Sistem Informasi Manajemen koperasi Makaryo Mino Kabupaten Pekalongan dan koperasi Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP) Kabupaten Pekalongan

I.                   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional merupakan tulang punggung perekonomian untuk mencapai kemakmuran masyarakat. Seperti tercakup dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan koperasi sebagai bagian dari perekonomian nasional. Sebagai sokoguru perekonomian dapat dikatakan koperasi adalah bagian yang tidak dapat dilepaskan dari peningkatan ekonomi Indonesia terutama masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah.

Koperasi dalam perekonomian Indonesia merupakan salah satu tiang penyangga perekonomian nasional. Sehingga koperasi menjadi salah satu wadah bagi perjuangan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, sebagai alat pendemokrasian ekonomi nasional, alat masyarakat untuk memperkokoh perekonomian bangsa dan menjadi urat nadi perekonomian bangsa. Dengan munculnya koperasi di Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi ekonomi di Indonesia telah berlangsung lama.

Seperti badan usaha lain, koperasi juga harus mempunyai manajemen yang baik agar mampu menyerap aspirasi dari anggota dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, koperasi harus memiliki Sistem Informasi Manajemen yang baik. Informasi manajemen suatu koperasi diperoleh dari pihak-pihak luar koperasi maupun dari dalam koperasi seperti anggota dan pengurus koperasi. Sarana informasi yang digunakan dapat secara manual maupun elektronik seperti telepon, komputer ataupun internet.

Untuk mengetahui seberapa jauh peranan Koperasi dalam pelayanan terhadap petani dan bagaimana perkembangannya sampai saat ini diperlukan sutu observasi langsung. Oleh karena itu diperlukan adanya kajian yang lebih mendalam mengenai koperasi melalui praktikum Koperasi Pertanian dan melihat langsung kondisi koperasi yang bertempat di .koperasi Makaryo Mino Kabupaten Pekalongan dan koperasi Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (PPIP) Kabupaten Pekalongan.

  1. B. Permasalahan

Dalam sebuah koperasi, Sistem Informasi Manajemen sangat dibutuhkan dalam   pengembangan usahanya. Permasalahan yang ada dalam bidang kajian Sistem Informasi Manajemen adalah :

1.     Bagaimana model Sistem  Informasi Manajemen yang digunakan di   koperasi ?

2.     Apakah sarana yang digunakan dalam memperoleh Sistem Informasi    Manajemen ?

3.   Bagaimana memperoleh dan menyalurkan informasi tersebut kepada  anggota ?

4.   Apa pengaruh Sistem  Informasi Manajemen terhadap koperasi ?

  1. C. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan penulisan laporan Koperasi Pertanian dengan bidang kajian Sistem  Informasi Manajemen adalah :

  1. Mengetahui model Sistem Informasi Manajemen yang digunakan di koperasi.
  2. Mengetahui sarana yang digunakan dalam memperoleh Sistem Informasi     Manajemen.
  3. Mengetahui cara memperoleh dan menyalurkan informasi kepada anggota.
  4. Mengetahui pengaruh Sistem Informasi Manajemen terhadap koperasi.

Kegunaan dilakukan praktikum Koperasi Pertanian adalah:

  1. Bagi mahasiswa : Memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti mata kuliah     Koperasi Pertanian dan menambah wawasan mahasiswa tentang koperasi sehingga mahasiswa dapat mengetahui secara langsung perkembangan dan hambatan yang ada dalam koperasi.
  2. Bagi koperasi : Memperoleh masukan sebagai bahan pertimbangan bagi koperasi  dalam mengelola dan mengembangkan usahanya.
  3. Bagi pemerintah : Memperoleh informasi tentang kondisi nyata koperasi sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam membuat kebijakan agar koperasi dapat bersaing dengan badan usaha lain.

II.  TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

  1. A. Tinjauan Pustaka

Koperasi berasal dari bahasa latin cooperation yang artinya kerjasama atau bekerja sama. Di tanah air, kata koperasi dalam kehidupan dan dalam bahasa kita sehari-hari dikenal sebagai sebuah badan usaha kerjasama di lapangan ekonomi yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan memperbaiki kedudukan ekonomi anggota-anggotanya. Di dalam ekonomi, arti dan batasan koperasi adalah suatu perkumpulan yang memungkinkan beberapa orang atau badan hukum dengan jalan kerjasama atas dasar sukarela menyelenggarakan suatu pekerjaan untuk memperbaiki kehidupan anggotanya berasaskan Pancasila dan UUD 1945 (Sagimun, 1983).

Keikutsertaan KUD dalam program pengadaan pangan bertujuan untuk memberikan jaminan harga yang layak kepada petani produsen dengan tingkat harga  minimal sama dengan tingkat harga dasar yang ditetapkan pemerintah sesuai dengan kualitas. Jaminan ini diharapkan akan lebih menggairahkan petani untuk meningkatkan produksinya sekaligus terwujud peningkatan pendapatan petani produsen. Penciptaan stabilitas harga pangan khususnya gabah/beras di tingkat produsen/konsumen akan terwujud bila stok nasional dapat dipenuhi sesuai dengan target yang ditetapkan setiap tahun pengadaan (Aziz, 1986).

Dasar koperasi adalah kerjasama agar dengan bersatu dapat mencapai perbaikan hidup. Oleh karena itu segala persaingan juga antara koperasi dan koperasi, lebih-lebih dalam satu desa harus dihindarkan agar rakyat yang telah bersatu tidak dipisah-pisah lagi dengan akibat menjadi lemahnya gerakan koperasi. Koperasi mengandung didikan yang penting bagi anggota. Selain suatu perkumpulan maka koperasi merupakan suatu perusahaan (bedrijf) artinya selain bertindak sebagai perkumpulan biasa juga menyelenggarakan pekerjaan yang bersifat “commercieel” seperti jual beli barang, meminjam dan meminjamkan uang. Sesuai dengan dasar koperasi segala usaha ini dijalankan atas kekuasaan dan kekuatan anggota sendiri (Swasono, 1985).

Fungsi koperasi Indonesia adalah :

  1. Alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat.
  2. Alat pendemokrasi ekonomi sosial.
  3. Sebagai salah satu urat nadi perekonomian bangsa Indonesia.
  4. Alat pembina insan masyarakat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia serta bersatu dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat (Reksohadiprodjo, 1974).

Koperasi memiliki watak sosial. Hal ini berarti bahwa dasar koperasi adalah kerjasama. Didalam koperasi, anggota perkumpulan bekerja sama berdasarkan kesukarelaan, persamaan derajat (demokrasi, ekonomi sosial) persamaan hak dan kewajiban. Sesuai dengan asas demokrasi, berarti koperasi adalah milik para anggota sendiri dan dengan demikian pada dasarnya koperasi diatur, diurus dan diselenggarakan sesuai dengan keinginan para anggota perkumpulan itu sendiri. Atau dengan kata lain bahwa dalam koperasi kekuasaan tertinggi dipegang oleh semua anggota yaitu melalui Rapat Anggota (Anoraga, 1995).

Tolak ukur sukses dari pengembangan  koperasi jelas bukan hanya diartikan adanya usaha atau fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah, tetapi juga memberikan kesempatan secara luas agar koperasi dapat berkembang dan turut serta berperan dalam kegiatan ekonomi daerah sehingga perimbangan kekuatan ekonomi lebih serasi tidak hanya dikuasai golongan ekonomi kuat, kelompok masyarakat bermodal besar dan bersifat padat modal. Karena usaha-usaha tersebut kurang mampu menyerap kesempatan kerja yang lebih luas (Nasution, 1983).

  1. B. Kerangka Teori

Sistem Informasi Manajemen dapat dianggap sebagai suatu federasi subsistem yang didasarkan atas fungsi yang dilaksanakan dalam suatu organisasi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, subsistem fungsional harus dikelompokkan kedalam suatu ragam yang logik dan tidak berdasarkan struktur organisatoris. Tetapi umumnya, pengelompokkan fungsional bisa sepadan dengan pengelompokkan organisatoris. Dalam federasi subsistem fungsional, setiap subsistem mempunyai kemudahan untuk melaksanakan semua pengolahan yang berkaitan pada fungsi, sekalipun hal ini bisa melibatkan  penyandaran atas suatu pangkalan  data umum, suatu pangkalan model umum bilamana diperlukan. Pengolahan informasi juga dapat dianggap sebagai suatu fungsi dan pucuk pimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu fungsi yang terpisah dari fungsi organisatoris pemasaran                           (Davis, B Gordon, 1995).

Kriteria bagi suatu Sistem Informasi Manajemen yang efektif adalah bahwa sistem tersebut dapat memberikan data yang cermat, tepat waktu dan yang penting artinya bagi perencanaan, analisis dan pengendalian manajemen untuk mengoptimalkan pertumbuhan organisasi (Coleman and Riley, 1973).

Laporan merupakan sarana interaksi yang penting antara suatu sistem informasi dengan pemakai informasi dari sistem. Sistem informasi mengubah data menjadi informasi. Pelaporan merupakan distribusi dari informasi ke berbagai pemakai dalam suatu organisasi. Laporan perencanaan pada umumnya berbentuk data dan bermanfaat untuk membantu manajemen dalam mengalokasikan dan memperoleh sumber daya untuk operasi perusahaan di masa mendatang (Yusuf, 1995).

Sistem Informasi Manajemen menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan bagi semua tingkat manajemen dalam dua bidang :

  1. Meramalkan apa yang terjadi dengan menggunakan data historis dan simulasi untuk memberikan alternatif dan hasil dari masing-masing alternatif  itu.
  2. Membuat garis-garis besar atau perubahan-perubahan pada prosedur atau   keputusan sehingga memungkinkan terlaksananya ramalan yang telah dipilih itu  (Martino, 1986).

Sistem Informasi Manajemen adalah suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, sekarang dan masa depan (Martino, 1986).

  1. I. METODOLOGI

  1. A. Metode Dasar

Metode dasar yanng digunakan dalam penyusunan laporan Koperasi Pertanian ini adalah metode deskriptif, yaang berarti peneliti memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang  yaitu masalah yang aktual.

  1. B. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam praktikum Koperasi Pertanian yang dilakukan di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP diperoleh dari data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan datang langsung ke KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP  dan mengadakan dialog langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku RAT dan brosur yang telah diberikan oleh koperasi yang menjadi sumber dari praktikum Koperasi Pertanian.

  1. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari praktikum ini dianalisis dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif yaitu dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dari koperasi sedangkan metode kualitatif yaitu dengan menggunakan teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang ada di koperasi.

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Keadaan Umum Koperasi Pertanian (KUD) / Koperasi

1. KUD Makaryo Mino

KUD Makaryo Mino merupakan KUD yang terletak di                                   Jl. WR Supratman No. 224 Pekalongan. KUD ini berdiri pada tanggal               5 Oktober 1962 dengan nama Koperasi Perikanan Laut (KPL) Makaryo Mino yang beranggotakan nelayan. Pada tanggal 1 Januari 1972 berdasarkan SK Gubernur KDH Tk. I Jawa Tengah usaha KPL di bidang pelelangan ikan dicabut. Tanggal 25 Juli 1973 berdasarkan Keputusan Rapat Anggota memutuskan perubahan Anggaran Dasar dimana disebutkan bahwa yang diterima menjadi anggota tidak hanya nelayan pemilik kapal di daerah kerja tetapi dari luar daerah kerja dan mulai saat itu KPL mulai berkembang. Berdasarkan SK Gubernur KDH Tk. I Jawa Tengah No HUK 58/1975/73/24 tanggal 12 Mei 1975 yang kemudian Walikota Madya KDH Tk. II Pekalongan pada tanggal 3 Juni 1975 membentuk BUUD yang diserahi mengelola SPS. Tanggal 10 Nopember 1976 dibentuk BUUD/KUD Perikanan sebagai amalgamasi antara BUUD Perikanan dibawah Dipenda dengan KPL Makaryo Mino. Tanggal 6 Maret 1978 BUUD/KUD Perikanan mendapat Hak Badan Hukum No. 2871/BH/12-67 dengan nama KUD Makaryo Mino. Tanggal 1 April 1978 mulai mengelola TPI Pelabuhan Pekalongan atas nama PUSKUD Mina Baaruna Propinsi Jawa Tengah. Tanggal 31 Oktober 1996 Anggaran Dasar disesuaikan dengan UU No. 25 tahun 1992 dengan diberi Badan Hukum  No. 287 Ie/BH/PAD/KWK II/96.

Seperti koperasi pada umumnya, KUD Makaryo Mino memiliki landasan hukum yang digunakan yaitu :

  1. UU No. 25 tahun 1992   tentang perkoperasian.
  2. Inpres No. 4 tahun 1984 tentang Pembinaan dan Pengembangan Koperasi.
  3. Perda No. 1 tahun 1984 tentang Pelelangan Ikan.
  4. Perda No. 10 tahun 2003 tentang Tempat Pelelangan Ikan.
  5. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KUD Makaryo Mino.
  6. Peraturan Khusus KUD Makaryo Mino.

Daerah kerja atau usaha KUD Makaryo Mino meliputi kota Pekalongan, yang meliputi 4 kelurahan yaitu Kelurahan Pajang Wetan, Kelurahan Kandang Pajang, Kelurahan Krapyak Kidul dan Kelurahan Krapyak Lor. Jumlah anggota KUD Makaryo Mino pada tahun 2003 sebanyak 1323. Jumlah tersebut sudah terlalu banyak sehingga dibatasi. Anggota KUD Makaryo Mino adalah semua orang yang mempunyai kegiatan dalam perikanan dan berdomisili di Pekalongan. Anggota KUD tersebut dibagi menjadi 4 kelompok yaitu Topal Gemi, Kakap Merah, Tongkol dan Udang.

Susunan Pengurus:

1. Ketua Umum              : Riyantho Chadiri, SE

2. Ketua I                       : Rasdijo Wibowo

3. Ketua II                      : H. Setyadji Lawi, BA

4. Sekretaris                   : Drs. H. Bazari Chambali

5. Wk Sekretaris : Usman Rasmin

6. Bendahara                  : H. Moh Ichwan Badjuri, Bsc

Pembantu Pengurus   :

  1. Amat Djazuli
  2. Sutrisno Atmodjo
  3. Immamenu Harun

Badan Pengawas     :

  1. Ketua                     : Noor Sidiq Mutammat
  2. Anggota                 : Drs. Mutaji
  3. Anggota                 : Rastono

Dalam melaksanakan tugas sehari-hari dalam rangka pelayanan kepada anggota KUD Makaryo Mino dilaksanakan oleh karyawan sebanyak              150 orang yang terdiri dari beberapa bagian yang dipimpin oleh manajer.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh KUD Makaryo Mino antara lain :

  1. Produksi es

Memproduksi es batu yang digunakan oleh nelayan untuk mengawetkan ikan. Pada tahun 2003 produksinya mencapai 463.008 balok.

  1. SPBU Dwi Fungsi

SPBU ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan minyak nelayan seperti solar, solar industri, premium dan olie.

  1. Perdagangan

Jenis usahanya meliputi es, garam, minyak tanah, BAP, Waserda dan Toserba.

  1. Kredit dan Jasa

Jenis usahanya meliputi fish basket, perkreditan dan gedung. KUD Makaryo Mino memiliki Usaha Simpan Pinjam yang disebut USP Swamitra Mina. USP ini bekerja sama dengan Bank Bukopin. Usaha ini melatih anggota untuk melakukan simpan pinjam dengan sistem perbankan, tetapi kenyataannya tidak efektif karena anggota tidak mengembalikan dengan tepat waktu.

  1. Pelelangan ikan

Usaha KUD Makaryo Mino yang utama adalah pelelangan ikan. Landasan hukum yang dipakai adalah Perda I tahun 1984 tentang pelelangan ikan dan Perda No. 10 tahun 2003 tentang Tempat Pelelangan Ikan.

Modal KUD Makaryo Mino berasal dari modal sendiri dan modal dari luar. Modal sendiri berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan dan simpanan-simpanan lainnya. Modal dari luar terdiri dari KUKM dan KMK.

Selain kegiatan pengembangan usaha, KUD Makaryo Mino juga  memperhatikan kesejahteraan nelayan melalui :

  1. Dana sosial nelayan

Dana yang berasal dari pelelangan untuk membantu kesejahteraan nelayan, misalnya dengan pembangunan sekolah, tempat ibadah dan pemberian  beasiswa.

2.       Dana Saving

Saving nelayan dan bakul ikan yang dicairkan setiap 6 bulan sekali.

3.       Dana paceklik

Diberikan bantuan kepada nelayan pada saaat musim dimana nelyan tidak    melaut.

4.       Dana asuransi

Nelayan diasuransikan yang bekerjasama dengan lembaga asuransi melalui PUSKUD Mina Baruna Jawa Tengah.

Penyelenggaraan administrasi organisasi dan usaha telah dilaksanakan dengan menggunakan komputerisasi. Dalam mengevaluasi keuangan KUD Makaryo Mino, diadakan rapat koordinasi kepala bagian setiap bulan.

2. Koperasi Batik PPIP

Koperasi Batik “Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan” berdiri sejak 10 Februari 1952. Kantor pertama di Jl. KH. Wachid Hasyim No. 119 Pekalongan dan tahun 1954 pindah ke Jl. H. Agus Salim No. 39 Pekalongan. Pendiri Koperasi Batik PPIP antara lain H.A Djunaid,                  H. Ridwan, H.M. Amien Djahri , H. Zein Muhammad, H. Zein Ilyas dan H.Abdul Latief. Koperasi ini didirikan dengan tujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnyaa dan masyarakat pada umumnya, ikut serta dalam membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang diridloi Alloh SWT.

Bidang usaha Koperasi Batik PPIP adalah melayani kebutuhan anggota, menyediakan bahan baku batik berupa Cambrics  (Mori) dan           obat-obatan batik (Chemicals). Untuk mempermudah melayani kebutuhan anggota dan langganan maka Koperasi Batik PPIP membuka beberapa kantor cabang. Sejak tahun 1956  mendirikan pabrik tekstil (mori) untuk melayani kebutuhan anggota yang meningkat terhadap bahan baku Cambrics. Pada tahun 1960 mendirikan Gedung Pertemuan Umum sebagai sarana peningkatan pelayanan anggota dan masyarakat. Pada era perubahan UU No. 12 tahun 1967, usaha Koperasi Batik PPIP berubah menjadi menyediakan bahan baku batik dan batik. Pada  tahun 1967 sampai dengan 1988 membuka cabang toko batik di berbagai daerah. Koperasi Batik PPIP pernah mengalami kebangkrutan sampai terpaksa menjual aset berupa mesin-mesin pabrik  tekstil, dan gedung untuk melunasi hutang-hutangnya. Sekitar tahun 2001 perekonomian Indonesia mulai membaik, untuk itu Koperasi Batik PPIP mendirikan GPU baru.

Sampai akhir Desember 2003 jumlah anggota Koperasi Batik PPIP sebanyak 410 orang yang masih aktif dan 22 orang anggota yang telah meninggal dunia dan belum ada penjelasan konkrit dari para ahli atau keluarganya. Mengingat usia Koperasi Batik PPIP maupun anggotanya sudah cukup tua maka diperlukan regenerasi keanggotaan dengan memberi kesempatan anggota yang udzur (berhalangan tetap) baik karena usia, sakit ataupun ketidakmampuan untuk aktif mengikuti usaha-usaha koperasi batik PPIP dengan cara melimpahkan keanggotaannya kepaada salah seorang ahli waris yang telah mendapat persetujuan daari semua ahli waris.

Susunan pengurus periode 2003-2005 :

1). Ketua                        : DR. H. Noor Basha Djunaid

2). Wakil Ketua              : H Fadjari Djazuli

3). Penulis                       : M. Uripno Chaliri S.Ag

4). Bendahara                 : M. Zainul Hakim SH.

Pengurus dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota dengan masa jabatan 3 tahun.

Susunan Badan Pengawas periode 2003-2005:

1). Koordinator   : M. Ali Munif BA

2). Anggota         : Drs. RM. Firdaus

3). Anggota         : Ir. M. Rofiqqur Rusdi

Badan Pengawas dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota dengan masa jabatan 3 tahun.

Susunan Badan Penasehat periode 2003-2005:

1). H. Muchyidin Djahri

2). H Abdul Aziz Salim

3). H Ahmad Dimyati Ambari

4). H. Edi Supardi

5). HA. Zakki Arslan Djunaid

Susunan Badan Musyawarah Anggota Periode 2003-2005

1). Ketua            : H. Nurcholis Masfuri SE.

2). Sekretaris      : Drs. HM. Fathoni

3). Bendahara     : Hj. Umi Miskiyah

4). Anggota         : Amin Furadi

Ali Kurdi Muchsin

H. Abdullah Anwar

H.M. Syahroni Syafi’i

Nikmatus Sholichah

Latifah Herry

Suharno

H. Syahroni Asyikin

H. Zaenal  Asyikin

Nur Amin

Anisah Chaeron

Sulaiman Yasran

Modal PPIP terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan lain-lain, cadangan dan hibah. Modal pinjaman berasal dari anggota (menanam modal), koperasi lain atau anggotanya, bank, lembaga keuangan dan sumber lain yang sah.

  1. B. Kondisi Sistem Informasi Manajemen

1.  KUD Makaryo Mino

Sistem informasi manajemen merupakan system pengolahan data informasi dari KUDE mulai dari pengumpulan data sampai dengan pengambilan keputusan yang selanjutnya dilaksanakan oleh seluruh pengurus dan anggota KUD.

KUD Makaryo Mino telah menggunakan komputer dalam penyelenggaraan administrasi organisasi, yang meliputi akuntansi keuangan KUD. Dengan sistem komputer akan lebih memudahkan pengurus dalam memperoleh data. Dalam mengevaluasi kegiatan usaha dan keuangan KUD Makaryo Mino, setiap bulan diadakan rapat koordinasi kepala bagian. Administrasi organisasi keuangan dan usaha akan diperiksa oleh Badan Pengawas KUD Makaryo Mino. Untuk mendapatkan kredibillitas, setiap akhir tahun diperiksa oleh akuntan publik yaitu oleh Lembaga Jasa Audit (LJA) Duta Karya Propinsi Jawa Tengah yang berada di Semarang. Hasil evaluasi dari LJA kemudian dilaporkan kepada anggota dalam Rapat Anggota.

Untuk informasi yang berasal dari luar, biasanya KUD Makaryo Mino mendapatkan informasi melalui telepon dan tradisional yaitu tatap muka. Informasi ini bisa berupa perubahan harga bahan baku, pasar, konsumen dan informasi lain yang berhubungan dengan usaha KUD Makaryo Mino. Informasi dari dalam biasanya berasal dari anggota atau pengurus. Informasi dari anggota sangat diperlukan karena merupakan bentuk kepedulian anggota terhadap kehidupan koperasi. Informasi manajemen diperoleh dari komunikasi antara anggota atau pengurus dengan pihak-pihak yang terkait baik dari dalam maupun luar koperasi seperti pemerintah, lembaga keuangan dan lain-lain.

Informasi-informasi yang diperoleh KUD kemudian disampaikan kepada anggota secara tradisional atau manual. KUD Makaryo Mino terbagi menjadi 4 kelompok. Informasi yang ada disampaikan kepada masing-masing pengurus/ketua setiap kelompok dalam suatu rapat yang kemudian oleh pengurus/ketua kelompok disampaikan kepada anggota kelompoknya. Begitupun juga bila ada saran-saran atau kritik dari anggota bisa disampaikan melalui pengurus/ketua kelompok yang akan disampaikan dalam rapat anggota.

Sistem Informasi Manajemen pada KUD Makaryo Mino sudah berjalan cukup baik meskipun masih sederhana dan belum menggunakan sistem yang modern seperti faximile atau internet. Setiap ada informasi, baik yang masuk ataupun keluar selalu berusaha disampaikan kepada anggotanya. Hal ini merupakan salah satu bentuk upaya KUD Makaryo Mino untuk melibatkan anggota dalam kegiatannya.

2.  Koperasi Batik PPIP

Seperti halnya pada KUD Makaryo Mino, Koperasi Batik PPIP juga menggunakan sistem komputer dalam menjalankan fungsi administrasi dan pembukuan. Dalam pemeriksaan keuangan yang lebih detail, agar diperoleh hasil pemeriksaan yang lebih akurat, Badan Pengawas Koperasi Batik PPIP dibantu oleh editor profesional dan independent dari kantor akuntan publik : Drs. M. Sofwan dan rekan dari Jakarta. Dengan menggunakan sistem informasi manajemen melalui komputer akan dapat memperkecil kesalahan dalam menghitung administrasi keuangan Koperasi Batik PPIP dan mempermudah anggota untuk memperoleh  data yang dibutuhkan. Apalagi dengan adanya akuntan publik yang mengontrol maka hasil analisis komputer tersebut sudah benar-benar akurat.

Informasi yang diperoleh dari luar koperasi biasanya menggunakan telepon dan faximile, yang kemudian akan disampaikan kepada anggota melalui rapat sehingga anggota dapat mengetahui informasi, perubahan dan kebijakan koperasi. Informasi tersebut sangat penting bagi anggota, misalnya adanya informasi tentang kenaikan harga bahan baku batik yang sangat berpengaruh terhadap usaha anggota koperasi atau adanya perubahan pasar maupun kebijakan-kebijakan pemerintah. Informasi yang berasal dari dalam koperasi biasanya akan disampaikan dalam rapat anggota, misalnya apabila ada masalah antar anggota maka akan dibahas bersama. Informasi yang sifatnya tidak mempengaruhi bidang usaha biasanya hanya disampaikan melalui penempelan publikasi, misalnya ada anggota yang meninggal dunia sehingga diharapkan kepada anggota untuk mengurus administrasinya.

Sistem Informasi Manajemen di Koperasi Batik PPIP telah menggunakan peralatan modern seperti komputer, telepon, faximile selain juga masih menggunakan cara tradisional yaitu tatap muka. Informasi tersebut akan sangat mempengaruhi kegiatan usaha yang dilakukan koperasi dalam rangka mengembangkan usahanya. Selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan langkah kebijakan dalam perencanaan dan pengembangan usaha koperasi agar lebih optimal meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

  1. C. Komparatif
    1. Persamaan dan Perbedaan

Sistem Informasi Manajemen yang dilakukan oleh Koperasi Batik PPIP dan KUD Makaryo Mino hampir sama. Kedua koperasi ini telah menggunakan sistem komputer untuk mengelola administrasi keuangan dan pembukuan. Kedua koperasi ini juga menggunakan jasa akuntan publik. Di dalam mencari dan memperoleh informasi, kedua koperasi menggunakan telepone dan cara tradisional (tatap muka), hanya saja pada Koperasi Batik PPIP lebih canggih karena sudah menggunakan faximile sedangkan pada KUD Makaryo Mino belum menggunakannya. Meskipun informasi yang disampaikan kepada anggota antara Koperasi Batik PPIP dan KUD Makaryo Mino sama-sama masih tradisional yaitu disampaikan melalui tatap muka tetapi masih terdapat perbedaan. Pada KUD Makaryo Mino informasi disampaikan kepada ketua/pengurus tiap kelompok,  baru kemudian oleh ketua/pengurus  kelompok tersebut disampaikan kepada anggota kelompoknya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, KUD Makaryo Mino terbagi menjadi 4 kelompok. Pada Koperasi Batik PPIP, informasi disampaikan dalam suatu rapat, tidak dalam kelompok-kolompok seperti pada KUD Makaryo Mino.

Pada umumnya Sistem Informasi Manajemen Koperasi Batik PPIP dan KUD Makaryo Mino hanya memiliki sedikit perbedaan yang tidak begitu mencolok. Koperasi Batik PPIP dan KUD Makaryo Mino telah menjalankan fungsi Sistem Informasi Manajemen dengan baik sebagaimana mestinya, meskipun bisa dibilang masih sederhana. Kriteria bagi suatu Sistem Informasi Manajemen yang efektif adalah bahwa sistem tersebut dapat memberikan data yang cermat, tepat waktu dan yang penting artinya bagi perencanaan, analisis dan pengendalian manajemen untuk mengoptimalkan pertumbuhan organisasi                                       (Coleman and Riley, 1973). Berdasarkan teori tersebut Sistem Informasi Manajemen di kedua koperasi sudah dapat dikatakan efektif. Hal ini dapat ditunjukkan dengan tersampaikannya informasi yang ada kepada para anggota di kedua koperasi Dengan adanya Sistem Informasi Manajemen di kedua koperasi diharapkan akan lebih mengembangkan usaha koperasi. Semua informasi yang diperoleh sebisa mungkin dapat disampaikan kepada anggotanya sehingga anggota lebih mengetahui keadaan baik yang terjadi di dalam ataupun di luar koperasi, sekaligus melibatkan anggota dalam menentukan kebijakan-kebijakan ataupun memecahkan suatu masalah yang ada pada koperasi.

  1. Kelebihan dan Kekurangan

Setiap badan usaha pasti memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya. Demikian juga KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP Sebesar apapun usaha yang dijalankannya pasti memiliki sisi positif dan negatif. Dengan kelebihan yang dimiliki merupakan kebanggaan bagi koperasi sekaligus motivasi untuk lebih baik lagi, sedangkan kekurangan bukan merupakan suatu yang harus ditutup-tutupi melainkan untuk lebih diperbaiki agar koperasi dapat berjalan dengan baik.

KUD Makaryo Mino merupakan KUD yang bergerak di bidang perikanan. Meskipun Sistem Informasi Manajemen KUD Makaryo Mino telah berjalan dengan baik tetapi masih ada kekurangannya, yaitu informasi hanya diperoleh melalui telepon dan manual antar anggota sehingga informasi yang diperoleh masih terbatas. Padahal teknologi sekarang sudah semakin canggih, misalnya adanya internet yang dapat mengakses informasi dari seluruh dunia. Meskipun begitu, KUD Makaryo Mino juga memilliki kelebihan antara lain telah menggunakan komputer dalam mengelola keuangan dan pembukuan. Hal itu akan memperkecil adanya kesalahan dalam perhitungan dan mempermudah anggota memperoleh data yang diperlukan. Selain itu pemeriksaan keuangan menggunakan jasa akuntan publik sehingga lebih akurat. Informasi yang disampaikan kepada anggota lebih mengena karena disampaikan kepada pengurus/ketua kelompok yang akan di teruskan kepada anggota kelompoknya. Dengan begitu pesan akan lebih tersampaikan. Demikian juga bila ada saran dan kritik dari anggota akan disampaikan melalui ketua/pengurus kelompok yang selanjutnya akan disampaikan dalam rapat anggota.

Seperti halnya KUD Makaryo Mino, pada Koperasi Batik PPIP juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan Koperasi Batik PPIP adalah masih terbatas. Meskipun sedikit sedikit lebih canggih dibanding KUD Makaryo Mino yaitu dengan adanya faximile tetapi itu tidak cukup dalam memperoleh informasi yang sering berubah-ubah. Dalam penyampaian informasi kepada anggota biasanya disampaikan kepada anggota dalam rapat anggota. Padahal tidak semua anggota hadir dalam rapat anggota sehingga ada kemungkinan anggota yang tidak memperoleh informasi yang ada. Kelebihan Koperasi Batik adalah adanya sistem komputerisasi dalam pengelolaan administrasi dan pembukuan. Hal itu memperkecil kesalahan perhitungan dan mempermudah anggota memperoleh data. Selain itu, dengan komputer maka proses pengelolaan administrasi dan pembukuan akan lebih cepaat. Pada Koperasi Batik PPIP, data administrasi atau keuangan setiap tahunnya diperiksa oleh akuntan publik sehingga diperoleh data yang akurat.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat setelah melaksanakan praktikum di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP di Pekalongan adalah :

  1. Sistem Informasi Manajemen di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP telah menggunakan sistem komputer dalam pengelolaan administrasi dan pembukuan.
  2. Informasi keuanganKUD Makaryo Mino dan Koperasi PPIP dikontrol akuntan publik sehingga data yang disajikan lebih akurat.
  3. Informasi yang diperoleh KUD Makaryo Mino menggunakan: surat kabar, televisi, radio,  telepon dan sistem tradisional (tatap muka) sedangkan pada Koperasi Batik PPIP adalah surat kabar, televisi, radio,telepon, faximile dan sistem tradisional.
  4. Pada KUD Makaryo Mino, informasi disampaikan kepada anggota melalui ketua / pengurus kelompok.
  5. Pada Koperasi Batik PPIP, informasi disampaikan langsung kepada anggota dalam suatu rapat.
  6. Sistem Informasi Manajemen sangat diperlukan koperasi dalam mengembangkan usahanya.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan setelah melaksanakan praktikum di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP adalah :

  1. KUD Makaryo Mino memerlukan teknologi modern dalam memperoleh informasi misalnya dengan internet.
  2. Meningkatkan hubungan kerjasama dengan pihak lain untuk memperluas dan menambah informasi yang berguna bagi kemajuan koperasi.
  3. 3. Perlu adanya peningkatkan fasilitas atau kemudahan bagi anggota koperasi untuk meningkatkan partisipasi anggota dalam upaya pengembangan koperasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, P. 1995. BUMN, Swasta dan Koperasi. Pustaka Jaya. Jakarta.

Aziz, Amin. 1986. Koperasi Sebagai Alat Kebijaksanaan Pemerintah. PT. Gramedia. Jakarta.

Coleman and Riley. 1973. Data Processing for Business. Hardcourt Broce                 Javanovich Inc. New York.

David, B. Gordon. 1995. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian III ; Struktur Pengembangan. Pustaka Binaan Pressindo. Jakarta.

Martino, R.L. 1986. Manajemen Informasi. Bina Aksara. Jakarta.

Nasution, M. 1983. Pengembangan Perkoperasian Dalam Usaha – Usaha Meningkatkan Taraf Hidup Petani Berlahan Sempit dan Buruh Tani. UI. Press. Jakarta.

Reskohadiprojo, S. 1974. Manajemen Koperasi. BPFE. Yogyakarta.

Sagimun. 1983. Koperasi Indonesia. Depdikbud. Jakarta.

Swasono, Sri E. 1987. Koperasi di Dalam Orde Ekonomi Indonesia. UI Press. Jakarta.

Yusuf, Amir. 1995. Sistem Informasi Manajemen. Salemba Empat. Jakarta.

INTISARI

Koperasi merupakan salah satu sektor dalam ekonomi kerakyatan. Disamping orientasi pemerataan koperasi juga menjalankan fungsi lain yang mendukung pembangunan ekonomi dan mobilitas ekonomi. Koperasi  memiliki definisi yaitu badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan

Praktikum Koperasi Pertanian ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Mei 2004 di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP Pekalongan. Kegiatan ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih memahami kondisi dan permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh koperasi.

Metode dasar yang yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui data primer dan data sekunder koperasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode kuantitatif dan metode kualitatif.

Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh beberapa kesimpulan yaitu Sistem Informasi Manajeman merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menjalankan dan mengelola usaha koperasi. Secara umum Sistem Informasi Manajemen di KUD Makaryo Mino dan Koperasi Batik PPIP sudah baik. Sistem Informasi Manajemen yang digunakan untuk administrasi keuangan adalah sistem komputerisasi  sedangkan informasi diperoleh melalui telepon dan cara tradisional (tatap muka). Penyampaian informasi kepada anggota dilakukan melalui rapat. Hasil dari informasi yang didapat digunakan sebagai masukan dalam membuat kebijakan dalam menjalankan dan mengembangkan usaha koperasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: