PENGANTAR KEPENDUDUKAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demografi yang merupakan awal dari ilmu kependudukan mempunyai pengertian yaitu mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab dari perubahan tersebut.

Sedangkan ilmu kependudukan adalah ilmu yang berusaha menjawab “mengapa” terjadi perubahan-perubahan variabel demografis. Dengan demikian ilmu kependudukan lebih luas cakupannya daripada demografi karena menyangkut segi-segi kualitatif, dan ilmu ini merupakan penghubung antara penduduk dan sistem sosial.

Para ahli demografi terutama tertarik pada statistik (fertilitas, mortalitas, dan migrasi karena ketiga variabel ini merupakan komponen-komponen utama yang berpengfaruh terhadap perubahan penduduk. Peranan mobilitas penduduk terjhadap laju pertumbuhan penduduk antara wilayah satu debngan wilayah yang lain berbeda–beda. Indonesia secara keseluruhan, tingkat mortalitas, karena migrasi neto hampir dapat dikatakan nol. Tidak banyak orang Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri, begitu juga orang – orang luar negeri yang bertempat tinggal menetap di Indonesia.

Di dalam perencanaan pembangunan, data mengenai ketenagakerjaan dan angkatan kerja memegang peranan pembangunan yang penting. Tanpa tenaga kerja tidaklah mungkin program pembangunan di laksanakan. Makin lengkap dan tepat data mengenai tenaga kerja yang tersedia makin mudah dan tepatlah  rencana    pembangunan  itu    dibuat. Jadi   faktor   kekuatan  manusia    merupakan unsur yang penting dalam pembangunan

Komposisi penduduk menggambarkan susunn penduduk yang di buat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut karakteristik – karakteristik yang sama. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin suatu masyarakat penting dalam kerangka biologis, ekonomis, maupun sosial. Sedangkan mortalitas (kematian) adalah salah sati dari tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk. Dimana kematian merupakan proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk. Kematian adalah peristiwa hilangnya semua tanda – tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Dengan demikian keadaan mati selalu di dahulu oleh keadaan hidup. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakn barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum Kependudukan ini adalah untuk melatih mahasiswa mengenal lebih dalam mengenai variabel demografi, variabel non demografi beserta indikator-indikator terjadinya variabel-variabel tersebut di masyarakat.

C. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum kependudukan ini dilaksanakan pada tanggal 15 Mei – 1 Juni 2006 di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Komposisi Penduduk

Data kependudukan yang dapat disajikan sampai wilayah administrasi terkecil sangat berguna bagi perencanaan pembangunan. Karena registrasi penduduk di Indonesia belum dapat menghasilkan data kependudukan seperti yang diharapkan, maka sensus penduduk menjadi satu-satunya sumber data kependudukan yang diharapkan mampu memberikan gambaran keadaan penduduk Indonesia (Handoyo, 2006)

Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh besarnya kelahiran, kematian, migrasi masuk dan migrasi keluar. Penduduk akan bertambah jika ada kelahiran bayi dan adnya penduduk yang datang dan penduduk yang berkurang jika ada kematian dan penduduk yang keluar dari daerah tersebut (Mantra, 2003)

Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin bagi suatu masyarakat penting baik dalam kerangka biologis, ekonomis, maupun sosial. Umpamanya penting dalam pertaliannya angka-angka kelahiran, kematian, rasio beban tanggungan, dan jumlah penduduk usia sekolah. Perbedaan yang besar mungkin terdapat antara negara-negara tertentu dalam hal komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin (Kartomo, 1981).

B.     Mortalitas

Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masyarakat daerah tersebut. Dengan memperhatikan trend dari tingkat mortalitas dan fertilitas di masa lampau dan estimasi perkembangan di masa mendatang dapatlah dibuat sebuah proyeksi penduduk wilayah bersangkutan (Mantra, 2004)

Studi mortalitas menurut status perkawinan telah menunjukan bahwa tingkat mortalitas dari mereka yang telah meninkah, lebih rendah daripada yang tidak menikah, tetapi ada kesan bahwa beberapa perbedaan dipilih sebagai teman hidup daripada menderita sesuatu penyakit atau kelainan, dan faktor seleksi menjadi lebih penting dengan makin sedikitnya orang yang tetap membujang. (Mc Donald, 1984)

  1. C. Fertilitas

Angka kesuburan total (Total Fertility Rate=TFR) adalah jumlah rata-rata anak yang dapat dilahirkan oleh seorang wanita jika is hidup sampai akhir masa kesuburannya dan melahirkan anak dengan kecepatan yang sama dengan angka kesuburan berdasarkan umur tertentu yang terdapat sekarang. TFR adalah ukuran terpenting dari kesuburan yang kita punyai, sebab ukuran ini tidak dipengaruhi oleh komposisi umur dari penduduknya. Jika angka kesuburan stabil dari waktu ke waktu maka hal ini akan mempcrlihatkan jumlah CEB pada akhir masa kesuburan kurang lebih sama dengan TFR. Dengan kata lain, tingkat kesuburan dari sebagian besar wanita yang berusia tua sama dengan dari wanita yang masih hidup dalam masa suburnya (http://www.papuaweb.org/ dlib/s123/lautenbach/_rk.html)

Program keluarga berencana mempunyai tujuan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Tujuan yang bersifat kualitatif yakni melembagakan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Selanjutnya tujuan kuantitatif dari program keluarga berencana yaitu penurunan tingakat kelahiran penduduk. Dengan perkataan lain pemerintah berupaya menurunkan angka kelahiran kasar (CBR) sebanyak 50% pada tahun 1990 dibandingkan dengan keadaan tahun 1971. Disadari untuk memperlambat laju pertumbuhan penduduk sangat diperlukan penurunan angka kelahiran (fertilitas) yang lebih cepat daripada penurunan mortalitas (Tjiptoherijanto, 1987).

Perbedaan antara fertilitas dan fekunditas sering membingungkan. Wanita yang mampu melahirkan seorang anak yang hidup secara biologis adalah subur (fekud) sedanghkan wanita yang tida melahirkan anak lahir hidup adalah steril, wanita yang secara biologis subur namun tidak selalu melahirkan, misalnya apabila mengatur fertilitas dengan abstinensi atau menggunakan alat kontrasepsi (Lucas, 1984)

  1. D. Mobilitas

Mobilitas penduduk dapat dibedakan atas mobilitas penduduk vertikal dan horisontal. Mobilitas penduduk vertikal sering disebut perubahan status, dan salah satu contohnya adalah perubahan status pekerjaan. Seseorang yang mula-mula bekerja dalam sektor pertanian sekarang bekerja dalam sektor non pertanian.

Mobilitas penduduk horisontal atau sering pula disebut dengan mobilitas penduduk geografis, adalah gerak (movement) penduduk yang melintas batas wilayah menuju wilayah yang lain dalam periode waktu tertentu (Mantra,2003).

Perserikatan bangsa-bangsa mengartikan seorang migran jangka panjang sebagai orang yang bermaksud tinggal lebih dari 12 bulan, tetapi tentu saja belum tentu masing-masing migran tetaop melaksanakan niatnya yang semula (Young, 1984)

Persentase migrasi yang masuk ke Jawa lebih besar daripada yang masuk ke Sumatra. Dengan pengecualian Jakarta, untuk Jawa persentase perkotaan terhadap migrasi seumur hidup rata-rata bercorak seragam, yaitu sedikit diatas setengah dari seluruh migrasi seumur hidup, sedang persentase perkotaan terhadap migrasi dari luar Sumatra masuk ke Sumatra amat kecil. Sebab-sebab mengapa terjadi demikian itu mungkin terjadi karena migrasi ke Sumatra terdiri dari tenaga kerja yang dipekerjakan di perkebunan-perkebunan pada tahun-tahun 1920an dan 1930an, dan para transmigran, yang sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, ditempatkan di pemukiman-pemukiman pedesaan (Rusli,1985)

  1. E. Ketenagakerjaan

Dengan melihat gambaran demografi pendidikan di Indonesia kita dapat menduga bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian, karena sektor ini pada umumnya tidak menuntut persyaratan pendidikan dan ketrampilan teknik yang tinggi. Penduduk yang bekerja di sektor industri diduga belum begitu besar proporsinya, mengingat sektor ini menuntut persyaratan pendidikan yang cukup tinggi (Ananta, 1993).

Penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) disebabkan karena turunnya tingkat partisipasi anak-anak umur sekolah dalam angkatan kerja kerena membaiknya fasilitas dan keadaan sekolah. Dalam masa-masa yang akan datang TPAK anak umur sekolah masih akan menurun tetapi TPAK perempuan diperkirakan akan naik sehingga keseluruhan TPAK tidak dapat diharapkan akan turun (Munir, 1983).

Peta ketanagakerjaan di negara–negara berkembang, termasuk Indonesia angkatan pada umumnya diwarnai oleh tiga ciri utama yaitu : laju pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi sebagai akibat dari derasnya arus pertumbuhan penduduk yang memasuki usia kerja, jumlah angkatan kerja yang besar dengan tingkat pendidikan yangpada umumnya rendah, angka partisipasi angkatan kerja tinggi tetapi rata – rata pendapatan pekerjaan rendah (Ananta dan Budhiarso, 1991).

BAB III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Komposisi Penduduk

Tabel 1. Jumlah Penduduk Setelah di Prorata dan Sex ratio suatu wilayah  pada tahun 2000

No Umur Sebelum Pro Rata Sesudah Pro Rata Sex ratio
L P L P
1.

2.

3.

4.

5.

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

140.868

131.646

121.935

130.672

131.348

136.153

121.750

162.744

83.688

63.278

42.295

26.577

19.688

11.007

8.294

6.859

3.143

133.439

121.897

115.551

127.133

132.718

129.830

108.048

90.838

67.130

45.372

31.007

20.323

17.292

10.372

7.338

6.244

5.418

141.214

131.969

122.235

130.993

131.671

136.488

122.848

102.997

83.894

63.434

40.399

26.642

19.736

11.034

8.314

6.876

134.060

122.464

116.689

127.724

133.335

130.434

108.551

91.261

67.442

45.583

31.151

20.418

17.372

10.420

7.372

6.273

105

108

105

103

99

105

112

113

124

139

136

131

114

106

113

110

Sumber : Laporan Sementara

Nilai K

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,002457769

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,00465251

Untuk menghilangkan data yang tidak terjawab (NS) dapat dilakukan dengan teknik prorata dimana teknik tersebut menyebarkan sejumlah penduduk yang tidak terjawab umurnya (kelompok NS) kedalam kelompok-kelompok lain dengan cara mengalikan jumlah penduduk kelompok tertentu dengan faktor pengkali (K) yang dapat diperoleh dari perbandingan jumlah seluruh penduduk dengan jumlah seluruh penduduk dikurangi NS.

Nilai K yang digunakan bertujuan menghlangkan NS ternyata dapat merubah data. Dapat kita lihat hasil setelah prorata berbeda dari pada hasil data sebelum prorata.

Nilai K sendiri dapat dikatakan cukup signifikan dalam menambah jumlah yang ada, nilai K yang digunakan menghasilkan persebaran NS rata pada setiap umur sehingga NS dapat dihilangkan.

Dengan demikian walaupun K dapat menghilangkan NS, jumlah total keseluruhansam baik itu sesudah prorata maupun setelah di prorata. Sehingga pada jumlah penduduk besar akan mengalami pertambahan jumlah penduduk besar, demikian juga sebaliknya. Misalnya saja kita melihat pada kelompok usia 0 sampai 4 tahun yang berjumlah 140.868 jiwa setelah diprorata mengalami penambhan sejumlah 346 dari NS sedangkan pada kelompok usia > 75 tahun hanya mengalami penambahansebesar 17 dari NS.

Rumus sex ratio

SR = S laki-laki x 100

S Perempuan

Misalnya saja kita ambil sample untuk kelompok umur 20 – 24 tahun

SR = = 98,8 ~ 99 orang

Dependentcy Ratio secara umum (keseluruhan)

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 506,2 ~ 506 orang

Dependentcy Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 490,12 ~ 490 orang

Dependentcy Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 512,99 ~ 513 orang

Dependentcy Ratio total

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 49013

Sex ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.

Rumus yang digunakan adalah jumlah penduduk laki-laki dibanding jumlah penduduk perempuan dikalikan 100. Dari data yang disajikan pada suatu wilayah pada tahun 2000 sex rationya adalah 110, yang artinya dalam 100 orang penduduk perempuan terdapat 110 laki-laki. Dan ini dapat dikategorikan bahwa nilai sex ratio lebih dari 100 artinya sex ratio tinggi, sehingga keadaan ini menggambarkan bahwa jumlah laki-laki lebih banyak sehingga menimbulkan ekses atau yang lebih dikenal dengan kelebihan jumlah laki-laki.

Dari data yang disajikan dan hasil yang telah diperolah dari tabel sex ratio yang ditampilkan dapat disimpulkan pula sebagai berikut,  pada usia non produktif dapat kita lihat sex ratio diatas 100 hal ini dapat kita artikan sebagai berikut, misalnya kita mengambil contoh usia non produktif usia 65 – 69 tahun yang memiliki sex ratio 106 yang berarti jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan dan sex ratio termasuk kategori tinggi karena diatas 100.

Berbeda pada usia produktif yang di mulai dari usia 15 tahun hingga 64 tahun disini kita dapat melihat pada umumnya lebih banyak laki-laki namun disatu pihak kita dapat melihat pada usia 20 – 24 tahun jumlah wanita lebih tinggi dari pada laki-laki dengan sex ratio 99 sehingga jika sex ratio dibawah 100 maka lebih banyak perempuan, kenapa demikian? banyak penyebab yang bisa menjadi alasan salah satu diantaranya adalah tingginya angka kematian pada usia 20 – 24 lebih dikarenakan faktor luar dan dalam, contoh faktor luar adalah rentannya penularan penyakit yang mematikan yang biasanya menyerang pada usia ini, dan faktor luar seperti perkelahian pelajar, kenakalan remaja, broken home, dan lain sebagainya.

Dari tabel sex ratio yang ditampilkan kita dapat memvisualisaikan ke dalam grafik sex ratio suatu wilayah pada tahun 2000 sebagai berikut

Gambar 1. Grafik sex ratio suatu wilayah penduduk pada tahun 2000

Angka beban tanggungan atau yang lebih dikenal dengan Dependentcy Ratio adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah kelompok umur non produktif dengan jumlah kelompok umur produktif. Kelompok umur non produktif adalah interval 0 – 14 tahun dan > 65 tahun. Sedangkan kelompok umur produktif adalah 15 – 64 tahun. Rumus yang dipergunakan adalah jumlah penduduk non produktif dibagi jumlah penduduk produktif dikali K. Dalam hal ini nilai K yang digunakan adalah 1000.

Dari penghitungan Dependentcy Ratio secara umum penduduk suatu wilayah menurut sensus 2000 menunjukan hasil 500,94 dibulatkan 501 yang artinya setiap 1000 orang penduduk produktif menanggung 501 orang penduduk yang tidak produktif. Secara khusus untuk Dependentcy Ratio male menunjukkan angka 491 yang memiliki artinya setiap 1000 orang laki-laki produktif menanggung 491 laki-laki non produktif begitu pula dengan Dependentcy Ratio Female memiliki nilai 513 yang artinya setiap 1000 oarang perempuan produktif menanggung 513 perempuan non produktif. Secara umum Dependentcy Ratio adalah indikator ekonomi suatu negara, semakin tinggi Dependentcy Ratio, semakin rendah atau tidak akan maju.

Persentase jumlah penduduk produktif yang besar + 40% menjadikan bebab tanggungan usia produktif menjadi lebih besar. Pada sensus ini Dependentcy Ratio tergolong besar karena 33,38 % penduduknya berada dalam usia non produktif dengan kata lain jika Dependentcy Ratio tinggi maka suatu daearah akan dianggap tidak maju.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Nasional Setelah di Prorata dan Sex ratio pada tahun 2000

No Umur Sebelum Pro Rata Sesudah Pro Rata Sex ratio
L P L P
1.

2.

3.

4.

5.

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 34

35 – 39

40 – 44

45 – 49

50 – 54

55 – 59

60 – 64

65 – 69

70 – 74

> 75

NS

10.295.701

10.433.865

10.460.908

10.649.348

9.237.464

9.130.504

8.204.302

7.432.840

6.433.438

5.087.252

3.791.185

2.883.226

2.597.076

1.666.191

1.368.190

1.257.526

5.946

10.006.675

10.060.226

9.992.824

10.500.169

10.020.637

9.510.433

8.195.418

7.471.386

6.034.410

4.568.753

3.593.783

2.795.438

2.723.943

1.898.735

1.468.847

1.459.459

5.901

10.296.308

10.434.480

10.461.524

10.649.348

9.238.008

9.131.042

8.204.785

7.433.278

6.433.817

5.087.522

3.791.408

2.883.396

2.597.229

1.666.289

1.368.271

1.257.600

10.007.264

10.060.818

9.993.412

10.500.787

10.021.227

9.510.993

8.195.900

7.471.826

6.034.765

4.569.022

3.593.994

2.795.602

2.724.103

1.898.847

1.468.933

1.459.545

103

104

105

101

92

96

100

99

107

111

106

103

95

88

93

86

Sumber : Laporan Praktikum

Nilai K Laki-laki

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,000058913

Nilai K Perempuan

= S Penduduk laki-laki

S Penduduk Perempuan – NS

K = = 1,000058833

Dependentcy Ratio Male

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 542,16 ~ 542 orang

Dependentcy Ratio Female

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 533,32 ~ 533 orang

Berdasarkan persebaran penduduknya terdapat persamaan dan perbedaan anatra hasil sensus suatu wilayah pada tauhn 2000 dengan hasil sensus nasional tahun 2000, persamaannya adalah kedua hasil sensus tesebut tidak menunjukan angka yang berurutan antara kelompok umur. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) maupun perpindahan (migrasi) penduduk yang tidak sama tiap kelompok umur.

Sedangkan perbedaanya adalah jumlah penduduk kelompok umur 0 – 4 tahun merupakan jumlah tertinggi, baik laki-laki maupun perempuan pada hasil sensus suatu wilayah. Pada hasil sensus nasional tahun 2000 jumlah penduduk terbanyak baik laki-laki maupun perempuan terdapat pada kelompok umur 15 – 19 tahun. Dari perbedaan ini menunjukan bahwa usia 15 -19 tahun adalah jumlah penduduk terbanyak, sehingga dengan banyaknya penduduk usia produktif dapat menekan angka beban tanggungan / depentcy ratio agar lebih rendah.

Perbedaan lain adalah besarnya sex ratio pada data hasil sensus wilayah tahun 2000 lebih fluktuatif dibanding dengan hasil sensus nasional adalah 139, dan yang terendah adalah 99. Selisih angka tertinggi dan terendah inilah yang menjadikan lebih fluktuatif. Karena pada hasil sensus nasional tahun 2000 angka tertingginya adalah 111 dan terendah adalah 86.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk laki-laki hasil sensus wilayah lebih banyak daripada penduduk laki-laki hasil sensus nasional. Kaena pada sensus wilayah sex ratio totalnya adalah 110 yang berarti terdapat 110 laki-laki per 100 perempuan, dan pada sensus penduduk nasional sex ratio totalnya adalah 101 (tiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki).

Kabupaten Karanganyar adalah sebuah kota yang terletak di sebelah timur kota Surakarta, dalam praktikum kali ini praktikan diminta untuk mencari data penduduk menurut umur kelompok dan jenis kelamin salah satu kota pada tahun 2000 dan tahun 1990, dan membuat piramida penduduk yang terbentuk dari hasil data yang diperoleh. Berikut adalah data yang diperoleh dari BPS kabupaten Karanganyar tentang data penduduk menurut umur kelompok dan jenis kelamin Kabupaten Karanganyar pada tahun 2000 dan tahun 1990 beserta piramida penduduk yang terbentuk.

Tabel 3 Sex Ratio Kabupaten Karanganyar Tahun 1990

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 52.822 52.205 101,1 ~101
5 – 9 43.366 43.210 100,3 ~100
10 – 14 40.546 40.615 99,8~100
15 – 19 38.058 39.334 96,7 ~97
20 – 24 33.595 35.221 95,3 ~95
25 – 29 33.577 33.982 98,8 ~99
30 – 39 33.110 35.749 92,6 ~93
40 – 49 30.583 32.758 93,3 ~93
50 – 59 24.738 27.061 91,4 ~91
> 60 17.643 20.116 87,7 ~ 88

Sumber : Laporan sementara

Tabel 4 Sex Ratio Kabupaten Karanganyar Tahun 2000

Umur Laki-laki Perempuan Sex ratio
0 – 4 29.534 27.961 105,6 ~106
5 – 9 34.449 33.174 103,8 ~104
10 – 14 38.800 36.204 107,1 ~107
15 – 19 36.350 35.962 101,0 ~101
20 – 24 32.913 33.099 99,4 ~99
25 – 29 32.163 32.422 99,2 ~99
30 – 34 32.020 32.511 98,4 ~98
35 – 39 30.022 30.679 97,8 ~98
40 – 44 27.829 28.784 96,6 ~97
45 – 49 25.721 26.643 96,5 ~97
50 – 54 23.359 24.363 95,4 ~95
55 – 59 19.355 20.492 94,4 ~94
60 – 64 11.818 13.248 120,0 ~120
65 – 69 8.102 9.841 82,3 ~82
70 – 74 5.672 7353. 77,1 ~77
> 75 6.648 8.218 80,8 ~81

Sumber : Laporan sementara

Dependentcy Ratio Male Kabupaten Karanganyar Tahun 2000

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 453,91 ~ 454 orang

Dependentcy Ratio Female Kabupaten Karanganyar Tahun 2000

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 440,43~ 440 orang

Dependentcy Ratio Male Kabupaten Karanganyar Tahun 1990

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 797,15 ~ 797 orang

Dependentcy Ratio Female Kabupaten Karanganyar Tahun 1990

=  S U (0 – 14) + U (> 65) X 1000

S U (15 – 64)

= x 1000

= 764,85~ 765 orang

> 60

50-59

40-49

30-39

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

Gambar 2. Piramida Penduduk kabupaten Karanganyar tahun 1990

Pada Gambar diatas disini dapat kita lihat bahwa bentuk piramida yang ditampilkan adalah piramida ekspansif yang artinya sebagaian besar penduduk kabupaten Karanganyar Pada tahun 1990 berada dalam kelompok umur muda Tipe ini umumnya terdapat pada negara-negara atau daerah-daerah yang mempunyai angka kelahiran dan angka kematian tinggi dalam hal ini lingkup kabupaten dapat dilihat bahwa kabupaten karanganyar juga memiliki kriteria piramida ekspansif. Pada piramida tipe ini terdapat pada wilayah yang tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat akibat dari masih tingginya tingkat kelahiran dan sudah mulai menurunnya tingkat kelahiran dan sudah turunnya tingkat kematian.

>75

70-74

65-69

60-64

55-59

50-54

45-49

40-44

35-39

30-34

25-29

20-24

15-19

10-14

5-9

0-4

Gambar 3 Piramida penduduk kabupaten Karanganyar pada Tahun 2000

Pada tahun 2000 bentuk piramida yang divisualisasikan adalah bentuk piramida konstruktif, karena disini kita bisa melihat bahwa kelompok termuda jumlahnya sedikit. Pada piramida ini tingkat kelahiran turun dengan cepat dan tingkat kematiannya rendah. Pada piramida tahun 2000 angka beban tanggungan lebih kecil sehingga dapat dilihat untuk wilayah kabupaten Karanganyar dapat di kategorikan pertumbuhan ekonominya baik

Angka Beban tanggungnan atau yang lebih dikenal sebagai Dependenty Ratio kabupaten Karang anyar apada tahun 1990 adalah sebagai berikut untuk angka beban tanggungan kaum pria didapat angka 797 yang artinya setiap 1000 orang laki-laki produktif menanggung 797 laki-laki tidak produktif. Begitu juga dengan Dependenty Ratio pada perempuan terdapat angka 765 yang artinya bahwa setiap 1000 orang wanita produktif menanggung 765 perempuan non produktif. Jika kita lihat dari hasil diatas angka beban tanggungan pria di kabupaten Karanganyar pada tahun 1990 lebih besar dari pada perempuan.jika angka Dependenty Ratio cukup besar artinya sebuah daerah dikatakan tidak maju atau lambat berkembang.

Pada Tahun 2000 migrasi atau perpindahan amat mungkin terjadi di mungkinkan karena pada piramida tahun 2000 jumlah usia produktif lebih banyak daripada usia non produktif namun dari hasil perhitungan jelas sudah jika dilihat dari sex ratio jumlah perempuan lebih banyak dari pada pria dan dilihat dari Dependenty Ratio secara khusus ternyata boleh dikategorikan beban atau angka tanggungan baik laki-laki dan perempuan relatif seimbang dengan kata lain perekonomian bisa dikatakan baik. Migrasi yang mempengaruhi piramida penduduk dapat dilihat dari penambahan atau pengurangan utnuk kelompok umur tertentu. Sebagai perbandingannya, jumlah usia produktif (15-64 tahun) pada Tahun 1990 lebih besar dari pada Tahun 2000. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak penduduk usia produktif melakukan migrasi keluar baik untuk mencari sarana pendidikan dan lapangan pekerjaan di Kabupaten Karanganyar lebih banyak dilakukan oleh penduduk laki-laki, hal ini terlihat dari jumlah penduduk laki-laki pada usia produktif lebih besar dari pada jumlah penduduk perempuan baik dari Tahun 1990 sampai Tahun 2000

Dari data tahun 1990 dapat terjadi fenomena migrasi namun hal ini dibantah oleh para ahli khusus mengenai wilayah indonesia. Migrasi dapat terjadi disebabkan beberapa keadaan tempat tinggal, tempat lahir dan lama tinggal di daerah tersebut. Pada tahun 1990 dasar piramida yang lebih banyak yang artinya kelahiran tinggi di sebabkan kareana program keluarga berencana (KB) belum begitu berhasil dan efektif mungkin boleh dibilang kalah dengan mitos yang beredar dikalangan masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki.

Pada Tahun 2000 migrasi atau perpindahan amat mungkin terjadi di mungkinkan karena pada piramida tahun 2000 jumlah usia produktif lebih banyak daripada usia non produktif namun dari hasil perhitungan jelas sudah jika dilihat dari sex ratio jumlah perempuan lebih banyak dari pada pria dan dilihat dari Dependenty Ratio secara khusus ternyata boleh dikategorikan beban atau angka tanggungan baik laki-laki dan perempuan relatif seimbang dengan kata lain perekonomian bisa dikatakan baik.

  1. B. Mortalitas

Tabel 5 Tabel Tingkat Kematian

Umur lx qx Lx Px Tx eox
0 100.000 0,07066 94.785,30 0,92934 6.004.940,8 60,049
1 92.934 0,01630 92.040,10 0,98370 5.910.155,4 63,595
2 91.419 0,00777 91.064,00 0,99223 5.818.155,3 63,642
3 90.709 0,00526 90.470,50 0,99474 5.722.051,3 63,137
4 90.232 0,00419 90.042.50 0,99581 5.636.580,6 62,468
5 89.853 0,00273 89.730,50 0,99727 5.546.537,8 61,729
6 89.608 0,00243 89.499,00 0,99757 5.456.806,3 60,896
7 89.390 0,00216 89.293,50 0,99784 5.367.306,3 60,043
8 89.197 0,00194 89.110,50 0,99806 5.278.011,8 59,172
9 89.024 0,00176 88.946,00 0,99824 5.188.900,3 58,286
10 88.868 0,00165 88.703.50 0,99835 5.099.953,8 57,388
11 88.721 0,00161 88.649,50 0,99839 5.011.159,3 56,482
12 88.578 0,00165 88.505,00 0,99835 4.922.509,8 55,573
13 88.432 0,00174 88.355,00 0,99826 4.834.044,8 54,664
14 88.278 0,00190 88.194,00 0,99810 475.649,8 5,388
15 88.110 0,00211 88.017,00 0,99789 4.657.455,8 52,859
16 87.924 0,00232 87.822,00 0,99768 4.569.438,8 51,970
17 87.720 0,00254 87.609,09 0,99746 4.481.616,8 51,090
18 87.498 0,00271 87.379,13 0,99729 4.394.008,3 50,219
19 87.261 0,00287 87.135,35 0,99713 4.306.629,8 49,354
20 87.010 0,00303 86.878,31 0,99697 4.219.944,8 48,494
21 86.746 0,00319 86.608,13 0,99681 4.132.610,8 47,640
22 86.470 0,00335 86.324,93 0,99665 4.046.009,3 46,791
23 86.180 0,00346 86.031,00 0,99654 3.956.685,3 45,987
24 85.882 0,00356 85.729,04 0,99644 3.873.655,3 45,104
25 85.746 0,00365 85.419,99 0,99635 3.787.927,3 44,264
26 85.246 0,00371 85.105,65 0,99629 3.702.508,3 43,424
27 84.947 0,00383 84.784,81 0,96617 3.617.404,8 42,584
28 84.622 0,00394 84.455,43 0,99606 3.532.623,3 41,746
29 84.289 0,00406 84.117,62 0,99594 3.448.170,8 40,909
30 83.947 0,00417 83.771,50 0,99583 3.364.058,8 40,047
31 83.596 0,00428 83.417,56 0,99572 3.280.286,8 39,240
32 83.239 0,00442 83.054,71 0,99558 3.196.871,8 38,406
33 82.871 0,00454 82.682,64 0,99546 3.113.819,8 37,574
34 82.495 0,00468 82.301,48 0,99532 3.031.139,8 36,240
35 82.108 0,00482 81.910,56 0,99518 2.948.840,8 35,914
36 81.713 0,00499 81.508,81 0,99501 3.866.932,8 35,086
37 81.305 0,00514 81.095,98 0,99486 2.785.932,8 34,259
38 80.887 0,00530 80.672,68 0,99470 2.704.333,8 33,433
39 80.458 0,00548 0,99452 2.623.664,8 32,609

Sumber : Laporan Praktikum

Tabel Kematian adalah suatu tabel hipotesis dari sekumpulan orang yang dilahirkan pada waktu yang sama (kohor/generasi) karena adanya proses kematian maka jumlah orang tersebut semakin berkurang sehingga akan habis seluruhnya.

Tabel kematian ini merupakan alat analisis mortalitas yang dipandang lebih baik. Karena itu tabel kematian ini tidak hanya digunakan untuk kepentingan demografi saja, tetapi dapat dipakai oleh bidang asuransi atau aktuaria untuk menetukan besarnya premi asuransi yang harus dibayar pemegang polis asuransi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan dalam pembuatan tabel kematian antara lain

  1. Kohor / generasi hanya berkurang secara berangsur-angsur karena kematian dan tidak ada migrasi masuk dan migrasi keluar
  2. Kematian anggota kohor / generasi menurut pola tertentu pada berbagai tingkat umur
  3. Kohor atau generasi berasal dari radiks tertentu
  4. Pada setiap tingkatan umur dari rata-rata orang meninggal mencapai pertengahan anatara tingkat umur berturut turut

Tabel kematian terdapat dalam dua bentuk, yaitu tabel kematian lengkap (complete life table) dan tebel kematian singkat (abridged life table). Perbedaan keduanya terletak pada rincian kelompok umur, tabel kematian lengkap memuat secara lengkap tiap kelompok umur menurut umur satu tahunan. Sedangkan pada tabel kematian singkat tidak diperinci tiap umur tetapi kelompok umur pada jenjang tertentu. Biasanya 5 tahun atau 10 tahun. Rumus :

l1 = l0 – (l0 x q0)                                   Lx =

L0 = 0,3l0 + 0,7l1 Px = 1 – qx

L1 = 0,4l1 + 0,6l2

Pada praktikum ini digunakan tabel kematian lengkap yang didalamnya terdapat tujuh kolom, yaitu :

  1. x, menyatakan umur. Penulisan tabel x dari angka terkecil ke angka yang lebih besar. Hal ini menyatakan bahwa semakin kebawah usianya semakin tua atau dapat dikatakan penulisan dari atas ke bawah merupakan dari usia paling muda (bayi yang baru lahir) dan semakin menurun usianya semakin tua.
  2. lx,menyatakan mereka yang bertahan hidup pada umur tepat x. Dari tabel lx dapat diketahui berapa banyak yang masih dapat bertahan hidup pada umur tertentu. Terlihat di tabel kematian diatas selisih antar baris satu dengan yang dibawah atau diatasnya tidak sama, karena jumlah kematian tiap kelompok umur tidak ama pula. Angka tersebut akan terusmenurun hingga nantinya kohor tersebut akan hanis karena semua nggota kohor telah mati.
  3. qx, menyatakan kemungkinan mati antara usia x dan x+1. Pada tabel kematian diatas angka-angka yang etrdapat di baris bagian atas an bawah lebih besar daripada yang ditengah. Karena kemungkinan terjadinya kematian lebih besar pada kelompok umur yang sangat muda dan atau sangat tua.
  4. Lx, menyatakan tahun kehidupan antara umur x dan x+1. Dari kolom tersebut dapat diketahui berapa jumlah orang yang tetap bertahan hidup pada umur tepat x. data tersebut umumnya diperoleh pada pertengahan tahun dengan asumsi bahwakematian dalam satu tahun merata. Pada life table diatas, semakin kebawah angkanya semakin kecil/ berkurang. Karena tabel Lx tersebut sangat dipengaruhi oleh lx sebagai faktor utamanya, sehingga apabila nilai lx kecil maka nilai Lx juga semakin kecil.
  5. Px, menyatakan peluang hidup pada umur x. tabel Px merupakan kebalikan dari tabel qx, dari tabel Px dapat diketahui seberapa besar harapan/ peluang hidup penduduk pada umur tertentu untuk bertahan hidup. Semua angka Px pada segala umur menunjukkan angka 0,9…. yang menunjukkan bahwa peluang untuk hidup dari setiap kelompok umur penduduk sangat besar. Dari tabel diatas, angka Px  yang terkecil adalah pada kelompok umur 0 tahun. Hal ini dikarenakan peluang hidup dari seorang bayi yangbaru lahir sangat dipengarhi oleh barbagai faktor, antara lain faktor ibu dan faktor lingkungan.
  6. Tx, menyatakan tahun total kehidupan setelah umur tepat x. Tabel Tx menunjukkan jumlah total orang yang bertahan hidup pada interval tahun tertentu. Data yang ada pada Tx mengalami penurunan yangs ama seperti pada kolom lx ataupun Lx. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perubahan drastis dari angka kematian pada tahun ke tahun atau dapat dikatakan jumlah penduduk dalam tahun-tahun tersebut merata atau tidak jauh berbeda. Terjadi demikian karena kemungkinan di daerah tersebut keadaan lingkungannya relatif stabil sehingga tidak berpengaruh besar terhadap jumlah kematian pada tiap tahunnya.
  7. eox, menyatakan angka harapan hidup atau jumlah rata-rata tahun kehidupan setelah umur x. Data eox menunjukkan seberapa besar harapan hidup yang dimiliki penduduk pada setiap tahunnya. Pada tabel kematian diatas terlihat bahwa terjadi penurunan angka harapan hidup dari baris atas ke bawah. Ini menunjukkan bahwa semakin tua usia seseorang maka angka harapan hidupnya makin kecil. Hal tersebut dikarenakan pada usia yang semakin tua memiliki daya tahan tubuh yang makin berkurang seehingga mudah terpengaruh dari dampak-dampak negatif lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan sehingga rentan terkena penyakit. Sedangkan di beberapa kematian terlebih dahulu didahului morbiditas (penyakit atau kesakitan).

Dalam artikel yang berkaitan dengan penyebab kematian disuatu wilayah yang merupakan hasil dari penelitian tentang mortalitas dan faktor yang mempengaruhinya, dalam hal ini kita dapat menemukan berbagai hal yang menyangkut tentang mortalitas dimana ada faktor dan pengaruh yang menyertai mortalitas.

Ukuran yang dijadikan pedoman untuk mengetahui keberhasilan suatu program dibidang kesehatan adalah ukuran mortalitas, sedangkan ukuran mortalitas itu sendiri yang sering digunakan yaitu angka yang menyatakan banyaknya pristiwa kematian dari suatu penduduk dalam jangka waktu tertentu. Berikut ini beberepa angka mortalitas yang dianjurkan WHO sebagi indikator status kesehatan yaitu :

  1. Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) sebagi indikator yang sangat berguna, baik untuk indikator status  kesehatan maupun untuk indikator keberhasilan pembangunan sosial. AKB tidak hanya mencerminkan besarnya masalah yang berkaitan langsung dengan kematian bayi, kondisi kesehatan lingkungan dan secara umum juga mencerminkan tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Di Indonesia AKB ditetapkan sebagai indikator umum status kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional.
  2. Angka Kematian Anak (AKA) atau child mortality rate lebih mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi kesehatan anak. Anga kematian anak cenderung tinggi pada keadaan higiene yang buruk, tingginya prevelensi penyakit menular pada anak, keadaan salah gizi dan tingginya insiden kecelakaan didalam atau disekitar rumah. Indikator ini lebih dapat dipakai untuk menunjukkan tingkat kemiskinan dari pada AKB.
  3. Angka Kematian Material (AKM) atau maternal mortality ratio (MMR) mencerminkan besarnya resiko mati seorang ibu selama masa kehamilan dan kelahiran. AKM merupakan indikator penting untuk status kesehatan ibu.

Berdasarkan kondisi geografis, angka kematian bayi lebih besar di daerah pedesaan, Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Perbedaan AKB (Angka Kematian Bayi) diperkotaan merupakan sisi lain yang dapat menggambarkan hubungan antar pencapain pembangunan dengan angka dalam memperoleh pelayanan kesehatan, di samping penyediaan fasilitas pendidikan dan tranportasi.

Pelayanan kesehatan yang kurang didaerah pedesaan mengakibatkan meningkatnya Angka Kematian Bayi (AKB), hanya sedikit tempat-tempat pelayanan yang mempunyai dokter-dokter ahli didalamnya sehingga apabila ada masalah kesehatan terutama yang bersangkutan tentang kesehatan bayi baik masih dalam kandungan maupun sudah lahir kurang ada penanganan yang baik.

Sedangkan di perkotaan terlalu banyak tempat-tempat pelayanan kesehatn yang apabila diraskan kurang seimbang dengan yang ada dipedesaan. Perbedaan yang terjadi pada hakekatnya mencerminkan perbedaan kecepatan pembangunan, baik daalm mengadopsi, melaksanakan maupun menikmati hasil pembangunan.

Berdasarkan kondisi geografis, angka kematian bayi dan anak lebih besar di daerah pedesaan. Hal ini berkaitan erat dengan fasilitas kesehatan dan keadaan gizi yang memang lebih baik dan cukup tersedia di daerah perkotaan dibanding pedesaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa angka harapan hidup waktu lahir cenderung lebih tinggi di kota daripada di pedesaan.

Pihak-pihak yang terkait dalan kaitannya upaya penurunan angka kamatian bayi dan anak adalah :

Pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat dalam kaitannya penurunan angka kematian bayi adalah Pemerintah dan dari pihak Ibu.

Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan pengatur masyarakat yang mewadahi segala aspirsi masyarakat, sudah barang tentu menjadi memiliki andil dalam penurunana angka kematian bayi. Kita dapat pahami bahwa angka kematian bayi dipengruhi berbagai faktor yang menyebabkan angka kematian bayi tinggi.

Dari faktor dalam yaitu dari seorang ibu sendiri, dan faktor luar seperti lingkungan, kebudayaan dan lain sebagainnya. Pemerintah menjadi sasaran utama apabila dalam suatu wilayah pemerintahannya jumlah angka kematian bayi masih tinggi. Oleh karena itu pemerintah sebagai pihak yang berkuasa dan berwewenang atas masyarakat membantu masyarakat untuk dapat menurunkan tingkat kematian bayi yang lahir.

Banyak cara yang dilakukkan oleh pemerintah antara lain sebagai berikut, pemerintah mendirikan pusat pelayanan kesehatan yang memadai di setiap desa atau kelurahan dnegan menenpatkan tenaga ahli seperti dokter, bidan, dan perawat yag sudah berpengalaman, pemerintah melalui dinas dan petugas kesehatan memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat tentang pentingnya higine dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan yang terakhir adalah pembangunan infrastruktur yang merata dan juga penyediaan fasilitas pendidikan dan transportasi dengan demikian pemerintah dapat menurunkan tingkat kematian bayi.

Pihak yang kedua adalah seorang ibu, seorang ibu menjadi fokus utama dalam upaya penurunan tingkat kematian bayi, seorang ibu yang sedang hamil misalnya untuk dapat menyelamatkkan bayi yang dikandungnya seorang ibu harus memiliki kriteria yang diwajibkan untuk memenuhinya yang pertama adalah asupan gizi selama masa kehamilan dan masa menyusui dan yang terpenting adalah pengetahuan atau pendidikan bagi si ibu itu sendiri. Karena dengan pengetahuan yang luas yang didapat dari proses pendidikan ataupun di dapat dari proses penyuluhan kesehatan akan sangat berarti dan bermakna. Si ibu akan sadar betapa pentingnya janin yang di kandungnya serta keselamatan dirinya.

Keterkaitan individu dengan angka kematian bayi berdasarkan data yaitu kematian bayi banyak ditentukan oleh berbagai faktor atau variabel diantaranya yaitu umur ibu saat melahirkan, paritas dan selang kelahiran, ketiga variabel tersebut yang secara langsung dapat mempengaruhi kematian bayi. Keterkaitan variabel individu dengan angka kematian bayi berdasarkan data tersebut adalah kematian bayi ditentukan oleh berbagai faktor (variabel), variabel- variabel yang terkait pada saat mengandung sampai melahirkan adalah :

  1. Kondisi ibu yang sehat pada saat mengandung akan sangat mempengaruhi kesehatan bayi tersebut dan apabila kondisi ibu pada saat mengandung sudah mencapai umur tua atau umur yang dikatakan belum belum saaatnya mengandung maka resiko kematian bayi akan besar.
  2. Selang kehamilan juga sangat berkaitan dengan resiko kematian anak karena anak yang dilahirkan dengan nomor urut makin tinggi mencerminkan umur ibu malahirkan yang makin tua.
  3. Berat badan bayi baru lahir juga mencerminkan apakah status gizi yang diberikan sudah cukup atau belum, karena kekurangan gizi mempunyai resiko tinggi kematian.
  4. Kunjungan ketempat kesehatan juga penting untuk mengetahui keadaan dan kondisi ibu dan bayi.
  5. Dan yang tak kalah pentingnya adalah penolong persalinan, karena penolong persalinan berkaitan dengan cara persalinan yang baik dan berkualitas sehingga mampu mengurangi angka kematian bayi.

Angka kematian di Indonesia ternyata masih cukup tinggi, adapun lima faktor penyebabnya adalah :

  1. Kesehatan, kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehtan mereka. Hal tersebut ditandai jarangnya masyarakat yang memeriksakan dirinya ketempat pelayanan kesehatan dan masyarakat hanya akan kedokter apabila sakit yang diderita sudah cukup parah. Hal itu disebabkan karena biaya untuk memeriksakan diri dan hal tersebut juga akan mempengaruhi angka kematian yang semakin tinggi.
  2. Perbedaan kondisi dan karakteristik setiap daerah. Perbedaan tersebut terjadi pada masyarakat pedesaan, karena biasanya masyarakat pedesaan kurang dapat perhatian dari pemerintah khusunya dengan minimnya tempat layanan kesehatanyang tidak memadai, dikarenakan kurangnya transportasi untuk kekota  memperoleh layanan kesehatan dan karena tingkat sosial ekonomi yang tidak mancukupi untuk mereka. Berbeda dengan masyarakat kota, mereka begitu mudahnya mandapatkan layanan kesehatan dan bagi mereka uang bukanlah masalah karena karena tingkat ekonomi yang cukup baik. Sehingga mengakibatkan resiko kematian besar di wilayah pedesaan.
  3. Perubahan penyakit yang dikarenakan adanya kecenderungan dengan berjalannya waktu penyakit degeneratif meningkat perannya, sedangkan penyakit infeksi berkurang perannya. Perlunya waspada terhadap peranan dari penyakit degeneratif bersamaan masih perlunya penanggulangan penyakit infeksi. Penanggulangan penyakit ala kadarnya sangat beresiko tinggi, hal ini terjadi karena masyarakat tidak mempedulikan penyakitnya dan hanya mengobati dengan obat seadanya dan hal tersebut biasanya terjadi dimasyarakat pedesaan disebabkan karena pusat layanan yang sedikit dan tidak memadahi, minimnya transpor serta kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan mereka untuk memeriksakan kesehatan kekota.
  4. Pendidikan, semakin rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka pengetahuan yang dia miliki pun juga sedikit. Kualitas pendidikan yang diperoleh juga sangat menentukan orang tersebut dalam mewaspadai dan menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan dirinya dengan gizi yang cukup. Hal tersebut dapat mengantisipasi dari segala macam penyakit. Perbedaaan orang yang berpendidikan pun juga sangat berpengaruh tentang bagaimana cara mereka melakukan pengobatan, khususnya kesadaran tentang memeriksakan kesehatan mereka kelayanan kesehatan.
  5. Perubahan struktur penduduk di Indonesia. Perbedaan pola kematian tersebut dapat menunjukkan adanya perbedaan dalam proses transisi demografi yang telah menyebabkan terjadinya perbedaan struktur umur penduduk. Misalnya : empat dari lima propinsi yang saat ini telah mencapai era pasca transisi vital, suatu era yang kondisi fertilitas dan mortalitas mereka mirip dengan negara maju terdapat di Jawa- Bali. Dipulau lain yang salah satu anggotanya Nusa Tenggara Barat, merupakan propinsi dengan AKB tertinggi.
  6. C. Fertilitas

Fertilitas adalah terlepasnya bayi dalam rahim seorang perempuan dengan tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya.

Pada praktikum ini akan membahas tentang fertilitas dan Keluarga Berencana (KB) di wilyah Tegal, Jawa Tengah. Penelitan yang dilakukan peneliti berada pada kabupaten Tegal, khususnya dilakukkan penelitian di dua kota kecamatan yaitu kecamatan Balapulang dan kecamatan Suradadi. Yang membuat peneliti tertarik adalah kasus ”aneh” yaitu angka pravalensi kontrasepse tinggi, tetapi tidak mengalami banyak perubahan, hal ini menjadi menarik karena dalam banyak pebicaraan kebijakkan sering terkesan bahwa peningkatan angka pravalensi selalu berarti penurunan fertilitas. Atau, sering diduga bahwa daerah dengan angka pravalensi tinggi juga harus mempunyai angka fertilitas yang tinggi. Kasus di Kabupaten Tegal ini menunjukkan bahwa kaitan angka pravalensi kontrasepsi dan fertilitas tidak selalu seperti yang banyak diduga dalam diskusi kebijakan kependudukan di Indonesia. Angka pravalensi yang tinggi bersamaan dengan sedikitnya perubahan fertilitas di Kabupaten Tegal ini disebabkan penggunaan kontrasepsi untuk penjarangan kelahiran (birth spacing), dan belum untuk membatasi jumlah kelahiran.

Karena pertumbuhan penduduk yang cepat, penduduk Kabupaten Tegal masih relatif muda, labih dari 2/5 penduduk masih berusia dibawah 15 tahun, sedangkan  12,5 % penduduk berusia 50 tahun keatas. Program Keluarga Berencana (KB) telah dimulai sejak Tahun1970. Child Woman Ratio (CWR) di Kabupaten Tegal pada Tahun 1980 masih tinggi. Di Kabupaten Tegal, walaupun angka kelahiran total masih sekitar 5,5 diantara Tahun 1967 dan 1970, penurunan fertilitas sembilan tahun beriktunya hanya sebesar 7,3 %.Pada Tahun1980 lebih dari 80 % penduduk Kabupaten Tegal usia 7-12 tahun telah bersekolah, biasanya tingkat pendidikan perempuan sangat berkaitan dengan usia kawin pertama mereka. Dan dari data menarik pada sensus penduduk Tahun 1980 di Kabupaten Tegal tidak pernah menggunakan kontrasepsi yang terendah terdapat diantara mereka yang berpendidikan tinggi.

Dari program-program tersebut ada pihak-pihak yang dianggap mempunyai pengaruh cukup dominan dalam mendorong seseorang untuk melaksakan Keluarga Berencana di daerah tersebut. Adapun pihak-pihak tersebut adalah :

  1. Kepala desa, dalam hal ini kepala desa sangat berpengaruh dalam mengajak serta mendorong masyarakatnya untuk melakukan program Keluarga Berencana. Tidak semua kepala desa bisa mempengarui masyarakatnya untuk melaksanakan KB, sehingga kepala desa harus memotivasi para ulama untuk melakukan pengaturan kelahiran.
  2. Ulama, dikarenakan sebagaian besar penduduk Kabupaten Tegal beragama Islam maka kebanyakan masyarakatnya meminta nasehat dan bimbingan dari para ulama, tidak saja mengenai masalah kemasyarakatan tetapi juga perihal masalah pribadi. Sehingga peran ulama disini cukup sangat berpengaruh dalam mendorong seseorang untuk melaksakan Keluarga Berencana.
  3. Pemerintah disini bisa menunjuk petugas lapangan yang bertugas menyampaikan informasi mengenai Keluarga Berencana. Karena sebagian besar penduduknya berpendidikan rendah dengan memperlihatkan bahwa penduduk adalah akseptor KB.
  4. Semakin besar pengaruh yang diberikan oleh para kepala desa sebagai tokoh formal dan ulama sebagai tokoh informal maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan program Keluarga Berencana (KB).

Program keluarga berencana tidak akan berhasil dengan baik bila program tersebut tidak dikenal dengan baik oleh masyarakatnya oleh sebab itu ada dua langkah agar program keluarga berencana berhasil, langkah pertama program diperkenalkan kepada penduduk dan diciptakan suasana yang mendukung program itu. Adapun pendekatan-pendekatan yang  dilakukan agar program Keluarga Berancana adalah pertama, pendekatan yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat melalui kepala desa, ulama ataupun tokoh lain yang dianggap cukup berpengaruh di daerah tersebut. Karena masyarakat lebih cenderung mengikuti tokoh-tokoh tersebut. Kedua, pemerintah juga bisa melakukan pendekatan melalui sarana pendidikan, dalam hal ini dimaksudkan dalam memperoleh pendidikan hendakya tidak hanya berisi tentang keagmaan namun juga tentang masalah yang berkaitan tentang pentingnya program KB. Ketiga, dilakukan kampanye besar-besaran tentang pentingnya penerapan program KB dalam sebuah keluarga

Dalam penelitian ini dibutuhkan kerangka analisis fertilitas sebagai berikut :

Gambar 4. Kerangka Analisis Fertilitas

Adapun faktor-faktor yang diperhatikan oleh peneliti dalam mempelajari pelaksanaan KB di Kecamatan Balapulang dan Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal adalah :

a)      Pendidikan

Rendahnya pendidikan penduduk dapat menjadi salah satu kendala dalam memotivasi penduduk untuk melaksanakan KB. Hal  tersebut disebabkan karena sulitnya memahami informasi yang disampaikan oleh pemerintah setempat, apalagi yang berhubungan dengan hal-hal yang baru. Sehingga diperlukan bantuan dari para ulama untuk membantu mengartikan informasi tersebut dan pendidikan informal dalam hal pengetahuan sosial dan umum.

b)      Usia Kawin Pertama

Tingkat pendidikan perempuan berkaitan dengan usia kawin pertamanya. Rendahnya pendidikan mengakibatkan banyaknya penduduk yang berstatus tidak sendirian lagi. Mereka lebih memilih untuk berkeluarga daripada untuk belajar. Faktor lain yang menyebabkan seseorang untuk menikah adalah karena adanya desakan dari orang lain.

c)      Usia

Apabila dalam suatu wilayah terdapat penduduk dengan usia produktif banyak, maka penyuluhan mengenai program pelaksanaan KB harus selalu diberikan kepada masyarakat mengingat pentingnya program tersebut.

d)      Jumlah anak yang perrnah dilahirkan

Menurut pendapat sebagian besar penduduk bahwa semakin banyak anak, semain banyak rezeki. Namun pendapat tersebut kurang sesuai dengan program KB yang hanya menghendaki 2 anak. Hal tersebut dimaksudkan bahwa dengan jumlah anak yang sedikit maka orang tua dapat mengoptimalkan kebutuhan anak sehingga dapat mendidik anak yang berkualitas secara fisik maupun mental.

e)      Ulama

Di Kecamatan Suradadi dan Kecamatan Balapulang ulama memiliki peran penting untuk memotivasi penduduk untuk melaksankaan program KB. Karena itu pemerintah setempat mencoba mendidik dan memotivasi para santri mengenai KB melalui kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian.

f)        Penyuluh kesehatan

Peran penyuluh kesehatan sangatlah besar dalam pelaksanaan program KB. Karena penyuluh kesehatan merupakan tenaga-tenaga ahli di bidang keluarga berencana. Sehingga informasi dari penyuluh kesehatan sangat penting disosialisasikan ke masyarakat secara benar agar tidak terjadi kesalahan penerimaan persepsi di masyarakat.

g)      Pemerintah

Pemerintah seharusnya memegang peranan penting dalam sosialisasi program KB ini kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah memberikan pendidikan kependudukan, termasuk keluarga berencana kepada orang yang berpengaruh pada tingkat desa agar orang-orang yang berpengaruh tersebut dapat membantu penduduk memahami informasi dan melaksanakan KB.

  1. Mobilitas

Migrasi merupakan suatu proses perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lainnya. Orang yang melakukan migrasi disebut sebagai migran.

Rumus tingkat migran masuk :

Kota x

Migran masuk adalah angka yang menunjukkan berapa banyak jumlah penduduk yang masuk dalam suatu kota, dari rumus ini kita dapat  menganalisis faktor apa saja yang menjadi fush dan full faktor migran masuk.

Tabel 6 Jumlah Migran Masuk Menurut Jenis Kelamin dan Total

Kota Jumlah migran masuk laki-laki

(%)

Jumlah migran masuk perempuan

(%)

Jumlah migran masuk total

(%)

A 13380 11121 24501
B 8574 6774 15348
C 16343 13841 30184
D 12165 9144 21309
E 13718 9573 23291
F 1336 1065 2401
G 3242 2680 5922
H 3839 2906 6745
I 21495 17884 39379
J 26001 24675 50676
K 8080 6100 14180
L 8038 5906 13944
JUMLAH 136211 111669 247880

Sumber : Laporan sementara

Dari data migrasi risen laki-laki terlihat bahwa jumlah yang paling banyak terdapat pada kota J yakni 238.121 yang berarti penduduk yang datang kekota tersebut pada periode 5 tahun yang lalu lebih besar dibanding jumlah migran yang datng ke kota lain. Hal ini disebabkan pada periode 5 tahun yang lalu di kota I banyak terdapat faktor produksi sehingga banyak migran yang datang. Oleh karenanya jumlah migran masuknya juga yang paling besar yakni 21.495 akan tetapi tidak begitu pada tingkat migrasinya yang hanya 10.919. sedangkan jumlah migran risen terendah ada pada kota F yang hanya 1336, yang mana jumlah migran masuknya juga rendah yakni 7,98.

Tabel 7 Tingkat Migran Masuk Menurut Jenis Kelamin dan Total

Kota Tingkat migran masuk laki-laki (%) Tingkat migran masuk perempuan (%) Tingkat migran masuk total

(%)

A 10,729 9,85 10,31
B 13,319 11,97 12,69
C 8,20 7,65 7,94
D 17,64 15,69 16,75
E 24,16 20,69 22,60
F 7,979 7,07 7,55
G 8,327 7,77 8,07
H 10,521 8,97 9,31
I 11,30 10,40 10,74
J 10,919 10,78 10,85
K 14,60 12,62 13,68
L 16,98 17,77 15,94

Sumber : Laporan praktikum

Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa tingkat migran masuk laki-laki banyak berada dikota D yaitu 17,641 dan paling sedikt di kota F yaitu 7,98. Hal ini menunjukkan penduduk di kota D didominas oleh migra masuk laki-laki dab sebaliknya pada kota F paling sedikit dihuni oleh migran masuk laki-laki.

Banyaknya tingkat migran perempuan yang masuk akan mempengaruhi fertilitas disuatu daerah dari data yang terlampir tingkat migran perempuan yang masuk tertinggi berada pada kota D sebesar 28,696 dan terkecil pada kota F yaitu 7,072. Tingkat migran masuk total merupakan gabungan dari tingkat migran masuk laki-laki dan tingkat migran masuk perempuan pada data tingkat migran masuk sedikit pada kota F yaitu 7,55  dan paling  banyak pada kota D. Hal ini dapat menganalisis seberapa besar tingkat migrasi suatu kota dapat menurunkan penduduk dan secara tidak langsung dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan program yang masuk pada suatu kota.

  1. Ketenagakerjaan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan besarnya prosentase partisipasi atau seberapa keaktifan angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja, cara menghitung TPAK adalah jumlah angkatan kerja dibagi penduduk usia kerja seperti yang ditampilkan pada rumus dibawah ini

TPAK  =

Tabel 8. Proyeksi Penduduk Usia Kerja Laki-Laki di Kalimantan Timur Sampai Tahun 2002

Gol Tahun
umur 2000 2005 2010 2015 2020
10-14 121935 131192 139628 139926 141491
15-19 130672 121372 130704 139186 139537
20-24 131348 133258 124064 133420 142193
25-29 136153 137479 139497 130353 139997
30-34 121750 141840 143687 145760 136684
35-39 102744 125957 146840 149126 151260
40-44 83688 105118 129164 150674 153264
45-49 63278 84284 106265 130872 152606
50-54 42295 62368 83488 105662 130208
55-59 26577 40518 60127 80932 102635
60-64 19688 24514 37699 56393 76209
65-69 11077 17148 21647 33732 50707
70-74 8294 8847 13947 17956 28192
75+ 6859 8951 10547 15344 21012
Jumlah 1006358 1142846 1287304 1429336 1565995

Sumber: Laporan Praktikum

Tabel 9. Proyeksi Penduduk Usia Kerja Perempuan di Kalimantan Timur Sampai Tahun 2002

Gol.

umur

Tahun
2000 2005 2010 2015 2020
10-14 115551 121600 132576 134775 135912
15-19 127133 115200 121328 132348 134577
20-24 132718 130090 118149 124267 135541
25-29 129830 138954 136430 124391 130712
30-34 108048 135005 144798 142348 130209
35-39 90838 111524 139351 149705 147299
40-44 67130 92635 114085 142538 153295
45-49 45372 67531 93373 115277 144053
50-54 31007 44920 67069 92934 115007
55-59 20323 30121 43859 65721 91316
60-64 17292 19260 28722 42084 63356
65-69 10372 15680 17645 26580 39274
70-74 7338 8739 13391 15305 23377
75+ 6244 8579 10977 16062 20667
Jumlah 909196 1039838 1181753 1324335 1464595

Sumber: Laporan Praktikum

Tabel 10.Proyeksi Angkatan Kerja Laki-Laki di Kalimantan Timur Sampai Tahun 2020

Gol. Tahun
Umur 2005 2010 2015 2020
15-19 45664 49642 53405 54088
20-24 110706 104103 113051 121661
25-29 133165 136024 128137 138580
30-34 140205 142800 144860 135840
35-39 125446 146689 148973 151105
40-44 104411 128894 150358 152942
45-49 83465 105783 130279 151914
50-54 60486 81656 104114 129177
55-59 37403 56018 76090 97363
60-64 21137 32813 49559 67619
65+ 25078 33463 49103 73922

Jumlah

887166 1017885 1147929 1274211

Sumber: Laporan Praktikum

Tabel 11.Proyeksi Angkatan Kerja Perempuan di Kalimantan Timur Sampai Tahun 2020

gol.

Umur

Tahun
2005 2010 2015 2020
15-19 31416 33459 36874 37880
20-24 60286 55260 58715 64696
25-29 58804 58299 53698 57004
30-34 57123 61874 61449 56784
35-39 50356 63632 69061 68645
40-44 43196 53703 67781 73641
45-49 32686 45652 56937 71876
50-54 21899 33065 46285 57863
55-59 14267 21002 31792 44625
60-64 8079 12160 17998 27374
65+ 10086 12994 18106 26301
Jumlah 378112 451100 518696 586689

Sumber : Laporan Praktikum

Rumus tingkat partisipasi angkatan kerja tahun x

Tabel.12.Tingkat/Angka Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Total Pada Periode Proyeksi.

Penduduk Tahun
2005 2010 2015 2020
laki-laki 75,43 76,47 76,88 76,65
perempuan 36,36 37,8 37,8 38,26
Total 56,82 57,61 58,08 58,1

Sumber : Laporan Praktikum

Dari penghitungan Tingkat / Angka Partisipasi Angkatan Kerja tersebut dapat diketahui bahwa Tingkat partisipasi Angkatan Kerja laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan perempuan. Hal tersebut terjadi karena adanya faktor-faktor penyebab diantaranya faktor ekonomi keluarga, jika dalam suatu keluarga tersebut kebutuhan ekonominya dirasa sudah mancukupi maka seorang ibu tidak perlu bekerja lagi. Faktor lain adalah tingkat pendidikan seseorang tersebut di dalam keluarga, semakin orang tersebut berpendidikan maka kebanyakan seorang ibu akan bekerja, namun di daerah Kalimantan Timur tersebut Angka Partisipasi Angkatan Kerja permpuan lebih rendah.

Dari data diketahui bahwa usia kerja yang telah bekerja sebagian besar adalah laki-laki. Penduduk perempuan yang bekerja hanya sekitar 40%. Hal ini dapat dipengaruhi karena faktor budaya, di Indonesia dianggap laki-lakilah yang wajib untuk bekerja.

Dari angkatan kerja total besarnya hanya sekitar 60%, berarti jumlah orang yang bekerja lebih dari orang yang tidak bekerja. Angka ini tidak terlalu tinggi. Dari angka tersebut dapat dilihat bahwa angka pengangguran relative tinggi. Hal tersebut dapat dilihat bahwa angka penganghguran relative tinggi. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena banyak penduduk antara umur 15-25 tahun masih melanjutkan studinya dan belum bekerja.

Dengan bertambahnya Tingkat/Angka Partisipasi Angkatan Kerja dari tahun-ke tahun manunjukkan bahwa semakin banyaknya pula lapangan pekerjaan yang dibutuhkan, karena apabila lapangan pekerjaan yang tersedia tidak cukup banyak maka angka pengangguran di daerah tersebut akan meningkat.

TPAK untuk penduduk laki – laki

Sementara itu untuk tiap-tiap jenis kelamin rumusnya menjadi sebagai berikut:

TPAK laki-laki =

Tabel 13. TPAK untuk Penduduk Laki-laki

No Tahun Angkatan kerja Penduduk Usia Kerja TPAK (%)
1. 2005 1.142.847 863.089 75,43
2. 2010 1.287.301 984.22 76,47
3. 2015 1.429.336 1.098.826 76,88
4. 2020 1.565.994 1.200.289 76,65

Sumber : Laporan Sementara

TPAK untuk penduduk perempuan

TPAK Penduduk Perempuan    =

Tabel 14. TPAK untuk Penduduk Perempuan

No Tahun Angkatan kerja Penduduk Usia Kerja TPAK (%)
1. 2005 278.112 1.039.836 36,36
2. 2010 438.105 1.181.753 37,07
3. 2015 500.591 1.324334 37,8
4. 2020 560.388 1.464.599 38,26

Sumber : Laporan Sementara

TPAK Total

TPAK  total   =                                               

Tabel 15. TPAK untuk Penduduk Perempuan

No Tahun Angkatan kerja Penduduk Usia Kerja TPAK (%)
1. 2005 1.240.201 2.182.683 56,61
2. 2010 1.422.528 2.469.054 57,61
3. 2015 1.599.417 2.253.670 58,08
4. 2020 1.760.677 3.030.588 58,10

Sumber : Laporan Sementara

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan besarnya prosentase partisipasi atau seberapa keaktifan angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Dalam hal ini angkatan kerja merupakan penduduk dalam usia kerja dan sikap yang siap bekerja walaupun belum mendapatkan pekerjaan. Penduduk usia kerja merupakan semua penduduk yang berusia lebih dari 10 th (usia produktif). Tingkat atau angka partisipasi angkatan kerja (TPAK) dapat dihitung melalui jumlah angkatan kerja dibagi penduduk dalam usia kerja dikalikan 100. Angka 100 merupakan konstanta untuk memperhitungkan dalam perhitungan.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki – laki di Kalimantan Timur menunjukkan angka yang relatif stabil antara tahun 2000 – 2020 yaitu ± 75 % – 76 % dan dari interval 5 th, relatif mengalami peningkatan walaupun sedikit, sedangkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pada penduduk perempuan di Kalimantan Timur juga relatif stabil dan mengalami pertambahan dari kurun waktu setiap lima tahun. TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) penduduk perempuan di Kalimantan Timur menunjukkan angka 36 % – 38 %. TPAK perempuan lebih kecil dari pada TPAK laki – laki. Hal tersebut menunjukkan jumlah penduduk laki – laki pada usia produktif lebih banyak daripada penduduk perempuan usia produktif. Analisi mengapa faktor laki – laki memiliki TPAK dikarenakan laki – laki dalam hal ini mendominasi dalam dunia kerja, disebabkan laki – laki merupakn tulang punggung penopang kehidupan keluarga.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja laki – laki total di dapat dari jumlah angkatan kerja laki – laki dan perempuan disuatu tempat tertentu. Dengan konstanta yang sama yaitu 100 sebagai pengali untuk mempermudah dalam suatu perhitungan. TPAK total di Kalimantan Timur dari interval kurun waktu 5 th mengalami peningkatan terus – menerus. Peningkatan TPAK total di Kalimantan relatif stabil, dapat dilihat dari peningkatan drastis yang bias menimbulkan suatu ketimpangan fakta tersebut.

Terlihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja total di Kalimantan sekitar 56 % – 58 %. Hal tersebut dapat diketahui lebih dari setengah penduduk di Kalimantan Timur merupakan penduduk yang aktif dalam dunia pekerjaan. Peristiwa tersebut harus di imbangi ketersediaan lapangan pekerjaan yang tercukupi. Bila lapangan kerja tidak tercukupi atau tidak seimbang dengan tingkat partisipasi angkatan kerja akan menimbulkan kemiskinan, kriminalitas yang meningkat, pengangguran.

Hal tersebut berdampak pada penurunan kesejahteraan sosial dan ekonomi, tetapi bila lapangan kerja seimbang maka akan tercapai kesejahteraan. Dimana rumus Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah sebagai berikut :

TPAK  =

TPAK laki-laki =

TPAK Penduduk Perempuan    =

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Sex ratio adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan.
  2. Angka beban tanggungan atau yang lebih dikenal dengan Dependentcy Ratio adalah angka yang menunjukkan perbandingan jumlah kelompok umur non produktif dengan jumlah kelompok umur produktif. Kelompok umur non produktif adalah interval 0 – 14 tahun dan > 65 tahun. Sedangkan kelompok umur produktif adalah 15 – 64 tahun.
  3. Berdasarkan persebaran penduduknya terdapat persamaan dan perbedaan anatra hasil sensus suatu wilayah pada tauhn 2000 dengan hasil sensus nasional tahun 2000, persamaannya adalah kedua hasil sensus tesebut tidak menunjukan angka yang berurutan antara kelompok umur. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) maupun perpindahan (migrasi) penduduk yang tidak sama tiap kelompok umur
  4. Bentuk piramida penduduk kabupaten Karanganyar yang ditampilkan tahun 1990 adalah piramida ekspansif. Pada tahun 2000 bentuk piramida yang divisualisasikan adalah bentuk piramida konstruktif, karena disini kita bisa melihat bahwa kelompok termuda jumlahnya sedikit.
  5. Ukuran yang dijadikan pedoman untuk mengetahui keberhasilan suatu program dibidang kesehatan adalah ukuran mortalitas beberepa angka mortalitas yang dianjurkan WHO sebagi indikator status kesehatan yaitu Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Anak, Angka Kematian Materal.
  6. Lima faktor penyebab angka kematian di Indonesia masih cukup tinggi : Kesehatan, Perbedaan kondisi dan karekteristik setiap daerah, Perubahan penyakit yang dikarenakan adanya kecendrungan dengan berjalannya waktu, pendidikan, perubahan struktur penduduk di Indonesia.
  7. Fertilitas adalah terlepasnya bayi dalam rahim seorang perempuan dengan tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya
  8. Kasus di Kabupaten Tegal ini menunjukkan bahwa kaitan angka pravalensi kontrasepsi dan fertilitas tidak selalu seperti yang banyak diduga dalam diskusi kebijakan kependudukan di Indonesia. Angka pravalensi yang tinggi bersamaan dengan sedikitnya perubahan fertilitas di Kabupaten Tegal ini disebabkan penggunaan kontrasepsi untuk penjarangan kelahiran (birth spacing), dan belum untuk membatasi jumlah kelahiran
  9. Pihak-pihak yang dianggap mempunyai pengaruh cukup dominan dalam mendorong seseorang untuk melaksakan Keluarga Berencana di Kabupaten Tegal adalah Kepala desa, Ulama, Pemerintah Setempat (Bupati, camat)

10.  Adapun faktor-faktor yang diperhatikan oleh peneliti dalam mempelajari pelaksanaan KB di Kecamatan Balapulang dan Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal adalah pendidikan, usia kawin pertama, usia, jumlah yang perna dilahirkan, ulama, penyuluh kesehatan, dan pemerintah setempat.

11.  Migran masuk adalah angka yang menunjukkan berapa banyak jumlah penduduk yang masuk dalam suatu kota. Migrasi merupakan suatu proses perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lainnya. Orang yang melakukan migrasi disebut sebagai migran.

12.  Migrasi risen laki-laki terlihat bahwa jumlah yang paling banyak terdapat pada kota J yakni 238.121 di kota J banyak terdapat faktor produksi sehingga banyak migran yang datang. Oleh karenanya jumlah migran masuknya juga yang paling besar yakni 21.495 akan tetapi tidak begitu pada tingkat migrasinya yang hanya 10.919. sedangkan jumlah migran risen terendah ada pada kota F yang hanya 1336, yang mana jumlah migran masuknya juga rendah yakni 7,98

13.  Jumlah migran masuk pada kota J juga lebih besar yakni 24.675 akan tetapi yang terendah pada kota K, bararti pada kota K sangat sedikit penduduk yang datang karena fasilitas produksi yang ada pada kota K hanya sedikit sehingga penduduk akan enggan melakukan migrasi kekota tersebut

14.  Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan besarnya prosentase partisipasi atau seberapa keaktifan angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Dalam hal ini angkatan kerja merupakan penduduk dalam usia kerja dan sikap yang siap bekerja walaupun belum mendapatkan pekerjaan.

15.  Proyeksi Tingkat partisipasi Angkatan Kerja laki-laki di Kalimantan Timur lebih besar jika dibandingkan dengan perempuan.

B. Saran

  1. Perlunya dikembangkan data kependudukan yang dapat disajikan sampai wilayah administrasi terkecil karena sangat berguna bagi perencanaan pembangunan. Karena sampaisaat ini hanya sensus yang dipakai sedngkan untuk registrasi sangat sulit.
  2. Perlu adanya peningkatan sarana prasarana yang lengkap di daerah-daerah terutama di bidang kesehatan sehingga dapat menekan angka kematian dan dapat juga memerkecil angka fertilitas.
  3. Adanya pendekatan kepada ulama, tokoh masyrakat dapat membantu dalam suksesnya pelaksanaan program-program pemerintah, seperti Sosialisasi Program Keluarga Berencana.
  4. Adanya percepatan pembangunan pedesaan dapat mencegah arus migran besar-besaran yang datang ke kota untuk memperbaiki kualitas hidup.
  5. Perlu adanya pembukaan lapangan pekerjaan yang dapat mengimbangi TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja), sehingga dapat menurunkan pengangguran, tindak kejahatan, dan kesenjangan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Ananta, A. 1993. Ciri Demografis kualitas penduduk dan pembengunan ekonomi. Lembaga demografi lembaga penerbit fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Anonim. 2006. http://www.papuaweb.org/ dlib/s123/lautenbach/_rk.html

Aris Ananta, dkk. 1991. Ketimpangan Pasar Kerja di Indonesia. Seminar Sehari Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta.

Handoyo, budi. 2006. Data Kependudukan. (http://www.malang.ac.id/e-learning/FMIPA/Budi20Handoyo/dinamika.htm).

Lucas, David. 1984. Pengantar Kependudukan. UGM Pers. Yogyakarta

Mantra, IB. 2004. Demografi Umum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

M. P Tuanaya Tjondronegoro Umar Said Rusli. 1981. Ilmu Kependudukan. Erlangga. Jakarta.

Mc Donald, Peter 1984. Pengantar Kependudukan. UGM Pers. Yogyakarta

Rusli, S. 1985. Ilmu Kependudukan, Suatu kumpulan bacaan. Erlangga. Jakarta

Tjiptonerijanto Rozy Prijanto Munir. 1986. Penduduk dan Pembangunan Ekonomi. Bima Aksara. Jakarta.

Young, Elspeth. 1984. Pengantar Kependudukan. UGM Pers. Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: