SOSIOLOGI PEDESAAN

I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Sosiologi pedesaan adalah ilmu pengetahuan yang sistematis sebagai penerapan metode ilmiah dalam upaya mempelajari masyarakat pedesaan, struktur dan organisasi sosial, sistem dasar masyarakat, dan perubahan sosial yang terjadi.

Pedesaan sangat identik dengan pertanian dan kehidupan masyarakat yang sederhana dan senantiasa bergotong-royong dalam menghadapi masalah. Pedesaan umumnya memiliki lahan pertanian yang luas dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Masyarakat desa dalam setiap kehidupan sosial, ekonomi, dan budayanya selalu bersifat kekeluargaan dan patuh terhadap norma aturan serta orang-orang tertentu (sesepuh) yang mereka hormati.

Dulu masyarakat desa tertutup terhadap hubungan luar tetapi sekarang desa sangat banyak terpengaruh kehidupan kota akibat adanya program pembangunan oleh pemerintah. Dampak positif dari terbukanya desa terhadap hubungan luar adalah dengan masuknya sarana dan prasarana kehidupan seperti komunikasi , perhubungan, pendidikan, sistem pertanian dan bidang kehidupan lainnya.

Desa sebagai persekutuan hidup bersama memiliki karakteristik perkembangan masyarakat yang lambat, adat yang khas dan mengikat warganya, hubungan warga yang erat dan solidaritas tinggi, serta sarana dan prasarana yang kurang lengkap. Untuk mencukupi kehidupan sosial ekonominya mereka selalu memperhatikan alam sekitarnya. Sehingga mereka hanya mengambil dari alam sesuai dengan kebutuhannya. Dalam mengelola usaha tanipun mereka hanya menggunakan lahan seperlunya tanpa merusak lingkungan.

Kehidupan masyarakat desa yang sederhana dan guyup tidak selamanya mendatangkan ketentraman. Kadang-kadang diantara mereka ada konflik-konflik sosial yang mereka selesaikan secara musyawarah. Oleh karena itu, dilaksanakan praktikum Sosiologi Pedesaan ini untuk lebih mengenal dan memahami serta mengetahui kehidupan masyarakat desa yang kompleks di segala bidang kehidupan.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum Sosiologi Pedesaan adalah untuk melatih mahasiswa mengenal lebih dalam perilaku masyarakat desa, lembaga sosial, adat istiadat, kelembagaan hubungan kerja pertanian dan luar pertanian, grup sosial dan organisasi sosial, pola komunikasi, serta konflik sosial yang ada.

C. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum Sosiologi Pedesaan dilaksanakan pada tanggal 2 – 4 Desember 2005 di Desa Dukuh, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dan masyarakat dan bebagai aspeknya. Sedangkan sosiologi pedesaan yang baru hendaknya merupakan studi tentang bagaimana masyarakat desa (bukan hanya desa pertanian) menyesuaikan diri terhadap masuknya sistem kapitalisme modern di tengah kehidupan mereka (Raharjo,1999).

Sosiologi pedesaan adalah salah satu cabang dari sosiologi yang mengkaji masyarakat yang hidup di pedesaan beserta permasalahan-permasalahan yang timbul. Jadi sosiologi pedesaan merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang mengkaji secara khusus tentang masyrakat pedesaan. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa sosiologi pedesaan mempelejari masyarakat pedesaan dalam keseluruhan hubungan sosial antara orang-orang dalam masyarakat tersebut (Wisadirana,2004).

Stratifikasi sosial ketika diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia adalah pelapisan sosial. Stratifikasi sosial adalah penggolongan atau pembedaan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, previlese, dan prestise (Ibrahim,2003).

Komunikasi sebagai proses sosial adalah bagian integral dari masyarakat secara garis besar komunikasi sebagai proses sosial si masyarakat yang memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :

  1. Komunikasi menghubungkan antara berbagai komponen manusia.
  2. Komunikasi membuka peradaban manusia.
  3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat.
  4. Komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai kemasyarakatan.
    1. Indonesia berkomunikasi dengan yang lain menunjukkan jati diri kemanusiaan (Nurudin, 2000).

Mobilitas penduduk dapat dibedakan atas mobilitas penduduk vertikal dan horisontal. Mobilitas penduduk vertikal sering disebut perubahan status, dan salah satu contohnya adalah perubahan status pekerjaan. Seseorang yang mula-mula bekerja dalam sektor pertanian sekarang bekerja dalam sektor non pertanian.

Mobilitas penduduk horisontal atau sering pula disebut dengan mobilitas penduduk geografis, adalah gerak (movement) penduduk yang melintas batas wilayah menuju wilayah yang lain dalam periode waktu tertentu (Mantra,2003).

Pengertian organisasi yang lebih tajam adalah suatu sistem sosial yang bersifat langgeng, formal memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggotanya terperinci, dan mempunyai sifat hierarkis. Batasan menegaskan bahwa organisasi sosial merupakan sistem sosial. Oleh karena itu konsep-konsep yang berhubungan dengan sistem sosial (struktur, sosial, fungsi dan integrasi) dapat digunakan untuk menganalisa organisasi (Ibrahim,2003).

Struktur masyarakat di Indonesia ditandai oleh dua ciri yang bersifat unik yaitu secara horisontal dan vertikal. Secara horisontal ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial yang berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, adat serta kedaerahan. Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai dengan adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan bawah yang cukup tajam (Nasikun,2001).

Pekerjaan gotong royong pada masa sekarang lebih populer dengan istilah kerja bakti contohnya memperbaiki jalan, saluran air, menjaga keamanan desa (ronda malam) dan lain sebagainya. Kerjasama semacam ini biasanya lebih mengenal hal-hal yang lebih bersifat untuk kepentingan individu seperti mendirikan rumah, pesta pernikahan, musibah kematian, kelahiran, dan lain sebagainya. Seiring dengan istilahnya dengan tolong menolong (Basuki, 2000).

Di Indonesia secara umum, sistem sosial atas dasar kekerabatan masih cukup kuat, bahkan pemisahan terhadap anggota-anggota sistem sosial yang cukup ketat dapat dikatakan menjadi faktor penghambat migrasi antar propinsi dengan dianutnya pepatah mangan ora mangan asal kumpul (Ibrahim,2003).

Sebagian penduduk negara berkembang bekerja disektor pertanian dari produksi primer non pertanian. Umumnya mereka memiliki tingkat kehidupan rendah. Hal ini terlihat dari tingkat pendapatan yang rendah. Fasilitas rumah yang memadai, pendidikan terbatas, tingkat kematian tinggi. Akibatnya sumber daya alam dan sumber daya manusianya belum dikembangkan secara optimal   (Suryana, 2000).

Menurut Basuki (2000), ciri masyarakat pedesaan antara lain :

  1. Didalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang telah mendalam dan erat bila dibanding dengan masyarakat diluar wilayah.
  2. Sistem kehidupan umumnya kelompok dengan dasar kekeluargaan (gemain draft) sebagian besar warga pedesaan hidup dari pertanian. masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat.

Kepuasan dalam mengadakan hubungan serta mempertahankan hubungan yang telah ada sebelumnya disuatu sistem sosial merupakan kebutuhan manusia. Kebutuhan ini lazim disebut kebutuhan inklusi. Seorang mahasiswa yang ditugaskan melakukan KKN di suatu desa harus mengadakan hubungan dengan petani-petani desa dengan kaidah-kaidah perilaku yang sudah lazim dilakukan penduduk desa. Dia tidak dapat seenaknya berperilaku di desa itu seperti dia berperilaku di kota. Dia “terpaksa” berperilaku sesuai dengan norma-norma desa, artinya dia memperthankan pola-pola hubungan yang telah ada sebelumnya di desa itu (Ibrahim,2003).

Stratifikasi dapat berubah melalui mobilitas sosial institusi sosial dimana mobilitas itu terjadi karena terjadinya perubahan pada institusi lain atau karena terjadinya gerakan sosial. Endapan pula perubahan sosial ada tiga, yaitu :

  1. Pola linier

Menurut pola pikir ini perkembangan masyarakat mengikuti suatu pola yang pasti.

  1. Pola siklus

Menurut pola ini masyarakat berkembang laksana suatu roda. Kadang naik ketas, kadang turun kebawah.

  1. Gabungan Beberapa pola (Sunarto, 2000).

Dalam tingkatan masyarakat, kurangnya interaksi suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain akan menyebabkan lambannya perkembangan masyarakat tersebut. Untuk membuka keterasingan masyarakat tertentu ada berbagai cara yang dapat dilakukan antara lain membuka komunikasi dengan masyarakat itu. Pembangunan sarana komunikasi dan transportasi di suatu daerah sebenarnya berdampak meningkatkan frekuensi interaksi masyarakat tadi dengan masyarakat lain dan perkembangan masyarakat dapat dipacu (Ibrahim,2003).

Koentjaraningrat mengemukakan tata pembangunan desa sebagai berikut :

  1. Tata pembangunan desa terdiri atas satu aturan desa.
  2. Tata pembangunan desa terdiri atas dua orang kepala desa.
    1. Tata pembangunan desa yang bersifat tinggal, yang terdiri atas satu orang kepala desa (Djiwandi, 2000).

Dalam tingkatan masyarakat, kurangnya interaksi suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain akan menyebabkan lambannya perkembangan masyarakat tersebut. Untuk membuka keterasingan masyarakat tertentu ada berbagai cara yang dapat dilakukan antara lain membuka komunikasi dengan masyarakat itu. Pembanguna sarana komunikasi dan transportasi di suatu daerah sebenarnya berdampak meningkatkan frekuensi interaksi masyarakat tadi dengan masyarakat lain dan perkembangan masyarakat dapat dipacu (Ibrahim,2003).

III. METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. Metode Dasar Penelitian

Dalam praktikum sosiologi pedesaan metode dasar yang dipakai adalah metode deskriptif analisis, yaitu metode yang memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam konteks teori-teori yang ada dari penelitian terdahulu.

Penelitian deskriptif yang berhasil baik merupakan bahan yang sangat diperlukan untuk penelitian analitis. Penelitian analitis tentulah akhirnya untuk membuat deskripsi baru yang lebih sempurna (Ihromi, 1999).

  1. B. Teknik Pengambilan Responden
    1. Penentuan desa penelitian dilakukan secara disengaja (purposive) dengan ketentuan sesuai dengan kebutuhan praktikum.
    2. Penarikan sampel dengan acak bertingkat (Purposive Random Sampling), penarikan sampel dengan mengelompokkan petani berdasarkan tingkatan atau kelas tertentu (status petani berdasarkan penguasaan lahan).

Di dalam sampling acak secara proporsional menurut stratifikasi ini populasi dibagi atas beberapa bagian (subpopulasi). Penggolongan populasi ini berdasarkan ciri tertentu dari populasi tersebut untuk keperluan penelitian. Keuntungan sampling acak secara proporsi berdasarkan stratifikasi ini adalah bahwa sampel yang diperoleh lebih representatif daripada sampel yang diperoleh dengan sampling acak yang sederhana dengan jumlah yang sama bagi setiap kategori. Sampling dengan cara stratifikasi ini lebih menggambarkan keadaaan populasi yang sesungguhnya karena telah memperhitungkan ciri-ciri tertentu (Ihromi, 1999).

  1. C. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam praktikum ini dilakukan dengan cara :

  1. Wawancara

Mahasiswa mendatangi responden, wawancara dipandu dengan kuisioner yang telah tersedia. Diusahakan memperoleh data yang obyektif. Data penunjang dapat diperoleh dari masyarakat, baik mengenai sejarah desa maupun fenomena yang ada.

  1. Observasi

Mahasiswa melakukan pengamatan secara langsung atas keadaan responden serta keadaan yang terjadi di daerah penelitian atau praktikum.

  1. Pencatatan

Mencatat data-data yang diperlukan dari sumber yang dapat dipercaya.

  1. D. Jenis dan Sumber Data
  2. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung dari petani atau responden dengan wawancara menggunakan kuisioner.

  1. Data Sekunder

Data yang diambil dengan cara mencatat langsung data yang ada di instansi terkait, misalnya data monografi desa.

  1. E. Metode Analisis Data

Analisis data dengan deskriptif analitis dengan menggunakan tabel frekuensi dan angka rata-rata. Pada kasus tertentu mahasiswa dapat menulis secara lebih mendalam dan komprehensif, oleh karena itu disarankan bagi mahasiswa untuk menggali data lebih mendalam melalui Indepth Interview. Penjelasan berdasarkan teori-teori atau hasil penelitian yang relevan.

IV. HASIL DAN ANALISIS HASIL

  1. Keadaan umum

1. Sejarah Desa

Menurut cerita, sejak jaman Keraton Solo, suatu tempat yang ditempati banyak orang itu disebut dukuh. Pada tahun 30-an dukuh tersebut dibudidayakan oleh Keraton Solo untuk menjadi sumber pendapatan keraton sendiri dan pemerintahan Belanda yang saat itu saling bekerjasama. Luas daerah dukuh ditentukan oleh jumlah penduduk yang menempatinya. Sejak itu terjadilah pembatasan tanah tempat berdomisili (pekarangan) dan tempat produksi (sawah). Jumlah sawah (petak-petaknya) sesuai dengan jumlah penduduk, semakin banyak jumlah penduduk maka akan semakin luas pula sawah tersebut. Pada awal pemerintahan desa ini, terdapat lurah sebagai pemimpin desa, carik sebagai juru tulis, kabayan dukuh sebagai kepala wilayah kependudukan, Jogoboyo sebagai keamanan desa dan mudin sebagai ulama desa. Kemudian pada waktu penjajahan Jepang, dalam pemerintahan desa ini ditambah adanya pamong tani dan ulu-ulu (sebagai pengatur air). Desa Dukuh ini dibagi menjadi 10 dukuh, diantaranya adalah :

  1. Dukuh Bulak, yang artinya dukuh perantara.
  2. Dukuh Dukuh, yang artinya terdapat penduduk yang banyak.
  3. Dukuh Kebak, kata “kebak“ bermakna penuh harapan. Diharapkan di dukuh ini semua harapan dapat terwujud sesuai keinginan masyarakat.
  4. Dukuh Kentengsari, kata “kentengsari” berasal dari sebuah makna tanah yang tidak terpakai , berbatu dan kering pada tahun 1960-an.
  5. Dukuh Bendowulung, bendowulung digunakan sebagai nama dukuh ini karena dahulu di daerah ini banyak terdapat pohon Benda dan berbuah yang bernama buah Wulung.
  6. Dukuh Gebluk, gebluk dalam sejarahnya dijadikan sebagai nama dukuh ini karena di daerah ini hampir setiap hari di era 1952-an ada penduduknya yang meninggal dunia.
  7. Dukuh Gentan, dukuh ini dinamakan gentan karena pada jaman dahulu orang-orang dari dukuh ini banyak yang berprofesi sebagai pencuri.
  8. Dukuh Pranan, nama dukuh ini berasal dari nama “kepranan” yang bermakna sawah yang banyak ditemukan reco dan patung.
  9. Dukuh Karang Tengah, dinamakan karang tengah karena di daerah ini banyak terdapat pohon kacang atau kelapa.
  10. Dukuh Gempolan, gempolan dinamakan sebagai nama dukuh ini karena pada jaman dahulu di daerah ini banyak terdapat pohon gempol.

2. Kondisi Geografi

  1. Lokasi Desa

1)      Batas Desa Dukuh secara geografi adalah sebagai  berikut :

Sebelah utara : jalan

Sebelah selatan : jalan

Sebelah timur : jalan KA

Sebelah barat : sungai

2)      Batas Desa Dukuh secara administratif adalah sebagai  berikut :

Sebelah utara : Desa Palur

Sebelah selatan : Desa Wirun

Sebelah timur : Desa Demakan

Sebelah barat : Desa Plumbon

Luas daerah Desa Dukuh 184,50 ha termasuk di dalamya luas lahan pertanian. Desa Dukuh termasuk dataran rendah dengan ketinggian 550 m dpl suhu udara rata-rata 300C dengan curah hujan 3000 mm/th.

3)      Jarak dari pusat administratif :

a)      Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan 1 km

b)      Jarak dari ibukota kabupaten 14 km

  1. Topografi

Desa Dukuh secara umum mempunyai topografi datar, sehingga hal ini memudahkan masuknya alat transportasi di daerah ini.

3. Kependudukan

  1. Pertambahan Penduduk dan Mobilitas Pendduduk

Tabel 4.1.1  Pertambahan Penduduk Dan Mobilitas Penduduk Di  Desa Dukuh

Tahun Awal Mobilitas Pertambahan Penduduk
Lahir (L) Mati (M) Datang (I) Pergi (E)
2002

2004

2005

3701

3730

3747

42

45

15

9

14

17

24

7

5

14

21

12

43

17

-9

Sumber : Data Sekunder

Mobilitas penduduk adalah segala perubahan komposisi yang diakibatkan oleh kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk baik perpindahan permanen maupun non permanen. Pertambahan penduduk ini dapat dihitung dengan rumus :

P = ( L – M ) + ( I – E  )

1)      Pertambahan penduduk tahun 2002

P = ( 42 – 9 ) + ( 24 – 14 ) = 33 + 10 = 43

2)      Pertambahan penduduk tahun 2004

P = ( 45 – 14 ) + ( 7 – 21 ) = 31 – 14 = 17

3)      Pertambahan penduduk tahun 2005

P = ( 15 – 17 ) + ( 5 – 12 ) = -2 + (-7) = -9

Dari tabel 4.1.1. dapat diketahui bahwa angka kelahiran dari tahun 2002 ke 2004 mengalami peningkatan yaitu dari 42 menjadi 45. Hal ini disebabkan karena kebanyakan penduduk di Desa Dukuh banyak yang berusia produktif, sehingga peluang terjadinya kelahiran bertambah besar, selain hal tersebut adanya anggapan masyarakat tentang budaya lama yaitu masyarakat percaya bahwa semakin banyak anak maka akan semakin banyak pula rejeki yang akan mereka dapatkan. Sedangkan untuk tahun 2005, jumlah kelahiran menurun hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk yang semakin tinggi, memperluas wawasan mereka tentang pentingnya program KB yang dicanangkan oleh pemerintah. Jadi dengan melaksanakan program KB tersebut dapat menurunkan tingkat kelahiran di tahun 2005 ini, walaupun banyak penduduknya yang berusia produktif.

Tingkat kematian penduduk Desa Dukuh dari tahun ke tahun semakin meningkat, karena kurang adanya perhatian yang khusus akan pentingnya kesehatan dan kurang memanfaatkan fasilitas/sarana kesehatan yang telah ada. Selain itu, sebagian orang yang meninggal merupakan orang-orang yang sudah lanjut usia. Sedangkan mobilitas penduduk yang datang, pada tahun 2002  lebih banyak (24 orang) daripada tahun 2004 dan 2005. Hal ini dikarenakan adanya orang-orang dari luar desa yang datang/tinggal menetap di Desa Dukuh dengan alasan pekerjaan. Selain itu juga disebabkan oleh adanya penikahan warga antar desa, sehingga bisa jadi ada penambahan penduduk di Desa Dukuh tersebut. Mobilitas penduduk yang pergi pada tahun 2004 juga lebih banyak (21 orang) daripada tahun 2002 dan 2005. alasan utama yang menyebabkan penduduk pergi keluar desa karena adanya ketersediaan lapangan pekerjaan yang prospeknya lebih menjanjikan dari pada hasil pekerjaan di desanya sendiri.

Pertambahan penduduk pada tahun 2002 lebih tinggi daripada tahun 2004 dan 2005. pertambahan penduduk dipengaruhi oleh tingkat kelahiran, tingkat kematian dan perpindahan penduduk yang dapat berupa emigrasi dan imigrasi. Jika tingkat kelahiran penduduk semakin tinggi maka pertambahan penduduk cenderung meningkat tanpa ada perpindahan penduduk atau mobilitas keluar daerah. Jika tingkat kematian penduduk semakin tinggi maka pertambahan penduduk cenderung menurun.

Pertambahan penduduk adalah sama dengan (jumlah kelahiran – jumlah kematian) + (imigrasi – emigrasi), kalau dibuat rumus sebagai berikut :

P = ( L – M ) + ( I – E )

dimana L    =  jumlah kelahiran

M =  jumlah kematian

I    =  jumlah imigrasi

E   =  jumlah emigrasi (Saidihardjo, 1974).

  1. Kepadatan Penduduk

Tabel 4.1.2 Kepadatan Penduduk Di Desa Dukuh

Tahun Jumlah Penduduk Luas Wilayah (km2) Luas Lahan (ha)
2002

2004

2005

3701

3730

3747

1,845

1,845

1,845

119,080

119,128

119,128

Sumber : Data Sekunder

Kepadatan geografis adalah perbandingan jumlah penduduk dengan luas wilayah per km2. Kepadatan geografis menunjukkan banyaknya penduduk yang tinggal dalam tiap 1 km2 luas wilayah. Untuk mengukur kepadatan geografis digunakan rumus :

Kepadatan penduduk = Jumlah Penduduk
Luas wilayah (km2)

Kepadatan geografis tahun 2002            =  3701 =  2005,96 jiwa/km2

1,845

Kepadatan geografis tahun 2004            =  3730 =  2021,68 jiwa/km2

1,845

Kepadatan geografis tahun 2005            =  3747 =  2030,89 jiwa/km2

1,845

Kepadatan geografis tahun rata-rata       = 6058,53 =  2019,51  jiwa/km2

3

Dari tabel 4.1.2 dapat diketahui bahwa kepadatan geografis rata-rata di Desa Dukuh adalah 2019,51 jiwa/km2. Artinya dalam 1 km2 terdapat jumlah penduduk sebesar 2019 jiwa. Berdasarkan kepadatan geografis ini maka Desa Dukuh termasuk desa yang padat penduduknya.

Kepadatan geografis merupakan banyaknya penduduk yang menempati tempat di suatu wilayah dalam kesatuan wilayah yang digunakan sebagai tempat tinggal (Mantra, 1995).

Kepadatan agraris adalah penduduk bertani tiap kesatuan tanah yang digunakan untuk pertanian.

Kepadatan Agraris = Jumlah penduduk (jiwa)
Luas lahan pertanian (ha)

Kepadatan agraris tahun 2002   =      3701 = 31,08 jiwa/ha

119,080

Kepadatan agraris tahun 2004   =      3750 = 31,31 jiwa/ha

119,128

Kepadatan agraris tahun 2005 =      3747 = 31,45 jiwa/ha

119,128

Kepadatan agraris rata-rata       = 31,08 + 31,31 + 31,45 = 31,28 jiwa/ha

3

Jumlah penduduk Desa Dukuh yang semakin bertambah mengakibatkan kepadatan agraris meningkat. Dari tabel 4.1.2 dapat diketahui bahwa kepadatan agraris rata-rata dari tahun 2002, 2004 dan 2005 adalah 31,28 jiwa/ha. Artinya dalam setiap lahan pertanian seluas 1 ha digarap/ dikerjakan oleh 31 orang

Kepadatan penduduk adalah banyaknya penduduk persatuan unit wilayah. Jumlah penduduk yang digunakan sebagai pembilang dapat berupa jumlah penduduk seluruh wilayah tersebut atau bagian penduduk tertentu atau bagian-bagian penduduk tertentu, seperti penduduk daerah pedesaan atau penduduk yang bekerja di bidang pertanian. Sedangkan sebagian penduduk dapat berupa luas seluruh wilayah, luas daerah pertanian dan luas daerah pedesaan. Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah penduduk tiap satuan hektare   (Mantra, 1995).

  1. Kepadatan Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Tabel 4.1.3 Kepadatan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Desa Dukuh

Tahun Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
2002

2004

2005

1897

1910

1919

1804

1820

1828

Sumber : Data Sekunder

Sex ratio adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Jika sex ratio kurang dari 100 maka jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dari jumlah penduduk perempuan. Jika sex ratio sama dengan 100 maka jumlah penduduk laki-laki sama dengan jumlah penduduk perempuan. Dan jika sex ratio lebih dari 100 maka jumlah penduduk pria lebih banyak dari penduduk perempuan.

Perhitungan sex ratio  =     Jumlah penduduk pria x  100

Jumlah penduduk wanita

sex ratio tahun 2002           =    1897 x  100   = 105,15

1804

sex ratio tahun 2004           =     1910 x  100  = 104,94

1820

sex ratio tahun 2005           =     1919 x  100  = 104,98

1828

sex ratio tahun rata-rata      =     5726 x  100  = 105,15

5452

Dari tabel 4.1.3 diketahui nilai sex ratio Desa Dukuh pada tahun 2002 lebih tinggi dari tahun 2004 dan 20005, hal ini berarti jumlah penduduk pria lebih banyak daripada jumlah penduduk wanita karena pada tahun itu banyak penduduk pendatang (laki-laki). Dari perhitungan dapat diketahui sex ratio rata-rata dari tahun 2002, 2004 dan 2005 adalah 105,19 artinya dari 100 perempuan di desa dukuh terdapat 105 laki-laki. Dengan demikian jumlah pekerjaan yang harus ditanggung oleh keduanya tidak jauh berbeda. Hal ini terlihat dari pekerjaan yang harus diselesaikan di areal persawahan, dibagi antara pria dan wanita.seperti pnanaman dikerjakan oleh wanita dan pengairan dikerjakan oleh pria.

Untuk memiliki komposisi jenis kelamin hal, penting digunakan sebagai tolak ukur dalam perhitungan sex ratio atau perbandingan jenis kelamin yang dinyatakan dalam besarnya penduduk laki-laki untuk setiap 100 penduduk perempuan. Sex ratio tinggi jika lebih banyak penduduk laki-laki dan jika sebaliknya disebut sex ratio rendah (Muhammad, 1987).

  1. Keadaan Penduduk Menurut Umur

Tabel 4.1.4 Keadaan Penduduk Menurut Umur Di Desa Dukuh

No. Umur (th) 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

0 – 4

5 – 9

10 – 14

15 – 19

20 – 24

25 – 29

30 – 39

40 – 49

50 – 59

>60

332

323

336

493

401

372

379

441

434

190

214

326

370

303

456

295

666

585

475

40

505

315

322

44

406

343

380

492

278

260

Jumlah produktif 2520 2780 2345
Jumlah non produktif 1181 950 1402

Sumber : Data Sekunder

Angka beban tanggungan (ABT) adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara jumlah kelompok umur non produktif dengan jumlah kelompok umur produktif. Kelompok umur non produktif adalah interval umur 10 – 14 tahun dan >59 tahun. Sedangkan kelompok umur produktif adalah interval umur 15 – 59 tahun. Angka beban tanggungan dapat dihitung dengan rumus

ABT = jumlah penduduk non produktif x 100

Jumlah penduduk produktif

ABT tahun 2002  =  1181 x 100 = 46,86

2520

ABT tahun 2004  =   950 x 100 = 34,17

2780

ABT tahun 2005 =   1402 x 100 = 59,79

2345

ABT rata-rata tahun 2002,2004 dan 2005 = 140,82 = 46,94

3

Berdasarkan analisis tersebut, nilai ABT pada tahun 2005 mengalami peningkatan dibandingkan dengan ABT tahun 2002 dan 2004. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk usia non produktif meningkat, selain itu sebagian besar penduduk yang berusia produktif bekerja menetap tinggal di desa. ABT rata-rata tahun 2002, 2004 dan 2005 sebesar 59,79 artinya bahwa setiap 100 orang kelompok penduduk usia produktif harus menanggung 59 penduduk kelompok usia non produktif.

Kelompok umur muda merupakan kelompok yang belum ekonomis produktif, artinya masih menjadi tanggungan kelompok umur dewasa yang ekonomis produktif. Kelompok umur tua merupakan kelompok umur yang sudah tidak ekonomis produktif lagi karena juga merupakan tanggungan kelompok usia dewasa yang ekonomis produktif (Mantra, 1995).

  1. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Tabel 4.1.5 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Dukuh

Pendidikan 2002 2004 2005
Belum sekolah

Tidak tamat SD

Tamat SD/sederajat

Tamat SLTP/ sederajat

Tamat SLTA

Akademi/PT

281

85

150

93

75

82

126

345

381

240

156

18

8

137

125

107

91

Jumlah 766 1266 468

Sumber : Data Sekunder

Tingkat pendidikan penduduk merupakan salah satu indikator pertumbuhan pembangunan suatu desa. Semakin banyak penduduk yang berpendidikan tinggi maka semakin baik pembangunan di desa tersebut. Pendidikan tinggi juga mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Berdasarkan tabel 4.1.5 terlihat bahwa pada tahun 2005 banyak penduduk sudah bersekolah, walaupun ada sebagian yang tidak lulus dari sekolah dasar tersebut, tetapi pada tahun 2005 ini juga penduduk yang tidak tamat SD sudah semakin sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Hal  ini disebabkan masyarakat mulai mengerti dan sadar akan pentingnya pendidikan seiring dengan perkembangan iptek.

Rata-rata pendidikan yang ditempuh adalah jenjang Sekolah Dasar (SD). Demikian juga dengan lulusan SLTP dan SMU, masing-masing mengalami peningkatan pada tahun 2004. Hal ini karena adanya kesadaran masyarakat untuk mengadakan program Wajib Belajar 9 tahun dari pemerintah, karena pada dasarnya itu semua baik untuk pertumbuhan dan perkembangan penduduk itu sendiri. Jumlah lulusan akademis dan sarjana juga berubah dan pada tahun 2005 ini tingkat lulusan akademi dan sarjana meningkat. Hal ini terjadi karena masyarakat memiliki kesadaran untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi agar dipandang masyarakat lain sebagai masyarakat yang memiliki status tinggi, selain itu dengan adanya peningkatan pendidikan di harapkan tingkat kesejahteraan penduduk juga meningkat.

Penilaian mengenai pendidikan didasarkan atas presentase jumlah penduduk yang telah tamat SD adalah :

a)      Jika penduduk telah tamat SD keatas berjumlah kurang dari 30 % maka termasuk golongan tingkat rendah.

b)      Jika yang telah tamat SD keatas berjumlah 30 % – 60 % termasuk golongan tingkat sedang.

c)      Jika yang telah tamat SD keatas berjumlah 60 % ke atas termasuk golongan tingkat tinggi (Sayogya, et.al., 1992).

  1. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Tabel 4.1.6 Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Desa Dukuh

No. Mata Pencaharian 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

Petani

Nelayan

Dokter

Pengrajin

Buruh tani

Buruh industri

Pedagang

Sopir

PNS

ABRI

Pensiunan (PNS/ABRI)

Buruh bangunan

592

242

2

15

1

98

2

12

147

271

2

4

156

450

6

96

271

156

450

6

1

88

6

17

Jumlah 1111 985 994

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian sebagai petani baik sebagai pemilik, penggarap dan penyewa. Penduduk memilih bertani sebagai mata pencahariannya karena lahan pertanian di Desa Dukuh cukup luas dan bertani merupakan pekerjaan turun-temurun. Sedangkan mata pencaharian sebagai buruh tani pada tahun 2005 mulai menurun, hal ini karena banyak dari mereka yang awalnya bekerja sebagai buruh tani beralih ke pekerjaan lain, yang mana pendapatannya lebih banyak daripada sebagai buruh tani. Selain itu mereka juga mulai memiliki lahan pertanian sendiri. Dari  tahun ke tahun tidak ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan karena di desa ini tidak ada laut, sebagian besar daerahnya adalah agraris. Mata pencaharian sebagai PNS dari tahun 2002, 2004 dan 2005 menurun. Hal ini karena sebagian PNS sudah mulai pensiun dan jarangnya penduduk yang diangkat sebagai pegawai negeri. Mata pencaharian sebagai buruh tani juga semakin menurun pada tahun 2005, hal ini karena banyak penduduk yang beralih pekerjaan ke buruh pabrik dengan alasan upah yang didapatkan lebih banyak dari pekerjaan sebelumnya. Jumlah pensiunan pada tahun 2005 pun juga meningkat, hal ini dikarenakan PNS yang berusia >59 tahun sudah mulai pensiun. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai buruh bangunan pada tahun 2002 paling banyak daripada tahun 2004 dan 2005. Hal ini karena pada tahun 2002 banyak penduduk yang sedang mendirikan rumah dan pada umumnya mata pencaharian sebagai buruh bangunan ini hanya sebagai sampingan saja.

Susunan penduduk berdasarkan mata pencaharian dimaksudkan untuk mengetahui jumlah orang-orang yang mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan dan lain-lain. Dari susunan  penduduk menurut mata pencaharian ini dapat memberikan gambaran tentang struktur ekonomi suatu daerah (Saidiharjo, 1974).

  1. Keadaan Penduduk Menurut Agama

Tabel 4.1.7 Keadaan Penduduk Menurut Agama Di Desa Dukuh

No Agama 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

Islam

Kristen

Katolik

Hindu

Budha

3653

9

35

4

3696

9

25

3704

34

9

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.7 dapat diketahui bahwa agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk adalah agama Islam dan dari tahun ke tahun meningkat karena penduduk pendatang maupun kelahiran bayi mayoritas beragama Islam. Di Desa Dukuh antara penduduk dengan agama mayoritas dan penduduk dengan agama minoritas masih tetap terjaga keharmonisannya.

Agama Islam berkembang di tanah Jawa. Walaupun demikian tidak semua orang beribadah menurut agama Islam, sehingga berdasarkan atas kriteria penganut agama ada yang disebut dengan Islam santri dan Islam kejawen. Kecuali ini masih ada juga di desa-desa Jawa orang-orang yang memeluk agama Nasrani (Koentjoroningrat, 1976).

4. Struktur Organisasi Pemerintahan Desa

Struktur organisasi pemerintahan Desa Dukuh Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo dapat dilihat sebagai berikut :

Pelaksanaan Teknis

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Dukuh

Keterangan :

Lurah                            : Drs. Bandriyo, WP.

Sekertaris desa              : Heri Wibowo, SH.

Kaur Pemerintahan        : Sarimin, S,Pd.

Kaur Pembangunan       : Sugiyo

Kaur Kemasyarakatan   : Widodo S,Pd.

Kaur Keuangan             : Sukamto

Kabayan I                     : Drs. Sarwoko

Kabayan II                    : Sunarno HP.

Kabayan III                  : Kirtana

a. Hak dan Kewajiban Lurah Desa

Tugas dan kewajiban lurah desa menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000 adalah :

  1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa.
  2. Membina kehidupan masyarakat desa.
  3. Membina perekonomian desa.
  4. Memelihara ketentraman dan ketertiban desa.
  5. Mendamaikan perselisihan masyarakat desa.
  6. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya.
  7. Mengajukan rancangan peraturan desa dan bersama Baperdes menetapkan sebagai peraturan desa.
  8. Melaksanakan tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan atau pemerintah kabupaten.
  9. Melaksanakan urusan pemerintahan lainnya yang tidak termasuk dalam suatu instansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga desanya sendiri.

10.  Menjaga kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di desa yang bersangkutan.

Hak lurah desa adalah memperoleh tanah bengkok kurang lebih 4 hertare.

b. Hak dan Kewajiban Carik Desa

Tugas dan kewajiban carik desa menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000 sebagai berikut:

  1. Melaksanakan tata usaha desa.
  2. Melasanakan urusan administrasi pemerintahan.
  3. Melasanakan urusan pembangunan.
  4. Melasanakan urusan keuangan.
  5. Melasanakan urusan kesejahteraan masyarakat.
  6. Melasanakan urusan umum.
  7. Melasanakan tugas lain yang diberikan oleh lurah desa.

Hak carik desa adalah mendapatkan tanah bengkok kurang lebih 3 hektare.

c. Hak dan Kewajiban Kepala Urusan Pemerintahan

Tugas dan kewajiban kaur pemerintahan menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000  adalah:

  1. Melasanakan pembinaan wilayah dan masyarakat.
  2. Melasanakan kegiatan administrasi pertanahan.
  3. Melasanakan kegiatan administrasi kependudukan dan catatan sipil.
  4. Melasanakan tugas lain yang diberikan oleh carik desa dan lurah desa.

Hak kaur pemerintahan adalah mendapatkan tanah bengkok seluas 2,3 hektare.

d. Hak dan Kewajiban Kepala Urusan Pembangunan

Tugas dan kewajiban kaur pembangunan menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000  adalah:

  1. Merencanakan pelaksanaan pembangunan, menjaga dan memelihara prasarana fisik di lingkungan desa.
  2. Melakukan pelayanan masyarakat di bidang pembangunan dan perekonomian masyarakat.
  3. Melasanakan bimbingan kepada pengusaha ekonomi lemah, koperasi dan kegiatan perekonomian lainnya.
  4. Melakukan kegiatan untuk meningkatkan swadaya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan.
  5. Tugas lain yang diberikan oleh carik desa.

Hak kaur pembangunan adalah mendapatkan tanah bengkok seluas      2,5 hektare.

e. Hak dan Kewajiban Kepala Urusan Kemasyarakatan

Tugas dan kewajiban kaur kemasyarakatan menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000 sebagai berikut :

  1. Melakukan pembinaan organisasi pemuda, organisasi wanita dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
  2. Melakukan bimbingan keagamaan dan  kerukunan umat beragama.
  3. Melakukan bimbingan hidup sehat dan KB.
  4. Melakukan kegiatan penyuluhan, kursus  pelatihan dan penduduk lainnya.
  5. Melakukan tugas lainnya yang diberikan oleh carik desa dan lurah desa.

Hak kaur kemasyarakatan adalah mendapatkan tanah bengkok seluas 2,5 hektare.

f. Hak dan Kewajiban Kepala Urusan Keuangan

Tugas dan kewajiban kaur keuangan menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000 sebagai berikut:

  1. Mengelola administrasi keuangan desa.
  2. Menerima, menyimpan dan mengeluarkan atas persetujuan carik desa dan seijin lurah desa, membukukan dan mempertanggung jawabkan keuangan desa.
  3. Mengendalikan pelaksanaan anggaran desa.
  4. Melakukan tugas-tugas kedinasan diluar urusan keuangan yang diberikan oleh carik desa maupun lurah desa.

Hak kaur keuangan adalah mendapatkan tanah bengkok seluas 2,5 hektare.

g. Hak dan Kewajiban Kebayan

Tugas dan kewajiban kebayan menurut UU no 22 th 1999 ditindaklanjuti PERDA Kabupaten Sukoharjo no 1 th 2000 adalah :

  1. Membantu pelaksanaan tugas lurah desa di wilayahnya.
  2. Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pembangunan dan kemasyarakatan serta ketentraman dan ketertiban di wilayah kerjanya.
  3. Melaksanakan keputusan dan kebijakan lurah desa.
  4. Membantu lurah desa dalam kegiatan pembinaan kerukunan warga di daerahnya.
  5. Membina dan meningkatkan swadaya gotong royong masyarakat di wilayahnya.
  6. Melakukan penyuluhan program pemerintahan di wilayahnya.
  7. Memelihara dan mengembangkan adat istiadat yang berlaku di wilayahnya.
  8. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh lurah desa.

Hak kebayan adalah mendapatkan tanah bengkok seluas 1 ha

Pemerintah desa merupakan simbol formal dari kesatuan masyarakat desa yang selain memiliki wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri (otonomi) juga memiliki kekuasaaan dan wewenang sebagai pelimpahan kekuasasaan secara bertahap dari pemerintahan diatasnya. Pemerintahan desa diselenggarakan di bawah seorang kepala desa beserta pembantu-pembantunya mewakili masyarakat yang bersangkutan (Saparin, 1997).

5. Sarana dan Prasarana

  1. Perhubungan

Tabel 4.1.8 Kondisi Jalan Di Desa Dukuh

Sarana dan Prasarana 2002 2004 2005
  1. jalan aspal

–        rusak

–        baik

  1. jalan tanah
  2. jembatan beton
5 km

2 km

2 km

0,015 km

2 km

6 km

1,15 km

1 km

8,5 km

1,15 km

1 km

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.8 diketahui bahwa pada tahun 2005 kondisi jalan sudah tidak ada yang rusak. Hal ini karena kondisi jalan aspal yang rusak pada tahun-tahun sebelumnya sudah diperbaiki, begitu pula dengan jalan aspal yang keadaannya baik, pada tahun 2005 sudah semakin meningkat, ini disebabkan adanya pengaspalan jalan di setiap tahunnya. Begitu juga dengan jalan tanah di desa tersebut juga semakin sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini terjadi karena masyarakat mulai memperbaiki keadaan jalan di desanya, walaupun tidak diaspal secara langsung karena ini akan mempengaruhi tingkat kenyamanan mereka. Jembatan beton dari tahun 2002 ke 2004 keadaannya juga meningkat, hal ini terjadi karena jembatan berfungsi sebagai penghubung sehingga digunakan juga sebagai jalan maka perlu juga dibangun.

Jalan menjadi salah satu sarana vital yang menjadi kebutuhan masyarakat untuk melakukan aktivitasnya (Sayogya, et.al., 1992).

  1. Alat Transportasi

Tabel 4.1.9 Sarana dan Prasarana Transportasi Di Desa Dukuh

No. Jenis alat transportasi 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Bus umum

Angkutan pedesaan

Ojek

Mobil / motor pribadi

Andong / dokar

Sepeda

ada

tidak

ada

ada

ada

ada

tidak

ada

ada

ada

tidak

ada

ada

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.9 dapat diketahui bahwa bus umum belum ada yang masuk ke Desa Dukuh sampai sekarang. Meskipun demikian angkutan pedesaan masih ada sampai tahun 2005 ini. Sedangkan alat transpotasi ojek tahun 2005 ini sudah ada, dimana pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada ojek. Hal ini terjadi karena pada saat sekarang sudah banyak orang yang memiliki sepeda motor pribadi dan memanfaatkannya untuk ojek. Sedangkan  alat angkutan andong sudah jarang digunakan pada tahun 2004 dan 2005, hal ini karena sudah langkanya dokar yang menggunakan bantuan binatang. Dan alat transportasi berupa sepeda masih tetap ada sampai sekarang. Alat ini pada umumnya banyak dimiliki masyarakat setempat karena harga sepeda yang mudah dijangkau sebab alat transportasi ini cara kerjanya menggunakan tenaga sendiri.

Angkutan masyarakat merupakan faktor yang dapat membantu masyarakat desa dan memperlancar perkembangan desa            (Mantra, 1995).

  1. Sarana dan Prasarana Perekonomian

Tabel 4.1.10 Sarana dan Prasarana Perekonomian Desa Dukuh

Sarana dan Prasarana Perekonomian 2002 2004 2005
Koperasi

Pasar

Warung

Industri makanan

Industri bahan bangunan

3

1

3

3

9

2

3

3

9

2

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.10 diketahui bahwa Desa Dukuh mempunysi 3 koperasi sepanjang tahun 2002, 2004 dan 2005. Dengan adanya koperasi di desa ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menjadi anggota dari koperasi tersebut, karena tujuan dari koperasi adalah mensejahterakan anggotanya. Di Desa Dukuh belum terdapat pasar, karena lokasi Desa Dukuh tidak memenuhi syarat untuk dijadikan pasar. Sarana perekonomian berupa warung meningkat pada tahun 2004 menjadi 3 buah, karena dengan membuka warung dapat membantu menambah penghasilan suatu penduduk. Di Desa Dukuh ini sudah terdapat 9 industri makanan biasanya dalam industri makanan ini mereka sering menerima pesanan makanan dari masyarakat sekitar ataupun dari desa lain. Demikian juga dengan industri bahan bangunan sekarang juga sudah ada, industri ini bergerak dalam pembuatan genting

Perekonomian tidak akan terlepas dari kehidupan masyarakat, baik di kota, desa maupun di wilayah terkecil yaitu keluarga. Dalam kenyataannya pasar sangat tepat sebagai tempat untuk melakukan tindakan ekonomi yang dapat memperlancar pendapatan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Manusia adalah makhluk ekonomi yang berjuang untuk memeperoleh pendapatan yang dapat menopang hidup dan untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang (Saidiharjo, 1974).

  1. Sarana dan Prasarana Komunikasi

Tabel 4.1.11 Sarana Dan Prasarana Komunikasi Desa Dukuh

No. Jenis alat komunikasi 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

Telepon umum

Wartel / HP

Warnet

Radio

TV

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.11 dapat kita ketahui bahwa sampai sekarang di Desa Dukuh belum ada telepon umum, hal ini karena sampai sekarang belum ada jaringan telepon umum yang sampai ke daerah tersebut, tetapi alat komunikasi berupa HP sudah ada. Memiliki HP merupakan langkah masyarakat Dukuh untuk mengimbangi/ mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Tidak hanya HP, warnet pun sudah ada sejak tahun 2004. Dengan adanya warnet memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dari luar daerahnya. Radio dan TV adalah alat komunikasi yang umumnya dimiliki masyarakat Desa Dukuh ini, dengan adanya radio dan TV ini masyarakat akan mendapatkan informasi dan juga hiburan yang lebih bersifat universal.

Komunikasi adalah proses menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Dalam penyampaian pesan diperlukan media yang tepat dan saluran yang menunjang bagi tercapainya tujuan komunikasi. Kegunaan sarana komunikasi seperti telepon, faksilmile dan internet akan membantu dalam komunikasi tak langsung (Saputra, 2002).

  1. Sarana dan Prasarana Pendidikan

Tabel 4.1.12 Sarana dan Prasarana Pendidikan Formal

No. Sarana Pendidikan 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

TK

SD

SLTP

SLTA

2

3

2

3

2

3

Sumber : Data Sekunder

Mengenai sarana dan prasarana pendidikan di Desa Dukuh sudah cukup baik untuk ukuran desa karena sudah terdapat TK dan SD. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan cukup baik. Bahkan ada penduduk yang menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah yang dianggap lebih baik di daerah lain dan ada beberapa yang kuliah di Perguruan Tinggi di luar kota.

Pendidikan dapat meningkatkan status seseorang di dalam masyarakat, siapa yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan dihormati dan lebih mendapat peluang memperoleh status yang tinggi dalam masyarakat (Mantra, 1995).

  1. Sarana dan Prasarana Olahraga

Tabel 4.1.13 Sarana dan Prasarana Olahraga Di Desa Dukuh

No. Sarana dan Prasarana 2002 2004 2005
1.

2.

3.

Lapangan sepak bola

Lapangan bulu tangkis

Meja ping-pong

1

3

2

1

3

2

1

3

2

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.13 di Desa Dukuh sudah terdapat lapangan sepakbola dan 3 lapangan bulu tangkis serta 2 meja ping-pong. Sarana olahraga ini juga dimanfaatkan oleh warga masyarakat Desa Dukuh terutama oleh remaja.

Di pedesaan terdapat berbagai sarana dan prasarana olahraga yang dapat membantu aktivitas masyarakatnya. Salah satu sarana dan prasarana yang dapat membantu pemuda dalam kegiatan olahraga adaalah lapangan yang meliputi lapangan sepakbola, lapangan bola voli dan lapangan bulu tangkis (Abidin, 2002).

  1. Sarana dan Prasarana Kesenian

Di Desa Dukuh terdapat perkumpulan kebudayaan/sanggar kesenian sebanyak 2 buah, dengan jumlah anggota kesenian sebanyak 30 orang. Sanggar ini didirikan sebagai wadah masyarakat Desa Dukuh dalam mempelajari dan melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia dan khususnya di Surakarta.

  1. Sarana dan Prasarana Ibadah

Tabel 4.1.14 Sarana dan Prasarana Ibadah Desa Dukuh

No. Sarana Ibadah 2002 2004 2005
1.

2.

3.

4.

5.

Masjid

Musola

Gereja

Vihara

Pura

2

4

3

4

3

4

Sumber : Data Sekunder

Dari tabel 4.1.14 dapat dilihat bahwa jumlah masjid tahun 2004 bertambah satu. Hubungan antara manusia dengan Tuhan merupakan hal yang sangat pribadi dan penting yang dapat diwujudkan dengan ketaatan dalam beribadah, maka sebagai sarana didirikanlah tempat ibadah. Jumlah musola dari tahun ke tahun sama. Sedangkan tempat ibadah berupa gereja, vihara dan pura tidak terdapat di desa ini karena mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kehidupan masyarakat tidak akan terlepas dari kepercayaan dan agama. Kebutuhan untuk beribadah menurut kepercayaan biasa dilakukan di tempat-tempat yang bisa menumbuhkan keyakinan terhadap Sang Pencipta (Koentjoroningrrat, 1976).

6. Organisasi Sosial

a. Karang Taruna

Sebagai wadah bagi pemuda dan pemudi desa untuk dapat saling mengenal, berkumpul serta dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif bagi kemajuan desa. Keanggotaan karang taruna adalah pemuda dan pemudi Desa Dukuh dengan kepengurusan dibentuk dengan cara pemilihan dan disepakati oleh anggota. Pengurus karang taruna adalah orang yang lebih tua dan berpengalaman dalam berorganisasi. Pertemuan rutin karang taruna diadakan setiap tanggal 1-5 tiap bulannya.

b. PKK

Keanggotaan PKK adalah ibu-ibu rumah tangga. Kepengurusan dipilih secara bersama dan disepakati oleh anggota. Pengurus yang dipilih adalah ibu-ibu yang berpendidikan dan yang lebih tua serta berpengalaman dalam organisasi.PKK tiap bulan sekali mengadakan arisan dan pertemuan untuk pengajian pada hari yang berbeda.

Di dalam kehidupan modern, organisasi di bentuk oleh manusia sesuai dengan kebutuhannya. Seseorang ahli pertanian perlu mengenal dan memahami organisasi sosial. Bagaimanapun juga, ia akan menjadi bagian dari organisai sosial atau berhadapan dengan organisasi-organisasi sosial yang ada dalam masyarakat. Organisasi yang bergerak di bidang pertanian bisa berupa perusahaan pertanian seperti perusahaan perkebunan, Departemen Pertanian, dan organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang pertanian (Ibrahim,2003).

7. Grup Sosial

a. Ronda

Keanggotaan ronda dibagi berdasarkan RT/RW. Kelompok tersebut bertugas menurut jadwal yang telah ditetapkan dengan ruang lingkup per RW. Tiap kelompok mempunyai ketua yang bertugas mengkoordinir dan mengatur jadwal ronda. Pemilihan ketua dan pengurusnya berdasar kesadaran masing-masing kelompok. Pada setiap kegiatan ronda didampingi oleh seorang hansip.

b. Pengajian

Pengajian dilaksanakan tiap minggu pada masing-masing kelompok. Anggota bervariasi menurut kelompoknya. Ada kelompok pengajian ibu-ibu yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga,kelompok bapak-bapak, dan ada pula kelompok ibu-bapak. Pengajian ibu-ibu dilaksanakan pada hari minggu pagi,pengajian bapak-bapak pada hari jumat siang, dan pengajian ibu-bapak dilaksanakan pada hari sabtu pagi.

Kelompok/grup sosial adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari sejumlah orang yang berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam satu kegiatan bersama. Menurut batasan ini kelompok sosial merupakan salah satu bentuk sistem sosial. Oleh karena itu untuk mengerti dan memahami kelompok dapat dianalisa dengan menggunakan konsep fungsi dan integrasi (Ibrahim,2003).

8. Tipologi Desa

Dilihat dari tipologinya, Desa Dukuh merupakan desa yang sudah mandiri dan merupakan desa swasembada. Predikat desa swasembada ini tidak hanya predikat namun telah dapat direalisasikan terbukti dengan mampunya masyarakat Desa Dukuh yang mampu mencukupi kebutuhan. Bahkan satu prestasi yang baru saja diperoleh adalah lahan pertanian Desa Dukuh menjadi lahan nomor satu nasional pada perlombaan yang diikuti seluruh daerah di Indonesia.

9. Adat Istiadat

a. Kondangan/rasulan pada pasca panen

Adat istiadat ini sudah mulai ditinggalkan oleh penduduk desa karena dirasa sudah tidak begitu perlu dan sudah tidak sesuai dengan kebiasaan.

b. Malam Suro

Kegiatan malem suro adalah kegiatan kumpul-kumpul di pendopo kelurahan. kegiatan ini juga sudah mulai ditinggalkan oleh warga desa karena sudah tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

c. Jimpitan

Jimpitan sebesar Rp 500,00 dilakukan setiap minggu oleh salah satu warga yang ditunjuk oleh masyarakat. Uang yang terkumpul digunakan untuk kegiatan RW.

d. Upacara Pernikahan

Upacara pernikahan meliputi malam midodareni, siraman, ngunduh manten, akad nikah dan resepsi. Cara melestarikan adalah dengan cara mengusahakan agar setiap upacara yang dilakukan tetap memegang teguh adat istiadat.

e. Upacara Kematian

Upacara  kematian  meliputi layatan, tahlilan 3,7,40,100,1000 hari setelah kematian. Tujuan acara ini adalah untuk mendoakan arwah orang yang meninggal agar diterima segala amal baik dan diampuni segala dosanya.

f. Kerja Bhakti

Kegiatan ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh warga masyarakat. apabila ada masyarakat yang tidak bisa hadir maka boleh diwakilkan atau membayar denda.

Manusia adalah makhluk sosial yang berpikir dan makhluk insibility. Manusia butuh interaksi dengan sesama untuk melestarikan keturunan dan kebiasaan/adat istiadat. Pada tahap ini terjadi interaksi individu dengan kelompok (Ibrahim,2003).

10. Penguasaan Tanah Serta Kelembagaan Hubungan Kerja Pertanian

Sistem status penguasaan lahan yang ada di Desa Dukuh meliputi :

  1. Sistem Gadai,yaitu sistem penguasaan tanah dimana pemilik tanah menyerahkan tanahnya untuk menerima pembayaran sejumlah uang secara tunai dengan ketentuan pemilik tanah tersebut berhak lagi setelah mengembalikan sejumlah uang yang pernah diterimanya.
  2. Sistem Sewa, yaitu sistem penguasaan tanah dimana seorang petani menyewakan tanahnya kepada petani lain untuk dikelola dengan pembayaran berupa uang diawal/sebelum petani tersebut menggarap dan biasanya dalam jangka waktu tertentu.
  3. Sistem Bagi Hasil, sistem penguasaan tanah dimana seseorang/petani menyerahkan tanah mereka kepada petani lain untuk dikelola dimana kedua belah pihak akan mendapat pembagian hasil sesuai dengan kesepakatan bersama dan umumnya berlaku satu musim tanam. Sistem ini sudah jarang ada karena dianggap sering terjadi kecurangan.
  4. Hak milik, yaitu suatu tanah milik sendiri/perorangan dan diusahakan sendiri.

Sistem penguasaan tanah yang tidak dijumpai adalah sistem gogolan (norowito, playangan, pekulen, kesikepan) yaitu sistem penguasaan tanah pertanian milik bersama dimana warga desa dapat memperoleh bagian untuk digarap baik secara bergilir atau dengan cara lain. Sistem ini sudah tidak ditemukan karena tanah sudah dibatasi sehingga sudah jelas kepemilikannya.

Bentuk penguasaan tanah lain yang masih ada yaitu sistem penguasaan tanah secara tradisional antara lain :

  1. Tanah Yasan, yaitu tanah yang diusahakan oleh petani sendiri sejak dari membuka lahan lalu dimiliki sendiri.
  2. Tanah Titisoro, merupakan tanah milik desa yang disewakan dengan cara dileleng kepada siapa saja yang mau menggarapnya.
  3. Tanah Bengkok, yaitu tanah milik negara yang kepemilikannya diserahkan kepada desa (pamong desa) selama masa jabatannya dan jika sudah tidak menjabat sebagai pamong, tanah tersebut dikembalikan kepada negara.

Status penguasaan tanah yang masih dijumpai di Desa Dukuh adalah:

  1. Petani pemilik penggarap
  2. Petani bukan penggarap
  3. Petani penyewa
  4. Buruh tani

Konsep kekuasaan erat sekali hubungannya dengan konsep kepemimpinan. Dengan kekuasaan pimpinan memperoleh alat/barang dan pengaruh bagi para pengikutnya yang statusnya berada di bawahnya.

Status dan bentuk pemilikan tanah pedesaan Jawa sangat beragam. Walaupun Undang-Undang Pokok Agraria telah dikeluarkan pada tahun 1960 namun di pedesaan status dan bentuk pemilikan tanah masih banyak yang mengikuti kaidah-kaidah tradisional (seperti yasan, tanah adat, dan bengkok) dan kolonial (Ibrahim,2003).

Kelembagaan hubungan kerja antara majikan dan buruh yang ada di desa meliputi :

  1. Sistem upah

Sistem upah yang dipakai di Desa Dukuh adalah :

  1. Upah Harian, yaitu sistem upah yang diberikan kepada buruh dihitung perhari kerja dimana majikan masih menyediakan kebutuhan pangan. Upah harian dalam bentuk mengolah tanah, tanam, menyiangi memelihara tanaman.
  2. Upah Borongan, yaitu sistem upah yang diberikan sampai pekerjaan selesai dimana majikan tidak mengurusi buruh. Upah borongan dalam kegiatan panen, mengolah tanah, tanam, serta penyiangan.
    1. Bentuk upah

Bentuk upah yang diberikan berupa uang dan bawon. Uang biasanya diberikan berdasarkan berapa hari dia kerja. Sedangkan bawon diberikan apabila buruh meminta upah berupa bawon. Bawon diambil dari hasil panen sebesar seperenam bagian.

  1. Jam kerja

Lama waktu bekerja adalah 8 jam dimana buruh bekerja mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.00 dan mulai kembali pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00.

Perbedaan dalam hal jam kerja antara perempuan dan laki-laki sudah tidak ditemukan lagi di Desa Dukuh. Petani perempuan dan laki-laki bekerja di sawah secara bersama-sama, hanya saja pada saat menjelang istirahat petani perempuan istirahat lebih dahulu untuk menyiapkan makanan bagi petani laki-laki.

  1. Jenis satuan kerja

Jenis satuan kerja yang dilaksanakan adalah sistem harian dan bulanan. Harian apabila pekerjaan dapat diselesaikan dalam hitugan hari namun bila tidak maka biasanya dihitung bulanan.

  1. Besar upah

Besar upah yang diberikan berbeda-beda berdasarkan kesepakatan antara majikan dan buruh tani. Akan tetapi butuh tani di Desa Dukuh telah memiliki kesepakatan bahwa mereka hanya akan menerima upah minimal Rp. 20.000,00 untuk laki-laki dan Rp. 15.000,00 untuk perempuan.

  1. Besar upah persatuan kegiatan

Pemberian upah kerja di Desa Dukuh tidak berdasarkan satuan pekerjaan tetapi berdasarkan lama hari kerja. Upah perhari adalah untuk laki-laki Rp 20.000,00 dan untuk perempuan Rp 15.000,00. Apabila berupa bawon besarnya sebesar 1/6 bagian dari panen yang didapat.

Kelembagaan hubungan kerja pertanian yang masih dijumpai meliputi :

  1. Tolong-menolong, biasanya dilakukan dengan kerabat sendiri sehingga hanya sedikit orang yang datang dan hanya dilakukan pada saat penyiangan.
  2. Gotong-royong, kegiatan ini dilakukan oleh banyak orang dan biasanya pada saat pembuatan atau perbaikan saluran irigasi.

Selain mendapatkan upah, buruh juga mendapat jaminan lainnya seperti makan, minum, rokok, dan lain-lain. Buruh tani bersifat lepas /tanpa ikatan namun sering kali buruh tani membantu pekerjaan majikan dalam kegiatan rumah tangga majikan.

Teknologi yang diterapkan dalam usaha tani meliputi bibit unggul, pupuk, sabit, traktor, dan lain-lain dilaksanakan pada tiga lahan yaitu :

  1. Sawah

Pada lahan sawah menggunakan teknologi dalam hal mengolah tanah yaitu menggunakan traktor dan tidak lagi menggunakan bajak. Dalam pemakaian bibit, petani menggunakan bibit unggul padi jenis IR 36 sedangkan dalam pemilihan pupuk, petani menggunakan pupuk urea, SP36, KCl, dan Skor (pupuk cair penambah hasil).

  1. Tegal

Karena di desa Dukuh sudah tidak ada tegal semenjak adanya pengairan dari waduk maka teknologi pertanian sudah tidak diterapkan pada lahan tegal.

  1. Pekarangan

Pada pekarangan diterapkan teknologi pada pemilihan bibit unggul yaitu bibit mangga jenis mangga Probolinggo. Sedangkan pada pemilihan pupuk, masyarakat masih menggunakan pupuk kandang sebagai pilihan pertama dalam memupuk tanaman mereka.

Pembagian kerja pertanian menurut jenis kelamin masih dijumpai yaitu pada saat panen (ngerek), petani perempuan bertugas mengerek padi dan memasukkan padi yang telah dierek kedalam karung sedangkan petani laki-laki bertugas mengangkat batang padi yang telah dipotong ke mesin pengerek kemudian membawa karung yang telah berisi padi hasil erekan ke jalan tempat alat pembawa hasil diletakkan. Selain kegiatan panen tidak ada pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin.

Perbedaan upah buruh panen pada jaman dulu dengan sekarang hanya terletak pada upah berupa uang yaitu semakin besar dari yang tadinya Rp 18.000,00 menjadi Rp 20.000,00. Sedangkan upah dalam bentuk bawon tidak mengalami perubahan yaitu tetap 1/6 dari hasil panen.

Lembaga kemasyarakatan adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi kebutuhan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat.

Gotong-royong yaitu suatu bentuk kerja sama antara sejumlah besar warga desa untuk menyelesaikan proyek-proyek tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum (Ibrahim,2003).

11. Sistem Status dan Pelapisan Masyarakat

Struktur masyarakat yang berlaku di Desa Dukuh dibedakan menjadi 11 golongan yaitu : PNS, TNI/POLRI, guru swasta, karyawan swasta, pedagang/wiraswasta, sopir, penjahit, tukang kayu, petani, tukang batu, buruh tani. Pada bagian teratas diduduki oleh PNS dan pada lapisan terbawah adalah buruh tani. Struktur pelapisan masyarakat desa bersifat terbuka karena masih ada kesempatan untuk naik ke lapisan atasnya. Untuk lebih jelas dapat digambarkan dalam piramida struktur pelapisan masyarakat sebagai berikut :

PNS

Gambar 4.1 Struktur Pelapisan Masyarakat di Desa Dukuh.

Keterangan :

  1. PNS                                            :  94 orang
  2. TNI/POLRI                                :    6 orang
  3. Guru swasta                                :    3 orang
  4. Karyawan swasta                        :  15 orang
  5. Pedagang/wiraswasta                   :  19 orang
  6. Sopir                                           :    6 orang
  7. Penjahit                                       :    9 orang
  8. Tukang kayu                                :  15 orang
  9. Petani                                          : 271 orang
  10. Tukang batu                                :   18 orang
  11. Buruh tani                                    : 156 orang

Struktur pelapisan masyarakat petani berdasarkan status petani dapat dibedakan menjadi kuli kendho, kuli kenceng, mondok, dan mager sari. Pada posisi teratas diduduki oleh kuli kendho, diikuti kuli kenceng, kemudian mondok dan terakhir adalah mager sari. Untuk lebih jelas dapat digambarkan sebagai berikut :

Mondok

Gambar 4.3 Struktur Pelapisan Masyarakat di Desa Dukuh Berdasarkan Status Petani.

Keterangan :

  1. Kuli Kendho  : seseorang yang memiliki rumah, pekarangan/ sawah/ tegal tetapi bukan penduduk asli.
  2. Kuli Kenceng   : seseorang yang memiliki rumah dan pekarangan tetapi tidak memiliki sawah.
  3. Mondok        : seseorang yang hanya memiliki tenaga
  4. Magersari      : seseorang bukan penduduk asli tetapi tinggal di desa tersebut.

Struktur pelapisan masyarakat berdasarkan status penguasaan tanah dibedakan menjadi 4 yaitu, pemilik penggarap, penyewa, penyakap, dan buruh tani. Tempat teratas didudki oleh petani pemilik penggarap diikuti oleh petani penyewa, kemudian petani penyakap dan yang terakhir adalah buruh tani. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada piramida pelapisan masyarakat sebagai berikut :

Buruh Tani

Gambar 4.4 Struktur Pelapisan Masyarakat di Desa Dukuh berdasarkan Status Penguasaan Lahan.

Keterangan :

  1. Pemilik Penggarap     : Yaitu warga desa yang memiliki sawah dan          usahataninya sendiri.
  2. Penyewa                   : Yaitu warga desa yang tidak memiliki sawah    tetapi mengerjakan usahatani dengan menyewa sawah milik orang lain.
  3. Penyakap                  : Yaitu warga desa yang memiliki sawah tetapi menyerahkan pengerjaan usahatani kepada orang lain. Sistem upah yang digunakan adalah bagi hasil.
  4. Buruh Tani                 : Yaitu warga desa yang tidak memiliki sawah tetapi dibayar oleh pemilik sawah untuk melakukan usahatani. Sistem upah yang digunakan adalah dengan uang ataupun hasil pertanian.

Pembahasan struktur sosial erat sekali hubungannya dengan sistem sosial. Kalau sistem sosial lebih menitik beratkan pada sejumlah orang atau kelompok dan kegiatannya yang mempunyai hubungan timbal balik relatif tetap, struktur sosial membahas pola hak dan kewajiban para pelaku dalam suatu sistem interaksi yang terwujud dari rangkaian-rangkaian hubungan sosial yang relatif stabil dalam suatu jangka waktu tertentu (Ibrahim,2003).

12. Konflik Sosial

Penduduk Desa Dukuh adalah penduduk yang heterogen apabila ditinjau dari keseluruhan. Masing-masing penduduk memiliki kepentingan dan persepsi atau pemikiran yang berbeda sehingga terkadang dapat menimbulkan perbedaan atau konflik di dalam kehidupan masyarakat. Konflik sosial yang terjadi di Desa Dukuh adalah konflik ekstern sedangkan konflik intern sudah tidak terjadi. Konflik ekstern yang sering terjadi adalah masalah pengairan. Kadang air tidak sampai ke petak-petak sawah karena warga desa seberang membendung aliran air yang menuju Desa Dukuh. Akibatnya tanaman menjadi kekurangan air, inilah yang sering memicu kemarahan warga sehingga terjadi perselisihan. Penyelesaian masalah dengan cara pembangunan saluran air oleh pemerintah pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

Hubungan masyarakat dengan pemerintah cukup harmonis. Tetapi masih ada sesekali keluhan yang keluar dari warga desa, untuk menanggulangi masalah ini masyarakat dihimbau untuk mengadukan setiap masalah yang terjadi kepada pamong desa. Dari pamong desa nantinya akan diteruskan kepada pemerintahan yang lebih tinggi.

Akomodasi adalah suatu proses dimana orang-orang atau kelompok yang saling bertentangan berusaha mengadakan penyesuaian diri untuk meredakan atau mengatasi ketegangan.

Konflik sosial dalam masyarakat dapat timbul karena perbedaan status. Warga masyarakat mempunyai status yang berbeda-beda, oleh karena itu sewaktu-waktu dapat muncul perbedaan kepentingan antara kedua belah pihak (Ibrahim,2003).

B. Karakteristik responden

1. Identitas Keluarga Responden

Tabel 4.2.1 Identitas Responden Menurut Umur dan Status Penguasaan Lahan di Desa Dukuh

No Nama Responden Umur (th) Status Penguasaan Tanah
Suami Istri 1 2 3 4
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Supardi

Suratno

Suparno

Bowo Raharjo

Suwardi

Sudarno

Sukiyo

Drs. Sarimin

Sukemi

Mintoharjo

Sumarni

Salimin

Sulasno. K

Suyono

Suyatno

Darmanto

Suradi

Suyamto

Ramto

Noto Sumanto

59

56

40

62

56

66

50

42

51

60

55

35

56

39

42

36

42

50

34

64

55

53

38

58

51

66

45

40

48

57

48

40

49

35

40

35

42

47

29

63

995 932 9 4 1 6
% 49,75 46,6 45 20 5 30

Sumber: Data Primer

Keterangan:

1. Pemilik Penggarap

2. Penyewa

3. Penyakap

4. Buruh Tani

Berdasarkan pada tabel 4.2.1 mengenai identitas responden menurut umur dan status pengusaan lahan dapat terlihat bahwa usia rata-rata petani laki-laki adalah 50 tahun sedangkan umur rata-rata petani perempuan adalah 47 tahun yang berarti termasuk pada usia produktif.

Sedangkan dilihat dari status penguasaan tanah khususnya pada 20 orang koresponden di Desa Dukuh sebagian besar mempunyai status pemilik penggarap sebanyak 9 orang dengan prosentase 45%. Pada posisi kedua adalah buruh tani yaitu sebanyak 6 orang dengan prosentase 30% kemudian diikuti petani penyewa sebanyak 4 orang denan prosentase 20% dan yang terakhir adalah petani penyakap yaitu hanya 1 orang dengan prosentase 5%. Dari data terebut dapat disimpulkan bahwa jumlah petani pemilik penggarap dan buruh tani hampir seimbang. Petani penyakap yang peneliti jumpai hanya 1 orang, hal ini dikarenakan dalam melakukan observasi peneliti tidak menerapkan sistem proporsional.  Peneliti memilih petani secara acak dengan sistem door to door.

Pertimbangan beberapa masyarakat pedesaan Indonesia mempunyai kecenderungan menganggap makin tua seorang makin tinggi statusnya. Sebetulnya hubungan positif antara usia dengan ketiga dimensi status yang dibicarakan adalah adanya pandangan bahwa makin tua seseorang makin bijaksana (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.2 Identitas Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga dan Tingkat Pendidikan di Desa Dukuh

No Nama Petani Jumlah Anggota Keluarga Pendidikan
Pria Wanita Suami Istri Anak
0-4 5-14 15-65 >65 0-4 5-14 15-65 >65 SD SLTP SMU Akademi PT
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

Supardi

Suratno

Suparno

Bowo.R

Suwardi

Sudarno

Sukiyo

Sarimin

Sukemi

Mintoharjo

Sumarni

Salimin

Sulasno.K

Suyono

Suyatno

Darmanto

Suradi

Suyamto

Ramto

Noto.S

1 1

1

1

1

1

2

2

1

1

4

2

1

1

1

2

1

3

4

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1 1

1

1

1

1

1

4

1

2

1

2

2

2

2

3

1

3

1

1

1

1

1

1

1

1

2

SMA

SMP

SD

SMP

SD

SD

SMU

S1

SD

SD

S1

D3

SD

S1

SMP

SMA

D2

SD

SMA

SMP

SD

SMP

SD

SMP

SMP

SMA

SD

SD

SMP

SD

SD

SMA

SMP

SMP

SPG

SD

SD

1

1

2

1

1

1

1

1

1

1

1

2

1

3

2

2

1

3

1

1

1

1

2

1

2

2

1 10 30 1 3 3 33 0 6 9 12 3 7
% 2,38 23,8 71,4 2,38 7,7 7,7 84,6 0 SD SD 16,2 24,3 32,4 8,1 18,9

Sumber: Data Primer

Dari tabel 4.2.2 dapat kita ketahui bahwa jumlah anggota keluarga pria adalah 71,4% masih dalam usia produktif. Sedangkan jumlah anggota keluarga wanita yang masih dalam usia produktif adalah 84,6%. Hal ini berarti bahwa anggota keluarga yang berusia non produktif mempunyai prosentase yang kecil sehingga angka beban tertanggungnya pun juga kecil. Dengan angka beban tertanggung yang kecil maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sedangkan jika dilihat dari pendidikan orang tua (responden) rata-rata telah minimal mengenyam pendidikan SD, bahkan ada juga yang mampu sampai pada tingkat D3 ataupun S1. Dengan demikian rata-rata dari warga Desa Dukuh telah mampu menyerap informasi ataupun berita dalam bentuk tulisan maupun dari media massa. Meskipun demikian, perlu juga adanya peningkatan taraf pendidikan agar lebih meningkatkan kemampuan dalam menyerap informasi. Sama seperti pendidikan orang tua, tingkat pendidikan anak-anak juga tergolong baik. Prosentase pendidikan  anak yang masih SD adalah 16,2%, tingkat SLTP 24,3%, tingkat SMU/SMA adalah 32,4% dan yang mampu pada tingkat akademi sebesar 8,1,sedangkan pada tingkat Perguruan Tinggi adalah 18,9%. Dilihat dari prosentase masing-masing tingkat pendidikan anak, dapat diketahui bahwa tingkat kesadaran para orang tua dalam menyekolahkan anak sudah cukup tinggi dibanding tingkat pendidikan para orang tua.

Orang-orang terdidik umumnya mempunyai hubungan sosial yang lebih luas, informasi yang lebih banyak, sehingga mudah menerima inovasi baru. Karena itu para terdidik ini mudah menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial yang dialaminya (Ibrahim,2003).

2. Perilaku Responden dalam Kegiatan Mencari Nafkah

Tabel 4.2.3 Arti Hidup Cukup Bagi Petani di Desa Dukuh

No Uraian %
1. Apakah yang diartikan hidup cukup oleh petani :

  1. Asal bisa makan sehari-hari sekeluarga.
  2. Asal bisa makan, membeli pakaian sekedarnya, mempunyai rumah sederhana.
  3. Asal bisa makan, membeli pakaian, mempunyai rumah, dan bisa menyekolahkan anak.
  4. Asal bisa makan, membeli pakaian, mempunyai rumah, membiayai sekolah, dan bisa membeli kebutuhan sekunder seperti tanah, TV. sepeda motor dll.
  5. Lainnya.
6

0

10

4

0

30

0

50

20

0

Sumber: Data Sekunder

Dari data diatas responden mengartikan hidupnya cukup bisa makan, membeli pakaian, mempunyai rumah, dan bisa menyekolahkan anak karena 50% dari jumlah responden memilih pernyataan tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa mereka dapat mewakili dari sebagian warga Desa Dukuh. Dari sini terlihat bahwa masyarakat mempunyai keinginan untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Dengan adanya pemikiran tersebut maka pola pikir masyarakat desa sudah maju serta diiringi dengan keinginan untuk membeli alat komunikasi berupa TV walaupun hanya 20% warga desa yang memilih pernyataan asal bisa makan, membeli pakaian, mempunyai rumah, membiayai sekolah, dan bisa membeli kebutuhan sekunder seperti tanah, TV. sepeda motor dll. Selain itu terdapat  30% reponden yang mengartikan bahwa hidup cukup adalah asal bisa makan sehari-hari sekeluarga.

Masyarakat desa merupakan sistem sosial yang komprehensif, artinya dialam masyarakat desa terdapat semua jenis pengorganisasian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan untuk kelangsungan hidup manusia. Namun ini tidak berarti 100% masyarakat itu secara ekonomi betul-betul dapat memenuhi kebutuhannya sendiri/hidup cukup (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.4 Kegiatan Mencari Nafkah di Desa Dukuh

No Uraian %
2.

3.

4.

5.

Apakah dalam kegiatan mencari nafkah baik usaha tani maupun usaha lainnya petani bekerja :

  1. Sekedar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
  2. Berkeinginan memiliki sesuatu (misal menaikkan status dengan membeli tanah/rumah/barang-barang sekunder/naik haji).
  3. Berkeinginan memperbesar usahanya atau membuka usaha baru atau bekerja dibidang lainnya.
  4. Lainnya.

Selain usaha mencukupi kebutuhan hidupnya atau memenuhi keinginannya petani :

  1. Sekedar melakukan usaha yang ada, pasrah (menerima) apa adanya.
  2. Berkeyakinan usaha saat ini bisa memberikan hasil yang baik.
  3. Berusaha mencari tambahan penghasilan dengan berusaha/bekerja dibidang lain.
  4. Berkeinginan pindah usaha (meninggalkan pekerjaan tani) setelah memiliki usaha/pekerjaan baru.
  5. Lainnya.

Apakah dalam kgiatan mensari nafkah, petani selalu berpedoman pada :

  1. Pengalaman-pengalaman orang-orang terdahulu.
  2. Berdasar kemampuan yang ada saat ini.
  3. Belajar pada penyuluh atau pengusaha lain, mencari informasi baru untuk usahanya dan melakukan perencanaan kerja.
  4. Lainnya.

Apakah dalam bekerja petani dipengaruhi :

  1. Kesadaran diri sendiri
  2. Tuntutan keluarga
  3. Tekanan sosial
  4. Lainnya
6

10

3

1

8

1

10

1

0

3

4

13

0

13

5

2

0

30

50

15

5

40

5

50

5

0

15

20

65

0

65

25

10

0

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel tersebut diatas dapat diketahui bahwa tujuan dari responden dalam mencari nafkah 50% berkeinginan memiliki sesuatu (misal menaikkan status dengan membeli tanah/rumah/barang sekunder/naik haji). Hal ini menunjukkan motivasi diri petani untuk maju itu cukup tinggi.  Petani yang memiliki motivasi tinggi biasanya berusaha mencari tambahan pekerjaan., sedangkan 30% responden lain memilih pernyataan sekedar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. 15% penduduk berkeinginan memperbesar usahanya atau membuka usaha baru di bidang lain. Sisanya 5% berpikiran selain pernyataan yang terdapat pada uraian diatas.

Selain hanya untuk memenuhi kebutuhan petani berusaha memberi tambahan penghasilan berusaha dibidang lain (50%) karena pekerjaan saat ini dianggap belum mencukupi. Namun ada juga yang melakukan usaha yang ada dan pasrah (menerima) apa adanya sebesar 40% dikarenakan kondisi tubuh yang tidak memungkinkan serta usia yang sudah tua. Sedangkan penduduk yang berkeyakinan usaha saat ini akan memberi hasil yang lebih baik dan berkeinginan pindah usaha (meninggalkan pekerjaan tani) setelah memiliki usaha/pekerjaan baru mempunyai prosentase sama yaitu sebesar 5%.

Dalam kegiatan mencari nafkah, petani mempunyai pedoman yang berbeda-beda. Sebagian berpedoman pada pengalaman orang tua (15%), berpedoman pada kemampuan yang ada saat ini (20%). Yang tertinggi adalah berpedoman atau belajar pada penyuluh atau pengusaha lain, mencari informasi baru untuk usahanya dan melakukan perencanaan kerja yaitu 65% .Mereka menganggap bahwa PPL merupakan orang yang terdidik di bidangnya yaitu tentang penyampaian informasi dan merupakan orang yang ditugaskan oleh pemerintah untuk meningkatkan desa, sehingga mereka lebih percaya terhadap PPL dari pada kemampuan diri sendiri.

Dalam bekerja petani dipengaruhi oleh 65% kesadaran sendiri yaitu kesadaran untuk menafkahi keluarganya sebagai kewajiban orang tua ,25% tuntutan keluarga dan yang terakhir adalah dipengaruhi oleh tekanan sosial sebesar  10%.

Di era globalisasi seperti sekarang ini hanya ada beberapa masyarakat yang masih mempertahankan upaya pemenuhan kebutuhan hidup dari masyarakat sendiri tanpa ada upaya mencari usaha lain yang lebih menjanjikan atau berkeinginan pindah dari usahanya (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.5 Penggunaan Pendapatan Petani di Desa Dukuh

No Uraian %
6.

7.

8.

9.

Untuk apa sajakah pendapatan petani digunakan :

  1. Konsumsi
  2. Tabungan
  3. Investasi
  4. Lainnya.

Dalam bentuk apa petani menabung :

  1. Barang berharga (harta kekayaan seperti rumah, alat transportasi, alat rumah tangga/perhiasan/emas batangan).
  2. Uang tunai di rumah.
  3. Ditabung di bank.
  4. Lainnya.

Tujuan menabung :

  1. Keperluan mendadak/mendesak.
  2. Modal usaha.
  3. Pendidikan anak.
  4. Naik haji.
  5. Lainnya.

Dalam bentuk apa petani melakukan investasi :

  1. Investasi alat dalam usaha tani (cangkul, sabit, dll).
  2. Membeli tanah.
  3. Investasi usaha lain (diluar usaha tani, seperti membuka warung, berdagang,industri rumah tangga).
  4. Lainnya.
20

16

10

0

6

2

10

4

7

6

8

0

6

2

2

5

11

43,5

34,8

21,7

0

27,3

9,1

45,4

18,2

25,9

22,2

29,6

0

22,2

10

10

25

55

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel 4.2.5 dapat diketahui bahwa pendapatan petani digunakan untuk konsumsi, tabungan, dan investasi. Dari seluruh responden 43,5% diantaranya menggunakan pendapatannya untuk konsumsi sedangkan 34,8% menggunakan untuk tabungan dan sisanya sebesar 21,7% menggunakannya untuk investasi seperti membeli traktor dan alat-alat pertanian lainnya, kalaupun tidak dibelikan alat pertanian biasanya dibelikan hewan ternak.

Dari semua penduduk yang menggunakan pendapatannya untuk menabung 27,3% menabung dalam bentuk barang berharga (harta kekayaan, rumah, perhiasan, dll), 9,1% diantaranya menabung uang tunai di rumah dan yang tertinggi adalah menabung di bank dengan prosentase 45,4%. Yang terakhir adalah 18,2% menabung dalam bentuk lainnya misalnya dengan ditabung di koperasi atau ditabung dalam arisan kelompok ibu-ibu PKK.

Kebanyakan petani menabung dengan tujuan untuk kepentingan pendidikan anak ini dapat dilihat dengan banyaknya prosestase yaitu sebesar 29,6%, untuk keperluan mendesak (biaya berobat karena sakit, sumbangan untuk hajatan, ada saudara yang ingin berhutang) sebesar 25,9%. Untuk modal usaha dan lain-lainnya (memelihara ternak, membeli kebutuhan untuk warungnya/kulakan) mempunyai prosentase sebesar 22,2%.

Disamping untuk ditabung, petani juga menginvestasikan pendapatan mereka pada usaha lain (diluar usaha tani, seperti membuka warung, berdagang, industri rumah tangga) sebesar 25%. Sebesar 10% lainnya menginvestasikan masing-masing pada alat dalam usaha tani dan membeli tanah. Sedangkan sisanya yaitu 55% menginvestasikan untuk hal lain (membeli barang-barang yang dianggap bisa bertambah nilainya dikemudian hari seperti emas,rumah,sepeda motor).

Untuk semua lapisan masyarakat pedesaan, pendapatan berasal dari berbagai sumber kehidupan pada saat-saat tertentu. Dilihat dari segi ekonomi, petani yang hanya mempunyai aset lahan yang sedikit pada proses mekanisasi kurang berhasil karena pembelian alat mekanisasi misalnya traktor akan mubadzir. Apalagi usaha tani yang sempit itu masih dikerjakan dengan sistem tradisional (Ibrahim,2003).
Tabel 4.2.6 Kegiatan Panen Masyarakat di Desa Dukuh

No Uraian %
10. Dalam melakukan kegiatan panen, petani :

  1. Menebaskan kepada orang lain.
  2. Dikerjakan oleh anggota keluarga dibantu kerabat.
  3. Dikerjakan warga desa tertentu saja (yang diundang saja).
  4. Dikerjakan warga desa siapa saja tanpa dibatasi jumlahnya
  5. Lainnya.
12

4

0

0

4

60

20

0

0

20

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel diatas didapat bahwa didalam melakukan kegiatan panen masyarakat Desa Dukuh 60% menebaskan kepada orang lain. 20% lainnya melakukan kegiatan panen oleh keluarga dan sisanya 20% kegiatan panen ada buruh tani yang tidak ikut panen.  Buruh tersebut hanya bekerja membantu majikan dengan upah borongan. Hasil panen diserahkan kepada majikan karena tidak mempunyai sawah sendiri untuk kemudian dihitung berapa hasil yang akan diperoleh buruh tani tersebut. Petani yang mempekerjakan anggota keluarga biasanya memperhitungkan besarnya untung rugi yang akan diterimanya nanti.

Proporsi penggunaan tenaga luar keluarga untuk kegiatan prapanen sangat besar (untuk kegiatan pemanenan lebih besar lagi), tenaga untuk kegiatan prapanen sangat besar (Ibrahim,2003).

3. Perilaku Petani dalam Kegiatan Sosial

Tabel 4.2.7 Kegiatan Sosial Masyarakat di Desa Dukuh

No Uraian %
1.

2.

3.

Apakah dalam kegiatan sosial petani dipengaruhi :

  1. Kesadaran diri sendiri
  2. berdasarkan petunjuk/nasihat orang tua, tokoh masyarakat, (kepala desa, ulama, penyuluh)
  3. Tekanan sosial
  4. Lainnya

Dalam kegiatan kerja bakti, petani :

  1. Dengan kesadaran sendiri ikut membantu sampai selesai.
  2. Hanya membantu dibagian awal, karena dibagian akhir dikerjakan oleh tenaga trampil (buruh upahan).
  3. Melalui undangan pemerintah/kepala desa pada orang-orang tertentu dan dikerjakan sampai selesai.
  4. Dikerjakan seluruhnya oleh orang lain dengan memberi upah.
  5. Lainnya.

Apabila tidak mengikuti kegiatan kerja bakti maka :

  1. Digantikan orang lain.
  2. Digantikan dengan sejumlah uang tertentu.
  3. Digantikan dengan orang lain dan sejumlah uang tertentu.
  4. Lainnya.
16

2

2

0

15

0

4

0

1

3

2

4

11

80

10

10

0

75

0

20

0

5

15

10

20

55

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel mengenai perilaku responden dalam kegiatan sosial mayoritas dari responden apabila ada kegiatan sosial dengan kesadaran diri sendiri mengikuti (80%), Dengan demikian dapat dikatakan bahwa warga Desa Dukuh merupakan warga yang sadar lingkungan. Sedangkan sisanya sebesar 20% adalah berdasar petunjuk orang tua (sesepuh desa), tokoh masyarakat (pemuka agama, pamong desa, orang terpandang desa tersebut) sebesar 10% dan tekanan sosial 10%. Warga desa berpikiran bahwa dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan desanya harus sepengetahuan dan mendapat persetujuan dari sesepuh/orang yang berwenang di desa sehingga mereka menunggu petunjuk dari sesepuh/orang berwenang tersebut. Dari mayoritas warga yang sadar mengikuti sebanyak 75% mengikuti kegiatan sampai selesai sedangkan 25% lainnya melalui undangan pemerintah/kepala desa apabila tidak dalam undangan resmi berupa kertas undangan maka undangan disebarkan melalui kaum/orang yang ditugaskan. Apabila ada warga yang tidak bisa mengikuti kegiatan sosial maka boleh digantikan orang lain (15%) orang yang menggantikan tidak harus dari kalangan keluarganya tapi boleh diluar keluarga yang mau/ditunjuk, digantikan dengan sejumlah uang (10%), ataupun digantikan orang lain dan sejumlah uang (20%). Sisanya, 55% tidak dikenai sanksi apapun karena mereka tahu bahwa warga mereka mempunyai kesibukan sendiri-sendiri sehingga kegiatan sosial yang dilakukan diharapkan tidak mengganggu kegiatan pokok warga.

Kerjasama adalah suatu interaksi orang-orang atau kelompok manusia untuk mencapai tujuan yang sama atau bersama. Bentuk kerjasama dalam masyarakat pedesaan bervariasi sifatnya, antara lain gotong royong/kerja bhakti, tolong menolong, bergaining, dan lain-lain (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.8 Tingkat Kerukunan Masyarakat di Desa Dukuh

No Uraian %
4.

5.

6.

Kalau seseorang mendapatkan bantuan (sumbangan) apakah ia harus membalas, dengan memberikan bantuan kepada setiap orang yang telah memberikan bantuan?

  1. Ia harus membalas.
  2. Boleh membalas, boleh tidak membalas.
  3. Tidak diharuskan memberikan balasan.

Kalo jawaban no. 4 adalah a atau b, bila sumbangan harus dibalas, apakah bantuan tersebut :

  1. Boleh sedikit dari sumbangan yang pernah diterima.
  2. Sama besarnya dengan nilai sumbangan yang pernah diterima.
  3. Lebih besar dari lilai sumbangan yang perbah diterima.
  4. Sesuai dengan kemampuan.

Apabila seseorang tidak mampu membalas, sanksi apakah yang akan dihadapi nantinya :

  1. Menjadi bahan pembicaraan masyarakat.
  2. Menjadi bahan gunjingan masyarakat.
  3. Hubungan dengan orang yang memberi bantuan menjadi renggang.
  4. Tidak ada sanksi.
5

13

2

0

6

0

14

12

6

5

2

25

65

10

0

30

0

70

48

24

20

8

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa apabila seseorang mendapat sumbangan dari orang lain mayoritas memilih boleh membalas atau boleh tidak membalas yaitu sebesar 65%, mereka beranggapan bahwa sumbangan boleh dibalas apabila mempunyai sesuatu untuk membalas namun bila tidak mampu membalas tidak berkewajiban karena mereka memang tidak mampu dan tidak perlu dipaksakan untuk membalas lagi pula yang memberipun pasti memaklumi. Yang menyatakan harus memberi balasan sebanyak 25% dan tidak harus membayar sebesar 10%.

Bila sumbangan harus dibalas, 70% memberikan balasan sesuai dengan kemampuan sedangkan 30% apabila mampu membalas melebihi yang pernah diterimanya maka ia boleh membalas dengan jumlah yang lebih besar, sisanya membalas sama besar dengan yang pernah ia peroleh. Apabila seseorang tidak mampu membalas maka sanksi yang diperoleh adalah menjadi pembicaraan orang lain (48%),menjadi gunjingan orang lain (24%) biasanya setelah menjadi bahan gunjingan orang, maka orang yang digunjingkan tersebut biasanya dijauhi oleh warga sekitar rumahnya, hubungan dengan orang yang memberi sumbangan akan menjadi renggang (20%) ini di karenakan sikap orang yang memberi menganggap bahwa orang yang diberi sumbangan tidak menghargainya. Oleh karena itu sebelum dia membalas apa yang diberikan maka dia tidak akan dekat-dekat dengannya, namun orang dalam golongan ini sudah jarang. Dan yang terakhir adalah tidak mendapat sanksi apapun sebesar 8%.

Tolong menolong dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok satu sama lain karena ada keterkaitan kekerabatan, bertetangga, atau pertimbangan emosional lain. Kadang orang yang terlibat saling tolong menolong mengharapkan balasan dalam pertolongan balik kelak dikemudian hari (Ibrahim,2003).

4. Kelembagaan Hubungan Kerja Luar Pertanian

Tabel 4.2.9 Mata Pencaharian dan Motivasi Bekerja di Luar Pertanian di Desa  Dukuh

No Nama Responden Pekerjaan Pendapatan Per Hari(Rp) Motivasi
1. Supardi Pegawai industri 50.000 Biaya pendidikan anak
2. Suratno
3. Suparno Pedagang 46.575 Menambah penghasilan
4. Bowo Raharjo
5. Suwardi Pedagang 10.000 Menambah penghasilan dan menambah kesibukan
6. Sudarno
7. Sukiyo
8. Drs. Sarimin Tukang batu 30.000 Mengisi waktu dan menambah penghasilan
9. Sukemi Gilingan padi 80.000 Membayar buruh
10. Mintoharjo
11. Sumarni
12. Salimin Kuli bangunan 20.000 Menambah penghasilan
13. Sulasno K Pedagang 33.000 Biayai anak
14. Suyono
15. Suyatno
16. Darmanto Pembuat batubata 6.000 Mencukupi kebutuhan
17. Suradi Guru 40.000 Menambah penghasilan dan menerapkan ilmu
18. Suyamto Penjahit 15.000 Menambah penghasilan
19. Ramto Pembuat batubata 5.000 Menambah penghasilan
20. Noto Sumanto
335.675
16.783,75 Menambah penghasilan

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel 4.2.9 didapat keterangan bahwa mayoritas warga desa melakukan pekerjaan diluar bidang pertanian untuk menambah penghasilan. Mereka berpendapat bahwa usaha pokok yang mereka kerjakan di bidang pertanian belum mencukupi sehingga mereka berusaha mencari tambahan penghasilan di bidang lain selain sektor pertanian. Walaupun hasilnya tidak begitu menjanjikan namun sudah bisa menambal kekurangan.

Untuk semua lapisan masyarakat pedesaan, pendapatan yang berasal dari kegiatan non pertanian merupakan tambahan pendapatan yang sangat penting (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.10  Fasilitas dan Cara Mendapatkan Pekerjaan Luar Pertanian di Desa Dukuh

No Uraian %
3.

4.

Selain mendapatkan upah, apakah petani tersebut masih :

  1. Mendapat jaminan lainnya (makanan, hadiah lebaran).
  2. Ikut membantu dalam kegiatan rumah tangga majikan.
  3. Digolongkan dalam istilah tertentu : buruh masih saudara/kerabat, buruh dengan kontrak kerja, buruh lepas/tanpa ikatan.
  4. Lainnya.

Siapakah yang memberikan pekerjaan di luar pertanian tersebut :

  1. Mencari/berusaha sendiri.
  2. Ikut saudara.
  3. Diajak teman atau saudara.
  4. Lainnya.
8

0

1

11

8

0

3

9

40

0

5

55

40

0

15

45

Sumber: Data Sekunder

Menurut tabel di atas responden yang masih mendapat jaminan selain upah seperti makanan, hadiah dan lain-lain ada 8 orang dengan prosentase 40%, sedangkan 5% digolongkan dalam istilah tertentu antara lain buruh masih saudara/kerabat, buruh dengan dengan kontrak kerja, buruh lepas/tanpa ikatan. Buruh dengan kontrak kerja biasanya perjanjian kontrak dimulai dari awal pengolahan tanah sampai panen sedangkan buruh lepas hanya dipekerjakan pada satuan usaha tertentu saja misalnya panen. Kemudian 55% sisanya tidak mendapatkan apapun karena tidak bekerja di luar bidang pertanian. Kebanyakan warga mendapat pekerjaan diluar bidang pertanian dari mencari sendiri (40%), diajak teman sebanyak 15% dan 45% lainnya tidak ada yang memberi karena tidak bekerja diluar pertanian. Warga desa yang mendapat kerja karena diajak teman biasanya karena di tempat temanya bekerja ada lowongan, sehingga dari pada diambil orang lain lebih baik diberikan pada temannya. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa kesetiakawanan warga masih tinggi.

Umumnya penggaduh akan memohon pertimbangan kepada majikan ketika menemui kesulitan misalnya masalah keluarga selain masalah keuangan juga masalah pemenuhan kebutuhan pangan. Majikan membicarakannya tanpa harus membicarakan masalah bisnisnya. Majikan memberikan bonus biasanya diakhir kegiatan (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.11 Peran Bekerja di luar Pertanian di Desa Dukuh

No Uraian %
5. Bagaimana menurut petani bekerja diluar di bidang pertanian dibandingkan dengan sektor pertanian :

  1. Lebih menguntungkan.
  2. Sama saja.
  3. Kurang menguntungkan.
  4. Lainnya.
12

8

0

0

60

40

0

0

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel peranan pekerjaan diluar pertanian sebagian besar menganggap bahwa pekerjaan di luar pertanian lebih menguntungkan (60%) dan yang lain menganggap sama saja dengan pekerjaan di bidang pertanian (40%). Ini dikarenakan biasanya usaha di luar pertanian adalah pekerjaan pokok sedangkan usaha pertanian hanya sampingan. Dalam pendapatan dari usahapun lebih dapat diandalkan karena hasilnya sudah pasti walaupun tidak terlalu besar. Usaha bidang pertanian tidak menentu karena bergantung pada alam sehingga apabila alam sedang bagus maka hasil melimpah tapi apabila sedang terjadi musibah hasil menurun bahkan tidak mendapat hasil apapun. Yang paling parah adalah mengalami kerugian.

Sebagian besar usaha tani terdiri dari usaha tani yang digarap oleh pemilik tanah sendiri, namun untuk semua lapisan masyarakat pedesaan, pendapatan yang berasal dari kegiatan non pertanian merupakan tambahan pendapatan yang sangat penting (Ibrahim,2003).

5. Kelembagaan Hubungan Kerja Keluarga Petani

Tabel 4.2.12 Orang Tua Responden

No Uraian %
1.

2.

3.

Apakah dalam keluarga rumah tangga petani masih terdapat :

  1. Kakek/nenek.
  2. Ayah/ibu.
  3. Paman, keponakan (kerabat).
  4. Buruh tani yang tinggal serumah.
  5. Lainnya.

Apakah jenis pekerjaan orang tua petani :

  1. Petani
  2. Penjual beras
  3. Pensiunan
  4. Berdagang
  5. Bertani + beternak
  6. Buruh tani
  7. Juragan karak

Apakah orang tua petani masih ikut bekerja dalam usaha tani :

  1. Ya
  2. Tidak

kalau ya, apakah mereka diberi upah :

  1. Ya
  2. Tidak

jika ya,dalam bentuk apa :

  1. Uang
  2. Natura/hasil panen/bawon
  3. Lainnya
3

20

0

0

10

11

1

1

1

1

4

1

0

17

0

3

0

0

0

9,1

60,6

0

0

30,3

55

5

5

5

5

20

5

0

85

0

15

0

0

0

Sumber: Data Sekunder

Dari data di atas 60,6% petani masih bersama ayah ibunya.9,1% lainnya masih ada kakek dan nenek. Sedangkan yang 30,3% masih tinggal bersama anaknya. Kebanyakan orang tua petani adalah petani walaupun sekarang sudah tidak kesawah lagi karena usia yang tidak memungkinkan (55%). Selain bertani, orang tua petani-petani tersebut memiliki mata pencaharian juragan karak,penjual beras,pensiunan,berdagang sebesar 5% dan 20% sisanya adalah bekerja sebagai buruh tani. Orang tua responden kebanyakan tidak ikut bekerja membantu anaknya karena sudah sibuk dengan usaha merka sendiri atau sudah tidak mampu (85%) kalaupun ada cuma sedikit (15%). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan pertanian dikerjakan oleh pemilik lahan pertanian sendiri dan bukan orang tua petani sedangkan sebagian dikerjakan oleh buruh tani.

Usaha pertanian umumnya menggunakan banyak tenaga kerja luar keluarga (walaupun masih mempunyai kaitan kekerabatan) sehingga tidak tercipta masyarakat yang sebagian besar usaha taninya dikerjakan oleh para keluarganya (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.13 Peran Anggota Keluarga Dalam Kegiatan Usahatani di Desa Dukuh

No Jenis Kegiatan Usahatani Pria Wanita Anak-anak
% % %
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Pengolahan lahan

Pengairan

Pembibitan

Penanaman

Pemupukan

Penyiangan dan PH

Panen

20

20

20

20

20

20

20

100

90,9

80

60,6

60,6

60,6

57,1

0

2

5

13

13

13

15

0

9,1

20

39,4

39,4

39,4

42,9

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Sumber: Data Sekunder

Dalam kegiatan usaha tani, petani melibatkan anggota keluarga dan yang paling banyak adalah dari kalangan pria yaitu sebanyak 100% pada pengolahan lahan, 90,9% pada pengairan, 80% pembibitan, 60,6% penanaman, 60,6% pemupukan, 60,6% penyiangan, serta 57,1% panen. Sedangkan pada kalangan wanita 0% pada pengolahan lahan, 9,1% pada pengairan, 20% pembibitan, 39,4% penanaman, 39,4% pemupukan, 39,4% penyiangan, serta 42,9% panen. Sebagian besar kegiatan usaha tani dikerjakan oleh petani dari kaum pria, ini dikarenakan adanya pendapat bahwa hasil kerja petani pria lebih cepat walaupun kalah rapi dengan kaum perempuan. Selain itu kegiatan usaha tani yang dilakukan biasanya membutuhkan tenaga yang besar sehingga pria lebih di prioritaskan, sedangkan perempuan hanya membantu. Pada kalangan anak-anak tidak ditemukan keterlibatan dalam kegiatan usaha tani. Pada umumnya anak petani lebih memilih pekerjaan lain daripada bertani oleh karena itu tidak ditemukan anak-anak dalam usaha tani.

Organisasi dibentuk untuk menangani tugas-tugas atau pembagian tugas yang diatur sedemikian rupa dalam rangka mencapai tujuan bersama. Keluarga dicirikan adanya hubungan pimpinan dan anggota. Ayah/kaum pria sebagai pemimpin keluarga mempunyai tugas yang lebih berat sedangkan kaum peremuan/ibu mepunyai tugas yang lebih ringan dibanding kaum pria. Dan yang terakhir adalah anak-anak yang mempunyai tugas paling ringan (Ibrahim,2003).

6. Kosmopolitan

Tabel 4.2.14 Mobilitas Petani Desa

No Uraian %
1.

2.

3.

Berapa kali petani dalam melakukan kegiatan di luar desa dalam satu bulan :

Tidak pernah

1 – 4 x     (jarang)

5 – 10x    (kadang-kadang)

> 10x    (sering)

Kegiatan tersebut berhubungan dengan :

  1. Mencari nafkah.
  2. Melengkapi kebutuhan rumah tangga.
  3. Mengunjungi tempat hiburan (sekatenan, wayang orang, dll)
  4. Mengunjungi saudara.
  5. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan usaha taninya (membeli saprotan, mengikuti kegiatan penyuluhan, mencari informasi,dll.)
  6. Lainnya.

Alat transportasi yang digunakan :

  1. Milik sendiri.
  2. Angkutan umum.
  3. Lainnya.
2

6

5

7

6

5

5

4

10

2

15

6

1

10

30

25

35

18,8

15,6

15,6

12,5

31,2

6,3

68,2

27,3

4,5

Sumber: Data Sekunder

Dari tabel 4.2.14 dapat diketahui penduduk Desa Dukuh termasuk sering melakukan kegiatan di luar desa (35%). Penduduk yang jarang pergi ke luar desa sebanyak 30%, kadang-kadang 25%, dan yang tidak pernah sebesar 10%. Untuk ukuran apakah warga tersebut disebut sering, jarang, kadang-kadang dan tidak pernah maka diberikan ukuran tersebut yaitu untuk sering adalah lebih dari 10 kali, kadang-kadang 5 -10 kali, jarang 1 -4 kali dan tidak pernah adalah 0 kali.

Kegiatan di luar desa tersebut antara lain untuk mencari nafkah 18,8%, melengkapi kebutuhan keluarga 15,6%, sama seperti memenuhi kebutuhan keluarga, mengunjungi saudara juga 15,6%. Sedangkan untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan usaha taninya (membeli saprotan, mengikuti kegiatan penyuluhan, mencari informasi,dll.) 31,2% dan lainnya 6,3%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa warga Desa Dukuh termasuk warga yang aktif dalam mencari informasi sehingga warga tidak ketinggalan informasi.

Transportasi yang paling banyak digunakan adalah milik sendiri seperti sepeda, motor, dan lain-lain (68,2%). Posisi kedua terbanyak diduduki angkutan umum yaitu 27,3% dan lainnya sebanyak 4,5%. Jalan utama yang agak jauh membuat warga desa enggan untuk naik angkutan umum. Mereka lebih memilih naik kendaraan sendiri karena lebih mudah dan dapat melewati jalan yang sempit dan lebih dekat (jalan pintas).

Warga masyarakat yang mempunyai hubungan dengan sejumlah warga lain tidaklah sama dalam hal frekuensi (sering) dan eratnya hubungan sosial. Ada sejumlah orang yang mempunyai hubungan sosial dengan keseringan yang tinggi dan serta dengan orang luar yang berada bukan dalam ruang lingkup daerahnya melainkan berlainan daerah (desa, kota) (Ibrahim,2003).

Tabel 4.2.15 Pola komunikasi

No Uraian Alasan %
1.

2.

Bagaimanakah model komunikasi yang dilakukan atau diakses petani :

  1. Sumber
  • Ø PPL
  • Ø Radio
  • Ø TV
  • Ø Toko
  • Ø Pemilik sawah
  • Ø Hama dan pupuk
  • Ø Pengembangan desa
  • Ø Pengolahan lahan
  • Ø Irigasi
  • Ø Pemeliharaan tanaman
  • Ø Perdagangan tanaman
  • Ø Budidaya tanaman
  • Ø Pemilihan bibit
  • Ø Obat dan pestisida
  • Ø Cara tanam
  • Ø Pembuatan batubata
  • Ø Interpersonal
  • Ø Massa
  • Ø Positif
  • Ø Negatif
  1. Pesan
  1. Saluran
  1. Efek

Apakah media massa diakses oleh petani? Mengapa? Berapa kali (/bulan)?

  1. Sarana komunikasi :
  • Ø TV
  • Ø Radio
Hiburan

Informasi

Hiburan

Informasi

15

11

11

1

1

7

2

2

1

1

1

3

1

2

1

1

18

16

20

0

16

13

13

13

38,4

28,2

28,2

2,6

2,6

31,8

9,1

9,1

4,5

4,5

4,5

13,6

4,5

9,1

4,5

4,5

52,9

47,1

100

0

55,2

44,8

50

50

Sumber: Data Sekunder

Untuk kegiatan komunikasi, warga masyarakat paling banyak mendapatkan informasi dari PPL karena dianggap sarana yang paling mudah dan efektif (38,4%) setelah itu diikuti radio dan TV masing-masing 28,2% dan dari toko dan pemilik sawah juga masing-masing 2,6%. Informasi yang didapat dari PPL biasanya berupa pemecahan masalah yang terjadi dalam usaha pertanian. Biasanya PPL datang dengan jadwal yang telah disetujui oleh PPL dan petani. Ketika PPL datang maka petani telah menunggu dengan masalah yang terjadi dalam usaha taninya kemudian PPL berusaha membantu memecahkan masalah tersebut. Apabila tidak ada masalah maka PPL memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan petani. Informasi yang didapat dari sumber-sumber tersebut antara lain tentang hama dan pupuk, pengembangan desa, pengolahan lahan, irigasi, pemeliharaan tanaman, perdagangan tanaman, budidaya tanaman, pemilihan bibit, obat dan pestisida, cara tanam dan terakhir pembuatan batubata.

Dalam hal kepemilikan TV dan Radio, masyarakat menganggap bahwa keduanya merupakan hal yang penting bagi mereka selain sebagai sumber hiburan ( radio 50%, TV 55,2%) juga sebagai sumber informasi (radio 50%, TV 44,8%). Efek dari komunikasi yang didapat adalah positif dan tidak ada yang negatif.

Kunci pembinaan kelompok adalah komunikasi vertikal dan horisontal berlangsung baik dan lancar (Ibrahim,2003).

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Desa Dukuh dibagi menjadi 10 dukuh yaitu Dukuh Bulak, Dukuh, Kebak, Kentengsari, Bendowulung, Gebluk, Pranan, Karangtengah dan Gempolan. Setiap nama dukuh tersebut mempunyai makna dan artinya sendiri.
  2. Batas Desa Dukuh secara administratif adalah :

Sebelah utara : Desa Palur

Sebelah selatan          : Desa Wirun

Sebelah Timur           : Desa Demakan

Sebelah Barat            : Desa Plumbon

  1. Luas daerah Desa Dukuh adalah 184.50 ha termasuk lahan pertanian.
  2. Pertambahan penduduk di Desa Dukuh semakin meningkat dari tahun lalu, tetapi tahun terakhir ini pertambahan penduduk Desa Dukuh menurun.
  3. Kepadatan geografis di Desa Dukuh termasuk desa yang sangat padat penduduknya karena adanya perpindahan penduduk dari suatu daerah. Pergi dari desa yang dulu dan bertempat tinggal atau menetap di Desa Dukuh.
  4. Kepadatan agraria di Desa Dukuh semakin meningkat karena jumlah penduduk Desa Dukuh yang semakin meningkat. Penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan kepadatan agraris menjadi bertambah.
  5. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan lebih banyak jumlah laki-lakinya yang kebanyakan para pendatang.
  6. Angka beban tanggungan (ABT) di Desa Dukuh mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan penduduk yang usia non produktif meningkat dan usia yang produktif  bekerja dan menetap di desa tersebut.
  7. Tingkat pendidikan rata-rata sudah mulai meningkat karena adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan sehingga penduduk di Desa Dukuh sebagian besar sudah menempuh dan lulus diatas SD, tetapi lulusan SLTP dan SMUpun juga banyak dan mengalami peningkatan.
  8. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Dukuh adalah petani dan buruh tani karena lahan pertaniannya yang cukup luas dan bertani merupakan pekerjaan yang turun menurun. Tidak hanya itu, penduduk ada juga penduduk desa yang bekerja sebagai buruh industri, pedagang, PNS, dll.
  9. Penduduk di Desa Dukuh rata-rata beragama Islam. Dari tahun ketahun meningkat karena adanya pendatang dan kelahiran.
  10. Sarana dan prasarana yang ada di Desa Dukuh saat ini sebagian sudah semakin lengkap dan baik sehingga penduduk Desa Dukuh  nyaman untuk menggunakannya.
  11. Organisasi sosial yang ada di Desa Dukuh adalah Karang Taruna bagi pemudanya dan PKK bagi ibu-ibu. Sedangkan grup sosial yang ada adalah ronda dan pengajian rutin.
  12. Dilihat dari tipologinya, Desa Dukuh termasuk desa yang mandiri dan desa swasembada.
  13. Adat istiadat yang masih berjalan di Desa Dukuh adalah kondangan/ rasulan, malam suro, jimpitan, upacara pernikahan, upacara kematian dan kerja bhakti.
  14. Sistem penguasaan tanah yang dijumpai di Desa Dukuh adalah sistem gadai, sewa, bagi hasil dan hak milik. Sedangkan bentuk penguasaan tanahnya ialah tanah yasan, tanah titisoro dan tanah bengkok.
  15. Sistem status dan pelapisan masyarakat bersifat terbuka.

B. SARAN

  1. Perlunya pembenahan sistem administrasi di Desa Dukuh secara terpadu dan menyeluruh, karena praktikan melihat bahwa banyak sekali kejanggalan data pada data monografi milik pemerintahan Desa Dukuh.
  2. Pemerintah desa hendaknya peduli dengan warga desanya yaitu dengan membangun sarana irigasi bagi pengairan-pengairan di sawah milik warga, karena sering terjadi perselisihan antar kelompok warga akibat perebutan saluran irigasi.
  3. Pemerintah desa hendaknya juga memberikan fasilitas-fasilitas yang cukup bagi warga desanya. Misalnya jalan yang rusak hendaknya segera diperbaiki dan dihaluskan, karena praktikan mengalami kendala yaitu jalan yang rusak dan becek saat hujan.
  4. Agar akses informasi lebih cepat, terutama informasi tentang usahatani, perlu diberdayakan dan dibudidayakan mencari informasi melalui media massa dalam usaha meningkatkan mutu usahatani maupun hasilnya. Karena dari praktikum yang dilaksanakan, sebagian besar petani hanya menggunakan media massa sebagai sarana hiburan.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2002. Pemuda dan Olahraga. Bina Raka. Semarang.

Basuki. 2000. Ilmu Sosial Dasar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan UNS. Surakarta.

Djiwandi. 2000. Sosiologi Pedesaan. UNS Press. Surakarta.

Ibrahim. 2003. Sosiologi Pedesaan. UMM Press. Malang.

Ihromi. 1999.

Koentjaraningrat. 1976. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Gramedia. Jakarta.

Mantra. 2003. Demografi Umum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

______ 1995. Pengantar Study Demografi. Jaya Abadi. Yogyakarta.

Muhammad. 1987. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jambatan. Jakarta.

Nasikun. 2001. Sistem Sosial Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Nurudin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Bigreat Publishing. Yogyakarta.

Raharjo. 1999. Sosiologi Suatu Pengantar. CV Rajawali. Jakarta.

Saparin. 1997. Pengantar Sosiologi Pedesaan. Bunga Cipta. Bandung.

Saputra. 2002. Komunikasi dalam Keluarga. Karya Mandiri. Surabaya.

Saidiharjo. 1974. Dasar-Dasar Kependudukan. Bursa Buku. Yogyakarta.

Sajogya. 1992. Sosiologi Pedesaan Jilid I. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sunarto. 2000. Pengantar Sosiologi. Fakultas Ekonomi UI. Jakarta.

Suryana. 2000. Ekonomi Pembangunan. Salemba Emban Patira. Jakarta.

Wisadirana. 2004. Sosiologi Pedesaan. UMM Press. Malang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: