usaha perlebahan di Kabupaten Pati

I.

PENDAHULUAN

1
  1. A. Latar Belakang

Dari Bank Indonesia, 2004 bahwa pembangunan pertanian yang berbasis agribisnis dalam pembangunannya memerlukan keterpaduan unsur-unsur sub sistem mulai dari budidaya sampai pada pemasaran hasilnya. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian cukup strategis peranannya dalam Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Pertumbuhan ini juga ditopang oleh sumbangan dari sub sektor pertanian meliputi, sub-sektor perkebunan, sub sektor perikanan, sub-sektor perkebunan dan sub-sektor kehutanan. Dan selama sepuluh tahun terakhir, peranan sektor pertanian terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, rata-rata sebesar 4% per tahun

Pentingnya pembangunan sub sektor pertanian sebagai penopang bidang pertanian perlu diperhatikan, salah satunya sub sektor kehutanan yang mempunyai peran tersendiri dalam meningkatkan pendapatan negara. Tapi selama ini yang ada hasil dari perhutanan identik dengan kayu, padahal dari tanaman hutan ini juga dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai lahan dalam budidaya atau ternak lebah madu. Pertimbangan untuk beternak lebah madu ini selain menguntungkan, juga memberikan dampak positif dalam penyerapan tenaga kerja. Karena mekanisme dari usaha ternak madu mengharuskan melakukan kegitan pengembalaan diangon dari satu daerah ke daerah lain, untuk mencari madu dan tepung sari, pada musim bunga tertentu. Kegiatan ini sudah pasti memerlukan tenaga kerja (buruh). Dari segi kesehatan, madu dipercaya memberikan banyak menfaat untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan .

Menurut ketetapan Direktur Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) bahwa dewasa ini telah terjadi pergeseran kebijaksanaan pembangunan kehutanan. Dimana tidak hanya ditentukan upaya pemanfaatan hutan, namun lebih luas lagi termasuk pelestarian fungsi hutan. Pengelolaan sumber daya hutan selama ini berorientasi pada timber based managemen yang hanya menekankan pada pengelolan hasil kayu. Paradigma baru pengelolaan sumber daya hutan pada masa mendatang tidak semata-mata pendekatan produksi tetapi sudah dilakukan dengan pola manajemen sumber daya alam ‘resource based manajement’ dalam sinergitas antara aspek ekonomi, sosial dan ekologi melalui pendekatan pembangunan yang perpihak pada masyarakat ‘community based development’ yang memberikan berbagai manfaat tidak saja berfokus pada kayu namun akan dikembangkan hasil bukan kayu melalui usaha perhutanan rakyat antara lain usaha perlebahan

(Wibowo, 2004).

Sesuai arah kebijakan pembangunan bidang RLPS itu maka mulai tahun 2001 pelaksanaan kegiatan pembangunan RPLS dirumuskan kedalam tiga program pembangunan salah satunya antara lain melalui usaha rakyat skala kecil dan menengah berbasis hutan baik pada kawasan hutan maupun lahan milik dengan pendekatan prioritas yaitu, (1) mendorong berkembangnya pasar hutan non kayu (2) pengkayaan jenis tanaman dengan komoditas unggulan lokal (3) meningkatkan akses masyarakat terhadap faktor-faktor produksi (4) menerapkan teknologi tepat guna (Wibowo, 2004).

Indonesia dikenal memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan perlebahan yang berupa kekayaan sumber daya alam hayati seperti berbagai jenis lebah asli Indonesia dan beraneka ragam jenis tumbuhan sebagai sumber pakan lebah, kondisi agroklimat tropis, dan jumlah penduduk yang tinggi (Rismunandar, 1990).

Perlebahan sudah sejak lama dikenal oleh bangsa Indonesia, dimana masyarakat di Jawa dan Bali secara tradisional telah membudidayakan lebah lokal Apis cerana. Sedangkan masyarakat Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara lebih terbiasa memanfaatkan lebah hutan (Apis dorsata) sebagai serangga penghasil madu. Sedangkan pembudidayaan lebah jenis A. mellifera telah dimulai sejak tahun 1841. Usaha-usaha tersebut mengalami masa surut pada masa-masa perang kemerdekaan. Sedangkan, setelah kemerdekaan usaha peternakan lebah mulai digalakkan kembali oleh badan-badan swasta yang berminat di bidang peternakan lebah

(Anonim, 2001).

Departemen Kehutanan menyatakan bahwa hasil Sensus tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1999 adalah 202 juta orang dan pada tahun 2001 diperkirakan akan meningkat menjadi 210 juta orang. Pada saat ini konsumsi madu di Indonesia masih tergolong rendah diperkirakan 15 gram/orang/tahun. Dengan demikian pada tahun 2001 kebutuhan madu sebesar 3.150 ton. Selain itu, kebutuhan akan bahan baku madu untuk bahan dasar obat-obatan, kosmetik, diperkirakan juga terus meningkat

(Anonim, 2001).

Tingkat permintaan tersebut belum dapat diimbangi oleh peningkatan produksi madu dalam negeri. Produksi madu dalam periode lima tahun dari tahun 1996 hingga 2000 mengalami fluktuasi dengan produksi terendah 1.538 ton pada tahun 1999 dan produksi tertinggi sebesar 2.824 ton pada tahun 1998. Dalam kurun waktu itu Indonesia mengalami kekurangan madu dan untuk menutupi kekurangan ini dilakukan impor madu yang berasal dari beberapa negara seperti Vietnam, RRC dan Australia. Sebelum krisis ekonomi, impor madu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Disisi lain untuk setiap tahunnya terdapat defisit produksi madu dan hal ini menyebabkan terjadinya impor madu dari negara lain yang terus meningkat. Disamping itu produksi maupun ekspor madu dunia mengalami peningkatan pula, dengan melihat kondisi ini maka dapat dikatakan bahwa usaha perlebahan di millenium ketiga terlihat cerah dan prospektif baik dari sisi pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun ekspor (Anonim, 2001).

Menurut Ir. Indra Gunawan, Instruktur pelatihan ternak lebah di Apriari Pramuka dalam Caroto (2004) permintaan lebih di pasar domestik karena produksi madu yang dibawah permintaan, menurut data 2002 kebutuhan madu nasional mencapai 150 ribu ton/tahun. Sementara itu skala produksi hanya 40 ribu ton. Dari penangkaran di Cibubur, setiap bulan dihasilkan 200-300 kotak (berukuran 50cmx40cmx20cm) koloni lebah unggul siap dikirim keseluruh Indonesia. Jika setiap kotak koloni lebah Rp.100.000 dalam sebulan Apriari Pramuka dapat bias meneguk untung 20-30 juta. Hasil sampingan yang tergolong lumayan. Bahkan jika dibanding pendapatan dari memanen madu, setiap tahun Apriari Pramuka memetik sekitar 192 juta.

Boleh dikatakan bahwa Indonesia yang merupakan daerah tropis yang ditumbuhi berbagi spesies tanaman yang berbunga sepanjang tahun. Sekitar 25.000 tanaman berbunga tumbuh dan berkembang biak di Indonesia. Keragaman jenis tanaman yang sangat besar itu memungkinkan tersedianya nektar sepanjang tahun yang merupakan bahan pembuat madu. Selain itu dapat dikatakan bahwa hampir seluruh wilayah hutan di Indonesia terdapat lebah hutan apis dorsata dan lebah lokal melifera cerena yang produktif menghasilkan madu, demikian juga dengan lebah impor apis mellifera linneus juga dapat beradaptasi dengan baik di alam Indonesia. Sehingga dari kombinasi antara ketersediaan spesies lebah yang produktif, ketersediaan pakan yang melimpah, produk perlebahan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia dan nilai jual produk lebah yang tinggi, maka sepatutnya budidaya / ternak madu dikembangkan di negara agraris ini (Rusfidra, 2006).

Dengan kondisi ini seharusnya Indonesia dapat mengoptimalkan produksi madunya. Kerena untuk ternak madu ini tidak terlalu sulit dalam artian tidak memerlukan keahlian khusus, mudah dipelajari, walaupun masyarakat tersebut pendidikannya terbatas. Yang terpenting dari usaha ini adalah tanaman yang sedang berbunga, dan hampir semua daerah di seluruh propinsi Indonesia mempunyai potensi (cocok) untuk pengembangan budidaya ternak lebah madu (www .bi.go.id/sipuk)

  1. B. Perumusan masalah

Perlebahan merupakan kegiatan agribisnis akrab lingkungan yang dikenal sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Manfaat yang dapat diperoleh dari pengembangan usaha perlebahan antara lain meningkatnya pendapatan dan mutu gizi masyarakat dari hasil-hasil usaha perlebahan yang berupa madu, tepungsari, royal jelly, koloni lebah dan ratu lebah. Dalam hal pelestarian sumber daya alam, lebah madu berperan penting dalam membantu proses penyerbukan tanaman. Disamping adanya manfaat tersebut diatas, usaha perlebahan juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam partisipasi terhadap upaya pelestarian alam.

Di Indonesia sentra perlebahan masih ada di sekitar Jawa meliputi daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dengan jumlah produksi sekitar 2000–2500 Ton untuk lebah budidaya. Kalimantan dan Sumbawa merupakan sentra untuk madu dari perburuan lebah di hutan ( Bappenas Bantul, 2002 ).

Di Jawa terutama Jawa Tengah merupakan salah satu sentra budidaya lebah. Dan salah satu kabupaten yang terdapat peternak lebah cukup besar di Jawa Tengah adalah kabupaten Pati. Salah satu yang menjadi alasan banyaknya peternak lebah yaitu adanya alam yang mendukung (terdapat daerah pegunungan) selain itu juga terdapat banyak hutan dan kebun yang ditanami pohon/tanaman tahunan yang cocok/disukai sebagai pakan lebah yang mengandung nektar dan polen yang bagus seperti pohon kapuk randu, kelapa, rambutan, duren dan sebagianya. Para peternak lebah disana telah membentuk suatu komunitas/lembaga meskipun secara manajemen organisasi masih sangat sederhana, secara umum para peternak lebah dalam budidaya dan teknologi masih tradisional, permodalan terbatas, selain itu mereka juga masih kesulitan untuk memasarkan produksi karena tidak sesuainya dengan permintaan pasar.

Menurut Departemen Kehutanan bahwa perlebahan dewasa ini merupakan komponen dalam pembangunan sektor pertanian dan kehutanan berlanjut. Peran lebah madu dalam penyerbukan tanaman memberikan keuntungan ekologis, khususnya bagi kelestarian flora. Sementara produk yang dihasilkan memberikan keuntungan ekonomis bagi peternaknya.

Dengan adanya uraian diatas tentang pertumbuhan produksi perlebahan dan prospek perlebahan kedepan dengan tidak mengabaikan kendala-kendala yang ada. Maka apakah usaha perlebahan yang dilakukan saat ini dapat memberikan keuntungan atau tidak, serta apakah usaha yang dilakukan mencapai tingkat efisiensi.

Bertitik tolak dari uraian diatas permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Berapa besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan dari usaha perlebahan di Kabupaten Pati?
  2. Berapa besarnya efisiensi dari usaha perlebahan di Kabupaten Pati?
  3. Berapa besarnya resiko dari usaha perlebahan di Kabupaten Pati?

  1. C. Tujuan penelitian

Dalam penelitian yang dilakukan kali ini memiliki tujuan :

  1. Mengkaji  besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan dari usaha perleba-han di Kabupaten Pati?
  2. Mengkaji  besarnya efisiensi dari usaha perlebahan di Kabupaten Pati?
  3. Mengkaji  besarnya resiko dari usaha perlebahan di Kabupaten Pati?
  1. D. Kegunaan Penelitian
    1. Bagi peneliti, sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjan di Fakultas Pertanian universitas Sebelas Maret Surakarta.
    2. Bagi pemerintah, khususnya pemerintah daerah kabupaten Pati, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan bahan pertimbang-an dalam menyusun kebijaksanaan menyangkut usaha perlebahan di masa yang akan datang.
    3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan pembanding bagi pemecahan masalah yang sama.

II.

LANDASAN TEORI

  1. A. Penelitian Terdahulu

Penelitian Rina Andriyani, 2004 mengenai analisis usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten. Dengan metode deskriptif analitik dan pelaksanaan menggunakan metode sensus, diketahui bahwa jumlah rata-rata ayam yang dipelihara 1.513 ekor dengan rata-rata biaya total pada usaha peternakan adalah Rp.80.901.925,9. pnerimaannya sebesar Rp.94.296.389,2 sedangkan pendapatannya sebesar Rp.13.394,9. nilai R/C rasio 1,2 artinya usaha peternakan ayam sudah dilakukan secara efisien.

Dari Muhammad Zaenuri, 2004 tentang analisis usaha pengolahan ikan asin di kota Pekalongan. Hasil penelitian menunjukkan besarnya biaya rata-rata Rp.73.346.795,05 dengan penerimaan Rp.91.772.440 dan keuntungan Rp.20.467.564,95. tingkat efisiensi pengolahan atau R/C rasio 1,27 sehingga bisa dikatakan usaha pengolahan ikan asin di kota Pekalongan sudah efisien. Nilai koefisien varian yang didapatkan sebesar 0,71 yang berarti lebih besar dari standar nilai koefisien varian 0,5 dan batas bawah keuntungan yang didapatkan sebesar minus Rp.8.509.185,20. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan ikan asin beresiko untuk dijalankan dengan kemungkinan kerugian yang ditanggung oleh produsen sebesar Rp.8.509.185,20.  Dengan tingginya resiko yang dihadapi oleh pengusaha ikan asin maka pengalokasian faktor produksi harus lebih diperhitungkan.

  1. B. Tinjauan Pustaka
    1. Lebah
7

Sebagai serangga sosial lebah dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu yang hidup soliter dan yang hidup secara berkoloni. Yang hidup secara soliter lebih banyak jenisnya. Lebah berkoloni adalah lebah yang hidup bersama dalam suatu kelompok besar dan membentuk suatu masyarakat. Setiap anggotanya tak bisa dipisahkan dari anggota lainnya.

Adapun klasifikasi lebah sosial sebagai berikut :

Phylum : Arthopoda (binatang beruas)

Subphylum : Mandibulata

Class : Insecta (serangga)

Subclass : Pterygota

Ordo : Hymenoptera

Sub ordo : Clistrogastra

Superfamily : Apoidea

Family : 1. Bombidae ( lebah biasa )

2.  Meliponidae ( lebah madu tanpa sengat)

3.  Apidae (lebah madu)

( Sarwono, 2005 ).

Menurut asal-usulnya lebah dibagi 4 jenis berdasar penyebarannya:

  1. Apis cerana, diduga berasal dari daratan Asia menyebar sampai Afghanistan, Cina maupun Jepang.
  2. Apis mellifera, banyak dijumpai di daratan Eropa, misalnya Prancis, Yunani dan Italia serta di daerah sekitar Mediterania.
  3. Apis Dorsata, memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis Asia seperti Indonesia, Philipina dan sekitarnya. Penyebarannya di Indonesia merata mulai dari Sumatera sampai Irian.
  4. Apis Florea merupakan spesies terkecil tersebar mulai dari Timur Tengah, India sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan tawon klanceng.

( warintek Bantul.go.id ).

Indonesia dikenal memiliki jenis lebah asli paling banyak didunia. Jenis asli tersebut yaitu :

  1. Lebah hutan (Apis dorsata)

Jenis lebah ini merupakan jenis lebah yang belum dapat dibudidayakan, umumnya hidup secara alami di hutan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kepulauan Nusa Tenggara. Sampai saat ini lebah hutan merupakan jenis lebah yang penting bagi perlebahan Indonesia karena kontribusinya berupa produksi madu yang cukup tinggi, disamping itu kegiatan pemungutan madu lebah hutan merupakan salah satu peluang kegiatan bagi masyarakat di sekitar hutan.

  1. Lebah Lokal (Apis cerana)

A. cerana merupakan species lebah lokal yang umum dibudidayakan oleh masyarakat di pedesaan sebagai kegiatan sampingan. Meskipun produktifitasnya tergolong rendah, namun lebah ini sangat cocok dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan dan gizi masyarakat karena mudah diperoleh dan harganya relatif rendah.

  1. Lebah Kerdil (Apis florea)

Keberadaan lebah ini menjadi perdebatan ilmiah, karena hanya ditemukan spesimennya di musium. Sedangkan di lapangan, saat ini tidak pernah dilaporkan keberadaannya.

  1. Lebah Kerdil/Kecil (Apis andreniformis )

Jenis lebah ini mirip dengan  A. florea, dengan membuat sarang tunggal pada semak-semak. Produktivitas lebah ini tergolong rendah dan kurang begitu ekonomis dilihat dari produksi madunya. Penyebaran lebah ini dilaporkan terdapat di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara.

  1. Lebah Merah (Apis koschevnikovi)

Jenis lebah ini sedikit lebih besar dari A. cerana dengan warna bulu yang kemerahan, hingga kini belum diusahakan secara komersial dan penyebarannya terdapat di Kalimantan dan Sumatera.

  1. Lebah Gunung (Apis nuluensis)

Jenis lebah ini juga masih menjadi perdebatan keberadaannya di Indonesia. Sejauh ini sudah dilaporkan keberadaanya di dataran tinggi Serawak, namun diduga terdapoat pula di Kalimantan. Ukuran lebah ini hampir sama dengan A. cerana.

  1. Lebah Lokal Sulawesi (Apis nigrocincta)

Jenis lebah ini mirip dengan A. cerana dan hanya terdapat di Sula-wesi, hanya warna tubuhnya lebih kuning.

  1. Lebah Tanpa Sengat (Trigona spp)

Lebah ini merupakan lebah asli Asia dari genus trigona yang memi-liki karakteristik spesifik yaitu madu yang dihasilkan mempunyai rasa asam namun tahan terhadap fermentasi dan bersifat jarang sekali hijrah serta harga produk madunya lebih tinggi dibandingkan dengan madu produk lebah genus Apis.

( Rismunandar, 2003 ).

  1. Manfaat Lebah Madu

Menurut warintek bantul bahwa produk yang dihasilkan madu adalah:

a)      Madu sebagai produk utama berasal dari nektar bunga merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika dan farmasi.

b)      Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai bahan campuran kosmetika, bahan campuran obat-obatan.

c)      Pollen (tepung sari) dimanfaatkan untuk campuran bahan obat-obatan/ kepentingan farmasi

d)      Lilin lebah (malam) dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetika sebagai pelengkap bahan campuran.

e)      Propolis (perekat lebah) untuk penyembuhan luka, penyakit kulit dan membunuh virus influensa.

Keuntungan lain dari beternak lebah madu adalah membantu dalam proses penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksimal.

Nilai gizi madu mempunyai bagian kimiawi sebagai berikut :

  1. Air 20%
  2. Kadar gula anggaur 35%
  3. Jadar gula buah-buahan 40%
  4. Kadar gula tebu 2%
  5. Zat-zat moneral 0,5%
  6. Putih telur dan enzim-enzim 1%

( Rismunandar, 2003 ).

Sedangkan untuk setiap zat gizi yang dikandung madu bila diadakan perbandingkan, setiap satu kilogram madu sama dengan :

50 butir telur

5,6 liter susu

25 buah pisang

40 buah jeruk

1,68 Kg daging

(Suyanto,1981).

3.  Ternak Lebah

Pemeliharaan lebah yang bertujuan untuk mengambil madunya disebut peternakan lebah. Orang beternak lebah disebut peternak lebah. Selain madu, peternak juga dapat memperoleh hasil lain dari lebah yang diternak berupa lilin lebah, tepung sari dan royal jelly.

Pada dasarnya bentuk peternakan lebah madu ada dua macam yaitu peternakan secara tradisional/sederhana dan peternakan moderen. Sifat dari jenis peternakan ini satu sama lain berbeda, baik pengelolaannya maupun produksi yang dapat dicapai.

  1. Peternakan secara tradisional

Pada umumnya, masyarakat desa sekitar hutan memelihara lebah madu lokal dengan menggunakan glodok. Glodok dibuat dengan meniru rumah-rumah lebah yang terdapat di rongga-rongga batang pohon besar atau goa yang terlindunga dari terik matahari dan hujan. Glodog ini dibuat dari batang kelapa, kayu randu maupun jenis pohon berkayu lunak. Batang yang digunakan berbentuk silender berukran panjang 80-100 cm yang dibelah dua. Bagian tengah di ambil isinya sehingga terbentuk rongga bila di tangkupkan. Ujungnya ditutup tempurung kelapa atau papan yang dilubangi tengahnya.

Glodog digantung dipepohon sekitar rumah ataupun di dahan pohon yang besar dimana banyak lebah berkeliaran. Setelah ditempati koloni lebah, gelodok bisa dipindah kesamping rumah dengan digantung memakai tali. Pemindahan pada sore atau malam hari karena saat itu lebah terkumpul dan tidak ada lagi yang tercecer.

Madu yang dari glodog sulit dipanen karena sisiran tak dapat dipisahkan dari dinding kayu glodog. Untuk mengambil madu sarang lebah terpaksa harus dirusak. Masalahnya madu itu bercampur dengan telur dan larva dan memisahkan ketiganya sulit. Hasil madu yang langsung diperas dari sarang dan larva lebah dikonsumsi untuk lauk pauk ( Sarwono, 2005 ).

  1. Peternakan secara moderen

Dalam peternakan lebah secara moderen menggunakan glodog yang dikenal dengan nama stup dibuat sedemikian rupa agar memudahkan pemeliharan, pengawasan, maupun pemungutan hasilnya. Stup dibuat dari bukan dari potongan kayu yang besar, tapi berbentuk kotakan persegi panjang yang berisi bingkai bingkai sisiran sebagai tempat bersarang. Sedemikian sempurnanya hasil rekayasa sarang lebah ini sampai-sampai ratu lebah tidak dapat meninggalkan stup sarangnya. Didalam stup jarang terjadi peristiwa lebah melarikan diri dari sarang secara koloni ( Sarwono, 2005 ).

Sistem stup diciptakan adanya pemisahan antara sarang telur dan sarang madu dan lain-lain. Pada dasarnya kotak stup ini dibuat tersusun dari bawah keatas bertingkat-tingkat. Bila dilihat kotak ini terdiri dari tiga tingkat .

–     kotak terdapat dibawah sekali disebut kotak dasar sebagai alas kotak-kotak selanjutnya

–     bagian tengah dimanfaatkan sebagai tempat peneluran, dimana ratu lebah meletakkan telur-telur pada sarang peneluran, sarang ini lazimnya disebut ‘tala

–     kotak yang paling atas dimanfaatkan untuk pembuatan sarang madu.

Keuntungan dari adanya penggunaan stup ini antara lain :

–       stup dibuat sedemikian rupa sehingga lebah tetap betah dan tidak meninggalkan sarangnya

–       mudah dilakukan pemeriksaan, perawatan, pengawasan, maupun pengelolaannya

–       dapat dipilih/dipelihara jenis lebah unggul

–       gangguan hama dan penyakit relatif kecil

–       meskipun pengelolaan madu dilakukan, tidak mengganggu larva sehingga penambahan lebah dewasa maupun calon ratu dapat dihasilkan.

–       Dengan tambahan calon ratu dan lebah pekerja berarti penambahan ternak distup dapat dilakukan

–       Stup dapat dipindah ketempat lain yang ada bahan makanan lebah sehingga kebutuhannya akan terpenuhi

Dengan demikian, dapat diharapkan hasil peternakan lebah ini mencapai terget yang diinginkan, sebab bukan semata-mata pengembangan hanya dari kemampuan lebah itu sendiri

(Suyanto, 1981).

  1. Teori Biaya, Penerimaan dan Keuntungan

Biaya produksi akan selalu muncul dalam kegiatan ekonomi dimana usahanya selalu berkaitan dengan produksi. Kemunculannya itu sangat berkaitan dengan diperlukannya input (faktor produksi) ataupun korbanan-korbanan lainnya yang digunakan dalam kegiatan produksi tersebut. Pada hakikatnya biaya (cost) adalah sejumlah uang tertentu yang telah diputuskan guna pembelian atau pembayaran input yang diperlukan, sehingga tersedianya sejumlah uang (biaya) itu telah benar-benar diperhitungkan sedemikian rupa agar produksi dapat berlangsung.

Pengertian biaya bagi perusahaan yang kegiatannya memproduksi barang adalah nilai dari masukan yang digunakan untuk penghasilan keluarganya. Biaya atas penggunaan suatu barang dalam suatu usaha tertentu merupakan manfaat yang dikorbankan (atau kehilangan kesempatan) dengan tidak menggunakan barang itu pada alternatif penggunaan yang sebaiknya (Lipsey et al, 1990).

Pengertian biaya dalam usaha tani adalah semua pengorbanan atau nilai input yang dipergunkan dalam proses produksi, yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomis. Biaya produksi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap yaitu sejumlah biaya untuk membiayai modal tetap. Biaya tetap ini merupaka biaya yang dikeluarkan  oleh produsen yang besarnya tetap, dan tidak ada kaitannya dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Sebagai contoh, pajak bumi dan bangunan, gaji manajer pabrik dan premi asuransi lazimnya tidak berubah seiring fluktuasi keluaran pabrik. Biaya tidak tetap adalah biaya yang jumlahnya berhubungan langsung dengan besarnya produksi, misalnya biaya pengolahan lahan. Biaya produksi dapat diperinci dalam empat hal, yaitu biaya tenaga kerja, biaya sarana produksi, biaya modal tetap dan biaya lainnya. Penjumlahan antara total biaya tetap dan biaya tidak tetap dalam satu proses produksi menghasilkan total biaya /Total Cost (Simamora, 1999).

Penerimaan total (Total Revenue) merupakan keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan, yaitu merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel.

Semakin banyak jumlah produk yang dihasilkan maupun semakin tinggi harga per unit produk, maka penerimaan total yang diterima produsen akan semakin besar. Sebaliknya jika produk yang dihasilkan sedikit dan harganya rendah maka penerimaan total yang diterima oleh produsen semakin kecil.

Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau seorang petani akan selalu berpikir bagaimana ia mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh produksi yang maksimal. Cara pemikiran tersebut adalah karena petani melakukan konsep bagaimana memaksimalkan keuntungan atau profit maximization. Di lain pihak, manakala petani dihadapkan dalam keterbatasan biaya dalam melaksanakan usahanya, maka mereka juga tetap mencoba untuk meningkatkan keuntungan tersebut dengan kendala biaya usahatani yang terbatas. Suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan menekan biaya produksi sekecil-kecilnya. Pendekatan seperti ini dikenal dengan istilah meminimumkan biaya atau cost minimization (Soekartawi, 1994).

Penerimaan total yang diterima oleh produsen dikurangi dengan biaya total yang dikeluarkan untuk membiayai proses produksi maka akan diperoleh pendapatan bersih yang merupakan keuntungan yang diperoleh produsen.

Keuntungan adalah total penerimaan (TR) dikurangi total biaya (TC).  Jadi keuntungan ditentukan oleh dua hal yaitu penerimaan dan biaya. Jika perubahan  penerimaan lebih besar daripada  perubahan biaya dari  setiap  output,  maka  keuntungan yang diterima akan meningkat. Dan jika perubahan penerimaan lebih kecil daripada perubahan biaya, maka keuntungan yang diterima akan menurun. Dengan  demikian  keuntungan  akan  maksimal jika perubahan sama dengan perubahan biaya

(Lipsey et al, 1990).

5.   Efisiensi Usaha

R-C rasio menunjukkan pendapatan kotor (penerimaan) yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi, sekaligus menunjang kondisi suatu usaha. Ukuran kondisi tersebut sangat penting karena dapat dijadikan penilaian terhadap keputusan perusahaan dan kemungkinan pengembangan usaha tersebut. Tujuan dari suatu usaha yang utama adalah memperoleh pendapatan yang besar, disamping yang lebih penting lagi adalah untuk mencapai suatu tingkat efisiensi yang tinggi.

Pendapatan yang tinggi tidak selalu menunjukkan efisiensi yang tinggi, karena kemungkinan pendapatan yang besar tersebut diperoleh dari investasi yang besar. Efisiensi mempunyai tujuan memperkecil biaya produksi per satuan produk yang dimaksud memperoleh keuntungan yang optimal. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah memperkecil biaya keseluruhan dengan mempertahankan tingkat produksi yang telah dicapai atau memperbesar produksi tanpa meningkatkan biaya keseluruhan. Salah satu pengukur efisiensi adalah R-C rasio

( Rahardi, 1999).

6.   Risiko Usaha

Risiko dalam produksi pertanian menurut Soekartawi  et al (1993), diakibatkan oleh adanya ketergantungan aktivitas pertanian pada alam, dimana pengaruh buruk alam telah banyak mempengaruhi total hasil panen pertanian. Adanya situasi ketidakpastian tersebut, dimaksudkan pada adanya risiko berproduksi dalam usahatani pertanian yang dihadapi oleh masing-masing petani, hal ini nampak dari adanya variasi dalam perolehan produksi maupun penerimaannya.

Risiko dan ketidakpastian menjabarkan suatu keadaan yang menungkinkan adanya berbagai macam hasil usaha atau berbagai macam akibat dari usaha-usaha tertentu. Perbedaan dari kedua hal itu ialah bahwa risiko menjabarkan keadaan yang diketahui, sedangkan ketidakpastian menunjukkan keadaan yang hasil dan akibatnya tidak bisa diketahui (Kadarsan, 1992).

Dikatakan risiko (risk) apabila diketahui berapa besarnya peluang terjadinya resiko tersebut. Sebaliknya dikatakan ketidakpastian (uncertainty) bila peluang terjadinya risiko tersebut tidak diketahui (Soekartawi et al, 1993).

  1. C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

Analisa biaya sangatalah penting dilakukan aleh seorang pengusaha dalam keitanya dengan pengambilan keputusan. Dalam proses produksi, biaya dapat dibagi menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya vaiabel. Biaya tetap terdiri dari penyusutan peralatan yang dihitung dari metode garis lurus dan biaya modal investasi. Seangkan biaya variabel dalam suatu proses produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenagakerja, dan biaya transportasi. Total biaya dikeluarkan oleh pengusaha merupkan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel dirumuskan sebagai berikut :

TC = TFC + TVC

Dimana :

TC    = Biaya total (rupiah)

TVC = Biaya variabel total (rupiah)

TFC = Biaya tetap total (rupiah)

Dalam suatu proses produksi akan diperoleh penerimaan yaitu perkalian antara proeksi yang diperoleh dengan harga jual produk yang dirumuskan sebagai berikut :

TR = P X Q

Dimana :

TR = Penerimaan total usaha (rupiah)

P    = Harga produk (rupiah)

Q   =  Jumlah produksi (kg)

Setiap pengusaha pasti ingi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan adalah selisih antara total penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan. Untuk menghitung keuntungan usaha dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

π = TR – TC

π = (P x Q) – (TVC +TFC)

Dimana :

π    = Keuntungan usaha lebah madu (rupiah)

TR = Penerimaan total usaha lebah madu (rupiah)

TC = Biaya total usaha lebah madu (rupiah)

Keuntungan merupakan salah satu tujuan utama yang ingin dicapai setiap perusahaan. Akan tetapi dalam usaha untuk mencapai keuntungan tersebut para pengusaha dihadapkan pada resiko yang timbul dari kegiatan usaha yang dijalankan. Untuk menghitung besarnya resiko adalah dengan menggunakan perhitungan koefisien variasi dan batas bawah keuntungan.

Koefisien varian merupakan perbandingan antara resiko oleh pengusaha dengan jumlah keuntungan yang akan diperoleh, secara metematis dapat dirumuskan sebagai berikut

CV =

dimana :

CV = Koefisien variasi

V    = Simpangan baku

E    = Keuntungan rata-rata (rupiah)

Sebelumnya dicari keuntungan rata-rata dan simpangan baku sebagai barikut :

E =

V =

dimana :

E  = Keuntungan rata-rata (rupiah)

Ei = Keuntungan (rupiah)

n  = Jumlah responden (orang)

V = Simpangan baku

Sedangkan nilai batas bawah keuntungan menunjukkan nilai nominal terendah yang dapat diterima oleh produsen dihitung dengan rumus :

L = E – 2V

L = E – 2

keterangan :

L = Batas bawah keuntungan

E = Keuntungan rata-rata

V = Simpangan Baku

Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa resiko yang harus ditanggung semakin besar. Nilai CV  0,5 atau L  0 menyatakan bahwa

produsen akan selalu terhindar dari kerugian. Nilai CV > 0,5 atau L < 0 berarti ada peluang akan menderita kerugian.

Selain keuntungan, pengusaha juga harus memperhatikan efisiensi usaha. Efisiensi usaha dapat dihitung dengan menggunkan analisis R/C rasio yaitu dengan membandingkan antara besarnya penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan. Secara sistematis dirumuskan sebagai berikut :

dimana :

R/C = Efisiensi usaha

R    =  Penerimaan (rupiah)

C    =  Biaya usaha (rupiah)

Kriteria yang digunakan dalam penilaian R/C adalah sebagai berikut :

R/C > 1  berarti usaha efisien

R/C = 1 berarti usaha Break Event Point (BEP) atau impas

R/C < 1  berarti usaha tidak efisien

  1. D. Hipotesis
    1. Diduga usaha ternak lebah madu yang diusahakan menguntungkan
    2. Diduga usaha ternak lebah madu yang diusahakan efisien
    3. Diduga usaha ternak lebah madu yang diusahakan beresiko kecil
  1. E. Devinisi Operasional variabel
    1. Perlebahan adalah suatu rangkaian usaha budidaya ternak lebah madu dan hasil-hasilnya untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dengan mempertimbangkan aspek lingkungan.
    2. Ternak lebah madu adalah Pemeliharaan lebah yang bertujuan untuk mengambil madunya maupun hasil lain dari lebah yang diternak berupa lilin lebah, tepung sari dan royal jelly.
    3. Analisis usaha Perlebahan adalah pengkajian terhadap biaya, penerimaaan, keuntungan, efisiensi usaha, dan risiko usaha.
    4. Biaya total usaha perlebahan adalah semua biaya yang digunakan dalam proses produksi dan pemasaran yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel yang dinyatakan dalam satuan rupiah.
    5. Biaya tetap usaha adalah biaya-biaya yang dalam batas-batas tertentu tidak berubah ketika tingkat kegiatan berubah, yang dinyatakan dalam rupiah. Biaya tetap dalam penelitian ini meliputi biaya penyusutan alat produksi , biaya modal investasi dan biaya sewa tempat.

Biaya penyusutan alat-alat produksi dihitung dengan metode garis lurus dalam satuan rupiah.

Penyusutan (Metode Garis Lurus) =

Nilai awal         = harga beli alat produksi awal tahun usaha

Nilai akhir        = harga jual alat produksi akhir tahun

Umur ekonomi = lamanya alat produksi digunakan

6.    Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan pembentukan kualitas produk yang dihasilkan. Yang termasuk dalam biaya variabel antara lain berupa biaya bahan pakan (gula pasir dan gula jawa),  biaya tenaga kerja, dan biaya pemasaran (transportasi).

7.    Penerimaan usaha diperoleh dengan cara mengalikan produksi total dengan harga per satuan produk yang dinyatakan dalam satuan rupiah.

8.    Keuntungan usaha adalah selisih antara penerimaan total dengan biaya total, dinyatakan dengan satuan rupiah.

9.    Efisiensi usaha adalah perbandingan antara jumlah penerimaan yang diperoleh dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.

10. Risiko usaha adalah kemungkinan terjadinya kondisi merugi yang dihadapi oleh produsen.

  1. F. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Usaha perlebahan yang dimaksud disini adalah lebah jenis lebah madu (Apis Mellifera)
  2. Analisis usaha yang dimaksud dalam penelitian ini didasari pada biaya, penerimaan, keuntungan, dan risiko usaha lebah madu Kabupaten Pati.
  3. Harga produksi, sarana produksi dan upah diperhitungkan sesuai dengan tingkat harga yang berlaku pada saat penelitian di daerah penelitian.
  4. Penelitian ini menggunakan data dalam satu kali produksi yaitu pada tahun 2006
  1. G. Asumsi

Asumsi-asumsi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Faktor-faktor produksi berupa tenaga kerja keluarga dalam kegiatan diasumsikan menerima upah yang besarnya sama dengan upah tenaga kerja luar.
  2. Produk dari lebah madu terjual seluruhnya.
    1. Jumlah, harga dan macam input yang digunakan setiap berproduksi dianggap tetap.
    2. Variabel –variabel yang tidak diamati dianggap tidak berpengaruh.

III.

22

METODOLOGI

  1. A. Metode Dasar Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  yaitu penelitian yang didasarkan pada pemecahan masalah-masalah aktual yang ada pada masa sekarang. Dengan cara menyusun data yang telah dikumpulkan, dijelaskan dan kemudian dianalisis (Surakhmad, 1994).

Sedangkan teknik penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik survey, yaitu cara pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam jangka waktu yang bersamaan dengan menggunakan beberapa daftar pertanyaan terstrutur yang berbentuk kuisioner (Surakhmad, 1994).

  1. B. Metode Penentuan Responden

1.   Metode Pengambilan Daerah Penelitian

Pengambilan daerah penelitian dilakukan dengan metode purposive (sengaja) yaitu  penentuan daerah penelitian yang diambil secara sengaja berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Arikunto, 2003).

Daerah terpilih dalam penelitian ini adalah Kabupaten Pati karena di kabupaten ini banyak terdapat peternak lebah. Bardasarkan data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Pati terdapat enam kecamatan yang melakukan usaha peternakan lebah madu.

Tabel 1 Data Peternak Lebah Madu di Kabupaten pati

No Kecamatan Kapasitas Produksi (Kg)
1. Tayu 33.400
2. Gembong 178.200
3. Telogowungu 41.900
4. Margoyoso 2.415
5. Cluwak 93.500
6. Gunung wungkal 103.236
7 Gabus 1.700
Total 454.351

Sumber : Dishutbun Kabupaten Pati 2006

Dari tingkat Kecamatan Pati, selanjutnya dipilih satu kecamatan yaitu  Kecamatan Gembong dengan pertimbangan daerah tersebut sebagai daerah produksi hasil lebah madu terbanyak dan telah terbentuk kelembagaan atau kelompok organisasi peternak madu dibanding  kecamatan lain.

2.   Metode Pengambilan Sampel

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995) data yang dianalisis harus menggunakan sampel yang cukup besar jumlah sampel yang akan dianalisis harus mengikuti distribusi normal, dimana sampel tergolong berdistribusi normal adalah sampel yang jumlahnya lebih besar atau sama dengan 30.

Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus yakni dengan mencatat semua semua elemen responden yang diteliti.

Tabel 2 Jumlah Responden Peternak Madu

Kecamatan Desa Nama kelompok Kapasitas (Kg)
Gembong Gembong

Wonosekar

Kurnia Madu 1.5000
Paguyuban Sari Wana 175.900
Ketanggan Tani Makmur 800

Sumber : Dishutbun Kabupaten Pati 2006

D. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data

1.   Jenis Data

a.    Data Primer

Data primer dalam penelitian ini yaitu yang diperoleh langsung dari produsen maupun pihak yang terkait melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) yang sudah dipersiapkan. Diantaranya berisi tentang karakteristik produsen, tenaga kerja, biaya, produksi dan harga.

b.   Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dengan cara mengutip data laporan maupun dokumen dari instansi pemerintah atau lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Instansi tersbut adalah Kantor Kecamatan, Kantor Statistik, Departemen kerhutanan dan perkebunan. Data tersebut adalah keadaan umum daerah penelitian, jumlah penduduk dan keadaan perekonomian.

2.   Teknik Pengambilan Data

Untuk mendapatkan data primer yang digunakan adalah teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan pencatatan. Sedangkan untuk mendapatkan data sekunder yang digunakan adalah teknik pengumpulan data dengan cara pencatatan.

D. Metode Analisis Data

1.  Analisis biaya

Untuk mengetahui biaya maka menggunakan rumus sebagai berikut :

TC = TFC + TVC

Dimana :

TC    = Biaya total usaha lebah madu (rupiah)

TVC = Biaya variabel total usaha lebah madu (rupiah)

TFC = Biaya tetap total usaha lebah madu (rupiah)

2.   Penerimaan

Untuk mengetahui besarnya penerimaan yang diterima diperhitungkan dengan mengalikan produksi fisik dengan harga produk atau dapat ditulis :

TR =

dimana :

TR = Penerimaan total usaha lebah madu (rupiah)

Pi   = Harga produk usaha lebah madu (rupiah)

Qi  =  Jumlah produksi madu (kg)

n    =  Jumlah responden

3.   Analisis keuntungan usaha

Keuntungan adalah selisih antara penerimaan total dengan biaya-biaya. Hubungan tersebut dapat ditulis sbb :

π = TR – TC

π = (P x Q) – (VC + FC)

dimana :

π    = Keuntungan usaha lebah madu (rupiah)

TR = Penerimaan total usaha lebah madu (rupiah)

TC = Biaya total usaha lebah madu (rupiah)

P    = Harga produk madu (rupiah)

Q   =  Jumlah produksi madu (kg)

VC = Biaya variabel usaha lebah madu (rupiah)

FC = Biaya tetap usaha lebah madu (rupiah)

  1. Efisiensi usaha

Untuk menghitung efisiensi usaha digunakan rumus :

dimana :

R/C = Efisiensi usaha

R    =  Penerimaan usaha lebah madu (rupiah)

C    =  Biaya usaha lebah madu (rupiah)

Kriteria yang digunakan dalam penilaian R/C adalah sebagai berikut :

R/C > 1  berarti usaha lebah madu efisien

R/C = 1 berarti usaha lebah madu mengalami Break Event Point (BEP) atau impas

R/C < 1  berarti usaha lebah madu tidak efisien

  1. Risiko Usaha

Untuk menghitung risiko usaha digunakan rumus :

CV =

dimana :

CV = Koefisien variasi usaha lebah madu

V    = Simpangan baku usaha lebah madu

E    = Keuntungan rata-rata usaha lebah madu (rupiah)

Sebelumnya dicari keuntungan rata-rata dan simpangan baku sebagai barikut :

E =

V =

dimana :

E  = Keuntungan rata-rata usaha lebah madu (rupiah)

Ei = Keuntungan yang diterima peternak (rupiah)

n  = Jumlah responden (orang)

V = Simpangan baku usaha lebah madu

Sedangkan nilai batas bawah keuntungan menunjukkan nilai nominal terendah yang dapat diterima oleh produsen dihitung dengan rumus :

L = E – 2V

L = E – 2

keterangan :

L = Batas bawah keuntungan usaha lebah madu

E = Keuntungan rata-rata  yang diperoleh usaha lebah madu

V = Simpangan Baku usaha lebah madu

Semakin besar nilai CV menunjukkan bahwa resiko yang harus ditanggung semakin besar. Nilai CV  0,5 atau L  0 menyatakan bahwa

produsen akan selalu terhindar dari kerugian. Nilai CV > 0,5 atau L < 0 berarti ada peluang akan menderita kerugian.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, Rian. 2004. Analisis Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur di Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten. Skripsi Fakultas Partanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta.

Arikunto, S. 2003.  Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta

Kadarsan, H. 1992. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Lipsey, G. R, Douglas, D. P dan Peter, O. S. 1990. Pengantar Mikro Ekonomi. Erlangga. Jakarta

Rahardi, F. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Rismunandar. 2003. Berwiraswasta Dengan Beternak Lebah. Sianar Baru Algensindo. Bandung

Sarwono,B. 2005. Lebah Madu. Agro Media Pustaka. Jakarta

Simamora, Henry. 1999. Akuntansi Manajemen. Salemba Empat. Jakarta

Soekartawi, Rusmadi dan Effi, D. 1993. Risiko dan Ketidakpastian Dalam Agrobisnis : Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persuda. Jakarta

27

_________.1994. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Cobb Douglass. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Surakhmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Tarsito. Bandung

Soeyanto,T. 1981. Intensifikasi Peternakan Tawon. Yudhistira. Jakarta

Zaenuri, Muhamad. 2004. Analsis Usaha Penolahan Ikan Asin di Kota Pekalongan. Skripsi Fakultas Partanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: