KONSEP-KONSEP KEPRIBADIAN

Kepribadian

Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat- sifat khas diri kita yang bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan kita sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.

Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang.

Kepribadian adalah penampilan dan tingkah laku (cara bicara, cara berjalan, dll) yang menggambarkan perilaku (pengetahuan, sikap, dan ketrampilan, beauty and behavior) seseorang yang dapat diamati secara langsung maupun tak langsung, yang dapat diamati secara langsung maupun tak langsung, yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur kualitas diri yang bersangkutan.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan bawaan dari setiap individu sejak lahir (kejiwaan, dan fisik), dan kepribadian dapat berubah seiring pertumbuhan seseorang. Dimana seseorang tersebut dalam perjalanan hidupnya akan menerima rangsangan baik dari luar maupun dari dalam, dan orang tersebut akan menanggapi rangsang itu dan kemungkinan akan berpengaruh pada sikapnya.

Kepribadian memiliki beberapa unsur antara lain :

  1. Penampilan

Penampilan menyangkut raut muka, cara berdiri, cara berjalan, dan keluar masuk ruang. Penampilan akan memberikan kesan pertama terhadap orang lain yang memandang atau memperhatikan.

  1. Hubungan antar pribadi

Hubungan antar pribadi menyangkut sikap dan atau perilaku saat berkomunikasi, baik komunikasi langsung maupun tidak langsung.

  1. Etika pergaulan

Dapat diartikan sebagai tata pergaulan atau aturan-aturan yang berkaitan dengan norma perilaku disekitarnya, yang membuat disukai atau tidak disukai oleh lingkungan sekitarnya.

Teori Kepribadian

Dewasa ini dikenal tiga teori utama yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)

Psikoanalisa

Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari  id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

Behaviorisme

Skinner menyatakan bahwa faktor-faktor penentu tingkah laku tersebut berasal dari stimulus-stimulus eksternal. Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak digerakkan oleh agen-agen internal yang disebut naluri, melainkan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal.

Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa misteri manusia akan bisa diungkap seluruhnya melalui upaya-upaya ilmiah, karena pada dasarnya tubuh manusia mengikuti hukum-hukum fisika, Skinner dan segenap behavioris memiliki anggapan yang sama dengan Freud.

Psikologi Stimulus-Response (S-R) mempelajari rangsangan yang menimbulkan respon dalam bentuk perilaku, mempelajari ganjaran dan hukuman yang mempertahankan adanya respon itu, dan mempelajari perubahan perilaku yang ditimbulkan karena adanya perubahan pola ganjaran dan hukuman.

Humanistik

Psikolog yang berorientasi humanistic mempunyai satu tujuan, mereka ini memanusiakan psikologi. Mereka ingin membuat pskologi sebagai studi tentang “apa makna hidup sebagai seorang manusia”. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan keyakinan yang beragam. Sebagian besar psikolog yang berorientasi humanistic mempunyai sikap yang sama, yaitu :

  1. Para ilmuwan seharusnya tidak melupakan bahwa tugas utama mereka ialah melayani sesama, sekalipun mereka memang mempunyai tugas mengumpulkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Psikolog seharusnya dapat menolong orang lain sedemikian rupa sehingga orang tersebut mampu lebih mengenal dirinya secara baik serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya secara maksimal. Psikolog harus mengarahkan tugasnya untuk memperkaya kehidupan seseorang.
  2. Ilmuwan perilaku seharusnya mempelajari makhluk hidup sebagai satu keseluruhan yang utuh, tanpa mengkotak-kotakkan ke dalam penggolongan fungsi seperti misalnya persepsi, belajar, dan kepribadian (lihat adanya pengaruh psikologi Gestalt).
  3. Tugas psikolog adalah mempelajari tujuan hidup, keterkaitan diri, pemenuhan kebutuhan, kreativitas, spontanitas, dan nilai-nilai yang dianutnya. Ini semua adalah persoalan manusia yang sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya pribadi.
  4. Ilmuwan perilaku seharusnya memusatkan perhatiannya pada kesadaran subyektif (bagaimana seseorang memandang pengalaman pribadinya) karena interpretasi yang dia lakukan mempunyai arti yang amat penting dan mendasar bagi semua kegiatan manusia (pemikiran ini juga mencerminkan pengaruh psikologi Gestalt).
  5. Ilmuwan perilaku harus belajar untuk memahami manusia sebagai individu yang mempunyai perkecualian serta tidak dapat diramalkan sebelumnya, namun tetap sebagai makhluk yang umum dan universal. Kebalikannya, justru psikolog psikoanalitik, neobehavioristik, dan kognitif lebih memusatkan perhatiannya untuk mempelajari sifat umum.
  6. Metode-metode ilmiah khusus yang hendak dipakai oleh ilmuwan perilaku seyogyanya bersifat sekunder. Hal ini karena persoalan yang mereka pilih untuk dipelajari adalah yang utama. Oleh karena itu, psikologi humanistic menggunakan bermacam-macam stategi penelitian ilmiah : metode obyektif, studi kasus individual, teknik-teknik introspeksi informal, bahkan menganalisis karya tulisnya. Hal ini karena para psikolog humanistic yakin bahwa kesadaran naluriah merupakan sumber informasi yang amat penting, maka mereka tidak ragu-ragu untuk mengandalkan dan percaya sepenuhnya pada perasaan subyektif mereka, serta kesan-kesan mereka secara psibadi

Teori humanistik memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk bebas. Maslow sepaham dengan William James (1842-1910), seorang filsuf dan tokoh psikologi terkemuka Amerika, bahwa manusia tidak akan bisa diungkap sepenuhnya hanya melalui upaya-upaya ilmiah.

Teori Dalam Psikologi Kognitif

Manusia menurut visi beberapa teori di atas berbeda satu sama lain, bahkan ada yang tampak saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka ada yang tampak saling menjatuhkan, meskipun apabila disadari secara bijak, tidak ada satu teori pun yang benar-benar ingin atau bertujuan merobohkan teori lainnya. Hakekat adanya teori sebenarnya saling melengkapi satu sama lain. Hal ini demikian karena tidak ada satu buah teori yang bisa berlaku umum di semua situasi dan kondisi dan semua bidang masalah.  Yang ada hanyalah bahwa teori yang satu lebih cocok dan sesuai untuk diterapkan dalam bidang  permasalahan tertentu, sedangkan teori lainnya lebih cocok untuk aplikasi bidang tertentu lainnya, misalnya.

Sebelum sampai kepada masalah pokoknya, kita perlu paham lebih dahulu akan konsep dasarnya, bahwa manusia secara psikologis bisa dianggap sebagai makhluk yang berciri sebagai berikut (Lihat Bigge, 1984):

(1) Manusia mempunyai instink dan kebutuhan. Pandangan ini mendasari banyak teori tentang konsep  manusia  itu  sendiri  sebagai  makhluk  yang  berinteraksi  dengan  lingkungannya. Karena dasarnya instink dan kebutuhan, maka  segala hal yang bergerak atau digerakkan oleh kedua dasar itulah yang akan menjadi kenyataannya. Orang melakukan sesuatu itu atas dasar instink, atau atas dasar kebutuhan untuk memenuhinya. Jelasnya hal ini merupakan pandangan aktualisasi diri. Juga pandangan-pandangan humanisme psikedelik dan apersepsi yang  dikembangkan  oleh  Herbart  seperti  di  bagian lalu sudah  dibicarakan.  Pandangan- pandangan ini mengarah kepada perbuatan-perbuatan manusia yang bisa diterka melalui teori introspeksi. Dengan merenung dan mengamati pola kerja dan pola pikir yang ada pada diri sendiri, kemudian direfleksikan untuk kejelasan-kejelasan sebuah gagasan, termasuk untuk menjelaskan tentang manusia lainnya dalam perilaku kehidupannya.

(2) Pandangan kedua adalah bahwa manusia dianggap sebagai organisme yang pasif-reaktif terhadap   lingkungannya.   Segala   perilaku   kehidupannya   banyak   dipengaruhi   oleh lingkungan  tempat  tinggalnya.  Orang  berbuat  itu  sebenarnya  ia  sedang  mereaksi  suatu stimulus  yang  datang  dari  luar.  Jadi  perubahan  perilaku  yang  terjadi  pada  manusia sebenarnya merupakan adanya hubungan yang  lancar antara stimulus dan respons (S-R bond).  Konsep  ini  diawali  oleh  Pavlov;  dan  teorinya  dikenal  dengan  behaviorisme Pavlovian,  yang  tampak  dalam  cabang  dan  pengembangannya  seperti  koneksionisme, pembiasaan klasik, dan pembiasaan berinstrumen. Untuk ini pandangan filsafatnya adalah realisme saintifik atau empirikisme logis.

(3) Pandangan  yang  ketiga  adalah  bahwa  manusia  itu  mempunyai  kemauan,  berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Ia tidak dianggap sebagai makhluk yang secara utuh dipengaruhi   oleh   lingkungannya,   akan   tetapi   justru   ia   berusaha   untuk   membentuk lingkungannya sesuai dengan kemauannya dan  seleranya. Ia berusaha untuk memahami lingkungannya,  dan  oleh  karena  itu  ia  berpikir  (homo  sapiens).  Pandangan  ini  dikenal dengan  kognitif;  dan  teorinya  disebut  dengan  psikologi  kognitif.  Pandangan  filsafatnya adalah pragmatisme atau relativisme ruang kognitif

Belajar kognitif memang menekankan kepada  fungsi-fungsi psikologis. Ini artinya bahwa yang dilihat adalah dunia psikologis, bukan dunia fisik. Orang melihat dunia melalui kacamata orang  lain  (komunikan,  sasaran),  serta  pola-pola  hubungan  interaksi   antar  manusia  dengan lingkungannya, harus dilihat secara psikologis. Memang agak sulit melihat dunia manusia secara psikologis, karena pada dasarnya setiap manusia itu unik. Tidak ada satu manusia pun di dunia yang mempunyai rupa fisik yang sama dengan orang lain. Juga mentalnya. Baik secara fisik maupun mental, manusia mempunyai kesendiriannya sendiri, mempunyai kepribadiannya sendiri, yang tentu berbeda dengan orang lain. Bahkan dalam diri seorang manusia,  terdapat bermacam aspek yang setiap  saat  berubah  kekuatannya  dalam  mempengaruhi  manusia.  Artinya  dalam  diri  manusia terdapat variabel individu yang sangat kompleks.

Orang  dipengaruhi  oleh  variabel  ruang  dan  waktu,  juga  usia,  pendidikan,  kecerdasan, lingkungan, sosial, dan aspek-aspek lain yang menyertainya. Dengan demikian, sikap orang pun berbeda pada setiap saat jika menghadapi objek-objek yang berbeda. Yang jelas kondisi manusia atau orang sangat sulit dijabarkan dengan kata-kata karena sangat kompleks. Dan oleh karena itu sangat  sulit  untuk  mengetahui  pola  perilaku   manusia  secara  psikologis.  Memang  ada  pola kecenderungan umum dan kepribadian manusia yang bisa dipelajari oleh manusia lainnya, namun itu hanya sebatas gambaran secara umum, tidak sampai pada keseluruhan manusia secara utuh. Ya, itu benar, karena jika keinginan dan kemauan  orang termasuk kepribadiannya secara utuh bisa diketahui oleh orang lain, tentu  dunia ini bisa aman dari segala kelicikan dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia, sebab sebelum melakukan  kejahatan akan bisa diketahui lebih dahulu sehingga tindakannya bisa dicegah.

Dalam   konsep   kognitif,   ada   pemahaman   khusus   yang   menerangkan   pada   situasi kesejamanan (contemporaneity). Konsep ini dilihat secara psikologis, bukan secara fisik, karena tidak mungkin orang secara fisik berada di dua jaman atau lebih sekaligus. Namun pada konsepnya secara psikologis, hal itu bisa terjadi.

Prinsip kesejamanan ini diartikan sebagai semua pada satu waktu (all at one time). Dunia masa lalu, atau sebuah peristiwa yang telah terjadi, dan dunia masa sekarang atau yang sedang berlangsung, serta dunia yang masih belum terjadi atau masa yang akan datang, semua diangkat ke dalam konsep sekarang. Kalau orang berbicara tentang masa lalu, maka masa lalu itu sedang dibicarakannya sekarang. Juga dunia yang akan datang, semua diangkat ke dalam dunia sekarang

Penjelasan-penjelasannya dilangsungkan pada satu waktu, yaitu sekarang. Itulah yang dimaksud dengan prinsip kesejamanan dalam hal ini.

Jadi situasi psikologis masa lalu maupun masa sekarang, merupakan bagian dari dunia yang sedang terjadi pada masa sekarang, tepatnya pada suatu saat di masa sekarang. Memang dunia fisik masa lalu maupun masa sekarang,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: