Peningkatan Efisiensi Fosforus dan Kalium dalam Sistem Budi Daya Tanaman Pangan Lahan Kering

Teknik pemupukan yang selama ini diterapkan di Indonesia merupakan paket pemupukan nasional. Paket pemupukan tersebut tidak spesifik sehingga tingkat efisiensi penggunaan pupuk masih rendah.  Saat ini belum diperoleh teknik pemupukan yang tepat dan spesifik sesuai dengan kondisi lahan yang akan digunakan. Lahan kering merupakan potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga penelitian ini bertujuan mendapatkan paket teknologi baru yang tepat guna dalam sistem budi daya tanaman pangan lahan kering yang sederhana dan mudah.  Tanaman uji yang digunakan ialah kedelai dan padi gogo.

Penelitian tahap I dilakukan menggunakan metode survei untuk mengetahui kesuburan tanah berdasarkan pada kandungan P dan K di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Lahan terpilih digunakan dalam penelitian lanjut. Penelitian tahap II dilakukan di laboratorium untuk mencari dosis kapur dan pupuk kandang yang terbaik sehingga ketersediaan P dan K maksimal.  Dosis ini digunakan untuk percobaan rumah kaca pada tahap III. Percobaan tahap III dan IV dirancang dengan perlakuan bahan amelioran, pupuk P dan K yang diulang tiga kali pada lahan kering. Penelitian tahap V dilakukan setelah panen pada penelitian tahap IV pada tempat yang sama dan perlakuan yang sama, penelitian ini untuk mengetahui efek sisa dari perlakuan yang telah diberikan dan hanya diberi perlakuan dasar menggunakan tanaman uji yang sama.

Dari daerah survei ternyata Pondok Meja, Jambi merupakan tanah yang tidak subur berdasarkan parameter uji sehingga daerah ini selanjutnya digunakan untuk penelitian lanjut.  Interaksi pemberian 1.5 x Al-dd kapur dan 7.5 ton pupuk kandang sapi/ha dapat menekan fiksasi P dan K sehingga ketersediannya meningkat. Pemberian 1.5 x Al-dd kapur dan 7.5 ton pupuk kandang sapi/ha sebagai bahan amelioran dapat menekan fiksasi  P dan K sehingga ketersediaan P dan K meningkat dan pada gilirannya hasil kedelai dan padi gogo meningkat.

Pada penelitian rumah kaca, dosis optimum P dan K untuk kedelai dengan perlakuan tanpa amelioran ialah 64.99 kg P/ha dan 60.37 kg K/ha dengan hasil 21.93 g/pot  (2.74 ton/ha), sedangkan untuk padi gogo ialah 59.35 kg P/ha dan 54.68 kg K/ha dengan hasil 58.91 g/pot (9.38 ton/ha). Pada perlakuan dengan menggunakan amelioran, dosis optimal untuk kedelai ialah 50.81 kg P/ha dan 51.83 kg K/ha dengan hasil 24.34 g/pot (3.04 ton/ha); sedangkan untuk padi gogo ialah 58.19 kg P/ha dan 48.29 kg K/ha dengan hasil 69.49 g/pot (11.19 ton/ha).

Pada penelitian rumah kaca, pemberian amelioran dapat meningkatkan hasil kedelai 11.09%, efisiensi P 21.83%, efisiensi K 14.15%; sedangkan untuk padi gogo peningkatan hasil 18.63%, efisiensi P 19.17%, dan efisiensi K 13.23%.

Pada penelitian lapangan I, dosis optimal pupuk P dan K pada perlakuan tanpa amelioran ialah masing-masing 71.81 kg P/ha dan 57.47 kg K/ha dengan hasil 3.78 kg biji kering kedelai/petak (1.89 ton/ha); sedangkan untuk padi gogo ialah 60.72 kg P/ha dan 54.18 kg K/ha dengan hasil 8.02 kg biji kering kedelai/petak (4.01 ton/ha). Dosis optimal pupuk P dan K pada perlakuan dengan pemberian amelioran 1.5 x Al-dd kapur dan 7.5 ton pupuk kandang sapi/ha ialah masing-masing 60.69 kg P/ha dan 47.09 kg K/ha dengan hasil 4.18 kg biji kering kedelai/petak (2.09 ton/ha); sedangkan untuk padi gogo ialah 53.86 kg P/ha dan 44.02 kg K/ha dengan hasil 9.54 kg biji kering kedelai/petak (4.77 ton/ha).

Pemberian amelioran dapat meningkatkan hasil bobot biji kedelai kering panen sebesar 10.59% dengan disertai peningkatan efisiensi pupuk P sebesar 15.48% dan efisiensi pupuk K sebesar 18.06%; sedangkan hasil bobot biji padi gogo kering panen sebesar 19.04% dengan disertai peningkatan efisiensi pupuk P sebesar 11.30%% dan efisiensi pupuk K sebesar 18.75%.

Penggunaan bahan amelioran dalam sistem budi daya kedelai menurunkan biaya input tiap hektar untuk pupuk P (SP36) sebesar Rp90 000 dan pupuk K (KCl) sebesar Rp70 000 yang disertai peningkatan pendapatan sebesar Rp590 000/ha dengan keuntungan sebesar Rp750 000/ha. Penggunaan bahan amelioran dalam sistem budi daya padi gogo menurunkan biaya input tiap hektar untuk pupuk P (SP36) sebesar Rp50 000 dan pupuk K (KCl) sebesar Rp60 000 yang disertai peningkatan pendapatan sebesar Rp1 130 000/ha dengan keuntungan sebesar Rp1 240 000/ha.

Efek sisa perlakuan pemberian amelioran pada penelitian lapangan II menunjukkan bahwa dosis pupuk P dan K menekan fiksasi P dan K pada sistem budi daya kedelai dan padi gogo sehingga meningkatkan P-tersedia, K-dd tanah, dan hasil biji kedelai dan padi gogo. Efek sisa akibat pemberian amelioran menghasilkan bobot kedelai sebesar 48.0% dengan peningkatan efisiensi efek sisa pupuk P sebesar 18.06% dan pupuk sebesar 10.2%, pada padi gogo meningkatkan gabah kering sebesar 24.9% dengan peningkatan efisiensi efek sisa pupuk P sebesar 17.1% dan pupuk sebesar 5.5%. Keuntungan akibat efek sisa pemberian amelioran pada kedelai sebesar 43.0% dan padi gogo sebesar 24.9%

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: