Pendidikan Dalam Perjalanan Waktu

Ketika orang berbicara masalah pendidikan
maka yang terpikir adalah masalah teory pendidikan itu
sendiri, methodenya, administratisinya, atau
problem-problem didalamnya. Hal tersebut tentunya
menjadi porsi para ahli dibidangnya. Sebagai orang
awam yang bisanya sekedar mengamati, ingin mencoba
menelusuri perjalanan sejarah panjang dari pendidikan
itu sendiri, baik secara formal atau non formal.
 
            Telah dipahami oleh para pendidik bahwa
misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi
ke generasi selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara
lain: pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai budaya
(keberadaban). Secara umum penularan ilmu tersebut
telah di emban oleh orang-orang yang terbeban
(concern) terhadap generasi selanjutnya. Mereka
diwakili oleh orang yang punya visi kedepan, yaitu
menjadikan generasi yang lebih baik dan beradab.
Peradaban kuno mencatat methode penyampaian  ajaran
lewat tembang dan kidung, puisi ataupun juga cerita
sederhana yang biasanya tentang kepahlawanan.
 
Maka tidak heran bila pada awal pendidikan digeluti
oleh tokoh-tokoh agama. Seperti yang terjadi di Mesir
kuno (sejak abad 30 SM ), atau jauh sebelumnya di
Sumeria (Iraq utara dimana disana cerita taman Eden
bermula). Sumber ilmu pengetahuan mereka adalah dari
ajaran turun temurun seperti yang termuat dalam kitab
Taurat, kitab Talmud, dan kitab-kitab kuno lainnya. Di
India tepatnya di lembah Indus, pendeta Hindu lewat
kitab Veda-nya (1200 SM) mengajarkannya kepada
generasi penerus isi kitab-kitab tersebut. Budha (483
SM) juga banyak memperbaharui kondisi sebelumya,  dan
yang kemudian ajaran Budha menyebar kedaerah China.
Namun sebelumnya Cina mencatat pengaruh dari
Confucius, Laozi (Lao-Tzu), dan filusuf lainnya
(770-256 SM). Dibelahan Eropa cikal bakal pendidikan
lewat pemikir-pemikir yang sangat kental dipengaruhi
kepercayaan Yunani kuno melalui cerita-cerita semacam
Iliad, Odyssey dll (sekitar abad 8 SM). Namun sejak
jamannya Socrates, Plato, Aristoteles, Isocrates, dan
bolo-bolonya, ada perubahan mendasar dalam konsep
pendidikan. 
 
Socrates (400 SM) menekankan prinsip-prinsip universal
dalam pengajarannya melalui kebenaran, keindahan, dan
kebaikan secara umum, dan diajarkan melibatkan
kesadaran anak didiknya. Plato sebagai murid Socrates
melanjutkan prinsip ini dan juga menjadi orang pertama
mendirikan sekolahan secara institusional (Academy).
Plato juga tokoh matematika fanatik, sampai-sampai
menulis kalimat ‘Let no one ignorant of mathemathics
enter here’ dipintu gerbang sekolahannya.
Aristoteles sebagai murid Plato mengembangkan prinsip
rasional dimana hal ini adalah penting dalam
pendidikan. Melalui prinsip ini manusia bisa melihat
phenomena alam dan memahami hukum-hukum alam. Alasan
lain adalah untuk dapat menangkis pendapat para
ekstremis yang cenderung tidak rasional.
 
Secara institusional Yunani (tepatnya Yunani utara)
bisa dibilang lebih maju berpikir. Karena menjadikan
pendidikan sarana untuk mempersiapkan generasi muda
menjadi calon pemimpin dibidang pemerintahan atau
masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut mereka
menekankan pengajaran dibidang seni, beberapa cabang
filsafat, pertanian, pengembangan creativitas  dan
juga kesegaran jasmani. Walaupun kemudian ada
pergeseran arah dikemudian hari, Plutarach lebih
melihat bahwa pendidikan bagi orang dewasa adalah
lebih penting dari pada anak-anak. Isocrates
meletakkan dasar prinsip-prinsip kepemimpinan, yang
kemudian ajarannya sangat mempengaruhi pendidikan di
Romawi.
 
Lain lagi dengan apa yang dilakukan orang Romawi abad
pertama, mereka lebih mementingkan keorganisasian.
Sehingga pelajaran pidato, penguasaan masa,
pengembangan kebribadian dianggap paling penting pada
jaman itu. Mulailah pelajaran bahasa menjadi popular
bersamaan dengan system organisasi yang lebih baik,
keteknikan lebih maju. Arus informasi tentunya lebih
maju dengan baiknya pengorganisasian. Quintilian patut
dicatat sebagai pendidik yang mulai melihat perlunya
pemilahan pendidikan berdasarkan perkembangan mental
muridnya. Methode yang diterapkan di Romawi ternyata
cukup baik bagi upaya Romawi menjadi penguasa tunggal
saat itu. Pendidikan dijadikan alat kekuasaan dan
memperlebar daerah kekuasaan.
 
Faktor keagamaan semakin berperan dalam perjalanan
pendidikan terutama sebelum abad sepuluh dan setelah
runtuhnya kekuasaan Romawi. Terutama sekali di belahan
barat dimana bengaruh Yahudi dan Kristen (khususnya
Roman Katolic) cukup besar. Pendidikan dilakukan
dibiara-biara dan diajarkan oleh monk (pendeta yang
mengkususkan dalam pelayanan terhadap sesama). Namun
tidak dipungkiri pula dalam perjalanannya peran agama
seolah membodohi masyarakat saat mana agama dipakai
penguasa sebagai alat mempertahankan kekuasaannya.
 
Diabad 5, dimana mulai dibuat texbook untuk
masing-masing pengetahuan dalam satu koleksi (yang
dikenal dengan seven liberal art), pendidikan masih
sekitar itu-itu saja tanpa mengalami perubahan
berarti. Walaupun kelembagaan pendidikan lumayan
berkembang bersamaan pengabaran agama itu sendiri.
Barangkali Raja Alfred (England abad 9) termasuk orang
yang sangat peduli dibidang pendidikan, dengan
mendorong berdirinya banyak biara-biara (sekolahan
dulu dilakukan dibiara) dan pembikinan kurikulum yang
lebih mapan. Ini juga terjadi di Itali (Salerno),
Jerman, di Spanyol, England (Oxford College – 1249),
Paris (Sorbone-1253). Dan tentunya ditimur juga serius
mengelola sekolahan. Seperti dicatat Al-Azhar
University didirikan ditahun 970, disamping
Al-Qarawiyin di Maroco (859). Pada abad pertengahan
ini banyak terjadi saling tukar informasi pola barat
dan timur, yang tentunya saling menguntungkan. Dimana
hal ini juga menjadi factor utama munculnya faham
humanisme dan renaissance (kelahiran kembali). 
 
Pada jaman selanjutnya (abad 13-15) terjadi perubahan
yang yang sangat mendasar, pendidikan lebih melihat
pada pentingnya humanisme dari pada masalah keagamaan,
atau pengetahuan faham Yunani ataupun masalah Latin
klasik Kemudian hari faham ini menjadi awal
terbentuknya sekularisasi. Gerakan kelahiran kembali
ini dimulai dari arah Itali yang kemudian begitu cepat
menyebar di belahan Eropa. Ditandai dengan
perubahan-perubahan mendasar dibidang seni arsitektur
dan literature. Desiderius Erasmus patut dicatat
sebagai tokoh yang melihat bahwa pengajaran secara
liberal adalah pilihan yang tepat, memahami maksud
suatu literature adalah lebih berguna dari pada
menghafal. Maka mulailah pelajaran sejarah,
perbintangan, mythology, arkeologi, scripture,
diajarkan bukan untuk dihafal.
 
Ditemukannya alat cetak (Johanes Gutenberg) di abad 15
juga menjadi pendorong perubahan dibidang pendidikan.
Hal lain yang sangat baik diabad ini adalah adanya
perhatian terhadap hak perempuan untuk mendapatkan
pendidikan secara formal di sekolah umum. Ditahun
1640, di London tercatat 80% wanita adalah buta huruf.
 
Bagaikan bola salju yang menggelinding Renaissance
membawa angin perubahan dibidang agama, dengan
terjadinya reformasi agama (Kristen) oleh John Calvin,
Martin Luther dan Huldreich Zwingli diawal abad 16.
Tentunya hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap
perubahan pendidikan jaman itu pula. Dimana kekuasaan
sentralisasi Roman Katolik tidak lagi membelenggu
sektor pendidikan. Terutama sekali masalah bahasa, dan
kebebasan untuk melihat sesuatu yang sebelumnya
dianggap sakral. England misalnya, mulai memakai
bahasa inggris untuk pengantar pengajaran. Baru
pendidikan bahasa latin dan Yunani diajarkan di
tingkat dua (Grammar Shoool di England, Gymnasium di
Jerman). Gerakan reformasi juga telah mendorong peran
keluarga dalam membentuk generasi, dimana orang tua
didorong untuk mengajarkan ajaran agama dan tidak
tergantung pada pemimpin agama. Martin Luther juga
mendorong terjadinya produktivitas berpikir, mengajak
keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan
pemerintah saling bahu membahu menggulirkan reformasi
disegala bidang (terutama agama dan pendidikan).
Karena pada dasarnya agama adalah untuk kepentingan
manusianya itu sendiri, bukan sebaliknya. Melanchthon
teman Luther di Jerman dengan keras menekankan peran
pemerintah sebagai penanggung-jawab masalah pendidikan
bagi warganya (sebelumnya pendidikan banyak ditangani
oleh badan keagamaan). 
 
Namun demikian bukan berarti pihak Roman Katholik
tidak mengambil inisiatip atas terjadinya angin
perubahan jaman. St. Ignatius of Loyola menanggapi
perubahan dengan cukup bijak, walaupun tentunya
bermaksud untuk mengimbangi gerakan kaum reformis saat
itu.
 
Pendidikan yang dinamis telah menghantarkan masyarakat
dari tahap agraris menuju tahap industrialis. Dimana
diabad 17 ilmu pengetahuan science menjadi perhatian
umat. Royal society di London menjadi pelopor
bagaimana mengembangkan basic ilmu pengetahuan
natural. Barangkali Christ’s Hospital (di London)
adalah sekolahan yang mengajarkan bidang science
dengan memberi gelar menurut bidangnya untuk
pertamakalinya. Francis Bacon adalah filosuf Inggris
yang mengetengahkan pentingya pola pikir inductive.
Dia mendorong murid untuk mengamati, meneliti,
menguji, berdasarkan apasaja yang dapat dipakai
sebagai bahan pertimbangan termasuk didalamnya adalah
panca indera dan akal-budi, dan yang kemudian baru
membuat kesimpulan. 
 
Abad 17 juga ditandai dengan banyaknya pemikir masalah
pendidikan dibanyak negara di Eropa. Misal Wolfgan
Ratke dengan metode pengajaran di bidang bahasa, Rene
Descrates dengan penekanan pentingnya logika dalam
berpikir, John Locke melihat pentingnya kurikulum dan
metode pengajaran. John Locke beranggapan lebih baik
melihat objek secara langsung daripada hanya lewat
buku, missal lewat rekreasi keluar bersama, kesawah,
kesungai dan diskusi disana. Adalah lebih baik makan
durian dari pada mendengar enaknya buah durian. Hal
ini dimaksud untuk melatih daya kritis, analisis
dengan menggunakan logika yang teratur guna memperkuat
akalbudinya. Karana pada dasarnya manusia ketika lahir
adalah bagaikan tabula rasa. St. John Babtist de la
Salle dengan seminarinya, adalah termasuk pioneer
dalam mempersiapkan tenaga pengajar dengan cara yang
sistimatis. Ide tersebut mengilhami Comenius untuk
mengajarkan sesuatu yang konret dari pada yang verbal.
August Franke seorang pendeta Lutheran (masih abad 17)
memantapkan dasar-dasar teacher training, pendidikan
orang dewasa, modernisasi kurikulum dan jaringan
sekolahan. 
 
Pembaharuan pendidikan merambah ke daratan Afrika,
Amerika, dll, bersama dengan perubahan jaman
(kolonialisme dan penjajahan). 
 
Disamping masih terus terjadinya pembaharuan konsep,
seperti Jean-Jacques Rousseau (1762) merombak konsep,
bahwa anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa.
Anak-anak harus diberlakukan sebagaimana anak-anak
sesuai perkembangan jiwanya. Atau tepatnya dikatakan
oleh muridnya (Johann Basedow), semuanya harus kembali
secara alami (jangan dikarbit biar cepat matang tapi
cepat busuk pula). Mengajar anak harus juga
menggunakan perasaan (memangnya anak sebagai kelinci
percobaan).
 
Reformasi juga terjadi di belahan Amerika (1775-1783),
Benjamin Franklin termasuk tokok perubahan pendidikan.
Thomas Jefferson sebagai presiden yang ketiga sangat
memperhatikan masalah pendidikan ini, dia beranggapan
untuk membentuk masyarakat yang demokratik harus
dimulai dari pendidikan. Jaman tersebut disebutkan
sebagai jaman serba beralasan, karena reason adalah
dasar mengungkap sesuatu yang terselubung.
 
Agaknya konsep Johann Pestalozzi (1746-1827) yang agak
mirip dengan Rousseau patut diingat. Dimana prinsip
pengajaran anak selain kembali pada perkembangan
natural, menekankan pada hal yang lebih konkret,
melihat hal yang dekat dahulu (keseharian), memulai
yang sederhana dahulu, juga memberikan dasar bahwa
sesuatu yang besar adalah kumpulan yang kecil-kecil.
Atau boleh dikatakan pelajaran yang komplek sebenarnya
hanyalah pelajaran yang sederhana ditambah sedikit dan
yang sederhana lainnya. Untuk mengaktualisasikan hal
ini dia menggunakan prinsip keseimbangan perkembangan
3 H (head, heart, dan hand). 
 
Sedikit bergeser keabad 19, bapak kindergarten
(Friedrich Froebel), meletakkan dasar pentingnya
keseimbangan psikologi dan filosofi didalam pendidikan
science. Dia merasa fahamnya Pestalozzi
mengesampingkan factor filosofi dimana pada dasarnya
anak memiliki daya pengajaran terhadap dirinya
sendiri. Dia yakin bahwa anak mempunyai cahaya
pencerahan bagi dirinya sendiri yang sifatnya
spiritual (anak berusaha menghindari kesalahan yang
sama, jadi tidak perlu setiap hari diberi tahu bahwa
api itu panas). Oleh karena itu di sekolahannya
(kindergarten) disamping memberi pelajaran sesuai
konsepnya Pestalozzi, dia membebaskan dan merangsang
anak untuk berkreasi dengan apa yang ada di sekitarnya
(missal air, pasir, tanah liat, alat gambar dll).
Rudolf Steiner (di Sturtgart) menyambut gagasan ini,
dia sebagai seorang mistikus sekaligus filosof percaya
bahwa pendidikan harus menyeimbangkan perkembangan
anak secara utuh (tidak sekedar inteletualnya saja).
Barangkali ini juga mendasari pemberian kebebasan anak
untuk memilih ajaran agamanya dikemudian hari.
 
Mungkin sebagai gambaran emansipasi wanita saat itu,
Elizabeth Garrett Anderson (1836-1917) patut dicatat
sebagai wanita pertama meraih gelar doctor).
 
Herbert Spencer seorang yang terpengaruh oleh teory
Darwin. Dimana dijaman industrialis saat itu, untuk
menyiapkan murid yang berdaya saing kuat dan mudah
beradaptasi maka pelajaran science dan pelajaran
pendukungnya adalah mutlak terpenting. Atau dengan
kata lain membekali murid dengan antisipasi kedepan
adalah lebih penting dari pada melihat kebutuhan saat
itu saja.
 
Pada abad 19 ini juga mulai terpikir adanya sistim
pendidikan secara nasional, yang berarti ada
pelajaran-pelajaran wajib untuk pelajaran yang
bersifat umum. Mulailah berkembangnya
sekolahan-sekolahan modern yang lebih liberal.
Nampaknya Jepang juga mulai melepas dari pengasingan
diri, untuk melirik cara-cara barat (reformasi budaya
bukan berarti menabut akar budaya). Demikian juga
Amerika Latin, tak ketinggalan pula para penjajah
mulai berpikir ulang untuk menyebarkan pengetahuannya
(walaupun cenderung masih bermaksud menghisap).
 
Diawal abad 20 Ellen Key menjadi terkenal ketika dia
melontarkan gagasannya, bahwa pengajaran harus
didasarkan pada kebutuhan pokok dan kemampuan murid
daripada pertimbangan kebutuhan social, keinginan
orang tua apalagi keinginan keorganisasian agama. John
Dewey setuju, bahwa interest anak yang berbeda harus
dilayani dengan cara berbeda. Maka pendidikan
ketrampilan menurut bakat dan kemampuan anak menjadi
penting. Karena itu perlu pengelompokan berdasarkan
bakat dan keinginan (kejuruan dan ketrampilan). Ini
pula yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1907).
Dia sangat berjasa dalam sumbangannya terutama untuk
pendidikan dasar (yang saat ini masih sering jadi
bahan acuan). Namun dibeberapa negara teori ini tidak
bisa diterapkan, karena kebutuhan negara adalah lebih
penting dari pada kebutuhan anak. 
 
Diabad 20 tersebut juga sangat dipengaruhi oleh
pendapat Jean Piaget yang mengamati adanya
perkembangan kemampuan verbal dan berpikir lewat
pengenalan dan kemampuan pembentukan konsep bagi anak,
yang ternyata berbeda-beda. Maka system pendidikan
perlu disesuaikannya. Dia menggolongkan perkembangan
anak dalam empat tahapan. Dimana tiap tahapan harus
dilalui secara natural. Sumbangan Binet dan Simon
(1905) cukup penting dalam penanganan anak yang
berbeda IQ. Anak yang IQ-nya 80 tidak selayaknya
disejajarkan penilaiannya dengan anak yang ber IQ
tinggi. Hal itu akan merusak perkembangan mental anak.
Mungkin barangkali ini mendasari mengapa pada tahap
pendidikan dasar metode penilaian cukup lewat laporan
kemajuan anak, supaya anak tidak merasa rendah diri.
 
Pendidikan menjadi industri nasional, maka perlu
ditata ulang dengan peraturan-peraturan nasional pula.
Apalagi di Inggris ditahun 1889 sudah berdiri badan
perlindungan anak (NSPCC), dimana menganjurkan anak
dibawah 10 tahun harus mendapatkan pendidikan.
Penataan di Inggris missal di tahun 1944 menerapkan
tiga tahapan pendidikan yaitu pendidikan dasar, kedua
dan pendidikan atas (higher education). Di Inggris
peraturan telah mengelami beberapa perubahan sesuai
perkembangan jaman, dan teori dari pendidikan itu
sendiri yang berkembang. Termasuk didirikannya
Universitas terbuka untuk pertamakalinya (1969) perlu
ditata secara nasional.
 
Pengaruh suasana politik saat itu tidak bisa
diabaikan. Missal di Rusia dengan partai komunisnya
yang bersatu dibawah Joshep Stalin 1920 walaupun
kemudian di tahun 1990 terjadi berubahan baru dibawah
Michail Gorbachev. Dibelahan Eropa dengan perang
dunianya, dan juga runtuhnya tembok Berlin (1989) ikut
merubah system pendidikan.
 
Bahkan secara luas telah menjadi perhatian PBB lewat
UNESCO-nya. Target utama saat itu adalah pemberantasan
buta huruf dinegara-negara sedang berkembang termasuk
didalamnya Indonesia. 
 
Menengok kedalam negeri sekolah pendidikan dasar telah
diperkenalkan oleh Belanda. Sekolah yang tadinya hanya
untuk kalangan keturunan belanda, dengan etische
politiek (kepotangan budi) di negara jajahan belanda
(1870) mulai membuka sekolahan bagi kaum bumi putera
(SR). Hal tersebut nampaknya juga akibat pengaruh
faham humanisme dan kelahiran baru yang melanda negeri
Belanda. Program utamannya saat itu mungkin hanya
untuk kepentingan Belanda juga (untuk meningkatkan
produktivitas ditanah jajahannya). Untuk Perguruan
tinggi dimulai dengan berdirinya sekolah-sekolah
kejuruan. Misal STOVIA(1902) yang kemudia berubah jadi
NIAS(1913) dan GHS adalah cikal bakal dari fakultas
kedokterannya UI. Lalu juga Rechts School (1922) dan
Rechthoogen School (1924) kemudian melebur jadi
fakultas hukumnya UI. Juga disusul beberapa fakultas
lainya. Di Bandung dimana bung Karno sekolah juga
berasal dari sekolah teknik THS (1920) dan di Bogor
dibuat juga sekolah perkebunan (1941) adalah cikal
bakal IPB sekarang.
 
Bila kemudian didirikan UI (1950) atau UGM (1945)
adalah leburan dari yang sudah ada dan kemudian
ditambahkan fakultas lainnya. Perlu dicatat pula
universitas tua lainnya seperti ITB (1959), IPB
(1963), Unair (1963), dan universitas swasta tertua
kita adalah UII (1948). Barangkali bisa dimaklumi
bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat muda
dibanding pendidikannya Plato. 
 
Walaupun sebenarnya sejak jamannya pangeran Aji Saka
(abad 3) telah diperkenalkan huruf jawa dengan
mencontoh huruf di India selatan, jadi pemerintahan
Jawa Dwipa sudah mengenal pendidikan. Demikian pula
abad 5 pendeta Budha memperkenalkan ajarannya
(tentunya mengandung unsur pendidikan. Berdirinya
Borobudur boleh di anggap sebagai parameter tingginya
ilmu arsitektur (diabad 8) oleh Raja Sailendra
Samaratungga. Dicatat pula Candi Prambanan (Hindu)
yang elok itu dibangun di abad 9 jamannya raja
Sanjaya. Raja agung Airlangga (1019) boleh dianggap
raja paling toleran dan melindungi umat berbeda agama
(hal ini tentunya tidak terjadi sebelumnya). Tidak
kurang di Indonesia juga ada ahli filosuf atau mungkin
sebagai nabinya wong jowo yaitu Raja Joyoboyo (1157),
siapa yang tak kenal dengan primbonnya Joyo boyo.
Namun sayang selama perjalanan sejarah bangsa
Indonesia selalu disertai dengan perang saudara (jauh
sebelum Belanda datang, sudah cakar-cakaran, jangan
hanya Belanda yang disalahkan sebagai provokator
dengan politik adu kambinya, ternyata bakat ini belum
hilang sampai sekarang). Bahkan Patih Gadjah Mada yang
dianggap pemersatupun (dengan sumpahnya yang sakti)
adalah hanya untuk penguasaan dan menunjukkan
kehebatan Majapahit. Tentu ini juga berpengaruh pada
pendidikan secara umum, dan sebaliknya bisa jadi
pendidikan ikut mempengaruhinya. Menengok perjalanan
sejarah bangsa Indonesia perlu dibahas tersendiri.
 
Gambaran sejarah pendidikan di Indonesia saat ini bisa
dialami bersama. Dari gambaran diatas ternyata masalah
pendidikan bukan sekedar tergantung pada teory dan
ilmu pendidikan itu saja, tapi juga iklim social
budaya dan politik ikut berperan. Namun bukan alasan
untuk tidak memperbaharui kehidupan melalui
pembaharuan konsep pendidikan itu sendiri. Jadi
reformasi pendidikan adalah mutlak perlu dilakukan
terus menerus sesuai perubahan pemahaman umat akan
kehidupan itu sendiri. Dimana Peter Drucker melihat
pergeseran kebutuhan manusia, dari ekonomi yang
berbasiskan benda tak bergerak dan jasa menuju ekonomi
berbasiskan ilmu pengetahuan, perlu di renungkan.
Lebih jauh Drucker mengemukakan bahwa tahapan agraris,
industri dan kini informasi adalah tidak lama lagi
tergeser pada era inovasi. Apa itu inovasi dan
persyaratannya adalah bahan pekerjaan rumah bersama.
Bila generasi kita saat ini setress gara-gara tidak
tahu bahasa jawanya anak kerbau, atau hafalan lainya.
Jangan disalahkan bila kemudian hari negara Indonesia
menjadi negara terbelakang yang menunggu petunjuk,
menunggu pemerintahannya waras, menunggu dan menunggu.
Namun untung ada film anak-anak pokemon, digimon,
tweenies, bob builder dan sejenisnya yang barangkali
jadi hiburan anak sekaligus menjadi sarana berfantasi
sambil berinovasi, dari pada ngerjakan PR paket
pendidikan yang sarat dengan indokrinasi hukum-hukum
matematika dan hukum lainnya yang harus dipatuhi tanpa
syarat demi memumuaskan harapan bapak dan ibu (memang
jamannya sudah terbalik anak berkorban buat orang tua
dan guru, rakyat berkorban buat pak Bos). 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: