ANALISIS GENDER BERDASARKAN JENIS KEGIATAN BURUH TANI DI DESA TRANGSAN KECAMATAN GATAK

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wanita sering kali mempunyai peran ganda dalam keluarga, baik sebagai pencari nafkah maupun sebagai ibu rumah tangga yang harus selalu mengurusi kebutuhan rumah tangga dalam keluarga seperti: mencuci, membersihkan rumah, memasak, mengasuh anak, mendidik anak dan sebagainya.

Wanita tani sebagai mitra sejajar, secara fungsional tidak dapat dipisahkan dalam proses pembangunan pertanian. Peranan wanita dalam usahatani diarahkan kepada peluang peningkatan produktivitas lahan dan tenaga kerja serta peningkatan nilai tambah. Peranan wanita tani saat ini diketahui sebagai penyandang kerja yang cukup berat tetapi kurang produktif, wanita tani dikenal sebagai tenaga kerja dalam kegiatan penanaman, pemupukan, penyiangan, panen dan pengolahan hasil di dalam maupun di luar usahataninya. Selain sebagai buruh tani juga mengerjakan pekerjaan rumah seperti mengambil air, mencari kayu bakar, mengasuh anak, memasak dan lain-lain.

Di daerah pedesaan, sumbangan wanita tani dalam penghasilan keluarga cukup besar, baik dengan bekerja di lahan sendiri ataupun sebagai buruh tani dan mengurus pekerjaan rumah tangga. Partisipasi wanita pada usahatani baik dalam proses produksi, panen maupun pasca panen cukup tinggi. Banyak hasil penelitian mengungkapkan bahwa wanita di pedesaan mempunyai peranan sebagai pencari nafkah, lebih-lebih dari rumah tangga berpenghasilan rendah. Golongan ini meliputi kurang lebih 40% dari seluruh rumah tangga pedesaan (Parjanto dan Trisni, 2001)

Namun besarnya sumbangan dari wanita terhadap penghasilan dalam rumah tangga tidak lantas menjadikan wanita lebih tinggi peranan dan kedudukannya dari pria. Hal ini disebabkan karena adanya faktor gender. Suksesi (2002), mengemukakan bahwa gender merupakan konsep yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara pria dan wanita secara sosial kultural.

Pudjiwati dan Sayogjo (1992), mengemukakan bahwa pembagian kerja antara wanita dan pria dalam keluarga, rumah tangga dan masyarakat luas nampak pada kebiasaan lelaki mencari nafkah di luar rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan wanita mengurus pekerjaan rumah tangga. Pola pembagian tersebut dalam era modern ini didasarkan atas pertimbangan biologis dan perbedaan sosial budaya lingkungan keluarga itu. Kasus yang terjadi pada sebagian besar masyarakat adalah perempuan lebih banyak menghabiskan waktu pada urusan rumah tangga, sedangkan laki-laki lebih banyak mengerjakan pekerjaan untuk mencari nafkah. Salah satu alasan adanya pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan ini adalah karena gender yaitu perbedaan peranan, kedudukan, tugas dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dikontruksikan atau dibentuk oleh masyarakat, untuk melihat dan mengidentifikasikan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan diperlukan analisis gender. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dikaji perbedaan mengenai kegiatan produktif, domestik nonproduktif dan kegiatan sosial kemasyarakatan antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan di Desa Trangsan Kecamatan Gatak.

  1. B. Perumusan Masalah

Gender merupakan suatu perbedaan peran, tanggung jawab, sifat dan kedudukan antara wanita dan pria yang telah disosialisasikan oleh masyarakat melalui norma, kebiasaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Adanya perbedaan gender ini mengakibatkan pembagian peran yang cenderung berat sebelah antara pria dan wanita, sehingga seringkali merugikan pihak wanita.

Wanita yang mempunyai peran ganda dalam rumah tangga, yaitu sebagai pencari nafkah dan sebagai ibu rumah tangga yang harus melayani kebutuhan keluarga sering kali harus bekerja lebih berat dari suaminya. Meskipun demikian kadang hasil dari kerjanya tidak mendapatkan penghargaan, ini disebabkan karena pekerjaan wanita cenderung dikaitkan dengan pekerjaan rumah tangga (domestik), sedangkan pria banyak dikaitkan pada pekerjaan diluar rumah (publik).

Posisi dan status yang ditempati oleh masing-masing anggota berbeda-beda. Dalam hal ini disebabkan karena perbedaan umur, jenis kelamin, generasi, posisi ekonomi dan kekuasaan, sedangkan untuk perbedaan posisi laki-laki dan wanita disebabkan alasan biologis dan sosial budaya. Alasan biologis menganggap laki-laki secara fisik lebih kuat daripada wanita, sedangkan alasan sosial budaya dibentuk dari norma-norma yang diatur dalam lingkungan masyarakat seperti: siapa yang mengasuh dan mendidik anak, siapa yang mencari nafkah dan siapa yang tampil dalam kegiatan kemasyarakatan. Alasan biologis dan sosial budaya berangsur-angsur mengalami perubahan dalam masyarakat agraris. Peran ganda wanita di masyarakat agraris sangat terlihat, wanita berperan sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya melaksanakan pekerjaan rumah tangga dan sebagai pencari nafkah di usahatani. Hal ini mengubah gambaran bahwa laki-laki pulang membawa bahan makanan untuk dimasak oleh wanita adalah sesuatu yang seharusnya.

Untuk menganalisis data secara sistematis tentang data laki-laki dan perempuan sehingga peran dan tanggung jawab keduanya diketahui, diperlukan analisis gender. Penelitian ini memusatkan perubahan pada profil kegiatan yang dilakukan laki-laki dan perempuan. Untuk itu melalui penelitian ini akan dicari titik terang dan jawaban dari permasalahan berikut:

1        Apakah terdapat perbedaan kegiatan produktif antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?

2        Apakah terdapat perbedaan kegiatan domestic antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?

3        Apakah terdapat perbedaan kegiatan kemasyarakatan antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui perbedaan kegiatan produktif antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?
  2. Mengetahui perbedaan kegiatan domestik antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?
  3. Mengetahui perbedaan kegiatan kemasyarakatan antara buruh tani laki-laki dan buruh tani perempuan?
  4. D. Kegunaan Penelitian
  5. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai pembelajaran dengan melihat dan meneliti permasalahan yang ada disekitar penulis, dan mencari jawaban dari permasalahan tersebut. Dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
  6. Bagi pengambil kebijakan dan lembaga terkait, sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan dan kebijakan dalam hal pembangunan pertanian berbasis gender
  7. Bagi petani responden, untuk menambah pengetahuan mereka tentang peran masing-masing pihak, baik pria maupun wanita. Agar pekerjaan usaha tani dan rumah tangga makin efisien dan tidak membedakan peran keduanya
  8. Bagi peneliti lain, sebagai bahan informasi serta perbandingan dalam penelitian mengenai analisis gender

II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Differensiasi Peranan

Perbedaan posisi dan status yang ditempati oleh masing-masing anggota keluarga yang didasarkan atas berbagai perbedaan seperti umur, jenis kelamin, generasi, posisi ekonomi dan kekuasaan. Perbedaan posisi status antara pria dan wanita disebabkan karena alasan biologis dan sebagian lagi disebabkan karena perbedaan sosial budaya lingkungan keluarga itu: siapa yang mengasuh anak, siapa yang mencari nafkah, siapa yang tampil kedepan pada kegiatan-kegiatan ritual dan seterusnya

(Sayogjo dan Pujiwati, 1992).

Margareth dalam Boserup (1984), melukiskan peranan laki-laki dan wanita sebagai berikut: rumah tangga bersama seorang (atau beberapa orang) pria dan pasangan wanitanya, kemana pria membawa bahan makanan dan ditanak oleh para wanita merupakan gambaran umum yang pokok diseluruh dunia. Tetapi gambaran ini dapat mengalami perubahan dan perubahan-perubahan tersebut membuktikan bahwa pola itu sendiri tidak merupakan sesuatu yang biologis mendalam.

Kehidupan sehari-hari wanita berada dalam suatu konteks beban ganda. Beban tersebut adalah beban untuk memberikan pengasuhan yang tidak dibayar dalam pelayanan-pelayanan dalam pekerjaan rumah tangga serta beban untuk memberikan kelangsungan hidup perekonomian melalui kerja upahan. Tidak ada pemisahan rasional dari kedua konteks beban tersebut, dua hal ini merupaka aktivitas yang tidak terpisahkan bagi wanita (Ollenburger dan Helen, 1996).

2. Gender

Kata gender ditemui dalam bahasa inggris yang dalam English Dictionary For Advanced Learners, diartikan sebagai kenyataan bahwa seseorang itu menjadi seorang laki-laki atau seseorang itu menjadi seorang perempuan. Perempuan diartikan memiliki sifat lembut, halus, yang ada karena gendernya atau diartikan apakah seseorang itu maskulin, feminin atau maskulin dan feminim. Seorang laki-laki adalah maskulin, sedangkan seorang perempuan adalah feminim. Gender dapat disebabkan karena asal dan kebiasaan (Sinclair, 2001)

Subkhan (2003), mengemukakan bahwa ketidakadilan gender dalam pembangunan disebabkan oleh mitos bahwa pekerjaan yang dilakukan kaum wanita hanya bersifat melengkapi dan tidak bernilai produktif. Mitos ini menyebabkan tidak adanya penghargaan terhadap karya dan hasil kerja kaum wanita seberapa pun besarnya. Tidak adanya pengakuan, penghargaan terhadap kaum wanita melalui pemberian akses dan kontrol yang lebih besar membuat semakin terkuburnya potensi mereka. Diungkapkan oleh Srini (1995), bahwa gender menjadi persoalan ketika nilai-nilai yang terkandung dalam ketentuan gender tersebut menghambat seseorang untuk mempunyai akses dan kontrol terhadap sumber daya dan hasil-hasilnya.

Sukesi (2002), menyatakan bahwa gender merupakan konsep yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara wanita dan pria secara sosial budaya. Pembedaan ini sebenarnya mengacu pada unsur emosional dan kejiwaan, sebagai karakteristik sosial dimana hubungan wanita dan pria dikonstruksikan, sehingga berbeda antara tempat dan waktu. Dalam melihat gender sebagai konstruksi sosial budaya, dapat membedakan gender identity yang berasal dari konsepsi biologis yaitu bagaimana wanita dan pria dibedakan terutama dari aspek kromosomnya dan kemudian bagaimana manusia mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki.

Fakih (1996), mengemukakan konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikontruksikan sosial maupun kultural, misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dari sifat-sifat itu sendri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Perubahan dari ciri sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat lain. Juga perubahan bisa terjadi dari kelas ke kelas masyarakat yang berbeda. Semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki itulah yang dikenal dengan konsep gender.

Oleh Oppong dan Katie (1981), peran perempuan sebagai orang tua dibedakan dengan peran dalam kegiatan rumah tangga. Dalam kegiatan rumah tangga, adalah setiap aktifitas yang berhubungan dengan pemeliharaan dilingkungan rumah, termasuk memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyiapkan makan, berbagai keahlian dan hal lain yang digunakan untuk kegiatan domestik atau rumah tangga ini adalah waktu yang digunakan untuk aktivitas rumah tangga.

3. Analisis Gender

Kata ”analisis” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkara dan sebagainya) (Lukman, 1996).

Analisis gender adalah suatu analisis yang membantu mengidentifikasi dan mengungkapkan situasi aktual pria dan wanita, meliputi kedudukan dan peranan dalam keluarga masyarakat, tingkat kesejahteraan, kepentingan, kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi; beban kerja dan kegiatan wanita dan pria; saling keterkaitan antara pria dan wanita dan saling mengisi antar peran wanita dan pria; tingkat akses dan kontrol wanita dan pria terhadap sumber-sumber dan manfaat yang diperoleh dari pendayagunaan sumber-sumber pembangunan, sumber-sumber produktif maupun sumber daya manusia dalam keluarga dan dalam masyarakat. Dengan demikian dapat terjadi kemitrasejajaran antara pria dan wanita yang dapat selaras, serasi dan seimbang dalam kehidupan

(Mentri UPW dalam Warto, 1998).

Analisis gender memerlukan data yang sudah terpilih yaitu nilai dari variabel-variabel yang sudah terpilah antara laki-laki dan perempuan berdasarkan topik bahasan atau hal-hal yang menjadi perhatian. Data ini meliputi data kuantitatif, dengan nilai variabel terukur dan data kualitatif dengan nilai variabel tidak terukur

(Kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan, 2003).

4. Profil Kegiatan

Profil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan sebagai pandangan dari samping atau grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal khusus (Ali, 1992).

Konsepsi pekerjaan didasarkan atas pendapat Chayanov dan Sahlins dalam Sayogyo dan Pudjiwati (1992), batasannya meliputi:

  1. Para pelaku mengeluarkan energi
  2. Para pelaku terjalin dalam interaksi sosial, mendapat status
  3. Para pelaku memberikan sumbangan dalam produksi barang maupun jasa
  4. Para pelaku mendapatkan penghasilan (cash dan natura)
  5. Para pelaku mendapatkan hasil yang mempunyai nilai dan waktu

Sajogjo (1994) mengatakan bahwa analisis pembagian kerja diantara semua anggota keluarga didukung oleh pendekatan pencurahan tenaga atau analisis alokasi waktu. Pernyataan Sajogjo ini diperkuat oleh pemikiran Chayanov dan Sahlins bahwa untuk mengerti organisasi rumah tangga dalam masyarakat agraris perlu menganalisis curahan tenaga kerja oleh anggota rumah tangga.

Mardikanto (1990) mengungkapkan bahwa cara untuk mengukur peran wanita dalam rumah tangga adalah melalui alokasi waktu yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pada setiap harinya.

5. Petani

Petani adalah penduduk atau orang yang secara de facto memiliki atau menguasai sebidang lahan pertanian serta mempunyai kekuasaan atas pengelolaan faktor-faktor produksi pertanian (meliputi: tanah beserta faktor alam yang meliputinya, tenaga kerja termasuk organisasi dan skill, modal dan peralatan) diatas lahannya tersebut secara mandiri (otonom) atau bersama-sama pihak lain (Mardikanto, 1982).

Pengertian petani yang dikemukakan oleh Hernanto (1989), adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan hidupnya dibidang pertanian dalam arti yang luas meliputi usahatani pertanian, peternakan, perikanan (termasuk penangkapan ikan) dan pemungutan hasil laut.

B. Kerangka Berpikir

Manusia dilahirkan kedunia dalam dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini memiliki perbedaan dalam hal sifat yang dimiliki yaitu perbedaan alat reproduksi yang mengikuti keduanya. Perbedaan alat reproduksi ini menyebabkan perempuan mempunyai kodrat untuk menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Pembagian peran antara pria dan wanita seringkali hanya berdasarkan adanya perbedaan secara biologis saja. Anggapan bahwa wanita merupakan makhluk yang lemah, perlu dilindungi telah melekat erat dalam struktur masyarakat. Adanya norma tentang pembagian peran antara pria dan wanita (gender) yang telah dikenal oleh masyarakat sejak dulu mempengaruhi pola pembagian kegiatan antara seorang pria dan wanita dalam suatu rumah tangga.

Terjadi kesalahpahaman akibat perbedaan pengertian yang dipahami masyarakat antara kodrat dan gender. Masyarakat menganggap dimana apa yang sesungguhanya gender dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis Tuhan. Justru sebagian besar yang dewasa ini sering dinamakan sebagai kodrat wanita adalah konstruksi sosial dan kultural atau gender. Mendidik anak dan merawat rumah bukanlah kodrat melainkan peran yang disebut gender, karena sifat ini dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan dan dapat berubah menurut waktu dan tempat. Pemahaman yang tidak pada tempatnya ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: norma yang berlaku dalam masyarakat, adat istiadat, kepercayaan dan agama. Salah satu akibatnya adalah terdapat diferensiasi peranan antara laki-laki dan perempuan, termasuk di dalamnya dalam hal pembagian kerja. Pembagian kerja ini dikelompokkan dalam tiga kegiatan yaitu kegiatan produktif atau kegiatan publik dalam mencari nafkah, kegiatan reproduktif atau domestik nonproduktif yaitu kegiatan yang tidak dibayar yang mendukung sumberdaya manusia dalam keluarga dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Ketiga kegiatan tersebut diukur dengan menggunakan analisis gender. Ada beberapa model analisis gender diantaranya adalah model Harvard yang terdiri atas sebuah matrik yang mengumpulkan data pada tingkat mikro (masyarakat dan rumah tangga) meliputi empat komponen yang berhubungan satu dengan lainnya. Penelitian ini dipusatkan pada komponen profil kegiatan. Profil kegiatan dilakukan dengan merinci kegiatan nyata menurut umur dan gender (siapa yang mengerjakan apa), penjadwalan (alokasi waktu) untuk kelompok-kelompok sosial ekonomi. Untuk memudahkan analisis, maka profil kegiatan dikelompokkan menjadi kegiatan produktif, kegiatan domestik dan kegiatan sosial budaya dan kemasyarakatan.

Parameter yang digunakan untuk melukiskan kegiatan-kegiatan tersebut adalah umur, alokasi waktu, lokasi kegiatan dan pendapatan. Umur digunakan untuk mengidentifikasi apakah oeang dewasa perempuan dan laki-laki serta anak-anak melaksanakan suatu kegiatan tertentu. Alokasi waktu menegaskan persentase waktu yang dialokasikan bagi setiap kegiatan. Lokasi kegiatan menegaskan dimana kegiatan itu dilaksanakan: di rumah, di sawah, di pasar, di kebun, di dalam keluarga atau di masyarakat. Sedangkan parameter pendapatan melukiskan jumlah uang yang dihasilkan atau diperoleh dari suatu kegiatan, penghitungan disesuaikan menurut jenis kegiatan yaitu per jam.

C. Dimensi Penelitian

Untuk mencegah pengambilan data yang tidak diperlukan dan mencegah pengertian yang bersifat ambigu maka dimensi penelitian yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

  1. Responden adalah buruh tani yang mengerjakan sawah atau mengolah sawah dilahan milik orang lain.
  2. Jam kerja, dihitung dalam satu hari yaitu jam kerja yang biasanya digunakan oleh responden untuk melakukan kegiatan produktif, kegiatan domestik non produktif dan kegiatan kemasyarakatan. Untuk melihat perbedaan alokasi waktu, dilihat berapa besar jumlah jam dan presentase waktu dalam sehari yang digunakan buruh tani laki-laki dan perempuan untuk melakukan kegiatan produktif, kegiatan domestik nonproduktif dan kegiatan kemasyarakatan. Sedangkan untuk melihat hubungan lokasi kegiatan dengan profil kegiatan, dianalisis dengan deskripsi analisis yaitu menjelaskan secara mendalam dimana kegiatan itu dilakukan dan dilakukan oleh laki-laki atau perempuan menurut dewasa-anak-anak.
  3. Upah atau imbalan, dihitung jumlah upah yang biasanya diterima buruh tani untuk melakukan kegiatan produktif baik berupa uang maupun barang.

III. METODE PENELITIAN

  1. A. Lokasi Penelitian

Penetapan lokasi dalam penelitian ini diambil secara sengaja (purposive), yaitu berdasar pertimbangan tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (singarimbun dan effendi, 1995). Desa Trangsan dipilih karena didesa tersebut memiliki jumlah buruh tani yang paling banyak khususnya didesa trangsan.

  1. B. Metode Dasar Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang digunakan dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergantung kepada pengamatan manusia dalam wawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 2000).

Metode dasar penelitian adalah metode deskriptif, yaitu penelitian yang memusatkan pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam konteks teori-teori hasil penelitian terdahulu (Surakhmad, 1994).

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus (case study). Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan atau menginterpretasikan suatu kasus (case) dalam konteknya secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Dalam penelitian kualitatif, studi kasusnya mengarah pada pendiskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya dilapangan studinya (Sutopo, 2002).

  1. C. Jenis Dan Sumber Data

Jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1        Data primer, adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara sebagai alatnya.

2        Data sekunder, adalah data yang dikumpulkan dari instansi atau lembaga yang berkaitan dengan penelitian, dengan mencatat langsung data yang bersumber dari dokumentasi yang ada yaitu monografi tempat penelitian.

  1. D. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode:

1        Wawancara, adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung dengan menggunakan alat bantu berupa kuisioner

2        Observasi, adalah pegumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang gejala-gejala yang diamati

3        Pencatatan, adalah pengambilan data dengan jalan mencatat hal-hal yang diperlukan dalam penelitian yang diperoleh dari responden maupun instansi terkait.

  1. E. Metode Penentuan Informan

Dalam penelitian ini penentuan informan dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling. Menurut (Yin, 1987) dalam Sutopo (2002), snowball sampling digunakan bilaman peneliti ingin mengumpulkan data yang berupa informasi dari informan dalam salah satu lokasi tetapi peneliti tidak tahu siapa yang tepat untuk dipilih sebagai narasumber. Snowball sampling yaitu pengambilan informan tanpa perencanaan dan persiapan dengan mangambil orang pertama yang dijumpai sebagai informan, selanjutnya dengan mengikuti petunjuk dari informan pertama peneliti bisa menemukan informan kedua yang mungkin lebih tahu banyak mengenai informasinya. selanjutnya dari informan kedua ini peneliti bisa bisa menanyakan bilamana ada informan lain yang lebih memahami informasinya.

  1. F. Uji Validitas

Validitas adalah kesesuaian antara alat ukur dengan apa yang hendak diukur. Artinya alat ukur yang digunakan dalam pengukuran dapat digunakan untuk mengukur hal atau subjek  yang ingin diukur (Iqbal, 2004). Menurut Nasution (1998), validitas membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam dunia kenyataan dan apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia memang sesuai dengan yang sebenarnya ada atau terjadi.

Dalam penelitian ini cara pengembangan validitas data yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomologi yang bersifat multiperspektif yaitu menarik kesimpulan yang mantap tidak hanya menggunakan satu cara pandang. Menurut Patton dalam Sutopo (2002), ada 4 macam triangulasi yaitu triangulasi data, triangulasi peneliti, triangulasi metodologi dan triangulasi teoritis. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode yatitu memandang satu data dari berbagai metode yang dilakukan.

G. Metode Analisis Data

Teknik analisis gender menggunakan Model Harvard, yang secara garis besar terdiri atas sebuah matrik yang mengumpulkan data pada tingkat mikro (masyarakat dan rumah tangga). Model Harvard yang digunakan secara khusus adalah profil kegiatan yang dikelompokkan menjadi kegiatan produktif, kegiatan domestik nonproduktif dan kegiatan kemasyarakatan.

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis domain yaitu analisis dengan mendekati suatu masalah secara langsung (burhan bungin, 2006). Secara sistematis metode analisis ini dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini didapatkan didapatkan dengan cara melakukan wawancara, observasi dan pencatatan

  1. Reduksi Data

Pada waktu pengumpulan data berlangsung, reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan dari catatan data yang diperoleh dilapangan. Pada dasarnya reduksi data ini addlaah bagian dari proses analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian dapat dilakukan (Sutopo, 2002)

Reduksi data dilakukan dengan penglolaan data dari tahap editing, pemberian kode dan tabulasi. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama proses penelitian berlangsung. Pada tahap ini setelah data dipilih kemudian disederhanakan, data yang tidak perlu akan disortir agar memberikan kemudahan dalam penampilan, penyajian, serta untuk menarik kesimpulan sementara dari sebuah penelitian.

  1. Penyajian Data

Sajian data merupakan rakitan organisasi informasi, deskripsi dalam bentuk narasi yang memungkinkan simpulan dapat dilakukan. Sajian data ini merupakan rakitan kalimat yang disusun secara logis dan sistematis sehingga bila dibaca, akan mudah dipahami yang mengacu pada rumusan masalah yang telah dibuat sebagai jawaban pertanyaan-pertanyaan penelitian sehingga narasi yang tersaji merupakan diskripsi mengenai kondisi yang rinci untuk menceritakan dan menjawab setiap permasalahan yang ada.

  1. Penarikan Kesimpulan

Pada waktu pengumpulan data sudah berakhir, peneliti mulai melakukan usaha untuk menarik kesimpulan berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi atau sajian datanya. Kesimpulan-kesimpulan final mungkn tidak mubcul sampai pengumpulan data berakhir, tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanannya, metode pencarian ulang yang digunakan. Bilamana kesimpulan dirasa kurang mantap karena kurangnya rumusan dalam reduksi maupun sajian datanya, maka peneliti akan mengulangi kembali pengumpulan data yang terfokus untuk mencari pendukung simpulan yang ada dan juga bagi pendalaman data (Sutopo, 2002)


DAFTAR PUSTAKA

Boserup, E. 1984. Peranan Wanita Dalam Perkembangan Ekonomi. Yayasan Obor. Jakarta.

Bungin, Burhan. 2006. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Fakih, M. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Hernanto, F. 1989. Keluarga Jawa. Grafiti Pers. Jakarta.

John Sinclair. 2001. English Dictionary For Advanced Learners. Collins Cobuild Harper Collins Publisher. Glasgow

Kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. 2003. Bahan Pembelajaran Analisis Gender Dalam Rangka Penyusunan Kebijakan, Program, Proyek dan Kegiatan Yang Responsif Gender. Kementrian pemberdayaan perempuan. Jakarta.

Lukman Ali, et all. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Mardikanto, Totok. 1982. Pengantar Penyuluhan Dalam Teori dan Praktek. Hapsara. Surakarta.

. 1990. Wanita dan Keluarga. PT. Tri Tunggal Tata Fajar. Surakarta.

Moleong, L. J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. IKAPI. Bandung.

Nasution, S. 1998. Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Tarsito. Bandung.

Ollenburger, C dan Helen, A. 1996. Sosiologi Wanita. Rineka Cipta. Jakarta.

Oppong, C dan Katie, C. 1981. A Field Guide To Research on Seven Roles of Women: Focused Biographies. ILO (International Labour Organization). Oslo.

Parjanto dan Trisni Utami. 2001. Peranan Wanita Dalam Agrobisinis Tanaman Obat (Studi Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Tanaman Obat di kabupaten Karanganyar, Jateng). Fakultas Pertanian. UNS. Surakarta.

Sajogyo, Pudjiwati. 1992. Peranan Wanita Dalam Usaha Tani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Suksesi, K. 2002. Hubungan Kerja dan Dinamika Hubungan Gender Dalam Sistem Pengusahaan Tebu Rakyat. Lembaga Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

Surakhmad. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah Metode Teknik. Tarsito. Bandung.

Sutopo. H. B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. UNS perss. Surakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: