SISTEM TOP DOWN PLANING

v      Sistem Perencanaan Top Down

Arti            :

Perencanaan yang dibuat dari atasan kepada bawahannya,   yang mengambil keputusan adalah atasannya, bawahan tidak ikut andil dalam pembuatan atau pengambilan keputusan, bawahannya hanya sebagai pelaksana keputusan saja

Kelebihan :

  1. Karena dalam pengambilan keputusan hanya pemimpin saja yang berwenang maka dalam mengambil keputusan hanya membutuhkan waktu yang singkat ( lebih cepat dalam mengambil keputusan).
  2. Dalam pengambilan keputusan dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya karena tidak berdiskusi dahulu dengan bawahan.

Kelemahan :

  1. Karena keputusan atasan yang menentukan maka keputusan kurang didasarkan pada aspirasi bawahan dan kurang partisipatif.
  2. Pola identifikasi masalah didasarkan pada temuan peneliti yang dilakukan orang luar. Penelitian yang dilakukan orang luar biasanya kurang mendalam dan tidak mampu mengenali masalah latent yang ada.
  3. Perencanaan program atau pengambilan keputusan dilakukan oleh atasan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan, keinginan bawahan ataupun tidak sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi.

v      Sistem Perencanaan Buttom Up

Arti :

Perencanaan yang dibuat berdasarkan aspirasi dari bawahan yang kemudian bersama dengan atasan mengambil suatu keputusan atau menetapkan suatu kebijakan.

Kelebihan :

  1. Karena bawahan dilibatkan dalam pengambilan keputusan maka perencanaan ini lebih pertisipatif, semua komponen (atasan dan bawahan) ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.
  2. Keptusan yang diambil berdasar aspirasi bawahan sehingga hasil keputusan sesuai dengan kebutuhan, keinginan bawahan serta masalah yang sedang dihadapi oleh bawahan.

v      Sistem Perencanaan Gabungan

Arti :

Perencanaan yang disusun berdasar kebutuhan bersama (atasan dan bawahan) yang kemudian dilaksanakan sebagai kesepakatan bersama antara bawahan dengan atasan.

Kelebihan :

  1. Pengambilan keputusan partisipatif karena semua pihak terlibat dalam pengambilan keputusan.
  2. Keputusan yang diambil bisa sesuai dengan keinginan, kebutuhan semua pihak dan sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi baik oleh bawahan maupun oleh atasan.

Kelemahan :

Membutuhkan waktu yang lama karena harus melakukan diskusi antara bawahan dengan atasan.

DAFTAR PUSTAKA

Alexander, Abe. 2005. Perencanaan Daerah Partisipatif. Pembaruan. Yogyakarta

Santoso, Joko. 2000. Perencanaan Wilayah. Bumi Aksara. Jakarta

Sugiarto, Agus. 2003. Perencanaan Pembangunan Partisipatif Kota Solo. IPGI. Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: