Pendekatan Pengelolaan Hama Akar Tanaman Kelapa Sawit Sufetula sunidesalis Dengan Aplikasi Termisida Rope (Fipronil)di Areal GAMBUT PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Latar belakang

Tanaman kelapa sawit di areal tanah gambut pada umumnya terserang hama perusak akar Sufetula sunidesalis Walker (Pyralidae). Hama ini menyerang akar tanaman khususnya titik tumbuh akar sehingga menganggu atau menghambat perkembangan akar. Disuatu perkebunan di Riau dijumpai tingkat kerusakan akar mencapai 95 % sehingga akar sulit tumbuh memanjang (R. Desmier de Chenon et al dalam seminar gambut II, 1993).
Akibat serangan hama tersebut daun tanaman kelapa sawit terutama pelepah bagian bawah secara visual kelihatan menguning dan mengering. Gejala seperti ini banyak dijumpai pada tanaman kelapa sawit di areal gambut Perkebunan Sinar Mas. Pada serangan berat dijumpai tingkat gejala daun kering mencapai 17 % di Divisi VI Kebun Naga Mas (Widodo, 1999).
Pendekatan pengelolaan hama ini harus dimulai dari pengamatan hubungan antara gejala kerusakan yang tampak pada daun, buah, akar dan keberadaan Sufetula sunidesalis (larva, pupa dan imago). Hal ini perlu dilakukan karena belum ditemukan metode pengendalian yang efektif dan efisien. Informasi yang diperoleh dari D Mariau (Entomologist, Cirad) hanya merupakan saran percobaan pengelolaan dengan aplikasi janjangan kosong/pestisda di piringan serta penggenangan areal serangan baik dengan air maupun limbah cair PKS selama 1 s/d 2 minggu.

Team peat soil SMART Research Institute bekerja sama dengan pihak kebun akan mencoba melakukan beberapa pendekatan yang kompatibel dilaksanakan untuk penanggulangan hama perusak akar Sufetula sunidesalis pada tanaman kelapa sawit di areal tanah gambut.

Judul Percobaan

Pendekatan pengelolaan hama perusak akar tanaman kelapa sawit Sufetula sunidesalis dengan Apliaksi Termisida Rope 25 ec.

Tujuan
• Mengetahui efektifitas termisida Rope 25 EC pada beberapa level dosis terhadap tingkat kerusakan akar oleh Sufetula (rootminer lainnya).
• Mencari metode pengendalian hama Sufetula sunidesalis yang efektif dan efisien pada tanaman kelapa sawit di areal tanah gambut.

Bahan dan Metode

Tempat dan waktu
• Kegiatan percobaan dilakukan di Kebun Naga Mas Divisi VI tahun tanam 1993/1994 (Blok-blok dengan serangan tinggi)
• Percobaan direncanakan dilakukan pada minggu ke dua bulan Desember 1999
• Percobaan diamati dengan jadwal dan kurun waktu sesuai kebutuhan yang akan ditentukan kemudian.

Bahan dan alat

Kebutuhan untuk pohon perlakuan dan pohon luar perlakuan
• fipronil 25 g/l (pengadaan oleh kebun Naga Mas) = 98000 cc
• Surfaktan (pengadaan oleh kebun Naga Mas) = 20000 cc
• Sarana pendukung (milik Riset) disediakan sesuai keperluan.
• Air untuk membuat larutan dan keperluan lain sesuai kebutuhan.

Metode aplikasi termisida fipronil
• Menggunakan design rancangan acak kelompok (RAK) dengan dosis standar 10 cc per pohon/konsentrasi 0.5 %, aplikasi rutin yakni Rope I/2 bulan dan Rope II/4 bulan masing-masing 2 perlakuan frekwensi aplikasi fipronil 25 g/l (per 15 hari dan per 30 hari) dan 1 perlakuan kontrol total 5 perlakuan x ± 1 ha x 4 ulangan = 20 ha.
• Perlakuan Rope yang diaplikasi hanya recording trees yakni 20 pohon per plot (pohon ditandai dengan nomor pohon 1 s/d 20), disekelilinya dibuat paret isolasi dengan ukuran lebar 30 cm, dalam ± 50 cm dan diaplikasi fipronil konsentarsi 0.5 % .

Tabel : Kode perlakuan
Metode pengendalian Per-
lakuan Bahan perlakuan Konsentrasi
% dari formulasi Volume semprot
per pohon Total Frekuensi Aplikasi
Aplikasi pestisida 1 Fipronil/15 hari selama 2 bulan 0.50 % 2 liter 4 x selama 60 hari
2 Fipronil/30 hari selama 2 bulan 0.50 % 2 liter 2 x selama 60 hari
3 Fipronil/15 hari selama 4 bulan 0.50 % 2 liter 8 x selama 120 hari
4 Fipronil/30 hari selama 4 bulan 0.50 % 2 liter 4 x selama 120 hari
5 Kontrol 0.00 % 2 liter 0 x

Aplikasi
Kalibrasi
• Pengujian flow rate dilakukan terhadap 4 buah knapsack sprayer, hasil rata-rata flow rate per menit = 1865 cc.
• Pengujian kecepatan langkah dilakukan terhadap 4 tenaga kerja masing-masing menggunakan knapsack sprayer, hasil kecepatan langkah 0.935 piringan per menit.
• Kebutuhan larutan per plot (20 pohon/20 piringan) :
20 piringan
————————- x 1865 cc = 39893 cc dibulatkan menjadi 40 liter
0.935 piringan

Pelaksanaan
• Menggunakan tenaga kerja kebun 4 hk untuk aplikasi penyemprotan, 4 hk untuk mebersihkan piringan (kayu-kayuan dan sampah-sampah), 4 hk mandor/pembuat larutan.
• Untuk aplikasi per plot per knapsack sprayer diisi 10 liter air + 200 cc fipronil 25 EC + 40 cc agristik
• Aplikasi I ulangan I/III dilakukan tanggal 16/12/99, ulangan II/IV dilakukan tanggal 17/12/99.
• Untuk Aplikasi I jumlah tenaga kerja (16 hk pekerja + 8 mandor), jumlah bahan (3200 cc fipronil 25 EC + 640 cc agristik).

Jadwal rotasi aplikasi
Rotasi Tanggal I/plot II/plot III/plot IV/plot
I 16,17/12/99 1 – 4 1 – 4 1 – 4 1 – 4
II 31/12/99 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3
III 15/01/2000 1 – 4 1 – 4 1 – 4 1 – 4
IV 31/01/2000 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3
V 15/02/2000 1 – 4 1 – 4 1 – 4 1 – 4
VI 01/03/2000 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3 1 dan 3
VII 15/03/2000 3 3 3 3
VIII 30/03/2000 4 4 4 4

Pengamatan
Langkah dan Parameter pengamatan
• Cara pengamatan dilakukan pendekatan di lapangan dan dibuat menjadi standar baku.
• Sebelum aplikasi semua pohon diamati dan dipetakan pada lembar peta posisi titik tanam.
• Parameter pengamatan adalah perkembangan gejala kerusakan pada akar dinyatakan dalam pertambahan % akar baru sehat.
• Pengamatan dilakukan dengan parameter tersebut di atas dengan jarak 0- 25 cm, 25 – 50 cm, 50 – 75 cm , 75- 100 cm dan 100-125 cm dari pangkal batang dengan lebar 50 cm dan dalam 40 cm. Kumpulan akar pada setiap zone pengamatan dibongkar dan dikeluarkan seluruh akar yang ada. Selanjutnya dihitung % apex sehat terhadap seluruh apex yang ditemukan. Pengamatan dilakukan pada periode 0 bst, 4 bst, 8 bst dan 12 bst. Pengamatan pada setiap periode dilakukan pada pohon yang sama, dengan titik sampling yang berbeda.
• Ukuran lobang 1 s/d 4 masing-masing 0.50 m x 0.25 m x 0.60 m sehingga total ukuran lobang untuk perhitungan akar adalah 1 m x 0.5 m x 0.6 m.

Pengamatan pendahuluan
• Dilakukan pengamatan kondisi akar terhadap 4 pohon dari masing-masing (pohon sehat, pohon sakit ringan dan pohon sakit berat) di blok A 27
• Tiap pohon dilobang di piringan dengan cara dan tahapan seperti berikut. Dibuat 5lubang secara berurut dari pangkal batang. Lubang no 1 adalah lubang terdekat dengan pangkal batang sedangkan lubang no 5 merupakan lubang terjauh dari pangkal batang. Lobang No. 5 (0.5 m x 0.8 m x 0.8 m) dibuat terlebih dahulu untuk dasar penggalian
• tanah pada lobang 1 s/d 4. Penggalian lobang dan perhitungan akar primer dilakukan secara bertahap dimulai dari lobang No. 4 dan seterusnya.
• Ukuran lobang 1 s/d 4 masing-masing 0.50 m x 0.25 m x 0.60 m sehingga total ukuran lobang untuk perhitungan akar adalah 1 m x 0.5 m x 0.6 m.

Hasil Pengamatan Pendahuluan

Tabel 1. Pengamatan akar pada tanaman bergejala dan tanpa gejala serangan Sufetula sp
Ulangan Pohon sehat Pohon sakit (R) Pohon sakit (B)
Akar Akar Akar
Jumlah % Sakit Jumlah % Sakit Jumlah % Sakit
1 32 31.20 11 63.60 23 78.30
2 24 29.20 28 60.70 43 55.80
3 177 67.70 621 73.90 258 89.90
4 340 95.00 487 76.60 321 86.30
Rata2 143.3 55.78 286.8 68.70 108 74.67

Dari pengamatan pendahuluan yang dilakukan terlihat bahwa ada kecenderungan korelasi antara gejala visual daun dengan % kerusakan akar antara tanaman sehat (daun normal), tanaman sakit ringan (daun kering mulai daun 25 dst) dan tanaman sakit berat (gejala pengeringan daun sudah mencapai daun 17).

Selain itu dari gejala kerusakan akar yang diamati ada 2 type gejala yaitu gejala dimana ujung apex dimakan seluruhnya dan gejala ujung apex digerek sehingga terbentuk lorongdari ujung akar.

Hasil Percobaan

Tabel : Analisa Data Secara Statistik Terhadap Pertambahan % akar Baru Sehat

Jarak Dari pkl Batang Periode Pengamatan P(F>F Hitung) Keterangan
0-25 cm 4 bst 0.07 Tidak berbeda nyata pada  0.05
8bst 0.74 Tidak berbeda nyata pada  0.05
12 bst 0.240 Tidak berbeda nyata pada  0.05
25-50 cm 4 bst 0.749 Tidak berbeda nyata pada  0.05
8bst 0.071 Tidak berbeda nyata pada  0.05
12 bst 0.012 Berbeda nyata pada  0.05 (5,2,14) (4,3)
50-75 cm 4 bst 0.919 Tidak berbeda nyata pada  0.05
8bst 0.216 Tidak berbeda nyata pada  0.05
12 bst 0.127 Tidak berbeda nyata pada  0.05

Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap perubahan % akar baru sehat tidak significan meskipun terlihat kecenderungan bahwa perlakuan no 3 (perlakuan dengan frekuensi aplikasi tertinggi ) menunjukkan % kemunculan akar baru sehat yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan dengan frekiuensi aplikasi yang lebih rendah.
Analisa data hanya dilakukan pada jarak 0 – 25 cm, 25 – 50 cm dan 50 – 75 cm, karena
pada jarak yang lebih jauh lagi tidak banyak ditemukan akar.

Dari data yang diperoleh pemakaian Fipronil belum dapat direkomendasikan efek perlakuan insektisida tersebut dalam menekan kerusakan akar baru oleh hama akar tidak significan. Kemungkinan kendala aplikasi termisida tersebut adalah faktor persistensi di tanah yang pendek. Sementara penetrasi hama ke dalam sistem perakaran dapat terjadi setiap saat.
Oleh karena itu perlu dicari alternatif baru dengan mencoba penggunaan termisida/insektida yang memiliki persistensi lebih lama.

Dari pengamatan lanjutan diketahui bahwa gejala kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas beberapa serangga hama yaitu: Sufetula sp (Lepidoptera), dan 2 jenis serangga famili Elateridae (Coleoptera). Serangan Sufetula sp mengakibatkan terbentuknya lorong pada akar, sedangkan hama dari famili Elateridae memakan bagian ujung akar secara keseluruhan.

Selain modifikasi aplikasi insektisida, study tentang aspek biologi dari hama juga perlu dipelajari lebih detail. Biologi Sufetula sudah diketahui sedangkan kedua jenis hama dari family Elateridae tersebut belum diketahui.

Kesimpulan dan Saran

• Penggunaan Fipronil belum disarankan untuk tindakan pengendalian hama akar di Kebun NMSE
• Perlu dicoba insektisida dengan persistensi yang lebih lama.
• Perlu dilakukan study yang lebih mendalam tentang Biology serangga hama terutama dari family Elateridae yang belum banyak diketahui karakter biologinya.

Referensi

Widodo, T. 1999. Analisa produktivitas areal gambut kebun Naga Mas. (Untuk
Kalangan Sendiri).

Phillipe, R. 2000. Study of Oil Palm Root Pest at Naga Mas Estate. PT SMART, 18th
to 25th June 2000. Visit Report, Unpublished. CIRAD. 22p

Iklan

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    goeroendeso said,

    sebuah blog yang sangat berguna, khususnya kepada kita yang peduli terhadap lingkungan, pertanian and perkebunan. Selamat….

  2. 3

    pimpii said,

    Terima kasih telah memberikan komentar di Dream Indonesia. Sebagai penghargaan maka blog menarik ini sudah di tautkan di http://www.dreamindonesia.wordpress.com/
    Maju terus blogger Indonesia…..!!!


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: