Upaya pengendalian Flu burung

  1. I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Dalam upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari banyak sekali pekerjaan yang dilakukan setiap orang, baik dengan bertani, beternak, maupun wirausaha lainnya. Keadaan ini tak jauh beda di Desa polokarto, di mana setiap warga mempunyai berbagai macam usaha yang berbeda-beda untuk mencukupi kebutuhan hidup, salah satunya dengan beternak ayam.

Usaha tenak ayam ini  merupakan alternative usaha yang sangat bagus di samping bertani dan berwirausaha lainnya. Terlebih ternak ayam, selain mudah dalam pemeliharaan juga mudah dalam penjualan. Selain itu, produk yang dihasilkan dari usaha ternak ayam ini mempunyai nilai jua tersendiri, yakni dari dagingnya, daging ayam yang sehat dan segar dapat dimasak menjadi lauk-pauk yang mempunyai nilai gizi yang tinggi, produk berupa telur, selain untuk ditetaskan menjadi anak ayam, telur dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan adonan maupun lauk-pauk yang nilai gizinya juga sangat baik. Produk dari ternak ayam ini selain daging dan telur, juga terdapat kotoran ayam, di mana kotoran ayam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang sangat baik untuk pertanian.

Namun, keadaan yang potensial inipun sempat mengalami kendala yang benar-benar tidak dapat dianggap sepele. Avians Influenza (flu burung), merupakan virus infuenza yang menyerang unggas, yang beberapa tahun lalu menyebar di Indonesia. Hasil penelitian menemukan bahwa yang menjangkiti ternak ayam di beberapa daerah di Indonesia berasal dari varian H5N1 (Naipospos, 2004).

Keberadaan virus ini bahkan sempat mendatangkan korban pada manusia yang tergolong tidak sedikit. Kemunculan virus inilah yang mengakibatkan kemerosotan nilai jual yang drastis pada ayam, karena virus tersebut dapat menular pada manusia yang dapat menyebabkan kematian. Jelas, hal ini sangat merugikan bagi peternak ayam, tak terkecuali peternak ayam di Desa polokarto yang mana sebagian besar masyarakatnya mengusahakan ternak ayam sebagai usaha sampingan. Mengingat banyaknya jumlah unggas yang ada di Desa tersebut serta kurangnya perhatian dari masyarakat setempat akan bahaya Flu burung, maka  masalah flu burung ini sempat menjadi masalah utama bagi petani, stakeholder, maupun pemerintah setempat.

Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa virus flu burung dalam daging ayam akan mati dalam pemanasan 800C selama satu menit, sedangkan pada telur ayam virus AI akan mati pada pemanasan 640C selama 4,5 menit. Di luar tubuh hewan, virus AI akan mati dalam waktu 15 am (Anonymous, 2004a). Maka dari itu, penting sekali jika diberikan  pemahaman terhadap masyarakat mengenai apa itu flu burung                           (Avian Influenza), bahayanya, penyebarannya serta pencegahan dari flu burung, karena dengan adanya pemahaman tersebut akan sangat mudah dilakukan pengendalian terhadap flu burung itu sendiri. Dan pengendalian flu burung tersebut sebenarnya sangat mudah dilakukan apabila kita benar-benar memperhatikan, adapun pengendalian dan pencegahan flu burung ini dapat dilakukan dengan BD2V(biosecuriti, dekontaminasi, disposal, dan vaksinasi), selain itu dapat pula dilakukan gerakan “TUMPAS Avian Infuenza”.

B.  Tujuan

Upaya pengendalian Flu burung ini bertujuan, antara lain:

1.   Agar petani atau masyarakat mengetahui apa itu Flu burung, bahaya Flu burung, cara penyebarannya, serta antisipasinya terhadap penularan flu burung.

2.   Agar petani atau masyarakat mampu mengendalikan dan mencegah penyebaran Flu burung tersebut.

C.  Manfaat

Upaya pengendalian flu burung ini bermanfaat, antara lain:

1.   Petani dapat mengetahui apa itu Flu burung, bahaya Flu burung, cara penyebarannya, serta antisipasinya terhadap penularan flu burung.

2.   petani mampu mengendalikan dan mencegah penyebaran Flu burung tersebut.

  1. II. LANDASAN TEORI

D.  Metode dan Teknik Penyuluhan

1.   Metode Penyuluhan

Menurut Suhardiyono (1990), penggolongan metode penyuluhan, sebagai berikut:

a.   Metode perseorangan, metode penyuluhan ini dituukan bagi petani secara perseorangan yang memperoleh perhatian khusus dari penyuluh lapang.

b.   Metode kelompok, kegiatan penyuluhan menggunakan metode kelompok ini mengarahkan sasaran kegiatannya pada petani secara berkelmpok

c.   Metode massa, kegiatan penyuluhan menggunakan metode ini mengarahkan sasaran kegiatannya kepada masyarakat tani pada umumnya

Metode dengan hubungan kelompok digunakan oleh penyulu pertanian untuk menyampaikan pesan  kepada kelompok. Metode ini sesuai dengan keadaan dan norma social dari masyarakat pedesaan Indonesia, seperti hidup berkelompok, gotong royong dan berjiwa musyawarah. Contoh metode kelompok ini adalah pertemuan, demonstrasi, kryawisata, pemeran, perlombaan, diskusi kelompok,  kursus, dll (Yayasan Sinar Tani, 2001).

Suatu hal penting yang harus selalu diingat oleh penyuluh lapangan dalam memilih metode penyuluhan yang sesuai yaitu keterlibatan petani dalam proses belajar mengajarnya. Dalam penyelenggaraan penyuluhan, penyuluh lapangan harus bertingkah laku wajar, tidak berlebian dan jika mungkin kegiatan belaar mengajar dalam penyelenggaraan penyuluhan harus dilakukan melalui diskusi, praktek demonstrasi, dan demonstrasi ulang yang dilakukan oleh petani, serta partisipasi aktif dari petani                      (Suhardiyono, 1990).

Pemilihan metode penyuluhan dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan-pendekatan sebagai berikut:

  1. Metode penyuluhan dalam proses komunikasi
  2. Metode penyuluhan dalam pendidikan formal
  3. Metode penyuluhan dalam pendidikan orang dewasa

(Mardikanto, 1992).

Berdasarkan beberapa pertimbangan, metode-metode penyuluan dapat dibagi dalam beberapa golongan, seperti berikut:

  1. Dilihat dari segi komunikasi, dibedakan menjadi:

1)   Metode langsung atau tatap muka

2)   Metode tidak langsung

  1. Didasarkan pada pendekatan psycologis:

1)      Pendekatan perseorangan

2)      Pendekatan kelompok

3)      Pendekatan massa

  1. Didasarkan menurut mekaniknya penerimaan pada sasaran metode-metode penyuluhan pertanian:

1)      Metode yang dapat dilihat, di mana amanat penyuluhan diterima lewat penglihatan untuk memulai proses adopsinya

2)      Metode yang dapat didengar, lewat pendengaran

3)      Metode yang dapat dilihat dan didengar, lewat penglihatan dan pendengaran.

(Wiraatmaja, 1977)

2.   Teknik Penyuluhan

Teknik penyuluan adalah cara penyuluh mendekatkan materi kepada sasarannya. Adapun ragam teknik penyuluhan yang dapat diterapkan, yakni:

a.   Teknik individu kunci/kontak tani, yaitu teknik yang menggunakan individu-individu kunci sebagai sasaran utama penyuluhan.

b.   Surat-menyurat, adala teknik penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh melalui pengiriman barang cetakan (gambar, leaflet, booklet, bulletin, newsletter, majalah, dll), kepada sasaran, baik perseorangan maupun kelompok

c.   Kunjungan, yaitu penyuluhan yang dilaksanakan penyuluh dengan melakukan kunjungan kepada sasarannya secara perseorangan atau kelompok, baik secara anjangsana maupun anjangkarya.

d.   Karyawisata, kegiatan penyuluhan dibarengi dengan upaya menghibur sasaran penyuluhan

e.   Demonstrasi, teknik yang diterapkan dengan maksud membuktikan keunggulan sesuatu inovasi dan menunukkan cara kerjanya.

(Mardikanto dan Arip Wijianto, 2005)

Keuntungan demonstrasi adalah kesnggupan melihat suatu metode baru dituangkan dalam praktek. Tidak diperlukan adanya saling mempercayai yang tinggi antara petani dan penyuluh, karena petani dapat melihat sendiri segala sesuatunya dengan jelas. Agen penyuluh pun tidak perlu terlalu melibatkan diri pada pengiriman pesan yang kemungkinan bisa keliru diartikan (Hawkins dan Van den Ban, 1999).

Bentuk-bentuk metode diskusi ini sangat beragam, yang masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Untuk menyelenggarakan suatu diskusi yang baik, perlu diingat adanya 5 unsur yang harus dipahami dan diperhatikan oleh setiap peserta diskusi, yaitu:

  1. Ada materi tertentu yang akan didiskusikan, dan semua percakapan harus selalu mengacu kepada materi yang didiskudsikan
  2. Diskusi harus berlangsung secara terpimpin
  3. Pemimpin diskusi harus dapat bersikap sebagai pengarah dan penasehat untuk memperjelas tujuan diskusi
  4. Semua anggota harus menghargai serta menaati keputusan kelompok meskipun sebenarnya dia belum dapat menerimanya

(Dephut, 1994)

Diskusi sangat efektif untuk bertukar informasi dan menggali pengetahuan serta pengalamannya yang dimiliki oleh masing-masing peserta. Karena itu sangat efektif untuk menambah pengetahuan, siikap, bahkan juga dapat menambah ketrampilan sasaran, sehingga sangat efektif untuk sasaran pada tahapan menilai dan mencoba (Mardikanto, 1993)

3.   Alat Bantu Penyuluhan

Alat Bantu penyuluhan adalah alat-alat atau sarana yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarkan selama kegiatan penyuluhan itu dilaksanakan. Alat ini diperlukan untuk mempermudah penyuluh selama melaksanakan kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan atau memilih materi penyuluh atau menerangkan inovasi yang disuluhkan (Dephut, 1996).

Ragam alat Bantu penyuluhan yang diperlukan, sebagai berikut:

a.   Kurikulum, merupakan pernyataan tertulis tentang perencanaan pendidikan yang memuat; tujuan, kegiatan, daftar pelaaran dan rencana evaluasi.

b.   Lembar-lembar persiapan penyuluhan

c.   Papan tulis dan atau papan penempel

d.   Alat tulis

e.   Sarana ruangan (pengeras suara, peñata cahaya, piñata udara)

f.    Projector (Overhead Projector, Solid Projector, Movie Projector, dan Slide Projector).

(Mardikanto dan Arif Wijianto, 2005)

4.   Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga adalah alat atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indra manusia, yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan adan atau menjelaskan uraian yang dismpaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan (Mardikanto, 1993)

Penyebaran brosur, folder, leaflet dan majalah adalah metode penyuluhan yang menggunakan brosur, folder, leaflet dan majalah yang dibagikan kepada kepada masyarakat pada saat-saat tertentu, antara lain pada saat pameran, kursus tani, temu wicaera, temu karya, temu tugas, temu usaha, temu lapang dan lain-lain (Anonim, 2007)

Alat peraga dapat digunakan secara tunggal maupun kombinasi, namun dalam menggunakan alat peraga haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Alat peraga harus mudah dikenali dan dimengerti oleh sasaran
  2. Gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran

(Suhardiyono, 1990)

Alat alat peraga yang efektif harus dapat memenuhi persyaratan tertentu, antara lain:

  1. Sederhana, mudah dimengerti dan dikenal oleh sasaran yang dituju
  2. Mengemukakan gagasan baru
  3. Menarik perhatian
  4. Mengesankan ketelitian, sehingga mudah dikenali oleh sasaran
  5. Menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga mudah dimengerti oleh sasaran yang dituju
  6. Menarik sasaran untuk berkonsentrasi, mengingat, mencoba, dan menerima serta menerapkan gagasan baru yang diperkenalkan

(Suhardiyono, 1990)

5.   Evaluasi

Evaluasi adalah alat manaemen yang berorientasi pada tindakan dan proses. Informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga relevansi dan efek serta konsekuensinya ditentukan sistematis dan seobyektif mungkin. (Hawkins dan Van den Ban, 1999).

Evaluasi dalam setiap kegiatan pelaksanaan kegiatan penyuluhan sangat diperlukan. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk memperoleh input terhadap hasil pelaksanaan kegiatan yang hasilnya dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menyempurnakan program kegiatan penyuluhan diwaktu yang akan dating (Suhardiyono, 1990).

Pada dasarnya tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai atau menyimpang dari pedoman yang ditetapkan, atau untuk mengetahui tingkat kesenjangan (diskrepansi) antara keadaan yang telah dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dapat dicapai, seingga dengan demikian akan dapat diketahui tingkat efektivitas dan efisiensi kegiatan yang telah dilaksanakan; untuk selanjutnya, dapat segera diambil langkah-langkah guna meningkatkan tingkat efektivitas dan efisiensi kegiatan seperti yang dikehendaki (Anonim, 1996)

Sebagai suatu proses ilmiah, evaluasi yang baik harus dirancang sebagai suatu proses kegiatan bertahap yang mencakup tahapan-tahapan

  1. Perumusan tujuan evaluasi
  2. Perumusan indicator/parameter
  3. Pengukuran indicator/parameter
  4. Penetapan metode evaluasi yang meliputi

1)   Perancangan evaluasi

2)   Perumusan populasi dan contoh

3)   Perincian data yang diperlukan

4)   Teknik pengumpulan data

5)   Perumusan instrument

6)   Uji coba instrumen untuk uji ketetapan (validasi) dan ketellitian (reliabilitas) instrument

7)   Teknik analisis data

(Mardikanto dan Arif Wijianto, 2005)

E.   Materi Penyuluhan

1.   Pengertian

Flu Burung (Avian Influenza) atau sampar unggas (Fowl Plaque) adalah penyakit yang menyerang berbagai jenis unggas seperti ayam, kalkun, itik, merpati, dan burung piaraan yang disebabkan oleh virus                       (Anonymous, 2004a dalam Buletin)

Avian Influenza merupakan suatu penyakit pada unggas yang menyebabkan gangguan pernapasan, depresi dan penurunan konsumsi pakan dan minum, penurunan produksi telur dan penurunan daya tetas telur pada ayam bibit (Tabbu, 2000).

Ada banyak subtype virus Flu Burung yang menginfeksi hewan. Flu burung ditemukan Indonesia disebabkan virus H5N1. virus ini dapat bertahan di air hingga 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. waktu antara masuknya virus ke tubuh hingga timbul gejala pada seseorang, rata-rata adalah 7 hari (Depkes RI, 2004)

2.   Bahaya

H5N1 (virus flu burung) dapat menyebabkan seseorang sakit parah (highly pathogenic), cepat merusak organ tubuh, terutama paru-paru, sehingga menyebabkan kematian. Dibanding SARS, angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) pasien Flu Burung lebih tinggi, sekitar 75 %, meski jumlah kasus tergolong kecil. Jika flu burung dibiarkan meluaspada hewan, ditakutkanberkembang, dan risiko penularan ke manusia semakin besar. Padahal manusia belum membentuk kekebalan terhadap virus H5N1 (Depkes RI, 2004)

3.   Gejala

Unggas yang terkena Flu Burung mempunyai ciri-ciri, yakni;

  1. Unggas mati mendadak,
  2. Bulu unggas rontok, tidak nafsu makan, depresi,
  3. Unggas yang mulai bertelur, cangkang telurnya tipis, dan kemudian segera berhenti bertelur
  4. Jegger dan pial berwarna merah kebiruan dan bengkak, pembengkakan di bagian muka dan kepala
  5. Diare banyak dan seringkali muncul dan merasa haus luar biasa
  6. Nafas cepat dan sulit, batuk, bersin dan terdengar suara ngorok, keluar cairan dari mata dan hidung
  7. Perdarahan dibawah kulit
  8. Perdarahan titik pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu (dada, kaki, dan telapak kaki)
  9. Kematian tinggi dalam populasi

(Soejodono, 2005)

4.   Penularan dan penyebaran flu burung pada manusia

Virus ini masih kerabat dekat virus influenza A, dan sama-sama ditularkan lewat udara(airborne). Virus flu burung terbang ke udara di sekitar lokasi tempat unggas berpenyakit berada. Virusnya mungkin berasal dari kotorannya, liurnya, wadah makanan dan air minumnya, kandang, dan semua permukaan tanah yang dicemarinya. Itu sebab, ketika awal serangan flu burung, yang pertama-tama tertular hanyalah mereka yang berada berdekatan dengan kandang atau pasar unggas yang sudah berpenyakit ini.

Airborne Infection

“Penularan secara airborne berarti manusia menghirup udara yang sudah mengandung virus ke dalam saluran pemapasannya. Kita tidak tahu, dan tidak pula merasa saat menghirup udara bervirus flu burung”.

Selain itu penularan juga dapat terjadi secara kontak langsung lewat tangan. Kontak langsung dengan menyentuh, memegang, atau bersinggungan dengan semua yang sudah tercemar virus, termasuk saat berkontak dengan unggas atau telurnya. Dengan cara itu virus mencemari tangan, tubuh, dan segala yang dikenakan manusia. Bila tangan manusia yang sudah tercemar virus tidak dibasuh dan kemudian berkontak dengan liang hidungnya sendiri, dengan cara demikian virus flu burung yang sudah mencemari tangan bisa memasuki saluran pemapasan juga. Namun, tidak ada bukti bahwa dengan cara menelan, manusia akan tertular virusnya.

(Anonim, 2007)

Varian H5N1 dikabarkan mulai menyebar ke beberapa Negara seperti Jepang, Vietnam, Thailand, Korea,  Belanda, dan Belgia. Keunikan biologi virus AI (Avian Influenza) adalah kemampuannya mengalami perubahan genetika, dehingga mampu menembus species barrier dan terjadilah penularan antar jenis atau species makhluk, misalnya dari binatang ke manusia (Buletin, 2004).

Dapatkah H5N1 berkembang sehingga mampu menginfeksi secara mudah dari manusia ke manusia lainnya? Ya. Para ahli kesehatan international khawatir jika virus tersebut dapat berubah dan mampu menularkan secara cepat dari manusia ke manusia lainnya. Satu cara yang dapat terjadi adalah apabila virus flu manusia dan burung bertukar gen. Apabila seorang pasien secara bersamaan terinfeksi oleh flu manusia DAN flu burung, ia merupakan tempat bercampurnya pertukaran gen antara kedua virus. Virus influenza yang lengkap dan baru mungkin akan muncul yang cukup mengandung gen manusia dan dapat dengan mudah menyebar dari orang ke orang. Bila demikian, maka wabah dunia atau pandemi dapat terjadi (Anonim, 2007)

Berikut data penyebaran wabah AI di Indonesia pertahun 2003.

Tabel 1. Wabah AI di Indonesia per 6 februari 2004

Propinsi Umla kematian s.d 6 feb.2004 (ekor) Awal Terserang (Bulan)
Banten 400.000 November 2003
DKI Jakarta 23.500 Oktober 2003
Jawa Barat 1.243.300 September 2003
Jawa Tengah 506.060 Agustus 2003
DIY 29.991 Oktober 2003
Jawa Timur 294.622 Oktober 2003
Bali 399.236 Oktober 2003
Kalteng 13.000 November 2003
Kalsel 2.605 November 2003
Lampung 102.591 Desember 2003
Jumlah 3.014.905

Sumber: Laporan Rekap Wabah AI Dinas Peternakan Per tanggal                      6 februari 2004 (Ditjen Peternakan, 2004).

(Anonimus, 2004b)

5.   Pengendalian dan Pencegahan Flu Burung

a.   Adapun cara pencegahan flu burung dapat dilakukan dengan BD2V, yakni:

1)   Biosecuriti, yaitu merupakan cara untuk menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme. Di mana prinsip-prinsip yang harus  yang dilakukan dalam biosecuriti antara lain; menjaga agar unggas dalam kondisi baik, menaga ternak agar selalu berada di lingkungan terlindung, memeriksa barang-barang yang masuk ke dalam peternakan anda.

2)   Dekontaminasi/Desinfeksi, dengan cara melakukan pembersihan atau pensterilan pada; pakan, tempat pakan/air minum, semua peralatan; pada pakain pekerja kandang, alas kaki, kendaraan dan bahan lain yang tercemar; bangunan kandang yang kontak dengan unggas, kandang/tempat penampungan unggas.

3)   Disposal, yakni pencegahan flu burung dengan cara pembakaran dan penguburan dengan kedalaman minimal 1,5 m terhadap; unggas mati, karkas, telur terinfeksi; kotoran, bulu, alas kandang/sekam; pupuk dan pakan ternak yang tercamar; bahan dan peralatan lain yang terkontaminasi yang tidak dapat disucihamakan secara efektif

4)   Vaksinasi, cara vaksinasi ini dapat dilakukan terhadap unggas, yakni; umur 4-7 hari 0,2 ml secara subkutan (pangfkal leher); 4-7 minggu 0,5 m secara subkutan (pangkal leher); boster (pengulangan) tiap 3-4 bulan 0,5 ml secara intramuskuler.

Setelah melakukan kegiatan pencegahan tersebut, kemudian dapat dilakukan:

5)   Pengisian kembali kandang setelah 30 hari pengosongan kandang,   sebelumnya harus sudah dipastikan semua tindakan di atas telah dilakukan.

6)   Disamping itu, dapat dilakukan dengan pemberian jamu; tanaman obat atau herbal dapat dijadikan alternative dalam pencegahan infeksi virus AI, bukan sebagai obat untuk menyembuhkan. Tanaman obat yang dipili berperan dalam meningkatkan fungsi lever, ginjal dan kekebalan sel serta menghambat replikasi virus. Jenis tanaman obat yang dapat digunakan,yakni kunir, temulawak, sambiloto, jahe, cabe jawa, dan kencur. Beberapa obat ini bisa dikombinasikan untuk memperoleh hasil atau khasiat yang optimal. Contoh resep tradisional untuk pencegahan penyakit unggas:

  • Bahan: jahe ½ kg, temulawak ¼ kg, kencur ¼ kg, tg, temu ireng ¼ kg, kuning telur itik 4 butir, madu 2 sendok the
  • Cara membuat: semua bahan diparut, campur dengan telur dan madu, bentuk campuran tersebut menjadi bulatan-bulatan kecil lalu jemur hingga kering dan siap diberikan pada unggas
  • Aturan pakai: untuk pencagahan; berikan 1 kali tiap minggu selama 1-2 kali pemberian, untuk pengobatan; berikan 2 kali tiap hari (pagi dan sore).

(Biro Hukum dan Humas Deptan, 2004)

b.   Cara pencegahan dapat dilakukan dengan “TUMPAS Avian Influenza”, yakni 6 langkah yang dilakukan untuk mencegah Flu Burung, antara lain:

1)   Tak perlu panik dan kawatir berlebihan dengan Flu Burung karena penyebabnya adalah virus lemah yang mudah mati dengan panas, sinar matahari, deterjen dan disinfektan

2)   Usahakan kebersihan kandang unggas dan semprotkan dengan desinfektan

3)   Mencuci tangan dengan air sabun setelah kontak dengan unggas maupun produknya

4)   Proteksi anak-anak dan lansia dari kontak langsung dengan unggas terutama yang terlihat sakit

5)   Amankan makanan dengan memasak daging dan telur unggas terlebih dahulu sebelum disantap

6)   Segera lapor kepada aparat berwenang jika ada unggas sakit atau mati mencurigaan

(Sinar Tani, Edisi 28 Maret-3 April 2007).

III. DASAR PEMILIHAN METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN

  1. A. Sasaran

1.   Golongan Umur

Umur sangat menentukan tingkat adopsi terhadap inovasi atau kemampuan dalam menerima informasi atau pesan. Biasanya umur yang lebi muda akan lebih mudah atau lebi cepat  menangkap informasi yang disampaikan dari pada orang yang sudah tua.

Tabel 2. Keadaan Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006

Golongan umur Jumlah
0 – 4    Tahun 7710 orang
5 – 9    Tahun 6904 orang
10 – 14 Tahun 7589 orang
15 – 19 Tahun 8618 orang
20 – 24 Tahun 9643 orang
25 – 29 Tahun 8692 orang
30 – 34 Tahun 9677 orang
35 – 39 Tahun 7978 orang
40 – ke atas 9832 orang
Jumlah total 76643 orang

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa  kebanyakan penduduk di Kecamatan Polokarto masih berada dalam usia muda, meskipun yang berusia 40 tahun ke atas sebesar 9832 orang. Berarti dapat dikatakan kecepatan dalam menerima suatu informasi masih tergolong baik, dan hal ini akan memudahkan dalam penentuan metode dan teknik untuk melakukan penyuluhan.

2.   Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Tabel 3. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006

Jenis kelamin Jumlah penduduk
Laki-laki 39595
Perempuan 37048
Jumlah total 76643

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kecamatan Polokarto lebih besar dari pada penduduk perempuan, dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 39595 orang. Keadaan ini sangat mempengaruhi kegiatan usaha tani yang ada di Kecamatan tersebut, di mana dengan banyaknya jumla penduduk laki-laki berarti kegiatan usahatani akan lebih maju, karena tenaga yang diberikan pada sektor pertanian atau peternakan jauh lebih besar.

3.   Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat mempengaruhi tingkat penyerapan teknologi, seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan lebih cepat menyerap inovasi yang masuk, begitu halnya sebaliknya. Adapun tingkat pendidikan yang ada di Kecamatan Polokarto ialah sebagai berikut:

Tabel 4. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo tahun 2006

Pendidikan Jumlah penduduk
Belum sekolah 7832 orang
Tidak tamat SD 2451 orang
Tamat SD/sederajat 2420 orang
Tamat SLTP/sederajat 3212 orang
Tamat SLTA 472 orang
Tamat Akademi/sederajat 1118 orang
Tamat perguruan tinggi 879 orang
Buta huruf 170 orang
Jumlah total 22254 orang

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa keadaan tingkat pendidikan daerah sasaran tergolong berpendidikan tinggi, di mana dari umlah keseluruhan jumlah penduduk yang tidak tamat SD hanya sekitar 11%, dan yang paling banyak adalah tamat SLTP/sederajat yang mana sebesar 3212 orang. Sedangkan terdapat pula penduduk yang masih buta huruf, yakni sebanyak 170 orang. Hal ini akan sangat mempengaruhi dalam peggunaan metode dan teknik penyuluhan serta penggunaan alat Bantu penyuluhan. Untuk sasaran yang masih buta huruf, sebaiknya menggunakan metode diskusi yang mana harus sebisa mungkin menghindari penggunaan tulisan dalam penyampaian pesan yang dilakukan.

4.   Adat Kebiasaan dan Norma

Norma adalah petunjuk untuk bertingka laku yang diharapkan dari masyarakat dan kepercayaan yang dibentuk secara formal ataupun informal di dalam suatu kelompok (Suhardiyono, 1990).

Begitu halnya suatu norma juga terdapat di Kecamatan Polokarto, di mana difungsikan untuk mengatur tatanan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun norma yang masih diberlakukan antara lain norma kesopanan, kesusilaan, norma hokum dan yang tidak kalah penting adalah norma agama. Norma-norma tersebut masih dijunung tinggi oleh masyarakat sekitar, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat diharuskan berperilaku baik sesuai dengan aturan yang ada, dan apabila ada yang melanggar, maka secara langsung atau tidak langsung akan mendapatkan sanksi yang berupa teguran, cemooh, bahkan kucilan dari orang lain.

Di samping norma tersebut, masyarakat di Kecamatan Polokarto juga masih menganut adat kebiasaan jawa seperti slametan atau syukuran. Adat ini biasanya dilakukan warga apabila ada kejadian yang membuahkan kebahagiaan. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih melakukan kondangan apabila datang hari bersejarah bagi masyarakat jawa, dan masih terdapat pula adat kebiasaan ruwatan bagi orang tua yang memiliki anak semata wayang, atau hanya satu anak.

Keberadaan norma maupun adapt kebiasaan ini sangat menentukan keberhasilan terhadap pemberian informasi bagi penyuluh. Sehingga, sebagai penyuluh kita harus memperhatikan dan melaksanakan sertiap hal yang menjadi aturan atau kebiasaan dari masyarakat setempat, karena itu akan mempengaruhi diterima atau tidaknya sebagai seorang penyuluh di daerah tersebut.

5.   Tingkat Adopsi

Tingkat adopsi memang sangat mempengaruhi kecepatan dalam menerima informasi. Bila dilihat berdasarkan umur dan tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Polokarto, dapat dikatakan tingkat adopsi yang dimiliki tergolong dalam kriteria cepat. Keadaan ini akan mempermudah dalam menyampaikan suatu informasi. Akan tetapi, keadaan dari petani sendiri masih kurang dalam hal pengetahuan, sikap, dan ketrampilan, sehingga bagi penyuluh harus menggunakan metode yang menyentuh sampai tahapan mencoba dan atau menerapkan. Namun jika sasarannya dalam jumlah yang cukup besar, tahapan sadar dan menilaipun sudah cukup baik untuk tujuan dari suatu penggunaan metode penyuluhan.

  1. B. Penyuluhan dan Kelengkapannya

1.   Kemampuan Penyuluh

Polokarto mempunyai satu buah KCD (Kantor Cabang Dinas) pertanian dengan jumlah penyuluh sebanyak 6 orang yang diketuai oleh Bp. Djumbadi, mereka mempunyai 17 Desa atau WKPP sebanyak 6 buah yang harus didampingi. Dalam hal pengetahuan dan ketrampilan dapat dikatakan sudah cukup baik, karena sudah mempunyai pengalaman yang cukup banyak dalam kegiatan penyuluhan.

2.   Materi Penyuluhan/Pesan

Materi penyuluhan yang hangat merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh petani, dan hal ini memang menjadi perhatian bagi setiap penyuluh. Berdasarkan kondisi lapang yang ada di Kecamatan Polokarto, terdapat beberapa materi penyuluhan yang memang dibutuhkan yang diantaranya mengenai pengendalian hama sundep, hama wereng, hama tikus, dan dalam bidang peternakan sangat dibutuhkan adanya kewaspadaan dan pengendalian terhadap flu burung. Dalam pertanian, meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan hama tersebut menyerang tanaman padi akan tetapi dalam beberapa musim tanam ini hama tersebut saling bergantian menyerang tanaman padi. Sedangkan mengenai Flu Burung, belum ditemukan adanya penyakit ini di Kecamatan Polokarto, maka dari itu kondisi seperti ini harus dipertahankan dan terus dilakukan pengendalian sejak dini, mengingat keberadaan unggas di Kecamatan ini tergolong tidak sedikit.

3.   Sarana dan Prasarana Penyuluhan

Dalam kepemilikan sarana dan prasarana, KCD pertanian di Kecamatan Polokarto masih tergolong sedikit, atau dapat dikatakan belum lengkap. Dalam pemberian materi penyuluhan biasanya langsung ke tempat bekerja para petani, jadi tidak memerlukan prasarana yang berkaitan dengan penggunaan listrik. Untuk berada di tempat penyuluhan tersebut, para penyuluh di Kecamatan Polokarto masih menggunakan kendaraan pribadinya, karena tidak belum mendapatkan sarana penyuluhan berupa motor. Mengenai alat bantu atau alat peraga yang digunakan dalam penyuluhan dapat dikatakan miskin, karena memang benar-benar tidak mempunyai alat apapun selain papan tulis, alat tulis, dan penggunaan leaflet atau folder.

  1. C. Keadaan Daerah
    1. Keadaan umum

a.   Batas administrasi wilayah/daerah

Adapun batas-batas daerahnya adalah sebagai berikut:

Sebelah utara          : kecamatan mojolaban

Sebelah Timur        : kecamatan jumantono dan kecamatan jumapolo

Sebelah selatan       : kecamatan bendosari

Sebelah barat         : kecamatan Grogol

b.   Keadaan potensi wilayah daerah

Kecamatan Polokarto mempunyai daerah 6218 Ha yang terdiri dari 17 Desa dan:

Luas tanah sawah   = 2431 Ha

Luas tana kering     = 3787 Ha

Luas tanah tersebut dirinci atas dasar penggunaan tanah tahun 2007 di Kecamatan Polokarto.

1)      Tanah sawah

a)   tanah sawah pengairan teknis          = 1088 ha

b)   tanah sawah pengairan ½ teknis      =   798 ha

c)   tanah sawah pengairan sederhana    =    171 ha

d)   tanah sawah tadah hujan                 =   374 ha

2)      tanah kering

e)   tanah tegal                                      = 1241 ha

f)    tanah pekarangan                            = 1605 ha

g)   koplam                                           =       3 ha

h)   tanah perkebunan                           =   757 ha

i)    lainnya                                            =   181 ha

Luas wilayah dan penggunaan tanah di Kecamatan Polokarto dapat dirinci sebagai berikut;

Tabel 5. Luas Tanah Sawah Di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun 2007

No Desa L sawah (ha) Teknis (HA ) ½ Teknis (ha) Sederhana Tadah hujan
1 Pranan 135 135
2 Karangwuni 119 119
3 Bugel 97 97
4 Ngombakan 19 119
5 Bakalan 186 186
6 Godog 20 71 119 17
7 Kemasan 210 46 164
8 Kenokorejo 189 108 41 17 23
9 Tepisari 149 69 80
10 Bulu 105 67 38
11 Rejosari 106 89 17
12 Polokarto 111 50 51 10
13 Mranggen 262 158 20 84
14 Wonorejo 146 146
15 Jatisobo 144 39 9 2 10
16 Genengsari 69 1 15 14 39
17 Kayuapak 7 21 5
jumlah 2431 1088 798 171 374

Sumber: Data Sekunder

  1. Keadaan Lapangan

c.   Topografi, Letak geografi, Jenis tanah dan Iklim

Kecamatan polokarto secara umum merupakan sebagian dataran renda, sebagian merupakan daera bergelombang. Jarak Ibukota dengan Desa bervariasi, terdekat Balai Desa Mranggen dengan jarak + 1 km dan terjauh Balai Desa Pranan dengan Jarak + 10 km. iklim Kecamatan Polokarto dalam keadaan normal, berdasarkan Semit Ferguson.

Iklim di Kecamatan Polokarto termasuk daerah iklim golongan C atau termasuk daerah basah. Hal ini didasarkan dari perhitungan bulan basah dan bulan kering. Perhitungan bulan basah: 6 bulan, bulan lembab: 2 bulan dan kering 4 bulan.

Jenis tanah di Kecamatan Polokarto bermacam-macam. Hal ini dijelaskan sebagai berikut:

1)                                       Latosol : Mranggen, Godog, Bakalan, Karangwuni,                Pranan,     Bugel

2)   Latosol dan Grumasol   : Kemasan, Kenokorejo

3)   Grumasol                      : Tepisari, Rejosari, Bulu

4)   Putih berpasir               : Jatisobo, Wonorejo, Kayuapak, Genengsari

d.   Keadaan Perkembangan Tingkat Pengelolaan Usahatani

Kondisi pelaksanaan pola tanam di Kecamatan Polokarto masih belum sesuai dengan anjuran, kecuali wilayah yang karena kondisi irigasi yang belum sempurna justru telah melaksanakan pola tanaman dengan baik.

Hal ini disebabkan oleh karena factor kondisi atau alam yang mengatur pada daerah irigasi yang baik para petani berkecenderungan menanam padi terus-menerus sepanjang tahun. Upaya yang dilaksanakan dinas teknis dan pimpinan wilayah agar dapat melaksanakan, pola tanam dengan ketentuan; palawia-padi-padi, palawija-padi-palawija, palawija-paawija-bero. Untuk tanah tegalan, sepanjang tahun palawija dilaksanakan dengan system tumpang sari, dan bila mungkin dikembangkan padi gogo.

e.   Keadaan Ternak Unggas

Keadaan unggas di Kecamatan Polokarto lumayan cukup besar, hal ini disebabkan kondisi lingkungan yang cocok untuk ternak unggas, selain itu unggas juga diadikan sebagai usaha sampingan dari sebagian besar warga. Terdapat pula beberapa usaha ternak besar milik swasta yakni ternak ayam petelur.

Adapun dari rencana populasi ayam pada tahun 2007, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 6. Rencana Populasi Ayam di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharo Pada Tahun 2007

No DESA Populasi jenis ternak (ekor)
Ayam Buras Ayam petelur Ayam pedaging Itik Burung puyuh
1 Pranan 1729 943
2 Karangwuni 1303 663
3 Bugel 2173 429 1000
4 Ngombakan 3844 417 4000
5 Bakalan 1327 417
6 Godog 3037 7000 640 1000
7 Kemasan 5599 5000 8100 438
8 Kenokorejo 8646 636
9 Tepisari 3112 15050 346
10 Bulu 1307 21000 3000 304
11 Rejosari 3717 16000 319
12 Polokarto 1465 269148 12000 349
13 Mranggen 3224 977 1000
14 Wonorejo 2192 406
15 Jatisobo 1306 3500 551
16 Kayuapak 2171 60000 700 415
17 genengsari 1915 323
Jumlah 48067 358648 65150 8573 7000

Sumber: Data Sekunder

Berdasarkan tabel di atas dapat kita lihat bahwa keberadaan unggas di Kecamatan Polokarto tergolong dalam jumlah yang cukup besar, terlebih di Desa Polokarto yang mana terdapat jumlah ayam petelur paling banyak, hal ini dikarenakan keberadaan usaha ternak swasta yang jumlahnya tergolong memang besar.

f.    Keadaan kelompok tani

Adapun keadaan kelompok tani sub sektor pertanian tanaman pangan, ialah sebagai berikut:

1)   Kelompok tani hamparan dan kelas kelompok

1        Kelas pemula                      = 3 kelompok

2        Kelas lanjut                        = 8 kelompok

3        Kelas madya                      = 40 kelompok

4        Kelas utama                       = 29 kelompok

Jumlah                                = 80 kelompok

2)   Kelompok domisili

1        Kelompok wanita tani         = 2 kelompok

3)   Jumlah KTNA

2        Tingkat Kabupaten =    3 orang

3        Tingkat Kecamatan =    5 orang

4        Tingkat Desa                      = 101 orang

4)   Keadaan kelompok tani peternakan

5        Kelompok ternak domba    = 7 kelompok

6        Kelompok ternak sapi        = 8 kelompok

7        Kelompok ternak ayam      = 2 kelompok

5)   Keadaan kelompok tani perkebunan

6)   Keadaan kelompok tani perikanan

8        Kelompok tani perikanan    = 1 kelompok

g.   Kondisi sarana dan prasarana

Lalu lintas dalam pengangkutan dan komunikasi di Kecamatan Polokarto umumnya melalui darat, adapun kondisi lalu lintas yang ada yakni;

1)   Jalan aspal

9        Baik                       = 26 km

10    Sedang                   = 40 km

11    Rusak                     = 35 km

2)   Jalan diperkeras

12    Baik                       = 24 km

13    Sedang                   = 25 km

14    Rusak                     = 24 km

3)   Jalan tanah

15    Baik                       =   – km

16    Sedang                   =  3 km

17    Rusak                     =  – km

Sedangkan untuk kondisi pengubung jalan/jembatan, yakni di Kecamatan Polokarto mempunyai jembatan beton yang dalam kondisi baik sebanyak 24 buah dengan panjang 30m, dan jembatan besi yang dalam kondisi baik 1 buah dengan panjang 20m dan kondisi sedang sebanyak 1buah, terdapat pula jembatan kayu/bamboo dalam kondisi baik 1 buah dengan panjang 12m, di samping itu terdapat pula 1buah jembatan lain yang kondisinya masih baik dengan panang 40m.

Selain itu, di Kecamatan Polokarto terdapat pasar dengan bangunan permanent sebanyak 5 buah dan yang semi permanent sebanyak 1 buah. Terdapat pula took dengan jumlah 15 buah, kios 24 buah, dan warung 8 buah. Di samping itu terdapat pula 2 buah bank, yang mana digunakan masyarakat dalam simpan pinjam uang.

  1. D. Kebijaksanaan Pemerintah

Dalam rangka meningkatkan mutu intensifikasi dan mewujudkan ketentuan kebijakan umum pengelolaan intensifikasi sebagai berikut:

  1. Upaya pencapaian tingkat produktivitas, produksi dan pendapatan petani, dilakukan melalui Pola Supra Insus.
  2. Komoditas yang dikembangkan pada wilayah Supra Insus adalah komoditas prioritas dan strategi yang teknologinya tersedia, sarana produksi dan pemasaran terjamin
  3. Partisipasi petani dalam intensifikasi pertanian ditingkatkan  dengan pembudayaan RDK dan RDKK, mengusahakan pemanfaatan fasilitas kredit termasuk Kredit Ketahanan Pangan (KKP)
  4. Penyelenggaraan musyawarah/pertemuan untuk menyusun perencanaan dan penetapan cara pemecahan masalah guna memperlancar pelaksanaan program, seperti musyawarah kelompok tani, musyawarah antar kotak tani/KTNA, temu lapang, saresehan, dan rapat koordinasi.

Adapun kebijakan dari Kabupaten Sukoharjo, yakni:

  1. Pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang dinamis melalui system agribisnis dan agroindustri
  2. Pengembangan system ketahanan pangan yang berbasis pada keanekaragaman pangan, dalam aspek produksi, ketersediaan, distribusi dan konsumsi
  3. Memberdayaan kelembagaan dan organisasi ekonomi di pedesaan dengan peningkatan kualitas sumberdaya mannusia dan memfasilitasi sarana prasarana pertanian dan permodalan
  4. Meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian guna menjamin penyediaan pangan sesuai kebutuhan untuk pemantapan ketahanan pangan

IV. METODE DAN TEKNIK PENYULUAN

F.   Metode Penyuluhan

Metode penyuluhan merupakan suatu cara yang dilakukan oleh penyuluh untuk mendekatkan diri kepada sasaran. Dalam penyuluhan metode dan teknik Pengendalian Dan Pencegahan Flu Burung di Kecamatan Polokarto menggunakan metode “pendekatan masal”, di mana penyuluh melakukan komunikasi secara langsung dengan jumlah sasaran yang banyak.

Penggunaan metode pendekatan masal ini sangat efektif mengingat Flu Burung merupakan wabah penyakit yang ganas dan jika tidak dikendalikan dapat menyebar dengan cepat. Ditambah keberadaan unggas di Kecamatan Polokarto tergolong besar dan hampir merata di setiap Desa penduduknya mempunyai ternak ayam atau unggas. Dengan pendekatan masal ini informasi yang disampaikan dapat segera menyebar dan sangat efektif untuk menumbukan kesadaran serta minat sasaran untuk peduli terhadap pengendalian dan pencegahan flu burung khususnya di Kecamatan Polokarto.

G.  Teknik Penyuluhan

Teknik penyuluan merupakan proses atau cara penyampaian untuk mendekatkan materi penyuluhan dengan masyarakat sasaran. Teknik penyuluhan dipilih sesuai dengan tujuan yang diharapkan atas perubahan perilaku dari masyarakat sasaran.

Dalam upaya  pengendalian dan pencegahan wabah Flu Burung ini sangat efektif ika penyuluh menggunakan kombinasi teknik penyuluhan, yakni “Kampanye dan Demonstrasi Cara”. Dengan teknik kampanye dilaksanakan dengan mengerahkan segenap daya upaya dan sumber daya yang tersedia, bahkan yang terpenting tujuan atas kegiatan penyuluhan tersebut tercapai dalam selang waktu yang relative pendek. Hal ini terkait penyebaran dari wabah penyakit Flu Burung tersebut tergolong cepat, jika tidak dilakukan suatu pengendalian dan pencegahan secara dini. Dengan demikian, sebagian besar masyarakat sasaran harus suda mencapai tahapan adopsi, meskipun hanya mempengaruhi sikap untuk menumbuhkan kesadaran dan minat masyarakat setempat.

Di samping teknik kampanye, maka diperlukan juga teknik “demonstrasi cara”. Dalam teknik ini penyuluh menunjukkan suatu cara (melatih) kepada sasaran penyuluan dalam pengantisipasian Flu burung, yakni dalam hal “vaksinasi dan pembuatan ramuan (jamu)”, di mana dalam vaksinasi, sasaran dilatih untuk memberikan vaksin secara tepat dan akurat sehingga tidak berakibat fatal. Selain itu, pelatihan pembuatan jamu tradisional yang nantinya diberikan keayam untuk manambah daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap waba Flu Burung tersebut. Sehingga dengan demikian nantinya sasaran dapat dengan trampil dalam menangani permasalahan yang ada, yang mana memang dengan teknik ini sangat efektif untuk menumbukan tahap adopsi sampai mencoba dan atau menerapkan.

Dalam kegiatan penyuluhan kepada masyarakat sasaran, diharapkan penyuluh juga memberikan suatu bukti keadaan nyata atau fakta-fakta mengenai bahaya Flu Burung itu sendiri. Sehingga masyarakat sasaran akan benar-benar termotivasi untuk melakukan pengendalian dan pencegahan seak dini terhadap wabah Flu Burung.

H.  Alat Bantu Penyuluhan

Kegiatan penyuluhan tentang Pengendalian dan Pencegahan Flu Burung ini dilaksanakan di Kelurahan di setiap Desa. Dalam hal ini penyuluh menggunakan alat Bantu berupa sarana  ruangan, karena penyuluhan diselenggarakan di dalam ruangan, sehingga membutuhkan berbagai macam alat Bantu sebagai berikut:

1.   Papan Tulis atau Papan Tempel

Penyuluh menggunakan papan tulis/papan temple untuk menjelaskan materi yang disampaikan. Di samping itu papan penempel uga berfungsi untuk tempat menempelkan gambar-gambar atau tulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

2.   Lembar Persiapan Peyuluhan

Lembar-lembar persiapan penyuluhan dibutuhkan karena berisi pokok-pokok kegiatan yang arus dikerakkan selama kegiatan penyuluhan. Adapun lembar-lembar yang harus dipersiapkan dalam penyuluhan tentang Pengendalian dan Pencegahan Flu Burung di Kecamatan Polokarto adalah sebagai berikut:

a)      Lembar Persiapan Menyuluh (LPM)

Flu Burung (Avian Influenza) atau sampar unggas (Fowl Plaque) adalah penyakit yang menyerang berbagai jenis unggas seperti ayam, kalkun, itik, merpati, dan burung piaraan yang disebabkan oleh virus yang menyebabkan gangguan pernapasan, depresi dan penurunan konsumsi pakan dan minum, penurunan produksi telur dan penurunan daya tetas telur pada ayam bibit

H5N1 (virus flu burung) dapat menyebabkan seseorang sakit parah (highly pathogenic), cepat merusak organ tubuh, terutama paru-paru, sehingga menyebabkan kematian. Dibanding SARS, angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) pasien Flu Burung lebih tinggi, sekitar 75 %, meski jumlah kasus tergolong kecil. Jika flu burung dibiarkan meluaspada hewan, ditakutkan berkembang, dan risiko penularan ke manusia semakin besar. Padahal manusia belum membentuk kekebalan terhadap virus H5N1

Unggas yang terkena Flu Burung mempunyai ciri-ciri, yakni;

1)      Unggas mati mendadak,

2)      Bulu unggas rontok, tidak nafsu makan, depresi,

3)      Unggas yang mulai bertelur, cangkang telurnya tipis, dan kemudian segera berhenti bertelur

4)      Jegger dan pial berwarna merah kebiruan dan bengkak, pembengkakan di bagian muka dan kepala

5)      Diare banyak dan seringkali muncul dan merasa haus luar biasa

6)      Nafas cepat dan sulit, batuk, bersin dan terdengar suara ngorok, keluar cairan dari mata dan hidung

7)      Perdarahan dibawah kulit

8)      Perdarahan titik pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu (dada, kaki, dan telapak kaki)

9)      Kematian tinggi dalam populasi

Adapun cara pengendalian dan pencegahan flu burung dapat dilakukan dengan BD2V, yakni:

1)   Biosecuriti, yaitu merupakan cara untuk menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme.

2)   Dekontaminasi/Desinfeksi, dengan cara melakukan pembersihan atau pensterilan.

3)   Disposal, yakni pencegahan flu burung dengan cara pembakaran dan penguburan dengan kedalaman minimal 1,5 m.

4)   Vaksinasi, yakni pemberian vaksin terhadap ayam untuk menambah kekebalan tubuh.

Setelah melakukan kegiatan pencegahan tersebut, kemudian dapat dilakukan:

5)   Pengisian kembali kandang setelah 30 hari pengosongan kandang,   sebelumnya harus sudah dipastikan semua tindakan di atas telah dilakukan.

6)   Disamping itu, dapat dilakukan dengan pemberian jamu; tanaman obat atau herbal dapat dijadikan alternative dalam pencegahan infeksi virus AI, bukan sebagai obat untuk menyembuhkan.

Cara pencegahan Flu Burung yang lain dapat dilakukan dengan gerakan“TUMPAS Avian Influenza”, yakni 6 langkah yang dilakukan untuk mencegah Flu Burung, antara lain:

1)      Tak perlu panic dan kawatir berlebian dengan Flu Burung karena penyebabnya adalah virus lemah yang mudah mati dengan panas, sinar matahari, deterjen dan disinfektan

2)      Usahakan kebersihan kandang unggas dan semprotkan dengan desinfektan

3)      Mencuci tangan dengan air sabun setelah kontak dengan unggas maupun produknya

4)      Proteksi anak-anak dan lansia dari kontak langsung dengan unggas terutama yang terlihat sakit

5)      Amankan makanan dengan memasak daging dan telur unggas terlebih dahulu sebelum disantap

6)      Segera lapor kepada aparat berwenang jika ada unggas sakit atau mati mencurigaan

b)      Lembar Persiapan Latihan (LPL)

Pemberian latihan dalam kegiatan penyuluhan ini berupa vaksinasi dan pembuatan jamu. Yakni:

1              Vaksinasi, cara vaksinasi ini dapat dilakukan terhadap unggas, yakni; umur 4-7 hari 0,2 ml secara subkutan (penyuntikan pada pangkal leher); 4-7 minggu 0,5 m secara subkutan (penyuntikan pangkal leher); boster (pengulangan) tiap 3-4 bulan 0,5 ml secara intramuskuler.

2              Pembuatan jamu; Jenis tanaman obat yang dapat digunakan,yakni kunir, temulawak, sambiloto, jahe, cabe jawa, dan kencur. Beberapa obat ini bisa dikombinasikan untuk memperoleh hasil atau khasiat yang optimal. Adapun resep tradisional untuk pencegahan penyakit unggas, sebagai berikut:

1)   Bahan: jahe ½ kg, temulawak ¼ kg, kencur ¼ kg, tg, temu ireng ¼ kg, kuning telur itik 4 butir, madu 2 sendok the

2)   Cara membuat: semua bahan diparut, campur dengan telur dan madu, bentuk campuran tersebut menjadi bulatan-bulatan kecil lalu jemur hingga kering dan siap diberikan pada unggas

3)   Aturan pakai: untuk pencagahan; berikan 1 kali tiap minggu selama 1-2 kali pemberian, untuk pengobatan; berikan 2 kali tiap hari (pagi dan sore).

c)      Lembar Persiapan Kerja

Adapun lembar persiapan kerja dalam pelaksanaan penyuluan ini adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Lembar Persiapan Kerja

Kegiatan Penyuluh Sasaran Alat Tempat Waktu
Penyampaian materi secara kampanye Menyampaikan materi dengan elas Memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama Flanelgraph, benda, papan Balai Desa 09.00- 09.45
Demonstrasi cara Mempraktekkan cara-cara pencegahan dengan vaksinasi dan pembuatan jamu Melihat, mencontoh dan mengaplikasikan Flanengraph, benda Balai Desa 09.45- 10.15
Evaluasi Hasil Mengajukan pertanyaan, mengetahui sejauh mana efektivitas yang dicapai Menjawab pertanyaan, turut berpartisipasi Kertas dan alat tulis Balai Desa 10.15- 10.30

3.   Alat Tulis

Alat tulis dibutuhkan penyuluh baik untuk menulis maupun menggambar. Hal ini untuk mempermudah penyuluh dalam menerangkan materi penyuluhan kepada sasaran. Sehingga peserta akan lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Di samping itu, alat tulis dibutuhkan penyuluh pada saat evaluasi hasil.

4.   Kertas, kertas dibutuhkan penyuluh pada saat melakukan evaluasi.

I.    Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga yang diperlukan oleh penyuluh antara lain:

1.   Benda

Benda merupakan salah satu alat peraga yang paling mudah diperoleh atau dibuat. Penyuluh menggunakan sample atau contoh dari barang asli yang dapat dibawa penyuluh untuk menjelaskan terhadap materi kepada sasaran. Dalam penyuluhan ini penyuluh membutuhkan benda berupa suntikan, ayam palsu, untuk mempraktekkan contoh vaksinasi yang tepat.

2.   Flanelgraph

Alat peraga ini berbentuk potongan gambar atau tulisan yang ditempelkan pada papan magnit atau kain flannel. Potongan gambar tersebut dapat berupa gambar ayam, maupun contoh-contoh gejala nyata dari ayam yang terinfeksi Flu Burung yang berupa gambar. Alat peraga ini relative mudah dibawa dan relative lebih murah disbanding alat peraga lainnya.

J.   Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan

Metode dan teknik penyuluhan pengendalian dan pencegahan Flu Burung ini membutuhkan suatu evaluasi. Adapun evaluasi yang dibutuhkan ialah evaluasi hasil, yang mana hanya ditujukan untuk mengetahui hasil dari penyuluhan yang dilaksanakan. Evaluasi yang digunakan hanya evaluasi hasil karena lebih efisien untuk suatu penggunaan metode penyuluhan secara masal dan teknik kampanye.

Adapun uraian pertanyaannya adala sebagai berikut:

a.   Menurut anda apakah penyuluh sudah menyampaikan materi dengan baik?

b.   Apa yang anda ketahui tentang apa itu Flu burung, bahaya Flu burung, dan cara penyebarannya?

c.   Bagaimana cara pengendalian dan pencegahan Flu Burung yang sudah anda ketahui?.

d.   Bagaimana cara vaksinasi yang tepat dan akurat pada unggas

e.   Apaka anda dapat membuat jamu tradisional untuk mencega terjangkitnya Flu Burung pada unggas?

f.    Menurut anda seberapa auh pentingnya pengendalian dan pencegaan Flu Burung sejak dini?

Dengan evaluasi tersebut penyuluh dapat mengetahui keberhasilan terhadap kegiatan penyuluhan yang telah dilaksanakan. Selain itu dengan adanya evaluasi setiap penyuluh akan selalu mawas diri, dan selalu berusaha agar kegiatannya dapat dinilai baik, sehingga akan membiasakan dirinya untuk bekerja tekun dan penu tanggungjawab.

  1. V. PENUTUP

Pengendalian dan pencegahan wabah Flu Burung sejak dini merupakan langkah yang tepat dalam mempertahankan kesehatan unggas, bahkan kesehatan masyarakat itu sendiri. Gerakan “Tumpas Avian Inluenza” merupakan suatu solusi yang sangat mendukung pengendalian tersebut.

Kondisi yang baik dan belum tersentuh akan wabah Flu Burung di Kecamatan Polokarto harus tetap dipertahankan. Bila diliat dari kondisi lapang dimana hampir setiap penduduk beternak unggas, maka partisipasi dari masing-masing individu untuk peduli dan bertindak sejak dini atas ancaman Flu Burung sangatla penting.

Sebenarnya jika kita benar-benar peduli akan kebersihan dan membudidayakan hidup sehat setiap harinya, Flu Burung bukan suatu ancaman yang menakutkan atau suatu hal yang perlu dikawatirkan. Dengan demikian, kehidupan masyarakat di Kecamatan Polokarto akan tetap nyaman dan unggaspun akan bebas dari Flu Burung, sehingga unggas dapat berproduksi secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus dalam Buletin. 2004a. hasil pemeriksaan laboratorium terhadap penyakit ayam menular balai penelitian veteriner. Badan Litbang Pertanian. Bogor

dalam Buletin. 2004b. laporan rekapitulasi wabah AI dinas peternakan. Dirjen Bina Produksi Peternakan, Deptan. Jakarta

. 2007. penularan dan penyebaran Flu Burung pada manusia. http://www.google.com. Di akses tanggal 23 mei 2007.

Biro Hukum dan Humas Deptan. 2004. Buku Pedoman: Pencegahan dan Pengendalian Flu Burung. Public Awareness. Jakarta

Buletin. 2004. Teknologi Dan Informasi Pertanian. Vol.7 Tahun 2004. ISSN 1410-8976. Balai Pengkajian Teknologi Jawa Timur (BPTP). Jawa Timur

Departemen Kehutanan. 1994. Kebijaksanaan dan Strategi Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan. Jakarta

. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Penerbit Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan Republic Indonesia Bekerja Sama Dengan Fakultas Pertanian UNS. Surakarta

Departemen Kesehatan RI. 2005. Tentang Flu Burung. Yasaguna. Jakarta

Mardikanto, totok. 1992. pengantar penyuluhan Pertanian. Hapsara. Surakarta

. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Perss. Surakarta

Mardikanto dan Arip Wijianto. 2005. Modul Kuliah: Metode Dan Teknik Penyuluhan. UNS Perss. Surakarta

Naipospos, T.S.P. 2004. Pengenalan Penyakit Avian Influenza dan Langkah-Langkah Penanganannya. Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Jakarta

Soejoedono,S. 1990. peternakan Umum. Penerbit yasaguna. Jakarta

Suhardiyono, L. 1990. Penyuluhan: Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Penerbit Erlangga. Jakarta

Tabbu, Rangga Charles. 2000. Penyakit Ayam Dan Penanggulangannya. Kanisius. Jakarta

Wiraatmaja,S. 1977. Pokok-Pokok Penyuluan Pertanian. Penerbit Yasaguna. Jakarta

Yayasan Sinar Tani. 2001. Penyuluan Pertanian. Yayasan Sinar Tani. Jakarta

. 2007. Tumpas Flu Burung. Edisi 28 Maret-3 April 2007 No.3194. yayasan sinar tani. Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: