunaan yang berulang-ulang atas apa yang seharusnya merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui secara intrinsik. Akan tetapi secara umum, ada kemungkinan untuk mendapatkan bahwa ada kontribusi yang cukup besar terhadap masalah dari pertumbuhan penduduk dalam kaitannya dengan kurangnya infrastruktur sosial ekonomi, faktor yang terakhir ini akan menjadi cermin dari tekanan populasi terhadap sumber daya pembangunan yang terbatas. Faktor yang terakhir ini, dengan efek feedback, mengilustrasikan pertanyaan tentang ‘spiral resiko’ yang timbul menyangkut sumber air dikendalikan oleh pertumbuhan penduduk dan diperkuat oleh faktor Hidroklimatik (faktor yang memperkuat dampak lain), fenomena kekurangan air cepat menyutujui bahwa perhatian yang begitu besar harus diberikan pada masalah kelangkaan sumber daya yang pada akhirnya dapat menyesuaikan masalah kesataraan antara makanan dan energi.

Kasus di Mesir, sebuah kasus kekurangan air yang besar ditunjukkan oleh Mesir, dimana sebenarnya semua lahan tanaman tergantung pada irigasi. Dalam situasi yang sangat terbatas ini Mesir dapat menghadapi kekurangan air yang semakin besar. Masa kekeringan selama delapan tahun berturut-turut di wilayah pelindung air Ethiopia dan Afrika ekuator mengurangi aliran Nil pada pertengahan tahun 1988 pada level terendah sejak tahun 1913. Namun ancaman lain yang bahkan lebih besar bagi pasokan air Mesir timbul ancaman ini yang berasal dari pernyataan-pernyataan (pengakuan) baru pada pihak negara-negara hulu atas bagian air sungai Nil yang lebih besar delapan negara lainnya yang ada di dalam drainase sungai berjalan dari ketergantungan kepada air hujan ke sistem irigasi untuk lahan tanaman mereka.

Hutan Tropis

Menurut dugaan terakhir, hutan tropis basah kehilangan 142.200 kilometer persegi dari permukaan bidangnya pada tahun 1989. Dinegara-negara tropik yang lembab yang memiliki cadangan lahan yang baik untuk ditanami, walaupun dengan tanah yang tandus di beberapa bagian, dan yang rentan  terhadap degradasi lingkungan, daerah pengolahan baru dibuka dengan mengorbankan hutan. Dalam beberapa hal penghancuran hutan tropis dipelopori oleh para penebang kayu, sedangkan petani pemotong dan pembakar serta pengusaha peternakan bergerak untuk mengakui lahan tersebut ketika lahan tersebut sebagian atau seluruhnya sudah bersih dari kayu. Saat ini petani pemotong dan pembakar beroperasi bukan sebagai petani yang berpindah-pindah tetapi sebagai petani yang berpinndah-pindah, yaitu petani yang menemukan dirinya tidak memiliki lahan di daerah pertanian tradisional, dan pindah ke lahan umum terakhir yang tidak didiami yang ada dimana mereka dapat mempraktekkan pertanian untuk menyambung hidup.

Kayu bakar, ketika hutan tropis berkurang, ada sebuah penurunan dalam pasokan barang dan jasa mereka, terutama kayu keras, kayu bakar, barang bukan dari kayu, fungsi iklim dan jasa pelindung tanah. Karena tidak ada ruang untuk membahas semuanya disini, analisis ini akan meninjau item yang mempengaruhi kebanyakan orang. kekuRangan kayu bakar berarti semakin besar beban dalam menemukan pasokan sehari-hari. Mereka menghasilkan makanan masakan yang kurang mengandung zat gizi dan mungkin lebih banyak mengandung phatogen daripada jika dimasak dengan tepat. Kekurangan juga berarti bahwa wanita, umumnya pengumpulkan kayu bakar, harus menghabiskan banyak waktu berjalan jauh guna mencari kayu. Efek sekunder yang paling signifikan timbul dengan praktek pembakaran pupuk ternak dan sisa-sisa tanaman sebagai pengganti untuk bahan bakar, yang menyebabkan penurunan dalam kesuburan lahan tanaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: