PENGETAHUAN LOKAL DAN BUDAYA LOKAL Sebagai Variabel Utama dalam Pembangunan

PENDAHULUAN

Diantara fenomena atau wujud kebudayaan, yang merupakan bagian inti. Kebudayaan adalah nilai-nilai dan konsep-konsep dasar yang memberi arah bagi berbagai tindakan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila masalah ini menjadi agenda pembicaraan yang tidak henti-hentinya, terutama ditengah masyarakat yang sedang berkembang karena kebudayaan dalam keseluruhannya akan terkait juga dengan identitas masyarakat yang menghasilkannya. Masalah itu bahkan menjadi begitu penting jika dikaitkan dengan dan dimasukkan dalam perspektif pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam perspektif historis, kita sebagai bangsa telah mengalami berbagai dan berulang kali proses akulturasi, yakni tatkala kita bersemuka dengan kebudayaan-kebudayaan besar dari luar Indonesia. Akulturasi besar yang terjadi pada masa lampau memberikan bahwa kita sebagai bangsa mampu menyaring dan menyesuaikan unsur asing itu ke dalam tata kehidupan dengan cara sedemikian rupa, sehingga terasa layak dan cocok serta tak terpaksaan.

Perubahan cepat dalam teknologi informasi telah merubah budaya sebagian besar masyarakat dunia, terutama yang tinggal di perkotaan. Masyarakat diseluruh dunia telah mampu melakukan transaksi ekonomi dan memperoleh informasi dalam waktu singkat berkat teknologi. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar mampu memperoleh kekuasaan melalui kekuatan militer dan pengaruh ekonomi. Bahkan perusahaan transnasional mampu menghasilkan budaya global melalui pasar komersial global.

Perubahan budaya lokal dan sosial akibat revolusi informasi ini tidak dapat dielakkan. Masyarakat perkotaan yang memiliki akses terhadap informasi merupakan kelompok masyarakat yang langsung terkena pengaruh budaya global.

MAKNA KEBUDAYAAN

Dalam antropologi, budaya ialah pola perilaku dan pemikiran masyarakat yang hidup dalam kelompok sosial belajar, mencipta, dan berbagi. Budaya membedakan kelompok manusia yang satu dengan yang lainnya. Kebudayaan bukan dipandang sebagai suatu realitas kebendaan, tapi persepsi, pemahaman atau konsep untuk melihat, menangkap dan bahasa manusia modern untuk melihat keberadaannya. Dengan kesadaran, konsep dan bahasa tersebut manusia memberikan makna pada dunia yang dilihatnya.

Budaya lokal adalah budaya yang berlaku dalam lingkungan atau kelompok tertentu baik dalam lingkup kecil, menengah dan besar. Lingkup kecil misalnya paguyuban, desa, kecamatan dan sekitarnya atau kabupaten kota, sedang atau menengah misalnya provinsi dan sekitarnya dan besar negara dan sekitarnya. Berbicara budaya lokal, ada baiknya untuk sementara membatasi pada makna-makna ini bukan takdir yang statis dan tak dapat ditawar-tawar. Bentuk dan isi makna ini dapat berubah sesuai keinginan manusia.

Pembangunan Sebagai Proses

Pembangunan sebagai suatu proses pada hakikatnya merupakan pembaharuan yang terencana dan dilaksanakan dalam tempo yang relatif cepat, tidak dapat dipungkiri telah membawa kita pada kemajuan iptek, pertumbuhan ekonomi, peningkatan kecanggihan sarana komunikasi, dan sebagainya. Akan tetapi, pada sisi yang lain, pembangunan yang hanya dipadu oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan keamanan, yang dalam kenyataan telah meningkatkan kesejahteraan sebagian (kecil) dari keseluruhan kehidupan bangsa kita, telah pula menciptakan jarak yang lebar antara si kaya dan si miskin, antara kecanggihan dan keterbelakangan. Oleh karena itu, penyimakan yang cermat dan seksama terhadap masalah-masalah budaya yang muncul mengiringinya merupakan suatu hal yang sama sekali tak boleh diabaikan.

“Kebudayaan merupakan bagian yang fundamental dari setiap orang serta masyarakat dan karena itu pembangunan yang tujuan akhirnya diarahkan bagi kepentingan manusia harus memiliki dimensi kebudayaan”. Hakekat dan martabat suatu bangsa, disamping hal-hal lain, juga ditentukan oleh tingkat kebudayaannya. Demikian pula, keunggulan budaya suatu bangsa, begitu bergantung pada daya dukung masyarakatnya. Sebagai pewaris sekaligus sebagai agen kultural yang hidup dari berkembang ditengah masyarakat tersebut. Dalam konteks semacam inilah situasi “sadar budaya yaitu disatu sisi, kesadaran terhadap keserba anekaan bahwa kita sebagai bangsa tidak pernah selalu bersifat singular, tetapi plural, sementara pada sisi lain, kitapun tidak bisa mengisolasi diri untuk diaktualisasikan lewat berbagai upaya yang dimungkinkan, termasuk didalamnya lewat “pendidikan” apapun bentuk pendidikan itu formal, informal.

Sadar Budaya

Apabila situasi sadar budaya tersebut diupayakan lewat pendidikan, penyelenggaraan pendidikan harus memberi ruang dan peluang bagi subjek-subjek yang terlibat didalamnya masuk dalam dan terlibat pada proses tertentu yang sifatnya dinamik. Artinya, hal itu menjadi sebuah proses yang memungkinkan adanya perubahan manusia Indonesia memasuki situasi sadar budaya sebagaimana diidealisasikan. Persoalannya, nilai-nilai tersebut masih menjadi perdebatan.

Dalam kaitan tersebut paling tidak terdapat dua macam pandangan, pertama, adanya pemikiran yang mempertimbangkan kehidupan manusia mengenai tata ekonomi dan tata informasi yang disebabkan oleh globalisasi. Pemikiran kedua, mewaspadai berbagai akibat yang mungkin timbul dan tidak menguntungkan bagi wilayah-wilayah kehidupan yang tidak berada di jalur utama. Mereka yang tetap menghayati nilai budaya lokalnya dikhawatirkan akan menjadi kaum marginal yang kurang dimunculkan dalam kontelasis informasi dunia dan seringkali kurang diuntungkan secara material. Oleh karena itu, upaya untuk mendudukkan jati diri bangsa, yang ditandai oleh kebudayaan, akhirnya menjadi isu kemanusiaan yang bersifat sentral.

Sebagai bangsa yang berbhineka, kita memiliki dua macam sistem budaya yang sama-sama harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistem budaya nasional Indonesia dan sistem budaya etnik lokal.

  1. Sistem budaya nasional

Adalah sesuatu yang relatif baru dan sedang dalam proses pembentukannya. Sistem ini berlaku secara umum untuk seluruh bangsa Indonesia, tetapi sekaligus berada di luar ikatan budaya etnik lokal yang manapun. Nilai-nilai budaya yang terbentuk dalam sistem budaya nasional itu bersifat menyongsong masa depan misalnya kepercayaan religius kepada Tuhan YME, pencarian kebenaran duniawi melalui jalan ilmiah, penghargaan yang tinggi atas kreativitas dan inovasi, efisiensi tindakan dan waktu, penghargaan terhadap sesama atas dasar prestasinya lebih daripada atas dasar kedudukannya, penghargaan yang tinggi kepada kedaulatan rakyat, serta toleransi dan simpati terhadap budaya suku bangsa yang bukan suku bangsanya sendiri.

  1. Sistem budaya etnik lokal

Berfungsi sebagai sumber atau acuan bagi penciptaan-penciptaan baru, misalnya dalam bahasa, seni, tata masyarakat, teknologi, dan sebagainya, yang kemudian ditampilkan dalam perikehidupan lintas budaya.

Dengan selalu memperhitungkan kearifan lokal lewat dan dalam pendidikan budaya, keniscayaan manusia didik terperangkap dalam situasi disinherired-masses, yaitu manusia yang terasing dari realitas dirinya yang “menjadi ada” dalam pengertian “Menjadi seperti (orang lain) dan bukan dirinya sendiri” dapat dihindari. Jadi, mutan lokal dalam pendidikan budaya harus selalu dimaknai dalam konteks pemerdekaan dalam rangka lebih mengenal diri dan lingkungan, dan bukannya sebagai domestikasi atau penjinakan sosial budaya.

Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren lewat pendidikan dapat dikatakan gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “yang lain”.

Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan yang menaruh peduli terhadapnya akan bermuara pada, seperti sudah disinggung di atas, munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif dan kreatif.

Budaya Global dan Dampak Budaya Global

Globalisasi tidak dapat dihindari, mempunyai tantangan terhadap kehidupan yang semakin transparan, persaingan yang semakin dahsyat dan permitraan yang semakin menjerat. Menghadapi kehidupan yang seperti itu memerlukan manusia berbudaya yang diperoleh melalui pendidikan bertaraf internasional, tetapi berbasis budaya lokal dimana pendidikan itu berlangsung. Bila tidak budaya lokal yang menjadi puncak-puncak kebudayaan nasional akan hilang dan bukan yang mustahil suatu saat manusia Indonesia tidak mempunyai budaya.

Perubahan budaya lokal tidak dapat dielakkan, namun kita dapat mengarahkan perubahan tersebut. Corak budaya global yang negatif kita hilangkan, namun yang positif kita ambil. Budaya luar yang baik kita adopsi adalah budaya yang memerdekakan dan membebaskan manusia.

Dua unsur yang penting dalam manusia merdeka yaitu :

  1. Digunakan akal budi sebagai satu bagian manusia-nalar yang mampu memecahkan persoalan-persoalan ethis tanpa sama sekali mengacu kepada wujud yang ilahiat
  2. Publik sebagai arena

Ukuran manusia dewasa yang merdeka adalah ketika ia mempergunakan nalarnya diarena publik tersebut. Untuk mencapai kearah yang dibutuhkan kemandirian yang bertanggung jawab dan disiplin.

Kemandirian berarti kita mampu hidup tanpa bergantung mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan kelebihan dan kekurangan tersebut untuk mencapai tujuan. Dan nalar adalah alat untuk menyusun strategi.

Bertanggung jawab maksudnya kita melakukan perubahan secara sadar dan memahami betul setiap resiko yang bakal terjadi serta siap menanggung resiko. Dan dengan kedisiplinan akan terbentuk gaya hidup yang mandiri.

Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi memenjarakan manusia. Manusia akan bebas dan merdeka untuk menentukan pilihannya secara bertanggung jawab serta menimbulkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian dalam pembangunan.

Penutup

Akhirnya, jika nilai-nilai budaya tersebut berhasil ditanamkan lewat pendidikan yang berfungsi mencerdaskan bangsa akan dihasilkan pula manusia-manusia yang berdaya guna dalam kehidupan manusia. Manusia yang sadar budaya. Artinya, memiliki nilai-nilai budaya nasional yang transetnik dan bersifat menyongsong masa depan, serta mampu pula menghayati kearifan-kearifan lokalnya. Dengan jatidiri yang kuat, kita tidak akan jatuh dalam posisi epigonis bangsa lain atau terhindar dari posisi yang subordinatif. Paling tidak, demikian itu yang menjadi idalisasinya. Dengan cara demikian, semoga saja, kebudayaan benar-benar memberikan dan menjadi roh “pembangunan” yang sedang kita “rencanakan kembali” untuk dilaksanakan menuju indonesia Baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: