PEDOMAN WAWANCARA DAFTAR INFORMASI YANG AKAN DIGALI DARI MASYARAKATEvaluasi Pelaksanaan Progam SLPHT tanaman Padi

  1. Tujuan

Mencari data tentang:

  1. Keadaan masyarakat dan kelompok tani sebelum ada kegiatan
  2. Proses Pelaksanaan Progam SLPHT
  3. Keadaan peserta SLPHT setelah pelaksanaan progam SLPHT
  4. Sumber data
    1. Masyarakat umum, anggota Kelompok Tani Sari Asih, Peserta SLPHT, Penyuluh, dan Pelaksana Progam SLPHT.
    2. Dokumen kegiatan
    3. Kegiatan
  5. Informasi (terdapat pada Butir Informasi)

BUTIR INFORMASI

DAFTAR INFORMASI YANG DIGALI DARI MASYARKAT

Evaluasi Pelaksanaan Progam SLPHT tanaman Padi

(Studi Kasus Pada Kelompok tani Sari Asih Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo

Keterangan Tugas:

  1. Nama Petugas                             :
  2. Tanggal pelaksanaan kegiatan      :

Identitas Responden

Nama                         :

Umur                          :

Pendidikan                  :

Status                         : Anggota atau Pengurus Kelompok Tani Sari Asih

Informasi Yang Dicari

  1. Keadaan masyarakat Desa Mayang
  2. Gamabaran rinci tentang kelompok tani sari asih
  3. Proses pelaksanaan kegiatan SLPHT tanaman padi
  4. Manfaat atau output yang dihasilkan setelah pelaksanaan SLPHT
  5. Keberlanjutan kegiatan SLPHT

BUTIR INFORMASI

DAFTAR INFORMASI YANG  DIGALI DARI MASYARKAT

Evaluasi Pelaksanaan Progam SLPHT tanaman Padi

(Studi Kasus Pada Kelompok tani Sari Asih Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo)

Keterangan Tugas:

  1. Nama Petugas                                      :
  2. Tanggal pelaksanaan kegiatan   :

Identitas Responden

Nama                         :

Umur                          :

Pendidikan                  :

Status                         : Penyuluh

Informasi Yang Dicari

  1. Keadaan masyarakat
  2. Gambaran kelompok tani Sari Asih
  3. Input yang diberikan dalam kegiatan SLPHT
  4. Proses pelaksanaan kegiatan SLPHT tanaman padi
  5. Manfaat atau output yang dihasilkan setelah pelaksanaan SLPHT
  6. Keberlanjutan kegiatan SLPHT

BUTIR INFORMASI

DAFTAR INFORMASI YANG DIGALI DARI MASYARKAT

Evaluasi Pelaksanaan Progam SLPHT tanaman Padi

(Studi Kasus Pada Kelompok tani Sari Asih Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo)

Keterangan Tugas:

  1. Nama Petugas              :
  2. Tanggal pelaksanaan kegiatan   :

Identitas Responden

Nama                         :

Umur                          :

Pendidikan                  :

Status                         : Pelaksana

Informasi Yang Dicari

  1. Gambaran Rinci tentang kelompok tani Sari Asih
  2. Input yang diberikan dalam kegiatan pelaksanaan progam SLPHT
  3. Kesesuain input yang diberikan
  4. Proses pelaksanaan progam SLPHT tanaman padi
  5. Kesesuaian proses pelaksanaan dengan pedoman SLPHT
  6. Output yang dihasilkan setelah dilaksanakannya progam SLPHT
  7. Kesesuain output yang diperoleh dalam progam SLPHT tanaman padi

Lampiran 3. Hasil wawancara di lapang

Nama : Suhartana

Umur : 49 tahun

Pendidikan : S1

Status : Pelaksana

  • Konteks

–         Semua Peserta SLPHT desa mayang adalah anggota kelompok tani sari asih. Semua anggota kelompoktani adalah perempuan, jika ada peserta yang tidak bisa mengikuti kegiatan SLPHT maka digantikan dengan suaminya.

–         Semua peserta sudah memenuhi criteria yang disyaratkan dalam pedoman SLPHT (pedoman teknis). Criteria tercantum dalam pedoman.

–         Semua peserta mengikuti test ballot awal dan akhir yang dilakukan oleh pelaksana kegiatan SLPHT. Test ballot bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal dan akhir dari kegiatan SLPHT.

–         Soal / pertanyaan dalam test ballot awal dan akhir hamper sama.

–         Semua peserta adalah petani penggarap dan pernah menempuh jenjang pendidikan walaupun min SD. Lahan mereka ± 0,4 Ha – 1,5 Ha

–         Organisasi yang masih aktif. PKK dan Kelompok tani sari asih

  • Input
  1. Fasilitas Fisik.

–         Alat dan bahan semuanya disediakan oleh lab palur (coordinator uang). Pelaksana hanya mendata alat dan bahan yang dibutuhkan.

–         Alat : kertas karton, kertas Koran, pensil, spidol, ball point, crayon, handspeyer.

–         Bahan : benih dan pupuk. Benih yang digunakan adalah way apuburu dan pupuk yang digunakan dalam kegiatan ini adalah NPK.

–         Terdapat gedung dan lahan. Gedung yang digunakan adalah gedung balai desa mayang. Lahan yang digunakan adalah lahan bapak parwoto dengan luas ± 1000m2. Lahan di bagi menjadi 2. 500m2 dibudayakan SLPHT dan 500m2 non-slpht

–         Bapak parwoto dapat kompensasi. Lupa berapa jumlahnya.

  1. Materi

–         Pemberian materi dilakukan selama 12 kali. Setiap minggu. ± 1 musim tanam.

–         Materi yang disampaikan terlampir. Materi yang disampaikan menyesuaikan dengan keadaan. Meskipun sudah ada panduannya.

–         Materi yang disampaikan adalah tentang prisip SLPHT dan dinamika kelompok.

–         Semua peserta mendapat panduan materi yang diberikan oleh pelaksana kegiatan SLPHT.

  1. Tenaga pelaksana

–         Tenaga pelaksana kegiatan berjumlah 5 orang. Yaitu : bapak fatchur, suhartana, samidi, heru dan bapak sunarto (lab, desa dan kecamatan).

–         Tidak semua pelaksana aktif. Tidak tahu kenapa alasannya.

–         Tidak mengalami kendala yang berarti. Karena sudah pernah menjadi pelaksana SLPHT dan dibantu oleh petani penggerak dalam pelaksanaannya.

  1. Dana

–         Aliran dana: dana berasal dari APBN pusat kemudian disalurkan di Semarang (wilayah jawatengah) dan disalurkan ke wilayah sukoharjo melalui lab PHPT palur sebagai pengelola dana.

–         Pelaksana tidak diberikan hak dalam pengelolaan dana dalam kegiatan SLPHT. Pelaksana hanya mendata alat2 dan bahan yang dibtuhkan kemudian diserahkan ke lab PHPT palur.

–         Mengalami kesusahan. Harus bolak-balik dan sering melakukan koordinasi. jika ada kebutuhan alat atau bahan secara mendadak harus menanggung terlebih dahulu.

  • Proses
  1. Survey lokasi

–         Dilakukan. Tujuan : menentukkan calon peserta dan lokasi dari kegiatan SLPHT.

–         Peserta hanya berasal dari satu kelompok tani saja. Hal ini terjadi karena kelompok tani yang aktif adalah kelompok tani sari asih desa maayang dan mempermudah dalam mengkoordinasi dan pengawasan.peserta kegiatan SLPHT

–         Semua peserta adalah anggota kelompok tani, petani penggarap dan sudah menempuh jenjang pendidikan.

  1. Musyawarah pra tanam

–         Tujuan : menetukan waktu tanam, lahan dan pemahaman petani tentang slpht. Tepatnya kapan tidak ingat, di rumah ibu sri mulyani. Peserta slpht hadir semua dalam kegiatan dan ada undangan2.

–         Hasil dari musyawarah pra tanama : lahan yang digunakan adalah lahan bapak parwoto dengan luas lahan ±1000 m. lahan dibagi menjadi 2 bagian. 500 m dibudayakan sesuai dengan budaya setempat dan 500 m slpht. Benih yang di tanam di lahan ini adalah benih way apuburu sendangkan pupuk sudah disediakan.

  1. Pembinaan Petani penggerak

–         Tujuan : member bekal kepada petani penggerak tentang kepemanduan serta bagaimana menyusun rencana dan mengevaluasi progam.

–         Iya. Ada petani penggerak yang bukan alumnus SLPHT yang terpilih. Hal ini terjadi karena alumnus SLPHT belum tentu pengetahuannya lebih baik dan mampu menggerakkan petani dalam SLPHT.

–         Pembekalan dilakukan selama 2 hari di rumah Ibu Sri Mulyani. Materi yang disampaikan dalam SLPHT adalah dasar SLPHT dan dinamika kelompok tani. Rincian materi terlampir.

  1. Pelaksanaan/pertemuan mingguan

–         Pertemuan mingguan dilakukan selama 12 kali. Sekali dalam satu minggu.

–         Dimulai ±08.00 – 12.30.

–         Pelaksanaan SLPHT dilakukan di dua tempat. Yaitu di gedung dan lahan (lahan praktek dan gardu).

–         Kegiatan dilahan merupakan implementasi dari pembekalan yang dilakukan selama di gedung dan arahan di gardu.

–         Proses pelaksanaan : pemberian bekal, kemudian peserta terjun ke lahan praktek setelah diberi arahan, kemudian kembali ke gardu dan menceritakan apa yang di amati serta menggambarnya. Setelah itu pelaksana memberikan pengarahan.

–         Materi yang disampaikan dalam kegiatan SLPHT menyesuaikan dengan keadaan di lapang. Jika ada materi yang tidak dapat dilaksanakan maka diganti dengan materi yang laian. Contoh : materi tentang budidaya tanaman sehat diganti dengan materi pengamatan agro ekosistem. Hal ini trjadi karena tidak terdapatnya lahan bibit dari tanaman tersebut.

–         Tidak semua pelaksana hadir dalam pelaksanaan ini. Tidak tahu alasannya.

–         Tidak diajari dalam pembuatan pestisida alami. Pestisida alami sudah tersedia.

  1. Koordinsai

–         Tujuan: mempersiapkan hari lapang tani.

–         Sudah cukup. Karena maslaah hari lapang tani sudah sering dibahas dalam kegiatan non-formal.

–         Dilakukan sekali. Diganti dengan kegitan yang lain.

–         Pada koodiasi formal, semua peserta SLPHT hadir.

  1. Hari lapang tani

–         Tujuan : penyebaran SLPHT kepada petani lain.

–         Yang hadir : peserta SLPHT,petani lain, perwakilan kecamatan (undangan2). Ada pada laporan.

–         Pelaksanaanya : perwakilan peserta SLPHT menceritakan apa yang dilakukan dan diperoleh dalam kegiatan SLPHT, kemudian terjadi Tanya jawab antara peserta.

–         Tindak lanjut dari kegiatan SLPHT tidak dibahas.

–         Membandingkan hasil dari yang dikelola secara PHT dan Budidaya petani setempat.

  • Produk (output)

–         Terjadi peningkatan pengetahuan tentang pengendalian hama, pengamtan agro ekosistem. Hal ini dapat dilihat dari test ballot yang dilakukan. Hasil test ballot terlampir.

–         Terjadi peningkatan kualitas agro-ekosistem. karena peserta SLPHT menerapkan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT. Kualitas agro ekosistem butuh waktu yang lama.

–         Peningkatan kerjasama dalam usahatani : membantu pengamtan petani dilahan yang berdekatan, koordinasi dalam memperoleh saprodi murah.

Nama : Edy

Umur : 44 tahun

Pendidikan : SMA

Status : peserta SLPHT.

  • Kontek

–         Iya. Mempunyai lahan ±0,7 Ha dan ditanamai padi

–         Merupakan petani penggarap, telah menempuh jenjang pendidikan )lulus SMA).

–         Istri merupakan anggota kelompok tani sari asih (mewakili istri).

–         Mengikuti test ballot awal dan akhir yang dilakukan oleh pelaksana kegiatan SLPHT.

–         Tidak tahu syarat-syarat untuk menjadi peserta SLPHT. Yang jelas, 1 kelompok tani sari asih menjadi peserta SLPHT. Petani lain tidak ikut.

–         Masih ada ritual yang sering dilakukan. Berdoa meminta bekah saat tanam dan panen, kenduri (slametan), nyewu dan nyatus.

  • Input
  1. Fasilitas Fisik.

–         Alat2 yang digunakan : karton, kertas Koran, spidol dan ball point.

–         Bahan2 : benih yang ditanam adalah jenis Way apuburu.jenis ini jarang ditanam dan baru tahu setelah meengikuti SLPHT. Benih yang sering di tanam IR 64. Pupuk yang disediakan adalah pupuk NPK.

–         Tidak tahu dari mana alat-alat dan bahan tersebut. Hanya datang dan menggunakan saja.

–         Terdapat fasilitas Gedung (balai desa) dan lahan untuk praktek kegiatan SLPHT.

–         Lahan yang digunakan adalah lahan peserta (lahan desa tidak tahu masih ada atau tidak).lahan tersebut di bagi menjadi 2 bagian. 1 bagian dengan budidaya PHT dan Non-PHT.

–         Di dekat lahan juga terdapat gardu.gardu tersebut sering digunakan untuk member arahan.

  1. Materi kegiatan SLPHT

–         Penyampaian materi dilakukan di gedung dan lahan praktek kegiatan SLPHT.

–         Bpak edy tidak mendapatkan panduan materi yang akan disampaikan. Jadi tidak tahu rencana materi yang akan disampaikan.

–         Pembekalan materi dan pengarahan dilakukan di gedung balai desa dan gardu dekat lahan praktek kegiatan SLPHT

–         Materi yang disampaikan tentang pengamatan,dampak pestisida, pengenalan hama dan pengendaliannya.

  1. Pelaksana kegiatan SLPHT

–         Tidak tahu tepatnya berapa pelaksana dalam kegiatan SLPHT. Yang aktif hanya pak hartana saja.

–         Kegiatan SLPHT lancar. Karena pelaksana hanya sebagai fasilitator saja, member bekal dan pengarahan. Selain itu pelaksana kegiatan juga di bantu oleh petani penggerak dalam kegiatan SLPHT.

  1. Dana kegiatan SLPHT

–         Tidak mengetahui aliran dana dan asal-usul dana dalam kegiatan SLPHT di desa Mayang.

–         Alat dan bahan (termasuk snack) sudah tersedia dan tinggal menggunakan saja.

  • Proses
  1. Survei lokasi

–         Tidak tahu alasannya kenapa desa mayang (kel. Tani sari asih) terpilih menjadi peserta SLPHT. Tidak mengikuti rapat.

–         Tidak tahu syarat2 untuk menjadi peserta dalam kegiatan SLPHT.

  1. Musyawarah Pra-tanam

–         Tidak mengikuti kegiatan pada musyawarah pra tanam.

–         Tahu. Lahan yang dignakan adalah lahan bapak parwoto dan benih yang akan di tanam adalah jenis Way Apuburu. Desa mayang sudah tidak punya lahan.

–         Benih way apuburu belum pernah menanam. Kebanyakan petani di Desa mayang menanam padi jenis IR 64.

  1. Pembinaan petani penggerak

–         Tidak tahu dan tidak mengikuti kegiatan pembinaan petani penggerak karena bukan termasuk petani penggerak yang dipilih oleh pelaksana kegiatan.

–         Tidak tahu sayarat-syarat apa saja untuk menjadi petani penggerak dalam kegiatan SLPHT. Ada, ada petani penggerak yang bukan alumnus kegiatan SLPHT.

–         Petani penggerak tokoh masyarakat.

  1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT

–         Dilakukan test ballot awal dan akhir.

–         Proses pelaksanaan kegaitan dilakukan di gedung  dan lahan praktek kegiatan slpht.

–         Tahapan : pembekalan materi dan arahan oleh pelaksana kegiatan slpht (dilakukan di gedung dan gardu). Kemudian peserta slpht trjun ke lahan (sesuai dengan arahan), setelah itu menceritakan da menggambarkan apa yang di amati dan dilakukan dilahan sesuai dengan arahan. Perwakilan dari peserta presentasi dengan gambarnya.

–         Pelaksana yang hadir pak hartana

–         Setelah kegiatan SLPHT : pengetahuan tentang hama, penyakit dan pengendaliannya bertambah, melaksanakan SLPHT hanya sebagian dan kadang-kadang saja. Yang dilaksanakan adalah penggunaan pupuk kandang (itu pun kalau ada), pestisida tepat dosis (kalau belum mati, ya ditambah dosisnya).

–         Rata-rata peserta tidak melaksanakan yang diperoleh dalam SLPHT. Karena pengendalian PHT butuh tegana kerja yang lebih banyak, hasil tidak cepat kelihatan, tidak praktis dan tidak tahu cara pembuatan pestisida alami (tidak praktek)

  1. Koordinasi

–         Ikut koordinasi, sekali di rumah Ibu Sri Mulyani (ragu2)

–         Tujuan : mempersiapkan hari akhir kegiatan SLPHT

–         Belum pernah membahas secara non-formal (tidak tahu peserta yang lainnya)

  1. Hari lapang tani

–         Banyak yang hadir. Tepatnya siapa saja lupa. Peserta SLPHT hadir semua

–         Pelaksanaan : perwakilan peserta bercerita tentang kegiatan SLPHT di desa mayang, kemudian terjadi Tanya jawab.

–         Membandingkan hasil panen dari SLPHT dan Non- SLPHT

–         SLPHT tidak kalah dengan PHT (kuantitas) dengan sedikit modal.

  • Produk

–         Pemahaman tentang SLPHT, hama dan pengendaliannya bertambah.

–         Peningkatan pemanahan tentang pengamatan di lahan.

–         Tidak melaksanakan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT dalam hal pengendlian hama dan  penggunaan pupuk alami

–         Pengendalaian hama dengan tepat dosis (hama tidak mati), sehingga dosis ditambah.

–         Pengendalian secara alami butuh tenaga yang banyak, hasil tidak cepat kelihatan.

–         Kualitas agroekosistem tidak meningkat bahakan menurun. Karena petani tidak melaksanakan yang diperoleh dalam SLPHT dan kembali ke budidaya semula

–         Koordinasi saprodi murah (pak edy koordinator mayang).

–         Petani juga membantu pengamatan di lahan sebelahnya, simpan pinjam uang dengan bunga yang sangat rendah (kerjasama dalam mengurangi beban ekonomi).

Nama : Ibu Suratmi

Umur : 52

Pendidikan : SD

Status : Peserta SLPHT

  • Konteks

–         Semua peserta SLPHT adalah anggota kelompok tani sari asih

–         Tidak tahu syarat-syarat untuk menjadi anggota SLPHT. Iya, jika ada yang tidak bias, bias diwakilkan oleh suaminya.

–         Suratmi : merupakan petani penggarap. Lahan ±1,5 Ha.

–         Pernah menempuh jenjang pendidikan formal. Lulus SD.

–         Dilakukan test ballot awal dan akhir. Tidak tahu tujuannya apa.

–         Selain aktif dikelompok tani juga aktif menjadi anggota PKK.

–         Masih menjalankan ritual seperti : melakukan slametan saat panen dan kenduri, nyatus, nyewu.

  • Input
  1. Fasilitas fisik

–         Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam kegiatan SLPHT sudah tersedia. Tidak tahu dari mana asal-usulnya.

–         Alat-alat : kertas, spidol, ballpoint, kertas Koran dan kartun. Semua sudah tersedia.

–         Memperoleh benih  untuk ditanam. Lupa nama benih tersebut. Benih tersebut belum pernah di tanam. Hasil dari benih tersebut kurang enak dan tidak pulen.

–         Pupuk dalam kegiatan ini sudah disediakan seperti pupuk NPK.

–         Terdapat lahan praktek dan gedung. Gedung yang digunakan adalah gedung balai desa, sedangkan lahan yang digunakan adalah lahan peserta.

–         Disana (dekat dengan lahan praktek) juga terdapat gardu.

–         Tidak tahu syarat-syarat perlengkapan apa saja yang dibtuthkan

  1. Materi

–         Materi disampaikan setiap minggunya hingga padi tersebut panen (± 1 musim tanam).

–         Materi ±  tentang SLPHT, hama dan penyakit serta pengamatan organisme di sawah (pengamtan agro ekosistem)

–         Tidak memperoleh panduan materi dari pelaksana. Pematerinya bapak Suhartana. Pelaksana lain belum pernah memberikan materi

  1. Tenaga pelaksana

–         Tidak tahu berapa tepatnya jumlah pelaksana. Yang aktif adalah pak Hartana. Tidak tahu alas an kenapa tidak aktif.

–         Kegiatan lancara. Karena pelaksana hanya membrikan materi dan arahan (fasilitator) dan dibantu oleh 5 orang petani penggerak (merupakan tokoh masyarakat).

  1. Dana SLPHT

–         Tidak mengetahui berapa jumlah serta asal-usul (aliran) dana yang digunakan dalam kegiatan SLPHT.

–         Semua alat dan bahan sudah tersedia (disediakan oleh pelaksana). Peserta tinggal datang dan menggunakan saja.

  • Proses
  1. Survey lokasi

–         Tidak tahu tujuan dari survey lokasi. Tidak mengikuti prosesnya

–         Peserta kegiatan SLPHT berjumlah 25 orang, semua merupakan anggota kelompok tani sari asih dan merupakan petani penggarap.

–         Tidak tahu alasannya kenapa Sari asih terpilih dalam kegiatan SLPHT.

  1. Musyawarah pra tanam

–         Tidak tahu tujuan dari musyawarah pra tanam yang dilakukan.

–         Mengikuti. Hasilnya ± benih yang ditanam (lupa namanya) dan lahan yang digunakan lahan bapak parwoto.

  1. Pembinaan petani penggerak

–         Tidak tahu materi apa saja yang diberikan kepada petani penggerak. Karena tidak mengikuti proses dan bukan merupakan petani penggerak

–         Tidak tahu syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi untuk menjadi petani penggerak

–         Petani penggerak merupakan tokoh dalam masyarakat desa mayang.

  1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT

–         Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama satu musim tanam. Dimulai pagi hari ± 09.00 hinggaa dzuhur 12.00.

–         Pelaksanaan dilakukan di dua tempat yaitu di gedung dan lahan praktek. Pelaksanaan di lahan merupakan praktek dari apa yang disampaikan di gedung balai desa.

–         Proses : peserta SLPHT diberi pengarahan (dilakukan di gedung dan gardu), kemudian peserta disuruh terjun ke lahan praktek, menceritakan apa yang diamati dengan menggambarnya. Perwakilan dari peserta menceritakan (presentasi) dan kemudian pelaksana memberika arahan-arahan dan pulang.

–         Praktek membuat pestisida alami : tidak diajarkan bagaimana cara membuat pestisida alami.

–         Setelah kegiatan SLPHT.

–         Menjalankan usaha tani seperti biasa (tidak menerpkan kegiatan SLPHT)

–         Pengendaliah PHT membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, kurang/tidak praktis dan hasilnya tidak cepat kelihatan (misalnya dalam hal pemupukan, pupuk kandang/alami butuh waktu cukup lama)

–         Tidak diajarkan bagaiamana membuat pestisida alamai (tidak praktek). Hanya diterangkan saja, sehingga lupa bahan2 dan bagaimana pembuatannya

  1. Koordniasi

–         Ikut. Hanya satu kali

–         Koordinasi untuk menyiapkan hari akhir SLPHT (hari lapang tani)

–         Tidak tahu peserta hadir semua atau tidak.

  1. Hari lapang tani

–         Peserta yang hadir banyak (tepatnya berapa lupa). Peserta berasal dari SLPHT, nont SLPHT dan undangan2.

–         Jalannya proses : perwakilan dari peserta presentasi (bercerita) tentang SLPHT yang dilakukan di Desa Mayang. Terjadi Tanya jawab setelah selesai.

–         Yang menjawab pertanyaan pelaksana sambil menerangkan kegiatan SLPHT

  • Output

–         Peningkatan pengetahuan tentang SLPHT, pengamatan kualitas agroekosistem, dampak kimia. Bias menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam test ballot. Hasil test ballot ada pada pelakasana

–         Tidak terjadi peningkatan kualitas agroekosistem karena peserta SLPHT tidak melaksanakan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT dan kembali kepada budidaya semula. Kualitas agro ekosistem tidak dapat langsung terlihat.

–         Tahu bagaiamana mengendalikan hama secara PHT. Kalau dengan kimia harus sesuai atau tepat dosis. Tetapi kalau tidak mati maka petani mnambah dosis tersebut hingga hama tersebut mati.

–         Membantu mengamati lahan sampingnya (karena hama lahan disekitarnya dapat menyerang lahan sendiri), bekerjasama (dikoordinasi) untuk mrndapatkan saprodi yang murah (disubsidi) dengan petai lain.

Nama : Mursiyem

Umur : 38 tahun

Pendidikan : SD

Status : Peserta

  • Konteks

–         Punya lahan sendiri dan digarap sendiri (petani penggarap). Telah menempuh jenjang pendidikan (lulus SD). Lahan ±0,4 ha

–         Semua peserta kegiatan SLPHT adalah anggota kelompoktani sari asih desa mayang.

–         Tidak tahu alasannya kenapa desa mayang (kel tani sari asih) terpilih dalam progam SLPHT.tidak mengetahui syarat-syarat dalam menjadi peserta SLPHT. Hanya diberitahu kalau kelompok tani sari asih memperoleh progam SLPHT.

–         Jumlah anggota (dan pengurus) kelompok tani sai asih ±25 orang. Semua anggota kel. Tani sari asih mengikuti progam SLPHT. Ada test yang dilakukan oleh pelaksana sebanyak 2 kali dan mengikuti semua.

–         Oragnisasi yang masih aktif dan diikuti adalah kelompok tani sar asih dan PKK. Masih melakukan ritual-ritual keagamaan dalam keseharian seperti : slametan saat akan tanam dan panen, kenduri.

  • Input.
  1. Fasilitas Fisik

–         Alat tulis meliputi : buku, kertas, ball point dan spidol.

–         Benih (lupa nama benihnya) dan pupuk juga sudah tersedia. Tinggal menggunakan

–         Terdapat gedung dan lahan praktek yang digunakan dalam kegiatan SLPHT. Gedung yang digunakan adalah gedung balai desa mayang sedangkan lahan yang diguakan adalah lahan bapak parwoto (peserta SLPHT). Lahan desa tidak tersedia/tidak ada. Tidak tahu alsannya.

  1. Materi

–         Mater yng disampaikan dalam kegiatan SLPHT ± tentang pengertian SLPHT, pengamatan, pengendalian hama dan penyakit secra PHT.

–         Saya (mursiyem) tidak mendapatkan panduan materi. Tidak/belum tahu rencana materi yang akan disampaikan oleh pelaksana kegiatan SLPHT.

–         Pematerinya adalah pak Hartana

  1. Pelaksana

–         Kurang tahu berapa jumlah pelaksana dalam kegiatan SLPHT. Pelaksana yang aktif dalam kegiatan ini adalah bapak Hartana.

–         Pelaksana dibantu oleh tokoh masyarakat (5 orang petani penggerak)

–         Tidak ada kendala yang berarti dalam kegiatan SLPHT karena pelaksana hanya member arahan dan pembekalan saja. Saat di lapang pelaksana dibantu oleh 5 orang petani penggerak.

  1. Dana

–         Tidak mengetahui aliran dana dalam progam SLPHT (asal usul dana kegiatan).

–         Semua perlengkapan dalam keegiatan SLPHT sudah tersedia, tinggal menggunakan saja.

  • Proses
  1. Survey Lokasi

–         Tidak tahu tujuan dari diadakannya survey lokasi. Tidak mengikuti proses survey lokasi.

–         Tidak mengetahui alasan-alasan terpilihnya kelompok tani sari asih dalam progam SLPHT.

  1. Musyawarah Pra-tanam

–         Tidak mengikuti proses dalam musyawarah pra tanam.

–         Benih yang akan ditanam dan lahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktek SLPHT diketahui dari peserta lain (ngobrol-ngobrol).

–         Lahan yang digunakan lahan bapak Parwoto dibagi menjadi 2 bagian.

  1. Pembinaan petani penggerak.

–         Tidak mengetahui syarat-syarat dalam menjadi petani penggerak kegiatan SLPHT. Petani penggerak merupakan tokoh masyarakat di Desa mayang

–         Tidak tahu petani penggerak diberi bekal terlebih dahulu atau tidak. Karena bukan termasuk petani pemandu.

  1. Pelaksanaan kegiatan

–         Pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai dari tanam (± 1 musim tanam padi) kira-kira 12 kali. dilakukan setiap minggu sekali. Tepatnya hari apa lupa. Dimulai pagi hari ± 09.00 – 12.30

–         Di dekat lahan praktek terdapat gardu (tempat peyampaia arahan)

–         Proses pelaksanaan : peserta diberi pembekalan dan arahan. Pembekalan dan arahan dilakukan di gedung dan gardu. Kemudian peserta terjun langsung ke lahan, melakukan yang diarahkan (didampingi petani penggerak). Kemudian kembali ke gardu, menggambar dan menceritakannya didepan para peserta (perwakilan yang bercerita).

–         Tidak praktek bagaimana membuat pestisida alami.tetapi diberi tahu bagaimana pebuatannya.sekarang sudah lupa.

–         Setelah kegiatan SLPHT

–         Kembali seperti biasa. Menggunakan pestisida kimia dan pupuk kimia. Sudah tahu dampaknya, tetapi sudah terbiasa, selain itu pengendalian dalam SLPHT tidak langsung kelihatan hasilnya (pestisida kimia langsung kelihatan mati dan pupuk kimia cepat terlihat dampaknya).

–         Dalam pengendalian secara PHT (misalnya keong diambil satu persatu), membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang lebih banyak, berbeda jika langsung disemprot, maka langsung mati.

  1. Koordinasi

–         Tidak mengikuti proses koordinasi formal.

–         Pernah diberi tahu waktu selesai kegiatan. Kegiatan hari akhir pernah dibahsa waktu di lahan (tetapi sebentar).

  1. Hari lapang tani

–         Petani yang hadir dalam kegiatan hari akhir banyak. Kegiatan dilakukan di balai desa Mayang. Semua peserta hadir (wajib hadir).

–         Proses : perwakilan dari peserta SLPHT menceritakan apa yang dilakukan dan diperoleh dalam kegiatan SLPHT.

–         Tidak tahu  tujuan dari kegiatan hari akhir ini.

–         Melakukan penyebaran kepada petani lain dengan cara getok tula (bercerita kepada petani-petani lain saat ngumpul).

  • Produk

–         Terjadi peningkatan pengetahuan dalam hal pentingnya pengamatan tiap minggu, menambah pengetahuan tentang bagaimana mengendalikan hama sehingga musuhny alaminya tidak mati.

–         Tidak melaksanakan apa yang diperoleh meskipun tahu dampak dan bagaimana cara mengendalikannya, karena pengendalian PHT tersebut tidaklah praktis, tidak cepat terlihat hasilnya dan membutuhkan tenaga yang banyak.

–         Tidak terjadi peningkatan kualitas agro-ekosistem. karena para peserta SLPHT tidak melaksanakan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT walaupun sudah paham.

Nama : Sri Mulyani

Umur : 45 tahun

Pendidikan : SMA

Status : Petani Penggerak.

  • Konteks

–         Ibu Sri Mulyani : Mempunya lahan dan menggarapnya sendiri (membantu suami), telah menempuh jenjang pendidikan (lulus SMA), lahan ± 1,5 Ha.

–         Semua peserta SLPHT adalah petani penggarap, anggota kelompok tani sari asih desa mayang.anggota kelompoktani sari asih adalah perempuan.

–         Semua peserta (termasuk saya) mengikuti test ballot awal dan akhir yang dilakukan oleh pekasana kegiatan. Test ballot wajib diikuti oleh peserta SLPHT

–         Tidak tahu syarat-syarat yang diperlukan untuk menjadi peserta pogam SLPHT. Di beri tahu penyuluh (sekaligus pelaksana) bahwa sari asih akan memperoleh progam SLPHT

–         Organisai yang diikuti : adalah PKK dan kelompok tani sari asih (sebagai ketua dalam kelompok tani).

–         Mengikuti tradisi yang ada di desa mayang seperti kenduri, nyatus, nyewu, 40 harian (untuk orang meninggal)

  • Input
  1. Fasilitas fisik

–         Alat-alat yang digunakan : kertas, buku, spidol, ball point, pensil dan hand speyer.

–         Bahan yang digunakan :  benih padi (padi jenis way apuburu),pupuk NPK.

–         Alat dan bahan dalam kegiatan SLPHT tersebut sudah disediakan oleh pelaksana. Peserta SLPHT tinggal menggunakannya saja.

–         tempat pelaksanaan kegiatan SLPHT ada dua tempat. Di gedung balai desa (ruang) dan lahan praktek. Di dekat lahan praktek kegiatan SLPHT juga terdapat gardu.

–         Tidak mengetahui syarat-syarat yg dibuthkan dalam kegiatan SLPHT (fasilitas fisik).

  1. Materi

–         Materi-materi yang akan disampaikan disiapkan oleh pelaksana. Pembekalan materi dilakukan oleh pelaksana kegiatan. Mendapat pedoman materi yang akan disampaikn tetapi pada pertemuan ke 2 (minggu ke dua).

–         Materi yang disampaikam menyesuaikan keadaan (tidak sama dengan pedoman yang diberikan), lupa pada materi yang mana.

  1. Pelaksana

–         Pelaksana kegiatan berjumlah 5 orang. Pelaksana yang aktif dan yang meberikan pembekalan adalah bapak Hartana. Pelaksana yang lain pernah datang tetapi hanya memantau saja.

–         Dalam pelaksanaan kegiatan, pelaksana dibantu oleh petani penggerak (termasuk saya).

–         Penggerak membantu dalam hal pengawasan dan menggerakkan agar mahu hadir dalam kegiatan SLPHT

  1. Dana

–         Tidak tahu aliran dana yang ada dalam kegiatan SLPHT ini. Alat dan bahan termasuk snack sudah tersedia (disediakan oleh pelaksana)

  • Proses
  1. Survey lokasi

–         Tidak tahu tujuan dilakukannya. Tidak mengikuti kegiatan tersebut.

–         Syarat peserta (dari pelaksana) : harus anggota kelompok tani dan mempunyai lahan serta menggarapnya sendiri.

–         Kurang tahu kenapa kelompoktani sari asih desa mayang yang terpilih dalam kegiatan SLPHT.

  1. Pertemuan musyawarah pra tanam

–         Tujuan  menentukan waktu, benih serta lahan yang akan digunakan. Mengikuti, kegiatan dilakukan di rumah saya (ibu sri mulyani). Tidak mengikuti proses kegiatan hingga akhir, sibuk di dapur.

–         Lahan yang digunakan lahan bapak parwoto. Lahan tersebut dibagi menjadi 2 bagian, dikembangkan secara SLPHT dan Non-SLPHT.

–         Benih yang ditanam adalah jenis padi Way apuburu orang mayang biasa menyebut padi wides.jenis padi belum pernah di tanam. Kurang enak dan tidak pulen.

  1. Pembinaan petani penggerak

–         Mengikuti proses kegiatan. Dilakukan selama 2 hari, di rumah saya. Tepatnya kapan. Dimulai pagi hari ± 09.00 hingg sore ±02.00

–         Tidak tahu syarat-syarat untuk menjadi petani penggerak dalam kegiatan SLPHT. Dipilih oleh pak hartana (pelaksana)

–         Materi yang disampaikan ± dasar-dasar PHT, pengamatan mingguan, hama dan penyakit serta pengendaliannya

  1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT

–         Pertemauan/pelaksanaan dilakukan selama 12 kali. Dialkuakn setiap minggu sekali (hai selasa). Dimulai ± 08.00 – 09.00

–         Pelaksanaan dilakukan di dua tempat yaitu di lahan dan gedung balai desa mayang.

–         Peserta SLPHT diberikan bekal dan arahan apa yang harus dilakukan di lahan(di gedung dan gardu). Letak gardu dekat dengan lahan, jadi sering digunakan.

–         Pembuatan pestisida alami tidak praktek. Hanya diberi tahu cara pembuatannya saja (sekarang sudah lupa).

–         Pelaksana kegiatan tidak semuanya hadir pada pelaksanaan kegiatan.

–         Proses pelaksaan : peserta diberi pembekalan, kemudian terjuan ke laha dan setelah dari lahan menceritakan dan menggamabar apa yang diamatinya selama di lahan.

–         Materi apa saja yang disampaikan lupa.

–         Setelah kegiatan SLPHT

–         Menambah pengetahuan tentang hama dan penyakit serta pengamatan mingguan.

–         Menerapkan sebagaian dari kegiatan SLPHT

–         Menggunakan pupuk kandang (alami), tetapi tidak sering. Karena tidak mempunyai ternak dan lebih mudah menggunakan pupuk kimia. Pupuk kandang banyak yang palsu,pupuk kimia sudah ada saprodi kepercayaaan.

–         Tetap menggunakan pestisida seperti biasa, melebihi dosis supaya hamanya cepat mati

–         Tidak praktek dalam pembuatan pestisida alami

–         Kebanyakan dari pesrta yang lain tidak menerpakan juga.

  1. Koordinasi

–         Koordinasi untuk hari akhir dilakukan di rumah saya

–         Koordinasi dilakukan satu kali saja. Cukup, karena hal ini sudah sering dibicarakan secara non-formal

  1. Hari lapang tani

–         tujuan : sosialisasi kegiatan SLPHT pada petani lain

–         proses : perwakilan dari peserta kegiatan SLPHT bercerita tentang SLPHT dan pengalaman-pengalamannya

–         membandingkan hasil dari SLPHT dan Non-SLPHT

  • Produk

–         Peningkatan pengetahuan terhadap dampak dari penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, pengamatan mingguan (pentingnya) dan hama serta pengendaliannya.

–         Mengalami peningkatan hasil dari test ballot awal dan akhir yang dilakukan

–         Tidak terjadi peningkatan kualitas agro-ekosistem di lahan. Karena hanya sedikit menerapkan PHT (itu pun penggunan pupuk kandang yang jkadang-kadang saja).

Nama : Suswati

Umur : 42 tahun

Pendidikan : SMP

Status : Petani Penggerak

  • Kontek

–         Petani penggarap, lahan sawah ditanami padi. Pekerjaan utama petani, selain itu mempunyai took di rumah. Telah menempuh jenjang pendidikan (lulus SMP)

–         Ada yang bukan anggota kelompok tani, tetapi mewakili istrinya yang tidak bias mengikuti (istrinya adalah anggota kelompok tani)

–         Tidak mengetahui alasan kenapa kelompok tani sari asih dipilih dalam progam kegitan SLPHT

  • Input
  1. Fasilitas Fisik

–         Alat yang digunakan : buku tulis, karton, kertas Koran, spidol, ballpoint.

–         Bahan yang digunakan meliputi benih dan pupuk (NPK). Benih yang digunakan adalah jenis padi Way Apuburu . semua alat dan bahan tersebut sudah disediakan, peserta tinggal menggunakannya saja (termasuk snack)

–         Terdapat gedung dan lahan praktek sebagai saran pelaksanaan kegiatan SLPHT.

–         Tidak paham syarat-syarat apa saja yang dibutuhkan dalam kegiatan SLPHT

  1. Materi

–         Materi yang disampaikan ± pengendalian hama terpadu, pupuk kimia dan pengamatan agro ekosistem.

–         Tidak mendapatkan pedoaman materi yang disampaikan.

–         Materi disampaikan di lahan dan gedung balai desa

  1. Pelaksana

–         Pelaksana kegiatan SLPHT ada 5 orang (menurut pak hartana), tetapi pelaksana yang aktif hanya satu orang.

–         Tidak tahu alasan yang jelas kanapa pelaksana yang aktif hanya Satu

–         Kegiatan berjalan lancer. Pelaksana dibantu dengan petani penggerak dalam pelaksanaannya

  1. Dana

–         Tidak mengetahui aliran dana yang digunakan dalam kegiatan SLPHT

–         Alat dan bahan semua sudah disediakan oleh pelaksana.

  • Proses
  1. Survey dasar

–         Tidak thu tujuanya dan tidak mengikuti kegiatan survey

–         Syarat-syarat peserta tidak tahu. Peserta langsung diplih oleh pelaksana dan ditentukan berdasarkan anggota kelompok tani sari asih (semua anggota)

–         Tidak mengetahui kenapa yang terpilih adalah kelompok tani sari asih. Semua anggota punya lahan dan menggarap lahan trsebut

  1. Musyawarah pra tanam

–         Mengikuti kegiatan. Tujuannya adalah penentuan waktu tanam, benih serta lahan siapa yang akan digunakan

–         Karena lahan desa tidak ada, maka lahan peserta (bpak parwoto) sebagai lahan praktek

–         Tidak semua hadir dalam kegiatan ini (walaupun banyak peserta yang hadir)

  1. Pembinaan petani penggerak

–         Mengikuti kegiatan pembinaan petani penggerak. Pembinaan dilakukan selama 2 hari di rumah ibu sri mulyani. Petani penggerak yang mengikuti berjumlah 5 orang (dipilih oleh pelaksana). Dilaksanakan di rumah ibu Sri Mulyani

–         Tidak tahu syarat-syarat menjadi petani penggerak. Menjadi petani penggerak karena diajak ibu Sri Mulyani.

–         Saya (suswati) bukan termasuk oetani alumnus SLPHT

  1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT

–         Pelaksanaan dilakukan selama mulai dari tanam hingga panen. Tepatnya berapa kali tidak ingat.

–         Pelaksanaan dilakukan di lahan dan gedung (gedung bali desa dan gardu)

–         Pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai pagi hari hingga dzuhur

–         Proses : peserta diberikan arahan dan pembekalan (pembekalan dan arahan dilakukan di gedung dan gardu), kemudian peserta ke lahan dan setelah ke lahan menceritakan apa yang didapat di lahan serta menggambarnya.

–         Pesert tidak diajarkan (praktek) dalam membuat pestisida alami, karena pestisida alami sudah jadi

–         Setelah kegitan SLPHT

–         Tidak melaksanakan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT). Karena pengendalian secara PHT membutuhkan tenaga kerja lebih banyak untuk pemnggunaan pestisida alami, tidak menggunakannya karena sudah lupa bagaiamana cara pembuatannya

–         Menggunakan pupuk kandang (jarang), karena pupuk kandang susah mencari yang asli (tidak punya ternak), dan proses pemupukan harus di awal dan tidak langsugn kelihatan hasilnya

  1. Koordinasi

–         Mengikuti. Kalau tidak salah membahas masalah kegiatan di hari akhir jegiatan SLPHT

–         Koordniasi resmi dilakukan hanya satu kali saja, tetapi  pembicaraan non formal pernah dibahs

  1. Hari lapang tani

–         Diikuti oelh semua peserta dan juga non-peserta SLPHT juag ada undangan-undangan

–         Hari lapang tani dilakukan di gedung balai desa mayang.

–         Proses : perwakilan dari peserta SLPHT di menceritakan tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakuka selama kegiatan SLPHT.

–         Penyebaran yang saya lakukan adalah dengan cara getok tular atau bercerita tentang SLPHT kepada petani yang lain.

  • Produk

–         Menambah pengetahuan tentang hama dan penyakit serta pengendaliannya, mengetahui dampak dari pestisida kimia dan pupuk kimia secara terus menerus.

–         Peningkatan hasil dari test ballot awal yang dilakukan.

–         Tetap menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia

–         Peningkatan kualitas agro ekosistem tidak terjadi karena peserta SLPHT tidak melakukan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT.

Nama : parwoto

Umur : 47 tahun

Pendidikan : SMA

Status : Petani Penggerak

  • Konteks

–         Semua peserta kegiatan SLPHT mempunyai lahan dan menggarap lahannya sendiri dan merupakan anggota kelompok tani sari asih

–         Pekerjaan utama dari para peserta SLPHT adalah petani. Dilakukan test ballot awal dan akhir.

–         Pada saat kegiatan berlangsunf, semua peserta SLPHT mengikuti kegiatan tersebut. Biasanya kegiatan dilakukan setiap hari selasa

–         Tidak mengetahui bagaimana pelaksana kegiatan menetukan peserta kegiatan SLPHT

–         Bapak parwoto : petugas desa mayang. (kaur)

–         Pak parwoto masih menjalankan ritual (mengikuti tradisi masyarakat desa mayang) seperti : syukuran dan kenduri.

  • Input
  1. Fasilitas fisik

–         Alat dan bahan tersebut sudah disediakan oleh pihak lab palur (ikut membantu pelaksana mengambil alat dan bahan tersebut di Lab PHPT palur).

–         Alat-alat : krayon, pensil, spidol, buku tulis, kertas Koran, kertas karton.

–         Benih dan pupuk juga sudah disediakan. Benih yang digunakan adalah padi jenis Way Apuburu. Sedangkan pupuknya adalah NPK

–         Alat dan bahan-bahan tersebut sudah disediakan. Peserta tinggal menggunakan saja.

–         Terdapat gedung dan lahan yang digunakan dalam kegiatan SLPHT. Gedung yang digunakan adalah balai desa mayang, sedangkan lahan yang digunakan adalah lahan saya. Didekat lahan juga terdapat gardu.

  1. Materi

–         Tidak tahu dan tidak mendapat panduan materi yang akan disampaikan oleh pelaksana kegiatan

–         Materi yang disampaikan di gedung dan gardu nantinya dipraktekkan di lahan.

–         Mateti yang disampaikan ± tentang pengamatan dan SLPHT

  1. Pelaksana

–         Saat pelaksanaan, hanya satu orang pelaksana yang hadir (bapak hartana). Sedangkan pelaksana lainnya hanya datang dan melihat-lihat saja (kadang-kadang)

–         Pelaksanaan kegiatan SLPHT lancar. Meskipun hanya ada satu pelaksana, karena pelaksana kegiatan dibantu oleh petani penggerak (berjumlah 5 orang)

–         Pelaksana hanya berperan sebagai fasilitator (memberikan arahan dan penjelasan).

  1. Dana

–         Tidak mengetahui asal-usul dana yang digunakan dalam kegiatan SLPHT

–         Mungkin dari lab palur. Karena pernah membantu mengambil alat-alat dan benih di lab palur.

  • Proses
  1. Survey lokasi

–         Tidak mengikuti proses dalam survey lokasi. Tidak mengetahui syarat-syarat untuk menjadi peserta SLPHT di Desa Mayang.

–         Peserta ditentukan oleh pelaksana kegiatan.

  1. Pertemuan musyawarah pra tanam

–         Ikut. Tujuannya : menentukan waktu tanam, benih dan lahan praktek.

–         Pertemuan musywarah pra tanam dihadiri oleh peserta (trmasuk petani penggerak dan pelaksana). Meskipun pesertaSLPHT tidak semuanya ikut.

–         Hasil : benih yang akan di tanama adalah padi jenis Way Apuburu dan lahan praktek yang digunakan adalah lahan saya. Lahan tersebut seluas ± 1000 m2. Lahan tersebut nantinya dibagi menjadi 2 petak (2 bagian). 1 bagian di tanam sesuai PHT dan sisanya di tanam dengan budidaya setempat

  1. Pembinaan petani penggerak

–         Tidak tahu syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjadi petani penggerak. Saya adalah alumnus SLPHT. Ada yang bukan alumnus SLPHT

–         Tidak tahu kenapa bias terpilih. Diajak pelaksana

–         Megikuti kegiatan pembekalan selama 2 hari di rumah ibu sri mulyani

–         Materi yang diberikan tentang PHT dan kepemanduan

  1. Pelaksanaan kegiatan SLPHT

–         Pelaksanaan kegiatan dilakukan setiap minggu sekali, pelaksanaan biasanya dilakukan setiap hari selasa. Pelaksanaan ini berlangsung ± 1 musim tanam

–         Pelaksanaan dilakukan di dua tempat. Yaitu di ruang dan lahan praktek.

–         Sebelum pelaksanaan dilahan, peserta diberikan bekal.

–         Proses : peserta diberikan bekal dan pegnetahuan di gedung dan gardu (grdu dekat lahan). Setelah diberikan pengarahan dan bekal, kemudian peserta kegiatan di susruh terjun langsung di lahan. Setelah ke lahan, peserta menulis, menggambar dan perwakilan mencerikannya (biasanya ± 5 -8 orang)

–         Setelah kegiatan SLPHT

–         Melaksanakan sebagian saja. Contohnya adalah penggunaan pupuk kandang (tapi kadang-kadang saja). Tetapi penggunaan pupuk kimia juga tidak berhenti

–         Tidak diajarkan bagaiamana cara pembuatan pestisida alami (tidak praktek), Cuma diceritakan cara pembuatannya.

–         Tetap menggunakan pestisida kimia. Jika sesuai dosis tidak mati, maka ditambah hingga mati (biasanya lebih dosisi terus) dan tetap menggunakan pupuk kimia

  1. Koordinasi

–         Tujuan : mempersiapkan hari akhir kegiatan SLPHT

–         Koordinasi hanya dilakukan satu kali saja. Karena sudah dibahas secara non-formal ketika pelaksanaan

–         Tidak semua peserta hadir dalam koordinasi, pelaksanaan dilakukan dirumah ibu Sri Mulyani

  1. Hari Lapang Tani

–         Pada hari akhir, peserta yang hadir banyak. Peserta non SLPHT, SLPHT dan undangan-undangan.

–         Tujuan : menyebarkan kegiatan SLPHT

–         Proses : perwakilan peserta melakukan presentas ( bercerita) tentang kegiatan SLPHT dan pengalamannya tentang SLPHT

–         Membandingkan hasil tanaman padi dengan budidaya SLPHT dan budidya setempat

  • Produk

–         Penamabahan pengethuan tentang pengendalaian hama dan penyakit, pentingnya pengamatan agro ekosistem, damapak dari penggunaan pestisida alami.

–         Kerjasama dengan petani laian (lahan bersebelahan) untuk saling mengamati lahan. Karena hama bias menyebar ke lahan yang lain.

–         Diadakan test ballot akhir. Hasil tes ballot akhir jauh lebih baik dari pada test awal. Hasil ada pada pelaksana

Tidak terjadi peningkatan kualitas agro ekosistem di sawah dari para peserta, karena peserta tidak melaksanakan apa yang diperoleh dalam kegiatan SLPHT dan kembali ke budidaya setempat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: