KAJIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

  1. A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini pelayanan kefarmasian telah bergeser dari drug oriented ke patient oriented (pharmaceutical care). Peran parmasis dalam pharmaceutical care adalah memaksimalkan optimasi hasil terapi pada pasien dengan mengeliminasi atau menhilangkan Drug Related Problem (DRP). Salah satu dari DRP adalah interaksi obat yaitu Drug Related Problems (DRPs) yang diakibatkan oleh interaksi antara obat dengan obat atau obat dengan makanan.

Interaksi obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan. Interaksi obat dianggap penting secara klinis jika berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektifitas obat yang berinteraksi sehingga terjadi perubahan pada efek terapi.

Suatu survei yang dilakukan pada tahun 1977 mengenai polifarmasi pada penderita yang dirawat di rumah sakit, pasien yang mendapat 0-5 macam obat mengalami interaksi obat 3,5% dan pasien yang mendapat 16-20 macam obat mengalami 54% interaksi obat. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi obat merupakan maslah yangpenting dalam pelayanan kesehatan.

Suatu terapi pengobatan yang baik dan benar akan sangat menguntungkan bagi pasien terutama dari segi kualitas hidup pasien. Oleh karena itu untuk memperoleh terapi yang optimal salah satu caranya adalah dengan mengidentifikasi, mencegah mengurangi atau menghilangkan drug related problem yang dapat mempengaruhi kebarhasilan terapi, salah satunya dengan interaksi obat.

Jika penyakit gagal jantung yang paling tinggi prevalensinya adalah Congestive Heart Failure atau gagal jantung kongestif. Di Eropa, tiap tahun terjadi 1,3 kasus per 1000 penduduk yang berusia 25 tahun. Kasus ini meningkat 11,6 pada manula dengan usia 85 tahun ke atas. Gagal jantung merupakan salah satu penybab kematain dan ketidakmampuan bekerja yang paling umum diberbagai Negara industi dan merupakan sidrom yang paling umum dalam praktek klinik. Menurut American Heart Association, di Amerika Serikat lebih dari 4,6 juta pasien yang menderita penyakit ini, dan menjadi penyebab kematian beberapa ratus ribu pasien setiap tahunnya. Seiring dengan perubahan pola hidup dan peningkatan kesejahteraan, diperkirakan angka terjadinya akan terus meningakat. (Gilman, 2008).

Diagnosis gagal jantung memiliki resiko kematian yang sebanding dengan berbagai penyakit ganas utama lainnya. Hanya 35% pasien yang baru di diagnosis gagal jantung yang dapat bertahan hidup rata-rata sampai 5 tahun. Rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarata, tahun 2006 terdapat 3,23 persen kasus gagal jantung dari total 11.711 pasien (Gilman, 2008).

Pasien gagal jantung kongestif biasanya menderita penyakit penyerta yang lain sehingga membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya. Pembarian obat yang bermacam-macam tanpa dipertimbangkan dengan baik dapat merugikan pasien karena dapat mengakibatkan terjadinya perubahan efek terapi (Yasin et al., 2005).

Penelitian interaksi obat terhadap 110 rekam medik pasien rawat inap dan 127 resep pasien rawat jalan gagal jantung kongestif di RSUD Dr. Sardjito tahun 2005 menunjukkan bahwa interaksi obat potensial terjadi pada 99 (90%) pasien rawat inap dan 126 (99,26%) pasien rawat jalan. Interaksi yang terjadi diantara ketiga obat utama gagal jantung kongestif berdasarkan level signifikansinya adalah digoksin-furosemid (level signifikansi 1) sebanyak 34 kasus pada pasien rawat inap dan 24 kasus pada pasien rawat jalan, furosemid-ACE inhibitor (level signifikasi 3) sebanyak 84 kasus pada pasien rawat inap dan 85 pasien  pada rawat jalan, dan digoksin –ACE inhibitor (level signifikansi 4) sebanyak 29 kasus pada pasien rawat inap dan 45 kasus pada pasien rawat jalan. Pada penelitian ini interaksi dengan signifikansi 1, 2, dan 3  memiliki insidensi kejadian yang tinggi sehingga pemberian terapi obat dengan kombinasi obat yang mengakibatkan terjadinya interaksi memerlukan lonitoring (Yasin et al., 2005).

Oleh karena itu adanya interaksi obat harus diperhatikan sehingga dapat dikurangi jumlah dan keparahannya termasuk interaksi obat yang terjadi pada pasien rawat inap gagal jantung kongestif. Hal inilah yang mendukung diadakannya penelitian pada pasien gagal jantung kongestif. Penelitian mengenai interaksi obat ini dilakukan pada RSUD Dr. Moewardi Surakarta karena merupakan rumah sakit pendidikan profesi bagi calon dokter dan dokter spesialis serta menjadi tempat praktik bagi institusi kesehatan maupun non kesehatan, selain itu RSUD Dr. Moewardi Surakarta merupakan sebagai tempat rujukan tertinggi untuk daerah Surakarta pada khususnya dan di luar Surakarta pada umumnya. Rujukan yang diberikan adalah pelayanan medis, rujukan pengetahuan, maupun keterampilan medis dan non medis.

  1. B. RUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah penelitian ini adalah seberapa besarkah insidensi terjadinya interaksi obat secara teoritik yang potensial terjadi pada pasien gagal jantung kongestif di instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi Periode Januari – Desember 2008 ?

  1. C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar insidensi terjadinya interaksi obat secara teoritik yang potensial terjadi pada pasien gagal jantung kogestf di instalasi rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta Periode Januari – Desember 2008.

  1. D. TINJAUAN PUSTAKA
    1. 1. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan, tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat (Muninjaya, 1999). Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyebab penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh terpadu dan berkesinambungan.

Pada umumnya tugas Rumah Sakit sangat bervariasi tremasuk menyediakan keperluan untuk pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Guna melaksanakan tugasnya, Rumah Sakit mempunyai berbagai fungsi, yaitu menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan rujukan, menyelenggarakan pedidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta administrasi umum dan keuangan (Siregar, 2004).

Berbagai pengalaman yang diberikan oleh Rumah Sakit dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu pelayanan utama dan pendukung. Pelayanan kefarmasian termasuk pelayanan utama yang terdapat di dalam Rumah Sakit karena hampir seluruh pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit pada penderita berintervensi dengan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan (Siregar, 2004).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: