PERENCANAAN PROGRAM DI DESA SUGIHAN

A.    Pengumpulan Data Keadaan

  1. 1. Data Keadaan Kabupaten Sukoharjo

Kabupaten Sukoharjo terletak di bagian tenggara propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 446,666 ha , yang secara geografis terletak antara 110  42’06,79″-110  57’33,7″ Bujur Timur dan  7  32’17″-  7   49’32″ Lintang Selatan. Keadaan topografi/geologi berupa daerah yang datar. Secara administratif mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara             :   Kota Surakarta

Sebelah timur             :   Kabupaten Karanganyar

Sebelah selatan          :   Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunung Kidul   Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebelah barat            :   Kabupaten Boyolali dan Klaten

Kabupaten Sukoharjo mempunyai jumlah penduduknya tercatat 821.213 jiwa yang terdiri dari 405.831 penduduk laki-laki dan 415.382 penduduk perempuan. Dengan demikian sex ration atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan sebesar 0,977.

Pada sektor industri kecil/kerajinan terdapat 13.270 unit usaha dengan tenaga kerja 47.901 orang. Dibandingkan tahun 2001 jumlah unit usaha / industri mengalami peningkatan sebesar 3,05 persen dilihat dari jumlah tenaga kerjanya juga mengalami kenaikan sebesar 2,63 persen.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan dari tahun ke tahun 2003 :19,929 milyar ,tahun 2004 :21,701 milyar , tahun 2005 :30,384 milyar .Dengan penduduk lebih dari 815 ribu jiwa merupakan potensi pasar yang besar dimana pengeluaran rata-rata masyarakat mencapai Rp 607 ribu.

Luas Panen (ha) 1052 2345 10639 4651
Produksi (ton GKG) 6698 14931 69951 29352

Kabupaten Sukoharjo mempunyai luas daerah pertanian yang luas dengan rata-rata produksi padi perhektar yaitu kurang lebih 6 ton/Ha.

  1. 2. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo Terhadap Pertanian

Kebijakan pemerintah dalam hal pembangunan daerah berdasarkan potensi di Kabupaten Sukoharjo dilaksanakan secara terpola dan terpadu dengan mengelompokkan sub wilayah pembanguan.

  1. a. Sub Wilayah Pembangunan I

Meliputi wilayah Kecamatan Kartasura dan  Kecamatan Gatak dengan pusat  pengembangan di Kecamatan Kartasura.

Potensi pengembangan :

Pertanian tanaman pangan, industri, perdagangan, perhubungan, pemukiman/perumahan dan pariwisata.

  1. b. Sub Wilayah Pembangunan II

Meliputi wilayah Kecamatan Grogol dan Kecamatan Baki dengan pusat pengembangan di Kecamatn Grogol.

Potensi pengembangan:

Pertanian, tanaman pangan, industri, perdagangan, pemukianan/perumahan dan pariwisata.

  1. c. Sub Wilayah Pembangunan III

Meliputi wilayah Kecamatan Mojolaban, Kecamatan Polokarto dan Kecamatan Bendosari bagian utara, selatan dan timur dengan pusat pengembangan di Kota      Mojolaban.

Potensi pengembangan:

Pertanian tanaman pangan, perikanan, perkebunan, peternakan, industri, perdagangan, perhubungan, pemukinan/perumahan dan pariwisata.

  1. d. Sub Wilayah Pembangunan IV

Meliputi wilayah Kecamatan Sukoharjo dan Kecamatan Bendosari bagian barat dengan pusat pengembangan di Kota Sukoharjo.


Potensi pengembangan:

Pertanian tanaman pangan, perikanan, perdagangan, pemerintahan,
pemukinan/perumahan dan pariwisata, industri, pariwisata dan pendidikan.

  1. e. Sub Wilayah Pembangunan V

Meliputi wilayah Kecamatan Nguter dengan pusat pengambangan di Kota Nguter.

Potensi pengembangan:

Industri, pertanian tanaman pangan, peternakan dan perdagangan.

  1. f. Sub Wilayah Pembangunan VI

Meliputi wilayah Kecamatan Tawangsari, Kecamatan Bulu dan Kecamatan Weru dengan pusat pengembangan di kota Tawangsari.

Potensi pengembangan:

Adalah pertanian tanaman pangan,  perikanan, peternakan, perkebunan,  perdagangan, perhubungan, pertambangan/bahan galian, indistri kecil dan pariwisata.

Dengan Visi Mewujudkan pertanian yang modern, tangguh dan efisien serta Misi Mewujudkan masyarakat pertanian yang mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan maka Kabupaten Sukoharjo melalui Dinas Pertanian di bawah pimpinan Ir. Sri Sutarni berupaya melaksanakan program pertanian bidang tanaman pangan, diantaranya

  1. Upaya pelestarian Swasembada beras
  2. Upaya pencapaian swassembada kedelai
  3. Upaya pencapaian swasembada Jagung
  4. Pengembangan Hortikultura
  5. Pengembangan pra sarana, sumberdaya dan kelembagaan pertanian

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukoharjo sebesar 4,17 % dengan laju inflasi 0,89%. Produk domestic regional bruto atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan sebesar 12,35 % sedangkan atas dasar konstan mengalami peningkatan 3,58% .Untuk tahun 2005 Investasi di kabupaten Sukoharjo mencapai 1,62 trilyun meningkat periode sama tahun 2004 sebesar 1,58 trilyun.

Untuk luas panen dan produksi tanaman palawija dibandingkan tahun 2003 seperti jagung naik sebesar 16.57% dan 12.40 %, ketela pohon naik sebesar 10.88% dan 24.44%, Ketela rambat turun 68,42% dan 67,69%, kacang tanah naik sebesar 28.27% dan 3.45%, kedelai naik 17.10% dan 35,21%, kacang hijau naik 92,10% dan 17,60%.

Produksi beberapa jenis sayuran (kacang panjang, tomat, terong, ketimun, kangkung, bayam) dibandingkan tahun 2003 mengalami fluktuasi. Komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya kacang panjang, tomat ketimun, sedangkan yang mengalami penurunan produksi yaitu cabe, terong, kangkung dan bayam.

  1. 3. Keadaan Desa Sugihan
    1. Tanah

Dalam monografi perlu diteliti tentang keadaan tanah karena untuk mengetahui jenis tanah yang ada di daerah tersebut. Tanah yang ada di daerah tersebut termasuk tanah yang subur, kurang subur atau tidak subur. Dengan mengetahui jenis tanah maka akan dapat diketahui jenis tanaman apa yang cocok dan dapat hidup di daerah tersebut. Selain itu juga bias digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan perencanaan program apabila ada masalah dalam kesuburan tanah di daerah tersebut atau merencanakan pengembangan tanaman tertentu di daerah tersebut.

Luas wilayah (daerah) Sugihan 381,2550 Ha. Daerah tersebut terbagi menjadi tanah irigasi teknis seluas 297,6596 Ha, tanah kering yang terdiri dari bangunan dan pakarangan seluas 46,9690 Ha dan tegalan atau kebun seluas 19,7010 Ha, serta lain-lain yang berupa sungai, jalan, kuburan dll seluas 16,93254 Ha.

Bila dilihat dari data tersebut dapat diketahui bahwa tanah yang mempunyai area terluas adalah sawah irigasi teknis. Sawah yang ada di desa Sugihan semua sudah menggunakan irigasi secara teknis sehinnga airnya cukup. Sawah di desa Sugihan tidak ada yang hanya mengandalkan air hujan saja.

Sistem pengairan yang ada di desa Sugihan sudah maju, semua sawah sudah menggunakan sistem irigasi teknis. Hal ini membuktikan bahwa sistem pengairan yang ada di desa Sugihan sudah maju dan tidak ada masalah lagi.

Hampir semua lahan pertanian di desa Sugihan ditanamai tanaman pangan yaitu tanaman padi. Para petani di desa Sugihan menanam padi karena tanah tersebut cocok ditanami padi dan irigasi yang ada sangat lancar sehingga produksinya memuaskan.

  1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk perlu diketahui dalam monografi karena untuk mengetahui berapa jumlah penduduk yang ada di daerah tersebut sehingga dapat memperkirakan berapa jumlah tenaga kerja yang ada di daerah tersebut. Untuk mengetahiu jumlah tenaga kerja yang ada dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan jumlah penduduk berdasarkan usia produktif dan non  produktif. Jumlah penduduk ini akan dapat menggambarkan banyaknya jumlah tenaga kerja yang ada di suatu daerah. Sealin itu dengan diketahui jumlah penduduk dalam suatu daerah maka akan dapat diketahui tingkat kemakmuran dari daerah tersebut.

Berdasarkan data dari monografi yang ada jumlah penduduk laki-laki di desa Sugihan sebanyak 2202 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2266 jiwa. Dari data tersebut terbukti bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki.

Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki berakibat pada ketersediaan tenaga kerja dalam sistem usaha tani.. Apabila jumlah penduduk perempuan lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki maka tenaga yang dapat dimanfaatkan dalam usaha pertanian juga lebih sedikit atau terbatas karena tidak semuanya pekerjaan dalam pertanian bisa dilakukan oleh tenaga kerja perempuan. Khususnya tenaga kerja untuk mengolah lahan yang harus dilakukan oleh laki-laki (mencangkul, mentraktor) tetapi tidak hanya itu saja dalam melakukan penyemprotan hama biasanya juga menggunakan tenaga laki-laki. Jadi banyaknya jumlah penduduk perempuan dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki akan menimbulkan masalah dalam penyediaan tenaga kerja pertanian.

Jumlah penduduk desa Sugihan sebanyak 4468 jiwa. Dari data monografi diketahui dari jumlah penduduk 4468 jiwa tersebut terdapat 2854 jiwa berusia non produktif sedangkan sisanya 1614 berusia produktif. Usia ini juga mempengaruhi banyaknya tenaga kerja yang tersedia di desa Sugihan tersebut. Semakin banyak usia produktif maka semakin besar pula jumlah tenaga kerja yang tersedia di suatu daerah.

Sebagian besar penduduk Desa Sugihan bermata pencaharian sebagai petani baik sebagai petani mandiri maupun sebagai buruh tani. Banyaknya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian akan meningkatkan produksi pertanian di desa tersebut. Pertanian yang ada juga akan lebih cepat maju karena banyaknya orang yang bekerja di sektor pertanian sehingga dapat bekerjasama denga petani yang lain.

  1. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan disuatu daerah dapat digunakan sebagai indikator kemakmuran suatu daerah. Apabila daerah tersebut sebagian besar penduduknya berpendidikan tinggi maka daerah tersebut mempunyai tingkat kemakmuran yang sudah tinggi pula, kesadaran akan pendidikan pun juga sudah tinggi.

Tingkat pendidikan penduduk Desa Sugihan tidak rendah. Dari data monografi dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang taman SD, SMP, SMA dan PT lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang tidak mengenyam dunia pendidikan. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka petani akan lebih menyerap informasi yang ada. Selain itu dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka tingkat kemakmuran desa Sugihan juga sudah tinggi.

  1. Mata Pencaharian

Sebagian besar penduduk Desa Sugihan bermata pencaharian sebagai petani, baik sebagai petani mandiri maupun sebagai buruh tani. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani karena memang lahan pertanian di Desa Sugihan masih cukup luas. Selain sebagai petani penduduk Desa sugihan juga bermata pencaharian sebagai pedagang, pegawai negeri, buruh industri, penssiunan dan lain-lain. Tetapi jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani selalu berkurang karena banyak penduduk yang beralih mata pencaharian ke sektor non pertanian. sebagian besar mereka beralih menjadi seorang pedagang atau sebagai buruh pabrik sehingga lama kelamaan tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian berkurang.

  1. Lembaga Pertanian

Kelembagaan pertanian di Desa Sugihan adalah adanya kelompok tani. Kelompok tani ini berfungsi sebagai wadah bagi para petani. Dalam kelompok tani ini para petani bisa bertukar pengalaman antara petani yang satu dengan petani yang lain. Kelompok tani ini juga menyediakan penyewaan alat-alat pertanian.

  1. Hasil Pertanian

Hasil produksi padi Desa Sugihan rata-rata 60 kw/ha. Produksi ini sudah baik karena standar produksi padi di Kabupaten Sukoharjo sebesar 64, 03 kw/ha. Hasil yang sudah tegolong tinggi ini disebabkan karena tanah desa Sugihan yang subur dan irigasi yang baik. Tepapi produksi padi Desa Sugihan belum maksimal karena belum sesuai dengan standar hasil produksi padi kabupaten Sukoharjo. Hal ini disebabkan karena pemeliharaan tanaman padi yang kurang maksimal dan adanya serangan hama.

Hasil dari peternakan di Desa Sugihan berupa sapi biasa jumlahnya 42 ekor, kerbau 4 ekor, kambing/domba 240 ekor, ayam kampung 7410 ekor, ayam ras 12.000 ekor dan itik 625 ekor. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa hasil ternak terbanyak adalah ayam ras yaitu 12.000 ekor. Hal ini terjadi karena ayam ras lebih mudah untuk dipelihara dan mudah dalam mengembakbiakkannya, tidak sulit dalam memberi makan dan sebagainya.

Di Desa Sugihan tidak ada penduduk yang bekerja di sub sektor perikanan sehingga di Desa Sugihan tidak ada hasil dari perikanan. Selain perikanan Desa Sugihan juga tidak ada hasil dari hutan.

B.     Identifikasi Impact Point

Dari data keadaan kabupaten Sukoharjo dan data eadaan desa Sugihan dapat diidentifikasi masalah yang ada di desa Sugihan. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh petani desa Sugihan dapat dilakukan identifikasi impact point.

  1. Identifikasi Impact Point Teknis
NO PERTANYAAN ALTERNATIF JAWABAN SKOR KET
1 2 3 4
I.

1.

2.

3.

II

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

III

1.

2.

3.

4.

IV

1.

2.

V

1.

2.

3.

4.

VI

1.

2.

VII

1.

2.

BENIH

Varietas apa yang saudara gunakan?

Darimana asal benih yang saudara tanam?

Berapakah jumlah benih yang saudara gunakan?

BERCOCOK TANAM

Bagaimana Cara Saudara Membuat Pesemaian?

Bagaimana Saudara Melakukan Pengolahan Tanah?

Berapa Jarak Tanam Yang Saudara Gunakan?

Berapakah Jumlah Bibit Yang Saudara Gunakan Setiap Lubang?

Berapakah Umur Bibit Pada Waktu Tanam?

Dalam Setahun Saudara Melakukan Berapa Kali Tanam?

Apakah Saudara Melakukan PergiliranTanaman?

Apakah anda melakukan penyiangan?

PEMUPUKAN

Berapa Dosis Pupuk Yang Saudara Gunakan?

Kapan Saudara Melakukan Pemupukan?

Bagaimana Cara Saudara Melakukan Pemupukan?

Pupuk apa yang anda gunakan?

PENGAIRAN

Bagaimana Sistem Pengairan Yang Saudara Gunakan?

Apakah Daerah Saudara Dekat Dengan Sumber air?

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Pestisida apa yang saudara gunakan?

Berapa dosis yang saudara gunakan?

Alat apa yang saudara gunakan untuk memberantas hama?

Kapan saudara menyemprot?

PANEN

Sistem panen apa yang saudara gunakan?

Bagaiman cara anda memanen?

PEMASARAN

Sistem penjualan apa yang saudara gunakan?

Apakah saudara menggunakan alat transportasi untuk menjual hasil panen?

  1. Varietas unggul
  2. Varietas lokal
  3. Membeli dari pedagang benih
  4. Persemaian sendiri
  5. Sesuai yang dianjurkan
  6. Lebih dari yang dianjurkan
  7. Kurang dari yang dianjurkan
  1. Pembibitan
  2. Membeli
  3. Dicangkul, ditraktor dan dibajak
  4. Hanya dicangkul saja
  5. Bujur sangkar
  6. Jejer wayang
  1. < 2 bibit tiap lubang
  2. 2-3 bibit tiap lubang
  3. >3 bibit tiap luban
  4. Kurang dari Dua minggu
  5. Dua minggu
  6. Lebih dari dua minggu
  7. 1 kali
  8. 2 kali
  9. Lebih dari 2 kali
  10. Ya
  11. Tidak
  12. Ya
  13. Tidak
  1. Sesuai dengan takaran yang dianjurkan
  2. Tidak sesuai takaran yang dianjurkan
  3. Sebelum tanam
  4. Saat tanam
  5. Setelah tanam
  6. Disebarkan
  7. Dibenamkan
    1. Organik
    2. Non organik
  1. Teknis
  2. Non teknis
  1. Dekat
  2. Sedang
  3. Jauh
  1. Pestisida organik
  2. Pestisida kimia
  3. Sesuai takaran yang dianjurkan
  4. Tidak sesuai dengan yang dianjurkan
  5. Sprayer
  6. Alat tradisional (jaring)
  1. Sebelum terkena hama
  2. Sesudah terkena hama
  1. Tebas
  2. Dipanen sendiri
  3. Tleser
  4. Erek
  1. Dijual ke pasar
  2. Dibeli tengkulak
  3. Ya
  4. Tidak
(50)

20

10

5

15

20

15

5

(100)

20

5

15

5

25

10

10

15

5

5

20

8

10

20

25

20

10

25

10

(60)

10

15

5

20

10

20

20

15

10

20

10

(75)

25

20

25

10

25

(90)

15

20

15

10

15

20

25

15

(40)

20

15

10

5

(80)

20

15

15

5

**

*

*

*

*

*

*

*

*

**

*

*

*

*

*

*

*

*

**

*

*

*

*

*

*

Keterangan:

*    : tidak ada impact point

**  : ada impact point

Dalam identifikasi impact poin teknis tersebut ditemukan beberapa impact point atau masalah yang dhadapi. Impact point tersebut adalah petani belum menggunakan bibit unggul, petani belum memahami dan melaksanakan cara pembasmian hama yang benar (penggunaan pestisida belum tepat), dan petani di desa Sugihan belum melakukan rotasi tanaman.

  1. Identifikasi Impact Point Ekonomis
NO PERTANYAAN ALTERNATIF JAWABAN SKOR KET
1 2 3 4 5
I.

1.

2.

3.

II.

1.

2.

III.

1.

2.

3.

PERENCANAAN USAHA TANI

Apakah saudara melakukan identifikasi pasar?

Apakah anda melakukan perencanaan Usaha Tani?

Apakah anda melakukan perencanaan keunganan dalam Usaha Tani anda?

PENGELOLAAN

USAHA TANI

Apakah saudara membuat catatan keungangan usaha tani anda?

Apakah anda melakukan negoisasi dengan pembeli hasil panen anda?

ANALISIS USAHA TANI

Apakah anda menghitung biaya usaha tani anda?

Apakah anda menghitung pendapatan anda?

Apakah anda menghitung keuntungan yang anda peroleh?

  1. Ya
  2. Tidak
  3. Ya
  4. Tidak
    1. Ya
      1. Tidak
  1. Ya
  2. Tidak
  1. Ya
  2. Tidak
  1. Ya
  2. Tidak
  3. Ya
  4. Tidak

a. Ya

b. Tidak

(40)

15

10

20

10

15

5

(60)

20

10

10

5

(50)

25

10

20

10

20

5

**

*

*

*

*

*

*

*

Dari identifikasi impact point ekonomis tersebut masalah yang ada adalah petani tidak melakukan identifikasi pasar. Petani sudah melakukan perhitungan biaya yang mereka kelurkan dan menghitung berapa keuntungan yang peroleh. Petani juga sudah melakukan perencanaan dalam usaha taninya.

  1. Identifikasi Impact Point Sosial
NO PERTANYAAN ALTERNATIF JAWABAN SKOR KET
1 2 3 4 5
I.

1.

2.

3.

II.

1.

2.

4.

III.

1.

2.

3.

Keaktifan Dalam Kelompok Tani

Sudah berapa lama anda menjadi anggota kelompok tani ?

Jabatan apa yang pernah anda duduki dalam kelompok tani ?

Sudah berapa tahun anda menduduki jabatan tersebut ?

Keaktifan Dalam Kegiatan Penyuluhan

Seberapa sering anda mengikuti penyuluhan ?

Bagaimana pendapat anda tentang penyuluhan ?

Seberapa aktif anda brdiskusi dalam penyuluhan ?

DINAMIKA KELOMPOK

Apakah anda mengetahui tujuan dari kelompok tani?

Apakah dalam kelompok Tani diadakan pembinaan?

Apakah semua anggota aktif dalam Kelompok Tani

a. 1-2 tahun

b. 2-4 tahun

c.  >5 tahun

a.  Ketua

b.  Pengurus

c.  Anggota

a.  1-2 tahun

b.  2-4 tahun

c.  >5 tahun

a.  Sering

b.  Kadang-kadang

c.  Tidak pernah

a.  Baik

b.  Biasa-biasa saja

c.  Buruk

a.  Aktif

b.  Sedang

c.  Tidak aktif

a. Ya

b.Tidak

a. Ya

b.Tidak

a. Ya

b.Tidak

(80)

5

7

20

20

15

8

5

9

15

(50)

30

20

5

15

7

2

30

10

5

(65)

10

5

20

10

15

5

*

*

*

*

*

**

*

*

*

Dari tabel ditas dapat diketahui bahwa petani yang bergabung menjadi anggota Kelompok Tani belum lama. Mereka awalanya belum mempunyai kesadaran untuk bergabung dalam kelompok tani. Impact point sosial yang ada adalah petani kurang berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan dan apabila mengikuti kegiatan penyuluhan mereka kurang aktif dalam berdiskusi.

C.     Rumusan Masalah

  1. Mengapa petani belum menggunakan bibit unggul?
  2. Mengapa petani tidak melakukan pergiliran (rotasi) tanaman?
  3. Mengapa petani belum faham dalam melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman?
  4. Mengapa petani tidak melakukan identifikasi pasar?
    1. Petani menggunakan bibit unggul.
    2. Petani melakukan pergiliran (rotasi) tanaman.
    3. Petani dapat melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan benar.
    4. Petani melakukan identifikasi pasar.

D.     Rumusan Tujuan

E.      Cara Pencapaian Tujuan (Program)

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dilaksanakan beberapa program. Untuk mencapai tujuan pertama yaitu agar petani menggunakan bibit unggul dicapai dengan melakukan kegiatan penyuluhan dan percontohan yang dilaksanakan oleh petugas penyuluh dan petugas dari balai benih beserta petani kelompok tani di desa Sugihan. Tujuan kedua, dicapai dengan cara mengadakan penyuluhan dan praktek dilahan petani masing-masing. Tujuan ketiga dan keempat dicapai dengan melakukan penyuluhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: