PENGARUH GLOBALISASI DI INDONESIA

Adalah wajar jika setiap saat kerap diucapkan, digagas, bahkan dicoba dirumuskan paradigma baru dari komunitas tertentu untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi setiap saat, khususnya pasca Reformasi. Paradigma baru sesungguhnya tidak memiliki makna sesederhana diucapkan. Dalam rumusan Capra, “paradigm is a constellation of concepts, values, perceptions and practies ha red by a community, which forms a particular vision of reality that is the basis of the way a community organises itself” (Fritjof Capra, 1976). Sebagai contoh bagaimana cara sebuah paradigma­khususnya paradigima yang merupakan bagian utama dari suatu kebudayaan dapat mempenganuhi pensepsi dan maksud agar seseorang diingatkan kembali untuk melakukan telaah bersama dengan yang lain, yg berkaitan dengan kebudayaan itu sendiri.

Dengan mengkaitkan perkembangan ilmu pengetahuan, paradigma merupakan contoh atau pertanyaan yang terus menerus mendasari penyelidikan untuk beberapa lama sebelum dapat terjawab, dan sepanjang penyelidikan menyebabkan hasil lain sebagai sambilan.

Pesan yang ingin diajukan dari penjelasan diatas berupa pemahaman bahwa paradigma dapat menjadi pengikat moral karena melahirkan visi realistik sebagai hasil pemikiran kritis untuk antisipasi perubahan keadaan, dan sekaligus menjadi pendorong agar senantiasa terbuka untuk melakukan telaah kembali atas konsep, nilai, tindakan dan lain-lain yang telah ada. Paradigma tidak lain sebuah proses yang senantiasa bergerak maju, produk berpikir yang dialektis, seiring dengan proses adaptasi terhadap perkembangan masyarakat. Maka tepat kiranya apa yang pernah diungkapkan oleh YB. Mangunwijaya, yaitu Paradigma lebih menitik beratkan pada sistem berpikir untuk menyikapi perkembangan keadaan, Bila demikian rumusannya, maka dengan bijaksana kita harus meletakkan paradigma diposisi yang mendasar, karena nantinya akan menjadi acuan setiap pemikiran, program maupun langkah. Selama paradigma tertentu dirumuskan dan disepakati, selama itu pula paradigma akan menjadi “pagar” bagi komanitas yanq menyepakatinya.

Strategi pembangunan di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga kini pada dasarnya di pengaruhi oleh Teori Pembangunan Dunia Ketiga yaitu Teori Modernisasi dan Teori Dependensia (Ketergantungan). Teori Modernisasi berakar dari paradigma pembangunan Struktural, sedangkan Teori Dependensia berakar dari paradigma pembangunan Konflik.

Sementara itu moderninasi mewarisi pemikiran teori evolusi dan teori fungsionalisme dengan tokoh-­tokohnya misalnya Talcott Parson, Max Weber, WW Rostow dan lain-lain. Teori Dependensia lahir dari dua induk, pertama berasal dari pemikiran ahli ekonomi liberal Raul Prebisch sedangkan yang kedua berasal dari teori-teori Marxis tentang Imperialisme dan Kolonialisme, serta seorang pemikir Marxis yang merevisi pandangan Marx tentang cara mengurai hubungan negara dunia ketiga dengan negara maju, serta memberikan makna tentang pembangunan bagi Negara Dunia Ketiga.

Kedua Teori yang berakar dan dua Paradigma diatas melahirkan strategi pembangunan yang berbeda pula di Negara Dunia Ketiga. Di Indonesia, secara bergantian keduanya pernah diterapkan secara bergantian, yang terbagi dalam dua dekade besar yaitu 1945-1966 dan 1966-1990-an. Sedangkan sejak 1990-an hingga sekarang kita menggunakan strategi pembangunan campuran.

Strategi Pembangunan campuran ini ditandai antara lain oleh hal-hal berikut :

1)      Kita masih membuka tangan bagi masuknya modal asing, walaupun selektif;

2)       Kita masih mengandalkan investasi, khususnya dari luar, untuk perluasan lapangan keria;

3)      Defisit APBN tidak ditutup oleh pinjaman luar negeni tetapi oleh pemasukan pajak;

4)      Indonesia keluar dari konsep IMF;

5)      Indonesia mengandalkan Kebijakan Otonorni Daerah untuk meningkatkan pemerataan dan pendapatan daerah, meski tetap mempertahankan kebijakan Pembangunan Berkelanjutan;

6)      Secara serius mengandalkan pembiayaan pembangunan proyek­-proyek termasuk proyek infrastruktur kepada swasta.

Indonesia negara yang sangat luas dan besar, mungkin bisa memberikan jabaran bagaimana peliknya proses dan keinginan penegakan hukum di negara kita ini. Tidak jarang malahan sering tersirat bahwa konflik dan usaha penyelesaiannya majemuk, memuat beberapa kalau tidak semua jenis hukum tersebut’diatas. Jelasnya diuseg-useg oleb pelaku-pelaku proses, ditentukan kepentingan dalam menutupi kelemahan/kekurangan diri pelaku proses, dicampur-adukkan, dibuat tidak transparan, cenderung dibuat di luar pengadilan. Dibuat skenario kejadian, rekonstruksi kejadian yang cocok dengan konsep output proses, yang terjadi adalah pembenaran, bukan pencarian kebenaran. Sikon yang menunjang ketidak puasan, kebingungan, kekecewaan, kecemasan, was-was bukan saja di pihak yang terkait yang kemudian menimbulkan sikap apatis mendalam di kalangan masyarakat umum. Selama tertib pranata ini tidak ditangani secara menyeluruh di riset dan diurai, untuk diidentifikasi jelas mana yang perlu dibuang. diperbaiki, disempurnakan, dirawat ditata, disusun kembali, dibuatkan kelengkapan hukum dan peraturan yang memadai dan dapat dengan jelas menunjang kehidupan waktu sekarang. Keadaan tidak menentu terus berkesinambungan tanpa proses-proses peradilan/pengadilan (berani) membuat keputusan jelas (untuk saat itu) yang bisa atau justru dihindari karena jelas tidak beres, menjadi bagian kumpulan data yurisprudensi hukum sipil kita. Kita bicara tentang pranata hukum, -tata negara, -sipil, -perdata, -pidana, dsb. termasuk keselarasannya (sinkron) dan/dan dengan induknya (yang perlu dan sudah dibenahi pula), yaitu UUD yang nyata bukan benar. Nyata dan benar dua hal yang lain, belum tentu dua sisi dari satu keping uang, justru proses peradilan mencari apa yang benar, mencari kebenaran dengan memuat nurani dan social-conciousness, populernya: keadilan sosial.

Pranata hukum dalam pelaksanannya mengikuti azas juris-prudensi, keputusan pengadilan/keadilan/justice selalu mengikuti dan menguatkan keputusan-keputusan yang telah dibuat sebelumnya. Bila disimak masalah yang dihadapi Indonesia, sejarahnya republik dan sebelumnya yaitu zaman kolonial Hindia-Belanda, maka hampir semua masalah hukum yang dihadapi reformasi total (revolusi kedua republik kita selain revolusi kemerdekaan 1945 yang telah lalu) ini berlayar tanpa juris-prudensi dalam hal-hal sbb.:

1) pimpinan, atasan maupun (eksekutif/legislatif/yudikatif) pemerintah yang keliru menjalankan tugasnya (say ‘good govemance’ pimpinan, atasan, maupun komandan angkatan bersenjata maupun polisi yang keliru menjalankan tugasnya, menyalahi UUD, hukum yang ada, hak azasi manusia (dsb.);

2)      perkara KKN, korupsi, kolusi, nepotisme yang diwujudkan oleh pemerintah-swasta, swasta-swasta, pemerintah-masyarakat, swasta-masyarakat, masyarakat-masyarakat, society-community, society-society, community-community, oknum pribadi-pemerintah, idem-swasta, dst;

3)      money-laundering, perkara pencucian uang (spekulasi valuta, berdagang senjata, SDM termasuk prostitusi, narkotika dan usaha judi); terorisme.Dua yang disebut terakhir diatas, money laundering dan terorisme, tidak mempunyai negara atau domicile dan lepas bebas berkecamuk di seantero dunia, melintas batas laut, darat dan udara negara berdaulat.

4)       perusakan sumber daya alam, laut, hutan, gunung, sungai, tambang, air, pantai, hayati;

5)      perusakan sumber daya manusia (+jual beli narkotika, +jual beli tenaga kerja, +jual beli senjata + usaha judi, brain drain), sistem pendidikan yang kurang dana, kurang R & D (research & development); kurang gizi, penyakit menular knonis, kematian ibu dan bayi, dst;

6)      penyelundupan hasil bumi, hasil laut, hasil hutan, hasil industri, hasil tambang.

Dalam beberapa hal penting/utama tersebut diatas tidak atau belum ada (?) juris-prudensi di Indonesia. Karena itu prosesnya macet total, macet besar, dan macetnya di debat arti adil, benar yang disandarkan ke proses dan prosedur serta sebutan-sebutan konstitusional dan/atau inkonstitusional, tidak sesuai dengan juklak/peraturan yang ada, hukum positif (hukum yang tanpa nurani atau tanggung jawab sosial). Memang sebenarnya fungsi pembaharuan atau revolusi dan evolusi adalah mendobrak yang tidak sesuai/tidak cocok dengan kehidupan bersama baru yang dikehendaki demi keselamatan tatanan kehidupan di hari depan, di abad depan, di miilenium nanti.

Reformasi total menghadapi lawan dan pertahanan kelompok statusquo, kehidupan mapan yang kemarin, jadi ternyata kita belum merdeka! Belum bebas dari himpitan dan cekik sejarah kemarin bukan kemarin selama kurang Iebih dari 30 tahun zaman ORBA saja, tetapi kemarin-kemarin lagi, yaitu sisa semangat atau spirit/soul zaman kolonial termasuk sistem feodal, premordial budaya layer cake yang disatu sisi (benarkah?) merupakan asset sejarah dan budaya tetapi juga merupakan belenggu u kehidupan berbangsa dan bernegara; tetapi yang lebih lagi adalah cengkeraman unsur-unsur kolonial yang setelah menikmati kemajuan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi atau informatic serta manajemen, kedua-duanya mengglobal, kedua-duanya adalah jaringan internasional di akhir millennium kedua sudah mantap menjelma jadi neo-kotonialisme dari sistem kolonialisme sebelum perang dunia ke-2.

Merekalah yang menjadi pemeran dan penggerak membentuk globalisasi, dinamika penguasa dan pengusaha global, bersatunya uang (money) dan kekuasaan (power) disertai perilaku dan kekejaman bertindak sama dengan perilaku mafia, mafia yang sangat terdidik dan berpendidikan. Sangat berbeda memang ciri-ciri, besaran volume, luas dan dampak akibat sepak terjangnya bila kita bandingkan globalisasi zaman kolonial sebelum perang dunia ke-2 dan kekuatan globalisasi neo­kolonial di akhir millennium ke-2 sesudah perang dunia ke-2. Cengkeraman yang cenderung total, pilihan bila ada atau masuk pagar atau berada di luar proses jadi penonton dan ditempatkan sebagai non-person menuju ke kepunahan.

Selain kekuatan telanjang/brut-power yang dahsyat yang dilengkapi dengan pranata dan prasarana yang tiga sampai empat kali besaran dan jumlah orangnya, termasuk peralatan hasil mutakhir teknologi dan ilmu pengetahuan (IPTEK) yang proses dan produknya selain sudah dipakai oleh gugus militernya, kini sudah dilimpahkan kepada masyarakat sipil dan swasta-umum menjadi komoditi komersial dalam men unjang sistem dan mekanisme jual beli dan kuasanya. Sistem demikian ini tidak kenal batas wilayah regional, nasional; kancah operasinya mendunia, global; justru karena itu terjadi fenomena dahsyat dan itulah yang disebut globalisasi, sistem sangat canggih atau sophisticated beserta lanjutan perkembangannya, bila dibandingkan dengan mesin zaman kolonial pra-perang dunia ke-2.

Banyak unsur-unsur atau sarana globalisasi yang masih tidak terjaring/tidak terjangkau oleh pranata hukum, mereka bisa beroperasi di luar hukum, atau sistemnya belum dimasuki/ditata oleh hukum, termasuk internet money laundering, terorisme/teror. Kasus ini contoh bagus untuk meng-ilustrasikan dilema masa kini:

pertama, bahwa tekno!ogi, terapan ilmu pengetahuan oleh para insinyurnya telah melejit berhasil membuat alat atau mesin-mesin/perkakas besar maupun kecil sampai ukuran mikro dan nano yang bila dijalankan/dipakai oleh para scientist/ilmuwan dalam menempa rumusan-rumusan! lanjutan/ perkembangan/riset ilmunya ataupun teorinya/presumption-nya. Alat-alat canggih yang dipakal ini bisa menghasilkan atau mempunyai output’keluaran seperti apa, masih “X” belum tahu! Jadi mesin/alat mendahului teori, yang kemarin. Di abad-abad yang lalu, yang sudah terjadi adalah teori dan keluarannya menjadi umpan engineer dalam membuat mesinnya. Sekarang mesin/alat perkakas membantu scientist dan justru bisa membuka ke penemuan/ke kemajuan IPTEK. Pengertian yang menunjang ini adalah research & development atau R & D.

kedua, adalah bahwa sistem baru yang sudah jalan dan beroperasi penuh, terutama limpahan dari defense industry, sudah (langsung) menjadi commodity konsumen, seperti GPS Internet dsb. Masih banyak yang belum mempunyai pranata hukumnya. Dalam kasus ini jurus virtual-reality bisa mengecohkan kehidupan sistem-sistem kerja yang sudah berpola/mapan dan seimbang­-tenang, stabil. Disini mungkin sepertinya ilmu sosial/humaniora termasuk sosiologi/psikologi, ekonomi, hukum, antropologi, dsb. bisa dikatakan masih dapat dikecohkan oleh hasil perkembangan teknologi & ilmu pengetahuan atau peralatan/prasarana teknik mekanik otomatis robotik. Belum lagi kami bicara di bidang BIOTEK, genetika, cloning, trans-genetik dst.

Bagaimana mencari, menemukan cara atau kiat dalam membantu keluar dari SIKON yang sangat mencemaskan, mencekam dan membingungkan, menyesatkan dan mematahkan kemauan dan semangat untuk bernalar, bekerja

berusaha, bergerak, beraksi, dan bagaimana bisa terjadi atau dibentuk sinergi. Apakah sinengi bisa punya arah? convergent? Bagaimana Iingkungan/masyarakat. yang apatis bisa dibangunkan? Bisa bergerak hidup Iagi?, apakah semua ini benar? evolusi? atau bila bergegas jadi revolusi? berkepanjangan? satu generasi atau beberapa generasikah lama proses reformasi total itu?

Bagaimana perubahan nilai-nilai bisa dijamah untuk dapat menggulir terjadinya perubahan sikap dan perilaku? Dengan mengharap bisa terjadi perubahan dalam bertindak dan membuat keputusan.

Apakah hanya lewat pendidikan suatu perubahan seperti tersebut diatas dapat terjadi?

Bukankan yang sudah melewati pendidikan formal justru perlu waktu untuk menanggalkan apa yang telah didapatkan sebagai pengetahuan dan skill/ketrampilan dari pelatihan-pelatihan (kerja)? menanggalkan balast untuk mampu berfikir jernih dan baru, berpikir lain dari hasil pemikiran karatan kemarin.

Sudah begitu jauhkah pendidikan formal telah menyimpang dari keadaan nyata/kenyataan kehidupan yang sebenarnya? Apakah ini bukan janji-janji atau trauma kejadian-kejadian 1997-’98-’99 sampai sekarang dan juga setelah masuk proses reformasi total/revolusi ke-2 RI; suatu keadaan incapacity to start to think things over Apakah diperlukan kawan kelompok lain untuk lepas dari cengkeraman kemandegan yang memacetkan pemikiran ini? memacetkan kreatifitas? memacetkan harapan?

Dengan tetap berada di kelompok kerja, institusi atau bekerja dengan rekan sejawat didalam lembaga itu, bisakah terjadi perubahan yang dimaui? Bisakah secara bersama-sama mengubah sikap lewat bekerja bersama secara menerus? yang sustained atau bertahan-kelanjutan (tahan sakit, tahan beban, tahan derita, tahan uji, tahan jujur, tahan adil, tahan benar, konsisten, konsekwen?) Perlu damai, perlu cerah, perlu semangat tinggi, perlu sehat!

Ragu, kurang percaya diri, bingung adalah prasyarat untuk seorang dapat masuk ke pemikiran ulang, pemikiran kembali, menganalisa fenomena dan kejadian-kejadian dimana dia berada, ditimpa, dipaksa ‘mau tidak mau’ masuk, terlibat ikut serta, dan malahan menjadi korban, kehilangan arah, harapan; kehilangan saudara, kawan, harta-benda, mungkin semua yang dulu dicintainya, disukainya; kehilangan kesempatan menjadi peserta aktif atau mungkin pendekar perubahan yang dimaksudkan oleh refonmasi total menuju perubahan besar tuntutan revolusi ke-2 RI ini. Kenapa ini revolusi? Karena telah berjatuhan korban dimana-mana, mati atau disingkirkan proses. Semua revolusi cenderung kejam, tidak memperkenankan ampun, pengampunan, mati atau dibuang tidak dipakai lagi karena tidak bisa berguna atau tidak pernah bisa berguna, tidak bisa ikut atau mengikuti tuntutan perubahan besar ini. Mungkinkah tidak tahu, atau tidak mau tahu?

Apa sebenarnya kesempatan atau peluang yang ada dan terjadi justru karena proses besar dan dahsyat ini sedang melanda nusantara. Malahan saat ini rupanya telah melanda dunia. Ragu, juga angst terlibat, terasa dan terbaca dimana-mana. Semuanya mencemaskan pemerintah mereka asing-masing. Pemerintah kota berada di minus, pengeluaran (kewajiban/beban) lebih besar dari pemasukan/penghasilan atau kemampuan menarik dana atau pajak. Mereka semua berhutang dan membuat bonds yang harus dibeli oleh masyarakat luas, mereka (pemerintah) hanya bisa semoyo, berjanji yang tertunda, menunda janji, dengan risiko penuh nanti tidak bisa menepati janji itu; bila hal ini jelas-jelas sudah nyata diketahui dan diperhitungkan pada awalnya, maka yang terjadi adalah pembohongan publik dan bila ini ter-rencana, karena tahu implikasinya adalah negatif, bila jelas nanti bila bonds jatuh tempo jadi cash lagi tidak bisa menutup hutang, jumlah besar dari penjualan bonds, menarik uang publik dari masyarakat, hal ini cenderung jelasnya disebut suatu penipuan besar, suatu crime, suatu kejahatan. Belum ada yurisprudensi? Jalan terus? Yakin?!

Tiga kata, nilai-nilai, sikap dan perilaku diuraikan oleh alm.DR Harsya Bachtiar. Urutan ketiga kata tersebut diatas tidak bisa dibalik, mengalir ke kanan. Pada saat ini, dimana dituntut oleh perubahan besar reformasi untuk beli-waktu dan benkonsentrasi memikir yang pokok-pokok dengan adil, jujur dan benar, masuklah urutan kata yang baku itu. Perubahan dimulai dengan mengubah nilai-nilai yang dianut pribadi, kelompok, masyarakat dan bangsa

Nilai (hidup) bisa ditimba dari ilmu agama dan IPTEK termasuk pengetahuan empirinya, dua-duanya majemuk dan dalam sejarah/dimensi waktu mengalami perubahan-perubahan yang besar. Masing­masing agama bersejarah ribuan tahun, dalam pada itu IPTEK secara terjaI di abad ke-20 mengalami perkembangan luar biasa. Menengok juga sebelumnya ke bangkitnya renaissance, kebangkitan seni, ilmu pengetahuan & teknologi 1630. Mungkin bisa dicatat di Barat abad ke-17, dengan Renaissance terpicu dan terpacu dan tergalang perkembangan IPTEK yang mengubah budaya dan peradaban (civilisation) di seluruh dunia.

Telaah sederhana kemajemukan nilai-nilai dapat dilihat sebagai berikut Jumlah nilai paling sedikit enam (6), memang bisa dikembangkan s/d dua betas atau lebih. Kali ini kita mengambil yang minim, jumlahnya enam (6) yaitu:

1)         Nilai-nilai-agama (religious)

2)         IPTEK lImu pengetahuan & teknologi

3)         Sosial (solidaritas)

4)         Ekonomi

5)         Keindahan (aesthetical)

6)         Politik

Bila kita juxtaposed-kan berhadapan (cakra) bisa demikian konfigurasinya: Mengubah nilai (values), sikap (attitudes) dan perilaku (behaviour) pada diri kita, kelompok kita, community kita maupun society kita, mungkin dan tentu bisa dimulai dengan mengubah nilai-nilai dalam diri kita masing-masing, !ewat pengkajian kembali seluruh rangkaian perjalanan hidup, dengan sikap damai, jujur, benar, dan terutama tabah, berani serta sabar. Mampu berperilaku, membuat keputusan-keputusan yang arif, bijak dan adil. Mampu bersikap terbuka, mau mendengar dan mengerti sejarah kemajemukan pendapat dan keragaman berpikir yang berbeda, mengisyaratkar arahan-arahan membuka kesempatan dan memberikan kehidupan dan dinamika pengembangan (development) yang bertahan kelanjutan, berdamai dan menjunjung keseimbangan lingkungan alam, sosial budaya.

Sarana realisasi perubahan diri, lingkungan dekat, masyarakat community maupun society di zaman serba canggih, sekarang dan nanti, tidak lain adalah kesempurnaan komunikas

Yang dimaksud beserta seluruh perangkat prasarana, alat SDM, jangkauan penyampaian dan penerimaannya dan terutama dengan menggunakan bahasa sopan, singkat, jelas, Iancar dan gamblang, dimengerti pihak-pihak yang berkepentingan maupun yang sekedar mendengarkan, saat itu maupun nanti. Perubahan perlu segera dikomunikasikan. Perubahan selalu memerlukan penyempurnaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: