Model Inkubator untuk Pembinaan dan Pengembangan Industri Kerajinan Kayu

Tujuan penelitian ini ialah mendapatkan satu model pembinaan dan pengembangan industri kerajinan kayu melalui inkubator eksternal (out-wall incubator), dengan sistem kelembagaan yang komprehensif, serta sistem pembinaan dan mekanisme operasional pengembangan yang efektif dengan katalis perguruan tinggi. Kajian ini mengambil kasus di desa Junrejo, Kota Administratif Batu, Kabupaten Malang

Penelitian dilakukan dalam 3 tahap, yaitu tahap penyusunan prototipe, tahap uji coba model, dan tahap evaluasi. Perajin industri sebagai kelompok sasaran dipilih dengan metode proportional stratified random sampling yang mencakup semua tingkat strata perajin (perajin kecil-atas, perajin kecil-menengah, dan perajin kecil-kecil), melalui sistem pendampingan usaha langsung pada perajin.

Divisi-divisi dalam kelembagaan inkubator eksternal berperan memberikan konsultasi-monitoring serta bimbingan dalam mengembangkan industri kerajinan dengan mengoptimumkan peran serta lembaga-lembaga universitas (Unit Riset & Pengembangan), swasta, serta instansi terkait. Keberhasilan program dievaluasi dengan menggunakan tolok ukur keberhasilan peningkatan nilai jual, diversifikasi produk, peningkatan keterampilan, mutu produksi, serta peningkatan jaringan pemasaran. Keberhasilan di tingkat universitas ditunjukkan dengan tumbuhnya institusi baru Inkubator Eksternal di Lembaga Pengabdian pada Masyarakat.

Hasil tahap kedua tentang uji coba prototipe inkubator menunjukkan bahwa adanya model inkubator eksternal merupakan jawaban alternatif bagi upaya pengembangan dan pembinaan industri kerajinan di pedesaan. Inkubator eksternal mampu berperan sebagai (1) media atau tempat berlangsungnya proses belajar, transfer pengetahuan, teknologi, dan keahlian, (2) sarana pembinaan melalui inkubator eksternal dapat memberikan peningkatan keahlian manajerial usaha atau peningkatan teknik produksi, (3) sarana pengubah sikap mental wirausaha, yang ditunjukkan dengan hasil evaluasi kinerja perajin, dan (4) sarana pembinaan yang berlangsung kontinu, pra-inkubasi (studi pendahuluan), masa inkubasi (masa pembinaan), dan pasca-inkubasi (monitoring, konsultasi lanjutan, dan evaluasi), serta mempunyai efek ganda.

Tahap ketiga menghasilkan model inkubator eksternal dengan operasionali-sasinya berada di bawah Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas. Bentuk model Inkubator Eksternal ini tertuang dalam suatu bentuk desain sistem kelembagaan dan mekanisme operasional pembinaan dan pengembangan, yang secara terinci terdiri atas desain sistem kelembagaan, desain kebijakan pengembangan model, desain koordinasi instansi terkait, mekanisme operasi-onal pembinan dan pengembangan, pola pembinaan, desain pembentukan kelompok perajin sebagai kelompok sasaran, dan desain sistem pembinaan dan pendampingan usaha.

Dengan meningkatnya keberhasilan desa binaan, pengembangan selanjutnya diarahkan kepada pembangunan tatanan fisik lingkungan melalui penataan desa kerajinan yang menyeluruh. Hasil penelitian ini digunakan sebagai model pembinaan dan pengembangan industri kerajinan di pedesaan, khususnya industri kerajinan kayu. Melalui kajian unit riset dan pengembangan yang ada di institusi Inkubator Eksternal dengan pemanfaatan tenaga ahli perguruan tinggi yang selalu tanggap dengan perkembangan kebutuhan teknologi di pedesaan, maka transfer teknologi lebih terkendali dengan memperhatikan dampak sosial-ekonomi perajin. Langkah efisiensi dan efektivitas proram terjaga karena pengembangan tidak lagi dilakukan secara top-down tetapi bottom-up melalui upaya pendampingan yang dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: