KESELARAN SOSIAL : ESENSI PERUBAHAN SEJARAH

Tingkat Realitas Sosial merupakan pendekatan Sztompka yang di bedakan menjadi dua tingkatan, tingkat individualitas dan tingkat totalitas.  Tingkat individualitas terdiri dai manusia individual. Tingkat totalitas ssebagai kesatuan sosail abstrak, sejenis supra individu. Mencerminkan realitas social sui-generis. kesatuan sosisal diterjemahkan sebagai bukan kumpulan semata dan bukan pula sebag kesatuan metafisik melainkan sebagai struktur, dan individu social sebagai subyek otonom tetapi sebagai agn yang dibatasi.

Ada dua bentuk keberadaan social secara potensial dan secara actual. Jikia dilihat secara potensial maka kita berbicara tentang kecendrungan bawaan, kuman atau benih masa depan, kapasitas, kemampuan, kekuatan dan sebagainya. Sosial aktual jika kita berbicara tentang proses, transformasi, perkembangan, perilaku, aktivitas, dan sebagainya.

Struktur dapat dipandang sebagai potensi yang mengaktualkan dirinya (berkembang) dalam beroperasi. Agen sebagai potensi, mengaktualisasikan dirinya dalam tindakan. Dengan demikian akan diperoleh hubungan bahwa struktur muncukk karena adanya agen, stuktur memiliki ciri khas dan keteraturan sendiri, struktur adalah jaringan hubungan antar agen, struktur tidak mengurangi jumlah agen. Agen tidak mengurangi lokasi struktural , agen memiliki otonomi, intergritas, dan kebebasan relatif untuk memilih dan memutuskan, agen merupakan kesatuan yang memiliki isi sendiri, dengan ciri keteraturan khusus.

Ada tiga bentuk dinamika struktur. Pertama prinsip kelembaman dalam arti ada lebih banyak kemungkinan bahwa pelaksanaan fungsi struktur akan berlanjut dengan cara yang sama ketimbang berbentuk perubahan radikal, kedua Prinsip Momentum dalam arti bila satu fase atau tahap operasi tertentu tercapai, lebih besar kemungkinan diteruskan ke fase berikutnya ketimbang berhenti atau mundur. Secara skematis bila tahap A tercapai maka secara otomatis tahap B kemungkinan menyusul. Ketiga ”prinsip rentetan” dalam arti fasefasae operasi sudah terpola dan sering tak dapat dihilangkan. Disemua jenis kehidupan sosial selal ada rutinitas yang harus diikuti dalam rentetan yang teratur agar kehidupan sosial itu efektif. Kesemuanya ini hanyalah ilustrasi hipotesis, yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kemunculan struktural dapat dipandang sebagai perkembangan dari cara kemunculan menurut prinsipnya sendiri.

Sebaliknya, tindakan bukan merupakan perwujudan berfungsinya struktur-struktur  yang terkandung didalam momentum opersi semata. Tindakan mempunyai ukuran otonomi, mempunyai kebebasan relatif dalam hubungan sosial dinamis dimana tindakan itu terlihat. Setidaknya, sebagaiandari apa yang benar-benar dilakuka agen itu tidak sesuai dengan caa berfungsi struktur sebenarnya.

Hubungan agen dan tindakan bersifat intuitif. Dimana hubungan ini dilindungi oleh konsep ”mobilisasi” . Agen memobilisasi kapasitas, kemampuan, kebutuhan, sikap, dan kecendrungan potensialnya dalam melakukan berbagai jenis tindakan. Memang ada berbagai faktor yang menentukan apakah agen-age benar-benar akan menyimpan potensinya.

Hubungan yang lebih tinggi anatara struktur dan operasinya dijelaskan dengan konsep ”perkembangan” struktur berkembang dalam penjelasan operasi, dan mengeluarkan potensidan kecendrungan bawaan dalam pelaksanaan fungsinya. , atau berubah bila menghadapi kontradiksi; sebaliknya struktur akan beroperasi dengan lancar bila berhadapan keseragaman dan keharmonisan internal. Struktur mungkin menimbulkan stagnansi bila tersentralisasi dan tidak terdeferensiasi; sebaliknya mungkin akan berkembang bila terdesentralisasi dan prulal. Tentu saja ada variabel perantara yang ikut menentukan apakah potensi struktur itu benar-benar akan berkembang atau tidak.

Tingkat menengah : agen dan praxis

Pada sisi-sisi hubungan antara struktur dan agen, antara operasi dan indakan inilah teka-teki keselarasan (harmoni sosial itu dapat dibaca. Dalam mempelajari keselarasan sosial beberapa ahli menkankan pada ”dualitas struktur” dan ”dualitas agen” lebih kelasnya para pakar menekankan pada ”dualitas analisis”atas realitas sosial. Keberadaan agen dan struktur bukan merupakan dua perangkat fenoena yang terpisah, tetapi mencerminkan dualitas. Sifat struktural sistem sosial adalah media dan sekaligus jasil tindakan agen di dalam struktur. Dualitas agen berarti bahwa sifat agen adalah produk struktur dan sekaligus sumber pembentukan struktur.

Tingkat struktur dalam beroperasi dan agen dalam bertindak tidak dilihat sebagai dua bidang analisis yang terpisah. Dlama pendekatan ketiga yang diasumsikan adanya tingkat menengah dan dinyatakan sebagai satu-satunya yang mencerminkan adanya tingkat menengah dan dinyatakan sebagai satu-satunya yang mencerminkan substansi realitas sosial sesungguhnya, sebagai pabrik sosial khusus. Tak ada agen yang tak terlibat dalam struktur dan tak ada struktur yan terpisah dari agen (individu), tidak adatindakan individu yang yang tak berpartisipasi dalam operasi sosial, dan tak ada agen yang hidup tanpa struktur dan struktur tanpa agen. Tetapi pada waktu bersamaan, struktur tak lebur dalam agen dan agen pu tak leur dalam struktur.

Bahan utama dan komponen nyata yang memebentuk kehidupan masyarakat adalah peristiwa, bukan tindkan individu, bukan pula fakta sosial, tetapi peleburannya yang mendalam, yang nyata.  Dengan analogi ini penyeleseaian kasus dapat diajuakan terhadap masalah hubungan antara ”pikiran dan tubuh”.pikiran dan tubuh sepenuhnya terlebur didlama diri dan didalam tindakan individu. Realitas manusia individual terdiri dari peristiwa pribadi (tindakan)  dimana berbagai campuran unsur yang tak terpisahkan mewujud dengan sendirinya.

Wujud aktual pabrik sosial, dalam ati peristiwa sosial  terus menerus, disebut dengan Praxia. Praxis adalah tempat bertemunya operasidantindakan; sintesis dialektis. Paxis melukiskan pertemuan struktur yang beroperasi dan individual yang bertindak, produk gabungan momentum operasi dan jalannya tindakkan yang dilakukan anggota masyarakat. Dengan kata lain praxis adalah konisi ganda dari atas melalui fase pelaksanaan fungsi masyarakat, dan dari bawah melalui tindakan individu dan kelompoknya. Tetapi diantara keduanya tak dapat saling mengurangi, tingkat individualitas dan totalitas adalah kualitas yang baru muncul kemudian. Konsep praxis dikaitkan sacara vertikal sengan kedua konsep inti lain yang mengacu pada aktualitas yakni opersai dan tindakan.

Jonsep keagenan adalah prodk sintesis, campuran kondisi struktural, dan sifat agen. Jadi sifat keagenan adalah ondisi dobel dari atas ditentukan oleh keseimbangan hambatan dan keterbatasan, juga oleh sumber daya dan kemudahan yang disediakan oleh struktur yang ada: dari bawah ditentukan oleh keamampuan, bakat, keterampilan, pengetahauan, sikap, angggota masyarakat dan bentuk oraganisasi tempat keagenan itu digabung dalam kehidupan kolektif, kelompok, gerakan sosial dan sebagainya. Tetapi keduanya tidak dapat saling mengurangi; ditingkat totalitas dan individualiitas, keagenan ini merupakan kualiatsa baru yang muncul.

Hubungan keagenan dengan praxis disebut potensi peristiwa. Ini adalah pertemuan aktualisasi yang terjadi pada tingkay lain, peleburan antara perluasan struktur dan mobilisasi agen. Potensi peristiwa adalah kualitas yang baru muncul. ”potensi peristiwa” ini juga bersifat tergantung; hanya merupakan sebuah kemungkinan, tak pernah merupakan suatu keharuasan. Keagenan mungkin dimanesfestasikan dalam berbagai tindakan; namun mungkin pula tetap tertidur, tidak aktif.

Ketiga rangkaian hubungan antara potensilalitas dan aktualitas, yakni:

1. Perluasan struktur dalam beroperasi

2. Mobilisasi dalam tindakan, dan

3. Proses sintesis keagenan dalam praxis

Semula dianggap sebgai linear dalam arti hanya bergerak satu arah ”dwifungsi sturktur” dan ”dwifungsi agen”. Menurut piaget ”agen adalah produk tindakan dan sekaligus dipengaruhi tindakannyaitu sendiri.

Menurut piaget struktur cenderung berubah dengan sendirinya; struktur dibentuk ulang melaui operasinya sendiri. Dalam ha ini kita dapat menyebut sebagai ”proses pembangunan struktur”. Dai plamenatz bahwa agen cenderung untuk berubah sendiri; agen dibentuk berulang oleh tindakannya sendiri. Dalam ha ini dapat disebut sebagai ”pembentukan agen”. Proses ini dalam keadaan lebih konkert, disebut ”morphogenesis ganda”. Archer menyebutnya ”morphogenesis keagenan.

Lingkungan : Alam dan kesadaran.

Ada dua jenis ligkungan, pertama, lebih intuiitif, yakni lingkungan alam, kurang intuitif yakni kesadaran. Keduanya memiliki kesamaan yang mencolok. Karena manuasaia adalah makluk berkebutuhan jasmani, hidup dalam ruang dan waktu, memanfaatkan sumber daya alam, memengaruhi kondisi alam dan sebagainya , maka alam adalah tempat kehidupan sosial yang berlangsung. Karena itu alam adalah lingkungan utama yang diperlukan kehidupan sosial.

Manusia selalu terbenan dalam lingkungan idenya sendiri maupun ide yang berasal dari moyang mereka. Manusia juga tak terbayangkan berada diluar ide itu. Karena kesadaran itu kesadaran dapat dipandang sebagai lingkungan kedua yang diperlukan masyarakat. Oleh kkarena itu dua sifat manusia (sebagai objek alamiah dan subjek yang sadar maka ia pun memerlukan dua lingkungan yang mengitarinya.

Lingkungan alam dibag menjadi dalam dua bentuk. Pertama kondisi alam eksternal, tempat agen da n struktur bertindak dan beroperasi. Kedua sebagai kondisi internal, yakni ciri-ciri individual yang menjadi subtratum masyarakat. Lingkungan lam pertama misalnya iklim, tofografi, ekologi, geologi, dan sebagainya. Lingkungan ini jelas sekali kaitanya dengan tindakan manusiajuga berkaitan dnegan operasi struktur. Jaringan hubungan tertentu dimungkinkan bahkan dipaksakan dan jaringan hubungan yang dihalangi oleh kondisi alam.  Alam mempengaruhi bukan dari luar tetapi juga dari dalam melalui faktor biologis dan genentik manusia. Kebanyakan dari apa yang terjadi di suatu masyarakat, tergantung bakat, bawaaan, keterampilan mental, kekuatan fisik, ketahanan, kesehatan, dan kesegaran jasmani masing-masing anggotanya maupun pada penyebaran dan distribusi ciri-ciri biologis itu dikalangan berbagai segmen penduduk. Meski pengaruhnya beropesai dari individu, namun masih dapat dilihat sebagai lingkungan dalam aturan lebih abstrak.

Alam menetapkan bidang peluang untuk mewujudkankeagenana, tetapi melalui praxis alam dapat dibentuk dan karena itu bidangnya dapat diubah. Disatu pihak, lam dapat dikembangkan. Berkat teknologi dan peadaban, alam dapat ”dimanusiakan” lingkungan internal (warisan biologis maupun psikologis)pun dapat dikembangkan melalui tindakan. Dilain pihak pengaruh praxis atas lingkungan tak selalu positif atau menguntungkan. Pengaruhnya mungkin saja mempersempit peluang untuk melaksanakn keagenan. Kita baru akhir-akhir ini menyadari dampak merusak bahkan bencana dari tindakan (praxis manusia terhadap alam. Polusi , penipisan sumberdaya alam, kekurangan energi, kerusakan eklogi, dan sebagainya adalah contoh dampak negatif tindakan manusia terhadap lingkungan eksternal nonmanusia. Sedangkan kemerosotan kesehatan, stamina, atau kesejahteraan psikologis penduduk, menunjukan betapa lingkungan internal (unsur bawaan individu dapat dirusak oleh tindakan manusia sendiri.

Lingkungan kedua yaitu kesadaran sosial atau lingkungan ideologi, kesadaran terjelma dengan sendirinya diberbgai tingkatan skema kita. Kesadaran terutama adalah tanda dari aktor individual. Giddens membedakan dua bentuk kesadaran: praktis dan yang tak bersambungan. Inilah faktor sosiologis fundamental yang harus diperhatikan dalam melukiskan realitas sosial. Kesadaran dalam hal ini tak hanya terdapat pada aktor individual tetapi juga pada jenis agen lain, yakni agen kolektif.  Kesadaran juga memiliki dinamika dan prinsip kelestariannya sendiri. Dalam hal ini Durkheim menyebut sebagai ”cerminan kehidupan kolektif” atau ”fakta sosial” sui generis tau yang disebut yang disebut Popper ”alam ketiga”

Praxis melalui sejenisumpan balik akan mempengaruhi kesadran, didalam dan melalui praxislah orang meddapatkan keyakinan maupun mengujinya, menyalahkan dan membenarkan pernyataan, menegaskan atau menolak gagasan yang semula mereka hargai.

Kesadaran tak hanya mendesakkan dirinya sendiri tetapi juga menegahi pengaruh yang didesakkan oleh lingkungan lain. Orang tak hanya bereaksi secara pasif titapi juga menyadari kenyataan dengan sikap mengantisipasinya secara aktif. Kesadaran ta hanya memperantarai dampak lingkungan alam. Mekanisme serupa juga muncul ketika sejenis kondisi struktur soosial menyatu dengan sifat agen di tingkat keagenan dan praxis. Struktur sosial tidak menghambat atau memberi peluang individu secra langsung atau secara mekanik.

Dengan mengakui pentingnya kesadaran dalam pelaksanaan fungsi masyarakat berarti kita mencegah absolutisasi satu sisi. Menganggap bahwa semua yang terjadi dalam masyarakat disengaja dan disadari sepenuhnya oleh anggotanya adalah anggapan kosong. Keterbatasan agen dan tindakannya ini tercaai ditingkat menengah yakni ciri-ciri pelauang keagenan dan praxis yang disebabkan isolasi kesadaran terhadap lingkungan eksternal dan internalnya.

Memasuki waktu dan sejarah

Keterlibatan dimensi waktu belumpernah dijelaskan secra tegas dan sistematis, dimensi waktu baru dibatasi pada apa yang disebut ”waaktu internal” dibandingkan dengan ”waktu eksternal”, waktu fungsi dibandingkan dengan waktu transformasi.  Tindakan agen, beropeasinya sturktur dan peleburan keduanya secara sintesis, praxis, keagenan, belum dianggap menciptakan kondisi baru tetapi lebih dianggap mencipta ulang kondisi yang sama. Dengan demikian fungsi masyarakat  masih statis dan belum benar-benar belum dinamis dan mencakup ”perubahan di dalam” masih mengabaikan ”perubahan di luar”.

Setiap keadaan masyarakat pada waktu tertentu hanyalah fase dari rentetan sejarah, sebuah produk dari operasi masa lalu (akumulasi tradisi sejarah) dan merupakan syarat operasi di masa mendatang. Setiap komponen sosial (sebagai komponen dari praxis) adalah cerminan keseluruhan sejarah sebelumnya dan meupakan biit sejarahmasa depan. Ini dibatasi dalam aliran waktu sejarah, keselarasan sosial dilihat dari dimensi ”wktu eksternal” yang dapat disebut sebagai ”mencipta sejarah”.

Tiga konsep penting untuk memahami dinamika sosial

  1. Pelaksanaan fungsi, meliputi semua yang terjadi dalam masyarakat pada waktu tertentu.
  2. Perubahan sosial melukiskan transformasi masyarakat tunggal dari satu keadaan terdahulu ke keadaan berikutnya.
  3. Proses historis, mengacu pada urutan transformasi diri masyarakat yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Masyarakat tak berada dalam kekosongan (vacuum) tetapi berada dalam dua lingkungan, lingkungan alam dan kesadaran. Pengakuan atas fakta ini memungkinkan kita menemukan satu mekanisme tambahan yang menyebabkan berfungsinya proses historis. Alam dan kesadaran berhubungan timbal balik dengan masyarakat, saling membentuk dan dibentuk pada waktu bersaaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: